Studi Kasus

  • View
    175

  • Download
    10

Embed Size (px)

DESCRIPTION

ALAT BERAT

Text of Studi Kasus

STUDI KASUS Keserasian Alat Muat dan Alat Angkut Pada Kegiatan Penggerusan Batubara di Blok 3 PT. Leban Mutiara Hitam Muara Bungo Jambi untuk Mencapai Target Produksi 40.000 Ton Pada Bulan Februari 2009 BAB IPENDAHULUAN

A. Latar Belakang Proyek Sumber daya (resources) adalah segala sesuatu yang dapat dimanfaatkan bagi kehidupan manusia, baik itu sumber daya manusia, sumberdaya alam hayati, sumber daya alam nonhayati, dan sumberdaya buatan. Indonesia dianugrahi Tuhan YME sumber daya alam yang banyak terkandung di dalam bumi Indonesia ini diantaranya: minyak dan gas alam (migas), emas, berbagai jenis batuan yang salah satunya adalah batubara. Untuk itu sebagai Negara yang terus berkembang Indonesia terus berusaha untuk meningkatkan pembangunannya dari berbagai bidang yang bertujuan untuk mensejahterakan kahidupan masyarakat Indonesia, baik dari segi ekonomi maupun sumberdaya manusia masyarakat Indonesia itu sendiri. Pemerintah Kabupaten Bungo berupaya untuk memenfaatkan sumber daya alam (SDA) berupa bahan galian dari sektor penambangan yakni batubara yang merupakan bahan galian golongan A (bahan galian yang strategis bagi Negara), yang selama ini belum termanfaatkan secara maksimal di dalam negeri sendiri. Penyebaran batu bara yang hampir merata di pulau Sumatera terutama di daerah Sumatera bagian Selatan membuat daerah ini dilirik oleh berbagai perusahaan yang bergerak di bidang pertambangan maupun kontraktor-kontraktor salah satunya adalah PT. Leban Mutiara Hitam. Saat ini cadangan terukur pada kecamatan Rantau Pandan sebesar 30,02 juta ton. Industri pertambangan batubara adalah industri yang padat modal, padat teknologi, dan padat resiko oleh karena itu dalam melakukan suatu kegiatan penambangan diperlukan suatu perencanaan yang tepat. Pada dasarnya dikenal dua cara penambangan batubara yang sering di lakukan yakni tambang terbuka dan tambang dalam, dimana metoda penambangan batubara ini sangat tergantung pada:1. Keadaan geologi daerah antara lain sifat lapisan batuan penutup, batuan lantai batubara, struktur geologi.2. Keadaan lapisan batubara dan bentuk deposit. Dalam memperhitungkan biaya penambangan dengan metode tambang terbuka harus termasuk juga biaya pembuangan tanah penutup sampai pada kemiringan lereng yang seaman mungkin (slope angle). Oleh karena itu perbandingan antara lapisan batuan tanah penutup dengan batubara merupakan faktor penentu dalam memilih metoda penambangan Striping Ratio yaitu perbandingan banyaknya tanah yang dikupas (m3) untuk mendapatkan satu ton bahan galian, perbandingan ini masih dianggap ekonomis apabila biaya yang dikeluarkan untuk mengupas tanah penutup suatu bahan galian lebih rendah dari bahan galian yang didapat, dengan arti kata proses penambangan yang dilakukan menguntungkan. Penambangan terbuka dilakukan apabila striping ratio (SR) relatif kecil serta kondisi geologi dan keadaan alam juga sangat mempengaruhi sistem penambangan ini. Penambangan ini dilakukan dengan cara membuka lapisan tanah penutup di atasnya sampai bahan galian dapat untuk ditambang. Sedangkan tambang dalam dilakukan apabila striping ratio (SR) tidak layak secara teknis dan ekonomis untuk ditambang secara terbuka. Tambang dalam juga sangat dipengaruhi oleh kondisi geologi dan struktur batuan. Pada saat ini PT. Leban Mutiara Hitam melakukan penambangan secara terbuka (Surface Mining) dengan striping ratio (SR) yang cukup kecil dan layak tambang yakni antara 1:3 dan 1:4 dengan ketebalan over burden lebih kurang antara dua sampai enam meter, dimana hal ini cukup menguntungkan bagi PT. Leban Mutiara Hitam.

B. Tujuan dan Manfaat Proyek1. Tujuan dilakukannya penambangan batubara di PT. Leban Mutiara Hitam ( LMH ) adalah:a. Untuk menggali batu bara yang ada di Muaro Bungo yang nantinya akan digunakan sebagai bahan bakar industri.b. Untuk pembuatan briket batubara sebagai bahan bakar pengganti migas.c. Untuk menambah pemasukan daerah serta meningkatkan devisa negara dari hasil pemasaran dan penjualan batu bara yang berkualitas dan siap ekspor.

2. Manfaat ProyekPenambangan yang dilakukan PT. Leban Mutiara Hitam mempunyai manfaat sebagai berikut:a. Penambangan batubara yang dilakukan PT. Leban Mutiara Hitam merupakan pendapatan bagi Pemerintahan Daerah (Pemda) Kab. Muaro Bungo berupa pajak, restribusi, dan pungutan lainnya.b. Masyarakat mendapatkan lapangan kerja baru di bidang penambangan batubara, jasa dan lain sebagainya.c. Masyarakat sekitar tambang mendapat pengetahuan baru yakni mengenai penambangan setelah diadakannya penyuluhan yang diberikan perusahaan.d. Meningkatkan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar tambang.

C. Sistematika Penulisan Penulisan laporan/proyek akhir ini terdiri dari 4 (empat) BAB dan disertai dengan lampiran-lampiran yang secara garis besar masing-masing BAB akan membahas sebagai berikut:BAB I PENDAHULUANBagian pendahuluan terdiri dari latar belakang proyek, tujuan dan manfaat proyek serta sistematika penulisan

BAB II KEGIATAN LAPANGANLaporan kegiatan ini terdiri dari deskripsi perusahaan, deskripsi proyek, proses pelaksanaan proyek, pelaksanaan kegiatan lapangan, serta temuan menarik (temuan khusus).BAB III STUDI KASUSBab ini menguraikan tentang perumusan masalah, landasan teori dan metodologi, data serta pemecahan masalah atau analisa hasil.BAB IV PENUTUPBab ini terdiri dari kesimpulan dan saran tentang studi kasus yang di kemukakan.

BAB IILAPORAN KEGIATAN LAPANGAN

A. Deskripsi Perusahaan1. Sejarah PerusahaanPT. Leban Mutiara Hitam pada awal berdirinya bernama CV. Citra Perdana dan telah berdiri sejak tanggal 15 September 2006, pada tanggal 1 januari tahun 2008 nama CV. Citra Perdana berubah menjadi PT. Leban Mutiara Hitam. PT. Leban Mutiara Hitam adalah perusahaan kontraktor yang bergerak dibidang pertambangan yang mulai beroperasi pada bulan Januari 2008. PT. Leban Mutira Hitam merupakan sub kontraktor dari PT. Bara Adhipratama (BAMA) yang melakukan kegiatan penambangan pada kuasa pertambangan milik PT. Bara Adhipratama (BAMA) dengan Luas area sesuai dengan Perjanjian Kerja Sama Pengelolaan Lahan adalah 50 Ha, yang mana kegiatan penambangan diserahkan pada kontraktor-kontraktor yang bergerak di bidang jasa pertambangan, salah satunya PT. Leban Mutiara Hitam, sedangkan pihak PT. Bara Adhipratama sebagai pemilik kuasa pertambangan menerima fee (pembagian hasil) dari hasil produksi batubara dari PT. Leban Mutiara Hitam sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati.Pada saat sekarang ini PT. Leban Mutiara Hitam mengerjakan tiga Pit penambangan yaitu Pit ICP, 2CP dan 3CP ditambah dengan Pit penambangan PT. Bara Adhipratama yaitu Pit 3 PT. BAMA. Target produksi dari PT. Leban Mutiara Hitam 40.000 ton/bulan. Hasil batubara yang diproduksi oleh PT. Leban Mutiara Hitam terutama dipasarkan ke PT. Semen Padang, PT. RAPP Pekan Baru dan PT. Indah Kiat Pekan Baru.2. Lokasi dan TopografiLokasi penambangan PT. Leban Mutiara Hitam terletak pada Desa Leban Kecamatan Rantau Pandan Kabupaten Bungo Propinsi Jambi, secara geografis terletak pada 1o3630 LS 1o3730 LS dan 101o5328 BT 101o5400 BT. Lokasi proyek penambangan bisa dicapai dengan sarana perhubungan darat, bila melalui kecamatan Rantau Pandan berjarak 7 km dari pemukiman penduduk Terdekat. Sedangkan dari Ibukota Muara Bungo lokasi ini berjarak 37 km dengan waktu tempuh 60 menitRantau Pandan pada umumnya memiliki Topografi perbukitan dengan ketinggian antara 150-170 m dari permukaan laut , dan dilewati oleh aliran sungai batang bungo. Kondisi di lokasi penambangan di dominasi oleh kebun karet dan semak-semak.

Gambar 1. Lokasi kesampaian daerahSumber: PT. Leban Mutiara Hitam 20083. Geologi dan StratigrafiGeologi daerah Rantau Pandan dan sekitarnya tersusun oleh batuan sediment yang terendapkan diatas batuan dasar granit yang berumur pra tersier (batuan yang berumur 20-40 juta tahun yang lalu), dimana satuan batuan yang berkembang di daerah ini adalah satuan batuan lempung dan satuan batuan pasiran. Pada satuan batuan lempung ditemukan lapisan batu bara yang tersebar. Pada daerah ini banyak dijumpai patahan-patahan sehingga diperlukan ahli geologi untuk mengetahui arah dan sebaran batubara yang terjadi. Dengan kondisi batuan yang tersusun atas batuan yang rapuh tidak memungkinkan untuk melakukan penambangan secara tambang dalam karena tidak dianggap ekonomis.4. Iklim dan CuacaDaerah penambangan di daerah Leban ini beriklim tropis dengan temperature udara berkisar antara 25 C 30 C.Aktifitas penambangan tepatnya di tambang terbuka sangat dipengaruhi oleh iklim dan cuaca. Pada musim hujan kegiatan penambangan akan terhambat karena jalan untuk pengangkutan licin, akibatnya aktifitas penambangan tidak biasa dilakukan. Sebaliknya pada musim kemarau akan timbul banyak debu karena kondisi jalan yang kering dan tidak disirami air sehingga secara tidak langsung iklim dan cuaca sangat berpengaruh terhadap kelancaran proses produksi. Tabel 1. Pengukuran curah hujan tahun 2003-2008 (dalam mm/ bulan) TahunBulan2003 (mm)2004 (mm)2005 (mm)2006 (mm)2007 (mm)2008(mm)

Januari32018429256438833,8

Februari30056304287290410

Maret269136130-155152

April148176166-316224

Mei24266-117328140,3

Juni1871052701445017,4

Juli13259-49010456,7

Agustus8668-127270-

September78-30813560-

Oktober56---142-

November135298220---

Desember--611---

Sumber: Dinas Pertanian Kec. Rantau Pandan 2008

5. Analisis Kualitas Kualitas batubara yang dihasilkan PT. Leban Mutiara Hitam termasuk kedalam rank Sub bituminus A. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan oleh PT. Superintending Company of Indonesia (SUCOFINDO) kualitas batubara PT. Leban Mutiara Hitam (LMH) adalah 6,194 kkal/kg, kadar sulfur 0,66% dan kandungan abu 5,60% Dapat dilihat pada tabel 2 dibawaah ini.Tabel 2. Hasil Analisis PT. Sucofindo terhadap kualitas batubara PT. Leban Mutiara Hitam (LMH)No. Parameter SatuanAngka

1.2.

3.4.Tot