SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN ILMU KOMPUTER DALAM... · SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN ILMU KOMPUTER TRIGUNADARMA

  • View
    213

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN ILMU KOMPUTER DALAM... · SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN ILMU KOMPUTER...

Karya Ilmiah

KEAMANAN DALAM BERTRANSAKSI MELALUIE-COMMERCE

Oleh :

Purwadi, S.Kom., M.Kom.

SEKOLAH TINGGI MANAJEMEN ILMU KOMPUTERTRIGUNADARMA

MEDAN2012

1

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Internet merupakan sarana elektronik yang dapat

dipergunakan untuk berbagai aktivitas seperti komunikasi, riset,

transaksi bisnis dan lainnya. Sejak diperkenalkan pada tahun

1969 di Amerika Serikat, internet mengalami perkembangan

yang luar biasa. Apalagi dengan diperkenalkannya teknologi

World Wide Web (WWW), semakin menambah sempurnanya

teknologi tersebut (McLeod dan Schell, 2004:64). Teknologi

internet menghubungkan ribuan jaringan komputer individual

dan organisasi di seluruh dunia. Setidaknya ada enam alasan

mengapa teknologi internet begitu populer. Keenam alasan

tersebut adalah internet memiliki konektivitas dan jangkauan

yang luas; dapat mengurangi biaya komunikasi; biaya transaksi

yang lebih rendah; dapat mengurangi biaya agency; interaktif,

fleksibel, dan mudah; serta memiliki kemampuan untuk

mendistribusikan pengetahuan secara cepat (Laudon dan

Laudon, 2000:300).

2

Penggunaan internet untuk aktivitas transaksi bisnis

dikenal dengan istilah Electronic Commerce (e-commerce)

(McLeod dan Schell, 2004:49). Menurut Indrajit (2001:2),

karakteristik e-commerce terdiri atas terjadinya transaksi

antara dua belah pihak; adanya pertukaran barang, jasa, atau

informasi; dan internet sebagai medium utama dalam proses

transaksi. Dalam praktiknya, transaksi e-commerce dapat terjadi

antara organisasi bisnis dengan sesama organisasi bisnis (B2B)

dan antara organisasi bisnis dengan konsumen (B2C) (Laudon dan

Laudon, 2000:307; Indrajit, 2001:1; Corbitt et al., 2003; McLeod

dan Schell, 2004:50).

Pengguna internet di Indonesia yang resmi tercatat

berlangganan pada tahun 2003 sebanyak 739.571, yang terbagi

dalam kategori personal/perseorangan sebanyak 591.045 dan

korporasi sebanyak 148.526 (CIC, 2004). Jumlah tersebut belum

termasuk pengguna yang memanfaatkan jasa internet cafe,

warnet, dan fasilitas internet instan sepert i Terlkomnet Instan,

Mobile-8, atau StarOne. Menurut catatan WDR research,

pertumbuhan pengguna internet di Indonesia mencapai 105% per

tahun dan merupakan pertumbuhan paling tinggi di antara

negara-negara di Asia setelah China (Boerhanoeddin, 2003).

3

Kondisi tersebut dapat dijadikan pemicu untuk

menumbuhkan e-commerce di Indonesia. Dengan semakin

banyaknya pengguna internet, diharapkan dapat mempengaruhi

perilaku masyarakat dalam melakukan pembelian barang/jasa,

yaitu dari pembelian secara konvensional ke e-commerce.

Sebagaimana hasil penelitian Liao dan Cheung (2001) bahwa

pengguna internet di Singapura, semakin banyak

mempergunakan internet maka ia semakin senang melakukan

pembelian melalui eshop (toko maya). Fenomena ini diharapkan

dapat menjadi daya tarik bagi pengusaha, khususnya di

Indonesia, untuk mulai mengembangkan inovasi bisnis melalui e-

commerce.

Pada saat ini jumlah e-shop di Indonesia sudah mencapai

lebih dari dua puluh buah. Produk yang dijual bermacam-

macam, seperti buku, komputer, telepon genggam, handicraft,

dan t-shirt. Pada tahun 2000 tercatat nilai transaksi ecommerce

di Indonesia mencapai US$ 100 juta. Sedangkan nilai transaksi

ecommerce di seluruh dunia mencapai US$ 390 milyar. Hal ini

berarti nilai transaksi e-commerce di Indonesia masih sekitar

0,026% dari seluruh total nilai transaksi ecommerce dunia

(Boerhanoeddin, 2003). Jika mengacu pada hasil penelitian yang

4

dilakukan Liao dan Cheung (2001) di Singapura, setidaknya

dengan semakin berkembangnya jumlah pengguna internet di

Indonesia, diprediksikan akan terus meningkatkan volume dan

nilai transaksi e-commerce.

Membuka transaksi bisnis melalui internet bukan berarti

terhindar dari kejahatan oleh pihak lain sebagaimana

bertransaksi secara konvensional. Potensi kejahatan berupa

penipuan, pembajakan kartu kredit (carding), pentransferan

dana illegal dari rekening tertentu, dan sejenisnya sangatlah

besar apabila sistem keamanan (security) infrastruktur e-

commerce masih lemah. Oleh karena itu, keamanan infrastruktur

e-commerce menjadi kajian penting dan serius bagi ahli

komputer dan informatika (Liddy dan Sturgeon, 1988; Ferraro,

1998; Udo, 2001; McLeod dan Schell, 2004:51).

Kejahatan melalui internet (cyberfraud/internetfraud)

dalam berbagai bentuknya, baik di Indonesia maupun di belahan

dunia lainnya masih menjadi ancaman bagi keberlangsungan e-

commerce. Menurut hasil riset pada tahun 2001 yang dilakukan

oleh ClearCommerce.com yang berkantor di Texas, Indonesia

dinyatakan berada di urutan ke dua negara asal pelaku

cyberfraud setelah Ukraina. Hasilnya menunjukkan bahwa

5

sekitar 20% dari total transaksi kartu kredit dari Indonesia di

Internet adalah fraud. Riset tersebut mensurvei 1.137 toko

online, 6 juta transaksi, dan 40 ribu pelanggan (Utoyo, 2003). Di

Amerika Serikat, pada tahun 2003 cyberfraud dengan modus

transaksi penyalahgunaan kartu kredit mencapai angka tertinggi,

yaitu 39%. Berikutnya disusul money order (26%), cek (11%),

debit card (7%) dan bank debit (7%) (IFW, 2004). Sedangkan

total nilai kerugian uang sebesar US$ 125,6 juta dengan rincian

masing-masing US$ 10.000 US$ 99.999 sebanyak 1,8%; US$

5.000 US$ 9.999 sebanyak 3%; US$ 1.000 US$ 4.999 sebanyak

21,2%; US$ 100 US$ 999 sebanyak 47,6%; dan di bawah US$ 100

sebanyak 26,3% (IC3,2004).

Data di atas menunjukkan bahwa transaksi melalui e-

commerce memiliki potensi resiko yang cukup tinggi. Tetapi

mengapa transaksi e-commerce hingga saat ini masih

berlangsung dan cenderung meningkat? Apakah manfaat yang

diperoleh lebih besar daripada risikonya? Berkaitan dengan hal

ini, Corbit et al. (2003) telah melakukan penelitian dan hasilnya

adalah ternyata meningkatnya partisipasi konsumen di dalam e-

commerce berkaitan langsung dengan pengalaman menggunakan

web, orientasi pasar dan kepercayaan. Peneliti lain, Mukherjee

6

dan Nath (2003), menemukan bahwa komitmen konsumen dalam

menggunakan ecommerce berkaitan langsung dengan shared

value (etika, keamanan, dan privacy) dan kepercayaan. Resiko

dalam e-commerce, menurut Tan dan Thoen (2000), dapat

dieliminir dengan menjalin komunikasi yang baik antara dua

pihak yang bertransaksi, di antaranya melalui penyajian

informasi yang relevan. Penyajian informasi yang baik akan

menghindari terjadinya information asymmetry yang seringkali

dimanfaatkan pihak lain untuk melakukan kejahatan di internet

(cybercrime). Melalui komunikasi yang baik, konsumen merasa

mendapat jaminan keamanan dalam bertransaksi sehingga

partisipasinya dalam e-commerce menjadi meningkat.

Bangunan sistem e-commerce sebaik apapun pasti masih

mengandung potensi risiko. Sebagaimana penelitian yang

dilakukan oleh Pavlou dan Gefen (2002), Corbit et al. (2003),

Kim dan Tadisina (2003), Mukherjee dan Nath (2003), dan

peneliti yang lain dari sekian banyak faktor yang dapat

mempengaruhi terjadinya transaksi melalui e-commerce, faktor

kepercayaan (trust) menjadi faktor kunci. Hanya pelanggan yang

memiliki kepercayaan yang akan berani melakukan transaksi

7

melalui media internet. Tanpa ada kepercayaan dari pelanggan,

mustahil transaksi ecommerce akan terjadi.

Mayer et al. (1995) setelah melakukan review literatur dan

pengembangan teori secara komprehensif menemukan suatu

rumusan bahwa kepercayaan (trust) dibangun atas tiga dimensi,

yaitu kemampuan (ability), kebaikan hati (benevolence), dan

integritas (integrity). Tiga dimensi ini menjadi dasar penting

untuk membangun kepercayaan seseorang agar dapat

mempercayai suatu media, transaksi, atau komitmen tertentu.

Indonesia sebagai negara sedang berkembang, dan baru

sekitar lima tahun terakhir mengadopsi e-commerce, tentunya

memiliki beberapa perbedaan dengan negara-negara maju yang

telah lama mempraktikkan e-commerce. Perbedaan tersebut

setidaknya menyangkut masalah regulasi, perangkat hukum, dan

perilaku konsumen.

Berkaitan dengan praktik e-commerce di Indonesia yang

relatif masih baru tersebut, fenomena yang menarik untuk

diteliti adalah sejauhmana kepercayaan (trust) pelanggan e-

commerce dalam melakukan transaksi online dan bagaimana

kaitannya dengan tingkat partisipasi pelanggan e-commerce.

Oleh karena itu, judul penelitian ini adalah Pengaruh Dimensi

8

Kepercayaan (Trust) Terhadap Partisipasi Pelanggan E-

Commerce: Studi Pada Pelanggan E-Commerce di Indonesia.

1.2. Tujuan Penulisan

Penulisan karya ilmiah ini bertujuan untuk mengetahui

keamanan dalam bertransaksi melalui e-commerce.

9

BAB II

URAIAN TEORITIS

2.1. Evolusi Internet

Internet menghubungkan manusia ke seluruh dunia. Melalui

internet, manusia dapat saling berbagi pengetahuan dan

informasi melalui e-mail, publikasi digital, belanja secara