Referat Persistent Maxillary Sinusitis

  • View
    13

  • Download
    2

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Referat Persistent Maxillary Sinusitis

Text of Referat Persistent Maxillary Sinusitis

BAB IPENDAHULUAN

Sinus yang dalam keadaan fisiologis adalah steril, apabila klirens sekretnya berkurang atau tersumbat, akan menimbulkan lingkungan yang baik untuk perkembangan organisme patogen. Apabila terjadi infeksi karena virus, bakteri ataupun jamur pada sinus yang berisi sekret ini, maka terjadilah sinusitis.1Sinusitis kronis merupakan inflamasi kronis pada hidung dan sinus paranasal yang sering terjadi, terutama pada usia antara 30-69 tahun. Prevalensi penyakit ini ditemukan lebih tinggi pada jenis kelamin wanita dibandingkan laki-laki. Etiologi Sinusitis kronis bersifat multifaktorial meliputi faktor penjamu (host) baik sistemik maupun lokal dan faktor lingkungan. Namun pada sinusitis kronis yang persisten meskipun telah diberikan terapi yang adekuat biasanya berhubungan dengan adanya obstruksi mekanik, riwayat alergi dan asma, inflamasi dari superantigen bakteri dan jamur serta adanya polutan seperti rokok.2Dari berbagai sinus yang terlibat pada sinusitis kronis, sinus maksila merupakan sinus yang paling sering terlibat (79,1%), diikuti sinus etmoid anterior (48,2%), sinus sfenoid (27,2%) dan sinus frontal (11,2%). Namun secara keseluruhan, 82,7% kasus menunjukkan kelainan patologis pada kompleks ostiomeatal. Di Indonesia, prevalensi sinusitis kronis pada tahun 2004 dilaporkan sebesar 12,6% dengan perkiraan sebanyak 30 juta penduduk menderita sinusitis kronis.2Diagnosis sinusitis kronis didapatkan melalui anamnesis, pemeriksaan Telinga, hidung dan tenggorokan dengan rinoskopi anterior dan posterior, nasoendoskopi kaku atau fleksibel, pemeriksaan radiologi (Rntgen ataupun tomografi komputer sinus paranasal) dan pemeriksaan mikrobiologi.2,3,4BAB II

SINUS PARANASAL

Anatomi Sinus ParanasalSinus paranasal dibedakan menjadi dua kelompok, yaitu kelompok anterior yang terdiri dari sinus frontal, sinus maksila dan sinus etmoid anterior yang bermuara pada meatus media, dan kelompok posterior yang terdiri dari sinus etmoid posterior bermuara pada meatus superior dan sinus sfenoid yang bermuara pada resesus sfenoethmoidalis.3

Gambar 2.1 Sinus Paranasal3Sinus maksila

Sinus maksila merupakan sinus paranasal terbesar berbentuk piramid yang berada di dalam tulang maksila. Tulang ini terdiri dari satu korpus berbentuk piramid kuadrilateral dan empat prosesus yaitu prosesus frontal, zigomatik, alveolar dan palatina. Sinus maksila dengan apeks berhubungan langsung dengan prosesus zigomatik os maksila dibatasi oleh lima dinding, yaitu dinding medial, anterior, posterolateral, superior dan inferior. Dinding medial sinus maksila berbatasan dengan dinding lateral kavitas nasi setinggi meatus media dan inferior yang secara vertikal dibagi menjadi tiga bagian (gambar 2.2). 2,3Dinding anterior sinus merupakan dinding anterior os maksila. Dinding posterolateral sinus dibentuk oleh os zigomatik dan alar mayor os sfenoid. Dinding superior sinus berbatasan dengan lantai orbita dan dinding inferior dibentuk oleh prosesus alveolar os maksila. Ostium sinus maksila kebanyakan terletak pada sepertiga posterior infundibulum etmoid, dengan ukuran rata-rata 2-3 mm. Volume rata-rata sinus maksila dewasa adalah 14,25 ml dengan panjang 38-45 mm, tinggi 36-45 mm dan lebar 25-33 mm.2Dari segi klinik yang perlu diperhatikan dari anatomi sinus maksila adalah: 1. Dasar dari anatomi sinus maksila sangat berdekatan dengan akar gigi rahang atas, yaitu premolar (P1 dan P2), molar (M1 dan M2), kadang-kadang juga gigi taring (C) dan gigi molar M3, bahkan akar-akar gigi tersebut dapat menonjol ke dalam sinus, sehingga infeksi gigi geligi mudah naik ke atas menyebabkan sinusitis; 2. Sinusitis maksila dapat menyebabkan komplikasi orbita; 3. Ostium sinus maksila terletak lebih tinggi dari dasar sinus, sehingga drainase kurang baik, lagipula drainase juga harus melalui infundibulum yang sempit. Infundibulum adalah bagian dari sinus etmoid anterior dan pembengkakan akibat radang atau alergi pada daerah ini dapat menghalangi drenase sinus maksila dan selanjutnya menyebabkan sinusitis.3

Gambar 2.2. Sinus maksila dengan tiga bagian secara vertikal, potongan koronal.2Sinus Frontal

Sinus frontal yang terletak di os frontal mulai terbentuk sejak bulan ke empat fetus, berasal dari sel-sel resesus frontal atau dari sel-sel infundibulum etmoid. Sesudah lahir, sinus frontal mulai berkembang pada usia 8-10 thn dan akan mencapai ukuran maksimal sebelum usia 20 thn.3,7

Sinus frontal kanan dan kiri biasanya tidak simetris, satu lebih besar dari pada lainnya dan dipisahkan oleh sekat yang terletak di garis tengah. Kurang lebih 15% orang dewasa hanya mempunyai satu sinus frontal dan kurang lebih 5% sinus frontalnya tidak berkembang.3,6Ukurannya sinus frontal adalah 2.8 cm tingginya, lebarnya 2.4 cm dan dalamnya 2 cm. Sinus frontal biasanya bersekat-sekat dan tepi sinus berleku-lekuk. Tidak adanya gambaran septum-septum atau lekuk-lekuk dinding sinus pada foto Rontgen menunjukkan adanya infeksi sinus. Sinus frontal dipisakan oleh tulang yang relatif tipis dari orbita dan fosa serebri anterior, sehingga infeksi dari sinus frontal mudah menjalar ke daerah ini.6Sinus Etmoid

Dari semua sinus paranasal, sinus etmoid yang paling bervariasi dan akhir-akhir ini dianggap paling penting, karena dapat merupakan fokus infeksi bagi sinus-sinus lainnya. Pada orang dewasa bentuk sinus etomid seperti piramid dengan dasarnya di bagian posterior. Ukurannya dari anterior ke posterior 4-5 cm, tinggi 2.4 cmn dan lebarnya 0.5 cm di bagian anterior dan 1.5 cm di bagian posterior.6

Sinus etmoid berongga-rongga, terdiri dari sel-sel yang menyerupai sarang tawon, yang terdapat di dalam massa bagian lateral os etmoid, yang terletak di antara konka media dan dinding medial orbita. Sel-sel ini jumlahnya bervariasi antara 4-17 sel (rata-rata 9 sel). Berdasarkan letaknya, sinus etmoid dibagi menjadi sinus etmoid anterior yang bermuara di meatus medius dan sinus etmoid posterior yang bermuara di meatus superior. Sel-sel sinus etmoid anterior biasanya kecil-kecil dan banyak, letaknya di bawah perlekatan konka media, sedangkan sel-sel sinus etmoid posterior biasanya lebih besar dan lebih sedikit jumlahnya dan terletak di postero-superior dari perlekatan konka media.6Di bagian terdepan sinus etmoid anterior ada bagian yang sempit, disebut resesus frontal, yang berhubungan dengan sinus frontal. Sel etmoid yang terbesar disebut bula etmoid. Di daerah etmoid anterior terdapat suatu penyempitan yang disebut infundibulum, tempat bermuaranya ostium sinus maksila. Pembengkakan atau peradangan di resesus frontal dapat menyebabkan sinusitis frontal dan pembengkakan di infundibulum dapat menyebabkan sisnusitis maksila.7Atap sinus etmoid yang disebut fovea etmoid berbatasan dengan lamina kribosa. Dinding lateral sinus adalah lamina papirasea yang sangat tipis dan membatasi sinus etmoid dari rongga orbita. Di bagian belakang sinus etmoid posterior berbatasan dengan sinus sfenoid.6Sinus SfenoidSinus sfenoid terletak dalam os sfenoid di belakang sinus etmoid posterior. Sinus sfenoid dibagi dua oleh sekat yang disebut septum intersfenoid. Ukurannya adalah 2 cmn tingginya, dalamnya 2.3 cm dan lebarnya 1.7 cm. Volumenya bervariasi dari 5-7.5 ml. Saat sinus berkembang, pembuluh darah dan nervus di bagian lateral os sfenoid akan menjadi sangat berdekatan dengan rongga sinus dan tampak sebagai indentasi pada dinding sinus etmoid. Batas-batasnya ialah, sebelah superior terdapat fosa serebri media dan kelenjar hipofisa, sebelah inferiornya atap nasofaring, sebelah lateral berbatasan dengan sinus kavernosus dan a.karotis interna (sering tampak sebagai indentasi) dan di sebelah posteriornya berbatasan dengan fosa serebri posterior di daerah pons.6Komplek ostiomeatal

Kompleks ostiomeatal (KOM) terdiri dari sel-sel udara dari etmoid anterior dan ostiumnya, infundibulum etmoid, ostium sinus maksila, ostium sinus frontal dan meatus media, seperti terlihat pada gambar 2.3.2Struktur lain yang juga merupakan KOM adalah sel agger nasi, prosesus unsinatus, bula etmoid, hiatus semilunar inferior dan konka media. Secara fungsional, KOM berperan sebagai jalur drainase dan ventilasi untuk sinus frontal, maksila dan etmoid anterior.2

Gambar 2.3. Kompleks ostiomeatal (KOM), potongan koronal.2Fisiologi Sinus ParanasalPeranan sinus paranasal hingga saat ini masih belum diketahui secara pasti. Namun fungsi yang paling penting dari sinus paranasal adalah meningkatkan fungsi nasal. Fungsi sinus paranasal antara lain fungsi ventilasi, penghangatan, humidifikasi, filtrasi, dan pertahanan tubuh.1,2Faktor yang berperan dalam memelihara fungsi sinus paranasal adalah patensi KOM, fungsi transpor mukosiliar dan produksi mukus yang normal. Patensi KOM memiliki peranan yang penting sebagai tempat drainase mukus dan debris serta memelihara tekanan oksigen dalam keadaan normal sehingga mencegah tumbuhnya bakteri. Faktor transpor mukosiliar sangat bergantung kepada karakteristik silia yaitu struktur, jumlah dan koordinasi gerakan silia. Produksi mukus juga bergantung kepada volume dan viskoelastisitas mukus yang dapat mempengaruhi transpor mukosiliar.1,2,3,6Sistem Transpor Mukosilier

Sistem transpor mukosilier merupakan sistem pertahanan aktif rongga hidung terhadap virus, bakteri, jamur dan partikel berbahaya lain yang terhirup bersama udara. Efektivitas mukosilier dipengaruhi oleh kualitas silia dan palut lendir. Palut lendir dihasilkan oleh sel goblet pada epitel dan kelenjar submukosa. Bagian bawah palut lendir terdiri dari cairan serosa sedangkan bagian permukaannya terdiri dari mukus yang lebih elastik dan banyak mengandung protein plasma seperti albumin, IgG, IgM dan faktor komplemen. Sedangkan cairan serosa mengandung laktoferin, lisozim, inhibitor lekoprotease sekretorik, dan IgA sekretorik (s-IgA). Glikoprotein yang dihasilkan oleh sel mukus penti

Search related