Referat elis

  • View
    299

  • Download
    7

Embed Size (px)

Text of Referat elis

Referat

MORFEA

Oleh: Elis Tresia 04061001039/04104705039

Pembimbing: Dr. Mutia Devi, SpKK

BAGIAN/DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN KULIT DAN KELAMIN FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA RSUP DR. MOH. HOESIN PALEMBANG 2011

HALAMAN PENGE AHAN

R

t berjudul:

MORFEA

oleh: Eli Tresi 04061001039/ 04104705039

tel h diterim dan disetujui sebagai salah satu syarat untuk mengikuti Kepaniteraan Klinik Senior di Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin Fakultas Kedokteran Sriwijaya, Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Moh. Hoesin Palembang periode 17 Januari 14 Februari 2011.

Palembang, Februari 2011 Pembimbing,

Dr. Mutia Devi, SpKK

1

KATA PENGANTAR Segala puji syukur bagi ALLAH, atas rahmat dan karunia-Nya jualah, akhirnya referat yang berjudul Morfea ini dapat diselesaikan dengan baik. Referat ini ditujukan sebagai salah satu syarat untuk mengikuti ujian kepaniteraan klinik senior di bagian Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin RS Dr. Mohammad Hoesin Palembang. Ucapan terima kasih yang sebanyak-banyaknya penulis sampaikan kepada Dr. Mutia Devi, SpKK selaku pembimbing dalam referat ini yang telah memberikan bimbingan dan banyak kemudahan dalam penyusunan referat ini. Penulis menyadari bahwa referat ini masih memiliki banyak kekurangan, untuk itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan penulis demi kebaikan di masa yang akan datang. Harapan penulis semoga referat ini bisa membawa manfaat bagi siapa saja yang membacanya.

Palembang, Februari 2011

Penulis

2

MORFEAElis Tresia, S.Ked Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin FK UNSRI/RSMH Palembang 2011

PENDAHULUAN Morfea atau lebih dikenal dengan istilah skleroderma lokalisata adalah sklerosis kulit terlokalisir yang ditandai dengan penebalan dan indurasi pada kulit (epidermis, jaringan subkutan, atau keduanya) akibat deposit kolagen yang berlebihan tanpa keterlibatan sistemik.1 Insiden terjadinya morfea dilaporkan sebanyak 2,7 per 100.000 penduduk dengan rasio insiden laki-laki dan wanita 1:2-3. Morfea lebih banyak terjadi pada ras Kaukasia dan Asia dibandingkan Afrika dan Amerika. Semua variasi bentuk morfea dapat terjadi pada anak-anak maupun dewasa pada semua umur.1 Penyakit ini menyerang kurang lebih 300.000 penduduk Amerika atau sebesar 1 per 1.000 (0,001% dari 310 juta populasi AS) dan diperkirakan sekitar 27 kasus baru/1 juta populasi/tahun. Walaupun insidennya jarang, studi epidemiologi memberi kesan bahwa 0,9-5,7% pasien dengan morfea berkembang menjadi skleroderma sistemik.2 Terdapat tiga varian utama dari sklerodema lokalisata yaitu morfea, morfea genealisata, dan morfea linier. Jenis morfea linier lebih umum ditemukan pada anakanak dan remaja dan dapat terjadi pada usia dekade pertama dan kedua, dengan dua per tiga dari kasus ditemukan sebelum usia 18 tahun. Sedangkan morfea generalisata lebih umum pada dewasa dan biasanya muncul pada pertengahan usia.1 Etiologi morfea sampai saat ini masih belum diketahui, diduga morfea terjadi setelah infeksi measles, varicella, dan Borrelia burgdorferi serta faktor-faktor lain: trauma, vaksinasi Basil Calmette-Guerin (BCG) dan tetanus, injeksi vitamin B dan K, terapi radiasi, penicillamine, dan bromocriptine serta faktor hormonal.1,3 Morfea sendiri adalah suatu penyakit yang jinak dan self-limited. Namun dapat menyebabkan morbiditas khususnya pada anak-anak di masa pertumbuhan. Mulai dari kontraktur sendi, manifestasi neurologi dan oftalmologi, sampai depresi dan ansietas dapat terjadi akibat penyakit ini.2 Maka mengingat segala komplikasi yang dapat terjadi dan kurangnya pengetahuan dokter akan penyakit ini, penulis merasa perlu membuat refrat tentang morfea untuk mengetahui gambaran umum, cara menegakkan diagnosis dan penatalaksanaannya.

3

DEFINISI Morfea atau lebih dikenal dengan istilah skleroderma lokalisata adalah sklerosis kulit terlokalisir yang ditandai dengan penebalan dan indurasi pada kulit akibat deposit kolagen yang berlebihan tanpa keterlibatan sistemik. Gambaran klinis morfea sangat bervariasi, sehingga terkadang sulit untuk mendiagnosis morfea karena mempunyai gambaran klinis yang tidak seperti biasanya.1

EPIDEMIOLOGI Insiden terjadinya morfea dilaporkan sebanyak 2,7 per 100.000 penduduk dengan rasio insiden laki-laki dan wanita 1:2-3. Morfea lebih banyak terjadi pada ras Kaukasia dan Asia dibandingkan Afrika dan Amerika. Semua variasi bentuk morfea dapat terjadi pada anak-anak maupun dewasa pada semua umur.1 Penyakit ini menyerang kurang lebih 300.000 penduduk Amerika atau sebesar 1 per 1.000 (0,001% dari 310 juta populasi AS) dan diperkirakan sekitar 27 kasus baru/1 juta populasi/tahun. Walaupun insidennya jarang, studi epidemiologi memberi kesan bahwa 0,9-5,7% pasien dengan morfea berkembang menjadi skleroderma sistemik.2

ETIOLOGI Etiologi mofea sampai saat ini masih belum diketahui. Terdapat laporan bahwa morfea terjadi setelah infeksi measles, varicella, dan Borrelia burgdorferi. Faktor lain yang berperan diperkirakan adalah trauma, vaksinasi BCG, vaksinasi tetanus, injeksi vitamin B dan K, terapi radiasi, obat-obatan (penicillamine, pentazocine, bleomycin).1,3 Data lain menyatakan bahwa autoimun juga terlibat dalam terjadinya morfea. Sejumlah penelitian menunjukkan adanya abnormalitas fibroblast secara invitro dari pasien morfea dan peningkatan anti SS-DNA, aanti nuclear ntibody (ANA), antifosfolipid dan beberapa autoantibodi lainnya. Salah satu penelitian retrospektif yang melibatkan 254 penderita morfea, menunjukkan bahwa ANA terdapat pada 40% penderitanya. Bukti bahwa morfea merupakan penyakit autoimun juga didukung oleh penelitian yang menemukan adanya peningkatan level sitokin dalam sirkulasi pada pasien morfea. Hal ini termasuk reseptor IL-2, reseptor IL-6, CD4 dan CD8, CD23, CD30, TNF-, VCAM-1 dan E-selectin, antibodi antiendothelial, antibodi terhadap fibrillin dan beberapa autoantibodi lainnya.1,3,4 bromocriptine, carbidopa, hydroxytryptophan,

4

Baru-baru ini, trauma pembedahan telah dilaporkan sebagai stimulus dari perkembangan lesi morfea, misalnya setelah proses pembentukan arteriovenous fistula dan rhinoplasty. Faktor hormonal mungkin berpengaruh terhadap penyakit, dimana morfea mungkin berkembang selama atau di eksaserbasi oleh kehamilan.3 Infeksi terhadap organisme Borrelial juga dikaitkan dengan etiologi morfea, beberapa pusat studi Eropa berpendapat adanya hubungan antara morfea dan akrodermatitis kronika atropikan, suatu penyakit karena terinfeksi Borrelia burgdorferi. DNA Borrelia juga ditemukan di biopsi kulit dari pasien dengan morfea yang diperiksa dengan menggunakan PCR. Namun pada studi-studi lain tidak ditemukan antibodi Borrelia atau DNA pada morfea dari pasien Skandinavia, Jerman, Spanyol atau Amerika.3 Peran genetik pada morfea masih belum jelas. Insiden familial tercatat skleroderma lokal dan sistemik terjadi pada kembar monozigot. Morfea juga dihubungkan dengan

fenilketonuria, dan perbaikan terjadi dengan diet rendah fenilalanin. Morfea juga dilaporkan terjadi setelah terapi dengan sejumlah obat. Morphoea-like plaques muncul pada pasien dengan terapi penicillamine dan teremisi dalam setahun pemberhentian pengobatan. Lesi kutaneus juga dilaporkan muncul setelah terapi dengan bromokriptin, hydroxytryptophan dan carbidopa, pentazocine, docetaxel, bleomycin.3

PATOGENESIS Patogenesis terjadinya morfea masih merupakan hipotesis dikarenakan tidak adanya etiologi langsung yang terlibat dalam proses terjadinya morfea. Beberapa studi menyatakan patogenesis terjadinya morfea hampir sama dengan terjadinya sklerosis sistemik, yaitu melibatkan proses inflamasi dan pengeluaran sitokin-sitokin yang merangsang produksi kolagen oleh fibroblast, kerusakan sel endotel dan ketidakseimbangan matriks ekstraseluler.1 Banyak studi berpendapat adanya peran patogenik dalam transforming growth faktor(TGF- ). TGFmenstimulasi fibroblas untuk menghasilkan peningkatan jumlah dari

glikosaminoglikan, fibronektin, dan kolagen; mengurangi kerusakan matriks ekstraseluler; dan hal ini mengurangi kerentanan fibroblas untuk di apoptosis. TGF- telah ditemukan meningkat di lesi morfea seperti di kulit dan paru fibrotik dari pasien dengan sklerosis sistemik. Beberapa berpendapat bahwa setidaknya di sklerosis sistemik, ekspresi reseptor TGF- di fibroblas dermal meningkat. Juga terdapat data yang mendukung kemungkinan bahwa perubahan jalur protein Smad, yang penting dalam transduksi sinyal TGF , dapat memegang peran pada overproduksi kolagen. Kultur fibroblas dari sklerosis sistemik dan 5

skleroderma lokalisata

menghasilkan peningkatan jumlah dari komponen jaringan

penghubung, termasuk tipe I kolagen in vitro. Biopsi kulit menunjukkan kapasitas yang lebih besar untuk overproduksi kolagen dan subpopulasi dari fibroblas dengan aktivasi ekspresi kolagen tipe I; fibroblas-fibroblas ini satu lokasi dengan sel-sel mononukleus peradangan yang mengekspresikan TGF- . Biopsi lesi sklerotik juga menunjukkan ekspresi dari isoform TGFyang berbeda, seperti tissue metalloproteinase-3 (TIMP-3) di subpopulasi dari

fibroblas yang dikultur dari lesi skleroderma lokalisata. TGF- meningkatkan ekspresi TIMP3, dan TIMP-3 menghambat kerusakan kolagen. Harus diperhatikan bahwa tiga isoform yang berbeda dari TGF- (1, 2, dan 3) terdapat di manusia; TGF- 1 adalah yang terbaik yang telah dipelajari. Beberapa bukti berpendapat bahwa respon fibrotik mungkin predominan berasal dari sel CD4+. Sel plasma dan histiosit mungkin berkontribusi dalam stimulasi fibroblas dermis. Sel peradangan ditemukan di dermis lesi skleroderma yang terutama adalah limfosit T dan yang sebagian besar adalah sel T helper. Juga terdapat peningkatan produksi interleukin 2 (IL-2) dan IL-4. Kehadiran CD34+ dan faktor XIIIa dendrosit dermis berhubungan dengan peradangan aktif dan sklerosis pada morfea. Peran patogenik dari sel mast