Click here to load reader

Potensi Dampak Penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET ... · PDF filePenanggung Jawab Dr. Asep Ahmad Saefuloh, S.E.,M.Si. Pemimpin Redaksi Rastri Paramita, S.E., M.M. ... mendalam soal

  • View
    217

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Potensi Dampak Penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET ... · PDF filePenanggung Jawab Dr. Asep...

1

Kehati-hatian Pengenaan Pajak dalam Transaksi E-Commercep. 03

Potensi Dampak

Penetapan Harga Eceran

Tertinggi (HET) Beras

p. 09

Buletin APBNPusat Kajian AnggaranBadan Keahlian DPR RIwww.puskajianggaran.dpr.go.id ISSN 2502-8685

Edisi 18 Vol. II. September 2017

2

Penanggung JawabDr. Asep Ahmad Saefuloh, S.E.,M.Si.

Pemimpin RedaksiRastri Paramita, S.E., M.M.

RedakturJesly Yuriaty Panjaitan, S.E., M.M. Ratna Christianingrum, S.Si., M.Si.Marihot Nasution, S.E., M.SiAdhi Prasetyo S. W., S.M.

EditorDwi Resti Pratiwi, S.T., MPM.Ade Nurul Aida, S.E.

Terbitan ini dapat diunduh di halaman website www.puskajianggaran.dpr.go.id

Kehati-Hatian Pengenaan Pajak dalam Transaksi E-Commerce p.3

INDONESIA diprediksi akan menjadi salah satu negara yang menguasai bisnis digital di dunia. Model bisnis e-commerce sangat cepat berkembang dan variasinya pun cukup tinggi, sehingga akan sulit menerapkan pajak untuk transaksi ini. Dalam merumuskan aturan perpajakan pada transaksi e-commerce, perlu kajian mendalam soal bagaimana bentuk aturan yang akan dikenakan dan model transaksi e-commerce.

Potensi Dampak Penetapan Harga Eceran Tertinggi (HET) Beras p.9

PENETAPAN HET beras memiliki dampak positif bagi konsumen, baik dalam menjangkau harga beras maupun menjaga stabilnya harga beras . Diluar dari itu, penetapan kebijakan tersebut juga berpotensi menimbulkan dampak negatif, seperti tertekannya harga gabah di tingkat petani, keengganan berinovasi dalam menghasilkan varietas yang lebih baik, tersisihnya perusahaan penggilingan skala kecil, serta kerugian bagi pedagang.

Update APBN

[email protected]

p.2

Perkembangan Cadangan Devisa dan BI 7-Day Repo

Dewan Redaksi

Kritik/Saran

1

Update APBNPerkembangan Cadangan Devisa dan

BI 7-Day RepoPosisi cadangan devisa pada akhir Agustus 2017 mengalami peningkatan 0,78 persen dari posisi akhir bulan Juli 2017. Peningkatan cadangan devisa terutama dipengaruhi oleh penerimaan devisa dari penerimaan pajak, devisa hasil ekspor migas bagian pemerintah, dan hasil lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) Valas. Cadangan devisa tersebut cukup untuk membiayai 8,9 bulan impor atau 8,6 bulan impor, dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Cadangan Devisa (dalam USD Miliar)

Sumber : Bank Indonesia

BI 7-Day (Persen)

Hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG-BI) pada 20 dan 22 Septem-ber 2017 kembali menurunkan BI 7-Day Reverse Repo Rate sebesar 25 basis point dari 4,50 persen menjadi 4,25 persen. Penurunan ini sejalan dengan masih konsistennya inflasi Indonesia yang rendah.

Sumber : Bank Indonesia

2

Kehati-hatian dalam Pengenaan Pajak Transaksi E-Commerce

oleh Eka Budiyanti*)

*)Peneliti Bidang Ekonomi dan Kebijakan Publik pada Pusat Penelitian, Badan Keahlian DPR RI, e-mail: [email protected]

Seiring dengan berkembangnya teknologi dan internet yang sangat pesat seperti saat ini, muncul model usaha bisnis yang memanfaatkan teknologi dan internet tersebut. Model usaha bisnis tersebut dikenal dengan nama e-commerce (electronic commerce). E-commerce atau perdagangan elektronik merupakan suatu model usaha yang melakukan penyebaran, pembelian, penjualan, pemasaran barang dan jasa melalui sistem elektronik. Beberapa contoh e-commerce di Indonesia antara lain Tokopedia, Blibli, Lazada, Bhinneka, dan lain-lain.Indonesia diprediksi akan menjadi salah satu negara yang menguasai bisnis digital di dunia bersama dengan negara lainnya yaitu Cina dan India. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan industri e-commerce di Indonesia dalam 10 tahun terakhir tumbuh sekitar 17 persen dengan total sekitar 26,2 juta usaha. Sementara itu Bloomberg menyatakan pada tahun 2020, lebih dari separuh penduduk Indonesia terlibat dalam kegiatan e-commerce, dan McKinsey memperkirakan peralihan ke ranah digital akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi hingga USD150 miliar pada tahun 2025.Semakin pesatnya perkembangan e-commerce di Indonesia membuat pemerintah berusaha menggali

potensi penerimaan dari transaksi online yaitu melalui pajak. Tujuan utama pengenaan pajak adalah untuk menciptakan kesempatan dan keadilan (level playing of field) yang sama bagi para pelaku usaha, baik yang melakukan perdagangan langsung maupun melalui e-commerce. Uniknya model bisnis e-commerce menyebabkan ada beberapa hal yang perlu menjadi perhatian bagi pemerintah dalam menyusun aturan pajak e-commerce.Perkembangan E-Commerce di IndonesiaPada tahun 2016 pengguna internet di Indonesia telah mencapai 132,7 juta. Angka ini meningkat drastis sebesar 50,74 persen jika dibandingkan dengan tahun 2014 yang hanya mencapai 88,1 juta dan 42,08 persen pada tahun 2015 yang mencapai 93,4 juta. Perangkat mobile masih menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia dalam mengakses internet (67,8 persen) dan sisanya melalui desktop/tablet.Hasil survey Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) juga menunjukkan 62 persen pengguna internet mengunjungi online shop. Artinya, pengguna internet di Indonesia sudah banyak yang mengetahui atau bahkan melakukan transaksi online. Dengan jumlah pengguna internet yang sangat besar

3

ini, tentunya Indonesia menjadi pangsa pasar yang sangat potensial bagi perkembangan e-commerce.E-commerce adalah suatu model usaha atau bisnis yang dilakukan secara online/menggunakan media elektronik. E-commerce sendiri pertama kali muncul di Indonesia pada tahun 1996. Situs e-commerce pertama adalah toko buku online sanur.com. Sejak saat itu mulai bermunculan situs-situs e-commerce lainnya seperti bhinneka.com, kaskus.com, dll.Perkembangan positif e-commerce ditunjukkan dengan data Sensus Ekonomi tahun 2016 yang dikeluarkan oleh BPS. Data BPS menunjukkan industri e-commerce di Indonesia dalam 10 tahun terakhir tumbuh sekitar 17 persen dengan total sekitar 26,2 juta usaha.Per Desember 2016, terdapat 8,7 juta konsumen yang bertransaksi di toko online, jumlah ini meningkat sangat pesat dibandingkan dengan jumlah konsumen pada tahun 2015 yang hanya sebesar 7,4 juta konsumen. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) memprediksikan angka ini akan mencapai 9,3 juta konsumen pada tahun 2017.Tidak hanya jumlah pembeli online, jumlah transaksinya pun ikut meningkat. Data dari social research & monitoring soclab.com menunjukkan pada tahun 2016, nilai transaksi e-commerce Indonesia mencapai USD4,89 miliar atau setara dengan Rp68 triliun. Angka ini meningkat 37,36 persen dibandingkan dengan tahun 2015

yang hanya mencapai USD3,56 miliar. Jika dibandingkan dengan negara lain seperti Cina, Jepang, Korea Selatan, dan India memang masih sangat kecil, namun Indonesia memiliki potensi pangsa pasar yang sangat besar karena peningkatan jumlah pengguna internet yang kian pesat setiap tahunnya (tabel 1).

Tabel 1. Perkembangan Transaksi E-Commerce Beberapa Negara Tahun

2013-2016 (USD Miliar)Negara Tahun

2013 2014 2015 2016

Cina 181,62 274,57 358,59 439,72

Jepang 118,59 127,06 135,54 143,13

Korea Selatan

18,52 20,24 21,92 23,71

India 16,32 20,74 25,65 30,31

Indonesia 1,79 2,60 3,56 4,89Sumber: Social Research & Monitoring soclab.com, 2017

Potensi E-Commerce di IndonesiaPerkembangan e-commerce di Indonesia yang sangat pesat dapat dilihat salah satunya dari penjualan online ritel. Pada tahun 2016, penjualan online retail Indonesia mencapai USD5,65 miliar, meningkat 22,56 persen dibandingkan tahun 2015 yang mencapai USD4,61 miliar. Angka ini diperkirakan akan terus mengalami peningkatan sampai tahun 2021. Pada tahun 2021 diperkirakan akan mencapai USD14,47 miliar (gambar 1).Beberapa penelitian telah melakukan riset mengenai potensi dan prospek e-commerce di Indonesia. Seperti dalam laporan Total Retail 20171 yang dirilis oleh konsultan bisnis global Price Waterhouse Coopers (PWC), ditunjukkan bahwa dari 500 konsumen

1Total Retail Survey 2017 dilakukan di 29 negara dengan 24.471 responden. Di Indonesia, ada 500 konsumen online yang dipilih secara acak sebagai responden. Survei ini telah dilakukan selama 10 tahun sejak tahun 2007

4

online di Indonesia, 36 persen di antaranya telah berbelanja bulanan melalui internet. Jumlah tersebut lebih tinggi jika dibandingkan dengan rata-rata global yang hanya mencapai 34 persen. Indonesia menduduki posisi tertinggi di kawasan Asia Tenggara, mengalahkan Singapura dan Vietnam dengan masing-masing sebesar 34 persen dan Thailand 33 persen.Penelitian lainnya dilakukan oleh Temasek dan Google yang menunjukkan bahwa pertumbuhan e-commerce Indonesia meningkat seiring dengan tumbuhnya penggunaan internet di Indonesia. Pada tahun 2015, terdapat 18 juta orang pembeli online dan 92 juta pengguna internet di Indonesia. Pada tahun 2020 diprediksi pembeli online akan mencapai 119 juta orang dan pengguna internet meningkat menjadi 215 juta pengguna. Temasek dan Google juga memprediksi nilai pasar e-commerce Indonesia akan mencapai USD81 miliar pada tahun 2025.Riset Google juga memprediksi potensi e-commerce Indonesia mencapai 52 persen di Asia Tenggara. Hal itu didorong oleh populasi kelas menengah yang besar dan peningkatan akses ke internet,

sehingga pasar e-commerce Indonesia diperkirakan akan tumbuh 39 persen per tahun dari USD1,7 miliar pada tahun 2015 menjadi USD46 miliar pada tahun 2025.Dalam Roadmap E-Commerce Indonesia, pemerintah menargetkan nilai bisnis e-commerce di Indonesia mencapai angka USD130 miliar di tahun 2020. Jika mengacu pada Undang-Undang Pajak Pertambahan Nilai (PPN), potensi pendapatan pajak dari industri e-commerce tahun 2020 dapat mencapai 10 persen dari nilai bisnis e-commerce yakni

Search related