of 88/88
PENGARUH JUMLAH PENDUDUK DAN PERTUMBUHAN EKONOMI TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH (Studi Kasus Di Kabupaten/Kota Barat Selatan Provinsi Aceh) SKRIPSI OLEH: DEDEK HASANUR NIM: 11C20101131 PROGRAM EKONOMI PEMBANGUNAN UNIVERSITAS TEUKU UMAR MEULABOH-ACEH BARAT 2016

PENGARUH JUMLAH PENDUDUK DAN PERTUMBUHAN …repository.utu.ac.id/824/1/BAB I_V.pdf · Pengaruh Jumlah Penduduk Dan Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Pendapatan Asli Daerah (Studi Kasus

  • View
    12

  • Download
    1

Embed Size (px)

Text of PENGARUH JUMLAH PENDUDUK DAN PERTUMBUHAN …repository.utu.ac.id/824/1/BAB I_V.pdf · Pengaruh...

  • PENGARUH JUMLAH PENDUDUK DAN PERTUMBUHAN EKONOMI

    TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH

    (Studi Kasus Di Kabupaten/Kota Barat Selatan Provinsi Aceh)

    SKRIPSI

    OLEH:

    DEDEK HASANUR

    NIM: 11C20101131

    PROGRAM EKONOMI PEMBANGUNAN

    UNIVERSITAS TEUKU UMAR

    MEULABOH-ACEH BARAT

    2016

  • ii

    PENGARUH JUMLAH PENDUDUK DAN PERTUMBUHAN EKONOMI

    TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH

    (Studi Kasus Di Kabupaten/Kota Barat Selatan Provinsi Aceh)

    SKRIPSI

    OLEH:

    DEDEK HASANUR

    NIM: 11C20101131

    Skripsi Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh

    Gelar Sarjana Ekonomi

    Pada Fakultas Ekonomi Universitas Teuku Umar Meulaboh

    PROGRAM EKONOMI PEMBANGUNAN

    UNIVERSITAS TEUKU UMAR

    MEULABOH-ACEH BARAT

    2016

  • iii

    ABSTRAK

    Dedek Hasanur. Pengaruh Jumlah Penduduk Dan Pertumbuhan Ekonomi

    Terhadap Pendapatan Asli Daerah (Studi Kasus Di Kabupaten/Kota Barat Selatan

    Provinsi Aceh). Di Bawah bimbingan Alisman, M.Si dan Zainal Putra, MM.

    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya pengaruh jumlah

    penduduk dan pertumbuhan ekonomi terhadap pendapatan asli daerah di kawasan

    Barat Selatan (BARSELA) Provinsi Aceh dalam kurun waktu 2008 – 2014.

    Model yang digunakan adalah analisis regresi berganda dengan tingkat keyakinan

    95 % (α)0,05.

    Agar hasil penelitian tidak menjadi bias dan memberikan kesimpulan yang

    benar maka dilakukan uji asumsi klasik. Penelitian ini secara statistik

    menunjukkan bahwa variabel independen secara simultan berpengaruh signifikan

    terhadap variabel dependen, sedangkan secara parsial variabel jumlah penduduk

    memberikan pengaruh yang signikan terhadap pendapatan asli daerah. Sedangkan

    variabel pertumbuhan ekonomi tidak berpengaruh terhadap pendapatan asli

    daerah.

    Koefisien kolersi (R) sebesar 0,623 artinya variabel independen mempunyai

    hubungan yang kuat terhadap variabel dependen yaitu sebesar 62,3%. Selanjutnya

    koefisien determinasi (R2) sebesar 0,388 artinya pengaruh yang diberikan variabel

    independen terhadap variabel dependen hanya sebesar 38,8% dan sisanya 61,2%

    dipengaruhi oleh variabel lain di luar penelitian ini.

    Kata Kunci: Jumlah Penduduk, Pertumbuhan Ekonomi dan Pendapatan

    Asli Daerah

  • iv

    PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

    Saya yang bertandatangan di bawah ini:

    Nama : Dedek Hasanur

    Nim : 11c20101131

    Angkatan : 2011

    Dengan ini menyatakan dengan sebenarnya bahwa, di dalam penulisan karya

    ilmiah “skripsi” yang saya tulis,tidak terdapat Bagian atau satu kasatuan yang

    utuh dari skripsi, tesis, buku atau bentuk lain yang saya kutip dari orang lain tanpa

    saya sebutkan sumbernya yang dipandang sebagai sumber penjiplakan. Sepanjang

    pengetahuan saya juga tidak terdapat atau reproduksi karya atau pendapat yang

    pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain yang dijadikan seolah – olah karya

    saya sendiri. Apabila terdapat Bagian didalam skripsi saya bagian – bagian yang

    memenuhi unsur penjiplakan, maka saya menyatakan kesedian untuk digugurkan

    gelar akademik sebagian atau seluruh hak gelar kesarjanaan saya.

    Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sebenarnya, untuk dapat

    dipergunakan seperlunya.

    AluePeunyareng, Mei 2016

    DedekHasanur

  • v

    LEMBARAN PENGESAHAN PEMBIMBING

    Judul Skiripsi : PENGARUH JUMLAH PENDUDUK DAN

    PERTUMBUHAN EKONOMI TERHADAP

    PENDAPATAN ASLI DAERAH (Studi Kasus Di

    Kabupaten/ kota Barat Selatan Provisi Aceh)

    Nama Mahasiswa : Dedek Hasanur

    NIM : 11C20101131

    Program Studi : Ekonomi Pembangunan

    Menyetujui,

    Komisi Pembimbing

    Ketua

    ALISMAN,M.Si

    Anggota

    ZAINAL PUTRA, MM

    Mengetahui,

    Dekan Fakultas Ekonomi

    Dr. Ishak Hasan, M.Si

    Ketua Program Studi

    Ekonomi Pembangunan

    Yasrizal, M.Si

  • Tanggal Lulus: 20 July 2016

    LEMBARAN PENGESAHAN PENGUJI

    Skripsi/tugas akhir dengan judul

    PENGARUH JUMLAH PENDUDUK DAN PERTUMBUHAN EKONOMI

    TERHADAP PENDAPATAN ASLI DAERAH

    (Studi Kasus Di Kabupaten/Kota Barat Selatan Provinsi Aceh)

    Yang di susun oleh : Dedek hasanur

    Nim : 11C20101131

    Fakultas : Ekonomi

    Program Studi : Ekonomi Pembangunan

    Telah dipertahankan di depan dewan penguji pada tanggal 20 july 2016 dan

    dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima.

    SUSUNAN DEWAN PENGUJI

    NO NAMA PENGUJI TANDA TANGAN

    1. Dr. Ishak Hasan, M.SI

    (Ketua Penguji)

    (………………………)

    2. Alisman, M.Si

    (Anggota Penguji I)

    (………………………)

    3. Zainal Putra, MM

    (Anggota Penguji II)

    (………………………)

    4. Fajri Hadi, M.Si

    (Anggota penguji III)

    (………………………)

    Alue Peunyareng, 25 Agustus 2016

    Ketua Program Studi Ekonomi Pembangunan

  • vii

    Yasrizal,M.Si

    RIWAYAT HIDUP

    A. DATA PRIBADI

    Nama : Dedek Hasanur

    TTL : Keumala, 08 September 1992

    Jenis Kelamin : Laki – laki

    Agama : Islam

    Alamat : Jalan Nyak Daut, Lr. Cek Mat Gampong Suak

    Sigadeng, Kecamatan Johan Pahlawan, Kabupaten

    Aceh Barat.

    No Hp : 081377038412

    E-Mail : [email protected]

    B. PENDIDIKAN

    2004 : SD Negeri 19 Meulaboh

    2007 : SMP Negeri 5 Meulaboh

    2010 : MAN Negeri 1 Meulaboh

    C. TRAINING/PELATIHAN

    2008 : Training computer di MAN 1 Meulaboh

    D. ORGANISASI

    1. Anggota Pasukan Pengibar Bendera (PASKIBRA) Kabupaten Aceh

    Barat Tahun 2007

    mailto:[email protected]

  • viii

    2. Anggota Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) Fakultas Ekonomi

    Universitas Teuku Umar

    MOTTO DAN PERSEMBAHAN

    Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu,maka Allah

    memudahkannya mendapat jalan ke syurga

    (H.R Muslim)

    Dengan segala puja dan puji syukur kepada Allah SWT dan atas dukungan dan do’a dari orang-orang tercinta, akhirnya skripsi ini dapat dirampungkan dengan baik dan tepat pada waktunya. Oleh karena itu,

    dengan rasa bangga dan bahagia saya khaturkan rasa syukur dan terimakasih saya kepada

    Allah swt, karena hanya atas izin dan karuniaNyalah maka skripsi ini dapat dibuat dan selesai pada waktunya

    Untuk Ayah (Almarhum) dan Ibu yang tercinta yang telah banyak

    berjasa dan rela berkorban apapun dan selalu memberikan do’a yang tiada henti untuk kesuksesan anakmu ini, tiada kata seindah lantunan do’a dan tiada do’a yang paling khusuk selain do’a yang terucap dari

    orang tua. Ucapan terimakasih saja takkan pernah cukup untuk membalas kebaikan orang tua, karena itu terimalah persembahan bakti

    dan cinta ku untuk kalian Ayah dan ibuku. Saudara Adik – adik tersayang telah senantiasa memberikan dukungan,

    semangat, senyum dan do’anya untuk keberhasilan ini, cinta kalian adalah memberikan kobaran semangat yang menggebu, terimakasih dan

    sayang ku untuk kalian.

    Sahabat dan Teman Tersayang, tanpa semangat, dukungan dan bantuan

    kalian semua tak kan mungkin aku sampai disini, terimakasih untuk canda tawa, tangis, dan perjuangan yang kita lewati bersama dan

    terimakasih untuk kenangan manis yang telah mengukir selama ini. Dengan perjuangan dan kebersamaan kita pasti bisa! Semangat!!

    Terimakasih yang sebesar-besarnya untuk kalian semua, akhir kata saya

    persembahkan skripsi ini untuk kalian semua, orang-orang yang saya sayangi. Dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat dan berguna untuk kemajuan ilmu pengetahuan di masa yang akan datang, Aamiinnn.

  • ix

    Dedek hasanur

    KATA PENGANTAR

    Assalamu’alaikum Wr Wb

    Dengan Mengucap Puji syukur Alhamdulillah kepada Allah SWT atas

    limpahan rahmat, berkah, taufik dan hidayahNya, sehingga penulis dapat

    menyelesaikan Skripsi ini dengan judul “Pengaruh Jumlah Penduduk Dan

    Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Pendapatan Asli Daerah (studi kasus di

    Kabupaten/ kota Barat Selatan Provinsi Aceh).

    Salawat teriring salam tidak lupa pula kita panjatkanpuji danpuji kepada

    baginda Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari alam jahiliah ke

    alam yang berilmu pengetahuan yang dapat kita rasakan sekarang ini. Saya

    menyadari bahwa tanpa bantuan dan uluran tangan serta bimbingan yang tidak

    ternilai harganya dari semua pihak, skripsi ini tidak mungkin dapat saya

    selesaikan. Karena itu izinkanlah saya mengucapkan terima kasih serta

    penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah telibat

    langsung maupun tidak langsung dalam proses penyelesaian skripsi ini. Rasa

    hormat, penghargaan dan ucapan terimakasih sebesar-besarnya saya sampaikan

    sebagai berikut:

    1. Terima kasih yang tiada terhingga saya sampaikan kepada kedua orang tua

    saya yang telah membesarkan, mendidik dan selalu memberi semangat,

    dukungan serta do’a restu yang tidak putus-putusnya, hingga saya dapat

  • x

    menyelesaikan skripsi ini sebagai syarat memperoleh gelar sarjana, agar dapat

    bahagia hidup di dunia dan akhirat kelak.

    2. Bapak Alisman, SE. M.Si, selaku Pembimbing Ketua dalam penyusunan

    skripsi.

    3. Bapak Zainal Putra, SE. MM, selaku Pembimbing Anggota dalam penyusunan

    proposal skripsi ini.

    4. Bapak Dr. Ishak Hasan, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas

    Teuku Umar Meulaboh Aceh Barat.

    5. Bapak Yasrizal, M.Si selaku Ketua Prodi Ekonomi Pembangunan.

    6. Seluruh staf pengajar dan staf akademik, atas kesempatan penulis menimba

    khasanah ilmu di kampus ini.

    7. Teman-teman mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Teuku Umar, teman-

    teman seperjuangan yang telah banyak memberikan bantuan dan motivasi,

    juga Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah

    membantu, mendoakan dan memberi semangat dukungan moril dalam

    menyelesaikan skripsi ini.

    Semoga Allah SWT selalu senantiasa membalas segala kebaikan kita

    semua,Amin ya Rabal ‘Alamin.

    Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini jauh dari sempurna, untuk itu

    dengan segala kerendahan hati, penulis mengharapkan kritik dan saran demi

    kesempurnaan penulisan skripsi.

  • xi

    Meulaboh, 31 Agustus 2016

    Dedek Hasanur

    DAFTAR ISI

    Halaman

    HALAMAN JUDUL i

    HALAMAN TUJUAN ii

    ABSTRAK iii

    PERNYATAN KEASLIAN SKRIPSI iv

    HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING ...................................... v

    HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI ............................................... vi

    RIWAYAT HIDUP .................................................................................. vii

    MOTTO DAN PERUNTUKAN ............................................................. viii

    KATA PENGANTAR .............................................................................. x

    DAFTAR ISI ............................................................................................. xii

    DAFTAR TABEL .................................................................................... xiii

    DAFTAR GAMBAR ................................................................................ xiv

    BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ............................................................................ 1

    1.2. Rumusan Masalah ....................................................................... 4

    1.3. Tujuan Penelitian ........................................................................ 5

    1.4. Manfaat Penelitian ...................................................................... 5

    1.4.1. Manfaat Teoritis ............................................................... 5

    1.4.2. Manfaat Praktis ................................................................ 5

    1.5. Sistematika Pembahasan ............................................................. 6

    BAB II TINJAUAN PUSTAKA

    2.1. Pengertian Pendapatan Asli Daerah ........................................... 7 2.1.1. Komponen Pendapatan Asli Daerah ............................... 8

    2.1.2. Manjemen Pendapatan Asli Daerah ............................... 14

    2.1.3. Konsep PAD Secara Makro ........................................... 16

    2.2. Pertumbuhan Ekonomi................................................................ 16 2.2.1. Faktor – faktor Pertumbuhan Ekonomi .......................... 17

    2.2.2. Teori Pertumbuhan Eonomi ........................................... 21

    2.2.3. Hubungan Pertumbuhan Ekonomi dan PAD .................. 23

    2.3. Penduduk ..................................................................................... 24

    2.3.1. Pertumbuhan Penduduk Dan Pertumbuhan Ekonomi .... 25

    2.3.2. Teori Peralihan Penduduk .............................................. 29

    2.3.3. Hubungan Penduduk Dengan PAD ................................ 30

    2.4 Penelitian Terdahulu .................................................................... 31

    2.5 Kerangka pemikiran ..................................................................... 32

  • xii

    2.6 Pengertian Dan Perumusan Hipotesis .......................................... 33

    2.6.1 Pengertian Hipotesis ........................................................ 33

    2.6.2 Perumusan Hipotesis ....................................................... 33

    BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Ruang Lingkup Penelitian........................................................... 35 3.2. Data Penelitian ............................................................................ 35

    3.2.1. Jenis dan Sumber Data ................................................... 35

    3.2.2. Teknik Pengumpulan Data ............................................. 35

    3.2.3. Skala Pengukuran ........................................................... 36

    3.3. Model Analisa Data .................................................................... 36

    3.3.1. Analisis Regresi Berganda.............................................. 37

    3.3.2. Uji Asumsi Klasik .......................................................... 37

    a. Uji Normalitas ........................................................... 38

    b. Uji Heterokedatisitas ................................................ 38

    c. Uji Multikolinieritas .................................................. 39

    3.3.3. Koofesien Kolerasi (R) ................................................... 39

    3.3.4. Koofesien Determinasi (R2) .......................................... 41

    3.3.5. Uji F ................................................................................ 42

    3.3.6. Uji t ................................................................................. 43

    3.4. Definisi Operasional Variabel ..................................................... 43

    3.5. Pengujian Hipotesis .................................................................... 44

    BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

    4.1. Statistik Deskriptif Variabel Penelitian....................................... 46

    4.1.1. Gambaran Umum Kabupaten/kota Wilayah Barsela...... 46

    4.1.2. Keadaan PAD Di Kabupaten/kota Kawasan Barsela ..... 50

    4.1.3. Keadaan Penduduk Kabupaten/kota Barsela .................. 53

    4.1.4. Pertumbuhan Ekonomi ................................................... 35

    4.1.5. Statistik Deskriptif .......................................................... 57

    4.2. Analisis Data ............................................................................... 58

    4.2.1. Hasil Uji Asumsi Klasik ................................................. 59

    a. HasilUji Normalitas .................................................. 59

    b. HasilUji Heterokedatisitas ........................................ 59

    c. HasilUji Multikolinearitas ........................................ 60

    4.2.2. Hasil Pengujian Hipotesis ............................................... 61

    4.2.3. Uji Regresi Linier Berganda ........................................... 62

    4.2.4. Hasil Pengujian Secara Simultan (Uji F) ........................ 63

    4.2.5. Hasil Pengujian Secara Parsial (UJI t) ............................ 64

    4.3. Pembahasan Hasil ....................................................................... 65

    BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

    5.1. Kesimpulan ................................................................................. 69

    5.2. Saran ........................................................................................... 69

    DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 71

    LAMPIRAN

  • xiii

    DAFTAR TABEL

    Tabel Halaman

    Tabel 4.1.1. perkembangan PAD di kabupaten/Kota Barsela tahun

    2008 – 2014 51

    Tabel 4.1.2. (1) jumlah penduduk di Kabupaten/Kota Barat Selatan

    Provinsi Aceh tahun 2008 – 2014 54

    Tabel 4.1.3 pertumbuhan ekonomi di Kabupaten/Kota Barat Selatan

    Provinsi Aceh Tahun 2008 – 2014 56

    Tabel 4.1.5. Statistik Deskriptif 57

    Tabel 4.2.1. Hasil Uji Multikolinearitas 61

    Tabel 4.2.2. Koefisien Kolerasi (R) Dan Koefisien Determinasi (R2) 61

    Tabel 4.2.3. Regresi Linier Berganda 62

    Tabel 4.2.4. Hasil Uji F 63

  • xiv

    DAFTAR GAMBAR

    Gambar Halaman

    1. Kerangka Pemikiran 32

    2. Histogram 59

    3. Normal P Plot of Regresion Standardized Residual 59

    4. Scatterplot 60

  • xv

    I. PENDAHULUAN

    1.1 latar Belakang

    Negara Indonesia sebagai negara berkembang sedang giat-giatnya melakukan

    pembangunan disegala bidang. Pembangunan tersebut dilakukan dengan tujuan

    mewujudkan cita-cita bangsa Indonesia, yaitu masyarakat yang adil dan makmur.

    Pembangunan pada hakekatnya adalah proses perubahan yang terus menerus

    dilakukan menuju kearah yang lebih baik. Pelaksanaan pembangunan sangat

    ditentukan dengan adanya biaya operasional melalui anggaran yang didapat dari

    pendapatan daerah ataupun dana perimbangan dari pusat setiap tahunnya.

    Pembangunan yang selama ini sudah berlangsung disetiap daerah sebagai bagian

    integral dari pembangunan Nasional dilaksanakan berdasarkan prinsip otonomi

    daerah. Pelaksanaan pembangunan yang ada di daerah memperhatikan aspek

    pembangunan berwawasan kepentingan daerah atau mempertimbangkan pada

    kebutuhan daerah itu sendiri. Pelaksanaan otonomi daerah sebenarnya mempunyai

    tujuan untuk membebaskan beban dan urusan domestik di daerah yang ada, dan

    pemerintah pusat diharapkan lebih memfokuskan diri pada kebijakan Nasional

    yang strategis. Disisi lain daerah otonomi juga akan melalui proses-proses

    pemberdayaan yang lebih berpengaruh, dan hal itu dipakai sebagai dasar

    kebijakan otonomi daerah.

    Pelaksanaan Undang– Undang Republik Indonesia No 23 Tahun 2014 tentang

    Pemerintahan Daerah mengharuskan tiap daerah mampu mengembangkan

  • xvi

    otonomi daerah secara luas, nyata dan bertanggung jawab dalam rangka

    memberdayakan masyarakat, lembaga ekonomi, politik, hukum, adat dan lembaga

    swadaya masyarakat. Dalampenjelasannya UU tersebut telah dinyatakan

    bahwa“Penyerahan sumber keuangan daerah baik berupa pajak daerah dan

    retribusi daerah maupun berupadanaperimbangan merupakan konsekuensi dari

    adanya penyerahan urusan pemerintahan kepada daerah yang diselenggarakan

    berdasarkan asas otonomi. Untuk menjalankan urusan pemerintahan yang menjadi

    kewenangannya, daerah harus mempunyai sumber keuangan agar daerah tersebut

    mampu memberikan pelayanan dan kesejahteraan kepada rakyat di daerahnya.

    Pemberian sumber keuangan kepada daerah harus seimbang dengan beban atau

    urusan pemerintahan yang diserahkan kepada daerah. Keseimbangan sumber

    keuangan ini merupakan jaminan terselenggaranya urusan pemerintahan yang

    diserahkan kepada daerah. Ketika daerah mempunyai kemampuan keuangan

    yangkurang mencukupi untuk membiayai urusan pemerintahan dan khususnya

    urusan pemerintahan wajib yang terkait pelayanan dasar, pemerintah pusat dapat

    menggunakan instrumen DAK untuk membantu daerah sesuai dengan prioritas

    Nasional yang ingin dicapai”.

    Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa dalam pelaksanaan otonomi

    setiap daerah diharapkan harus mampu mandiri sendiri dalam hal pembiayaan

    pembangunan daerah. Karena itu diperlukan regulasi yang dapat mempengaruhi

    pendapatan daerah khususnya yang bersumber dari Pendapatan Asli Daerah

    (PAD) diberbagai sektor. Pengembangan potensi kemandirian daerah melalui

    PAD dapat terlihat dari kemampuan pengembangan potensi dan serta

    masyarakatmelalui pajak dan retribusi.

  • xvii

    Pemerintah daerah mempunyai tanggung jawab dalam menggali dan

    mengembangkan berbagai potensi sumber penerimaan daerah untuk menentukan

    keberhasilan dalam melaksanakan tugas sebagai pemerintahan. Semakin besar

    penerimaan PAD maka semakin kecil tingkat tergantungan kepada pemerintah

    pusat, dan menunjukkan pemerintah daerah semakin mandiri dalam melaksanakan

    tugas pemerintahan.

    Sejalan dengan hal tersebut delapan kabupaten/kota kawasan barat selatan

    (Barsela) Provinsi Aceh yang terdiri dari Kab. Aceh Jaya, Kab. Aceh Barat, Kab

    Nagan Raya, Kab. Aceh Barat Daya (Abdya), Kab. Aceh Selatan, Kab. Simeulue,

    Kota Subulussalam, serta Kab. Aceh Singkil, untuk mengetahui keberhasilan

    pembangunan perekonomian dan kinerjanya pemerintah tersebut, dapat diamati

    melalui beberapa indikator yang mempengaruhi PAD.Indikator tersebut dapat

    dianalisis melalui jumlah penduduk. Menurut Dumairy dalam Istanto (2011)

    pertumbuhan penduduk dianggap sebagai salah satu faktor positif dalam memacu

    pertumbuhan ekonomi dan pembangunan. Banyaknya jumlah penduduk akan

    memacu kegiatan produksi, konsumsi dari penduduk dapat menimbulkan

    permintaan agregat. Pada gilirannya, peningkatan konsumsi agregat

    memungkinkan usaha-usaha produktif berkembang, begitu pula perekonomian

    secara keseluruhan.

    Tingkat pertumbuhan ekonomi daerah dilihat dari perkembangan nilai Produk

    Domestik Regional Bruto(PDRB) atasdasar hargakonstan (ADHK). Perbandingan

    nilai PDRB ADHK tahun berjalan dengan tahun sebelumnya merupakan angka

    laju pertumbuhan ekonomi pada tahun berjalan tersebut. Menurut Musgrave

    dalam Istianto (2011) besar kecilnya penerimaan pajak sangat ditentukan oleh

  • xviii

    PDRB, jumlah penduduk, dan kebijakan pemerintah baik pusat maupun daerah.

    Jadi PDRB dan jumlah penduduk berpengaruh terhadap penerimaan masing-

    masing jenis pajak dan retribusi daerah tersebut. PDRB dapat diartikan sebagai

    nilai barang dan jasa-jasa yang diproduksi didalam negara tersebut dalam satu

    tahun tertentu. Barang-barang dan jasa-jasa ini diproduksi bukan saja oleh

    perusahaan milik penduduk negara tersebut, tetapi oleh penduduk negara lain

    yang bertempat tinggal di negara tersebut. Semakin tinggi pendapatan seseorang

    maka akan semakin tinggi pula kemampuan orang untuk membayar berbagai

    pungutan yang ditetapkan Pemerintah. Dalam konsep makro dapat dianalogikan

    bahwa semakin besar PDRB yang diperoleh maka akan semakin besar pula

    potensi penerimaan daerah. Besar kecilnya PAD sangat dipengaruhi oleh

    pertumbuhan ekonomi yang tercermin dalam PDRB.

    Berdasarkan uraian pada latar belakangdiatas, maka penulis akan melakukan

    penelitian dengan judul “Pengaruh Jumlah Penduduk dan Pertumbuhan

    Ekonomi Terhadap Pendapatan Asli Daerah (Studi Kasus DiKabupaten/

    kota Barat Selatan Provinsi Aceh)”.

    1.2 Rumusan Masalah

    Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan diatas maka penulis

    merumuskan permasalahan sebagai berikut.

    1. Apakah Jumlah Penduduk dan Pertumbuhan Ekonomi berpengaruh

    terhadap Pendapatan Asli Daerah padaKabupaten/Kota di kawasan

    Barsela?

    2. Apakah Jumlah Penduduk berpengaruh terhadap Pendapatan Asli Daerah

    pada Kabupaten/Kota di kawasan Barsela?

  • xix

    3. Apakah Pertumbuhan Ekonomi berpengaruhterhadap Pendapatan

    AsliDaerah padaKabupaten/Kota di kawasan Barsela?

    1.3 Tujuan Penelitian

    Tujuan penulis dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui:

    1. Untuk mengetahui pengaruh Jumlah Penduduk dan Pertumbuhan Ekonomi

    terhadap Pendapatan Asli Daerahpada Kabupaten/Kota di kawasan

    Barsela.

    2. Untuk mengetahui pengaruh Jumlah Penduduk terhadap Pendapatan Asli

    Daerah pada Kabupaten/Kota di kawasan Barsela.

    3. Untuk mengetahui pengaruh Pertumbuhan Ekonomi tarhadap Pendapatan

    Asli Daerah pada Kabupaten/Kota di kawasan Barsela.

    1.4 Manfaat Penelitian

    Berdasarkan perumusan masalah diatas, manfaat yang akan diperoleh dengan

    adanya penelitian:

    1.4.1 Manfaat Teoritis

    a. Penulis

    Menambah wawasan penulis sebagai bahan perbandingan antara teori yang

    telah dipelajari dengan praktek yang telah diterapkan berdasarkan data dari

    Badan Pusat Statistik (BPS) dan hasil penelitian di lapangan.

    b. Lingkungan Akademik

    Hasil ini diharapkan dapat berguna sebagai bahan referensi bagi mahasiswa

    (i) selanjutnya yang melakukan penelitian dengan masalah yang sama.

  • xx

    1.4.2. Manfaat Praktis

    Manfaat praktis dari penelitian ini bagi pemerintah daerah Kabupaten/Kota

    Barat Selatan atau intansi-intansi terkait lainnya adalah dapat mengembangkan

    Pendapatan Asli Daerah secara menyeluruh khususnya diKabupaten/Kota Barat

    Selatan Provinsi Aceh.

    1.5 Sistematika Pembahasan

    Adapun sistematika pembahasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

    Bagian pertama pendahuluan yang berisi tentang pokok-pokok pembahasan

    mengenai latar belakang masalah, penelitian terdahulu, rumusan masalah, tujuan

    penelitian, manfaat penelitian terdiri atas manfaat teoritis dan manfaat praktis dan

    sistematika pembahasan.

    Bagian kedua tinjauan pustaka meliputi pengertian pendapatan asli daerah,

    pengertian jumlah penduduk dan hubungannya dengan PAD selanjutnya

    pengertian pertumbuhan ekonomi dan hubungan nya terhadap PAD,dan

    bagaimana secara teori dapat mempengaruhi PAD, kemudiian dilanjutkan

    denganpenelitian terdahulu, kerangka pemikiran serta perumusan hipotesis.

    Bagian ketiga metode penelitian yang terdiri dari populasi dan sampel, data

    penelitian diantara jenis dan sumber, teknik pengumpulan data, model analisis

    data, definisi operasional variabel, dan pengujian hipotesis.

    Bagian keempat hasil dan pembahasan yang terdiri dari statistik deskriptif

    variabel penelitian, hasil pengujian hipotesis, dan pembahasan hasil penelitian.

    Bagian kelima simpulan dan saran pada bab ini penulis menyimpulkan dari

    hasil pembahasan pada bab sebelumnya dan memberikan saran-saran untuk dapat

  • xxi

    digunakan oleh pemerintahan kabupaten/ kota barsela dan intansi lainnya yang

    terkait.

    II. TINJAUAN PUSTAKA

    2.1 Pengertian Pendapatan Asli Daerah (PAD)

    Menurut Badan Pusat Statistik (2015) Pendapatan Asli Daerah adalah

    seluruh penerimaan dari berbagai usaha Pemerintah Daerah, baik untuk

    mengumpulkan dana guna keperluan daerah yang bersangkutan dalam membiayai

    kegiatan rutin maupun dalam kegiatan pembangunannya. Sedangkan menurut NN

    dalam K Datu (2012), Pendapatan Asli Daerah adalah penerimaan daerah dari

    berbagai usaha pemerintah daerah untuk mengumpulkan dana guna keperluan

    daerah yang bersangkutan dalam membiayai kegiatan rutin maupun

    pembangunannya, yang terdiri atas Pajak Daerah, Retribusi Daerah, Bagian Laba

    Usaha Milik Daerah, dan Lain-lain Penerimaan Asli Daerah yang Sah

    Menurut Darise (2009, h. 33) Pendapatan Asli Daerah yang selanjutnya disingkat

    PAD adalah pendapatan yang di peroleh daerahyang dipungut berdasarkan

    Peraturan Daerah sesuai dengan perundang-undangan. Pendapatan Asli Daerah

    yang merupakan sumber penerimaan asli daerah sendiri perlu terus ditingkatkan

    agar dapat menanggung sebagian beban belanja yang diperlukan untuk

    penyelenggaraan pemerintah dan kegiatan pembangunan yang setiap tahun

    meningkat sehingga kemandirian otonomi yang luas, nyata dan bertanggung

    jawab dapat dilaksanakan.

  • xxii

    Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah

    mengisyaratkan bahwa pemerintah daerah dalam mengurus rumah tangganya

    sendiri perlu diberikan sumber-sumber pendapatan atau penerimaan keuangan

    daerah untuk membiayai seluruh aktifitas dalam rangka pelaksanaan tugas-tugas

    pemerintahan dan pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat secara adil dan

    merata, komponen tersebut berasal hasil pajak daerah, hasil retribusi daerah, hasil

    pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan dan lain-lain PAD yang sah.

    Keempat komponen PAD tersebut juga merupakan sumber-sumber keuangan

    daerah, oleh karena itu, Pendapatan Asli Daerah merupakan salah satu komponen

    sumber keuangan daerah. Sumber-sumber PAD merupakan bagian keuangan

    daerah yang dipungut berdasarkan undang-undang dan peraturan yang berlaku di

    daerah tersebut.

    2.1.1 Komponen Pendapatan Asli Daerah

    a. Pajak Daerah

    Menurut Siahaan (2013, h.7) secara umum Pajak adalah pungutan dari

    masyarakat oleh negara (pemerintah) berdasarkan undang-undang yang bersifat

    dapat dipaksakan dan terutang oleh yang wajib membayarnya dengan tidak

    mendapat prestasi kembali secara langsung, yang hasilnya digunakan untuk

    membiayai pengeluaran negara dalam penyelengaraan pemerintahan dan

    pembangunan. Hal ini menunjukan bahwa Pajak adalah pembayaran wajib yang

    dikenakan berdasarkan undang-undang yang tidak dapat dihindari bagi yang

    berkewajiban, dan bagi mereka yang tidak mau membayar pajak dapat dilakukan

    paksaan.

  • xxiii

    Ditinjau dari lembaga pemungutannya, Pajak dibedakan menjadi dua, yaitu

    Pajak Pusat (disebut Pajak Negara) dan Pajak Daerah. Kemudian pemerintah

    daerah dibagi lagi menjadi dua, yaitu Pemerintah Provinsi dan Pemerintah

    Kabupaten/Kota. Dengan demikian, pembagian jenis pajak menurut lembaga

    pemungutannya di Indonesia dibagi menjadi dua, yaitu Pajak Pusat dan Pajak

    Daerah (yang terbagi menjadi pajak provinsi dan pajak kabupaten/ kota). Setiap

    tingkatan pemerintah hanya dapat memungut pajak yang ditetapkan menjadi

    kewenangannya, dan tidak boleh memungut pajak yang bukan kewenangnya.

    Pajak pusat dipungut oleh Departemen Keuangan Republik Indonesia dan

    hasilnya digunakan untuk pembiayaan rumah tangga negara pada umumnya. Yang

    termasuk pajak pusat di Indonesia saat ini adalah Pajak Penghasilan (PPh), Pajak

    Pertambahan nilai atas Barang dan Jasa (PPN), Pajak Penjualan atas Barang

    Mewah (PPnBM), Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Bea Materai, Bea perolehan

    Hak Atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), serta Bea Masuk dan Bea Keluar

    (Pajak Ekspor), dan Cukai (yang dikelola oleh Direktorat Jendral Bea dan Cukai

    Departemen Keuangan).

    Pajak daerah mempunyai prinsip yang sama dengan pajak pusat, hanya saja

    pemungutannya ditetapkan pemerintah daerah dengan peraturan daerah (perda),

    yang wewenang pemungutannya dilaksanakan oleh pemerintah daerah dan

    hasilnya digunakan untuk membiayai pengeluaran pemerintah daerah dalam

    melaksanakan penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan di daerah. Dalam

    melaksanakan otonomi pajak daerah dibagi menjadi dua yaitu Pajak Daerah

    Pemerintah Provinsi dan Pajak Daerah Kabupaten/ Kota.

  • xxiv

    Semangat otonomi daerah di Indonesia memungkinkan setiap daerah provinsi

    atau kabupaten/ kota mengatur daerahnya sendiri termasuk dalam bidang pajak

    dan retribusi daerah. Konsekuensinya adalah mungkin saja suatu jenis pajak dan

    retribusi dipungut di suatu daerah, tetapi tidak dipungut didaerah lainnya, selain

    itu kalaupun dipungut pada berbagai daerah, ternyata aturan yang dipakai tidak

    sama persis (Siahaan 2013, h.3).

    Menurut Mardiasmo (2009, h 13) pajak daerah terbagi menjadi 2 bagian,

    yaitu:

    1. Pajak Provinsi, terdiri dari:

    Pajak Kendaraan Bermotor.

    Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor.

    Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor.

    Pajak Air Permukaan dan.

    Pajak Rokok.

    2. Pajak Kabupaten/ Kota, terdiri dari:

    Pajak Hotel.

    Pajas Restoran.

    Pajak Hiburan.

    Pajak Reklame.

    Pajak Penerangan Jalan.

    Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan.

    Pajak Parkir.

    Pajak Air Tanah.

    Pajak Sarang Burung Walet.

  • xxv

    Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan.

    Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan.

    Khusus untuk daerahyang setingkat dengan Daerah Provinsi, tetapi tidak

    termasuk kedalam daerah kabupaten/ kota otonom, seperti Daerah Khusus Ibu

    Kota Jakarta, jenis pajak yang dapat dipungut merupakan gabungan dari pajak

    untuk daerah Provinsi dan pajak untuk daerah Kabupaten/ Kota.

    b. Retribusi Daerah

    Menurut Yani (2002, h.55) Retribusi Daerah adalah pungutan daerah sebagai

    pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan atau

    diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan.

    Dalam hal retribusi daerah balas jasa dari adanya retribusi daerah tersebut

    langsung dapat ditunjuk. Selanjutnya Suparmoko (2002, h. 87) banyaknya jenis

    retribusi, tetapi dapat dikelompokkan menjadi tiga macam sesuai dengan

    kelompoknya. Objek retribusi adalah berbagai jenis pelayanan atau jasa tertentu

    yang disediakan oleh pemerintah daerah. Namun tidak semua jasa pelayanan yang

    diberikan oleh pemerintah daerah dapat dipungut retribusinya. Jasa pelayanan

    yang dapat dipungut retribusinya hanyalah jenis-jenis jasa pelayanan yang

    menurut pertimbangan sosialekonomi layak dijadikan untuk objek retribusi. Jasa

    pelayanan tersebut dapat dikelompokkan sebagai berikut:

    1. Retribusi yang dikenakan pada jasa umum. Adapun yang termasuk dalam jasa

    pelayanan umum antara lain:

    Pelayanan Kesehatan.

    Pelayanan Kebersihan dan Persampahan.

  • xxvi

    Penggantian biaya cetak Kartu Tanda Penduduk (KTP) dan Akta Catatan

    Sipil.

    Pelayanan dan Pemakaman dan Pengabuan Mayat.

    Pelayanan Parkir di tepi jalan umum.

    Pelayanan Pasar.

    Pelayanan Air Bersih.

    Pengujian Kendaraan Bermotor.

    Pemeriksaan Alat Pemadam Kebakaran.

    Penggantian Biaya Cetak Peta yang dibuat Pemerintah Daerah dan.

    Pengujian Kapal Perikanan.

    2. Retribusi yang dikenakan pada jasa usaha. Yang termasuk kedalam retribusi

    jasa usaha adalah:

    Pemakaian Kekayaan Daerah.

    Pasar Grosir dan atau Pertokoan.

    Pelayanan Terminal.

    Pelayanan Tempat Khusus Parkir.

    Pelayanan Tempat Penitipan Anak.

    Penginapan/ Persanggrahan/Vila.

    Penyedotan Kakus.

    Rumah Potong Hewan.

    Tempat Pendaratan Kapal.

    Tempat Rekreasi dan Olah Raga.

    Penyebrangan di atas Air.

    Pengolahan Air Limbah dan.

  • xxvii

    Penjualan Usaha Produksi Daerah.

    3. Retribusi yang dikenakan pada perijinan tertentu. Adapun jenis retribusi atas

    perijinan tertentu adalah:

    Ijin Peruntukan Penggunaan Tanah.

    Ijin Mendirikan Bangunan (IMB).

    Ijin Gangguan.

    Ijin Trayek.

    Ijin Pengambilan Hasil Hutan.

    Retribusi dapat berpengaruh dalam hal distribusi pendapatan, karena retribusi

    dapat digunakan oleh pemerintah daerah untuk melindungi yang lemah dalam

    perekonomian dan membagikan beban masyarakat itu kepada kelompok

    berpenghasilan tinggi di daerah yang sama. Karena itu sistem retribusi yang

    progresif dapat bermanfaat untuk redistribusi pendapatan dalam masyarakat

    didaerah.

    c. Hasil Pengeloalaan Kekayaan Daerah Yang Dipisahkan dan Lain-lain

    Pendapatan Asli Daerah Yang Sah

    Menurut Darise (2009, h.37) jenis hasil pengelolaan Kekayaan daerah yang

    dipisahkan terdiri dari:

    Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik daerah/ BUMD.

    Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik pemerintah/

    BUMN.

    Bagian laba atas penyertaan modal pada perusahaan milik swasta atau

    kelompok usaha masyarakat.

  • xxviii

    Jenis lain-lain pendapatan asli daerah yang sah, disediakan untuk

    menganggarkan penerimaan daerah yang tidak termasuk dalam jenis pajak daerah,

    dan hasil Pengelolaan Kekayaan daerah yang dipisahkan mencakup:

    Hasil penjualan aset daerah yang tidak dipisahkan secara tunai atau angsur/

    cicilan.

    Jasa giro.

    Pendapatan bunga.

    Penerimaan atas tuntutan ganti rugi kerugian daerah.

    Penerimaan komisi, potongan ataupun bentuk lain sebagai akibat dari

    penjualan dan/ atau pengadaan barang dan/ atau jasa oleh daerah.

    Penerimaan keuntungan dari selisih nilai tukar rupiah terhadap mata uang

    asing.

    Pendapatan denda atas keterlambatan pelaksanaan pekerjaan.

    Pendapatan denda pajak dan denda retribusi.

    Pendapatan hasil atas esksekusi atas jaminan.

    Pendapatan dari pengembalian.

    Fasilitas sosial dan fasilitas umum.

    Pendapatan dari penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan.

    Pendapatan dari Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

    2.1.2 Manajemen Pendapatan Asli Daerah

    Dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal,

    pemerintah daerah diharapkan memiliki kemandirian yang lebih besar. Akan

    tetapi, saat ini masih banyak masalah yang dihadapi pemerintah daerah terkait

    dengan upaya meningkatnya penerimaan daerah, antara lain:

  • xxix

    Tingginya tingkat kebutuhan daerah yang tidak seimbang dengan kebutuhan

    fiskal yang dimiliki daerah.

    Kualitas pelayanan publik yang masih memprihatinkan menyebabkan produk

    layanan publik yang sebenarnya dapat dijual kemasyarakat direspon secara

    negatif. Keadaan tersebut juga menyebabkan keenganan masyarakat untuk

    taat membayar pajak dan retribusi daerah.

    Lemahnya infrastruktur prasarana dan sarana umum.

    Berkurangnya dana bantuan dari pusat.

    Belum diketahui potensi PAD yang mendekati riil.

    Langkah penting yang harus dilakukan pemerintah daerah untuk meningkatkan

    penerimaan daerah adalah menghitung potensi pendapatan asli daerah yang riil

    dimiliki daerah. Upaya peningkatan kapasitas fiskal daerah sebenarnya tidak

    hanya menyangkut peningkatan PAD. Peningkatan kapasitas fiskal pada dasarnya

    adalah optimalisasi sumber-sumber penerimaan daerah. Pemerintah daerah

    seringkali dihadapi dengan masalah tingginya kebutuhan fiskal daerah, sementara

    kapasitas fiskal daerah tidak mencukupi. Hal tersebut menyebabkan terjadinya

    kesenjangan fiskal, manajemen PAD terkait dengan upaya peningkatan kapasitas

    fiskal daerah, sedangkan terhadap kebutuhan fiskal daerah perlu dilakukan

    manajemen pengeluaran daerah secara komprehensif. Beberapa cara yang dapat

    dilakukan pemerintah daerah untuk menutup kesenjangan fiskal antara lain:

    1. Harus disadari bahwa tidak semua pengeluaran yang direncanakan penting

    dilakukan. Pemerintah daerah seharusnya menguji belanja dan biaya-biaya

    yang terjadi. Barang kali terdapat pengeluaran yang dapat dikurangi atau

    tidak usah dilakukan.

  • xxx

    2. Mempelajari kemugkinan meningkatkan pendapatan melalui jasa publik.

    3. Perlu dilakukan perbaikan administrasi penerimaan pendapatan daerah untuk

    menjamin agar semua pendapatan dapat terkumpul dengan baik.

    4. Kemungkinan menaikkan pajak melalui peningkatan tarif dan perluasan

    subjek dan objek pajak.

    5. Mengoptimalkan penerimaan pajak pusat yang dapat di sharing dengan

    daerah. Jika potensinya cukup besar, maka pemerintah daerah dapat

    membantu memobilisasi penerimaan pajak pusat, sehingga bagian bagi hasil

    pajak untuk daerah tersebut tinggi (Mardiasmo 2004, h. 145).

    2.1.3 Konsep PAD Secara Makro

    Menurut Mankiw dalam Susanto (2014) menyebutkan bahwa pendapatan

    Nasional terdapat beberapa komponen yaitu Y= C + I + G, yang mana Y

    (Pendapatan), C (Konsumsi), I (Investasi), G (Pengeluaran Pemerintah) ini

    merupakan cakupan secara Nasional. Sedangkan arti Pendapatan dalam suatu

    daerah menurut Khusaini dalam Susanto (2014) merupakan pendapatan yang

    mengutamakan pada penerimaan atau penambahan equitas dana tambahan dalam

    periode waktu anggaran tertentu yang menjadi hak pemerintah daerah dan tidak

    perlu melakukan pembayaran kembali. Penerimaan tersebut antara lain: pertama

    Pendapatan Asli Daerah. Kedua, Transfer Dana dari Daerah Lainnya. Ketiga,

    Lain-Lain PAD yang Sah.

    2.2 Pertumbuhan Ekonomi

    Menurut Sukirno (2006, h. 9) Pertumbuhan Ekonomi adalah sebagai suatu

    ukuran kuantitatif yang menggambarkan perkembangan perekonomian dalam

    suatu tahun tertentu apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pernyataan

  • xxxi

    tersebut selalu dinyatakan dalam bentuk persentase perubahan Pendapatan

    Nasional dalam suatu tahun sebelumnya.

    Menurut Scumpeter dalam Adisasmita (2013, h. 35) Pertumbuhan Ekonomi

    adalah perubahan jangka panjang secara perlahan dan mantap terjadi melalui

    kenaikan tabungan dan penduduk. Sedangkan menurut Djojohadikusumo dalam

    Sanusi (2004, h. 8) Pertumbuhan Ekonomi berpokok pada proses peningkatan

    produksi barang dan jasa dalam kegiatan ekonomi masyarakat. Schumpeter dan

    Ursula Hicks membedakan antara istilah perkembangan dan pertumbuhan

    ekonomi. Perkembangan ekonomi menurut mereka mengacu kepada

    permasalahan negara terbelakang, sedangkan pertumbuhan ekonomi mengacu

    kepada permasalahan negara maju.

    2.2.1 Faktor-Faktor Pertumbuhan Ekonomi

    Menurut Jhingan (2012, h. 67) proses pertumbuhan ekonomi dipengaruhi

    oleh dua macam faktor, Ekonomi dan Non Ekonomi. Pertumbuhan ekonomi

    disuatu negara tergantung pada sumber daya alamnya, sumber daya manusia

    modal, usaha, teknologi dan sebagainya. Semua itu faktor ekonomi. Tetapi

    pertumbuhan ekonomi tidak mungkin terjadi selama lembaga sosial, kondisi

    politik, dan nilai-nilai moral suatu bangsa tidak bisa menunjang. Dalam

    pertumbuhan ekonomi lembaga sosial, sikap budaya, nilai moral, kondisi politik

    dan kelembagaan merupakan faktor non ekonomi. Untuk lebih memahami tentang

    faktor pertumbuhan ekonomi maka faktor ekonomi maupun non ekonomi dapat

    dijelaskan sebagai berikut:

    a. Faktor Ekonomi

  • xxxii

    Para ahli ekonomi menganggap faktor produksi sebagai ketentuan utama

    yang mempengaruhi pertumbuhan. Laju pertumbuhan ekonomi jatuh atau

    bangunya merupakan konsekuensi dari perubahan yang terjadi di dalam faktor

    produksi tersebut. Beberapa faktor ekonomi tersebut adalah:

    1. Sumber Alam

    Faktor utama yang mempengaruhi perkembangan suatu perekonomian adalah

    sumber daya alam atau tanah. “Tanah” sebagaimana dipergunakan dalam ilmu

    ekonomi mencakup sumber alam seperti kesuburan tanah, letak dan susunannya,

    kekayaan hutan, mineral, iklim, sumber air, sumber lautan dan sebagainya.

    Dalam pertumbuhan ekonomi, kekayaan alam yang melimpah saja belum

    cukup. Yang penting ialah pemanfaatannya secara tepat dengan penggunaan

    teknologi yang baik sehingga efesiensi dipertinggi dan sumber dapat

    dipergunakan dalam jangka waktu yang lebih lama.

    2. Akumulasi Modal

    Faktor ekonomi yang kedua dalam pertumbuhan ialah akumulasi modal.

    Modal berarti penyediaan faktor produksi yang secara fisik dapat direproduksi.

    Apabila stok modal naik dalam batas waktu tertentu, hal ini disebut akumulasi

    modal atau pembentukan modal. Proses pembentukan modal menghasilkan output

    nasional dalam berbagai cara. Pembentukan modal diperlukan untuk memenuhi

    permintaan penduduk yang meningkat dinegara itu. Investasi dibidang barang

    modal tidak hanya meningkatkan produksi tetapi juga kesempatan kerja.

    Pembentukan modal ini pula yang membawa ke arah kemajuan teknologi.

    3. Organisasi

  • xxxiii

    Organisasi berkaitan dengan pengunaan faktor produksi di dalam kegiatan

    ekonomi. Organisasi bersifat melengkapi (komplemen) modal, buruh dan

    membantu meningkatkan produktivitasnya. Dalam pertumbuhan ekonomi

    modern, para wiraswastawan tampil sebagai organisator dan pengambil risiko

    diantara ketidakpastian. Wiraswastawan bukanlah manusia dengan kemampuan

    biasa. Ia memiliki kemampuan khusus untuk bekerja dibandingkan dengan orang

    lain. Tidak hanya perusahaan swasta, pengertian organisasi mencakup pemerintah,

    bank dan lembaga-lembaga internasional yang ikut terlibat didalam memajukan

    ekonomi negara maju dan negara sedang berkembang.

    4. Kemajuan Teknologi

    Perubahan teknologi dianggap sebagai faktor paling penting di dalam proses

    pertumbuhan ekonomi. Perubahan itu berkaitan dengan perubahan di dalam

    metode produksi yang merupakan hasil pembaruan atau hasil teknik dari

    penelitian baru. Perubahan pada teknologi telah menaikkan produktivitas buruh,

    modal dan faktor produksi yang lain.

    Kuznet mencatan lima pola penting pertumbuhan teknologi di dalam

    pertumbuhan ekonomi modern. Kelima pola tersebut ialah: penemuan ilmiah atau

    penyempurnaan pengetahuan teknik, invensi, inovasi, penyempurnaan, dan

    penyebarluasan penemuan yang biasanya diikuti dengan penyempurnaan.

    Negara sedang berkembang bisa memetik manfaat dari sumber-sumber ilmu

    pengetahuan dibidang teknologi dari negara maju.

    5. Pembagian Kerja dan Skala Produksi

    Spesialisasi dan pembagian kerja menimbulkan kegiatan produktivitas.

    Keduanya membawa ke arah ekonomi produksi skala besar yang selanjutnya

  • xxxiv

    membantu perkembangan industri. Adam Smith menekankan arti penting

    pembagian kerja bagi perkembangan ekonomi. Pembagian kerja menghasilkan

    perbaikan kemampuan produksi buruh. Setiap buruh menjadi lebih efisien dari

    pada sebelumnya.

    b. Faktor Non Ekonomi

    Faktor non ekonomi memliki arti penting di dalam pertumbuhan ekonomi.

    menurut Nurkse, pembangunan ekonomi berkaitan dengan peranan manusia,

    pandangan masyarakat, kondisi polotik, dan latar belakang historis. Di dalam

    pertumbuhan ekonomi, faktor sosial, budaya, politik, dan psikologis adalah sama

    pentingnya dengan faktor ekonomi. berikut adalah Pokok perubahan faktor non

    ekonomi:

    1. Faktor Sosial

    Kalau perkembangan ekonomi diinginkan berjalan mulus, pandangan, nilai

    dan lembaga-lembaga sosial harus diubah. Perubahan hanya mungkin terjadi

    melalui penyebaran sistem pendidikan dan ilmu pengetahuan. Orang harus

    menyadari tujuan dan cita-cita tujuan didepan hidup mereka dan harus memiliki

    kemampuan untuk meraihnya. Akan tetapi, jika tatanan sosial dipengaruhi oleh

    sistem kasta yang ketat dan sistem famili bersama (komunitas) kebebasan individu

    dan mobilitas profesi akan sangat rendah. Sebagai akibatnya, orang tidak akan

    terdorong untuk bekerja keras, mendapat lebih banyak, dan menabung lebih

    gencar. Oleh karena itu, bagi pembangunan, harus ada masyarakat yang bebas

    dengan kelas menengah yang kuat dan mampu meningkatkan pendapatan melalui

    perdagangan dan perniagaan. Kedua faktor inilah yang menghasilkan

    pertumbuhan ekonomi modern di negara maju.

  • xxxv

    2. Faktor Manusia

    Penggunaan sumber daya manusia untuk pembangunan ekonomi dapat

    dilakukan dengan cara berikut. Pertama, harus ada pengendalian atas

    perkembangan penduduk. SDM dapat dimanfaatkan dengan baik apabila jumlah

    penduduk dapat dikendalikan dan diturunkan. Kedua, harus ada perubahan dalam

    pandangan tenaga buruh. Perilaku sosial dari tenaga buruh merupakan hal yang

    penting dalam proses pembangunan ekonomi. Hanya tenaga buruh yang terlatih

    dan terdidik dengan efisiensi tinggi yang akan membawa masyarakat kepada

    pembangunan ekonomi yang pesat. Persyaratan paling penting bagi laju

    pertumbuhan indutri ialah manusia. Manusia yang menyambut baik tantangan

    perubahan ekonomi dan menerima kesempatan yang ada di dalamnya. Manusia di

    atas segalanya, yang berdedikasi terhadap pertumbuhan ekonomi negerinya, dan

    terhadap kejujuran, kewibawaan, pengetahuan dan prestasi kerja.

    3. Faktor Politik dan Administratif

    Struktur politik dan administrasi yang lemah merupakan penghambat besar

    bagi pertumbuhan ekonomi negara terbelakang. Administrasi yang kuat, efisien,

    dan tidak korup, dengan demikian amat penting bagi pembangunan ekonomi.

    Profesor Lewis dengan tepat melihat,”Tindakan pemerintah memainkan peranan

    penting di dalam merangsang atau mendorong kegiatan ekonomi”. Ketertiban,

    stabilitas dan perlindungan hukum mendorong kewiraswastaan. Semakin besar

    kebebasan itu, semakin berhasil pula kewiraswastaan tersebut. Kemajuan

    teknologi, mobilitas faktor, dan pasar yang luas, membantu merangsang usaha dan

    inisiatif. Tetapi yang pertama itu hanya dapat terjadi di bawah administrasi yang

    bersih dan kondisi politik yang stabil.

  • xxxvi

    2.2.2 Teori Pertumbuhan Ekonomi

    bangsa-bangsa didunia ini sudah lama menganggap bahwa pertumbuhan

    ekonomi merupakan tujuan utama perekonomian, masyarakat ingin mengetahui

    sumber dari pertumbuhan ekonomi, apakah kenaikan standar kehidupan yang

    dinikmati masyarakat selama ini disebabkan oleh banyaknya modal yangtersedia

    atau karena kemajuan teknologi.

    Tambunan (2010, h. 84) menjelaskan, dua pendapat besar yang dikemukakan

    oleh Kaldor (1957) dan sebelumnya Kuznets (1966) dalam menjelaskan konsep

    pembangunan ekonomi, berbasis pada akumulasi modal berakar pada pemikiran

    Adam Smith dan kemampuan ekonomi dalam melakukan perubahan melalui

    penerapan teknologi, model pertumbuhan ekonomi Neo Klasik Sollow dan Swan

    masih tetap bebasis akumulasi modal, tetapi peranan teknologi sangat penting

    dalam mengatasi sifat faktor diminishing modal dalam kurun waktu panjang.

    Sementara Hollis B Chenery (1979) melihat kedalam struktur ekonomi dimana

    juga mengajukan perubahan struktural melalui akumulasi modal, alokasi realokasi

    sumber daya, dan tranformasi ekonomi berhubungan terhadap pertumbuhan dan

    sangat mungkin mengurangi kemiskinan. Kaldor berpandangan bahwa proses

    akumulasi modal khususnya pada pertumbuhan industri, membawa aspek spasial

    yang dalam hal ini ekonomi lokal dan kemajuannya dapat ditunjukkan melalui

    peningkatan output per tenaga kerja dalam jangka panjang. Lebih jauh Kaldor

    mengatakan bahwa sektor primer sangat berhubungan erat dengan industri-

    industri berbasis sumber daya alam. Pada sisi lain Kuznet berpendapat bahwa

    pertumbuhan ekonomi tidak hanya berhubungan dengan sektor pengolahan tetapi

    sangat tergantung pada penggunaan teknologi pada sektor-sektor primer dan

  • xxxvii

    industri pertanian. Industri pengolahan akan bergerak semakin maju dimana

    dalam kenyataannya sekarang revolusi teknologi informasi akan secara bertahap

    menggantikan peran-peran tradisonal produksi dan pemasaran menuju tingkatan

    global.

    Doktrin akumulasi modal Kaldor dan Kuzneth kiranya tepat digunakan pada

    negara-negara berkembang tetapi tidak pada negara yang sedang berkembang

    seperti Indonesia. Sebagian besar negara berkembang memiliki sumber daya

    manusia (tenaga kerja) yang melimpah akan tetapi disisi lain memiliki kelangkaan

    modal. Oleh karena itu harus dilakukan usaha untuk menarik investasi walaupun

    belum cukup, usaha yang lebih tepat diterapkan adalah pengembangan ekonomi

    lokal melalui pengembangan kelembagaan untuk mobilisasi dan penggunaan

    seluruh sumber daya lokal yang dimiliki untuk mencapai pertumbuhan ekonomi

    yang tinggi.

    Mengikuti doktrin akumulasi modal dari Adam Smith, model pertumbuhan

    ekonomi harus selalu mengikutsertakan proses akumulasi dan alokasi produksi

    sumber daya melalui interaksi penguatan hubungan perdangan antar perusahaan

    ditingkat dengan perdangan luar negeri. Strategi akumulasi modal, akumulasi

    sumber daya manusia, dan perubahan teknologi merupakan pilihan-pilihan bagi

    daerah kearah mana perjalanan yang akan dijalankan.

    2.2.2 Hubungan Pertumbuhan Ekonomi dan PAD

    menurut Gatot Dwi Adiatmojo dalam K Datu (2012) PDRB adalah suatu

    indikator untuk menunjukkan laju pertumbuhan ekonomi suatu daerah secara

    sektoral, sehingga dapat dilihat penyebab pertumbuhan ekonomi suatu wilayah

    tersebut.

  • xxxviii

    Menurut BPS tingkat pertumbuhan ekonomi daerah dapat dilihat dari

    perkembangan nilai PDRBatas dasar harga konstan (ADHK) yang disajikan

    secara berkala setiap tahunnya.Perbandingan nilai PDRB ADHK tahun berjalan

    dengan tahun sebelumnya merupakanangka laju pertumbuhan ekonomi pada

    tahun berjalan tersebut.Menurut Susanto (2014) Hubungan PDRB Konstan

    terhadap daerah mempunyai dampak positif yang disebabkan adanya dampak

    aktifitas perekonomian di 9 sektor ekonomi pada daerah. Jika aktifitas ekonomi 9

    sektor itu terjadi kenaikan, tidak dimungkinkan akan mempunyai pengaruh

    besaran PAD daerah, karena bahwa beberapa sektor domestik dapat digunakan

    untuk mengukur atau mengestimasi pada peningkatan pendapatan asli daerah

    secara langsung,

    Dalam makro ekonomi terdapat istilah perhitungan pendapatan nasional produk

    domestik bruto (PDB) dan produk nasional bruto (PNB).PBD dapat diartikan

    sebagai nilai barang-barang dan jasa-jasa yang diproduksikan dalam negara

    tersebut dalam satu tahun tertentu. Sedangkan PNB adalah nilai barang dan jasa

    yang dihitung dalam pendapatan nasional hanyalah barang dan jasa yang di

    produksikan oleh faktor-faktor produksi yang dimiliki oleh warga negara dari

    negara yang pendapatan nasionalnya dihitung. dalam analisis ekonomi selalu

    digunakan istilah “Pendapatan Nasional” istilah itu dimaksudkan untuk

    menyatakan nilai barang dan jasa yang dihasilkan dalam suatu Negara. Dengan

    demikian dalam konsep tersebut istilah pendapatan nasional adalah mewakili dari

    arti produk domestik bruto (Sukirno 2013, h. 35).

    2.3 Penduduk

  • xxxix

    Menurut Badan Pusat Statistik (2015) penduduk adalah semua orang yang

    berdomisili diwilayah geografis selama 6 bulan atau lebih dan atau mereka yang

    berdomisili kurang dari 6 bulan tetapi bertujuan untuk menetap. Smith dalam

    Siskawati (2014) menjelaskan bahwa, dengan didukung bukti empiris,

    pertumbuhan penduduk tinggi akan dapat menaikkan output tingkat dan ekspansi

    pasar baik pasar dalam negeri maupun luar negeri. Penambahan penduduk tinggi

    yang diiringi dengan perubahan teknologi akan mendorong tabungan dan juga

    penggunaan skala ekonomi di dalam produksi. Penambahan penduduk merupakan

    satu hal yang dibutuhkan dan bukan suatu masalah, melainkan sebagai unsur

    penting yang dapat memacu pembangunan dan pertumbuhan ekonomi. Besarnya

    pendapatan dapat mempengaruhi penduduk, jika jumlah penduduk meningkat

    maka pendapatan yang dapat ditarik juga meningkat.

    2.3.1 Pertumbuhan Penduduk dan Pembangunan Ekonomi

    Menurut Jhingan (2012, h.405) pengaruh pertumbuhan penduduk pada

    pembangunan ekonomi telah menarik perhatian para ahli ekonomi, sejak Adam

    Smith menyatakan, “Buruh tahunan setiap bangsa merupakan kekayaan yang

    mulanya memasok bangsa dengan segala kenyamanan hidup yang diperlukan”

    Hanya Malthus dan Ricardo yang mencanangkan tanda bahaya mengenai dampak

    pertumbuhan penduduk pada perekonomian. Tetapi kekhawatiran mereka terbukti

    tak berdasar karena pertumbuhan penduduk di Eropa Barat justru mempercepat

    proses industrialisasi. Pertumbuhan penduduk membantu ekonomi negara

    tersebut, karna mereka sudah makmur, punya modal yang melimpah sedang buruh

    kurang. Beda halnya dengan negara yang terbelakang, akibat pertumbuhan

    penduduk pada pembangunan tidaklah seperti negara yang sudah maju, ekonomi

  • xl

    negara terbelakang atau miskin, memiliki modal yang kurang sedangkan buruh

    melimpah. Karena itu pertumbuhan penduduk dianggap benar sebagai hambatan

    pembangunan ekonomi. pengaruh pertumbuhan penduduk terhadap

    perekonomian, masing-masing dijelaskan sebagai berikut ini.

    Penduduk dan pendapatan perkapita. Pengaruh pertumbuhan penduduk pada

    pendapatan per kapita biasanya tidak menguntungkan. Pertumbuhan penduduk

    cenderung memperlambat pendapatan per kapita dalam tiga cara: (i) Ia

    memperberat beban penduduk pada lahan (ii) ia menaikkan barang konsumsi

    karena kekurangan faktor pendukung untuk menaikkan penawaran mereka (iii)

    memerosotkan akumulasi modal, karena dengan tambah anggota keluarga, biaya

    meningkat. Pengaruh buruk ini terjadi jika persentase anak-anak pada keseluruhan

    penduduk tinggi, sebagaimana terjadi disemua negara terbelakang. Setiap

    kenaikan output nasional diiringi oleh jumlah konsumen yang semakin besar.

    Besarnya jumlah anak-anak diantara penduduk membawa beban berat pada

    perekonomian, karena anak-anak hanya menghabiskan dan tidak menambah

    produk nasional.

    Penduduk dan standar kehidupan. Karena salah satu faktor penting standar

    kehidupan adalah pendapatan per kapita, maka faktor-faktor yang mempengaruhi

    pendapatan per kapita dalam hubungannya dengan pertumbuhan penduduk sama-

    sama mempengaruhi standar kehidupan. Penduduk yang meningkat dengan cepat

    menyebabkan permintaan akan sandang, pangan, papan dan sebagainya menjadi

    meningkat. Tetapi penawaran barang-barang ini tidak dapat ditingkatkan dalam

    jangka waktu pendek lantaran kurangnya faktor pendukung seperti bahan mentah,

  • xli

    buruh terlatih, modal dan sebagainya. Biaya dan harga barang-barang tersebut

    naik, sehinga biaya hidup rakyat menjadi lebih mahal.

    Penduduk dan pembangunan pertanian. Di negara terbelakang, kebanyakan

    rakyat tinggal di wilayah pedesaan. Pertanian merupakan mata pencarian utama.

    Oleh karena itu pertambahan penduduk akan mempengaruhi rasio lahan manusia.

    Tekanan penduduk lahan tidak elastis. Ini menambah pengangguran tersembunyi

    dan mengurangi produktivitas per kapita lebih jauh. Produktivitas per kapita yang

    rendah mengurangi kecendrungan untuk menabung dan menginvestasi.

    Akibatnya, pemakaian teknik yang lebih baik dan perbaikan lainnya pada lahan

    menjadi tidak mungkin. Pembentukan modal pada pertanian begitu menyedihkan

    dan perekonomian terhenti pada tingkat perekonomian pangan (subsistein).

    Problem menyiapkan pangan bagi penduduk yang semakin membengkak itu

    menjadi gawat karena persediaan bahan makanan yang terbatas. Kekurangan

    bahan makan ini harus diimpor sehingga menimbulkan kesulitan neraca

    pembayaran.

    Penduduk dan Lapangan Kerja. Penduduk yang meningkat dengan cepat

    menjerumuskan perekonomian ke pengangguran dan kekurangan lapangan kerja.

    Karena penduduk meningkat proporsi pekerja pada penduduk total menjadi naik.

    Tetapi karena ketiadaan sumber pelengkap, tidaklah mungkin untuk

    mengembangkan lapangan pekerjaan. Akibatnya tenaga buruh, pengangguran dan

    kekurangan lapangan kerja meningkat. Penduduk yang meningkat dengan cepat

    mengurangi pendapatan, tabungan dan investasi. Karenanya pembentukan modal

    menjadi lambat.

  • xlii

    Penduduk dan Overhead Sosial. Penduduk yang berbiak dengan sangat cepat

    memerlukan investasi besar di bidang overhead sosial dan pengalihan sumber-

    sumber dari aktiva produktif dengan segera. Karena kurangnya sumber, negara

    tidak mungkin menyediakan fasilitas pendidikan, kesehatan, pengobatan,

    transportasi dan perumahan kepada keseluruhuhan penduduk. Kepadatan muncul

    dimana-mana. Akibatnya, kualitas pelayanan menurun.

    Penduduk dan Tenaga Buruh. Tenaga buruh dalam suatu perekonomian

    adalah rasio antara penduduk yang bekerja dengan penduduk total. Dengan

    asumsi bahwa 50 tahun sebagai harapan hidup rata-rata di negara terbelakang,

    tenaga buruh pada pokonya adalah penduduk pada kelompok usia 15-50 tahun.

    Selama tahap peralihan demografis tingkat kelahiran meningkat dan tingkat

    kematian menurun. Akibatnya, sebagian terbesar penduduk berada pada kelompok

    usia rendah 1-15 tahun, dan hanya sebagian kecil yang termasuk pada kelompok

    usia tenaga buruh. Adanya anak-anak dewasa didalam tenaga buruh mengandung

    makna bahwa orang-orang yang berpartisipasi pada pekerjaan produktif

    sebenarnya sedikit. Bahkan jika angka kelahiran menurun, tenaga buruh yang

    tersedia bagi pekerjaan produktif pun dalam jangka pendek akan tetap sama.

    Sebaliknya, jumlah anak-anak menjadi turun, dan pendapatan nasional meningkat

    lantaran jumlah konsumen menurun. Tetapi ini hanya bisa terjadi jika tahap

    peralihan kependudukan dilalui, sesuatu yang tidak mungkin sampai negara

    terbelakang dapat menurunkan tingkat kesuburan mereka. Itu tidak berarti bahwa

    dengan angka kelahiran yang tinggi dan angka kematian yang rendah pada saat

    ini, tenaga buruh tidak meningkat. Itu berarti bahwa tambahan pada kelompok

  • xliii

    usia rendah adalah lebih besar ketimbang dari pada kelompok usia kerja. Jadi

    tenaga buruh cenderung meningkat bersama naiknya jumlah penduduk.

    Penduduk dan Pembentukan Modal. Pertumbuhan penduduk memperlambat

    pembentukan modal. Jika penduduk meningkat, pendapatan perkapita yang

    didapat menurun. Dengan pendapatan yang sama orang terpaksa memberi makan

    kepada anak-anak yang lebih banyak. Itu artinya bagian pendapatan terbesar

    terpakai untuk pengeluaran konsumsi. Tabungan yang sudah rendah menjadi

    semakin rendah, akibatnya, tingkat investasi juga menjadi semakin rendah.

    Penduduk yang meningkat secara cepat akan memperlambat seluruh usaha

    pembangunan di negara terbelakang kecuali kalau dibarengi dengan pembetukan

    modal dan kemajuan teknologi yang tinggi. Tetapi faktor yang menetralkan ini

    tidak ada dan akibatnya ledakan penduduk mengakibatkan produktivitas pertanian

    merosot, pendapatan per kapita rendah, standar kehidupan rendah, pengangguran,

    dan pembentukan modal rendah.

    2.3.2 Teori Peralihan Kependudukan

    Teori peralihan kependudukan didasarkan pada kecenderungan penduduk

    sebenarnya di negara maju. Menurut teori ini, setiap negara melalui tiga tahap

    yang berbeda.

    Tahap pertama. Pada tahap ini negara dalam keadaan terbelakang ditandai

    dengan angka kelahiran dan kematian yang tinggi dengan akibat pertumbuhan

    penduduk rendah. Rakyat banyak tinggal diwilayah pedesaan dan mata pencarian

    utama mereka adalah di bidang pertanian yang berada dalam keadaan terbelakang.

    Adanya industri bahan konsumen tetapi sangat sederhana, ringan dan kecil.

  • xliv

    Tahap kedua. Perekonomian memasuki fase pertumbuhan ekonomi.

    produktivitas pertanian dan industri meningkat, alat transortasi berkembang.

    Mobilitas buruh tinggi, pendidikan meluas, pendapatan meningkat. Rakyat

    memperoleh bahan makanan yang lebih banyak dan lebih baik kualitasnya.

    Fasilitas medis dan kesehatan berkembang, obat modern mulai digunakan dan

    semua faktor ini menurunkan angka kematian. Dengan adanya penurunan pada

    angka kematian dan tidak adanya perubahan pada angka kelahiran, jumlah

    penduduk meledak. Ledakan penduduk ini berpengaruh buruk pada perekonomian

    negara. Laju pertumbuhan penduduk yang tinggi yang menambah penduduk total

    pada setiap tahunnya membuat pendapatan per kapita tetap rendah meskipun ada

    kenaikan pada pendapatan nasional. Memang ada perbaikan standar kehidupan

    rakyat, tetapi tidak berarti, sehingga rakyat tetap terbelakang.

    Tahap ketiga. Pada tahap ini angka fertilitas turun dan cenderung menyamai

    angka kematian sehingga laju pertumbuhan penduduk turun. Bila pertumbuhan

    memperoleh momentum dan rakyat melintasi tingkat pendapatan subsisten,

    standar kehidupan mereka naik. Sektor pertumbuhan utama berkembang dan

    menyebabkan perkembangan output di sektor lainnya melalui transformsi teknis.

    Pendidikan berkembang dan menjangkau masyarakat keseluruhan. Pendidikan

    yang murah dan menghasilkan kecerdasan masyarakat dan membuka jalan bagi

    ilmu pengetahuan.

    Kesimpulan dari teori transisi demografik adalah teori pertumbuhan

    penduduk yang paling dapat diterima. Ia tidak menekankan pada penawaran bahan

    makanan seperti teori Malthus, juga tidak mengembangkan haarapan pesimis

    terhadap pertumbuhan penduduk. Ia juga mengungguli teori optimum yang

  • xlv

    meletakkan tekanan eksklusif pada kenaikan pendapatan per kapita bagi

    pertumbuhan penduduk dan mengabaikan faktor lain yang berpengaruh (Jhingan

    2012, h.405).

    2.3.3 Hubungan Penduduk Dengan PAD

    Pendapatan suatu daerah dapat diperoleh dari aktifitas penduduk pada

    perekonomian yang berupa penarikan pajak, retribusi, dan lain sebagainya.

    Dengan adanya penduduk, memberikan dampak positif dalam meningkatkan

    kegiatan perekonomian suatu daerah dan meningkatkan pendapatan asli daerah.

    Sedangkan Khusaini dalam Susanto (2014) menyebutkan bahwa, peranan pajak

    salah satu unsur pada PAD dan dalam pembiayaan daerah yang sangat rendah,

    sangat bervariasi yang disebabkan adanya perbedaan yang cukup besar dalam

    jumlah penduduk, kondisi geografis, dan kemampuan masyarakat dalam

    mengelola perekonomian.

    Jadi apabila jumlah penduduk disuatu daerah mengalami peningkatan akan

    memberikan dampak positif terhadap perekonomian tetapi harus disertai dengan

    pembentukan modal, yang pada waktu tertentu akan memberikan dampak

    langsung terhadap perolehan pendapatan asli daerah, melalui pemungutan pajak

    dan retribusi dari penduduk ke pemerintah daerah.

    Dari teori yang di kemukakan oleh Adam Smith diatas mengatakan bahwa

    peningkatan jumlah penduduk yang memberikan dampak positif bagi penerimaan

    pendapatan daerah jika penduduk di suatu negara/daerah itu selalu produktif,

    dengan demikian mereka mampu membayar pajak atau retribusi yang dipungut

    oleh pemerintah. Sedangkan teori yang dikemukakan oleh Malthus dan Richardo

    akan bahaya pertumbuhan penduduk yang tinggi disebabkan negara miskin

  • xlvi

    banyak penduduk yang tidak produktif, karena sulitnya mencari lapangan

    pekerjaan. Disini pemerintah harus menambah dana bantuan untuk penduduknya

    yang miskin sehingga pengeluaran pemerintah semakin bertambah untuk bantuan

    sosial, sedangkan pajak dan retribusi yang dipungut tidak maksimal karena

    banyak penduduk miskin yang tidak mampu membayar pajak disebabkan

    pendapatan perkapita yang rendah.

    2.4 Penelitian Terdahulu

    Penelitian Hidayat (2009) yang berjudul “Analisis Pertumbuhan Ekonomi

    Terhadap Posisi Pendapatan Asli Daerah (PAD) Provinsi Sumatra Utara” dari

    hasil penelitiannya dapat disimpulkan bahwa uji t dan analisa koefisien

    determinasi (R-square) ditemukan hubungan bahwa pertumbuhan ekonomi

    berpengaruh signifikan terhadap variabel pendapatan asli daerah Provinsi Sumatra

    Utara pada tingkat signifikan 95%

    Kemudian penelitian Siskawati (2014) yang berjudul “Pengaruh Jumlah

    Penduduk Dan Pertumbuhan Ekonomi Terhadap Pendapatan Asli Daerah Antar

    Kabupaten/Kota Di Provinsi Riau” menyimpulkan dari hasil penelitiannya, dari

    hasil estimasi data panel dengan Fixed Effect Model secara parsial jumlah

    penduduk tidak berpengaruh secara signifikan terhadap pendapatan asli daerah

    disebabkan karena ada beberapa daerah yang memiliki laju pertumbuhan

    penduduk yang rendah selain itu seperti halnya dengan kabupaten Inhil dan

    kabupaten Kampar terjadi penurunan pertumbuhan pada komponen pajak daerah

    yang disebabkan oleh masih kurangnya kesadaranoleh para wajib pajak dan

    retribusi menunaikan kewajibannya. Namun analisis secara simultan

  • xlvii

    menunjukkan bahwa variabel jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi

    (PDRB) berpengaruh signifikan terhadap pendapatan asli daerah.

    2.5 Kerangka Pemikiran

    Gambar 1. Kerangka Pemikiran

    Kerangka pemikiran yang tergambar merupakan konsep untuk mengungkap

    dan menentukan persepsi keterkaitan hubungan antara variabel yang diteliti dan

    diuraikan dengan kajian teori yang ditulis. Mengacu pada teori-teori yang telah

    dituliskan di atas maka secara garis besar penulis akan melihat pengaruh jumlah

    penduduk dan pertumbuhan ekonomi terhadap pendapatan asli daerah melalui

    proses analisis data.

    2.6 Pengertian Dan Perumusan Hipotes

    2.6.1 Pengertian Hipotesis

    Menurut Sugiyono (2012, h.84) dalam penelitian, hipotesis dapat diartikan

    sebagai jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian. Rumusan

    masalah tersebut bisa berupa pernyataan tentang hubungan dua variabel atau

    lebih, perbandingan (komparasi), atau variabel mandiri (deskripsi).

    PAD

    Pertumbuhan ekonomi

    Jumlah Penduduk

  • xlviii

    Menurut Misbahuddin, dan Hasan (2013, h.34) hipotesis adalah pernyataan

    atau dugaan yang bersifat sementara terhadap suatu masalah penelitian yang

    kebenarannya masih lemah sehingga harus diuji secara empiris. Pernyataan atau

    dugaan tersebut disebut proporsi. Pengujian hipotesis adalah suatu prosedur yang

    akan menghasilkan keputusan, yaitu keputusan menerima atau menolak keputusan

    tersebut.

    2.6.2 Perumusan Hipotesis

    Dalam penelitian ini penulis menggunakan perumusan hipotesis asosiatif

    untuk mengetahui tingkat hubungan antara variabel X dan Y. Menurut

    Misbahuddin, dan Hasan (2013, h. 36) Hipotesis Asosiatif adalah hipotesis

    mengenai nilai hubungan antara satu atau lebih variabel dengan satu atau lebih

    variabel lainnya. Adapun perumusan hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai

    berikut:

    Ha1 : diduga Jumlah Penduduk berpengaruh terhadap Pendapatan Asli Daerah

    pada Kabupaten/Kota di Kawasan Barsela.

    Ha2 : diduga Pertumbuhan Ekonomi berpengaruh terhadap Pendapatan Asli

    Daerah padaKabupaten/Kota di Kawasan Barsela.

    Ha3 :diduga Jumlah Penduduk dan Pertumbuhan Ekonomi berpengaruh

    terhadap Pendapatan Asli Daerah pada Kabupaten/Kota di Kawasan

    Barsela.

  • xlix

    III. METODE PENELITIAN

    3.1 Ruang Lingkup Penelitian

    Ruang lingkup penelitian adalah di Kabupaten/kota kawasan Barsela, adapun

    yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah pengaruh jumlah penduduk dan

    pertumbuhan ekonomi terhadapPAD(studi kasus di kabupaten/kota kawasan

    Barsela Provinsi Aceh) dalam kurun waktu 2008-2014.

    3.2Data Penelitian

    Dlam peneltian ini peneliti menggabungkan data dari kabupaten/kota

    kawasan Barsela, penggabungan ini dilakukan karena minimnya data yang

    tersedia disetiap kabupaten. Untuk memenuhi syarat penelitian model regresi

    linier berganda maka peneliti melakukan penggabungan data agar hasil penelitian

    dapat maksimal.

  • l

    3.2.1 Jenis dan Sumber Data

    Penelitian ini menggunakan data sekunder. Data sekunder merupakan data

    yang telah dikumpulkan dan telah menjadi dokumentasi. Data penelitian diperoleh

    dari masing-masingBPS kabupaten/kota di kawasan Barsela berupa dokumentasi

    kabupaten/kota dalam angka dan juga hasil laporan final Badan Pemeriksa

    Keuangan (BPK) daerah.

    3.2.2 Teknik Pengumpulan Data

    Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini penulis mengunakan

    pendekatan metode kuantitatif dan menggunakan data sekunder yang di peroleh

    dari intansi-intansi, seperti Badan Pusat Statistik seluruh kabupaten/kota barsela,

    dan intansi lainnya yang terkait, serta dengan cara membaca buku-buku yang ada

    di perpustakaan dan tulisan-tulisan yang berkaitan dengan masalah yang akan

    diteliti untuk mengaitkan antara teori-teori dengan sumber-sumber data yang di

    dapat.

    3.2.3 Skala Pengukuran

    Menurut Sugiyono (2014, h.92) skala pengukuran merupakan kesepakatan

    yang digunakan sebagai acuan untuk menentukan panjang pendeknya interval

    yang ada dalam alat ukur, sehingga alat ukur tersebut bila digunakan dalam

    pengukuran dapat menghasilkan data kuantitatif.

    Menurut Riduwan (2012, h. 6) maksud dari skala pengukuran adalah untuk

    mengklasifikasikan variabel yang di ukur supaya tidak terjadi kesalahan dalam

    menentukan analisis data dan langkah penelitian selanjutnya.

    Dalam penelitian ini skala pengukuran yang di gunakan adalah skala rasio,

    karena tes statistik yang digunakan adalah statistik parametrik.

  • li

    Skala rasio adalah skala pengukuran yang mempunyai nilai nol mutlak dan

    mempunyai jarak yang sama (Riduwan.2012, h.11).

    3.3 Model Analisis Data

    Dalam penelitian ini analisis data dilakukan dengan aplikasi pengolah data

    yang disebut dengan SPSS. Namun juga dijelaskan rumus-rumus pencarian secara

    manual.

    Untuk mengukur faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan pendapatan

    asli daerah di kabupaten/kota Barsela, maka terlebih dahulu digunakan formulasi

    untuk mencari hubungan antara variabel independen yang dibagi menjadi tiga

    unsur yaitu, (X1) jumlah penduduk, (X2) pertumbuhan ekonomi, dan variabel

    dependen (Y) Pendapatan Asli Daerah, dengan menggunakan analisis regresi

    berganda, korelasi, uji asumsi Klasik, uji t dan uji F yang akan diperoleh dengan

    menggunakan rumus-rumus di bawah.

    3.3.1 Analisis Regresi Berganda

    Regresi linier berganda adalah regresi dimana variabel variable terikat (Y)

    yang dihubungkan/dijelaskan lebih dari satu variabel, mungkin dua, tiga dan

    seterusnya variabel bebas (X1, X2,…Xn,) (hasan. 2003, h. 269). Dimana persamaan

    regresi linier berganda sebagai berikut:

    Y = a + b1 x1 + b2 x2+ e 1)

    Keterangan:

    Y : Variabel Terikat (Pendapatan Asli Daerah)

    a,b : Koefisien Regresi

    X1 : Jumlah Penduduk

  • lii

    X2 : Pertumbuhan Ekonomi

    E : Kesalahan Penganggu (error term)

    3.3.2 Uji Asumsi Klasik

    Prasyarat analisis data adalah sesuatu yang dikenakan pada sekelompok data

    hasil observasi atau penelitian untuk mengetahui layak atau tidak layaknya data

    tersebut untuk dianalisis dengan menggunakan teknik statistik. Apabila prasyarat

    analisis tidak terpenuhi, maka aplikasi teknik statistik menjadi tidak layak untuk

    menganalisis data tersebut. Akan tetapi, apabila tetap dipaksakan untuk

    menganalisis data tersebut dengan teknik statistik maka hasil penelitian tersebut

    menjadi bias dan memberikan kesimpulan yang salah (Misbahuddin dan Hasan

    2013, h 277). Uji persyaratan pada regresi linier ganda biasa disebut dengan

    istilah uji asumsi klasik (Sudarmanto 2005, h.101) dalam melakukan pengujian

    hipotesis dengan menggunakan statistik regresi linier ganda diperlukan

    persyaratan asumsi klasik yang dijelaskan sebagai berikut:

    a. Uji Normalitas

    Menurut Sarjono dan Julianti (2011, h.53) uji normalitas bertujuan untuk

    mengetahui normal atau tidaknya suatu distribusi data. Pengujian untuk

    mendeteksi normalitas data dapat melalui analisis grafik dan uji statistik. Analisis

    grafik dapat dilakukan dengan cara menganalisis plot grafik histogram dan normal

    probability plot. Pada plot grafik histogram data dapat dikatakan normal jika tidak

    menceng ke kiri atau ke kanan, sedangkan untuk normal probabilityplot data dapat

    dikatakan normal jika data atau titik-titik tersebar di sekitar garis diagonal dan

    penyebarannya mengikuti garis diagonal (Ghozali dalam Frelitiyani, 2010).

  • liii

    b. Uji Heterokedatisitas

    Menurut Sudarmanto (2005. H, 147) uji heterokedatisitas ini dimaksudkan

    untuk mengetahui apakah variasi residual absolut sama atau tidak sama untuk

    semua pengamatan. Apabila asumsi tidak terjadinya heterokedatisitas ini tidak

    terpenuhi, maka penaksir tidak lagi menjadi efisien baik dalam sampel kecil

    Maupun besar dan estimasi koefisien dapat dikatakan menjadi kurang akurat.

    Menurut Wijaya dalam Sarjono dan Julianita (2013, h.66) heterokedatisitas

    menunjukkan bahwa varians variabel tidak sama untuk semua pengamatan/

    observasi. Jika varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain

    tetap maka disebut homokedatisitas. Model regresi yang baik adalah terjadi

    homokedatisitas dalam model, atau dengan perkataan lain tidak terjadi

    heterokedatisitas. Salah cara untuk mendeteksi ada tidaknya heterokedatisitas,

    yaitu dengan melihat scatterplot yaitu dengan melihat titik yang menyebar secara

    acak di Bagian atas angka 0 dan di Bagian bawah angka 0 dari sumbu vertikal

    atau sumbuY.

    c. Uji Multikolinieritas

    Uji multikolinieritas bertujuan untuk mengetahui apakah hubungan diantara

    variabel bebas memiliki masalah multikolerasi (gejala multikolinieritas) atau

    tidak. Multikolinieritas adalah kolerasi yang sangat tinggi atau sangat rendah yang

    terjadi pada hubungan diantara variabel bebas (Sarjono dan Julianita2013, h. 70).

    Ada beberapa cara mendeteksi ada tidaknya multikolinieritas, sebagai berikut:

    1. Nilai R2 yang dihasilkan oleh suatu estimasi model regresi empiris yang

    sangat tinggi, tetapi secara individual variabel bebas banyak yang tidak

    signifikan memengaruhi variabel terikat.

  • liv

    2. Menganalisis korelasi diantara variabel bebas. Jika diantara variabel bebas

    ada kolerasi yang cukup tinggi (lebih besar daripada 0,90), hal ini

    mengindikasi adanya multikolinieritas.

    3. Multikolinieritas juga dapat dilihat dari nilai VIF (variance-inflating faktor).

    Jika VIF < 10, tingkat kolinearitas dapat ditoleransi.

    4. Nilai Eigenvalue sejumlah satu atau lebih variabel bebas yang mendekati nol

    memberikan petujuk adanya multikolinieritas.

    3.3.3 Koefisien Korelasi (R)

    Koefisien korelasi adalah bilangan yang menyatakan kekuatan hubungan

    antara dua variabel atau lebih, atau juga dapat menentukanarah dari kedua

    variabel (Siregar.2015, h.201).

    Menurut Misbahuddin dan Hasan (2013, h.48) koefisien kolerasi (KK) adalah

    indeks atau bilangan yang digunaakan untuk mengukur derajat hubungan,

    meliputi kekuatan bilangan dan bentuk/arah hubungan. Untuk kekuatan hubungan,

    nilai kolerasi berada berada diantara -1 dan +1. Untuk bentuk arah hubungan, nilai

    koefisien kolerasi dinyatakan dengan positif (+) dan negatif (-), atau (-1≤ kk ≤ +1)

    Jika koefisien kolerasi bernilai positif maka variabel-variabel berkolerasi

    positif. Artinya, jika variabel yang satu naik/turun maka variabel yang lainnya

    juga naik/turun. Semakin dekat nilai koefisien kolerasi ke +1, semakin kuat

    kolerasi positifnya.

  • lv

    Jika koefisien korelasi bernilai negatif maka variabel-variabel bernilai negatif.

    Artinya, jika variabel yang satu naik/turun maka variabel yang lainnya juga

    naik/turun. Semakin dekat nilai koefisien kolerasi ke -1, semakin kuat kolerasi

    positif nya.

    Jika koefisien kolaresi bernilai 0 (nol) maka variabel tidak menunjukkan

    kolerasi.

    Jika koefisien kolerasi bernilai +1 atau -1 maka variabel-variabel menunjukkan

    kolerasi positif atau negatif sempurna.

    Untuk menentukan keeratan hubungan/kolerasi antarvariabel tersebut, berikut

    ini diberikan nilai-nilai dari KK sebagai patokan.

    Tabel 3.3.3Interval nilai koefisien kolerasi dan kekuatan hubungan

    No Interval Nilai Kekuatan Hubungan

    1.

    2.

    3.

    4.

    5.

    6.

    7.

    KK = 0,00

    0,00 < KK ≤ 0,20

    0,20 < KK ≤ 0,40

    0,40 < KK ≤ 0,70

    0,70 < KK ≤ 0,90

    0,90 < KK≤ 1,00

    KK = 1,00

    Tidak ada

    Sangat rendah atau lemah sekali

    Rendah atau lemah, tapi pasti

    Cukup berarti atau sedang

    Tinggi atau kuat

    Sangat tinggi atau kuat sekali, dapat diandalkan

    sempurna

    Sumber: Misbahuddin dan Hasan (2013, h. 48)

    Adapun untuk mencari nilai koefisien korelasi bergandadapat menggunakan

    rumus sebagai berikut (Siregar. 2015, h.243).

    RX1.X2..Y = 𝑏1 X1Y+ 𝑏2 X2Y

    Y2 2)

  • lvi

    Keterangan:

    RY(1,2,3) =korelasi antara variabel X1 danX2secara bersama-sama

    dengan variabel Y

    b1, b2, danb3 = konstanta

    X1Y = korelasi produk moment antara X1 dengan Y.

    X2Y = korelasi produk moment antara X2 dengan Y.

    3.3.4 Koefisien Determinasi (R2)

    Menurut Misbahuddin dan Hasan (2013, h.49) koefisien penentu (KP) atau

    koefisien determinasi (KD) adalah angka atau indeks yang digunakan untuk

    mengetahui besarnya sumbangan sebuah variabel atau lebih (variabel bebas, X)

    terhadap variasi (naik/turunya) variabel yang lain (variabel terikat, Y).

    Nilai koefisien penentu berada diatara 0 sampai 1 (0 ≤ KP ≤ 1)

    Jika nilai koefisien penetu (KP) = 0, berarti tidak pengaruh variaabel

    independen (X) terhadap variabel dependen (Y).

    Jika nilai koefisien penentu (KP) = 1, berarti variasi (naik/turunya) variabel

    dependen (Y) adalah 100% dipengaruhi oleh variabel independen (X).

    Jika nilai koefisien penentu (KP) beraada diantara 0 dan 1 (0 < KP < 0) maka

    besarnya pengaruh variabel independen adalah sesuai dengan nilai KP itu

    sendiri, dan selebihnya berasal dari faktor-faktor lain.

    Menurut Sugiyono (2012, h.231) dalam analisis korelasi terdapat suatu angka

    yang disebut dengan koefisien determinasi, yang besarnya adalah kuadrat dari

    koefisien korelasi (R2) koefisien ini disebut koefisien penentu, karena varians

    yang terjadi pada variabel dependen dapat dijelaskan melalui varians yang terjadi

    pada variabel independen.

  • lvii

    Koefisien determinasi atau koefisien penentu adalah angka yang menyatakan

    atau digunakan untuk mengetahui besarnya sumbangan yang diberikan oleh

    sebuah variabel atau lebih X (bebas) terhadap variabel Y (terikat) (Siregar. 2015,

    h. 222). Adapun rumus koefisien determinasinya adalah sebagai berikut:

    KD = R2 x 100% 3)

    Keterangan:

    KD = besarnya koefisien determinasi

    R = koefisien korelasi

    3.3.5 Uji F

    Uji F adalah uji statistik koefisien korelasi berganda di gunakan untuk

    menguji signifikan atau tidaknya hubungan lebih dari dua variabel (Misbahuddin

    dan Hasan. 2013, h.150).

    Menurut Sugiyono (2012, h.235) pengujian signifikan terhadap koefisien

    korelasi ganda dapat menggunakan rumus berikut:

    F = R2/ K

    ( 1−R2 ) / (n−k−1) 4)

    Keterangan:

    R = koefisien korelasi ganda

    m = jumlah variabel independen

  • lviii

    N = jumlah Anggota sampel

    3.3.6 Uji t

    Uji t adalah pengujian statistik koefisien korelasi parsial yang digunakan

    untuk melihat signifikan atau tidaknya hubungan dua variabel interval ratio yang

    melibatkan hubungan lebih dari dua variabel dengan mengkonstantakan variabel

    yang tidak diukur (Misbahuddin dan Hasan2013, h.150).

    Menurut Sugiyono (2012, h. 237) uji koofesien kolerasi parsial dapat

    menggunakan rumus berikut:

    t = rp n−3

    1−rp2

    5)

    Keterangan:

    rp = koofesien korelasi parsial

    3.4 Definisi Operasional Variabel

    a. Pendapatan asli daerah adalah seluruh penerimaan dari berbagai usaha

    pemerintah daerah yang dipungut berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan

    perundang-undangan.

    b. Jumlah penduduk adalah banyaknya orang yang berada dalam suatu wilayah

    yang terikat oleh aturan-aturan yang berlaku dan saling berinteraksi satu sama

    lain secara dan juga sebagai pelaku ekonomi.

    c. Pertumbuhan ekonomi adalah peningkatan kapasitas produksi untuk

    mencapai tambahan output yang diukur oleh seluruh nilai produksi untuk

    tingkat nasional ataupun regional untuk tingkat daerah.

  • lix

    3.5 Pengujian Hipotesis

    Hipotesis yang di gunakan dalam penelitian ini adalah:

    H0 : β = 0 diduga jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi yang diteliti tidak

    berpengaruh secara nyata terhadap pendapatan asli daerah pada

    kabupaten/kota di kawasan Barsela.

    Ha1: β ≠ 0 diduga jumlah penduduk dan pertumbuhan ekonomi yang diteliti

    berpengaruh secara nyata terhadap pendapatan asli daerah pada

    kabupaten/kota di kawasan Barsela.

    Kriteria uji hipotesis yang di terapkan dalam penelitian ini adalah sebagai

    berikut:

    a. Apabila th > tt, maka H0 ditolak H1 diterima, artinya terdapat pengaruh yang

    signifikan antara faktor-faktor yang diteliti (jumlahpenduduk dan

    pertumbuhan ekonomi) terhadap pendapatan asli daerah pada kabupaten/kota

    di kawasan Barsela.

    b. Apabila th < tt, maka H0 diterima H1 ditolak, artinya tidak terdapat pengaruh

    yang signifikan antara faktor-faktor yang diteliti (jumlah penduduk dan

    pertumbuhan ekonomi) terhadap pendapatan asli daerah pada kabupaten/kota

    di kawasan Barsela.

    Untuk melihat pengaruh variabel X1danX2 terhadap variabel Y secara

    keseluruhan digunakan “Uji F” dengan kriteria sebagai berikut:

    a. Apab