Pasarean Gunung Kawi, Perubahan Sosial Budaya

  • View
    4.392

  • Download
    1

Embed Size (px)

DESCRIPTION

studi mengenai perubahan sosial di pedesaan, studi di Malang, Jawa Timur

Text of Pasarean Gunung Kawi, Perubahan Sosial Budaya

www.umamnoer.co.cc spread your wings and soar

PASAREAN GUNUNG KAWI: PERUBAHAN SOSIAL DAN DINAMIKA EKONOMIDiajukan Sebagai Laporan Kuliah Lapangan di Kawasan Wisata Ziarah Pasarean Gunung Kawi, Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur

Disusun oleh: Fajar Alam Pawaka Ani Pamungkas Devinta Friyandina M. Helmy Anggoro S Khaerul Umam Noer Uswatun Hasanah Muhammad Choyrudin Indraini Puji L Mochammad Helmi Amir Salaf 070316858 070316962 070316972 070316995 070317043 070317044 070317067 070317086 070317094 070116411

JURUSAN ANTROPOLOGI SOSIAL FAKULTAS ILMU SOSIAL ILMU POLITIK UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA 2006

1

www.umamnoer.co.cc spread your wings and soar BAB I PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang Masalah Segala sesuatu pasti akan berubah, demikian pula masyarakat utamanya masyarakat Indonesia yang dikenal dengan keanekaragaman suku bangsa dan budaya. Perubahan selalu ada, kapan pun dan dimana pun. Perubahan merupakan sesuatu yang pasti terjadi dan tak terelakkan. Perubahan merupakan suatu proses waktu. Waktu merupakan faktor yang paling paling penting dalam proses perubahan, faktor yang menentukan hal apa yang berubah, kapan, dan bagaimana perubahan dan derajat perubahan itu terjadi (Bee, 1976:12-15). Secara singkat dapat dikatakan bahwa suatu proses perubahan membutuhkan waktu, dan waktu yang dibutuhkan sangat berpengaruh terhadap hasil dari perubahan yang terjadi. Banyak faktor yang dapat menjadi suatu pendorong bagi terjadinya suatu perubahan, adanya pariwisata salah satunya. Tidak dapat dipungkiri, adanya pariwisata yang berkembang cukup pesat mendorong terjadinya perubahan di dalam suatu masyarakat, terutama dalam bidang ekonomi. Seperti halnya berbagai masyarakat diseluruh dunia, yang berubah karena adanya pariwisata, demikian pula masyarakat di sekitar Kawasan Wisata Ziarah Pasarean Gunung Kawi. Kawasan ini telah ramai sejak tahun 1960-an, tidak mengherankan jika kawasan ini telah berkembang menjadi salah satu objek wisata ziarah yang terkenal di Indonesia. Jika dilihat secara historis, kawasan Gunung Kawi merupakan tempat Pasarean (pemakaman) dari dua orang tokoh kharismatis yang berdakwah dan turut berperang bersama Diponegoro. Selama berdakwah dan melawan penjajah Belanda, tidak sedikit masyarakat yang menjadi 'pengikut' dari Mbah Djoego dan R.M. Iman Soedjono. Yang menjadi pengikut tidak hanya berasal dari agama Islam, namun juga dari pemeluk agama lain. Yang paling menyolok dari kawasan Gunung Kawi adalah terjadinya akulturasi dari berbagai kebudayaan, hal ini dapat dilihat dengan banyaknya para peziarah

2

www.umamnoer.co.cc spread your wings and soar ataupun pelaku ekonomi yang berasal dari berbagai latar kebudayaan yang berbeda. Adanya akulturasi telah menjadi suatu penyebab penting terjadinya perubahan sosial dan kebudayaan di masyarakat Gunung Kawi. I.2. Perumusan Masalah Dari dasar uraian yang terdapat pada Latar Belakang Masalah, maka permasalahan yang hendak ditelusuri adalah: 1. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya perubahan pada masyarakat di Kawasan Wisata Ziarah Gunung Kawi; dan 2. Sejauhmana perubahan yang terjadi pada masyarakat, terutama dalam bidang ekonomi, terkait dengan Kawasan Wisata Ziarah Gunung Kawi. I.3. Tujuan Penelitian Berdasarkan masalah penelitian di atas, maka secara umum penelitian ini memiliki tujuan sebagai berikut: 1. Untuk mengetahui faktor-faktor apa yang mempengaruhi terjadinya perubahan pada masyarakat di Kawasan Wisata Ziarah Gunung Kawi; dan 2. Untuk mengetahui sejauhmana perubahan terutama dalam bidang ekonomi khususnya perubahan mata pencaharian masyarakat di Kawasan Wisata Ziarah Gunung Kawi. I.4. Kerangka Teori Dikalangan antropolog, terdapat tiga pola yang penting sehubungan dengan perubahan kebudayaan, yaitu: evolusi, difusi, dan akulturasi. Landasannya adalah penemuan atau inovasi. Inovasi merupakan aspek yang mungkin paling penting dan menentukan dalam pertumbuhan kebudayaan. Penemuan disini dapat berarti penemuan sesuatu atau secara etimologis 'menerima sesuatu yang baru' (Kroeber, 1948:352). Perkembangan teori mengenai perubahan sosial dan kebudayaan dapat dikatakan sangat mencengangkan. Kemunduran pemikiran evolusi yang disponsori oleh Spencer, Comte maupun Morgan telah terjadi sejak awal

3

www.umamnoer.co.cc spread your wings and soar abad 20. Trend yang terjadi adalah pemikiran mengenai difusi, yang menekankan sifat mobilitas berbagai unsur kebudayaan dan mencoba mengetahui bagaimana cara berbagai unsur yang membentuk satu kebudayaan tertentu menyatu bersama (Lauer, 1989:389-402). Namun demikian, bagi golongan fungsionalisme memandang bahwa perubahan akan mengganggu dan mengacaukan fungsi kooperatif dan koordinatif elemenelemen yang sebelumnya menopang harmoni masyarakat. Dengan kata lain, proses transpormatif, terutama yang merupakan hasil dari kontak-kontak yang merupakan agen diluar masyarakat dipandang sebagai merusak organisme atau keseimbangan dari masyarakat (Budiwanti, 2000:54-55). Namun demikian, perubahan merupakan satu hal pasti terjadi, adanya mobilitas, re-organisasi di masyarakat, dan heterogenitas yang semakin tinggi menjadi suatu indikator dari adanya perubahan yang terjadi di masyarakat. Kroeber (1948:412) mengatakan bahwa difusi selalu menimbulkan perubahan bagi kebudayaan yang menerima unsur kebudayaan lain yang menyebar itu. Yang terjadi adalah suatu usaha untuk beradaptasi atau memodifikasi kebudayaan yang datang dengan tetap mempertahankan sebisa mungkin kebudayaan yang dimiliki. Modifikasi ini menyangkut unsur kebudayaan dalam bentuk materi maupun non-materi. Masalah yang penting terakhir yang perlu diperhatikan adalah, bahwa proses difusi sering merupakan proses timbal-balik. Perubahan tidak hanya terjadi melalui proses difusi, namun juga akulturasi. Dapat dikatakan bahwa akulturasi adalah suatu pola perubahan dimana terjadi penyatuan antara dua kebudayaan. Penyatuan ini dihasilkan dari adanya kontak yang berlanjut. Akulturasi mengacu pada pengaruh satu kebudayaan terhadap kebudayaan lain, atau saling mempengaruhi antar kebudayaan yang mengakibatkan terjadinya perubahan kebudayaan. Adanya kolonisasi, pendudukan, peperangan, misi agama, migrasi, pariwisata dan perdagangan merupakan cara-cara yang menyebabkan terjadinya kontak antara dua kebudayaan yang berbeda dan otonom satu sama lain. Secara singkat akulturasi dapat digambarkan sebagai pola penyatuan antara dua kebudayaan, penyatuan disini tidak berarti bahwa kesamaannya lebih banyak daripada perbedaannya, namun berarti kedua kebudayaan yang saling

4

www.umamnoer.co.cc spread your wings and soar berinteraksi menjadi semakin serupa dibanding sebelum terjadinya kontak antara keduanya (Lauer, 1989:402-407). Perubahan perubahan sosial secara singkat dan dapat digambarkan manusia sebagai berubah,

bagaimana

masyarakat

perilaku

disebabkan karena adanya perubahan invensi, hukum, revolusi, fashion, penyakit, dan pergerakan sosial (Rose, 1987 S:228). Perubahan sosial selanjutnya terjadi dengan munculnya kelas menengah, yang terdiri dari golongan intelektual, pedagang, dan pengusaha. Pada mulanya golongan ini tidak memusatkan perhatian pada masalah kebudayaan, tetapi pada masalah politik dan ekonomi (Kuntowijoyo, 1999[1987]:26-27). Dengan demikian, perubahan sosial secara nyata terjadi pada berbagai masyarakat, dalam hal ini masyarakat yang ada di sekitar Kawasan Wisata Ziarah Gunung Kawi yang menjadi fokus pembahasan. Masyarakat di Kawasan Wisata Ziarah Gunung Kawi dapat dikatakan telah mengalami suatu perubahan sosial melalui proses difusi dan akulturasi. Pada awalnya para pengikut Mbah Djoego dan Iman Soedjono merupakan kumpulan masyarakat dengan berbagai latar belakang kebudayaan yang berbeda, lambat laun mereka terus berinteraksi dengan intens, yang pada akhirnya akan bermuara pada terjadinya akulturasi pada masyarakat tersebut, dimana berbagai kebudayaan yang berbeda berbaur, membentuk suatu konfigurasi kebudayaan yang lebih unik, kompleks, dan terutama sekali telah mendorong terjadinya perubahan sosial yang penting dalam masyarakat. I.5. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode partisipasi observasi yang bertujuan untuk memberikan deskripsi yang menyeluruh tentang gejala yang ada di suatu komunitas. Metode partisipasi observasi berarti berpartisipasi dalam banyak aspek kehidupan masyarakat, dan mengamati tingkah laku banyak warga dari kelompok masyarakat yang bersangkutan, dan memahami suatu pandangan hidup dari sudut pandang penduduk (Spradley, 1997:3). Dalam program perubahan kebudayaan terencana, di mana faktor-faktor sosial, psikologi dan budaya hampir tak terbatas dan tak di ketahui dengan jelas, pendekatan yang eksploratif dengan tujuan terbuka menghasilkan hal-

5

www.umamnoer.co.cc spread your wings and soar hal yang sering kali penting. Oleh karena itu, penelitian partisipasi observasi melibatkan belajar mengenai dunia orang yang telah belajar melihat, mendengar, berbicara, berpikir dan bertindak dengan cara yang berbedabeda, sehingga si peneliti sedikit-banyak akan mengerti mengenai dunia orang-orang tersebut. I.5.1. Pemilihan Lokasi Penelitian Lokasi penelitian terletak di sebelah selatan lereng Gunung Kawi, kirakira empat puluh kilometer disebelah barat Kabupaten Malang, di Desa Wonosari, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Kawasan ini sebagai Pasarean Gunung Kawi atau Komplek Wisata Ziarah Gunung Kawi. I.5.2. Teknik Penentuan Informan Informan adalah orang-orang yang diharapkan mengetahui tentang hal-hal yang menjadi fokus penelitian. Oleh karena itu, dalam pemilihan informan dipilih orang-orang yang telah lama menetap atau mengetahui dengan jelas hal-hal yang menjadi fokus. Dalam hal ini, informan yang di ambil selain para pejabat dilingkungan desa Wonosari, namun juga para pedagang, dan pengunjung atau peziarah yang datang ke Kawasan Wisata Ziarah Gunung Kawi