Nikah Siri dan Mut'ah

  • Published on
    04-Jul-2015

  • View
    236

  • Download
    2

Embed Size (px)

Transcript

<ul><li> 1. Presentasi ke-3NIKAH SIRRI &amp; NIKAH MUTAH :Definisi, Dalil, Hukum &amp; ImplikasinyaOleh: Hj. Marhamah Saleh, Lc. MA</li></ul><p> 2. TARIF NIKAH SIRRIKata Sirri berasal dari bahasa Arab, yang arti harfiyahnya,rahasia (secret marriage). Menurut terminologi fiqh Maliki,Nikah sirri, ialah: Nikah yang atas pesan suami, para saksimerahasiakannya untuk isterinya atau jamaahnya, sekalipunkeluarga setempatIbnu Taimiyah dalam kitabnya, Ahkamu al-Zawaj, menyatakanbahwa nikah sirri adalah apabila laki-laki menikahi perempuantanpa wali dan saksi-saksi, serta merahasiakan pernikahannya.Sehingga langsung dapat disimpulkan, bahwa pernikahan inibathil menurut jumhur ulama.Wahbah Zuhaili menyatakan bahwa nikah sirri yakni nikah yangdirahasiakan dan hanya diketahui oleh pihak yang terkaitdengan akad. Pada akad ini dua saksi, wali dan keduamempelai diminta untuk merahasiakan pernikahan itu, dan tidakseorangpun dari mereka diperbolehkan menceritakanakad tersebut kepada orang lain. 3. NIKAH SIRRI MENURUT FIQHMenurut pandangan ulama, nikah sirri terbagi menjadi dua:Pertama : Dilangsungkannya pernikahan suami istri tanpa kehadiran walidan saksi-saksi, atau hanya dihadiri wali tanpa diketahui oleh saksi-saksi.Kemudian pihak-pihak yang hadir (suami-istri dan wali) menyepakati untukmenyembunyikan pernikahan tersebut. Menurut pandangan seluruh ulamafiqih, pernikahan yang dilaksanakan seperti ini batil. Lantaran tidakmemenuhi syarat pernikahan, seperti keberadaan wali dan saksi-saksi. Inibahkan termasuk nikah sifh (perzinaan) atau ittikhdzul-akhdn(menjadikan wanita atau lelaki sebagai piaraan untuk pemuas nafsu). Bukan pezina dan bukan (pula) wanita yang mengambil laki-laki lain sebagai piaraannya [al- Nis`/4:25].Kedua : Pernikahan terlaksana dengan syarat-syarat dan rukun-rukun yangterpenuhi, seperti ijab, qabul, wali dan saksi-saksi. Akan tetapi, mereka(suami, istri, wali dan saksi) satu kata untuk merahasiakan pernikahan inidari telinga masyarakat. Jumhur ulama memandang pernikahan seperti inisah, tetapi hukumnya dilarang. Sebab, suatu perkara yang rahasia, jika telahdihadiri dua orang atau lebih, maka sudah bukan rahasia lagi. Dilarang,karena adanya perintah Rasul Saw untuk walimah dan menghilangkan unsuryang berpotensi mengundang keragu-raguan dan tuduhan tidak benar.Sedangkan kalangan ulamaMalikiyah menilai pernikahan yang seperti ini batil. Karenamaksud dari perintah untuk menyelenggarakan pernikahan adalahpemberitahuan, dan ini termasuk syarat sah pernikahan. 4. TERMINOLOGI NIKAH SIRRI DI INDONESIA Dalam konteks masyarakat Indonesia, definisi nikah sirri ada beberapa versi:1. Pernikahan yang dipandang sah dari segi agama (Islam), namun tidak didaftarkan ke KUA (selaku lembaga perwakilan negara dalam bidang pernikahan).2. Pernikahan yang dilakukan tanpa kehadiran wali dari pihak perempuan.3. Pernikahan yang sah dilakukan baik oleh agama maupun secara negara (juga tercatat di KUA), namun tidak disebarluaskan (tidak diadakan walimah/resepsi). Nikah sirri yang banyak dilakukan oleh masyarakat Muslim Indonesia yaitu pernikahan yang sah namun tidak didaftarkan ke KUA. Dalam konteks ini terminologi yang tepat adalah Nikah Sirri = Zawaj Urfi = Nikah dibawah tangan. 5. ZAWAJ URFI Disebut nikah urfi (adat) karena pernikahan ini merupakan adat dan kebiasaan yang berjalan dalam masyarakat muslim sejak masa Nabi Saw dan para sahabat, dimana mereka tidak perlu untuk mencatat akad pernikahan mereka tanpa ada permasalahan dalam hati mereka. Nikah urfi mudah untuk dipalsu dan digugat, berbeda dengan pernikahan resmi yang sulit digugat. Faktor-faktor pendorong nikah urfi:a. Problem Poligami.b. Undang-undang usia.c. Tempat tinggal yang tidak menetap.d. Faktor Harta/Mahar yang tinggi.e. Faktor Agama. Sebagian orang lebih menempuh jalan ini untuk memenuhi hasratnya bersama kekasihnya dan tidak ingin terikat dalam suatu pernikahan resmi. 6. EFEK NIKAH SIRRIDiantara efek pernikahan sirri bagi anak &amp; istri:1. Istri tidak bisa menggugat suami, apabila ditinggalkan oleh suami.2. Penyelesaian kasus gugatan nikah sirri, hanya bisa diselesaikan melalui hukum adat, tidak bisa di pengadilan agama.3. Pernikahan sirri tidak termasuk perjanjian yang kuat (mtsqan ghaldha) karena tidak tercatat secara hukum.4. Apabila memiliki anak, maka anak tersebut tidak memiliki status, seperti akta kelahiran. Sebab untuk memperoleh akta kelahiran, disyaratkan adanya akta nikah.5. Istri tidak memperoleh tunjangan apabila suami meninggal, seperti tunjangan jasa raharja. Apabila suami sebagai PNS, maka istri tidak memperoleh tunjangan perkawinan dan tunjangan pensiun suami6. Anak &amp; istri terancam tidak mendapat hak waris, karena tidak ada bukti administrasi pernikahan. 7. MANFAAT PENCATATAN (AKTA) NIKAH1. Menjaga hak dari kesia-siaan, baik hak suami istri atau hak anak berupa nasab, nafkah, warisan dsb. Catatan resmi ini merupakan bukti otentik yang tidak bisa digugat untuk mendapatkan hak tsb.2. Menyelesaikan persengketaan antara suami istri atau para walinya ketika mereka berselisih, karena bisa jadi salah satu diantara mereka akan mengingkari suatu hak untuk kepentingan pribadi dan pihak lainnya tidak memiliki bukti karena saksi telah tiada. Maka dengan adanya catatan ini, hal itu tidak bisa diingkari.3. Catatan dan tulisan akan bertahan lama, sehingga sekalipun yang bertanda tangan telah meninggal dunia namun catatan masih berlaku. Oleh karena itu, para ulama menjadikan tulisan merupakan salah satu cara penentuan hukum.4. Catatan nikah akan menjaga suatu pernikahan dari pernikahan yang tidak sah, karena akan diteliti terlebih dahulu beberapa syarat dan rukun pernikahan serta penghalang-penghalangnya.5. Menutup pintu pengakuan dusta dalam pengadilan. Karena bisa saja sebagian orang yang hatinya rusak telah mengaku telah menikahi seorang wanita secara dusta untuk menjatuhkan lawannya dan mencemarkan kehormatan hanya karena mudahnya suatu pernikahan dengan saksi palsu. 8. DALIL PELARANGAN NIKAH SIRRI Apabila pemerintah memandang adanya undang-undangkeharusan tercatatnya akad pernikahan, maka itu adalahundang-undang yang sah dan wajib bagi rakyat untukmematuhinya dan tidak melanggarnya. QS. al-Nisa: 59 Kaidah fiqh: Pencatatan perkawinan menjadi suatu keharusan yangdilakukan karena membawa kemaslahatan yang lebih besarbagi umat Islam. Ada kaidah fiqh (menarik kemaslahatan dan menolak kemudaratan). Ulamaushul fiqh mengklaim bahwa apabila ada aturan hukum yangdibuat manusia nyata maslahatnya dan tidak bertentangandengan nash, ia dapat disebut bagian dari hukum itu sendiri. 9. KESIMPULAN HUKUM NIKAH SIRRI Nikah sirri yang diartikan menurut terminologi fiqh, dilarang dan tidak sah menurut hukum Islam, karena ada unsur sirri (dirahasiakan nikahnya), yang bertentangan dengan ajaran Islam dan bisa mengundang fitnah dan tuhmah, serta dapat mendatangkan madarat/resiko berat bagi pelakunya dan keluarganya. Nikah sirri juga tidak sah menurut hukum positif, karena tidak melaksanakan ketentuan hukum munakahat yang baku dan benar, dan tidak pula diadakan pencatatan nikahnya oleh KUA. Nikah dibawah tangan hukumnya sah menurut hukum Islam sepanjang tidak motif sirri, karena telah memenuhi ketentuan syariah yang benar. Nikah dibawah tangan tidak sah menurut hukum positif, karena tidak memenuhi peraturan UU yang berlaku dalam hukum perkawinan. Nikah urfi banyak mengandung persoalan (mafsadat/ mudharat). Sehingga dalam perspektif syariat, nikah urfi, walau sah secara fiqh, tetapi perlu dihindari. 10. NIKAH MUTAHMutah identik dengan kata tamattu yang berarti bersenang-senang ataumenikmati. Secara istilah, mutah berarti seorang laki-laki menikahi seorangwanita dengan memberikan sejumlah harta tertentu dalam waktu tertentu,pernikahan ini akan berakhir sesuai dengan batas waktu yang telahditentukan tanpa talak serta tanpa kewajiban memberi nafkah atau tempattinggal dan tanpa adanya saling mewarisi antara keduanya jika meninggalsebelum berakhirnya masa nikah mutah itu.Nikah Mutah disebut juga pernikahan sementara (al-zawaj al-mu`aqqat).Menurut Sayyid Sabiq, dinamakan mutah karena laki-lakinya bermaksuduntuk bersenang-senang sementara waktu saja. Dalam nikah mutah,jangka waktu perjanjian pernikahan (ajal) dan besarnya mahar yang harusdiberikan oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan yang hendak dinikahi(mahr, ajr), dinyatakan secara spesifik dan eksplisit.Tujuan nikah mutah adalah kenikmatan seksual (istimta), sehinggaberbeda dengan tujuan penikahan permanen, yaitu prokreasi (taulid an-nasl). Pihak laki-laki tidak berkewajiban menyediakan kebutuhan sehari-hari(nafaqah) untuk istri sementaranya, sebagaimana yang harus ia lakukandalam pernikahan permanen. Sejalan dengan itu,pihak istri juga mempunyai kewajiban yang sedikit untukmentaati suami, kecuali dalam urusan seksual. 11. HUKUM NIKAH MUTAH Pada awal perjalanan Islam, nikah mutah memang dihalalkan, Kami pergi berperang bersama Rasulullah saw. tanpa membawa istri lalu kami bertanya: Bolehkah kami mengebiri diri? Beliau melarang kami melakukan itu kemudian memberikan rukhsah untuk menikahi wanita dengan pakaian sebagai mahar selama tempo waktu tertentu lalu Abdullah membacakan ayat tsb. (HR. BukhariMuslim). Hadits dari Jabir bin Abdillah dan Salamah bin Akwa berkata: Pernah kami dalam sebuah peperangan, lalu datang kepada kami Rasul Saw Telah diizinkan bagi kalian nikah mutah maka sekarang mutahlah. Namun hukum ini telah dimansukh/dihapus dengan larangan Rasul Saw untuk menikah mutah. Para ulama berselisih pendapat kapan diharamkannya nikah mutah tersebut. Pendapat yang lebih rajih bahwa nikah mutah diharamkan pada saat fathu makkah tahun 8 Hijriyah. 12. HUKUM NIKAH MUTAHal-Imam an-Nawawi dalam kitabnya Syarh Shahih Muslim: yang benar dalam masalah nikah mutah ini adalah bahwa pernah dibolehkan dan kemudian diharamkan sebanyak dua kali; yakni dibolehkan sebelum perang Khaibar, tapi kemudian diharamkan ketika perang Khaibar. Kemudian dibolehkan selama tiga hari ketika fathu Makkah, atau hari perang Authas, kemudian setelah itu diharamkan untuk selamanya sampai hari kiamat. Alasan kenapa ketika itu dibolehkan melaksanakan nikah mutah, karena ketika itu dalam keadaan perang yang jauh dari istri, sehingga para sahabat yang ikut perang merasa sangat berat. Dan lagi pada masa itu masih dalam masa peralihan dari kebiasaan zaman jahiliyah. Jadi wajar jika Allah memberikan keringanan (rukhshah) bagi para sahabat ketika itu. 13. HUKUM NIKAH MUTAHAda pendapat yang membolehkan nikah mutah ini berdasarkan fatwa sahabatIbnu Abbas r.a., padahal fatwa tersebut telah direvisi oleh Ibnu Abbas sendiri. : . : ) (! . Diriwayatkan dari beberapa sahabat dan beberapa tabiin bahwa nikah mutah hukumnya boleh, danyang paling populer pendapat ini dinisbahkan kepada sahabat Ibnu Abbas r.a., dan dalam kitabTahzhib as-Sunan dikatakan: sedangkan Ibnu Abbas membolehkan nikah mutah ini tidaklah secaramutlak, akan tetapi hanya ketika dalam keadaan dharurat. Akan tetapi ketika banyak yangmelakukannya dengan tanpa mempertimbangkan kedharuratannya, maka ia merevisi pendapatnyatersebut. Ia berkata: inna lillahi wainna ilaihi rajiun, demi Allah saya tidak memfatwakan seperti itu(hanya untuk kesenangan belaka), tidak seperti itu yang saya inginkan. Saya tidak menghalalkannikah mutah kecuali ketika dalam keadaan dharurat, sebagaimana halalnya bangkai, darah dandaging babi ketika dalam keadaan dharurat, yang asalnya tidak halal kecuali bagi dalam keadaandharurat. Nikah mutah itu sama seperti bangkai, darah, dan daging babi, yang awalnya haramhukumnya, tapi ketika dalam keadaan dharurat maka hukumnya menjadi boleh 14. Pandangan Kaum Syiah (Itsna Asyariyah)Dasar legitimasi kaum Syiah terhadap nikah muthah adalah al- Quran surat an-Nisa ayat 24: Dalam Tarikh al-Fiqh al-Jafari dijelaskan, bahwa ketika Abu Nashrah bertanya kepada Ibn Abbas tentang nikah muthah, Ibn Abbas menerangkan, nikah itu diperbolehkan, menurut Ibn Abbas, lengkapnya ayat itu adalah (terdapat tambahan :) ) ( Sahabat lain yang sependapat dengan Ibn Abbas Ibn Masud, Ubay Ibn Kaab, dan Said Ibn Zubair.Kaum Syiah berpendirian bahwa praktek nikah muthah terdapat pada masa Nabi dan Khalifah Pertama. Baru pada periode Khalifah Kedua, yakni Khalifah Umar Ibn Khattab, nikah muthah dilarang. 15. TUJUAN NIKAHSyariat nikah menurut Islam ini, ajaran Islam ingin melindungipara wanita untuk mendapatkan hak-haknya. Para wanita tidakdapat dipertukarkan lagi sebagaimana zaman jahiliyah. Parawanita selain harus menjalankan kewajibannya sebagai istri,juga mempunyai hak untuk diperlakukan secara baik(muasyarah bil maruf), dan ketika suami meninggal ia jugadapat bagian dari harta warisan.Demikian tujuan nikah menurut ajaran Islam. Sedangkan nikahmutah adalah nikah kontrak dalam jangka waktu tertentu,sehingga apabila waktunya telah habis maka dengansendirinya nikah tersebut bubar tanpa adanya talak. Dalamnikah mutah si wanita yang menjadi istri juga tidak mempunyaihak waris jika si suami meninggal. Dengan begitu, tujuan nikahmutah ini tidak sesuai dengan tujuan nikah menurut ajaranIslam sebagaimana disebutkan di atas, dan dalam nikahmutah ini pihak wanita teramat sangat dirugikan. Olehkarenanya nikah mutah ini dilarang oleh Islam. 16. DALIL HARAMNYA NIKAH MUTAH pendapat yang mengharamkannya dasar hukumnya sangat kuat, sebab dilandaskan di atas hadis shahih sbb. : : ) ) Diriwayatkan bahwa sahabat Salamah bin al-Akwa r.a. berkata: Rasulullah s.a.w. memperbolehkan nikah mutah selama tiga hari pada tahun Authas (ketika ditundukkannyaMakkah, fathu Makkah) kemudian (setelah itu) melarangnya ) ) Diriwayatkan dari Rabi bin Sabrah r.a. sesungguhnya rasulullah s.a.w. bersabda: wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku pernah mengizinkan nikah mutah, dan sesungguhnya Allah telah mengharamkannya sampai hari kiamat, oleh karenanya barangsiapa yang masih mempunyaiikatan mutah maka segera lepaskanlah, dan jangan kalian ambil apa yang telah kalian berikankepada wanita yang kalian mutah 17. Nikah Misyar Nikah Misyar b...</p>