MODEL INTEGRASI PERMUKIMAN PENGUNGSI KEDALAM ?· Model integrasi Permukiman Pengungsi Kedalam Sistem…

  • View
    214

  • Download
    0

Embed Size (px)

Transcript

Model integrasi Permukiman Pengungsi Kedalam Sistem Permukiman Kota

MODEL INTEGRASI PERMUKIMAN PENGUNGSIKEDALAM SISTEM PERMUKIMAN KOTA

Studi kasus di Lingkungan Lamanaga Kelurahan Bukit Wolio IndahKota Bau-Bau

Muh. Irsyad Cahyadi1), Johan Silas2), Heru Purwadio3)

1. Mahasiswa Jurusan Arsitektur ,email : ichad.cahyadi@yahoo.com2. Jurusan Arsitektur FTSP ITS Surabaya Indonesia 601113. Jurusan perencanaan wilayah kota FTSP ITS Surabaya Indonesia 60111

ABSTRAKPertumbuhan penduduk kota Bau-Bau selain dipengaruhi oleh tingkat kelahiran dan

kematian juga dipengaruhi oleh masuknya pengungsi akibat konflik sosial yang terjadi diAmbon pada tahun 1999. Untuk menunjang kehidupannya para pengungsi ditempatkandibeberapa lokasi penampungan sekitar permukiman kota. Dari komitmen Deklarasi Istanbuldikatakan bahwa seluruh manusia yang hidup dibumi berhak mendapatkan tempat tinggaldan lingkungan yang layak. Dalam Perkembangannya permukiman pengungsi berintegrasidengan permukiman kota melalui model integrasi fisik. Permukiman pengungsi merupakanbagian dari sistem permukiman kota dimana sarana prasarana lingkungan yang terbangunsaling berhubungan.

Makalah ini meneliti bagaimana jalinan hubungan antara permukiman pengungsiterhadap permukiman kota sebagai pusat kota dengan menggunakan metode penelit iandeskriptif kualitatif dan analisa tipologi morfologi yaitu mengidentifikasi struktur keterkaitandan atau hubungan antara bagian-bagian dari kota.

Hasil yang diperoleh pada penelitian ini yaitu model integrasi permukimanpengungsi kedalam sistem permukiman kota dapat dilihat dari pola jaringan jalan, jaringandrainase, jaringan listrik, sarana air bersih, sarana drainase, dan sarana prasarana sosial.

Kata kunci : Permukiman,integrasi,model,sistem,kota,pengungsi

ABSTRACT

Urban population growth Bau-Bau in addition affected by the birth and death ratesare also influenced by the entry of refugees due to social conflict in Ambon in 1999. Tosupport the life of the refugee camps located in several locations around the settlements of thecity. Istanbul Declaration of commitment to say that all people who live on earth deserve aplace to live and a decent environment. In the refugee settlements and development, integratedwith the settlement the city through the physical integration model. Refugee settlements arepart of the settlement system of the city where infrastructure built environment are related.

This paper examines how relationships between the settlements of refugees tosettlements as the center of the city by using analysis of morphological typology of linkagesand identify the structure or the relationship between the parts of the city.Results obtained in this study is a model of integration into the refugee settlement settlement

system the city can be seen from the pattern of road network, drainage network,electricity,clean water facilit ies, drainage facilit ies, and social infrastructure.

Keywords: Settlement, integration, models, systems, cities, refugee

Easy PDF Creator is professional software to create PDF. If you wish to remove this line, buy it now.

9UlQr/\=

Model integrasi Permukiman Pengungsi Kedalam Sistem Permukiman Kota

I. PENDAHULUAN

Kota Bau-Bau merupakan suatu kota yang terletak di bagian Selatan PropinsiSulawesi Tenggara berupa wilayah kepulauan, berada di Pulau Buton. Jumlah penduduk KotaBau-Bau sebanyak 124.609 jiwa, dengan luas wilayah sekitar 221 Km. Perkembangan Kotaantara lain disebabkan oleh terbangunnya permukiman-permukiman baru disekitar kotadiantaranya permukiman pengungsi di Lingkungan Lamanaga Kelurahan Bukit Wolio Indah.Permukiman ini terbentuk pada tahun 2000. Kerusuhan yang melanda Ambon pada tahun1999 mengakibatkan terjadinya pengungsian besar-besaran dan Kota Bau-Bau merupakansalah satu daerah tempat mengungsi. Kota ini dijadikan sebagai tempat mengungsi disebabkankarena asal usul mereka berasal dari Bau-Bau (suku Buton). Penempatan pengungsi di KotaBau-Bau terdiri beberapa lokasi dan diantaranya berlokasi di Lingkungan Lamanaga, terletakdi Kota Bau-Bau bagian atas yaitu daerah perbukitan yang berjarak 3 Km dari pusat Kota.Pembangunan perumahan pengungsi di daerah ini dibiayai dari bantuan pemerintah namununtuk status tanah merupakan hak milik pengungsi yang telah dibeli dari penduduk setempat.

Penempatan pengungsi dilokasi ini belum ditunjang oleh sarana prasaranalingkungan yang memadai seperti halnya yang ada dipermukiman kota. Oleh karena itupermasalahan utama yang terjadi yaitu tidak tersedianya sarana dan prasarana lingkunganyang tersistem dengan prasarana kota pada permukiman pengungsi lingkungan Lamanagasehingga menyebabkan ketidak sesuaian terhadap permukiman kota, Oleh karena itudigunakan sebagai dasar kajian dalam proses penelit ian selanjutnya yaitu pertumbuhankawasan permukiman pengungsi belum terintegrasi kedalam sistem permukiman kota Bau-Bau, seiring dengan perkembangan kota dalam konteks fisik lingkungan permukimannya.

Penelit ian ini bertujuan untuk merumuskan model permukiman pengungsi yangterintegrasi kedalam sistem permukiman Kota Bau-Bau dengan tiga sasaran yaitumengidentifikasi permukiman kota, mengidentifikasi permukiman pengungsi danmengintegrasikan permukiman pengungsi kedalam sistem permukiman kota dengan batasanpenelit ian pada Lingkungan Lamanaga Kelurahan Bukit Wolio Indah pada tinjauan fisikpermukiman.

Gambar 1. Peta wilayah penelit ian

II. KAJIAN TEORI

Empat puluh persen dari wilayah kota adalah milik umum, jalan, taman, sekolah danberbagai unsure yang digunakan oleh umum. Dalam hal ini pemerintah daerah boleh

Easy PDF Creator is professional software to create PDF. If you wish to remove this line, buy it now.

WC7C-

Model integrasi Permukiman Pengungsi Kedalam Sistem Permukiman Kota

membentuk jalan-jalan, jalur lalu lintas utama dan ruang terbuka sesuai dengan rancanganyang telah dibuat oleh pejabat perencana. Namun sebagian besar pembangunan kota, 60 %dari seluruh wilayah kota persil demi persil dikembangkan oleh industri, kegiatan usaha, danpencari rumah yang mencari kesempatan menanam modal. Perkembangan kota mempunyaiimplikasi adanya suatu tanggung jawab yang terus menerus, dengan semua kekuatan bersatudalam proses bertindak bersama-sama dan saling berkaitan. T ingkat kesatuan kekuatan-kekuatan ini mencerminkan aspirasi, ambisi, dan itikad dari suatu masyarakat dan inisiatifserta tanggung jawab warga kota secara keseluruhan dan masing-masing untuk porsinyasendiri. Oleh karena itu untuk menunjang perkembangan kota diperlukan perencanaan yangbaik.

Secara umum model dapat berupa model fisik, misalnya suatu replika dari suatubangunan atau lingkungan dalam bentuk maket atau model tiruannya. Yang lainnya berupamodel abstrak yaitu suatu bentuk yang menyatakan suatu realita yang kompleks kedalamsimbol-simbol untuk menyederhanakan kompleksitas tersebut.

Menurut (Djoko Sujarto,1998) esensi dan tujuannya model-model perencanaan kotadapat dibedakan dalam 3 model1. Model diskriptif (decriptive model) yaitu model yang dapat dipergunakan untuk

mengkaji tingkah laku suatu realita atau gejala sebagaimana adanya.2. Model penaksiran (predictive model) yaitu model yang dapat dipergunakan untuk

menafsirkan sesuatu atau melihat kecenderungan dan kemungkinan dimasa datang.3. Model perencanaan (planning model) yaitu model yang dapat dipakai untuk membentuk

suatu pola atau bentuk untuk masa mendatang berdasarkan anggapan-anggapan dankendala tertentu.

Dari ketiga model diatas maka dalam penelitian ini menggunakan model diskriptifuntuk menganalisa realita yang terjadi.

Integrasi permukimanDi dalam sistem implementasi pembangunan kota dan permukiman, proses-proses

yang bersifat lokal dan yang bersifat luas seyogyanya terakomodasi keberadaan danketerkaitannya. Akan tetapi,keberadaan dan pelaksanaan kedua proses ini harus atas kejelasankedudukan dan fungsinya di dalam proses pembangunan permukiman secara keseluruhan.

Bagaimana kedua proses ini diakomodasi didalam sistem implementasipembangunan kota dan permukiman, dan menjadikannya proses pernbangunan. Pembangunankota menjadi pemersatu dari tujuan-tujuan yang bersifat lokal maupun luas dari prosespembangunan kota, dan mengintegrasikan setiap unsur atau aspek pembangunan kotasehingga permukiman disekitarnya merupakan bagian integral dari keseluruhan tujuanpembangunan kota. Dengan demikian, pembangunan yang bersifat lokal atau memperhatikansuatu kepentingan lokal, tetapi juga memperhatikan dan mengakomodasi kepentingan publikyang lebih luas. Selain itu,integrasi ini dapat terjadi karena pernbangunan yang bersifat atauberlingkup lokal bukan merupakan suatu proses dan hasil yang berdiri sendiri.

Pendekatan Faktor Kawasan Kota yang TerintegrasiTujuan pendekatan ini adalah memahami faktor-faktor yang menentukan dalam

pengintegrasian kawasan kota berdasarkan pengertian sistem. Kawasan kota adalah sistemyang mengandung pertalian antar unsur pelaku, fungsi dan penghubung. Berdasarkan

Easy PDF Creator is professional software to create PDF. If you wish to remove this line, buy it now.

nZ^h2.fy

Model integrasi Permukiman Pengungsi Kedalam Sistem Permukiman Kota

pengertian sistem kawasan kota di atas maka faktor-faktor integrasi akan mencakup faktornorma yang berkaitan dengan unsur pelaku, faktor fungsi yang berkaitan dengan unsur fungsikegiatan dan faktor fisik yang berkaitan dengan unsure penghubung.

v Faktor norma memperhatikan kepentingan masyarakat sebagai pelaku. Masyarakatmembentuk kawasan kota sebagai transformasi pemaknaan terhadap alam dan realitaslingkungan (Wiryomartono, 1995: 14 dalam Markus Zahnd) dengan perilaku danbudayanya. Kawasan kota yang dibentuk sesuai norma masyarakat akan lebih imageabl