Mempertahankan Ajaran Buddha / Mei 2006 2 Sutra “Jangka Waktu Hidup Sang Tathagata,â€‌ ini adalah

  • View
    217

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Mempertahankan Ajaran Buddha / Mei 2006 2 Sutra “Jangka Waktu Hidup Sang...

  • 1

    PERHIMPUNAN BUDDHIS NICHIREN SHU INDONESIA

    NO.20MEI 2006

    uji berarti hidup dalam kehidupan ini, dengan mempertahankan a j a r a n B u d d h a d e n g a n

    keyakinan dan kepercayaan yang kuat. Ini adalah prioritas utama dari Lima Macam Pelaksanaan dari seorang Guru Dharma atau Goshu Hosshi-gy. Ketika kamu melaksanakan dokyo harian, kamu membaca Kaiky-ge, sajak pembukaan Sutra. Dalam sajak ini, terdapat sebuah kutipan kalimat, Ware ima kenmonshi juji surukoto wo etari, yang berarti, Sekarang kita telah bertemu, mendengar, menerima dan menjaga sutra ini. Maka Juji adalah sebuah istilah yang sangat dekat dengan kalian. Bagaimanapun, juga terdapat kalimat yang mengatakan, Hyaku sen man g nimo aitatematsuru koto katashi, atau Sutra ini sangat sulit ditemui meskipun sekali dalam waktu seribu atau seribu juta tahun, kita harus sadar bahwa tidaklah mudah untuk bertemu dengan ajaran Buddha. Meskipun, Sang Buddha tidak membatasi ajaranNya untuk kita. Sang Buddha berusaha terus menerus berbicara kepada kita setiap waktu dan semua tempat. Meskipun demikian, kita tidak peduli dan terus berkeinginan untuk hidup dalam kehidupan yang penuh dengan segala macam kekacauan disekitar kita ini. Dalam bab XVI, Saddharma Pundarika

    Mempertahankan Ajaran Buddha

    Oleh: YM.Bhiksu Jun-ichi NakamuraIllustrasi oleh: Hiroshige Katsu

    j

  • No.20 / Mei 2006

    2

    Sutra Jangka Waktu Hidup Sang Tathagata, ini adalah sebuah ide yang terlupakan oleh kita, dan seperti yang dikatakan oleh Sang Buddha, Karena Karma Buruk mereka, orang-orang yang penuh dosa ini tidak mampu mendengarkan bahkan hanya nama dari Tiga Pusaka selama asamkhya kalpa, dan kepada mereka yang melaksanakan Jalan, Ia juga menyatakan, Kepada mereka yang telah mengumpulkan kebajikan, dan mereka yang lemah lembut dan tulus, dan kepada mereka yang melihat Aku tinggal disini, membabarkan, . . . Aku berkata: Sungguhlah sulit bertemu dengan seorang Buddha. Aku setuju dengan kata-kata Buddha, sebagai orang biasa, kadang-kadang merasa menentang kata-kata tersebut. Hal ini disebabkan dalam jaman modern ini ketika dunia ini telah kehilangan kebenaran dan dipenuhi kepalsuan, sungguhlah sulit bagi orang untuk percaya orang lain tanpa sebuah bukti, bukankah demikian? Kita menerima telepon dari para telemarketing atau email spam setiap hari. Orang lain dapat menipu kita setiap saat. Oleh karena segala keraguan diriKu akan hal-hal seperti itu, kadang-kadang aku merasa tidak enak ketika berdekatan dengan Sang Buddha dalam pelaksanaanku. Aku mencoba untuk tidak mengeluh tentang orang lain tetapi dalam kehidupan masyarakat sekarang, menjadi seorang yang lemah lembut dan tulus adalah sungguh sulit untuk dapat dilaksanakan. Aku tahu bahwa mengeluh tentang orang lain akan membuat orang lain tidak bahagia. Pada suatu saat, seorang guru berkata kepada saya, Ketika kamu menulis istilah dari Mengeluh dalam aksara China, aksara yang benar harusnya adalah (guchi) dibandingkan aksara , yang biasa digunakan orang-orang. Aksara (chi) berarti Suatu keraguan abnormal dari yang lainnya. Ini akan membuat kita

    menjadi seorang pengeluh setiap saat. Ia juga berkata, Kita tidak ragu-ragu karena kita tidak percaya. Kita ragu-ragu karena kita ingin menemukan sesuatu yang dapat kita percaya. Mungkin hal ini benar. Karena dunia ini penuh dengan segala penipuan, orang-orang mencari ajaran yang sungguh-sungguh dapat mereka percaya dan bergantung kepadanya. K e t i k a a k u s e d a n g memikirkan kembali kata-kata dari guru tersebut, Aku kembali ingat akan kata-kata Nichiren Shonin. Setelah Ia masuk ke Gunung Kiyosumi pada usia 12 tahun, dan Ia berjanji kepada Bodhisattva Kokz, Tolong buatlah Aku menjadi orang yang paling bijaksana di Jepang. Ia juga mengingat kembali kenangan masa mudanya,Sejak semua orang sedang berdoa dan Aku juga berdoa kepada Buddha Amitabha dan menerima namaNya, Namu Amidabutsu ketika masa kanak-kanakKu, Aku membuat sebuah janji karena Aku meragukan sesuatu. (Myh Bikuni Gohenji) Pendir i k i ta , Nichi ren S h n i n m e m p u n y a i s e b u a h harapan, Ia berjuang, mempunyai sebuah keraguan, kemudian mulai berjalan disebuah jalan menuju sebuah keyakinan baru. Ketika aku mengingat tentang kehidupan pendiri kita, aku merasa bahwa aku telah menerima sebuah kekuatan besar dan dorongan untuk hidup dalam kehidupan ini. Nichiren Shnin berpikir bahwa Ia tidak dapat yakin dengan ajaran Tanah Suci Buddhisme yang membenci dunia ini, sehingga Ia bangkit untuk mencari jalan ajaran Buddha yang sesungguhnya. Pikiran Nichiren Shonin ini adalah makna sesungguhnya dari mereka yang lemah lembut dan tulus. Empat tahun telah berlalu sejak Nichiren Shnin memasuki Gunung Kiyosumi, Ia merubah nama kanak-kanakNya, Yakumaro menjadi Rench, memotong rambutnya,

    dan masuk menjadi bhiksu. Setelah memotong rambutnya, Dozen berpikir, Rench adalah seorang anak yang bijaksana. Sekarang hidupku menjadi lebih mudah sebab aku telah mengambil murid ini. Rench baru berumur 16 tahun waktu itu. Berdasarkan tulisan Nichiren Shnin, Guru Dzen tetap menyebut Nembutsu dan be rke ing inan untuk terlahir kembali di Tanah Suci Sukhawati, dimana sebuah dunia yang dituju seseorang setelah meninggal. Guru Nichiren Shnin bisa menyebabkan Nichiren ragu akan keyakinanNya tetapi Ia tetap menghormati gurunya dan selalu berpikir, Aku ingin menemukan sebuah jalan untuk menyelamatkan gurunya . Aku yakin terdapat perbedaan yang besar antara Nichiren Shnin dan guruNya, kehidupan mereka menghiasi dunia ini. Betapa indahnya segala macam perbedaan itu. Perwujudan dunia saat sekarang ini kita dapat melihat bahwa orang-orang selalu berusaha memenuhi kebutuhan materi, mereka mengumpulkan bibit keburukan dan mereka sulit mendengarkan kata-kata Sang Buddha. Terlebih lagi, pertentangan atas nama agama membuat masa depan manusia penuh dengan segala resiko. Kita dapat meragukan tentang dunia ini dan jika semua itu benar, namun kita tidak boleh mengunci diri dalam dunia keluhan. Jika kita dengan sungguh-sungguh mencari pemecahan masalah itu, kita pasti akan menemukannya. Aku percaya bahwa Ju menerima dari Juji, melambangkan jalan yang positif dalam kehidupan.

    Catatan:

    Goshu Hosshi-gy Hosshi, Guru Dharma atau Pelaksana Saddharma Pundairka Sutra

  • No.20 / Mei 2006

    3

    harus melaksanakan Lina Jenis Pelaksanaan:

    Juji Menerima dan Menjaga Saddharma Pundarika Sutra, Doku Membaca Sutra,Ju Menghafal Sutra,Ge Memahami Sutra,Setsu Membabarkan Sutra,Shosha Menyalin Sutra.

    D e n g a n m e m p u n y a i keyakinan yang kuat kepada Saddharma Pundarika Sutra, belajar Sutra secara mendalam, membabarkan sutra kepada orang lain dan menyalin sutra dengan tangan, kita akan dapat menghias dan memurnikan ke-enam organ indera kita (mata, telinga, lidah, hidung, tubuh dan pikiran) dengan kebajikan ini. (Saddharma Pundarika Sutra, Bab.XIX) juga dalam Bab XV, Saddharma Pundarika Sutra, Boddhisattva Muncul dari Bumi. Gassho.

    1.

    2.3.4.5.6. Pencapaian KeBuddhaan

    (Bibit Kebuddhaan)

    "Suara burung didalam sangkar menarik perhatian burung-burung yang terbang diluar, dan burung-burung yang terbang bebas diluar menarik perhatian burung yang ada didalam sangkar untuk bebas. Hal ini sama seperti penyebutan O'daimoku akan memunculkan Bibit Kebuddhaan dalam diri kita. Bibit Kebuddhaan dari dewa Bonten dan Taishaku terpanggil oleh penyebutan O'daimoku dan karena itu mereka melindungi yang menyebut O'daimoku. Bibit Kebuddhaan dari para Buddha dan Bodhisattva juga terpanggil karena O'daimoku. Untuk mencapai Kebuddhaan secepatnya, seseorang harus melenyapkan segala kesombongan, membuang segala prasangka buruk, dan menyebut Namu Myoho Renge Kyo."

    Hokke Shoshin Jobutsu ShoMencapai Penerangan dengan Saddharma Pundarika Sutra(Latar Belakang: 1277, di Minobu, Showa Teihon, p.1433)

    -00-

    Welas Asih Agung dari Sang Buddha(Sinar Matahari)

    "Ketika matahari bersinar, maka daratan pun akan gemerlapan; demikian juga halnya mereka yang percaya kepada Saddharma Pundarika Sutra akan dapat melihat kepalsuan Dunia. Bagi mereka yang tidak mampu melihat kebenaran dalam ajaran Tiga Ribu Gejala Dalam Sekejap Pikiran, Buddha Sakyamuni, dengan penuh welas asih, membungkus permata agung ini dalam lima aksara Myo Ho Ren Ge Kyo dan mengalungkannya dileher orang-orang Bodoh pada masa akhir dharma. Ke-Empat Bodhisattva Agung akan melindungi mereka, sama seperti Tai Kung Wang dan Adipati Chou membantu raja muda, Raja Chen, dari Dinasti Cou, atau Ke-Empat Bersaudara Shang-shan melayani Kaisar Hui dari Dinasti Han pada jaman China kuno."

    Kanjin Honzon ShoRisalah Yang Mengungkapkan Perenungan

    Spiritual Terhadap Objek Pemujaan(Latar Belakang: 25 April 1273, Ichinosawa, Sado, Showa Teihon, p.720)

    BAB KEBUDDHAANHal.10-16

    A Collection of Nichiren Wisdom, Volume 1Terbitan: Nichiren Buddhist International CenterDiterjemahkan oleh: Josho S.Ekaputra

  • No.20 / Mei 2006

    4

    addharma Pundarika Sutra, Bab XVIII menyatakan Jasa Kebaj ikan dar i

    Orang Ke-Lima Puluh. Sang Buddha membabarkan, KeAbadian HidupNya atau Hidup Sejati dalam Saddharma Pundarika Sutra. Pada suatu interval ceramah Sang Buddha, Bodhisattva Maitreya bertanya kepada Sang Buddha, bagaimana jasa kebajikan dari seseorang yang gembira ketika mendengarkan ajaran ini. Sang Buddha menjawab: Seandainya terdapat seseorang yang bergembira ketika mendengarkan ajaran ini, tidak hanya menyimpan untuk diri sendiri dan memberitahukan kepada kedua orangtuanya, sanak saudara atau teman. Kemudian orang yang mendengar hal ini darinya, gembira dan memberitahukan kepada orang ke-dua, demikian juga ke orang ke-tiga, ke-empat dan seterusnya. Jasa kebajikan dari orang yang ke-lima puluh yang mendengarkan ajaran ini tidaklah terkira dan terhingga. Kita mudah mengerti tentang jas