34
MAKALAH PSIKOLOGI ABNORMAL GANGGUAN SKIZOFRENIA OLEH KELOMPOK 5: 1. CHIKA AYU PUTRI (5A/10121.007) 2. DINA AYU PAMUNGKAS (5A/10121.015) 3. ELINA WATI (5A/10121.016) 4. QONIK KUS ARMANDA SARI (5A/10121.017) 5. HERU AGUS SAPUTRA (5A/10121280P) PROGRAM STUDY BIMBINGAN DAN KONSELING 1

MAKALAH PSIKOLOGI ABNORMAL (SKIZOFRENIA)

  • Upload
    20ratna

  • View
    410

  • Download
    28

Embed Size (px)

DESCRIPTION

SKIZOFRENIA

Citation preview

Page 1: MAKALAH PSIKOLOGI ABNORMAL (SKIZOFRENIA)

MAKALAH

PSIKOLOGI ABNORMAL

GANGGUAN SKIZOFRENIA

OLEH KELOMPOK 5:

1. CHIKA AYU PUTRI (5A/10121.007)

2. DINA AYU PAMUNGKAS (5A/10121.015)

3. ELINA WATI (5A/10121.016)

4. QONIK KUS ARMANDA SARI (5A/10121.017)

5. HERU AGUS SAPUTRA (5A/10121280P)

PROGRAM STUDY BIMBINGAN DAN KONSELING

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

IKIP PGRI MADIUN

2012

1

Page 2: MAKALAH PSIKOLOGI ABNORMAL (SKIZOFRENIA)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah berkat limpahan rahmat dan hidayah dari Allah SWT. kami

menyelesaikan tugas menyusun Makalah Gangguan Skizofrenia selesai tepat pada

waktunya. Berkenan dengan ini pula penyusun mengangkat tema tentang Makalah

Gangguan Skizofrenia. Penyusun bermaksud ikut menyumbangkan pengetahuan kami

tentang pemahaman Makalah Gangguan Skizofrenia dan menambah wawasan pembaca

pada umumnya.

Pada kesempatan ini penyusun juga ingin mengucapkan terima kasih kepada:

1. Ibu Rischa. selaku dosen profesi Psikologi Abnormal dalam menyelesaikan

tugas ini dengan penuh kesabaran.

2. Teman-teman yang turut membantu dalam menyelesaikan Makalah

Gangguan Skizofrenia tepat pada waktunya.

Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena

itu kami berharap kritik dan saran dari pembaca.

Akhirnya semoga langkah dan usaha kami mendapat ridho dari Allah SWT. serta

bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Madiun, 29 September 2012

Penulis

2

Page 3: MAKALAH PSIKOLOGI ABNORMAL (SKIZOFRENIA)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................... ii

DAFTAR ISI...................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah........................................................... 1

B. Rumusan Masalah.................................................................... 1

C. Tujuan Penulisan...................................................................... 1

D. Manfaat Penulisan.................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Skizofrenia............................................................ 3

B. Gambaran Klinis Gangguan Skizofrenia................................. 3

C. Jenis Gangguan Skizofrenia.................................................. 5

D. Penyebab Munculnya Gangguan Skizofrenia.......................... 7

E. Gejala-gejala Munculnya Gangguan Skizofrenia.................... 12

F. Penanganan Gangguan Skizofrenia.......................................... 16

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan.............................................................................. 18

B. Saran......................................................................................... 18

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................ 19

3

Page 4: MAKALAH PSIKOLOGI ABNORMAL (SKIZOFRENIA)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Setiap individu memiliki kemampuan menjalin hubungan sosial, mulai dari

hubungan intim biasa sampai hubungan saling ketergantungan . Hubungan social

tersebut diperlukan individu dalam rangka menghadapi dan mengatasi berbagai

kebutuhan hidup.Maka dari itu seorang manusia perlu membina hubungan

interpersonal yang memuaskan.Gangguan jiwa adalah penyakit non fisik,

seyogianya kedudukannya setara dengan penyakit fisik lainnya. Meskipun

gangguan jiwa tersebut tidak dianggap sebagai gangguan yang menyebabkan

kematian secara langsung, namun beratnya gangguan tersebut dalam arti ketidak

mampuan serta invalisasi baik secara individu maupun kelompok akan

menghambat pembangunan, karena tidak produktif dan tidak efisian (Kusumanto

Setjionegoro, 1981)

Menurut paham kesehatan jiwa seseorang dikatakan sakit apabila ia tidak

lagi mampu berfungsi secara wajar dalam kehidupannya sehari-hari, dirumah,

disekolah/kampus, ditempat kerja dan lingkungan sosialnya. Seseorang yang

mengalami gangguan jiwa akan mengalami ketidak mampuan berfungsi secara

optimal dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu faktor yang menyebabkan

seseorang mengalami gangguan jiwa adalah adanya stressor psikososial. Stressor

psikososial adalah setiap keadaan atau peristiwa yang menyebabkan perubahan

dalam kehidupan seseorang (anak, remaja, dewasa). Sehingga orang itu terpaksa

mengadakan adaptasi (penyesuaian diri) untuk menanggulangi stressor yang

timbul. Namun, tidak semua orang mampu mengadakan adaptasi dan mampu

menanggulanginya sehingga timbullah keluhan-keluahan dibidang kejiwaan berupa

gangguan jiwa dari ringan hingga yang berat.

B. Rumusan Masalah

Makalah ini membahas tentang Gangguan Skizofrenia. Pembahasan dalam

makalah ini memiliki beberapa rumusan masalah sebagai berikut :

1. Apa pengertian Skizofrenia?

4

Page 5: MAKALAH PSIKOLOGI ABNORMAL (SKIZOFRENIA)

2. Bagaimana gambaran klinis gangguan skizofrenia?

3. Apa saja macam gangguan skizofrenia?

4. Apa saja penyebab munculnya gangguan skizofrenia?

5. Apa saja gejala-gejala munculnya gangguan skizofrenia?

6. Bagaimana penanganan gangguan skizofrenia?

C. Tujuan Penulisan

Secara terperinci tujuan pembahasan dalam makalah Gangguan Skizofrenia

adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui pengertian pengertian Skizofrenia,

2. Untuk mengetahui gambaran klinis gangguan skizofrenia,

3. Untuk mengetahuimacam macam gangguan skizofrenia,

4. Untuk mengetahui penyebab munculnya gangguan skizofrenia,

5. Untuk mengetahui gejala-gejala munculnya gangguan skizofrenia,

6. Untuk mengetahui bagaimana penanganan gangguan skizofrenia.

D. Manfaat Penulisan

Pembahasan makalah ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai :

1. Bahan diskusi pada mata kuliah Psikologi Abnormal,

2. Bahan informasi dan telah yang berguna bagi pengembangan pengetahuan

dan wawasan tentang Gangguan Skizofrenia.

5

Page 6: MAKALAH PSIKOLOGI ABNORMAL (SKIZOFRENIA)

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Skizofrenia

Skizofrenia merupakan kelompok gangguan psikiosis atau psikotik yang

ditandai terutama oleh distorsi-distorsi mengenai realitas, juga sering terlihat adanya

perilaku menarik diri dari interaksi social, serta disorganisasi dan fragmentasi

dalam hal persepsi, pikiran dan kognisi (Carson dan Butcher, 1992 dalam Sutardjo

A. Wiramihardja, 2005).

Skizofrenia berasal dari dua kata “Skizo” yang artinya retak atau pecah

(split), dan “frenia“ yang artinya jiwa. Dengan demikian seseorang yang menderita

gangguan jiwa Skizofrenia adalah orang yang mengalami keretakan jiwa atau

keretakan kepribadian (splitting of personality).

Skizofrenia merupakan gangguan yang sangat membingungkan atau

banyak menyimpan teka teki. Pada suatu saat, orang-orang dengan skizofrenia

berpikir dan berkomunikasi dengan sangat jelas, memiliki pandangan yang tepat

atas realita, dan berfungsi secara baik dalam kehidupan sehari-hari. Pada saat lain,

pemikiran dan kata-kata mereka terbalik-balik, mereka kehilangan sentuhan dengan

realita, dan mereka tidak mampu memelihara diri mereka sendiri.

Ada perbedaan tentang gejala-gejala skizofrenia pada anak-anak dengan

skizofrenia pada orang dewasa. Hal ini terjai karena pada anak-anak gejala-gejala itu

tidak tampak jelas, sedangkan pada orang dewasa gejala-gejala itu tampak lebih

jelas.

B. Gambaran Klinis Skizofrenia

Gangguan skizofrenia terkadang berkembang pelan-pelan dan tidak

Nampak dengan jelas. Dalam kasus-kasus tertentu, gambaran klinis didominasi oleh

seclusiveness (perasaan kurang hangat), minatnya makin lama makin lemah

terhadap dunia lingkungannya, dan melamun yang berlebihan serta blunting of affect

(tidak adanya responivitas emosional). Akhirnya, respon-respon yang tidak selaras

atau ringan saja tampil, misalnya tidak begitu peduli terhadap property social

(barang-barang umum milik masyarakat).

6

Page 7: MAKALAH PSIKOLOGI ABNORMAL (SKIZOFRENIA)

Pola-pola simtom ini secara tradisional mengacu pada proses-proses

skizofrenia, yaitu adanya perkembangan gradual dari waktu ke waktu dan tidak

muncul segera ketika terdapat ada stressor yang tiba-tiba, serta cenderung untuk

berjalan dengan jangka panjang. Hasil dari proses-proses skizofrenia secara umum

dinilai tidak baik, sangat meragukan, karena kebutuhan untuk mendapatkan

penangan (trearment) biasanya tidak ditemukan sampai pola-pola perilakunya

benar-benar tamapak sebagai perilaku sakit. Dalam keadaan lain simtom-simtom

skizofrenia bisa tiba-tiba dan dramatic serta ditandai oleh adanya goncangan

emosional yang kuat (intence) dan kebingungan yang sangat kuat.

1. Affective Flattening

Merupakan berbagai bentuk reduksi (penurunan atau pengurangan), atau bahkan

sama sekali hilangnya respon-respon afektif terhadap lingkungannya, terganggu

dalam menampilkan reaksi-reaksi emosionalnya. Sering juga disebut bluned

affect. Raut wajah mereka tetap tidak berubah untuk waktu yang lama, tidak

peduli apapun yang terjadi dan bahasa tubuhnya mungkin tidak responsible atas

apa yang terjadi di lingkungannya. Orang-orang dengan gangguan skizofrenia

tidak memperlihatkan adanya emosi, namun mungkin saja menghayati emosi

yang kuat, tetapi mereka tidak mampu mengekspresikannya.

2. Alogia

Merupakan pengurangan atau penurunan (reduksi) berbicara. Penderita tidak

berinisiatif untuk berbicara dengan orang lain, dan jika ditanya secara langsung

(direct question), ia menjawabnya dengan singkat dengan isi jawaban yang tidak

berbobot.

3. Avolition

Merupakan ketidakmampuan untuk bertahan pada saat-saat biasa, atas aktivitas

yang mengarah pada pencapaian tujuan, termasuk dalam bekerja, sekolah dan

dirumah.

Negatif simtom dari skizofrenia dapat menjadi sulit untuk didiagnosis

secara reliable. Alasan, pertama, meliputi ketidakhadiran perilaku, lebih banyak

daripada menghadirkan perilaku tertentu yang dapat didiagnosis. Kedua, negative

simtom terletak dalam kontinum antara normal dan abnormal, lebih sedikit

dibandingkan perilaku yang jelas-jelas ganjil. Ketiga, negative simtom dapat

disebabkan oleh factor dalam lainnya dari skizofrenia, seperti depresi atau isolasi

social, atau karena simtom negative mungkin menjadi bagian dari efek pengobatan.

7

Page 8: MAKALAH PSIKOLOGI ABNORMAL (SKIZOFRENIA)

C. Tipe-tipe Skizofrenia

Para ahli seringkali menyebut schizophrenia sebagai “keranjang sampah”.

Jika tanda-tanda sakit tidak jelas, maka akan disebut schizophrenia undifferentiated.

Ada lima tipe schizophrenia (dalam Sutardjo A. Wiramihardja, 2005:146) sebagai

berikut:

1. Tipe Undifferentiated

Merupakan tipe skizofrenia yang menampilkan perubahan pola simtom-

simtom yang cepat menyangkut semua indicator schizophrenia. Misalnya,

indikasi yang sangat ruwet, kebingungan (confusion), emosi yang tidak dapat

dipegang karena berubah-ubah (emotional tumoil), adanya delusi, referensi yang

berubah-ubah atau salah, adanya ketergugahan yang sangat besar, autism seperti

mimpi, depresi, dan sewaktu-waktu juga ada fase yang menunjukan ketakutan.

Umumnya, gambara ini terlihat pada pasien-pasien yang berada pada proses

yang sedang berada dalam keadaan melemah (breaking down) dan menuju

schizophrenia. Juga sering terjadi jika ada perubahan-perubahan yang besar

dalam memenuhi tuntutan-tuntutan penyesuaian diri yang tidak mampu

dihadapi.

Tipe ini cenderung memiliki serangan atau permulaan yang relative lebih

awal dalam kehidupan dan mnjadi kronis sehingga sulit untuk diobati (Susan

Nolen-Hoeksema, 2004).

2. Tipe Paranoid

Tipe ini mulai sesudah umur 30 tahun. Tipe ini ditandai oleh adanya

pikiran-pikiran yang absurd (tidak ada pegangan), tidak logis, dan delusi yang

berganti-ganti. Sering juga diikuti halusinasi, dengan akibat kelemahan penilaian

kritis (critical judgment)-nya dan aneh tidak menentu, tidak dapat diduga, dan

kadang-kadang berperilaku yang berbahaya. Pada kasus kritis biasanya

perilakunya lebih kurang terorganisasi jika dibandingkan dengan penderitaan

tipe skizofrenia lainnya dan dalam menarik diri dari interaksi social kurang

ekstrim.

Orang dengan tipe ini memiliki halusinasi dan delusi yang sangat

mencolok, yang melibatkan tema-tema tentang penyiksaan dan kebesaran.

Mereka bisa jadi jelas dan pandai dalam mengungkapkan pikirannya, dengan

teliti atau terperinci dalam bercerita mengenai bagaimana seseorang berkomplot

melawan mereka. Mereka bisa jadi juga mampu mengutarakan dengan jelas

8

Page 9: MAKALAH PSIKOLOGI ABNORMAL (SKIZOFRENIA)

nyeri yang mendalam (deep pain) dan kesedihan yang mendalam atau

penderitaan mereka yang berat (anguish) dari keyakinan bahwa mereka disiksa

(Torrey, 1995; Susan Nolen-Hoeksema, 2004).

Orang-orang dengan tipe ini secra tinggi melawan kepada argumen-

argumen yang melawan delusi mereka dan bias menjadi sangat mudah marah

terhadap setiap orang yang berdebat dengan mereka. Mereka mungkin tidak

bertindak arogan dan seolah-olah mereka superior terhadap orang lain, atau

mungkin tetap jauh dan mencurigai. Mereka memiliki kemungkinan yang lebih

besar untuk dapat hidup mandiri, mendapat pekerjaan dan selanjutnya

menunjukkan pemfungsian kognitif dan social yang lebih baik (Kendler dkk.,

1994).

3. Tipe Katatonik

Tipe ini ditandai dengan adanya withdrawl (penarikan diri) dari lingkungan

bersifat ekstrim, sehingga dia tidak kenal lagi dengan lingkungan dunianya. Tipe

skizofrenia yang timbulnya pertama kali antara umur 15-30 tahun

Orang yang dengan tipe ini menunjukkan berbagai perilaku motoric dan

cara-cara berbicara yang dianggap hamper secara penuh tidak reponsif terhadap

lingkungan mereka. Diagnosis untuk catatonic schizophrenia mensyaratkan dua

dari simtom-simtom berikut ini:

a. Catatonic stupor, tetap bergerak untuk periode yang lama;

b. Catatonic excitement atau kegembiraan, kegembaran (aktivitas motorik yang

berlebihan (eksesif) dan tidak memiliki tujua atau kegunaan (purposeless);

c. Menjaga atau memelihara postur yang kaku atau secara lengkap diam untuk

periode waktu yang lama;

d. Parangai atau lagak yang ganjil, seperti bertepuk-tepuk tangan;

e. Echolalia, menulang-ulang (repetition) kata-kata yang diucapkan oleh orang

lain atau echopraxia (meniru berulan-ulang gerakan-gerakan ari orang lain.

4. Tipe Disorganisasi

Carson dan Butcher, 1992, mengemukakan bahwa gangguan skizofrenia

tipe ini biasanya muncul pada usia muda dan lebih awal jika dibandingkan

dengan gangguan-gangguan skizofrenia lainnya; tampilannya pun berupa

disintegrasi kepribadian yang lebih parah. Tipe ini sebelum DSM III disebut tipe

skizofrenia hebefrenik.

9

Page 10: MAKALAH PSIKOLOGI ABNORMAL (SKIZOFRENIA)

Secara tipikal, individual yang terpengaruh emiliki sejarah keanehan, hati-

hati yang berlebihan mengenai hal-hal spele dan terpreoukupasi oleh masalah-

masalah religious dan filosofis.

Tidak seperti orang-orang denga tipe skizofrenia lainnya, orang-orang

dengan disorganized schizophrenia tidak memiliki bentuk delusi tau halusinasi

yang jelas. Pikiran dan tingkah lakunya tidak terorganisir. Orang dengan tipe ini

mungkin berbicara dalam kata-kata yang secara penuh tidak masuk akal bagi

orang lain. Mereka susah mandi dan tidak mampu berpakaian atau makan

sendiri. Pengalaman dan pengekspresian emosinya kacau atau tidak bereaksi

secara emosional sama sekali.

5. Tipe Residual

Yaitu jenis skizofrenia dengan gejala mengalami gangguan proses berpikir,

gangguan afek dan emosi, ganguan emosi serta gangguan psikomotor. Namun,

tidak ada gejala waham dan halusinasi. Keadaan ini timbul sesudah beberapa

kali serangan skizofrenia.Tak ada gejala parah yang menonjol, meski masih ada

perilaku gamang atau delusi/halusinasi namun sudah sangat jauh berkurang

dibanding masa-masa kritis terdahulu.

D. Penyebab Munculnya Gangguan Skizofrenia

Dalam Sutardjo A. Wiramihardja, 2005, penyebab skizofrenia telah menjadi

subyek dari banyak perdebatan, dengan berbagai faktor yang diusulkan dan diskon.

Meskipun tidak ada penyebab umum dari skizofrenia telah diidentifikasi dalam

semua individu didiagnosis dengan kondisi, saat ini banyak peneliti dan dokter

percaya hasil dari kombinasi keduanya kerentanan otak (baik warisan atau didapat)

dan peristiwa kehidupan. Penyebab gangguan skizofrenia dapat dilihat dari beberapa

factor, yaitu:

1. Faktor-faktor biologis

Dalam factor biologis terdapat empat factor yang penting, yaitu factor keturunan

(herediter), factor biokimiawi, factor faal syaraf, dan factor anatomi syaraf.

Factor herediter mendapatkan perhatian yang lebih besar, dimana sumber

gangguan dianggap cirri biologis keluarga. Factor biokimiawi, menunjuk pada

adanya enzim yang khas, factor faal syaraf menunjuk pada terjadinya

ketidakseimbangan antara proses eksoitatorik dan hambatan dan gugahan

otonimik yang tidak selaras. Factor atonomi syaraf dapat dilihat dalam struktur

10

Page 11: MAKALAH PSIKOLOGI ABNORMAL (SKIZOFRENIA)

dari otak melalui CT Scan. Terdapat beberapa teori biologis mengenai

schizophrenia. Pertama, adanya bukti-bukti terjadinya transmisi gen

schizophrenia, meskipun secara genetis tidak terlihat jelas siapa yang mendapat

gangguan ini. Kedua, bebrapa penderita schizophrenia menunjukan abnormalitas

struktur dan pemfungsian area-area khusus di otak, yang membeikan konstribusi

terhadap gangguan ini. Ketiga, banyak orang dengan gangguan schizophrenia

memiliki sejarah komplikasi melahirkan atau terjangkit virus selama prenatal,

yang dapat mempengaruhi perkembangan otak janin mereka. Keempat, teori

neurotransmitter mengenai skizofrenia berpendapat bahwa tingkat

neurotransmitter dopamine yang terlalu berlebihan memainkan peran penyebab

dalam skizofrenia.

a. Kontribusi Gen terhadap Skizofrenia

Studi terhadap keluarga, anak kembar, dan anak adopsi melengkapi

bukti-bukti bahwa gen terlibat dalam tranmisi skizofrenia (Lichtermann,

Karbe, & Maier, 2000). Adanya lebih banyak gen yang terganggu

meningkatkan kemungkinan berkembangnya skizofrenia dan meningkatkan

kerumitan gangguan tersebut. Individu yang lahir dengan beberapa gen,

tetapi tidak cukup untuk menjangkau ambang untuk membuat munculnya

skizofrenia mungkin tetap menunjukkan simtom-simtom bertaraf sedang

atau ringan skizofrenia, seperti keganjilan dalam pola bicara atau proses

berfikir dan keyakinan yang aneh.

Anak-anak yang memiliki kedua orang tuanya menderita skizofrenia

dan anak-anak kembar identik atau satu zigot dari orang tua dengan

skizofrenia mendapat sejumlah besar gen schizophrenia, memiliki resiko

yang sangat besar mendapatkan skizoprenia. Sebaliknya, penurunan

kesamaan gen dengan orang-orang skizofrenia, menurunkan risiko individu

mengembangkan gangguan ini.

b. Studi Anak Kembar

Beberapa studi anak kembar penderita skizofrenia membuktikan

bahwa indeks jumlah bagi monozigot kembar adalah 46 %, sedangkan

indeks jumlah bagi zigot kembar adalah 14%. Factor genetic mungkin

memainkan peran yang rata-rata sangat besar dalam lebih banyak macam

bentuk dari skizofrenia daripada dalam bentuk ringan (mild).

11

Page 12: MAKALAH PSIKOLOGI ABNORMAL (SKIZOFRENIA)

c. Struktur Otak Abnormal

Sejak dahulu para peneliti dan orang-orang klinis meyakini ada

sesuatu yang secara fundamental berbeda mengenai otak pada orang-orang

dengan skizofrenia. Kini perkembangan teknologi PET Scan, CAT Scan,

dan juga MRI, dapat menguji secara detal struktur dan pemfungsian otak.

Meskipun gambaran yang diperoleh dari teknologi-teknologi tersebut tetap

meningkatkan bukti bsgi penurunan fungsi dan struktur utama dalam otak

orang-orang skizofrenia (Andreasen, 2001).

d. Pembesaran ventrikel

Struktur utama otak yang abnormal sesuai dengan skizofrenia adalah

pembesaran ventrikel (enlarged vertical). Orang-orang skizofrenia dengan

pembesaran ventricular cenderung menunjukkan penurunan secara social,

dan perilaku, lama sebelum mereka mengembangkan simtom utama dari

skizofrenia. Perbedaan jenis kelamin mungkin juga berhubungan dengan

ukuran ventricular. Beberapa study menemukan bahwa laki=laki dengan

skizofrenia memiliki pelebaran ventricle yang lebih kuat (Nopoulos, Flaum,

& Andreson dkk., 1997).

e. Faktor anatomis neuron

Abnormalitas neuron secara anatomis pada skizofrenia memiliki bebrapa

penyebab, termasuk abnormalitas gen yang spesifik, cedera otak berkaitan

dengan cedera waktu kelahiran, cedera kepala, infeksi virus, defisiensi

dalam nutrisi, dan defensiasi dalam stimulus kognitif (Conklin & lacono,

2002).

f. Komplikasi kelahiran

Komplikasi serius selama prental dan masalah-masalah berkaitan dengan

kandungan (obstetrical) pada saat kelahiran merupakan hal yang lebih

sering dalam sejarah orang-orang dengan skizofrenia dan mungkin berperan

dalam membuat kesulitan-kesulitan secara neurologis (Cannon, 1998; Jones

& Cannon, 1998; Kendler dkk., 2000) komplikasi dalam pelepasan

berkombinasi dengan keluarga yang berisiko terhadap terjadinya karena

menambah derajat pembesaran ventricle.

g. Kejangkitan virus selama prenatal

Trimester kedua merupakan periode penting untuk berkembangnya pusat

sistem syaraf janin, dan gangguan pada fase perkembagan otak ini akan

12

Page 13: MAKALAH PSIKOLOGI ABNORMAL (SKIZOFRENIA)

menyebabkan deficit struktur utama, ditemukan dalam otak beberapa orang

dengan skizofrenia

2. Faktor Psikososial

Faktor psikososial meliputi adanya kerawanan herediter yang semakin lama

semakin kuat, adanya trauma yang bersifat kejiwaan, adanya hubungan orangtua-

anak yang patogenik, serta interaksi yang patogenik dalam keluarga. Perspektif

psikososial dalam melihat factor-faktor penyebab munculnya skizofrenia dapat

dirangkum sebagai berikut:

a. Teori psikodinamika

Para teori psikodinamika terdaulu menganggap bahwa skizofrenia adalah

hasil dari begitu berlimpahnya pengalaman negative pada masa awal anak-

anak antara seorang anak dengan pemberi kasih saying yang utama (biasanya

ibu). Freud (1942)beragumen bahwa jika ibu secara ekstrim atau berlebihan

kasar dan terus-menerus mendominasi, anak mengalami regresi dan kembali

ke taraf perkembangan bayi dalam hal pemfungsiannya, sehingga ego

kehilangan kemampuannya membedakan realita dari yang bukan realita.

Sekarang kebanyakan penelitian mengenai interaksi keluarga dan skizofrenia

memfokuskan pada berbagai stress keluarga dapat menyebabkan atau

mengurangi penderita skizofrenia. Keluarga dapat mendukung anggota

keluarga dengan skizofrenia dan menolong mereka berfungsi dalam

masyarakat meskipun gangguan itu membuat gangguan lebih buruk denga

terciptanya suasana yang merusak atau mengurangi kemampuan anggota

keluarga yang skizofrenia untuk mennganinya (Susan Nolen-Hoeksema,

2004).

b. Pola-pola komunikasi

Suatu teori awal mengenai keluarga yang menyangkut skizofrenia

dikemukakan oleh Gregory Bateson dan koleganya (Bateson dkk., 1956),

orang tua (khususnya ibu) anak-anak yang menjadi skizofrenia menempatkan

anak mereka dalam situasi ikatan ganda (doble binds) yang secara terus-

menerus mengkomunikasikan pesan-pesan yang bertentangan kepada anak.

Dengan demikian anak akan merasa bingung untuk mengikuti dua atau lebih

informasi, ikatan, nilai yang bertentangan atau berbeda itu. Selanjtnya ia akan

mengembangkan pendangan yang terdistorsi tehadap diri mereka sendiri,

orang lain, atau lingkungan mereka.

13

Page 14: MAKALAH PSIKOLOGI ABNORMAL (SKIZOFRENIA)

Margaret Singer dan Lyman Wyne (1965) memberikan penyimpangan

komunikasi dalam keluarga skizofrenia melibatkan komunikasi yang samar-

samar; salah persepsi (misperception) dan salah interpretasi

(misintelpretations); penggunaan kata-kata yang ganjil dan tidak tepat;

komunikasi yang terfragmentasi, terpecah-pecah atau tidak utuh, kacau, dan

kurang terintegrasi.

Pola komunikasi yang menyimpang semacam itu tidak harus tampil erius,

efek yang berjangka panjang trhadap anak yang tidak memiliki sejarah

keluarga skizofrenia. Bagaimanapun, diantara anak-anak yang beresiko

mengalami skizofrenia karena memiliki sejarah keluarga yang mengalami

gangguan ini, ialah mereka yang keluarganya memiliki taraf penyimpangan

komunikasi yang tinggi, tampaknya lebih mungkin mengembangkan

skizofrenia daripada mereka yang keluarganya memiliki penyimpangan

komunikasi yang rendah (Goldstein, 1987).

c. Tampilan emosi

Keluarga-keluarga yang pengekspresian emosinya kuat terlalu melibatkan diri

dengan setiap anggota keluarga lainnya, overprotective terhadap anggota

keluarganya terganggu, dan bersikap mengorbankan diri bagi anggota

keluarga yang terganggu. (Brown, Birky, & Wing, 1972; Vaughn & Leff,

1976). Meskipun anggota keluarga yang pengekspresiannya emosi tinggi

tidak meragukan keabsahan anggota keluarga skizofrenia, mereka berbicara

seolah-olah yakin bahwa anggota keluarga yang sakit dapatsedikit

mengendalikan simtom-simtomnya. Mereka sering memiliki banyak gagasan

mengenai apa yang dapat anggota keluarga lakukan untuk memperbaiki

simtom mereka.

d. Perubahan social dan kelahiran Urban

Dibandingkan orang-orang tanpa skizofrenia, orang-orang dengan skizofrenia

lebih memiliki kemungkinan besar untuk hidup dalam lingkungan yang

secara penuh dengan stress, seperti dalam lingkungan dalam kota yang miskin

dan status jabatan yang rendah atau pengangguran (Dohrenwend dkk., 1987).

Orang-orang dengan skizofrenia cenderung untuk berubah atau bergerak

kekelan social bawah, dibandingkan dengan keedaan awal keluarga mereka.

14

Page 15: MAKALAH PSIKOLOGI ABNORMAL (SKIZOFRENIA)

e. Stres dan kekambuhan

Keadaan sekitar atau lingkungan yang penuh stress mungkin tidak

menyebabkan seseorang terjangkit skizofrenia, tetapi keadaan tersebut dapat

memicu episode baru pada orang-orang yang mudah terkena serangan atau

rawan terhadap skizofrenia. Penting untuk tidak terlalu keras menekankan

mata rantai antara kejadian-kejadian penuh stres dalam kehidupan dengan

pisode skizofrenia yang baru. Berdasarkan penelitian, lebih dari 50% orang

yang mengalami kekambuhan skizofrenia adalah mereka yang dalam

kehidupannya telah mengalami kejadian-kejadian buruk sebelum mereka

kambuh(Ventura dkk., 1989).

E. Gejala-gejala Gangguan Skizofrenia

Ada banyak gejala-gejala skizofrenia. Gejala-gejala ini dirumuskan oleh

berbagai sumber. Menurut Diagnostic and Statistical Manual Of Mental Disorder

IV-TR, gejala khas skizofrenia berupa adanya:

1. Waham atau Delusi (keyakinan yang salah dan tidak bisa dikoreksi yang tidak

sesuai dengan kenyataan, maupun kepercayaan, agama, dan budaya pasien atau

masyarakat umum).

2. Halusinasi (persepsi panca indera tanpa adanya rangsangan dari luar)

3. Pembicaraan kacau

4. Perilaku kacau

5. Gejala negatif (misalnya berkurangnya kemampuan mengekspresikan emosi,

kehilangan minat, penarikan diri dari pergaulan social).

Selain itu untuk menegakkan diagnosa skizofrenia menurut DSM IV-TR

(2008) adalah munculnya disfungsi sosial, durasi gejala khas paling sedikit 6 bulan,

tidak termasuk gangguan perasaan (mood), tidak termasuk gangguan karena zat atau

karena kondisi medis, dan bila ada riwayat Autistic Disorder atau gangguan

perkembangan pervasive lainnya, diagnosis skizofrenia dapat ditegakkan bila

ditemui halusinasi dan delusi yang menonjol selama paling tidak 1 bulan.

Menurut Bleuler, ada 2 kelompok gejala-gejala skizofrenia, yaitu:

1. Gejala Primer, yang meliputi:

a. Gangguan proses pikiran (bentuk, langkah dan isi pikiran). Pada skizofrenia

inti, gangguan memang terdapat pada proses pikiran.

b. Gangguan afek dan emosi. Gangguan ini pada skizofren berupa:

15

Page 16: MAKALAH PSIKOLOGI ABNORMAL (SKIZOFRENIA)

a) Parathimi, yaitu apa yang seharusnya menimbulkan rasa senang dan

gembira, pada penderita malah menimbulkan rasa sedih atau marah.

b) Paramimi, yaitu penderita merasa senang tetapi menangis

c. Gangguan kemauan, yaitu gangguan di mana banyak penderita skizofrenia

memiliki kelemahan kemauan. Mereka tidak dapat mengambil keputusan

dan tidak dapat bertindak dalam sebuah situasi menekan. Gangguan

kemauan yang timbul antara lain:

a) Negativisme, yaitu sikap atau perbuatan yang negatif atau berlawanan

terhadap suatu permintaan.

b) Ambivalensi, yaitu sikap yang menghendaki seseuatu yang berlawanan

pada waktu yang bersamaan.

c) Otomatisme, yaitu penderita merasa kemauannya dipengaruhi oleh

orang lain atau oleh tenaga dari luar, sehingga dia melakukannya

secara otomatis

d. Gejala psikomotor, disebut juga dengan gejala-gejala katatonik. Sebetulnya

gejala katatonik sering mencerminkan gangguan kemauan. Bila gangguan

hanya ringan saja, maka dapat dilihat gerakan-gerakan yang kurang luwes

atau agak kaku.

2. Gejala Sekunder, yang meliputi:

a. Waham.

Pada penderita skizofrenia waham sering tidak logis sama sekali dan sangat

bizar. Tetapi penderita tidak menginsafi hal ini dan untuk dia wahamnya

merupakan fakta dan tidak dapat diubah oleh siapapun.

b. Halusinasi.

Pada penderita skizfrenia, halusinasi timbul tanpa penurunan kesadaran dan

hal ini merupakan suatu gejala yang hampir tidak dijumpai pada keadaan

lain.

Menurut Bleuler, seseorang didioagnosa menderita skizofrenia apabila

terdapat gangguan-gangguan primer dan disharmoni pada unsur-unsur kepribadian

yang diperkuat dengan adanya gejala-gejala sekunder.

Menurut Kut Schneider, terdapat 11 gejala skizofrenia yang terdiri dari 2

kelompok, yaitu sebagai berikut:

1. Kelompok A, halusinasi pendengaran, yaitu:

a. Pikirannya dapat didengar sendiri

16

Page 17: MAKALAH PSIKOLOGI ABNORMAL (SKIZOFRENIA)

b. Suara-suara yang sedang bertengkar

c. Suara-suara yang mengomentari perilaku penderita

2. Kelompok B, gangguan batas ego, yang meliputi:

a. Tubuh dan gerakan penderita dipengaruhi oleh kekuatan dari luar

b. Pikirannya diambil keluar

c. Pikirannya dipengaruhi oleh orang lain

d. Pikirannya diketahui oleh orang lain

e. Perasaannya dibuat oleh orang lain

f. Kemauannya dipengaruhi orang lain

g. Dorongannya dikuasai orang lain

h. Persepsi yang dipengaruhi oleh waham

Menurut Kut Schneider, seseorang bisa didiagnosa penderita skizofrenia

bila ada gejala dari kelompok A dan Kelompok B, dengan syarat kesadaran

penderita tidak menurun.

Gejala lain yang diungkap adalah:

1. Gejala-Gejala Positif, yaitu penambahan fungsi dari batas normal, meliputi:

a. Halusinasi

Gejala-gejala psikotik dari gangguan perseptual dimana berbagai hal dilihat

didengar, atau diindera meskipun hal-hal itu tidak real (benar-benar ada).

b. Delusi.

Delusi adalah keyakinan yang oleh kebanyakan orang dianggap

misinterpretasi terhadap realitas. Delusi memiliki bermacam-macam

bentuk, yaitu delusion of grandeur (waham kebesaran) yaitu keyakinan

irasional mengenai nilai dirinya, delusion of persecution yaitu yakin dirinya

atau orang lain yang dekat dengannya diperlakukan dengan buruk oleh

orang lain dengan cara tertentu, delusion of erotomanic yaitu keyakinan

irasional bahwa penderita dicintai oleh seseorang yang lebih tinggi

statusnya, delusion of jealous yaitu yakin pasangan seksualnya tidak setia,

dan delusion of somatic yaitu merasa menderita cacat fisik atau kondisi

medis tertentu.

2. Gejala-Gejala Negatif, yaitu pengurangan fungsi dari batas normal, meliputi:

a. Avolisi

Yaitu apati atau ketidakmampuan untuk memulai atau mempertahankan

kegiatan-kegiatan penting.

17

Page 18: MAKALAH PSIKOLOGI ABNORMAL (SKIZOFRENIA)

b. Alogia

Yaitu pengurangan dalam jumlah atau isi pembicaraan.

c. Anhedonia

Yaitu ketidakmampuan untuk mengalami kesenangan yang terkaitu dengan

beberapa gangguan suasana perasaan dan gangguan skizofrenik.

d. Afek Datar

Yaitu tingkah laku yang tampak tanpa emosi.

3. Gejala Disorganisasi, yaitu ketidakharmonisan fungsi, meliputi:

a. Disorganisasi dalam pembicaraan (Disorganized Speech)

Gaya bicara yang sering terlihat pada penderita skizofrenia termasuk

inkoherensi dan ketiadaan pola logika yang wajar.

b. Afek yang tidak pas (inappropriate Affect) dan perilaku yang disorganisasi

Afek yang tidak pas merupakan ekspresi emosi yang tidak sesuai dengan

aslinya. Perilaku yang disorganisasi adalah perilaku yang tidak lazim.

Untuk mendiagnosa seseorang skizofrenia, seseorang harus menunjukkan 2

atau lebih gejala positif, negatif, atau disorganisasi dengan porsi yang besar selama

paling sedikit 1 bulan.

Tanda awal skizofrenia seringkali terlihat saat kanak-kanak. Tanda-tanda

tersebut perlu untuk diketahui untuk membedakan gejala skizofrenia pada anak

dengan proses belajar anak yang masih dalam bentuk bermain. Anak seringkali

berimajinasi tentang peran-peran baru dalam permainannya, namun hal tersebut

bukanlah sebuah gangguan. Indikator premorbid (pra-sakit) pada anak pre-

skizofrenia antara lain:

1. Ketidakmampuan anak mengekspresikan emosi (wajah dingin, jarang

tersenyum, tak acuh)

2. Penyimpangan komunikasi (anak sulit melakukan pembicaraan terarah)

3. Gangguan atensi (anak tidak mampu memfokuskan, mempertahankan, serta

memindahkan atensi)

Adapun gejala awal yang terlihat pada tahap-tahap tertentu dalam perkembangan

adalah sebagai berikut:

1. Pada anak perempuan, tampak sangat pemalu, tertutup, menarik diri secara

sosial, tidak bisa menikmati rasa senang, dan ekspresi wajah sangat terbatas,

2. Pada anak laki-laki, sering menantang tanpa alasan jelas, menggangu, dan tidak

disiplin,

18

Page 19: MAKALAH PSIKOLOGI ABNORMAL (SKIZOFRENIA)

3. Pada bayi, biasanya terdapat problem tidur makan, gangguan tidur kronis, tonus

otot lemah, apatis, dan ketakutan terhadap objek atau benda yang bergerak cepat,

4. Pada balita, terdapat ketakutan yang berlebihan terhadap hal-hal baru seperti

potong rambut, takut gelap, takut terhadap label pakaian, takut terhadap benda-

benda bergerak,

5. Pada anak usia 5-6 tahun, mengalami halusinasi suara seperti mendengar bunyi

letusan, bantingan pintu atau bisikan, juga halusinasi visual seperti melihat

adanya sesuatu yang bergerak meliuk-liuk, ular, bola-bola bergelindingan,

lintasan cahaya dengan latar belakang warna gelap. Anak terlihat bicara atau

tersenyum sendiri, menutup telinga, sering mengamuk tanpa sebab.

F. Penanganan Gangguan Skizofrenia

Penanganan gangguan skizofrenia pada umumnya meliputi suatu usaha yang

seharusnya bersifat komprehensif, ialah yang melibatkan pendekatan biologis

(medis), psikologis, dan sosiokultura yang mungkin dilakukan secara berurutan,

tetapi juga untuk sebagian bisa bersama-sama.

Sementara Carson dan Butcher, 1992 (dalam Sutardjo A. Wiramihardja,

2005:165) menyatakan bahwa pada tahap-tahap awal gangguan delusional,

penanganan dalam bentuk psikoterapi secara individual dan kelompok maupun

kombinasi dari keduanya dapat efektif, terutama jika penderita mempunyai

keinginan sendiri untuk mendapatkan pertolongan dari professional.

Secara biologis usaha-usahanya dmulai dari pemberian obat-obatan sampai

dengan bedah otak untuk menghambat perkembangan sampai menghilang bagian

otak yang menyebabkan halusinasi dan dlusi.

Obat-obatan antiseptic yang saat ini popular adalah khlopromazin, salah satu

bagian dari phenothiazines yang dapat meredakan agitasi dan mengurangi halusinasi

dan delusi pada pasien skizofrenia.

Secara psikologis dan sosial, penanganan penderita skizofrenia dinilai

bermanfaat karena dapat meningkatkan ketrampilan social dan mengurangi isolasi

dan imobilitas (bustilo dkk, 2001. Sutardjo A. Wiramihardja, 2005). Hasil

penanganan psikologis dan social sangat penting meningkatkan pengintegrasian

yang bersangkutan dengan masyarakatnya, antara lain dapat menunjangnya dalam

mencari nafkah dll. Psikolog, pekerja social, dan professional dibidang kesehatan

mental dapat membantu orang-orang dengan skizofrenia untuk memenuhi

19

Page 20: MAKALAH PSIKOLOGI ABNORMAL (SKIZOFRENIA)

kebutuhan dasarnya. Jenis penanganan dalam rangka psikologis social ini, yang saat

ini sedang popular adalah intervensi keperilakuaanya, kognitif, dan social.

Penggunaan penanganan ini melanjutkan penanganan biologis atau pemberian obat

dengan maksud meningkatkan fungsi sehari-hari dan mengurangi resiko terjadinya

kekambuhan secara signifikan (Spaulding dll, 2001).

Intervensi kognitif meliputi usaha menolong orang dengan skozofrenia

mengenal demoralisasi sikap-sikap yang mereka miliki dalam menghadapi

penyakitnya dan kemudian mengubah sikap tersebut, sehingga mereka mencari

bantuan kalau memerlukannya dan berpartisipasi dalam sosietas sepanjang yang

dapat mereka lakukan.

intervensi keperilakuan berdasar pada teori pembelajaran social termasuk

pengguanaan pembiasaan operan dan modeling untuk mengajarkan ketrampilan

kepada orang-orang dengan skizofrenia, termasuk bernisiasi dan memelihara

koversasi dengan orang-orang, meminta pertolongan atau keterangan kepada dokter,

dan tetap melanjutkan kalau melakukan suatu aktivitas, seperti memasak atau

bersih-bersih.

Intervensi social meningkatkan kontak antara orang-orang skizofrenia dan

orang-orang suportif, sering melalui kelompok pendukung menolong diri sendiri

(self-help). Kelompok ini bertemu untuk mendiskusikan dampak gangguan terhadap

kehidupan mereka, frustasi-frustasi dalam berusaha membuat orang mengerti

gangguan itu, kekhawatirannya akan kekambuhan, pengalaman-pengalaman dengan

berbagai macam obat, dan kesungguhannya untuk melaksanakan cara hidup sehari-

hari. Salah satu pendekatan yang makin penting dilaksanakan adalah terapi

keluarga. Oleh karena itu maka para ahli mengajukan terapi keluarga sebagai hal

yang penting dan saat ini makin terasa pentingnya, karena efektif mengurangi

kemungkinan kekambuhan atau mengurangi kekuatan kekambuhannya.

20

Page 21: MAKALAH PSIKOLOGI ABNORMAL (SKIZOFRENIA)

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Skizofrenia adalah gangguan jiwa serius yang bersifat psikosis sehingga

penderita kehilangan kontak dengan kenyataan dan mempengaruhi berbagai fungsi

individu, seperti afeksi dan kognitif. Penderita Skizofrenia juga dapat digolongkan

dalam beberapa jenis berdasarkan gejala khas yang paling dominan.

Tiap jenis selalu ditandai dengan gejala positif dan negatif yang berbeda

porsinya. Gejala positif adalah penambahan dari fungsi normal, contohnya

halusinasi yaitu persepsi panca indera yang tidak sesuai kenyataan. Sedangkan

gejala negatif berarti pengurangan dari fungsi normal seperti kehilangan minat dan

menarik diri dari lingkungan sosial.

Hingga saat ini penyebab utama Skizofrenia masih menjadi perdebatan di

kalangan ahli psikiatri maupun psikologi. Karna itu untuk dapat memahaminya

diperlukan multiperspekif yaitu dari sisi biologis, psikologis, sosial dan spiritual.

B. Saran

Mereka harus memilih antara menjalani atau mengurangi frekuensi pemikiran yang

berkaitan dengan kejadian-kejadian buruk yang telah mereka alami dan perlunya

dukungan dari orang-orang di sekelilingnya untuk bisa keluar dari kemelit masa

lalunya.

21

Page 22: MAKALAH PSIKOLOGI ABNORMAL (SKIZOFRENIA)

DAFTAR PUSTAKA

Wiramihardja, Sutardjo, A. 2005.“Pengantar Pikologi Abnormal”. Bandung: PT. Refika

Aditama

http://www.schizophreniahistory.com/types-of-schizophrenia.html diakses pada tanggal:

1 Oktober 2012. 10:20am

22