28
KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, Sang Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan beserta seperangkat aturannya, karena berkat limpahan rahmat, taufik, hidayah serta inayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan tema “FILSAFAT” yang sederhana ini dapat terselesaikan tidak kurang dari pada waktunya. Maksud dan tujuan dari penulisan makalah ini tidaklah lain untuk memenuhi salah satu dai sekian kewajiban mata kuliah Filsafat Pendidikan serta merupakan bentuk langsung tanggung jawab penulis pada tugas yang diberikan. Pada kesempatan ini, penulis juga ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada bapak Djailan Mansur selaku dosen mata kuliah Filsafat Pendidikan. Demikian pengantar yang dapat penulis sampaikan di mana penulis pun sadar bahwasanya penulis hanyalah seorang manusia yang tidak luput dari kesalahan dan

Makalah Hukum Filsafat Pendidikan

  • Upload
    adendra

  • View
    155

  • Download
    12

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Makalah Hukum Filsafat Pendidikan

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Tuhan Yang Maha

Esa, Sang Pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan beserta

seperangkat aturannya, karena berkat limpahan rahmat, taufik, hidayah

serta inayahNya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan

tema “FILSAFAT” yang sederhana ini dapat terselesaikan tidak kurang

dari pada waktunya.

Maksud dan tujuan dari penulisan makalah ini tidaklah lain untuk

memenuhi salah satu dai sekian kewajiban mata kuliah Filsafat

Pendidikan serta merupakan bentuk langsung tanggung jawab penulis

pada tugas yang diberikan. Pada kesempatan ini, penulis juga ingin

menyampaikan ucapan terima kasih kepada bapak Djailan Mansur selaku

dosen mata kuliah Filsafat Pendidikan.

Demikian pengantar yang dapat penulis sampaikan di mana penulis

pun sadar bahwasanya penulis hanyalah seorang manusia yang tidak

luput dari kesalahan dan kekurangan, sedangkan kesempurnaan hanya

miliki Tuhan Azza Wa’Jala hingga dalam penulisan dan penyusunannya

masih jauh dari kata sempurna.

Page 2: Makalah Hukum Filsafat Pendidikan

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................

DAFTAR ISI.............................................................................................

UCAPAN TERIMA KASIH.......................................................................

BAB I PENDAHULUAN...........................................................................

A. Latar Belakang...........................................................................

B. Rumusan Masalah.....................................................................

C. Tujuan Penulisan.......................................................................

D. Manfaat Penulisan.....................................................................

BAB II KAJIAN PUSTAKA.......................................................................

A. Pengertian Filsafat.....................................................................

B. Model-Model Filsafat..................................................................

1. Filsafat Spekulatif.................................................................

2. Filsafat Preskriptif

3. Filsafat Analitik.....................................................................

C. Misi Filsafat................................................................................

D. Lapangan Filsafat......................................................................

1. Metafisika.............................................................................

2. Epistemologi.........................................................................

3. Aksiologi...............................................................................

BAB III PEMBAHASAN...........................................................................

BAB IV PENUTUP...................................................................................

A. Kesimpulan................................................................................

B. Saran.........................................................................................

Page 3: Makalah Hukum Filsafat Pendidikan

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Istilah filsafat berasal dari bahasa Yunani “Philosophia”, seiring

perkembangan zaman akhirnya dikenal juga dalam berbagai bahasa,

seperti: “philosophic” dalam kebudayaan bangsa Jerman, Belanda,

dan Perancis: “philosophy” dalam bahasa Inggris: “Philosophia” dalam

bahasa Latin: “Falsafah” dalam bahasa Arab.

Para filsuf memberi batasan yang berbeda-beda mengenai

filsafat namun batasan yang berbeda itu tidak mendasar, selanjutnya

batasan filsafat dapat ditinjau dari dua segi yaitu secara etimologi dan

secara terminology.

Secara etimologi istilah filsafat berasal dari bahasa Arab, yaitu

falsafah atau juga dari bahasa Yunani yaitu Philosphia-philen: cinta

dan Sophia: kebijaksanaan. Jadi bias dipahami bahwa filsafat berarti

cinta kebijaksanaan.

Pengertian filsafat secara terminologi sangat beragam, para filsuf

merumuskan pengertian filsafat sesuai dengan kecenderungan

pemikiran kefilsafatan yang dimilikinya.

B. Rumusan Masalah

1. Apakah sebenarnya hakekat filsafat hukum

2. Bagaimana peran filsafat hukum dalam pembentukan hukum di

Indonesia.

Page 4: Makalah Hukum Filsafat Pendidikan

3. Dapatkah kita memiliki pengetahuan yang benar.

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk melengkapi tugas maa kuliah filsafat pendidikan

2. Untuk memahami lebih dalam lagi apa arti filsafat dan kaitannya

dengan Agama Islam.

D. Manfaat penulisan

Dari hasil penulisan makalah dapat diharapkan untuk

memberikan informasi tentang filsafat yang menyangkut tentang

manusia atau yang merupakan pengetahuan benar yang mengenai

hakekat segala yang ada sejauh mungkin bagi manusia. Untuk itu

diharapkan makalah ini dapat memberikan dasar bagi para pembaca /

penulis dalam merenungkan kembali sejarah perkembangan ilmu alam

dan dalam pengembangan ilmu pengetahuan selanjutnya.

Page 5: Makalah Hukum Filsafat Pendidikan

BAB II

PEMBAHASAN FILSAFAT

A. Pengertian Filsafat

Kata “filsafat” berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu dari kata

“philos” dan “Sophia”. Philos artinya cinta yang sangatn mendalam,

dan “Sophia artinya kearifan atau kebijakan. Jadi arti filsafat secara

harfiah adalah cinta yang sangat mendalam terhadap kearifan atau

kebijakan. Istilah filsafat sering dipergunakan secara popular dalam

kehidupan sehari-hari, baik secara sadar maupun tidak sadar. Dalam

penggunaan secara popular, filsafat dapat diiartikan sebagai suatu

pendirian hidup (individu), dan dapat juga disebut pandangan hidup

(masyarakat).

Di Jerman dibedakan antara filsafat dengan pandangan hidup

(weltanschauung). Filsafat diartikan sebagai suatu pandangan kritis

yang sangat mendalam sampai ke akar-akarnya. Dalam pengertian

lain, filsafat diartikan sebagai interpretasi atau evaluasi terhadap apa

penting atau apa yang berarti dalam kehidupan. Di pihak lain ada yang

beranggapan bahwa filsafat sebagai cara berpikir kompleks, suatu

pandangan yang tidak memiliki kegunaan prakris. Ada pula yang

beranggapan, bahwa para filsof telah bertanggung jawab terhadap

cita-cita dan kultur masyarakat tertentu.

Filsafat dapat dipelajari secara akademis, diartikan sebagai suatu

pandangan kritis yang sangat mendalam sampai ke akar-akarnya

Page 6: Makalah Hukum Filsafat Pendidikan

(radix) mengenai segala sesuatu yang ada (wujud). “Philosophy means

the attempt to conceive and present inclusive and systematic view of

universe and man’s in it”. Filsafat mencoba mengajukan suatu konsep

tentang alam semesta secara sistematis dan inklusif dimana manusia

berada di dalamnya. Oleh karena itu, filosof lebih seing menggunakan

intelegensi yang tinggi dibandingkan dengan ahli sains dalam

memecahkan masalah-masalah hidupnya.

Filsafat dapat diartikan juga sebagai “Berpikir reflektif dan kritis”

(reflektif and critical thinking). Namun, Randall dan Buchler (1942)

memberikan kritik terhadap pengertian tersebut, dengan

mengemukakan bahwa defenisi tersebut tidak memuaskan karena

beberapa alas an, yaitu: 1) tidak menunjukan karakteristik yang

berbeda antara filosofi dengan fungsi-fungsi kebudayaan dan sejarah,

2) para ilmuwan yang juga berpikir reflektif dan kritis, padahal antara

sains dan filsafat berbeda 3) ahli hukum, ahli ekonomi, juga ibu rumah

tangga sewaktu-waktu berpikir reflektif dan kritis, padahal mereka

bukan filosof atau ilmuwan.

Filsafat diartikan sebagai “science of science”, dimana tugas

utamanya memberi analisis secara kritis terhadap asumsi-asumsi dan

konsep-konsep sains, mengadakan sistematisasi atau

pengorganisasian pengetahuan. Dalam pengertian yang lebih luas,

filsafat mencoba mengintegrasikan pengetahuan manusia yang

Page 7: Makalah Hukum Filsafat Pendidikan

berbeda-beda dan menjadikan suatu pandangan yang kompeherensif

tentang alam semesta, hidup, dan makan hidup.

Pada bagian lain Harold Titus mengemukakan makna filsafat,

yaitu:

1. Filsafat adalah suatu sikap tentang hidup dan alam semesta;

2. Filsafat adalah suatu metode berpikir reflektif, dan penelitian

penalaran;

3. Filsafat adalah suatu perangkat masalah-masalah;

4. Filsafat adalah seperangkat teori dan sistem berpikir.

Berfilsafat merupakan salah satu kegiatan manusia memiliki

peran yang penting dalam menentukan dan menemukan

eksistensinya. Dalam kegiatan ini manusia akan berusaha untuk

mencapai kearifan dan kebajikan. Kearifan merupakan buah yang

dihasilkan filsafat dari usaha mencapai hubungan antara berbagai

pengetahuan dan menentukan implikasinya baik yang tersurat maupun

tersirat dalam kehidupan.

Berfilsafat adalah berpikir dengan sadar, yang mengandung

pengertian secara teliti dan teratur, sesuai dengan aturan dan hukum-

hukum berpikir yang berlaku. Berpikir filosofi harus dapat menyerap

secara keseluruhan apa yang ada pada alam semesta, tidak

terpotong-potong.

Page 8: Makalah Hukum Filsafat Pendidikan

B. Model-Model Filsafat

Filsafat sebagai metode berpikir, maupun sebagai hasil berpikir

radikal, sistematis, dan universal tentang segala sesuatu yang ada dan

yang mungkin ada, dapat dibedakan menjadi tiga model, yaitu filsafat

spekulatif, filsafat preskriptif, dan filsafat analitik.

1. Filsafat Spekulatif

Filsafat spekulatif adalah cara berpikir sistematis tentang segala

yang ada. Filsafat spekulatif tergolong filsafat tradisional. Dalam hal

ini filsafat sebagai suatu bangunan pengetahuan (body of

knowledge). Filsafat spekulatif merenungkan secara rasional

spekulatif seluruh persoalan manusia dalam hubungannya sengan

segala yang ada pada jagat raya ini.

Plato sebagai pelopor filsafat idealism klasik membahas semua

persoalan yang berkaitan dengan manusia, masyarakat, dan

eksistensi manusia dalam ala mini.

Filsafat spekulatif mencari keteraturan dan keseluruhan yang

diterapkan, bukan pada suatu item pengalaman khusus, melainkan

kepada semua pengalaman dan pengetahuan. Singkatnya, filsafat

spekulatif adalah suatu upaya mencari dan menemukan hubungan

dalam keseluruhan alam berpikir dan keseluruhan pengalaman.

2. Filsafat Preskriptif

Filsafat prskgripktif berusaha untuk menghasilkan suatu ukuran

(standard) penilaian tentang nilai-nilai, penilaian tentang perbuatan

Page 9: Makalah Hukum Filsafat Pendidikan

manusia, dan penilaian tentang seni. Filsafat preskripktif menguji

apa yang disebut baik dan jahat, benar dan salah, bagus dan jelek.

Bagi ahli psikologi eksperimental, keanekaragaman perbuatan

manusia secara moral bukan baik dan juga bukan jahat, melainkan

merupakan suatu bentuk sederhana dari tingkah laku yang

dipelajari secara empiris. Bagi pendidik dan ahli filsafat prespkriptif,

menilai suatu perilaku ada yang bermanfaat dan ada yang tidak

bermanfaat. Ahli filsafat preskriptif berusaha menemukan dan

mengajarkan prinsip-prinsip perbuatan yang bermanfaat, dan

mengapa harus demikian. Jadi, filsafat perspektif , memberi resep

tentang perbuatan atau perilaku manusia yang bermanfaat.

3. Filsafat Analitik

Model analitik terdapat dua golongan, yaitu analitik linguistik dan

analitik postivistik logis. Model analitik linguistik mengandung arti

bahwa filsafat sebagai analisis logis tentang bahasa dan

penjelasan makna istilah. Para filosof memakai metode analitik

linguistik untuk menjelaskan arti suatu istilah dan pemakaian

bahasa. Beberapa filsuf mengatakan bahwa analisis tentang arti

bahasa merupakan tugas pokok filsafat dan tugas analisis konsep

sebagai satu-satunya fungsi filsafat.

a. Analitik linguistik

Pendekatan analitik lunguistik memusatkan perhatiannya

pada analisa bahasa. Dengan pendekatan analitik akan menguji

Page 10: Makalah Hukum Filsafat Pendidikan

suatu ide atau gagasan, seperti: istilah / ide kebebasan

akademik, hak asasi manusia, demokrasi, potensi anak dan

sebagainnya. Menurut pendekatan analitik linguistik

gagasan/ide tersebut memiliki makna yang berbeda dalam

konteks yang berlainan. Pendekatan ini lebih bertujuan

mengklarifikasi bahasa dan pemikiran yang ada, daripada

membuat pendapat-pendapat yang baru tentang hakekat

kenyataan.

Pendekatan analitik linguistik akan menjelaskan pernyataan-

pernyataan spekulatif dan preskriptif. Misalnya menguji

rasionalitas yang berkaitan dengan ide-ide atau gagasan-

gagasan pendidikan, dan menguji bagaimana konsistensinya

dengan gagasan lain. Misalnya kita memperkenalkan konsep

“cara belajar siswa aktif”.

Filsafat analitik linguistik bukan merupakan suatu bangunan

pengetahuan, melainkan merupakan suatu aktivitas yang

bertujuan menjernihkan istilah-istilah yang dipergunakan. Di

antara filosof-filosof analitik akan muncul perbedaan-perbedaan,

tetapi mereka masih memiliki tujuan yang sama, yakni

pemakaian bahasa yang jelas dan jernih.

b. Analitik

Model analitik positivistik logis dikenal dengan neo positivism

dikembangkan oleh Bertrand Russel yang berakar pada dan

Page 11: Makalah Hukum Filsafat Pendidikan

meneruskan filsafat positivism dari Comte yang merupakan

peletak dasar pendekatan kuantitatif dalam pengembangan ilmu

(science), dengan meletakan matematika sebagai dasar bagi

semua cabang ilmu.

Menurut Kunto Wibisono (19997) Positivisme merupakan

suatu model dalam pengembangan ilmu pengetahuan

(knowledge) yang di dalam langkah kerjanya menempuh jalan

melalui observasi, eksperimentasi, dan komparasi sebagaimana

diterapkan dalam ilmu kealaman, dan model ini dikembangkan

dalam ilmu-ilmu sosial. Positivisme menggunakan presisi

verifiabilitas, konfirmasi, dan ekdperimentasi dengan derajat

optimal, dengan maksud agar sejauh mungkin dapat melakukan

prediksi dengan derajat ketepatan yang optimal pula.

Positivisme memiliki pengaruh yang kuat pada metode

ilmiah. Konsep-konsep positivisme menyumbangkan

pendekatan baru dalam penemuan kebenaran ilmiah yang

melahirkan revolusi paradigm. Prinsip dan prosedur dalam ilmu

alam dan ilmu sosial, yang berasal dari asumsi John Stuart Mill

(1843), terus hidup sampai sekarang sebagai paradigma

metodologis. Mill tidak membedakan metodologi ilmu sosial dan

ilmu kealaman.

Positivisme merupakan model pendekatan ilmiah kuantitatif

dalam keilmuan, para penganutnya menyebut dirinya

Page 12: Makalah Hukum Filsafat Pendidikan

berparadigma ilmiah (scientific paradigm). Hal ini ditunjukan dari

beberapa hal (Moleong: dalam Hadi Sutarmanto, 1997), yaitu:

Teknik yang digunakan kuantitatif yang mendasarkan diri

pada matematika-statistika.

Kriteria kualitasnya harus bersifat “rigor” (kaku) yaitu harus

memenuhi prinsip validitas eksternal-internal, realibilitas, dan

obyektivitas. Berdasar kriteria kualitas ini, membawa

konsekuensi kepada penyusunan desain yang bagus untuk

suatu eksperimen.

Persoalan kualitasnya menunjuk “dapatkah X menyebabkan

Y?

Lebih pada pengetahuan proporsional yaitu dalam bentuk

hipotesis.

Kritik terhadap positivisme disampaikan oleh Lincoln dan Guba

(1985):

1. Positivisme menghasilkan penelitian dengan responden

manusia, namun kurang mengindahkan kemanusiaan. Hal

ini dapat dikatakan bahwa pendekatan positivisme tidak

memiliki implikasi etis.

2. Positivisme kurang berhasil menggarap formulasi empiris

dan konseptual dari berbagai bidang ilmuu (terutama ilmu

sosial dan humaniora).

Page 13: Makalah Hukum Filsafat Pendidikan

3. Positivisme bermuara paling sedikit pada lima asumsi yang

sulit untuk dipertahankan

a. Asumsi ontologis tentang terjadinya realitas tunggal yang

dapat dipecah-pecah dan dapat diselidiki secara terpisah

b. Asumsi epistemologis tentang kemungkinan terpisahnya

pengamat dari yang diamati

c. Asumsi tentang keterpisahan observasi secara secara

temporal dan kontekstual, sehingga yang benar pada

suatu waktu dan tempat, benar juga pada waktu dan

tempat yang lain

C. Misi Filsafat

Para filosof berusaha memecahkan masalah-masalah yang

penting bagi manusia, baik langsung maupun tidak langsung. Melalui

pengujian yang kritis, filosof mencoba mengevaluasi informasi-

informasi dan kepercayaan-kepercayaan yang kita miliki tentang alam

semesta serta kesibukan dunia manusia. Filosof mencoba membuat

generalisasi, sistematisasi, dan gambaran-gambaran yang konsisten

tentang semua hal yang ia ketahui dan pikirkan.

Titus (1959) mengemukakan bahwa terdapat tiga tugas utama

filsafat, yaitu:

a. Mendapatkan pandangan yang menyeluruh;

b. Menemukan makna dan nilai-nilai dari segala sesuatu;

c. Menganalisis dan memadukan kritik terhadap konsep-konsep

Page 14: Makalah Hukum Filsafat Pendidikan

Filsafat mencoba memadukan hasil-hasil dari berbagai sains yang

berbeda ke dalam suatu pandangan yang menyeluruh.

Filsafat tertarik terhadap aspek-aspek kualitatif segala sesuatu,

terutama berkaitan dengan makna dan nilai-nilainya. Filsafat menolajk

untuk mengabaikan setiap aspek yang otentik dari pengalaman

manusia.

D. Lapangan Filsafat

Seperti telah dikemukakan terdahulu, bahwa filsafat adalah

berpikir radikal, sistematis, dan universal tentang segala sesuatu. Jasi

yang menjdai objek pemikiran filsafat adalah segala sesuatu yang ada.

Segala yang ada merupakan bahan pemikiran filsafat. Karena, filsafat

merupakan usaha berpikir manusia secara sistematis.

Sidi Gazalba (1973) mengemukakan bidang permasalahan filsafat

yang terdiri atas:

1. Metafisika, dengan pokok-pokok masalah: filsafat hakekat atau

ontology, filsafat alam atau kosmologi, filsafat manusia, dan filsafat

ketuhanan atau teodyce.

2. Teori pengetahuan, yang mempersoalkan: hakekat pengetahuan,

dari mana asal atau sumber pengetahuan, bagaimana membentuk

pengetahuan yang tepat dan yang benar, apa yang dikatakan

pengetahuan yang benar, mungkinkah manusia mencapai

pengetahuan yang benar dan apakah dapat diketahui manusia,

serta sampai di mana batas pengetahuan manusia.

Page 15: Makalah Hukum Filsafat Pendidikan

3. Filsafat nilai, yang membicarakan: hakekat nilai, dimana letak nilai,

apakah pada bendanya, atau pada perbuatannya, atau pada

manusia yang menilainya, mengapa terjadi perbedaan nilai antara

Selanjutnya Butler (1957) mengemukakan beberapa persoalan

yang dibahas dalam filsafat, yaitu:

1. Metafisika, membahas: teologi, kosmologi, dan antropolgi

2. Epistemologi, membahas: hakekat pengetahuan, sumber

pengetahuan dan metode pengetahuan.

3. Aksiologi, membahas: etika dan estetika.

Alat-alat yang digunakan dalam merumuskan dan mengklalrifikasi

filsafat pendidikan, adalah berkaitan dengan lapangan filsafat yang

menjadi perhatian sentral bagi guru: metafisika, epistemologi,

aksiologi, etika, estetika,dan logika. Masing-masing dari bidang ini

memfokuskan pada salah satu pertanyaan yang berhubungan dengan

para filosof dunia terbesar selama berabad-abad.

1. Metafisika

Secara etimologi, metafisika berasal dari bahasa Yunani Kuno

yang terdiri dari dua kata “meta” dan “fisika”. Meta berarti sesudah,

di belakang, atau melampaui, dan fisika berarti alam nyata.

Metafisika merupakan cabang filsafat yang mempersoalkan tentang

hakekat yang tersimpul di belakang dunia fenomena. Metafisika

melampaui pengalaman objeknya di luar hal yang dapat ditangkap

pancaidera.

Page 16: Makalah Hukum Filsafat Pendidikan

Metafisika dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu: 1) Ontologi

dan 2) metafisika khusus. Ontologi mempersoalkan tentang esensi

dari yang ada, hakekat dari segala wujud yang ada.

Metafisika mempelajari manusia melampaui atau di luar fisiknya

dan di luar gejala-gejala yang dialami manusia. Metafisika mencoba

untuk mengkaji secara mendalam: siapa manusia, dari mana asal

manusia, apa yang dituju manusia, dan untuk apa hidup di dunia

ini.

2. Epistemologi

Istilah epistemologi berasal dari bahasa Yunani Kuno, dengan

asal kata “episteme” yang berarti pengetahuan, dan “logos” yang

berarti teori. Secara etimologi, epistemologi berarti teori

pengetahuan. Epistemologi merupakan cabang filsafat yang

membahas atau mengkaji tentang asal, struktur, metode, serta

keabsahan pengetahuan.

Menurut Langeveld (19610, epistemologi membicarakan

hakekat pengetahuan, unsur-unsur dan susunan berbagai jenis

pengetahuan, pangkal tumpuannya yang fundamental, metode-

metode dan batasan-batasannya.

a. Jenis-jenis pengetahuan

1. Pengetahuan wahyu (revealed knowledge)

2. Pengetahuan intuitif (intuitive knowledge)

3. Pengetahuan rasional (rational knowledge)

Page 17: Makalah Hukum Filsafat Pendidikan

4. Pengetahuan empiris (empirical knowledge)

5. Pengetahuan otoritas (authoritative knowledge)

b. Teori pengetahuan

1. Teori korespondensi (correspondence theory)

2. Teori koherensi (coherence theory)

3. Teori pragmatisme (pragmatism theory)

3. Aksiologi

Secara etimologis, istilah aksiologi berasal dari bahasa Yunani

Kuno, terdiri dari kata “aksios” yang berarti nilai dan kata “logis”

yang berarti teori. Jadi, aksiologi merupakan cabang filsafat yang

mempelajari nilai. Secara singkat, aksiologi adalah teori nilai.

Dagobert Runes (1963: 32) mengemukakan beberapa persoalan

yang berkaitan dengan nilai yang mencakup: a) Hakekat nilai, b)

tipe nilai, c) kriteria nilai, dan d) status metafisika nilai.

Mengenai hakekat nilai, banyak teori yagn dikemukakannya,

diantaranya teori voluntarisme. Teori voluntarisme mengatakan nilai

(hedonism) menyatakan, bahwa hakekat nilai adalah “pleasure”

atau kesenangan. Semua kegiatan manusia terarah pada

pencapaian kesenangan. Menurut formalisme, nilai adalah

kemauan yang bijaksana yang didasarkan pada akal rasional.

Menurut pragmatisme, nilai itu baik apabila memenuhi kebutuhan

dan memiliki nilai instrumental, yaitu sebagai alat untuk mencapai

tujuan.

Page 18: Makalah Hukum Filsafat Pendidikan

Tipe nilai dapat dibedakan antara nilai intrinsik dan nilai

instrumental. Nilai intrinsik merupakan nilai akhir yang menjadi

tujuan, sedangkan nilai instrumental adalah sebagai alat untuk

mencapai nilai intrinsik. Nilai intrinsik adalah sesuatu yang memiliki

harkat atau harga dalam dirinya, dan merupakan tujuan sendiri.

Sebagai contoh nilai keindahan yang dipancarkan oleh suatu

lukisan adalah nilai intrinsik.

Yang dimaksud dengan kriteria nilai adalah sesuatu yang

menjadi ukuran dari nilai tersebut, bagaimana yang dikatakan nilai

hedonism menemukan ukuran nilai dalam sejumlah “kesenangan”

(pleasure) yang dapat dicapai oelh individu atau masyarakat.

a. Karakteristik nilai

Ada beberapa karakteristik yang berkaitan dengan teori nilai,

yaitu:

1. Nilai objektif atau subjektif

2. Nilai absolut atau berubah

b. Tingkatan (hirearki) nilai

c. Jenis-jenis nilai

1. Etika

2. Estetika

Page 19: Makalah Hukum Filsafat Pendidikan

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Jika dilihat dari sejarah perkembangan Ilmu Pengetahuan Alam,

pada mulanya orang tetap mempertahankan penggunaan nama /

istilah filsafat. Bagi ilmu pengetahuan alam berdasarkan hal tersebut

maka sangatlah beralasan bahwa ilmu pengetahuan alam tidak

terlepas dari hubungan dengan ilmu induknya yaitu filsafat.

B. Saran

Oleh karena itu, kritik dan saran yang konstruktif akan senantiasa

penulis nanti dalam upaya evaluasi diri, akhirnya penulis hanya bisa

berharap, bahwa dibalik ketidaksempurnaan penulisan dan

penyusunan makalah ini adalah ditemukan sesuatu yang dapat

memberikan manfaat atau bahkan hikmah bagi penulis, pembaca, dan

bagi seluruh mahasiswa-mahasiswi.