31
LAPORAN PRAKTIKUM 1. Viskositas zat cair 2. Kalorimeter

# Laporan Praktikum Fisika

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Mungkin isinya laporan praktikum fisika

Citation preview

LAPORAN PRAKTIKUM

1. Viskositas zat cair 2. Kalorimeter

Viskositas zat cair

A. Tujuana. To understand principal work of viskometer ball fallb. To --------------- that force rob

B. Basic Teory

A. Tujuana. Memahami asas kerja viskosimeter bola jatuhb. Memahami bahwa gaya gesekan yang dialami benda yang bergerak di dalam fluida

berkaitan dengan kekentalan fluida.c. Menentukan koefisien kekentalan zat cair dengan menggunakan hukum stokes

B. Dasar teoriC. Alat dan bahanD. Cara kerjaE. Data pengamatan

A. Destination

a. To Understand the working principle of a ball falling viskosimeter

b. To Understand that the friction force experienced by objects moving in the fluid related to the fluid viscosity.

c. To Determine the coefficient viscosity of liquid using stokes principals

B. Basic theory

The coefficient viscosity of fluid is interval of fluid friction.

Force viscous friction against most of the fluid relative to another.

For example, the reason for the needed effort used to paddle in calm water, but it is also the reason why the paddles to work.

Viscous effects are important in the fluid flow in pipes, blood flow, lubrication of the engine parts and other state examples.

Viscous fluids tend to cling to solid surfaces in contact with that.

There is a thin boundary layer of fluid near the surface, where the fluid is virtually silent on the surface.

In a solid, the strain is proportional to strain gesis sliding.

In a fluid, shear strain along the boundary line is always increasing strain given.

The voltage does not depend on shear strain fixed, but depends on the rate of change. (Young)

The viscosity of the liquid or gas can also be defined as the frictional force between the layers - a layer of fluid containing at layer - the layer moves past the other.

The coefficient viscosity of a liquid is defined as the ratio between the rate of change of shear stress with shear.

(FORMULA 1)

or

(FORMULA 2)

When objects move in a fluid object will have obstacles / braking due to the fluid viscosity.

Barriers are known by the friction force by the fluid on the body.

The magnitude of the friction force on a moving object in a fluid other than the coefficient depends on the fluid viscosity also depends on the shape of the object.

Especially for the big ball, the friction force by the fluid formulated by stokes, known as frictional force stokes, magnitude:

(FORMULA 3)

Description:

r: finger - the finger ball

Vmax: the maximum speed or terminal velocity

Fs: frictional force stokes

m? : Coefficient viscosity or viscosity of the fluid

Some requirements Stokes statute are:

a. Room or the movement of the fluid is limited (size ball fell less than the amount of fluid)

b. Did not happen turbulence in fluid flow

c. Terminal velocity is not large

If a solid sphere of density (Pb) released initial velocity of the fluid surface density (Pf) where (Pb> Pf), first - first the ball will move accelerated, However due to fluid friction, speed will someday reach maximum speed or terminal velocity and the ball will move straight uniform.

During the movement of the ball work three Forces namely:

a. Gravity sphere: (FORMULA 4)

b. Force Archimedes: (FORMULA 5)

c. Stokes friction force: (FORMULA 6)

In accordance with Newton's laws I, if the motion is considered a ball straight uniform motion the force - the force exerted on the ball will be in balance, means:

(FORMULA 7)

(FORMULA 7.1)

From the final equation is obtained:

(FORMULA 8)

or

(FORMULA 9)

Terminal velocity or maximum velocity Vmax can be determined by calculating the distance s divided by travel time t, so that the last equation above can be changed to:

(FORMULA 10)

C. Tools and materials

1. Long glass tube (about 1m) equipped barrier of rubber bands B and C

2. Three small balls of ebonite (marbles) with different sizes

3. Ruler and micrometer screw

4. Thermometer

5. stemmed sieve to take the ball

6. Stopwatch

7. Balance / Scales

8. Glycerin liquid form

9. Canebo

D. How It Works

1. Measure the diameter of each - each ball 5 times in different places - different using a micrometer screw

2. Considering each - each ball with balance

3. Prepare a glass tube containing a fluid, then put two rubber bands on a tube wrapped manner, which placed 10 cm below the surface of the fluid and the other 5 cm above the bottom of the tube

4. Entering the ball into the glycerin, then recorded the time taken to reach the lower limit

5. Repeating activities sampat six times for one thing, and after that the mass variation with different balls, each - each performed three times with different distance variation.

6. Noting the results of experimental observations into tables

7. Doing recording experimental results

(Figure viskosimeter balls fall)

F. Observational data

G. Evaluation

In this experimen, the destination to find and defineti koefficient fluid viscosity, used gliserin with kind mass was measured with pignometer. Whereas, this experimen is worked by mass ball variation and sometimes the diameter is not same. Measured with spring balance and micrometer screw to that diameter is more accurate. The ball is get in with zero velocity , next measure the time are used to through same distance is 70 cm, kind mass and radius marbles will used to count coefficient liquid viscosity with formula :Formula 1

Pada percobaan ini pengukuran dilakukan pada jarak 10 cm dibawah permukaan air, karena ternyata pada jarak 5cm dibawah permukaan air benda belum mencapai kecepatan terminal.Dengan variasi diameter kelereng, digunakan 3 kelereng yang massanya berbeda dan diameternya berbeda, kemudian dihitung jarak tempuhnya selama masing – masing 4 kali dan dihitung rata – rata jarak tempuh masing – masing kelereng. Dengan diketahui jarak dan waktu, maka koefisien viskositas dapat dihitung. Dari hasil analisis data pada percobaan tersebut diperolehFormula 2Dengan kesalahan relatif yang sebesar 65,11 % dan ketelitian yang sebesar 34,89 %. Hal ini disebabkan karena adanya faktor – faktor kesalahan dalam praktikum, antara lain :1. Kesalahan dalam pengukuran, misalnya karena kurang teliti dalam mengukur jari – jari

dan massa kelereng, karena kesalahan yang sedikit saja dapat berpengaruh besar pada perhitungan

2. Kesalahan dalam perhitungan misalnya perhitungan waktu tempuh kelereng yang kurang atau melebihi

3. Kurang tepat dalam meletakan titik awal perhitungan yang mungkin menyebabkan benda belum dapat mencapai kecepatan terminal

4. Peralatan yang kondisinya kurang baik misalnya neraca untuk menimbang kurang kwalitasnya, skala tidak bisa menunjuk nol

Sedangkan pada percobaan kedua dengan variasi jarak tempuh setelah dilakukan ralat pengamatan, memperoleh data sebagai berikut

Formula 3

Dengan nilai (∆m) yang kecil hanya 0,007481, sehingga kesalahan relatifnya hanya 1,075% dan ketelitiannya 98,925%). Percobaan tersebut hanya variabel jarak yang dibuat berbeda sedangkan variabel lain tetap, misalnya massa jenis kelereng. Dari percobaan tersebut diketahui bahwa semakin besar jarak tempuh, maka waktu yang diperlukan semakin besar. Seperti pada variasi diameter kelereng, pengukuran dilakukan dengan kecepatan awal nol, ini agar tidak ada gaya luar yang mempengaruhi kecepatan bola, waktu tempuh juga diukur pada jarak 10 cm dari bawah permukaan air, ini bertujuan agar bola memcapai kecepatan terminal setelah bola melakukan gerak lurus berubah beraturan karena adanya gesekan zat cair benda akan mengalami kecepatan terminal dimana benda akan bergerak lurus beraturan.

Hal ini juga sekaligus menunjukan bahwa terdapat faktor – faktor yang mempengaruhi dalam perhitungan viskositas zat cair yakni massa jenis benda dan fluida, serta kecepatan terminal benda saat dicelupkan dan juga terbukti bahwa gesekan yang dialami benda yang bergerak dalam fluida berkaitan dengan kekentalan fluida itu sendiri.

Pada analisa data pada pengukuran koefisien viskositas gliserin menggunakan metode grafik yakni pada variasi jarak didapatkan hasil

Formula 4

Dari data tersebut didapatkan ketelitian sebesar 79,5088% dan kesalahan relatif 20,4912%

Pada saat benda bergerak dalam fluida, benda akan mengalami hambatan atau pengereman yang disebabkan oleh kekentalan zat cair. Hal itulah yang disebabkan dengan asas kerja viskometer bola jatuh.

Gaya gesekan yang dialami benda dapat dirumuskan sebagai (Formula 5)

fluida dalam waktu lapisan – lapisan tersebut bergerak melewati yang lain. Saat benda bergerak dalam fluida, benda akan mengalami hambatan atau pengereman yang disebabkan kekentalan fluida. Hal tersebut dikenal dengan asas kerja viskosimeter bola jatuh.

2. Gaya gesekan yang dialami benda yang bergerak dalam fluida berkaitan dengan kekentalan fluida. Persamaan yang menghubungkan keduanya yaituFormula 5

3. Koefisien kekentalan zat cair dapat ditentukan dengan menggunakan hukum stokes yang dimodifikasi. Gaya total yang bekerja pada benda ada 3 gaya, berat benda, gaya arcimedes dan gaya gesekan stokes. Ketiga gaya tersebut digabungkan dan menghasikan persamaanFormula 6

I. Saran1. Praktikan seharusnya mengukur besaran – besaran yang diperlukan dengan teliti, seperti

massa benda dan diameter benda. Karena kedua besaran tersebut berpengaruh besar terhadap besarnya (m) (koefisien viskositas fluida)

2. Praktikan sebaiknya lebih memahami materi sebelum memulai praktikum3. Pada percobaan viskositas hendaknya batas dimulai pengukuran tidak terlalu keatas agar

bola dapat mencapai kecepatan maksimum, karena semakin kebawah semakin baik4. Sebaiknya menggunakan alat yang masih berfungsi baik dan lebih teliti

J. Daftar pustakaK. Tugas akhir

1. Perhitungan dari data yang telah praktikan peroleh sudah terlampir dalam analisis data2. Koefisien kekentalan dengan metode grafik hanya digunakan untuk percobaan yang

variasi jarak. Didapatkan (m) sebesar (...)Ns/m23. Dari analisis data diketahui (cara)

Dari hasil analisis diketahui 1 ralat pengamatan lebih akurat perhitungannya dari ralat grafik

4. Tidak dilakukan perhitungan pada 4b5. Sumber – sumber kesalahan pada percobaan ini

a. Kesalahan saat pengukuran yaitu kurang teliti dalam mengukur massa dan jari – jari kelereng

b. Kesalahan dalam perhitungan seperti mengukur waktu tempuh kelerengc. Peralatan yang kondisinya kurang baik, seperti penggaris di tabung gelas panjang

6. Saran untuk memperbaiki percobaana. Praktikan harus mengukur besaran dengan teliti

b. Praktikan lebih memahami materi sebelum praktikum

Kalorimeter

A. Tujuan percobaan1. Memahami azas black2. Memahami azas kerja kalorimeter3. Menentukan kalor jenis bahan padat menggunakan kalorimeter4. Menentukan kalor laten penguapan menggunakan kalorimeter

B. Dasar teoriKalorimeter adalah alat yang digunakan untuk mengukur jumlah kalor yang terlihat dalam

suatu percobaan atau reaksi kimia. (SUMBER)Jumlah kalor yang diperlukan atau dilepas oleh gas untuk menaikan suhu tiap kelvin

disebut kapasitas kalor. (SUMBER)Jumlah kalor yang dilepas atau diserap oleh setiap satuan massa benda untuk mengubah

wujutnya (dari padat ke cair atau dari cair ke gas) pada suhu tetap dinamakan kalor laten. (SUMBER)

Menentukan kalor jenis zat padatJika zat menerima atau melepas kalor maka temperatur zat tersebut dapat mengalami

perubahan. Zat akan menyerap kalor ketika suhunya turun. Banyaknya kalor yang dilepas atau diterima oleh suatu zat besarnya :

a. Berbanding lurus dengan massa zatb. Berbanding lurus denga perubahan suhunyac. Berbanding dengan jenis zatnyaSecara matematis dapat diungkapkan dalam bentuk persamaan :(RUMUS 1)Dengan : (LENGKAPI)(delte Q) = kalor yang diserap atau dilepasM = massa zatC = kalor jenis zat cairT = perubahan suhu(SUMBER)Untuk rentang suhu yang tidak terlalu besar, kalor jenis zat dapat dinganggap tidak

bergantung pada suhunya. Pada percobaan ini akan ditentukan oleh kalor jenis berbagai macam logam. Logam yang telah dipanaskan dengan alat pamanas, kemudian dimasukan dalam air yang suhunya lebih rendah. Dalam hal ini akan terjadi pertukaran kalor. Anggap pertukaran kalor hanya terjadi antara logam dan kalorimeter berisi air serta pengaduk. Di satu pihak, logam mengalami penurunan suhu, berarti melepas kalor sebesar

(RUMUS 2)Dimana : (LENGKAPI)Ml = massa logamCl = kalor jenis logamTl = suhu logam mula – mulaTf = temperatur finalDilain pihak kelorimeter beserta air dan pengaduknya akan naik suhunya, sehingga

menyerap kalor sebesar(LENGKAPI) Q serap = Q kal + Q air

= ckal (Tf – TA) + m air c air (Tf – TA)Dimana : (LENGKAPI)C kal = kapasitas kalorimeter (pengaduk + termometer)TA = Suhu awalM air = massa airC air = kalor jenis airJika pertukaran hanya terjadi pada logam, air, kalorimeter dan pengaduk, akan berlaku

azas black yaitu(RUMUS 3)Menentukan kalor laten penguapan airPada saat zat mengalami perubahan wujud, temperatur zat tersebut menyerap atau

melepas kalor. Zat menyerap kalor ketika berubah wujud dari cair ke gas (menguap) dan zat melepas kalor ketika berubah wujudnya dari cair ke padat (membeku) dan berubah wujud dari uap/gas ke cair (mengembun)

Banyaknya kalor yang diserap atau dilepas oleh suatu zat ketika terjadi perubahan wujud besarnya :

a. Berbanding lurus dengan massa zatb. Berbanding lurus dengan kalor laten zatSecara matematis dapat diungkapkan dalam bentuk persamaan :(RUMUS 4)Dengan : (LENGKAPI)Q = kalor yang diserap / dilepasM = massa zatL = kalor laten zat(SUMBER)Pada percobaan ini yang akan ditentukan adalah kalor laten penguapan air atau kalor uap

air atau kalor embun air, yakni ketika air berubah wujud menjadi air (mengembun). Dalam hal ini yang akan dilakukan adalah ketika mengembun.

C. Alat dan Bahan1. Kalorimeter lengkap dengan pengaduk dan bejana pelindung2. Bahan yang akan ditentukan kalor jenisnya3. Termometer 0o C sampai 50oC dan 0C sampan 100C4. Neraca teknis5. Gelas ukur kecil6. Beberapa jenis logam yang akan ditentukan kalor jenisnya7. Pemanas8. Steam generator

D. Cara kerjaMenentukan kalor jenis logam1. Mengukur suhu kamar, dan juga mengukur tekanan udara luar (tekanan atmosfer) pada

saat percobaan dilakukan2. Menimbang kalorimeter kosong (bejana dalam), mengisi air secukupnya (kira – kira

logam yang akan dicampurkan dapat tertutup seluruhnya) dan menimbang lagi

3. Mendinginkan kalorimeter berisi air, pengaduk dan termometer di dalam lemari pendingin sampai temperaturnya beberapa derajat di bawah temperatur kamar, dan mencatat temperatur awalnya ketika akan dimasukin logam panas.

4. Menimbang logam yang akan ditentukan kalor jenisnya, kemudian memasukannya dalam pemanas (steam generator) sampai air mendidih, mencatat pula temperatur ketika air mendidih. Memasukan logam panas dengan segera ke dalam kalorimeter dan mengaduk – aduk sampai terjadi kesetimbangan termal, mengamati perubahan temperaturnya, serta mencatat temperatur final campuran tersebut.

5. Melakukan kegiatan butir 1 sampai butir 3 diatas dengan logam yang jenisnya berbeda tetapi massa logam berbeda atau massa air berbeda.

6. Melakukan kegiatan butir 1 sampai butir 4 diatas dengan logam lain yang jenisnya berbeda.

E. Data pengamatanF. A

Translate ThisG. Pembahasan

Pada percobaan kalorimeter bertujuan mengetahui asas black, memahami asas kerja kalorimeter, menentukan kalor jenis logam menggunakan kalorimeter, menentukan kalor jenis bahan logam dalam kalorimeter, menentukan kalor laten penguapan menggunakan kalorimeter.Dalam percobaan ini berlaku asas black yaitu jumlah kalor yang diterima sama dengan jumlah kalor yang dilepas.Kalorimeter pada percobaan ini berfungsi mengukur banyaknya kalor yang terjadi dalam sistem tertutup, agar kalor hanya terjadi pertukaran pada sistem dan tidak mengalir ke lingkungan.

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, pada analisis data didapatkan nilai kapasitas kalorimeter sebesar (175,5944056 +- 20,69399916) J/K dengan kesalahan relatif sebesar 11,78511302% dan ketelitian mencapai 88,21488698%.Perhitungan data kapasitas kalorimeter (c kal) digunakan untuk mendapatkan kalor jenis logam (cL) beberapa bahan padat.Pada eksperimen pertama didapatkan data : massa kalorimeter kosong 136 gram, pada percobaan itu, massa air dingin yang digunakan 300 gram, air panas 100 gram, sedangkan suhu air dingin 21o C dan air panas 54o C, dan suhu campuran sebesar 28o C.Dan setelah itu dilakukan perhitungan dengan rumus asas black, air panas melepas kalor, sedangkan kalorimeter dan air dingin menyerap kalor.Pertukaran kalor dianggap hanya dari air panas, air dingin, dan kalorimeter dengan pengaduknya.Rumus 1Pada percobaan tersebut didapatkan nilai kapasitas kalor sebesar 190,2272727 J/K.Pada percobaan kedua, dengan massa dan suhu yang berbeda di dapatkan kapasitas kalor sebesar 160,9615 J/K.Dan rata – rata dari data tersebut didapatkan 175,5944056 J/K.

Sedangkan pada percobaan kedua untuk menentukan kalor jenis beberapa bahan padat, dugunakan logam tembaga dan aluminium.Untuk mendapatkan kalor jenisnya digunakan asas black. Sesuai asas black kalor yang diserap oleh kalorimeter dan air dingin sama dengan kalor yang dilepas oleh logam panas.Rumus 2Dari percobaan kalor jenis aluminium, digunakan variasi massa air dan suhu sistem dengan nilai kalor jenisnya (29576,32675 +- 13452,56089) J/K, dengan kesalahan relatif 45,48421786% dan ketelitian 54,51578214%.Sedangkan logam tembaga, kalor jenisnya sebesar (9261,742547 +- 5608,343081) J/K, dengan kesalahan relatif 60,55386502% dan ketelitian 39,44613498%.

Berdasarkan data yang diperoleh pada kedua kalor jenis didapatkan nilai ketelitian yang cukup kurang yaitu 54,51578214% & 39,44613498%. Hal ini disebabkan karena :a. Kalorimeter tidak diletakan dalam kulkas, sehingga suhunya tidak beberapa derajat di

bawah suhu kamarb. Adanya kalor yang lepas pada saat pencampuranc. Pengamatan skala termometer kurang telitid. Kesalahan dalam peritungan suhu ataupun pelepasan kalorTampak bahwa kalor jenis alumium lebih besar dari pada tembaga.Hal ini menyebabkan logam alumunium lebih panas jika dipanaskan atau lebih lebih cepat dingin jika didinginkan.

Dalam eksperimen tersebut ketika logam panas dan air dipertemukan dalam suatu sistem rolasi, maka akan terjadi proses pelepasan dan penerimaan kalor dari dua zat tersebut, sehingga keduanya akan mencapai kesetimbangan thermal yaitu suatu keadaan dimana sistem telah bercampur dan hingga mencapai suhu yang telah tidak ada pelepasan atau penerimaan kalor, hal ini dikenal dengan suhu final (akhir campuran).Dalam hal ini yang melepaskan kalor adalah yang bersuhu lebih tinggi yaitu logam, yang suhunya dianggap sama dengan air panas.Sedangkan yang menerima kalor adalah air dingin yang memiliki suhu lebih rendah.Hal ini sesuai dengan asa black, bahwa dalam sistem tertutup jumlah kalor yang dilepas sama dengan jumlah kalor yang diterima.Dan sesuai dengan hukum kekekalan energi, “enegi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan”.

Percobaan ini tidak mungkin mendapatkan ketelitian yang sempurna, hal ini dikarenakan adanya kasalahan dalam percobaan, yaitu :a. Salah berbuat

Kesalahan membaca skala termometer karena keterburuan waktu, selain itu adanya kalor yang terlepas ke lingkungan

b. Salah hitungMisalnya salah hitung dalam pembulatan

c. Kurangnya kekompakkan kelompokd. Terlalu terburu – buru dalam melakukan percobaan

e. Belum memahami praktikum yang dilakukanH. Kesimpulan

Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :1. Asaz black menyatakan bahwa besarnya kalor yang dilepas sama dengan kalor yang

diterima dalam suatu sistem tertutupQ Lepas = Q Terima

2. Kalorimeter adalah suatu alat yang dapat digunakan untuk mengukur kalor, dalam percobaan ini kalorimeter menggunakan prinsip dari asas black

3. Nilai kapasitas kalorimeter yang diperoleh sebesar (167,6682692 +- 9,484749613) J/K dengan ketelitian 88,21488698%

4. Kalor jenis logam Aluminium sebesar (29576,32675 +- 13452,56089) J/K dengan ketelitian 54,51578214%. Serta kalor jenis logam tembaga sebesar (9261,742547 +- 5608,343081) J/K dengan ketelitian 39,44613498%

I. Saran1. Sebaiknya pratikan lebih memahami materi dengan baik termasuk cara kerjanya2. Sebaiknya menggunakan kalorimeter yang kondisinya masih baik, agar data yang

dihasilkan lebih akurat.3. Usahakan tidak ada kalor yang lepas saat pencampuran4. Praktikan seharusnya lebih teliti dalam melakukan pengukuran, misalnya massa, suhu

benda, ect5. Praktikan seharusnya lebih tau dan menggunakan alat dengan sesuai yang dibutuhkan,

misalnya saar menggunakan pemanas air.

Tugas akhir

Kesimpulan : perbedaan nilai kalor jenis logam disebabkan oleh logam yang berbeda

Sumber – sumber kesalahan :

a. Salah berbuatKesalahan membaca skala termometer, penggunaan kalorimeter, adanya kalor yang terlepas ke lingkungan, kurang sabar dalam berbuat

b. Salah hitung Misalnya salah hitung dalam pembulatan

Saran untuk memperbaiki percobaan ini

a. Praktikan memahami praktikum dengan baik sebelum melaksanakan praktikumb. Praktikan harus lebih teliti dalam melakukan pengukuran massa, suhu, dan perhitunganc. Praktikan harus mengerti dalam menggunakan kalorimeter dengan baik

A. Discussion

In experiments aimed to know the principles of black calorimeter, understand the working principle of the calorimeter, determine the specific heat of metal using a calorimeter, determine the specific heat of metallic materials in the calorimeter, determine the latent heat of vaporization using a

calorimeter. In this experiment we apply the principle of black which is the amount of heat received equals the amount of heat released. Calorimeter for this experiment to measuring the amount of heat that occurs in a closed system, so that the heat exchange occurs only on the system and does not flow into the environment.

Based on experiments that have been carried out, the analysis of data obtained by the calorimeter capacity value (+ 175.5944056 - 20.69399916) J / K with a relative error of 11.78511302% and 88.21488698% accuracy achieved. The calculation of data capacity calorimeter (C cal) was used to obtain specific heat of metal (CL) some solid material. In the first experiment obtained data: the mass of the empty calorimeter 136 grams, the experiment, the mass of cold water that is used 300 grams, 100 grams of hot water, while the temperature of the cold water is 21o C and hot water is 54o C, and the temperature of the mixture at 28o C. And after it's done with a formula calculation principle of black, hot off the heat, while the calorimeter and chilled water absorbs heat. Heat exchange is considered only from the hot water, cold water, and calorimeter with stirrer. Formula 1 In these experiments obtained heat capacity value of 190.2272727 J / K. In the second experiment, with different masses and temperatures in getting heat capacity of 160.9615 J / K. And - average of the data obtained 175.5944056 J / K.

While in the second experiment to determine specific heat some solid materials, copper and aluminum metal dugunakan. To get the kind of heat is used the principle of black. As per the principle of black heat absorbed by the calorimeter and cold water equal to the heat released by hot metal. Formula 2 From the experimental specific heat of aluminum, used water mass variations and system temperature with calorific value type (+ 29576.32675 - 13452.56089) J / K, with a relative error of 45.48421786% and 54.51578214% accuracy. While copper metal, the heat kind of (+ 9261.742547 - 5608.343081) J / K, with a relative error of 60.55386502% and 39.44613498% accuracy.

Based on the data obtained on both the specific heat values obtained are less sufficient accuracy 54.51578214% and 39.44613498%. This is because: a. Calorimeter was not placed in the refrigerator, so the temperature is not a few degrees below room temperature b. The existence of the heat off when mixing c. Observations inaccurate thermometer scale d. Errors in temperature or heat release peritungan It appears that the specific heat alumium greater than copper. This causes more heat the metal aluminum when heated or cold faster when cooled.

In the experiment when the hot metal and water in a system rolasi met, there will be a process of heat release and acceptance of the two substances, so they will reach thermal equilibrium is a state where the system has been mixed, and until it reaches the temperature that has been no release or acceptance of heat, this is known as the final temperature (final mix). In this case, the release of heat is the temperature the higher the metal, which is considered the same as the temperature of hot water. While receiving the heat is cold water that has a temperature lower. This is consistent with black despair, that in a closed system the amount of heat equal to the amount of heat released received. And according to the law of conservation of energy, "waterwheel can not be created or destroyed".

This experiment may not get perfect accuracy, this is due to error in the experiment, namely: Wrong work

Error reading the thermometer scale because keterburuan time, in addition to the heat released into the environment Miscount For example, one count rounding Lack kekompakkan group Too rush - rush the experiment e. Not to understand the lab work done

B. Conclusion Based on experiments that have been carried out can be concluded that: 1. Black principle states that the magnitude of heat that is released together with the heat received in a closed system Q = Q Thank Release 2. Calorimeter is an instrument that can be used to measure the heat, in these experiments the calorimeter using the principles of fundamental black 3. Calorimeter capacity value obtained for (+ 167.6682692 - 9.484749613) J / K with 88.21488698% accuracy 4. Specific heat of aluminum metal (+ 29576.32675 - 13452.56089) J / K with 54.51578214% accuracy. And the specific heat of copper metal (+ 9261.742547 - 5608.343081) J / K with 39.44613498% accuracy C. Suggestion Pratikan should better understand the material well, including how it works We recommend using a calorimeter whose condition is still good, so that the resulting data is more accurate. There should be no loose heat when mixing Experimentalist should have been more careful in measuring, for example, mass, body temperature, ect 5. Practitioner should know better and use the tools as needed, for example, saar use water heaters.

The final task Conclusion: The differences in the value of specific heat of metal caused by different metals

Sources - sources of error: a. One did Error reading the thermometer scale, the use of the calorimeter, the heat is released into the environment, lack of patience in doing Miscount For example, one count rounding Suggestions for improving this experiment Experimentalist understands lab well before carrying out lab Experimentalist should be more careful in measuring the mass, temperature, and calculations Practitioner should understand well in using calorimeter

Humidity is level of water have more volume in air in thermal condition. In hot temperature, humidity is higher of in cold temperature. If air contains more water or have full water in inside, it also called saturated air.

Pada praktikum ini, bertujuan untuk menentukan kelembaman udara di laboratorium fisika UNNES. Kami menggunakan higrometer titik embun. Pada percobaan ini, kami mendapatkan tekanan udara di ruangan itu sebesar 769 mmHg, dan dengan suhu 28o C untuk pojok ruangan dan 29o C untuk daerah dekat jendela. Perbedaan suhu ini terjadi karena ada bagian di ruangan yang terkena sinar matahari dan ada yang tidak, sehingga kami berinisiatif untuk melakukan perhitungan di kedua tempat tersebut.

Praktikum kali ini kami mulai dengan memasukan ester ke dalam 2 higrometer yang sudah tersusun, kemudian kami nyalakan pompa udaranya. Dan kami mengamati dan mencatat suhunya di bagian munculnya embun dan menghilangnya embun. Percobaan ini membutuhkan kesabaran dan ketelitian dalam mengambil data praktikum.

????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

Pada praktikum ini, kami melakukan tata cara sesuai pada langkah kerja, akan tetapi kami menggunakan dua alat. Pada higrometer pertama, suhu udaranya (dalam lab) adalah 28oC, dan posisinya berada di pojok dan kurang terkena sinar matahari karena tertutup rimbunnya daun. Pada praktikum pertama, kami mendapatkan suhu basahnya sebesar 19oC dan suhu keringnya 20oC. Suhu ini tercapai karena pengaruh cuaca yang malamnya hujan. Pada praktikum kedua, kami mendapatkan suhu basahnya sebesar 20oC dan suhu keringnya 21oC. Ini terjadi karena suhu udaranya berubah – ubah. Pada praktikum ketiga, kami mendapatkan suhu basahnya sebesar 20oC dan suhu keringany 21oC. Datanya kelihatannya sama dengan praktikum kedua, akan tetapi suhunya telah berubah, dari 28oC menjadi 29oC.

Pada higrometer kedua, kami mendapatkan suhu udara sebesar 29oC, dan posisinya terletak di dekat jendela yang berhubungan dengan cahaya matahari. Pada praktikum keempat, kami mendapatkan suhu basahnya sebesar 19oC dan suhu keringnya 20oC. Ini terjadi karena waktu mendapatkan data ini, pada higrometer 1 telah mendapat praktikum ke 3. Sebenarnya masih ada satu data yang bisa kami dapatkan, akan tetapi waktu praktikumnya sudah habis, sehingga kami membatalkannya.

????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????????

Kami mendapatkan data yang cukup konstants, tetapi berbeda. Dari percobaan ini, kami mendapatkan kelembapan udara di laboratorium fisika UNNES sebesar 0,564915 +- 0,020937 (?), dengan ketepatan 96,29376 %.

Kesalahan – kesalahan yang terjadi dalam praktikum dapat disebabkan oleh hal – hal seperti berikut:

a. Kelembapan udara di ruangan itu masih mengalami perubahan.b. Praktikan kurang sabar dalam mengamati dan menentukan suhu dimana muncul embun dan

menghilangnya embun.c. Salah satu higrometer yang digunakan kurang efektif atau keadaannya tidak sesuai untuk

praktikum.

Kesimpulan

1. Asas kerja higrometer yang digunakan pada praktikum ini (dew-point higrometer) yaitu menguapkan ester yang terdapat dalam higrometer dan mengukur atau mengamati suhu pada termometer saat terjadi pengembunan (muncul embun) sampai hilangnya embum.

2. Menentukan kelembaman udaraDalam praktikum ini digunakan higrometer titik embun. Kelembapan udara dicari dengan menentukan suhu saat mulai terjadi pengembunan dan suhu saat embun habis. Kemudian mencari tekanan menggunakan rumus P = Pm-0,000666B(t-tb) dan kemudian mencari kelembapan relatif dengan rumus Q/=P/Pm, dari sini dapat menentukan kelembapan udara ruangnnya.

3. Dari percobaan yang telah dilakukan, didapatkan tekanan udara di laboratorium fisika UNNES pada tanggal 16 oktober 2012 sebesar 0,564915 +- 0,020937 (?), dengan ketepatan 96,29376 %.

Saran

1. Sebelum praktikum, sebaiknya semua alat di cek keadaanya, layak atau tidak untuk praktikum.

2. Sebaiknya lebih sabar dalam menunggu embun muncul.3. Sebaiknya menggunakan termometer dengan skala yang lebih terperinci dan menggunakan

tabel untuk menentukan kelembapan udara yang lebih lengkap.

Tugas akhir

1. (lap awal)2. Peralatan dan metode sudah dijelaskan di dasar teori dan cara kerja3. Langkah untuk memperoleh tujuan praktikum yang efektif

a. Mengecek dan memastikan alat – alat yang digunakan berfungsi dengan baikb. Memahami konsep dan langkah kerjac. Melaksanakan praktikum dengan benar dan sesuaid. Bekerjasama dengan anggota kelompok

4. Contoh peristiwanyaa. Kelembapan udaranya tinggi

Kacang atom yang ditempatkan di udara terbuka (tidak ditutup) akan menjadi lunak. Hal ini disebabkan oleh udara luar mengandung uap air, sehingga uap air tersebut dapat melunakan kacang atom tersebut.

b. Kelembapan udaranya rendahKacang atom yang dimasukan dalam freezer tidak akan menjadi lunak walau tidak dibungkus. Hai ini disebabkan oleh ketidakadanya uap air di dalam freezer sehingga udara menjadi kering.

In this lab, aims to determine the inertia of the air in the laboratory of physics UNNES. We use dew-point hygrometers. In this experiment, we get the air pressure in the room was as big as 769 mm Hg, and a temperature of 28o C to 29o C corner and to the area near the window. This temperature difference occurs because there are parts exposed to the sun room and there were not, so we took the initiative to do the calculations in both places.

Practicum this time we started to include esters into 2 hygrometers are already arranged, then we turn on the air pump. And we observe and record the temperature on the appearance and disappearance of dew dew. This experiment requires patience and accuracy in taking the data lab.

In this lab, we perform the procedure according to the job step, but we use two tools. At first hygrometers, air temperature (in the lab) is 28oC, and the position is in the corner and less sunlight because of thick leaves covered. In the first lab, we get wet temperatures of 19oC and 20oC drying temperature. The temperature was achieved because of the rainy weather that night. In the second lab, we get wet temperatures of 20oC and 21oC drying temperature. This occurs because the air temperature change - change. In the third lab, we get wet temperatures of 20oC and 21oC temperature keringany. The data looks similar to a second lab, but the temperature has changed from 28oC to 29oC. In the second hygrometers, we get a temperature of 29oC, and its position is near the window associated with the sun. In the fourth lab, we get wet temperatures of 19oC and 20oC drying temperature. This occurs because the time to get this data, the lab has got Hygrometers 1 to 3. Actually there was one we could get the data, but praktikumnya time is up, so we canceled.

We get enough data konstants, but different. From this experiment, we get the humidity in the laboratory of physics UNNES + 0.564915 - 0.020937 (?), With 96.29376% accuracy. Errors - errors that occur in the lab can be caused by things - things like the following: a. Humidity in the room was still undergoing changes. b. Impatient experimentalist to observe and determine the temperature at which dew appearing and disappearing dew. c. One hygrometers are used less effective or not suitable for practical situation.

Conclusion 1. Hygrometers working principle used in this lab (dew-point hygrometers) are evaporating ester contained in hygrometers and measure or observe the temperature on the thermometer during the condensation (dew appears) until the loss embum. 2. Determining air inertia In this lab used dew-point hygrometers. Humidity sought to determine the current temperature and the temperature began to occur when dew condensation out. Then look up the pressure using the formula P = Pm-0, 000666B (t-tb) and then look for the relative humidity of the formula Q / = P / Pm, from here can determine humidity ruangnnya. 3. Of experiments have been conducted, the air pressure found in physics labs UNNES on 16th October 2012 by + 0.564915 - 0.020937 (?), With 96.29376% accuracy. Suggestion Before the lab, you should check all the tools in its state, worthy or not to practice. Should be more patient in waiting for the dew appears. -We recommend using a thermometer with a more detailed scale and use the table to determine the humidity is more complete. The final task (Early laps) Tools and methods are described in the basic theories and ways of working Steps to obtain the goal of effective practice

Checking and ensuring the tool - a tool used to function properly Understand the concept and action steps Implement practice properly and in accordance d. In collaboration with members of the group 4. Examples of events High air humidity Nuts atom is placed in the open air (not closed) will be soft. This is due to the outside air contains water vapor, so that moisture can soften the beans atom. Low air humidity Nuts atoms incorporated in the freezer will not be soft, though not wrapped. Hi this is caused by lack of moisture in the freezer so that the air is dry.

Tujuan

1. Memahami asas kerja mesin adwood2. Melakukan percobaan adwood untuk memperlihatkan berlakunya hukum newton3. Menentukan percepatan gravitasi bumi

Landasan teori

Berdasarkan intuisi, kita menggambarkan gaya sebagai semacam dorongan atau tarikan terhadap sebuah benda. Sebuah gaya memiliki arah dan besar, sehingga merupakan vektor. Lalu bagaimanakah hubungan yang tepat antara gaya dan gerak?

Dengan berdasarkan pemikiran aristotle dan galileo, isaac newton membangun teori geraknya yang terkenal. Analisis newton tentang gerak dirangkum dalam “3 hukum gerak”-nya yang terkenal, dalam karya besarnya, “Principia” (diterbitkan tahun 1687)

Hukum newton yang pertama berbunyi:

“Sebuah benda tetap pada keadaan awalnya yang diam atau bergerak dengan kecepatan sama kecuali ia dipengaruhi oleh suatu gaya tidak seimbang, atau gaya eksternal neto. (Gaya neto yang bekerja pada sebuah benda, juga dinamakan gaya resultan, adalah jumlah vektor semua gaya yang bekerja padanya. Fneto = EEF)

(Tipler)

Kita dapat menuliskan pernyataan diatas dengan :

“Jika EF=0, maka benda akan tetap diam atau ber-GLB”

Hukum 2 newton berbunyi :

“Percepatan sebuah benda berbanding lurus dengan gaya total yang bekerja padanya dan berbanding terbalik dengan massanya. Arah percepatan sama dengan arah gaya total yang bekerja padanya”

(Giancolli)

Bentuk persamaannya dapat kita tuliskan

(rumus 1)

Hukum 3 newton

“Untuk setiap aksi selalu terdapat reaksi yang sama besar dan berlawanan arah, atau, aksi timbal balik antara satu terhadap yang lain antara dua benda selalu sama besar, dan berarah ke bagian yang berlawanan”

(Halliday)

Atau dengan kata lain, apabila benda A memberi gaya pada benda B, maka B akan memberi gaya pada A dengan gaya yang sama besar tetapi berlawanan arah. Dapat kita tulis F(aksi) = -F(reaksi).

Dalam percobaan ini (Mesin adwood) kita akan membuktikan berlakunya hukum newton.

Grakan dari A ke B (ada tambahan beban m) : GLBB. Benda M1 akan bergerak dipercepat beraturan di atas, memenuhi persamaan :

(K Rumus 2)

Benda M2 dari titik A ke B bergerak dipercepat beraturan ke bawah, memenuhi persamaan :

(K Rumus 3)

Jika massa katrol dan Fg (gaya gesekan katrol) diperhitungkan, maka persamaan rotasi katrol :

(K Rumus 4)

Dengan mensubtitusikan persamaan (1), (2) ke (3), maka :

(K Rumus 5)

Dalam percobaan, kita gunakan M1=M1 dan M2=M+m (ada beban tambahan sebesar m), sehingga :

(K Rumus 6)

Untuk mengukur percepatan a diperlukan dua keadaan sistem yakni dipercepat beraturan atau GLBB (dari A ke B) dan beraturan atau GLB (dari B ke C). Dari A ke B sistem akan ber GLBB karena ada beban tambahan m, tetapi dari B ke C beban m akan tertahan sehingga sistem akan ber-GLB (jika dianggap Fg cukup kecil). Jika waktu dari A ke B adalah tAB dan jarak tempuhnya sAB akan diperoleh:

(K Rumus 7)

Dari persamaan (s), kita peroleh

(K Rumus 8)

Untuk gerak dari B ke C, jika waktu dari B ke C adalah tBC dan jarak tempuhnya sBC, maka:

(K Rumus 9)

Dari persamaan (6), (7) dan (9), kita peroleh

(K Rumus 10)

Bila katrol dianggap silinder pejal dengan massa Mk, maka momen Inersia katrol adalah (Rumus 11)

Dengan menggunakan persamaan (7) dan (10) kita dapat menentukan nilai g dan Fg. Pertama kita eliminasi nilai Fg, maka akan kita dapatkan nilai g. Jika nilai g sudah didapat maka nilai Fg juga akan kita dapatkan dengan mudah.

C. Alat dan bahan1. Mesin atwood yang terdiri dari

a. Tiang berskala T pada ujung atas katrol K, berjari – jari Rb. Tali penggantung yang massanya dapat diabaikanc. Dua beban silinder M1 dan M2 yang massanya sama masing – masing M diikatkan pada

ujung – ujung talid. Beberapa massa beban tambahan m (massanya bervariasi)e. Klem/ penggenggam, pegas, penahan beban m (beban tambahan), berlubang, penahan

beban M2 (tak berlubang)2. Neraca teknis3. Dua buah stopwatchD. Langkah – langkah percobaan1. Menimbang massa M1, dan M2, demikian juha m(menggunakan berbagai nilai m, misal : 1,

2, 3, 4, ..., x gram) dan Mk (massa katrol)2. Menentukan posisi titik A, B dan C, mengukur sAB dan sBC.3. Memasang tali dan beban – beban, memeriksa dan mengusahakan agar gesekan sekecil

mungkin4. Memasang M1 pada klem/penggenggam dengan pegas S, dan (M2+m) pada posisi A,

kemudian melepaskan M1 dari klem, dan mencatat waktu yang diperlukan oleh M1 dari A ke B atau tAB dan oleh (M2+m) dari B ke C atau tBC.

5. Mengulangi percobaan di atas untuk beban tambahan m yang lain.

Machine Adwood Destination 1. Understand the working principle of the machine adwood 2. Conduct experiments to demonstrate the force of law adwood newton 3. Determine the acceleration of gravity The foundation of the theory By intuition, we describe such a force as a push or pull on an object. A force has a direction and magnitude, so it is a vector. Then how is the exact relationship between force and motion? On the basis of thought aristotle and galileo, isaac newton build the famous theory of motion. Analysis of motion newton summarized in the "three laws of motion" of his famous, in his great work, "Principia" (published in 1687) Newton's first law reads: "An object remains at its initial state at rest or moving at the same speed unless it is affected by an unbalanced force, or a net external force. (Net force acting on an object, also called the resultant force, is the vector sum all the forces acting on it. Fneto = EEF) (Tipler) We can write the above statement with: "If EF = 0, then the object will remain stationary or air-GLB" Newton second law reads: "Acceleration of an object is directly proportional to the net force acting on it and inversely proportional to its mass. Direction of acceleration equal to the direction of the net force acting on it " (Giancolli) Form the equation we can write