Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat(1)

Embed Size (px)

DESCRIPTION

keraton jogja

Text of Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat(1)

  • Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

    Gedhong Kaca, Museum Hamengku Buwono IX Keraton Ngayo-gyakarta Hadiningrat

    Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat atau Ke-raton Yogyakarta (bahasa Jawa: Hanacaraka, ) merupakan istanaresmi Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yangkini berlokasi di Kota Yogyakarta, Daerah IstimewaYogyakarta, Indonesia. Walaupun kesultanan tersebutsecara resmi telah menjadi bagian Republik Indonesiapada tahun 1950, kompleks bangunan keraton ini masihberfungsi sebagai tempat tinggal sultan dan rumah tanggaistananya yang masih menjalankan tradisi kesultananhingga saat ini. Keraton ini kini juga merupakansalah satu objek wisata di Kota Yogyakarta. Sebagiankompleks keraton merupakan museum yang menyimpanberbagai koleksi milik kesultanan, termasuk berbagaipemberian dari raja-raja Eropa, replika pusaka keraton,dan gamelan. Dari segi bangunannya, keraton inimerupakan salah satu contoh arsitektur istana Jawayang terbaik, memiliki balairung-balairung mewah danlapangan serta paviliun yang luas.[1]

    1 Sejarah

    Sultan Hamengkubuwono VIII menerima kunjungan kehormat-an Gubernur Jenderal Hindia Belanda Bijleveld di Keraton Yo-gyakarta, sekitar tahun 1937.

    Keraton Yogyakarta mulai didirikan oleh Sultan Ha-mengku Buwono I beberapa bulan pasca Perjanjian Gi-yanti pada tahun 1755. Lokasi keraton ini konon ada-lah bekas sebuah pesanggarahan[2] yang bernama Garji-tawati. Pesanggrahan ini digunakan untuk istirahat iring-iringan jenazah raja-raja Mataram (Kartasura dan Su-rakarta) yang akan dimakamkan di Imogiri. Versi la-in menyebutkan lokasi keraton merupakan sebuah mataair, Umbul Pacethokan, yang ada di tengah hutan Ber-ingan. Sebelum menempati Keraton Yogyakarta, SultanHamengku Buwono I berdiam di Pesanggrahan AmbarKetawang yang sekarang termasuk wilayah KecamatanGamping Kabupaten Sleman[3].Secara sik istana para Sultan Yogyakarta memiliki tu-juh kompleks inti yaitu Siti Hinggil Ler (Balairung Uta-ra), Kamandhungan Ler (Kamandhungan Utara), Sri Ma-nganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul(Kamandhungan Selatan), dan Siti Hinggil Kidul (Balai-rung Selatan)[4][5]. Selain itu Keraton Yogyakarta memi-liki berbagai warisan budaya baik yang berbentuk upa-cara maupun benda-benda kuno dan bersejarah. Di sisilain, Keraton Yogyakarta juga merupakan suatu lembagaadat lengkap dengan pemangku adatnya. Oleh karenanyatidaklah mengherankan jika nilai-nilai loso begitu pulamitologi menyelubungi Keraton Yogyakarta. Dan untukitulah pada tahun 1995 Komplek Keraton Ngayogyakar-ta Hadiningrat dicalonkan untuk menjadi salah satu SitusWarisan Dunia UNESCO.

    1

  • 2 2 TATA RUANG DAN ARSITEKTUR UMUM

    2 Tata ruang dan arsitektur umumArsitek kepala istana ini adalah Sultan HamengkubuwanaI, pendiri Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat. Ke-ahliannya dalam bidang arsitektur dihargai oleh ilmuw-an berkebangsaan Belanda, Theodoor Gautier ThomasPigeaud dan Lucien Adam yang menganggapnya seba-gai arsitek dari saudara Pakubuwono II Surakarta"[6].Bangunan pokok dan desain dasar tata ruang dari kera-ton berikut desain dasar landscape kota tua Yogyakarta[7]diselesaikan antara tahun 1755-1756. Bangunan lain ditambahkan kemudian oleh para Sultan Yogyakarta beri-kutnya. Bentuk istana yang tampak sekarang ini sebagianbesar merupakan hasil pemugaran dan restorasi yang di-lakukan oleh Sultan Hamengku Buwono VIII (bertahtatahun 1921-1939).

    2.1 Tata ruang

    Koridor di Kedhaton dengan latar belakang Gedhong Jene danGedhong Purworetno

    Dahulu bagian utama istana, dari utara keselatan, dimu-lai dari Gapura Gladhag di utara sampai di Plengkung[8]Nirboyo di selatan. Bagian-bagian utama keraton Yo-gyakarta dari utara ke selatan adalah: Gapura Gladag-Pangurakan; Kompleks Alun-alun Ler (Lapangan Uta-ra) dan Mesjid Gedhe (Masjid Raya Kerajaan); Kom-pleks Pagelaran, Kompleks Siti Hinggil Ler, KompleksKamandhungan Ler; Kompleks Sri Manganti; KompleksKedhaton; Kompleks Kamagangan; Kompleks Kaman-dhungan Kidul; Kompleks Siti Hinggil Kidul (sekarangdisebut Sasana Hinggil); serta Alun-alun Kidul (Lapang-an Selatan) dan Plengkung Nirbaya yang biasa disebutPlengkung Gadhing[9][10].Bagian-bagian sebelah utara Kedhaton dengan sebelahselatannya boleh dikatakan simetris. Sebagian besar ba-gunan di utara Kompleks Kedhaton menghadap arah uta-ra dan di sebelah selatan Kompleks Kedhaton menghadapke selatan. Di daerah Kedhaton sendiri bangunan keba-nyakan menghadap timur atau barat. Namun demikianada bangunan yang menghadap ke arah yang lain.Selain bagian-bagian utama yang berporos utara-selatankeraton juga memiliki bagian yang lain. Bagian ter-sebut antara lain adalah Kompleks Pracimosono, Kom-

    pleks Roto Wijayan, Kompleks Keraton Kilen, Kom-pleks Taman Sari, dan Kompleks Istana Putra Mahkota(mula-mula Sawojajar kemudian di nDalem Mangkubu-men). Di sekeliling Keraton dan di dalamnya terdapatsistem pertahanan yang terdiri dari tembok/dinding Ce-puri dan Baluwerti. Di luar dinding tersebut ada bebera-pa bangunan yang terkait dengan keraton antara lain TuguPal Putih, Gedhong Krapyak, nDalem Kepatihan (IstanaPerdana Menteri), dan Pasar Beringharjo.

    2.2 Arsitektur umum

    Bangsal Sri Manganti tempat pertunjukan tari dan seni karawitangamelan di Kraton Yogyakarta.

    Salah satu bangunan Tratag dalam kompleks keraton.

    Secara umum tiap kompleks utama terdiri dari halamanyang ditutupi dengan pasir dari pantai selatan, bangun-an utama serta pendamping, dan kadang ditanami po-hon tertentu. Kompleks satu dengan yang lain dipisahkanoleh tembok yang cukup tinggi dan dihubungkan denganRegol[11] yang biasanya bergaya Semar Tinandu[12] . Da-un pintu terbuat dari kayu jati yang tebal. Di belakangatau di muka setiap gerbang biasanya terdapat dindingpenyekat yang disebut Renteng atau Baturono. Pada re-gol tertentu penyekat ini terdapat ornamen yang khas.Bangunan-bangunan Keraton Yogyakarta lebih terlihatbergaya arsitektur Jawa tradisional. Di beberapa bagi-an tertentu terlihat sentuhan dari budaya asing seperti

  • 3.2 Alun-alun Lor 3

    Portugis, Belanda, bahkan Cina. Bangunan di tiap kom-pleks biasanya berbentuk/berkonstruksi Joglo atau deri-vasi/turunan konstruksinya. Joglo terbuka tanpa dindingdisebut dengan Bangsal sedangkan joglo tertutup din-ding dinamakan Gedhong (gedung). Selain itu ada ba-ngunan yang berupa kanopi beratap bambu dan bertiangbambu yang disebut Tratag. Pada perkembangannya ba-ngunan ini beratap seng dan bertiang besi.Permukaan atap joglo berupa trapesium. Bahannya ter-buat dari sirap, genting tanah, maupun seng dan biasanyaberwarna merah atau kelabu. Atap tersebut ditopang olehtiang utama yang di sebut dengan Soko Guru yang bera-da di tengah bangunan, serta tiang-tiang lainnya. Tiang-tiang bangunan biasanya berwarna hijau gelap atau hitamdengan ornamen berwarna kuning, hijau muda, merah,dan emas maupun yang lain. Untuk bagian bangunan la-innya yang terbuat dari kayu memiliki warna senada de-ngan warna pada tiang. Pada bangunan tertentu (misalManguntur Tangkil) memiliki ornamen Putri Mirong, sti-lasi dari kaligra Allah, Muhammad, dan Alif Lam MimRa, di tengah tiangnya.Untuk batu alas tiang, Ompak, berwarna hitam dipadu de-ngan ornamen berwarna emas. Warna putih mendomina-si dinding bangunan maupun dinding pemisah kompleks.Lantai biasanya terbuat dari batu pualam putih atau dariubin bermotif. Lantai dibuat lebih tinggi dari halamanberpasir. Pada bangunan tertentu memiliki lantai utamayang lebih tinggi[13]. Pada bangunan tertentu dilengka-pi dengan batu persegi yang disebut Selo Gilang tempatmenempatkan singgasana Sultan.Tiap-tiap bangunan memiliki kelas tergantung pada fung-sinya termasuk kedekatannya dengan jabatan pengguna-nya. Kelas utama misalnya, bangunan yang dipergunakanoleh Sultan dalam kapasitas jabatannya, memiliki detailornamen yang lebih rumit dan indah dibandingkan de-ngan kelas dibawahnya. Semakin rendah kelas bangunanmaka ornamen semakin sederhana bahkan tidak memili-ki ornamen sama sekali. Selain ornamen, kelas bangunanjuga dapat dilihat dari bahan serta bentuk bagian atau ke-seluruhan dari bangunan itu sendiri.[14]

    3 Kompleks depan

    3.1 Gladhag-Pangurakan

    Gerbang utama untuk masuk ke dalam kompleks Kera-ton Yogyakarta dari arah utara adalah Gapura Gladhagdan Gapura Pangurakan[15] yang terletak persis bebera-pa meter di sebelah selatannya. Kedua gerbang ini tam-pak seperti pertahanan yang berlapis[16]. Pada zamannyakonon Pangurakan merupakan tempat penyerahan suatudaftar jaga atau tempat pengusiran dari kota bagi merekayang mendapat hukuman pengasingan/pembuangan[17].Versi lain mengatakan ada tiga gerbang yaitu Gapura Gla-dhag, Gapura Pangurakan nJawi, dan Gapura Pangurak-

    an Lebet[18]. Gapura Gladhag dahulu terdapat di ujungutara Jalan Trikora (Kantor Pos Besar Yogyakarta danBank BNI 46) namun sekarang ini sudah tidak ada[19].Di sebelah selatannya adalah Gapura Pangurakan nJawiyang sekarang masih berdiri dan menjadi gerbang per-tama jika masuk Keraton dari utara. Di selatan GapuraPangurakan nJawi terdapat Plataran/lapangan Pangurak-an yang sekarang sudah menjadi bagian dari Jalan Triko-ra. Batas sebelah selatannya adalah Gapura PangurakanLebet yang juga masih berdiri[19]. Selepas dari GapuraPangurakan terdapat Kompleks Alun-alun Ler.

    3.2 Alun-alun Lor

    Tanah lapang, Alun-alun Lor, di bagian utara kraton Yogya-karta dengan pohon Ringin Kurung-nya

    Alun-alun Lor adalah sebuah lapangan berumput[20] dibagian utara Keraton Yogyakarta. Dahulu tanah lapangyang berbentuk persegi ini dikelilingi oleh dinding pagaryang cukup tinggi[21]. Sekarang dinding ini tidak terlihatlagi kecuali di sisi timur bagian selatan. Saat ini alun-alun dipersempit dan hanya bagian tengahnya saja yangtampak. Di bagian pinggir sudah dibuat jalan beraspalyang dibuka untuk umum.Di pinggir Alun-alun ditanami deretan pohon Beri-ngin (Ficus benjamina; famili Moraceae) dan di tengah-tengahnya terdapat sepasang pohon beringin yang di-beri pagar yang di