Kelompok5 SSO

  • Published on
    13-Nov-2015

  • View
    9

  • Download
    7

Embed Size (px)

Transcript

<p>LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM FARMAKOLOGIPENGUJIAN EFEK ANTIKOLINERGIKKELOMPOK 1(Selasa/07.00-10.00)Selasa, 15 Maret 2011/Putri Aryuni 260110100001(Pembahasan)</p> <p>Hana Nopia260110100002(Pembahasan)</p> <p>Sri Rahyu Evrilia 260110100003(Perhitungan dan Grafik)</p> <p>Aprilya Eka Pratiwi 260110100004(Tujuan, Prinsip, Alat, Bahan, Prosedur)</p> <p>Veni Alviany 260110100005(Pembahasan)</p> <p>Ahmad Hanif S.260110100006(Editor dan Kesimpulan)</p> <p>Ulfa Tri Wahyunie260110100007(Teori dasar)</p> <p>LABORATORIUM FARMAKOLOGIFAKULTAS FARMASIUNIVERSITAS PADJADJARAN2012PENGUJIAN EFEK SISTEM SYARAF OTONOM </p> <p>I. TUJUANSetelah menyelesaikan percobaan ini diharapkan mahasiswa:1. Menghayati secara lebih baik pengaruh berbagai obat dalam pengendalian fungsi-fungsi vegetatif tubuh2. Mengenal suatu teknik untuk mengevaluasi aktivitas obat antikolinergik pada neoroefektor parasimpatikus</p> <p>II. PRINSIP</p> <p>III. TEORI DASAR1. Atropin Sulfat</p> <p>Pemerian: Hablur tidak berwarna atau serbuk putih, tidak berbau, sangat pahit, sangat beracunKelarutan: larut dalam kurang dari 1 bagian air dan dalam lebih kurang 3 bagian etanol. Sukar larut dalam kloroform dan praktis tidak larut dalam eter dan benzenPenyimpanan: dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahayaKhasiat: parasimpatolitikumDM: sekali 1mg, sehari 3mg (Depkes RI, 1979.)2. Pilokarpin Nitrat</p> <p>Pemerian: Hablur, tidak berwarna atau serbuk putih, tidak berbau, rasa pahit, sangat beracunKelarutan: Mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol, praktis tidak larut dalam kloroform dan eterPenyimpanan: wadah tertutup rapat, terlindung dari cahayaKhasiat: ParasimpatomimetikDM: sekali 20mg, sehari 50mg (Depkes RI. 1979)3. Obat Sistem Saraf OtonomObat otonom merupakan obat yang berefek pada berbagai bagian susunan saraf otonom, mulai dari sel saraf sampai sel efektor dan mempengaruhi secara spesifik serta bekerja pada dosis kecil. Dapat mempengaruhi transmisi neurohumoral dengan cara menghambat atau mengintensifkan. Terdapat berbagai kemungkinan pengaruh obat pada transmisi sistem kolinergik ataupun adrenergik yaitu penghambat pelepasan transmitter, penyebab pelepasan transmitter, penghambat destruksi transmitter, perangsangan atau penghambatan pasca sambungan (Noor, 1998.). Menurut Efek Utamanya, maka obat sistem saraf otonom dapat dibagi menjadi 5 golongan. Yaitu: 1. Parasimpatomimetik atau kolinergik.Efeknya menyerupai aktivitas susunan saraf parasimpatis.2. Simpatomimetik atau adrenergik. Efeknya menyerupai aktivitas susunan saraf simpatis.3. Parasimpatolitik atau penghambat kolinergik. Kerjanya menghambat timbulnya efek aktivitas parasimpatis4. Simpatolitik atau penghambat adrenergik. Kerjanya menghambat timbulnya efek aktivitas saraf simpatis5. Penghambat ganglion, dengan kerja menghambat penerus impuls pada sinaps yang terdapat dalam ganglion. (Noor, 1998.) 4. KolinergikKolinergik atau Parasimpatomimetik adalah zat yang dapat menimbulkan efek yang sama dengan dengan stimulasi susunan saraf parasimpatis (SP), karena melepaskan neurohormon Asetilkolin di ujung-ujung neuronnya (Tjay, 2010).Efek kolinergis faal yang terpenting adalah sebagai berikut:1. Stimulasi pencernaan2. Menghambat sirkulasi3. Memperlambat pernafasan4. Penyempitan pupil5. Memperlancar pengeluaran urin6. Dilatasi pembuluh7. Menekan SSP (Tjay, 2010).Pada praktikum kali ini, zat kolinergik yang digunakan yaitu pilokarpin. Pilokarpin merupakan suatu alkaloid yang terdapat pada daun tanaman Pilocarpus jaborandi. Daya kerjanya terutama berkhasiat muskarin, efek nikotinnya ringan sekali. SSP permulaan distimulasi, kemudian ditekan aktivitasnya. Penggunaan utamanya adalah sebagai miotikum pada glaukoma. Efek miotisnya (dalam tetes mata) dimulai setelah 10-30 menit dan bertahan selama 4-8 jam. Toleransi dapat terjadi setelah digunakan untuk waktu yang lama yang dapat ditanggulangi dengan menggunakan kolinergik lain untuk beberapa waktu, misalnya karbachol atau neostigmin (Tjay, 2010).</p> <p>Keracunan pilokarpin jarang terjadi, kecuali pada pengobatan yang salah. Mungkin hal ini disebabkan oleh adanya hambatan absorpsi pada pemakaian menahun atau adanya suatu toleransi dosis, Dosis fatal untuk pilokarpin kira-kira 100 mg. (Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI, 2007).Keracunan alkaloid kolinergik diatasi dengan suntikan atropin dengan dosis yang cukup untuk mencapai SSP, ditambah dengan berbagai alat bantu untuk mendukung fungsi pernapasan dan kardiovaskular. Dosis 1-3 mg disuntikkan IM setiap 30 menit. Sedangkan unruk anak-anak digunakan dosis 0,04 mg/kgBB per kali. (Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI, 2007). 5. ANTIKOLINERGIKAntikolinergik atau simpatolitik melawan khasiat asetilkolin dengan jalan menghambat terutama reseptor-reseptor muskarin. Yang terdapat di SSP dan organ perifer. Zat-zat ini tidak bekerja terhadap reseptor nikotin kecuali golongan ammonium kuartener yang berdaya ringan terhadapnya (Milis, 2010).Kebanyakan antikolinergik tidak bekerja selektif bagi lima subtipe reseptor-M, Berefek terhadap banyak organ tubuh seperti mata, kelenjar eksokrin, paru-paru, jantung, saluran kemih, saluran lambung-usus dan SSP (Milis, 2010).Efek antikolinergik terpenting adalah sebagai berikut: Memperlebar pupil Mengurangi sekresi kelenjar Mengurangi tonus dan motilitas saluran lambung-usus, juga sekresi getah lambung. Dilatasi bronchi Meningkatkan frekuensi jantung dan mempercepat penerusan impuls di berkas His Merelaksasi otot detrusor yang menyebabkan pengosongan kandung kemih Merangsang SSP dan pada dosis tinggi menekan SSP(Departemen Farmakologi dan Terapeutik FKUI, 2007).Antikolinergik digunakan dalam farmakoterapi untuk bermacam-macam gangguan. Antara lain Sebagai midriatikum Sebagai spasmolitikum Pada inkonsistensi urin Pada parkinsonisme Pada asma dan bronchitis Sebagai pramedikasi, pra-bedah Sebagai anti mabuk di perjalanan Pada hiperhidrosus Sebagai zat penawar pada intoksikasi dengan zat penghambat kolinesterase(Tjay, 2010).Pada praktikum kali ini, zat antikolinergik yang digunakan adalah atropin. Atropin berasal dari tumbuhan Atropa belladona. Zat ini berkhasiat sebagai antikolinergik yang kuat dan merupakan antagonis khusus dari efek muskarin ACh. Efek nikotinnya diantagonir ringan sekali. Atropin juga memiliki daya kerja atas SSP (antara lain sedatif) dan daya bronchodilatasi ringan. Zat ini juga digunakan sebagai midriatikum kerja panjang yang juga melumpuhkan akomodasi, juga sebagai spasmolitikum pada kejang-kejang di saluran lambung-usus dan urogenital, sebagai pramedikasi pada anastesi dan zat antidotum keracunan ACh dan kolinergika lain (Tjay, 2010).</p> <p>IV. ALAT DAN BAHANHewan Percobaan: 3 ekor Mencit jantan, memiliki bobot badan antara 20-25g dipuasakan sebelum percobaan (6 jam)A. Alat : Papan berukuran 40cm x 30cm yang dibuat permukaannya tidak rata dan sudah d berikan metilen blue Timbangan hewan Alat suntik 1ml Alat sonde 1ml Stopwach Wadah penyimpan mencitB. Bahan: Uretan (1,8 g/kg BB) Antropin 0,04% (1mg/kg BB) p.o. Pilocarpin 0,02% (2mg/kg BB) s.c. Gom Arab 3%</p> <p>V. PROSEDURHal pertama yang dilakukan yaitu mencit ditimbang untuk mengetahui berat badannya. Setelah itu, setiap mencit dihitung berapa jumlah obat yang dapat diberikan secara peroral dan intraperitonial dengan rumus</p> <p>dan jumlah obat yang diberikan secara subkutan dengan rumus</p> <p>Dengan X = berat badan mencit. Setelah itu, mencit ditandai dan diberi semua uretan yang disuntikan pada interperitoneal dan dibagi menjadi 3 kelompok. Setelah semua mencit diberikan uretan pada mencit pertama langsung diberikan atropin peroral, mencit kedua didiamkan dulu 15menit kemudian diberikan atropin subkutan, mencit ketiga langsung diberikan gom arab. Tunggu selama 45menit baru masing-masing mencit disuntikan pilokarpin dan disimpan diatas papan tersebut selama 25menit. Setiap 5menit sekali mencit ditarik dari papan agar bisa melihat saliva yang menetes pada kotak tersebut. Diameter saliva yang menetes ditandai oleh spidol dan diukur, kemudian data hasilnya dibuat grafik inhibisi per satuan waktu.</p> <p>VI. DATA PENGAMATAN DAN PERHITUNGANKel HewanWaktu pemberian obat</p> <p>015'45'</p> <p>IAtropin poUretran ip-Pilokarpin sc</p> <p>IIUretran ipAtropin scPilokarpin sc</p> <p>IIIUretran ip-Pilokarpin sc</p> <p>1) Kelompok SatuBerat Badan Mencit 1: 13,5gramDosis (Po &amp; Ip) : 13,5/20 x 0,5 ml = 0,3375 ml Dosis (Sc) : 13,5/20 x 0,25ml = 0,168mlBerat Badan Mencit 2: 17,2 gramDosis ( Po &amp; Ip) : 17,2/20 x 0,5ml=0,43ml Dosis (Sc) : 17,2/20 x 0,25ml =0,215mlBerat Badan Mencit 3 : 17,3 gramDosis (Po &amp; Ip) : 17,3/20 x 0,5 ml = 0,43ml Dosis (Sc) : 17.3/20 x 0,25 = 0,216ml</p> <p>waktuLuas saliva</p> <p>IIIIII</p> <p>50,7cm0,4cm1,6cm</p> <p>100,6cm-0,3cm</p> <p>151cm0,1cm-</p> <p>200,9cm0,9cm-</p> <p>250,8cm0,8cm-</p> <p>Rata-rata0,8cm0,52cm0,38cm</p> <p>% inhibisi atropin po = rata-rata saliva kontrol rata-rata saliva uji X100% Rata-rata saliva kontrol = 0,38cm 0,8cm x 100% = -100,52 % 0,38cm% inhibisi atropin sc= rata-rata saliva kontrol rata-rata saliva uji X 100% Rata-rata saliva kontrol = 0,38cm- 0,52cmx 100%= -36,84% 0,38cm2) Kelompok DuaBerat Badan Mencit 1: 16,1gramDosis (Po &amp; Ip) : 16,1/20 x 0,5 ml = 0,402ml Dosis (Sc) : 16,1/20 x 0,25ml = 0,2mlBerat Badan Mencit 2 : 16,6 gramDosis ( Po &amp; Ip) : 16,6/20 x 0,5ml=0,41ml Dosis (Sc) : 16,6/20 x 0,25ml =0,2mlBerat Badan Mencit 3 : 19,6gramDosis (Po &amp; Ip) : 19,620 x 0,5 ml = 0,49ml Dosis (Sc) : 19,6/20 x 0,25 = 0,246mlwaktuLuas saliva</p> <p>IIIIII</p> <p>51cm0,4cm2,3cm</p> <p>101,8cm0,7cm1,3cm</p> <p>152,2cm0,5cm1,9cm</p> <p>202,1cm0,6cm2,3cm</p> <p>251,9cm0,8cm1,6cm</p> <p>Rata-rata1,8cm0,6cm1,88cm</p> <p> % inhibisi atropin po = rata-rata saliva kontrol rata-rata saliva uji X100% Rata-rata saliva kontrol = 1,88 cm 0,6cm x 100% = 68,08 % 1,88cm% inhibisi atropin sc= rata-rata saliva kontrol rata-rata saliva uji X 100% Rata-rata saliva kontrol = 1,88cm- 1,8cmx 100%= 4,52% 1,88cm</p> <p>3) Kelompok TigaBerat Badan Mencit 1: 28,5gramDosis (Po &amp; Ip) : 28,5/20 x 0,5 ml = 0,7125ml Dosis (Sc) : 28,5/20 x 0,25ml = 0,356mlBerat Badan Mencit 2 : 13,2 gramDosis ( Po &amp; Ip) : 13,2/20 x 0,5ml = 0,33ml Dosis (Sc) : 13,2/20 x 0,25ml = 0,165mlBerat Badan Mencit 3 : 16 gramDosis (Po &amp; Ip) : 16x 0,5 ml = 0,11ml Dosis (Sc) : 16/20 x 0,25 = 0,2mlwaktuLuas saliva</p> <p>IIIIII</p> <p>52cm0,2cm1cm</p> <p>101,5cm0,1cm0,9cm</p> <p>151,5cm0,1cm1cm</p> <p>203cm0,3cm1,1cm</p> <p>251cm0,2cm1,6cm</p> <p>Rata-rata1,8cm0,18cm1,12cm</p> <p>% inhibisi atropin po = rata-rata saliva kontrol rata-rata saliva uji X100% Rata-rata saliva kontrol = 1,12 cm1,8cm x 100% = -60,71 % 1,12cm</p> <p>% inhibisi atropin sc= rata-rata saliva kontrol rata-rata saliva uji X 100% Rata-rata saliva kontrol =1,12cm- 0,18cmx 100% = 83,92% 1,12cm4) Kelompok Empat</p> <p>Berat Badan Mencit 1: 19gram Dosis (Po &amp; Ip) : 19 /20 x 0,5 ml = 0,475ml Dosis (Sc) : 19/20 x 0,25ml = 0,2mlBerat Badan Mencit 2 : 19 gramDosis ( Po &amp; Ip) : 19/20 x 0,5ml = 0,475ml Dosis (Sc) : 19/20 x 0,25ml = 0,475mlBerat Badan Mencit 3 : 13gram Dosis (Po &amp; Ip) : 13x 0,5 ml = 0,325ml Dosis (Sc) : 13/20 x 0,25 ml = 0,16mlwaktuLuas saliva</p> <p>IIIIII</p> <p>5---</p> <p>10---</p> <p>150,75cm--</p> <p>201,8cm--</p> <p>252cm0,74cm-</p> <p>Rata-rata0,91cm0,14cm-</p> <p>% inhibisi atropin po = rata-rata saliva kontrol rata-rata saliva uji X100% Rata-rata saliva kontrol = 0,14 cm0,91cm x 100% = -550 % 0,14cm% inhibisi atropin sc= rata-rata saliva kontrol rata-rata saliva uji X 100% Rata-rata saliva kontrol = 0,14cm- 0cmx 100%= 100% 0,14cm Jumlah keseluruhan % inhibisi kelompok% inhibisi atropin po = rata-rata saliva kontrol rata-rata saliva uji X100% Rata-rata saliva kontrol = 0,88 cm1,33cm x 100% = -51,136 % 0,88cm% inhibisi atropin sc= rata-rata saliva kontrol rata-rata saliva uji X 100% Rata-rata saliva kontrol = 0,88cm- 0,325cmx 100%= 63,06%...</p>