KAJIAN INTERAKSI OBAT TERHADAP PASIEN GERIATRI …repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/42319/1/PHILIA... · polifarmasi dan potensi interaksi obat-obat berdasarkan tingkatan

  • View
    270

  • Download
    11

Embed Size (px)

Text of KAJIAN INTERAKSI OBAT TERHADAP PASIEN GERIATRI...

i

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

KAJIAN INTERAKSI OBAT TERHADAP PASIEN GERIATRI

DENGAN PENYAKIT HIPERTENSI DI RUMAH SAKIT

PELABUHAN JAKARTA UTARA

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat memperoleh Sarjana Farmasi

Philia Permaiswari Pratiwi

NIM : 1111102000008

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

PROGRAM STUDI FARMASI

JAKARTA

JULI 2018

ii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS

Skripsi ini adalah hasil karya saya sendiri,

dan semua sumber baik yang dikutip maupun dirujuk

telah saya nyatakan dengan benar

Nama : Philia Permaiswari Pratiwi

NIM : 1111102000008

Tanda tangan :

Tanggal : 29 Juni 2018

iii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING

Nama : Philia Permaiswari Pratiwi

NIM : 1111102000008

Program Studi : Farmasi

Judul Skripsi : KAJIAN INTERAKSI OBAT TERHADAP PASIEN GERIATRI

DENGAN PENYAKIT HIPERTENSI DI RUMAH SAKIT

PELABUHAN JAKARTA UTARA

Disetujui Oleh :

Pembimbing I Pembimbing II

Yardi, Ph. D., Apt. Dr. Nurmeilis, M.Si, Apt

NIP. 1974112320080111014 NIP. 197404302005012003

Mengetahui,

Ketua Program Studi Farmasi

Fakultas Ilmu Kesehatan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Dr. Nurmeilis, M.Si., Apt

NIP. 197404302005012003

iv

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi ini diajukan oleh :

Nama : Philia Permaiswari Pratiwi

NIM : 1111102000008

Program Studi : S-1 Farmasi

Judul Skripsi : Kajian Interaksi Obat Terhadap Outcomes Klinik Pasien Geriatri

Dengan Penyakit Hipertensi Di Rumah Sakit Pelabuhan Jakarta Utara

Telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian

persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi pada Program

Studi Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif

Hidayatullah Jakarta.

DEWAN PENGUJI

Pembimbing I : Yardi, Ph.D., Apt ( )

Pembimbing II : Dr. Nurmeilis, M. Si, Apt ( )

Peguji I : Dr. M. Yanis Musdja., M. Sc ( )

Penguji II : Dr. Delina Hasan, M.Kes., Apt ( )

Ditetapkan di : Jakarta

Tanggal : Juni 2018

v

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

ABSTRAK

Nama : Philia Permaiswari Pratiwi

NIM : 1111102000008

Program studi : Strata-1 Farmasi

Judul Skripsi : Kajian Interaksi Obat Terhadap Pasien Geriatri Dengan Penyakit

Hipertensi Di Rumah Sakit Pelabuhan Jakarta Utara

Hipertensi merupakan salah satu penyebab utama mortalitas dan morbilitas di

Indonesia. Pada pengobatan penyakit hipertensi untuk stadium lanjut banyak terjadi

komplikasi sehingga potensi terjadinya polifarmasi sangat besar yang menyebabkan

kemungkinan terjadinya interaksi obat-obat. Dalam penelitian ini dilakukan studi untuk

menegtahui potensial interaksi obat-obat yang bertujuan untuk mengetahui angka kejadian

interaksi obat. Penelitian ini menggunakan data sekunder, yaitu data di ambil dari Rekam

Medis pasien. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan mengumpulkan data

secara retrospektif. Data penggunaan obat antihipertensi dan data kunjungan rawat inap yang

diperoleh dari Instalasi Rekam Medik Rumah Sakit. Semua data tersebut selanjutnya diolah

untuk mengetahui kuantitas penggunaan obat antihipertensi. Pengecekan dilakukan melalui

www.drugs.com dan www.medscape.com. Penelitian ini memaparkan persentase dari jenis

polifarmasi dan potensi interaksi obat-obat berdasarkan tingkatan yang telah ditetapkan. Dari

total 42 pasien hipertensi terdapat 219 kejadian interaksi dengan rincian, interaksi moderat

sebesar 132 (60%) interaksi, interaksi minor sebesar 53 (24%) interaksi dan interaksi major

sebesar 34 (16%) interaksi. Untuk obat yang digunakan dari hasil penelitian pada pasien

hipertensi di Rumah Sakit Umum Pelabuhan Jakarta Utara periode Juni Agustus 2016

adalah amlodipine 27%; furosemide 25%; spironolactone 9%; losartan 9%; bisoprolol 7%;

candesartan 5%; ramipril 5%; captopril 4%; hidrocholotiazide 2%; irbesartan 2%; nebivolol

2% dan propranolol 2%.

Kata Pengantar : antihipertensi, polifarmasi, interaksi obat

http://www.drugs.com/http://www.medscape.com/

vi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

ABSTRACT

Name : Philia Permaiswari Pratiwi

NIM : 1111102000008

Study Program : Strate-1 Pharmacy

Title : The Study Of Geriatric Patients Against Drug Interactions With

Diseases Of Hypertension At Harbor Hospital North Jakarta

Hypertension is one of the main causes of mortality and morbiliti in Indonesia.

Treatment of hypertensive disease in advanced stage for many complications so that the

potential occurrence of polypharmacy is huge which is causing the possibility of drug-drug

interactions. In this research study was conducted to find out the potential drug-drug

interactions that aims to find out the numbers of Genesis drug interactions. This study uses

secondary data, i.e. data taken from the patient's medical record. This research is descriptive

research by collecting data is retrospective. Antihipertensi drug use data and traffic data

obtained from inpatient Installation Medical Record hospital. All the data is further processed

to find out the quantity of drug use antihipertensi. Checking is done via www.drugs.com and

www.medscape.com. This research presents the percentage of polypharmacy and potential

drug-drug interactions based on a predetermined level. Of a total of 42 patients of

hypertension there are 219 occurrences of interaction with details, moderate interaction of

132 (60%) of minor interaction interaction, 53 (24%) of interaction and the interaction of the

major of 34 (16%) interaction.For a drug that is used from the results of research on

hypertension patients in the General Hospital North Jakarta Port period June August 2016 is

amlodipine 27%; furosemide 25%; spironolactone 9%; losartan 9%; bisoprolol 7%;

candesartan 5%; ramipril 5%; captopril 4%; hidrocholotiazide 2%; irbesartan 2%; nebivolol

propranolol 2% and 2%.

Keywords : antihypertensive, polypharmacy, drug interactions

http://www.drugs.com/http://www.medscape.com/

vii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan nikmat dan

karunia-Nya sehingga peneliti dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul KAJIAN

INTERAKSI OBAT TERHADAP PASIEN GERIATRI DENGAN PENYAKIT HIPERTENSI

DI RUMAH SAKIT PELABUHAN JAKARTA UTARA. Serta shalawat dan salam selalu

tercurah bagi junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, dan kita

sebagai umatnya yang taat hingga akhir zaman.

Pada kesempatan ini penulis menyadari bahwa, tanpa bantuan dan bimbingan dari

segala pihak, dari masa perkuliahan sampai pada penyusunan skripsi ini, sangatlah sulit bagi

saya untuk menyelesaikan skripsi ini. Oleh karena itu, saya mengucapkan terimakasih dan

penghargaan sebesar-besarnya kepada :

1. Bapak Yardi Ph.D, Apt selaku dosen pembimbing I dan Ibu Dr. Nurmeilis, M. Si., Apt

selaku dosen pembimbing II yang telah banyak memberikan ilmu, waktu, tenaga, dalam

penelitian ini juga kesabaran dalam membimbing, memberikan saran, dukungan

kepercayaannya selama penelitian berlangsung hingga tersusunnya skripsi ini.

2. Ibu Dr. Nurmeilis, M. Si., Apt selaku ketua Program Studi Farmasi dan Ibu Nelly

Suryani Ph.D., Apt selaku sekretaris Program Studi Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Segenap Bapak dan Ibu dosen program studi Farmasi yang telah memberikan bimbingan

dan bantuan selama menempuh pendidikan di Program Studi Farmasi Fakultas Ilmu

Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Dr. H. Arif Sumantri, SKM, M. Kes, selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu

Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan

banyak motivasi dan bantuan.

5. Ibu Vidya Arlaini Anwar, S.Si, Apt, beserta seluruh pihak karyawan ruang administrasi

medik yang telah banyak membantu dalam pengambilan data.

6. Kedua orang tua saya, papa tersayang Drs. Zulpan MH dan mama tercinta Erlina A.Ma

yang selalu memberikan kasih sayang dan doa yang tidak pernah henti serta dukungan

baik moril maupun materil. Tidak ada yang dapat membalas semua kebaikan dan

ketulusan cinta mama dan papa. Semoga Allah senantiasa memberikan kesehatan,

perlindungan, dan kasih sayang kepada papa dan mama.

viii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

7. Adik saya Nugraha Ardinata Pratama dan orang terdekat saya Goldy Afrianto ST yang

selalu memberikan dukungan, motivasi dan semangat yang tiada henti dalam

menyelesaikan skripsi ini, semoga Allah selalu memberikan kita kesehatan dan

senantiasa kebahagiaan selalu.

8. Seluruh teman - teman program studi Farmasi 2011, khususnya Okka Tiara, Fifi

Zuliyanti, Muneerah Datu, Sausan Doni, Arum Puspa Azizah yang telah membantu

penulis hingga skripsi ini selesai.

9. Ibu dan Bapak seluruh pegawai Rumah Sakit Pelabuhan Jakarta Utara yang telah

memberikan bantuan kepada penulis selama penelitian.

10. Serta pihak-pihak yang tidak dapat disebutkan satu-persatu, yang telah memberikan

dukungan hingga terwujudnya skripsi ini.

Kesempurnaan adalah milikNya, begitu pun skripsi ini. Tidak sedikit hambatan yang

saya dapatkan dalam menyusun skripsi ini. Penulis berharap semoga hasil penelitian ini

dapat bermanfaat untuk banyak pihak dan tentunya bermanfaat untuk ilmu pengetahuan.

Akhir kata, penulis berharap Allah SWT berkenan membalas segala kebaikan semua pihak

yang telah membantu saya dalam penelitian ini.

Ciputat, 29 Juni 2018

Penulis,

Philia Permaiswari Pratiwi

ix

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

TUGAS AKHIR UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIK

Sebagai sebagai akademik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, saya

yang bertanda tangan dibawah ini :

Nama : Philia Permaiswari Pratiwi

NIM : 1111102000008

Program Studi : Farmasi

Fakultas : Ilmu Kesehatan

Jenis Karya : Skripsi

Demi perkembangan ilmu pengetahuan, saya menyetujui/karya ilmiah saya, dengan judul :

KAJIAN INTERAKSI OBAT TERHADAP PASIEN GERIATRI DENGAN PENYAKIT

HIPERTENSI DI RUMAH SAKIT PELABUHAN JAKARTA UTARA

Untuk dipublikasikan atau ditampilkan di internet atau media lain yaitu Digital Library

Perpustakaan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta untuk kepentingan

akademik sebatas sesuai dengan Undang-Undang Hak Cipta. Demikian pernyataan

persetujuan publikasi karya ilmiah ini saya buat dengan sebenarnya.

Dibuat di : Jakarta

Pada tanggal : 29 Juni 2016

Yang menyatakan,

( Philia Permaiswari Pratiwi)

x

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ................................................................................................................ i

HALAMAN PERNYATAAN ORISINALITAS .................................................................. ii

LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING ..................................................................... iii

HALAMAN PENGESAHAN ................................................................................................ iv

ABSTRAK ............................................................................................................................... v

ABSTRACT ............................................................................................................................ vi

KATA PENGANTAR ............................................................................................................ vii

HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI ....................................................................... ix

DAFTAR ISI ............................................................................................................................ x

DAFTAR TABEL ................................................................................................................. xii

DAFTAR GAMBAR ............................................................................................................ xiii

DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................................... xiv

DAFTAR SINGKATAN ...................................................................................................... xv

1. BAB 1 PENDAHULUAN .......................................................................................... 1 1.1 Latar Belakang ....................................................................................................... 1 1.2 Perumusan Masalah ............................................................................................... 3 1.3 Tujuan Penelitian ................................................................................................... 3 1.4 Manfaat Penelitian ................................................................................................. 4

1.4.1 Secara Teoritis ........................................................................................... 4 1.4.2 Secara Metodologi ..................................................................................... 4 1.4.3 Secara Aplikatif ........................................................................................ 4

2. BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ................................................................................ 5

2.1 Hipertensi .............................................................................................................. 5 2.1.1 Definisi ....................................................................................................... 5 2.1.2 Etiologi ....................................................................................................... 5 2.1.3 Epidemiologi ............................................................................................... 6 2.1.4 Faktor Pemicu ............................................................................................ 6

2.1.4.1 Faktor yang tidak dapat dikontrol ........................................................ 6 2.1.4.2 Faktor yang dapat dikontrol ................................................................. 7

2.1.5 Klasifikasi Hipertensi ................................................................................. 9 2.1.5.1 Hipertensi premier (essensial) .............................................................. 9 2.1.5.2 Hipertensi sekunder ........................................................................... 10

2.1.6 Gejala Hipertensi ..................................................................................... 10 2.1.7 Diagnosis Hipertensi ................................................................................ 11 2.1.8 Komplikasi Hipertensi ............................................................................. 12 2.1.9 Skrinning Hipertensi ................................................................................ 13 2.1.10 Penatalaksanaan Hipertensi ..................................................................... 14

2.1.10.1 Terapi Non Farmakologi ........................................................ 14

xi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

2.1.10.2 Terapi Farmakologi ................................................................ 16 2.1.10.2.1 Golongan Diuretik ............................................................. 16 2.1.10.2.2 Golongan ACEI ................................................................. 17 2.1.10.2.3 Golongan ARB ................................................................... 19 2.1.10.2.4 Golongan Beta-blocker ...................................................... 20 2.1.10.2.5 Golongan Antagonis Kalsium ............................................ 21 2.1.10.2.6 Golongan Penyekat Beta .................................................... 23 2.1.10.2.7 Golongan Penyekat Alfa .................................................... 25 2.1.10.2.8 Golongan Agonis 2 Sentral .............................................. 25 2.1.10.2.9 Golongan Reserpin ............................................................. 26 2.1.10.2.10 Golongan Direct Arterial Vasodilators ............................. 27

2.2 Geriatri ................................................................................................................ 27 2.3 Drug Related Problem (DRP) ............................................................................. 28 2.4 Drug Related Problem (DRP) terkait Interaksi Obat .......................................... 31

2.4.1 Definisi Interaksi Obat ............................................................................. 31 2.4.2 Mekanisme Interaksi Obat ....................................................................... 31 2.4.3 Tingkat Keparahan Interaksi Obat ........................................................... 36

2.5 Peran Apoteker di Rumah Sakit .......................................................................... 37 2.6 Rekam Medik ...................................................................................................... 41

3. BAB 3 KERANGKA KONSEP, DEFINISI OPERASIONAL ............................ 42 3.1 Kerangka Konsep ................................................................................................. 42 3.2 Definisi Operasional ........................................................................................... 43

4. BAB 4 METODE PENELITIAN ............................................................................ 45 4.1 Tempat dan Waktu Penelitian .............................................................................. 45 4.2 Desain Penelitian ................................................................................................. 45 4.3 Populasi dan Sampel Penelitian ........................................................................... 45

4.3.1 Populasi .................................................................................................... 45 4.3.2 Sampel ...................................................................................................... 45

4.4 Kriteria Inklusi dan Ekslusi ................................................................................. 45 4.4.1 Kriteria Inklusi Sampel ............................................................................ 45 4.4.2 Kriteria Ekslusi Sampel ........................................................................... 46

4.5 Prosedur Penelitian ............................................................................................. 46 4.5.1 Persiapan (Permohonan Izin Penelitian) .................................................. 46 4.5.2 Pengumpulan Data ................................................................................... 46 4.5.3 Pengolahan Data ...................................................................................... 46 4.5.4 Analisa Data ............................................................................................. 47

5. BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................... 48 5.1 Hasil ..................................................................................................................... 48

5.1.1 Karakteristik Umum Subjek Penelitian .................................................. 48 5.1.2 Profil Penggunaan Obat Antihipertensi ................................................... 48 5.1.3 Karakteristik Kejadian Interaksi Obat Pada Pasien ................................. 49 5.1.4 Gambaran IO Berdasarkan Mekanisme dan Tingkat Keparahan ............ 50 5.1.5 Gambaran Interaksi Obat Antihipertensi dan Obat Antihiperetensi ....... 50 5.1.6 Gambaran Interaksi Obat Antihipertensi dan Obat Selain Hiperetensi ... 53

5.2 Pembahasan ......................................................................................................... 56 6. BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN .................................................................... 61

6.1 Kesimpulan ......................................................................................................... 61 6.2 Saran .................................................................................................................... 62

Daftar Pustaka ................................................................................................................... 63

xii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

Tabel 2.1.10 Modifikasi Gaya Hidup untuk Mengontrol Hiperetnsi .............................. 16

Tabel 5.1 Karakterisik Pasien Hipertensi Berdasarkan Jenis Kelamin, Usia, Lama

Perawatan, Jumlah Penyakit Penyerta, dan Jumlah Penggunaa Obat ........................... 48

Tabel 5.2 Persentase Penggunaan Obat Antihipertensi Pasien Rawat Inap di Rumah

Sakit Umum Pelabuhan Jakarta Utara Periode Juni Agustus 2016 ............................ 49

Tabel 5.3 Distribusi Kejadian Interaksi Obat Pada Pasien Hipertensi di Rumah Sakit

Umum Pelabuhan Jakarta Utara Periode Juni Agustus 2016 ...................................... 49

Tabel 5.4 Persentase Tingkat Keparahan Potensi Interaksi Obat Antihipertensi Pada

Pasien Hipertensi di Rumah Sakit Umum Pelabuhan Jakarta Utara Periode Juni

Agustus 2016 .......................................................................................................................... 50

Tabel 5.5 Persentase Mekanisme Potensi Interaksi Obat Antihipertensi Pada Pasien

Hipertensi di Rumah Sakit Umum Pelabuhan Jakarta Utara Periode Juni Agustus

2016 ........................................................................................................................................ 50

Tabel 5.6 Interaksi Obat Antihipertensi dengan Obat Antihipertensi di Instalasi Rawat

Inap di Rumah Sakit Pelabuhan Jakarta Utara Periode Juni Agustus 2016 ............... 51

Tabel 5.7 Interaksi Obat Antihipertensi dengan Obat Non Antihipertensi di Instalasi

Rawat Inap di Rumah Sakit Pelabuhan Jakarta Utara Periode Juni Agustus 2016 . 53

xiii

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

Gambar 2.1.10.2.2 Sistem renin - angiotensin dan sistem kalikrein kinin ................... 18

xiv

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

Lampiran 1 ........................................................................................................................... 66

Lampiran 2 ............................................................................................................................ 68

Lampiran 3 ........................................................................................................................... 70

xv

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

DAFTAR SINGKATAN

WHO : World Health Organisation

DRPs : Drug Related Problems

ISH : International Society of Hipertension

RS : Rumah Sakit

NHANES : National Health and Nutrition Examination Survey

IMT : Indeks Masa Tubuh

LDL : Low Densisty Lipoprotein

HDL : High Desity Lipoprotein

TDS : Tekanan Darah Sistolik

TTD : Tekanan Darah Diastolik

EKG : Elektrokardiogram

DASH : Dietary Approach to Stop Hypertension

TSH : Thyroid stimulating hormon

DM : Diabetes Mellitus

GFR : Glomerular Filtration Rate

BPH : Benign Prostatic Hyperplasia

IFRS : Instalasi Farmasi Rumah Sakit

xvi

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

1

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

1

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Bab I

Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Hipertensi merupakan salah satu penyakit kardiovaskular dimana penderita memiliki

tekanan darah diatas normal yang ditandai dengan nilai sistolik lebih dari 140 mmHg dan

diastolik lebih dari 90 mmHg. Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang menjadi

masalah kesehatan di seluruh dunia karena prevalensinya tinggi. Hipertensi sering disebut

dengan pembunuh diam-diam (silent killer), karena penderita hipertensi mengalami kejadian

tanpa gejala (asymptomatic). Di Amerika, diperkirakan 1 dari 4 orang dewasa menderita

hipertensi. Apabila penyakit ini tidak terkontrol, maka menyerang target organ, dan dapat

menyebabkan infark miokard, stroke, gagal ginjal, dan kematian. Hipertensi yang tidak

mendapatkan terapi dan berlngsung lama dapat menyebabkan stroke, serangan jantung, gagal

jantung dan merupakan penyebab utama gagal ginjal kronik. Dari beberapa penelitian

dilaporkan bahwa penyakit hipertensi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan peluang 7

kali lebih besar terkena stroke, 6 kali lebih besar terkena congestive heart failure, dan 3 kali

lebih besar terkena serangan jantung. Menurut WHO dan the International Society of

Hypertension (ISH), saat ini terdapat 600 juta penderita hipertensi di seluruh dunia, dan 3 juta

di antaranya meninggal dunia setiap tahunnya. Tujuh dari sepuluh penderita tersebut tidak

mendapatkan pegobatan secara adekuat.

Prevalensi hipertensi dunia menurut World Health Organisation (WHO) dalam World

Health Statistic (2012) mencapai 24,2 % pada laki-laki dan 29,8 % pada perempuan. Pada

orang yang berusia diatas 50 tahun, tekanan darah sistolik lebih besar dari 140 mmHg lebih

berisiko terjadinya penyakit kardiovaskular bila dibandingkan dengan tekanan darah

diastolik, namun pada tahun 2008 terdapat sekitar 40% orang dewasa di seluruh dunia berusia

25 tahun ke atas didiagnosa mengalami hipertensi. Angka kejadian hipertensi begitu

meningkat, dari sekitar 600 juta jiwa pada tahun 1980 menjadi 1 milyar jiwa pada tahun 2008

(WHO,2013). Data statistik terbaru menyatakan bahwa terdapat 24,7% penduduk Asia

Tenggara dan 23,3% penduduk Indonesia berusia 18 tahun ke atas mengalami hipertensi

pada tahun 2014 (WHO,2015). Di Indonesia terjadi peningkatan prevalensi hipertensi. Secara

keseluruhan prevalensi hipertensi di Indonesia tahun 2013 sebesar 26,5% (Riskesdas,

2013).

2

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Hipertensi pada usia lanjut antara lain disebabkan oleh peningkatan kekakuan dinding

arteri, disfungsi endotel, penurunan refleks baroreseptor, dan peningkatan sensitivitas

natrium. Selain itu dengan peningkatan usia, terjadi penurunan respon dan adrenergik dan

penurunan fungsi EDRF (Apoeso, 2007; Stokes, 2009).

Secara keseluruhan hanya 30% pasien hipertensi usia lanjut yang tekanan darahnya dapat

dikontrol dengan monoterapi. Selebihnya diperlukan terapi kombinasi dua atau tiga

antihipertensi untuk mencapai target tekanan darah (Mazza et al., 2011). Adanya perubahan

fisiologis, farmakokinetika, farmakodinamika, serta kecenderungan komplikasi penyakit dan

berkembangnya polifarmasi pada usia lanjut menyebabkan populasi ini rentan mengalami

masalah terkait penggunaan obat (drug related problems/DRPs) yang dapat memperberat

efek samping dan menurunkan efektifitas pengobatan (Fleg et al., 2011). Semakin banyak

jumlah obat yang diterima pasien akan meningkatkan resiko interaksi obat (Prest, 2003).

Drug Related Problems (DRP) adalah setiap peristiwa atau keadaan yang melibatkan

terapi obat yang menghalangi atau berpotensi menghalangi pasien mencapai hasil yang

optimal dari perawatan medis. Salah satu bentuk dari DRP adalah interaksi obat

(Parthasarathi, et al 2005). Suatu interaksi terjadi ketika efek suatu obat diubah oleh

kehadiran obat lain, obat herbal, makanan, minuman atau agen kimia lainnya dalam

lingkungannya. Hasilnya dapat berbahaya jika interaksi menyebabkan peningkatan toksisitas

obat (Stockley, 2008). Interaksi obat didefinisikan sebagai modifikasi efek suatu obat akibat

obat lain yang diberikan pada awalnya atau diberikan bersamaan, sehingga keefektifan atau

toksisitas satu obat atau lebih berubah (Fradgley, 2003). Beberapa laporan studi menyebutkan

proporsi interaksi obat dengan obat lain (antar obat) berkisar antara 2,2% sampai 30% terjadi

pada pasien rawat inap dan 9,2% -sampai 70,3% terjadi pada pasien-pasien rawat jalan,

walaupun kadang-kadang evaluasi interaksi obat tersebut memasukkan pula interaksi secara

teoretik selain interaksi obat sesungguhnya yang ditemukan dan terdokumentasi. Menurut

beberapa penelitian yang sudah dilakukan menunjukkan angka kejadian interaksi obat untuk

pasien hipertensi masih tinggi. Pada tahun pada tahun 2006 Fita Rahmawati, dkk mengkaji

kejadian interaksi obat di RS Pendidikan Dr. Sardjito Yogyakarta menunjukkan angka

kejadian interkasi obat sebesar 59% pasien rawat inap, pada tahun 2010 Dhanang Prawira

Nugraha, dkk menganalisa kejadian interaksi obat pada pasien hipertensi geriatri yang

menjalani rawat jalan di RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta terdapat 65,92% lembar resep

yang memiliki potensi interaksi obat, 51,27% lembar resep yang memiliki potensi interaksi

obat dan potensi interaksi obat paling banyak berada pada level signifikasi 4 (45,78%), pada

3

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

tahun 2012 Dwi Sri Handayani, dkk menganalisis karakteristik dan kejadian Drug Related

Problems pada pasien hipertensi di Puskesmas Temindung Samarinda menunjukkan angka

kejadian interaksi obat pada pasien hipertensi sebesar 7,5%, pada tahun 2015 Risna Agustina,

dkk menganalisis potensi interaksi obat resep pasien hipertensi di salah satu RS Pemerintah

di Kota Samarinda menunjukkan angka kejadian hipertensi sebanyak 183 interaksi dengan

rincian interaksi obat minor sebesar 66 (22,75%) interaksi, interaksi moderat sebesar 99

(34,13%) interaksi, dan interaksi mayor sebesar 18 (6,21%) interkasi, dan pada tahun 2016,

Tria Noviana mengevaluasi interaksi peenggunaan obat hipertensi di RS Bantul menunjukkan

angka kejadian 69 kasus (76,7%) dengan total kejadian interaksi obat sebanyak 286.

Banyaknya interaksi yang ditimbulkan pada pasien hipertensi, maka diperlukan tindakan

untuk mencegah timbulnya komplikasi dan penyakit lain.

Berdasarkan uraian diatas diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai kejadian Drug

Related Problems (DRP) dalam penanganan pasien hipertensi, serta meneliti korelasi antara

kejadian DRP terhadap outcomes (keberhasilan terapi) pasien. Kategori DRP yang diteliti

yaitu mengenai interaksi obat pada pasien hipertensi dengan/tanpa penyakit penyerta.

1.2 Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah diatas, dapat dirumuskan masalah yang akan

menjadi pokok pembahasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Kasus penyakit hipertensi masih menjadi masalah yang serius dan terus meningkat, dengan

presentase kejadian sebesar 26,5% di Indonesia pada tahun 2013 (Riskesdas, 2013).

2. Dari beberapa penelitian frekuensi terjadinya efek samping pada kelompok usia lanjut lebih

tinggi dibandingkan populasi pada umumnya, selain itu pasien usia lanjut merupakan salah

satu pasien yang rentan terjadinya DRP terkait interaksi obat.

3. Pemantauan terapi obat sangat penting guna untuk mengetahui masalah yang mungkin akan

timbul dari suatu pengobatan, salah satu terkait pengaruh interaksi obat terhadap outcomes

pasien hipertensi di RS Pelabuhan Jakarta Utara.

1.3 Tujuan Penelitian

a. Untuk mengetahui angka kejadian interaksi obat pada pasien geriatri dengan penyakit

hipertensi di Instalasi Rawat Inap RS Pelabuhan Jakarta Utara.

4

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

b. Untuk mengetahui jenis kejadian interaksi obat pada pasien geriatri dengan penyakit

hipertensi di Instalasi Rawat Inap di RS Pelabuhan Jakarta Utara.

c. Untuk mengetahui pengaruh potensi interaksi obat terhadap outcome klinik pasien geriatri

dengan penyakit hipertensi di Instalasi Rawat Inap RS Pelabuhan Jakarta Utara.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Secara Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan ilmu pengetahuan, serta

wawasan tentang pengaruh Drug Related Problem (DRP) ditinjau dari potensi terjadinya

intiraksi obat terhadap outcome klinik paisen geriatri dengan penyakit hipertensi.

1.4.2 Secara Metodologi

Metode penelitian ini dilakukan secara retrospektif dan diharapkan dapat dijadikan

referensi untuk diaplikasikan pada penelitian farmasi klinis sejenis di RS Pelabuhan Jakarta

Utara.

1.4.3 Secara Aplikatif

Secara aplikatif penelitian ini diharapkan dapat dijadikan suatu bahan pertimbangan

ataupun kebijakan dalam peresepan obat hipertensi pada pasien geriatri di instalasi rawat inap

RS Pelabuhan Jakarta Utara dan dapat memberikan saran bagi dokter dan tenaga kefarmasian

dalam meningkatkan pemberian terapi optimal sehingga diperoleh terapi yang efektif, aman

dan efisien.

5

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Bab 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Hipertensi

2.1.1. Definisi

Hipertensi adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami peningkatan tekanan

darah di atas normal yang mengakibatkan peningkatan angka kesakitan (morbiditas) dan

angka kematian / mortalitas. Hipertensi adalah suatu keadaan ketika tekanan darah di

pembuluh darah meningkat secara kronis. Hal tersebut dapat terjadi karena jantung bekerja

lebih keras memompa darah untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan nutrisi tubuh. Jika

dibiarkan, penyakit ini dapat mengganggu fungsi organ-organ lain, terutama organ-organ

vital seperti jantung dan ginjal. Didefinisikan sebagai hipertensi jika pernah didiagnosis

menderita hipertensi/penyakit tekanan darah tinggi oleh tenaga kesehatan atau belum pernah

didiagnosis menderita hipertensi tetapi saat diwawancara sedang minum obat medis untuk

tekanan darah tinggi (minum obat sendiri). Tekanan darah 140/90mmHg didasarkan pada dua

fase dalam setiap denyut jantung yaitu fase sistolik 140 menunjukkan fase darah yang sedang

dipompa oleh jantung dan fase diastolik 90 menunjukkan fase darah kembali ke jantung.

Hipertensi merupakan penyakit kardiovaskular yang paling lazim. National Health

and Nutrition Examination Survey (NHANES III) membuktikan bahwa 24% populasi orang

dewasa mengalami hipertensi. Prevalensinya bervariasi menurut umur, ras, dan banyak

banyak variabel lainnya. Hipertensi arteri yang berkepanjangan dapat merusak pembuluh-

pembuluh darah di dalam ginjal, jantung dan otak, serta dapat mengakibatkan peningkatan

insiden gagal ginjal, penyakit koroner, gagal jantung, dan stroke. Penurunan tekanan darah

secara farmakologis yang efektif dapat mencegah kerusakan pembuluh-pembuluh darah dan

terbukti menurunkan tingkat morbiditas dan mortalitas.

2.1.2 Etiologi

Hipertensi merupakan suatu penyakit dengan kondisi medis yang beragam. Pada

kebanyakan pasien etiologi patofisiologinya tidak diketahui (essensial atau hipertensi primer).

Hipertensi primer ini tidak dapat disembuhkan tetapi dapat di kontrol. Sampai saat ini

penyebab hipertensi premier tidak diketahui dengan pasti. Kelompok lain dari populasi

dengan presetase rendah mempunyai penyebab yang khusus, dikenal sebagai hipertensi

6

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

sekunder. Banyak penyebab hipertensi sekunder yaitu endogen maupun eksogen. Bila

penyebab hipertensi sekunder dapat diidentifikasi, hipertensi pada pasien-pasien ini dapat

disembuhkan secara potensial. Risiko relatif hipertensi tergantung pada jumlah dan

keparahan dari faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan yang tidak dapat dimodifikasi.

Faktor-faktor yang tidak dapat dimodifikasi antara lain faktor genetik, umur, jenis kelamin,

dan etnis. Sedangkan faktor yang dapat dimodifikasi meliputi stres, obesitas dan nutrisi

(Yogiantoro M, 2006).

2.1.3 Epidemiologi

Di Amerika, diperkirakan 30% penduduknya ( 50 juta jiwa) menderita tekanan darah

tinggi ( 140/90 mmHg); dengan persentase biaya kesehatan cukup besar setiap tahunnya.

Menurut National Health and Nutrition Examination Survey (NHNES), insiden hipertensi

pada orang dewasa di Amerika tahun 1999-2000 adalah sekitar 29-31%, yang berarti bahwa

terdapat 58-65 juta orang menderita hipertensi, dan terjadi peningkatan 15 juta dari data

NHNES III tahun 1988-1991. Tekanan darah tinggi merupakan salah satu penyakit

degeneratif. Umumnya tekanan darah bertambah secara perlahan dengan bertambahnya

umur. Risiko untuk menderita hipertensi pada populasi 55 tahun yang tadinya tekanan

darahnya normal adalah 90%. Kebanyakan pasien mempunyai tekanan darah prehipertensi

sebelum mereka didiagnosis dengan hipertensi, dan kebanyakan diagnosis hipertensi terjadi

pada umur diantara dekade ketiga dan dekade kelima. Sampai dengan umur 55 tahun, laki-

laki lebih banyak menderita hipertensi dibanding perempuan. Dari umur 55 s/d 74 tahun,

sedikit lebih banyak perempuan dibanding laki-laki yang menderita hipertensi. Pada populasi

lansia (umur 60 tahun), prevalensi untuk hipertensi sebesar 65.4 %.

2.1.4 Faktor Pemicu

2.1.4.1 Faktor yang tidak dapat dikontrol

Usia

Umur mempengaruhi terjadinya hipertensi. Dengan bertambahnya umur, resiko terkena

hipertensi menjadi lebih besar. Sehingga, prevalensi hipertensi di kalangan usia lanjut cukup

7

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

tinggi, yaitu sekitar 40%, dengan kematian sekitar 50% di atas usia 65 tahun. Kenaikan

prevalensi hipertensi pada lanjut usia di atas 65 tahun, digolongkan atas 2 jenis :

1. Kenaikan kombinasi tekanan sistolik (> 160 mmHg), sedangkan tekanan diastolik (> 90

mmHg).

2. Hanya kenaikan tekanan sistolik (> 160 mmHg), sedangkan tekanan diastolik normal (< 90

mmHg).

Pada lansia, hipertensi terutama ditemukan hanya beberapa kenaikan tekanan darah sistolik.

Diduga, tingginya hipertensi sejalan dengan bertambahnya usia, disebabkan oleh perubahan

struktur pada pembuluh darah besar, yang terutama menyebabkan peningkatan tekanan darah

sistolik tersebut.

Jenis kelamin

Faktor gender berpengaruh pada terjadinya hipertensi, dimana pria lebih bayak yang

menderita hipertnsi dibandingkan dengan wanita, dengan resiko sekitar 2,29 untuk

peningkatan tekanan darah sistolik, dan 3,76 untuk kenaikan tekanan darah diastolik. Diduga,

karena pria memiliki gaya hidup yang cenderung dapat meningkatkan tekanan darah

dibandingkan dengan wanita. Namun, setelah memasuki menopause, prevalensi hipertensi

pada wanita lebih tinggi dibandingkan dengan pria yang diakibatkan oleh faktor hormonal.

Genetik (keturunan)

Riwayat keluarga terdekat yang menderita hipertensi (faktor keturunan) juga mempertinggi

resiko terkena hipertensi, terutama pada hipertensi primer (esensial). Tentunya faktor genetik

ini juga dipengaruhi faktor-faktor lingkungan lain, yang kemudian menyebabkan seorang

menderita hipertensi. Faktor genetik juga berkaitan dengan metabolisme pengaturan garam

dan renin membran sel.

2.1.4.2 Faktor yang dapat di kontrol

Kegemukan (obesitas)

Kaitan erat antara kelebihan berat badan dan kenaikan tekanan darah telah dilaporkan oleh

beberapa studi. Berat badan dan indeks masa tubuh (IMT) berkorelasi langsung dengan

tekanan darah, terutama tekanan darah sistolik. Resiko relatif untuk menderita hipertensi pada

orang-orang gemuk 5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan seorangyang berat badannya

normal. Sedangkan, pada penderita hipertensi ditemukan sekitar 20-33% memiliki berat

badan lebih (overweight). Studi yang menunjang, melaporkan bahwa distribusi lemak dalam

8

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

tubuh itu sendiri. Indikator yang biasa digunakan untuk mengukur deposit lemak terutama

bagian perut, digunakan pengukuran rasio lingkar pinggang/lingkar pinggul (waist to hip

ratio) yang ternyata merupakan prediktor penting dalam hubungannya dengan tekanan darah.

Patokan normal lingkar pinggang untuk pria yaitu

9

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pengaruh alkohol terhadap kenaikan tekanan darah telah dibuktikan. Mekanisme peningkatan

kadar kortisol, dan peningkatan volume sel darah merah serta kekentalan darah berperan

dalam menaikkan tekanan darah. Beberapa studi menunjukkan hubungan langsung antara

tekanan darah dan asupan alkohol, dan di antaranya melaporkan bahwa efek terhadap tekanan

darah baru nampak apabila mengkonsumsi alkohol sekitar 2-3 gelas ukuran standar setiap

harinya.

Di negara barat, seperti Amerika, konsumsi alkohol yang berlebihan berpengaruh terhadap

terjadinya hipertensi. Sekitar 10% hipertensi di Amerika disebabkan oleh asupan alkohol

yang berlebihan di kalangan pria separuh baya. Akibatnya, kebiasaan minum alkohol ini

menyebabkan hipertensi sekunder di kelompok usia ini.

Pada studi lain, ditemukan bahwa tekanan darah di kalangan peminum alkohol berat (lebih

dari 3 gelar/hari), lebih tinggi dibandingkan dengan peminum alkohol ringan atau bukan

premium.

Konsumsi garam berlebihan

Garam menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh, karena menarik cairan dari luar sel

agar tidak dikeluarkan, sehingga akan meningkatkan volume dan tekanan darah. Pada sekitar

60% kasus hipertensi primer (esensial) terjadi respons penurunan tekanan darah, dengan

mengurangi asupan garam. Pada masyarakat yang mengkonsumsi garam 3 gram atau kurang,

ditemukan tekanan darah rata-rata rendah, sedangkan pada masyarakat dengan asupan garam

sekitar 7-8 gram tekanan darah rata-rata lebih tinggi.

Menurut para ahli WHO Expert Committee on Prevention of Cardiovascular Disease,

sebaiknya mengkonsumsi garam tidak lebih dari 6 gram/hari yang setara dengan 110 mmol

natrium (2.400mg/hari).

Diet yang tidak seimbang

Konsumsi makanan yang tidak seimbang, banyak mengandung lemak disertai tinggi garam,

meningkatkan resiko terkena hipertensi. Konsumsi gula berlebihan berpengaruh terhadap

tekanan darah, sedangkan banyak mengkonsumsi serat dapat membantu menjaga tekanan

darah dalam batas normal.

2.1.5 Klasifikasi Hipertensi

2.1.5.1 Hipertensi premier (essensial)

Lebih dari 90% pasien dengan hipertensi merupakan hipertensi essensial. Beberapa

mekanisme yang mungkin berperan untuk terjadinya hipertensi ini telah diidentifikasi, namun

10

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

belum satupun teori yang menyatakan patogenesis hipertensi premier ini. Hipertensi ini

biasanya turun temurun dalam sautu keluarga, hal ini setidaknya menunjukkan bahwa faktor

genetik berperan penting pada patogenesis hipertensi premier. Menurut data, gambaran

bentuk disregulasi tekanan darah yang monogenik dan poligenik mempunyai kecenderungan

timbulnya hipertensi essensial.

2.1.5.2 Hipertensi sekunder

Kurang dari 10% penderita hipertensi merupakan sekunder dari penyakit kormobid

atau obat-obat tertentu yang dapat meingkatkan tekanan darah (lihat tabel). Pada banyak

kasus, disfungsi renal akibat penyakit ginjal kronis atau penyakit renovaskular adalah

penyebab sekunder yang paling sering. Obat-obat tertentu, baik secara langsung ataupun

tidak, dapat menyebabkan hipertensi dengan menaikkan tekanan darah. Obat-obat ini dapat

dilihat di tabel 1. Apabila penyebab penyakit sekunder dapat diidentifikasi, maka dengan

menghentikan obat tersebut atau mengobati kondisi komorbid yang menyertainya sudah

merupakan tahap dalam penangan hipertensi sekunder.

2.1.6 Gejala Hipertensi

Pada umumnya, sebagian besar penderita hipertensi tidak mempunyai keluhan khusus

dan tidak mengetahui dirinya sedang menderita hipertensi. Seorang penderita hipertensi

datang berobat ke dokter, didorong oleh keluhan-keluhan yang disebabkan oleh : kenaikan

tekanan darah itu sendiri yang mengganggu, ada kelainan pembuluh darah, atau karena

adanya penyakit lain yang menyebabkan tekanan darah tinggi.

Gejala-gejala umum yang kadang dirasakan sebelumnya oleh seorang penderita

hipertensi antara lain :

1. Sakit kepala, terutama sering pada waktu bangun tidur dan kemudian menghilang sendiri

setelah beberapa jam

2. Kemerahan pada wajah

3. Cepat capek

4. Lesu

5. Impotensi

Gejala-gejala yang mungkin timbul karena adanya kelainan pembuluh darah pada

seorang penderita hipertensi antara lain :

11

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

1. Mimisan

2. Kencing darah (hematuria)

3. Penglihatan terganggu karena adanya gangguan retina

4. Nyeri dada (angina pektoris)

5. Lemah dan lesu yang sering karena adanya gangguan iskemia pada pembuluh darah otak

Sedangkan gejala-gejala yang mungkin timbul akibat adanya penyakit lain yang

menyebabkan hipertensi, antara lain pada sindrom Cushing yaitu peningkatan berat badan,

emosi yang labil serta gejala lain seperti kelemahan otot, sering buang air kecing dan ingin

minum terus pada kelainan pengaturan kelenjar adrenal di ginjal (hiperaldosteronisme

primer).

Pada hipertensi hebat, lama atau tidak diobati, gejala-gejala seperti sakit kepaladisertai

mual, muntah, sesak, gelisah, dan pandangan kabur terjadi karena adanya kerusakan pada

ginjal, jantung, otak, dan hati. Pada hipertensi ensefalopati kadang-kadang timbul rasa kantuk

sampai koma. Yang kemudian dibutuhkan penanganan dokter segera.

Hipertensi sulit disadari oleh seseorang karena hipertensi tidak memiliki gejala

khusus. Menurut Sutanto (2009), gejala-gejala yang mudah di amati antara lain yaitu : gejala

ringan seperti, pusing atau sakit kepala, sering gelisah, wajah merah, tengkuk terasa pegal,

mudah marah, telinga berdengung, sukar tidur, sesak nafas, rasa berat ditengkuk, mudah

lelah, mata berkunang-kunang, mimisan (keluar darah dari hidung).

2.1.7 Diagnosis Hipertensi

Diagnosis hipertensi tidak boleh ditegakkan berdasarkan sekali pengukuran, kecuali

bila tekanan darah diastolik (TTD) 120 mmHg dan/atau tekanan darah sistolik (TDS) 210

mmHg. Pengukuran pertama harus dikonfirmasi pada sekitarnya 2 kunjungan lagi dalam

waktu 1 sampai beberapa minggu (tergantung dari tingginya tekanan darah tersebut).

Diagnosis hipertensi ditegakkan bila dari pengukuran berulang-ulang tersebut diperoleh rata-

rata tekanan darah diastolik 90 mmHg dan/atau tekanan darah sistolik 140 mmHg.

Pengukuran tekanan darah harus dilakukan dengan cara berikut. Penderita harus

duduk santai di kamar yang tenang sedikitnya 5 menit sebelum pengukuran dilakukan.

Mereka tidak boleh merokok atau minum kopi dalam waktu 30 menit sebelumnya.

12

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Pengukuran dilakukan dengan sfigmomanometer air raksa yang cuff-nya cukup panjang

sehingga dapat menutup sedikitnya 80% dari lingkar lengan penderita. Penderita harus duduk

dengan lengan tidak tertutup pakaian dan disangga setinggi jantung. Cuff dipompa sampai 20-

30 mmHg di atas tekanan darah diastolik dan kemudian tekanan diturunkan dengan keceptan

2-3mmHg per detik. Sebagai tekanan darah diastolik diambil Korotkoff fase V. Pengukuran

dilakukan minimal 2 kali selang sedikitnya 15 detik dan diambil nilai rata-ratanya. Bila 2

pengukuran pertama berbeda lebih dari 5 mmHg, harus dilakukan pengukuran lagi.

Pengukuran tekanan darah dalam posisi duduk digunakan untuk skrining awal. Untuk

evaluasi lengkap, juga diukur tekanan darah dalam posisi berbaring dan berdiri, yang terakhir

ini setelah berdiri dengan tenang sedikitnya 2 menit.

2.1.8 Komplikasi Hipertensi

Stroke dapat timbul akibat pendarahan karena tekanan darah tinggi di otak, atau akibat

embolus yang terlepas dari pembuluh non otak yang terpajan tekanan tinggi. Stroke dapat

terjadi pada hipertensi kronik apabila arteri-arteri yang memperdarahi otak mengalami

hipertropi dan menebal, sehingga aliran darah ke daerah-daerah yang diperdarahinya

berkurang. Arteri-arteri otak yang mengalami arteriosklerosis dapat menjadi lemah, sehingga

meningkatkan kemungkinan terbentuknya aneurisma. Gejala terkena stroke adalah sakit

kepala secara tiba-tiba, seperti, orang bingung, limbung atau bertingkah laku seperti orang

mabuk, salah satu bagian tubuh terasa lemah atau sulit digerakan (misalnya wajah, mulut,

atau lengan terasa kaku, tidak dapat berbicara secara jelas) serta tidak sadarkan diri secara

mendadak.

Infark miokard dapat terjadi apabila arteri koroner yang sudah menjadi arterosklerosis

tidak dapat menyuplai cukup oksigen ke miokardium atau apabila terbentuk trombus yang

menghambat aliran darah melalui pembuluh darah tersebut. Hipertensi kronik dan hipertensi

ventrikel, maka kebutuhan oksigen miokardium mungkin tidak dapat terpenuhi dan dapat

terjadi iskemia jantung yang menyebabkan infark. Demikian juga hipertropi ventrikel dapat

menimbulkan perubahan-perubahan waktu hantaran listrik melintasi ventrikel sehingga

terjadi disritmia, hipoksia jantung, dan peningkatan resiko pembentukan bekuan (Corwin,

2000). Gagal jantung dapat terjadi karena kerusakan progresif akibat tekanan tinggi pada

kapiler-kapiler ginjal, glomerulus. Dengan rusaknya glomerolus, darah akan mengalir keunit-

13

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

unit fungsional ginjal, nefron akan terganggu dan dapat berlanjut menjadi hipoksia dan

kematian. Dengan rusaknya membran glomerulus, protein akan keluar melalui urin sehingga

tekanan osmotik koloid plasma berkurang, menyebabkan edema yang sering dijumpai pada

hipertensi kronik.

Ketidakmampuan jantung dalam memompa darah kembali kejantung dengan cepat

mengakibatkan cairan terkumpul di paru, kaki, dan jaringan lain sering disebut edema. Cairan

di dalam paru-paru menyebabkan sesak nafas, timbunan cairan ditungkai menyebabkan kaki

bengkak atau sering dikatakan edema. Ensefalopati dapat terjadi terutama pada hipertensi

maligna (hipertensi yang cepat). Tekanan yang tinggi pada kelainan ini menyebabkan

peningkatan tekanan kapiler dan mendorong cairan ke dalam ruang intertisium di seluruh

susunan saraf pusat. Neuron-neuron di sekitarnya kolaps dan terjadi koma.

2.1.9 Skrinning Hipertensi

Berbagai pemeriksaan pada seorang penderita hipertensi yang dilakukan antara lain :

Pemeriksaan fisik

Setelah pemeriksaan tekanan darah, perlu dilakukan pemeriksaan denyut nadi, apakah

ditemukan gangguan dan kelainan dari irama serta besar-kecilnya nadi. Juga dinilaiapakah

ditemukan sesak napas (frekuensi pernapasan).

Pemeriksaan berat badan, tinggi badan untuk menilai status gizi penderita perlu dilakukan

apakah penderita termasuk kelebihan berat badan/obesitas. Kemudian dilakukan pemeriksaan

terhadap organ-organ lain seperti jantung, pembuluh darah, hati, otak, dan ginjal.

Kelainan suara jantung yang disebut suara jantung keempat yang merupakan perubahan

jantung paling dini karena hipertensi, dapat diperiksa dengan alat stetoskop.

Pembesaran jantung karena meningkatnya usaha yang diperlukan untuk memompa darah

dapat ditemukan dengan pemeriksaan EKG dan rontgen dada. Pada tahap awal kerusakan

hanya dapat dideteksi dengan ekokardiografi.

Kondisi pembuluh darah dapat diperiksa melalui retina, dapat ditentukan tingkat keseriusan

hipertensi.

Bila gejala-gejala hipertensi mengarah pada hipertensi ensefalopati seperti sakit kepala hebat

disertai kejang-kejang, disorientasi, pemeriksaan scan otak diperlukan untuk melihat adanya

perdarahan atau trombosis dengan kelainan menetap akibat kerusakan dalam otak.

14

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Kerusakan ginjal dicari mula-mula melalui pemeriksaan urine. Untuk mendeteksi masalah

ginjal, dokter akan menanyakan riwayat kelainan ginjal sebelumnya. Kemudian dalam

pemeriksaan daerah perut sekitar ginjal akan dicari pembengkakan. Stetoskop di daerah perut

mencari suara bruit (suara yang disebabkan aliran darah melalui arteri ke ginjal).

Pemeriksaan laboratorium dan penunjang lain

Semakin tinggi tekanan darah dan semakin muda usia penderita, maka mencari penyebabnya

lebih mudah dilakukan. Evaluasi meliputi rontgen dan pemeriksaan radioisotop pada ginjal,

rontgen dada dan pemeriksaan darah dan urine untuk hormon tertentu. Bila hipertensi

disebabkan penyakit lain seperti feokromositoma, aldosteronisme, sindrom cushing,

pemeriksaan hormon khusus dilakukan untuk memastikan penyebab hipertensi tersebut.

Pemeriksaan awal laboratorium yang biasa dilakukan untuk evaluasi hipertensi yang

pertama yaitu glukosa, protein, darah di urine, pemeriksaan analisis urine mikroskopik,

hematokrit, serum kalium, serum kreatin dan/atau urea nitrogen, gula puasa, kolesterol total

dan elektrokardiogram. Untuk selanjutnya pemeriksaan tergantung biaya dan faktor lain yaitu

thyroid-stimulating hormon (TSH), hitung sel darah putih, kolesterol HDL da LDL,

trigliserida, serum kalsium, fosfat dan foto rontgen dada (Harrisons Principles of Internal Medicine,

2001).

2.1.10 Penatalaksanaan Hipertensi

Penanganan hipertensi secar garis besar menurut Lewis (2000) dibagi menjadi 2 jenis

yaitu nonfarmakologis dan farmakologis. Kondisi patologis hipertensi memerlukan

penanganan atau terapi. Terapi hipertensi dapat dikelompokkan dalam terapi

nonfarmakologis dan terapi farmakologis. Terapi nonfarmakologis merupakan terapi tanpa

menggunakan agen obat dalam proses terapinya, sedangkan terapi farmakologis

menggunakan obatatau senyawa yang dalam kerjanya dapat mempengaruhi tekanan darah

pasien.

2.1.10.1 Terapi Non Farmakologi

Menerapkan gaya hidup sehat bagi setiap orang sangat penting untuk mencegah

tekanan darah tinggi merupakan bagian ang penting dalam penanganan hipertensi. Semua

pasien dengan prehipertensi dan hipertensi harus melakukan perubahan gaya hidup.

Perubahan yang sudah terlihat menurunkan tekanan darah dapat terlihat pada tabel 6 sesuai

15

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

dengan rekomendasi dari JNC VII. Disamping menurunkan tekanan darah pada pasien-pasien

dengan hipertensi, modifikasi gaya hidup juga dapat mengurangi berlanjutnya tekanan darah

ke hipertensi pada pasien-pasien dengan tekanan darah prehipertensi.

Modifikasi gaya hidup yang penting yang terlihat menurunkan tekanan darah adalah

mengurangi berat badan untuk individu yang obes atau gemuk; mengadopsi pola makan

DASH (Dietary Approach to Stop Hypertension) yang kaya akan kalium dan kalsium; diet

rendah natrium; aktifitas fisik; dan mengkonsumsi alkohol sedikit saja. Pada sejumlah pasien

dengan pengontrolan tekanan darah cukup baik dengan terapi satu obat antihipertensi;

mengurangi garam dan berat badan dapat membebaskan pasien dari menggunakan obat.

Program diet yang mudah diterima adalah yang didisain untuk menurunkan berat

badan secara perlahan-lahan pada pasien yang gemuk dan obes disertai pembatasan

pemasukan natrium dan alkohol. Untuk ini diperlukan pendidikan ke pasien, dan dorongan

moril.

Fakta-fakta berikut dapat diberitahu kepada pasien supaya pasien mengerti

rasionalitas intervensi diet :

a. Hipertensi 2-3 kali lebih sering pada orang gemuk dibandingkan orang dengan berat badan

ideal

b. Lebih dari 60% pasien dengan hipertensi adalah gemuk (overweight)

c. Penurunan berat badan, hanya dengan 10 pound (4,5 kg) dapat menurunkan tekanan darah

secara perlahan pada orang gemuk

d. Obesitas abdomen dikaitkan dengan sindroma metabolik, yang juga prekursor dari hipertensi

dan sindroma resisten insulin yang dapat berlanjut ke DM tipe 2, dislipidemia, dan

selanjutnya ke penyakit kardiovaskular

e. Diet kaya dengan buah dan sayuran dan rendah lemak jenuh dapat menurunkan tekanan darah

pada individu dengan hipertensi

f. Walaupun ada pasien hipertensi yang tidak sensitif terhadap garam, kebanyakan pasien

mengalami penurunan tekanan darah sistolik dengan pembatasan natrium

JNC VII menyarankan pola makan DASH yaitu diet yang kaya dengan buah, sayur,

dan produk susu redah lemak dengan kadar total lemak dan lemak jenuh berkurang. Natrium

yang direkomendasikan < 2.4 g (100 mEq)/hari. Aktifitas fisik dapat menurunkan tekanan

darah. Olah raga aerobik secara teratur paling tidak 30 menit/hari beberapa hari per minggu

16

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

ideal untuk kebanyakan pasien. Studi menunjukkan kalau olah raga aerobik, seperti jogging,

berenang, jalan kaki, dan menggunakan sepeda, dapat menurunkan tekanan darah.

Keuntungan ini dapat terjadi walaupun tanpa disertai penurunan berat badan. Pasien harus

konsultasi dengan dokter untuk mengetahui jenis olah-raga mana yang terbaik terutama untuk

pasien dengan kerusakan organ target. Merokok merupakan faktor resiko utama independen

untuk penyakit kardiovaskular. Pasien hipertensi yang merokok harus dikonseling

berhubungan dengan resiko lain yang dapat diakibatkan oleh merokok.

Tabel 1. Modifikasi Gaya Hidup untuk Mengontrol Hipertensi

Modifikasi Rekomendasi Kira-kira penurunan tekanan darah,

range

Penurunan berat badan (BB) Pelihara berat badan normal (BMI

18,5-24,9)

5-20 mmHg/10-kg penurunan BB

Adopsi pola makan DASH Diet kaya dengan buah, sayur, dan

produk susu rendah lemak

8-14 mmHg

Diet rendah sodium Mengurangi diet sodium, tidak

lebih dari 100meq/L (2,4 g sodium

atau 6 g sodium klorida)

2-8 mmHg

Aktifitas fisik Regular aktifitas fisik aerobik

seperti jalan kaki 30 menit/hari,

beberapa hari/minggu

4-9 mmHg

Minum alkohol sedikit saja Limit minum alkohol tidak lebih

dari 2/hari (30 ml etanol mis. 720

ml beer, 300 ml wine) untuk laki-

laki dan 1/hari untuk perempuan

2-4 mmHg

2.1.10.2 Terapi Farmakologi

2.1.10.2.1 Golongan Diuretik

Diuretik, terutama golongan tiazid, adalah obat lini pertama untuk kebanyakan pasien

dengan hipertensi. Bila terapi kombinasi diperlukan untuk mengontrol tekanan darah, diuretik

salah satu obat yang direkomendasikan. Empat subkelas diuretik digunakan untuk mengobati

hipertensi: tiazid, loop, agen penahan kalium, dan antagonis aldosteron. Diuretik penahan

kalium adalah obat antihipertensi yang lemah bila digunakan sendiri tetapi memberikan efek

aditif bila dikombinasi dengan golongan tiazid atau loop. Selanjutnya diuretik ini dapat

menggantikan kalium dan magnesium yang hilang akibat pemakaian diuretik lain. Antagonis

aldosteron (spironolakton) dapat dianggap lebih poten dengan mula kerja yang lambat (s/d 6

17

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

minggu untuk spironolakton). Tetapi, JNC 7 melihatnya sebagai kelas yang independen

karena bukti mendukung indikasi khusus.

Pada pasien dengan fungsi ginjal cukup ( GFR> 30 ml/menit), tiazid paling efektif untuk

menurunkan tekanan darah. Bila fungsi ginjal berkurang, diuretik yang lebih kuat diperlukan

untuk mengatasi peningkatan retensi sodium dan air. Furosemid 2x/hari dapat digunakan.

Jadwal minum diuretik harus pagi hari untuk yang 1x/hari, pagi dan sore untuk yang 2x/hari

untuk meminimalkan diuresis pada malam hari. Dengan penggunaan secara kronis, diuretik

tiazide, diuretik penahan kalium, dan antagonis aldosteron jarang menyebabkan diuresis yang

nyata.

Perbedaan farmakokinetik yang penting dalam golongan tiazid adalah waktu paruh dan

lama efek diuretiknya. Hubungan perbedaan ini secara klinis tidak diketahui karena waktu

paruh dari kebanyakan obat antihipertensi tidak berhubungan dengan lama kerja

hipotensinya. Lagi pula, diuretik dapat menurunkan tekanan darah terutama dengan

mekanisme extrarenal.

Diuretik sangat efektif menurunkan tekanan darah bila dikombinasi dengan kebanyakan

obat antihipertensif lain. Kebanyakan obat antihipertensi menimbulkan retensi natrium dan

air; masalah ini diatasi dengan pemberian diuretik bersamaan.

Efek samping diuretik tiazid termasuk hipokalemia, hipomagnesia, hiperkalsemia,

hiperurisemia, hiperglisemia, hiperlipidemia, dan disfungsi seksual. Diuretik loop dapat

menyebabkan efek samping yang sama, walau efek pada lemak serum dan glukosa tidak

begitu bermakna, dan kadang-kadang dapat terjadi hipokalsemia. Studi jangka pendek

menunjukkan kalau indapamide tidak mempengaruhi lemak atau glukosa atau disfungsi

seksual. Semua efek samping diatas berhubungan dengan dosis. Kebanyakan efek samping

ini teridentifikasi dengan pemberian tiazid dosis tinggi (misalnya HCT 100mg/hari).

Guideline sekarang menyarankan dosis HCT atau klortalidone 12.5 25 mg/hari, dimana

efek samping metabolik akan sangat berkurang.

Diuretik penahan kalium dapat menyebabkan hiperkalemia, terutama pada pasien dengan

penyakit ginjal kronis atau diabetes dan pada pasien yang menerima ACEI, ARB, NSAID,

atau supplemen kalium. Hiperkalemia sangat bermasalah terutama dengan eplerenone,

antagonis aldosteron yang terbaru. Karena sangat selektif antagonis aldosteron,

kemampuannya menyebabkan hiperkalemia melebihi diuretik penahan kalium lainnya,

18

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

bahkan spironolakton. Eplerenone dikontraindikasikan untuk pasien dengan gangguan fungsi

ginjal atau diabetes tipe 2 dengan proteinuria. Kalau spironolakton menyebabkan

gynecomastia pada 10% pasien, dengan eplerenon gynecomastia jarang terjadi.

2.1.10.2.2 Golongan Penghambat Enzim Konversi Angiotensin (ACEI)

ACEI dianggap sebagai terapi lini kedua setelah diuretik pada kebanyakan pasien

dengan hipertensi. Studi ALLHAT menunjukkan kejadian gagal jantung dan stroke lebih

sedikit dengan klortalidon dibanding dengan lisinopril. Perbedaan untuk stroke konsisten

dengan hasil trial lainnya, the Captopril Prevention Project (CAPP). Pada studi dengan

lansia, ACEI sama efektifnya dengan diuretik dan penyekat beta, dan pada studi yang lain

ACEI malah lebih efektif. Lagi pula, ACEI mempunyai peranan lain pada pasien dengan

hipertensi plus kondisi lainnya. Kebanyakan klinisi setuju bila ACEI bukan merupakan

terapi lini pertama pada kebanyakan pasien hipertensi, tetapi sangat mendekati diuretik.

ACEI menghambat perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II, dimana angiotensin II

adalah vasokonstriktor poten yang juga merangsang sekresi aldosteron (lihat gambar 1).

Non-renin Renin

Non-ACE ACE

Gambar 1. Sistem renin-angiotensin dan sistem kallikrein-kinin

ACEI juga memblok degradasi bradikinin dan merangsang sintesa zat-zat yang

menyebabkan vasodilatasi, termasuk prostaglandin E2 dan prostasiklin. Peningkatan

bradikinin meningkatkan efek penurunan tekanan darah dari ACEI, tetapi juga bertanggung

jawab terhadap efek samping batuk kering yang sering dijumpai pada penggunaan ACEI.

ACEI secara efektif mencegah dan meregresi hipertrofi ventrikel kiri dengan mengurangi

perangsangan langsung oleh angiotensin II pada sel miokardial.

JNC 7 mencantumkan 6 indikasi khusus dari ACEI, menunjukkan banyak kegunaan

yang berdasarkan bukti (evidence-based) dari kelas obat ini. Beberapa studi menunjukkan

Angiotensinogen

Angiotensin 1

Angiotensi II

AT2 reseptor AT1 receptors

Inactive peptides

Bradykinin

19

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

kalau ACEI mungkin lebih efektif dalam menurunkan resiko kardiovaskular dari pada obat

antihipertensi lainnya. Pada DM tipe 2, dua studi menunjukkan kalau ACEI superior daripada

CCB. Tetapi pada UKPDS, captopril ekivalen dengan atenolol dalam mencegah kejadian

kardiovaskular pada pasien dengan DM tipe 2. ACEI menurunkan morbiditas dan mortalitas

pada pasien dengan gagal jantung dan memperlambat progres penyakit ginjal kronis.

Golongan ACEI harus digunakan sebagai pengobatan lini pertama dalam terapi pada pasien-

pasien ini, kecuali terdapat kontraindikasi absolut. Selain terapi dengan penyekat beta, bukti

menunjukkan kalau ACEI lebih jauh menurunkan resiko kardiovaskular pada angina stabil

kronis (EUROPA) dan pada pasien-pasien pasca infark miokard (HOPE). Akhirnya, data dari

PROGRESS menunjukkan berkurangnya resiko stroke yang kedua kali dengan kombiasi

ACEI dan diuretik tiazid.

Kebanyakan ACEI dapat diberikan 1 kali/hari kecuali kaptopril, waktu paruhnya

pendek , biasanya dua sampai tiga kali/hari. Kaptopril, enalapril, dan lisinopril diekskresi

lewat urin, jadi penyesuaian dosis diperlukan pada pasien dengan penyakit ginjal kronis yang

parah. Penyerapan kaptopril berkurang 30 40 % bila diberikan bersama makanan.

ACEI dapat di toleransi dengan baik oleh kebanyakan pasien tetapi tetap mempunyai

efek samping. ACEI mengurangi aldosteron dan dapat menaikkan kosentrasi kalium serum.

Biasanya kenaikkannya sedikit, tetapi hiperkalemia dapat terjadi. Terlihat terutama pada

pasien dengan penyakit ginjal kronis, atau diabetes melitus dan pada pasien yang juga

mendapat ARB, NSAID, supplemen kalium, atau diuretik penahan kalium. Monitoring serum

kalium dan kreatinin dalam waktu 4 minggu dari awal pemberian atau setelah menaikkan

dosis ACEI sering dapat mengidentifikasi kelainan ini sebelum dapat terjadi komplikasi yang

serius.

Angiedema adalah komplikasi yang serius dari terapi dengan ACEI. Sering ditemui

pada African-Amerian dan perokok. Gejala berupa bengkak pada bibir dan lidah dan

kemungkinan susah bernafas. Hentikan pemberian ACEI untuk semua pasien dengan

angioedema, tetapi edema laring dan gejala pulmonal kadanag-kadang terjadi dan

memerlukan terapi dengan epinefrin, kortikosteroid, antihistamin, dan/atau intubasi

emergensi untuk membantu respirasi.

Batuk kering yang persisten terlihat pada 20% pasien; dapat dijelaskan secara

farmakologi karena ACEI menghambat penguraian dari bradikinin. Batuk yang disebabkan

tidak menimbulkan penyakit tetapi sangat menganggu ke pasien. Bila ACEI diindikasikan

20

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

untuk indikasi khusus gagal jantung, diabetes, atau penyakit ginjal kronis; pada pasien-pasien

dengan batuk kering, ACEI diganti dengan ARB. ACEI merupakan kontraindikasi absolut

untuk perempuan hamil dan pasien dengan riwayat angioedema.

ACEI harus dimulai dengan dosis rendah terutama pada pasien dengan deplesi natrium

dan volume, eksaserbasi gagal jantung, lansia, dan yang juga mendapat vasodilator dan

diuretik karena hipotensi akut dapat terjadi. Penting untuk memulai dengan dosis normal

untuk pasien-pasien diatas dan dosis dinaikkan perlahan.

2.1.10.2.3 Golongan Penyekat Reseptor Angiotensin II (ARB)

Angitensinogen II dihasilkan dengan melibatkan dua jalur enzim: RAAS (Renin

Angiotensin Aldosterone System) yang melibatkan ACE, dan jalan alternatif yang

menggunakan enzim lain seperti chymase. ACEI hanya menghambat efek angiotensinogen

yang dihasilkan melalui RAAS, dimana ARB menghambat angiotensinogen II dari semua

jalan. Oleh karena perbedaam ini, ACEI hanya menghambat sebagian dari efek

angiotensinogen II. ARB menghambat secara langsung reseptor angiotensinogen II tipe 1

(AT1) yang memediasi efek angiotensinogen II yang sudah diketahui pada manusia:

vasokonstriksi, pelepasan aldosteron, aktivasi simpatetik, pelepasan hormon antidiuretik dan

konstriksi arteriol efferen dari glomerulus. ARB tidak memblok reseptor angiotensinogen

tipe 2 (AT2). Jadi efek yang menguntungkan dari stimulasi AT2 (seperti vasodilatasi,

perbaikan jaringan, dan penghambatan pertumbuhan sel) tetap utuh dengan penggunaan

ARB.

Studi menunjukkan kalau ARB mengurangi berlanjutnya kerusakan organ target jangka

panjang pada pasien-pasien dengan hipertensi dan indikasi khusus lainnya. Tujuh ARB

telah di pasarkan untuk mengobati hipertensi; semua obat ini efektif menurunkan tekanan

darah. ARB mempunyai kurva dosis-respon yang datar, berarti menaikkan dosis diatas dosis

rendah atau sedang tidak akan menurunkan tekanan darah yang drastis. Penambahan

diuretik dosis rendah akan meningkatkan efikasi antihipertensi dari ARB. Seperti ACEI,

kebanyakan ARB mempunyai waktu paruh cukup panjang untuk pemberian 1 x/hari. Tetapi

kandesartan, eprosartan, dan losartan mempunyai waktu paruh paling pendek dan

diperlukan dosis pemberian 2x/hari agar efektif menurunkan tekanan darah.

ARB mempunyai efek samping paling rendah dibandingkan dengan obat antihipertensi

lainnya. Karena tidak mempengaruhi bradikinin, ARB tidak menyebabkan batuk kering

seperti ACEI. Sama halnya dengan ACEI, ARB dapat menyebabkan insufisiensi ginjal,

hiperkalemi, dan hipotensi ortostatik. Hal-hal yang harus diperhatikan lainnya sama dengan

21

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

pada penggunaan ACEI. Kejadian batuk sangat jarang, demikian juga angiedema; tetapi

cross-reactivity telah dilaporkan. ARB tidak boleh digunakan pada perempuan hamil.

2.1.10.2.4 Golongan Beta-blocker

Beta blocker memblok betaadrenoseptor. Reseptor ini diklasifikasikan menjadi

reseptor beta1 dan beta2. Reseptor beta1 terutama terdapat pada jantung sedangkan

reseptor beta2 banyak ditemukan di paruparu, pembuluh darah perifer, dan otot lurik.

Reseptor beta2 juga dapat ditemukan di jantung, sedangkan reseptor beta1 juga dapat

dijumpai pada ginjal. Reseptor beta juga dapat ditemukan di otak.

Stimulasi reseptor beta pada otak dan perifer akan memacu pelepasan neurotransmitter

yang meningkatkan aktivitas system saraf simpatis. Stimulasi reseptor reseptor beta-1 pada

nodus sino-atrial dan miokardiak meningkatkan heart rate dan kekuatan kontraksi. Stimulasi

reseptor beta pada ginjal akan menyebabkan pelepasan renin, meningkatkan aktivitas sistem

rennin angiotensin-aldosteron. Efek akhirnya adalah adalah peningkatan cardiac output,

peningkatan tahanan perifer dan peningkatan sodium yang diperantarai aldosteron dan

retensi air.

Terapi menggunakan betablocker akan mengantagonis semua efek tersebut sehingga

terjadi penurunan tekanan darah. Betablocker yang selektif (dikenal juga sebagai

cardioselective betablockers), misalnya bisoprolol, bekerja pada reseptor beta1, tetapi

tidak spesifik untuk reseptor beta1 saja oleh karena itu penggunaannya pada pasien dengan

riwayat asma dan bronkhospasma harus hati-hati. Betablocker yang nonselektif (misalnya

propanolol) memblok reseptor beta1 dan beta2.

Betablocker yang mempunyai aktivitas agonis parsial (dikenal sebagai aktivitas

simpatomimetik intrinsic), misalnya acebutolol, bekerja sebagai stimulanbeta pada saat

aktivitas adrenergik minimal (misalnya saat tidur) tetapi akan memblok aktivitas beta pada

saat aktivitas adrenergik meningkat (misalnya saat berolah raga). Hal ini menguntungkan

karena mengurangi bradikardi pada siang hari. Beberapa betablocker, misalnya labetolol,

dan carvedilol, juga memblok efek adrenoseptoralfa perifer. Obat lain, misalnya celiprolol,

mempunyai efek agonis beta2 atau vasodilator.

Betablocker diekskresikan lewat hati atau ginjal tergantung sifat kelarutan obat dalam

air atau lipid. Obatobat yang diekskresikan melalui hati biasanya harus diberikan beberapa

kali dalam sehari sedangkan yang diekskresikan melalui ginjal biasanya mempunyai waktu

paruh yang lebih lama sehingga dapat diberikan sekali dalam sehari. Betablocker tidak

22

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

boleh dihentikan mendadak melainkan harus secara bertahap, terutama pada pasien dengan

angina, karena dapat terjadi fenomena rebound.

2.1.10.2.5 Golongan Antagonis Kalsium (CCB)

CCB bukanlah agen lini pertama tetapi merupakan obat antihipertensi yang efektif,

terutama pada ras kulit hitam. CCB mempunyai indikasi khusus untuk yang beresiko tinggi

penyakit koroner dan diabetes, tetapi sebagai obat tambahan atau pengganti. Data

menunjukkan kalau dihidropiridine tidak memberikan perlindungan terhadap kejadian

jantung (cardiac events) dibandingkan dengan terapi konvensional (diuretik dan penyekat

beta) atau ACEI pada pasien tanpa komplikasi. Pada pasien dengan hipertensi dan diabetes,

ACEI terlihat lebih kardioprotektif dibanding dihidropiridin. Studi dengan CCB

nondihidropiridin diltiazem dan verapamil terbatas, tetapi studi NORDIL menemukan

diltiazem ekivalen dengan diuretik dan penyekat beta dalam menurunkan kejadian

kardiovaskular.

CCB dihidropiridin sangat efektif pada lansia dengan hipertensi sistolik terisolasi

(isolated systolic hypertension). JNC 7 tidak mencantumkan hipertensi sistolik terisolasi

berbeda dengan tipe hipertensi lainnya, dan diuretik tetap terapi lini pertama.

Bagaimanapun, CCB dihidropiridin long-acting dapat digunakan sebagai terapi tambahan

bila diuretik tiazid tidak dapat mengontrol tekanan darah, terutama pada pasien lansia

dengan tekanan darah sistolik meningkat.

CCB bekerja dengan menghambat influx kalsium sepanjang membran sel. Ada dua tipe

voltage gated calcium channel: high voltage channel (tipe L) dan low voltage channel (tipe

T). CCB yang ada hanya menghambat channel tipe L, yang menyebabkan vasodilatasi

koroner dan perifer. Ada dua subkelas CCB, dihidropiridin dan nondihidropiridine.

Keduanya sangat berbeda satu sama lain. Efektifitas antihipertensinya hampir sama, tetapi

ada perbedaan pada efek farmakodinami yang lain. Nondihidropiridin (verapamil dan

diltiazem) menurunkan denyut jantung dan memperlambat konduksi nodal atriventrikular.

Verapamil menghasilkan efek negatif inotropik dan kronotropik yang bertanggung jawab

terhadap kecenderungannya untuk memperparah atau menyebabkan gagal jantung pada

pasien resiko tinggi. Diltiazem juga mempunyai efek ini tetapi tidak sebesar verapamil.

Nifedipin yang bekerja cepat (immediate-release) telah dikaitkan dengan meningkatnya

insiden efek samping kardiovaskular dan tidak disetujui untuk pengobatan hipertensi. Efek

samping yang lain dari dihidropiridin adalah pusing, flushing, sakit kepala, gingival

hyperplasia, edema perifer, mood changes, dan gangguan gastrointestinal. Efek samping

23

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

pusing, flushing, sakit kepala, dan edema perifer lebih jarang terjadi pada nondihidropiridin

verapamil dan diltiazem karena vasodilatasinya tidak sekuat dihidropiridin.

Diltiazem dan verapamil dapat menyebabkan anorexia, nausea, edema perifer, dan

hipotensi. Verapamil menyebabkan konstipasi pada 7% pasien. Efek samping ini terjadi

juga dengan diltiazem tetapi lebih sedikit.

Verapamil dan juga diltiazem (lebih sedikit) dapat menyebabkan interaksi obat karena

kemampuannya menghambat sistem isoenzim sitokrom P450 3A4 isoenzim. Akibatnya

dapat meningkatkan serum konsentrasi obat-obat lain yang di metabolisme oleh sistem

isoenzim ini seperti siklosporin, digoksin, lovastatin, simvastatin, takrolimus, dan teofilin.

Verapamil dan diltiazem harus diberikan secara hati-hati dengan penyekat beta untuk

mengobati hipertensi karena meningkatkan resiko heart block dengan kombinasi ini. Bila

CCB perlu di kombinasi dengan penyekat beta, dihidropirine harus dipilih karena tidak akan

meningkatkan resiko heart block.

2.1.10.2.6 Golongan Penyekat Beta

Penyekat beta telah digunakan pada banyak studi besar untuk hipertensi. Sebelumnya

penyekat beta disarankan sebagi obat lini pertama bersama diuretik. Tetapi, pada

kebanyakan trial ini, diuretik adalah obat utamanya, dan penyekat beta ditambahkan untuk

menurunkan tekanan darah. Beberapa studi telah menunjukkan berkurangnya resiko

kardiovaskular apabila penyekat beta digunakan pasca infark miokard, pada sindroma

koroner akut, atau pada angina stabil kronis. Walaupun pernah dikontraindikasikan pada

penyakit gagal jantung, banyak studi telah menunjukkan kalau karvedilol dan metoprolol

suksinat menurunkan mortalitas pada pasien dengan gagal jantung sistolik yang sedang

diobati dengan diuretik dan ACEI. Atenolol digunakan pada DM tipe 2 pada studi UKPDS

dan menunjukkan efek yang sebanding, walaupun tidak lebih baik dalam menurunkan

resiko kardiovaskular dibandingkan dengan captopril.

Ada perbedaan farmakodinamik dan farmakokinetik diantara penyekat beta yang ada,

tetapi menurunkan tekanan darah hampir sama. Ada tiga karakteristik farmakodinamik dari

penyekat beta yang membedakan golongan ini yaitu efek :

Kardioselektif (cardioselektivity)

ISA (intrinsic sympathomimetic activity)

Mestabilkan membrane (membran-stabilizing)

Penyekat beta yang mempunyai afinitas yang lebih besar terhadap reseptor beta-1 dari

pada reseptor beta-2 adalah kardioselektif.

24

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Adrenoreseptor beta-1 dan beta-2 terdistribusi di seluruh tubuh, tetapi terkosentrasi

pada organ-organ dan jaringan tertentu. Beta-1 reseptor lebih banyak pada jantung dan ginjal,

dan beta-2 reseptor lebih banyak ditemukan pada paruparu, liver, pankreas, dan otot halus

arteri. Perangsangan reseptor beta-1 menaikkan denyut jantung, kontraktilitas, dan pelepasan

rennin. Perangsangan reseptor beta-2 menghasilkan bronchodilatatasi dan vasodilatasi.

Penyekat beta yang kardioselektif kecil kemungkinannya untuk mencetuskan spasme bronkus

dan vasokonstriksi. Juga, sekresi insulin dan glikogenolisis secara adrenergik dimediasi oleh

reseptor beta-2. Penghambatan reseptor beta-2 dapat menurunkan proses ini dan

menyebabkan hiperglikemi atau menimbulkan perbaikan hipoglikemi.

Atenolol, betaxolol, bisoprolol, dan metoprolol adalah penyekat beta yang

kardioselektif; jadi lebih aman daripada penyekat beta yang nonselektif pada pasien asma,

PPOK, penyakit arteri perifer, dan diabetes yang karena alasan khusus harus diberi penyekat

beta. Tetapi, kardioselektifitas adalah fenomena yang tergantung dosis. Pada dosis yang lebih

tinggi, penyekat beta yang kardioselektif kehilangan selektifitas relatifnya untuk reseptor

beta-1 dan akan memblok reseptor beta-2 seefektif memblok reseptor beta-1. Pada dosis

berapa kardioselektifitas hilang tergantung dari pasien ke pasien. Pada umumnya, penyekat

beta yang kardioselektif lebih disukai bila digunakan untuk mengobati hipertensi.

Beberapa penyekat beta mempunyai aktivitas simpatomimetik intrinsic (ISA).

Acebutolol, carteolol, penbutolol, dan pindolol adalah penyekat beta ISA yang bekerja secara

agonis beta reseptor parsial. Tetapi penyekat beta ISA ini tidak menurunkan kejadian

kardiovaskular dibanding dengan penyekat beta yang lain. Malahan, obat-obat ini dapat

meningkatkan resiko pasca infark miokard atau pada pasien dengan resiko penyakit koroner

yang tinggi. Jadi, ISA jarang diperlukan. Akhirnya, semua penyekat beta mempengaruhi aksi

menstabilkan membrane (membrane-stabilising action) pada sel jantung bila dosis cukup

besar digunakan. Aktifitas ini diperlukan bila karakteristik antiaritmik dari penyekat beta

diperlukan.

Perbadaan farmakokinetik diantara penyekat beta berhubungan dengan first pass

metabolisme, waktu paruh, derajat kelarutan dalam lemak (lipophilicity), dan rute eliminasi.

Propranolol dan metoprolol mengalami first-pass metabolism, jadi dosis yang diperlukan

untuk memblok reseptor beta akan bervariasi dari pasien ke pasien. Atenolol dan nadolol

mempunyai waktu paruh panjang dan di ekskresi lewat ginjal. Walaupun waktu paruh dari

penyekat beta lainnya jauh lebih singkat, pemberian 1x/hari efektif karena waktu paruh dalam

serum tidak berhubungan dengan lama keja hipotensinya.

25

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Penyekat beta bervariasi dalam sifat lipofiliknya atau penetrasinya ke susunan saraf

pusat. Semua penyekat beta melewati sawar darah-otak, tetapi agen lipofilik berpenetrasi

lebih jauh dibanding yang hidrofilik. Propranolol yang paling lipofilik dan atenolol yang

sedikit lipofiliknya. Jadi kosentrasi propranolol di otak lebih tinggi dibanding atenolol bila

dosis yang ekivalen diberikan. Hal ini mengakibatnya efek samping sistim saraf pusat (seperti

pusing dan mengantuk) dengan agen lipofilik seperti propranolol. Tetapi, sifat lipofilik ini

memberikan efek yang lebih untuk kondisi nonkardiovaskular seperti migraine, mencegah

sakit kepala, tremor essensial, dan tirotoksikosis.

Pemberian penyekat beta tiba-tiba dapat menyebabkan angina tidak stabil, infark

miokard, dan bahkan kematian pada pasien-pasien dengan resiko tinggi penyakit koroner.

Pemberhentian tiba-tiba juga dapat menyebabkan rebound hypertension (naiknya tekanan

darah melebihi tekanan darah sebelum pengobatan). Untuk mencegah ini, penyekat beta

harus diturunkan dosis dan diberhentikan secara perlahan-lahan selama 1 -2 minggu.

Seperti diuretic, penyekat beta menaikkan serum kolesterol dan glukosa, tetapi efek ini

transien dan secara klinis bermakna sedikit. Penyekat beta dapat menaikkan serum trigliserida

dan menurunkan kolesterol HDL sedikit. Penyekat beta dengan karakteristik memblok

penyekat alfa (karvedilol dan labatalol) tidak mempengaruhi kadar lemak.

2.1.10.2.7 Golongan Penyekat Alfa

Prazosin, terazosin, dan doxazosin adalah penyekat reseptor 1 selektif. Bekerja pada

pembuluh darah perifer dan menghambat pengambilan katekolamin pada sel otot halus,

menyebabkan vasodilasi dan menurunkan tekanan darah. Pada studi ALLHAT doxazosin

adalah salah satu obat yang digunakan, tetapi di stop lebih awal karena secondary end point

stroke, gagal jantung, dan kejadian kardiovaskular terlihat dengan pemberian doxazosin

dibanding chlorthalidone. Tidak ada perbedaan pada primary end point penyakit jantung

koroner fatal dan infark miokard nonfatal. Data ini menunjukkan kalau diuretik tiazid

superior dari doxazosin (dan barangkali 1-blocker lainnya) dalam mencegah kejadian

kardiovaskular pada pasien dengan hipertensi. Jadi penyekat alfa adalah obat alternatif

kombinasi dengan obat antihipertensi primer lainnya. Penyekat alfa1 memberikan

keuntungan pada laki-laki dengan BPH (benign prostatic hyperplasia). Obat ini memblok

reseptor postsinaptik alfa1 adrenergik ditempat kapsul prostat, menyebabkan relaksasi dan

berkurang hambatan keluarnya aliran urin.

Efek samping yang tidak disukai dari penyekat alfa adalah fenomena dosis pertama

yang ditandai dengan pusing sementara atau pingsan, palpitasi, dan bahkan sinkop 1 -3 jam

setelah dosis pertama. Efek samping dapat juga terjadi pada kenaikan dosis. Episode ini

26

UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

diikuti dengan hipotensi ortostatik dan dapat diatasi/dikurangi dengan meminum dosis

pertama dan kenaikan dosis berikutnya saat mau tidur. Hipotensi ortostatik dan pusing dapat

berlanjut terus dengan pemberian terus menerus. Penggunaannya harus hati-hati pada pasien

lansia. Penyekat alfa melewati hambatan otak-darah dan dapat menyebabkan efek samping

CNS seperti kehilangan tenaga, letih, dan depresi.

2.1.10.2.8 Golongan Agonis 2 Sentral

Klonidin dan metildopa menurunkan tekanan darah terutama dengan merangsang

reseptor 2 adrenergic di otak. Perangsangan ini menurunkan aliran simpatetik dari pusat

vasomotor di otak dan meningkatkan tonus vagal. Penurunan aktivitas simpatetik,

bersamaan dengan meningkatnya aktivitas parasimpatetik, dapat menurunkan denyut

jantung, cardiac output, total peripheral resistance, aktifitas plasma rennin, dan reflex

baroreseptor. Klonidin sering digunakan untuk hipertensi yang resistan, dan metildopa

adalah obat lini pertama untuk hipertensi pada kehamilan.

Penggunaan agonis 2 sentral secara kronis menyebabkan retensi natrium dan air,

paling menonjol dengan penggunaan metildopa. Penggunaan klonidin dosis kecil dapat

digunakan untuk mengobati hipertensi tanpa penambahan diuretik. Tetapi, metildopa harus

diberikan bersama diuretik untuk mencegah tumpulnya efek antihipertensi yang terjadi

dengan penggunaan jangka panjang, kecuali pada kehamilan.

Seperti dengan penggunaan obat antihipertensi yang bekerja sentral lainnya, depresi

dapat terjadi. Kejadian hipotensi ortostatik dan pusing lebih tinggi dari pada dengan obat

antihipertensi lainnya, jadi harus digunakan dengan hati-hati pada lansia. Klonidin

mempunyai kejadian efek samping antikolinergik yang cukup banyak seperti sedasi, mulut

kering, konstipasi, retensi urin, dan kabur penglihatan.

Penghentian agonis 2 sentral secara tiba-tiba dapat menyebabkan rebound

hypertension. Efek ini diduga disebabkan oleh meningkatnya pelepasan norepinefrin

sewaktu klonidin diberhentikan tiba-tiba. Metildopa dapat menyebabkan hepatitis atau

anemia hemolitik, walaupun jarang terjadi. Kenaikan sementara serum transaminase liver

kadang-kadang terlihat dengan terapi metildopa tetapi secara klinis irrelevant kecuali bila

nilainya diatas tiga kali batas normal. Metildopa harus diberhentikan segera apabila

kenaikan serum transaminase atau alkalin fosfatase liver menetap karena ini menunjukkan