JINACARITA - samaggi-phala.or.id .terlihat bahwa sang penulis terasa sangat menjemukan ketika ia

  • View
    223

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of JINACARITA - samaggi-phala.or.id .terlihat bahwa sang penulis terasa sangat menjemukan ketika ia

JINACARITA Sebuah Puisi Pli

Vanaratana Medhankara

ii

Tidak diperjualbelikan. Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku dalam bentuk apapun tanpa seizin penerbit.

JINACARITA SEBUAH PUISI PLI

Terjemahan dari buku: Jinacarita or The Career of The Conqueror

Karya: Vanaratana Medhankara

Terjemahan Bahasa Inggris oleh: Professor Charles Duroiselle

Terjemahan Bahasa Indonesia oleh: Upi. Ratanasanti Rhea Rosanti

Editor: Upa. Sasanasena Seng Hansen

Sampul & Tata Letak : poise design

Ukuran Buku Jadi : 130 x 185 mm

Kertas Cover : Art Cartoon 210 gsm

Kertas Isi : HVS 70 gsm

Jumlah Halaman : 148 halaman

Jenis Font : Segoe UI, Minnadrop

Diterbitkan Oleh :

Vidysen Production

Vihra Vidyloka

Jl. Kenari Gg. Tanjung I No. 231

Telp. 0274 2923423

Yogyakarta 55165

Cetakan Pertama, Februari 2018

Untuk Kalangan Sendiri

iii

Prawacana Penerbit

Sebagai umat Buddha, kita semua akan memperingati 4 hari raya besar, yaitu : Hari Suci Magha Puja, Hari Suci Asadha, Hari Suci Waisak, dan Hari Suci Kathina. Hari raya yang sedang kita rayakan pada saat ini adalah Hari Suci Magha Puja. Hari raya ini memperingati empat peristiwa penting, yaitu : 1. Seribu dua ratus lima puluh orang bhikkhu datang berkumpul tanpa pemberitahuan terlebih dahulu; 2. Mereka semuanya sudah mencapai tingkat kesucian arahat; 3. Mereka semuanya memiliki enam abhinna; 4. Mereka semua ditahbiskan oleh Sang Buddha dengan ucapan Ehi Bhikkhu. Peristiwa penting ini terjadi hanya satu kali dalam kehidupan Sang Buddha Gotama, yaitu pada saat purnama penuh di bulan Magha (Februari), tahun 587 SM (sembilan bulan setelah Sang Buddha mencapai Bodhi).

Para bhikkhu yang berkumpul pada peristiwa Magha Puja itu telah mencapai tingkat kesucian yang tertinggi, yaitu arahat. Mereka telah berhasil untuk membasmi

iv

semua kilesa atau kekotoran batin sampai keakar-akarnya, sehingga mereka dikatakan telah khinasava atau bersih dari kekotoran batin. Mereka tidak mungkin lagi berbuat salah, mereka telah sempurna. Pada peristiwa Suci Magha Puja itu, Sang Buddha juga memberitahukan pengangkatan Arahat Sariputta dan Arahat Mogallana sebagai siswa Utama Beliau (Aggasavaka) dalam Sangha Bhikkhu. Tak lupa, penerbit pun juga ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak, terutama dari kebaikan para donatur yang telah mendukung terbitnya buku ini. Kami pun sangat terbuka terhadap segala bentuk kritik dan saran, agar Vihara Vidyaloka ini dapat terus berkembang, dan kedepannya akan tetap dapat memproduksi buku dalam rangka perayaan hari raya besar. Terimakasih dan selamat membaca buku ini. Semoga hari kita semua dipenuhi oleh kebahagiaan.

Selamat Hari Suci Magha PujaSemoga semua makhluk hidup berbahagia

Manager Produksi Buku Vidyasena

Dharmawan

v

Kata Pengantar

Seperti yang tertera pada judul, Jinacarita berisi tentang kehidupan Sang Penakluk, yang tak lain tak bukan, adalah kehidupan Sang Buddha. Karya ini tampaknya ada di kalangan umat Buddha di Ceylon (sekarang disebut Sri Lanka), sama seperti karya Buddhacarita dan Lalitavistara yang ada di kalangan umat Buddhis aliran Utara; dan ini menunjukkan lebih dari satu fakta bahwa Jinacarita masih belum diketahui di Siam (Thailand) dan di Burma (Myanmar). Di Burma, pertanyaan paling mendetail mengenai informasi apapun terkait karya ini tidak akan terjawab, bahkan mengenai namanya sekalipun; dan hal ini terlihat aneh, ketika, dalam batu prasasti kuno Burma, terlihat nama-nama dari karya Pli yang ditulis di Ceylon, seperti Jinacarita, dan berbagai macam hal juga dibahas di dalamnya: tata bahasa, fi losofi , persajakan, bibliografi , dsb., yang istilah-istilahnya jarang sekali terdengar dalam ilmu bahasa Pli di Burma dan Ceylon, dan kebanyakan dari istilah ini tidak diketahui oleh cendekiawan Eropa, sementara Jinacarita cukup diketahui, setidaknya namanya.

vi

Gaya penulisan puisi ini cenderung acak, terdapat beberapa bagian yang lemah dan terasa menjemukan serta bagian lain yang terasa sangat puitis; akan tetapi, akan sangat terlihat bahwa sang penulis terasa sangat menjemukan ketika ia mengikuti Nidnakath secara kaku dan hanya mengubah prosanya menjadi bait-bait bersuku kata delapan. Tetapi ketika ia menggebrak penulisan secara harfi ah yang membabi buta ini dan menulis berdasarkan kedalaman idenya sendiri, ia menjadi mengungguli para penyair lainnya. Karena kalimat perenungan bukanlah bahasa yang hanya untuk kaum tertentu, dan perenungan ada dalam segala bahasa; perlu dicatat bahwa puisi tidak hanya terdiri dari rangkaian kata-kata, yang hanya berdasarkan pendek dan panjangnya suku kata serta aturan-aturan konvensional ilmu persajakan; walaupun dalam karya ini, penulis kita ini teramat sempurna dalam hal ini.

Pesona karya Jinaracita ini terletak pada gaya penulisannya yang ringan; terlihat pada pilihan penggambaran sang penyair yang mempesona, dan terkadang dipaksakan; dalam seni penjelasannya yang deskriptif; kekayaan dan, dalam beberapa bagian, kelembutan pengungkapannya; kualitas-kualitas yang membuat saat membacanya terasa menyegarkan dan tersambut kembali setelah membaca puisi yang berat dan penuh pesan moral.

Sebagai contoh, mereka yang membaca versi Pli aslinya tidak akan lupa dengan keindahan bait-bait 339-344, berisi tentang deskripsi Kludyi tentang jalan menuju Kapilavastu; begitu pula keindahan dan kelembutan pada

vii

bait 70, 71, dimana sang penyair melantunkan kecantikan paras My, ibunda Sang Buddha; dan juga bait 167, dimana, dalam baris-baris yang indah, ia menjelaskan pesona Yasodhar. Penggambaran konfl ik dengan Mara juga mengandung begitu banyak bait yang indah yang tidak akan gagal memukau para pembacanya. Keindahan lain terdapat pula pada deskripsi mengenai Taman Lumbini dan Veluvana, beserta ketiga istana Siddhattha muda. Ini hanyalah sedikit contoh bait-bait puitis yang menunjukkan kecakapan sang penulis.

Tidak banyak yang diketahui tentang Medhakara, sang penulis Jinacarita; bahkan di Ceylon pun, tidak ada satupun gambaran biografi mengenai dirinya, kecuali beberapa bait pada bagian akhir puisi yang ditulisnya.

Pada bagian tersebut, kita diberitahu bahwa Medhakara menulis Jinacarita di Ceylon, di sebuah wihara yang dibangun oleh Raja Vijayabhu dan mengatasnamakan nama sang raja. Namun pada masa itu terdapat tiga orang raja Sinhala dengan nama ini. Raja yang pertama menaiki tahta pada 1071 Masehi dan mendirikan ibukotanya lagi di Pollunaruwa; akan tetapi masa kekuasaannya penuh dengan peperangan serta konfl ik kepentingan, dan musuh bebuyutan Ceylon, suku Malabar, harus diperangi dan diusir dari pulau tersebut secara bertahap. Ada kemungkinan besar karya ini tidak diselesaikan oleh sang pengarang pada masa ini, karena agama baru saja mulai dilestarikan kembali setelah hampir punah akibat penjajahan oleh umat Hindu. Raja ketiga dengan nama ini, yang ibukota pemerintahannya terdapat di Dambedeniya, menaiki tahta

viii

pada tahun 1235 dan meninggal pada tahun 1266 Masehi, setelah memperkuat bagian Ceylon yang masih berada di bawah kekuasaan Sinhala; namun ia harus terus-menerus melawan suku Malabar yang memegang kendali sebagian besar pulau tersebut. Mungkin pada masa inilah Jinacarita ditulis.

Akan tetapi, saya cenderung berpendapat bahwa puisi ini ditulis di wihara yang dibangun oleh Vijayabhu II, yang menaiki tahta pada tahun 1186 Masehi dan menjadi penerus langsung raja Parakramabhu yang terkenal, Raja dari Para Sinhala yang paling termahsyur, yang memerangi para penjajah dan mengukuhkan kekuasaannya dengan mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil di Ceylon. Pada masa kekuasaan Parakramabhu, agama Buddha bangkit dan berkembang makmur; itulah masa kejayaan pergerakan kegiatan kesusastraan. Pada masa kejayaan inilah Kerajaan berpindah kepada Vijayabhu II, yang walaupun cabul, memiliki kepedulian terhadap kesejahteraan dan perkembangan agama, dan mengutus seorang duta menghadap ke Raja Burma untuk membantu mewujudkan hal ini. Terdapat kemungkinan bahwa ialah yang membangun sebuah wihara atas nama dirinya dan di tempat itulah sang penulis tinggal; walaupun sang raja yang kurang beruntung itu hanya bertahta selama satu tahun. Jika dugaan kami tepat, karya Jinacarita ini ditulis di atau di dekat ibukota yang bernama Pollunaruwa, pada akhir abad ke-12.

Selain pesona Jinacarita sebagai sebuah puisi yang halus, daya tarik utamanya terdapat pula pada sanskritisasi-nya.

ix

Karya ini menunjukkan, hampir pada setiap halamannya, pengetahuan sang penulis yang luas tentang karya sastra Sansekerta klasik. Tidak diragukan lagi bahwa ia mengagumi Klidsa, dan juga mengetahui dua Syair Kepahlawanan India yang hebat, atau setidaknya beberapa bagiannya. Ia memanfaatkan beberapa penggambaran dan perbandingan yang jarang ditemui dalam karya sastra Pli, tetapi sering muncul dalam karya-karya Sansekerta, untuk memberikan beberapa contoh,

Sang penulis menggambarkan Mahmy sebagai bimbdarya, ia yang bibirnya bimba, yang maknanya, memiliki bibir merah merekah. Klidsa, dalam karya seni peran dan puisinya, sering menggunakan ungkapan ini; Cf Kumrasambhva, Canto III, and Meghadta:

Yatra bimbdharnn1 (II. 7).

Tanv ym ikharidaan pakvabimbdharo

(II.21).

Pravlacdharabimbam (Daakumra, purvapik).

Lagi, Kumrasambhava:

Ummukhe bimbaphaldharoe (XVII).

Pada bait 164, dikatakan bahwa Yasodhar memiliki mata yang indah, bagaikan teratai biru: Nettanlakamal-1 Karena tidak memungkinkan untuk mencetak tulisan Sansekerta di Rangoon (sekarang

Yangon di Myanmar) dalam aksara devanagari, maka keseluruhan tulisan ini dicetak dalam aksara Romawi. Beberapa ahli bahasa Sansekerta ma