Integrasi Kearifan Lokal dalam Pembelajaran Fisika dalam ... Kearifan Lokal dalam Pembelajaran Fisika

  • View
    220

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Integrasi Kearifan Lokal dalam Pembelajaran Fisika dalam ... Kearifan Lokal dalam Pembelajaran...

1

Integrasi Kearifan Lokal dalam Pembelajaran Fisika dalam Rangka

Menyiapkan Sumber Daya Manusia Berkarakter Kuat Menyongsong

Era Revolusi Industri 4.0

I Wayan Suastra

Universitas Pendidikan Ganesha

iwsuastra@undiksha.ac.id

Act Locally Thinks Globally

PENDAHULUAN

Era revolusi industri 4.0

merupakan abad yang sering disebut era

disruption (kekacauan/disrupsi), penuh

dengan kompleksitas dan ketidakpastian

serta menghasilkan generasi milenia

yang antara lain memiliki ciri-ciri:

kecanduan internet (sebagian besar

waktunya untuk internet/sosial media),

suka bekerja, suka bermain, bersenang-

senang, hidupnya konsumtif, dan kurang

perhatian.

Gardner (2007) menyatakan

bahwa untuk menghadapi tantangan

masa depan yang begitu kompleks dan

cepat ini adalah dengan menguasai lima

pikiran untuk masa depan (five minds for

the future) yang meliputi: pikiran

terdisiplin, pikiran menyintesis, pikiran

mencipta, pikiran merespek, dan pikiran

etis. Artinya, selain sumber daya manusia

itu cerdas (smart), juga diperlukan

pikiran dan perilaku etis (karakter

baik/good character).

Saat ini berbagai persoalan dialami

bangsa Indonesia, seperti maraknya

intoleransi, radikalisme, terorisme, fitnah

di media sosial (Hoak), korupsi,

pemerasan/kekerasan (bullying),

penggunaan narkoba (Badan Narkotika

Nasional menyatakan ada lebih dari 3,6

juta penduduk pecandu narkoba di

Indonesia tahun 2010), rapuhnya rasa

kebangsaan baik dari kalangan

masyarakat biasa sampai yang

berpendidikan tinggi, serta adanya

sekelompok masyarakat yang ingin

mengganti dasar negara kita Pancasila

yang berlandaskan ke-bhineka-an dengan

ideologi lain. Persoalan ini tidak bisa

dibiarkan begitu saja karena akan

berakibat pada runtuhnya tatanan

kebangsaan kita. Salah satu yang diduga

sebagai penyebab persoalan ini adalah

kurang ditanamkannya secara baik

karakter kebangsaan dalam proses

pendidikan di sekolah. Hal ini sesuai

dengan pendapatnya Zamroni (2000:1)

yang mengatakan bahwa dewasa ini,

pendidikan cenderung menjadi sarana

"stratifikasi sosial" dan sistem

persekolahan yang hanya mentransfer

kepada peserta didik apa yang disebut

sebagai dead knowledge, yaitu

pengetahuan yang terlalu bersifat hafalan

(textbookish), sehingga bagaikan sudah

diceraikan dari akar budayanya. Lebih

lanjut, Suastra (2017) menyatakan bahwa

nilai-nilai kearifan lokal yang ada di

masyarakat kurang mendapat perhatian

dalam proses pembelajaran di sekolah,

padahal nilai-nilai tersebut masih sangat

relevan diterapkan dalam kehidupan

bermasyarat dan dapat menjaga keutuhan

banga Indonesia. Fenomena ini

mengindikasikan kegagalan dalam

bidang dalam mengembangkan

pendidikan nilai. Lebih lanjut, Widja

(2016) mengatakan bahwa carut-

marutnya bangsa ini disebabkan karena

adanya disfungsi sekolah dalam

pendidikan budi pekerti (moral). Kurang

baiknya moral siswa berakibat pada

rendahnya karakter siswa adalah

mailto:iwsuastra@undiksha.ac.idmailto:iwsuastra@undiksha.ac.id

2

indikator kegagalan guru dalam

mengintegrasikan pengetahuan tentang

nilai menjadi tindakan yang positif

(Lickona, 1999; Lopes, dkk, 2013; Abu,

dkk, 2014; Aisah, 2014). Sudah saatnya

segera dibangun kembali kesadaran akan

pentingnya pembinaan karakter bagi

insan Indonesia melalui pendidikan yang

bermutu. Sesuai dengan pendapatnya

Elmubarok (2008) yaitu, mengumpulkan

yang terserak, menyambung yang

terputus, dan menyatukan yang tercerai.

Berkenaan dengan tuntutan

kebutuhan dunia kerja di masa depan,

National Association College Employers

(NACE) tahun 2015 menguraikan bahwa

5 teratas keterampilan-keterampilan yang

dibutuhkan dunia usaha adalah 1)

kemampuan bekerja dalam tim (4,55), 2)

kemampuan mengambil keputusan yang

tepat dan pemecahan masalah (4,50), 3)

merencanakan, mengorganisasi, dan

memprioritaskan pekerjaan (4,48), 4)

kemampuan memperoleh informasi dan

memproses informasi (4,48), serta 5)

kemampuan menganalisis data

kuantitatif (4,37) dengan skor maksimal.

Artinya, untuk mengantisipasi

perkembangan dunia yang begitu cepat

dan kompleks ini diperlukan sumber

daya manusia yang berkualitas dan

berdaya saing tinggi dengan menekankan

pada karakter (kecerdasan sosial,

kecerdasan emosiaonal, dan kecerdasan

spiritual).

Rendahnya kualitas pendidikan

tidak bisa lepas dari peran guru dalam

proses pendidikan. Perhatian utama

dalam upaya meningkatkan kualitas

pendidikan adalah meningkatkan kualitas

guru. Jadi, gurulah yang memegang

peranan sentral dalam proses pendidikan,

di samping faktor-faktor lainnya seperti:

kurikulum, serta sarana dan prasarana

pendukung lainnya. Guru merupakan

unsur penentu terciptanya mutu

pelayanan dan hasil pendidikan

(Zamroni, 2001). Oleh karena itu, bangsa

Indonesia memerlukan guru yang cerdas,

arif, dan berkarakter Indonesia agar

mampu menghasilkan sumber daya

manusia yang kompeten, cerdas, dan

berkarakter bangsa Indonesia yang kuat.

ASPEK BUDAYA PADA

PEMBELAJARAN FISIKA

Untuk mempelajari proses

pembelajaran fisika di sekolah, selain

memakai teori psikologi yang berakar

pada konstruktivisme individu (personal

constructivism) dan perspektif sosiologi

yang bertumpu pada konstruktivisme

sosial (social constructivism), para

peneliti dan ahli pendidikan sains saat ini

mencoba untuk menggunakan kajian

teori anthropologi (anthropological

perspective). Yang terakhir ini mencoba

melihat proses pembelajaran fisika di

sekolah pada setting budaya masyarakat

sekitar (Suastra, 2005; Cobern dan

Aikenhead, 1996). Menurut perspektif

antropologi, pembelajaran fisika

dianggap sebagai transmisi budaya

(cultural transmission) dan pembelajaran

fisika sebagai "penguasaan" budaya

(cultural acquisition). Dengan demikian,

proses belajar mengajar fisika di kelas

dapat diibaratkan sebagai proses

pemindahan dan perolehan budaya dari

guru dan oleh murid. Untuk pembatasan,

kata budaya (culture) yang dimaksud di

sini adalah suatu sistem atau tatanan

tentang simbol dan arti yang berlaku pada

interaksi sosial suatu masyarakat (Geertz,

1992). Berdasarkan batasan ini, fisika

dapat dianggap sebagai subbudaya

kebudayaan Barat (Euro-Amerika). Oleh

karena itu, sains asli (budaya lokal) dari

suatu komunitas di Indonesia (non-Barat)

adalah subbudaya dari kebudayaan

komunitas tersebut.

Pengaruh sains barat sangat kuat

pada pembelajaran fisika (sains) di

sekolah yang tujuan utamanya adalah

transmisi budaya dari budaya negara

yang dominan (Stanley dan Brickhouse,

2001). Pentransmisian subkultur sains

dapat mendorong dan dapat

menghancurkan atau memisahkan. Jika

subkultur sains pada umumnya harmonis

3

dengan budaya sehari-hari siswa,

pembelajaran sains akan memiliki

kecenderungan untuk memperkuat

pandangan siswa terhadap alam semesta,

dan hasilnya adalah inkulturasi (Hawkins

& Pea, 1987). Jika inkulturasi terjadi,

maka berpikir ilmiah siswa tentang

kehidupan sehari-hari akan meningkat.

Tetapi jika subkultur sains berbeda

dengan budaya sehari-hari siswa tentang

alam semesta, seperti yang terjadi pada

kebanyakan siswa (Costa, 1995; Ogawa,

2002), maka pembelajaran sains akan

memiliki kecenderungan untuk

menghancurkan atau memisahkan

pandangan siswa terhadap alam sehingga

siswa akan meninggalkan atau

meminggirkan cara asli mereka.

Hasilnya adalah asimilasi (Jegede &

Aikenhead, 2000) yang konotasinya

sangat negatif sebagai bukti adanya

hegemoni pendidikan atau

imperialisme budaya (Battiste dalam

Cobern & Aikenhead, 1996:5). Siswa

akan berjuang menegosiasi untuk

menembus batas antara subkultur yang

asli dan subkultur sains. Tetapi, dalam

kenyataannya, siswa sering menolak

aspek-aspek penting budayanya sendiri.

Sebagai contoh, dalam penelitian yang

berseri dari tahun 1972 sampai tahun

1980 di Papua New Guenia telah

ditemukan pengaruh tersembunyi yang

signifikan terhadap terjadi pemisahan

siswa dari budaya tradisionalnya. Pada

sekolah-sekolah yang lebih formal,

siswanya lebih menerima alienisasi.

Untuk kasus di Bali, hal itu dapat dilihat

dari makin banyaknya kerusakan

lingkungan alam seperti rusaknya hutan

lindung, terleklamasinya pantai untuk

kepentin