of 91 /91
HASIL DISKUSI KELOMPOK MATA KULIAH HUMANIORA Dosen Pengampu Erindra Budi C., S.Kep.Ns., M.Kes Disusun Oleh: 1 1. Gesit Kusuma W R1114047 2. Ginanti Vinastiti R1114049 3. Hexa Anita S R1114053 4. Ika Kurnianingsih R1114055 5. Irfi Ulimaz R R1114057 6. Isnadewi Safitri

Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Paper hasil diskusi PBL

Citation preview

Page 1: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

HASIL DISKUSI KELOMPOK

MATA KULIAH HUMANIORA

Dosen Pengampu Erindra Budi C., S.Kep.Ns., M.Kes

Disusun Oleh:

PROGRAM STUDI D IV BIDAN PENDIDIK FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

2015

1

1. Gesit Kusuma W R1114047

2. Ginanti Vinastiti R1114049

3. Hexa Anita S R1114053

4. Ika Kurnianingsih R1114055

5. Irfi Ulimaz R R1114057

6. Isnadewi Safitri R1114059

7. Juwita Fitriyani R1114061

8. Lailatif Nadiah S. R1114063

9. Luluk Fauziah R1114065

10. Maftukhah Arnum R. R1114067

11. Mardiati Arifin R1114069

12. Mifta Dyah A R1114071

Page 2: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

HASIL DISKUSI

Istilah yang tidak jelas:

1. Premenstrual Syndrome (PMS)

2. Anamnesa

3. PP test

4. Haid tidak teratur

5. Obat generik

6. Indikasi

7. Sembuh

8. Sakit

Permasalahan:

1. Mengapa terlambat menstruasi?

(mengkaji informasi tentang menstruasi: siklus, tanda, gangguan, proses

menstruasi, dll)

2. Apa itu kondisi tidak sehat?

(berkaitan dengan stress, sakit, nyeri, dsb)

3. Bagaimana penyebaran informasi pasien?

(kapan, dimana, sejauh apa, privasi pasien, aspek bioetika bidan)

4. Mengapa pasien tidak puas dengan pelayanan bidan?

(berkaitan dengan standar pelayanan kebidanan, standar tindakan bidan)

5. Mengapa pasien tidak mampu membayar bidan?

(penghasilan pasien, tarif bidan, aspek bioetik bidan)

Tujuan Pembelajaran (Learning Objektif):

1. Mahasiswa mampu memberikan pelayanan sesuai dengan Standar Pelayanan

Kebidanan (SPK)

2. Mahasiswa mampu memahami konsep menstruasi

3. Mahasiswa mengerti tentang konsep sehat-sakit

4. Mahasiswa mampu memahami konsep bioetik yang terjadi dalam kasus

kebidanan

5. Mahasiswa mengerti tentang kode etik profesi bidan

Page 3: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

MENSTRUASI

A. Pengertian

Menstruasi adalah perdarahan secara periodik dan siklik dari uterus disertai

pelepasan endometrium (Sarwono, 2007).

Menstruasi bukanlah suatu penyakit. Menstruasi merupakan puncak dari

serangkaian perubahan yang terjadi pada seorang remaja putri yang sedang

menginjak dewasa dan sebagai tanda ia sudah mampu hamil (Manuaba, 1999).

Menstruasi adalah suatu keadaan fisiologis atau normal, merupakan peristiwa

pengeluaran darah, lemdir dan sisa-sisa sel secara berkala yang berasal dari mukosa

uterus dan terjadi relatif teratur mulai dari menarche sampai menopause, kecuali

pada masa hamil dan laktasi. Lama perdarahan pada menstruasi bervariasi, pada

umumnya 4-6 hari, tapi 2-9 hari masih dianggap fisiologis (Ganong, 2003).

B. Siklus Menstruasi

Siklus menstruasi adalah jarak antara tanggal mulainya menstruasi yang lalu

dan mulainya menstruasi berikutnya. Panjang siklus menstruasi yang normal atau

dianggap sebagai siklus menstruasi yang klasik ialah 28 hari ditambah atau dikurangi

2-3 hari (Sarwono, 2007).

Lama menstruasi biasanya antara 3–5 hari, ada yang 1–2 hari diikuti darah

sedikit sedikit kemudian ada yang 7–8 hari. Pada setiap wanita biasanya lama

menstruasi itu tetap. Jumlah darah yang keluar rata-rata 16 cc, bila lebih 80 cc

dianggap patologik (Sarwono, 2007).

Pengeluaran darah menstruasi berlangsung antara 3-7 hari, dengan jumlah

darah yang hilang sekitar 50-60 cc tanpa bekuan darah. Bila perdarahan disertai

gumpalan darah menunjukkan terjadi perdarahan banyak, yang merupakan keadaan

abnormal pada menstruasi (Manuaba, 1999)

Siklus menstruasi dibagi menjadi siklus ovarium dan siklus endometrium. Di

ovarium terdapat tiga fase, yaitu fase folikuler, fase ovulasi dan fase luteal. Di

endometrium juga dibagi menjadi tiga fase yang terdiri dari fase menstruasi, fase

proliferasi dan fase ekskresi (Ganong, 2003).

Hari pertama mulainya menstruasi disebut sebagai hari pertama dari siklus

yang baru. Akan terjadi lagi peningkatan FSH (Folikel Stimulating Hormone),

folikel yang berkembang ini menghasilkan estrogen dalam jumlah banyak.

Page 4: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

Peningkatan estrogen yang terus menerus pada akhir fase folikuler akan menekan

pengeluaran FSH. Dua hari sebelum ovulasi, kadar estrogen meningkat mencapai

puncaknya, akibatnya FSH dan LH dalam serum akan meningkat dan mencapai

puncaknya satu hari sebelum ovulasi. Saat yang sama pula, kadar estrogen akan

kembali menurun (Jacoeb dan Ali, 1994).

Terjadinya puncak LH dan FSH pada hari ke-14, maka pada saat ini folikel

akan mulai pecah dan suatu hari akan timbul ovulasi. Bersamaan dengan ini

dimulailah pembentukan dan pematangan korpus luteum yang disertai dengan

meningkatnya kadar progesteron (Jacoeb dan Ali, 1994).

Awal fase luteal, seiring dengan pematangan korpus luteum. Sekresi

progesteron terus menerus meningkat. Estrogen yang dikeluarkan dari folikel juga

tampak pada fase luteal dengan konsentrasi yang lebih tinggi daripada pertengahan

fase folikuler. Produksi estrogen dan progesteron maksimal dijumpai antara hari ke-

20 dan 23. Meningkatnya kembali produksi kedua hormon tersebut merangsang

berkembangnya folikel-folikel baru seiring dengan dimulainya fase folikuler (Jacoeb

dan Ali, 1994).

Fase-fase endometrium terjadi pada saat yang bersamaan mencerminkan

pengaruh hormon-hormon ovarium pada uterus. Pada awal fase folikuler, lapisan

endometrium yang kaya akan nutrien dan pembuluh darah terlepas, inilah yang

disebut fase menstruasi. Pelepasan ini terjadi akibat merosotnya estrogen dan

progesteron ketika korpus luteum tua berdegenerasi pada akhir fase luteal

sebelumnya.

Pada akhir fase folikuler, kadar estrogen yang meningkat menyebabkan

endometrium menebal atau sering disebut dengan fase proliferasi. Setelah ovulasi,

progesteron dari korpus luteum menimbulkan perubahan vaskuler dan sekretorik di

endometrium yang telah dirangsang oleh estrogen untuk menghasilkan lingkungan

yang ideal untuk implatasi, fase ini disebut fase sekresi. Sewaktu korpus luteum

berdegenerasi, dimulailah fase folikuler menstruasi yang baru (Jacoeb dan Ali,

1994).

Bila tidak ada pembuahan, korpus luteum berdegenerasi yang menyebabkan

kadar esterogen dan progesteron menurun, sehingga terjadi degenerasi serta

perdarahan dan pelepasan endometrium yang nekrotik, yang disebut masa mestruasi.

Bilamana ada pembuahan dalam masa ovulasi, maka korpus luteum dipertahankan

dan berkembang menjadi korpus luteum graviditatis.

Page 5: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

Gambar 1. Hormon-hormon yang mengatur siklus menstruasi

Gambar 2. Hubungan hipotalamus, hipofisis, ovarium dan endometrium

Page 6: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

Siklus mestruasi dapat dipengaruhi oleh stress, kelelahan fisik, pikiran dan

penggunaan obat untuk sakit jangka panjang (misalnya : hipertensi, diabetes, asma).

Hal-hal tersebut secara tidak langsung akan mempengaruhi pembuatan zat-zat

hormon seksual seperti estrogen dan progesteron, sehingga menyebabkan gangguan

pada siklus mentruasi. Namun biasanya tidak berlangsung lama karena tubuh bisa

segera beradaptasi dengan faktor pemicu tersebut. Jadi jika baru terjadi pertama kali,

tidak ada yang perlu dikhawatirkan namun sebaiknya pantau terus di bulan-bulan

berikutnya. Bila terjadi sampai 3 bulan berturut-turut sebaiknya segera berkonsultasi

ke dokter kandungan agar dapat ditemukan penyebab dan solusinya (Llewellyn-

Jones, 1997).

Gambar 3. Gambaran uterus saat siklus menstruasi

C. Tanda dan Gejala

1. Pre menstrual tension (Ketegangan Pra Haid)

Ketegangan sebelum haid terjadi beberapa hari sebelum haid bahkan sampai

menstruasi berlangsung. Terjadi karena ketidakseimbangan hormon estrogen dan

progesteron menjelang menstruasi. Premenstrual tension terjadi pada umur 30-40

tahun.

Gejala klinik dari premenstrual tension adalah:

a. Gangguan emosional

b. Gelisah

c. Susah tidur Perut kembung

d. Mual muntah

Page 7: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

e. Payudara tegang dan sakit

Terapi:

a. Olahraga

b. Perubaha diet (tanpa garam, kopi, dan alkohol)

c. Mengurangi stres

d. Konsultasi dengan tenaga ahli

2. Mastodinia atau Mastalgia

Adalah rasa tegang pada payudara menjelang haid. Disebabkan oleh

dominasi hormon estrogen, sehingga terjadi retensi air dan garam yang disertai

hiperemia didaerah payudara.

3. Mittelschmerz (Rasa Nyeri pada Ovulasi)

Adalah rasa sakit yang timbul pada wanita saat ovulasi, berlangsung

beberapa jam sampai beberapa hari dipertengahan siklus menstruasi. Hal ini

terjadi karena pecahnya folikel de Graff. Lamanya bisa beberapa jam bahkan

sampai 2-3 hari.

4. Dismenorea

Adalah nyeri menstruasi yang memaksa wanita untuk istirahat atau

berkurangnya aktifitas sehari-hari (bahkan, kadang bisa membuat meringkuk

tidak berdaya).

5. Gejala psikologis

Gejala-gejala psikologis pada sindrom premenstruasi dapat disebabkan

karena perubahan hormonal selama fase luteal dan fase premenstruasi. Fase-fase

tersebut terjadi peningkatan kadar progesteron dan penurunan sekresi estrogen

yang mempunyai efek neuroprotektif, keduanya dapat menyebabkan

meningkatnya variasi emosional (Manuaba, 2003). Selain itu, keseimbangan

kalsium dan menurunnya konsentrasi endorfin juga dapat menyebabkan beberapa

gangguan afektif dan dapat mempengaruhi mood seseorang. Gejala psikologis

pada sindrom menstruasi terdiri dari :

a. Depresi, yang terdiri dari gejala utama dan gejala penyerta. Gejala utama

depresi meliputi perubahan suasana hati secara drastis dalam waktu singkat,

tidak bergairah, dan merasa sedih sedangkan gejala penyertanya adalah

gelisah, gangguan pola tidur, pesimis, penurunan konsentrasi, menarik diri atau

kesendirian, dan iritabilitas atau mudah marah, mudah tersinggung, dan mudah

menangis.

Page 8: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

b. Senang mencari kesalahan

c. Tidak ramah, rasa bermusuhan

d. Sulit mengambil keputusan

e. Mudah lupa

f. Bingung

D. Gangguan Menstruasi

Gangguan saat menstruasi dinilai masih normal jika terjadi selama dua tahun

pertama setelah haid pertama kali (menarche). Bila seorang wanita telah

mendapatkan haid pertama saat berusia 11 tahun, maka diperkirakan hingga usia 13

tahun haidnya masih tidak teratur. Umumnya ketidakteraturan siklus menstruasi

terjadi pada waktu remaja dan menjelang menopause. Gangguan serta keluhan yang

menyertai menstruasi pada kebanyakan wanita, seringkali menimbulkan pengaruh

secara fisik maupun emosional ataupun kedua-duanya. Gangguan atau kelainan

dalam siklus menstruasi meliputi :

1. Hipermenorea, yaitu perdarahan dengan lama haid lebih panjang dari normal (>8

hari) dengan darah haid sekitar 26-40 ml. Sedangkan hipomenorea, yaitu

perdarahan dengan jumlah yang lebih sedikit dari normal serta waktu haid yang

lebih singkat.

2. Polimenorea yaitu siklus menstruasi lebih pendek dari normal (kurang dari 21

hari) dengan perdarahan kurang lebih sama.

3. Oligomenorea yaitu menstruasi yang jarang dengan panjang siklus menstruasi >

35 hari.

4. Amenorea, yaitu tidak menstruasi > 3 bulan berturut-turut sejak menstruasi

terakhir

5. Gangguan atau gejala yang menyertai siklus menstruasi, antara lain sindroma pra-

menstruasi dan dismenorea. Dismenorea yaitu rasa nyeri di perut bagian bawah

karena kontraksi otot-otot rahim saat terjadi peluruhan dinding. Bila tidak ada

kelainan ginekologi seperti endometriosis, radang panggul atau kista pada indung

telur maka disebut dismenorea primer, tetapi bila disertai kelainan ginekologi

disebut dismenorea sekunder (Manuaba, 1999).

Page 9: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

KONSEP SEHAT-SAKIT

A. Konsep Sehat Sakit Menurut Who

Menurut WHO (1947) Sehat itu sendiri dapat diartikan bahwa suatu keadaan

yang sempurna baik secara fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari

penyakit atau kelemahan (WHO, 1947).

Definisi WHO tentang sehat mempunyai karakteristik berikut yang dapat

meningkatkan konsep sehat yang positif (Edelman dan Mandle. 1994) :

1. Memperhatikan individu sebagai sebuah sistem yang menyeluruh.

2. Memandang sehat dengan mengidentifikasi lingkungan internal dan eksternal.

3. Penghargaan terhadap pentingnya peran individu dalam hidup.

B. Sehat Menurut Depkes RI

UU No.23,1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa :

Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang

memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini

maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur –

unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian

integral kesehatan

Dalam pengertian yang paling luas sehat merupakan suatu keadaan yang

dinamis dimana individu menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan

lingkungan internal (psikologis, intelektua, spiritual dan penyakit) dan eksternal 

(lingkungan fisik, social, dan ekonomi) dalam mempertahankan kesehatannya.

Definisi sakit: seseorang dikatakan sakit apabila ia menderita penyakit

menahun (kronis), atau gangguan kesehatan lain yang menyebabkan aktivitas

kerja/kegiatannya terganggu. Walaupun seseorang sakit (istilah sehari -hari) seperti

masuk angin, pilek, tetapi bila ia tidak terganggu untuk melaksanakan kegiatannya,

maka ia di anggap tidak sakit(2).

Pengertian sakit menurut etiologi naturalistik dapat dijelaskan dari segi

impersonal dan sistematik, yaitu bahwa sakit merupakan satu keadaan atau satu hal

yang disebabkan oleh gangguan terhadap sistem tubuh manusia.

Page 10: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

C. Ciri-Ciri Sehat

Kesehatan fisik terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit

atau tidak adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit.Semua

organ tubuh berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan.

Kesehatan mental (jiwa) mencakup 3 komponen, yakni pikiran, emosional,

dan spiritual.

1. Pikiran sehat tercermin dari cara berpikir atau jalan pikiran.

2. Emosional sehat tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan

emosinya, misalnya takut, gembira, kuatir, sedih dan sebagainya.

3. Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur,

pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana ini, yakni

Tuhan Yang Maha Kuasa (Allah SWT dalam agama Islam). Misalnya sehat

spiritual dapat dilihat dari praktik keagamaan seseorang.

4. Kesehatan sosial terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang

lain atau kelompok lain secara baik, tanpa membedakan ras, suku, agama atau

kepercayan, status sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya, serta saling toleran

dan menghargai.

D. Paradigma Sehat

Paradigma sehat adalah cara pandang atau pola pikir pembangunan kesehatan

yang bersifat holistik, proaktif antisipatif, dengan melihat masalah kesehatan sebagai

masalah yang dipengaruhi oleh banyak faktor secara dinamis dan lintas sektoral,

dalam suatu wilayah yang berorientasi kepada peningkatan pemeliharaan dan per -

lindungan terhadap penduduk agar tetap sehat dan bukan hanya penyembuhan

penduduk yang sakit.

Pada intinya paradigma sehat memberikan perhatian utama terhadap kebijakan

yang bersifat pencegahan dan promosi kesehatan, memberikan dukungan dan alokasi

sumber daya untuk menjaga agar yang sehat tetap sehat namun teta p mengupayakan

yang sakit segera sehat.Pada prinsipnya kebijakan tersebut menekankan pada

masyarakat untuk mengutamakan kegiatan kesehatan daripada mengobati

penyakit.Telah dikembangkan pengertian tentang penyakit yang mempunyai

konotasi biomedik dan sosio kultural.

Page 11: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

E. Aspek-Aspek Pendukung Kesehatan

Faktor-faktor yg mempengaruhi keselarasan tersebut berlangsung seterusnya

adalah:

1. Nutrisi yang lengkap dan seimbang

2. Istirahat yang cukup

3. Olah Raga yang teratur

4. Kondisi mental, sosial dan rohani yang seimbang

5. Lingkungan yang bersih

F. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keyakinan dan Tindakan Kesehatan

1. Faktor Internal

a. Tahap Perkembangan

Artinya status kesehatan dapat ditentukan oleh faktor usia dalam hal ini

adalah pertumbuhan dan perkembangan, dengan demikian setiap rentang usia

(bayi-lansia) memiliki pemahaman dan respon terhadap perubahan kesehatan

yang berbeda-beda.

b. Pendidikan atau Tingkat Pengetahuan

Keyakinan seseorang terhadap kesehatan terbentuk oleh variabel intelektual

yang terdiri dari pengetahuan tentang berbagai fungsi tubuh dan penyakit ,

latar belakang pendidikan, dan pengalaman masa lalu.

c. Persepsi tentang Fungsi

Cara seseorang merasakan fungsi fisiknya akan berakibat pada keyakinan

terhadap kesehatan dan cara melaksanakannya. Contoh, seseorang dengan

kondisi jantung yang kronik merasa bahwa tingkat kesehatan mereka berbeda

dengan orang yang tidak pernah mempunyai masalah kesehatan yang berarti.

Akibatnya, keyakinan terhadap kesehatan dan cara melaksanakan kesehatan

pada masing-masing orang cenderung berbeda-beda. Selain itu, individu yang

sudah berhasil sembuh dari penyakit akut yang parah mungkin akan

mengubah keyakinan mereka terhadap kesehatan dan cara mereka

melaksanakannya.

d. Faktor Emosi

Faktor emosional juga mempengaruhi keyakinan terhadap kesehatan dan cara

melaksanakannya.Seseorang yang mengalami respons stres dalam setiap

perubahan hidupnya cenderung berespons terhadap berbagai tanda sakit,

Page 12: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

mungkin dilakukan dengan cara mengkhawatirkan bahwa penyakit tersebut

dapat mengancam kehidupannya. Seseorang yang secara umum terlihat

sangat tenang mungkin mempunyai respons emosional yang kecil selama ia

sakit.

Seorang individu yang tidak mampu melakukan koping secara

emosionalterhadap ancaman penyakit mungkin akan menyangkal adanya

gejala penyakit pada dirinya dan tidak mau menjalani pengobatan. Contoh:

seseorang dengan napas yang terengah-engah dan sering batuk mungkin akan

menyalahkan cuaca dingin jika ia secara emosional tidak dapat menerima

kemungkinan menderita penyakit saluran pernapasan. Banyak orang yang

memiliki reaksi emosional yang berlebihan, yang berlawanan dengan

kenyataan yang ada, sampai-sampai mereka berpikir tentang risiko menderita

kanker dan akan menyangkal adanya gejala dan menolak untuk mencari

pengobatan. Ada beberapa penyakit lain yang dapat lebih diterima secara

emosional, sehingga mereka akan mengakui gejala penyakit yang dialaminya

dan mau mencari pengobatan yang tepat.

e. Spiritual

Aspek spiritual dapat terlihat dari bagaimana seseorang menjalani

kehidupannya, mencakup nilai dan keyakinan yang dilaksanakan, hubungan

dengan keluarga atau teman, dan kemampuan mencari harapan dan arti dalam

hidup.

2. Faktor Eksternal

a. Praktik di Keluarga

Cara bagaimana keluarga menggunakan pelayanan kesehatan biasanya

mempengaruhi cara klien dalam melaksanakan kesehatannya. Misalnya:

- Jika seorang anak bersikap bahwa setiap virus dan penyakit dapat

berpotensi mejadi penyakit berat  dan mereka segera mencari pengobatan,

maka bisasnya anak tersebut akan malakukan hal yang sama ketika mereka

dewasa.

- Klien juga kemungkinan besar akan melakukan tindakan pencegahan jika

keluarganya melakukan hal yang sama. Misal: anak yang selalu diajak

orang tuanya untuk melakukan pemeriksaan kesehatan  rutin, maka ketika

punya anak dia akan melakukan hal yang sama.

Page 13: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

b. Faktor Sosioekonomi

Faktor sosial dan psikososial dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit

dan mempengaruhi cara seseorang mendefinisikan dan bereaksi terhadap

penyakitnya.Variabel psikososial mencakup: stabilitas perkawinan, gaya

hidup, dan lingkungan kerja.Sesorang biasanya akan mencari dukungan dan

persetujuan dari kelompok sosialnya, hal ini akan mempengaruhi keyakinan

kesehatan dan cara pelaksanaannya.

c. Latar Belakang Budaya

Latar belakang budaya mempengaruhi keyakinan, nilai dan kebiasaan

individu, termasuk sistem pelayanan kesehatan dan cara pelaksanaan

kesehatan pribadi.

Page 14: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

BIOETIKA

A. Pengertian Bioetika

Secara harfiah, istilah ini muncul dari bahasa Yunani, bios (hidup) dan ethike (apa

yang seharusnya dilakukan manusia). Istilah ini sendiri diartikan sebagai kajian etika

mengenai isu sosial dan moral yang muncul akibat aplikasi bioteknologi dan medis

(Lim dan Ho, 2003).

Bioetik merupakan studi filosofi yang mempelajari tentang kontroversi dalam

etik, menyangkut masalah biologi dan pengobatan. Lebih lanjut, bioetik difokuskan

pada pertanyaan etik yang muncul tentang hubungan antara ilmu kehidupan,

bioteknologi, pengobatan, politik, hukum, dan theology.

Pada lingkup yang lebih sempit, bioetik merupakan evaluasi etik pada

moralitas treatment atau inovasi teknologi, dan waktu pelaksanaan pengobatan pada

manusia. Pada lingkup yang lebih luas, bioetik mengevaluasi pada semua tindakan

moral yang mungkin membantu atau bahkan membahayakan kemampuan organisme

terhadap perasaan takut dan nyeri, yang meliputi semua tindakan yang berhubungan

dengan pengobatan dan biologi. Isu dalam bioetik antara lain : peningkatan mutu

genetik, etika lingkungan, pemberian pelayanan kesehatan

Bioetika muncul sebagai respon atas semakin berkembangnya ilmu dan

teknologi hayati, utamanya di bidang medis yang berhubungan erat dan/atau

menjadikan manusia sebagai objeknya.

Dapat disimpulkan bahwa bioetik lebih berfokus pada dilema yang

menyangkut perawatan kesehatan modern, aplikasi teori etik dan prinsip etik

terhadap masalah-masalah pelayanan kesehatan

B. Bioetika dalam pelayanan kebidanan

Profesi kebidanan mempunyai kontrak sosial dengan masyarakat, yang berarti

masyarakat memberi kepercayaan kepada profesi kebidanan untuk memberikan

pelayanan yang dibutuhkan. Konsekwensi dari hal tersebut tentunya setiap

keputusan dari tindakan kebidanan harus mampu dipertanggungjawabkan dan

dipertanggunggugatkan dan setiap penganbilan keputusan tentunya tidak hanya

berdasarkan pada pertimbangan ilmiah semata tetapi juga dengan

mempertimbangkan etika.

Page 15: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

Etika adalah peraturan atau norma yang dapat digunakan sebagai acuan bagi

perlaku seseorang yang berkaitan dengan tindakan yang baik dan buruk yang

dilakukan seseorang dan merupakan suatu kewajiban dan tanggungjawanb moral

(Nila Ismani, 2001).

Bioetik adalah studi tentang isu etika dalam pelayanan kesehatan (Hudak &

Gallo, 1997).Dalam pelaksanaannya etika kebidanan mengacu pada bioetik

sebagaimana tercantum dalam sumpah janji profesi kebidanan dan kode etik profesi

kebidanan.

Kemajuan ilmu dan teknologi terutama di bidang biologi dan kedokteran telah

menimbulkan berbagai permasalahan atau dilema etika kesehatan yang sebagian

besar belum teratasi (Catalano, 1991).

Etik merupakan suatu pertimbangan yang sistematis tentang perilaku benar

atau salah, kebajikan atau kejahatan yang berhubungan dengan perilaku. Etika

merupakan aplikasi atau penerapan teori tentang filosofi moral kedalam situasi nyata

dan berfokus pada prinsip-prinsip dan konsep yang membimbing manusia berpikir

dan bertindak dalam kehidupannya yang dilandasi oleh nilai-nilai yang dianutnya.

Banyak pihak yang menggunakan istilah etik untuk mengambarkan etika suatu

profesi dalam hubungannya dengan kode etik profesional seperti Kode Etik PPNI

atau IBI.

Nilai-nilai (values) adalah suatu keyakinan seseorang tentang penghargaan

terhadap suatu standar atau pegangan yang mengarah pada sikap/perilaku seseorang.

Sistem nilai dalam suatu organisasi adalah rentang nilai-nilai yang dianggap penting

dan sering diartikan sebagai perilaku personal. Moral hampir sama dengan etika,

biasanya merujuk pada standar personal tentang benar atau salah. Hal ini sangat

penting untuk mengenal antara etika dalam agama, hukum, adat dan praktek

professional.

Perawat atau bidan memiliki komitmen yang tinggi untuk memberikan asuhan

yang berkualitas berdasarkan standar perilaku yang etis dalam praktek asuhan

profesional. Pengetahuan tentang perilaku etis dimulai dari pendidikan perawat atau

bidan, dan berlanjut pada diskusi formal maupun informal dengan sejawat atau

teman. Perilaku yang etis mencapai puncaknya bila perawat atau bidan mencoba dan

mencontoh perilaku pengambilan keputusan yang etis untuk membantu memecahkan

masalah etika. Dalam hal ini, perawat atau bidan seringkali menggunakan dua

Page 16: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

pendekatan: yaitu pendekatan berdasarkan prinsip dan pendekatan berdasarkan

asuhan kebidanan /kebidanan.

C. Prinsip – prinsip Etika ( Kaidah Dasar Bioetik )

Prinsip-prinsip etika adalah aksiom yang mempermudah penalaran etik. Prinsip-

prinsip tersebut harus spesifik. Pada prakteknya, satu prinsip dapat dipertimbangkan

dengan prinsip lain. Pada beberapa kasus, satu prinsip dapat bersifat lebih penting

dari prinsip lainnya.

Beauchamp dan Childress (1994) menguraikan ( Empat prinsip etika Eropa )

bahwa untuk mencapai ke suatu keputusan ETIK diperlukan 4 Kaidah Dasar Moral /

Kaidah Dasar Bioetik (Moral Principle) dan beberapa rules atau kriteria dibawahnya.

Keempat Kaidah Dasar Moral tersebut adalah (Arismawat, 2011):

1. Prinsip “Autonomy” (self-determination) Yaitu prinsip yang menghormati hak-

hak pasien, terutama hak otonomi pasien (the rights to self determination) dan

merupakan kekuatan yang dimiliki pasien untuk memutuskan suatu prosedur

medis. Prinsip moral inilah yang kemudian melahirkan doktrin Informed consent.

2. Prinsip tidak merugikan “Non-maleficence” Adalah prinsip menghindari

terjadinya kerusakan atau prinsip moral yang melarang tindakan yang

memperburuk keadaan pasien. Prinsip ini dikenal sebagai “primum non nocere”

atau “ above all do no harm “.

3. Prinsip murah hati “Beneficence” Yaitu prinsip moral yang mengutamakan

tindakan yang ditujukan ke kebaikan pasien atau penyediaan keuntungan dan

Page 17: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

menyeimbangkan keuntungan tersebut dengan risiko dan biaya. Dalam

Beneficence tidak hanya dikenal perbuatan untuk kebaikan saja, melainkan juga

perbuatan yang sisi baiknya (manfaat) lebih besar daripada sisi buruknya

(mudharat).

4. Prinsip keadilan “Justice” Yaitu prinsip moral yang mementingkan fairness dan

keadilan dalam bersikap maupun dalam mendistribusikan sumber daya

(distributive justice) atau pendistribusian dari keuntungan, biaya dan risiko secara

adil.

D. Prinsip Etis Dalam Pelayanan Kebidanan

Lima prinsip penting dalam bidang kebidanan yang dikembangkan oleh Fry (1991)

meliputi :

1. Kemurahan Hati (Beneficence)

Inti dari prinsip ini adalah tanggung jawab untuk melakukan kebaikan yang

menguntungkan klien dan menghindari perbuatan yang merugikan atau

membahayakan klien. Tetapi dengan kemajuan ilmu dan teknologi, resiko yang

membahayakan klien dapat terjadi sehingga akan menimbulkan konflik atau

dilema. Untuk itu diperlukan sistem klarifikasi nilai sebelum seseorang

memutuskan suatu tindakan. Megan (1989) mengelompokan tujuh proses

penilaian ke dalam tiga kelompok yaitu:

a. Menghargai

Menjunjung dan menghargai nila/keyakinan dan perilaku seseorang

Menegaskan di depan umum jika diperlukan

b. Memilih

Memilih dari berbagai alternative

Memilih setelah mempertimbangkan konsekuensinya

Memilih secara bebas

c. Bertindak

Bertindak sebagai pola, konsistensi, dan repetisi (mengulang yang telah

disepakati)

Langkah-langkah di atas dapat digunakan perawat untuk membantu pasien dalam

mengambil keputusan melalui proses mengidentifikasi bidang konflik, memilih

dan menentukan berbagai alternatif, menetapkan tujuan dan pada akhirnya

melakukan tindakan.

Page 18: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

2. Keadilan (Justice)

Beauchamp dan Childress memandang bahwa mereka yang sederajat harus

diperlakukan sederajat, sedangkan yang tidak sederajat diperlakukan secara tidak

sederajat, sesuai dengan kebutuhan mereka. Dengan kata lain ketika seseorang

mempunyai kebutuhan kesehatan yang besar, maka ia harus mendapatkan sumber

kesehatan yang besar pula.

3. Kemandirian (Otonomi)

Prinsip otonomi menyatakan bahwa setiap individu mempunyai kebebasan untuk

menentukan tindakan atau keputusan berdasarkan rencana yang mereka pilih

(Veatch dan Fry, 1987). Penerapan prinsip ini dipengaruhi oleh banyak hal,

seperti tingkat kesadaran, usia, penyakit, ekonomi, lingkungan rumah sakit,

tersedianya informasi dan lain-lain.

4. Kejujuran (Veracity)

Menurut Veatch dan Fry (1987), prinsip ini didefinisikan dengan menyatakan

yang sebenarnya atau tidak bohong. Hasil penelitian menjelaskan bahwa pada

klien dalam keadaan terminal, klien ingin diberi tahu tentang kondisinya secara

jujur (Veatch, 1978). Kejujuran harus dimiliki perawat saat berhubungan dengan

klien, karena kejujuran merupakan dasar terbinanya hubungan saling percaya

antara perawat dengan klien.

5. Ketaatan (Fidelity)

Prinsip ini didefinisikan oleh Veatch dan Fry sebagai tanggung jawab untuk tetap

setia pada suatu kesepakatan. Dalam konteks hubungan perawat-klien meliputi

tanggungjawab menjaga janji, mempertahankan konfidensi, dan memberikan

perhatian/kepedulian. Kesetiaan perawat terhadap janji-janji tersebut mungkin

tidak akan mengurangi penyakit atau mencegah kematian klien, tetapi akan

mempengaruhi kehidupan serta kualitas kehidupan klien.

E. Model Keputusan Bioetika

Dalam pengambilan keputusan Etika kebidanan mengacu pada bioetik yang terdiri

dari 3 pendekatan:

1. Pendekatan Telelogik

Menjelaskan suatu fenomena dan akibatnya

Pendekatan ini dihadapkan pada konsekuensi dan keputusan etik.

Page 19: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

Membenarkan secara hukum tindakan atau keputusan yang diambil untuk

kepentingan medis.

Pendekatan ini selalu digunakan dalam menghadapi masalah medis

Contoh kasus:

Dalam suatu kondisi seorang pasien harus segerah dioperasi sedangkan tidak ada

ahli bedah yang berpengalaman, namun hanya ada ahli bedah yang belum

berpengalaman untuk keselamatan pasien bisa dilakukan operasi.

-Seorang perawat bisa menolong pesalinan bila tidak ada bidan.

2. Pendekatan Deontologik

Adalah merupakan suatu teori atau study tentang kewajiban moral atau

pendekatannya didasarkan pada kewajiban moral. Moralitas dari suatu keputusan

etis yang sepenuhnya terpisah dari konsukensinya. Seorang perawat berkeyakinan

bahwa menyampaikan suatu kebenaran merupakan suatu hal yang sangat penting

dan tetap harus disampaikan.

Perbedaan 2 pendekatan pada kasus sbb;

Isu etis aborsi (teleologik); mungkin mempertimbangkan bahwa tujuan

menyelamatkan kehidupan ibu, hal yang dibenarkan dalam tindakan aborsi.

Deontologik ; secara moral terminasi kehidupan merupakan hal yang buruk untuk

dilakukan. Pendekatan ini dilakukan tanpa menentukan keputusan.

3. Pendekatan Intiutionism

Bahwa pandangan atau sifat manusia dalam mengetahui hal yang benar dan salah.

Keyakinan akan etika kebidanan yang akan dilakukan dan meyakini baik dan

benar.

Contoh kasus:

Seorang perawat tentu mengetahui bahwa menyakiti pasien merupakan tindakan

yang tidak benar. Hal tersebut tidak perlu diajarkan lagi pada perawat, karena

mengacu pada etika seorang perawat yang diyakini dapat membedakan mana

yang benar dan mana yang buruk untuk dilakukan.

F. Kerangka Proses Pemecahan Masalah Dilema Etik

Page 20: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

Kerangka pemecahan dilema etik banyak diutarakan oleh para ahli dan pada

dasarnya menggunakan kerangka proses keperawatan / Pemecahan masalah secara

ilmiah, antara lain (Arismwati dkk, 2011):

1. Etika Klinik ( Jonsen Ar – Siegler )

Pembuatan keputusan etik, terutama dalam situasi klinik, dapat juga dilakukan

dengan pendekatan yang berbeda dengan pendekatan kaidah dasar moral diatas.

Jonsen, Siegler dan Winslade (2002) mengembangkan teori etik yang

menggunakan 4 topik yang esensial dalam pelayanan klinik , yaitu :

a. Medical Indication

Pada topik Medical Indication dimasukkan semua prosedur diagnostik dan

terapi yang sesuai untuk mengevaluasi keadaan pasien dan mengobatinya.

Penilaian aspek indikasi medis ini ditinjau dari dari sisi etiknya, dan terutama

manggunakan kaidah dasar bioetik Beneficence dan Nonmaleficence.

Pertanyaan etika pada topik ini adalah serupa dengan seluruh informasi yang

selayaknya disampaikan kepada pasien pada doktrin Informed consent.

b. Patient Preferrences

Pada topik Patient Preferrences kita memperhatikan nilai (value) dan penilaian

tentang manfaat dan beban yang akan diterimanya, yang berarti cerminan

kaidah Autonomy. Pertanyaan etiknya meliputi pertanyaan tentang kompetensi

pasien, sifat volunteer sikap dan keputusannya, pemahaman atas informasi,

siapa pembuat keputusan bila pasien tidak kompeten, nilai dan keyakinan yang

dianut pasien, dan lain-lain.

c. Quality of Life

Page 21: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

Topik Quality of Life merupakan aktualisasi salah satu tujuan kedokteran,

yaitu memperbaiki, menjaga atau meningkatkan kualitas hidup insani. Apa,

siapa, dan bagaimana melakukan penilaian kualitas hidup merupakan

pertanyaan etik sekitar prognosis, yang berkaitan dengan kaidah dasar bioetik

yaitu Beneficence, Nonmaleficence dan Autonomy.

d. Contextual Features

Prinsip dalam Contextual Features adalah Loyalty and Fairness. Disini dibahas

pertanyaan etik seputar aspek non medis yang mempengaruhi keputusan,

seperti faktor keluarga, ekonomi, agama, budaya, kerahasiaan, alokasi sumber

daya dan faktor hukum.

2. Model Pemecahan masalah ( Megan, 1989 )

Ada lima langkah-langkah dalam pemecahan masalah dalam dilema etik.

a. Mengkaji situasi

b. Mendiagnosa masalah etik moral

c. Membuat tujuan dan rencana pemecahan

d. Melaksanakan rencana

e. Mengevaluasi hasil

3. Kerangka pemecahan dilema etik (kozier & erb, 1989 )

a. Mengembangkan data dasar.

Untuk melakukan ini perawat memerukan pengumpulan informasi sebanyak

mungkin meliputi :

• Siapa yang terlibat dalam situasi tersebut dan bagaimana keterlibatannya

• Apa tindakan yang diusulkan

• Apa maksud dari tindakan yang diusulkan

• Apa konsekuensi-konsekuensi yang mungkin timbul dari tindakan yang

diusulkan.

b. Mengidentifikasi konflik yang terjadi berdasarkan situasi tersebut

c. Membuat tindakan alternatif tentang rangkaian tindakan yang direncanakan

dan mempertimbangkan hasil akhir atau konsekuensi tindakan tersebut

d. Menentukan siapa yang terlibat dalam masalah tersebut dan siapa pengambil

keputusan yang tepat

e. Mengidentifikasi kewajiban perawat

Page 22: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

f. Membuat keputusan

4. Model Murphy dan Murphy

a. Mengidentifikasi masalah kesehatan

b. Mengidentifikasi masalah etik

c. Siapa yang terlibat dalam pengambilan keputusan

d. Mengidentifikasi peran perawat

e. Mempertimbangkan berbagai alternatif-alternatif yang mungkin dilaksanakan

f. Mempertimbangkan besar kecilnya konsekuensi untuk setiap alternatif

keputusan

g. Memberi keputusan

h. Mempertimbangkan bagaimanan keputusan tersebut hingga sesuai dengan

falsafah umum untuk perawatan klien

i. Analisa situasi hingga hasil aktual dari keputusan telah tampak dan

menggunakan informasi tersebut untuk membantu membuat keputusan

berikutnya.

5. Model Curtin

a. Mengumpulkan berbagai latar belakang informasi yang menyebabkan masalah

b. Identifikasi bagian-bagian etik dari masalah pengambilan keputusan.

c. Identifikasi orang-orang yang terlibat dalam pengambilan keputusan.

d. Identifikasi semua kemungkinan pilihan dan hasil dari pilihan itu.

e. Aplikasi teori, prinsip dan peran etik yang relevan.

f. Memecahkan dilema

g. Melaksanakan keputusan

6. Model Levine – Ariff dan Gron

a. Mendefinisikan dilema

b. Identifikasi faktor-faktor pemberi pelayanan.

c. Identifikasi faktor-faktor bukan pemberi pelayana

• Pasien dan keluarga

• Faktor-faktor eksternal

d. Pikirkan faktor-faktor tersebut satu persatu

e. Identifikasi item-item kebutuhan sesuai klasifikasi

Page 23: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

f. Identifikasi pengambil keputusan

g. Kaji ulang pokok-pokok dari prinsip-prinsip etik

h. Tentukan alternatif-alternatif

i. Menindaklanjuti

7. Langkah-langkah menurut Purtilo dan Cassel ( 1981)

Purtilo dan cassel menyarankan 4 langkah dalam membuat keputusan etik

a. Mengumpulkan data yang relevan

b. Mengidentifikasi dilema

c. Memutuskan apa yang harus dilakukan

d. Melengkapi tindakan

8. Langkah-langkah menurut Thompson & Thompson ( 1981) mengusulkan 10

langkah model keputusan bioetis

a. Meninjau situasi untuk menentukan masalah kesehatan, keputusan yang

diperlukan, komponen etis dan petunjuk individual.

b. Mengumpulkan informasi tambahan untuk mengklasifikasi situasi

c. Mengidentifikasi Issue etik

d. Menentukan posisi moral pribadi dan professional

e. Mengidentifikasi posisi moral dari petunjuk individual yang terkait.

f. Mengidentifikasi konflik nilai yang ada

G. Strategi Penyelesaian Masalah Etik

Dalam menghadapi dan mengatasi permasalahan etis, antara perawat dan dokter

tidak menutup kemungkinan terjadi perbedaan pendapat. Bila ini berlanjut dapat

menyebabkan masalah komunikasi dan kerjasama, sehingga menghambat perawatan

pada pasien dan kenyamanan kerja. (Mac Phail, 1988)

Salah satu cara menyelesaikan permasalahan etis adalah dengan melakukan

rounde (Bioetics Rounds ) yang melibatkan perawat dengan dokter. Rounde ini tidak

difokuskan untuk menyelesaikan masalah etis tetapi untuk melakukan diskusi secara

terbuka tentang kemungkinan terdapat permasalahan etis.

KODE ETIK PROFESI

Page 24: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

Setiap profesi mutlak mengenal atau mempunyai kode etik. Dengan demikian

dokter, perawat, bidan, guru dan sebagainya yang merupakan bidang pekerjaan profesi

mempunyai kode etik.

A. Pengertian Kode Etik

Kode etik suatu profesi adalah berupa norma-norma yang harus diindahkanoleh

setiap anggota profesi yang bersngkutan didalam melaksanakan tugas profesinya dan

dlam hidupnya di masyarakat.

Norma-norma tersebut berisi petunjuk-petunjuk bagi anggota profesi tentang

bagaimana mereka harus menjalankan profesinya dan larangan-larangan yaitu

ketentuan-ketentuan tentang apa yang boleh dan apa yang tidak boleh diperbuat atau

dilaksanakan oleh anggota profesi, tidak saja dalam menjalankan tugas profesinya,

melainkan juga menyangkut tingkah laku pada umumnya dalam pergaulan sehari-

hari di ddalam masyarakat.

B. Kode Etik Profesi

Kode etik profesi merupakan suatu pernyataaan komprehensif dari profesi yang

memberikan tuntunan bagi anggotanya untuk melaksanakn praktek dalam bidang

profesinya baik yang berhubungan dengan klien/pasien, keluarga,masyarakat, teman

sejawat, profesi dan dirinya sendiri. Namun dikatakan bahwa kode etik pada zaman

dimana nilai-nilai peradaban semakin kompleks,kode etik tidak dapat lagi dipakai

sebagai pegangan satu-satunya dalam menyelesikan masalah etik. Untuk itu

dibutuhkan juga suatu pengetahuan yang berhubungan dengan hukum. Benar atau

salah pada penerapan kode etik,ketentuan/nilai moral yang berlaku terpulang kepada

profesi.

C. Tujuan Kode Etik

Pada dasarnya tujuan menciptakan atau merumuskan kode etik suatu profesi adalah

untuk kepentingan anggota dan kepentingan organisasi. Secara umum tujuan

menciptakan kode etik adalah sebagai berikut:

1. Untuk menjunjung tinggi martabat dan citra profesi

Dalam hal ini yang dijaga adalah image dari pihak luar atau masyarakat

mencegah orang luar memandang rendah atau remeh suatu profesi. Oleh karena

Page 25: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

itu setiap kode etik suatu profesi akan melarng berbagai bentuk tindak tanduk atau

kelakuan anggota profesi yang dapat mencemarkan nama baik profesi di dunia

luar. Dari segi ini kode etik juga disebut kode kehormatan.

2. Untuk menjaga dan memelihara kesejahteraan para anggota

Yang dimaksud kesejahteraan ialah kesejahteraan materiil dan spiritualatau

mental. Dalam hal kesejahteraan materiil anggota profesi kode etik umumnya

menetapkan larangan-larangan bagi anggotanya untuk melakukan perbuatan yang

merugikan kesejahteraan. Kode etik juga menciptakan peraturan-peraturan yang

ditujukan kepada pembahasan tingkah laku yang tidak pantas atau tidak jujur para

anggota profesi dalam interaksinya dengan sesama anggota profesi.

3. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi.

Dalam hal ini kode etik juga berisi tujuan pengabdian profesi tertentu,sehingga

para anggota profesi dapat dengan mudah mengetahui tugas dan tanggungjawab

pengabdian profesinya. Oleh karena itu kode etik merumuskan ketentuan-

ketentuan yang diperlukan oleh para anggota profesi dalam menjalankan

tugasnya.

4. Untuk meningkatkan mutu profesi.

Kode etik juga memuat tentang norma-norma serta anjuran agar profesi selalu

berusaha untuk meningkatkan mutu profesi sesuai dengan bidang pengabdiannya.

Selain itu kode etik juga mengatur bagaimana cara memelihara dan menigkatkan

mutu organisasi profesi. Dari uraian di atas, jelas bahwa tujuan suatu profesi,

menjaga dan memelihara kesejahtereaan para anggota, meningkatkan pengabdian

anggota, dan meningkatkan mutu profesi serta meningkatkan mutu organisasi

profesi.

D. Dimensi Kode Etik

1. Anggota profesi dan klien / pasien.

2. Anggota profesi dan sistem kesehatan.

3. Anggota profesi dan profesi kesehatan

4. Sesama anggota profesi

KODE ETIK KEBIDANAN

Page 26: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

Kode etik kebidanan merupakan suatu pernyataan komprehensif profesi yang

memberikan tuntunan bagi bidan untuk melaksanakan praktek kebidanan baik yang

berhubungan dengan kesejahteraan, keluarga, masyarakat, teman sejawat, profesi dan

dirinya.

A. Definisi bidan

Bidan adalah seorang wanita yang telah mengikuti dan menyelesaikan pendidikan

bidan yang telah diakui pemerintah dan lulus ujian sesuai dengan persyaratanya yang

berlaku, dicatat ( register ), diberi izin secara sah untuk menjalankan praktek.

B. Definisi Kode Etik

Kode etik merupakan suatu ciri profesi yang bersumber dari nilai – nilai internal dan

eksternal suatu disiplin ilmu dan merupakan pernyataan komprehensif suatu profesi

yang memberikan tuntutan bagi anggota dalam melaksanakan pengabdian profesi.

C. Kode Etik Bidan

Kode etik bidan Indonesia pertama kali disusun pada tahun 1986 dan disahkan dalam

Kongres Nasional Ikatan Bidan Indonesia X tahun 1988, sedang petunjuk

pelaksanaanya disahkan dalam Rapat Kerja Nasional ( Rekernas ) IBI tahun 1991,

kemudian disempurnakan dan disahkan pada Kongres Nasional IBI ke XII tahun

1998. Sebagai pedoman sdalam berperilaku, Kode Etik Bidan Indonesia

mengandung beberapa kekuatan yang semuanya tertuang dalam mukadimah dan

tujuan dan bab. Secara umum kode etik tersebut berisi 7 bab. Ketujuh bab dapat

dibedakan atas tujuh bagian yaitu :

1. Kewajiban bidan terhadap klien dan masyarakat ( 6 butir )

2. Kewajiban bidan terhadap tugasnya ( 3 butir )

3. Kewajiban Bidan terhadap sejawab dan tenaga kesehatan lainnya ( 2 butir )

4. Kewajiban bidan terhadap profesinya ( 3 butir )

5. Kewajiban bidan terhadap diri sendiri ( 2 butir )

6. Kewajiban bidan terhadap pemerintah, bangsa dan tanah air ( 2 butir )

7. Penutup ( 1 butir )

Beberapa kewajiban bidan yang diatur dalam pengabdian profesinya adalah :

1. Kewajiban bidan terhadap klien dan masyarakat

Page 27: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

a. Setiap bidan senantiasa menjunjung tinggi, menghayati dan mengamalkan

sumpah jabatannya dalam melaksanakan tugas pengabdiannya.

b. Setiap bidan dalam menjalankan tugas proofesinya menjunjung tinggi harkat

dan martabat kemanusiaan yang yang utuh dan memelihara citra bidan.

c. Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya senantiasa berpedoman pada peran

tugas dan tanggung jawab sesuai dengan kebutuhan klien, keluarga dan

masyarakat.

d. Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya mendahulukan kepentingan klien,

menghormati hak klien, dan menghormati niulai – nilai yang berlaku di

masyarakat.

e. Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya senantiasa mendahulukan

kepentingan klien, keluarga dan masyarakat denganj indentitas yang sama

sesuai dengan kebutuhan berdasarkan kemampuan yang dimilikinya.

f. Setiap bidan senantiasa menciptakan suasana yang serasi dalam hubungan

pelaksanaan tugasnya, dengan mendorong partisipasi masyarakat untuk

meningkatkan derajat kesehatannya secara optimal.

2. Kewajiban Terhadap Tugasnya

a. Setiap bidan senantiasa mwemberikan pelayanan paripurna terhadapklien,

keluarga dan masyarakat sesuai dengan kemampuan profesiyang dimilikinya

berdasarkan kebutuhan klien, keluarga dan masyarakat.

b. Setiap bidan berhal memberikan pertolongan dan mempunyaikewenangan

dalam mengambil keputusan mengadakan konsultasi danatau rujukan.

c. Setiap bidan harus menjamin kerahasiaan keterangan yang dapat danatau

dipercayakan kepadanya, kecuali bila diminta oleh pengadilanatau diperlukan

sehubungan kepentingan klien.

3. Kewajiban bidan terhadap sejawat dan tenaga kesehatan lainnya

a. Setiap bidan harus menjalin hubungan dengan teman sejawatnya untuk

menciptakan suasana kerja yang seras.

b. Setiap bidan dalam melaksanakan tugasnya harus saling menghormati baik

terhadap sejawatnya maupun tenaga kesehatan lainnya.

4. Kewajiban bidan terhadap profesinya

Page 28: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

a. Setiap bidan harus menjaga nama baik dan menjunjung tinggi citra profesinya

dengan menampilkan kepribadian yang tinggi dan memberikan pelatyanan

yang bermutu kepada masyarakat.

b. Setiap harus senantiasa mengembangkan diri dan meningkatkan kemampuan

profesinya sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

c. Setiap bidan senantiasa berperan serta dalam kegiatan penelitian dan kegiatan

sejenisnya yang dapat meniingkatkan mutu dan citra profesinya.

5. Kewajiban bidan terhadap diri sendiri

a. Setiap bidan harus memelihara kesehatannya agar dalam melaksanakan tugas

profesinya dengan baik.

b. Setiap bidan harus berusaha secara terus – menerus untuk meningkatkan

pengetahuan dan keterampilan sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan

dan teknologi.

6. Kewajiban bidan terhadap pemerinytah nusa, bangsa dan tanah air

a. Setiap bidan dalam menjalankan tugasnya, senantiasa melaksanakan ketentuan

– ketentuan pemerintah dalam bidang kesehatan, khususnya dalam palayanan

KIA / KB dan kesehatan keluarga dan masyarakat.

b. Setiap bidan melalui profesinya berpartisipasi dan menyumbangkan

pemikirannya kepada pemerintahan untuk meningkatakan mutu jangkauan

pelayanan kesehatan terutama pelayanan KIA / KB dan kesehatan keluarga.

D. Bidan dan Rahasia Jabatan

Kerahasiaan merupakan satu prinsip penting dalam tugas tiap tenaga kesehatan

termasuk bidan. Kedudukan bidan di dalam sistem pelayanan kesehatan tidak saja

sebagai pemberi asuhan kebidanan, akan tetapi sering pula bidan menjadi semacam

“biceht vader” (tumpuhan permasalahan) dari klien maupun keluarganya.

Permasalahan ini dapat pula yang telah diamati sendiri oleh bidan pada waktu

menolong persalinan di rumah dan/atau pada waktu melakukan kunjungan rumah.

Data/informasi yang didapat bidan melalui anamnese klien di klinik menjadi faktor

rahasia pula dalam tugas bidan. Seorang wanita dalam keadaan hamil, melahirkan

atau nifas, seringkali mendapat gangguan pada emosinya atau pada keadaan

kesehatan mentalnya. Dalam keadaan seperti ini seringkali ia ingin mencurahkan

segala isi hatinya atau permasalahan dirinya secara pribadi maupun dalam keluarga

pada seseorang yang mau mendengarkannya. Biasanya orang tersebut adalah bidan,

yang pada waktu-waktu tersebut adalah dekat dengan klien. Bidan harus tetap

Page 29: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

menghormati kepercayaan yang diberikan klien kepadanya dan memegang teguh

kerahasiaan informasi yang didapat.

Ada kalanya informasi perlu dibuka kerahasiaan, yaitu sebagai contoh pada

persidangan (hukum) bila bidan bertindak sebagai saksi dan informasi tertentu

dibutuhkan hakim sebagai bukti. Memegang kerahasiaan ditegaskan dalam Per

Menkes No. 572/1996, ps.30, ad 2 b untuk bidan dan dalam UU Kes No.23/1992

bagi semua tenaga kesehatan.

Kaidah-kaidah pokok etika profesi sebagai berikut :

1. Profesi harus dipandang dan dihayati sebagai suatu pelayanan,.

2. Pelayanan professional dalam mendahulukan kepentingan pasien atau klien

mengacu pada kepentingan atau nilai-nilai luhur

3. Pengembanan profesi harus selalu mengacu pada masyarakat sebagai

keseluruhan.

4. Agar persaingan dalam pelayanan berlangsung secara sehat

Page 30: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

STANDAR PELAYANAN KEBIDANAN

A. Pengertian Standar

Standar Pelayanan Kebidanan (SPK) adalah rumusan tentang penampilan

atau nilai diinginkan yang mampu dicapai, berkaitan dengan parameter yang telah

ditetapkan yaitu standar pelayanan kebidanan yang menjadi tanggung jawab profesi

bidan dalam sistem pelayanan yang bertujuan untuk meningkatan kesehatan ibu dan

anak dalam rangka mewujudkan kesehatan keluarga dan masyarakat (Depkes RI,

2001: 53).

Menurut Clinical Practice Guideline (1990) Standar adalah keadaan ideal

atau tingkat pencapaian tertinggi dan sempurna yang dipergunakan sebagai batas

penerimaan minimal.Menurut Donabedian (1980) Standar adalah rumusan tentang

penampilan atau nilai diinginkan yang mampu dicapai, berkaitan dengan parameter

yang telah ditetapkan.Menurut Rowland and Rowland (1983) Standar adalah

spesifikasi dari fungsi atau tujuan yang harus dipenuhi oleh suatu sarana pelayanan

kesehatan agar pemakai jasa pelayanan dapat memperoleh keuntungan yang

maksimal dari pelayanan kesehatan yang diselenggarakanSecara luas,

pengertian standar layanan kesehatan adalah suatu pernyataan tentang mutu yang

diharapkan, yaitu akan menyangkut masukan, proses dan keluaran (outcome) sistem

layanan kesehatan.Standar layanan kesehatan merupakan suatu alat organisasi untuk

menjabarkan mutu layanan kesehatan ke dalam terminologi operasional sehingga

semua orang yang terlibat dalam layanan kesehatan akan terikat dalam suatu sistem,

baik pasien, penyedia layanan kesehatan, penunjang layanan kesehatan, ataupun

manajemen organisasi layanan kesehatan, dan akan bertanggung gugat dalam

menjalankan tugas dan perannya masing-masing.

Di kalangan profesi layanan kesehatan sendiri, terdapat berbagai definisi

tentang standar layanan kesehatan. Kadang-kadang standar layanan kesehatan itu

diartikan sebagai petunjuk pelaksanaan, protokol, dan Standar Prosedur Operasional

(SPO).

Petunjuk pelaksanaan adalah pernyataan dari para pakar yang merupakan

rekomendasi untuk dijadikan prosedur. Petunjuk pelaksanaan digunakan sebagai

referensi teknis yang luwes dan menjelaskan tentang apa yang boleh dan tidak boleh

dilakukanoleh pemberi layanan kesehatan dalam suatu sotiuasi klinis

tertentu. Protokol adalah ketentuan rinci dari pelaksanaan suatu proses atau

Page 31: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

penatalaksaan suatu kondisi klinis. Protokol lebih ketat dari petunjuk

pelaksanaan. Standar Prosedur Operasional (SPO) adalah pernyataan tentang

harapan bagaimana petugas kesehatan melakukan suatu kegiatan yang bersifat

administratif.   

 

B. Syarat Standar

1. Jelas

2. Masuk akal

3. Mudah dimengerti

4. Dapat dicapai

5. Absah

6. Meyakinkan

7. Mantap, spesifik serta eksplisit

C. Manfaat

Manfaat Standar Pelayanan Kebidanan Standar pelayanan kebidanan mempunyai

beberapa manfaat sebagai berikut:

1. Standar pelayanan berguna dalam penerapan norma tingkat kinerja yang

diperlukan untuk mencapai hasil yang diinginkan

2. Melindungi masyarakat

3. Sebagai pelaksanaan, pemeliharaan, dan penelitian kualitas pelayanan

4. Untuk menentukan kompetisi yang diperlukan bidan dalam menjalankan praktek

sehari-hari.

5. Sebagai dasar untuk menilai pelayanan, menyusun rencana pelatihan dan

pengembangan pendidikan

(Depkes RI, 2001:2)

D. Format Standar Pelayanan Kebidanan

Dalam membahas tiap standar pelayanan kebidanan digunakan format bahasan

sebagai berikut:

1. Tujuan merupakan tujuan standar

2. Pernyataan standar berisi pernyataan tentang pelayanan kebidanan yang

dilakukan, dengan penjelasan tingkat kompetensi yang diharapkan.

Page 32: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

3. Hasil yang akan dicapai oleh pelayanan yang diberikan dan dinyatakan dalam

bentuk yang dapat diatur.

4. Prasyarat yang diperlukan (misalnya, alat, obat, ketrampilan) agar pelaksana

pelayanan dapat menerapkan standar.

5. Proses yang berisi langkah-langkah pokok yang perlu diikuti untuk penerapan

standar (Depkes RI, 2001:2).

E. Ruang Lingkup

Ruang lingkup SPK meliputi 24 standar yaitu : standar pelayanan (2 standar), standar

pelayanan antenatal (6 standar), standar pertolongan persalinan (4 standar), standar

pelayanan nifas (3 standar), standar penanganan kegawatdaruratan obstetri neonatal

(9 standar) (Depkes RI, 2001:3).

F. Dasar Hukum

1. Undang-undang Keshatan Nomor 23 tahun 1992 Menurut Undang-Undang

Kesehatan Nomer 23 tahum 1992 kewajiban tenaga kesehatan adalah mematuhi

standar profesi tenaga kesehatan, menghormati hak pasien, menjaga kerahasiaan

identitas dan kesehatan pasien, memberikan informasi dan meminta persetujuan

(Informed consent), dan membuat serta memelihara rekam medik. Standar profesi

tenaga kesehatan adalah pedoman yang harus dipergunakan oleh tenaga kesehatan

sebagai petunjuk dalam menjalankan profesinya secara baik. Hak tenaga

kesehatan adalah memperoleh perlindungan hukum melakukan tugasnya sesuai

dengan profesi tenaga kesehatan serta mendapat penghargaan.

2. Pertemuan Program Safe Motherhood dari Negara-negara di Wilayah

SEARO/Asia Tenggara Tahun 1995 tentang SPK Pada pertemuan ini disepakati

bahwa kualitas pelayanan kebidanan yang diberikan kepada setiap ibu yang

memerlukannya perlu diupayakan agar memenuhi standar tertentu agar aman dan

efektif. Sebagai tindak lanjutnya, WHO SEARO mengembangkan Standar

Pelayanan Kebidanan. Standar ini kemudian diadaptasikan untuk pemakaian di

Indonesia, khususnya untuk tingkat pelayanan dasar, sebagai acuan pelayanan di

tingkat masyarakat. Standar ini diberlakukan bagi semua pelaksana kebidanan.

3. Pertemuan Program Tingkat Provinsi DIY Tentang Penerapan SPK 1999 Bidan

sebagai tenaga profesional merupakan ujung tombak dalam pemeriksaan

kehamilan seharusnya sesuai dengan prosedur standar pelayanan kebidanan yang

Page 33: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

telah ada yang telah tertulis dan ditetapkan sesuai dengan kondisi di Propinsi

Daerah Istimewa Yogyakarta (Dinkes DIY, 1999).

4. Keputusan Mentri Kesehtan RI Nomor 900/Menkes/SK/VII/2002 tentang

registrasi dan praktek bidan. Pada BAB I yaitu tentang KETENTUAN UMUM

pasal 1 ayat 6 yang berbunyi Standar profesi adalah pedoman yang harus

dipergunakan sebagai petunjuk dalam melaksanakan profesi secara baik.

Pelayanan kebidanan yang bermutu adalah pelayanan kebidanan yang dapat

memuaskan setiap pemakai jasa pelayanan kebidanan serta penyelenggaraannya

sesuai kode etik dan standar pelayanan pofesi yang telah ditetapkan. Standar

profesi pada dasarnya merupakan kesepakatan antar anggota profesi sendiri,

sehingga bersifat wajib menjadi pedoman dalam pelaksanaan setiap kegiatan

profesi (Heni dan Asmar, 2005:29)

5. Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor

369/Menkes/SK/III/2007 Standar pelayanan kebidanan 

G. Pengenalan Standar Pelayanan Kebidanan

Standar Pelayanan Kebidananan terdiri dari 24 Standar, meliputi :

1. Standar Pelayanan Umum (2 standar)

Standar 1 : Persiapan untuk Kehidupan Keluarga Sehat

Bidan memberikan penyuluhan dan nasehat kepada perorangan, keluarga

dan masyarakat terhadap segala hal yang berkaitan dengan kehamilan, termasuk

penyuluhan kesehatan umum, gizi, keluarga berencana, kesiapan dalam

menghadapi kehamilan dan menjadi calon orang tua, menghindari kebiasaan yang

tidak baik dan mendukung kebiasaan yang baik.

Standar 2 : Pencatatan dan Pelaporan

Bidan melakukan pencatatan semua kegiatan yang dilakukannya, yaitu

registrasi. Semua ibu hamil di wilayah kerja, rincian pelayanan yang diberikan

kepada setiap ibu hamil/bersalin/nifas dan bayi baru lahir, semua kunjungan

rumah dan penyuluhan kepada masyarakat. Di samping itu bidan hendaknya

mengikutsertakan kader untuk mencatat semua ibu hamil dan meninjau upaya

masyarakat yang berkaitan dengan ibu hamil dan bayi baru lahir. Bidan meninjau

secara teratur catatan tersebut untuk menilai kinerja dan penyusunan rencana

kegiatan untuk meningkatkan pelayanannya.

Page 34: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

2. Standar Pelayanan Antenatal (6 standar)

Standar 3 : Identifikasi Ibu Hamil

Bidan melakukan kunjungan rumah dan berinteraksi dengan masyarakat

secara berkala untuk memberikan penyuluhan dan memotivasi ibu, suami, dan

anggota keluarganya agar mendorong ibu untuk memeriksakan kehamilannya

sejak dini dan secara teratur

Standar 4 : Pemeriksaan dan Pemantauan Antenatal

Bidan memberikan sedikitnya 4x pelayanan antenatal. Pemeriksaan meliput

anamnesis dan pemantauan ibu janin dengan seksama untuk menilai apakah

perkembangan berlangsung normal. Bidan juga harus mengenali kehamilan risti/

kelainan, khususnya anemia, kurang gizi, hipertensi, PMS, infeksi HIV,

memberikan pelayanan imunisasi, nasehat dan penyuluhan kesehatan serta tugas

terkait lainnya yang diberikan oleh puskesmas. Mereka harus mencatat data yang

tepat pada setiap kunjungan. Bila ditemukan kelainan, mereka harus mampu

mengambil tindakan yang diperlukan dan merujuknya untuk tindakan selanjutnya.

Standar 5 : Palpasi dan Abdominal

Bidan melakukan pemeriksaan abdominal dan melakukan palpasi untuk

memperkirakan usia kehamilan; serta bila kehamilan bertambah memeriksa

posisi, bagian terendah janin dan masuknya kepala janin kedalam rongga

panggul, untuk mencari kelainan dan melakukan rujukan tepat waktu.

Standar 6 : Pengelolaan Anemia pada Kehamilan         

Bidan melakukan tindakan pencegahan, penemuan, penanganan dan rujukan

semua kasus anemia pada kehamilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Standar 7 : Pengelolaan Dini Hipertensi pada Kehamilan

Bidan menemukan secara dini setiap kenaikan tekanan darah pada

kehamilan dan mengenal tanda serta gejala preeklampsia lainnya, serta

mengambil tindakan yang tepat dan merujuknya.

Standar 8 : Persiapan Persalinan

Bidan memberikan saran yang tepat kepada ibu hamil, suami serta

keluarganya pada trimester ketiga, untu memastikan bahwa persiapan persalinan

yang bersih dan aman serta suasana yang menyenangkan akan direncanakan

dengan baik, disamping persiapan transportasi dan biaya untuk merujuk, bila tiba-

tiba terjadi keadaan gawat darurat. Bidan hendaknya melakukan kunjungan rumah

untuk hal ini.   

Page 35: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

3. Standar Pertolongan Persalinan (4 standar)

Standar 9 : Asuhan Persalinan Kala I

Bidan menilai secara tepat bahwa persalian sudah mulai, kemudian

memberikan asuhan dan pemantauan yang memadai, dengan memperhatikan

kebutuhan klien, selama proses persalinan berlangsung.

Standar 10 : Persalinan Kala II yang Aman

Bidan melakukan pertolongan persalinan yang aman, dengan sikap sopan

dan penghargaan terhadap klien serta memperhatikan tradisi setempat

Standar 11 : Penatalaksanaan Aktif Persalinan Kala III

Bidan melakukan penegangan tali pusat dengan benar untuk membantu

pengeluaran plasenta dan selaput ketuban secara lengkap

Standar 12 : Penanganan Kala II dengan Gawat Janin melalui Episiotomi

Bidan mengenali secara tepat tanda-tanda gawat janin pada kala II yang

lama, dan segera melakukan episiotomi dengan aman untuk memperlancar

persalinan, diikuti dengan penjahitan perineum.   

4. Standar Pelayanan Nifas (3 standar)

Standar 13 : Perawatan Bayi Baru Lahir

Bidan memeriksa dan menilai bayi baru lahir untuk memastikan pernafasan

spontan mencegah hipoksia sekunder, menemukan kelainan, dan melakukan

tindakan atau merujuk sesuai dengan kebutuhan. Bidan juga harus mencegah atau

menangani hipotermia.

Standar 14 :Penanganan pada Dua Jam Pertama Setelah Persalinan

Bidan melakukan pemantauan ibu dan bayi terhadap terjadinya komplikasi

dalam dua jam setelah persalinan, serta melakukan tindakan yang diperlukan. Di

samping itu, bidan memberikan penjelasan tentang hal-hal yang mempercepat

pulihnya kesehatan ibu, dan membantu ibu untuk memulai pemberian ASI.

Standar 15 :Pelayanan bagi Ibu dan Bayi pada Masa Nifas

Bidan memberikan pelayanan selama masa nifas melalui kunjungan rumah

pada hari ketiga, minggu kedua dan minggu keenam setelah persalinan, untuk

membantu proses pemulihan ibu dan bayi melalui penanganan tali pusat yang

benar, penemuan dini penanganan atau rujukan komplikasi yang mungkin terjadi

pada masa nifas, serta memberikan penjelasan tentang kesehatan secara umum,

kebersihan perorangan, makanan bergizi, perawatan bayi baru lahir, pemberian

ASI, imunisasi dan KB.

Page 36: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

5. Standar Penanganan Kegawatdaruratan Obstetri-Neonatal (9 standar)

Standar 16 : Penanganan Perdarahan dalam Kehamilan pada Trimester III

Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala perdarahan pada kehamilan,

serta melakukan pertolongan pertama dan merujuknya.

Standar 17 : Penanganan Kegawatan dan Eklampsia

Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala eklampsia mengancam, serta

merujuk dan/atau memberikan pertolongan pertama

Standar 18 : Penanganan Kegawatan pada Partus Lama/Macet

Bidan mengenali secara tepat tanda dan gejala partus lama/macet serta

melakukan penanganan yang memadai dan tepat waktu atau merujuknya

Standar 19 : Persalinan dengan Penggunaan Vakum Ekstraktor

Bidan mengenali kapan diperlukan ekstraksi vakum, melakukannya dengan

benar dalam memberikan pertolongan persalinan dengan memastikan

keamanannya bagi ibu dan janin/bayinya.

Standar 20 : Penanganan Retensio Plasenta

Bidan mampu mengenali retensio plasenta, dan memberikan pertolongan

pertama termasuk plasenta manualdan penanganan perdarahan, sesuai dengan

kebutuhan.

Standar 21 : Penanganan Perdarahan Post Partum Primer

Bidan mampu mengenali perdarahan yang berlebihan dalam 24 jam pertama

setelah persalinan (perdarahan post partum primer) dan segera melakukan

pertolongan pertama untuk mengendalikan perdarahan.

Standar 22 : Penanganan Perdarahan Post Partum Sekunder

Bidan mampu mengenali secara tepat dan dini tanda serta gejala perdarahan

post partum sekunder, dan melakukan pertolongan pertama untuk penyelamatan

jiwa ibu, atau merujuknya.

Standar 23 : Penanganan Sepsis Puerperalis

Bidan mampu mengamati secara tepat tanda dan gejala sepsis puerperalis,

serta melakukan pertolongan pertama atau merujuknya.   

Standar 24  : Penanganan Asfiksia Neonatorum

Bidan mampu mengenali dengan tepat bayi baru lahir dengan asfiksia, serta

melakukan resusitasi, mengusahakan bantuan medis yang diperlukan dan

memberikan perawatan lanjutan.

Page 37: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

H. Standar Persyaratan

Standar persyaratan minimal adalah keadaan minimal yang harus dipenuhi untuk

dapat menjamin terselenggaranya pelayanan kesehatan yang bermutu. Standar

persyaratan minimal terdiri dari

1. Standar Masukan

Dalam Standar Masukan ditetapkan persyaratan minimal unsur masukan yang

diperlukan untuk dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bermutu

terdiri dari :

a. Jenis, jumlah dan kualifikasi tenaga pelaksana

b. Jenis, jumlah dan spesifikasi sarana

c. Jumlah dana (modal)

Jika standar masukan merujuk pada tenaga pelaksana disebut dengan nama

standar ketenagaan (standard of personnel). Sedangkan jika standar masukan

merujuk pada sarana dikenal dengan nama standar sarana (standard of facilities).

Untuk dapat menjamin terselenggaranya pelayanan kesehatan yang bermutu,

standar masukan tersebut haruslah dapat ditetapkan.

2. Standar Lingkungan

Dalam standar lingkungan ditetapkan persyaratan minimal unsur lingkungan yang

diperlukan untuk dapat meyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bermutu,

terdiri dari :

a. Garis-garis besar kebijakan (policy)

b. Pola organisasi (organization)

c. Sistem manajemen (management) yang harus dipatuhi oleh setiap pelaksana

pelayanan kesehatan.

Standar lingkungan ini populer dengan sebutan standar organisasi dan

manajemen (standard organization and management). Sama halnya dengan

masukan, untuk dapat menjamin terselenggaranya pelayanan kesehatan yang

bermutu, maka standar lingkungan harus ditetapkan.

3. Standar Proses

Dalam standar proses ditetapkan persyaratan minimal unsur proses yang harus

dilakukan untuk dapat menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang bermutu,

terdiri dari :

a. Tindakan medis

b. Tindakan non medis

Page 38: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

Standar proses dikenal dengan nama standar tindakan (standar of conduct).

Karena baik tidaknya mutu pelayanan kesehatan sangat ditentukan oleh

kesesuaian tindakan dengan standar proses, maka haruslah dapat diupayakan

tersusunnya standar proses.

I. Standar Penampilan Minimal

Standar penampilan minimal merujuk pada penampilan layanan kesehatan yang

masih dapat diterima. Standar ini, karena merujuk pada unsur keluaran,

disebut  dengan nama standar keluaran, atau populer dengan sebutan standar

penampilan (standar of performance). Standar keluaran merupakan hasil akhir atau

akibat dari layanan kesehatan. Standar keluaran akan menunjukkan apakah layanan

kesehatan berhasi atau gagal. Keluaran (outcome) adalah apa yang diharapkan akan

terjadi sebagai hasil dari layanan kesehatan yang diselenggarakan dan terhadap apa

keberhasilan tersebut akan diukur. Standar keluaran berupa :

1. Penampilan Aspek Medis

2. Penampilan Aspek Non Medis

Untuk mengetahui apakah mutu pelayanan yang diselenggarakan masih dalam batas-

batas yang wajar atau tidak, perlu ditetapkan standar keluaran.

Page 39: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

HAK DAN KEWAJIBAN PASIEN

A. Hak dan Kewajiban Pasien Menurut Undang-Undang

Menurut ‘Declaration of Lisbon (1981) : The Rights of the Patient” disebutkan

beberapa hak pasien, diantaranya hak memilih dokter, hak dirawat dokter yang

“bebas”, hak menerima atau menolak pengobatan setelah menerima informasi, hak

atas kerahasiaan, hak mati secara bermartabat, hak atas dukungan moral atau

spiritual. Dalam UU No 23 tahun 1992 tentang Kesehatan, pasal 53 menyebutkan

beberapa hak pasien, yakni hak atas Informasi, hak atas second opinion, hak atas

kerahasiaan, hak atas persetujuan tindakan medis, hak atas masalah spiritual, dan hak

atas ganti rugi.

Menurut UU No.36 tahun 2009 tentang kesehatan, pada pasal 4-8 disebutkan

setiap orang berhak atas kesehatan, akses atas sumber daya, pelayanan kesehatan

yang aman, bermutu dan terjangkau; menentukan sendiri pelayanan kesehatan yang

diperlukan, lingkungan yang sehat, info dan edukasi kesehatan yg seimbang dan

bertanggungjawab, dan informasi tentang data kesehatan dirinya. 

Hak-hak pasien dalam UU No. 36 tahun 2009 itu diantaranya meliputi:

1. Hak menerima atau menolak sebagian atau seluruh pertolongan (kecuali tak

sadar, penyakit menular berat, gangguan jiwa berat).

2. Hak atas rahasia pribadi (kecuali perintah UU, pengadilan, ijin ybs, kepentngan

ybs, kepentingan masyarakat).

3. Hak tuntut ganti rugi akibat salah atau kelalaian (kecuali tindakan penyelamatan

nyawa atau cegah cacat).

Pada UU No 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran khususnya pada

pasal 52 juga diatur hak-hak pasien, yang meliputi:

1. Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana

dimaksud dalam pasal 45 ayat 3.

2. Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain.

3. Mendapat pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis.

4. Menolak tindakan medis.

5. Mendapatkan isi rekam medis.

Terkait rekam medis, Peraturan Menteri kesehatan No.269 pasal 12

menyebutkan:

1. Berkas rekam medis milik sarana pelayanan kesehatan.

Page 40: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

2. Isi rekam medis merupakan milik pasien.

3. Isi rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dalam bentuk ringkasan

rekam medis.

4. Ringkasan rekam medis sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat diberikan,

dicatat, atau dicopy oleh pasien atau orang yang diberi kuasa atau atas

persetujuan tertulis pasien atau keluarga pasien yang berhak untuk itu.

Hak Pasien dalam UU No 44 / 2009 tentang Rumah Sakit (Pasal 32 UU

44/2009) menyebutkan bahwa setiap pasien mempunyai hak sebagai berikut:

1. Memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di

Rumah Sakit.

2. Memperoleh informasi tentang hak dan kewajiban pasien.

3. Memperoleh layanan yang manusiawi, adil, jujur, dan tanpa diskriminasi.

4. Memperoleh pelayanan kesehatan bermutu sesuai dengan standar profesi dan

standar prosedur operasional.

5. Memperoleh layanan yang efektif dan efisien sehingga pasien terhindar dari

kerugian fisik dan materi;

6. Mengajukan pengaduan atas kualitas pelayanan yang didapatkan.

7. Memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan peraturan

yang berlaku di rumah sakit.

8. Meminta konsultasi tentang penyakit yang dideritanya kepada dokter lain

(second opinion) yang memiliki Surat Ijin Praktik (SIP) baik di dalam maupun

di luar rumah sakit.

9. Mendapatkan privasi dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data

medisnya.

10. Memberikan persetujuan atau menolak atas tindakan yang akan dilakukan oleh

tenaga kesehatan terhadap penyakit yang dideritanya.

11. Mendapat informasi yang meliputi diagnosis dan tata cara tindakan medis,

tujuan tindakan medis, alternatif tindakan, risiko dan komplikasi yang mungkin

terjadi, dan prognosis terhadap tindakan yang dilakukan serta perkiraan biaya

pengobatan.

12. Didampingi keluarganya dalam keadaan kritis.

13. Menjalankan ibadah sesuai agama atau kepercayaan yang dianutnya selama hal

itu tidak mengganggu pasien lainnya.

Page 41: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

14. Memperoleh keamanan dan keselamatan dirinya selama dalam perawatan di

Rumah Sakit.

15. Mengajukan usul, saran, perbaikan atas perlakuan Rumah Sakit terhadap

dirinya.

16. Menolak pelayanan bimbingan rohani yang tidak sesuai dengan agama dan

kepercayaan yang dianutnya.

17. Menggugat dan atau menuntut rumah sakit apabila rumah sakit itu diduga

memberikan pelayanan yang tidak sesuai dengan standar baik secara perdata

ataupun pidana.

18. Mengeluhkan pelayanan rumah sakit yang tidak sesuai dengan standar

pelayanan melalui media cetak dan elektronik sesuai dengan ketentuan peraturan

perundang-undangan.

Sementara itu kewajiban pasien diatur diataranya dalam UU No 29 tahun

2004 tentang Praktik Kedokteran, terutama pasal 53 UU, yang meliputi:

1. Memberi informasi yg lengkap dan jujur tentang masalah kesehatannya.

2. Mematuhi nasihat dan petunjuk dokter dan dokter gigi.

3. Mematuhi ketentuan yang berlaku di saryankes.

4. Memberi imbalan jasa atas pelayanan yang diterima.

Terkait kewajiban pasien seperti disebut di atas, sebenarnya ada “pesan”

implisit terkait hal itu, diantaranya:

1. Masing-masing pihak, dalam hal ini pasien dan tenaga medis, harus selalu

memberi informasi yang tepat dan lengkap, baik sebelum maupun sesudah

tindakan (preventif/diagnostik/terapeutik/rehabilitatif).

2. Keputusan di tangan pasien, dokter mengadvokasi prosesnya (kecuali keadaan

darurat yang tak bisa ditunda).

3. Layanan medis harus sesuai kebutuhan medisnya.

B. Hak dan Kewajiban pasien dalam pelayanan Kesehatan

Hak pasien dalam memperoleh pelayanan kesehatan termasuk perawatan tercantum

pada UU Kesehatan no 23 tahun 1992 yaitu :

Pasal 14 mengungkapkan bahwa setiap orang berhak untuk mendapatkan kesehatan

optimal.

Pasal 53 menyebutkan bahwa setiap pasien berhak atas informasi, rahasia

kedokteran, dan hak opini kedua.

Page 42: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

Pasal 55 menyebutkan bahwa setiap pasien berhak mendapatkan ganti rugi karena

kesalahan dan kelalaian petugas kesehatan.

Secara rinci, hak dan kewajiban pasien adalah sebagai berikut :

1. Hak Pasien :

a. Mendapatkan pelayanan kesehatan optimal /sebaik-baiknya sesuai dengan

standar profesi kedokteran.

b. Hak atas informasi yang jelas dan benar tentang penyakit dan tindakan medis

yang akan dilakukan dokter/ suster.

c. Hak memilih dokter dan rumah sakit yang akan merawat sang pasien.

d. Hak atas rahasia kedokteran / data penyakit, status, diagnosis dll.

e. Hak untuk memberi persetujuan / menolak atas tindakan medis yang akan

dilakukan pada pasien.

f. Hak untuk menghentikan pengobatan.

g. Hak untuk mencari pendapat kedua / pendapat dari dokter lain / Rumah Sakit

lain.

h. Hak atas isi rekaman medis / data medis.

i. Hak untuk didampingi anggota keluarga dalam keadaan kritis.

j. Hak untuk memeriksa dan menerima penjelasan tentang biaya yang

dikenakan / dokumen pembayaran / bon /bill.

k. Hak untuk mendapatkan ganti rugi kalau terjadi kelalaian dan tindakan yang

tidak mengikuti standar operasi profesi kesehatan.

2. Kewajiban Pasien

a. Memberi keterangan yang jujur tentang penyakit dan perjalanan penyakit

kepada petugas kesehatan.

b. Mematuhi nasihat dokter dan perawat

c. Harus ikut menjaga kesehatan dirinya.

d. Memenuhi imbalan jasa pelayanan.

Sedangkan menurut Surat Edaran DirJen Yan Medik No:YM.02.04.3.5.2504

Tentang Pedoman Hak dan Kewajiban Pasien, Dokter dan Rumah Sakit, Th.1997;

UU Republik Indonesia No. 29 Tahun 2004 Tentang Praktek Kedokteran dan

Pernyataan/SK PB. IDI, sebagai berikut : Hak pasien adalah hak-hak pribadi yang

dimiliki manusia sebagai pasien, yaitu :

1. Hak memperoleh informasi mengenai tata tertib dan peraturan yang berlaku di

rumah sakit. Hak atas pelayanan yang manusiawi, adil dan jujur

Page 43: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

2. Hak untuk mendapatkan pelayanan medis yang bermutu sesuai dengan standar

profesi kedokteran/kedokteran gigi dan tanpa diskriminasi

3. Hak memperoleh asuhan keperawatan sesuai dengan standar profesi

keperawatan

4. Hak untuk memilih dokter dan kelas perawatan sesuai dengan keinginannya dan

sesuai dengan peraturan yang berlaku di rumah sakit

5. Hak dirawat oleh dokter yang secara bebas menentukan pendapat klinik dan

pendapat etisnya tanpa campur tangan dari pihak luar

6. Hak atas ”privacy” dan kerahasiaan penyakit yang diderita termasuk data-data

medisnya kecuali apabila ditentukan berbeda menurut peraturan yang berlaku

7. Hak untuk memperoleh informasi /penjelasan secara lengkap tentang tindakan

medik yg akan dilakukan thd dirinya.

8. Hak untuk memberikan persetujuan atas tindakan yang akan dilakukan oleh

dokter sehubungan dengan penyakit yang dideritanya

9. Hak untuk menolak tindakan yang hendak dilakukan terhadap dirinya dan

mengakhiri pengobatan serta perawatan atas tanggung jawab sendiri sesudah

memperoleh informasi yang jelas tentang penyakitnya.

10. Hak didampingi keluarga dan atau penasehatnya dalam beribad dan atau

masalah lainya (dalam keadaan kritis atau menjelang kematian).

11. Hak beribadat menurut agama dan kepercayaannya selama tidak mengganggu

ketertiban & ketenangan umum/pasien lainya.

12. Hak atas keamanan dan keselamatan selama dalam perawatan di rumah sakit

13. Hak untuk mengajukan usul, saran, perbaikan atas pelayanan rumah sakit

terhadap dirinya

14. Hak transparansi biaya pengobatan/tindakan medis yang akan dilakukan

terhadap dirinya (memeriksa dan mendapatkan penjelasan pembayaran)

15. Hak akses /’inzage’ kepada rekam medis/ hak atas kandungan ISI rekam medis

miliknya

Page 44: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

ASPEK KEPUASAN PASIEN DALAM PELAYANAN KEBIDANAN

A. Konsep Dasar Mutu Pelayanan Kesehatan Dan Kebidanan

Mutu adalah suatu keputusan yang berhubungan dengan proses pelayanan, yang

berdasarkan tingkat dimana pelayan memberikan kontribusi terhadap nilai outcomes.

Mutu adalah kecocokan penggunaan produk (Fitness for use)untuk memenuhi

kebutuhan dan kepuasan pelanggan. Kecocokan dari pengguna tersebut didasarkan

atas 5 ciri utama,yaitu:

1. Tehnologi : Kekuatan dan daya tahan.

2. Spikologis : Citra rasa atau status

3. Waktu : Kehandalan

4. Kontraktual : Adanya jaminan

5. Etika : Sopan santun,ramah atau jujur (juran).

Mutu produk dan jasa adalah seluruh gabungan sifat-sifat produk atau jasa

pelayanan dari pemasaran,engineering,manufaktur, dan pemeliharaan di mana

produk atau jasa pelayanan dalam penggunaannya akan bertemu dengan harapan

pelanggan (Dr.Armand V. Feigenbaun).

1. Mutu adalah kepuasan pelanggan sepenuhnya.

2. Mutu adalah kepatuhan terhadap standar yang ditetapkan

3. Mutu adalah tingkat kesempurnaan dari penampilan suatu yang sedang diamati.

Mutu adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk,

manusia/tenaga kerja,proses dan tugas, serta lingkungan yang memenuhi atau

melebihi harapan pelanggan (konsumen).

Mutu adalah tingkat dimana pelayanan kesehatan pasien di tingkatkan

mendekati hasil yang diharapkan dan mengurangi faktor-faktor yang tidak di

inginkan ( JCAHO 1993). Definisi tersebut semula melahirkan 12 faktor-faktor yang

menentukan mutu pelayanan kesehatan, belakangan dikonfensi menjadi dimensi

‘mutu kinerja” (Performance) yang dituangkan dengan spesifikasi seperti dibawah

ini:

1. Kelayakan adalah tingkat dimana perawatan atau tingkatan yang dilakukan

relevan terhadap kebutuhan klinis pasien dan memperoleh pengertahuan yang

berhubungan dengan keadaannya.

2. Kesiapan adalah tingkat dimana kesiapan perawatan atau tindakan yang layak

dapat memenuhi kebutuhan pasien sesuai keperluannya.

Page 45: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

3. kesinambungan adalah tinkat dimana perawatan atau tindakan bagi pasien

terkoordinasi dengan baik setiap saat dimna tim kesehatan dalam organisasi.

4. Efektifitas adalah tingkat dimana perawatan atau tindakan terhadap pasien

dilakukan dengan benar, serta mendapat penjelasan dan pengetahuan sesuai

dengan kaadaannya, dalam rangka memenuhi harapan pasien.

5. Kemanjuran adalah tingkat dimana perawatan atau tindakan yang diterima pasien

dapat diwujudkan atau ditunjukkan untuk menyempurnakan hasil sesuai harapan

pasien.

6. Efisiensi adalah ratio hasil pelayanan atau tindakan bagi pasien terhadap sumber-

sumber yang dipergunakan dalam memberikan layanan bagi pasien.

7. Penghormatan dan perhatian adalah tinkat dimana pasien dilibatkan dalam

pengambilan keputusan tentang perawatan dirinya. Berkaitan dengan hal tersebut

perhatian terhadap pemenuhan kebutuhan pasien serta harapan-harapannya di

hargai.

8. Keamanan adalah tingkat dimana bahaya lingkungan perawatan diminimalisasi

untuk melindungi pasien orang lain, termaksud pertugas kesehatan.

9. Ketepatan waktu adalah tingkat dimana perawatan atau tindakan diberikan

kepada pasien tepat waktu sangat penting dan bermafaat.

Mutu dalam pelayanan kebidanan adalah peningkatan mutu pelayanan yang

dilakukam bidan didesa dengan wadah polindes atau puskesmas.(Wiyono 1999)

menerangkan bahwa mutu dapat dilihat dari berbagai perspektif. Untuk pasien dan

masyarakat, mutu pelayanan berarti suatu empati,respek dan tanggap akan kebutuhan

mereka dan diberikan dengan cara yang ramah waktu mereka berkunjung.Sedangkan

untuk petugas kesehatan, mutu berarti bebas melakukan segala sesuatu secara

professional untuk meningkatkan derajat kesehatan pasien dan masyarakat sesuai

dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan yang maju, mutu peralatan yang baik,

dan memenuhi standar yang baik.

1. Kepuasan Pasien

Kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang (pelanggan/pasien) setelah

membandingkan antara kinerja atau hasil yang dirasakan (pelayanan yang

diterima dan dirasakan) dengan yang diharapkannya.

Kepuasan pasien adalah memberikan apa yang sesungguhnya mereka

inginkan serta kapan dan bagaimana mereka inginkan atau memenuhi kebutuhan

dengan menjalankan manajemen mutu total (Sujianti, 2009).

Page 46: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

Kepuasan pasien adalah suatu tingkat perasaan pasien yang timbul sebagai

akibat dari kinerja layanan kesehatan yang di perolehnya setelah pasien

membandingkannya dengan apa yang diharapkan (Pohan, 2006).

Berbagai penelitian memilah kepuasan pelanggan kedalam komponen-

komponennya. Umumnya proses ini terdiri atas dimensi-dimensi kunci kepuasan

pelanggan. Pelanggan menilai produk atau jasa berdasarkan item-item spesifik,

seperti.

a. Harga

b. Kecepatan layanan

c. Fasilitas layanan

d. Keramahan staf layanan pelanggan

Menurut (Philip Kotler) Kepuasan adalah tingkat keadaan yang dirasakan

seseorang yang merupakan hasil dari membandingkan penampilan atau outcome

produk yang dirasakan dalam hubungannya dengan harapan seseorang.

Djoko Wijono, dalam bukunya “Menejemen Mutu Pelayanan Kesehatan”

menyebutkan bahwa ada tiga tingkat kepuasan pelanggan,yaitu :

a. Bila penampilan kurang dari harapan,pelanggan tidak puas.

b. Bila penampilan sebanding dengan harapan, pelanggan puas.

c. Bila penampilan melebihi harapan, pelanggan amat puas atau senang.

Menurut Gerson,2002) kepuasan pasien adalah bahwa harapannya telah

terpenuhi atau terlampau.

Kepuasan pelanggan rumah sakit atau organisasi pelayanan kesehatan lain

atau kepuasan pasien dipengaruhi banyak faktor,antara lain yang bersangkutan

dengan :

a. Pendekatan dan perilaku petugas, perasaan pasien terutama saat pertama kali

datang.

b. Mutu informasi yang diterima, seperti apa yang dikerjakan,apa yang dapat

diharap.

c. Prosedur perjanjian

d. Waktu tunggu

e. Fasilitas umum yang tersedia

f. Fasilitas perhotelan

g. Outcome terapi dan perawatan yang diterima.

Page 47: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

Menurut Budiastuti (2002 dalam Purwanto, 2007) pasien dalam

mengevaluasi kepuasan terhadap jasa pelayanan yang diterima mengacu pada

beberapa faktor, antara lain:

a. Kualitas produk. Pelanggan akan puas bila kualitas produk (barang/jasa) yang

ditawarkan relatif baik. Kualitas produk ini merupakan dimensi global dan

paling tidak memiliki 6 elemen, yaitu penampilan produk (performance), daya

tahan (durability), keistimewaan (feature), keandalan/dapat dipercaya

(reliability), konsistensi (consistency), dan model (design). Pelanggan akan

merasa puas saat membeli produk yang kualitasnya bagus, tahan lama,

modelnya apik, dan memiliki banyak keunggulan (fasilitas). Produk yang

berbentuk pelayanan jasa, kualitas yang baik dapat diartikan sebagai pelayanan

yang tepat waktu, aman, paripurna, dan diberkan oleh ahli, dan mudah

dijangkau (secara jarak maupun biaya)

b. Harga. Komponen yang satu ini hanya berlaku bagi mereka yang sensitif

terhadap masalah value of money. Dengan harga yang murah mereka yang

sensitif akan mendapatkan value of money yang tinggi dan merasa kepuasan

karenanya.

c. Service Quality. Kedua faktor di atas (kualitas dan harga) ternyata bukan

jaminan untuk memuaskan pelanggan. Kualitas yang baik dan harga yang

murah akan menjadi hal yang tidak bermakna bila pelayanan yang diberikan

karyawan tidak baik (tidak ramah, prosedur yang susah, dan pelayanan yang

tidak nyaman). Kualitas pelayanan disokong oleh tiga hal, yaitu sistem,

teknologi, dan manusia. Menurut konsep service quality yang populer,

ServQual dinyatakan bahwa kualitas pelayanan memiliki 5 dimensi, yaitu

reliability, responsiveness, assurance, empathy, dan tangible (Parasuraman,

1985 dalam Rahmulyono, 2008).

d. Emotional factor. Pada awalnya kajian tentang kepuasan mengarah pada

asumsi bahwa para pelanggan menggunakan rasionalitasnya dalam berbelanja.

Namun kajian-kajian kekinian membuktikan bahwa pelanggan tidak selalu

rasional untuk melakukan transaksi, bahkan ada kecenderungan irasional.

Sering terjadi pelanggan mau membayar harga yang teramat tinggi (tidak

masuk akal) untuk sebuah barang maupun jasa, hanya karena barang terseut

bentuknya/warnanya sesuai dengan bentuk/penampilan/warna favoritnya.

Page 48: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

Dengan demikian kajian kekinian menjadikan faktor emosi sebagai hal yang

menjadi driver kepuasan pelanggan.

Faktor emosional ini ada tiga komponen, yaitu: estetika, self-expressive value,

dan brand personality.

1) Aspek estetika mencakup bentuk, desain, ukuran, warna, maupun proporsi

dan kesimetrisan suatu barang. Untuk pelayanan dalam seting rumah sakit,

pelanggan akan merasa terpuaskan bila menggunakan jasa pelayanan

kesehatan dari rumah sakit yang ruang perawatannya nyaman, banyak

tamannya, bersih, mewah.

2) Aspek self-expressive value menggambarkan bahwa pelanggan merasa

terpuaskan bila orang-orang disekitarnya menjadi lebih menganggapnya

berwibawa, patut dikagumi, dihormati,dll. Seorang pasien akan memilih

rung perawatan yang berkelas meski jauh lebih mahal, karena mereka

merasa lebih dihargai, lebih percaya diri, dan lebih dihormati oleh orang-

orang yang menjenguknya maupun petugas kesehatan yang merawatnya.

3) Brand personality. Kalau self-expressive value merupakan emosi yang

terbentuk dari lingkungan sosial, maka brand personality akan

memberikan kepuasan kepada konsumen secara internal (tidak bergantung

kepada pandangan/penilaian orang-orang disekitarnya). Unsur yang satu

ini bersifat sangat personal (individual pelanggan). Dalam hal ini setiap

pelanggan berhak mendefinisikan kepuasannya masing-masing,terserah

orang mau bilang apa tentang standarnya. Dengan kata lain ada suatu

kefanatikan terhadap suatu produk (barang/jasa dengan merk tertentu).

Contohnya, ada segolongan pelanggan yang akan terpuaskan oleh salah

satu merk/produk dari suatu institusi, terlepas orang di sekitarnya

mencemooh, menentang maupun menilainya salah.

2. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Kepuasan Pasien

Tanggapan yang diberikan pasien mengenai kepuasan akan dipengaruhi oleh

beberapa karakteristik demografis dan sosio-psikologis dan demografi

diantaranya: usia, kompetensi pribadi, tingkat pendidikan, tingkat penghasilan,

status pernikahan, gaya hidup, dan seterusnya.Menurut Taty Rosyanawaty 2011.

a. Pendekatan dan perilaku petugas terutama saat pertama kali datang.

b. Mutu informasi yang diterima, seperti pa yang dikerjakan, apa yang bisa

diperoleh.

Page 49: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

c. Prosedur penjanjian

d. Waktu tunggu

e. Pelayanan lainnya seperti mutu makanan, privacy dan pengaturan kunjungan.

f. Fasilitas umum yang tersedia.

g. Output terapi dan perawatan yang diterima

3. Mengukur Kepuasan Pelanggan

Menurut Syafudin 2011, Puas atau tidak puas seseorang tergantung pada :

a. Sikapnya terhadap ketidaksesuaian (rasa senang atau tidak senang).

b. Tingkatan dari pada evaluasi ‘baik atau tidak’ untuk dirinya, melebihi atau

dibawah standar.

Metode mengukur kepuasan pelanggan menurut Adrian Palmer (2001)

dengan Sistem keluhan dan saran yaitu dengan menyediakan kotak saran, hotline

service, dan lain-lain untuk memberikan kesempatan seluas luasnya kepada

pasien atau pelanggan untuk menyampaikan keluhan, saran, komentar, dan

pendapat mereka.

4. Harapan Pelanggan

Menurut (Freddy rangkuti 2002) harapan adalah tingkat kepentingan pelanggan,

yaitu keyakinan pelanggan sebuah mencoba atau membeli suatu produk atau jasa

yang akan dijadikan standar acuan untuk menilai produk atau jasa tersebut.

Harapan adalah kunci pokok bagi setiap penyelenggaraan pelayanan

kesehatan yang terlibat dalam kepuasan pasien atau klien.Ada dua tingkat harapan

(Hamdi Irawan,2002):

a. Disired Expectation, Harapan ini memcerminkan apa yang harus dilakukan

fasilitas kesehatan atau pelayanan kesehatan kepada pasien atau klien.

b. Adequate expectation, Harapan minimal yang masih dapat diterima oleh pasien

atau klien, karena alas an yang dapat diterima dan tergantung pada alternative

yang tersedia.

5. Manfaat Kepuasan

a. Kepuasan pelanggan merupakan sarana untuk menghadapi kompetisi dimasa

yang akan datang.

b. Kepuasan pelanggan merupakan promosi terbaik.

c. Kepuasan pelanggan merupakan asset perusahaan terpenting.

d. Kepuasan pelanggan menjamin pertumbuhan dan perkembangan perusahaan.

e. Pelanggan semakin kritis dalam memilih produk.

Page 50: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

f. Pelanggan puas akan kembali.

g. Pelanggan yang puas mudah memberikan referensi.

6. Ketidak Puasan Pelanggan Dan Ketidak Puasan Produk/Jasa

Defisiensi produk/jasa pada dasarnya merupakan sumber ketidak puasan

pelanggan, yang dapat menimbulkan keluhan, klaim, tuntutan.

Kepuasan produk/jasa bersumber pada keistimewaan produk, sedangkan

ketidak puasan produk/jasa bersumber pada ketidak sesuaian dan alasan-alasan

lain yang menimbulkan keluhan bagi pelanggan (Siti Masitoh 2011).

7. Indikator Untuk Mengukur Kepuasan Pelanggan

Menurut parasuraman dalam wiyoyo (1999) terdapat 10 indikatif untuk mengukur

kepuasan pelanggan.dalam perkembangan selanjutnya ke sepuluh faktor tersebut

dirangkum menjadi 5 (lima).dimensi mutu pelayanan sebagai penentu klualitas

jasa, yaitu :

a. Bentuk langsung : adalah segala sesuatu yang tampak seperti fasilitas,

peralatan, kenyamanan ruangan, dan sikap petugas.

b. Keadaan adalah elemen yang berkaitan dengan kemamampuan untuk mewujut

kan pelayanan yang dapat di adakan.

c. Daya tangkap adalah elemen yang berkaitan dengan kesediaan karyawan

dalam membantu dan memberikan pelayanan yang terbaik bagi pasien, petugas

dapat memberikan informasi yang jelas petugas memberikan pelayanan dengan

segera dan tepat waktu petugas memberikan pelayanan yang baik.

d. Jaminan hal itu terutama mencakup pengtahuan, kemampuan, kesopanan, dan

sifat dapat dipercaya petugas.Selain itu,bebas dari bahaya saat pelayanan

merupakan jaminan juga.

e. Empati meliputi perhatian pribadi dalam memahami kebutuhan para pasien.

Page 51: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

Tujuan Perusahaan

Produk

Nilai Produk Bagi pelanggan

Tingkat Kepuasan Pelanggan

Harapan Pelanggan Tarhadap Produk

Kebutuhan Dan Keinginan Pelanggan

DIAGRAM KONSEP KEPUASAN PASIEN

B. Progam Menjaga Mutu Pelayanan Kebidanan

Program menjaga mutu adalah suatu aspek yang cukup penting dalam pelayanan

kebidanan, banyak ahli mendefinisikan Program Menjaga Mutu sebagai berikut :

DR. dr. Azrul Azwar, MPH, dalam buku “pengantar administrasi Kesehatan”Edisi

ke 3 menyebutkan bahwa Program Menjaga Mutu Pelayanan Kesehatan diartikan

sebagai suatu upaya yang dilakukan secara berkesinambungan, sistematis, objektif

dan terpadu dalam menetapkan masalah dan penyebab masalah mutu

pelayanankesehatan berdasarkan standar yang telah ditetapkan, menetapkan dan

melaksanakancara penyelesaian masalah sesuai dengan kemampuan yang

tersedia,serta menilai hasil yang dan menyusun saran-saran tindak lanjut untuk lebih

meningkatkan mutunpelayanan.

Suatu upaya yang berkesinambungan, sistematis dan objektif dalam

memantau dan menilai pelayanan yang diselenggarakan dibandingkan dengan

standar yang telah du tetapkan, serta menyelesaikan masalah yang ditemukan untuk

memperbaiki mutu pelayanan (Maltos & Keller 1989).

Menurut Palmer 1983, Suatu proses yang mencakup kegiatan mengukur mutu

pelayanan yang diselenggarakan, menganalisis kekurangan, menetapkan dan

melaksanakan tindakan perbaikan,menilai hasil yang dicapai secara sistematis,

berdaul ulang berdasarkan standar yang telah ditetapkan.

Page 52: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

1. Tujuan Menjaga Mutu

Tujuan program menjaga mutu secara umum adalah untuk lebih meningkatkan

mutunpelayanan kesehatan yang diselenggarakan. Sedangkan tujuan menjaga

mutu secara khusus :

a. Diketahui masalah mutu pelayanan kesehatan yang disenggarakan.

b. Diketahui penyebab masalah menculnya masalah mutu pelayanan kesehatan

yang diselenggarakan.

c. Tersusunyan upaya penyelesaian masalah dan penyebab masalah mutu

pelayanan kesehatan yang ditentukan.

d. Terselenggarakanya upaya penyelesaian masalah dan penyebab masalah mutu

pelayanan kesehatan yang ditemukan.

e. Tersusunnya saran tindak lanjut untuk lebih meningkatkan mutu pelayanan

kesehatan yang di selenggarakan.

Tujuan program menjaga mutu pelayanan kebidanan:

a. Tujuan antara

Yaitu diketahuinya mutu pelayanan, tujuan ini dapat dicapai apabila masalah

mutu berhasil ditetapkan.

b. Tujuan akhir

Yaitu makin meningkatnya mutu pelayanan, tujuan ini dapat dicapai apabila

program penyelesaian masalah berhasil dilaksanakan.

Tujuan dan manfaat jaminan mutu (QA):

a. Pemahaman staf terhadap tingkat mutu pelayanan yang ingin dicapai.

b. Meningkatkan efektifitas pelayanan yang diberikan.

c. Mendorong serta meningkatkan efisiensi dalam pengelolaan pelayan

kesehatan.

d. Melindungi palaksana pelayanan kesehatan dari gugutan hokum.

e. Tujuan akhir adalah semakin meningkatnya mutu pelayanan.

2. Manfaat Program Menjaga Mutu Pelayanan Kebidanan

a. Dapat meningkatkan efektivitas pelayanan kesehatan

Peningkatan efektivitas pelayanan kesehatan ini erat hubungannya dengan

dapat diatasinya masalah kesehatan secara tepat, karna pelayanan kesehatan

yang diselenggarakan telah sesuai dengan kemajuan ilmu dan tehnologi dan

ataupun standar yang telah ditetaokan.

Page 53: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

b. Dapat meningkatkan efesiensi pelayanan kesehatan

Peningkatan efisiensi yang dimaksud era hubungannya dengan dapat

dicegahnya pelayanan kesehatan yang dibawah standar ataupun yang

berlebihan. Biaya tambahan karena harus menengani efek samping atau

komplikasi karena pelayanan kesehatan di bawah standar akan dapat dihindari.

Demikian pula halnya untuk memakai sumber daya yang tidak pada tempatnya

yang ditemukan pada pelayanan yang berlebihan.

c. Dapat meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan

Peningkatan penerimaan ini erat berhubungannya dengan telah sesuainya

pelayanan kesehatan dengn kebutuhan dan tuntutan pemakaiaan jasa

pelayanan. Apabila peningkatan penerimaan ini dapat diwujudkan, pada

gilirannya pasti akan berperan besar dalam meningkatkan derajat kesehatan

masyarakat secara keseluruhan.

d. Dapat melindungi penyelenggara pelayanan kesehatan dan kemungkinan

timbulnya gugatan hukum

Pada saat ini sebagai akibat makin baiknya tingkat pendidikan masyarakat,

maka kesadaran hukum masyarakat juga telah semakin meningkat. Untuk

mencegah kemungkinan timbulnya gugatan hokum terhadap penyelenggara

pelayanan kesehatan, antara lain karna tidakpuasan terhadap pelayanan

kesehatan, perlulah diselenggarakan pelayanan kesehatan yang sebaik baiknya

( Siti Masitoh 2011).

Dari uraian ini mudah dipahami bahwa terselenggaranya program menjaga

mutu pelayanan kesehatan mempunyai peranan yang amat besar dalam

melindungi penyelenggaraan pelayanan kesehatan dan kemungkinan timbulnya

gugatan hokum, karena memang pelayanan kesehatan yang diselenggarakan telah

terjamin mutunya.

3. Karakteristik pelaksanaan program menjaga mutu

a. Berkesinambungan

Terus menerus dilakukan dalam rangka meningkatkan mutu pelayanan

kesehatan (Quality improvement program).

b. Sistematis

Harus mengikuti alur kegiatan serta sasaran yang baku,yaitu :

1) Menetapkan masalah

2) Menetapkan penyebab masalah

Page 54: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

3) Menetapkan cara penyelesaian masalah

4) Melaksanakan cara penyelesaian masalah.

5) Melakukan penilaian hasil dan membuat saran tindak lanjut.

Sedangkan sasarannya meliputi semua unsur yaitu:

1) Unsur masukan (input)

2) Unsur lingkungan (environment)

3) Unsur proses (process).

4) Unsur keluaran (output)

c. Objektif

Pelaksannan prigram menjaga mutu,terutama saat pemantauan dan penilaian

harus objektif, tidak boleh dipengaruhi oleh berbagai pertimbangan lain,

kecuali atas dasar data yang ditemukan. Untuk menilainya menggunakan

berbagai standard an indicator.

d. Terpadu

Pelaksaan program menjaga mutu harus terpadu dengan pelaksanaan

pelayanan kesehatan yang diselenggarakan. Hal ini biasa disebut dengan istilah

Menajemen Mutu Terpadu (Total Quality Management- TQM).

C. Kualitas Pelayanan Kebidanan

1. Konsep Teori Pelayanan Yang Berkualitas

Kualitas merupakan suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk,

jasa, manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan

kualitas menurut Plilip Kolter adalah keseluruhan diri serta sifat suatu produk atau

pelayanan yang dinyatakan atau tersedia.

Menurut Azwar, kualitas pelayanan kesehatan mengacu pada tingkat

kesempurnaan pelayanan kesehatan yang disatu pihak menimbulkan kepuasan

pasien. Selain itu, tata cara penyelenggaraannya sesuai dengan standard an kode

etik profesi yang telah ditentukan. Definisi kualitas jasa diatas berpusat pada

upaya pemenuhan kebutuhan dan keinginan pelanggan serta ketepatan pemberi

pelayanan untuk mengimbangi harapan pelanggan.

2. Kualitas pelayanan kesehatan

Faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas pelayanan menurut

(Engeenderhealth,2003) ialah :

a. Adanya komitmen petugas kesehatan (Bidan)

Page 55: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

b. Terpenuhinya kubutuhan bidan akan supervisi yang memenuhi fasilitas.

c. Menegemen, informasi, pelatihan dan pengembangan polindes.

d. Terpenuhunya kebutuhan akan bahan, peralatan dan insfrastur.

e. Terpenuhinya hak ibu hamil untuk memperoleh informasi agar ibu hamil

mendapatkan pelayanan yang diharapkan, diantaranya yaitu.

1) Pelayanan yang aman dan nyaman.

2) Pelayanan yang mengutamakan privasi dan menjaga kerahasiaan.

3) Pelayanan yang sopan, ramah, dan nyaman.

4) Dapat mengemukakan pendapat atau maslah secara bebas.

5) Hak untuk kelangsungan pelayanan.

Kualitas total suatu pelayanan terdiri atas tiga komponen utama (Gronroos

dalam Hunt Spen, 2004) yaitu :

a. Technical Quality yaitu kompenen yang berkaitan dengan kualitas output

(keluaran) pelayanan yang diterima pelanggan.Menurut Parasuraman, Etal

Technical Quality dapat diperinci lagi sebagai berikut:

1) Search quality yaitu kualitas yang dapat dievaluasi pelanggan sebelum

membeli. Misalnya harga.

2) Experience quality yaitu kualitas yang bisa dievaluasi pelanggan setelah

membeli atau mengkonsumsi suatu jasa pelayanan.Misalnya : ketepatan

waktu, kecepatan pelayanan.

3) Credence quality yaitu kualitas yang sukar dievaluasi pelanggan meskipun

telah mengkonsumsi suatu jasa. Misalnya kualitas pembedahan.

b. Fungsional quality yaitu komponen dengan kualitas cara penyampaian suatu

jasa.

c. Corporate image yaitu profil, reputasi, citra umum, daya tarik khusus suatu

perusahaan.

Rendahnya kualitas pelayanan Anternatal menurut Engeenderhealth, 2003

dipengaruh oleh:

a. Bidan yang belum memiliki komitmen yang tinggi terhadap kualitas pelayanan

Antenatal.

b. Belum terpenuhinya kebutuhan bidan akan supervise yang mempengaruhi

fasilitas (kunjung rumah).

c. Lama waktu pemeriksaan antenatal.

Page 56: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

d. Belum terpenuhinya hak-hak ibu hamil untuk memperoleh informasi dan

mendapatkan pelayanan yang diharapkan.

3. Peningkatan Kualitas Pelayanan

Untuk meningkatkan kualitas pelayanan di polindes/puskesmas di antaranya

(Menurut Syafudin 2011) ialah:

a. Menciptakan visi tentang pelayanan Antenatal sehingga semua petugas

polindes/ puskesmas mempunyai komitmen untuk melaksanaan pelayanan

Antenatal secara maksimal.

b. Perlu dikembangkan supervise yang memfasilitasi (kunjungan rumah) seperti

ibu hamil yang belum pernah memeriksaan kehamilannya.

c. Perlu adanya upaya untuk menyesuaiakan target ibu hamil dengan jumlah ibu

hamil yang ada diwilayah polindes/puskesmas melalui validasi data secara

dinamis. Pendataan dapat melalui bidan desa, kader desa puskesmas, atau

kader posyandu.

d. Menyusun perencanaan terpadu polindes dengan melibatkan masyarakat desa

untuk meningkatkan kualitas pelayanan Antenatal.

e. Menyusun Standart Operating Procedure (SOP) yang meliputi prosedur untuk

memenuhi hak-hak ibu hamil dalam pelayanan Antenatal.

f. Memberikan kesempatan kepada bidan dan petugas kesehatan lainnya untuk

pelatihan dan pengembangan sebagai upaya meningkatkan kompetensinya.

Pelatihan tersebut termasuk pelatihan tentang tehnik komunikasi yang efektif

dan pengelolaan program KIA, agar mampu menyampaikan berbagai

informasi yang dibutuhkan oleh ibu hamil untuk memilihara kehamilan yang

sehat dan pelatihan Antenatal Comprehensif dan pelayanan prima untuk

meningkatkan kemampuan bidan dalam memberikan pelayanan Antenatal

yang lebih berkualitas.

g. Review pelaksanaan pencatatan kohort dan pelapor PSW KIA secara benar.

h. Perbaikan fasilitas Polindes/Puskesmas yang menunjang kenyamanan pasien.

4. Disiplin dalam sandar mutu pelayanan kesehatan /kebidanan meliputi

a. Standard mutu masukan, meliputi mutu tenaga, dana, sarana/ fasilitas.

b. Standard mutu lingkungan, meliputi mutu oganisasi dan manajemen institusi

kesehatan.

c. Standard mutu proses, meliputi mutu tindakan medis dan non medis.

Page 57: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

d. Standard mutu keluarga, keluaran, yaitu mutu atau penampilan pelayanan

kesehatan /kebidanan.

Keempat standard mutu tersebut harus selalu dipelihara, dipantau dan

ditingkatkan sesuai dengan perkembangan ilmu dan tehnologi agar mutu

pelayanan kesehatan/kebidanan yang dihasilkan selalu terjaga.

D. Pelayanan Bidan

Merupakan bagian yang tidak terpisahkan oleh layanan kesehatan. Pelayanan

kebidanan tergantung bagaimana struktur sosial budaya masyarakat dan termasuk

kondisi sosial ekonomi, sosial demografi.

Parameter sosial demografi dalam pelayanan kebidanan, antara lain : perbaikan

status gizi bayi, cakupan pertolonggan persalinan, menurut angka kematian Ibu,

menurunnya angka kelahiran bayi, cakupan penanganan kasus beresiko,

meningkatkan cakupa pemeriksaan antenatal.

Bidan sebagai tenaga pemberi jasa pelayanan harus menyiapkan diri untuk

mengantisipasi perubahan kebutuhan masyarakat atau pelayanan kebidanan.

Keadilan dalam sumber daya pelayanan dimulai dari : pemenuhan kebutuhan klien

sesuai, sumber daya pelayanan dalam kebidanan untuk meningkatkan pelayan

kebidanan, dan keterjangkauan tempat pelayanan. Tingkat ketersediaan ini merupaka

syarat utama untuk terlaksananya pelayan kebidanana. Sikap bidan harus tanggap

terhadap klien, sesuai kebutuhan klien, tidak  membedakan pelayanan kepada

siapapun.

Page 58: Humaniora-Pelayanan Kebidanan dan Kepuasan Pasien

Daftar Pustaka:

1. Eko N., 2010. Etika profesi dan hukum kebidanan. Yogyakarta: Pustaka Rihma.

2. Keputusan menteri kesehatan RI no. 369/Menkes/sk/III/2007

3. Arimaswati, Indria H., Syamsul R., 2011. Dilema Etik. Fakultas Kedokteran.

Universitas Haluoleo. http://fk.uho.ac.id/dokumenhpeq/modul/modul-Dilema-Etik.pdf

(20 Maret 2015)

4. Undang-undang RI 23 Tahun 1992

5. http://www.sumbarsehat.com/2012/07/standar-pelayanan-kebidanan-dasar.html

6. http://saintek.uin-malang.ac.id/forum

7. http://saintek.uin-malang.ac.id/index.php/perpustakaan.html

8. https://www.academia.edu/5837957/BAB_II_kepuasan