EFEKTIVITAS DINAS TATA RUANG KOTA DALAM /Efekti... · Revitalisasi kawasan akan menjadikan kawasan

  • View
    215

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of EFEKTIVITAS DINAS TATA RUANG KOTA DALAM /Efekti... · Revitalisasi kawasan akan menjadikan kawasan

1

EFEKTIVITAS DINAS TATA RUANG KOTA

DALAM PELAKSANAAN REVITALISASI

KAWASAN NGARSAPURA KOTA SURAKARTA

Oleh :

DESSY LIANAWATI

NIM : D0105055

SKRIPSI

Diajukan Dalam Rangka Memenuhi Syarat-Syarat

Untuk Mencapai Gelar Sarjana Sosial Jurusan Ilmu Administrasi

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Sebelas Maret

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA

2

2009

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Pembangunan daerah, hakekatnya adalah upaya untuk meningkatkan

kapasitas pemerintahan daerah sehingga tercipta suatu kemampuan yang handal

dan profesional dalam menjalankan pemerintahan serta memberikan pelayanan

prima kepada masyarakat. Pembangunan daerah juga berarti memampukan daerah

untuk mengelola sumber daya ekonominya secara berdaya dan berhasil guna

untuk kemajuan daerah dan kesejahteraan masyarakat (Juli P.Saragih, 2003:11).

Menurut Juli P. Saragih, pembangunan daerah dilakukan dengan dua pendekatan,

yaitu dengan pendekatan sentralistis, dan kedua, pendekatan desentralisasi.

Pendekatan desentralisasi mengandung arti bahwa pembangunan daerah, sebagian

besar merupakan wewenang daerah dan dilaksanakan sendiri oleh daerah

(pemerintah daerah) secara otonom. Dengan diberlakukannya UU No.32 tahun

3

2004 tentang Pemerintahan Daerah, membuka jalan bagi daerah untuk

mengembangkan daerahnya masing-masing dengan berbagai strategi kebijakan.

Era Otonomi Daerah yang digulirkan oleh Pemerintah Pusat melalui

Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah ternyata

mampu membawa efek yang besar terhadap perkembangan kehidupan masyarakat

di daerah. Dengan adanya sistem kewenangan yang kini bersifat desentralistis,

masing-masing daerah seolah dituntut untuk dapat mempertahankan eksistensi

rumah tangga mereka dengan berpondasi pada kemampuan dan kemauan mereka

sendiri. Kemampuan dalam artian menyangkut aspek sumber daya- sumber daya

yang dimiliki oleh masing-masing daerah. Kemauan menyangkut seberapa keras

pimpinan daerah memiliki motivasi untuk melejitkan potensi-potensi daerahnya

yang mungkin saja terpendam selama ini.

Dapat dikatakan bahwa di era otonomi daerah ini peran Kepala Daerah

sangat menentukan seberapa pesat kemajuan suatu daerah. Daerah yang makin

melejit pasca otonomi daerah antara lain Sragen, Jembarana, Surakarta, dan

sebagainya. Sebagian daerah-daerah tersebut jika dikaji lebih jauh, ternyata

memiliki kepala daerah yang bisa dikatakan inovatif. Jika Sragen dan Jembrana

melakukan inovasi dalam hal pelayanan publik, berbeda dengan kota Surakarta.

Segi inovasi yang dilakukan kota Surakarta justru lebih menyentuh aspek

ekonomi kerakyatan dengan memadukannya dengan tata ruang kota dan aspek

pariwisata.

Pemerintahan Kota Surakarta yang dipimpin oleh Joko Widodo memang

sering dikritik banyak pihak terkait kebijakan dan program-program kerjanya

4

yang melulu soal pariwisata di kota Surakarta. Terlebih setelah nama Surakarta

atau Solo makin terkenal setelah diselenggarakannya event-event promosi wisata

level internasional, misalnya Solo Batik Carnival, World Heritage City

Converention, Solo International Ethnic Music, dan lain-lain. Event-event tersebut

tak dapat dipungkiri mampu mendorong pertumbuhan kota Surakarta secara

signifikan. Dengan adanya kesuksesan penyelenggaraan event-event tersebut pula

seolah makin mengokohkan semboyan Solo Spirit of Java. Dengan adanya

semboyan ini secara langsung mereferensikan bahwa kota Surakarta adalah kota

yang modern tapi tetap memegang teguh adat dan nilai-nilai budaya Jawa yang

adiluhung. Tentunya tidak mudah bagi pihak Pemerintah Kota Surakarta untuk

mewujudkan makna dari semboyan tersebut. Terlebih ketika dipahami bahwa

dalam semboyan tersebut tedapat dua hal yang sifatnya berlawanan. Modern, tapi

tetap berbudaya lokal.

Pencanangan slogan Solo The Spirit Of Java, melalui pemerintahan yang

dipimpin Walikota Joko Widodo, terkait erat dengan usaha Pemerintah Kota

Surakarta untuk menumbuh-kembangkan dunia pariwisata. Di dalamnya sekaligus

untuk menghidupkan iklm investasi dengan menjual dan memunculkan potensi-

potensi yang dimiliki kota Solo di berbagai bidang.

Pada perkembangannya, kota Surakarta dengan program Solo Spirit of

Java, hendak mengarahkan dinamika kehidupan kota Surakarta menuju kota yang

maju dalam berbagai bidang, dengan tetap selalu mengedepankan karakter

lokalitasnya. Unsur budaya dan adat istiadat menjadi landmark di tengah

5

modernisasi kota. Derap pembangunan di kota Surakarta memicu perkembangan

kawasan kawasan cagar budaya di tengah masyarakat yang menuju modernisasi.

Perkembangan berupa peningkatan kegiatan dari dinamika masyarakat yang

sangat beragam memerlukan pengelolaan dengan strategi pembangunan yang

terarah dan bersinambung. Startegi pengelolaan kota, dalam hal ini berkaitan

dengan tata ruang, dimaksudkan sebagai piranti lunak untuk menjalankan fungsi

pengarahan dan fungsi kontrol bagi laju pembangunan cepat tersebut.

Berpedoman pada strategi tersebut maka pembangunan yang dilaksanakan

hendaknya bertumpu pada konsep pengembangan keruangan yang terarah dan

jelas bagi semua pihak yang terkait.

Konsep pembangunan dan pengembangan yang berorientasi pada aspek

pariwisata dan keruangan ini makin menjadi topik yang urgen di kota Surakarta

mengingat jumlah ruang terbuka yang ada di kota Surakarta juga masih sedikit.

Adapun gambaran mengenai komposisi ruang terbuka di kota Surakarta adalah

sebagai berikut.

Tabel 1.1

Luas Ruang Terbuka di Kota Surakarta

No Kecamatan Luas Ruang Terbuka (Ha)

1. Laweyan 66.70

2. Serengan 5.13

3. Pasar Kliwon 29.29

4. Jebres 162.53

6

5. Banjarsari 145.84

Total luas ruang terbuka 409.49 Ha

Luas wilayah Surakarta 4404 Ha

Persentase luas ruang terbuka 9.30 % Sumber : Pemerintah Kota Surakarta.2007

Ruang terbuka itu sendiri merupakan ruang yang direncanakan karena

kebutuhan akan tempat-tempat pertemuan dan aktivitas bersama di udara terbuka

(Eko Budiharjo dan Djoko Sujarto,1999:89). Kota sebagai konsentrasi

pemukiman dan kegiatan manusia telah berkembang sangat cepat. Kota dengan

keterbatasan kemampuannya menuntut adanya suatu kondisi fisik dam lingkungan

yang wajar bagi warga kotanya. Tidak dapat dipungkiri bila saat ini banyak

kualitas ruang kota di Surakarta yang semakin menurun terutama pada penciptaan

dan pemanfaatan ruang terbuka yang kurang memadai. Penurunan kualitas ruang

kota antara lain tidak ditata dan kurang terawatnya pedestrian atau ruang pejalan

kaki, perubahan fungsi taman hijau, atau telah menjadi tempat mangkal aktivitas

tertentu yang mengganggu kenyamanan warga kota untuk menikmatinya.

Dari kondisi tersebut, pihak Pemerintah Kota Surakarta secara disadari

atau tidak justru mengalami dua hal yang berlawanan ketika slogan Solo The

Spirit of Java dan Solo Kota Budaya mulai digalakkan. Pertama, slogan tersebut

menuntut dimajukannya dunia pariwisata dan budaya di kota Surakarta. Kedua,

dengan makin menurunnya kualitas ruang terbuka yang ada jelas dunia pariwisata

tidak akan dapat berkembang. Sebab mau tidak mau, keberaadaan ruang terbuka

yang nyaman dan berkualitas akan sangat menunjang kesuksesan dunia pariwisata

lokal kota.

7

Upaya perdana yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Surakarta dalam

menyikapi dilema di atas adalah dengan membangun city walk yang hendak

menyediakan lebih banyak lagi ruang bagi warga kota untuk dapat beraktivitas di

udara terbuka dengan penataan lingkungan yang dirancang senyaman mungkin

bagi warga. Adanya pembangunan city walk ini ternyata mampu memberikan

ekses yang besar bagi pembangunan-pembangunan di kawasan lain kota Surakarta

yang memiliki potensi untuk dijual dalam kepariwisataan lokal kota Sukarta.

Misalnya kawasan Ngarsapura yang di dalamnya menyimpan banyak potensi

kepariwisataan yang jika dikelola dengan baik akan dapat menumbuhkan

kehidupan perekonomian dan sosial budaya di kota Surakarta. Selain itu, efek

dibangunnya city walk juga sangat mempengaruhi dinamika pertumbuhan yang

terjadi kawasan Ngarsopura kelak.

Ngarsapura adalah sebuah kawasan di dalam Kota Surakarta yang

memiliki potensi begitu besar sebagai Kawasan Cagar Budaya (KCB), dan

kawasan ini merupakan satu dari sekian banyak kawasan yang memiliki kekhasan

Surakarta. Terletak di sebelah utara Jalan Slamet Riyadi yang merupakan jalan

utama Kota Surakarta. Kawasan budaya budaya Ngarsapura meliputi Jalan

Dipoonegoro (Ngarsapura), Jalan Ronggowarsito, dan Pura Mangkunegaran.

Kawasan Ngarsapura terletak dibagian tengah Kota Surakarta, dengan peran dan

fungsi penting bagi kawasan disekitarnya maupun kota Surakarta pada umumnya.

Kontribusi Kawasan Ngarsapura terhadap Kota Surakarta dipengaruhi oleh tata

letak kawasan yang berada dalam simpulsimpul ekonomi dan pergerakan kot