A. Judul: Evaluasi Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan Sekolah Menengah TekhnologiIndustry Yogyakarta B. Pendahuluan1. Latar Belakang Masalah Sekolah menengah kejuruan (SMK) merupakan sekolah yang menyiapkanlulusannya untuk siap memasuki lapangan kerja (Depdikbud, 1997: 1). Pada jenissekolah ini, anak didik disiapkan untuk memiliki keterampilan agar setelah lulusnantinya mereka siap memasuki dunia kerja, seperti yang tertian dalam Undang-UndangNo 20 Tahun 2003 tentang system pendidikan nasional. Selanjutnya dijelaskan bahwapendidikan kejuruaan merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu. Dengan demikian, pendidikan kejuruan memilikifungsi sebagai sarana persiapan untuk memasuki dunia kerja. Vocational education is a multifaceted system with diverse clientele and multiple goals, and it exist in a complex policy environment. Developing and implementing a system of performance standard for vocational educationrequires making demanding decisions on performance assessment,accountability, and actions (Eric, 1990: 4) Sesuai dengan fungsinya sebagai penghasil tenaga kerja yang siap memasukidunia kerja, maka siswa SMK harus disiapkan sedemikian rupa sehingga lulusannyamemiliki kualifikasi yang diharapkan dunia kerja sesuai bidangnya masingmasing. Halini perlu ditangani secara sungguh-sungguh karena dikawatirkan lulusan sekolahkejuruan kurang dapat beradaptasi dengan sarana dan fasilitas kerja yang terdapatdilingkungan kerja. Siswa sering mengalami kesulitan dalam mengantisipasi danmengatasi permasalan dalam bidang ilmu yang dipelajari selama sekolah dan kurangmampu secara tepat mengoperasikan mesin-mesin atau sarana dalam pelaksaan praktik di dunia industry. Kenyataan semacam ini bias diakibatkan oleh minimnya fasilitas,sehingga siswa tidak sepenuhnya melaksanakan praktik sesuai dengan tuntutankurikulum.Agar dapat menghadapi masalah tersebut maka perlu adanya upayaupayayang harus dilakukan sekolah, diantaranya adalah pengoptimalan pelaksanaan pembelajaran. Menurut Jorin Pakpaham (2002: 240), pembelajaran dilaksanakan tidak cukup hanya terbatas diruang kelas, dilingkungan sekolah, tetapi semua potensi dansumber belajar yang ada di dunia kerja dan lembaga-lembaga pemerintah perludikoordinasikan sehingga mampu memberikan kesempatan belajar secara komprehensif kepada peserta didik dalam proses pembelajaran, sehingga pada akhirnya akan terciptalulusan yang professional dibidangnya. Sementara ini bentuk mata pelajaran praktik kejuruan yang disajikan di SMK, walaupun ditunjang dengan peralatan modern namunpada dasarnya hanya mampu menyajikan dasar-dasar keterampilan dan situasi tiruan(simulasi), karena itu sulit diharapkan untuk dapat membentuk keahlian professionalpada diri siswa. Dengan pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL) diharapkan dapatmenjembatani kesenjangan antara sekolah dan dunia kerja. dengan pembelajarandemikian diharapkan diharapkan akan menghasilkan sumberdaya manusia yangterdidik, telatih dan terampil serta siap berkompetisi secara professional.Pembentukan keahlian professional pada diri siswa dapat melalui pengalamannyata dalam bentuk pelatihan atau yang tercantum dalam kurikulum adalah praktik kerjalapangan. Model pelatihan di industry ( on the job training ) adalah pembentukanketerampilan kejuruan khusus ( specific skill ) di industry. Keterampilan khusus yangterkait dengan iklim, budaya dan karakteristik suatu industri, sehingga industry adalahpihak yang tepat dalam membekali keterampilan khusus (Sutarto, 1998: 102).Belajar sambil bekerja adalah inti latihan yang sesungguhnya, tidak mungkinada suatu latihan tanpa terjun langsung dilapangan pekerjaan yang nyata danberhubungan langsung dengan rekan kerja yang sebaya maupun yang lebih senior,dalam lingkungan pekerjaan yang sama dapat berlangsung transformasi gaya,pengetahuan, teknik, kebijaksanaan, dan bahkan tingkah laku senior yang lebihberpengalaman selanjutnya untuk diteruskan kepada yang lebih muda.Sekolah menengah kejuruan sebagai instrument pembangunan dalammenyiapkan tenaga kerja, diharapkan mampu mengantisipasi perubahan yang terjadidalam dunia kerja, karena dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan danteknologi, banyak peralatan baru yang diciptakan. Hal ini mengakibatkan perubahanpada tugas ( task ) maupun jenis pekerjaan yang ada di dunia kerja.perubahan yangada di dunia kerja tersebut mengakibatkan perubahan yang mendasan yang pada akhirnyasangat berpengaruh terhadap persaingan untuk mendapat pekerjaan, sehingga tenagakerja dituntut bukan hanya memiliki kemampuan teknis belakatetapi juga harus lebihfkeksibel dan mampu belajar pengetahuan dan keterampilan baru.Namun pada kenyataanya, pelaksanaan PKL di SMK terkesan hanya sekedar untuk memenuhi tuntutan kurikulum, sehingga pelaksanaannya tidak pernahdipersiapkan dengan sungguh-sungguh dan matang, hal ini jelas akan bepengaruhterhadap proses pelaksanaan dan hasil akhir yang akan dicapai yaitu terbentuknyakeahlias siswa yang professional dibidang kimia industry.Pelaksanaan PKL di SMK bidang kimia industry disamping bertujuan untuk membentuk keahlian professional siswa juga diharapkan mampu memberikan pengalanbagi siswa sehingga apabila sudah terjun ke dunia kerja nantinya mereka tidak canggung lagi dengan lingkungan kerja yang baru., akan tetapi hal itu sulit dari apayang diharapkan karena kenyataannya dilapangan tidaksemua siswa mendapat tempatyang ssuai dengan bidang keahliannya karena terbatasnya perusahaan yang bergerak dibidang kimia industry terutama diwilayah Yogyakarta, sehingga akhirnya masih adasiswa yang melaksanakan PKL tidak sesuai dengan bidangnya.Keberhasilan pelaksanaan PKL selain ditentukan oleh kesiapan programperencanaan, juga ditentukan oleh kesiapan siswa dan kesiapan team yang didalamnyatermasuk guru pembimbing, guru pembimbing adalah sebagai ujung tombak pelaksanaan kegiatan PKL, kesiapan guru pembimbing akan berpengaruh padapelaksanaan dan hasil akhir kegiatan tersebut. Latar belakang pendidikan danpengalaman guru pembimbing akan sangat memberikan kontribusi besar baik secarapsikologis maupun terhadap pemahaman pelaksanaan PKL bagi siswa.Penunjukan guru pembimbing di SMK tidak didasarkan pada latar belakangpendidikan dan pengalaman, namun berdasarkan azaz pemerataan tugas danpenghasilan serta semua guru dianggap memiliki pengalaman dan mampu membimbingpelaksanaan PKL. 2. Identifikasi Masalah dan Pembatasan Masalah Dari uraian latar belakang tersebut maka dapat diidentifikasi babarapa masalahyang meuncul terkait dengan pelaksanaan PKL sebagai berikut:a. Pelaksanaan program PKL belum sesuai harapan dan kebutuhan siswa.b. Belum semua guru siap dalam pelaksanaan bimbingan PKL siswa.c. Masih rendahnya kualitas pelaksanaanprogram PKL oleh sekolah.d. Belum adanya buku pedoman pelaksanaan PKL yang jelas.e. Perlunya kesiapan yang cukup bagi siswa untuk mengikuti program PKL.f. Minimnya informasi tentang pelaksanaan PKL yang diketahui siswa.g. PKL belum mampu membeerikan pengalaman yang cukup bagi siswa untuk memasuki dinia kerja.h. Pelaksanaan KL belum mampumemberikan dasar kompetensi yang cukup bagisiswa.i. Terbatasnya jumlah perusahaan yang relevan dengan bidang kimia industry diwilayah Yogyakarta.j. Materi pembelajaran di tempat PKL yang kurang sesuai dengan keahlian siswa.k. Terdapat perbedaan persepsi diantara guru pembimbing tentang tujuan PKLl. Waktu elaksanaan PKL yang terlalu pendek.m. Belum optimalnya pengelolaan sarana dan prasarana penunjang yangmendukung peproses pembelajaran disekolah.Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, maka evaluasi ini difokuskan padaproses perencanaan, pelaksanaan, serta tujuan PKL siswa SMTI Yogyakarta:a. Pelaksanaan program PKL belum sesuai dengan kebutuhan siswa.b. Siswa belum memiliki kesiapan yang cukup untuk mengikuti program PKLc. Guru kurang siap dalam pelaksanaan bimbingan PKL.d. Masih rendahnya kualitas pelaksanaan PKL oleh sekolah.e. PKL belum mampu memberikan pengalaman yang cukup bagi siswa untuk memasuki dunia kerja. 3. Tujuan Program dan Indicator Keberhasilan Sesuai dengan pedoman pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan yangdikeluarkan oleh SMTI Yogyakarta, maka pelaksanaan praktik kerja industry di SMTIYogyakarta bertujuan untuk:a. Sebagai latihan kerja dilapangan.b. Sebagai latihan penyesuaian di lingkungan kerja.c. Sebagai latihan kedisiplinan di lingkungan kerja.d. Sebagai perbandingan antara teori yang diperoleh dengan dengan penerapanyadi lapangan.e. Sebagai latihan penyusunan laporan.Sedangkan indicator ketercapaian program/kegiatan ini adalah:a. Siswa terlatih kerja dilapangan.b. Siswa mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja.c. Siswa berdisiplin di lingkungan kerja.d. Siswa mampu membandingkan antara teori yang diperoleh dengan denganpenerapanya di lapangan.e. Siswa mampu menyusun laporan. 4. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah identifikasi masalah, dan pembatasanmasalah yang dikemukakan diatas, maka masalah dalam penelitian pada pelaksanaanPKL di SMTI Yogyakarta program kimia industry, dapat dirumuskan sebagai berikut:a. Apakah pelaksanaan PKL sudah sesuai dengan kebutuhan siswa? b. Sejauh mana kesiapan siswa untuk mengikuti program PKL? c. Sejauh mana kesiapan guru dalam pelaksanaan bimbingan PKL siswa? d. Sejauh mana kualitas pelaksanaan program PKL yang dilakukan oleh sekolah? e. Apakah pelaksanaan PKL dapat memberikan manfaat bagi siwa maupunsekolah? 5. Tujuan Evaluasi Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan yang ingin dicapai dalampenelitian ini adalah: a. Untuk mengetahui kesesuaian pelaksanaan program PKL dengan kebutuhansiswa.b. Untuk mengetahui sejauh mana kesiapan siswa dalam mengikuti program PKL.c. Untuk mengetahui seberapa jauh kesiapan yang dilakukan oleh gurupembimbing dalam dalam pelaksanaan bimbingan PKL siswad. Untuk mengetahui seberapa besar tingkat kualitas pelaksanaan PKL yangdiselenggarakan sekolah.e. Untuk mengetahui seberapa besar tingkat kemanfaatan program PKL yangdiselenggarakan sekolah. 6. Manfaat Evaluasi a. Memberikan gambaran kepada sekolah tentang keksesuaian pelaksanaanprogram PKL dengan kebutuhan siswa dan tuntutan kurikulum. b. Memberikan gambaran tentang cakupan materi PKl kesesuainnya denganindustry, sehingga pohak sekoalh memahami secara seksama tentang bentuk praktik yang akan dilakukan oleh siwa selama kegiatan berlangsung. Hal inidapat dijadikan bahan pertimbangan serta evaluasi materi pembelajaran dankuriulum yang sesuai, untuk mempersiapkan siswasebelum melaksanakan PKLdimasa yang akan dating. c. Sebagai bahan evaluasi terhadap penyelenggaraan PKL yang telahdiprogramkan oleh sekolah. d. Memberikan informasi tentang sejauh mana kesesuaian antara tempat praktik yang ada dengan program keahlian yang dimiliki siswa. e. Memberikan informasi tentang kemampuan siswa dalam penguasaanpengetahuan pasca pelaksanaan PKL f. Memberikan informasi tentang keterampilan yang diperoleh siswa setelahmelaksanakan PKL g. Memberikan informasi tentang sikap siswa selama melaksanakan PKL C. Kajian Teori1. Praktik Kerja Lapangana. Pengertian Praktik Kerja Lapangan. Praktik kerja lapangan merupakan salah satu bentuk implementasi daroPendidikan Sistem Ganda (PSG) yaitu suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan danpelatihan kejuruan yang memadukan secara sistematik pendidikan disekolah dengandunia kerja. Tujuan PKL salah satunya adalah untuk membelajarkan siswamempraktikan ilmu dan keterampilan yang telah diperoleh di bangku sekolah sertamembelajarkan siswa beradaptasi dengan suasana dunia kerja. Sedangkan feedback bagisekolah adalah memperoleh masukan tentang kesesuaian antara kurikulum sekolahdengan “kurikulum“ dunia kerja.Idealism yang diusung oleh PSG adalah ingi mendekatkan kualitas tamatanyang meliputi kemampuan kerja dengan sikap profesionalnya, yang oleh karena itu polayang dipilih adalah menugaskan siswa terjun langsung ke dunia kerja/usaha danindustry dalam bentuk PKL untuk mendapatkan pengalaman kerja dan membinakemampuan adaptasi dengan lingkungan kerja nyata.Secara pragmatis program PKL memiliki dampak positif baik bagi siswamaupu sekolah. Menurut Smith (Jusuf Irianto, 2001: 6), bahwa profil kapabilitas siswaberkaita dengan skill yang diperoleh dari PKL. Seiring dengan penguasaan keterampilandan keahlian siswa akan menambah peluang bagi pengembangan karirnya setelah lulusdan terjun kemasyarakat.Menurut Manulang (Moekijat, 1981: 2) bahwa keberhasilan PKL mencakuptiga hal, yaitu 1. Menambah pengetahuan; 2. Menambah keterampilan; 3. Merubahsikap. Implementasi dari pelaksanaan PSG biasanya berupa: praktik kerja lapangan,praktik kerja industry, dan magang industry, ketiga jenis ini dibedakan oleh waktupelaksanaannya.Kebijakan di SMK pada umumnya menerapkan jadwal pelaksanaan PKL baik di dalam maupun diuar negeri adalah pada tahun ke-2 atau pada saat kelas 2 dansebagian kecil lagi di kelas 3 pada awal tahun ajaran baru. Penentuan jadwal inididasarkan atas pertimbangan asumsi bahwa pada saat kelas 2 atau kelas 3, seorangsiswa dianggap cukup memiliki pengetahuan teoritis dan keterampilan dasar tentangpekerjaan yang akan dilakoninya, dan tidak sedang menghadapi ujian akhir.rentang waktu pelaksanaan PKL ini antara 4 sampai dengan 6 bulan, dan pada beberapa kasusbias mencapai 1 tahun (Retailer, 2003: 2)Sekolah menengah kejuruan merupakan bentuk satuan pendidikan padapendidikan jalur profesi dan bagian dari pendidikan menengah yang mengutamakanpengembangan kemampuan siswa untuk melaksanakan jenis pekerjaan tertentu. SMK mempersiapkan siswa memasuki duia kerja dan pengembangan sikap professional. b. Tahap-Tahap Pelaksanaan PKL Agar pelaksanaan PKL berjalan dengan baik dan lancer serta tercapai apa yangmenjadi tujuan program, maka tahapan yang harus dilaksanakan meliputi:1. Persiapan/perencanaan.Perencanaan merupakan tahap awal sebelum melaksanakan sebuah program, danperencanaan akan sangat menentukan berhasil tidak suatu program mencapaitujuan. Beberapa aspek yang berperan dalam menentukan program PKL yangdiadakan sekolah antara lain:a. Guru, merupakan tenaga pendidik dari sekolah yang bertugas menyiapkansiswa memasuki pekerjaan yang ada di institusi terkait.b. Instruktur, merupakan tenaga pembimbing dari institusi terkait.c. Siswa, sebelum melaksanakan praktik kerja di institusi terkait setiap siswahendaknya telah mempunyai pengetahuan yang memadai, sehingga disampingmereka memperoleh pengalaman nyata, juga mampu memberikan konstribusikepada instansi terkait.d. Peralatan, perangkat bantu dalam memperoleh hasil secara cepat, tepat danefisien. Peralatan harus relevan dengan bidang garapan siswa.e. Bahan, material yang digunakan untuk membuat produk, terdiri dari bahanpokon dan bahan penunjang.f. Bahan ajar, merupakan susunan materi yang akan diajarkan kepada siswadalam mencapai ingkat keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja.g. Method, cara penyampaian materi yang digunakan untuk mencapai tujuanpembelajaran. h. Jadwal, perangkat pelaksanaan program baik disekolah maupun di instansiterkait mengenai siapa, apa dan dimana kegiatatan tersebut akan berlangsung.i. Waktu, waktu pelaksanaan program hendaknya disesuaikan hendaknyadisesuaikan dengan pecapaian target kompetensi sesuai dengan standardkeahlian.j. Perangkat lunak/administrative, perangkat untuk melaksanakan KBM yangberbeda antara perangkat yang digunakan disekolah dan perangkat yangdigunakan di instansi, meliputi; jurnal siswa, administrasi program dankesiswaan, dan perangkat supervise.k. Pembiayaan, biaya tetap yang harus ada dalam pelaksanaan PKL.Adapun dalam pelaksanaannya persiapan yang harus dilakukan sekolah antaralain;a. Menentukan instansi dan menghubunginya.b. Menyiapkan administrasi atau surat izin untuk instansi dan kepada orang tuasiswa,c. Memberikan pembekalan pada siswa,d. Penempatan siswa di intansi yang telah dihubungi.2. Pelaksanaan.Tahap ini adalah tahap berlangsungnya pembelajaran di instansi, agar pelaksanaannya berjalan dengan baik maka diperlukan komunikasi yang intensif antara sekolah dan instansi agar segala permasalah yang mungkin muncul dapatdiselesaikan dengan cepat. Tahap-tahapdalam pelaksanaan ini meliputi:a. Perencanaan. Unsure yang terlibat antara lain guru, kepala sekolah staf administrasi, instansi terkait dan orang tua. Sedangkan kegiatan koordinasiperencanaan meliputi; penyusunan kurikulum PKL, penyusunan programpembelajaran, peerencanaan kebutuhan, biaya dan sumber dana, penyiapansystem monitoring, dan evaluasi, penyusunan program ujian kompetensi, danevaluai.b. Pengorganisasian. Kegiatan ini meliputi penyusunan struktur organisasi,pemilihan proposal, penyusunan uraian tugas, penyusunan mekanisme kerja, serta penysusunan system koordinasi. Unsure yang terlibat antara lain;pengelola sokolah, komite sekolah dan instansi terkait.c. Pelaksanaan. Kegiatan ini meliputi koordinasi pembelajaran disekolah danpembelajaran di instansi. Unsure yang terlibat antara lain; guru, kepalasekolah, komite sekolah, instansi, dan staf bidang kurikulum.d. Evaluasi. Meliputi koordinasi penilaian pembelajaran di sekolah dan diinstansi. Unsure yang terlibat antara lain; guru, kepala sekolah, komitesekolah, instansi, dan staf bidang kurikulum.3. Penilaian/evaluasi.Penilaian merupakan proses akhir dari suatu kegiatan yang hasilnya bias dalambentuk angka-angka maupun kalimat-kalimat. Penilaian bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan suatu program. Adapun penilaian meliputi:a. Penilaian hasil belajar. meliputi hasil belajar disekolah dan di instansi.Penilaian hasil belajar disekolah mencakup komponen kemampuan normative,adaptif dan teori kejuruan. Sedangkan penilaian hasil belajar di institusimencakup komponen praktik keahlian yang dilakukan di instansi terkait.b. Penilaian keahlian. Meliputi 1.1) Penilain uji kompetensi yang merupakan terminal dari suatu paketpembelajaran untukmencapai kompetensi tertentu,2) Penilaian uji profesi, merupakan penilaian terminal dari suatu kompetensi-kompetensi yang harus dimiliki oleh suatu jabatan profesi tertentu.3) Sertifikasi pendidikan, diberikan kepada seseorang yang telahmenyelesaikan paket kegiatan tertentu sehingga dinilai layak, mampu danberwenang untuk melaksanakan tugas/kegiatan sesuai dengankemampuannya. 2. Evaluasia. Pengertian Evaluasi. Setiap program kegiatan yang dilaksanakan semesrtinya dan harus diakhiridengan evaluasi. Pelaksanaan evaluasi bertujuan untuk melihat kembali apakah programyang dilaksanakan sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Dari kegiatan evaluasi Abdul Azis, M.PdManajemen PendidikanProgram PascasarjanaUniversitas Negeri Yogyakartaazisyamhari@gmail.comPage 11 tersebut akan diketahui hal-hal yang telah dicapai maupun yang belum, criteria apa yangtelah dicapai maupun yang belum. Berdasarkan hasil evaluasi akan diambil keputusanapakn program tersebut akan dilanjutkan, direvisi, maupun dihentikan atau diganti samasekali. Uraian ini didasarkan atas pengertian evaluasi yaitu suatu proses pengumpulaninformasi, pengumpulan data dengan menggunakan instrument tertentu utuk mengambilkeputusan. Jadi pada dasarnya kegiatan evaluasi merupakan serangkaian kegiatan yangmenguji dan menilai pelaksanaan program.Para ahli evaluasi berbeda pendapat dalam mendefinisikana evaluasi,Stufflebeam mendefinisikan evaluasi sebagai berikut: Evaluation appraises the extent to which a program realizes certain goal.When evaluation based on an experimental design, the evaluation criteria areimbedded in the program at its inception. The value frame work is that of theprogram’s administrators, and there is no incentive to use alternative criteria. Definisi tesebut menunjukan adanya criteria yang digunakan untuk menentukan nilai dan adanya hal yang dinilai. Didalam konteks pelaksanaan program,criteria yang dimaksud adalah criteria keberhasilan pelaksanaan program dan yangdinilai dapat berupa hasil yang dicapai atau prose situ sendiri. Selanjutnya, Jusuf Irianto(2001: 21) menjelaskan bahwa “evaluasi program dimaksudkan sebagai pemenuhankeberadaan arti atau nilai signifikan sebuah program pelatihan dalam hbungannyadengan tujuan dan sasaran yang harus dikembangkan”. Menurut Hamblan (Leslie Rac,1990: 4) mendefinisikan “evaluasi sebagai suatu usaha memperoleh umpan balik atauefek dari suatu program pelatihan dan usaha mengukur nilai pelatihan yangbersangkutan berdasarkan informasi itu”.Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah prosespengumpulan, penyajian dan penilaian informasi untuk mengetahui sejauhmana suatuprogram telah mencapai tujuan, sehingga pengambilan keputusan dapat ditetapkan padaprogram selanjutnya. b. Evaluasi Program Program merupakan acuan kegiatan gabungan dari tujuan-tujuan,kebijaksanaankebijaksanaan, prosedur-prosedur, langkah-langkah yang akan diambil, sumber-sumber yang akan digunakan, dan unsure-unsur lain yang diperlukan untuk melaksanakan arah tindakan tertentu.Evaluasi program menurut Suharsimi (2007: 23) adalah langkah awal dalamsupervise, yaitu mengumpulkan data yang tepat agar dapat dilanjutkan denganpemberian pembinaan yang tepat. Evaluasi program sangat bermanfaat terutama bagipengambil keputusan karena dengan masukan hasil evaluasi program, para pengambilkeputusan akan menentukan tindak lanjut dari program yang telah atau sedangdilaksanakan.Evaluasi membantu dalam memahami program, juga untuk mengetahuiprogram apa yang belum terlaksana dengan baik maupun program yang belum berjalan,serta apa penyebabnya yang selanjutnya akan diambil keputusan apakan programtersebut perlu dilajutkan dengan beberapa perbaikan atau bahkan diberhentikan.Evaluasi dapat dilaksanakan pada saat program sedang berjalan maupun sesudah proramtersebut dilakasanakan. c. Model Evaluasi.1. Model evaluasi formatif dan sumatif Model evaluasi ini dikembangkan oleh Michel Sciven dan sudah dikenaloleh umum dari segi fungsinya. Evaluasi formatif digunakan untuk memperolehinformasi guna membentu memperbaiki proyek, kurikuum dan pelatihan. Focusevaluasi inberkisar pada kebutuhan yang dirumuskan oleh karyawan atau orang-orang. Adapun evaluasi sumatif dibuat untuk menilai apakah suatu program akanditeruskan atau diberhentikan. Oleh karena itu evaluasi sumatif dilakukan pada akhir program untuk memberikan informasi yang potensial tentang manfaat danpenggunaan program. 2. Model kesenjangan. Model ini dikembangkan oleh Malcolm Provus Diana penilain kesenjangandimaksudkan untuk mengetahui tingkat kesesuaian anara standard yang telahditentukan dalam program dengan penampilan actual dari program. Model inimenekankan pada kesenjangan yang sebetulnya merupakan persayaratan umum bagi semua kegiatan evaluasi, yaitu mengukur adanya perbedaan antara yang seharusnyadengan apa yang sudah dicapai. 3. Model CIPP ( context, input, process, product )a. Evaluasi kontek. Model ini merupaka upaya untuk menggambarkan dan merinci lingkungankebutuhan yang tidak terpenuhi, populasi, dan sampel yang dilayani, dan tujuanproyek. Ada 4 pertanyaan yang bias diajukan dalam model evaluasi ini, 1.Kebutuhan apa yang belum terpenuhi oleh program, 2. Tujuan pengembangan apayang belum dapat tercapai oleh program, 3. Tujuan pengembangan apa yang dapatmembentu tercapainya program, 4. Tujuan-tjuan manakan yang paling mudahdicapai oleh program. b. Evaluasi input Model ini meliputi sumber dan strategi yang diperlukan untuk mencapai tujuan, baik umum maupun khusus suatu program. Pertanyaan yang diajukan dalam model iniantara lain: 1. Apakah strategi yang digunakan sudah sesuai dengan pencapaiantujuan, 2. Apakah strategi yang diambil ini merupakan strategi resmi, 3. Strategimanakan yang sudah ada sebelumnya dan sudah cocok untuk mencapai tujuan yanglalu, 4. Apa yang dikatakan sebagai cirri khusus dari kegiatan yang dilaksanakandidalam program dan apa pula akibat yang ditimbulkan. c. Evaluasi proses. Model evaluasi ini diarahkan pada seberapa jauh kegiatan yang dilaksanakandidalam program sudah terlaksana sesuai dengan rencana. Pertayan yang biasdiajukan dalam model ini antara lai: 1. Apakan pelaksanaan program sudah berjalansesuai dengan jadwal yang direncanakan, 2. Apakah staf yang terlibat dalampelaksanaan program sudah siap melaksanakan kegiatan tersebut, 3. Apakah saranadan prasarana yang ada sudah dimanfaatkan dengan maksimal, 4. Hambatan apasaja yang dijumpai selama pelaksanaan program dan bagaimana mengatasinya. d. Evaluasi produk. Model evaluasi ini dilakukan untuk melihat atau mengukur keberhasilan dalampencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Data yang dihasilkan akan sangat berguna apakah program akan dilanjutkan, disempurnakan, atau dihentikan. Penilainprogram memerlukan perbandingan antara hasil program dan tujuan yangditetapkan. Dalam evaluasi model ini pertanyaan yang bias diajukan antara lain: 1.Tujuan manakah yang sudah dicapai, 2. Apakah yang mungkin dirumuskanberkaitan antara rincian proses dengan pencapaian tujuan, 3. Kebutuhan pesertamanakah yang telah terpenuhi sebagai akibat dari pelaksanaan program, 4. Hasiljangka panjang apakah yang namapak sebagai akibat dari pelaksanaan program. D. Methodology Evaluasi.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini mengambil setting lokasi di Sekolah Menengah TekhnologiIndustry Yogyakarta. Dipilihnya Sekolah Menengah Tekhnologi IndustryYogyakarta dengan pertimbangan bahwa SMTI Yogyakarta merupaka satu-s a t u n y a s e k o l a h m e n e n g a h k e j u r u a n y a n g k o n s e n d i b i d a n g i n d u s t r y d i Yogyakarta. 2. Jenis dan Pendekatan Penelitian Adapun jenis evaluasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah modelCIPP, sesuai dengan namanya model ini menyoroti empat aspek sekaligus yaitu:konteks, input, proses, dan produk yang melibatkan keempatnya secara bertahap.Keempat evaluasi ini merupakan satu kesatuan yang utuh, namun dalampelaksanaannya dapat saja seorang peneliti hanya melakukan satu jenis evaluasi dantidak menggunakan jenis evaluaasi tersebut. Evaluasi yang menggunakan model iniharus mempeertimbangkan dua hal: 1. Bahwa kekuatan model ini terdapat padarangkaian keempatnya, sehingga pelaksanaan keempat elemen tersebut dalam satudimensi yang utuh sangat diharapkan, 2. Jika dilaksanakan secara terpisah,sebaiknya menggabungkan dua atau lebih jenis yang ada.Sedangkan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif dan kualitatif, data penelitian diperoleh melalui angket yang diberikankepada siswa dan guru pembimbing yang telah melaksanakan PKL, disampingmenggunakan angket, untuk melengkapi data penelitian juga dilakukan observasi dokumentasi dan wawancara yang mendalam. Objek sasaran yang dicermati dalampenelitian ini mengarah pada evaluasi kontek, input, proses, dan produk (CIPP). 3. Sumber data dan Sample Yang dimaksud dengan sumber data di sini adalah subjek dari rnana datadiperolch. Suharsimi Ariktmto (2002 : 107) mengklasifikasi sumber data menjaditiga jenis ; a . person, yaitu sumber data berupa orang, b . place, yaitu sumber data berupa ternpat, dan c . paper, yaitu sumber data berupa simbol. Berdasarkanklasifikasi tersebut, maka sumber data yang digunakan dalam penelitian iniadalah jenis person dan paper serta place. Penentuan subjek penelitian berupa person dilakukan dengan teknik purposif.Dengan teknik ini, ditetapkan kriteria-kriteria sesuai dengan tujuan penelitian.Subjek berupa paper digunakan sebagai sumber data-data sekunder sesuai dengantujuan penelitian. Sedangkan sumber data berupa place dibutuhkan untuk memperkaya data penelitian melalui observasi.Dalam penelitian ini sumber data dimaksud meliputi pengelola sekolah, guru,tenaga kependidikan, dan siswa 4. Variable Penelitian5. Pengumpulan Dataa. Teknik Pengumpulan Data 1. Wawancara Mendalam (indepth interview) Pengumpulan data dilakukan dengan mengadakan wawancara mendalamuntuk mendapatkan informasi mengenai seluruh aspek yang diteliti dan relevandengan masalah penelitian. Wawancara mendalam ( indepth interview )dilakukan dengan menggunakan instrument berupa pedoman wawancara (interview guide) . Pedoman tersebut tidak sepenuhnya mengikat proseswawancara secara kaku, akan tetapi wawancara dapat berkembang sesuai dengasituasi masyarakat dan khususnya informan. Meski demikian, peneliti berupayasecara jeli agar wawancara dapat menjawab tujuan penelitian. Instrument yangdigunakan adalah pedoman wawancara2. Dokumentasi Metode ini merupakan metode pengumpulan data dengan memanfaatkandata sekunder serta data tertulis lainnya dari obyek yang diteliti. Metodedilakukan untuk memperoleh data dengan jalan pengkajian atas berbagaidokumen resmi baik yang bersifat internal maupun eksternal. Bersifat internaldalam artian pengkajian langsung atas dokumen, misanyal arsip aktif maupunpasif, sedangkan bersifat eksternal dalam artian pengkajian terhadap sumbersumber pendukung atas pengkajian dokumen seperti arsip berita.3. ObservasiObservasi dilakukan untuk memperoleh informasi dengan jalan meninjauobyek penelitian untuk melihat realitas yang terjadi di lapangan. lnstrumenyang digunakan untuk pengamatan berupa lembar pengamatan (observationcheklist). 4. Angket atau kuestioner Angket atau kuestioner merupakan alat pengumpul data yang berupaserangkaianPengumpulan data dilakukan dengan mengirimkan daftar pertanyaan kepada responden. Instrumen yang digunakan berupa angketdengan jawaban tertutup. 5. Instrument 6. Uji Instrumen6. Analisis Data.
Please download to view
All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
...

Contoh Proposal

by sugihartini

on

Report

Category:

Documents

Download: 0

Comment: 0

204

views

Comments

Description

Download Contoh Proposal

Transcript

A. Judul: Evaluasi Pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan Sekolah Menengah TekhnologiIndustry Yogyakarta B. Pendahuluan1. Latar Belakang Masalah Sekolah menengah kejuruan (SMK) merupakan sekolah yang menyiapkanlulusannya untuk siap memasuki lapangan kerja (Depdikbud, 1997: 1). Pada jenissekolah ini, anak didik disiapkan untuk memiliki keterampilan agar setelah lulusnantinya mereka siap memasuki dunia kerja, seperti yang tertian dalam Undang-UndangNo 20 Tahun 2003 tentang system pendidikan nasional. Selanjutnya dijelaskan bahwapendidikan kejuruaan merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu. Dengan demikian, pendidikan kejuruan memilikifungsi sebagai sarana persiapan untuk memasuki dunia kerja. Vocational education is a multifaceted system with diverse clientele and multiple goals, and it exist in a complex policy environment. Developing and implementing a system of performance standard for vocational educationrequires making demanding decisions on performance assessment,accountability, and actions (Eric, 1990: 4) Sesuai dengan fungsinya sebagai penghasil tenaga kerja yang siap memasukidunia kerja, maka siswa SMK harus disiapkan sedemikian rupa sehingga lulusannyamemiliki kualifikasi yang diharapkan dunia kerja sesuai bidangnya masingmasing. Halini perlu ditangani secara sungguh-sungguh karena dikawatirkan lulusan sekolahkejuruan kurang dapat beradaptasi dengan sarana dan fasilitas kerja yang terdapatdilingkungan kerja. Siswa sering mengalami kesulitan dalam mengantisipasi danmengatasi permasalan dalam bidang ilmu yang dipelajari selama sekolah dan kurangmampu secara tepat mengoperasikan mesin-mesin atau sarana dalam pelaksaan praktik di dunia industry. Kenyataan semacam ini bias diakibatkan oleh minimnya fasilitas,sehingga siswa tidak sepenuhnya melaksanakan praktik sesuai dengan tuntutankurikulum.Agar dapat menghadapi masalah tersebut maka perlu adanya upayaupayayang harus dilakukan sekolah, diantaranya adalah pengoptimalan pelaksanaan pembelajaran. Menurut Jorin Pakpaham (2002: 240), pembelajaran dilaksanakan tidak cukup hanya terbatas diruang kelas, dilingkungan sekolah, tetapi semua potensi dansumber belajar yang ada di dunia kerja dan lembaga-lembaga pemerintah perludikoordinasikan sehingga mampu memberikan kesempatan belajar secara komprehensif kepada peserta didik dalam proses pembelajaran, sehingga pada akhirnya akan terciptalulusan yang professional dibidangnya. Sementara ini bentuk mata pelajaran praktik kejuruan yang disajikan di SMK, walaupun ditunjang dengan peralatan modern namunpada dasarnya hanya mampu menyajikan dasar-dasar keterampilan dan situasi tiruan(simulasi), karena itu sulit diharapkan untuk dapat membentuk keahlian professionalpada diri siswa. Dengan pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan (PKL) diharapkan dapatmenjembatani kesenjangan antara sekolah dan dunia kerja. dengan pembelajarandemikian diharapkan diharapkan akan menghasilkan sumberdaya manusia yangterdidik, telatih dan terampil serta siap berkompetisi secara professional.Pembentukan keahlian professional pada diri siswa dapat melalui pengalamannyata dalam bentuk pelatihan atau yang tercantum dalam kurikulum adalah praktik kerjalapangan. Model pelatihan di industry ( on the job training ) adalah pembentukanketerampilan kejuruan khusus ( specific skill ) di industry. Keterampilan khusus yangterkait dengan iklim, budaya dan karakteristik suatu industri, sehingga industry adalahpihak yang tepat dalam membekali keterampilan khusus (Sutarto, 1998: 102).Belajar sambil bekerja adalah inti latihan yang sesungguhnya, tidak mungkinada suatu latihan tanpa terjun langsung dilapangan pekerjaan yang nyata danberhubungan langsung dengan rekan kerja yang sebaya maupun yang lebih senior,dalam lingkungan pekerjaan yang sama dapat berlangsung transformasi gaya,pengetahuan, teknik, kebijaksanaan, dan bahkan tingkah laku senior yang lebihberpengalaman selanjutnya untuk diteruskan kepada yang lebih muda.Sekolah menengah kejuruan sebagai instrument pembangunan dalammenyiapkan tenaga kerja, diharapkan mampu mengantisipasi perubahan yang terjadidalam dunia kerja, karena dengan pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan danteknologi, banyak peralatan baru yang diciptakan. Hal ini mengakibatkan perubahanpada tugas ( task ) maupun jenis pekerjaan yang ada di dunia kerja.perubahan yangada di dunia kerja tersebut mengakibatkan perubahan yang mendasan yang pada akhirnyasangat berpengaruh terhadap persaingan untuk mendapat pekerjaan, sehingga tenagakerja dituntut bukan hanya memiliki kemampuan teknis belakatetapi juga harus lebihfkeksibel dan mampu belajar pengetahuan dan keterampilan baru.Namun pada kenyataanya, pelaksanaan PKL di SMK terkesan hanya sekedar untuk memenuhi tuntutan kurikulum, sehingga pelaksanaannya tidak pernahdipersiapkan dengan sungguh-sungguh dan matang, hal ini jelas akan bepengaruhterhadap proses pelaksanaan dan hasil akhir yang akan dicapai yaitu terbentuknyakeahlias siswa yang professional dibidang kimia industry.Pelaksanaan PKL di SMK bidang kimia industry disamping bertujuan untuk membentuk keahlian professional siswa juga diharapkan mampu memberikan pengalanbagi siswa sehingga apabila sudah terjun ke dunia kerja nantinya mereka tidak canggung lagi dengan lingkungan kerja yang baru., akan tetapi hal itu sulit dari apayang diharapkan karena kenyataannya dilapangan tidaksemua siswa mendapat tempatyang ssuai dengan bidang keahliannya karena terbatasnya perusahaan yang bergerak dibidang kimia industry terutama diwilayah Yogyakarta, sehingga akhirnya masih adasiswa yang melaksanakan PKL tidak sesuai dengan bidangnya.Keberhasilan pelaksanaan PKL selain ditentukan oleh kesiapan programperencanaan, juga ditentukan oleh kesiapan siswa dan kesiapan team yang didalamnyatermasuk guru pembimbing, guru pembimbing adalah sebagai ujung tombak pelaksanaan kegiatan PKL, kesiapan guru pembimbing akan berpengaruh padapelaksanaan dan hasil akhir kegiatan tersebut. Latar belakang pendidikan danpengalaman guru pembimbing akan sangat memberikan kontribusi besar baik secarapsikologis maupun terhadap pemahaman pelaksanaan PKL bagi siswa.Penunjukan guru pembimbing di SMK tidak didasarkan pada latar belakangpendidikan dan pengalaman, namun berdasarkan azaz pemerataan tugas danpenghasilan serta semua guru dianggap memiliki pengalaman dan mampu membimbingpelaksanaan PKL. 2. Identifikasi Masalah dan Pembatasan Masalah Dari uraian latar belakang tersebut maka dapat diidentifikasi babarapa masalahyang meuncul terkait dengan pelaksanaan PKL sebagai berikut:a. Pelaksanaan program PKL belum sesuai harapan dan kebutuhan siswa.b. Belum semua guru siap dalam pelaksanaan bimbingan PKL siswa.c. Masih rendahnya kualitas pelaksanaanprogram PKL oleh sekolah.d. Belum adanya buku pedoman pelaksanaan PKL yang jelas.e. Perlunya kesiapan yang cukup bagi siswa untuk mengikuti program PKL.f. Minimnya informasi tentang pelaksanaan PKL yang diketahui siswa.g. PKL belum mampu membeerikan pengalaman yang cukup bagi siswa untuk memasuki dinia kerja.h. Pelaksanaan KL belum mampumemberikan dasar kompetensi yang cukup bagisiswa.i. Terbatasnya jumlah perusahaan yang relevan dengan bidang kimia industry diwilayah Yogyakarta.j. Materi pembelajaran di tempat PKL yang kurang sesuai dengan keahlian siswa.k. Terdapat perbedaan persepsi diantara guru pembimbing tentang tujuan PKLl. Waktu elaksanaan PKL yang terlalu pendek.m. Belum optimalnya pengelolaan sarana dan prasarana penunjang yangmendukung peproses pembelajaran disekolah.Berdasarkan identifikasi masalah tersebut, maka evaluasi ini difokuskan padaproses perencanaan, pelaksanaan, serta tujuan PKL siswa SMTI Yogyakarta:a. Pelaksanaan program PKL belum sesuai dengan kebutuhan siswa.b. Siswa belum memiliki kesiapan yang cukup untuk mengikuti program PKLc. Guru kurang siap dalam pelaksanaan bimbingan PKL.d. Masih rendahnya kualitas pelaksanaan PKL oleh sekolah.e. PKL belum mampu memberikan pengalaman yang cukup bagi siswa untuk memasuki dunia kerja. 3. Tujuan Program dan Indicator Keberhasilan Sesuai dengan pedoman pelaksanaan Praktik Kerja Lapangan yangdikeluarkan oleh SMTI Yogyakarta, maka pelaksanaan praktik kerja industry di SMTIYogyakarta bertujuan untuk:a. Sebagai latihan kerja dilapangan.b. Sebagai latihan penyesuaian di lingkungan kerja.c. Sebagai latihan kedisiplinan di lingkungan kerja.d. Sebagai perbandingan antara teori yang diperoleh dengan dengan penerapanyadi lapangan.e. Sebagai latihan penyusunan laporan.Sedangkan indicator ketercapaian program/kegiatan ini adalah:a. Siswa terlatih kerja dilapangan.b. Siswa mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan kerja.c. Siswa berdisiplin di lingkungan kerja.d. Siswa mampu membandingkan antara teori yang diperoleh dengan denganpenerapanya di lapangan.e. Siswa mampu menyusun laporan. 4. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah identifikasi masalah, dan pembatasanmasalah yang dikemukakan diatas, maka masalah dalam penelitian pada pelaksanaanPKL di SMTI Yogyakarta program kimia industry, dapat dirumuskan sebagai berikut:a. Apakah pelaksanaan PKL sudah sesuai dengan kebutuhan siswa? b. Sejauh mana kesiapan siswa untuk mengikuti program PKL? c. Sejauh mana kesiapan guru dalam pelaksanaan bimbingan PKL siswa? d. Sejauh mana kualitas pelaksanaan program PKL yang dilakukan oleh sekolah? e. Apakah pelaksanaan PKL dapat memberikan manfaat bagi siwa maupunsekolah? 5. Tujuan Evaluasi Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan yang ingin dicapai dalampenelitian ini adalah: a. Untuk mengetahui kesesuaian pelaksanaan program PKL dengan kebutuhansiswa.b. Untuk mengetahui sejauh mana kesiapan siswa dalam mengikuti program PKL.c. Untuk mengetahui seberapa jauh kesiapan yang dilakukan oleh gurupembimbing dalam dalam pelaksanaan bimbingan PKL siswad. Untuk mengetahui seberapa besar tingkat kualitas pelaksanaan PKL yangdiselenggarakan sekolah.e. Untuk mengetahui seberapa besar tingkat kemanfaatan program PKL yangdiselenggarakan sekolah. 6. Manfaat Evaluasi a. Memberikan gambaran kepada sekolah tentang keksesuaian pelaksanaanprogram PKL dengan kebutuhan siswa dan tuntutan kurikulum. b. Memberikan gambaran tentang cakupan materi PKl kesesuainnya denganindustry, sehingga pohak sekoalh memahami secara seksama tentang bentuk praktik yang akan dilakukan oleh siwa selama kegiatan berlangsung. Hal inidapat dijadikan bahan pertimbangan serta evaluasi materi pembelajaran dankuriulum yang sesuai, untuk mempersiapkan siswasebelum melaksanakan PKLdimasa yang akan dating. c. Sebagai bahan evaluasi terhadap penyelenggaraan PKL yang telahdiprogramkan oleh sekolah. d. Memberikan informasi tentang sejauh mana kesesuaian antara tempat praktik yang ada dengan program keahlian yang dimiliki siswa. e. Memberikan informasi tentang kemampuan siswa dalam penguasaanpengetahuan pasca pelaksanaan PKL f. Memberikan informasi tentang keterampilan yang diperoleh siswa setelahmelaksanakan PKL g. Memberikan informasi tentang sikap siswa selama melaksanakan PKL C. Kajian Teori1. Praktik Kerja Lapangana. Pengertian Praktik Kerja Lapangan. Praktik kerja lapangan merupakan salah satu bentuk implementasi daroPendidikan Sistem Ganda (PSG) yaitu suatu bentuk penyelenggaraan pendidikan danpelatihan kejuruan yang memadukan secara sistematik pendidikan disekolah dengandunia kerja. Tujuan PKL salah satunya adalah untuk membelajarkan siswamempraktikan ilmu dan keterampilan yang telah diperoleh di bangku sekolah sertamembelajarkan siswa beradaptasi dengan suasana dunia kerja. Sedangkan feedback bagisekolah adalah memperoleh masukan tentang kesesuaian antara kurikulum sekolahdengan “kurikulum“ dunia kerja.Idealism yang diusung oleh PSG adalah ingi mendekatkan kualitas tamatanyang meliputi kemampuan kerja dengan sikap profesionalnya, yang oleh karena itu polayang dipilih adalah menugaskan siswa terjun langsung ke dunia kerja/usaha danindustry dalam bentuk PKL untuk mendapatkan pengalaman kerja dan membinakemampuan adaptasi dengan lingkungan kerja nyata.Secara pragmatis program PKL memiliki dampak positif baik bagi siswamaupu sekolah. Menurut Smith (Jusuf Irianto, 2001: 6), bahwa profil kapabilitas siswaberkaita dengan skill yang diperoleh dari PKL. Seiring dengan penguasaan keterampilandan keahlian siswa akan menambah peluang bagi pengembangan karirnya setelah lulusdan terjun kemasyarakat.Menurut Manulang (Moekijat, 1981: 2) bahwa keberhasilan PKL mencakuptiga hal, yaitu 1. Menambah pengetahuan; 2. Menambah keterampilan; 3. Merubahsikap. Implementasi dari pelaksanaan PSG biasanya berupa: praktik kerja lapangan,praktik kerja industry, dan magang industry, ketiga jenis ini dibedakan oleh waktupelaksanaannya.Kebijakan di SMK pada umumnya menerapkan jadwal pelaksanaan PKL baik di dalam maupun diuar negeri adalah pada tahun ke-2 atau pada saat kelas 2 dansebagian kecil lagi di kelas 3 pada awal tahun ajaran baru. Penentuan jadwal inididasarkan atas pertimbangan asumsi bahwa pada saat kelas 2 atau kelas 3, seorangsiswa dianggap cukup memiliki pengetahuan teoritis dan keterampilan dasar tentangpekerjaan yang akan dilakoninya, dan tidak sedang menghadapi ujian akhir.rentang waktu pelaksanaan PKL ini antara 4 sampai dengan 6 bulan, dan pada beberapa kasusbias mencapai 1 tahun (Retailer, 2003: 2)Sekolah menengah kejuruan merupakan bentuk satuan pendidikan padapendidikan jalur profesi dan bagian dari pendidikan menengah yang mengutamakanpengembangan kemampuan siswa untuk melaksanakan jenis pekerjaan tertentu. SMK mempersiapkan siswa memasuki duia kerja dan pengembangan sikap professional. b. Tahap-Tahap Pelaksanaan PKL Agar pelaksanaan PKL berjalan dengan baik dan lancer serta tercapai apa yangmenjadi tujuan program, maka tahapan yang harus dilaksanakan meliputi:1. Persiapan/perencanaan.Perencanaan merupakan tahap awal sebelum melaksanakan sebuah program, danperencanaan akan sangat menentukan berhasil tidak suatu program mencapaitujuan. Beberapa aspek yang berperan dalam menentukan program PKL yangdiadakan sekolah antara lain:a. Guru, merupakan tenaga pendidik dari sekolah yang bertugas menyiapkansiswa memasuki pekerjaan yang ada di institusi terkait.b. Instruktur, merupakan tenaga pembimbing dari institusi terkait.c. Siswa, sebelum melaksanakan praktik kerja di institusi terkait setiap siswahendaknya telah mempunyai pengetahuan yang memadai, sehingga disampingmereka memperoleh pengalaman nyata, juga mampu memberikan konstribusikepada instansi terkait.d. Peralatan, perangkat bantu dalam memperoleh hasil secara cepat, tepat danefisien. Peralatan harus relevan dengan bidang garapan siswa.e. Bahan, material yang digunakan untuk membuat produk, terdiri dari bahanpokon dan bahan penunjang.f. Bahan ajar, merupakan susunan materi yang akan diajarkan kepada siswadalam mencapai ingkat keterampilan yang dibutuhkan di dunia kerja.g. Method, cara penyampaian materi yang digunakan untuk mencapai tujuanpembelajaran. h. Jadwal, perangkat pelaksanaan program baik disekolah maupun di instansiterkait mengenai siapa, apa dan dimana kegiatatan tersebut akan berlangsung.i. Waktu, waktu pelaksanaan program hendaknya disesuaikan hendaknyadisesuaikan dengan pecapaian target kompetensi sesuai dengan standardkeahlian.j. Perangkat lunak/administrative, perangkat untuk melaksanakan KBM yangberbeda antara perangkat yang digunakan disekolah dan perangkat yangdigunakan di instansi, meliputi; jurnal siswa, administrasi program dankesiswaan, dan perangkat supervise.k. Pembiayaan, biaya tetap yang harus ada dalam pelaksanaan PKL.Adapun dalam pelaksanaannya persiapan yang harus dilakukan sekolah antaralain;a. Menentukan instansi dan menghubunginya.b. Menyiapkan administrasi atau surat izin untuk instansi dan kepada orang tuasiswa,c. Memberikan pembekalan pada siswa,d. Penempatan siswa di intansi yang telah dihubungi.2. Pelaksanaan.Tahap ini adalah tahap berlangsungnya pembelajaran di instansi, agar pelaksanaannya berjalan dengan baik maka diperlukan komunikasi yang intensif antara sekolah dan instansi agar segala permasalah yang mungkin muncul dapatdiselesaikan dengan cepat. Tahap-tahapdalam pelaksanaan ini meliputi:a. Perencanaan. Unsure yang terlibat antara lain guru, kepala sekolah staf administrasi, instansi terkait dan orang tua. Sedangkan kegiatan koordinasiperencanaan meliputi; penyusunan kurikulum PKL, penyusunan programpembelajaran, peerencanaan kebutuhan, biaya dan sumber dana, penyiapansystem monitoring, dan evaluasi, penyusunan program ujian kompetensi, danevaluai.b. Pengorganisasian. Kegiatan ini meliputi penyusunan struktur organisasi,pemilihan proposal, penyusunan uraian tugas, penyusunan mekanisme kerja, serta penysusunan system koordinasi. Unsure yang terlibat antara lain;pengelola sokolah, komite sekolah dan instansi terkait.c. Pelaksanaan. Kegiatan ini meliputi koordinasi pembelajaran disekolah danpembelajaran di instansi. Unsure yang terlibat antara lain; guru, kepalasekolah, komite sekolah, instansi, dan staf bidang kurikulum.d. Evaluasi. Meliputi koordinasi penilaian pembelajaran di sekolah dan diinstansi. Unsure yang terlibat antara lain; guru, kepala sekolah, komitesekolah, instansi, dan staf bidang kurikulum.3. Penilaian/evaluasi.Penilaian merupakan proses akhir dari suatu kegiatan yang hasilnya bias dalambentuk angka-angka maupun kalimat-kalimat. Penilaian bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan suatu program. Adapun penilaian meliputi:a. Penilaian hasil belajar. meliputi hasil belajar disekolah dan di instansi.Penilaian hasil belajar disekolah mencakup komponen kemampuan normative,adaptif dan teori kejuruan. Sedangkan penilaian hasil belajar di institusimencakup komponen praktik keahlian yang dilakukan di instansi terkait.b. Penilaian keahlian. Meliputi 1.1) Penilain uji kompetensi yang merupakan terminal dari suatu paketpembelajaran untukmencapai kompetensi tertentu,2) Penilaian uji profesi, merupakan penilaian terminal dari suatu kompetensi-kompetensi yang harus dimiliki oleh suatu jabatan profesi tertentu.3) Sertifikasi pendidikan, diberikan kepada seseorang yang telahmenyelesaikan paket kegiatan tertentu sehingga dinilai layak, mampu danberwenang untuk melaksanakan tugas/kegiatan sesuai dengankemampuannya. 2. Evaluasia. Pengertian Evaluasi. Setiap program kegiatan yang dilaksanakan semesrtinya dan harus diakhiridengan evaluasi. Pelaksanaan evaluasi bertujuan untuk melihat kembali apakah programyang dilaksanakan sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Dari kegiatan evaluasi Abdul Azis, M.PdManajemen PendidikanProgram PascasarjanaUniversitas Negeri Yogyakartaazisyamhari@gmail.comPage 11 tersebut akan diketahui hal-hal yang telah dicapai maupun yang belum, criteria apa yangtelah dicapai maupun yang belum. Berdasarkan hasil evaluasi akan diambil keputusanapakn program tersebut akan dilanjutkan, direvisi, maupun dihentikan atau diganti samasekali. Uraian ini didasarkan atas pengertian evaluasi yaitu suatu proses pengumpulaninformasi, pengumpulan data dengan menggunakan instrument tertentu utuk mengambilkeputusan. Jadi pada dasarnya kegiatan evaluasi merupakan serangkaian kegiatan yangmenguji dan menilai pelaksanaan program.Para ahli evaluasi berbeda pendapat dalam mendefinisikana evaluasi,Stufflebeam mendefinisikan evaluasi sebagai berikut: Evaluation appraises the extent to which a program realizes certain goal.When evaluation based on an experimental design, the evaluation criteria areimbedded in the program at its inception. The value frame work is that of theprogram’s administrators, and there is no incentive to use alternative criteria. Definisi tesebut menunjukan adanya criteria yang digunakan untuk menentukan nilai dan adanya hal yang dinilai. Didalam konteks pelaksanaan program,criteria yang dimaksud adalah criteria keberhasilan pelaksanaan program dan yangdinilai dapat berupa hasil yang dicapai atau prose situ sendiri. Selanjutnya, Jusuf Irianto(2001: 21) menjelaskan bahwa “evaluasi program dimaksudkan sebagai pemenuhankeberadaan arti atau nilai signifikan sebuah program pelatihan dalam hbungannyadengan tujuan dan sasaran yang harus dikembangkan”. Menurut Hamblan (Leslie Rac,1990: 4) mendefinisikan “evaluasi sebagai suatu usaha memperoleh umpan balik atauefek dari suatu program pelatihan dan usaha mengukur nilai pelatihan yangbersangkutan berdasarkan informasi itu”.Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa evaluasi adalah prosespengumpulan, penyajian dan penilaian informasi untuk mengetahui sejauhmana suatuprogram telah mencapai tujuan, sehingga pengambilan keputusan dapat ditetapkan padaprogram selanjutnya. b. Evaluasi Program Program merupakan acuan kegiatan gabungan dari tujuan-tujuan,kebijaksanaankebijaksanaan, prosedur-prosedur, langkah-langkah yang akan diambil, sumber-sumber yang akan digunakan, dan unsure-unsur lain yang diperlukan untuk melaksanakan arah tindakan tertentu.Evaluasi program menurut Suharsimi (2007: 23) adalah langkah awal dalamsupervise, yaitu mengumpulkan data yang tepat agar dapat dilanjutkan denganpemberian pembinaan yang tepat. Evaluasi program sangat bermanfaat terutama bagipengambil keputusan karena dengan masukan hasil evaluasi program, para pengambilkeputusan akan menentukan tindak lanjut dari program yang telah atau sedangdilaksanakan.Evaluasi membantu dalam memahami program, juga untuk mengetahuiprogram apa yang belum terlaksana dengan baik maupun program yang belum berjalan,serta apa penyebabnya yang selanjutnya akan diambil keputusan apakan programtersebut perlu dilajutkan dengan beberapa perbaikan atau bahkan diberhentikan.Evaluasi dapat dilaksanakan pada saat program sedang berjalan maupun sesudah proramtersebut dilakasanakan. c. Model Evaluasi.1. Model evaluasi formatif dan sumatif Model evaluasi ini dikembangkan oleh Michel Sciven dan sudah dikenaloleh umum dari segi fungsinya. Evaluasi formatif digunakan untuk memperolehinformasi guna membentu memperbaiki proyek, kurikuum dan pelatihan. Focusevaluasi inberkisar pada kebutuhan yang dirumuskan oleh karyawan atau orang-orang. Adapun evaluasi sumatif dibuat untuk menilai apakah suatu program akanditeruskan atau diberhentikan. Oleh karena itu evaluasi sumatif dilakukan pada akhir program untuk memberikan informasi yang potensial tentang manfaat danpenggunaan program. 2. Model kesenjangan. Model ini dikembangkan oleh Malcolm Provus Diana penilain kesenjangandimaksudkan untuk mengetahui tingkat kesesuaian anara standard yang telahditentukan dalam program dengan penampilan actual dari program. Model inimenekankan pada kesenjangan yang sebetulnya merupakan persayaratan umum bagi semua kegiatan evaluasi, yaitu mengukur adanya perbedaan antara yang seharusnyadengan apa yang sudah dicapai. 3. Model CIPP ( context, input, process, product )a. Evaluasi kontek. Model ini merupaka upaya untuk menggambarkan dan merinci lingkungankebutuhan yang tidak terpenuhi, populasi, dan sampel yang dilayani, dan tujuanproyek. Ada 4 pertanyaan yang bias diajukan dalam model evaluasi ini, 1.Kebutuhan apa yang belum terpenuhi oleh program, 2. Tujuan pengembangan apayang belum dapat tercapai oleh program, 3. Tujuan pengembangan apa yang dapatmembentu tercapainya program, 4. Tujuan-tjuan manakan yang paling mudahdicapai oleh program. b. Evaluasi input Model ini meliputi sumber dan strategi yang diperlukan untuk mencapai tujuan, baik umum maupun khusus suatu program. Pertanyaan yang diajukan dalam model iniantara lain: 1. Apakah strategi yang digunakan sudah sesuai dengan pencapaiantujuan, 2. Apakah strategi yang diambil ini merupakan strategi resmi, 3. Strategimanakan yang sudah ada sebelumnya dan sudah cocok untuk mencapai tujuan yanglalu, 4. Apa yang dikatakan sebagai cirri khusus dari kegiatan yang dilaksanakandidalam program dan apa pula akibat yang ditimbulkan. c. Evaluasi proses. Model evaluasi ini diarahkan pada seberapa jauh kegiatan yang dilaksanakandidalam program sudah terlaksana sesuai dengan rencana. Pertayan yang biasdiajukan dalam model ini antara lai: 1. Apakan pelaksanaan program sudah berjalansesuai dengan jadwal yang direncanakan, 2. Apakah staf yang terlibat dalampelaksanaan program sudah siap melaksanakan kegiatan tersebut, 3. Apakah saranadan prasarana yang ada sudah dimanfaatkan dengan maksimal, 4. Hambatan apasaja yang dijumpai selama pelaksanaan program dan bagaimana mengatasinya. d. Evaluasi produk. Model evaluasi ini dilakukan untuk melihat atau mengukur keberhasilan dalampencapaian tujuan yang telah ditetapkan. Data yang dihasilkan akan sangat berguna apakah program akan dilanjutkan, disempurnakan, atau dihentikan. Penilainprogram memerlukan perbandingan antara hasil program dan tujuan yangditetapkan. Dalam evaluasi model ini pertanyaan yang bias diajukan antara lain: 1.Tujuan manakah yang sudah dicapai, 2. Apakah yang mungkin dirumuskanberkaitan antara rincian proses dengan pencapaian tujuan, 3. Kebutuhan pesertamanakah yang telah terpenuhi sebagai akibat dari pelaksanaan program, 4. Hasiljangka panjang apakah yang namapak sebagai akibat dari pelaksanaan program. D. Methodology Evaluasi.1. Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian ini mengambil setting lokasi di Sekolah Menengah TekhnologiIndustry Yogyakarta. Dipilihnya Sekolah Menengah Tekhnologi IndustryYogyakarta dengan pertimbangan bahwa SMTI Yogyakarta merupaka satu-s a t u n y a s e k o l a h m e n e n g a h k e j u r u a n y a n g k o n s e n d i b i d a n g i n d u s t r y d i Yogyakarta. 2. Jenis dan Pendekatan Penelitian Adapun jenis evaluasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah modelCIPP, sesuai dengan namanya model ini menyoroti empat aspek sekaligus yaitu:konteks, input, proses, dan produk yang melibatkan keempatnya secara bertahap.Keempat evaluasi ini merupakan satu kesatuan yang utuh, namun dalampelaksanaannya dapat saja seorang peneliti hanya melakukan satu jenis evaluasi dantidak menggunakan jenis evaluaasi tersebut. Evaluasi yang menggunakan model iniharus mempeertimbangkan dua hal: 1. Bahwa kekuatan model ini terdapat padarangkaian keempatnya, sehingga pelaksanaan keempat elemen tersebut dalam satudimensi yang utuh sangat diharapkan, 2. Jika dilaksanakan secara terpisah,sebaiknya menggabungkan dua atau lebih jenis yang ada.Sedangkan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif deskriptif dan kualitatif, data penelitian diperoleh melalui angket yang diberikankepada siswa dan guru pembimbing yang telah melaksanakan PKL, disampingmenggunakan angket, untuk melengkapi data penelitian juga dilakukan observasi dokumentasi dan wawancara yang mendalam. Objek sasaran yang dicermati dalampenelitian ini mengarah pada evaluasi kontek, input, proses, dan produk (CIPP). 3. Sumber data dan Sample Yang dimaksud dengan sumber data di sini adalah subjek dari rnana datadiperolch. Suharsimi Ariktmto (2002 : 107) mengklasifikasi sumber data menjaditiga jenis ; a . person, yaitu sumber data berupa orang, b . place, yaitu sumber data berupa ternpat, dan c . paper, yaitu sumber data berupa simbol. Berdasarkanklasifikasi tersebut, maka sumber data yang digunakan dalam penelitian iniadalah jenis person dan paper serta place. Penentuan subjek penelitian berupa person dilakukan dengan teknik purposif.Dengan teknik ini, ditetapkan kriteria-kriteria sesuai dengan tujuan penelitian.Subjek berupa paper digunakan sebagai sumber data-data sekunder sesuai dengantujuan penelitian. Sedangkan sumber data berupa place dibutuhkan untuk memperkaya data penelitian melalui observasi.Dalam penelitian ini sumber data dimaksud meliputi pengelola sekolah, guru,tenaga kependidikan, dan siswa 4. Variable Penelitian5. Pengumpulan Dataa. Teknik Pengumpulan Data 1. Wawancara Mendalam (indepth interview) Pengumpulan data dilakukan dengan mengadakan wawancara mendalamuntuk mendapatkan informasi mengenai seluruh aspek yang diteliti dan relevandengan masalah penelitian. Wawancara mendalam ( indepth interview )dilakukan dengan menggunakan instrument berupa pedoman wawancara (interview guide) . Pedoman tersebut tidak sepenuhnya mengikat proseswawancara secara kaku, akan tetapi wawancara dapat berkembang sesuai dengasituasi masyarakat dan khususnya informan. Meski demikian, peneliti berupayasecara jeli agar wawancara dapat menjawab tujuan penelitian. Instrument yangdigunakan adalah pedoman wawancara2. Dokumentasi Metode ini merupakan metode pengumpulan data dengan memanfaatkandata sekunder serta data tertulis lainnya dari obyek yang diteliti. Metodedilakukan untuk memperoleh data dengan jalan pengkajian atas berbagaidokumen resmi baik yang bersifat internal maupun eksternal. Bersifat internaldalam artian pengkajian langsung atas dokumen, misanyal arsip aktif maupunpasif, sedangkan bersifat eksternal dalam artian pengkajian terhadap sumbersumber pendukung atas pengkajian dokumen seperti arsip berita.3. ObservasiObservasi dilakukan untuk memperoleh informasi dengan jalan meninjauobyek penelitian untuk melihat realitas yang terjadi di lapangan. lnstrumenyang digunakan untuk pengamatan berupa lembar pengamatan (observationcheklist). 4. Angket atau kuestioner Angket atau kuestioner merupakan alat pengumpul data yang berupaserangkaianPengumpulan data dilakukan dengan mengirimkan daftar pertanyaan kepada responden. Instrumen yang digunakan berupa angketdengan jawaban tertutup. 5. Instrument 6. Uji Instrumen6. Analisis Data.
Fly UP