30
51 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Pelaksanaan Tindakan 4.1.1 Pelaksanaan Prasiklus Hasil belajar siswa di kelas 4 SD Negeri Ngajaran 3 tergolong rendah. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti selama sehari pada tanggal 1 Februari 2013 melalui wawancara secara lisan, dapat disimpulkan bahwa pembelajaran IPA yang digunakan guru dalam sehari-hari sering atau sebagian besar dilakukan secara ceramah atau konvensional. Pembelajaran IPA masih teacher center, dalam kegiatan pembelajaran sebagian besar siswa hanya menerima begitu saja materi yang disampaikan guru kemudian diakhiri evaluasi sehingga dalam pembelajaran siswa tidak mempunyai kesempatan untuk mengeluarkan kemampuan yang dimiliki. Guru pernah melakukan kegiatan pembelajara IPA dengan bentuk kegiatan kelompok, namun kebanyakan tugas-tugas kelompok tersebut tidak dikerjakan secara bekerjasama tetapi hanya diselesaikan oleh satu siswa saja yang pandai dalam kelompok. Guru lebih mendominasi proses belajar mengajar sehingga partisipasi yang berupa hasil belajar siswa masih rendah. Melihat kondisi pembelajaran yang monoton, suasana pembelajaran tampak kaku, berdampak pada hasil belajar IPA siswa dalam kegiatan pembelajaran dan kurang tanggap dalam menerima materi pembelajaran. Berdasarkan data hasil belajar pra siklus, jika dianalisis berdasarkan nilai hasil belajar pra siklus dapat dilihat pada tabel 11 berikut ini.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN · 2016. 8. 25. · Soal evaluasi yang digunakan adalah soal pilihan ganda berjumlah 40 soal, tahap pemilihan 40 soal tersebut pertama-tama

  • Upload
    others

  • View
    7

  • Download
    0

Embed Size (px)

Citation preview

  • 51

    BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

    4.1. Pelaksanaan Tindakan

    4.1.1 Pelaksanaan Prasiklus

    Hasil belajar siswa di kelas 4 SD Negeri Ngajaran 3 tergolong rendah.

    Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang dilakukan oleh peneliti selama

    sehari pada tanggal 1 Februari 2013 melalui wawancara secara lisan, dapat

    disimpulkan bahwa pembelajaran IPA yang digunakan guru dalam sehari-hari

    sering atau sebagian besar dilakukan secara ceramah atau konvensional.

    Pembelajaran IPA masih teacher center, dalam kegiatan pembelajaran sebagian

    besar siswa hanya menerima begitu saja materi yang disampaikan guru kemudian

    diakhiri evaluasi sehingga dalam pembelajaran siswa tidak mempunyai

    kesempatan untuk mengeluarkan kemampuan yang dimiliki. Guru pernah

    melakukan kegiatan pembelajara IPA dengan bentuk kegiatan kelompok, namun

    kebanyakan tugas-tugas kelompok tersebut tidak dikerjakan secara bekerjasama

    tetapi hanya diselesaikan oleh satu siswa saja yang pandai dalam kelompok. Guru

    lebih mendominasi proses belajar mengajar sehingga partisipasi yang berupa hasil

    belajar siswa masih rendah. Melihat kondisi pembelajaran yang monoton, suasana

    pembelajaran tampak kaku, berdampak pada hasil belajar IPA siswa dalam

    kegiatan pembelajaran dan kurang tanggap dalam menerima materi pembelajaran.

    Berdasarkan data hasil belajar pra siklus, jika dianalisis berdasarkan nilai

    hasil belajar pra siklus dapat dilihat pada tabel 11 berikut ini.

  • 52

    Tabel 11

    Rekapitulasi Nilai Ulangan Harian IPA Siswa Kelas 4 sebelum Tindakan

    ( Prasiklus)

    No Interval Frekuensi Persentase (%)

    Mencapai KKM 60

    1 59 10 47,7 % Tidak Tuntas

    Jumlah 21 100 % Rata – rata 67.28

    Nilai Terendah 40 Nilai Tertinggi 94

    Diketahui Tabel 11 menunjukkan bahwa jumlah siswa yang mendapat nilai

    > 59 sebanyak 47,7 % atau 10 siswa, yang mendapat nilai 66 – 71 sebanyak 9,5 %

    atau 2 siswa, yang mendapat nilai 72 - 71 sebanyak 9,5 % atau 2 siswa, yang

    mendapat nilai 78-83 sebanyak 4,7 % atau 1 siswa, dan yang mendapat nilai

  • 53

    Berdasarkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM ≥60) data hasil

    perolehan nilai sebelum tindakan yang tuntas dan belum tuntas disajikan dalam

    bentuk tabel 12 sebagai berikut.

    Tabel 12 Ketuntasan Belajar Sebelum Tindakan (Prasiklus)

    NO Ketuntasan Frekuensi Persentase (%)

    1 Tuntas 11 52,3 (%) 2 Tidak Tuntas 10 47,7 (%) Jumlah 21 100 ( %)

    Ketuntasan belajar siswa sebelum tindakan dapat diketahui dari tabel 12

    bahwa siswa yang mendapat nilai di atas KKM atau ≥60 sebanyak 11 siswa

    dengan persentase 52,3%, sedangkan siswa yang mendapatkan nilai di bawah

    KKM atau ≤60 sebanyak 10 siswa dengan persentase 47,7%. Ketuntasan belajar

    siswa disajikan dalam bentuk diagram lingkaran seperti pada gambar 4 berikut.

    Gambar 4 Persentase Ketuntasan Nilai Sebelum Tindakan

    (Prasiklus)

    Berdasarkan persentase nilai ulangan harian IPA siswa kelas IV SD Negeri

    Ngajaran 03 yang dijadikan sebagai nilai prasiklus dengan kriteria ketuntasan

    minimal (KKM ≥60) dapat dikatakan hasil belajar siswa masih rendah dan

    rendahnya hasil belajar siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti, metode

    pembelajaran yang masih ceramah, pembelajaran masih berpusat pada guru, guru

    kurang memiliki ketrampilan menciptakan suasana pembelajaran yang kondusif

    sehingga mengakibatkan pembelajaran kurang menarik yang berakibat siswa

    47,70%52,30%

    Persentase Nilai Prasiklus Tuntas Belum Tuntas

  • 54

    menjadi jenuh, membosankan, siswa menjadi kurang berminat dalam mengikuti

    proses pembelajaran, sehingga terjadi hambatan dalam memberikan ilmu

    pengetahuan yang menimbulkan pembelajaran berjalan kurang efektif dan

    berakibat pada hasil belajar masih menjadi rendah.

    Berdasarkan data hasil belajar siswa kelas IV SD Negeri Ngajaran 03 Semester II

    Tahun Pelajaran 2003/2014, penulis akan melakukan Penelitian Tindakan Kelas

    (PTK) sesuai dengan rancangan penelitian yang telah diuraikan pada bab

    sebelumnya. Dalam penelitian ini penulis akan menggunakan model pembelajaran

    Numbered Heads Together untuk meningkatkan hasil belajar siswa yang akan

    dilakukan dalam dua siklus. Siklus I dan siklus II dengan Standar Kompetensi

    yang sama dan dengan Kompetensi Dasar yang bebeda dapat dilihat pada tabel 13

    berikut ini:

    Tabel 13

    Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar pada Siklus I dan II

    Standar Kompetensi

    Kompetensi Standar

    Siklus 1 Siklus 2

    9.Memahami perubahan

    kenampakan permukaan bumi dan

    benda langit.

    9.1

    Mendiskripsi

    kan

    perubahan

    kenampakan

    bumi

    9.2

    Mendiskripsi

    kan posisi

    bulan dan

    kenampakan

    bumi dari

    hari ke hari.

  • 55

    4.1.2 Pelaksanaan Siklus I

    Pada bagian pelaksanaan siklus I terdiri dari empat macam sub bab yaitu

    perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi yang sesuai

    dengan tahap penelitian Kemmis & Mc Taggart dalam Arikunto (2007:16) yang

    mengemukakan bahwa terdapat empat tahap pelaksanaan penelitian meliputi

    perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan/observasi, dan refleksi. Pada

    bagian pelaksanaan siklus I akan diuraikan pada perencanaan tindakan mengenai

    apa yang akan dilaksanakan dan diperlukan dalam pelaksanaan pembelajaran.

    Setelah perencanaan tindakan akan diuraikan pelaksanakan tindakan dan

    observasi, kemudian akan diuraikan refleksi berdasarkan hasil observasi.

    4.1.1.1 Perencanaan Tindakan

    Perencanaaan tindakan dilaksanakan dari tanggal 1 Februari sampai 20

    Maret 2013. Diawali pada tanggal 1 Februari yaitu dilaksanakan persiapan

    sebelum penelitian dengan berkunjung ke SD Negeri Ngajaran 03 Kecamatan

    Tuntang Kabupaten Semarang menyerahkan surat perijinan. Pada tanggal 1

    Februari 2014 dan 15 Maret 2013 dilaksanakan validasi instrumen di kelas 5 SD

    Negeri Ngajaran 03 Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang. Soal evaluasi yang

    digunakan adalah soal pilihan ganda berjumlah 40 soal, tahap pemilihan 40 soal

    tersebut pertama-tama diawali dengan membaca materi yang akan diajarkan

    sesuai standar kompetensi dan kompetensi dasar. Tahap kedua adalah membuat

    kisi-kisi soal, lalu membuat 20 butir soal siklus I dan 20 butir soal siklus II.

    Langkah ketiga dilakukan uji validitas dan reliabilitas pada SD Negeri Ngajaran

    03 Kecamatan tetapi pada jenjang kelas yang lebih tinggi dari kelas yang akan

    dikenai tindakan yaitu di kelas 5. Setelah mendapatkan soal yang valid kemudian

    soal tersebut dipilih kembali masing-masing 20 soal siklus I dan 20 soal siklus II.

    Pemilihan dilakukan dengan cara mencari tingkat kesukaran soal dimana soal

    yang bagus adalah soal yang memiliki indeks kesukaran. Lembar observasi

    keaktifan belajar dibuat berdasarkan indikator keaktifan siswa. Sebelum tindakan

    juga harus menyusun lembar observasi guru keterlaksanaan sintaks Numbered

    Heads Togetherberdasarkan sintaks pembelajaran metode Numbered Heads

    Together.

  • 56

    RPP siklus pertama disusun terdiri dari 3 pertemuan dengan standar

    kompetensi memahami perubahan kenampakan permukaan bumi dan benda

    langit, kompetensi dasar mendiskripsikan perubahan kenampakan bumi. Pada

    pertemuan pertama, kedua dan ketiga dilakukan penyampaian materi melalui

    penerapan metode Numbered Heads Together kemudian pada akhir pembelajaran

    pertemuan ketiga dilakukan evaluasi. Perencanaan tindakan siklus I yang terdiri

    dari 3 pertemuan, pada saat tindakan dilakukan dengan cara menerapkan langkah-

    langkah metode Numbered Heads Together disetiap pertemuan sehingga

    melakukan sintaks sebanyak 3 kali pada 1 siklus. Setelah pembuatan RPP,

    kemudian RPP beserta sintaks dari metode Numbered Heads Together

    dikonsultasikan kepada guru kelas 4 SD Negeri Ngajaran 03 yang akan mengajar

    yaitu bapak Badarudini. Selain berkonsultasi RPP, dilakukan pula diskusi dengan

    guru kelas mengenai sintaks dari metode agar guru kelas matang dalam

    memahami sintaks dari metode dan benar-benar bisa mewakili tindakan. Guru

    kelas mudah memahami sintaks setelah diberi penjelasan, karena sintaks dari

    metode Numbered Heads Together hampir serupa dengan metode diskusi

    kelompok hanya pada Numbered Heads Together terdapat tahap penomoran siswa

    dan pemanggilan nomor secara acak.

    Persiapan perlengkapan pembelajaran dibuat selama satu minggu meliputi

    lembar soal untuk diskusi, nomor kepala, alat peraga dan lembar soal evaluasi.

    Nomor kepala dibuat sebanyak 21 buah sesuai dengan jumlah siswa di kelas 4.

    Pembuatan nomor menggunakan kertas karton yang dibentuk seperti mahkota dan

    diberi nomor 1-5 supaya anak lebih tertarik dengan adanya nomor yang

    dimodifikasi seperti mahkota. Selain menyiapkan nomor, disiapkan pula alat-alat

    peraga yaitu gambar permukaan laut ketika pasang dan surut, dan gambar-gambar

    hal-hal yang dapat merubah kenampakan bumi. Alat peraga gambar dibuat sendiri

    dengan kertas karton besar yang disiapkan sebelum melakukan tindakan.

    Melakukan konsultasi tanggal pelaksanaan penelitian kepada pihak sekolah dan

    guru, dan akhirnya pelaksanaan penelitian siklus I pertemuan pertama

    dilaksanakan pada hari senin tanggal 3 April 2014, pertemuan kedua dilaksanakan

    pada tanggal 4 April 2014, dan pertemuan ketiga pada tanggal 5 April 2014.

  • 57

    4.1.1.2 Pelaksanaan Tindakan

    Pelaksanaan tindakan pada siklus I dilakukan sebanyak tiga kali pertemuan

    sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran. Langkah-langkah tiap

    pertemuan sama hanya beda pada indikatornya. Pada pertemuan ketiga selain

    penyampaian materi dilaksanakan pula evaluasi pada akhir pembelajaran.

    Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari senin tanggal 3 April 2014 pada

    mata pelajaran IPA kompetensi dasar mendeskripsikan perubahan kenampakan

    bumi. Pada pertemuan pertama terdapat tiga indikator pembelajaran yang

    disampaikan yaitu Menyebutkan unsur-unsur muka bumi, Mendeskripsikan

    perubahan kenampakan bumi, Menyebutkan unsur-unsur yang dapat mengubah

    muka bumi.

    Pada kegiatan awal guru membuka pelajaran, mempresensi siswa,

    melakukan apersepsi dengan menunjukkan gambar perubahan kenampakan bumi

    yang dipengaruhi oleh bulan kepada siswa dan memberikan pertanyaan-

    pertanyaan yang memacu siswa untuk aktif berfikir terkait dengan materi dan

    memotivasi siswa. Guru kelas menjelaskan kepada siswa tentang kegiatan

    pembelajaran yang akan dilaksanakan. Guru menjelaskan langkah metode

    pembelajaran NHT (Numbered Heads Together). Guru menjelaskan sekilas

    tentang teori terbentuknya bumi serta melakukan tanya jawab dengan siswa agar

    siswa lebih memahami dan mendalami materi. Pelaksanaan sintaks pertama-tama

    adalah pembentukan kelompok, guru membagi siswa ke dalam kelompok sesuai

    dengan Numbered Heads Together dibagi menjadi 4 kelompok yaitu 3 kelompok

    terdiri dari 5 orang siswa dan 1 kelompok terdiri 6 siswa. Pembentukan kelompok

    dilakukan secara heterogen, hal tersebut dilakukan agar setiap kelompok dapat

    bekerjasama dengan baik. Setelah membagi kelompok langkah selanjutnya adalah

    penomoran anggota kelompok. Guru memberi nomor kepada setiap anggota

    kelompok, karena satu kelompok terdiri dari 5 orang maka masing-masing

    kelompok mendapatkan nomor 1 sampai 5. Tahap selanjutnya adalah pembagian

    tugas, guru memberikan lembar soal yang berisi beberapa pertanyaan untuk

    dikerjakan oleh setiap kelompok. Kemudian dilaksanakan diskusi kelompok, pada

    saat diskusi kelompok berlangsung guru berkeliling untuk membimbing siswa

  • 58

    dalam melakukan diskusi. Tahap selanjutnya adalah memanggil nomor, guru

    memanggil salah satu nomor siswa secara acak dan siswa yang dipanggil

    nomornya maju ke depan kelas untuk membacakan hasil. Tahap selanjutnya

    adalah menjawab pertanyaan, siswa yang dipanggil nomornya tadi maju kemudian

    menjawab pertanyaan di depan teman-teman dan guru membimbing siswa dalam

    menjawab pertanyaan. Tahap selanjutnya adalah menanggapi jawaban, guru

    memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk menanggapi dan

    mengomentari jawaban yang disampaikan temannya. Tahap terakhir adalah

    memberi kesimpulan, guru membimbing siswa untuk menyimpulkan,

    memperbaiki atau menambah kesimpulan yang dibuat apabila salah atau kurang

    terhadap materi yang telah di bahas, pada kegiatan penutup guru membimbing

    siswa membuat rangkuman dan melakukan refleksi.

    Pertemuan kedua pada siklus pertama merupakan lanjutan dari pertemuan

    pertama yaitu melanjutkan materi serta pemantapan materi melalui pelaksanaan

    Numbered Heads Together. Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari berikutnya

    dengan menyampaikan 2 indikator yaitu Menyebutkan dampak yang ditimbulkan

    akibat perubahan kenampakan bumi, Menyebutkan cara mengatasi akibat dari

    perubahan kenampakan bumi.

    Pada kegiatan awal guru membuka pelajaran, mempresensi siswa,

    memberikan apersepsi dengan mengulas kembali sedikit materi pembelajaran

    yang dipelajari pada pertemuan sebelumnya dengan melakukan tanya jawab pada

    siswa dan memotivasi siswa. Guru kelas menjelaskan kepada siswa tentang

    kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan yaitu masih melakukan

    pembelajaran dengan Numbered Heads Together. Di dalam kegiatan inti guru

    melanjutkan penyampaian materi yang berkaitan dengan perubahan kenampakan

    bumi. Kemudian pada kegiatan elaborasi langkah pembelajaran sama dengan

    pertemuan pertama. Pelaksanaan sintaks pertama-tama adalah pembentukan

    kelompok, guru membagi siswa ke dalam kelompok sesuai dengan Numbered

    Heads Together siswa dibagi menjadi 4 kelompok yaitu 3 kelompok terdiri dari 5

    orang siswa dan satu kelompok terdiri 6 siswa. Pembentukan kelompok dilakukan

    secara heterogen, hal tersebut dilakukan agar setiap kelompok dapat bekerjasama

  • 59

    dengan baik. Setelah membagi kelompok langkah selanjutnya adalah penomoran

    anggota kelompok. Guru memberi nomor kepada setiap anggota kelompok,

    karena satu kelompok terdiri dari 5 orang maka masing-masing kelompok

    mendapatkan nomor 1 sampai 5. Tahap selanjutnya adalah pembagian tugas, guru

    memberikan lembar soal yang berisi beberapa pertanyaan untuk dikerjakan oleh

    setiap kelompok. Kemudian dilaksanakan diskusi kelompok, pada saat diskusi

    kelompok berlangsung guru berkeliling untuk membimbing siswa dalam

    melakukan diskusi. Tahap selanjutnya adalah memanggil nomor, guru memanggil

    salah satu nomor siswa secara acak dan siswa yang dipanggil nomornya maju ke

    depan kelas untuk membacakan hasil diskusi. Tahap selanjutnya adalah menjawab

    pertanyaan, siswa yang dipanggil nomornya menjawab pertanyaan di depan

    teman-teman dan guru membimbing siswa dalam menjawab pertanyaan. Tahap

    selanjutnya adalah menanggapi jawaban, guru memberikan kesempatan kepada

    kelompok lain untuk menanggapi dan mengomentari jawaban yang disampaikan

    temannya kemudian membuat kesimpulan. Guru membimbing siswa untuk

    menyimpulkan, memperbaiki atau menambah kesimpulan yang dibuat apabila

    salah atau kurang terhadap materi yang telah di bahas. Pada kegiatan penutup

    guru membimbing siswa membuat rangkuman dan melakukan refleksi. Guru

    menjelaskan rencana kegiatan pembelajaran pada pertemuan berikutnya. Guru

    memberikan informasi pada siswa bahwa pada akhir pembelajaran pada

    pertemuan berikutnya akan diadakan evaluasi pembelajaran.

    Pada pertemuan ketiga merupakan akhir pelaksanaan dari siklus pertama.

    Pada pertemuan ketiga akan melakukan evaluasi dari pembelajaran yang telah

    dilaksanakan pada pertemuan 1 dan 2. Pada kegiatan awal guru membuka

    pelajaran, mempresensi siswa, memberikan apersepsi dengan mengulas kembali

    sedikit materi pembelajaran yang dipelajari pada pertemuan sebelumnya dengan

    melakukan tanya jawab pada siswa dan memotivasi siswa. Kemudian siswa

    diberikan sal dan mengerjakan soal evaluasi. Soal evaluasi dikerjakan oleh

    seluruh siswa yang berjumlah 21 orang. Guru menanyakan kepada siswa tentang

    kesiapan siswa dalam mengikuti evaluasi pembelajaran. Sebelum guru

    membagikan soal evaluasi, guru terlebih dahulu menata tempat duduk siswa

  • 60

    supaya siswa tidak terlalu dekat duduknya. Guru menjelaskan pada siswa tentang

    peraturan dalam mengerjakan soal evaluasi, kemudian guru membagi soal

    evaluasi berserta lembar jawab pada setiap siswa. Siswa mengerjakan soal evalusi

    dengan baik dan guru mengawasi jalannya tes dari awal sampai akhir.

    4.1.1.3 Observasi

    Observasi pelaksanaan pembelajaran dilakukan oleh observer pada saat

    pembelajaran berlangsung yaitu pada tiga pertemuan. Hasil observasi digunakan

    untuk mengetahui kegiatan guru selama proses pembelajaran sudah melaksanakan

    keseluruhan sintaks metode ataukah ada yang belum terlaksana. Hasil observasi

    guru dalam melaksanakan sintaks pada pertemuan pertama diperoleh data bahwa

    pada kegiatan inti dari langkah-langkah Numbered Heads Together, ada beberapa

    poin yang tidak terlaksana, tetapi pada sintaks yang terlaksana tersebut masih

    terdapat kekurangan dalam pelaksanaannya. Sintaks yang sudah terlaksana adalah

    guru sudah melaksanakan pembentukan kelompok, penomoran anggota

    kelompok, pembagian tugas, membimbing diskusi kelompok, melakukan

    pemanggilan nomor, dan membimbing siswa menjawab pertanyaan. Sintaks yang

    belum terlaksana yaitu pada tahap menanggapi jawaban dan membuat

    kesimpulan. Guru belum memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk

    menanggapi jawaban yang disampaikan dan guru belum membimbing siswa

    untuk memperbaiki atau menambah kesimpulan yang dibuat apabila salah atau

    kurang terhadap materi yang telah di bahas.

    Hasil observasi keterlaksanaan sintaks siklus I pertemuan kedua diperoleh

    data bahwa pada sintaks Numbered Heads Together terdapat 1 beberapa sintaks

    terlaksana tetapi masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaannya. Sintaks yang

    sudah terlaksana adalah guru sudah melaksanakan pembentukan kelompok,

    penomoran anggota kelompok, pembagian tugas, membimbing diskusi kelompok,

    melakukan pemanggilan nomor, membimbing siswa menjawab pertanyaan dan

    memberikan kesempatan pada kelompok lain untuk menanggapi jawaban. Pada

    pertemuan pertama masih terdapat 1 sintaks yang belum terlaksana yaitu pada

    tahap membuat kesimpulan. Guru belum membimbing siswa untuk memperbaiki

  • 61

    atau menambah kesimpulan yang dibuat apabila salah atau kurang terhadap materi

    yang telah di bahas.

    4.1.1.4 Refleksi

    Berdasarkan observasi siklus I pelaksanaan tindakan dengan metode

    Numbered Heads Together maka dilakukan refleksi dengan berdiskusi dengan

    guru kelas, sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa kelebihan proses

    pembelajaran dengan menggunakan metode Numbered Heads Together

    diantaranya siswa berdiskusi dengan sungguh-sungguh, materi pelajaran yang

    disampaikan lebih menarik perhatian siswa dan siswa lebih aktif dalam

    pembelajaran daripada sebelum menggunakan Numbered Heads Together. Selain

    kelebihan masih terdapat beberapa kekurangan selama pembelajaran Siklus I

    antara lain sebagai berikut :

    a) Pada pertemuan pertama dan kedua guru belum melaksanakan sintaks

    menanggapi jawaban dan membuat kesimpulan, dalam arti guru belum

    memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk menanggapi jawaban

    yang disampaikan dan belum membimbing membuat kesimpulan. Hal ini

    disebabkan waktu pembelajaran hampir habis karena waktu terbuang pada

    kegiatan diskusi yang dilakukan siswa. Guru pada awal pembelajaran tidak

    menyampaikan lamanya waktu siswa untuk berdiskusi, sehingga siswa lama

    dalam melakukan diskusi.

    b) Pada pertemuan pertama, kedua dan ketiga proses pembentukan kelompok

    menimbulkan sedikit keributan di kelas karena siswa cenderung ingin

    memilih kelompok sendiri.

    c) Pada tahap pemberian nomor berlangsung lama, dikarenakan siswa belum

    terbiasa untuk belajar membentuk kelompok dengan diberi nomor kepala.

    d) Pada saat diskusi, kerjasama dalam kelompok kurang terjalin dengan baik

    karena masih terdapat anggota kelompok yang pasif dan ada pula anak yang

    cenderung bekerja sendiri.

    e) Pada saat pemanggilan nomor ada nomor yang sudah disebut tetapi

    disebutkan lagi oleh guru karena guru tidak hafal dengan nomor yang telah

    disebut.

  • 62

    f) Kegiatan pembimbingan terhadap kelompok selalu dilakukan oleh guru,

    tetapi banyaknya kelompok dalam kelas menyebabkan pembimbingan kurang

    merata.

    g) Siswa masih malu - malu atau kurang percaya diri ketika mengungkapkan

    gagasan/soal masalah yang sedang diskusikan karena siswa tidak terbiasa

    maju menyampaikan jawaban di depan kelas.

    Dari kekurangan yang ditemukan pada siklus I, maka dapat diperbaiki pada

    siklus II. Hal-hal yang dapat dilakukan agar kekurangan pada siklus I tidak terjadi

    pada siklus II adalah:

    a) Guru pada awal pembelajaran menentukan dan menyampaikan lamanya

    waktu diskusi kelompok sehingga semua sintaks dapat terlaksana.

    b) Guru harus bersikap tegas dengan siswa yang memilih anggota kelompok

    sendiri dan sebaiknya proses pembentukan kelompok dilakukan sebelum

    pelaksanaan, sehingga tidak menghabiskan waktu lama pada saat

    pembelajaran.

    c) Agar saat pemberian nomor tidak berlangsung lama, guru harus mengelola

    waktu sebaik mungkin dengan meminta perwakilan kelompok untuk

    memberikan nomor kepada anggotanya.

    d) Guru lebih merata dalam melakukan bimbingan diskusi sehingga apabila ada

    anggota kelompok siswa yang pasif dan yang cenderung bekerja sendiri dapat

    diberi pengarahan.

    e) Guru mencatat nomor yang telah dipanggil misalnya pada catatan kecil, agar

    nomor yang tidak disebutkan lagi oleh guru

    f) Guru menciptakan suasana yang menyenangkan, guru harus lebih memotivasi

    siswa untuk aktif dengan pemberian ganjaran jika jawaban siswa benar

    sehingga siswa tidak malu-malu dalam mengemukakan jawaban.

  • 63

    4.1.2 Pelaksanaan Siklus II

    Pada bagian pelaksanaan siklus II terdiri dari empat macam sub bab yaitu

    perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi yang sesuai

    dengan tahap penelitian Kemmis & Mc Taggart dalam Arikunto (2007:16) yang

    mengemukakan bahwa terdapat empat tahap pelaksanaan penelitian meliputi

    perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan/observasi, dan refleksi. Pada

    bagian pelaksanaan siklus II akan diuraikan pada perencanaan tindakan mengenai

    apa yang akan dilaksanakan dan diperlukan dalam pelaksanaan pembelajaran.

    Setelah perencanaan tindakan akan diuraikan pelaksanakan tindakan dan

    observasi, kemudian akan diuraikan refleksi berdasarkan hasil observasi.

    4.1.2.1 Perencanaan Tindakan

    Perencanaan tindakan siklus II digunakan untuk memperbaiki kekurangan

    pada siklus I. Peneliti berdiskusi bersama guru kelas tentang hal-hal yang harus

    diperbaiki dan dipersiapkan pada siklus II. Melihat hasil belajar siswa siklus 1

    belum mencapai indikator keberhasilan maka dilaksanakan perbaikan di siklus II.

    RPP siklus kedua yang telah disusun terdiri dari 3 pertemuan dengan standar

    kompetensi memahami perubahan kenampakan permukaan bumi dan benda langit

    kompetensi dasar Mendiskripsikan posisi bulan dan kenampakan bumi dari hari

    ke hari. Pada pertemuan pertama, kedua dan ketiga dilakukan penyampaian materi

    melalui penerapan metode Numbered Heads Together kemudian pada akhir

    pembelajaran pertemuan ketiga dilakukan evaluasi. Persiapan tindakan siklus II

    yang terdiri dari 3 pertemuan dilakukan dengan cara menghabiskan sintaks

    metode Numbered Heads Together disetiap pertemuan sehingga melakukan

    sintaks sebanyak 3 kali pada 1 siklus.

    Persiapan perlengkapan pembelajaran meliputi lembar kerja siswa, nomor

    kepala dan lembar observasi dipersiapkan sebelum melaksanakan siklus II. Nomor

    kepala dibuat sebanyak 21 buah sesuai dengan jumlah siswa di kelas 4.

    Pembuatan nomor menggunakan kertas karton yang dibentuk seperti mahkota dan

    diberi nomor 1-5 supaya anak lebih tertarik dengan adanya nomor yang

    dimodifikasi seperti mahkota. Selain menyiapkan nomor disiapkan pula alat-alat

    peraga untuk siklus II seperti gambar daur air dan gambar kerusakan alam. Alat

  • 64

    peraga gambar dibuat sendiri dengan kertas karton besar yang disiapkan sehari

    sebelum melakukan tindakan. Pelaksanaan penelitian siklus II pertemuan pertama

    dilaksanakan pada hari senin tanggal 7 April 2014, pertemuan kedua dilaksanakan

    pada tanggal 8 April 2014, dan pertemuan ketiga pada tanggal 9 April 2014.

    4.1.2.2 Pelaksanaan Tindakan

    Pelaksanaan tindakan pada siklus I dilakukan sebanyak tiga kali pertemuan

    sesuai dengan rencana pelaksanaan pembelajaran. Langkah-langkah tiap

    pertemuan sama hanya beda pada indikatornya. Pada pertemuan ketiga selain

    penyampaian materi dilaksanakan pula evaluasi pada akhir pembelajaran.

    Pertemuan pertama dilaksanakan pada hari senin tanggal 3 April 2014 pada

    mata pelajaran IPA kompetensi dasar mendeskripsikan perubahan kenampakan

    bumi. Pada pertemuan pertama terdapat tiga indikator pembelajaran yang

    disampaikan yaitu Menyebutkan unsur-unsur muka bumi, Mendeskripsikan

    perubahan kenampakan bumi, Menyebutkan unsur-unsur yang dapat mengubah

    muka bumi.

    Pada kegiatan awal guru membuka pelajaran, mempresensi siswa,

    melakukan apersepsi dengan menunjukkan gambar perubahan kenampakan bumi

    yang dipengaruhi oleh bulan kepada siswa dan memberikan pertanyaan-

    pertanyaan yang memacu siswa untuk aktif berfikir terkait dengan materi dan

    memotivasi siswa. Guru kelas menjelaskan kepada siswa tentang kegiatan

    pembelajaran yang akan dilaksanakan. Guru menjelaskan langkah metode

    pembelajaran NHT (Numbered Heads Together). Guru menjelaskan sekilas

    tentang teori terbentuknya bumi serta melakukan tanya jawab dengan siswa agar

    siswa lebih memahami dan mendalami materi. Pelaksanaan sintaks pertama-tama

    adalah pembentukan kelompok, guru membagi siswa ke dalam kelompok sesuai

    dengan Numbered Heads Together dibagi menjadi 4 kelompok yaitu 3 kelompok

    terdiri dari 5 orang siswa dan 1 kelompok terdiri 6 siswa. Pembentukan kelompok

    dilakukan secara heterogen, hal tersebut dilakukan agar setiap kelompok dapat

    bekerjasama dengan baik. Setelah membagi kelompok langkah selanjutnya adalah

    penomoran anggota kelompok. Guru memberi nomor kepada setiap anggota

    kelompok, karena satu kelompok terdiri dari 5 orang maka masing-masing

  • 65

    kelompok mendapatkan nomor 1 sampai 5. Tahap selanjutnya adalah pembagian

    tugas, guru memberikan lembar soal yang berisi beberapa pertanyaan untuk

    dikerjakan oleh setiap kelompok. Kemudian dilaksanakan diskusi kelompok, pada

    saat diskusi kelompok berlangsung guru berkeliling untuk membimbing siswa

    dalam melakukan diskusi. Tahap selanjutnya adalah memanggil nomor, guru

    memanggil salah satu nomor siswa secara acak dan siswa yang dipanggil

    nomornya maju ke depan kelas untuk membacakan hasil. Tahap selanjutnya

    adalah menjawab pertanyaan, siswa yang dipanggil nomornya tadi maju kemudian

    menjawab pertanyaan di depan teman-teman dan guru membimbing siswa dalam

    menjawab pertanyaan. Tahap selanjutnya adalah menanggapi jawaban, guru

    memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk menanggapi dan

    mengomentari jawaban yang disampaikan temannya. Tahap terakhir adalah

    memberi kesimpulan, guru membimbing siswa untuk menyimpulkan,

    memperbaiki atau menambah kesimpulan yang dibuat apabila salah atau kurang

    terhadap materi yang telah di bahas, pada kegiatan penutup guru membimbing

    siswa membuat rangkuman dan melakukan refleksi.

    Pertemuan kedua pada siklus pertama merupakan lanjutan dari pertemuan

    pertama yaitu melanjutkan materi serta pemantapan materi melalui pelaksanaan

    Numbered Heads Together. Pertemuan kedua dilaksanakan pada hari berikutnya

    dengan menyampaikan 2 indikator yaitu Menyebutkan dampak yang ditimbulkan

    akibat perubahan kenampakan bumi, Menyebutkan cara mengatasi akibat dari

    perubahan kenampakan bumi.

    Pada kegiatan awal guru membuka pelajaran, mempresensi siswa,

    memberikan apersepsi dengan mengulas kembali sedikit materi pembelajaran

    yang dipelajari pada pertemuan sebelumnya dengan melakukan tanya jawab pada

    siswa dan memotivasi siswa. Guru kelas menjelaskan kepada siswa tentang

    kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan yaitu masih melakukan

    pembelajaran dengan Numbered Heads Together. Di dalam kegiatan inti guru

    melanjutkan penyampaian materi yang berkaitan dengan perubahan kenampakan

    bumi. Kemudian pada kegiatan elaborasi langkah pembelajaran sama dengan

    pertemuan pertama. Pelaksanaan sintaks pertama-tama adalah pembentukan

  • 66

    kelompok, guru membagi siswa ke dalam kelompok sesuai dengan Numbered

    Heads Together siswa dibagi menjadi 4 kelompok yaitu 3 kelompok terdiri dari 5

    orang siswa dan satu kelompok terdiri 6 siswa. Pembentukan kelompok dilakukan

    secara heterogen, hal tersebut dilakukan agar setiap kelompok dapat bekerjasama

    dengan baik. Setelah membagi kelompok langkah selanjutnya adalah penomoran

    anggota kelompok. Guru memberi nomor kepada setiap anggota kelompok,

    karena satu kelompok terdiri dari 5 orang maka masing-masing kelompok

    mendapatkan nomor 1 sampai 5. Tahap selanjutnya adalah pembagian tugas, guru

    memberikan lembar soal yang berisi beberapa pertanyaan untuk dikerjakan oleh

    setiap kelompok. Kemudian dilaksanakan diskusi kelompok, pada saat diskusi

    kelompok berlangsung guru berkeliling untuk membimbing siswa dalam

    melakukan diskusi. Tahap selanjutnya adalah memanggil nomor, guru memanggil

    salah satu nomor siswa secara acak dan siswa yang dipanggil nomornya maju ke

    depan kelas untuk membacakan hasil diskusi. Tahap selanjutnya adalah menjawab

    pertanyaan, siswa yang dipanggil nomornya menjawab pertanyaan di depan

    teman-teman dan guru membimbing siswa dalam menjawab pertanyaan. Tahap

    selanjutnya adalah menanggapi jawaban, guru memberikan kesempatan kepada

    kelompok lain untuk menanggapi dan mengomentari jawaban yang disampaikan

    temannya kemudian membuat kesimpulan. Guru membimbing siswa untuk

    menyimpulkan, memperbaiki atau menambah kesimpulan yang dibuat apabila

    salah atau kurang terhadap materi yang telah di bahas. Pada kegiatan penutup

    guru membimbing siswa membuat rangkuman dan melakukan refleksi. Guru

    menjelaskan rencana kegiatan pembelajaran pada pertemuan berikutnya. Guru

    memberikan informasi pada siswa bahwa pada akhir pembelajaran pada

    pertemuan berikutnya akan diadakan evaluasi pembelajaran.

    Pada pertemuan ketiga merupakan akhir pelaksanaan dari siklus pertama.

    Pada pertemuan ketiga akan melakukan evaluasi dari pembelajaran yang telah

    dilaksanakan pada pertemuan 1 dan 2. Pada kegiatan awal guru membuka

    pelajaran, mempresensi siswa, memberikan apersepsi dengan mengulas kembali

    sedikit materi pembelajaran yang dipelajari pada pertemuan sebelumnya dengan

    melakukan tanya jawab pada siswa dan memotivasi siswa. Kemudian siswa

  • 67

    diberikan sal dan mengerjakan soal evaluasi. Soal evaluasi dikerjakan oleh

    seluruh siswa yang berjumlah 21 orang. Guru menanyakan kepada siswa tentang

    kesiapan siswa dalam mengikuti evaluasi pembelajaran. Sebelum guru

    membagikan soal evaluasi, guru terlebih dahulu menata tempat duduk siswa

    supaya siswa tidak terlalu dekat duduknya. Guru menjelaskan pada siswa tentang

    peraturan dalam mengerjakan soal evaluasi, kemudian guru membagi soal

    evaluasi berserta lembar jawab pada setiap siswa. Siswa mengerjakan soal evalusi

    dengan baik dan guru mengawasi jalannya tes dari awal sampai akhir.

    4.1.2.3 Observasi

    Observasi pelaksanaan pembelajaran dilakukan oleh observer pada saat

    pembelajaran berlangsung yaitu pada tiga pertemuan. Hasil observasi digunakan

    untuk mengetahui kegiatan guru selama proses pembelajaran sudah melaksanakan

    keseluruhan sintaks metode ataukah ada yang belum terlaksana. Hasil observasi

    guru dalam melaksanakan sintaks pada pertemuan pertama diperoleh data bahwa

    pada kegiatan inti dari langkah-langkah Numbered Heads Together, ada beberapa

    poin yang tidak terlaksana, tetapi pada sintaks yang terlaksana tersebut masih

    terdapat kekurangan dalam pelaksanaannya. Sintaks yang sudah terlaksana adalah

    guru sudah melaksanakan pembentukan kelompok, penomoran anggota

    kelompok, pembagian tugas, membimbing diskusi kelompok, melakukan

    pemanggilan nomor, dan membimbing siswa menjawab pertanyaan. Sintaks yang

    belum terlaksana yaitu pada tahap menanggapi jawaban dan membuat

    kesimpulan. Guru belum memberikan kesempatan kepada kelompok lain untuk

    menanggapi jawaban yang disampaikan dan guru belum membimbing siswa

    untuk memperbaiki atau menambah kesimpulan yang dibuat apabila salah atau

    kurang terhadap materi yang telah di bahas.

    Hasil observasi keterlaksanaan sintaks siklus I pertemuan kedua diperoleh

    data bahwa pada sintaks Numbered Heads Together terdapat 1 beberapa sintaks

    terlaksana tetapi masih terdapat kekurangan dalam pelaksanaannya. Sintaks yang

    sudah terlaksana adalah guru sudah melaksanakan pembentukan kelompok,

    penomoran anggota kelompok, pembagian tugas, membimbing diskusi kelompok,

    melakukan pemanggilan nomor, membimbing siswa menjawab pertanyaan dan

  • 68

    memberikan kesempatan pada kelompok lain untuk menanggapi jawaban. Pada

    pertemuan pertama masih terdapat 1 sintaks yang belum terlaksana yaitu pada

    tahap membuat kesimpulan. Guru belum membimbing siswa untuk memperbaiki

    atau menambah kesimpulan yang dibuat apabila salah atau kurang terhadap materi

    yang telah di bahas.

    Hasil observasi keterlaksanaan langkah-langkah pembelajaran pada siklus II

    yang terdiri dari 3 pertemuan diperoleh bahwa ada beberapa langkah

    pembelajaran Numbered Heads Together semua langkah sudah terlaksanakan oleh

    guru. Guru sudah melaksanakan pembentukan kelompok, melakukan

    pemanggilan nomor, membimbing siswa menjawab pertanyaan, memberikan

    kesempatan pada kelompok lain untuk menanggapi jawaban dan membimbing

    siswa untuk memperbaiki atau menambah kesimpulan yang dibuat salah atau

    kurang terhadap materi yang dibahas.

    4.1.2.4 Refleksi

    Berdasarkan observasi siklus II dengan menggunakan metode Numbered

    Heads Together maka dilakukan refleksi dengan berdiskusi dengan guru kelas,

    maka dapat disimpulkan selama proses belajar mengajar siklus II guru telah

    melaksanakan pembelajaran dengan baik. Berdasakan data hasil pengamatan

    diketahui bahwa kegiatan pembelajaran tampak lebih hidup dengan adanya

    interaksi antara guru dan siswa serta siswa dengan siswa, siswa terlihat lebih aktif

    dalam berkomunikasi ketika diskusi. Kekurangan pada siklus-siklus sebelumnya

    sudah mengalami perbaikan dan peningkatan sehingga menjadi baik.

    4.2 Hasil Penelitian

    Pada bagian hasil penelitian , akan diuraikan tentang data dan analisis data.

    Masing-masing akan dijelaskan tentang data siklus I dan data siklus II yang terdiri

    dari data hasil belajar siswa.

    4.2.1 Deskripsi Data

    Data mentah yang sudah diperoleh diolah dan disajikan pada deskripsi data.

    Pada sub bab ini deskripsi data akan diuraikan tentang data siklus I yang terdiri

    dari data hasil belajar siswa. Kemudian disajikan juga data siklus II yang

    mencakup data hasil belajar siswa.

  • 69

    4.2.1.1 Data Siklus I

    Data hasil tes siklus I diperoleh melalui tes hasil belajar yang dilaksanakan

    pada akhir siklus (pertemuan ketiga). Lebih jelasnya nilai hasil tes siswa dapat

    dilihat pada tabel 14 berikut ini:

    Tabel 14

    Hasil belajar siswa pra siklus dan siklus I

    No

    Nama Siswa

    Nilai Siswa Kriteria Pra siklus Siklus I

    1 A 57 60 Tuntas 2 MFT 49 50 Tidak Tuntas 3 AA 49 95 Tuntas 4 AVT 91 80 Tuntas 5 ASM 94 95 Tuntas 6 AYM 55 70 Tuntas 7 EAW 45 100 Tuntas 8 EF 89 80 Tuntas 9 FS 71 95 Tuntas

    10 GAP 94 83 Tuntas 11 HP 86 50 Tidak Tuntas 12 IS 50 80 Tuntas 13 NV 91 90 Tuntas 14 RY 40 78 Tuntas 15 RDP 77 55 Tidak Tuntas 16 RNH 55 85 Tuntas 17 S 77 85 Tuntas 18 TAP 49 90 Tuntas 19 TS 43 85 Tuntas 20 YS 71 55 Tidak Tuntas 21 BHK 80 75 Tuntas

    Rata-rata kelas 67,28 77,90

    Berdasarkan tabel 14 dapat dilihat perbandingan nilai antara prasiklus dan

    siklus I pada pelaksanaan siklus I masih terdapat siswa yang tuntas dan sementara

    masih ada siswa yang tidak tuntas, dilihat dari kriteria ketuntasan minimal

    (KKM=60) terdapat 17 siswa yang sudah memenuhi KKM dan 4 siswa yang di

    bawah nilai KKM yang ditetapkan, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel

    15 berikut ini:

  • 70

    Tabel 15

    Rekapitulasi Nilai IPA Siswa Kelas 4 sesudah Tindakan (Siklus I)

    No Interval Frekuensi Persentase (%)

    Mencapai KKM 60

    1 90-100 6 28,55 % Tuntas 2 84 –89 3 14,25 % Tuntas 3 78 – 83 5 23,8 % Tuntas 4 72 – 77 1 4,8 % Tuntas 5 66 – 71 1 4,8 % Tuntas 6 60 – 65 1 4,8 % Tuntas 7 >59 4 19 % Tidak Tuntas

    Jumlah 21 100 % Rata – rata 77,90

    Nilai Terendah 50 Nilai Tertinggi 100 Hasil nilai tes siklus 1 yang terdapat dalam tabel 15 terlihat jelas

    perbandingannya bahwa tabel 15 menunjukkan jumlah siswa yang mendapat nilai

    90-100 berjumlah 28,55% atau 6 siswa, yang mendapat nilai 84-89 berjumlah

    14,25% atau 3 siswa, yang mendapat nilai 78-83 berjumlah 23,8% atau 5 siswa,

    yang mendapat nilai 72-77 berjumlah 4,8% atau 1 siswa, yang mendapat nilai 66-

    71 berjumlah 4,8% atau 1 siswa, yang mendapat nilai 60-65 berjumlah 4,8 % atau

    1 siswa dan siswa yang mendapat nilai >59 berjumlah 19% atau 4 siswa.

    Untuk lebih jelasnya data nilai dapat dilihat pada data distribusi frekuensi

    diagram batang pada gambar 5 berikut ini:

    Gambar 5

    Hasil perolehan nilai Siklus I

    0

    1

    2

    3

    4

    5

    6

    Jum

    lah

    Sisw

    a

    Nilai

  • 71

    4.2.1.2 Data Siklus 2

    Data hasil tes siklus II diperoleh melalui tes hasil belajar yang dilaksanakan

    pada akhir siklus (pertemuan ketiga). Lebih jelasnya nilai hasil tes siswa dapat

    dilihat pada tabel 16 berikut ini:

    Tabel 16

    Hasil belajar siswa pra siklus, siklus I dan siklus II

    No

    Nama Siswa

    Nilai Siswa Kriteria Pra siklus Siklus I Siklus II

    1 A 57 60 80 Tuntas 2 MFT 49 50 55 Tidak Tuntas 3 AA 49 95 100 Tuntas 4 AVT 91 80 100 Tuntas 5 ASM 94 95 100 Tuntas 6 AYM 55 70 80 Tuntas 7 EAW 45 100 100 Tuntas 8 EF 89 80 95 Tuntas 9 FS 71 95 100 Tuntas

    10 GAP 94 83 95 Tuntas 11 HP 86 50 90 Tuntas 12 IS 50 80 95 Tuntas 13 NV 91 90 95 Tuntas 14 RY 40 78 90 Tuntas 15 RDP 77 55 80 Tuntas 16 RNH 55 85 90 Tuntas 17 S 77 85 90 Tuntas 18 TAP 49 90 90 Tuntas 19 TS 43 85 95 Tuntas 20 YS 71 55 95 Tuntas 21 BHK 80 75 100 Tuntas

    Rata-rata kelas 67,28 77,90 95,2

    Dapat dilihat pada tabel 16 diketahui bahwa ada peningkatan hasil belajar

    siswa pada siklus I dan siklus II. Untuk hasil belajar siswa yang berada pada

    kriteria ketuntasan minimal (KKM=60) terdapat 20 siswa dari keseluruhan siswa

    kelas 4 yang berjumlah 21 siswa yang berarti seluruh siswa telah tuntas meskipun

    masih ada 1 siswa yang belum tuntas, untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel

    17 berikut ini:

  • 72

    Tabel 17

    Rekapitulasi Nilai IPA Siswa Kelas 4 siklus II

    No Interval Frekuensi Persentase (%)

    Mencapai KKM 60

    1 90-100 17 81 % Tuntas 2 84 –89 0 0 % Tuntas 3 78 – 83 3 14,2 % Tuntas 4 72 – 77 0 0 % Tuntas 5 66 – 71 0 0 % Tuntas 6 60 – 65 0 0 % Tuntas 7 >59 1 4,8 % Tidak Tuntas

    Jumlah 21 100 % Rata – rata 95,2

    Nilai Terendah 55 Nilai Tertinggi 100 Hasil nilai tes siklus II yang terdapat dalam tabel 17 terlihat jelas

    perbandingannya bahwa tabel 17 menunjukkan jumlah siswa yang mendapat nilai

    90-100 berjumlah 81% atau 17 siswa, yang mendapat nilai 78-83 berjumlah

    14,2% atau 3 siswa, dan siswa yang mendapat nilai >59 berjumlah 4,8% atau 1

    siswa.

    Untuk lebih jelasnya data nilai dapat dilihat pada data distribusi frekuensi

    diagram batang pada gambar 6 berikut ini:

    Gambar 6 Hasil perolehan nilai siklus II

    02468

    1012141618

    Jum

    lah

    Sisw

    a

    Nilai

  • 73

    Dengan melihat gambar diagram 6 dapat diketahui hasil analisis siklus II

    menunjukkan bahwa siswa yang memiliki nilai kurang dari KKM yaitu 60

    sebanyak 1 siswa, sedangkan siswa yang sudah mencapai KKM sebanyak 20

    siswa.

    4.2.2 Analisis Data

    Analisis data dapat dilakukan dalam dua tahap yaitu analisis ketuntasan dan

    analisis komparatif.

    4.2.2.1 Analisis Ketuntasan Hasil Belajar Siklus I

    Berdasarkan data hasil tes IPA siklus I maka dilakukuan analisis dengan

    membandingkan nilai (KKM=60). Siswa yang mendapat nilai diatas KKM atau

    yang tuntas dijumlahkan begitu juga siswa yang berada di bawah (KKM=60).

    Analisis ketuntasan hasil belajar siswa siklus 1 tersaji pada tabel 18 berikut ini:

    Tabel 18

    Analisis Ketuntasan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas 4

    Siklus 1

    Keterangan

    Siklus I Jumlah siswa %

    Tidak Tuntas 4 19 % Tuntas 17 81 % Jumlah 21 100 % Rata-rata 77,90 Nilai Tertinggi 50 Nilai terendah 100

    Berdasarkan tabel 18 terlihat bahwa setelah dilaksanakan pembelajaran

    dengan metode Numbered Heads Together, dari 21 siswa yang mengikuti evaluasi

    pembelajaran terdapat 17 siswa (81%) tuntas atau mampu mencapai KKM (60)

    dan 4 siswa (19%) tidak tuntas atau masih berada dibawah KKM. Nilai tertinggi

    yang dicapai siswa adalah 100 dan nilai terendah 50 dengan nilai rata-rata kelas

    adalah 77,90 %. Ketuntasan hasil belajar IPA siklus I kelas 4 SDN Ngajaran 03

    Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang dapat dilihat pada gambar 7 berikut ini:

  • 74

    Gambar 7

    Diagram ketuntasan hasil belajar siswa siklus I

    Berdasarkan gambar 7 diagram ketuntasan hasil belajar siklus I dapat

    diketahui dari 21 siswa jumlah kelas 4 SDN Ngajaran 03 kecamatan Tuntang

    Kabupaten Semarang sebanyak 17 siswa yang tuntas dengan persentase 81% dan

    4 siswa belum tuntas dengan persentase 19%

    4.2.2.2 Analisis Ketuntasan Hasil Belajar Belajar Siswa Siklus II

    Berdasarkan data hasil tes IPA siklus II maka dilakukuan analisis dengan

    membandingkan nilai (KKM=60). Siswa yang mendapat nilai diatas KKM atau

    yang tuntas dijumlahkan begitu juga siswa yang berada di bawah (KKM=60).

    Analisis ketuntasan hasil belajar siswa siklus II tersaji pada tabel 19 berikut ini:

    Tabel 19

    Analisis Ketuntasan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas 4

    Siklus II

    Keterangan

    Siklus I Jumlah siswa %

    Tidak Tuntas 1 4,8 % Tuntas 20 95,2 % Jumlah 21 100 % Rata-rata 95,2 Nilai Tertinggi 55 Nilai terendah 100

    81%

    19%

    Tuntas Belum Tuntas

  • 75

    Berdasarkan tabel 19 terlihat bahwa setelah dilaksanakan pembelajaran

    dengan metode Numbered Heads Together, dari 21 siswa yang mengikuti evaluasi

    pembelajaran terdapat 20 siswa (95,2%) tuntas atau mampu mencapai KKM (60)

    dan 1 siswa (4,8%) tidak tuntas atau masih berada dibawah KKM. Nilai tertinggi

    yang dicapai siswa adalah 100 dan nilai terendah 55 dengan nilai rata-rata kelas

    adalah 95,2 %. Ketuntasan hasil belajar IPA siklus I kelas 4 SDN Ngajaran 03

    Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang dapat dilihat pada gambar 8 berikut ini.

    Gambar 8

    Diagram Ketuntasan Hasil Belajar Siklus II

    Berdasarkan pada gambar 8 dapat diketahui bahwa siswa yang belum tuntas

    atau di bawah nilai KKM yaitu 60 sebanyak 1 siswa dengan persentase 4,8%,

    sedangkan siswa yang tuntas dalam belajarnya dan sudah memenuhi Kriteria

    Ketuntasan Minimal yaitu 60 sebanyak 20 siswa dengan persentase 95,2% yang

    berarti indikator kinerja penelitian pada siklus II telah tercapai dengan baik.

    4.2.2.2 Analisis Komparatif

    Berdasarkan hasil analisis ketuntasan dapat diketahui bahwa terjadi

    peningkatan hasil belajar siswa pada mata pelajaran IPA di kelas 4 SDN Ngajaran

    03 Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang Semester 2 Tahun pelajaran

    2013/2014. Perbandingan hasil belajar siswa disajikan pada tabel 20 berikut ini :

    95,2%

    4,8%

    Tuntas Belum Tuntas

  • 76

    Tabel 20

    Analisis Komparatif Ketuntasan Hasil Belajar IPA

    Pra Siklus, Siklus I, Siklus II

    NO

    Ketuntasan

    Pra siklus Siklus I Siklus II Jumlah Siswa

    Persen (%)

    Jumlah Siswa

    Persen (%)

    Jumlah Siswa

    Persen (%)

    1 Tuntas 11 52,30 % 17 81 % 20 95,2% 2 Tidak Tuntas 10 47,70 % 4 19% 1 4,8

    Jumlah 21 100 % 21 100% 21 100% Nilai tertinggi 94 100 100 Nilai terendah 40 50 55

    Rata-rata 67,28 77,90 95,2 Dari tabel 20 dapat dijelaskan bahwa tingkat ketuntasan belajar siswa dari

    pra siklus sampai ke siklus II mengalami peningkatan. Pada pra siklus siswa yang

    tuntas belajar adalah 11 siswa (52,30%), pada siklus I mencapai 17 siswa (19%)

    dan pada siklus II menjadi 20 siswa (95,2%). Sedangkan siswa yang belum tuntas

    jumlahnya menurun pada saat prasiklus terdapat 10 siswa (47,70%), pada siklus I

    masih ada 4 siswa (19%) dan pada siklus II masih ada 1 siswa (4,8%) belum

    tuntas. Nilai tertinggi siswa meningkat yaitu pada pra siklus 94, siklus I

    meningkat menjadi 100 dan pada siklus II nilai tertinggi yaitu 100. Nilai terendah

    pada pra siklus 40, siklus 1 menjadi 50 dan siklus II nilai terendah 55. Rata-rata

    siswa dari prasiklus ke siklus II juga mengalami peningkatan dari prasiklus 67,28

    menjadi 77,90 ke siklus I naik sebesar 10,62 dan pada siklus II menjadi 95,2 atau

    naik sebesar 13,29. Untuk lebih jelas perbandingan hasil belajar dan ketuntasan

    belajar siswa dari pra siklus sampai dengan siklus II disajikan dalam gambar 9

    berikut ini :

  • 77

    Gambar 9 Analisis komperatif ketuntasan Hasil Belajar IPA

    Pra siklus, Siklus I, dan Siklus II

    Dari gambar 9 dapat dijelaskan bahwa banyaknya siswa yang mencapai

    ketuntasan belajar pra siklus sampai dengan siklus II mengalami peningkatan.

    Pada saat pra siklus ke siklus I besarnya peningkatan adalah dari 52,30% menjadi

    81%, dari siklus I ke siklus II adalah 81% menjadi 95,2%. Sedangkan siswa yang

    tidak tuntas jumlahnya menurun pada saat pra siklus 47,70% belum tuntas, pada

    siklus I menurun menjadi 19% yang belum tuntas dan pada siklus II menurun lagi

    menjadi 4,8%.

    4.3 Pembahasan

    Berdasarkan paparan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap siswa

    kelas 4 SDN Ngajaran 03 Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang pada mata

    pelajaran IPA, maka dapat diketahui adanya peningkatan hasil belajar siswa

    dengan menggunakan metode Numbered Heads Together.

    Berdasarkan analisis data hasil belajar terhadap siswa kelas 4 SDN Ngajaran

    03Kecamatan Tuntang Kabupaten Semarang pada mata pelajaran IPA, dapat

    diketahui juga adanya peningkatan hasil belajar siswa dengan menggunakan

    Numbered Heads Together. Peningkatan hasil belajar siswa dilihat dari hasil nilai

    siklus I dan siklus II. Pada pra siklus diketahui siswa yang mendapat nilai di atas

    Kategori Ketuntasan Minimal (KKM 60) atau dikatakan tuntas adalah 11 siswa

    (52,30%) kemudian meningkat pada siklus I terdapat 17 siswa (81%) dan

    0

    10

    2011 10

    17

    4

    20

    1

    SebelumTindakan (Prasiklus)

    Siklus I Siklus II

  • 78

    meningkat lagi pada siklus II sehingga menjadi 17 siswa (77,90%). Pada pra

    siklus diketahui siswa yang mendapat nilai di bawah Kategori Ketuntasan

    Minimal (KKM 60) atau dikatakan tidak tuntas adalah 10 siswa (47,70%)

    kemudian menurun pada siklus I sebesar 6 sehingga menjadi 4 siswa (19%). Pada

    siklus I siswa tuntas belajar adalah 17 siswa (81%) lebih rendah dari indikator

    keberhasilan yang ditentukan yaitu 85% siswa tuntas belajar. Jadi pada siklus I

    hasil belajar siswa belum mencapai indikator keberhasilan yang ditentukan,

    berdasarkan hasil refleksi pada saat pembelajaran siklus I hal ini dapat disebabkan

    karena guru masih belum bisa mengelola waktu pembelajaran dengan baik

    terutama pada kegiatan diskusi kelompok. Pada siklus I saat diskusi kelompok,

    kerjasama dalam kelompok kurang terjalin dengan baik karena masih terdapat

    anggota kelompok yang pasif dan ada pula anak yang cenderung bekerja sendiri.

    Pembelajaran siklus I belum mencapai indikator keberhasilan sehingga

    diberikan tindakan pada siklus II yang menunjukkan peningkatan hasil belajar

    IPA siswa. Pada siklus I siswa yang mendapat nilai di atas Kategori Ketuntasan

    Minimal (KKM 60) atau dikatakan tuntas adalah 11 siswa (52,30%) kemudian

    meningkat pada siklus II sebesar 17 siswa (81%) sehingga menjadi 20 siswa

    (95,2%). Pada siklus I diketahui siswa yang mendapat nilai di bawah Kategori

    Ketuntasan Minimal (KKM 60) atau dikatakan tidak tuntas adalah 4 siswa (19%)

    kemudian menurun pada siklus II sebesar 3 siswa sehingga menjadi 1 siswa

    (4,8%). Pada siklus II siswa tuntas belajar adalah 17 siswa (95,2%) lebih tinggi

    dari indikator keberhasilan yang ditentukan yaitu 85% siswa tuntas belajar. Jadi

    pada siklus II hasil belajar siswa telah mencapai indikator keberhasilan yang

    ditentukan yang berarti melalui penerapan metode Numbered Heads Together

    dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Tetapi hasil pada siklus II menunjukkan

    masih terdapat 1 siswa yang tidak tuntas, yaitu Muhammad Fani T. Setelah

    melakukan wawancara dengan guru kelas dan pengamatan ketika pembelajaran

    maka dapat diketahui bahwa siswa tersebut dalam pembelajaran sehari-hari

    memang memiliki kemampuan yang rendah dalam menyerap materi dibandingkan

    dengan teman-temannya, Muhammad Fani T adalah siswa yang pendiam dan

  • 79

    pasif di kelas 4 Muhammad juga termasuk siswa yang belum lancar dalam

    membaca.

    Pada siklus II hasil belajar siswa telah mencapai indikator keberhasilan

    yang ditentukan dengan tercapainya 20 siswa tuntas (95,2%), artinya melalui

    penerapan metode Numbered Heads Together dapat meningkatkan hasil belajar

    IPA siswa. Hal tersebut sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Arends

    (2008:6) bahwa pembelajaran kooperatif mendukung perkembangan intelegensi

    interpersonal, interaksi siswa dan memiliki tujuan untuk meningkatkan

    penguasaan akademik. Ibrahim (2000:28) juga mengemukakan tujuan yang

    hendak dicapai dalam Numberd Heads Together salah satunya adalah hasil belajar

    akademik stuktural.MenurutZuhdi (2010:65)Numbered Heads Together memiliki

    kelebihan lain yaitu siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai

    dan siswa dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh. Kelebihan tersebut

    terealisasi dari siswa yang berinteraksi dengan guru ataupun dengan siswa lainnya

    dalam kegiatan diskusi, pada saat pelaksanaan tindakan semakin terlihat siswa

    saling mengajari satu sama lain karena setiap siswa merasa harus siap menguasai

    materi dengan adanya pemanggilan nomor secara acak. Apabila ada anggota yang

    mengalami kesulitan, siswa yang pandai mengajari siswa yang kurang pandai

    sehingga setiap siswa dapat lebih memahami materi. Kelebihan tersebut

    terealisasikan dalam kegiatan pembelajaran yang menyebabkan siswa dapat lebih

    memahami materi sehingga hasil belajar siswa meningkat dan ketuntasan belajar

    siswa tercapai.

    Hasil belajar siklus II siswa yang tuntas adalah 20 siswa (95,2%), hal

    tersebut sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Yuni Winarti (2012) yang

    menyatakan bahwa penerapan pembelajaran Numbered Heads Together dapat

    meningkatkan hasil belajar IPA di kelas V SDN Banyumudal 01Kabupaten

    Wonosobo Semester 2 Tahun Ajaran 2011/2012. Dalam penelitian yang dilakukan

    oleh Yuni Winarti diperoleh hasil bahwa ada peningkatan ketuntasan belajar,

    yakni dari 53,13% sebelum siklus, meningkat menjadi 66,25 % pada siklus I dan

    100% pada siklus II. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini dengan penelitian

    yang dilakukan oleh Yuni Winarti mencapai hasil yang berbeda yaitu dalam

  • 80

    penelitian ini siswa yang tuntas adalah 100% sedangkan dalam penelitian ini

    siswa yang tuntas mencapai 90%. Hal tersebut dapat disebabkan karena setiap SD

    mempunyai karakteristik siswa yang berbeda-beda sehingga hasil penelitian ini

    berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Yuni Winarti, tetapi pada

    dasarnya hasil penelitian yang diperoleh sama yaitu dengan penerapan Numbered

    Heads Together dapat meningkatkan hasil belajar IPA.