BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Euthanasia dan Hak .4.1 Euthanasia dan Hak Hidup Menurut Perspektif

  • View
    212

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Euthanasia dan Hak .4.1 Euthanasia dan Hak Hidup Menurut Perspektif

38

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Euthanasia dan Hak Hidup Menurut Perspektif Sosiologis

Masyarakat yang sedang mengalami perubahan karena upaya pembangunan,

hukum juga akan mengalami perubahan sesuai dengan keadaan masyarakat.

Karena itu hukum tidak dapat dilepaskan dari pengetahuan tentang

kemasyarakatan dan kenegaraan. Dengan landasan pemikiran ini, untuk

memahami hukum tidak cukup hanya mempelajari hukum dari aspek yang tertulis

saja, melainkan juga perlu mempelajari hukum dalam konteks penerapan dalam

kehidupan masyarakat atau sosial dan situasi negara yang menghasilkan hukum

tertulis itu.1

Beberapa tahun belakangan ini kasus euthanasia mulai bermunculan di

masyarakat Indonesia yang sebagian besar belum mengetahui sama sekali apa itu

euthanasia. Euthanasia merupakan budaya barat yang berasal dari luar Indonesia

yang dilihat dan dicoba untuk diterapkan di Indonesia.2 Namun secara sosiologis,

fakta menunjukkan bahwa walaupun euthanasia merupakan hal yang awam bagi

masyarakat Indonesia tetapi ada juga yang berkeinginan mengajukan

permohonan euthanasia tersebut ke Pengadilan Negeri dengan alasan bahwa

euthanasia merupakan jalan satu-satunya yang dapat ditempuh.

Kasus euthanasia pertama di Indonesia terjadi pada tahun 2004 di Rumah

Sakit Islam, Bogor. Data yang didapatkan dari Detik News menuliskan bahwa

1.

Burhan Ashofa, 2001, Metode Penelitian Hukum, Jakarta, Rineka Cipta, hlm 61 2.

Zamroni Abdussamad, Dosen Ilmu Hukum, Wawancara, 21 Oktober 2013

39

permohonan euthanasia tersebut diajukan oleh Panca Satrya Hasan Kusumo

selaku suami dari pasien Ny. Agian Isna Nauli Siregar (33 tahun) yang menderita

kerusakan saraf permanen di otak besar kanan dan kiri, otak kecil kanan dan kiri,

batang saraf dan pusat saraf di otak setelah menjalani perawatan pasca melahirkan

dan mengalami koma.3

Permohonan euthanasia ini diajukan oleh Hasan karena tidak mampu lagi

menyediakan dana untuk pengobatan dan perawatan istrinya juga merasa kasihan

melihat penderitaan yang dialami oleh sang istri dimana kondisi kesehatan sang

istri sudah tidak bisa pulih lagi. Hal inilah yang menjadi alasan Hasan untuk

mengajukan permohonan euthanasia aktif yaitu suntik mati kepada dokter yang

menangani istrinya agar penderitaan sang istri tidak berkepanjangan. Tetapi

permohonan suntik mati tersebut ditolak oleh dokter.

Kemudian pada tanggal 22 Oktober 2004 secara formal Hasan mengajukan

permohonan euthanasia terhadap istrinya ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.4

Pada hari itu juga Hasan meminta penetapan euthanasia kepada Menteri

Kesehatan. Tetapi, pihak Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menolak permohonan

tersebut karena dinilai menyalahi hukum. Atas permohonan tersebut diberikan

solusi oleh Menteri Kesehatan yang menjabat saat itu yakni Siti Fadillah Supari

bahwa untuk selanjutnya biaya perawatan dan pengobatan Ny. Agian akan

ditanggung oleh pemerintah. Hal ini dianggap sebagai jalan terbaik dari pada

3.

Suwarjono, Wawancara Suami Ny. Again : Pernah Minta Istri Disuntik Mati, Detik News

Online, http://news.detik.com/read/2004/09/07/092925/204040/10/pernah-minta-istri-disuntik-

mati?nd771104bcj, diakses tanggal 8 September 2013. 4.

Brian A. Prasetyo, Kompilasi Kasus Terkait Pelayanan Rumah Sakit : Sebuah Bahan Renungan

Untuk Reformasi Pelayanan Rumah Sakit, http://hadikurniawanapt.blogspot.com/2012/07/ka sus-dan-kode-etik-serta.html, diakses tanggal 8 September 2013.

http://news.detik.com/read/2004/09/07/092925/204040/10/pernah-minta-istri-disuntik-mati?nd771104bcjhttp://news.detik.com/read/2004/09/07/092925/204040/10/pernah-minta-istri-disuntik-mati?nd771104bcjhttp://hadikurniawanapt.blogspot.com/2012/07/kasus-dan-kode-etik-serta.html

40

melakukan suntik mati terhadap Ny. Again. Tanpa diduga pada tanggal 6 Januari

2005 Ny. Agian yang berbulan-bulan koma telah sadar kembali.

Beberapa bulan kemudian setelah kasus Ny. Again muncul kasus euthanasia

baru yang terjadi di Rumah Sakit Pasar Rebo, Jakarta Timur sesuai dengan data

yang didapat dari Bali Post, yaitu permohonan euthanasia yang diajukan oleh

Rudi Hartono terhadap istrinya Siti Zulaeha yang sudah tidak sadarkan diri selama

6 bulan pasca menjalani operasi caesar anak keduanya.5 Permohonan euthanasia

aktif atau suntik mati tersebut diajukan Rudi Hartono ke Pengadilan Negeri

Jakarta Pusat yang laporannya langsung diterima oleh Ketua Pengadilan Negeri

Jakarta Pusat I Made Karna. Alasan Rudi mengajukan permohonan suntik mati

tidak jauh berbeda dengan alasan Hasan pada kasus Ny. Again sebelumnya,

bahwa kondisi Siti Zulaeha saat itu dalam status vegetative state (kelumpuhan

total) dan tidak ada cara lain untuk melepaskan sang istri dari penderitaan itu

kecuali suntik mati seperti yang dituturkan Rudi kepada Ketua Pengadilan Negeri

Jakarta Pusat.6

Kasus euthanasia aktif yang lainnya yaitu terjadi pada tahun 2011 lalu

seperti yang telah disebutkan pada Sub Bab Latar Belakang di BAB I, yaitu

permohonan suntik mati (euthanasia aktif) oleh keluarga miskin Kardjali Karsoud

(69 tahun) berkaitan dengan sakit kanker payudara yang diderita istrinya, Samik

5.

Bali Post, Mohon Suntik Mati, Bali Post Online, http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/

2/22/n8.htm, diakses tanggal 8 September 2013 6.

Ibid.

http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005http://www.balipost.co.id/balipostcetak/2005/2/22/n8.htm

41

(52 tahun) di kota Surabaya tepatnya di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.7 Namun

permohonan euthanasia tersebut lagi-lagi tidak dikabulkan oleh Pengadilan.

Permintaan euthanasia memang pernah diajukan di Indonesia tetapi belum

pernah ditemukan kasus euthanasia di Gorontalo secara legal dan secara ilegal

atau dilakukan secara diam-diam publikasinya belum ada baik di Gorontalo

maupun di daerah lain.8 Pasien yang meminta untuk dieuthanasia memang banyak

tetapi untuk kasus pengajuan permohonan euthanasia yang dikabulkan belum ada.

Pengajuan permohonan euthanasia ini biasa diajukan pada kasus-kasus penyakit

tertentu salah satunya adalah pada kasus penderita penyakit kanker yang sudah

tidak bisa menahan penderitaannya, baik kelelahan psikis, tidak tahan terhadap

nyeri yang ditimbulkan oleh penyakit kanker tersebut dan juga kenyataan bahwa

hasil diagnosis dokter menyatakan penyakit kanker yang diderita tidak dapat

disembuhkan lagi karena sudah dalam stadium terminal yang jika diobati hanya

bisa memperbaiki kualitas hidup pasien. Rata-rata yang mengajukan permohonan

euthanasia adalah penderita kanker karena merasakan rasa sakit yang tidak dapat

ditolerir lagi oleh si penderita.9

Berdasarkan pernyataan dari dua dokter di atas maka dapat disimpulkan

bahwa permintaan euthanasia ada dan pernah terjadi di Indonesia sesuai dengan

beberapa kasus yang telah dipaparkan sebelumnya. Tetapi untuk Gorontalo belum

pernah ditemukan kasus euthanasia dan permohonan yang dikabulkan pun belum

7.

Joseph Henricus Gunawan, Euthanasia Vs. Etika, 8 September 2013,

http://budisansblog.blogspot.com/2012/01/euthanasia-vs-etika.html, (11.26). 8.

Dr. Muhamad Nur Syukriani Yusuf, Dokter, Wawancara, 17 Oktober 2013 9.

Dr. Sri Manovita Pateda, Dokter dan Dosen Kesehatan Masyarakat, Wawancara, 10 Oktober

2013

http://budisansblog.blogspot.com/2012/01/eutanasia-vs-etika.html

42

ada. Pengajuan permohonan euthanasia ini disebabkan oleh beberapa alasan yaitu

antara lain karena pasien tidak sanggup lagi menahan sakit yang ditimbulkan oleh

penyakit yang diderita serta kenyataan bahwa walaupun dilakukan perawatan dan

pengobatan penyakit tersebut tidak dapat disembuhkan lagi dan harapan pasien

untuk hidup sangat kecil.

Permohonan euhanasia belum pernah terjadi di Gorontalo sesuai dengan

pengalaman kerja Dr. Muhamad Nur Syukriani Yusuf dan Dr. Sri Manovita

Pateda bahwa kedua dokter tersebut belum pernah menangani kasus euthanasia

aktif. Dr. Muhamad menjelaskan bahwa selama menjadi dokter belum pernah ada

pasien yang mengajukan suntik mati atau euthanasia aktif. Jika ada pasien yang

mengajukan maka akan diberikan solusi lain selain suntik mati kepada pasien.

Solusi tersebut adalah memperbaiki kualitas hidup pasien walaupun tindakan

tersebut tidak dapat menyembuhkan sakit yang diderita oleh pasien. Caranya

antara lain dengan memberikan obat penghilang nyeri bagi penderita kanker atau

biasa disebut morfin, karena tugas seorang dokter untuk mengobati pasien dengan

tujuan untuk meringankan dan menyembuhkan penderitaan pasien dengan segala

usaha tanpa harus mematikan pasien dengan cara suntik amti atau euthanasia

aktif, sampai pasien tersebut sembuh atau mati karena sesuai dengan takdir yang

telah ditentukan oleh Allah SWT.10

Hal serupa juga dijelaskan oleh Dr. Novi bahwa selama menjadi dokter

belum pernah menangani