21
10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Lansia WHO memberikan definisi bahwa tua secara kronologis adalah seseorang yang telah berumur 65 tahun atau lebih, sedangkan tua secara psikologis seseorang yang elum berumur 65 tahun tetapi secara fisis sudah tampak seperti 65 tahun, misalnya karena stres emosional. Tua fisis adalah seseorang yang tampak tua karena menderita suatu penyakit kronik (Darmojo dan Martono, 2004). Usia lanjut ditandai dengan perubahan fisik dan psikologis tertentu. Efek-efek tersebut menentukan, sampai sejauh tertentu, apakah pria atau wanita usia lanjut akan melakukan penyesuaian diri secara baik atau buruk. Hurlock (2000) menyatakan ciri- ciri lansia antara lain : 1. Lansia merupakan periode kemunduran Kemunduran yang terjadi pada lansia berupa kemunduran fisik dan juga mental. Kemunduran tersebut sebagian datang dari faktor fisik dan sebagian lagi dari faktor psikologis. Penyebab kemunduran fisik merupakan suatu perubahan pada sel- sel tubuh bukan karena penyakit khusus tapi karena proses menua. Penyebab kemunduran psikologis karena sikap tidak senang terhadap diri sendiri, orang lain, pekerjaan, dan kehidupan pada umumnya. 10 Pebedaan Tingkat Insomnia..., Wahyu Setiyanigsih, Fak. Ilmu Kesehtan UMP, 2014

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Lansia - repository.ump.ac.idrepository.ump.ac.id/635/3/WAHYU BAB II.pdf · diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan

  • Upload
    dokhanh

  • View
    222

  • Download
    0

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Lansia - repository.ump.ac.idrepository.ump.ac.id/635/3/WAHYU BAB II.pdf · diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan

10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Lansia

WHO memberikan definisi bahwa tua secara kronologis adalah

seseorang yang telah berumur 65 tahun atau lebih, sedangkan tua secara

psikologis seseorang yang elum berumur 65 tahun tetapi secara fisis sudah

tampak seperti 65 tahun, misalnya karena stres emosional. Tua fisis adalah

seseorang yang tampak tua karena menderita suatu penyakit kronik

(Darmojo dan Martono, 2004).

Usia lanjut ditandai dengan perubahan fisik dan psikologis tertentu.

Efek-efek tersebut menentukan, sampai sejauh tertentu, apakah pria atau

wanita usia lanjut akan melakukan penyesuaian diri secara baik atau buruk.

Hurlock (2000) menyatakan ciri- ciri lansia antara lain :

1. Lansia merupakan periode kemunduran

Kemunduran yang terjadi pada lansia berupa kemunduran fisik

dan juga mental. Kemunduran tersebut sebagian datang dari faktor fisik

dan sebagian lagi dari faktor psikologis. Penyebab kemunduran fisik

merupakan suatu perubahan pada sel- sel tubuh bukan karena penyakit

khusus tapi karena proses menua. Penyebab kemunduran psikologis

karena sikap tidak senang terhadap diri sendiri, orang lain, pekerjaan,

dan kehidupan pada umumnya.

10 Pebedaan Tingkat Insomnia..., Wahyu Setiyanigsih, Fak. Ilmu Kesehtan UMP, 2014

Page 2: BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Lansia - repository.ump.ac.idrepository.ump.ac.id/635/3/WAHYU BAB II.pdf · diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan

11

2. Perbedaan individual pada efek menua

Individu menjadi tua secara berbeda karena mereka mempunyai

sifat bawaan yang berbeda, sosial ekonomi, dan latar belakang

pendidikan yang berbeda, serta pola hidup yang berbeda. Perbedaan

terlihat diantara individu-individu yang mempunyai jenis kelamin yang

sama, dan semakin nyata bila pria dibandingkan dengan wanita karena

menua terjadi dengan laju yang berbeda pada masing- masing jenis

kelamin yang sama, dan semakin nyata bila pria dibandingkan dengan

wanita karena menua terjadi dengan laju yang berbeda pada masing-

masing jenis kelamin.

3. Usia tua dinilai dengan kriteria yang berbeda

Arti usia itu sendiri tidak jelas serta tidak dapat dibatasi pada

anak muda, maka individu cenderung menilai tua itu dalam hal

penampilan dan kegiatan fisik.

4. Berbagai stereotipe lansia

Banyak stereotipe lansia dan banyak pula kepercayaan tradisional

tentang kemampuan fisik dan mental. Stereotipe dan kepercayaan

tradisional muncul dari berbagai sumber, ada yang menggambarkan

bahwa usia pada lansia sebagai usia yang tidak menyenangkan, diberi

tanda sebagai orang yang tidak menyenangkan oleh berbagai media

massa (Hurlock, 2000).

Pebedaan Tingkat Insomnia..., Wahyu Setiyanigsih, Fak. Ilmu Kesehtan UMP, 2014

Page 3: BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Lansia - repository.ump.ac.idrepository.ump.ac.id/635/3/WAHYU BAB II.pdf · diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan

12

5. Sikap sosial terhadap lansia

Ada pendapat tentang lansia mempunyai pengaruh besar terhadap

sikap sosial terhadap lansia. Kebanyakan pendapat tersebut tidak

menyenangkan, sehingga sikap sosial tampaknya cenderung menjadi

tidak menyenangkan.

B. Konsep Menua

1. Pengertian Menua

Menua (menjadi tua) adalah suatu proses menghilangnya

secara perlahan- lahan kemampuan jaringan untuk memperbaki

diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak

dapat bertahan terhadap infeksi dan memperbaiki kerusakan yang di

derita (Nugroho, 2008). Masa ini adalah masa penyesuaian diri atas

berkurangnya kekuatan dan kesehatan, menata kembali kehidupan,

masa pension dan penyesuaian diri dengan peran- peran sosial

(Santrock, 2006).

2. Tipe Lansia

Beberapa tipe pada lansia bergantung pada karakter,

pengalaman hidup, lingkungan, kondisi fisik, mental, sosial, dan

ekonominya (Nugroho, 2008). Tipe tersebut dapat dijabarkan sebagai

berikut.

Pebedaan Tingkat Insomnia..., Wahyu Setiyanigsih, Fak. Ilmu Kesehtan UMP, 2014

Page 4: BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Lansia - repository.ump.ac.idrepository.ump.ac.id/635/3/WAHYU BAB II.pdf · diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan

13

a. Tipe arif bijaksana

Kaya dengan hikmah, pengalaman, menyesuaikan diri dengan

perubahan zaman, mempunyai kesibukan, bersikap ramah, rendah

hati, sederhana, dermawan, memenuhi undangan, dan menjadi

panutan.

b. Tipe mandiri

Menggali kegiatan dengan tipe yang baru, selektif dalam mencari

pekerjaan, bergaul dengan teman, dan memenuhi undangan.

c. Tipe tidak puas

Konflik lahir batin menentang proses penuaan sehingga menjadi

pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung, sulit dilayani, pengkritik,

dan banyak menuntut.

d. Tipe pasrah

Menerima dan menunggu nasib baik, mengikuti kegiatan agama,

dan melakukan pekerjaan apa saja.

e. Tipe bingung

Kaget, kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, minder,

menyesal, pasif, dan acuh tak acuh.

Tipe lain dari lansia adalah tipe optimis, tipe konstruktif, tipe

dependen (kebergantungan), tipe defensif (bertahan), tipe militant

dan serius, tipe pemarah/ frustasi (kecewa akibat kegagalan dalam

melakukan sesuatu), serta tipe putus asa (benci pada diri sendiri).

Pebedaan Tingkat Insomnia..., Wahyu Setiyanigsih, Fak. Ilmu Kesehtan UMP, 2014

Page 5: BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Lansia - repository.ump.ac.idrepository.ump.ac.id/635/3/WAHYU BAB II.pdf · diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan

14

3. Teori-teori penuaan

Stanley (2002) menyatakan, ada beberapa teori yang

menjelaskan bagaimana dan mengapa penuaan bisa terjadi. Teori ini di

kelompokkan ke dalam dua kelompok besar, yaitu teori biologis dan

teori psikososial.

a. Teori biologis

Teori biologis yaitu teori yang mencoba untuk menjelaskan

proses fisik penuaan, termasuk perubahan fungsi dan struktur,

pengembangan, panjang usia dan kematian.

1) Teori genetika

Teori sebab akibat menjelaskan bahwa penuaan terutama

dipengaruhi oleh pembentukan gen dan dampak lingkungan pada

pembentukan kode genetik. Penuaan adalah suatu proses yang

secara tidak sadar di wariskan yang berjalan dari waktu ke waktu

mengubah sel atau struktur jaringan. Dengan kata lain, perubahan

rentang hidup dan panjang usia telah ditentukan sebelumnya

(Stanley, 2006).

2) Teori wear and tear

Teori wear and tear mengusulkan bahwa akumulasi sampah

metabolik atau zat nutrisi dapat merusak sintesis DNA, sehingga

mendorong malfungsi molekular dan akhirnya malfungsi organ

tubuh. Pendukung teori ini percaya bahwa tubuh akan mengalami

kerusakan berdasarkan suatu jadwal. Radikal bebas adalah

Pebedaan Tingkat Insomnia..., Wahyu Setiyanigsih, Fak. Ilmu Kesehtan UMP, 2014

Page 6: BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Lansia - repository.ump.ac.idrepository.ump.ac.id/635/3/WAHYU BAB II.pdf · diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan

15

molekul atau atom dengan suatu elektronyang tidak berpasangan.

Ini merupakan jenis yang sangat reaktif yang dihasilkan dari

reaksi selama metabolisme. Radikal bebas dengan cepat

dihancurkan oleh system enzim pelindung pada kondisi normal,

beberapa radikal bebas berhasil lolos dari proses perusakan ini

dan berakumulasi didalam struktur biologis yang penting, saat itu

kerusakan organ terjadi (Stanley, 2006).

3) Riwayat lingkungan

Menurut teori ini, faktor-faktor di dalam lingkungan

(misalnya karsinogen dari industri cahaya matahari, trauma dan

infeksi) dapat membawa perubahan dalam proses penuaan.

Walaupun faktor-faktor ini diketahui dapat mempercepat

penuaan, dampak dari lingkugan lebih merupakan dampak

sekunder dan bukan merupakan faktor utama dalam penuaan

(Stanley, 2006).

4) Teori imunitas

Teori imunitas merupakan suatu kemunduran dalam sistem

imun yang berhubungan dengan penuaan. Ketika oranng

bertambah tua, pertahanan mereka terhadap organisme asing

mengalami penurunan, sehingga mereka lebih rentan untuk

menderita berbagai penyakit seperti kanker dan infeksi. Seiring

dengan berkurangnya fungsi imun, terjadilah peningkatan dalam

respon autoimun tubuh (Stanley, 2006).

Pebedaan Tingkat Insomnia..., Wahyu Setiyanigsih, Fak. Ilmu Kesehtan UMP, 2014

Page 7: BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Lansia - repository.ump.ac.idrepository.ump.ac.id/635/3/WAHYU BAB II.pdf · diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan

16

b. Teori psikologis

Teori psikologis memusatkan perhatian pada perubahan sikap

dan perilaku yang menyertai peningkatan usia, sebagai lawan dari

implikasi biologi pada kerusakan anatomis. Perubahan sosiologis

dikombinasikan dengan perubahan psikologis.

1) Teori kepribadian

Kepribadian manusia adalah suatu wilayah pertumbuhan

yang subur dalam tahun-tahun akhir kehidupannya dan telah

merangsang penelitian yang pantas di pertimbangkan. Teori

kepribadian menyebutkan aspek-aspek pertumbuhan psikologis

tanpa menggambarkan harapan atau tugas spesifik lansia. Jung,

(2003) mengembangkan suatu teori pengembangan kepribadian

sebagai ekstrovert dan introvert. Ia berteori bahwa keseimbangan

antara kedua hal tersebut adalah penting bagi kesehatan.

2) Teori tugas perkembangan

Beberapa ahli teori terkenal sudah menguraikan tugas

maturasi dalam kaitannya dengan tugas yang harus di kuasai

pada berbagai tahap sepanjang rentang hidup manusia. Tugas

perkembangan adalah aktivitas dan tantangan yang harus di

penuhi oleh seseorang pada tahap-tahap spesifik dalam hidupnya

untuk mencapai penuaan yang sukses. Erickson menguraikan

tugas utama lansia adalah mampu melihat kehidupan seseorang

Pebedaan Tingkat Insomnia..., Wahyu Setiyanigsih, Fak. Ilmu Kesehtan UMP, 2014

Page 8: BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Lansia - repository.ump.ac.idrepository.ump.ac.id/635/3/WAHYU BAB II.pdf · diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan

17

sebagai kehidupan yang di jalani dengan integritas (Stanley,

2006).

3) Teori disengagement (teori pembebasan)

Yaitu suatu proses yang menggambarkan penarikan diri

oleh lansia dari peran bermasyarakat dan tanggung jawabnya.

Menurut ahli teori ini, proses penarikan diri ini dapat di prediksi,

sistematis, tidak dapat dihindari, dan penting untuk fungsi yang

tepat dari masyarakat yang sedang tumbuh.

Lansia dikatakan akan bahagia apabila kontak sosial telah

berkurang dan tanggung jawab telah diambil oleh generasi yang

lebih muda. Manfaat pengurangan kontak sosial bagi lansia

adalah agar ia dapat menyediakan waktu untuk merefleksikan

pencapaian hidupnya dan untuk menghadapi harapan yang tidak

terpenuhi, sedangkan manfaatnya bagi masyarakat adalah dalam

rangka memindahkan kekuasaan generasi tua kepada generasi

muda. Keadaan ini mengakibatkan interaksi sosial lansia

menurun, baik secara kualitas maupun kuantitas sehingga sering

terjadi kehilangan ganda (tripple loss), yakni (Stanley, 2006):

a) Kehilangan peran (loss of role)

b) Hambatan kontak sosial (restraction of contact and

relationship).

c) Berkurangnya komitmen (to sosial mores and values)

Pebedaan Tingkat Insomnia..., Wahyu Setiyanigsih, Fak. Ilmu Kesehtan UMP, 2014

Page 9: BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Lansia - repository.ump.ac.idrepository.ump.ac.id/635/3/WAHYU BAB II.pdf · diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan

18

4) Teori aktifitas

Lawan langsung dari teori pembebasan adalah teori

aktifitas penuaan, yang berpendapat bahwa jalan menuju penuaan

yang sukses adalah dengan cara tetap aktif. Hasil dari berbagai

penelitian memvalidasi hubungan positif antara mempertahan

interaksi yang penuh arti dengan orang lain dan kesejahteraan

fisik orang tersebut. Gagasan pemenuhan kebutuhan seseorang

harus seimbang dengan pentingnya perasaan dibutuhkan oleh

orang lain. Penelitian menunjukkan bahwa hilangnya fungsi

peran pada lansia secara negatif mempengaruhi kepuasan hidup.

Selain itu, penelitian terbaru menunjukkan pentingnya aktifitas

mental dan fisik yang berkesinambungan untuk mencegah

kehilangan dan pemeliharaan kesehatan sepanjang masa

kehidupan manusia (Stanley, 2006).

5) Teori kontinuitas

Teori kontinuitas, juga dikenal sebagai suatu teori

perkembangan. Teori ini menekankan pada kemampuan koping

individu sebelumnya dan kepribadian sebagai dasar untuk

memprediksi bagaimana seseorang akan dapat menyesuaikan diri

terhadap perubahan akibat penuaan. Orang yang menyukai

kesendirian dan memiliki jumlah aktivitas yang terbatas mungkin

akan menemukan kepuasan dalam melakukan gaya hidupnya ini.

Pebedaan Tingkat Insomnia..., Wahyu Setiyanigsih, Fak. Ilmu Kesehtan UMP, 2014

Page 10: BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Lansia - repository.ump.ac.idrepository.ump.ac.id/635/3/WAHYU BAB II.pdf · diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan

19

Ketika perubahan gaya hidup di bebankan pada lansia

oleh perubahan sosial-ekonomi atau faktor kesehatan,

permasalahan mumgkin akan timbul. Keluarga yang berhadapan

dengan keputusan yang sulit tentang perubahan pengaturan

tempat tinggal untuk seorang lansia sering memerlukan banyak

dukungan (Stanley, 2006).

4. Perubahan-Perubahan yang Terjadi Akibat Proses Menua

Hurlock (2000) menyatakan akibat perkembangan usia, lanjut

usia mengalami perubahan–perubahan yang menuntut dirinya untuk

menyesuaikan diri secara terus–menerus. Apabila proses penyesuaian

diri dengan lingkungannya kurang berhasil maka timbulah berbagai

masalah, antara lain :

a. Perubahan kondisi mental

Pada umumnya usia lanjut mengalami penurunan fungsi

kognitif dan psikomotor. Perubahan–perubahan mental ini erat

sekali kaitannya dengan perubahan fisik, keadaan kesehatan,

tingkatpendidikan atau pengetahuan serta situasi lingkungan. Dari

segi mental emosional sering muncul perasaan pesimis, timbulnya

perasaan tidak aman dan cemas, adanya kekacauan mental akut,

merasa terancam akan timbulnya suatu penyakit atau takut di

telantarkan karena tidak berguna lagi.

Pebedaan Tingkat Insomnia..., Wahyu Setiyanigsih, Fak. Ilmu Kesehtan UMP, 2014

Page 11: BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Lansia - repository.ump.ac.idrepository.ump.ac.id/635/3/WAHYU BAB II.pdf · diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan

20

b. Perubahan psikososial

Masalah–masalah ini serta reaksi individu terhadapnya

akan sangat beragam, tergantung kepada kepribadian invidu yang

bersangkutan. Pada saat ini orang yang telah menjalani

kehidupannya dengan bekerja mendadak diharapkan untuk

menyesuaikan dirinya dengan masa pensiun. Tetapi bagi banyak

pekerja pensiun berarti terputus dari lingkungan dan teman–teman

yang akrab dan disingkirkan untuk duduk–duduk dirumah dengan

begitu dapat menimbulkan perasaan kesepian akibat pengasingan

dari lingkungan sosial, kehilangan hubungan teman dan keluarga,

perubahan mendadak dalam kehidupan rutin dan membuat mereka

merasa kurang melakukan kegiatan yang berguna.

c. Perubahan kognitif

Perubahan pada fungsi kognitif diantaranya :

1) Kemundurun umumnya terjadi pada tugas–tugas yang

membutuhkan kecepatan dan tugas yang membutuhakan

memori jangka pendek.

2) Kemampuan intelektual tidak mengalami kemunduran.

3) Kemampuan verbal dalam bidang kosakata akan menetap bila

tidak ada penyakit.

d. Perubahan spiritual

1) Agama atau kepercayaan makin terintegrasi dalam

kehidupannya.

Pebedaan Tingkat Insomnia..., Wahyu Setiyanigsih, Fak. Ilmu Kesehtan UMP, 2014

Page 12: BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Lansia - repository.ump.ac.idrepository.ump.ac.id/635/3/WAHYU BAB II.pdf · diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan

21

2) Lanjut usia makin matur dalam kehidupan keagamaannya, hal

ini terlihat dalam berfikir dan bertindak dalam sehari – hari.

3) Perkembangan spiritual pada usia 70 tahun, perkembangan yang

dicapai pada tingkat ini adalah berfikir dan bertindak dengan

cara memberikan contoh cara mencintai dan keadilan.

C. Insomnia

Insomnia merupakan salah satu gangguan utama dalam memulai dan

mempertahankan tidur di kalangan lansia. Insomnia didefinisikan sebagai

suatu keluhan tentang kurangnya kualitas tidur yang disebabkan oleh satu

dari sulit memasuki tidur, sering terbangun malam kemudian kesulitan untuk

kembali tidur, bangun terlalu pagi, dan tidur yang tidak nyenyak (Joewana,

2005). Bila seseorang memiliki kualitas dan kuantitas tidur yang kurang,

dapat mengakibatkan masalah dalam keluarga dan perkawinan, karena

kurang tidur dapat membuat orang cepat marah dan lebih sulit dalam

bergaul. Bila tidur kurang lelap, maka tubuh akan merasa letih, lemah, dan

lesu pada saat bangun.

Insomnia sedikit banyak memberi dampak pada kualitas tidur,

sehingga menyebabkan tidur tidak berkualitas. Akibat yang dapat dirasakan

adalah menurunya kualitas hidup, produktivitas dan keselamatan serta

dapat mempengaruhi kualitas kerja. Kurang tidur, dapat pula mengakibatkan

masalah dalam keluarga dan perkawinan, karena kurang tidur dapat

membuat orang cepat marah dan lebih sulit dalam bergaul. Bila tidur

Pebedaan Tingkat Insomnia..., Wahyu Setiyanigsih, Fak. Ilmu Kesehtan UMP, 2014

Page 13: BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Lansia - repository.ump.ac.idrepository.ump.ac.id/635/3/WAHYU BAB II.pdf · diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan

22

kurang lelap, maka tubuh akan merasa letih, lemah, dan lesu pada saat

bangun (Sumedi, T. Wahyudi & Kuswati, A. 2010).

Insomnia yang terjadi pada lansia dapat terjadi karena kecemasan

dan depresi. Menurut Soedjono dan Setiadji (dalam Sustyani dkk, 2012)

menjelaskan pada tahun 2020 depresi akan menduduki peringkat teratas

penyakit yang dialami lanjut usia di negara berkembang termasuk Indonesia.

Gangguan depresi pada lansia kurang dipahami sehingga banyak kasus

depresi pada lanjut usia yang tidak dikenali (underdiagnosed) dan tidak

diobati (undertreated).

1. Tingkat Insomnia.

Insomnia dimasukkan dalam golongan Disorders of Iniating and

Maintaining Sleep (DIMS), menurut klasifikasi diagnostik dari World

Health Organization (WHO) pada tahun 1990 dalam (Putra, 2013), yang

secara praktis dikasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu insomnia

primer dan insomnia sekunder.

a. Insomnia primer

Insomnia primer, merupakan gangguan sulit tidur yang

penyebabnya belum diketahui secara pasti. Sehingga dengan

demikian pengobatannya masih relatif sukar dilakukan dan biasanya

berlangsung lama atau kronis (long term insomnia). Insomnia

primer ini sering menyebabkan terjadinya komplikasi kecemasan dan

depresi, yang justru dapat menyebabkan semakin parahnya gangguan

sulit tidur tersebut. Sebagian penderita golongan ini mempunyai

Pebedaan Tingkat Insomnia..., Wahyu Setiyanigsih, Fak. Ilmu Kesehtan UMP, 2014

Page 14: BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Lansia - repository.ump.ac.idrepository.ump.ac.id/635/3/WAHYU BAB II.pdf · diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan

23

dasar gangguan psikiatris, khususnya depresi ringan sampai

menengah berat. Adapun sebagian penderita lain merupakan pecandu

alkohol atau obat-obatan terlarang (narkotik). Kelompok yang

terakhir ini memerlukan penanganan yang khusus secara terpadu

mencakup perbaikan kondisi tidur (sleep environment), pengobatan,

dan terapi kejiwaan (psikoterapi).

b. Insomnia sekunder

Insomnia sekunder merupakan merupakan gangguan sulit

tidur yang penyebabnya dapat diketahui secara pasti. Gangguan

tersebut dapat berupa faktor gangguan sakit fisik, ataupun gangguan

kejiwaan (psikis). Pengobatan insomnia sekunder relatif lebih mudah

dilakukan terutama dengan menghilangkan penyebab utamanya

terlebih dahulu. Insomnia sekunder dapat dibedakan sebagai berikut :

1) Insomnia sementara (transient insomnia)

Insomnia sementara terjadi pada seseorang yang termasuk

dalam golongan dapat tidur normal, namun karena adanya stres

atau ketegangan sementara (misalnya karena adanya kebisingan

atau pindah tempat tidur), menjadi sulit tidur. Pada keadaan ini,

obat hipnotik, dapat digunakan ataupun tidak (tergantung pada

kemampuan adaptasi penderita terhadap lingkungan penyebab stres

atau ketegangan tersebut).

Pebedaan Tingkat Insomnia..., Wahyu Setiyanigsih, Fak. Ilmu Kesehtan UMP, 2014

Page 15: BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Lansia - repository.ump.ac.idrepository.ump.ac.id/635/3/WAHYU BAB II.pdf · diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan

24

2) Insomnia jangka pendek (short term insomnia)

Insomnia jangka pendek merupakan gangguan tidur yang

terjadi pada penderita sakit fisik (misalnya batuk, rematik, dan lain

sebagainya), atau mendapat stres situasional (misalnya kehilangan

atau kematian orang dekat, pindah pekerjaan, dan lain sebagainya).

Biasanya gangguan sulit tidur ini akan dapat sembuh beberapa saat

setelah terjadi adaptasi, pengobatan, ataupun perbaikan suasana

tidur. Dalam kondisi ini, pemakaian obat hipnotik dianjurkan

dengan pemberian tidak melebihi 3 minggu (paling baik diberikan

selama 1 minggu saja). Pemakaian obat secara berselang-seling

(intermittent), akan lebih aman, karena dapat menghindari

terjadinya efek sedasi yang timbul berkaitan dengan akumulasi

obat.

Berdasarkan dari teori yang dikemukakan oleh WHO dalam

Putra (2013) diatas, maka dapat dijabarkan lagi bahwa macam tingkat

insomnia tersebut dari yang paling ringan adalah sebagai berikut :

a. Insomnia transient (sementara), yaitu insomnia yang berlangsung

kurang dari seminggu.

b. Insomnia jangka pendek, yaitu kesulitan tidur yang berlangsung

selama 1-4 minggu.

c. Insomnia Kronis (Jangka Panjang), yaitu kesulitan tidur yang

berlangsung lebih dari sebulan.

Pebedaan Tingkat Insomnia..., Wahyu Setiyanigsih, Fak. Ilmu Kesehtan UMP, 2014

Page 16: BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Lansia - repository.ump.ac.idrepository.ump.ac.id/635/3/WAHYU BAB II.pdf · diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan

25

2. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Insomnia

Putra (2013) menyatakan jika diambil garis besarnya, faktor-

faktor penyebab insomnia yaitu :

a. Stres atau Kecemasan : seseorang yang didera kegelisahan yang

dalam, biasanya karena memikirkan permasalahan yang sedang

dihadapi.

b. Depresi : selain menyebakan insomnia, depresi juga bisa

menimbulkan keinginan untuk tidur terus sepanjang waktu, karena

ingin melepaskan diri dari masalah yang dihadapi. Depresi bisa

menyebabkan insomnia dan sebaliknya insomnia dapat

menyebabkan depresi.

c. Kelainan-kelainan kronis : Kelainan tidur (seperti tidur apnea),

diabetes, sakit ginjal, arthritis, atau penyakit yang mendadak

seringkali menyebabkan kesulitan tidur.

d. Efek samping pengobatan : Pengobatan untuk suatu penyakit juga

dapat menjadi penyebab insomnia.

e. Pola makan yang buruk : Mengkonsumsi makanan berat sesaat

sebelum pergi tidur bisa menyulitkan seseorang jatuh tidur.

f. Kafein, nikotin, dan alcohol : Kafein dan nikotin adalah zat stimulant

(penekan syaraf). Alkohol dapat mengacaukan pola tidur seseorang.

g. Kurang berolahraga : hal ini juga bisa menjadi factor sulit tidur yang

signifikan.

Pebedaan Tingkat Insomnia..., Wahyu Setiyanigsih, Fak. Ilmu Kesehtan UMP, 2014

Page 17: BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Lansia - repository.ump.ac.idrepository.ump.ac.id/635/3/WAHYU BAB II.pdf · diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan

26

Penyebab lainnya bisa berkaitan dengan kondisi-kondisi

spesifik, seperti :

a. Usia lanjut (insomnia lebih sering terjadi pada orang yang berusia di

atas 60 tahun).

b. Wanita hamil.

c. Riwayat depresi atau penurunan.

D. Senam Lansia

Senam adalah serangkaian gerak nada yang teratur dan terarah serta

terencana yang dilakukan secara tersendiri atau kelompok dengan maksud

meningkatkan kemampuan fungsional raga untuk mencapai tujuan tersebut.

Lansia adalah seseorang individu laki-laki dan perempuan yang berumur

antara 60-69 tahun. Jadi senam lansia adalah serangkaian gerak nada yang

teratur dan terarah serta terencana yang diikuti oleh orang lanjut usia yang

dilakukan dengan maksud meningkatkan kemampuan fungsional raga untuk

mencapai tujuan tersebut (Agustina, 2010).

Senam lansia merupakan salah satu alternatif yang positif untuk

membina kesehatan jasmani dan memelihara kebugaran. Menurut Depkes

(1999) (dalam Widyastuti dkk, 2011) senam lansia selain memiliki dampak

positif terhadap peningkatan fungsi organ tubuh juga berpengaruh dalam

meningkatkan imunitas dalam tubuh manusia setelah latihan teratur. Senam

lansia sendiri mempunyai banyak manfaat bagi lansia. Manfaat dari

aktivitas olahraga ini akan membantu tubuh tetap bugar dan segar karena

Pebedaan Tingkat Insomnia..., Wahyu Setiyanigsih, Fak. Ilmu Kesehtan UMP, 2014

Page 18: BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Lansia - repository.ump.ac.idrepository.ump.ac.id/635/3/WAHYU BAB II.pdf · diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan

27

melatih tulang tetap kuat, mendorong jantung bekerja optimal, dan

membantu menghilangkan radikal bebas yang ada di dalam tubuh.

Olah raga terbukti memperbaiki kualitas tidur pada lanjut usia.

Dengan berolah raga, diharapkan dapat tidur lebih cepat, lebih jarang

terbangun dan tidur lebih dalam. Salah satu jenis olahraga yang bisa

dilakukan pada lansia yaitu senam bugar lansia. Aktivitas olahraga ini

akan membantu tubuh tetap bugar dan segar karena melatih tulang

tetap kuat, mendorong jantung bekerja optimal, dan membantu

menghilangkan radikal bebas yang berkeliaran di dalam tubuh. Senam

bugar lansia disamping memiliki dampak positif terhadap peningkatan

fungsi organ tubuh juga berpengaruh dalam meningkatkan imunitas

dalam tubuh manusia setelah latihan teratur (Sumedi, T. Wahyudi &

Kuswati, A. 2010).

Komponen aktivitas dan kebugaran menurut Darmojo dan Martono

(2004) terdiri dari :

1. Keberdayagunaan-mandiri (self efficiency) adalah istilah untuk

menggambarkan rasa percaya atas keamanan dalam melakukan aktivitas.

Hal ini sangat berhubungan dengan ketidak tergantungan dalam aktivitas

sehari-hari. Dengan keberdayaan mandiri ini seorang lanjut usia

mempunyai keberanian dalam melakukan aktivitas.

2. Latihan Pertahanan (resistence training) keuntungan fungsional

ataslatihan pertahanan berhubungan dengan hasil yang didapat atas jenis

Pebedaan Tingkat Insomnia..., Wahyu Setiyanigsih, Fak. Ilmu Kesehtan UMP, 2014

Page 19: BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Lansia - repository.ump.ac.idrepository.ump.ac.id/635/3/WAHYU BAB II.pdf · diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan

28

latihan yang bertahan, antara lain mengenai kecepatan bergerak sendi,

luas lingkup gerak sendi (rangeof motion) dan jenis kekuatan.

3. Daya tahan (endurance) adalah kemampuan seseorang untuk melakukan

kerja dalam waktu yang relatif cukup lama. Pada lansia latihan daya

tahan atau kebugaran yang cukup keras akan meningkatkan kekuatan

yang didapat dari latihan bertahan.

4. Kelenturan (flexibility) pembatasan atas lingkup gerak sendi, banyak

terjadi pada lasia yang sering mengakibatkan kekuatan otot dan tendon

menurun. Oleh karena itu lantihan kelenturan sendi merupakan

komponen penting dari latihan atau olah raga bagi lanjut usia.

5. Keseimbangan - keseimbangan penyebab utama yang sering

mengakibatkan sering jatuh. Keseimbangan merupakan tanggapan morik

yang dihasilkan oleh berbagai faktor, diantaranya input sensorik dann

kekuatan otot. Penurunan keseimbangan pada lanjut usia bukan hanya

sebagai akibat menurunnya kekuatan otot atau penyakit yang diderita.

Penurunan keseimbangan bisa diperbaiki dengan berbagai latihan

keseimbangan. Latihan yang meliputi komponen keseimbangan akan

menurunkan insiden jatuh pada lansia.

Manfaat olah raga bagi lansia menurut Nugroho (1999) antara lain:

a. Memperlancar proses degenerasi karena perubahan usia

b. Meningkatkan kekuatan otot jantung sehingga memperkecil resiko

serangan jantung

Pebedaan Tingkat Insomnia..., Wahyu Setiyanigsih, Fak. Ilmu Kesehtan UMP, 2014

Page 20: BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Lansia - repository.ump.ac.idrepository.ump.ac.id/635/3/WAHYU BAB II.pdf · diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan

29

c. Melancarkan siklus darah dalam tubuh sehingga menurunkan tekanan

darah dan menghindari penyakit tekanan darah tinggi

d. Menurunkan kadar lemak dalam tubuh sehingga membantu mengurangi

berat badan berlebih dan terhindar dari obesitas

e. Menguatkan otot-otot tubuh sehingga otot tubuh menjadi lentur dan

terhindar dari penyakit reumatik

f. Meningkatkan sistem sistem kekebalan tubuh sehingga terhindar dari

penyakit-penyakit yang menyerang lansia.

g. Mengurangi stres dan ketegangan pikiran

h. Mempermudah untuk menyesuaikan kesehatan jasmani dalam kehidupan

i. Berfungsi melindungi, yaitu memperbaiki tenaga cadangan dalam

fungsinya terhadap bertambahnya tuntutan misalnya sakit.

Pebedaan Tingkat Insomnia..., Wahyu Setiyanigsih, Fak. Ilmu Kesehtan UMP, 2014

Page 21: BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Lansia - repository.ump.ac.idrepository.ump.ac.id/635/3/WAHYU BAB II.pdf · diri/mengganti dan mempertahankan fungsi normalnya sehingga tidak dapat bertahan

30

E. Kerangka Teori Penelitian

Sumber : Joewana (2005), Turana (2007)

Gambar 2.1 Kerangka Teori

F. Kerangka Konsep Penelitian

Gambar 2.2 Kerangka Konsep Penelitian

G. Hipotesis Penelitian

Hipotesis penelitian dalam penelitian ini penulis merumuskan dalam

hipotesis statistik (Ho dan Ha) sebagai berkut:

Ho : Tidak terdapat perbedaan tingkat insomnia antara lansia yang aktif

senam dan lansia yang tidak aktif senam di Desa Bobotsari

Kecamatan Bobotsari Kabupaten Purbalingga.

Ha : Terdapat perbedaan tingkat insomnia antara lansia yang aktif senam dan

lansia yang tidak aktif senam di Desa Bobotsari Kecamatan Bobotsari

Kabupaten Purbalingga.

Senam Lansia Tingkat insomnia

Faktor yang mempengaruhi: • Suara / bunyi • Suhu udara • Tinggi suatu daerah • Penggunaan obat-obatan • Penyakit jasmani

Insomnia Istirahat dan tidur

Aktivitas dan latihan lansia: • ROM • Senam

Pebedaan Tingkat Insomnia..., Wahyu Setiyanigsih, Fak. Ilmu Kesehtan UMP, 2014