of 65 /65
9 BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajar a. Pengertian Bahan Ajar Menurut Sanjaya (141:2008) bahan ajar adalah segala sesuatu yang menjadi isi kurikulum yang harus dikuasai oleh siswa sesuai dengan kompetensi dasar dalam rangka pencapaian standar kompetensi setiap mata pelajaran dalam satuan pendidikan tertentu. Menurut Winkel (330:2004) Bahan ajar adalah bahan yang digunakan untuk belajar dan yang membantu untuk mencapai tujuan instruksional. Demikian pula Menurut Hamalik (139:2002) Bahan Ajar merupakan bagian yang penting dalam proses belajar mengajar yang menempati kedudukan yang menentukan keberhasilan belajar mengajar yang berkaitan dengan ketercapaian tujuan pembelajaran serta menentukan kegiatan-kegiatan belajar mengajar. Karena itu bahan pengajaran perlu mendapat pertimbangan secara cermat. Bahan ajar atau Materi pembelajaran (instructional material) adalah pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai kompetensi yang telah ditentukan. Bahan ajar merupakan salah satu bagian penting dalam proses pembelajaran. Sebagaimana Mulyasa (2006:96) mengemukakan bahwa bahan ajar merupakan salah satu bagian dari sumber ajar yang dapat diartikan sesuatu yang mengandung pesan pembelajaran, baik yang 9 Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

  • Upload
    lydung

  • View
    219

  • Download
    0

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

9

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori

1. Bahan Ajar

a. Pengertian Bahan Ajar

Menurut Sanjaya (141:2008) bahan ajar adalah segala sesuatu yang menjadi

isi kurikulum yang harus dikuasai oleh siswa sesuai dengan kompetensi dasar

dalam rangka pencapaian standar kompetensi setiap mata pelajaran dalam satuan

pendidikan tertentu. Menurut Winkel (330:2004) Bahan ajar adalah bahan yang

digunakan untuk belajar dan yang membantu untuk mencapai tujuan instruksional.

Demikian pula Menurut Hamalik (139:2002) Bahan Ajar merupakan bagian yang

penting dalam proses belajar mengajar yang menempati kedudukan yang

menentukan keberhasilan belajar mengajar yang berkaitan dengan ketercapaian

tujuan pembelajaran serta menentukan kegiatan-kegiatan belajar mengajar.

Karena itu bahan pengajaran perlu mendapat pertimbangan secara cermat.

Bahan ajar atau Materi pembelajaran (instructional material) adalah

pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka

mencapai kompetensi yang telah ditentukan. Bahan ajar merupakan salah satu

bagian penting dalam proses pembelajaran. Sebagaimana Mulyasa (2006:96)

mengemukakan bahwa bahan ajar merupakan salah satu bagian dari sumber ajar

yang dapat diartikan sesuatu yang mengandung pesan pembelajaran, baik yang

9

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 2: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

10

bersifat khusus maupun yang bersifat umum yang dapat dimanfaatkan untuk

kepentingan pembelajaran.

Dick, Carey, dan Carey (2009:230) menambahkan bahwa:

“instructional material contain the conten either written, mediated, or facilitated by an instructor that a student as use to achieve the objective also include information thet the learners will use to guide the progress”. Berdasarkan ungkapan Dick, Carey, dan Carey dapat diketahui bahwa bahan ajar

berisi konten yang perlu dipelajari oleh siswa baik berbentuk cetak atau yang

difasilitasi oleh pengajar untuk mencapai tujuan tertentu.

Berdasarkan kajian di atas, istilah bahan ajar yang digunakan dalam

penelitian ini adalah suatu bahan/ materi pelajaran yang disusun secara sistematis

yang digunakan guru dan siswa dalam pembelajaran bahasa Indonesia di SMP

untuk mencapai tujuan yang diharapkan.

b. Karakteristik Bahan Ajar

Ada beberapa karakteristik bahan ajar, antara lain yaitu :

1) Harus mampu membelajarkan sendiri para siswa (self instructional) artinya

bahan ajar mempunyai kemampuan menjelaskan yang sejelas-jelasnya untuk

membantu siswa dalam proses pembelajaran, baik dalam bimbingan guru

maupun secara mandiri;

2) Bersifat lengkap (self contained), artinya memuat hal-hal yang sangat

diperlukan dalam proses pembelajaran. Hal-hal tersebut adalah tujuan

pembelajaran/kompetensi prasyarat yaitu materi-materi pelajaran yang

mendukung atau perlu dipelajari terlebih dahulu sebelumnya, prosedur

pembelajaran, materi pembelajaran yang tersusun sistematis, latihan atau tugas-

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 3: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

11

tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut yang harus

dikerjakan oleh siswa;

3) Mampu membelajarkan peserta didik (self instruction material) artinya dalam

bahan pelajaran cetak harus mampu memicu siswa untuk aktif dalam proses

belajarnya bahkan membelajarkan siswa untuk dapat menilai kemampuan

belajarnya sendiri;

4) Mampu menunjang motivasi siswa antara lain karena relevan dengan

pengalaman hidup sehari-hari;

5) Mampu membantu untuk melibatkan diri secara aktif, baik dengan berpikir

sendiri maupun dengan melakukan berbagai kegiatan.

c. Jenis-Jenis Bahan Ajar

Secara umum bahan ajar dapat dibedakan ke dalam bahan ajar cetak dan

noncetak. Bahan ajar cetak dapat berupa, handout, buku, modul, brosur, dan

lembar kerja siswa. Sedangkan bahan ajar non cetak meliputi, bahan ajar audio

seperti, kaset, radio, piringan hitam, dan compact disc audio. Bahan ajar audio

visual seperti, CAI (Computer Assisted Instruction), dan bahan ajar berbasis web

(web based learning materials) ( Lestari, 2013:5). Lebih lanjut Mulyasa (2006:96)

menambahkan bahwa bentuk bahan ajar atau materi pembelajaran antara lain

adalah bahan cetak (hand out, buku, modul, LKS, brosur, dan leaflet), audio

(radio, kaset, cd audio), visual (foto atau gambar), audio visual (seperti; video/

film atau VCD) dan multi media (seperti : CD interaktif; computer based; dan

internet). 16 Bahan ajar yang dimaksud dalam kajian ini lebih ke bahan ajar cetak

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 4: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

12

berupa buku teks. Hal ini dikarenakan, buku teks sangat erat kaitannya dengan

kurikulum, silabus, standard kompetensi, dan kompetensi dasar.

Susilana (2007:14) mengungkapkan bahwa buku teks adalah buku tentang

suatu bidang studi atau ilmu tertentu yang disusun untuk memudahkan para guru

dan siswa dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran. Buku teks mempunyai

peran penting dalam pencapaian tujuan pendidikan nasional. Hutchinson & Torres

dalam Litz, (2012:5) mengungkapkan bahwa :

“The textbook is an almost universal element of [English language] teaching. Millions of copies are sold every year, and numerous aid projects have been set up to produce them in [various] countries…No teaching-learning situation, it seems, is complete until it has its relevant textbook”.

Buku teks merupakan salah satu unsur yang dibutuhkan dalam pengajaran.

Buku teks dapat juga menjadi wadah untuk menuliskan ide-ide terkait kebudayaan

nasional suatu bangsa. Sebagaimana yang diungkapkan Pingel (2009:7) bahwa:

“Textbooks are one of the most important educational inputs: texts reflect basic ideas about a national culture, and are often a flashpoint of cultural struggle and controversy”.

d. Fungsi Bahan Ajar

Secara garis besar, bahan ajar memiliki fungsi yang berbeda baik untuk guru

maupun siswa. Adapun fungsi bahan ajar untuk guru yaitu;

1) untuk mengarahkan semua aktivitas guru dalam proses pembelajaran sekaligus

merupakan subtansi kompetensi yang seharusnya diajarkan kepada siswa; dan

2) sebagai alat evaluasi pencapaian hasil pembelajaran. Dalam bahan ajar akan

selalu dilengkapi dengan sebuah evaluasi guna mengukur penguasaan

kompetensi per tujuan pembelajaran.

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 5: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

13

Sedangkan fungsi bahan ajar bagi siswa yakni, sebagai pedoman dalam

proses pembelajaran dan merupakan subtansi kompetensi yang harus dipelajari.

Adanya bahan ajar siswa akan lebih tahu kompetensi apa saja yang harus dikuasai

selama program pembelajaran berlangsung. Siswa jadi memiliki gambaran

skenario pembelajaran lewat bahan ajar.

2. Pengertian Modul

Modul adalah sebuah bahan ajar yang disusun secara sistematis dengan

bahasa yang mudah dipahami oleh peserta didik sesuai tingkat pengetahuan dan

usia mereka, agar mereka dapat belajar sendiri (mandiri) dengan bantuan atau

bimbingan yang minimal (Prastowo, 2014:106).

Dalam buku Pedoman Umum Pengembangan Bahan Ajar (DEPDIKNAS,

2004) modul diartikan sebuah buku yang ditulis dengan tujuan agar peserta didik

dapat belajar secara mandiri tanpa atau dengan bimbingan guru.

Ismawati (2012:141) mengartikan modul adalah materi pelajaran yang

disusun dan disajikan secara tertulis sedemikian rupa sehingga pembacanya

(siswa) diharapkan dapat menyerap sendiri materi di dalaamnya, tanpa atau

sesedikit mungkin membutuhkan bantuan orang lain.

Berbagai definisi modul, dapat disimpulkan bahwa modul merupakan bahan

ajar terprogram yang disusun secara sistematis, dan terperinci, serta menarik

dengan tujuan siswa mudah memahami materi ajar dengan bantuan atau

bimbingan yang minimal, bahkan tanpa guru.

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 6: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

14

a. Karakteristik Modul

Modul merupakan salah satu bentuk bahan ajar yang dikemas secara utuh dan

sistematis yang di dalamnya memuat seperangkat pengalaman belajar yang

terencana dan didesain untuk membantu peserta didik menguasai tujuan belajar

yang spesifik. Karakteristik yang diperlukan oleh sebuah modul (DIKMENJUR,

2004) antara lain :

1) Self Instruction

Karakter modul yang self instruction memungkinkan seseorang belajar secara

mandiri dan tidak tergantung pada pihak lain.

a) Memuat tujuan pembelajaran yang jelas dan dapat menggambarkan

pencapaian standar kompetensi serta kompetensi dasar.

b) Memuat materi pembelajaran yang dikemas dalam unit-unit kegiatan yang

kecil (spesifik) sehingga memudahkan dipelajari secara tuntas.

c) Tersedia contoh dan ilustrasi yang mendukung kejelasan pemaparan materi

pembelajaran.

d) Terdapat soal-soal latihan, tugas, dan sejenisnya yang memungkinkan untuk

mengukur penguasaan peserta didik.

e) Kontekstual, yaitu materi yang disajikan terkait dengan suasana, tugas atau

konteks kegiatan dan lingkungan peserta didik.

f) Menggunakan bahasa yang sederhana dan komunikatif.

g) Terdapat rangkuman materi pembelajaran.

h) Terdapat instrumen penilaian yang memungkinkan peserta didik melakukan

penilaian mandiri (self assessment).

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 7: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

15

i) Terdapat umpan balik atas penilaian peserta didik, sehingga peserta didik

mengetahui tingkat penguasaan materi.

2) Self Contained

Modul dikatakan self contained bila seluruh materi pembelajaran yang

dibutuhkan termuat dalam modul tersebut. Tujuan dari konsep ini adalah

memberikan kesempatan peserta didik mempelajari materi pembelajaran secara

tuntas karena materi belajar dikemas ke dalam satu kesatuan yang utuh.

3) Stand Alone

Stand alone atau berdiri sendiri merupakan karakteristik modul yang tidak

tergantung pada bahan ajar/media lain, atau tidak harus digunakan bersama-

sama dengan bahan ajar/media lain. Dengan menggunakan modul, peserta

didik tidak perlu bahan ajar yang lain untuk mempelajari dan atau mengerjakan

tugas pada modul tersebut. Jika peserta didik masih menggunakan dan

bergantung pada bahan ajar lain selain modul yang digunakan, maka bahan ajar

tersebut tidak dikategorikan sebagai modul yang berdiri sendiri.

4) Adaptive

Modul dikatakan adaptive jika modul tersebut dapat menyesuaikan

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta fleksibel/luwes

digunakan di berbagai perangkat keras (hardware).

5) User Friendly

Modul hendaknya juga memenuhi kaidah user friendly atau bersahabat akrab

dengan pemakainya. Setiap instruksi dan paparan informasi yang tampil

bersifat membantu dan bersahabat dengan pemakainya, termasuk kemudahan

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 8: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

16

pemakai dalam merespon dan mengakses sesuai dengan keinginan.

Penggunaan bahasa yang sederhana, mudah dimengerti, serta menggunakan

istilah yang umum digunakan, merupakan beberapa bentuk user friendly.

b. Komponen-komponen modul untuk menghasilkan modul pembelajaran yang

mampu memerankan fungsi dan perannya dalam pembelajaran yang efektif,

maka modul harus berkualitas. Kualitas modul dinilai dari empat aspek, yaitu:

aspek-aspek yang didasarkan pada standar penilaian bahan ajar oleh Badan

Standar Nasional Pendidikan (2006) yang antara lain adalah aspek kelayakan

isi, kelayakan bahasa, kelayakan penyajian dan kelayakan kegrafikaan.

1) Aspek kelayakan isi aspek kelayakan isi mencakup :

a) kesesuaian uraian materi dengan SK dan KD;

b) keakuratan materi;

c) kemutakhiran materi;

d) mendorong keingintahuan.

2) Aspek kelayakan bahasa aspek kelayakan bahasa mencakup :

a) lugas;

b) komunikatif;

c) dialogis dan interaktif;

d) kesesuaian dengan perkembangan peserta didik;

3) Aspek kelayakan penyajian aspek kelayakan penyajian mencakup :

a) teknik penyajian;

b) pendukung penyajian;

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 9: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

17

c) penyajian pembelajaran;

d) koherensi dan keruntutan alur pikir;

4) Aspek kelayakan kegrafikaan aspek kelayakan kegrafikaan mencakup :

a) ukuran modul;

b) desain kulit modul;

c) desain isi modul empat aspek kelayakan tersebut, kemudian dijadikan dasar

para ahli untuk menilai modul; aspek kelayakan isi dan penyajian dinilai

oleh ahli materi; aspek kelayakan bahasa dinilai oleh ahli bahasa; sedangkan

aspek kelayakan kegrafikaan akan dinilai oleh ahli desain modul.

Hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan modul adalah penyusunan

struktur atau kerangka modul. DEPDIKNAS (2008) menyebutkan bahwa modul

berisi paling tidak :

a) petunjuk belajar (petunjuk siswa/guru),

b) kompetensi yang akan dicapai;

c) content atau isi materi;

d) informasi pendukung;

e) latihan-latihan;

f) petunjuk kerja, dapat berupa lembar kerja (LK);

g) evaluasi;

h) balikan terhadap evaluasi.

Dengan demikian sebuah modul dapat dikatakan baik secara sistematis jika

disusun dengan memperhatikan langkah-langkah penyusunan modul seperti yang

dijelaskan di atas.

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 10: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

18

3. Drama

a. Pengertian Drama

Drama berasal dari bahasa Yunani draomai yang berarti berbuat, berlaku,

bertindak, atau beraksi. Drama berarti perbuatan, tindakan, beraksi, atau action

(Waluyo, 2001:2). Menurut Ferdinant Brunetierre, drama haruslah melahirkan

kehendak manusia dengan action. Menurut Belthazar Vertagen, drama adalah

kesenian melukiskan sifat dan sikap manusia dengan gerak (Harymawan, 1993:1).

Drama merupakan tiruan kehidupan manusia yang diproyeksikan di atas pentas

(Waluyo, 2001:1). Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa

drama adalah sebuah rangkaian cerita yang berisi konflik manusia, berbentuk

dialog, yang diekspresikan melalui pentas dpertunjukan dengan menggunakan

percakapan dan action dihadapan para penonton.

Dewasa ini pengertian drama sering disamkaan dengan teater. Menurut

santoso dalam Suwarni (2003:10) teater adalah istilah lain dari drama, tetapi

mempunyai arti yang lebih luas dari pada drama yaitu merupakan proses dari

pementasan yang meliputi proses pemilihan naskah, penafsiran, penggarapan,

penyajian atau pementasan, dan proses pemahaman dan penikmatan publik.

Drama belum mencapai kesempurnaan apabila belum ke tahap teater dalam

bentuk pementasan sebagai perwujudanya.

Drama mempunyai arti yang sangat luas. Perkataan ”drama” berasal dari

bahaswa Yunani ”draomai” yang berarti berbuat, berlaku, bertindak, atau beraksi.

Drama berarti perbuatan tindakan atau reaksi. Drama berarti perbuatan tindakan

action (Waluyo 2002:2). Berbagai macam pendapat para pakar, ahli, maupun

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 11: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

19

ilmuan mengenai pengertian drama yang meninjau dari berbagai sudut pandang

yang berbeda. Pemikiran dan temuan itu menghasilkan beragam simpulan tentang

pengertian drama, yang pada hakikatnya adalah saling melengkapi pendapat satu

sama lain. Dalam Dictiobary of World Literature, drama berarti segala

pertunjukan yang memakai mimik (any kind of mimetic performance). Dalam

pemakaian sehari-hari arti drama sangatlah luas sekali, pengertian yang timbul

dari kata ”drama” terutama ialah: pertunjukan, dan adanya lakon yang dibawakan

dalam pertunjukan itu (Purwanto 1968:51).

Menurut Waluyo (2002:1) drama merupakan tiruan kehidupan manusia yang

diproyeksikan di atas pentas. Melihat drama, penonton seolah melihat kejadian

dalam masyarakat. Kadang-kadang konflik yang disajikan dalam drama sama

dengan konflik batin mereka sendiri. Drama adalah potret kehidupan manusia

potret suka duka, pahit manis, hitam putih kehidupan manusia. Menurut

Suharianto (2005:58) drama semula berasal dari Yunani yang berarti perbuatan

atau pertunjukan. Berbeda sekali dari Suharianto, Wiyanto (2005:126) yang

memandang drama dari seni sastra, berpendapat bahwa drama jika dipandang dari

seni sastra merupakan naskah drama karya sastrawan yang kebanyakan berupa

percakapan, yaitu percakapan antar pelaku. Hal ini berbeda sekali dengan

pendadapat-pendapat yang sudah terdahulu.

Pengertian drama yang sudah dikenal selama ini hanya diarahkan kepada

dimensi seni pertunjukan atau seni lakon, ternyata memberikan citra yang kurang

baik terhadap drama, khususnya bagi masyarakat Indonesia. Konsepsi drama

adalah peniruan atau tindakan yang tidak sebenarnya, berpura-pura diatas pentas,

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 12: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

20

menghasilkan idiom-idiom yang menunjukkan bahwa drama bukanlah dianggap

”serius dan berwibawa” (Hasanuddin 1996:3). Adapun jenis drama dapat di

golongkan dari berbagai macam tinjauan para ahli maupun sastrawan. Sama

halnya dengan pengertian drama diatas, beberapa tinjauan mengenai jenis drama

bersifat saling melengkapi satu sama lain. Jenis drama dapat dikategorikan

menjadi dua jenis, yaitu drama senagai sastra (naskah drama) dan drama sebagai

tontonan (drama pentas).

Bentuk karya sastra drama dapat dipandang sebagai seni sastra, namun juga

dapat dipandang sebagai seni tersendiri, yaitu seni drama. Yang dimaksud drama

dalam seni sastra tidak lain adalah naskah drama karya sastrawan, yang umumnya

berupa percakapan, yakni percakapan antar pelaku (Wiyanto 2005:126-127).

Selain percakapan para pelaku, naskah drama juga berisi penjelasan mengenai

gerak-gerik dan tindakan yang dilaksanakan oleh pelaku. Naskah drama juga

dibangun oleh struktur fisik (kebahasaan) dan struktur batin (semantik, makna).

Wujud fisik sebuah naskah drama adalah dialog atau ragam tutur (Waluyo

2003:6).

Dalam kehidupan sekarang, drama mengandung arti yang lebih luas ditinjau

apakah drama sebagai salah satu jenis sastra atau drama sebagai sebuah kesenian

yang mandiri. Naskah drama merupakan salah satu jenis sastra yang disejajarkan

dengan puisi dan prosa, sedangkan pementasan drama adalah salah satu jenis

kesenian mandiri yang merupakan integrasi antara berbagai jenis kesenian seperti

musik, tata lampu, seni lukis (dekorasi dan panggung), seni kostum, seni rias, seni

tari, dan lain sebagainya.

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 13: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

21

Dalam kaitannya dengan pendidikan watak, drama juga dapat membantu

mengembangkan nilai-nilai yang ada dalam diri peserta didik, memeperkenalkan

kehidupan manusia dari kebahagiaan, keberhasilan, kepuasan, kegembiraan, cinta,

kesakitan, keputusasaan, acuh tak acuh, benci dan kematian. Drama juga dapat

memberikan sumbangan pada pengembangan kepribadian yang kompleks,

misalnya ketegaran hati, imajinasi, dan kreativitas (Endraswara, 2005:192).

b. Klasifikasi Drama

Klasifikasi drama dapat digolongkan dari berbagai tinjauan. Sama halnya

dengan pengertian drama, beberapa tinjauan tentang klasifikasi drama bersifat

saling melengkapi. Pembahasan tentang bermain drama dalam Kurikulum Tingkat

Satuan Pendidikan SMP merancukan antara drama naskah dan drama pentas.

Menurut Waluyo (2003:2) drama naskah disebut juga sastra lakon. Drama naskah

dibangun oleh struktur fisik (kebahasaan) dan struktur batin (semantik, makna).

Wujud fisik sebuah naskah drama adalah dialog atau ragam tutur. Drama pentas

adalah kesenian mandiri, yang merupakan integrasi antara berbagai jenis kesenian

seperti musik, tata lampu, seni lukis (dekor, panggung, seni kostum, seni rias, dan

sebagainya). Klasifikasi drama didasarkan atas jenis streotip manusia dan

tanggapan manusia terhadap hidup dan kehidupan. Menurut Waluyo (2003:38)

berbagai jenis drama dapat diklasifikasikan menjadi empat jenis, yaitu sebagai

berikut.

1) Tragedi (Drama Duka atau Duka Cerita)

Tragedi atau drama duka adalah drama yang melukiskan kisah sedih yang

besar dan agung. Tokoh-tokohnya terlibat dalam bencana yang besar. Dengan

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 14: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

22

kisah tentang bencana ini, penulis naskah mengharapkan agar penontonnya

memandang kehidupan secara optimis. Pengarang secara bervariasi ingin

melukiskan keyakinannya tentang ketidaksempurnaan manusia. Cerita yang

dilukiskan romantis atau idealistis, sebab itu lakon yang dilukiskan seringkali

mengungkapkan kekecewaan hidup karena pengarang mengharapkan sesuatu

yang sempurna.

2) Melodrama

Melodrama adalah lakon yang sangat sentimental, dengan tokoh dan cerita

yang mendebarkan hati dan mengharukan. Alur dan penokohan seringkali

dilebih-lebihkan sehingga kurang meyakinkan penonton.

3) Komedi (Drama Ria)

Komedi adalah drama ringan yang sifatnya menghibur dan di dalamnya

terdapat dialog kocak yang bersifat menyindir dan biasanya berakhir dengan

kebahagiaan. Lelucon bukan tujuan utama dalam komedi, tetapi drama ini

bersifat humor dan pengarangnya berharap akan menimbulkan kelucuan atau

tawa riang.

4) Dagelan (Farce)

Dagelan disebut juga banyolan. Dagelan adalah drama kocak dan ringan, tidak

berdasarkan perkembangan struktur dramatik dan perkembangan cerita sang

tokoh. Isi cerita dagelan biasanya kasar, lentur, dan vulgar. Alurnya longgar

dan struktur dramatiknya bersifat lemah.

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 15: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

23

c. Drama sebagai Sastra (Naskah Drama)

Seni sastra (naskah drama) akan menjadi seni drama (tontonan drama) jika

naskah tersebut dimainkan. Tontonan drama amat unik, karena bukan hanya

melibatkan aktor saja, melainkan melibatkan berbagai seniman. Sedangkan

gedung pementasan drama sebenarnya tempat berkumpulnya para seniman:

sastrawan, aktor, komponis, pelukis, dan lain-lain (Wiyanto 2005:129). Para

seniman itu bekerjasama sesuai dengan bidangnya masing-masing untuk

mewujudkan seni drama yang akan dinikmati keindahanya oleh penonton. Selain

melibatkan banyak seniman, tontonan drama juga mengandung banyak unsur-

unsur yang tidak dapat dipisahkan dari keutuhan pementasan drama.

Beragam pendapat menurut sastrawan menyebutkan seni pentas dalam

kesastraan di Indonesia bermacam-macam. Diantaranya adalah seni drama

(tontonan drama), teater, bermain drama, bahkan bermain drama. Kesemua ini

memiliki maksud dan tujuan yang sama. Pertunjukkan atau tontonan tersebut

dalam realitanya memiliki unsur yang mendukung secara bersama-sama.

Kesamaan tersebut dapat dilihat dari unsur-unsur yang terdapat didalamnya

seperti adanya; teks atau naskah yang dipentaskan, laku pentas dengan sarana

pendukungnya, dan adanya penonton. Kesemuannya itu menjawab kesamaan

istilah atau nama dalam menyebutkan suatu seni pertunjukkan (seni pentas) adalah

sama maksud dan sama arti.

d. Unsur-Unsur Pembangun Drama Pentas

Adapun unsur-unsur pembangun drama dalam sebuah pagelaran drama/teater

yang penting dan berkorelasi. Penjabaran teori unsur-unsur yang terdapat dalam

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 16: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

24

pementasan drama menurut para dramawan sangat luas sekali. Dalam hal ini

Suharianto (2005:59) menggolongkan ada empat unsur pembangun drama sebagai

berikut.

1) Tata Pentas dan Dekorasi

Tata pentas atau dekorasi dalarn pertunjukkan drama biasanya disesuaikan

dengan kebutuhan penonton dan lakonya untuk memberikan kenyamanan

penonton dan juga dapat membantu memudahkan pengimajinasian seorang

aktor sekalipun.

2) Lakon atau Cerita

Lakon atau cerita merupakan unsur yang esensial dalam sebuah drama.

Berangkat dari lakon/cerita inilah para pelaku menampilkan diri di depan

penonton, baik dengan geraknya (acting) maupun lawan katanya (dialog).

Selanjutnya dari perpaduan antara lakon, gerak dan lawan katanya itulah kita

sebagai penikmatnya dapat menyaksikan sebuah drama.

Dalam sebuah drama, secara struktural lakon atau cerita terdiri atas lima

bagian, yaitu: 1) pemaparan atau eksposisi → penjelasan situasi awal suatu

cerita; 2) pengawatan atau kompilasi → bagian yang menunjukkan konflik

yang sebenarnya; 3) puncak atau klimaks → puncak ketegangan cerita, titik

perselisihan tertinggi protagonis dan antagonis; 4) peleraian atau anti klimaks

→ bagian pengarang mengetengahkan pemecahan konflik; dan 5) penyelesaian

atau kongkulasi → bagian cerita yang berfungsi mengembalikan lakon pada

kondisi awal (Suharianto, 2005:59).

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 17: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

25

3) Pemain

Pemain atau pemeran adalah orang-orang yang harus menerjemahkan dan

sekaligus menghidupkan setiap kata dari sebuah naskah drama. Pemain

berfungsi sebagai alat pernyataan watak dan penunjang tumbuhnya alur cerita.

Dalam pengertian yang lebih luas, termasuk pemain adalah setiap orang yang

terlibat dalam sebuah pagelaran, misalnya sutradara, aktor/ aktris, dan staf

artistik (Suharianto, 2005:61).

Pemain (aktor) bertugas menghafalkan percakapan yang tertulis dalam naskah

drama. Seorang aktor juga harus menafsirkan watak tokoh yang diperankan,

seraya mencoba memeragakan gerak-geriknya. Pemain atau aktor harus

berlatih berulang-ulang supaya peragaan yang dibawakanya benar-benar sesuai

dengan yang dikehendaki naskah drama.

4) Tempat

Tempat dalam drama adalah gedung, lapangan, atau arena lain yang

dipergunakan sebagai tempat pertunjukan. Dalam hal ini, tempat tidak hanya

dibutuhkan oleh para pemain, namun juga oleh para menonton. Oleh karena

itu, tempat yang memenuhi syarat akan sangat mendukung terjadinya sebuah

pagelaran yang baik (Suharianto, 2005:62).

5) Penonton atau Publik

Penonton atau publik adalah bagian yang sempurna, lengkap di dalam sebuah

pagelaran drama pertunjukan dengan lakon itu sendiri. Sebab, tanpa adanya

penonton tidak pernah akan ada drama dalam arti yang sesungguhnya. Banyak

sedikitnya penonton menjadi sebuah ukuran keberhasilan pertunjukan drama.

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 18: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

26

Jika penonton merasa puas, maka pertunjukan drama tersebut bisa diartikan

sukses besar. Sebaliknya, bila penontonya sedikit dan umumnya penonton

kecewa dengan pertunjukan yang di pentaskan, maka pertunujukan itu dapat

dikategorikan gagal total.

Menurut Suharianto (1982:62) pagelaran drama pada hakikatnya adalah sebuah

proses berkomunikasi antara peneliti naskah (sebagai komunikator), penonton/

publik/audience (sebagai komunikan), dan pemain (sebagai mediator). Dengan

demikian, unsur penonton merupakan unsur yang sangat penting

keberadaannya, agar proses berkomunikasi dapat berlangsung sempurna.

Proses berkomunikasi yang interaktif membutuhkan komunikan (penonton)

yang aktif. Dengan demikian, penonton drama yang baik adalah penonton yang

aktif dan bisa bersikap apresiasi yang positif.

6) Tata Rias dan Busana

Untuk menciptakan peran sesuai dengan tuntutan lakon yang akan dibawakan,

tata rias atau seni menggunakan kosmetik sangatlah diperlukan. Adapun fungsi

pokok rias adalah untuk membantu seorang tokoh dalam mengubah watak baik

dari segi fisik, psikis, dan sosial. Tujuan utama fungsi bantuan rias adalah

untuk memberikan tekanan terhadap peran yang akan dibawakan oleh seorang

aktor. Seperti halnya rias, tata busana juga akan membantu seorang aktor

dalam membawakan peran sesuai dengan tuntutan lakon melalui latihan

penyesuaian diri dengan rias dan kostum yang dipakainya.

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 19: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

27

7) Tata Lampu

Tata lampu bertujuan untuk memberikan pengaruh psikoiogis seorang aktor

dan sekaligus berfungsi sebagai ilustrasi (hiasan) serta sebagai penunjuk waktu

suasana pentas yang berlansung.

8) Ilustrasi Musik dan Tata Suara

Ilustrasi musik dalam sebuah pertunjukkan dapat juga menjadi bagian dari

lakon, akan tetapi yang paling banyak adalah sebagai ilustrasi atau sebagai

pembuka. Sedangkan tata suara berfungsi untuk memberikan efek suara yang

akan membantu seorang aktor untuk menguatkan penghayatan peran. Suara

yang jelas dalam pengucapan dialog akan membuat penonton dapat menangkap

jalan cerita drama yang dipertunjukkan. Adapun ucapan yang jelas adalah

ucapan yang bisa terdengar setiap suku katan-nya.

e. Keterampilan Bermain Drama

Drama naskah belum lengkap jika belum diperankan atau dipentaskan.

Berperan adalah menjadi orang lain sesuai dengan tuntutan lakon drama (Waluyo,

2007:114). Sejauh mana keterampilan seorang aktor dalam berperan, baru dapat

dilihat setelah ia memerankan dan mengekspresikan tokoh yang dibawakannya.

Keterampilan bermain drama adalah keterampilan seseorang dalam memerankan

suatu peran atau karakter tokoh yang ada di dalam drama. Kemampuan

memerankan karakter tokoh dalam bermain drama tidak terlepas dari dialog dan

gerakan, karena inti dari sebuah drama adalah pada kedua aspek tersebut.

Manusia sebagai makhluk sosial, pada umumnya menyukai hal-hal yang

berbau imitasi, artinya suka meniru-niru apa yang dilihatnya dalam pergaulan.

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 20: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

28

Imitasi ini bisa meniru kebiasaan orang lain, penampilan orang lain, cara berbicara

orang lain dan sebagainya. Dalam hal ini berarti seseorang sudah mulai

melakukan kegiatan meniru. Sebagai contoh dapat dilihat ketika seorang anak

bermain pasar-pasaran dengan teman-temannya.

Disadari atau tidak, anak tersebut sudah melakukan permainan drama. Ketika

anak-anak bermain pasar-pasaran, seorang anak memerankan karakter tokoh

penjual yang mempunyai keterampilan untuk merayu pembeli, ada seorang anak

yang memerankan pembeli, memerankan tukang masak dan sebagainya

(Harymawan, 1993:44). Seorang aktor dapat menggambarkan karakter seorang

tokoh secara maksimal. Harymawan (1993:45) menyatakan bahwa ada tiga hal

yang harus diperhatikan oleh seorang aktor ketika memerankan sebuah karakter

tokoh. Ketiga hal tersebut adalah mimik, gestur, dan diksi.

1) Mimik. Mimik adalah pernyataan atau perubahan muka: mata, mulut, bibir,

hidung, kening. Mimik juga dapat diartikan sebagai ekspresi wajah. Tanpa

mimik atau ekspresi, permainan drama akan terasa kurang lengkap. Meskipun

bermacam-macam gerakan sudah bagus, suara telah jadi jaminan, dan diksi

juga mengena, tetapi ekspresi mata kosong saja, maka dialog yang diucapkan

kurang meyakinkan penonton, karena itu, permainannya menjadi hambar atau

datar saja.

2) Gestur. Gestur atau plastik merupakan cara bersikap dan gerakan-gerakan

anggota badan. Gestur juga dapat diartikan sebagai sikap. Gestur atau plastik

juga dapat diartikan sebagai gerakan tubuh. Sikap dan gerak dengan sendirinya

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 21: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

29

akan terpengaruh oleh mimik dan pada umumnya bergantung juga pada tanda

yang sama, tak setegas dan seprinsipil mimik.

3) Diksi. Yang dimaksud diksi di sini merupakan cara penggunaan suara atau

ucapan. Diksi memberikan kebebasan pada aktor untuk menghidupkan

individualitasnya dalam peranan, karena diksi tidak ditentukan oleh pengarang

naskah drama. Diksi ditentukan oleh aktor itu sendiri. Oleh karena itu, diksi

dapat mempengaruhi arti dari suatu kalimat (Harymawan, 1993:46).

f. Teknik Bermain Drama

Teknik bermain drama adalah cara atau metode yang digunakan agar pemeran

dapat menyatukan dan mendayagunakan secara professional segala peralatan

ekspresi yang dimiliki oleh pemeran (Achmad, 1990:61). Menurut Rendra

(1976:8) bahwa dalam bermain drama ada dua hal yang mendasarinya, yaitu

teknik dan bakat. Bermain drama tanpa teknik hanya akan menjadi gairah yang

asyik tapi tidak komunikatif, sedangkan bermain drama tanpa bakat tidak akan

menjadi suatu permainan yang memiliki keindahan. Oleh karena itu, teknik dan

bakat haruslah dimiliki oleh seorang aktor agar permainan menjadi komunikatif.

Berikut ini adalah teknik dasar yang perlu dipelajari dalam bermain drama

(Rendra, 1976:12) : 1) teknik muncul; 2) teknik memberi isi; 3) teknik

pengembangan; 4) teknik membina puncak-puncak; 5) teknik timing; 6) teknik

penonjolan; 7) keseimbangan peran; 8) pengaturan tempo permainan; 9) latihan

sikap badan dan gerak yakin; 10) teknik ucapan; dan 11) latihan menanggapi atau

mendengarkan. Selain teknik yang dikemukakan oleh Rendra, ada beberapa teknik

yang dikemukakan oleh Leksono (2007:29) mengenai teknik bermain drama yaitu

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 22: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

30

: 1) teknik muncul; 2) teknik moving; 3) teknik crossing; 4) blocking; 5)

keseimbangan; 6) respon; dan 7) permainan tempo.

Dalam sebuah pementasan, untuk seorang pemeran (actor) yang masih baru

pasti akan mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan segala teknik bermain

drama. Namun secara perlahan, jika teknik itu dipelajari secara terus menerus

maka akan memudahkan seorang aktor dalam bermain drama. Oleh karena itu,

perlu adanya kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh seorang aktor ketika

bermain drama. Boleslavky mengemukakan bahwa kemampuan yang harus

dipelajari seorang aktor ketika bermain drama adalah sebagai berikut.

1) Konsentrasi, adalah pemusatan perhatian pada berbagai aspek dalam

mendukung kegiatan seni perannya. Pemusatan perhatian ini amat perlu

dilakukan, karena jika tidak, pemain akan tetap hadir sebagai dirinya sendiri

dan bukan sebagai tokoh yang diperankannya.

2) Kemampuan mendayagunakan kemampuan emosional, yaitu kemampuan

seorang pemain untuk menumbuhkan bermacam-macam bentuk emosional

dengan kemampuan dan kualitas yang sama baiknya, di dalam berbagai situasi.

3) Kemampuan laku dramatik, yaitu kesanggupan pemain di dalam melakukan

sikap, tindakan, serta perilaku yang merupakan ekspresi dari tuntutan emosi.

4) Kemampuan membangun karakter, yaitu kesanggupan pemain drama untuk

lebur ke dalam suatu pribadi lain dan keluar dari dirinya sendiri selama

bermain drama.

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 23: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

31

5) Kemampuan melakukan observasi, yaitu kesanggupan pemain drama untuk

melakukan pengamatan terhadap sikap aktivitas manusia di dalam kehidupan

sehari-hari.

6) Kemampuan menguasai irama, yaitu kesanggupan pemain untuk menguasai

tempo permainan, sehingga pementasan memberikan suspence kepada

penonton (dalam Hasanuddin, 1996:175).

g. Langkah-Langkah Bermain Drama

Untuk menampilkan sebuah pagelaran drama, ada beberapa hal penting yang

harus di perhatikan berkaitan dengan sukses dan tidaknya sebuah pagelaran drama

yang baik. Untuk mewujudkan sebuah pementasan drama yang baik hendaknya

melakukan persiapan-persiapan dari pra pementasan, saat pementasan, dan

sesudah pementasan. Shaftel (1967) mengemukakan sembilan tahap bermain

drama yang dapat dijadikan pedoman dalam pembelajaran.

1) Menghangatkan suasana dan memotivasi peserta didik. Hal ini dapat dilakukan

dengan mengidentifikasi masalah, menjelaskan masalah, menafsirkan cerita

dan mengeksplorasi isu-isu, serta menjelaskan peran yang akan dimainkan.

Masalah dapat diangkat dari kehidupan peserta didik, agar dapat merasakan

masalah itu hadir dihadapan mereka, dan memiliki hasrat untuk mengetahui

bagaimana masalah yang hangat dan actual, langsung menyangkut kehidupan

peserta didik, menarik dan merangsang rasa ingin tahu peserta didik, serta

memungkinkan berbagai alternatif pemecahan. Tahap ini lebih banyak

dimaksudkan untuk memotivasi peserta didik agar tertarik pada masalah karena

itu tahap ini sangat penting dalam bermain drama dan paling menentukan

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 24: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

32

keberhasilan. Bermain drama akan berhasil apabila peserta didik menaruh

minat dan memperhatikan masalah yang diajukan guru.

2) Memilih partisipan/peran. Memilih peran dalam pembelajaran, tahap ini

peserta didik dan guru mendeskripsikan berbagai watak atau karakter, apa yang

mereka suka, bagaimana mereka merasakan, dan apa yang harus mereka

kerjakan, kemudian para peserta didik diberi kesempatan secara sukarela untuk

menjadi pemeran. Jika para peserta didik tidak menyambut tawaran tersebut,

guru dapat menunjuk salah seorang peserta didik yang pantas dan mampu

memerankan posisi tertentu.

3) Menyusun tahap-tahap peran. Menyusun tahap-tahap baru, pada tahap ini para

pemeran menyusun garis-garis besar adegan yang akan dimainkan. Dalam hal

ini, tidak perlu ada dialog khusus karena para peserta didik dituntut untuk

bertindak dan berbicara secara spontan. Guru membantu peserta didik

menyiapkan adegan-adegan dengan mengajukan pertanyaan, misalnya di mana

pemeranan dilakukan, apakah tempat sudah dipersiapkan, dan sebagainya.

Persiapan ini penting untuk menciptakan suasana yang menyenangkan bagi

seluruh peserta didik, dan mereka siap untuk memainkannya.

4) Menyiapkan pengamat. Menyiapkan pengamat, sebaiknya pengamat ini

dipersiapkan secara matang dan terlibat dalam cerita yang akan dimainkan agar

semua peserta didik turut mengalami dan menghayati peran yang dimainkan

dan aktif mendiskusikannya. Menurut Sharfel dan Shaftel (1967), agar

pengamat turut terlibat, mereka perlu diberi tugas. Misalnya menilai apakah

peran yang dimainkan sesuai dengan keadaan yang sebenarnya? Bagaimana

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 25: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

33

keefektifan perilaku yang ditunjukkan pemeran? Apakah pemeran dapat

menghayati peran yang dimainkan?

5) Pemeranan. Tahap pemeranan, pada tahap ini para peserta didik mulai beraksi

secara spontan, sesuai dengan peran masing-masing. Mereka berusaha

memainkan setiap peran seperti benar-benar dialaminya. Mungkin proses

bermain drama tidak berjalan mulus karena para peserta didik ragu dengan apa

yang harus dikatakan akan ditunjukkan. Shaftel dan Shfatel (1967)

mengemukakan bahwa pemeranan cukup dilakukan secara singkat, sesuai

tingkat kesulitan dan kompleksitas masalah yang diperankan serta jumlah

peserta didik yang dilibatkan, tak perlu memakan waktu yang terlalu lama.

Pemeranan dapat berhenti apabila para peserta didik telah merasa cukup, dan

apa yang seharusnya mereka perankan telah dicoba lakukan. Adakalanya para

peserta didik keasyikan bermain drama sehingga tanpa disadari telah memakan

waktu yang terlampau lama. Dalam hal ini guru perlu menilai kapan bermain

drama dihentikan. Sebaliknya pemeranan dihentikan pada saat terjadinya

pertentangan agar memancing permasalahan untuk didiskusikan.

6) Diskusi dan evaluasi. Diskusi dan evaluasi pembelajaran, diskusi akan mudah

dimulai jika pemeran dan pengamat telah terlibat dalam bermain drama, baik

secara emosional maupun secara intelektual. Dengan melontarkan sebuah

pertanyaan, para peserta didik akan segera terpancing untuk diskusi. Diskusi

mungkin dimulai dengan tafsirkan mengenai baik tidaknya peran yang

dimainkan selanjutnya mengarah pada analisis terhadap peran yang

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 26: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

34

ditampilkan, apakah cukup tepat untuk memecahkan masalah yang sedang

dihadapi.

7) Pemeranan ulang. Pemeranan ulang, dilakukan berdasarkan hasil evaluasi dan

diskusi mengenai alternatif pemeranan. Mungkin ada perubahan peran watak

yang dituntut. Perubahan ini memungkinkan adanya perkembangan baru dalam

upaya pemecahan masalah. Setiap perubahan peran akan mempengaruhi peran

lainnya.

8) Diskusi dan evaluasi tahap dua. Diskusi dan evaluasi tahap dua, diskusi dan

evaluasi pada tahap ini sama seperti pada tahap enam, hanya dimaksudkan

untuk menganalisis hasil pemeranan ulang, dan pemecahan masalah pada tahap

ini mungkin sudah lebih jelas. Para peserta didik menyetujui cara tertentu

untuk memecahkan masalah, meskipun dimungkinkan adanya peserta didik

yang belum menyetujuinya. Kesepakatan bulat tidak perlu dicapai karena tidak

ada cara yang pasti dalam menghadapi masalah kehidupan.

9) Membagi pengalaman dan mengambil kesimpulan. Membagi pengalaman dan

pengambilan kesimpulan, tahap ini tidak harus menghasilkan generalisasi

secara langsung karena tujuan utama bermain drama ialah membantu para

peserta didik untuk memperoleh pengalaman berharga dalam hidupnya melalui

kegiatan interaksional dengan temannya. Mareka bercermin pada orang lain

untuk lebih memahami dirinya. Hal ini mengandung implikasi bahwa yang

paling penting dalam bermain drama ialah terjadinya saling tukar pengalaman.

Proses ini mewarnai seluruh kegiatan bermain drama, yang ditegaskan lagi

pada tahap akhir. Pada tahap ini para peserta didik saling mengemukakan

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 27: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

35

pengalaman hidupnya dalam berhadapan dengan orang tua, guru, teman dan

sebagainya. Semua pengalaman peserta didik dapat diungkap atau muncul

secara spontan.

Pada usia beranjak remaja, anak sudah dapat mereaksi rangsangan intelektual,

atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menurut kemampuan intelektual atau

kemampuan atau kemampuan kognitif. Pada usia ini, anak mulai memiliki

kesanggupan menyesuaikan diri sendiri (egosentris) kepada sikap yang kooperatif

(bekerja sama) atau sosiosentris(mau memperhatikan kepentingan orang lain).

Usia peserta didik SMP merupakan usia yang efektif dalam pembentukan watak

dan emosi. Dengan model pembelajaran bermain drama dapat membantu peserta

didik untuk membentuk watak dan pola pikir yang maju. Selain itu, pembelajaran

drama dapat membantu peserta didik untuk dapat bekerjasama dengan peserta

didik lain.

Shaffel dan Shaffel (dalam Waluyo, 2003:189) mengemukakan sembilan

tahapan dalam bermain drama yang dapat dijadikan pedoman dalam pengajaran :

1) memotivasi kelompok; 2) memilih pemeran (casting); 3) menyiapkan

pengamat; 4) menyiapkan tahap-tahap peran; 5) pemeranan (pentas di depan

kelas); 6) diskusi dan evaluasi I (spontanitas); 7) pemeranan ulang, 8) diskusi dan

evaluasi II; 9) membagi pengalaman dan mengambil kesimpulan. Jadi,

berdasarkan paparan diatas dapat disimpulkan tahapan dalam bermain drama sama

dengan tahapan bermain drama.

Seorang pemain harus bisa menghayati setiap situasi yang diperankan dan

mampu secara sempurna menyelami jiwa tokoh yang dibawakan serta

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 28: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

36

menghidupkan jiwa tokoh yang dibawakan serta menghidupkan jiwa tokoh itu

sebagai jiwanya sendiri, sehingga penonton yakin bahwa yang ada di pentas

bukan diri sang aktor tetapi diri tokoh yang diperankan. Untuk menjadi pemain

yang baik memerlukan proses latihan yang cukup matang. Oscar Brocket dalam

Waluyo (2003:116) mengemukakan beberapa latihan yang harus dilakukan

sebelum bermain drama, yaitu: 1) latihan tubuh; 2) latihan suara; 3) observasi dan

imajinasi; 4) latihan konsentrasi; 5) latihan teknik; 6) latihan sistem akting; dan 7)

latihan untuk memperlentur keterampilan. Latihan-latihan dasar tersebut sangat

berpengaruh terhadap keberhasilan seoarng pemain dalam memerankan sebuah

drama.

Untuk menjadi seorang pemain yang baik, tidak hanya latihan dasar yang

harus dikuasai oleh seorang pemain tetapi ada beberapa langkah yang harus

dilakukan untuk memaksimalkan seorang pemain ketika bermain drama. Djaja

Kusuma dalam Tarigan (1985:98) mengemukakan langkah-langkah bermain

drama terdiri dari tiga tahap yaitu: 1) tahap persiapan yang terdiri dari beberapa

langkah yaitu memilih cerita, mempelajari naskah, memilh pemain, dan

sebagainya; 2) tahap latihan yang terdiri dari beberapa langkah yaitu latihan

membaca, latihan blocking, latihan karya, latihan umum; 3) malam perdana, yaitu

pada saat pementasan.

Rendra juga mengemukakan teori acting (bermain drama), yang disebut

dengan teori jembatan keledai, yang meliputi 11 langkah, yang disebutnya sebagai

teknik menciptakan peran. Sebelas langkah tersebut adalah sebagai berikut.

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 29: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

37

1) Mengumpulkan tindakan-tindakan pokok yang harus dilakukan oleh sang peran

dalam drama itu.

2) Mengumpulkan sifat-sifat watak sang peran, kemudian dicoba dihubungkan

dengan tindakan-tindakan pokok yang harus dikerjaknnya, kemudian ditinjau,

manakah yang harus ditonjolkan sebagai alasan untuk tindakan tersebut.

3) Mencari dalam naskah, pada bagian mana sifat-sifat pemeran itu harus

ditonjolkan.

4) Mencari dalam naskah, ucapan-ucapan yang hanya memiliki makna tersirat

untuk diberi tekanan lebih jelas, hingga maknanya lebih tersembul keluar.

5) Menciptakan gerakan-gerakan air muka, sikap, dan langkah yang dapat

mengekspresikan watak tersebut di atas.

6) Menciptakan timing atau aturan ketepatan waktu dengan sempurna, agar

gerakan-gerakan dan air muka sesuai dengan ucapan yang dinyatakan.

7) Memperhitungkan teknik, yaitu penonjolan ucapan, serta penekanannya, pada

watak-watak sang peran itu.

8) Merancang garis permainan yang sedemikian rupa, sehingga gambaran tiap

perincian watak-watak itu, disajikan dalam tangga menuju puncak, dan

tindakan yang terkuat dihubungkan dengan watak yang terkuat pula.

9) Mengusahakan supaya perencanaan tersebut tidak berbenturan dengan rencana

atau konsep penyutradaraan.

10)Menetapkan bussiness dan blocking yang sudah ditetapkan bagi sang peran

dan diusahakan dihapal agar menjadi kebiasaan oleh sang peran.

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 30: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

38

11)Menghayati dan menghidupkan perannya dengan imajinasi melalui jalan

pemusatan perhatian pada pikiran dan perasaan peran yang dibawakan. Proses

ini, boleh dikatakan proses meleburkan diri, encounter, di mana terjadi

penjiwaan mantap (Rendra, 1976:69).

Dari beberapa langkah tersebut dapat disimpulkan bahwa seorang pemain

harus menghayati setiap situasi yang diperankan dan mampu secara sempurna

menyelami jiwa tokoh yang dibawakan sehingga penonton yakin bahwa yang

dipentas bukan diri sang aktor tetapi diri tokoh yang diperankan.

Agar drama bersifat komunikatif dibutuhkan aktor yang mempunyai

kepekaan-kepekaan tersebut. Pembawaan peran harus tepat agar penonton ikut

terlibat dalam suasana pentas. Penonton tidak akan merasa bahwa lakonnya itu

dibuat-buat. Keseluruhan lakon harus ditampilkan. Pemain diharapkan mampu

menentukan mana yang harus dilakukan didalam pentas dengan baik.

Djajakusumah (dalam Tarigan, 1985:98) menyebutkan tiga tahapan utama dalam

bermain drama, yaitu tahap persiapan, tahap latihan, dan malam perdana. Dalam

bermain drama setiap orang harus memperhatikan langkah-langkah dalam

bermain drama.

Menurut Djajakusumah (dalam Tarigan, 1985:98) langkah-langkah bermain

drama secara umum memiliki tiga tahapan yaitu, (1) tahap persiapan, (2) tahap

latihan, (3) malam perdana. Dalam pembelajaran drama bagi peserta didik, ketiga

tahapan tersebut dapat ditambahkan dengan pasca pementasan. Secara rinci

keempat tahapan tersebut dijelaskan sebagai berikut.

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 31: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

39

1) Tahap Persiapan

Persiapan sebelum pertunjukkan adalah hal yang paling wajib dilakukan

terlebih dahulu, agar tidak ada kekurangan dan mampu memberikan suatu

pertunjukkan yang memuaskan dan berjalan dengan baik. Dalam tahap ini ada

beberapa langkah yang harus dilakukan yaitu sebagai berikut.

a. Memilih Cerita

Pada langkah ini merupakan kegiatan memilih cerita yang nantinya

dipentaskan sesuai dengan maksud pementasan. Pemilihan naskah cerita juga

harus memenuhi baik tidaknya tema, plot, struktur, dan lain-lain. Kesemuanya

ini harus sudah ditentukan dengan sebaik-baiknya. Masalah yang akan dibahas

harus ditentukan. Dalam setiap pementasan pasti akan ada yang diselesaikan

dan diambil solusi. Masalah tersebut nantinya yang akan menjadi topik

pembahasan dalam lakon drama yang akan dipentaskan nantinya.

b. Mendapatkan Izin Tertulis dari Pengarang

Mendapatkan izin dari pengarang suatu cerita itu sangatlah penting.

Pengarang memiliki hak atas karyanya secara penuh dan kita tidak akan

melanggar hak pengarang dan menyalahi aturan hukum. Jika pementasan

tersebut menggunakan naskah pengarang naskah, maka hendaknya sudah

mendapatkan izin dan menyelesaikan masalah imbalan (honorarium)

pengarang.

c. Memilih Sutradara

Sutradara bertugas untuk mengatur jalannya pertunjukkan. Tugas seorang

sutradara sangatlah berat. Oleh karena itu, haruslah dipilih orang yang tepat

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 32: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

40

untuk menghasilkan karya yang menaik dan kreatif. Seorang sutradara harus

mengatur dan mengarahkan setiap pemain. Para pemain menempatkan diri

mereka dan berjalan, melintasi panggung, keluar dan duduk menurut

permintaan sutradara (Taylor, 1984:29). Selain itu memberikan penjelasan dan

pemanasan tentang bermain drama yang perlu dilakukan.

Dalam menentukan sutradara haruslah berhati-hati dan teliti. Seorang

sutradara haruslah yang bertanggung jawab, dapat dipercaya, berani, jujur,

mempunyai kemauan yang besar, dan bisa memimpin. Fungsi sutradara sangat

menentukarr keberhasilan suatu pementasan drama. Sutradara merupakan

seorang pengarah tentang bagaimana pementasan harus dilakukan. Ia

bertanggung jawab penuh penginterpretasikan naskah yang akan dipentaskan,

dan menentukan corak serta warna pementasan yang akan mendukung suatu

pementasan drama. Seorang sutradara juga berfungsi untuk mengkoordinasi

dan mengarahkan segala unsur pementasan drama (pemain dan properti),

memberikan penafsiran pokok atas naskah, dan dengan kecakapan sutradara

dapat mewujudkan suatau pementasan drama yang total (maksimal).

d. Sutradara Memilih Pendamping

Pendamping di sini bukanlah pendamping hidup, melainkan orang yang

membantu sutradara di balik layar. Orang-orang yang dipilih juga harus orang-

orang yang mengerti bidang yang akan diisi. Tugas mereka yaitu mengatur

setiap detil pertunjukkan mulai dari tata lampu, dekorasi panggung, kostum

pelaku, dan tata rias untuk pelaku. Dan setiap bidang tersebut harus sesuai

denga keahlian mereka agar hasilnya juga sempurna. Para pembantu itu

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 33: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

41

diantaranya antara lain perencana set (dekorasi, penata cahaya), pemimpin

panggung (motornya pementasan), dan asisten sutradara yang dapat mewakili

atau menggantikan sutradara sewaktu-waktu jika diperlukan.

e. Mempelajari Naskah

Setiap pemain wajib untuk mempelajari naskah tersebut. Naskah ada yang

mudah untuk dipahami namun ada pula yang membutuhkan kajian lebih dalam.

Jadi, sutradara dan semua pemain perlu kiranya menambah wawasan tentang

latar belakang pengarang untuk memahami lebih dalam lagi naskah yang

digunakan (Leksono, 2007:42). Langkah ini bertujuan agar dapat mengenal

tema, konflik, suspense dan klimaks yang terdapat dalam naskah yang akun

dipentaskan. Langkah tersebut antara lain; menentukan cara yang sebaik-

baiknya dalam mementaskan cerita, rnenganalisis setiap tokoh beserta

wataknya serta hubungannya satu sama lain, menganisis pendidikan serta latar

belakang setiap tokoh, merencanakan floorplan atau rencana pentas yang

berhungan dengan dekorasi lampu, jendela, dan sebagainya.

f. Menyusun Buku Kerja

Buku kerja juga merupakan tanggung jawab sutradara. Dari buku kerja

tersebut sutradara bisa memberikan catatan-catatan dalam mengatur

pertunjukkan, dan kelak akan berguna untuk dokumentasi. Buku ini berisi

catatan-catatan sutradara misalnya gerak, mimik, napas, dan tanda-tanda bagi

pemain seperti: tanda-tanda lampu, efek suara, musik, dan lain-lain.

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 34: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

42

g. Sutradara Memilih Pelaku

Pemain haruslah dipilih dari orang yang dapat memegang roll atau peranan

yang dapat mengekspresikan tokoh yang nantinya akan dimainkan olehnya.

Pemilihan pemain dapat juga dengan melalui casting. Seperti yang ditulis pada

langkah memilih sutradara bahwa tugas sutradara juga sangat berat. Selain

mengatur jalannya pertunjukkan, seorang sutradara harus bisa menempatkan

pemain pada posisi yang tepat. Dengan kata lain, tokoh yang diberikan pada

pemain itu memang tepat dan cocok dengan pemain tersebut, atau pemain

tersebut mampu untuk menghidupkan karakter tokoh yang dimainkan.

2) Tahap Latihan

Pada tahap latihan, semuanya harus bekerja dengan maksimal. Pelaku maupun

yang berada di balik layar harus bekerja sama untuk menghasilkan karya yang

baik. Oleh karena itu, diperlukan latihan yang intensif agar ketika harus tampil

bisa menyajikan suatu pertunjukkan yang memuaskan penonton. Adapun

latihan-latihan yang dimaksud adalah sebagai berikut.

a. Latihan Membaca

Tujuan dalam membaca menurut Rivers (dalam Ahmadi, 1990:23) ada

beberapa tujuan dalam membaca salah satunya menunjukkan bahwa pembaca

memerlukan instruksi untuk dapat melaksanakan sesuatu atau ingin

melaksanakan aktivitas menyenangkan seperti bermain drama. Oleh karena

itu, setiap pemain harus berlatih membaca agar tahu apa yang harus mereka

tampilkan dan apa yang akan mereka ucapkan. Latihan ini bertujuan supaya

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 35: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

43

pemain dapat mengetahui hubungan satu sama lain serta konflik, suspense, dan

klimaks yang terdapat di dalam naskah drama.

b. Latihan Blocking

Latihan ini bertujuan untuk menentukan bloking setiap pemain, yakni gerak

dan pengelompokan pemain. Sedangkan setiap gerak, mimik, haruslah

mempunyai arti dalam pengekspresian lakon yang dibawakan pemain dengan

wajar dan mempunyai alasan yang tepat. Pada tahap ini pelaku harus bisa

menguasai panggung agar tidak hanya berdiri di satu tempat selama adegan

berlangsung. Di sini sutradara yang bijaksana harus mampu mengatur

pergerakan pelaku dengan baik tanpa membingungkan pelaku.

c. Latihan Karya

Pelaku harus sudah mampu menghafal dialog di luar kepala. Pada tahap ini

pelaku harus bisa mengembangkan interpretasi dan gerak laku

disinkronisasikan, gerak-gerak kecil harus mampu menggambarkan watak

tokoh. Para pelaku juga harus dibiasakan menggunakan properti yang akan

digunakan dalam pertunjukkan itu nantinya. Dalam latihan karya pemain

dipastikan sudah hafal teks beserta gerak laku yang singkron yang nantinya

akan menggambarkan watak serta karakter yang dibawanya dengan wajar.

d. Latihan Pelicin

Latihan ini juga bisa disebut dengan latihan lengkap atau running

merupakan latihan secara keseluruhan, mulai dari dialog dan pengaturan pentas

tanpa adanya selingan atau interupsi. Banyaknya latihan ditentukan panjang

atau sulitnya naskah dan kemampuan serta kerjasama antara para pendukung

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 36: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

44

lakon tersebut (Taylor, 1984:22). Pada latihan ni setiap pelaku benar-benar

menjalani atau memerankan hidup mental-fisik tokoh yang diperankan. Latihan

pelicin bertujuaan agar pemain benar-benar menjalani dan memerankan dengan

baik dalam menghayati suka-duka, perjuangan, kejayaan, serta kegagalannya

yang akan nampak pada diri tokoh yang akan diperankan olehnya.

e. Latihan Umum

Latihan ini sangat diperlukan sebelum melakukan pementasan. Di sini tugas

sutradara telah selesai. Sekarang giliran para pendamping sutradara yang akan

bertugas. Dan pada latihan ini pelaku dan pendamping sutradara dibiasakan

untuk menghadapai layaknya pertunjukkan yang sebenarnya. Latihan umum

merupakan merupakan latihan akhir guna mempersiapkan semua kebutuhan

pentas dari kesiapan para pernain, para karyawan pentas, dan lain-lain. Latihan

ini diadakan untuk membiasakan para pemain dengan respon dan seaksi dari

para penonton agar padasaat pementasan yang sebenarnya mereka tidak gugup

dan benar-benar sudah siap.

3) Pementasan

Pementasan adalah waktu yang dinantiakan. Setelah bekerja keras belajar

dan berlatih dengan model SAVI, hasilnya akan ditentukan pada pertemuan

keempat. Klimaks dari jerih payah selama berhari-hari berlatih.

Jadi dapat diambil simpulan bahwa dalam bermain drama langkah atau

tindakan yang diambil sama dengan bermain drama. Bermain drama

membutuhkan dua tahap, yaitu persiapan yang terdiri dari penentuan masalah,

memahami isi naskah, reading, pemilihan peran, hingga latihan. Kemudian

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 37: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

45

tahap memainkan yang terdiri dari pementasan dan mengevaluasi. Ada yang

membedakan antara langkah-langkah bermain drama dengan langkah-langkah

drama, yaitu pada langkah pertama. Dalam bermain drama langkah pertama

yang akan dilakukan adalah menentukan masalah, namun dalam langkah-

langkah drama yang harus dilakukan pertama kali adalah menentukan naskah.

Pementasan atau malam perdana merupakan klimaks dari hasil latihan yaing

telah ditempuh selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan mungkin

sampai mencapai berbulan-bulan lamanya untuk mementaskan hasil karya

berupa gerak akting/berpura-pura yang berupa pementasan drama. Dalam

pementasa drama akting baru mungkin terjadi apabila dalam hati ada

kehendak. Kehendak (niat) itu harus dilengkapi dengan imajinasi

(membayangkan sesuatu). Untuk menyuburkan imajinasi dalam diri dapat

dilakukan dengan sering mengapresiasi puisi dan mengapresiasi lukisan

(Wiyanto, 2000:60).

Pada saat bermain drama, imajinasi bagi aktor merupakan hal yang sangat

penting karena aktor harus pura-pura menjadi orang lain. Dalam berpura-pura

itu seorang aktor harus dapat menampilkan pengimajinasian yang wajar,

artinya seorang aktor tidak menampilkan pengimajinasian yang berlebihan.

Dalam situasi yang demikian, aktor membutuhkan ingatan visual (imajinasi).

sehingga kepura-puraannya tidak diketahui oleh penonton. Aktor juga harus

dapat meyakini bahwa yang main di panggung adalah kenyataan.

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 38: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

46

4) Pasca-Pementasan

Dalam pasca-pementasan, pementasan yang sudah berlangsung diadakan

penilaian-penilaian terhadap unsur-unsur yang terdapat dalam drama seperti;

kinesik (gerak tubuh), penggunaan lafal pemain, penggunaan tekanan, bahasa,

intonasi dan mimik. Terdapat juga saran dan kritikan terhadap pementasan

yang sudah berlangsung dengan tujuan mengerti kekurangan-kekurangan

pementasan guna refleksi terhadap pementasan selanjutnya. Pada tahap tindak

lanjut yang harus dilakukan adalah dengan menindak lanjuti kekurangan-

kekurangan yang telah disimpulkan pada saat evaluasi pascapementasan,

dengan cara memperbaiki, melakukan latihan-latihan, agar saat pementasan

selanjutnya lebih maksimal dan terarah.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat penulis simpulkan bahwa langkah-

langkah bermain drama meliputi tahap persiapan, tahap pelatihan, tahap

penampilan, dan yang terakhir adalah tahap penilaian/evaluasi. Adapun

langkah bermain drama dalam tulisan ini, yaitu: (1) tahap persiapan. dalam

tahap ini persiapan yang dilakukan adalah persiapan naskah; (2) tahap

pelatihan; (3) tahap penampilan. pada tahap penampilan, peserta didik

memerankan naskah secara utuh di depan kelas; (4) pasca pementasan.

h. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam Bermain Drama

Ada beberapa komponen yang harus diperhatikan dalam bermain drama.

Menurut Santoso (2008:203), hal-hal yang harus diperhatikan dalam bermain

drama adalah penghayatan, mimik, gesture, lafal, intonasi, dan volume suara. Hal

tersebut sangat berpengaruh terhadap aspek penilaian bermain drama, sehingga

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 39: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

47

komponen-komponen tersebut saling mendukung satu sama lain untuk membantu

memperlancar seorang pemain ketika bermain drama. Seorang pemain tidak bisa

disebut sempurna penghayatannya jika tidak ditunjang dengan mimik dan gesture

yang tepat. Begitu pula dengan intonasi, seorang pemain tidak dapat dikatakan

tepat intonasi dan lafalnya jika volume suara yang dihasilkan tidak dapat

terdengar sampai jauh.

1) Penghayatan

Menghayati berarti memahami secara penuh isi drama (Doyin, 2008:73).

Sedangkan menurut Wirajaya (2008:72) penghayatan adalah kedalaman

pemaknaan terhadap isi dialog, karakter tokoh, dan karakter keadaan/situasi

(susah, senang, dan lain-lain). Misalnya seseorang berperan sebagai preman

maka saat itu seorang pemain tidak lagi menjadi dirinya sendiri melainkan

menjadi preman. Dengan pemahaman itulah maka seoarang pemain dapat

menyatukan jiwa tokoh dengan jiwanya sendiri.

2) Mimik

Mimik diartikan sebagai ekspresi gerak-gerik wajah (air muka) untuk

menunjukkan emosi yang dialami pemain (Wiyanto, 2002:14). Wirajaya

(2008:72) menambahkan, mimik adalah ekspresi raut muka yang

menampakkan karakter atau watak tokoh yang diperankan. Leksono (2007:23)

juga mengemukakan bahwa mimik merupakan bagian dari ekspresi wajah

untuk menemukan karakter yang diinginkan.

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 40: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

48

3) Gesture

Gesture adalah gerak-gerak besar yang dilakukan, yaitu gerakan tangan, kaki,

kepala, dan tubuh pada umumnya yang dilakukan pemain (Wiyanto, 2002:14).

Gerak ini adalah gerak yang dilakukan secara sadar. Gerak yang terjadi setelah

mendapat perintah dari diri/otak kita untuk melakukan sesuatu, misalnya saja

menulis, mengambil gelas, jongkok, dan sebagainya.

4) Lafal/artikulasi

Lafal adalah kejelasan ucapan (Doyin, 2008:81). Dalam hal ini jangan sampai

ada bagian dialog/kata yang kurang jelas pengucapannya sehingga

menimbulkan kerancuan pemaknaan atau menjadi kurang enak didengar.

Artikulasi yang dimaksud adalah pengucapan kata melalui mulut agar

terdengar dengan baik dan benar serta jelas, sehingga telinga

pendengar/penonton dapat mengerti pada kata kata yang diucapkan.

5) Intonasi

Intonasi berkaitan dengan dialog terhadap kata-kata yang dianggap penting dan

pembedaan nada untuk bentuk dialog tanya, seruan, perintah, permohonan, dan

sebagainya (Wirajaya, 2008:72). Intonasi antara lain menyangkut : 1) tekanan

Dinamik (keras-lemah). Mengucapkan dialog pada naskah dengan melakukan

penekanan-penekanan pada setiap kata yang memerlukan penekanan; 2)

tekanan nada (tinggi). Mengucapkan kalimat/dialog dengan memakai

nada/aksen, artinya tidak mengucapkan seperti biasanya, maksudnya adalah

membaca/mengucapkan dialog dengan suara yang naik turun dan berubah-

ubah. Jadi yang dimaksud dengan tekanan nada ialah tekanan tentang tinggi

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 41: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

49

rendahnya suatu kata; 3) tekanan tempo. Tekanan tempo adalah memperlambat

atau mempercepat pengucapan. Tekanan ini sering dipergunakan untuk lebih

mempertegas apa yang kita maksudkan. (Doyin, 2008:77).

6) Volume Suara

Volume suara yang baik adalah yang dapat terdengar sampai jauh. Volume

suara yang baik dapat diperoleh jika kita melakukan latihan vokal. Ada

beberapa langkah dalam melakukan latihan vokal seperti : 1) latihan

peregangan. Latihan peregangan pada otot leher, mulut, dada maupun perut,

tidak jauh berbeda seperti senam ringan, pelenturan, atau pemanasan olah raga;

2) latihan pernafasan, (a) pernafasan dada. Teknisnya latihan pernafasan ini,

ketika kita bernafas dengan hitungan sampai 4, udara disimpan di dalam

rongga dada, kemudian dihembuskan melalui mulut. Hal tersebut diulang

beberapa kali; (b) pernafasan perut. Teknis dan hitungannya sama dengan

pernafasan dada, hanya ketika menarik nafas, udara disimpan di dalam rongga

perut. Ketika melakukan pernafasan perut, disaat menarik nafas, perut

membusung atau mengembung; (c) pernafasan diafragma. Teknisnya, ketika

menarik nafas, udara disimpan di rongga diafragma, yaitu sekat antara rongga

dada dan rongga perut mengembang ketika menarik nafas (Leksono, 2007:14).

Untuk menjadi seorang pemeran, diperlukan keterampilan dasar-dasar peran

seperti kesadaran indra, ekspresi, improvisasi, pernapasan laku, vokal, dan

karakterisasi (Massofa, 2009).

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 42: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

50

1) Kesadaran Indra

Kesadaran indra meliputi penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, dan

pengecapan. Kesadaran ini diperlukan untuk menciptakan alasan bagi laku

yang dilakukan pemeran di atas pentas. Proses itu terjadi karena indra

menangkap objek rangsangan dan melahirkan tanggapan. Tanggapan yang

muncul dari dalam diri itu menjadi alasan suatu perbuatan. Sebelum tanggapan

dalam perbuatan nyata terwujud, reaksi batin terhadap rangsangan itu menjadi

pengalaman batinnya.

2) Ekspresi

Ekspresi berkaitan dengan keterampilan pemeran mengekspresikan perasaan

dan emosi manusia, baik emosinya sendiri maupun emosi orang lain. Seorang

pemeran diharapkan mempunyai koleksi emosi agar dengan mudah

berimprovisasi ketika memerankan seorang tokoh. Ekspresi ini diwujudkan

dalam bentuk laku (gerak) dan vokal (suara). Gerak (gesture) adalah gerak-

gerak besar yang pemeran lakukan. Gerak ini adalah gerak yang pemeran

lakukan secara sadar. Gerak yang terjadi setelah mendapat perintah dari otak

untuk melakukan sesuatu, misalnya saja menulis, mengambil gelas, jongkok,

dsb. Hal yang perlu dicatat untuk olah vokal adalah bukan berbicara keras,

tetapi berbicara jelas.

Hadi (1988:119) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan ekspesi

adalah hasil pengungkapan rasa hati melalui berbagai media manusia, baik

mata, wajah, tubuh, anggota-anggota tubuh maupun suara. Dalam Achmad

(1990:65) disebutkan bahwa teori lama tentang berperan adalah bertolak dari

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 43: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

51

latihan mimik (ekspresi wajah). Dewasa ini teori tersebut sudah tidak

digunakan lagi. Pada umumnya sekarang kita menggunakan apa yang disebut

bermain dari dalam, yang berprinsip apabila seorang pemeran dapat

menghayati dan merasakan gejolak batin yang sedang dialami oleh tokoh yang

dimainkan, dengan sendirinya akan lahir ekspresi wajah sesuai

dengan peranannya pada saat itu. Oleh karenanya, seorang pemeran dituntut

untuk benar-benar menghayati, mendalami, dan merasakan apa yang

diinginkan oleh tokoh yang akan dimainkan.

3) Improvisasi

Improvisasi mencakup tiga pengertian, yaitu 1) menciptakan, merangkai,

memainkan, menyajikan, sesuatu tanpa persiapan; 2) menampilkan sesuatu

dengan mendadak; 3) melakukan sesuatu begitu saja secara spontan dan apa

adanya. Tujuan berlatih improvisasi adalah agar pemeran memiliki rangsangan

spontanitas. Selain itu, latihan ini dapat menciptakan akting yang wajar, tidak

dibuat-buat, dan tampak natural. Waluyo (2003:56) menyebutkan bahwa

improvisasi sebenarnya berarti spontanitas. Drama-drama tradisional dan

drama klasik kebanyakan bersifat improvisasi. Dalam teater mutakhir kata

improvisasi digunakan untuk memberi nama jenis drama mutakhir yang

mementingkan gerakan-gerakan (acting) yang bersifat tiba-tiba dan penuh

kejutan. Sedangkan Wiyanto (2005:15) menyebutkan bahwa improvisasi

adalah gerakan-gerakan atau ucapan-ucapan penyeimbang untuk lebih dapat

menghidupkan peran. Improvisasi biasanya digunakan untuk melatih kepekaan

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 44: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

52

pemeran sehingga pemeran dapat memerankan tokoh yang dibawakan lebih

hidup dan realistis.

4) Pernapasan

Pernapasan berkaitan erat dengan sikap rileks. Ketegangan urat leher dan bahu

harus dihindari. Penguasaan pernapasan akan menghasilkan dua hal : 1)

menjaga stabilnya suara, sekaligus memberikan kemungkinan kepada pemeran

untuk membuat vokal menjadi lentur sesuai dengan tuntutan peran; 2)

menciptakan akting yang wajar dan memikat.

5) Vokal

Untuk menjadi seorang pemeran yang baik, maka pemeran mernpunyai dasar

vokal yang baik pula. Baik di sini diartikan sebagai : 1) dapat terdengar (dalam

jangkauan penonton, sampai penonton, yang paling belakang); 2) jelas

(artikulasi/pengucapan yang tepat); dan 3) tidak monoton.

Achmad (1990:83) mengungkapkan bahwa artikulasi yang baik adalah

pengucapan yang jelas. Setiap suku kata terucap dengan jelas meskipun

diucapkan dengan cepat sekali. Artikulasi erat hubungannya dengan gerak bibir

dan lidah. Jika waktu berbicara bibir dan lidah ikut bergerak, maka akan

menghasilkan artikulasi yang baik. Dalam DEPDIKNAS (2003:66) disebutkan

bahwa artikulasi adalah lafal atau pengucapan kata. Artikulasi adalah

pengucapan kata melalui mulut agar terdengar dengan baik dan benar serta

jelas, sehingga telinga pendengar/penonton dapat mengerti pada kata kata yang

diucapkan.

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 45: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

53

Disebutkan pula beberapa sebab yang mengakibatkan terjadinya artikulasi yang

kurang/tidak benar, yaitu : 1) cacat artikulasi alam. Cacat artikulasi ini dialami

oleh orang yang berbicara gagap atau orang yang sulit mengucapkan salah satu

konsonon, misalnya pengucaan huruf r, dan sebagainya; 2) artikulasi jelek.

Artikulasi jelek bukan disebabkan karena cacat artikulasi, melainkan terjadi

sewaktu waktu disebabkan karena belum terbiasa pada dialog, pengucapan

terlalu cepat, gugup, dan sebagainya. Hal ini sering terjadi pada pengucapan

naskah/dialog. Misalnya : kehormatan menjadi kormatan, menyambung

menjadi mengambung, dan sebagainya; 3) artikulasi menjadi tidak tentu. Hal

ini terjadi karena pengucapan kata/dialog terlalu cepat, seolah olah kata demi

kata berdempetan tanpa adanya jarak sama sekali.

Agar vokal tidak terasa monoton, datar, dan membosankan, maka harus ada

intonasi. Yang dimaksud intonasi di sini adalah tekanan-tekanan yang

diberikan pada kata, bagian kata atau dialog. Intonasi berkaitan dengan dialog

terhadap kata-kata yang diangap penting dan pembedaan nada untuk bentuk

dialog tanya, seruan, perintah, permohonan, dan sebagainya. Menurut Achmad

(1990:62), apa yang diucapkan pemeran di atas pentas selalu memberikan

informasi tentang pikiran, sikap, watak, penjelasan tentang cerita, dan lain

sebagainya yang berkaitan dengan cerita yang diperankan. Penampilan vokal

atau suara dari pemeran akan menggambarkan juga watak dari tokoh yang

diperankan.

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 46: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

54

6) Karakterisasi

Karakterisasi berkaitan dengan bagaimana seorang pemeran memposisikan

dirinya pada seorang tokoh. Untuk itu, seorang pemeran harus mengetahui

keseluruhan diri tokoh yang akan diperankan, meliputi ciri fisik, ciri sosial, ciri

psikologis, dan ciri moral.

Karakterisasi adalah suatu usaha untuk menampilkan karakter atau watak dari

tokoh yang diperankan. Tokoh-tokoh dalam naskah adalah orang-orang yang

berkarakter. Jadi seorang pemeran yang baik harus bisa menampilkan karakter

dari tokoh yang diperankannya dengan tepat. Dengan demikian penampilannya

akan menjadi sempurna karena ia tidak hanya menjadi figur dari seorang tokoh

saja, melainkan juga memiliki watak dari tokoh tersebut.

Agar pemeran dapat memainkan tokoh yang berkarakter seperti yang dituntut

naskah, maka pemeran harus terlebih dahulu mengenal watak dari tokoh

tersebut. Suatu misal, pemeran mendapat peran menjadi seorang pengemis.

Pemeran harus mengenal secara lengkap bagaimana sifat-sifatnya, tingkah

lakunya, dsb. Apakah tokoh seorang yang licik, pemberani, atau pengecut,

alim, ataukah hanya sekadar kelakuan yang dibuat-buat.

4. Pembelajaran Drama

Seni drama (sandiwara) adalah bagian dari pengajaran Bahasa dan Sastra

Indonesia yang mempunyai nilai-nilai pendidikan yang meliputi nilai

kewarganegaraan, kebangsaan, kebudayaan dan kemasyarakatan, dan segi

pemahaman dan pemakaian Bahasa Indonesia (Purwanto, 1968:142). Di samping

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 47: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

55

itu melalui pengajaran drama, manfaat pengajaran drama bagi peserta didik di

antaranya adalah dapat mengantarkan peserta didik menuju kekedewasaan yang

dilakukan dengan mengajak peserta didik berlatih mengalami berbagai macam

pengalaman hidup dalam naskah yang dibawakan. Jadi pembelajaran drama di

sekolah sangat penting diberikan kepada peserta didik, karena disamping itu

peserta didik akan dapat mempertajam perasaan, penalaran, daya khayal,

menikmati dan memanfaatkan karya sastra (drama) untuk memperluas wawasan,

memperhalus budi pekerti, menghargai dan membanggakan sastra Indonesia

sebagai khasanah budaya dan intelektual manusia Indonesia, serta meningkatkan

pengetahuan dan kemampuan berbahasa (BNSP 2006).

Pembelajaran drama di sekolah dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu : 1)

pembelajaran teks drama yang termasuk sastra; dan 2) pementasan drama yang

termasuk bidang teater (Waluyo, 2007:162). Dalam pembelajaran teks drama yang

termasuk sastra, pementasan drama dilakukan di kelas oleh guru bahasa

Indonesia. Disarankan agar dilakukan pementasan, meskipun hanya sekali dalam

satu semester dan berupa pementasan sederhana. Hal ini dimaksudkan untuk

melatih keterampilan peserta didik mulai dari pementasan kecil, sebelum akhirnya

menyajikan pementasan yang lebih besar (teater sekolah).

Dalam pembelajaran drama, peserta didik tidak cukup jika hanya diberi

pengetahuan tentang drama, tetapi mereka harus mampu untuk mengapresiasi

(unsur yang termasuk afektif), dan mementaskan (psikomotor) (Waluyo,

2007:167). Jadi dalam pembelajaran, aspek kognitif, afektif dan psikomotorik

dapat diperoleh secara merata oleh peserta didik. Dalam setiap pengajaran,

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 48: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

56

termasuk pengajaran drama, tujuan harus dapat diketahui secara jelas. Hal ini agar

proses pembelajaran lebih terfokus, sehingga apa yang menjadi tujuan dari

pembelajaran tersebut dapat tercapai.

a. Tujuan Pembelajaran Bermain Drama

Pembelajaran bermain drama terdapat di dalam kurikilum tingkat satuan

pendidikan (BNSP 2006) dengan standar kompetensi mengungkapkan pikiran dan

perasaan dengan bermain drama (bermain drama), serta kompetensi dasar bermain

drama dengan naskah yang ditulis peserta didik, dan bermain drama dengan cara

improvisasi sesuai dengan kerangka naskah yang ditulis peserta didik. Sedangkan

tujuan pembelajaran bermain drama di sekolah dimaksudkan agar peserta didik

lebih meningkatkan kemampuan mengapresiasi karya sastra (drama) yang dapat

mempertajam perasaan, penalaran, daya khayal, rnenikmati clan memanfaatkan

karya sastra untuk memperluas wawasan, memperhalus budi pekerti, menghargai

sastra Indonesia sebagai khasanah budaya dan intelektual manusia Indonesia, serta

meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa (BSNP 2006).

Berbicara mengenai tujuan pengajaran, kita tidak akan lepas dari tokoh

populer, yaitu Benjamin S Bloom. Waluyo (2007:167) mengatakan bahwa untuk

merumuskan lebih jelas mengenai tujuan pembelajaran sesuai dengan teori

Bloom, maka perlu diketahui penjelasan rinci kawasan-kawasan tujuan mengajar

beserta contoh nyata kerja operasional yang berguna untuk menyusun tujuan

instruksional khusus. Ketiga domain tujuan mengajar menurut Benjamin S Bloom

adalah sebagai berikut.

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 49: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

57

1) Kawasan afektif yang meliputi : 1) pengetahuan, pengetahuan akan hal umum

(mendefinisi, mengingat, membedakan, mendapat), pengetahuan akan hal

khusus (mengenal kembali informasi, mengenali contoh dan gejala),

mengetahui tentang cara dan alat (gaya, format, mengingat bentuk),

pengetahuan akan arah dan urutan (perbuatan, proses, dan gerakan, urutan,

arah), penggolongan dan kategori (mengingat daerah, ciri, kelas, tipe, set),

pengetahuan akan kriteria (kriteria dasar, teori, dan antar hubungan),

pengetahuan akan metodologi (mengingat kembali: teori, dasar dan antar

hubungan); 2) pemahaman, terjemahan (arti, contoh, abstraksi, kata, kalimat),

penafsiran (menafsirkan memesan lagi, membedakan, membuat, menerangkan,

mempertunjukkan), perhitungan/ramalan (menghitung, berpendapat, mengisi,

menggambarkan kemungkinan, menyimpulkan); 3) penerapan, penerapan

prinsip-prinsip, menganalisakan (simpulan, metode, teori, gejala),

menghubungkan, memilih, mengalihkan, menggolongkan, mengorganisasikan,

dan menyusun kembali; 4) analisis, analisis unsur, analisis hubungan, analisis

prinsip-prinsip organisasional; 5) sintesis, hasil komunikasi meliputi untuk

(menuliskan, menceritakan, menghasilkan mengubah, membuktikan

kebenaran), hasil dari rencana rangkaian atau rangkaian kegiatan yang

diusulkan, asal mula dari hubungan abstrak; 6) evaluasi, yang meliputi :

pertimabangan mengenali kejadian internal, pertimbangan mengenai kriteria

abstrak.

2) Kawasan kognitif yang meliputi : 1) menerima (receiving); menyangkut minat

peserta didik terhadap sesuatu. Misalnya menerima pelajaran drama yang di

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 50: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

58

tandai dengan minat atau perhatian positif terhadap drama. Mendapatkan

perhatian, mempertahankan, dan memerintah atau mengatur perhatian peserta

didik; 2) responding (menjawab mereaksi), artinya ikut berpartisipasi secara

aktif dalam kegiatan drama; 3) menaruh penghargaan (valuing), pada tingkat

ini peserta didik mampu memberikan penilaian terhadap drama yang akan atau

sudah dipentaskan (di baca); 4) mengorganisasikan sistem nilai. Nilai-nilai

dalam diri seseorang bersifat kompleks, maka nilai-nilai itu bersifat kait-

mengkait, sehingga menjadi sistem nilai; 5) mengadakan karakteristik nilai.

Kemampuan tertinggi dalam kawasan afektif adalah dalam

mengkarakteristikkan nilai-nilai. Unsur-unsur kawasan afektif antara lain : a)

Minat, artinya kecenderungan yang agak menetap, dimana subjek merasa

tertarik dan senang berkecimpung dalam kegiatan suatu bidang. Unsur minat

meliputi, penerimaan, respon, dan nilai; b) apresiasi, adalah pernyataan

seseorang yang secara sadar tertarik dan senang kepada suatu hal, mampu

menyatakan penghargaan didalamnya, dan memandang hal yang dipilihnya itu

mengandung nilai dalam kehidupannya; c) sikap, adalah kecendrungan dimana

subjek menerima atau menolak suatu objek berdasarkan penilaian terhadap

objek itu sebagai objek yang berharga (baik) atau tidak berharga (jelek); d)

Nilai, adalah hakikat daru suatu hal yang menyebabkan hal itu pantas dikejar

oleh manusia; e) Penyesuaian diri, merupakan interelasi (antar hubungan) antar

seseorang dengan yang lainya dalam hubungan sedemikian rupa.

3) Kawasan psikomotorik yang meliputi : 1) persepsi (stimulus, menyentuh

bentuk sesuatu, merasakan sesuatu, merasakan sesuatu, membantu dan

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 51: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

59

memegang, dan mendiskriminasi tanda-tanda); 2) kesiapan (mental, fisik, dan

kesiapan dalam merespon); 3) respon terpimpin (imitasi, trial and error,

mengikuti, mengadakan eksperimen); 4) mekanisme (memilih, melatih,

merencanakan, merangkaikan); 5) respon yang komplek (adaptasi, penggunaan

skill, melaporkan atau menjelaskan) (dalam Waluyo, 2007:167).

Dalam pembelajaran drama, pementasan drama memasuki kawasan

psikomotorik, akan tetapi dijiwai oleh aspek kognitif dan afektif. Ketiga hal

tersebut menyatu dalam diri aktor yang bermain drama. Keseimbangan antara

aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik akan melahirkan suatu acting yang baik.

b. Aspek Penilaian dalam Bermain Drama

Bermain drama merupakan suatu kegiatan memerankan tokoh yang ada dalam

naskah melalui alat utama yakni percakapan (dialog), gerakan, dan tingkah laku

yang dipentaskan. Dalam bermain drama, terdapat beberapa aspek yang dapat

dinilai untuk menunjukkan kemampuan seseorang dalam melakukan pementasan

drama. Saptaria (2006:49) menjabarkan aspek-aspek yang menjadi penilaian

dalam sebuah pementasan dalam bermain drama sebagai berikut.

1) Pelafalan

Menurut KBBI (2002:623) lafal adalah cara seseorang atau sekelompok orang

dalam suatu masyarakat bahasa saat mengucapkan bunyi bahasa. Didalam

pelafalan mencakup poin-poin yang mendukung dalam bermain drama yaitu

artikulasi (kejelasan pengucapan), jeda dan intonasi (yang berfungsi sebagai

pemenggalan kata atau kalimat sehingga menjadi intonasi pengucapan yang

sesuai dengan konteks pembicaraan). Artikulasi yang baik dan jelas nantinya

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 52: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

60

akan berkaitan dengan pelafalan yang berhubungan dengan olah vokal.

Seorang pemain atau tokoh hendaknya memiliki vokal yang baik, jelas, dan

mudah untuk dipahami.

2) Intonasi

Intonasi adalah naik-turunnya lagu kalimat. Seorang tokoh atau pemain drama

dalam melakukan dialog harus menggunakan intonasi agar permainan drama

yang dipentaskan tidak terasa monoton, datar, dan membosankan. Ada tiga

macam tatanan intonasi, yaitu: (1) tekanan dinamik (keras-lemah); (2) tekanan

nada (tekanan tentang tinggi rendahnya suatu kata); dan (3) tekanan tempo

(memperlambat atau mempercepat pengucapan).

3) Ekspresi

Menurut KBBI (2002:291) ekspresi adalah (1) pengungkapan atau proses

menyatakan (yaitu memperlihatkan atau menyatakan maksud, gagasan,

perasaan, dsb); (2) pandangan air muka yang memperlihatkan perasaan

seseorang. Ekspresi keluar secara alamiah, baik itu berbentuk perasaan atau ide

secara khas. Ekspresi wajah merupakan salah satu bentuk komunikasi dan

dapat menyampaikan keadaan emosi dari seseorang kepada orang yang

mengamatinya. Menurut Saptaria (2006:50) aktivitas ekspresi merupakan

bagian dari pikiran dan perasaan kita. Impuls-impuls, perasaan, aksi, dan reaksi

yang dimiliki mengendap dan menghasilkan energi dari dalam yang

selanjutnya keluar dalam bentuk presentasi katakata, bunyi, gerak tubuh, dan

infeksi (perubahan nada suara).

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 53: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

61

Ekspresi merupakan pelajaran pertama bagi seorang aktor, dimana ia berusaha

untuk mengenal dirinya sendiri. Kemampuan ekspresi menuntut teknik-teknik

pengendalian tubuh, mulai dari relaksasi, kepekaan, konsentrasi, daya aktivitas,

dan kepenuhan diri (pikiran, perasaan, tubuh yang seimbang) dari seorang

aktor harus terpusat pada pikirannya. Dasar dari kemampuan ekspresi adalah

ketika seorang aktor berhubungan dengan lingkungan sosialnya dengan orang

lain bermacam ragam.

4) Improvisasi

Improvisasi adalah (1) menciptakan, merangkai, memainkan, menyajikan,

sesuatu tanpa persiapan; (2) menampilkan sesuatu dengan mendadak; (3)

melakukan begitu saja. Improvisasi juga dapat diartikan menciptakan plot yang

sangat singkat dan mewujudkan dengan dialog yang tidak direncanakan dan

dilatih sebelumnya. Improvisasi melibatkan dua atau lebih aktor terlibat

didalamnya. Teknik ini digunakan sebagai eksperimen dengan suara, karakter,

adaptasi dengan lingkungan yang berbeda, emosi serta variasi gerakan tubuh.

Dengan latihan improvisasi yang benar, pemain drama akan mampu

menciptakan akting wajar tetapi kuat mengesankan (Saptaria, 2006:51).

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa aspek-aspek yang

dinilai dalam bermain drama yaitu aspek pelafalan, intonasi, ekspresi, dan

improvisasi. Keempat aspek tersebut harus dijadikan acuan oleh guru untuk

menilai keterampilan siswa dalam bermain drama.

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 54: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

62

5. Model Pembelajaran SAVI (Somatic, Auditori, Visual, dan Intelektual)

a. Pengertian Model Pembelajaran SAVI (Somatis, Auditori, Visual, dan

Intelektual)

Pembelajaran tidak otomatis meningkat dengan menyuruh orang berdiri dan

bergerak kesana kemari. Akan tetapi, menggabungkan gerakan fisik dengan

aktivitas intelektual dan penggunaan semua indra dapat berpengaruh besar pada

pembelajaran. Pendekatan yang dapat digunakan disini adalah pendekatan SAVI.

Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan SAVI adalah pembelajaran yang

menggabungkan gerakan fisik dengan aktivitas intelektual dan penggunaan semua

indra yang dapat berpengaruh besar pada pembelajaran. Adapun Unsur-unsur

SAVI Dave Meier antara lain :

1) Somatis : Belajar dengan bergerak dan berbuat,

2) Auditori : Belajar dengan berbicara dan mendengar,

3) Visual : Belajar dengan mengamati,

4) Intelektual : Belajar dengan memecahkan masalah dan berpikir.

Pembelajaran SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar

haruslah memanfaatkan semua alat indera yang dimiliki siswa. Istilah SAVI

sendiri adalah kepedekan dari ; Somatic yang bermakna gerakan tubuh (hands on,

aktivitas fisik) dimana cara belajar dengan mengalami dan melakukan; Auditory

yang bermakna belajar haruslah dengan melalui mendengarkan, menyimak,

berbicara, presentasi, argumentasi, mengemukakan pendapat, dan menaggapi;

Visualisation yang bermakna belajar haruslah menggunakan indera mata melalui

mengamati, menggambar, mendemonstrasikan, membaca, menggunakan media

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 55: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

63

dan alat peraga; dan Intelectually yang bermakna bahwa belajar haruslah dengan

menggunakan kemampuan berpikir (minds-on), belajar haruslah dengan

konsentrasi pikiran berlatih menggunakannya melalui bernalar, menyelidiki,

mengindentifikasi, menemukan, mencipta, mengkonstruksi, memecahkan

masalah, dan menerapkan. Pendekatan SAVI dalam belajar memunculkan sebuah

konsep belajar yang disebut Belajar Berdasar Aktivitas (BBA).

Belajar Berdasar Aktivitas (BBA) berarti bergerak aktif secara fisik ketika

belajar, dengan memanfaatkan indra sebanyak mungkin, dan membuat seluruh

tubuh dan pikiran terlibat dalam proses belajar. Pelatihan konvensional cenderung

membuat orang tidak aktif secara fisik dalam jangka waktu yang lama. Terjadilah

kelumpuhan otak dan belajar pun melambat layaknya merayap atau bahkan

berhenti sama sekali. Mengajak orang untuk bangkit dan bergerak secara berkala

akan menyegarkan tubuh, meningkatkan peredaran darah ke otak, dan dapat

berpengaruh positif pada belajar.

b. Prinsip Dasar Model Pembelajaran SAVI (Somatis, Auditori, Visual, dan

Intelektual)

Dikarenakan pembelajaran SAVI sejalan dengan gerakan Accelerated

Learning (AL), maka prinsipnya juga sejalan dengan Accelerated Learning (AL),

Meier (2002) juga menyebutkan bahwa guru harus paham prinsip-prinsip SAVI

sehingga mampu menjalankan model pembelajaran dengan tepat. Prinsip tersebut

adalah :

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 56: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

64

1) Pembelajaran melibatkan seluruh pikiran dan tubuh,

2) Pembelajaran berarti berkreasi bukan mengkonsumsi,

3) Kerjasama membantu proses pembelajaran,

4) Pembelajaran berlangsung pada banyak tingkatan secara simultan,

5) Belajar berasal dari mengerjakan pekerjaan itu sendiri dengan umpan balik,

6) Emosi positif sangat membantu pembelajaran,

7) Otak-citra menyerap informasi secara langsung dan otomatis.

c. Karakteristik Metode Pembelajaran SAVI (Somatis, Auditori, Visual, dan

Intelektual)

Sesuai dengan singkatan dari SAVI sendiri yaitu Somatic, Auditori, Visual dan

Intektual, maka karakteristiknya ada empat bagian yaitu :

1) Somatic

”Somatic” berasal dari bahasa yunani yaitu tubuh-soma. Jika dikaitkan dengan

belajar maka dapat diartikan belajar dengan bergerak dan berbuat. Sehingga

pembelajaran somatic adalah pembelajaran yang memanfaatkan dan

melibatkan tubuh.

2) Auditori

Belajar dengan berbicara dan mendengar. Pikiran kita lebih kuat dari pada yang

kita sadari, telinga kita terus menerus menangkap dan menyimpan informasi

bahkan tanpa kita sadari. Ketika kita membuat suara sendiri dengan berbicara

beberapa area penting di otak kita menjadi aktif. Hal ini dapat diartikan dalam

pembelajaran siswa hendaknya mengajak siswa membicarakan apa yang

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 57: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

65

sedang mereka pelajari, menerjemahkan pengalaman siswa dengan suara.

Mengajak mereka berbicara saat memecahkan masalah, membuat model,

mengumpulkan informasi, atau menciptakan makna-makna pribadi bagi diri

mereka sendiri.

3) Visual

Belajar dengan mengamati dan menggambarkan. Dalam otak kita terdapat

lebih banyak perangkat untuk memproses informasi visual dari pada semua

indera yang lain. Setiap siswa yang menggunakan visualnya lebih mudah

belajar jika dapat melihat apa yang sedang dibicarakan seorang penceramah

atau sebuah buku atau program komputer. Secara khususnya pembelajar visual

yang baik jika mereka dapat melihat contoh dari dunia nyata, diagram, peta

gagasan, ikon dansebagainya ketika belajar.

4) Intektual

Belajar dengan memecahkan masalah dan merenung. Tindakan pembelajar

yang melakukan sesuatu dengan pikiran mereka secara internal ketika

menggunakan kecerdasan untuk merenungkan suatu pengalaman dan

menciptakan hubungan, makna, rencana, dan nilai dari pengalaman tersebut.

Hal ini diperkuat dengan makna intelektual adalah bagian diri yang merenung,

mencipta, dan memecahkan masalah. Belajar dapat optimal jika keempat

karakteristik dari SAVI ada dalam satu peristiwa pembelajaran. Misalnya, orang

akan dapat belajar sedikit dengan menyaksikan persentasi (V), tetapi mereka

dapat belajar jauh lebih banyak jika mereka dapat melakukan sesuatu ketika

presentasi sedang berlangsung (S), membicarakan apa yang sedang mereka

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 58: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

66

pelajari (A), dan memikirkan cara menerapkan informasi dalam presentasi

tersebut dalam pekerjaan mereka (I) Dengan kata lain akal menerima fakta dari

indra untuk kemudian diintreprestasikan dengan informasi terkait. Sehingga

fakta dapat dimaknai dari penggabungan informasi tersebut.

d. Tahap-Tahap Model Pembelajaran SAVI

Pembelajaran SAVI dapat direncanakan dan kelompok dalam empat tahap :

1) Tahap persiapan (kegiatan pendahuluan)

Pada tahap ini guru membangkitkan minat siswa, memberikan perasaan

positif mengenai pengalaman belajar yang akan datang, dan menempatkan

mereka dalam situasi optimal untuk belajar. Secara spesifik meliputi hal :

a. memberikan sugesi positif,

b. memberikan pernyataan yang memberi manfaat kepada siswa,

c. memberikan tujuan yang jelas dan bermakna,

d. membangkitkan rasa ingin tahu,

e. menciptakan lingkungan fisik yang positif,

f. menciptakan lingkungan emosional yang positif,

g. menciptakan lingkungan sosial yang positif,

h. menenangkan rasa takut,

i. menyingkirkan hambatan-hambatan belajar,

j. banyak bertanya dan mengemukakan berbagai masalah,

k. merangsang rasa ingin tahu siswa,

l. mengajak pembelajar terlibat penuh sejak awal.

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 59: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

67

2) Tahap penyampaian (kegiatan inti)

Pada tahap ini guru hendaknya membantu siswa menemukan materi belajar

yang baru dengan cara menarik, menyenangkan, relevan, melibatkan panca

indera, dan cocok untuk semua gaya belajar. Hal-hal yang dapat dilakukan

guru :

a. uji coba kolaboratif dan berbagi pengetahuan,

b. pengamatan fenomena dunia nyata,

c. pelibatan seluruh otak, seluruh tubuh,

d. presentasi interaktif,

e. grafik dan sarana yang presentasi berwarna-warni,

f. aneka macam cara untuk disesuaikan dengan seluruh gaya belajar,

g. proyek belajar berdasar kemitraan dan berdasar tim,

h. latihan menemukan (sendiri, berpasangan, berkelompok),

i. pengalaman belajar di dunia nyata yang kontekstual,

j. pelatihan memecahkan masalah.

3) Tahap pelatihan (kegiatan inti)

Pada tahap ini guru hendaknya membantu siswa mengintegrasikan dan

menyerap pengetahuan dan keterampilan baru dengan berbagai cara. Secara

spesifik, yang dilakukan guru yaitu :

a. aktivitas pemrosesan siswa,

b. usaha aktif atau umpan balik atau renungan atau usaha kembali,

c. simulasi dunia-nyata,

d. permainan dalam belajar,

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 60: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

68

e. pelatihan aksi pembelajaran,

f. aktivitas pemecahan masalah,

g. refleksi dan artikulasi individu,

h. dialog berpasangan atau berkelompok,

i. pengajaran dan tinjauan kolaboratif,

j. aktivitas praktis membangun keterampilan,

k. mengajar balik.

4) Tahap penampilan hasil (kegiatan penutup)

Pada tahap ini guru hendaknya membantu siswa menerapkan dan

memperluas pengetahuan atau keterampilan baru mereka pada pekerjaan

sehingga hasil belajar akan melekat dan penampilan hasil akan terus

meningkat. Hal-hal yang dapat dilakukan adalah :

a. penerapan dunia nyata dalam waktu yang segera,

b. penciptaan dan pelaksanaan rencana aksi,

c. aktivitas penguatan penerapan,

d. materi penguatan persesi,

e. pelatihan terus menerus,

f. umpan balik dan evaluasi kinerja,

g. aktivitas dukungan kawan,

h. perubahan organisasi dan lingkungan yang mendukung.

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 61: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

69

e. Kelebihan dan Kekurangan Pendekatan SAVI

Penerapan pendekatan SAVI dalam pembelajaran tidak terlepas dari kelebihan

dan kekurangannya dibandingkan dengan pendekatan belajar lainnya. Berikut

adalah kelebihan dan kekurangan dari pendekatan SAVI.

1) Ada beberapa kelebihan dari pendekatan SAVI antara lain :

a. membangkitkan kecerdasan terpadu siswa secara penuh melalui

penggabungan gerak fisik dengan aktivitas intelektual,

b. memunculkan suasana belajar yang lebih baik, menarik dan efektif,

c. mampu membangkitkan kreatifitas dan meningkatkan kemampuan

psikomotor siswa,

d. memaksimalkan ketajaman konsentrasi siswa melalui pembelajaran

secara visual, auditori dan intelektual,

e. pembelajaran lebih menarik dengan adanya permainan belajar,

f. pendekatan yang ditawarkan tidak kaku tetapi dapat sangat bervariasi

tergantung pada pokok bahasan, dan pembelajarn itu sendiri,

g. dapat menciptakan lingkungan belajar yang positif. Orang yang dapat

belajar paling baik dalam lingkungan fisik, emosi dan sosial yang positif

yaitu lingkungan yang tenang sekaligus menggugah semangat, adanya

rasa minat dan kegembiraan sangat penting untuk mengoptimalkan

pembelajaran,

h. adanya keterlibatan pembelajaran sepenuhnya orang dapat belajar paling

baik jika dia terlihat secara penuh dan aktif serta mengambil tanggung

jawab penuh dan aktif serta mengambil tanggung jawab penuh atas usaha

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 62: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

70

belajarnya sendiri. Belajar bukannlah sejenis olah raga untuk ditonton,

melainkan menuntun peran serta semua pihak,

i. terciptanya kerja sama diantara pembelajar. Biasanya belajar paling baik

dalam lingkungan kerjasama. Semua cara belajar cenderung bersifat

sosial,

j. merupakan variasi yang cocok untuk semua gaya belajar. Orang dapat

belajar dengan baik jika dia mempunyai banyak variasi pilihan belajar

yang memungkinkannya untuk memanfaatkan seluruh indarnya dan

menerapkan gaya belajar yang dikuasainya.

2) Pendekatan SAVI Juga Memiliki Kekurangan, yaitu:

a. Pendekatan ini sangat menuntut adanya guru yang sempurna sehingga

dapat memadukan keempat komponen dalam SAVI secara utuh,

b. Penerapan pendekatan ini membutuhkan kelengkapan sarana dan

prasarana pembelajaran yang menyeluruh dan disesuaikan dengan

kebutuhan, sehingga memerlukan biaya pendidikan yang sangat besar.

Terutama untuk pengadaan media pembelajaran yang canggih dan

menarik. Ini dapat dipenuhi pada sekolah-sekolah maju,

c. Pendekatan yang memang tidak kaku tetapi harus disesuaikan dengan

pokok bahasan materi pembelajaran. Jadi tidak berlaku untuk semua

pelajaran matematika,

e. Pendekatan “SAVI” ini masih tergolong baru, banyak pengajar guru

sekalipun yang belum menguasai pendekatan “SAVI” tersebut,

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 63: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

71

f. Pendekatan “SAVI” ini cenderung kepada keaktifan siswa, sehingga

untuk siswa yang memiliki tingkat kecerdasan kurang, menjadikan siswa

itu minder.

f. Aplikasi terhadap Pembelajaran Drama

Belajar bisa optimal jika keempat unsur “SAVI” ada dalam suatu peristiwa

pembelajaran. Dalam pembelajaran Drama dengan menerapkan pendekatan

“SAVI” langkah-langkahnya sebagi berikut :

1) Mengelompokan siswa dalam kelompok yang beranggotakan 4-5 oarang,

2) Semua siswa memperhatikan penjelasan mengenai bermain drama,

3) Siswa mempelajari atau mendiskusikan tokoh yang akan ditampilkan sesuai

dengan langkah-langkah (somatik dan auditori),

4) Setiap kelompok berlatih dan mempersiapkan bermain drama,

5) Setiap siswa diminta mendiskusikan tentang persiapan bermain drama

(auditori, visual, dan intelektual),

6) Selama diskusi berlangsung guru mengamati kerja setiap kelompok secara

bergantian dan mengarahkan dan membantu siswa yang mengalami kesulitan,

7) Pada akhir kerja setiap kelompok mementaskan drama (somatik, auditori,

visual dan intelektual),

Dengan memperhatikan pendekatan “SAVI”, pada pembelajaran drama siswa

dapat belajar dengan aktif dan tidak merasa jenuh. Langkah-langkah pembelajaran

dengan pendekatan SAVI pada materi drama model SAVI yaitu dengan

menggabungkan keempat unsur SAVI yaitu Somatis, Auditori, Visual dan

Intelektual dalam pembelajaran.

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 64: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

72

B. Penelitian yang Relevan

Adapun hasil penelitian yang relevan dengan penelitian ini, penelitian oleh

Miftahul Jannah (2016) tentang “Pengembangan Bahan Ajar Bermain Drama

Berbasis Autobiografi “Habibie Dan Ainun”. Penelitian lain oleh Ratna Imani

(2013) tentang “Pengembangan Buku Panduan Menulis Teks Drama Berbahasa

Jawa untuk Meningkatkan Kemampuan Ekspresi Sastra pada Siswa SMA”. Hasil

penelitian lain Widya Sartika (2014), berjudul “Pengembangan materi

pembelajaran bermain drama berbasis multi media untuk SMP”.

Miftahul Jannah (2016) tentang “Pengembangan Bahan Ajar Bermain Drama

Berbasis Autobiografi “Habibie Dan Ainun”. Penelitian Jannah (2016)

menghasilkan : 1) produk yang dihasilkan berupa bahan ajar cetak Lembar Kegiatan

Siswa bermain drama berbasis autobiografi Habibie dan Ainun. Materi ajar di

dalamnya berisi standar kompetensi, kompetensi dasar bermain drama, berisi

pemaparan teori dan konsep, pendalaman materi, tugas, dan pembiasaan; 2) melalui

beberapa tahapan pengembangan, yakni hasil studi pendahuluan, proses

pengembangan, dan produk atau hasil pengembangan, serangkaian uji dari uji praktisi

atau teman sejawat, uji ahli substansi sastra, uji ahli teknologi pendidikan, uji coba

kelas kecil, uji coba kelas luas di tiga sekolah yang berbeda, dan revisi, produk

pengembangan LKS ini telah dinyatakan layak digunakan pada pembelajaran bermain

drama berbasis autobiografi Habibie dan Ainun untuk siswa SMA/MA kelas XI;

3) kelayakan isi Lembar Kegiatan Siswa tersebut ditinjau dari segi bahasa, kelayakan

isi, dan kegrafikan. Sedangkan peneliti meneliti tentang modul pembelajaran bermain

drama dengan model pembelajaran SAVI.

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017

Page 65: BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Teori 1. Bahan Ajarrepository.ump.ac.id/2206/3/MARLIA RATNA DEWI BAB II.pdf · 11 tugas, soal-soal evaluasi beserta kunci jawaban dan tindak lanjut

73

Modul pembelajaran

bermain drama di SMP

Kelas VIII dengan

pendekatan SAVI

Bahan pembelajaran

bermain drama kurang

bervariasi, kurang

menarik

Bahan bermain

drama bagi

murid SMP

*bervariasi

*menarik,

sesuai dengan

kebutuhan siswa

Bahan ajar bermain drama

dengan pendekatan SAVI di

SMP Kelas VIII

Kompetensi Bersastra

1. Menulis

2. Membaca

3. Berbicara

C. Kerangka Pikir

Keterampilan bermain drama pada siswa kelas VIII SMP Negeri 2

Singaparna Kabupatem Tasikmalaya masih kurang diminati oleh siswa, hal ini

karena siswa masih kurang percaya diri. Kurangnya minat bermain drama

dikarenakan rasa kurang percaya diri siswa membuat merasa enggan untuk

bermain drama. Proses pembelajaran yang dilakukan guru dalam proses

pembelajaran harus lebih kreatif, sehingga minat dan antusias siswa saat

pembelajaran drama berlangsung lebih meningkat, jika siswa kurang minat karena

percaya diri maka secara tidak langsung akan mempengaruhi hasil yang dicapai.

Berdasarkan keadaan di atas, peneliti menggunakan model SAVI dengan

pengembang modul pembelajaran drama dalam usaha meningkatkan kemampuan

bermain drama lebih meningkat.

Secara umum kerangka pikir pada penelitian ini dapat dilihat pada bagan

berikut ini :

Gambar 2.1 : Diagram Kerangka Berpikir

Pengembangan Bahan Ajar..., Marlia Ratna Dewi, Program Pascasarjana UMP, 2017