BAB I PENDAHULUAN A. Latar I.pdf¢  Akulturasi Budaya Tionghoa, Islam dan Jawa. Telihat dari tata kota

  • View
    0

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of BAB I PENDAHULUAN A. Latar I.pdf¢  Akulturasi Budaya Tionghoa, Islam dan Jawa. Telihat...

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Gunung kawi merupakan sebuah wilayah yang selalu dihubungkan dengan

    budaya-budaya jawa yang kental, kisah mistis, serta pesugihan yang terkenal di pulau

    jawa. Gunung kawi sebagai salah satu gunung aktif pulau jawa terletak di kabupaten

    Malang, berada pada ketinggian 2551m atau 8369 kaki dari permukaan laut. Salah satu

    destinasi wisata religi yang cukup terkenal di pulau jawa, salain itu gunung kawi sendiri

    memiliki keindahan alam serta kesejukan yang tidak kalah dengan destinasi wisata lain

    dikarenakan wilayah gunung kawi yang masih sangat asri dan dijaga.

    Salah satu aspek sosial yang menarik dari kawasan Gunung Kawi adalah masalah

    pembauran. Pembauran etnis Tionghoa, Islam dan Jawa disebabkan oleh latar belakang

    sejarah permulaan pembentukan desa dan kepercayaan dari masing-masing etnis

    mengenai pesarean Gunung Kawi. Gunung Kawi merupakan representasi dari

    Akulturasi Budaya Tionghoa, Islam dan Jawa. Telihat dari tata kota dan bangunan

    yang berdiri beriringan di sepanjang jalan menuju pesarean Gunung Kawi, komplek

    pesarean Gunung Kawi memiliki tiga bangunan peribadatan, yaitu Masjid sebagai

    tempat ibadah masyarakat Muslim, Klenteng sebagai tempat ibadah masyarakat

    Tinghoa lengkap dengan Ciam Si serta Pesarean Gunung Kawi sebagai petilasan yang

    bersejarah bagi masyarakat Jawa.

  • 2

    Akulturasi yang memiliki pengertian sebuah proses yang dua atau lebih budaya

    dalam satu ruang budaya yang menciptakan suatu budaya temu yang dapat saling

    berkembang dalam masyarakat dengan mempertimbangan unsur-unsur budaya terkait

    sebagai proses sosial ketika kelompok masyarakat lokal dihadapkan dengan unsur-

    unsur budaya asing. Budaya asing secara perlahan diterima oleh masyarakat,

    mendapatkan ruang dan diolah menjadi budaya masyarakat lokal tanpa menghilangkan

    unsur kebudayaan kelompok lokal tersebut. Upaya guna untuk menegosiasikan

    kepentingan lokal dalam menghadapi “unsur luar” sebagai suatu akibat dari pembauran

    serta dampak globalisasi yang selalu menyuguhkan praktek dan bentuk kultural dari

    luar ruang lokal dan memaksa masuk dalam ruang lokal tersebut.

    Menurut Koentjaranigrat, akulturasi merupakan suatu proses sosial yang terjadi

    ketika kelompok sosial dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan budaya asing

    yang berbeda. Proses akulturasi memiliki persyaratan dimana adanya senyawa

    (afinitas) bahwa peneriman budaya tanpa rasa kejutan, maka keseragaman

    (homogenitas) sebagai nilai baru yang dicerna karena persamaan pola budaya.

    Pertemuan budaya Islam, Jawa dan Tinghoa terlihat dari bangunan yang me

    representasikan ketiga budaya besar tersebut terdiri atas Islam berupa bangunan

    Masjid, Tinghoa berupa bangunan Klenteng serta Jawa dengan Pesarean berupa Rumah

    adat khas Jawa, ketiga tempat ibadah tersebut berdiri diatas komplek Pesarean Gunung

    Kawi. Sejarah berdirinya Gunung Kawi dimulai dari perjuangan masyarakat melawan

    kolonialisme Belanda, Eyang Kyai Zakaria II (Eyang Djoego) dan RM. Iman Soedjono

    mengalihkan perjuangannya untuk mengalang persatuan Nasional serta berupaya

  • 3

    mencerdaskan Masyarakat dengan ilmu pertanian, budi perkerti dan kebajikan dengan

    landasan idealis Religius.

    Salah satu tanaman yang dibudidayakan pada masa itu dan terkenal langka adalah

    tanaman Dewan Ndaru atau dalam keyakinan Tinghoa disebut Shian Tho (pohon

    dewa), dalam Legenda Cina Kuno tanaman tersebut hanya ditanam oleh para Dewa

    dan Kaisar. Disinilah awal mula masyarakat Tinghoa menjadi salah satu masyarakat

    Gunung Kawi.

    Eyang Kyai Zakaria II (Eyang Djoego) yang disebut masyarakat Tinghoa TAW

    LOW SHE berarti Guru Besar Pertama dan RM. Iman Soedjono disebut DJIE LOW

    SHE yang memiliki arti Guru Besar Kedua, adalah bukti sejarah kerukunan masyarakat

    lokal serta masyarakat Tinghoa. Dalam sejarah Cina penyebutan guru besar tidak serta

    merta disematkan begitu saja pada tokoh masyarakat, adanya pengakuan masyarakat

    Tinghoa mengenai ilmu yang diajarkan dan dipraktekan sesuai ajaran agama yang

    berlaku.

    Makam Eyang Kyai Zakaria II (Eyang Djoego / TAW LOW SHE) dan RM. Iman

    Soedjono (DJIE LOW SHE) sebagai salah satu guru besar serta prajurit yang kokoh

    perpegang pada idealis Religius, menjadi salah satu tokoh yang menjadi sorotan

    masyarakat Jawa, Tinghoa serta Islam sebagai salah satu tokoh yang berpengaruh besar

    pada perjuangan melawan kolonialisme dan patut mendapatkan penghargaan dari jasa

    yang telah dilakukan dalam upaya mencerdaskan bangsa melalui masyarakat Gunung

    Kawi pada masa kolonialisme.

  • 4

    Salah satu tradisi besar yang tercipta dari pencampuran agama dan budaya dapat

    terlihat jelas pada perayaan Ritual Satu Suro, dalam tradisi Satu Suro seluruh

    masyarakat dari berbagai agama dan etnis turut berpartisipasi dalam pelaksanaanya,

    kewajiban sebagai warga lokal Gunung Kawi memaksa masyarakat membuat strategi

    negoisasi untuk menyatukan seluruh masyarakat dalam pelaksanaanya salah satunya

    dengan penerapan konsep Akulturasi sebagai jalan keluar.

    Budaya yang telah dipegang teguh inilah, menjadi cikal bakal pemikiran,

    pengetahuan serta konsep yang disepakati oleh masyarakat sebagai identitas yang

    melekat pada diri mereka sebagai masyarakat Gunung Kawi. Konsep yang dipercaya

    dan selalu dijaga, dimana hal ini juga memiliki konsekuensi ketika budaya-budaya

    yang melekat ini tidak dilaksanakan dengan baik atau bahkan dilangar.

    Sumber lain mengatakan bahwa ketika tidak melakukan ritual satu suro sesuai

    dengan aturan yang disepakati masyarakat maka akan terjadi suatu bencana atau

    musibah. Sebagai contoh ketika seorang warga tidak melaksanakan slamatan berkaitan

    dengan hari-hari tertentu pada kalender Jawa, suatu musibah yang terjadi pada warga

    tersebut dikemudian hari akan dihubungkan dengan kesalahannya karena tidak

    melakukan ritual slametan, begitu pula pada kasus hari besar jawa seperti satu suro

    yang diyakini bahwa “Nyai Roro Kidul Ngunduh Mantu”. Jika ada warga yang tidak

    melakukan ritual Jawa seperti pembersihan diri, alat logam dan tidak mengikuti prosesi

    acara suroan maka diyakini hal buruk akan terjadi bahkan bisa sampai kematian karena

    kurang hormatnya warga tersebut pada budaya yang berlangsung.

  • 5

    Sosiologi agama melihat peran agama sebagai institusi sosial dan sistem keyakinan

    yang mengakar dalam masyarakat, mengkaji mengenai hubungan agama dengan

    masyarakat. Agama berperan institusi sosial dapat dipahami bahwa agama sebagai

    kumpulan norma, atuan yang berlaku serta nilai yang dijunjung tinggi masyarakat

    penganut membentuk pola yang berkembang dinamis serta terorganisir, dalam peran

    sebagai sistem keyaninan pengaruhnya terlihat jelas terhadap cara berfikir, berperilaku

    dalam masyarakat dan bertindak.

    Persamaan sejarah, pemaknaan simbol, letak geografis, nilai-nilai dari suatu

    masyarakat yang membuat masyarakat tersebut dikenal sebagai kelompok yang

    berbeda. Pandangan sosiologi sendiri merujuk pada perasaan sebagai bagian dari

    kelompok budaya atau etnis tertentu dan hal inilah yang memberi pengaruh pada

    perasaan, pandangan, dan perilaku pada masyarakat sebagai bagian dari konsep diri

    individu dalam hal ini juga berasal dari perasaan dan pengetahuan dari kelompok

    budaya yang secara sadar memahami diri sebagai bagian dari budaya tersebut.

    Akulturasi Budaya menjelaskan tentang penyerapan suatu unsur budaya dilakukan

    oleh kelompok budaya lokal dengan budaya non lokal, penyerapan sebagain

    kebudayaan sebagai akibat dari pembauran antar kelompok budaya yang berinteraksi,

    memiliki sasaran pada masyarakat yang memiliki budaya hampir sama namun tetap

    mempertahankan kepribadian budaya masing-masing. Fokus kajian akulturasi budaya

    tidak sebatas kegiatan pembauran secara harfiah yang dialami masyarakat maupun

    kelompok, namun pengaruh pembauran dalam hal kesadaran berbahasa, berfikir,

    bertindak, bersikap budaya.

  • 6

    Merujuk pada gagasan Koentjaraningrat, akulturasi dipahami sebagai dampak

    yang timbul dari interaksi sosial masyarakat yang memiliki budaya berbeda yang

    memiliki unsur kebudayaan hampir sama, berbaur dalam masyarakat kemudian

    diterima oleh masyarakat dan diolah sedemikian rupa dalam budaya local tanpa

    menghilangkan sifat khusus dari budaya lokal tersebut. (Koentjaraningrat, 1990)

    Teori akulturasi sangat relevan dalam keitannnya dengan kritik lintas budaya

    sekaligus wacana yang ditimbulkan sebagai bentuk pembauran masyarakat lokal

    dengan budaya asing dengan beragam strategi pertahanan masyarakat dengan

    memperyahankan unsur budaya masing-masing masyarakat budaya tanpa mengurangi

    rasa saling menghargai setiap masyarakatnya.

    Akulturasi bukan hanya menjelaskan menganai dua atau beberapa entitas budaya

    stabil (dua atau beberapa budaya), yang bertemu di masyarakat dan bercampur namun

    akulturasi menjelaskan konsep budaya yang selalu sudah ada, memiliki kesan stabilitas

    (kesan bahwa ada beberapa budaya yan