of 13/13
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Kejang Demam Kejang demam atau febrile convulsion ialah bangkitan kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38 o C) yang disebabkan oleh proses ekstakramium. 17 Menurut Consensus Statement on Febrile Seizures , kejang demam adalah bangkitan kejang pada bayi dan anak, biasanya terjadi antara umur 3 bulan sampai 5 tahun, berhubungan dengan demam tetapi tidak terbukti adanya infeksi intrakranial atau penyebab tertentu. 18 Anak yang pernah kejang tanpa demam dan bayi berumur kurang dari 4 minggu tidak termasuk dalam kejang demam. Kejang demam harus dibedakan dengan epilepsi yaitu yang ditandai dengan kejang berulang tanpa demam. 7 Pada saat mengalami kejang, anak akan terlihat aneh untuk beberapa saat, kemudian kaku, dan memutar matanya. Anak tidak responsif untuk beberapa waktu, nafas akan terganggu, dan kulit akan tampak lebih gelap dari biasanya. Setelah kejang, anak akan segera normal kembali. . 19 Serangan kejang pada penderita kejang demam dapat terjadi satu, dua, tiga kali atau lebih selama satu episode demam. Jadi, satu episode kejang demam dapat terdiri dari satu, dua, tiga atau lebih serangan kejang. 5 Universitas Sumatera Utara

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Kejang Demamrepository.usu.ac.id/bitstream/123456789/52848/3/Chapter II.pdf · 2.2. Klasifikasi Kejang Demam 7,20. Kejang demam dapat . diklasifikasikan

  • View
    222

  • Download
    3

Embed Size (px)

Text of BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Definisi Kejang...

  • BAB 2

    TINJAUAN PUSTAKA

    2.1. Definisi Kejang Demam

    Kejang demam atau febrile convulsion ialah bangkitan kejang yang terjadi

    pada kenaikan suhu tubuh (suhu rektal di atas 38oC) yang disebabkan oleh proses

    ekstakramium.17

    Menurut Consensus Statement on Febrile Seizures, kejang demam

    adalah bangkitan kejang pada bayi dan anak, biasanya terjadi antara umur 3 bulan

    sampai 5 tahun, berhubungan dengan demam tetapi tidak terbukti adanya infeksi

    intrakranial atau penyebab tertentu. 18

    Anak yang pernah kejang tanpa demam dan

    bayi berumur kurang dari 4 minggu tidak termasuk dalam kejang demam. Kejang

    demam harus dibedakan dengan epilepsi yaitu yang ditandai dengan kejang berulang

    tanpa demam.7

    Pada saat mengalami kejang, anak akan terlihat aneh untuk beberapa saat,

    kemudian kaku, dan memutar matanya. Anak tidak responsif untuk beberapa waktu,

    nafas akan terganggu, dan kulit akan tampak lebih gelap dari biasanya. Setelah

    kejang, anak akan segera normal kembali.. 19

    Serangan kejang pada penderita kejang

    demam dapat terjadi satu, dua, tiga kali atau lebih selama satu episode demam. Jadi,

    satu episode kejang demam dapat terdiri dari satu, dua, tiga atau lebih serangan

    kejang.5

    Universitas Sumatera Utara

  • 2.2. Klasifikasi Kejang Demam 7,20

    Kejang demam dapat diklasifikasikan menjadi dua kelompok yaitu :

    2.2.1. Kejang demam sederhana (simple febrile seizure)

    Adapun ciri-ciri kejang demam sederhana antara lain :

    a. Berlangsung singkat (< 15 menit)

    b. Menunjukkan tanda-tanda kejang tonik dan atau klonik.

    Kejang tonik yaitu serangan berupa kejang/kaku seluruh tubuh. Kejang

    klonik yaitu gerakan menyentak tiba-tiba pada sebagian anggota tubuh.

    c. Kejang hanya terjadi sekali / tidak berulang dalam 24 jam.

    2.2.2. Kejang demam kompleks (complex febrile seizure)

    Adapun ciri-ciri kejang demam kompleks antara lain :

    a. Berlangsung lama (> 15 menit).

    b. Menunjukkan tanda-tanda kejang fokal yaitu kejang yang hanya

    melibatkan salah satu bagian tubuh.

    c. Kejang berulang/multipel atau lebih dari 1 kali dalam 24 jam.

    2.3. Etiologi Kejang Demam

    Demam merupakan faktor pencetus terjadinya kejang demam pada anak.7

    Demam sering disebabkan oleh berbagai penyakit infeksi seperti infeksi saluran

    pernafasan akut, otitis media akut, gastroenteritis, bronkitis, infeksi saluran kemih,

    dan lain-lain. Setiap anak memiliki ambang kejang yang berbeda. Kejang tidak selalu

    timbul pada suhu yang paling tinggi. 17

    Pada anak dengan ambang kejang yang

    rendah, serangan kejang telah terjadi pada suhu 38C bahkan kurang, sedangkan pada

    Universitas Sumatera Utara

  • anak dengan ambang kejang tinggi, serangan kejang baru terjadi pada suhu 40C

    bahkan lebih.

    2.4. Patofisiologi Kejang Demam21

    Untuk mempertahankan kelangsungan hidup sel atau otak diperlukan energi

    yang didapat dari metabolisme. Bahan baku untuk metabolisme otak yang terpenting

    adalah glukosa dan melalui suatu proses oksidasi. Dalam proses oksidasi tersebut

    diperlukan oksigen yang disediakan melalui perantaraan paru-paru. Oksigen dari

    paru-paru ini diteruskan ke otak melalui sistem kardiovaskular. Suatu sel, khususnya

    sel otak atau neuron dalam hal ini, dikelilingi oleh suatu membran yang terdiri dari

    membran permukaan dalam dan membran permukaan luar. Membran permukaan

    dalam bersifat lipoid, sedangkan membran permukaan luar bersifat ionik.

    Dalam keadaan normal membran sel neuron dapat dengan mudah dilalui ion

    Kalium (K+) dan sangat sulit dilalui oleh ion Natrium ( Na

    + ) dan elektrolit lainnya,

    kecuali oleh ion Klorida (Cl-). Akibatnya konsentrasi K

    + dalam neuron tinggi dan

    konsentrasi Na+ rendah, sedangkan di luar neuron terdapat keadaan sebaliknya.

    Karena perbedaan jenis dan konsentrasi ion di dalam dan di luar neuron, maka

    terdapat perbedaan potensial yang disebut potensial membran neuron. Untuk menjaga

    keseimbangan potensial membran ini diperlukan energi dan bantuan enzim Na-K-

    ATPase yang terdapat pada permukaan sel. Keseimbangan potensial membran tadi

    dapat berubah karena adanya : perubahan konsentrasi ion di ruang ekstraseluler,

    rangsangan yang datang mendadak seperti rangsangan mekanis, kimiawi, atau aliran

    Universitas Sumatera Utara

  • listrik dari sekitarnya, dan perubahan patofisiologi dari membran sendiri karena

    penyakit atau keturunan.

    Pada keadaan demam, kenaikan suhu 1C akan mengakibatkan kenaikan

    metabolisme basal 10-15% dan meningkatnya kebutuhan oksigen sebesar 20%. Pada

    seorang anak usia 3 tahun, sirkulasi otak mencapai 65% dari seluruh sirkulasi tubuh,

    dibandingkan dengan orang dewasa yang hanya 15%. Jadi kenaikan suhu tubuh pada

    seorang anak dapat mengubah keseimbangan membran sel neuron dan dalam waktu

    singkat terjadi difusi ion Kalium dan ion Natrium melalui membran tersebut sehingga

    mengakibatkan terjadinya lepas muatan listrik. Lepasnya muatan listrik ini demikian

    besar sehingga dapat meluas ke seluruh sel maupun ke membran sel lain yang ada

    didekatnya dengan perantaraan neurotransmitter sehingga terjadilah kejang.

    2.5. Epidemiologi Kejang Demam

    2.5.1. Distribusi Frekuensi Kejang Demam

    a. Distribusi Frekuensi berdasarkan Orang

    Penelitian Lumbantobing, S.M., (1995) pada 297 bayi dan anak yang

    menderita kejang demam menunjukkan bahwa 83,6% kejang demam pertama terjadi

    pada usia 1 bulan sampai 2 tahun.5 Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh

    Parmar, R.C., dkk (2001) di Department of Paediatrics of A Tertiarycare Centre di

    kota Metropolitan, India menunjukkan bahwa penderita kejang demam lebih banyak

    diderita oleh anak laki-laki 55% dan pada anak perempuan 45%.22

    Universitas Sumatera Utara

  • b. Distribusi Frekuensi berdasarkan Tempat dan Waktu

    Berdasarkan studi kohort yang dilakukan oleh Huang, CC., dkk (1999) di kota

    Tainan, Taiwan pada 11.714 neonatal dari oktober 1989 september 1991, setelah 3

    tahun diikuti, 10.460 anak bersedia untuk mengikuti survei mengenai kejang demam.

    Dari 10.460 anak, didapatkan 256 anak yang pernah menderita kejang demam,

    sehingga diperoleh insidens kejang demam pada anak di kota Tainan, Taiwan 2,4%.25

    Berdasarkan studi kohort yang dilakukan di Denmark selama 28 tahun (1 Januari

    1977 - 31 Desember 2005) pada bayi baru lahir sampai usia tiga bulan pertama

    diperoleh insidensi kejang demam 3,3%.15

    2.5.2.Determinan Kejang Demam

    Determinan kejang demam dibedakan berdasarkan host, agent dan environment.

    a. Host

    Faktor host yang menjadi determinan terjadinya kejang demam antara lain :

    a.1. Umur

    Berdasarkan studi kasus kontrol yang dilakukan Fuadi, A., dkk (2010) di

    RSUP dr. Kariadi Semarang menunjukkan bahwa anak yang berusia 2 tahun.26

    Penelitian Karimzadeh, P., dkk (2008) di Mofid

    Childrens Hospital Iran menunjukkan bahwa penderita kejang demam paling

    banyak terjadi pada usia dua tahun pertama (13-24 bulan) yaitu 39,8%.8

    a.2. Jenis kelamin

    Berdasarkan penelitian Bessisso, M.S., dkk (2000) di Qatar menunjukkan

    bahwa kejang demam lebih banyak diderita oleh anak laki-laki dibandingkan dengan

    Universitas Sumatera Utara

  • anak perempuan dengan rasio 1,2 : 1, dimana anak laki-laki 128 orang (54,2%) dan

    anak perempuan 108 orang (45,8%).27

    Hasil penelitian Siddiqui, T.S., (2000) di

    Department of Paediatrics, Hayat Shaheed Teaching Hospital Peshawar diperoleh

    anak laki-laki yang menderita kejang demam 55% dan anak perempuan 45%.28

    a.3. Riwayat kejang keluarga

    Berdasarkan studi kasus kontrol yang dilakukan Fuadi, A., dkk (2010) di

    RSUP dr. Kariadi Semarang menunjukkan bahwa anak yang memiliki keluarga

    dengan riwayat kejang berisiko 4,5 kali untuk mengalami kejang demam

    dibandingkan dengan anak yang tidak memiliki keluarga dengan riwayat kejang.26

    Penelitian Karimzadeh, P., dkk (2008) di Mofid Childrens Hospital Iran

    menunjukkan bahwa dari 302 anak yang menderita kejang demam, ada 28,8 % anak

    yang memiliki keluarga dengan riwayat kejang demam.8 Penelitian Ridha, N.R., dkk

    (2009) di RS Wahidin Sudirohusodo di Makassar menunjukkan bahwa anak yang

    memiliki keluarga dengan riwayat kejang demam berisiko 6 kali untuk mengalami

    kejang demam.23

    Berdasarkan studi yang dilakukan Huang, CC., dkk (1999) di

    Taiwan menunjukkan bahwa anak yang memiliki saudara kandung dengan riwayat

    kejang demam berisiko 3,1 kali untuk menderita kejang demam.25

    a.4. Berat badan lahir

    Berdasarkan penelitian Vestergaard dkk (2002) di Denmark didapatkan bahwa

    risiko kejang demam meningkat secara konsisten dengan penurunan berat badan

    ketika lahir. Bayi yang lahir dengan berat badan

  • kali, sedangkan bayi yang lahir dengan berat badan 3500-3999 gram dan >3999 gram

    risiko untuk menderita kejang demam sebesar 1 kali.29

    b. Agent

    Kejadian kejang demam dicetuskan karena terjadinya kenaikan suhu tubuh di

    atas normal (demam). Tinggi suhu tubuh pada saat timbul serangan kejang disebut

    nilai ambang kejang. Ambang kejang berbeda-beda untuk setiap anak. Adanya

    perbedaan ambang kejang ini menunjukkan bahwa ada anak yang mengalami kejang

    setelah suhu tubuhnya meningkat sangat tinggi sedangkan pada anak yang lain,

    kejang sudah timbul walaupun suhu meningkat tidak terlalu tinggi.

    Penelitian Karimzadeh, P., dkk (2008) di Mofid Childrens Hospital,

    diperoleh 302 kasus penderita kejang demam dimana anak yang mengalami kejang

    pada suhu 38,5oC ada 60,9%, sedangkan anak yang mengalami kejang pada suhu

    >38,5oC ada 39,1%.

    8

    Demam yang terjadi pada anak biasanya disebabkan oleh penyakit infeksi.

    Penelitian Mahyar, A., dkk (2010) di Iran menunjukkan bahwa anak yang menderita

    kejang demam, demamnya paling banyak disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan

    akut (ISPA) 53,8%, diikuti dengan gastroenteritis 24,4%, otitis media akut 9%,

    infeksi saluran kemih 6,4%, pneumonia 3,8% dan lainnya 2,6%.24

    c. Environment

    Faktor lain yang memengaruhi timbulnya kejang demam adalah faktor

    lingkungan dengan sanitasi dan higiene yang buruk serta pemukiman yang terlalu

    padat. Kondisi ini mengakibatkan mudahnya agent penyakit berkembang biak serta

    terjadi penularan penyakit infeksi yang cepat. Pemaparan agent penyakit juga dapat

    Universitas Sumatera Utara

  • terjadi pada saat anak kontak secara langsung dengan anggota keluarganya yang

    sakit.

    2.6. Komplikasi Kejang Demam

    Gangguan-gangguan yang dapat terjadi akibat dari kejang demam anak antara

    lain :

    2.6.1. Kejang Demam Berulang.

    Kejang demam berulang adalah kejang demam yang timbul pada lebih dari

    satu episode demam. Beberapa hal yang merupakan faktor risiko berulangnya

    kejang demam yaitu :

    a. Usia anak < 15 bulan pada saat kejang demam pertama

    b. Riwayat kejang demam dalam keluarga

    c. Kejang demam terjadi segera setelah mulai demam

    d. Riwayat demam yang sering

    e. Kejang demam pertama merupakan kejang demam kompleks.

    Berdasarkan penelitian kohort prospektif yang dilakukan Bahtera, T., dkk

    (2009) di RSUP dr. Kariadi Semarang, dimana subjek penelitian adalah

    penderita kejang demam pertama yang berusia 2 bulan - 6 tahun, kemudian

    selama 18 bulan diamati. Subjek penelitian berjumlah 148 orang. Lima puluh

    enam (37,84%) anak mengalami bangkitan kejang demam berulang.30

    2.6.2. Kerusakan Neuron Otak.

    Kejang yang berlangsung lama (>15 menit) biasanya disertai dengan apnea,

    meningkatnya kebutuhan oksigen dan energi untuk kontraksi otot yang

    Universitas Sumatera Utara

  • akhirnya menyebabkan hipoksemia, hiperkapnia, asidosis laktat karena

    metabolisme anaerobik, hipotensi arterial, denyut jantung yang tak teratur,

    serta suhu tubuh yang makin meningkat sejalan dengan meningkatnya aktivitas

    otot sehingga meningkatkan metabolisme otak. Proses di atas merupakan

    faktor penyebab terjadinya kerusakan neuron otak selama berlangsung kejang

    lama. Faktor terpenting adalah gangguan peredaran darah yang mengakibatkan

    hipoksia sehingga meningkatkan permeabilitas kapiler dan timbul edema otak

    yang mengakibatkan kerusakan neuron otak.

    2.6.3. Retardasi Mental, terjadi akibat kerusakan otak yang parah dan tidak

    mendapatkan pengobatan yang adekuat.

    2.6.4. Epilepsi, terjadi karena kerusakan pada daerah medial lobus temporalis setelah

    mendapat serangan kejang yang berlangsung lama. Ada 3 faktor risiko yang

    menyebabkan kejang demam menjadi epilepsi dikemudian hari, yaitu :

    a. Riwayat epilepsi pada orangtua atau saudara kandung.

    b. Kelainan neurologis atau perkembangan yang jelas sebelum kejang demam

    pertama.

    c. Kejang demam pertama merupakan kejang demam kompleks.

    Menurut American National Collaborative Perinatal Project, 1,6% dari semua

    anak yang menderita kejang demam akan berkembang menjadi epilepsi, 10%

    dari semua anak yang menderita kejang demam yang mempunyai dua atau tiga

    faktor risiko di atas akan berkembang menjadi epilepsi.31

    2.6.5. Hemiparesis, yaitu kelumpuhan atau kelemahan otot-otot lengan, tungkai serta

    wajah pada salah satu sisi tubuh. Biasanya terjadi pada penderita yang

    Universitas Sumatera Utara

  • mengalami kejang lama (kejang demam kompleks). Mula-mula kelumpuhan

    bersifat flaksid, setelah 2 minggu timbul spasitas.

    2.7. Pencegahan Kejang Demam

    2.7.1. Pencegahan Primordial

    Yaitu upaya pencegahan munculnya faktor predisposisi terhadap kasus kejang

    demam pada seorang anak dimana belum tampak adanya faktor yang menjadi risiko

    kejang demam. Upaya primordial dapat berupa:

    a. Penyuluhan kepada ibu yang memiliki bayi atau anak tentang upaya untuk

    meningkatkan status gizi anak, dengan cara memenuhi kebutuhan nutrisinya.

    Jika status gizi anak baik maka akan meningkatkan daya tahan tubuhnya

    sehingga dapat terhindar dari berbagai penyakit infeksi yang memicu

    terjadinya demam.

    b. Menjaga sanitasi dan kebersihan lingkungan. Jika lingkungan bersih dan sehat

    akan sulit bagi agent penyakit untuk berkembang biak sehingga anak dapat

    terhindar dari berbagai penyakit infeksi.

    2.7.2. Pencegahan Primer32

    Pencegahan Primer yaitu upaya awal pencegahan sebelum seseorang anak

    mengalami kejang demam. Pencegahan ini ditujukan kepada kelompok yang

    mempunyai faktor risiko. Dengan adanya pencegahan ini diharapkan keluarga/orang

    terdekat dengan anak dapat mencegah terjadinya serangan kejang demam.

    Universitas Sumatera Utara

  • Upaya pencegahan ini dilakukan ketika anak mengalami demam. Demam

    merupakan faktor pencetus terjadinya kejang demam. Jika anak mengalami demam

    segera kompres anak dengan air hangat dan berikan antipiretik untuk menurunkan

    demamnya meskipun tidak ditemukan bukti bahwa pemberian antipiretik dapat

    mengurangi risiko terjadinya kejang demam.

    2.7.3. Pencegahan Sekunder33

    Yaitu upaya pencegahan yang dilakukan ketika anak sudah mengalami

    kejang demam. Adapun tata laksana dalam penanganan kejang demam pada anak

    meliputi :

    a. Pengobatan Fase Akut

    Anak yang sedang mengalami kejang, prioritas utama adalah menjaga agar

    jalan nafas tetap terbuka. Pakaian dilonggarkan, posisi anak dimiringkan untuk

    mencegah aspirasi. Sebagian besar kasus kejang berhenti sendiri, tetapi dapat juga

    berlangsung terus atau berulang. Pengisapan lendir dan pemberian oksigen harus

    dilakukan teratur, bila perlu dilakukan intubasi. Keadaan dan kebutuhan cairan, kalori

    dan elektrolit harus diperhatikan. Suhu tubuh dapat diturunkan dengan kompres air

    hangat dan pemberian antipiretik. Pemberantasan kejang dilakukan dengan cara

    memberikan obat antikejang kepada penderita. Obat yang diberikan adalah diazepam.

    Dapat diberikan melalui intravena maupun rektal.34

    b. Mencari dan mengobati penyebab

    Pada anak, demam sering disebabkan oleh infeksi saluran pernafasan akut,

    otitis media, bronkitis, infeksi saluran kemih, dan lain-lain. Untuk mengobati

    penyakit infeksi tersebut diberikan antibiotik yang adekuat. Kejang dengan suhu

    Universitas Sumatera Utara

  • badan yang tinggi juga dapat terjadi karena faktor lain, seperti meningitis atau

    ensefalitis. Oleh sebab itu pemeriksaan cairan serebrospinal (lumbal pungsi)

    diindikasikan pada anak penderita kejang demam berusia kurang dari 2 tahun.

    Pemeriksaan laboratorium lain dilakukan atas indikasi untuk mencari penyebab,

    seperti pemeriksaan darah rutin, kadar gula darah dan elektrolit. Pemeriksaan EEG

    dilakukan pada kejang demam kompleks atau anak yang mempunyai risiko untuk

    mengalami epilepsi.

    c. Pengobatan profilaksis terhadap kejang demam berulang

    Pencegahan kejang demam berulang perlu dilakukan karena menakutkan

    keluarga dan bila berlangsung terus dapat menyebabkan kerusakan otak yang

    menetap. Terdapat 2 cara profilaksis, yaitu:

    c.1. Profilaksis intermitten pada waktu demam

    Pengobatan profilaksis intermittent dengan antikonvulsan segera diberikan

    pada saat penderita demam (suhu rektal lebih dari 38C). Pilihan obat harus dapat

    cepat masuk dan bekerja ke otak. Obat yang dapat diberikan berupa diazepam,

    klonazepam atau kloralhidrat supositoria.

    c.2. Profilaksis terus menerus dengan antikonvulsan tiap hari

    Indikasi pemberian profilaksis terus menerus adalah:

    c.2.1. Sebelum kejang demam yang pertama sudah ada kelainan atau gangguan

    perkembangan neurologis.

    c.2.2. Terdapat riwayat kejang tanpa demam yang bersifat genetik pada orang tua

    atau saudara kandung.

    Universitas Sumatera Utara

  • c.2.3. Kejang demam lebih lama dari 15 menit, fokal atau diikuti kelainan

    neurologis sementara atau menetap. Kejang demam terjadi pada bayi berumur kurang

    dari 12 bulan atau terjadi kejang multipel dalam satu episode demam.

    Antikonvulsan profilaksis terus menerus diberikan selama 1-2 tahun setelah

    kejang terakhir, kemudian dihentikan secara bertahap selama 1-2 bulan. Pemberian

    profilaksis terus menerus hanya berguna untuk mencegah berulangnya kejang demam

    berat, tetapi tidak dapat mencegah timbulnya epilepsi di kemudian hari. Obat yang

    dapat diberikan berupa fenobarbital dan asam valproat.

    2.7.4. Pencegahan Tersier

    Tujuan utama dari pencegahan tersier adalah mencegah terjadinya kecacatan,

    kematian, serta usaha rehabilitasi. Penderita kejang demam mempunyai risiko untuk

    mengalami kematian meskipun kemungkinannya sangat kecil. Selain itu, jika

    penderita kejang demam kompleks tidak segera mendapat penanganan yang tepat dan

    cepat akan berakibat pada kerusakan sel saraf (neuron). Oleh karena itu, anak yang

    menderita kejang demam perlu mendapat penanganan yang adekuat dari petugas

    kesehatan guna mencegah timbulnya kecacatan bahkan kematian.

    Universitas Sumatera Utara