10
Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Energi Nuklir IV, 2011 Pusat Pengembangan Energi Nuklir Badan Tenaga Nuklir Nasional ISSN 1979-1208 206 ANALISIS KOMPARASI EKONOMI PLTN DAN PLTU BATUBARA UNTUK BANGKA BELITUNG Mochamad Nasrullah Pusat Pengembangan Energi Nuklir (PPEN)-BATAN Jl. Kuningan Barat, Mampang Prapatan, Jakarta 12710 Telp/Fax : (021)5204243 Email: [email protected] ABSTRAK ANALISIS KOMPARASI EKONOMI PLTN DAN PLTU BATUBARA UNTUK BANGKA BELITUNG. Perhitungan ekonomi sangat diperlukan untuk mengetahui obyektifitas dari biaya pembangkit listrik. Model perhitungan yang digunakan dalam menghitung keekonomian pembangkit listrik adalah model yang dikeluarkan oleh IAEA (International Atomic Energy Agency) dalam bentuk spreadsheet yaitu model Mini G4Econs yang dirilis tahun 2008. Model ini digunakan untuk menghitung biaya investasi, biaya bahan bakar, operasional dan perawatan. Kajian tentang analisis komparasi ekonomi akan difokuskan pada PLTN dan PLTN batubara. Reaktor nuklir ukuran besar merupakan salah satu solusi dalam mengatasi permasalahan pasokan listrik di Indonesia. Oleh karena itu kajian tekno ekonomi sangat penting dilakukan. Penelitian ini mengidentifikasi data dan parameter baik teknis maupun ekonomi dari PLTN yang berkaitan dengan produksi listrik. Prosedur penelitian ini menggunakan cara mengumpulkan data, survey, studi banding yaitu dengan membandingkan biaya pembangkitan listrik PLTN dengan PLTU batubara. Hasil kajian menunjukkan biaya pembangkitan listrik PLTN lebih kompetitif. Hal ini menjadi pertimbangan dalam rencana permbangunan PLTN, guna mengatasi permasalahan energi di Indonesia. Kata kunci: Biaya Pembangkitan Listrik, PLTN, PLTU batubara ABSTRACT ECONOMIC ANALYSIS OF COMPARATION ON NUCLEAR POWER PLANT (NPP) AND COAL POWER PLANT (CPP) FOR BANGKA BELITUNG. Economic calculation are very much needed to understand the objectivity of generation cost. The models used to calculate the economics of power plants are Mini-G4Econs, IAEA’s models in spreadsheet form released in 2008. The models will count for investment cost, fuel cost, operational and maintenance (O&M) cost. The assessment for economic analysis of comparison will focus on NPP and CPP. NPP for large size are solution to electricity crisis in Indonesia. Hence, it is very important to conduct this study. This study identify data and the technical and economic parameters to deal with within this study are related to the production of electricity. The procedure of this study to collect data, survey, benchmark study are with the compare generation cost of NPP and CPP capability to produce electricity more competitiveness, there NPP must be considered to overcome the energy crisis in Indonesia. Keywords: Generation Cost, NPP, CPP 1. PENDAHULUAN Energi Nuklir adalah sumber energi potensial, berteknologi tinggi, berkeselamatan handal, ekonomis, dan berwawasan lingkungan, serta merupakan sumber energi alternative yang layak untuk dipertimbangkan dalam Perencanaan Energi Jangka Panjang bagi Indonesia guna mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Mengingat situasi penyediaan (supply) energi konvensional termasuk listrik nasional di masa mendatang semakin tidak seimbang dengan kebutuhannya (demand), maka opsi nuklir dalam perencanaan sistem energi nasional jangka panjang merupakan suatu solusi yang

b02 Nasrullah Komparasi Pltn

Embed Size (px)

Citation preview

  • Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Energi Nuklir IV, 2011

    Pusat Pengembangan Energi Nuklir

    Badan Tenaga Nuklir Nasional

    ISSN 1979-1208 206

    ANALISIS KOMPARASI EKONOMI PLTN DAN PLTU

    BATUBARA UNTUK BANGKA BELITUNG

    Mochamad Nasrullah

    Pusat Pengembangan Energi Nuklir (PPEN)-BATAN

    Jl. Kuningan Barat, Mampang Prapatan, Jakarta 12710

    Telp/Fax : (021)5204243 Email: [email protected]

    ABSTRAK ANALISIS KOMPARASI EKONOMI PLTN DAN PLTU BATUBARA UNTUK BANGKA

    BELITUNG. Perhitungan ekonomi sangat diperlukan untuk mengetahui obyektifitas dari biaya

    pembangkit listrik. Model perhitungan yang digunakan dalam menghitung keekonomian pembangkit

    listrik adalah model yang dikeluarkan oleh IAEA (International Atomic Energy Agency) dalam

    bentuk spreadsheet yaitu model Mini G4Econs yang dirilis tahun 2008. Model ini digunakan untuk

    menghitung biaya investasi, biaya bahan bakar, operasional dan perawatan. Kajian tentang analisis

    komparasi ekonomi akan difokuskan pada PLTN dan PLTN batubara. Reaktor nuklir ukuran besar

    merupakan salah satu solusi dalam mengatasi permasalahan pasokan listrik di Indonesia. Oleh karena

    itu kajian tekno ekonomi sangat penting dilakukan. Penelitian ini mengidentifikasi data dan

    parameter baik teknis maupun ekonomi dari PLTN yang berkaitan dengan produksi listrik. Prosedur

    penelitian ini menggunakan cara mengumpulkan data, survey, studi banding yaitu dengan

    membandingkan biaya pembangkitan listrik PLTN dengan PLTU batubara. Hasil kajian

    menunjukkan biaya pembangkitan listrik PLTN lebih kompetitif. Hal ini menjadi pertimbangan

    dalam rencana permbangunan PLTN, guna mengatasi permasalahan energi di Indonesia.

    Kata kunci: Biaya Pembangkitan Listrik, PLTN, PLTU batubara

    ABSTRACT ECONOMIC ANALYSIS OF COMPARATION ON NUCLEAR POWER PLANT (NPP) AND

    COAL POWER PLANT (CPP) FOR BANGKA BELITUNG. Economic calculation are very much

    needed to understand the objectivity of generation cost. The models used to calculate the economics of

    power plants are Mini-G4Econs, IAEAs models in spreadsheet form released in 2008. The models

    will count for investment cost, fuel cost, operational and maintenance (O&M) cost. The assessment

    for economic analysis of comparison will focus on NPP and CPP. NPP for large size are solution to

    electricity crisis in Indonesia. Hence, it is very important to conduct this study. This study identify

    data and the technical and economic parameters to deal with within this study are related to the

    production of electricity. The procedure of this study to collect data, survey, benchmark study are with

    the compare generation cost of NPP and CPP capability to produce electricity more competitiveness,

    there NPP must be considered to overcome the energy crisis in Indonesia.

    Keywords: Generation Cost, NPP, CPP

    1. PENDAHULUAN Energi Nuklir adalah sumber energi potensial, berteknologi tinggi, berkeselamatan

    handal, ekonomis, dan berwawasan lingkungan, serta merupakan sumber energi alternative

    yang layak untuk dipertimbangkan dalam Perencanaan Energi Jangka Panjang bagi

    Indonesia guna mendukung pembangunan yang berkelanjutan. Mengingat situasi

    penyediaan (supply) energi konvensional termasuk listrik nasional di masa mendatang

    semakin tidak seimbang dengan kebutuhannya (demand), maka opsi nuklir dalam

    perencanaan sistem energi nasional jangka panjang merupakan suatu solusi yang

  • Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Energi Nuklir IV, 2011

    Pusat Pengembangan Energi Nuklir

    Badan Tenaga Nuklir Nasional

    ISSN 1979-1208 207

    diharapkan dapat mengurangi tekanan dalam masalah penyediaan energi khususnya listrik

    di Indonesia.

    BATAN sebagai Lembaga Pemerintah, berdasarkan Undang-undang No. 10 tahun

    1997 tentang Ketenaganukliran, telah dan akan terus bekerja bersama-sama dengan

    Lembaga Pemerintah terkait, Lembaga Swadaya Masyarakat, Lembaga dan Masyarakat

    Internasional, dalam mempersiapkan pengembangan energi nuklir di Indonesia, khususnya

    dalam program persiapan pembangunan PLTN. Salah satu kegiatan yang harus dilakukan

    dalam mempersiapkan pengembangan energi nuklir adalah studi aspek ekonomi PLTN.

    Studi ini merupakan studi khusus, PLTN yang belum pernah di bangun di Indonesia, maka

    diperlukan pengetahuan tentang ketenaganukliran di Indonesia.

    Studi bertujuan untuk menghitung biaya pembangkitan listrik PLTN dari berbagai

    ukuran dan membandingkan dengan PLTU batubara dengan menggunakan model Mini G4

    Econs. Studi dilakukan dengan data sekunder terbaru studi tahun 2010. PLTN 1000 MWe.

    Studi ini menggunakan 5 variabel biaya sesaat, yaitu (US$ 1850/kWe), (US$ 2600 /kWe

    sebagai base case), (US$ 3000 /kWe), (US$ 4000/kWe), dan (US$ 5000/kWe) tetapi komponen

    biaya lainnya sama. Komponen biaya bahan bakar (front-end costs) menggunakan data harga

    bulanan tahun 2010, dari nilai rata-rata, sedangkan komponen biaya penanganan bahan

    bakar bekas (back-end cost) dimasukkan ke dalam biaya tetap operasi dan perawatan. Upah

    tenaga kerja diasumsikan sesuai standar gaji PT PLN (Persero).

    Untuk mencapai hasil sebagaimana disebutkan diatas, maka lingkup studi yang akan

    dilakukan adalah menghitung harga listrik PLTN, dan dari PLTU batubara.

    2. METODOLOGI 2.1 Perhitungan Harga Listrik Teraras (Levelized Generation Cost)

    Harga listrik teraras adalah biaya pembangkitan per kWh yang di-levelized, yang

    terdiri dari biaya modal, biaya operasi dan perawatan tetap (fixed operational and maintenance

    cost), dan biaya bahan bakar. Harga listrik teraras tidak termasuk biaya transmisi, sehingga

    sering disebut juga busbar cost. Perbandingan keekonomian pembangkit tenaga listrik secara

    internasional dilakukan dengan konsep harga listrik teraras, yang sering juga disebut

    discounted levelized cost. Biaya-biaya tersebut harus ditambah dengan biaya pengelolaan

    limbah dan dekomisioning, tanpa memperhitungkan biaya sosial-politik.

    Perbandingan harga listrik teraras sulit dilakukan, karena ada banyak faktor-faktor

    yang mempengaruhinya, faktor lokasi dan waktu. Tujuan perbandingan harga listrik teraras

    adalah untuk membantu pengambil keputusan dalam memilih PLTN yang akan

    dipertimbangkan dalam rangka penentuan pemanfaatan sumber daya (resource allocation).

    Perhitungan dan perbandingan keekonomian PLTN tersebut akan digunakan untuk

    menganalisis kelayakan ekonomi dengan menggunakan model Mini-G4Econs yang berasal

    dari IAEA.

    Langkah-langkah yang digunakan untuk menghitung biaya pembangkit listrik adalah

    Menetapkan parameter teknis dan ekonomi dari PLTN dan PLTU batubara untuk

    dijadikan dasar perhitungan.

    Menentukan komponen biaya pembangkit listrik seperti biaya investasi, biaya

    bahan bakar dan biaya operasional dan perawatan dari PLTN dan PLTU batubara.

    Menghitung biaya pembangkit listrik dari data masukan dengan menggunakan

    G4Econs

    Menganalisis hasil perhitungan keekonomian PLTN

  • Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Energi Nuklir IV, 2011

    Pusat Pengembangan Energi Nuklir

    Badan Tenaga Nuklir Nasional

    ISSN 1979-1208 208

    2.1.1. Dasar Perhitungan Biaya Pembangkitan PLTN [1] :

    Biaya Modal = BP x FP /JPNTL (1)

    Faktor Penyusutan = r (1+r)n / (1+r)n 1 (2)

    Jumlah Pembangkitan Neto Tenaga Listrik = DT x FKN (3)

    Biaya Bahan Bakar = (TPP x HBB)/CVBB (4)

    Biaya Operasi & Pemeliharaan (O&M) = BT O&M + BV O&M (5)

    Biaya pembangkitan listrik dengan aspek lingkungan [2] dapat dihitung :

    BP dengan aspek lingkungan = BP + pajak karbon (6)

    dimana:

    BP = Biaya Pembangunan ($/kWh)

    FP = Faktor Penyusutan (-/tahun)

    r = tingkat bunga (%/tahun)

    n = lama waktu penyusutan (tahun)

    JPNTL = Jumlah Pembangkitan Neto Tenaga Listrik (kWh/tahun)

    DT = Daya Terpasang (kW)

    FKN = Faktor Kapasitas Neto x 8760 (h/tahun) (%)

    TPP = Tingkat Pemakaian Panas (kcal/kWh)

    HBB = Harga Bahan Bakar ($/kg)

    CVBB = Calorific Value Bahan Bakar (kcal/kg)

    BT O&M = Biaya Tetap O&M

    BV O&M = Biaya variabel O&M

    2.2. Asumsi dan Data untuk Biaya Pembangkitan Listrik PLTN

    Parameter dasar ekonomi yang digunakan untuk menghitung dan mengevaluasi

    keekonomian seperti yang tercantum dalam Tabel 1.

    Tabel 1. Parameter Ekonomi dan Teknis PLTN 1000 MWe tahun 2010

    PLTN ini dipilih karena (i) Desain, operasi dan performance-nya telah terbukti baik,

    dan bukan First-Of-A-Kind, (ii) Kapasitas pembangkit cukup besar untuk memenuhi skala

    ekonomi dan cocok untuk jaringan Jawa-Bali, (iii) Biaya kapital kompetitif, (iv) Tersedia data

    rinci mengenai biaya EPC (Engineering Procurement and Construction) termasuk

    disbursement-nya, lama konstruksi, dan biaya O&M (Operation and Maintenance).

    Penetapan discount rate diharapkan sesuai dengan kondisi kelayakan proyek di

    negara yang akan dibangun. Penetapan discount rate untuk kepentingan umum berbeda

    No Keterangan Biaya Sesaat

    ($/kWe)

    Efisiensi

    (%)

    Faktor

    Kapasitas

    (%)

    Umur

    Ekonomis

    (tahun)

    Masa

    Konstruksi

    (tahun)

    1 Indonesia

    NPP-1

    1850 33.4 85 40 6

    2 Indonesia

    NPP-2

    2600 33.4 85 40 6

    3 Indonesia

    NPP-3

    3000 33.4 85 40 6

    4 Indonesia

    NPP-4

    4000 33.4 85 40 6

    5 Indonesia

    NPP-5

    5000 33.4 85 40 6

  • Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Energi Nuklir IV, 2011

    Pusat Pengembangan Energi Nuklir

    Badan Tenaga Nuklir Nasional

    ISSN 1979-1208 209

    dengan kepentingan komersial/bisnis. Discount rate ini ditentukan berdasarkan suatu

    kebijakan yang mempertimbangkan beberapa hal, misalnya kelangkaan modal, biaya

    opportunity, kepentingan nasional atau jangka panjang, dan sebagainya. Discount rate

    diambil lebih rendah terutama untuk perencanaan proyek-proyek yang dianggap

    berpengaruh pada masyarakat luas (nasional) dan baru akan memberikan manfaat dalam

    jangka panjang. Di beberapa negara maju biasanya discount rate akan lebih rendah

    dibandingkan dengan Negara berkembang. Di Indonesia discount rate umumnya di

    tetapkan sebesar 10%

    2.2.1. Biaya Investasi PLTN

    Biaya investasi PLTN biasanya disebut biaya sesaat (overnight cost), yaitu biaya yang

    belum memasukkan tingkat suku bunga selama konstruksi atau Interest During Construction

    (IDC). Biaya ini terdiri dari biaya EPC (Engineering Procurement Construction), biaya

    pengembangan (development costs) dan biaya lain-lain (other costs) serta biaya contigency.

    Komposisi biaya kapital untuk EPC terdiri atas biaya nuclear island, conventional island,

    balance of plant, construction dan erection work, design dan engineering. Lingkup pekerjaan biaya

    modal dapat dirinci seperti ditunjukkan pada Tabel 2.

    Tabel 2. Rincian Biaya Overnight Costs [2].

    Biaya investasi yang dihitung disesuaikan dengan disbursement selama masa

    konstruksi, dan data tersebut diambil dari data terbaru tahun 2010. Pembangunan PLTN

    memerlukan dana yang cukup besar sehingga biasanya pemilik modal (owner) tidak cukup

    dana untuk membiayai pembangunan PLTN tersebut. Owner biasanya meminjam dana dari

    lembaga keuangan internasional, dengan demikian ada konsekuensi biaya berupa interest

    during construction (IDC). Biaya sesaat apabila ditambahkan dengan IDC disebut juga

    dengan biaya investasi.

    2.2.2. Biaya Bahan Bakar

    Bahan bakar nuklir (nuclear fuel) merupakan bahan bakar yang dibutuhkan oleh PLTN

    untuk dapat beroperasi menghasilkan energi listrik selama waktu hidupnya (life time). Daur

    bahan bakar nuklir (nuclear fuel cycle) mencakup seluruh aktivitas mulai dari eksplorasi,

    No UNSUR BIAYA LINGKUP PEKERJAAN

    1. Procurement

    Nuclear Steam Supply (NSS) termasuk .system design,

    Turbine Generator, dan BOP, tidak termasuk Ocean freight

    dan Freight Insurance

    2.

    Construction dan

    Erection Work

    Pekerja konstruksi untuk sipil dan structural, arsitektur,

    dan instalasi, semua peralatan kelistrikan dan peralatan

    mesin. Commissioning dan start up dan testing

    (termasuk lokasi material dengan biaya, consumable,

    peralatan konstruksi dan perlengkapan dan lainnya)

    3. Engineering

    Design dan Engineering termasuk. sipil, arsitektur, plant

    layout, piping, race way layout,

    4. Biaya Pengembangan Mobilization, akuisisi tanah, professional fee dan lainnya

    5. Biaya Lain-lain

    O&M mobilization & training, fee (sertifikasi, konsultan

    owner), contingency start up

    Total Didefinisikan sebagai biaya sesaat (overnight cost)

  • Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Energi Nuklir IV, 2011

    Pusat Pengembangan Energi Nuklir

    Badan Tenaga Nuklir Nasional

    ISSN 1979-1208 210

    penambangan, penggilingan, pemurnian, pengkayaan dan kemudian dilanjutkan dengan

    fabrikasi menjadi elemen bakar nuklir untuk siap digunakan dalam operasi reaktor dan

    akhirnya menjadi bahan bakar bekas (spent fuel).

    2.2.2.1. Front-end Cost

    Jika PLTN di Indonesia dibangun mulai tahun 2014 dengan masa konstruksi selama 6

    tahun, maka PLTN pertama akan siap beroperasi secara komersial pada tahun 2020.

    Pembuatan bahan bakar nuklir untuk PLTN terdiri dari 4 tahap yang masing-masing

    memberi kontribusi pada harga bahan bakar nuklir daur terbuka (front end costs), yaitu: i)

    harga uranium alam (U2O8), ii) biaya konversi, iii) biaya pengkayaan (separative work unit /

    SWU), iv) biaya fabrikasi. Komponen front-end costs diberikan pada Tabel 4. Dalam bulan

    Januari 2010 biaya dalam US$ untuk mendapatkan 1 kg uranium UO2 bahan bakar reaktor

    pada harga pasar ditunjukkan dalam Table 3. Pada 55.000 MWd/t burn-up akan

    memberikan 360.000 kWh electrical per kg. sehingga biaya bahan bakar menjadi 0.58

    c/kWh.

    Tabel 3. Estimate Biaya Bahan Bakar Nuklir [ 4 ]

    Description Value

    Uranium: 8.9 kg U3O8 x $115.50 US$ 1028

    Conversion: 7.5 kg U x $12 US$ 90

    Enrichment: 7.3 SWU x $164 US$ 1197

    Fuel fabrication: per kg US$ 240

    Total. approx: US$ 2555

    2.2.2.2. Back-end Cost

    Back-end cost merupakan biaya penanganan bahan bakar bekas sesudah dipakai dan

    keluar dari reaktor, berupa biaya penyimpanan sementara on-site di PLTN dan biaya

    penyimpanan lestari (permanent storage). Dalam studi ini diperkirakan sebesar 0.134 $/kWh

    tanpa biaya reprocessing. Burn-up bahan bakar nuklir merupakan besarnya energi yang

    dihasilkan oleh reaktor untuk setiap metrik ton U235. Besarnya burn-up U235 tergantung pada

    teknologi reaktor yang dari tahun ke tahun terus meningkat. Nilai burn-up yang dipakai

    pada studi ini adalah 55.000 MWd per metrik ton uranium, sesuai dengan spesifikasi

    reference plant

    2.2.3. Biaya Operasi dan Perawatan (Operation and Maintenance Costs)

    Biaya operasi dan pemeliharaan (O&M Cost) merupakan biaya yang dibutuhkan

    untuk menjalankan operasi rutin PLTN. O&M Cost besarnya bergantung pada teknologi dan

    kapasitas daya yang terpasang. O&M Cost dibedakan menjadi dua, yaitu variable O&M Cost

    dan fixed O&M Cost. Fixed O&M Cost merupakan biaya operasional rutin, meliputi biaya

    pegawai, property tax, plant insurance, dan life-cycle maintenance. Variabel O&M costs

    mencakup biaya bahan bakar, consumables materials, pemeliharaan langsung unit

    pembangkit, pemeliharaan gedung pembangkit, dan pemeliharaan oleh outsourcing. Varibel

    O&M cost dan Fixed O&M cost merupakan biaya yang bergantung pada fungsi produksi dari

    PLTN. Diasumsikan biaya total O&M beserta rinciannya biaya Fixed O&M sebesar 58,4

    US$/kWe dan biaya Variabel O&M sebesar 1,3 mills$/kWh.

  • Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Energi Nuklir IV, 2011

    Pusat Pengembangan Energi Nuklir

    Badan Tenaga Nuklir Nasional

    ISSN 1979-1208 211

    2.2.4. Data PLTU Batubara atau Coal Power plant (CPP)

    Biaya invetasi, biaya O&M dan biaya bahan bakar diperoleh dari data PLN.

    Diasumsikan bahwa alat De SOx dan De NOx dipasang pada PLTU batubara (coal-fired

    power plant), karena beberapa alasan, diantaranya adalah tingkat kepadatan penduduk

    khususnya di Pulau Jawa dan Sumatra, dampak terhadap kesehatan masyarakat di sekitar

    pembangkit listrik dan pemanasan global. Untuk membandingkan PLTN dengan PLTU

    batubara berdaya 1000 MWe, dilakukan dengan cara LGC (Levelized Generation Cost).

    Perhitungan biaya pembangkit PLTU batubara (CPP) juga akan dihitung sama dengan

    perhitungan yang digunakan dalam menghitung biaya pembangkit PLTN. Perhitungan

    Biaya pembangkit PLTU batubara (Levelized Generation Cost) menggunakan data masukan

    proyek PLTU batubara di Indonesia yang terakhir.

    Studi ini menggunakan mata uang dollar (US$) per 1 Januari 2010. Umur ekonomi

    PLTU batubara yang digunakan adalah 30 tahun. Faktor kapasitas (capacity factor)

    merupakan faktor yang menyatakan ketersediaan dari unit pembangkit untuk dapat

    dioperasikan. Atau rasio antara energi listrik bersih yang dihasilkan selama kurun waktu

    tertentu (E, MWh) dan energy listrik bersih yang mestinya dapat diproduksi secara kontinyu

    selama kurun waktu yang sama (Em, MWh). Faktor kapasitas PLTU batubara adalah 80%.

    Discount rate untuk PLTN dan PLTU sebesar 10%.

    Parameter teknis pada PLTU batubara yang akan digunakan dalam perhitungan biaya

    pembangkitan listrik, masa konstruksi diasumsikan 48 bulan (4 tahun), plant net thermal

    efficiency 36%, plant net heat rate 9481 kWh (e)/BTU (th), faktor kapasitas 80% dan jenis

    batubara 13000 BTU/lb.

    Tabel 4 menunjukkan variabel-variabel yang digunakan dalam studi kasus PLTU

    batubara

    Tabel 4. Komponen Biaya dan Paremeter PLTU Tahun 2010

    No. Studi Kasus Harga

    bahan

    bakar

    (US$/ton)

    Biaya

    Investasi

    (US$/kWe)

    Plant net

    thermal

    efficiency

    Faktor

    Kapasitas

    Biaya Operasi &

    maintenance

    Biaya

    Tetap

    Biaya

    Variabel

    1 PLTU

    batubara

    CPP-1

    70 1400 36% 80% 38,95 17,52

    2 PLTU

    batubara

    CPP-2

    80 1400 36% 80% 38,95 17,52

    3 PLTU

    batubara

    CPP-3

    90 1400 36% 80% 38,95 17,52

    3. HASIL DAN PEMBAHASAN 3.1. Biaya Pembangkitan Listrik (Generation Cost) PLTN

    Setiap teknologi pembangkit listrik mempunyai karakteristik spesifik yang menutup

    masa konstruksi, meghasilkan listrik, umur pembangkit, dan perbedaan biaya untuk

    investasi, operasi dan perawatan serta bahan bakar. Salah satu cara praktis untuk

    menghitung biaya pembangkitan listrik adalah menggunakan metode levelized generation cost

    dengan mengkuantifiikasi unit biaya dari pembangkit listrik (dalam kWh) selama umur

    pembangkit.

  • Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Energi Nuklir IV, 2011

    Pusat Pengembangan Energi Nuklir

    Badan Tenaga Nuklir Nasional

    ISSN 1979-1208 212

    Hasil perhitungan menunjukkan biaya pembangkitan listrik paling murah adalah

    NPP-1 (48.08 mills$/kWh), NPP-2 (base case 61.81 mills$/kWh), NPP-3 (69.13 mills$/kWh),

    NPP-4 (87.44 mills$/kWh) dan NPP-5 (105.74 mills$/kWh). Hasil perhitungan biaya

    pembangkitan tersebut dapat ditunjukkan pada Gambar 1.

    Gambar 1. Biaya Pembangkit PLTN

    3.2. Biaya Pembangkitan Listrik (Generation Cost) PLTU batubara.

    Dalam studi ini untuk menghitung biaya pembangkitan PLTN dan PLTU batubara

    dengan mempertimbangkan aspek lingkungan. Secara realita perhitungan biaya

    pembangkitan listrik tidak memperhitungkan aspek lingkungan, namun hanya

    memperhitungan total jumlah biaya dari investasi, Operasi dan perawatan serta biaya bahan

    bakar. Kebijakan Pemerintah yang mengharuskan pembangkit listrik mempertimbangkan

    aspek lingkungan, maka dalam penelitian ini biaya pembangkitan listrik dihitung dengan

    mempertimbangkan aspek lingkungan (biaya eksternalitas). Biaya eksternalitas terdiri atas

    biaya kerusakan akibat pencemaran (polusi seperti PM10, SOx dan NOx) yang dikeluarkan

    pembangkit listrik dan carbon tax merupakan salah satu cara mengurangi pemanasan

    global, oleh karena itu carbon tax akan dipertimbangkan pula dalam perhitungan biaya

    pembangkit.

    Dengan menggunakan data teknis dan ekonomi pembangkit listrik, dengan tahun

    dasar 2010 dihitung biaya pembangkitan listrik PLTU batubara yang telah

    mempertimbangkan biaya eksternalitas, kemudian akan diperbandingkan dengan PLTN.

    Model yang digunakan untuk menghitung biaya pembangkitan listrik ini adalah mini

    G4Econs Model dari IAEA (International Atomic Energy Agency) tahun 2008. Hasil

    perhitungan menunjukkan bahwa biaya pembangkitan listrik jika tanpa biaya eksternalitas

    pada PLTU batubara (Coal Power Plant) adalah CPP-1 is 57.61 mills $/kWh, CPP-2 61.25

    mills $/kWh, dan CPP-3 64.90 mills $/kWh. Ada dua skenario biaya eksternalitas, yaitu (1)

    berdasarkan referensi dari beberapa negara maju tentang nilai biaya eksternalitas (biaya

    yang dikeluarkan akibat polusi yang dikeluarkan pembangkit listrik dan biaya carbon),

    maka nilai menunjukkan rata-rata sebesar 46.33 mills US$/kWh atau 4.633 cents $/kWh. (2)

  • Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Energi Nuklir IV, 2011

    Pusat Pengembangan Energi Nuklir

    Badan Tenaga Nuklir Nasional

    ISSN 1979-1208 213

    berdasarkan referensi tahun 2003 biaya kerusakan akibat polusi yang dikeluarkan oleh

    PM10, SOx dan NOx untuk kasus Indonesia, dalam hal ini diambil kasus di PLTU Suralaya,

    Banten. Nilai biaya kerusakan akibat polusi menunjukkan sebesar 2.34 cents$/kWh atau

    23.40 mills$/kWh. Jika pada penelitian ini diasumsikan bahwa Carbon tax atau C biaya

    capture/sequestration (Cost of carbon) adalah 110 $/MT C dan setara dengan pajak atau biaya

    capture/sequestration dalam $/MT CO2 sebesar 30 $/MT CO2 dengan faktor yang

    berhubungan dengan biaya per MT C ke biaya per MT CO2 sebesar 3.7 carbon tax [6].

    3.3. Perbandingan Pembangkitan Listrik PLTN dan PLTU batubara

    Hasil perhitungan menunjukkan bahwa biaya pembangkitan listrik jika tanpa biaya

    eksternalitas pada PLTU batubara (base case) dengan menggunakan harga batubara sebesar

    70 US$/ton sebesar 57.60 mills$/kWh, jika harga 80 US$/ton menunjukkan 61.25 mills$/kWh,

    dan jika harga 90 US$/ton menunjukkan sebesar 64.90 mills$/kWh dan untuk PLTN

    berukurab besar (large), maka akan menunjukkan NPP-1 (48.08 mills$/kWh), NPP-2 (base

    case 61.81 mills$/kWh), NPP-3 (69.13 mills$/kWh), NPP-4 (87.44 mills$/kWh) dan NPP-5

    (105.74 mills$/kWh), ini menunjukkan PLTU batubara (Coal Power Plant) lebih murah

    dibandingkan PLTN ukuran large, kecuali pada NPP-1.

    Namun jika biaya pembangkitan listrik dengan menggunakan biaya eksternalitas seperti

    referensi Negara-negara maju sebesar (46.33 mills$/kWh), maka biaya pembangkitan listrik

    PLTU batubara dengan harga 70 US$/ton, 80 US$/ton dan 90 US$/ton menjadi 103.94

    mills/kWh, 107.58 mills $/kWh dan 111.23 mills/kWh, Semua ini menunjukkan bahwa PLTN

    lebih murah dibandingkan PLTU batubara. Perbandingan biaya pembangkitan listrik antara

    PLTN dan PLTU batubara dapat dilihat pada Gambar 2.

    Gambar 2. Perbandingan Biaya PLTN dan PLTU batubara Dengan biaya eksternalitas

    Yang Menggunakan Referensi Negara-negara Maju sebesar (46.33 mills$/kWh),

    Jika menggunakan biaya eksternalitas berdasarkan kasus Indonesia (lihat PLTU Suralaya,

    Banten) seperti biaya kerusakan akibat polusi yang dikeluarkan oleh PM10, SOx dan NOx ,

    maka sebesar 23.4 mills$/kWh dan jika menggunakan carbon tax sebesar 110 US$/MT C atau

    30 US$/ton CO2 mempunyai nilai sebesar 25.47 mills$/kWh. Jika CPP-1 (harga batubara

  • Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Energi Nuklir IV, 2011

    Pusat Pengembangan Energi Nuklir

    Badan Tenaga Nuklir Nasional

    ISSN 1979-1208 214

    sebesar 70 US$/ton), CPP-2 (harga batubara 80 US$/ton), dan CPP-3 (harga batubara 90

    US$/ton) maka biaya pembangkitan listrik untuk PLTU batubara menjadi CPP-1 sebesar

    106.5 mills$/kWh, CPP-2 sebesar 110.1 mills$/kWh dan CPP-3 sebesar 113.8 mills$/kWh.

    Semua ini menunjukkan bahwa PLTN lebih murah dibandingkan PLTU batubara.

    Perbandingan biaya pembangkitan listrik antara PLTN dan PLTU batubara ditunjukkan

    pada Gambar 3.

    Gambar 3. Perbandingan biaya pembangkitan listrik antara PLTN dan PLTU batubara

    Dengan biaya eksternalitas Yang Menggunakan Kasus Indonesia

    4. KESIMPULAN - Jika kebutuhan listrik membutuhkan kapasitas daya yang besar seperti interkoneksi

    Sumatera Jamali, maka PLTN ukuran large atau PLTU batubara sangat sesuai

    diterapkan pada kasus tersebut. Dalam studi ini, jika dibandingkan antara PLTN

    ukuran large dengan PLTU batubara maka hasil perhitungan tergantung dari asumsi

    yang digunakan. Karena nilai porsi dari biaya investasi pada PLTN lebih sensitif dari

    pada PLTU batubara, maka perhitungan biaya pembangkitan listrik pada PLTN

    tergantung pada berapa banyak biaya investasi dikeluarkan. Dalam kasus ini biaya

    investasi PLTN menggunakan US$ 1850 /kWe lebih kompetitif dibandingkan PLTU

    barubara dengan menggunakan asumsi harga batubara sebesar 70 US$/ton, 80 US$/ton

    dan 90 US$/ton. Jika harga batubara menunjukkan 80 US$/tons maka nilainya relatif

    sama hasilnya jika PLTN dengan menggunakan biaya investasi sebesar 2600 US$/kWe.

    - Kebijakan Pemerintah tentang pengelolaan dan pengembangan energi harus

    mempertimbangkan aspek lingkungan, maka PLTN dengan biaya investasi dari 1850

    US$/kWe hingga 5000 US$/kWe lebih murah dibandingkan PLTU batubara.

  • Prosiding Seminar Nasional Pengembangan Energi Nuklir IV, 2011

    Pusat Pengembangan Energi Nuklir

    Badan Tenaga Nuklir Nasional

    ISSN 1979-1208 215

    DAFTAR PUSTAKA : 1. Nengah Sudja, Menggugat Harga Jual Listrik Paiton I, tahun 2001

    2. K.William, Spreadsheet Mini G4Econs (2008), Washington DC

    3. E-mail : [email protected], dari Deputy General Manager, Overseas Project

    Departement (Lee Myung Key) tanggal 25 Januari 2006 ke BATAN.

    4. World Nuclear Association, The Economics of Nuclear Power, Vienna August 2010

    5. PT. PLN (Persero) (2010), Jakarta

    6. IEA, Projected Costs of Generating Electricity 2010 edition

    DISKUSI 1. Pertanyaan dari Sdr. Erlan Dewita (PPEN-BATAN):

    a. Sebaiknya daya reaktor yang dibandingkan ditulis jelas, jangan ditulis dengan

    reaktor ukuran besar saja, karena reaktor ukuran besar bisa dimulai dengan daya >

    700 MW.

    b. Apakah dalam membandingkan perhitungan kelayakan ekonomi dilakukan dengan

    daya yang sama?

    Jawaban:

    a. Yang dikaji sebenarnya sudah dijelaskan bahwa PLTN berukuran besar adalah 1000

    MWe. Juga di dalam tabel parameter teknis dan ekonomi juga sudah dijelaskan

    bahwa PLTN adalah berdaya 1000 MWe.

    b. Yang dibandingkan antara PLTN dan PLTU sama-sama berdaya 1000 MWe.