• 1. MATA PELAJARAN PRODUKTIF PEMASARANDISUSUN OLEH FIDIYANTI X PM 1PEMERINTAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTADINAS PENDIDIKAN MENENGAH SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 10 KELOMPOK BISNIS MANAJEMEN DAN TEKNOLOGI Jl. SMEA 6 – Mayjend. Sutoyo Cawang Kramatjati Jakarta Timur (13630) Telp.8091773 Fax.8004289 website : www.smkn10jkt.sch.id email : info@smkn10jkt.sch.id
  • 2. KATA PENGANTARAssalamualaikum wr.wb. Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat ilahi rabi allah swt, atas berkat dan rahmat-Nya kami dapat menyusun makalah mengenai pemasaran yang berjudul ―Waralaba‖, makalah ini disusun guna memenuhi tugas dari pengajar Produktif Pemasaran. Saya haturkan terima kasih kepada semua pihak yang ikut membantu dalam pembuatan dan penyusunan makalah ini, karena saya tidak dapat menyelesaikan makalah ini jika tanpa bantuan setiap pihak, tanpa bantuan teman-teman, bahkan bantuan berupa materi ataupun segala hal yang dapat membantu dalam penyelesaian makalah ini. Makalah ini masih jauh dari sempurna, karena saya manusia yang tidak bisa lepas dari kesalahan, kami hanya dapat berusaha untuk mencoba sedikit lebih baik, karena itu kami akan sangat bisa untuk menampung setiap kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat yang berarti bagi pembaca dan setiap kalangan masyarakat sehingga tahu mengenai Waralaba ini.Jakarta, oktober 2013 Penyusun Fidiyantii
  • 3. DAFTAR ISIHalaman Kata Pengantar ……………………………………………………… i Daftar isi ……………………………………………………………...iiBAB I Pendahuluan …………………………………………………1Latar belakang ..................................................................1Identitas masalah ............................................................1Rumusan masalah ............................................................1BAB II Isi ......................................................................................2Sejarah waralaba .............................................................2Pengertian waralaba .........................................................2Contoh waralaba diIndonesia dan diLuar negeri ................2BAB III Penutup ...........................................................................3Kesimpulan .............................................................................3Saran ................................................................................3Daftar pustaka ..............................................................................ii4
  • 4. BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Franchising (pewaralabaan) pada hakekatnya adalah sebuah konsep pemasaran dalam rangka memperluas jaringan usaha secara cepat. Dengan demikian, franchising bukanlah sebuah alternatif melainkan salah satu cara yang sama kuatnya, sama strategsinya dengan cara konvensional dalam mengembangkan usaha. Bahkan sistem franchise dianggap memiliki banyak kelebihan terutama menyangkut pendanaan, SDM dan managemen, kecuali kerelaan pemilik merek untuk berbagi dengan pihak lain. Franchising juga dikenal sebagai jalur distribusi yang sangat efektif untuk mendekatkan produk kepada konsumennya melalui tangan-tangan franchisee. B. IDENTITAS MASALAH Saya mencoba membahas waralaba di makalah ini. Bagaimanapun waralaba adalah salah satu tawaran investasi. Sebaik-baiknya investasi, kita tetap perlu cermat, karena namanya tawaran selalu manis. Apa saja yang perlu kita lihat, kita hitung kembali, kita ketehui dari prospektus waralaba. C. RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimana perkembangan waralaba pada saat ini? 2. Apakah pengertian dari waralaba? 3. Apa yang dimaksud dengan Hak Kekayaan Intelektual dalam pemberian Waralaba? 4. Bagaimanakah konsep waralaba dalam hukum Indonesia? 5. Apa salah satu contoh dari waralaba di Indonesia?1
  • 5. BAB II ISI A. SEJARAH WARALABA Franchise pertama kali dimulai di Amerika oleh Singer Sewing Machine Company, produsen mesin jahit Singer pada 1851. Pola itu kemudian diikuti oleh perusahaan otomotif General Motor Industry yang melakukan penjualan kendaraan bermotor dengan menunjuk distributor franchise pada tahun 1898. Selanjutnya, diikuti pula oleh perusahaan-perusahaan soft drink di Amerika sebagai saluran distribusi di AS dan negara-negara lain. Sedangkan di Inggris waralaba dirintis oleh J Lyons melalui usahanya Wimpy and Golden Egg pada dekade 60an. Di Indonesia franchise dikenal sejak era 70an ketika masuknya Shakey Pisa, KFC, Swensen dan Burger King. Perkembangannya terlihat sangat pesat dimulai sekitar 1995. Data Deperindag pada 1997 mencatat sekitar 259 perusahaan penerima waralaba di Indonesia. Setelah itu, usaha franchise mengalami kemerosotan karena terjadi krisis moneter. Para penerima waralaba asing terpaksa menutup usahanya karena nilai rupiah yang terperosok sangat dalam. Hingga 2000, franchise asing masih menunggu untuk masuk ke Indonesia. Hal itu disebabkan kondisi ekonomi dan politik yang belum stabili ditandai dengan perseteruan para elit politik. Barulah pada 2003, usaha franchise di tanah air mengalami perkembangan yang sangat pesat. B. PENGERTIAN WARALABA Masing-masing negara memiliki definisi sendiri tentang waralaba. Amerika melalui International Franchise Association (IFA) mendefinisikan franchise sebagai hubungan kontraktual antara franchisor dengan franchise, dimana franchisor berkewajiban menjaga kepentingan secara kontinyu pada bidang usaha yang dijalankan oleh franchisee misalnya lewat pelatihan, di bawah merek dagang yang sama, format dan standar operasional atau kontrol pemilik (franchisor), dimana franchisee menamankan investasi pada usaha tersebut dari sumber dananya sendiri. Sedangkan menurut British Franchise Association sebagai garansi lisensi kontraktual oleh satu orang (franchisor) ke pihak lain (franchisee) franchisee pada subjek bisnis yang dijalankan—di dalam hubungan terhadap organisasi usaha franchisee seperti training terhadap staf, merchandising, manajemen atau yang lainnya. 4. Meminta kepada franchise secara periodik selama masa kerjasama waralaba untuk membayarkan sejumlah fee franchisee atau royalti untuk 2
  • 6. produk atau service yang disediakan oleh franchisor kepada franchisee. Sejumlah pakar juga ikut memberikan definisi terhadap waralaba. Campbell Black dalam bukunya Black’s Law Dict menjelaskan franchise sebagai sebuah lisensi merek dari pemilik yang mengijinkan orang lain untuk menjual produk atau service atas nama merek tersebut. David J.Kaufmann memberi definisi franchising sebagai sebuah sistem pemasaran dan distribusi yang dijalankan oleh institusi bisnis kecil (franchisee) yang digaransi dengan membayar sejumlah fee, hak terhadap akses pasar oleh franchisor dengan standar operasi yang mapan dibawah asistensi franchisor. Sedangkan menurut Reitzel, Lyden, Roberts & Severance, franchise definisikan sebagai sebuah kontrak atas barang yang intangible yang dimiliki oleh seseorang (franchisor) seperti merek yang diberikan kepada orang lain (franchisee) untuk menggunakan barang (merek) tersebut pada usahanya sesuai dengan teritori yang disepakati. Selain definisi menurut kacamata asing, di Indonesia juga berkembang definisi franchise. Salah satunya seperti yang diberikan oleh LPPM (Lembaga Pendidikan dan Pembinaan Manajemen), yang mengadopsi dari terjemahan kata franchise. IPPM mengartikannya sebagai usaha yang memberikan laba atau keuntungan sangat istimewa sesuai dengan kata tersebut yang berasal dari wara yang berarti istimewa dan laba yang berarti keuntungan. Sementara itu, menurut PP No.16/1997 waralaba diartikan sebagai perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan pihak lain tersebut, dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang dan atau jasa. Definisi inilah yang berlaku baku secara yuridis formal di Indonesia.
  • 7. E. CONTOH WARALABA DI INDONESIA DAN DI LUAR NEGERI Waralaba di Indonsia Waralaba Rocket Chicken IndonesiaFried chicken, tentu tak asing lagi di lidah orang Indonesia. Makanan yang populer sejak disajikan beberapa restoran cepat saji asing ini, kini sudah merakyat Indonesia. Mulai dari anak kecil hingga dewasa pasti menyukai menu tersebut. Bahkan, besarnya minat masyarakat tanah air, membuat usaha fried chicken hadir mulai dari gerobak kaki lima hingga restoran kelas atas. Tawaran kemitraan muncul dengan mengusung brand ROCKET CHICKEN, adalah Perusahaan Waralaba/Franchise yang bergerak di Bidang Fast Food Restaurant, dengan produk unggulan, fried chicken, Burger, Steak dan chinnese food, dengan konsep menyajikan makanan yang sehat, berkualitas,halal,dengan cita rasa yang khas, harga terjangkau bagi semua kalangan masyarakat yang diolah dangan bumbu pilihan. ROCKET CHICKEN berdiri pada tanggal 21 Februari 2010 yang ditandai dengan dibukanya gerai pertama di Jln. Woltermonginsidi no. 32 Pedurungan Semarang, sesuai perkembangan dan banyaknya permintaan Rocet Chicken membuka kesempatan bagi pengusahapengusaha baru dengan modal yang terjangkau untuk memiliki suatu usaha bidang makanan yang dapat dikelola oleh perorangan atau berbadan hukum dengan system kemitraan atau Franchise. Dengan membidik pangsa pasar seluruh kalangan lapisan masyarakat sehingga bisa didirikan hingga ke daerah-daerah dengan
  • 8. didukung system Manajemen yang telah teruji menjadikan Rocket Chicken sebagai usaha yang mempunyai Brand awarnes tinggi,prospektif, dan marketable. Sampai dengan tahun 2011 saja Rocket Chicke telah mempunya 118 outlet yang terseber di seluruh Indonesia. Kemitraan Rocket Chicke di tawarkan dengan harga Rp 20 juta untuk masa kerja sama selama 5 tahun. Rata-rata total jumlah investasi awal yang harus di keluarkan mitra sebesar Rp 160 juta untuk peralatan oprasional dan renovasi tempat usaha, nilai tersebut belum termasuk sewa tempat usaha di Jawa. Untuk luar jawa, nilai investasi bisa sampai mencapai Rp 200 juta. Selain itu, mitra wajib untuk membayar royalti fee sebesar 4% untuk tahun pertama dan 5% untuk tahun berikutnya. Selama masa kerja sama mitra akan mendapatkan dukungan dari pusat berupa Equipment, Trainning, Renovasi, Raw Material, Survey Lokasi, Delivery Exp.Investasi Awal Rocket Chicken Rp 155 Juta Rocket Chicken, misalnya. Berdiri sejak Februari 2010, restoran cepat saji ini menawarkan produk unggulan lain, seperti burger, steik, dan chinese food, dengan konsep makanan sehat, berkualitas, halal, cita rasa khas, serta harga terjangkau. omset mitra Rocket Chicken bisa mencapai Rp 5 juta per hari di hari biasa, dan Rp 7 juta sehari di akhir pekan.
  • 9. Waralaba di luar negeri : Dunkin’ donutsDunkin’ Donuts pertama kali didirikan oleh William Rosenberg tahun 1950. Dia membuka sebuah gerai donut dengan nama Open Kettle di kota Boston, Quincy – Massachusetts, Amerika Serikat. Tak disangka gerai donut miliknya itu tumbuh dengan pesat. Hal ini terbukti dari makin bertambah banyaknya jumlah pelanggan yang berkunjung ke gerai tersebut. Melihat perkembangan usahanya yang terus berkembang, tahun 1950 Rosenberg pun memutuskan mengubah nama Open Kettle menjadi nama lain. Setelah melalui proses yang panjang, terpilihlah nama baru yaitu Dunkin’ Donuts. Bersamaan dengan perubahan nama tersebut, dirintislah sistem franchise (waralaba) untuk perusahaan ini. Dunkin' Donuts mulai merambah pasar Indonesia pada tahun 1985 dengan gerai pertamanya didirikan di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta. Khusus wilayah Indonesia, master franchise Dunkin' Donuts dipegang Dunkin' Donuts Indonesia. Sejak diberi kepercayaan memegang master franchise tersebut, Dunkin' Donuts Indonesia bercita-cita dan bertekad untuk terus membesarkan serta memperkuat awareness dan positioning Dunkin' Donuts. Tidak hanya di Ibu Kota Indonesia, Jakarta, tetapi juga di berbagai kota besar lainnya. Itu sebabnya, kegiatan memperluas pasar dengan jalan membuka puluhan gerai permanen terus dilakukan secara berkala. Kini Dunkin' Donuts Indonesia telah berhasil membuka lebih dari 200 gerai yang tersebar di berbagai kota besar Indonesia seperti Jakarta, Tangerang, Bogor, Bekasi, Depok, Surabaya, Bandung, Bali, Medan, Yogyakarta, Makassar, dan lain sebagainya. Cita-cita memperkuat awareness dan positioning pun bisa dibilang telah tercapai. Paling tidak hal ini bisa dilihat dari hasil survey sebuah lembaga riset pemasaran yang menyebutkan bahwa Top of Mind Dunkin' Donuts di Indonesia telah mencapai 91,8%. Bahkan tercatat juga tingkat kepuasan konsumen Indonesia terhadap Dunkin' Donuts secara keseluruhan mencapai 80,8%. Seiring dengan makin kuatnya awareness dan positioning Dunkin' Donuts yang telah dibuktikan lewat hasil survey, di awal tahun 2001 Dunkin' Donuts Indonesia kembali melakukan gebrakan dengan
  • 10. menerapkan konsep baru (new image) pada setiap gerainya. Kegiatan new image tersebut dilakukan secara bertahap dengan jalan merubah logo, design interior gerai, dan berbagai perubahan lainnya. Dampak dari new image membuat Dunkin' Donuts terlihat lebih fresh dan sesuai dengan keinginan pasar. Namun semua itu belumlah cukup. Bersamaan dengan terus dilangsungkannya kegiatan new image, Dunkin' Donuts Indonesia juga mengikrarkan komitmen untuk lebih memfokuskan diri pada perbaikan produk dan pelayanan. Dengan demikian diharapkan tingkat kepuasan konsumen terhadap Dunkin' Donuts dapat terus meningkat. Lalu berapa harga franchise Dunkin Donuts indonesia? Dalam website resminya, Dunkin Donuts indonesia menjelaskan bahwa saat ini Dunkin Donuts indonesia belum membuka sistem franchise atau bentuk kerjasama lainnya dalam bentuk kemitraan. Kelebihan : rasa enak, tidak membosankan, tidak membuat mual walau makan banyak Kekurangan: hanya ada di kota besar, ekspansi pasar lambat.
  • 11. BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Franchising (pewaralabaan) pada hakekatnya adalah sebuah konsep pemasaran dalam rangka memperluas jaringan usaha secara cepat. Franchising bukanlah sebuah alternatif melainkan salah satu cara yang sama kuatnya, sama strategsinya dengan cara konvensional dalam mengembangkan usaha. Pada prinsipnya, penyelenggaraan waralaba tidak jauh berbeda dengan pembukaan kantor cabang. Pada sisi lain waralaba juga tidak berbeda jauh dari bentuk pendistribusian dalam kegiatan perdagangan barang dan atau jasa. Keduanya mempergunakan Hak Kekayaan Intelektual yang sama. B. SARAN Berhati-hatilah dalam memilih usaha waralaba, artinya harus waspada dalam memutuskan rencana bisnis anda, biasanya janji awal usaha memang manis tetapi dalam pelaksanaan akan menghadapi suatu permasalahan yang membutuh solusi pemecahan dan kesabaran. Dengan pikiran cermat dan tepat memilih usaha waralaba dapat memaksimalkan keberhasilan. Sesuai dengan kondisi pasar, masyarakat yang konsumtif merupakan keuntungan tersendiri bagi para pengusaha waralaba. Perkembangan usaha waralaba sangat peka sekali terhadap perubahan ekonomi dan selera masyarakat. Di Indonesia usaha waralaba tumbuh dan berkembang sangat maju dari tahun ke tahun bertambah, sehingga memungkinkan orang untuk menekuni usaha ini.3
  • 12. DAFTAR PUSTAKA Salam Franchise (Waralaba) Indonesia: http://salamfranchise.com/2008/04/08/franchise-dalam-perspektif-hak-kekayaanintelektual/ http://salamfranchise.com/2008/03/03/franchise-di-indonesia-dan-pengertiannya/ Pramono, Peny R. 2007. Cara Memilih Waralaba yang Menjanjikan Profit. Jakarta. PT. Elex Media Komputindo. Kompas.com e-newspaper in Indonesian/ usaha dan bisnis Hakim, Lukman. 2008. Info Lengkap Waralaba. Jakarta. PT. Buku Kita M. Fuad. 2000. Pengantar Bisnis. Jakarta. PT. Gramedia Pustaka Utama Website : PT. Gunung SelametSMK NEGERI 104
    Please download to view
  • All materials on our website are shared by users. If you have any questions about copyright issues, please report us to resolve them. We are always happy to assist you.
    ...

    Tgs individu makalah waralaba

    by harvad-university

    on

    Report

    Category:

    Marketing

    Download: 0

    Comment: 0

    6,898

    views

    Comments

    Description

    Waralaba
    Download Tgs individu makalah waralaba

    Transcript

    • 1. MATA PELAJARAN PRODUKTIF PEMASARANDISUSUN OLEH FIDIYANTI X PM 1PEMERINTAH PROVINSI DAERAH KHUSUS IBUKOTA JAKARTADINAS PENDIDIKAN MENENGAH SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN NEGERI 10 KELOMPOK BISNIS MANAJEMEN DAN TEKNOLOGI Jl. SMEA 6 – Mayjend. Sutoyo Cawang Kramatjati Jakarta Timur (13630) Telp.8091773 Fax.8004289 website : www.smkn10jkt.sch.id email : info@smkn10jkt.sch.id
  • 2. KATA PENGANTARAssalamualaikum wr.wb. Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat ilahi rabi allah swt, atas berkat dan rahmat-Nya kami dapat menyusun makalah mengenai pemasaran yang berjudul ―Waralaba‖, makalah ini disusun guna memenuhi tugas dari pengajar Produktif Pemasaran. Saya haturkan terima kasih kepada semua pihak yang ikut membantu dalam pembuatan dan penyusunan makalah ini, karena saya tidak dapat menyelesaikan makalah ini jika tanpa bantuan setiap pihak, tanpa bantuan teman-teman, bahkan bantuan berupa materi ataupun segala hal yang dapat membantu dalam penyelesaian makalah ini. Makalah ini masih jauh dari sempurna, karena saya manusia yang tidak bisa lepas dari kesalahan, kami hanya dapat berusaha untuk mencoba sedikit lebih baik, karena itu kami akan sangat bisa untuk menampung setiap kritik dan saran yang bersifat membangun demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat yang berarti bagi pembaca dan setiap kalangan masyarakat sehingga tahu mengenai Waralaba ini.Jakarta, oktober 2013 Penyusun Fidiyantii
  • 3. DAFTAR ISIHalaman Kata Pengantar ……………………………………………………… i Daftar isi ……………………………………………………………...iiBAB I Pendahuluan …………………………………………………1Latar belakang ..................................................................1Identitas masalah ............................................................1Rumusan masalah ............................................................1BAB II Isi ......................................................................................2Sejarah waralaba .............................................................2Pengertian waralaba .........................................................2Contoh waralaba diIndonesia dan diLuar negeri ................2BAB III Penutup ...........................................................................3Kesimpulan .............................................................................3Saran ................................................................................3Daftar pustaka ..............................................................................ii4
  • 4. BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Franchising (pewaralabaan) pada hakekatnya adalah sebuah konsep pemasaran dalam rangka memperluas jaringan usaha secara cepat. Dengan demikian, franchising bukanlah sebuah alternatif melainkan salah satu cara yang sama kuatnya, sama strategsinya dengan cara konvensional dalam mengembangkan usaha. Bahkan sistem franchise dianggap memiliki banyak kelebihan terutama menyangkut pendanaan, SDM dan managemen, kecuali kerelaan pemilik merek untuk berbagi dengan pihak lain. Franchising juga dikenal sebagai jalur distribusi yang sangat efektif untuk mendekatkan produk kepada konsumennya melalui tangan-tangan franchisee. B. IDENTITAS MASALAH Saya mencoba membahas waralaba di makalah ini. Bagaimanapun waralaba adalah salah satu tawaran investasi. Sebaik-baiknya investasi, kita tetap perlu cermat, karena namanya tawaran selalu manis. Apa saja yang perlu kita lihat, kita hitung kembali, kita ketehui dari prospektus waralaba. C. RUMUSAN MASALAH 1. Bagaimana perkembangan waralaba pada saat ini? 2. Apakah pengertian dari waralaba? 3. Apa yang dimaksud dengan Hak Kekayaan Intelektual dalam pemberian Waralaba? 4. Bagaimanakah konsep waralaba dalam hukum Indonesia? 5. Apa salah satu contoh dari waralaba di Indonesia?1
  • 5. BAB II ISI A. SEJARAH WARALABA Franchise pertama kali dimulai di Amerika oleh Singer Sewing Machine Company, produsen mesin jahit Singer pada 1851. Pola itu kemudian diikuti oleh perusahaan otomotif General Motor Industry yang melakukan penjualan kendaraan bermotor dengan menunjuk distributor franchise pada tahun 1898. Selanjutnya, diikuti pula oleh perusahaan-perusahaan soft drink di Amerika sebagai saluran distribusi di AS dan negara-negara lain. Sedangkan di Inggris waralaba dirintis oleh J Lyons melalui usahanya Wimpy and Golden Egg pada dekade 60an. Di Indonesia franchise dikenal sejak era 70an ketika masuknya Shakey Pisa, KFC, Swensen dan Burger King. Perkembangannya terlihat sangat pesat dimulai sekitar 1995. Data Deperindag pada 1997 mencatat sekitar 259 perusahaan penerima waralaba di Indonesia. Setelah itu, usaha franchise mengalami kemerosotan karena terjadi krisis moneter. Para penerima waralaba asing terpaksa menutup usahanya karena nilai rupiah yang terperosok sangat dalam. Hingga 2000, franchise asing masih menunggu untuk masuk ke Indonesia. Hal itu disebabkan kondisi ekonomi dan politik yang belum stabili ditandai dengan perseteruan para elit politik. Barulah pada 2003, usaha franchise di tanah air mengalami perkembangan yang sangat pesat. B. PENGERTIAN WARALABA Masing-masing negara memiliki definisi sendiri tentang waralaba. Amerika melalui International Franchise Association (IFA) mendefinisikan franchise sebagai hubungan kontraktual antara franchisor dengan franchise, dimana franchisor berkewajiban menjaga kepentingan secara kontinyu pada bidang usaha yang dijalankan oleh franchisee misalnya lewat pelatihan, di bawah merek dagang yang sama, format dan standar operasional atau kontrol pemilik (franchisor), dimana franchisee menamankan investasi pada usaha tersebut dari sumber dananya sendiri. Sedangkan menurut British Franchise Association sebagai garansi lisensi kontraktual oleh satu orang (franchisor) ke pihak lain (franchisee) franchisee pada subjek bisnis yang dijalankan—di dalam hubungan terhadap organisasi usaha franchisee seperti training terhadap staf, merchandising, manajemen atau yang lainnya. 4. Meminta kepada franchise secara periodik selama masa kerjasama waralaba untuk membayarkan sejumlah fee franchisee atau royalti untuk 2
  • 6. produk atau service yang disediakan oleh franchisor kepada franchisee. Sejumlah pakar juga ikut memberikan definisi terhadap waralaba. Campbell Black dalam bukunya Black’s Law Dict menjelaskan franchise sebagai sebuah lisensi merek dari pemilik yang mengijinkan orang lain untuk menjual produk atau service atas nama merek tersebut. David J.Kaufmann memberi definisi franchising sebagai sebuah sistem pemasaran dan distribusi yang dijalankan oleh institusi bisnis kecil (franchisee) yang digaransi dengan membayar sejumlah fee, hak terhadap akses pasar oleh franchisor dengan standar operasi yang mapan dibawah asistensi franchisor. Sedangkan menurut Reitzel, Lyden, Roberts & Severance, franchise definisikan sebagai sebuah kontrak atas barang yang intangible yang dimiliki oleh seseorang (franchisor) seperti merek yang diberikan kepada orang lain (franchisee) untuk menggunakan barang (merek) tersebut pada usahanya sesuai dengan teritori yang disepakati. Selain definisi menurut kacamata asing, di Indonesia juga berkembang definisi franchise. Salah satunya seperti yang diberikan oleh LPPM (Lembaga Pendidikan dan Pembinaan Manajemen), yang mengadopsi dari terjemahan kata franchise. IPPM mengartikannya sebagai usaha yang memberikan laba atau keuntungan sangat istimewa sesuai dengan kata tersebut yang berasal dari wara yang berarti istimewa dan laba yang berarti keuntungan. Sementara itu, menurut PP No.16/1997 waralaba diartikan sebagai perikatan dimana salah satu pihak diberikan hak untuk memanfaatkan dan atau menggunakan hak atas kekayaan intelektual atau penemuan atau ciri khas usaha yang dimiliki pihak lain dengan suatu imbalan berdasarkan persyaratan yang ditetapkan pihak lain tersebut, dalam rangka penyediaan dan atau penjualan barang dan atau jasa. Definisi inilah yang berlaku baku secara yuridis formal di Indonesia.
  • 7. E. CONTOH WARALABA DI INDONESIA DAN DI LUAR NEGERI Waralaba di Indonsia Waralaba Rocket Chicken IndonesiaFried chicken, tentu tak asing lagi di lidah orang Indonesia. Makanan yang populer sejak disajikan beberapa restoran cepat saji asing ini, kini sudah merakyat Indonesia. Mulai dari anak kecil hingga dewasa pasti menyukai menu tersebut. Bahkan, besarnya minat masyarakat tanah air, membuat usaha fried chicken hadir mulai dari gerobak kaki lima hingga restoran kelas atas. Tawaran kemitraan muncul dengan mengusung brand ROCKET CHICKEN, adalah Perusahaan Waralaba/Franchise yang bergerak di Bidang Fast Food Restaurant, dengan produk unggulan, fried chicken, Burger, Steak dan chinnese food, dengan konsep menyajikan makanan yang sehat, berkualitas,halal,dengan cita rasa yang khas, harga terjangkau bagi semua kalangan masyarakat yang diolah dangan bumbu pilihan. ROCKET CHICKEN berdiri pada tanggal 21 Februari 2010 yang ditandai dengan dibukanya gerai pertama di Jln. Woltermonginsidi no. 32 Pedurungan Semarang, sesuai perkembangan dan banyaknya permintaan Rocet Chicken membuka kesempatan bagi pengusahapengusaha baru dengan modal yang terjangkau untuk memiliki suatu usaha bidang makanan yang dapat dikelola oleh perorangan atau berbadan hukum dengan system kemitraan atau Franchise. Dengan membidik pangsa pasar seluruh kalangan lapisan masyarakat sehingga bisa didirikan hingga ke daerah-daerah dengan
  • 8. didukung system Manajemen yang telah teruji menjadikan Rocket Chicken sebagai usaha yang mempunyai Brand awarnes tinggi,prospektif, dan marketable. Sampai dengan tahun 2011 saja Rocket Chicke telah mempunya 118 outlet yang terseber di seluruh Indonesia. Kemitraan Rocket Chicke di tawarkan dengan harga Rp 20 juta untuk masa kerja sama selama 5 tahun. Rata-rata total jumlah investasi awal yang harus di keluarkan mitra sebesar Rp 160 juta untuk peralatan oprasional dan renovasi tempat usaha, nilai tersebut belum termasuk sewa tempat usaha di Jawa. Untuk luar jawa, nilai investasi bisa sampai mencapai Rp 200 juta. Selain itu, mitra wajib untuk membayar royalti fee sebesar 4% untuk tahun pertama dan 5% untuk tahun berikutnya. Selama masa kerja sama mitra akan mendapatkan dukungan dari pusat berupa Equipment, Trainning, Renovasi, Raw Material, Survey Lokasi, Delivery Exp.Investasi Awal Rocket Chicken Rp 155 Juta Rocket Chicken, misalnya. Berdiri sejak Februari 2010, restoran cepat saji ini menawarkan produk unggulan lain, seperti burger, steik, dan chinese food, dengan konsep makanan sehat, berkualitas, halal, cita rasa khas, serta harga terjangkau. omset mitra Rocket Chicken bisa mencapai Rp 5 juta per hari di hari biasa, dan Rp 7 juta sehari di akhir pekan.
  • 9. Waralaba di luar negeri : Dunkin’ donutsDunkin’ Donuts pertama kali didirikan oleh William Rosenberg tahun 1950. Dia membuka sebuah gerai donut dengan nama Open Kettle di kota Boston, Quincy – Massachusetts, Amerika Serikat. Tak disangka gerai donut miliknya itu tumbuh dengan pesat. Hal ini terbukti dari makin bertambah banyaknya jumlah pelanggan yang berkunjung ke gerai tersebut. Melihat perkembangan usahanya yang terus berkembang, tahun 1950 Rosenberg pun memutuskan mengubah nama Open Kettle menjadi nama lain. Setelah melalui proses yang panjang, terpilihlah nama baru yaitu Dunkin’ Donuts. Bersamaan dengan perubahan nama tersebut, dirintislah sistem franchise (waralaba) untuk perusahaan ini. Dunkin' Donuts mulai merambah pasar Indonesia pada tahun 1985 dengan gerai pertamanya didirikan di Jalan Hayam Wuruk, Jakarta. Khusus wilayah Indonesia, master franchise Dunkin' Donuts dipegang Dunkin' Donuts Indonesia. Sejak diberi kepercayaan memegang master franchise tersebut, Dunkin' Donuts Indonesia bercita-cita dan bertekad untuk terus membesarkan serta memperkuat awareness dan positioning Dunkin' Donuts. Tidak hanya di Ibu Kota Indonesia, Jakarta, tetapi juga di berbagai kota besar lainnya. Itu sebabnya, kegiatan memperluas pasar dengan jalan membuka puluhan gerai permanen terus dilakukan secara berkala. Kini Dunkin' Donuts Indonesia telah berhasil membuka lebih dari 200 gerai yang tersebar di berbagai kota besar Indonesia seperti Jakarta, Tangerang, Bogor, Bekasi, Depok, Surabaya, Bandung, Bali, Medan, Yogyakarta, Makassar, dan lain sebagainya. Cita-cita memperkuat awareness dan positioning pun bisa dibilang telah tercapai. Paling tidak hal ini bisa dilihat dari hasil survey sebuah lembaga riset pemasaran yang menyebutkan bahwa Top of Mind Dunkin' Donuts di Indonesia telah mencapai 91,8%. Bahkan tercatat juga tingkat kepuasan konsumen Indonesia terhadap Dunkin' Donuts secara keseluruhan mencapai 80,8%. Seiring dengan makin kuatnya awareness dan positioning Dunkin' Donuts yang telah dibuktikan lewat hasil survey, di awal tahun 2001 Dunkin' Donuts Indonesia kembali melakukan gebrakan dengan
  • 10. menerapkan konsep baru (new image) pada setiap gerainya. Kegiatan new image tersebut dilakukan secara bertahap dengan jalan merubah logo, design interior gerai, dan berbagai perubahan lainnya. Dampak dari new image membuat Dunkin' Donuts terlihat lebih fresh dan sesuai dengan keinginan pasar. Namun semua itu belumlah cukup. Bersamaan dengan terus dilangsungkannya kegiatan new image, Dunkin' Donuts Indonesia juga mengikrarkan komitmen untuk lebih memfokuskan diri pada perbaikan produk dan pelayanan. Dengan demikian diharapkan tingkat kepuasan konsumen terhadap Dunkin' Donuts dapat terus meningkat. Lalu berapa harga franchise Dunkin Donuts indonesia? Dalam website resminya, Dunkin Donuts indonesia menjelaskan bahwa saat ini Dunkin Donuts indonesia belum membuka sistem franchise atau bentuk kerjasama lainnya dalam bentuk kemitraan. Kelebihan : rasa enak, tidak membosankan, tidak membuat mual walau makan banyak Kekurangan: hanya ada di kota besar, ekspansi pasar lambat.
  • 11. BAB III PENUTUP A. KESIMPULAN Franchising (pewaralabaan) pada hakekatnya adalah sebuah konsep pemasaran dalam rangka memperluas jaringan usaha secara cepat. Franchising bukanlah sebuah alternatif melainkan salah satu cara yang sama kuatnya, sama strategsinya dengan cara konvensional dalam mengembangkan usaha. Pada prinsipnya, penyelenggaraan waralaba tidak jauh berbeda dengan pembukaan kantor cabang. Pada sisi lain waralaba juga tidak berbeda jauh dari bentuk pendistribusian dalam kegiatan perdagangan barang dan atau jasa. Keduanya mempergunakan Hak Kekayaan Intelektual yang sama. B. SARAN Berhati-hatilah dalam memilih usaha waralaba, artinya harus waspada dalam memutuskan rencana bisnis anda, biasanya janji awal usaha memang manis tetapi dalam pelaksanaan akan menghadapi suatu permasalahan yang membutuh solusi pemecahan dan kesabaran. Dengan pikiran cermat dan tepat memilih usaha waralaba dapat memaksimalkan keberhasilan. Sesuai dengan kondisi pasar, masyarakat yang konsumtif merupakan keuntungan tersendiri bagi para pengusaha waralaba. Perkembangan usaha waralaba sangat peka sekali terhadap perubahan ekonomi dan selera masyarakat. Di Indonesia usaha waralaba tumbuh dan berkembang sangat maju dari tahun ke tahun bertambah, sehingga memungkinkan orang untuk menekuni usaha ini.3
  • 12. DAFTAR PUSTAKA Salam Franchise (Waralaba) Indonesia: http://salamfranchise.com/2008/04/08/franchise-dalam-perspektif-hak-kekayaanintelektual/ http://salamfranchise.com/2008/03/03/franchise-di-indonesia-dan-pengertiannya/ Pramono, Peny R. 2007. Cara Memilih Waralaba yang Menjanjikan Profit. Jakarta. PT. Elex Media Komputindo. Kompas.com e-newspaper in Indonesian/ usaha dan bisnis Hakim, Lukman. 2008. Info Lengkap Waralaba. Jakarta. PT. Buku Kita M. Fuad. 2000. Pengantar Bisnis. Jakarta. PT. Gramedia Pustaka Utama Website : PT. Gunung SelametSMK NEGERI 104
  • Fly UP