Click here to load reader

Tren Kekerasan Baru di Indonesia serta Implikasi Kebijakannya

  • View
    21

  • Download
    0

Embed Size (px)

Text of Tren Kekerasan Baru di Indonesia serta Implikasi Kebijakannya

  • TREN KONFLIK DAN KEKERASAN BARU DI INDONESIA

    SERTA IMPLIKASI KEBIJAKANNYA

    OLEH MANIK SUKOCO NIM 15730251008

    PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN PROGRAM PASCASARJANA

    UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2016

  • Halaman | 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang Masalah Proses demokratisasi di Indonesia saat ini sudah menjadi perhatian dunia

    luar terutama sejak runtuhnya rejim otoriter Soeharto. Proses transisi demokrasi

    ini tidak berlangsung secara mulus tanpa hambatan. Sejak proses reformasi

    politik yang berlangsung pasca lengsernya Presiden Soeharto, beragam konflik

    dan kekerasan masih terjadi di berbagai wilayah, mulai dari Sabang sampai

    Merauke.

    Konflik, terutama yang mengambil bentuk kekerasan, telah menjadi

    kajian banyak psikolog terutama dalam kaitannya dengan aspek-aspek internal

    manusia. Sigmund Freud misalnya memandang konflik atau kekerasan sebagai

    wujud frustasi dari suatu dorongan libidinal yang bersifat mendasar.

    Konflik berskala besar di Indonesia secara statistik bisa dikatakan telah

    berakhir atau setidaknya intensitasnya berkurang seiring dengan konsolidasi

    demokrasi di Indonesia. Namun, jika meninjau kekerasan yang terjadi di

    Indonesia selama 5 tahun terakhir, berbagai faktor yang memicu dan mendorong

    beragam konflik tersebut belum sepenuhnya ditangani dan persoalan konflik

    lama kerap memicu insiden kekerasan yang baru.

    Menilik dari data statistik Conflict and Development Program yang

    dikembangkan oleh World Bank, kini muncul tren kekerasan baru yang cukup

    mengkhawatirkan yaitu: 1) kekerasan terkait dengan ketidakpuasan rakyat

    terhadap demokratisasi dan penyelenggaraan Pemilukada serta, 2) kekerasan

    rutin baik berupa bentrokan antar kelompok geng (preman), pengeroyokan

    terhadap pencuri, atau pertikaian masalah lahan yang terjadi di beberapa

    kawasan di Indonesia.

    Kekerasan terkait dengan ketidakpuasan rakyat terhadap demokratisasi

    khususnya dalam penyelengaraan Pemilukada dimulai dari daftar pemilih yang

    kurang akurat, pemilih ganda, persoalan pencalonan, penggantian pasangan

    calon dalam proses perbaikan syarat administrasi, pembelian suara secara

    massif, kampanye hitam, serta money politics, yang seringkali berakhir dengan

    adanya kekerasan yang mengarah ke anarkisme.

    Adapun kekerasan rutin berupa bentrokan antar kelompok geng

    (preman), pengeroyokan terhadap pencuri, atau pertikaian masalah lahan

    merupakan fenomena penting bukan hanya karena dampak fisiknya, tapi juga

  • Halaman | 2

    karena kekerasan tersebut berpotensi menciptakan budaya kekerasan dimana

    keluhan sering diselesaikan dengan kekerasan. Hal ini dapat menimbulkan siklus

    balas dendam dan menipiskan kepercayaan pada institusi negara.

    Tingginya tingkat kekerasan rutin dan kekerasan politik yang belakangan

    terjadi di Indonesia memerlukan perhatian dan penanganan yang lebih serius

    karena potensi konflik dan kekerasan ini dapat mengarah pada pembentukan

    jaringan aktor kekerasan seperti geng, yang sewaktu-waktu dapat dimobilisasi

    dan berkontribusi pada ketegangan-ketegangan sosial dan politik yang sudah

    ada, sebagaimana terjadi pada berbagai konflik berskala besar pada masa

    sebelumnya.

    Dampak signifikan dan meningkatnya jumlah insiden konflik kekerasan

    menekankan perlunya pengelolaan risiko yang terus menerus dan pengutamaan

    pencegahan konflik dalam agenda kebijakan.

  • Halaman | 3

    BAB II

    PEMBAHASAN

    A. Konflik 1. Definisi Konflik

    Konflik merupakan serapan dari bahasa Inggris conflict yang berarti

    percekcokan, perselisihan, pertentangan (Echols dan Hassan Shadily, 1990: 138).

    Konflik juga diartikan sebagai, a state of disaggreement or argument between

    opposing groups or opposing ideas or principles, war or battle, struggle to be in

    opposition; disagree (LDOCE2, 1987: 212). Konflik dalam definisi ini diartikan

    sebagai ketidakpahaman atau ketidaksepakatan antara kelompok atau gagasan-

    gagasan yang berlawanan. Ia juga bisa berarti perang, atau upaya berada dalam

    pihak yang berseberangan. Atau dengan kata lain, ketidaksetujuan antara

    beberapa pihak. Apabila dikaitkan dengan istilah sosial, maka konflik sosial bisa

    diartikan sebagai suatu pertentangan antar anggota masyarakat yang bersifat

    menyeluruh dalam kehidupan. Dengan kata lain interaksi atau proses sosial

    antara dua orang atau lebih (bisa juga kelompok) dimana salah satu pihak

    berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau setidaknya

    membuatnya tidak berdaya. Konflik juga bisa diartikan sebagai situasi dimana

    para aktor menggunakan perilaku konflik melawan satu sama lain dalam

    menyelesaikan tujuan yang berseberangan atau mengekspresikan naluri

    permusuhan (Susan, 2010: 63).

    Konflik merupakan pertentangan yang ditandai oleh pergerakan dari

    beberapa pihak sehingga terjadi persinggungan. Ia merupakan warisan

    kehidupan sosial sebagai akibat adanya ketidaksetujuan, kontroversi atau

    pertentangan antara dua atau lebih pihak yang berlangsung terus menerus.

    (Susan 2010: 8). Sedangkan Wirawan (2010) mendefinisikan konflik sebagai

    proses pertentangan yang diekspresikan di antara dua pihak atau lebih yang

    saling tergantung mengenai objek konflik, menggunakan pola perilaku dan

    interaksi konflik yang menghasilkan keluaran konflik. Secara sosiologis, konflik

    lahir karena adanya perbedaan-perbedaan yang tidak atau belum dapat diterima

    oleh satu individu dengan individu lain atau antara suatu kelompok dengan

    kelompok tertentu. Perbedaan tersebut meliputi perbedaan antara individu-

    individu (ciri-ciri badaniah), perbedaan unsur-unsur kebudayaan, emosi,

    perubahan sosial yang terlalu cepat, perbedaan pola-pola perilaku, dan

    perbedaan kepentingan.

  • Halaman | 4

    Bagi Madjid (1993), konflik merupakan bentuk misinteraktif yang terjadi

    pada tingkatan individual, interpersonal, kelompok atau pada tingkatan

    organisasi. Konflik organisasi merupakan interaksi antara dua atau lebih pihak

    yang satu sama lain berhubungan dan saling tergantung, namun terpisahkan oleh

    perbedaan tujuan. Konflik dalam organisasi sering terjadi tidak simetris terjadi

    hanya satu pihak yang sadar dan memberikan respon terhadap konflik tersebut.

    Atau, satu pihak mempersepsikan adanya pihak lain yang telah atau akan

    menyerang secara negatif. Konflik merupakan ekspresi pertikaian antara individu

    dengan individu lain, kelompok dengan kelompok lain karena beberapa alasan.

    Dalam pandangan ini, pertikaian menunjukkan adanya perbedaan antara dua

    atau lebih individu yang diekspresikan, diingat, dan dialami. Konflik dapat

    dirasakan, diketahui, diekspresikan melalui perilaku-perilaku komunikasi.

    Konflik senantisa berpusat pada beberapa penyebab utama, yakni tujuan yang

    ingin dicapai, alokasi sumber-sumber yang dibagikan, keputusan yang diambil,

    maupun perilaku setiap pihak yang terlibat. Interaksi yang disebut komunikasi

    antara individu yang satu dengan yang lainnya, tak dapat disangkal akan

    menimbulkan konflik dalam level yang berbeda-beda.

    Pada tilikan sosiologis, manusia dalam hidupnya tidak bisa hidup sendiri.

    Dibanding makhluk lain, sebutlah misalnya hewan atau tumbuhan, manusia

    merupakan makhluk dengan tingkat ketergantungan paling tinggi. Dengan

    demikian, interaksi dengan sesama manusia jelas tidak terhindarkan. Dalam pola

    dan ragam interaksi muncul konflik sebagai konsekuensi perbedaan perasaan,

    kebutuhan, keinginan, harapan-harapan dan lain-lain. Manusia makhluk sosial.

    Ia memerlukan tidak hanya manusia lain tetapi juga lingkungan secara

    keseluruhan. Dengan demikian, interaksi menjadi keniscayaan. Interaksi antar

    manusia, kelompok atau antarnegara tidak pernah steril dari kepentingan,

    penguasaan, permusuhan bahkan penindasan. Interaksi bermuatan konflik pada

    prinsipnya setua sejarah kemanusiaan. Karena itu, manusia merupakan makhluk

    konflik (homo conflictus), yaitu makhluk yang selalu terlibat dalam perbedaan,

    pertentangan, dan persaingan baik sukarela maupun terpaksa (Susan, 2010: 8).

    2. Konflik Sosial Konflik sosial merupakan gambaran tentang terjadinya percekcokan,

    perselisihan, atau pertentangan sebagai akibat dari perbedaan-perbedaan yang

    muncul dari kehidupan masyarakat, baik perbedaan secara individual maupun

    perbedaan kelompok. Menurut Irving (1995) pada umumnya konflik sosial

  • Halaman | 5

    mengandung suatu rangkaian fenomena pertentangan dan pertikaian antara

    pribadi, kelompok melalui dari konflik kelas sampai pada pertentangan dan

    peperangan Internasional. Konflik sosial sebagai suatu perjuangan terhadap nilai

    dan pengakuan terhadap status yang langka, kemudian kekuasaan dan sumber-

    sumber pertentangan dinetralisir atau dilangsungkan, atau dieliminir saingan-

    saingannya. Soerjono Soekanto (2006) menambahkan bahwa pertentangan

    masyarakat mungkin pula menjadi penyebab terjadinya perubahan sosial dan

    kebudayaan.

    Konflik adalah kenyataan yang melekat pada masyarakat. Adanya tertib

    sosial seperti adanya sistem nilai yang disepakati bersama tidak secara otomatis

    dapat menghilangkan konflik. Bahkan merupakan cerminan adanya konflik yang

    bersifat potensial dalam masyarakat (Munandar Soelaeman, 2008: 76).

    Kenyataan konflik ini padat dibukt