of 63 /63
FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI KELURAHAN LAIMPI KEC. KABAWO TAHUN 2016 Karya Tulis Ilmiah Diajukan sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan di Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna Oleh : Asni PSW.B.2013.IB.0054 YAYASAN PENDIDIKAN SOWITE AKADEMI KEBIDANAN PARAMATA RAHA KABUPATEN MUNA 2016

FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI KELURAHAN LAIMPI KEC. KABAWO TAHUN 2016 Karya Tulis Ilmiah

Embed Size (px)

Text of FAKTOR – FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ISPA PADA BALITA DI KELURAHAN LAIMPI KEC. KABAWO...

  • i

    FAKTOR FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN ISPAPADA BALITA DI KELURAHAN LAIMPI KEC. KABAWO

    TAHUN 2016

    Karya Tulis Ilmiah

    Diajukan sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikandi Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna

    Oleh :

    AsniPSW.B.2013.IB.0054

    YAYASAN PENDIDIKAN SOWITEAKADEMI KEBIDANAN PARAMATA RAHA

    KABUPATEN MUNA2016

  • ii

  • iii

  • iv

    RIWAYAT HIDUP

    A. IDENTITAS DIRI

    1. Nama : Asni

    2. Nim : PSW. 2013. IB. 0054

    3. Tempat/ tanggal lahir : Lasehao, 03 April 1995

    4. Agama : Islam

    5. Suku/Kebangsaan : Muna/Indonesia

    6. Alamat : Jl. Sangia Kaendea

    B. IDENTITAS ORANG TUA

    1. Nama Ayah/Ibu : La Sani A.Ma.Pd/Wa Ode Saida

    2. Alamat : Kelurahan Laimpi

    3. Pekerjaan : Guru

    C. PENDIDIKAN

    1. SD : SD Negeri 01 Kabawo Tahun 2001 - 2007

    2. SMP : SMP Negeri 01 Kabawo Tahun 2007 - 2010

    3. SMA : SMA Negeri 01 Kabawo Tahun 2010 - 2013

    4. Sejak tahun 2013 mengikuti pendidikan D III Kebidanan di Akademi

    Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna yang direncanakan selesai

    tahun 2016.

  • v

    KATA PENGANTAR

    Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan

    hidayah dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah

    dengan judul Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian ISPA pada

    Balita di Kelurahan Laimpi Kecamatan Kabawo Tahun 2016 yang merupakan

    salah satu syarat dalam menyelesaikan pendidikan program D-III Kebidanan Akbid

    Paramata Raha Kabupaten Muna.

    Penulis menyadari bahwa penulisan Karya Tulis Ilmiah ini tidak akan

    terwujud tanpa bantuan, bimbingan, dan dorongan dari berbagai pihak. Oleh karena

    itu sudah sepantasnya penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga dan

    penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Ibu Sitti Dhia Ulhaq, SST.,M.Kes

    selaku pembimbing I dan Ibu Andi Asniati, SKM selaku pembimbing II atas segala

    kesediaan, kesungguhan, dan kesabarannya dalam membimbing dan mengarahkan

    penulis dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini berupa waktu, bimbingan,

    motivasi, petunjuk, pengarahan dan dorongan baik moril materil yang sangat

    berharga.

    Dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini penulis banyak mendapatkan

    bantuan dari berbagai pihak. Olehnya pada kesempatan ini dengan penuh

    kerendahan hati, penulis mengucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada :

    1. Bapak La Ode Muhlisi, A.Kep., M.Kes selaku Ketua Yayasan Pendidikan

    Sowite Kabupaten Muna yang telah memberikan kesempatan kepada penulis

  • vi

    untuk mengikuti pendidikan di Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten

    Muna.

    2. Ibu Rosminah Mansyarif, S.Si.T., M.Kes selaku Direktur Akademi Kebidanan

    Paramata Raha Kabupaten Muna yang telah memberikan kesempatan kepada

    penulis untuk mengikuti pendidikan di Akademi Kebidanan Paramata Raha

    Kabupaten Muna.

    3. Ibu Rosminah Mansyarif, S.Si.T., M.Kes selaku penguji yang telah meluangkan

    waktu untuk memberikan ujian Karya Tulis Ilmiah.

    4. Bapak H. Marudin, SKM. MM.Kes selaku kepala Puskesmas Kabawo

    Kabupaten Muna yang telah memberi izin untuk melakukan penelitian di

    wilayah kerja Puskesmas Kabawo.

    5. Seluruh jajaran petugas kesehatan Puskesmas Kabawo Kabupaten Muna yang

    telah membantu selama proses penelitian.

    6. Seluruh jajaran Dosen dan Staf Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten

    Muna yang telah memberikan petunjuk dan bimbingan selama mengikuti

    pendidikan dan penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.

    7. Teristimewa kepada kedua orang tuaku tercinta Ayahanda La Sani A.ma.Pd dan

    Ibunda Wd Saida yang telah mendidik, membesarkan dengan penuh cinta dan

    kasih sayang yang begitu tulus, serta doa restu dan pengorbanan yang tiada

    henti-hentinya hingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan ini.

    8. Orang yang tercinta Rahman Amd.Kep yang telah memberikan segala dukungan

    dan doa serta memberi warna dihidupku baik suka dan duka.

  • vii

    9. Buat sahabat-sahabatku yang kusayang teruntuk Ilawati, Fitriani, Rahmaningsih,

    Wiwin Winarsih, Sitti Andriyani, yang selalu setia menemani, dan selalu

    memberi semangat agar Karya Tulis ini selesai pada waktu yang seharusnya

    serta seluruh temanku tingkat III dan semua pihak yang tidak dapat penulis

    sebutkan satu persatu yang telah membantu dan memotivasi selama mengikuti

    pendidikan di Akademi Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna.

    Penulis menyadari bahwa Karya Tulis Ilmiah ini jauh dari sempurna baik

    dari segi materi maupun penulisannya karena Tak Ada Gading yang Tak Retak.

    Olehnya itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan demi

    kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini Akhirnya semoga Karya Tulis Ilmiah ini

    dapat bermanfaat bagi pengembangan ilmu kebidanan dan semoga kebaikan serta

    bantuan yang telah diberikan kepada penulis akan diberikan balasan yang setimpal

    oleh Tuhan Yang Maha Esa.

    Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

    Raha, Juli 2016

    Penulis

  • viii

    DAFTAR ISI

    Halaman Judul............................................................................................... i

    Lembar Persetujuan....................................................................................... ii

    Lembar Pengesahan...................................................................................... iii

    Riwayat hidup............................................................................................... iv

    Kata Pengantar.............................................................................................. v

    Daftar Isi........................................................................................................ viii

    Daftar Tabel.................................................................................................. x

    Pernyataan..................................................................................................... xi

    Intisari........................................................................................................... xii

    Bab I Pendahuluan...................................................................................... 1

    A. Latar Belakang............................................................................... 1

    B. Rumusan Masalah.......................................................................... 5

    C. Tujuan Penelitian............................................................................ 5

    D. Manfaat Penelitian.......................................................................... 5

    Bab II Tinjauan Pustaka............................................................................ 7

    A. Telaah Pustaka................................................................................ 7

    1. ISPA........................................................................................... 7

    2. Balita.......................................................................................... 13

    3. Riwayat Pemberian ASI Esklusif.............................................. 13

    4. Kebiaasaan Anggota Keluarga Merokok Dalam Rumah........... 16

    5. Puskesmas.................................................................................. 17

    B. Landasan Teori............................................................................... 18

    C. Kerangka Konsep........................................................................... 21

    D. Hipotesis Penelitian........................................................................ 21

    Bab III Kerangka Penelitian...................................................................... 22

    A. Jenis dan Rancangan Penelitian..................................................... 22

    B. Tempat dan Waktu Penelitian........................................................ 22

    C. Subjek Penelitian............................................................................ 23

    D. Identifikasi Variabel Penelitian...................................................... 24

  • ix

    E. Variabel dan Defenisi Operasional................................................. 24

    F. Instrumen Penelitian....................................................................... 25

    G. Pengolahan dan Analisis Data........................................................ 25

    H. Metode Pengumpulan Data............................................................ 25

    I. Jalannya Penelitian......................................................................... 28

    Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan................................................ 29

    A. Hasil Penelitian............................................................................... 29

    B. Pembahasan.................................................................................... 36

    Bab V Kesimpulan dan Saran.................................................................... 39

    A. Kesimpulan..................................................................................... 39

    B. Saran............................................................................................... 39

    Daftar Pustaka............................................................................................. 40

    Lampiran-Lampiran

  • x

    DAFTAR TABEL

    Tabel 1 Definisi Operasional dan Kriteria Objektif........................................ 23

    Tabel 2 Luas Wilayah dan Presentase Tiap Desa/Kelurahan......................... 28

    Tabel 3 Jumlah Penduduk, Rumah Tangga, Jenis Kelamin dan Kepadatan

    Penduduk Menurut Desa/Kelurahan................................................... 29

    Tabel 4 Distribusi Frekuensi Kejadian ISPA pada Balita 7-36 Bulan di

    Kelurahan Laimpi Kecamatan Kabawo Tahun 2016.......................... 31

    Tabel 5 Distrubusi Frekuensi Balita Berdasarkan Riwayat ASI Esklusif

    pada Balita 7-36 Bulan di Kelurahan Laimpi Kecamatan Kabawo

    Tahun 2016.......................................................................................... 31

    Tabel 6 Distrubusi Frekuensi Berdasarkan Kebiasaan anggota keluarga

    merokok dalam rumah di Kelurahan Laimpi Kecamatan Kabawo

    Tahun 2016.......................................................................................... 32

    Tabel 7 Hubungan antara Riwayat ASI Esklusif dengan Kejadian ISPA di

    Kelurahan Laimpi Kecamatan Kabawo Tahun 2016.......................... 33

    Tabel 8 Hubungan Kebiasaan Anggota Keluarga Merokok Dalam Rumah

    dengan Kejadian ISPA pada Balita di Kelurahan Laimpi Kecamatan

    Kabawo Tahun 2016........................................................................... 34

  • xi

    PERNYATAAN

    Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam karya tulis ilmiah ini tidak

    terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu

    perguruan tinggi, disepanjang sepengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau

    pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara

    tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

    Raha, Juli 2016

    ASNI

  • xii

    INTISARI

    Ilawati, Psw.B.2013.IB.0070 FaktorFaktor yang Berhubungan denganKejadian ISPA Pada Balita di Kelurahan Laimpi Kec. Kabawo Tahun 2016 .Dibawah Bimbingan Sitti Dhia Ul Haq dan Andi Asniati.

    Latar belakang : Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah infeksi saluranpernapasan akut yang menyerang tenggorokan, hidung dan paru-paru yangberlangsung kurang lebih 14 hari, ISPA mengenai struktur saluran atas laring,tetapi kebanyakan penyakit ini mengenai bagian atas dan bawah secara stimulandan berurutan. Di Puskesmas Kabawo kejadian ISPA pada tahun 2016 periodejanuari-juni sebanyak 36 orangMetode penelitian : Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalahanalitik dengan menggunakan pendekatan Cross SectionalHasil penelitian : Hasil uji statistik Chi Square yang telah diakukan pada setiapvariabel peneitian, untuk riwayat ASI eskusif nilai p value 0,516 > (0,05) artinyatidak ada hubungan antara riwayat ASI Eskusif dan kejadian ISPA pada balita,kebiasaan merokok anggota keluarga nilai p value 0,04 < (0,05) artinya adahubungan antara kebiasaan merokok anggota keluarga dan kejadian ISPA padabalitaKesimpulan : Tidak ada hubungan antara riwayat ASI Eskusif dengan KejadianISPA Pada Balita di Kelurahan Laimpi Kec. Kabawo Tahun 2016, ada hubunganantara kebiasaan merokok dengan Kejadian ISPA Pada Balita di Kelurahan LaimpiKec. Kabawo Tahun 2016

    Kata Kunci : Balita, ISPA

    Literatur : 12 Kepustakaan (2007-2014)

  • 1

    BAB 1

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Tujuan pembangunan kesehatan diarahkan untuk meningkatkan kesadaran,

    kemauan dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat

    kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya dapat terwujud. (Depkes RI, 2009).

    Pembangunan kesehatan didasarkan atas dasar perikemanusiaan, pemberdayaan

    dan kemandirian, adil dan merata, serta pengutamaan dan manfaat dengan

    perhatian khusus pada penduduk rentan, antara lain ibu, bayi, anak, lanjut usia

    (lansia), dan keluarga miskin. (Kemenkes RI, 2010).

    Di negara berkembang penyakit Pneumonia menyumbang kematian pada

    anak sebesar 25%, terutama pada bayi berusia kurang dari 2 bulan, 60 % kasus

    pneumonia disebabkan oleh bakteri, sementara di negara maju umumnya

    disebabkan oleh virus. (Depkes RI, 2009, Widoyono, 2008).

    Tingkat kesakitan suatu negara dapat mencerminkan situasi derajat

    kesehatan masyarakat yang ada di dalamnya. ISPA merupakan penyakit yang

    menempati urutan teratas pada 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan di

    rumah sakit tahun 2006, dengan presentase 9,32%. ISPA merupakan penyebab

    kematian pada kelompok bayi dan balita. Survei mortalitas yang dilakukan oleh

    subdit ISPA tahun 2005 menempatkan pneumonia sebagai penyebab kematian

    bayi terbesar di Indonesia dengan presentase 22,30% dari seluruh kematian bayi,

    dan 23,6% dari seluruh kematian balita. (Depkes RI, 2008).

    Usaha peningkatan kesehatan masyarakat pada kenyataannya tidaklah

    mudah seperti membalikkan telapak tangan saja, karena masalah ini sangatlah

    1

  • 2

    kompleks, dimana penyakit yang terbanyak diderita oleh masyarakat terutama

    pada yang paling rawan yaitu ibu dan anak, ibu hamil dan ibu menyusui serta

    anak balita. Penyakit yang sering terjadi pada balita diantaranya yaitu diare,

    demam,

    ISPA masih merupakan masalah kesehatan yang penting karena

    menyebabkan kematian bayi dan balita yang cukup tinggi yaitu kira-kira 1 dari 4

    kematian yang terjadi. Setiap anak diperkirakan mengalami 3-6 episode ISPA

    setiap tahunnya.

    Penyakit ISPA sebetulnya meliputi beberapa penyakit yang sebagian besar

    infeksinya hanya bersifat ringan seperti batuk pilek dan tidak memerlukan

    pengobatan dengan antibiotik. Keadaan demikian apabila dibiarkan anak akan

    menderita radang paru (pneumonia) yang bisa mengakibatkan kematian. Salah

    satu upaya yang dilakukan Departemen Kesehatan dalam mempercepat penurunan

    angka morbiditas dan mortalitas akibat ISPA adalah melalui Program

    Pemberantasan Penyakit Infeksi Saluran Pernafasan Akut (P2. ISPA), dimana

    program P2. ISPA ini menitikberatkan upaya pemberantasan penyakit infeksi

    saluran pernafasan akut pada penyakit pneumonia.

    Word Health Organization (WHO) memperkirakan kejadian Pneumonia di

    Negara berkembang dengan angka kematian balita diatas 40 per 1000 kelahiran

    hidup adalah 15 % sampai 20 % per tahun pada golongan balita. Infeksi Saluran

    Pernapasan Akut (ISPA) adalah salah satu penyebab utama kematian pada anak

    dibawah 5 tahun. Sebuah penelitian melaporkan 62% dari semua kematian

  • 3

    disebabkan oleh ISPA tetapi kebanyakan dari mereka berhubungan dengan

    campak. (Cherian T, 2011).

    Di Indonesia berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdes) tahun

    2011, prevalensi ISPA di Indonesia sekitar 25,5% dengan prevalensi tertinggi

    terjadi pada bayi dua tahun (> 35 %). Jumlah balita dengan ispa di indonesia pada

    tahun 2011 adalah lima diantara 1.000 balita yang berarti sebanyak 150.000 balita

    meninggal pertahun atau sebanyak 125.000 balita perbulan atau 416 kasus sehari

    atau 17 balita perjam atau seorang balita perlima menit. Dapat disimpulkan bahwa

    prevalensi penderita ISPA di Indonesia adalah 9,4 %.

    Berdasarkan data surveilans terpadu penyakit berbasis Puskesmas, kasus

    kejadian penyakit ISPA di Provinsi Sulawesi Tenggara pada tahun 2008 jumlah

    kasus ISPA pada balita sebanyak 8.736 (41,04 %) dan pada tahun 2009 jumlah

    kasus ISPA sebanyak 9.674 (44,51 %), pada tahun 2010 jumlah kasus ISPA pada

    balita sebanyak 3.675 orang, pada tahun 2011 jumlah kasus ISPA pada balita

    sebanyak 2.755 orang, pada tahun 2012 kabupaten Muna penderita ISPA pada

    balita sebanyak 2.525 orang, pada tahun 2013 Kabupaten Muna penderita ISPA

    pada balita sebanyak 1.912 orang, tahun 2014 Kabupaten Muna penderita ISPA

    pada balita sebanyak 1.805 orang, dan pada tahun 2015 Kabupaten Muna

    penderita ISPA pada balita sebanyak 1.700 orang.

    Kematian pada penderita ISPA terjadi jika penyakit telah mencapai derajat

    ISPA berat, paling sering kematian terjadi karena infeksi telah mencapai paru

    paru atau pneumonia. Sebagian besar keadaan ini terjadi karena penyakit ISPA

    ringan yang diabaikan. Jika penyakitnya telah menjalar keparu paru dan anak

  • 4

    tidak mendapat pengobatan serta perawatan yang tepat, anak tersebut bisa

    meninggal. Penyakit saluran pernapasan pada masa bayi dan anakanak dapat

    pula memberi kecacatan sampai pada masa dewasa. Ditemukan adanya hubungan

    dengan terjadinya Chronic obstructive pulmonary disease.

    Dari data yang peneliti peroleh, ada banyak kasus kejadian ISPA di

    Kelurahan Laimpi yaitu 36 orang untuk periode Januari Juni. Dan menempati

    posisi pertama dari 5 penyakit yang sering terjadi pada balita. Kita ketahui

    bersama bahwa ISPA sangat mudah proses penularannya, yaitu antara lain kontak

    secara langsung dengan penderita, makanan dan lewat udara. Apabila tidak segera

    dilakukan pencegahan maka akan mengakibatkan kematian. Penyebab yang sering

    mengakibatkan ISPA yaitu kebiasaan anngota kelurga dalam rumah dimana rokok

    merupakan benda beracun yang memberi efek yang sangat membahayakan pada

    perokok aktif maupun perokok pasif, terutama pada balita yang tidak sengaja

    terkontak asap rokok. Nikotin dengan ribuan bahaya beracun asap rokok lainnya

    masuk kesaluran pernapasan bayi yang dapat menyebabkan infeksi pada saluran

    pernapasan. Kemudian penyebab yang kedua adalah ibu tidak memberikan ASI

    eksklusif pada bayinya dimana ASI adalah cairan hidup yang mengandung zat

    kekebalan yang akan melindungi bayi dari berbagai penyakit infeksi bakteri,

    virus, parasit dan jamur. Bayi ASI eksklusif akan lebih sehat dan lebih jarang

    sakit dibandingkan bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif. Berdasarkan

    uraian tersebut, maka penulis tertarik melakukan penelitian tentang Faktor-

    Faktor yang Berhubungan Dengan Kejadian ISPA Pada Balita Usia 736 Bulan

    Di Kelurahan Laimpi Tahun 2016.

  • 5

    B. Rumusan Masalah

    Dengan melihat latar belakang diatas, maka yang menjadi rumusan

    masalah dalam penelitian ini adalah Faktor-faktor apakah yang berhubungan

    dengan kejadian ISPA pada balita di Kelurahan Laimpi Kecamatan Kabawo tahun

    2016.

    C. Tujuan Penelitian

    1. Tujuan Umum

    Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada anak

    balita usia 7 36 Bulan di Kelurahan Laimpi Kecamatan KabawoTahun 2016.

    2. Tujuan Khusus

    a. Mengetahui hubungan riwayat pemberian ASI eksklusif dengan kejadian

    ISPA pada balita Usia 7 36 Bulan di Kelurahan Laimpi Kecamatan

    KabawoTahun 2016.

    b. Mengetahui hubungan kebiasaan anggota keluarga merokok dalam rumah

    dengan kejadian ISPA pada balita usia 7 36 Bulan di Kelurahan Laimpi

    Kecamatan KabawoTahun 2016.

    D. Manfaat Penelitian

    Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi :

    1. Manfaat Teoritis

    Penelitian ini diharapkan dapat menambah khasanah ilmu pengetahuan dan

    dapat menjadi bahan bacaan bagi peneliti berikutnya.

  • 6

    2. Manfaat Praktis

    Hasil penelitian ini secara praktis diharapkan dapat menyumbangkan pemikiran

    terhadap pemecahan masalah yang berkaitan dengan faktor faktor yang

    menyebabkan penyakit ISPA pada balita. Selanjutnya hasil penelitian

    diharapkan menjadi acuan bagi penyusunan program pencegahan ISPA.

    Sebagai salah satu sumber info bagi penentu kebijakan di Pemerintah daerah

    Kabupaten Muna yang terkait sebagai prioritas pendanaan program kesehatan

    khususnya dalam penanggulangan penyakit ISPA.

    3. Bagi Peneliti

    Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan pada Akademi

    Kebidanan Paramata Raha Kabupaten Muna dan juga merupakan pengalaman

    yang sangat berharga, dapat menerapkan ilmu yang diperoleh selama

    mengikuti pendidikan.

  • 7

    BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    A. Telaah Pustaka

    1. ISPA

    a. Pengertian ISPA

    ISPA adalah infeksi akut yang menyerang salah satu bagian atau

    lebih dari saluran napas mulai dari hidung hingga kantong paru (alveoli)

    termasuk jaringan adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan

    pleura (Depkes RI, 2009).

    ISPA adalah penyakit saluran pernapasan atas dengan perhatian khusus

    pada radang paru (pneumonia), dan bukan penyakit telinga dan

    tenggorokan (Widoyono, 2008).

    ISPA adalah infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme di

    struktur saluran napas atas yang tidak berfungsi untuk pertukaran gas,

    termasuk rongga hidung, faring, dan laring, yang dikenal dengan ISPA

    antara lain pilek, faringitis atau radang tenggorok, laringitis dan influenza

    tanpa komplikasi. Semua jenis infeksi mengaktifkan respon imun dan

    inflamasi sehingga terjadi pembengkakan dan edema jaringan yang

    terinfeksi. Reaksi inflamasi menyebabkan peningkatan produksi mukus

    yang berperan menimbulkan ISPA, yaitu kongesti atau hidung tersumbat,

    sputum berlebihan, dan rabas hidung (pilek). Sakit kepala, demam ringan

    dan malaise juga dapat terjadi akibat reaksi inflamasi (Carwin, 2009).

    7

  • 8

    Sebagian besar dari infeksi saluran pernapasan hanya bersifat

    ringan seperti batuk pilek dan tidak memerlukan pengobatan dengan

    antibiotik, namun demikian anak akan menderita pneumonia bila infeksi

    paru ini tidak diobati dengan antibiotik dapat mengakibatkan kematian.

    Penyakit ISPA merupakan penyakit yang sering terjadi pada anak,

    karena sistem pertahanan tubuh anak masih rendah. Kejadian penyakit

    batuk pilek pada balita di Indonesia diperkirakan 3 sampai 6 kali pertahun,

    yang berarti seorang balita rata-rata mendapat serangan batuk pilek

    sebanyak 3 sampai 6 kali setahun. Istilah ISPA meliputi tiga unsur yakni

    infeksi, saluran pernafasan dan akut, dimana pengertiannya yaitu :

    1) Infeksi

    Adalah masuknya kuman atau mikroorganisme kedalam tubuh manusia

    dan berkembang biak sehingga menimbulkan gejala penyakit.

    2) Saluran pernafasan

    Adalah organ mulai dari hidung hingga alveoli beserta organ

    adneksanya seperti sinus-sinus, rongga telinga tengah dan pleura.

    3) Infeksi akut

    Adalah infeksi yang langsung sampai dengan 14 hari. Batas 14 hari

    diambil untuk menunjukkan proses akut meskipun untuk beberapa

    penyakit yang dapat digolongkan dalam ISPA proses ini dapat

    berlangsung lebih dari 14 hari.

  • 9

    b. Tanda dan Gejala ISPA

    Penyakit ISPA adalah penyakit yang sangat menular, hal ini timbul

    karena menurunnya sistem kekebalan atau daya tahan tubuh, misalnya

    karena kelelahan atau stres. Pada stadium awal, gejalanya berupa rasa

    panas, yang diikuti bersin terus menerus, hidung tersumbat dengan ingus

    encer serta demam dan nyeri kepala. Permukaan mukosa hidung tampak

    merah dan membengkak. Infeksi lebih lanjut membuat sekret menjadi

    kental dan sumbatan dihidung bertambah. Bila tidak terdapat komplikasi,

    gejalanya akan berkurang sesudah 3-5 hari. Komplikasi yang mungkin

    terjadi adalah sinusitis, faringitis, infeksi telinga tengah, infeksi saluran

    tuba eustchii, hingga bronkhitis dan pneumonia (radang paru).

    Tanda dan gejala ISPA dibagi menjadi dua yaitu golongan umur 2

    bulan sampai 5 tahun dan golongan umur kurang dari 2 bulan :

    1) Tanda dan gejala ISPA untuk golongan umur 2 bulan sampai 5 tahun

    a) pneumonia berat, bila disertai napas sesak yaitu ada tarikan dinding

    dada bagian bawah kedalam pada waktu anak menarik napas (pada

    saat diperiksa anak harus dalam keadaan tenang, tidak

    menangis/merontah).

    b) Pneumonia, bila disertai napas cepat, batas napas cepat adalah untuk

    umur 2 bulan

  • 10

    2) Tanda dan gejala ISPA untuk golongan umur kurang dari 2 bulan

    a) Pneumonia berat, bila disertai tanda tarikan kuat dinding dada bagian

    bawah atau napas cepat. Atas napas cepat untuk golongan umur

    kurang dari 2 bulan yaitu 60 kali permenit atau lebih.

    b) Bukan pneumonia (batuk pilek biasa), bila tidak ditemukan tanda

    tarikan kuat dinding dada bagian bawah atau napas cepat.

    c. Penyabab ISPA

    Penyakit ISPA dapat disebabkan oleh berbagai penyebab seperti

    bakteri, virus, mycoplasma, jamur dan lain-lain. ISPA bagian atas

    umumnya disebabkan oleh virus, sedangkan ISPA bagian bawah

    disebabkan oleh bakteri, virus dan mycoplasma. ISPA bagian bawah yang

    disebabkan oleh bakteri umumnya mempunyai manifestasi klinis yang

    berat sehingga menimbulkan beberapa masalah dalam penanganannya.

    Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah dari genus streptcocus,

    stapilococus, pneumococus, hemofillus, Bordetella dan corinebacterium.

    Virus penyebab ISPA antara lain adalah golongan Miksovirus (termasuk

    didalamnya virus influenza, dan virus campak), Adenovirus, Koronavirus,

    Pikornavirus, Mikoplasma, Herpesvirus. ISPA akibat populasi adalah

    ISPA yang disebabkan oleh populasi udara yang terjadi diluar ruangan

    (indoor) dan dalam ruangan (outdoor). (Depkes RI, 2009).

    d. Penularan ISPA

    Penularan penyakit ISPA terjadi melalui udara, bibit penyakit

    masuk ketubuh melalui pernapasan, oleh karena itu ISPA termasuk dalam

  • 11

    salah satu penyakit golongan air borne disease. Penularan melalui udara

    yang dimaksudkan adalah cara penularan yang terjadi tanpa kontak

    dengan penderita maupun dengan benda yang terkontaminasi. Sebagian

    besar penularan melalui udara dapat menular juga melalui kontak

    langsung, namun dengan menghirup udara yang telah terkontaminasi oleh

    bibit penyakit menjadikan resiko penularan penyakit. Manusia merupakan

    reservoir utama dan diperkirakan seluruh umat manusia memiliki bakteri

    penyebab ISPA pada saluran pernafasannya. Oleh sebab itu, dalam

    keadaan daya tahan menurun penyakit ini bisa berkembang dengan baik

    pada anak anak maupun orang tua.

    e. Pencegahan ISPA

    Pencegahan ISPA sangat erat kaitannya dengan sistem kekebalan

    tubuh yang dimiliki oleh seseorang. Seseorang dengan sistem kekebalan

    tubuh yang lemah akan sangat rentan terhadap serangan sehingga

    pengobatan ISPA biasanya di fokuskan kepada mereka yang memiliki

    sistem kekebalan tubuh yang rendah. ISPA atau Infeksi Saluran

    Pernapasan Akut sangat rentan kepada anak-anak, itulah mengapa kasus

    ISPA sebagai penyakit dengan prevalensi sangat tinggi di dunia juga

    menunjukkan angka kematian anak yang sangat tinggi dibandingkan

    penyakit lainnya.

    Pencegahan ISPA yang dilakukan adalah upaya yang dimaksudkan

    agar seseorang terutama anak-anak dapat terhindar baik itu infeksinya,

    maupun melawan dengan sistem kekebalan tubuh, karena vektor penyakit

  • 12

    ISPA telah sangat meluas di dunia, sehingga perlu kewaspadaan diri untuk

    menghadapi serangan infeksi, bukan hanya dalam hal pengobatan ISPA.

    Hal-hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya penyakit

    ISPA pada anak antara lain :

    1) Mengusahakan agar anak memperoleh gizi yang baik, diantaranya

    dengan cara memberikan makanan yang mengandung cukup gizi

    kepada anak.

    2) Memberikan imunisasi yang lengkap kepada anak agar daya tahan

    tubuh terhadap penyakit baik.

    3) Menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan agar tetap bersih.

    4) Mencegah anak berhubungan dengan klien ISPA. Salah satunya adalah

    memakai penutup hidung dan mulut ketika kontak langsung dengan

    anggota keluarga atau orang yang sedang menderita penyakit ISPA.

    f. Penatalaksanaan ISPA

    Dalam melakukan penatalaksanaan ISPA sebelumnya harus

    menentukan klasifikasi dan tindakan. Pertama yang harus dilakukan dalam

    klasifikasi adalah mengetahui usia anak, karena dalam tindakan

    pelaksanaan ISPA berbeda antara umur anak dibawah 2 bulan dan anak

    umur 2 bulan sampai kurang dari 5 tahun. Secara garis besar ada tiga

    macam tindakan walaupun ada sedikit perbedaan tergantung pada umur

    anak, adanya wheezing atau demam, serta mungkin tidaknya rujukan

    dilaksanakan. (Kemenkes RI, 2010).

  • 13

    2. Balita

    Balita adalah istilah umum bagi anak usia 1 3 tahun (batita) dan anak

    prasekolah (3 5 tahun). Saat usia balita, anak masih tergantung penuh kepada

    orang tua untuk melakukan kegiatan penting seperti, mandi, buang air dan

    makan . Perkembangan berbicara dan berjalan sudah bertambah baik. Namun

    kemampuan lain masih terbatas.

    Masa balita merupakan periode penting dalam proses tumbuh kembang

    masuisa. Perkembangan dan pertumbuhan dimasa itu menjadi penentu

    keberhasilan pertumbuhan dan perkembangan anak diperiode selanjutnya.

    Masa tumbuh kembang diusia ini merupakan masa yang berlangsung cepat dan

    tidak akan pernah terulang, karena itu disebut golden age atau masa kemasa.

    Anak usia 1-5 tahun merupakan konsumen pasif, artinya anak

    menerima makanan dari apa yang disediakan ibunya. Dengan kondisi

    demikian, sebaiknya anak balita diperkenalkan dengan berbagai bahan

    makanan. Laju pertumbuhan masa balita lebih besar dari masa usia prasekolah

    sehingga diperlukan jumlah makanan yang relatif lebih besar. Namun, perut

    yang masih lebih kecil menyebabkan jumlah makanan yang mampu

    diterimanya dalam sekali makan lebih kecil daripada anak yang usianya lebih

    besar. Oleh karena itu, pola makan yang diberikan adalah porsi kecil dengan

    frekuensi sering. .

    3. Pemberian ASI Eksklusif

    Menyusui adalah proses alamiah. ASI esklusif adalah bayi hanya diberi

    ASI saja, tanpa tambahan cairan lain seperti susu formula, jeruk, madu, air teh,

  • 14

    air putih dan tanpa bahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu,

    biscuit, bubur nasi dan tim untuk jangka waktu 6 bulan. (Roesli, 2009).

    Pemeberian ASI esklusif adalah bayi hanya diberi ASI selama 6 bulan, tanpa

    tambahan cairan lain, seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih, dan

    tanpa bahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit, bubur

    nasi dan tim kecuali vitamin, mineral, dan obat. (Prasetyono, 2009). Air Susu

    Ibu (ASI) dibutuhkan dalam proses tumbuh kembang bayi akan faktor antibodi

    untuk melawan infeksi-infeksi bakteri dan virus, terutama selama minggu

    pertama (4-6 hari) payudara akan menghasilkan kolostrum, yaitu ASI awal

    mengandung zat kekebalan (Imunoglobulin, Lisozim, Laktoperin, bifidus

    factor dan sel-sel leukosit) yang sangat penting untuk melindungi bayi dari

    infeksi.

    ASI adalah makanan yang terbaik untuk bayi karena merupakan makanan

    alamiah yang sempurna, mudah dicerna, mengandung zat gizi yang sesuai

    kebutuhan untuk pertumbuhan kekebalan dan mencegah dari berbagai penyakit

    serta dapat meningkatkan kecerdasan. ASI selain memiliki nilai gizi yang

    tinggi, ASI juga memiliki anti bodi yang dapat melindungi bayi terhadap

    bebagai macam infeksi. (Soetjiningsih, 2012).

    ASI diberikan kepada bayi karena mengandung banyak manfaat dan kelebihan.

    Manfaat ASI adalah sebagai berikut :

  • 15

    a. Manfaat untuk bayi

    ASI sebagai nutrisi mengandung protein, lemak, vitamin, mineral, air dan

    enzim yang dibutuhkan oels bayi, mengandung asam lemak penting untu

    otak, mata dan pembuluh darah.

    1) Meningkatkan daya tahan tubuh.

    2) Selalu berada pada suhu yang paling cocok bagi bayi

    3) ASI lebih steril dibandingkan susu formula dan tidak terkontaminasi

    oleh bakteri dan kuman penyakit lainnya.

    4) Mencegah terjadinya anemia.

    5) Menurunkan terjadinya resiko alergi.

    6) Menurunkan terjadinya penyakit pada saluaran cerna.

    7) Menurunkan resiko gangguan pernapsan seperti batuk dan flu.

    8) Menurunkan resiko terjadinya infeksi telinga.

    9) Mencegah terjadinya penyakit noninfeksi seperti penaykit alergi,

    obesitas, kurang gizi, asma dan eksem.

    10) ASI dapat meningkatkan IQ dan EQ anak atau kecerdasan anak.

    11) Kaya akan AA / DHA yang mendukung kecerdasan anak.

    12) Mengandung prebiotik alami untuk mendukung pertumbuhan flora

    usus.

    13) Memiliki komposisi nutrisi yang tepat dan seimbang.

    14) Dapat menciptakan ikatan psikologis dan jalinan kasih sayang yang

    kuat antar ibu dan bayi.

  • 16

    b. Manfaat bagi ibu

    1) Mempercepat pengecilan rahim sehungga mencapai ukuran normalnya

    dalam waktu singkat dibandingkan dengan ibu yang tidak menyusui.

    2) Mengurangi pendarahan setelah persalinan.

    3) Mengurangi terjadinya anemia.

    4) Mengurangi resiko kehamiklan sampai 6 bulan setelah persalinan atau

    menjarangkan kehamilan.

    5) Mengurangi resiko kangker payudara dan indung telur.

    6) Menurunkan kenaikan berat badan berlebihan yang terjadi selama

    kehamilan atau lebih cepat langsing kembali.

    7) Lebih ekonomis atau murah.

    8) Tidak merepotkan dan hemat waktu.

    9) Portabel dan praktis, mudah dibawah kemana.

    10) Memberikan kepuasan bagi ibu.

    4. Kebiasaan Anggota Keluarga Merokok Dalam Rumah

    Kebiasaan anggota keluarga merokok dalam rumah dapat berdampak

    negatif bagi anggota keluarga khususnya balita. Indonesia merupakan negara

    dengan jumlah perokok aktif sekitar 27,6 % dengan jumlah 65 Juta perokok

    atau 225 miliar batang per tahun. Rokok merupakan benda beracun yang

    memberi efek yang sangat membahayakan pada perokok aktif maupun perokok

    pasif, terutama pada balita yang tidak sengaja terkontak asap rokok . Nikotin

    dengan ribuan bahaya beracun asap rokok lainnya masuk kesaluran pernapasan

    bayi yang dapat menyebabkan infeksi pada saluran pernapasan.

  • 17

    Sumber pencemar kimia yang dapat menyebabkan pencemaran udara

    dari dalam rumah yang dihasilkan oleh asap rokok adalah Sulfur Dioksida

    (SO2), nitrogen dioksida (NO2), karbon monoksida (CO), karbon dioksida

    (CO2). Asap rokok (ETS) adalah gas beracun yang dikeluarkan dari

    pembakaran produk tembakau yang biasanya mengandung Polycyclic

    Aromatic Hydrocarbo (PAHs) yang berbahaya bagi kesehatan manusia

    (KemnKes RI, 2011). ETS dapat memperparah gejala pada balita yang

    menderita asama, dapat menyebabkan kangker paru. Bayi dan anak anak

    yang orang tuanya perokok mempunyai risiko lebih besar terkena gangguan

    saluran pernapasan dengan gejala sesak napas, batu dan lendir berlebihan.

    Upaya untuk penyehatan adalah merokok di luar rumah yang asapnya

    dipastikan tidak masuk kembali kedalam rumah, merokok ditempat yang telah

    disediakan apabila berada di fasilitas atau tempat tempat umum, penyuluhan

    kepada para perokok, penyuluhan kepada masyarakat tentang bahaya

    nmenghirup asap rokok. (Kemenkes RI, 2011).

    5. Puskesmas

    Menurut Permenkes nomor 75 tahun 2014 Puskesmas adalah fasilitas

    pelayanan kesehatan yang menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat dan

    upaya kesehatan perseorangan tingkat pertama dengan lebih mengutamakan

    upaya promotif dan preventif untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat

    yang setinggi tingginya di wilayah kerjanya.

  • 18

    Tujuan puskesmas adalah pembanguan kesehatan yang diselenggarakan di

    Puskesmas bertujuan untuk mewujutkan :

    a. Memiliki perlaku sehat yang meliputi kesadaran, kemauan dan kemampuan

    hidup sehat.

    b. Mampu menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu.

    c. Hidup dalam lingkungan yang sehat.

    d. Memiliki derajat kesahatan yang ootimal, baik individu, keluarga,

    kelompok dan masyarakat.

    Tugas dan fungsi puskesmas.

    Tugas puskesmas adalah mnelaksanankan kebijakan kesehatan untuk mencapai

    tujuan pembangunan kesehatan di wilayah kerjanya dalam rangka mendukung

    terwujudnya kecamatan sehat.

    Fungsi puskesmas adalah :

    a. Penyelenggaraan upaya kesehatan masyarakat tingkat pertama di wilayah

    kerjanya.

    b. Penyelenggaraan upaya kesehatan perseorangan tingkat pertam di wilayah

    kerjanya.

    B. Landasan Teori

    Balita adalah istilah umum bagi anak usia 1-3 tahun (batita) dan anak

    prasekolah (3-5 tahun). Saat usia batita, anak masih terpengaruh kepada orang

    tua untuk melakukan kegiatan penting, seperti mandi, buang air dan makan.

    Perkembangan berbicara dan berjalan sudah bertambah baik, namun

    kemampuan lain masih terbatas. (Sutomo. B. dan Anggraeni. DY, 2010).

  • 19

    ISPA adalah infeksi akut yang menyerang salah satu bagian atau lebih

    dari saluran napas mulai dari hidung hingga kantong paru (alveoli) termasuk

    jaringan adneksanya seperti sinus, rongga telinga tengah dan pleura. (Depkes

    RI, 2009).

    Pemeberian ASI esklusif adalah bayi hanya diberi ASI selama 6 bulan,

    tanpa tambahan cairan lain, seperti susu formula, jeruk, madu, air teh, air putih,

    dan tanpa bahan makanan padat seperti pisang, pepaya, bubur susu, biskuit,

    bubur nasi dan tim kecuali vitamin, mineral, dan obat. (Prasetyono, 2009). Bayi

    ASI eksklusif akan lebih sehat dan lebih jarang sakit dibandingkan bayi yang

    tidak mendapatkan ASI eksklusif.

    Kebiasaan anggota keluarga merokok dalam rumah dapat berdampak

    negatif bagi anggota keluarga khususnya balita. Indonesia merupakan negara

    dengan jumlah perokok aktif sekitar 27,6 % dengan jumlah 65 Juta perokok

    atau 225 miliar batang per tahun (WHO, 2008). Rokok merupakan benda

    beracun yang memberi efek yang sangat membahayakan pada perokok aktif

    maupun perokok pasif, terutama pada balita yang tidak sengaja terkontak asap

    rokok. Nikotin dengan ribuan bahaya beracun asap rokok lainnya masuk

    kesaluran pernapasan bayi yang dapat menyebabkan infeksi pada saluran

    pernapasan. Bayi dan anak-anak yang orang tuanya perokok mempunyai resiko

    lebih besar terkena gangguan saluran pernapasan dengan gejala sesak napas,

    batu dan lendir berlebihan. Upaya untuk penyehatan adalah merokok di luar

    rumah yang asapnya dipastikan tidak masuk kembali kedalam rumah, merokok

    ditempat yang telah disediakan apabila berada di fasilitas atau tempat tempat

  • 20

    umum, penyuluhan kepada para perokok, penyuluhan kepada masyarakat

    tentang bahaya nmenghiru asap rokok (KemenKes RI, 2011)

    C. Kerangka Konsep

    Variabel Independen Variabel Dependen

    Gambar 1 : Kerangka Konsep

    Keterangan :

    : Hubungan antar variabel

    D. Hipotesis Penelitian

    1. Hipotesis Nihil (H0)

    a. Tidak ada hubungan antara pemberian ASI Esklusif dengan kejadian ISPA

    pada balita di Kelurahan Laimpi Kecamatan Kabawo tahun 2016.

    b. Tidak ada hubungan antara kebiasaan anggota keluarga merokok dalam

    rumah dengan kejadian ISPA pada balita di Kelurahan Laimpi Kecamatan

    Kabawo tahun 2016.

    Kebiasaan Anggota KeluargaMerokok Dalam Rumah

    Riwayat Pemberian ASIEsklusif

    ISPA

    pada Balita (7-36Bulan)

  • 21

    2. Hipotesis Alternatif (Ha)

    a. Ada hubungan antara pemberian ASI Esklusif dengan kejadian ISPA pada

    balita di Kelurahan Laimpi Kecamatan Kabawo tahun 2016.

    b. Ada hubungan antara kebiasaan anggota keluarga merokok dalam rumah

    dengan kejadian ISPA di Kelurahan Laimpi Kecamatan Kabawo tahun

    2016.

  • 22

    BAB III

    KERANGKA PENELITIAN

    A. Jenis dan Rancangan Penelitian

    Jenis penelitian ini adalah penelitian analitik dengan menggunakan

    pendekatan cross sectional yaitu penelitian yang digunakan dalam waktu

    bersamaan tetapi dengan subjek yang berbeda-beda (Arikunto yang dikutip

    Siswanto, 2013).

    Populasi

    (Sampel)

    Faktor risiko (+) Faktor risiko (-)

    Efek (+) Efek (-) Efek (+) Efek (-)

    B. Tempat dan Waktu Penelitian

    1. Tempat

    Penelitian ini rencana akan dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Kabawo

    Kecamatan Kabawo Kabupaten Muna

    2. Waktu

    Waktu penelitian ini dilaksanakan pada bulan Agustus 2016.

    22

  • 23

    C. Subjek Penelitian

    1. Populasi

    Populasi dalam penelitian ini adalah semua balita usia 7-36 bulan di Kelurahan

    Laimpi yaitu sebanyak 73 orang.

    2. Sampel

    Sampel adalah bagian (subset) dari populasi yang dipilih dengan cara

    tertentu hingga dianggap dapat mewakili populasinya (Sastroasmoro dan

    Ismael yang dikutip Siswanto, 2013). Menurut Taro Yamane dan Slovin,

    apabila jumlah populasi (N) diketahui maka teknik pengambilan sampel

    dapat menggunakan rumus sebagai berikut (Siswanto, 2013) :

    = NN. d + 1Dimana :

    n = jumlah sampel

    N = jumlah populasi

    d2 = presisi (ditetapkan 10% dengan tingkat kepercayaan 95%)

    = 7373(0,05) + 1= 7373(0,0025) + 1= 730,1825 + 1= , = 61,733

    Jadi, n = 62 orang

  • 24

    a. Tekhnik Pengambilan Sampel

    Simple random sampling yaitu dalam pengambilan sampelnya, peneliti

    mencampur subjek-subjek didalam populasi sehingga semua subyek

    dianggap sama (Arikunto yang dikutip Siswanto, 2013).

    D. Identifikasi variabel Penelitian

    1. Variabel bebas (Independent variabel) merupakan variabel yang menjadi sebab

    timbulnya atau berubahnya variabel dependen (terikat). : riwayat pemberian

    ASI eksklusif dan kebiasaan anggota keluarga merokok dalam rumah.

    2. Variabel terikat (variabel dependent) merupakan variabel yang dipengaruhi:

    ISPA pada balita.

    E. Defenisi Operasional dan Kriteria Objektif

    Defenisi operasional adalah penjelasan defenisi dari variabel yang telah dipilih

    oleh peneliti.

    Tabel 2 : Defenisi operasional dan Kriteria Objektif

    No Variabel Defenisi operasional Cara Ukur Alat Ukur Kriteria Objektif Skala

    1 DependentInfeksi saluranpernapasanakut

    (ISPA)

    Infeksi akut yangmenyerang salah satubagian atau lebihsaluran pernapasanberlangsung sampaidengan 14 hari atauakut dengan gejalabatuk, pilek ataudisertai demam,sampai ditemukanadanya sesak napas.

    Wawancara Berdasarkanhasildiagnosadokter

    - Menderita ISPA : Jika balitamenderita batuk, pilek dandemam yang disertai atautidak disertai sesak napasserta berdasarkan diagnosadokter dinyatakan menderitaISPA.

    - Tidak menderita ISPA : jikabalita tidak menderita batuk,pilek dan demam dan disertaisesak napas dan berdasarkandiagnosa dokter dinyatakantidak menderita ISPA

    Nominal

  • 25

    2 Independena. Riawayat

    ASIeksklusif

    b. Kebiasaanmerokokanggotakeluarga

    Pemberian ASI sajakepada bayi sampaiumur 6 bulan tanpapemberian makanantambahan atau cairan.

    Kebiasaan merokokanggota keluargadapat berdampaknegatif bagi anggotakeluarga khususnyabalita. Indonesiamerupakan negaradengan jumlahperokok aktif sekitar27,6 % denganjumlah 65 Jutaperokok atau 225miliar batangpertahun.

    Wawancara

    Wawancaradanobservasi

    .

    Kuesioner

    Kuesioner

    - Tidak : Jika bayimendapatkan ASI eksklusif.

    -Ya : Jika bayi tidakmendapatkan ASI eksklusif.

    .- Tidak : jika tidak ada anggota

    keluarga yang mempunyaikebiasaan merokok.

    - Ya : jika anggota keluargamempunyai kebiasaanmerokok

    Nominal

    Nominal

    F. Instrumen Penelitian

    Pada penelitian ini, instrumen yang digunakan adalah wawancara secara langsung

    dan lembar chek list.

    G. Metode Pengumpulan data

    Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah mengumpulkan data primer

    dan data sekunder.

    1. Data primer

    Pengumpulan data primer dilakukan oleh peneliti sendiri dengan menggunakan

    pertanyaan pertanyaan dalam kuesioner melalui wawancara dan observasi.

    2. Data sekunder

    Data sekunder didapat dari Puskesmas Kabawo Kabupaten Muna Provinsi

    Sulawesi Tenggara untuk mendapatkan status penderita ISPA atau tidak ISPA.

  • 26

    H. Pengolahan dan Cara Analisa Data

    1. Pengolahan data

    Data yang terkumpul diolah dengan cara manual dengan langkah-langkah

    sebagai berikut :

    a. Pengeditan (Editing)

    Yaitu dengan melakukan pengecekan kelengkapan data yang telah

    terkumpul. Setelah dilakukan pengecekan tidak terdapat kesalahan dan

    kekeliruan dalam pengumpulan data.

    b. Pengkodean (coding)

    Data yang telah diedit dirubah dalam bentuk angka (kode) yaitu nama

    responden dirubah dengan kode responden.

    c. Pemberian Skor (Tabulating)

    Data yang telah lengkap dan memenuhi kriteria dihitung dan disesuaikan

    dengan variabel yang dibutuhkan lalu di masukkan kedalam tabel distribusi

    frekuensi.

    2. Analisa Data

    Analisa dalam penelitian ini dibagi menjadi dua yaitu :

    a. Analisa data dengan uji Univariat

    Analisa ini dilakukan pada masing masing variabel untu mengetahui

    gambaran umum secara distribusi frekuensi= x 100 %

  • 27

    Keterangan :

    f = frekuensi setiap variabel yang diteliti

    p = presentasi

    n = jumlah populasi

    b. Analisa data dengan uji Bivariat

    Untuk mengetahui hubungan antar variabel bebas dan terikat.

    Perhitungan mulai hubungan variabel dengan menggunakan rumus uji Chi

    Square. Dan rumus Chi square nya adalah sebagai berikut := ( )Keterangan :

    X2 : Ukuran mengenai perbedaan yang terdapat antara frekuensi yang

    diobservasi dan diharapkan.

    O : Frekuensi yang diobservasi (observasi)

    E : Frekuensi yang diharapkan (expected)

    Kesimpulan yang diambil dari pengujian hipotesis sebagai berikut :

    1. Jika X2 hitung X2 tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima yang berarti

    ada hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat dengan taraf

    kepercayaan 95 % ( = 0,05)

    2. Jika X2 hitung X2 tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak yang berarti

    tidak ada hubungan antara variabel bebas dan variabel terikat dengan

    taraf kepercayaan 95 % ( = 0,05)

  • 28

    I. Jalannya Penelitian

    1. Tahap Persiapan

    Pelaksanaan penelitian dimulai dengan mempersiapkan mengurus surat

    izin penelitian kepada institusi dan melapor kepada kepala badan

    KESBANGPOL Kabupaten Muna, kemudian mengantar surat tembusan

    kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Muna dan Kepala Pukesmas

    Kabawo Kabupaten Muna sebelum melakukan kegiatan penelitian dilapangan.

    2. Tahap Pelaksanaan

    Pelaksanaannya dimulai dengan menghubungi bidan koordinator

    puskesmas lasalepa untuk memperoleh data dilapangan. Pengambilan data

    dilakukan dengan wawancara secara langsung pada setiap ibu yang memiliki

    bayi usia 7-36 bulan yang ada di wilayah Kelurahan Laimpi saja . Setelah

    memperoleh data dari sampel berjumlah 62 orang kemudian di sajikan dalam

    tabel distribusi frekuensi untuk mempermudah dalam menghubungkan

    antarvariabel.

    3. Tahap Pengelolaan dan Analisa Data

    Data yang di kumpulkan kemudian diolah, dianalisis dan disajikan dalam

    bentuk tabel distribusi frekuensi.

    4. Tahap Penulisan Karya Tulis Ilmiah

    Pada tahap ini disusun suatu laporan dari penelitian ini.

  • 29

    BAB IV

    HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

    A. Hasil Penelitian

    1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

    a. Geografi

    Secara astronomis, Kecamatan Kabawo terletak dibagian barat

    Kabupaten Muna. Kecamaan Kabawo merupakan salah satu kecamatan dari

    33 Kecamatan yang ada di Kabupaten. Kecamatan Kabawo yang beribukota

    di Lasehao memiliki batas-batas wilayah administratif sebagai berikut

    1) Sebelah Utara : Kec. Kontukowuna

    2) Sebelah Selatan : Kec. Parigi

    3) Sebelah Timur : Kec. Tongkuno

    4) Sebelah Barat : Kec. Kabangka dan Selat Spelman

    Kecamatan Kabawo terdiri dari 1 Kelurahan dan 10 Desa, yaitu Kelurahan

    Laimpi, Desa Kawite-wite, Lamanu, Wantiworo, Kasaka, Lamaeo,

    Kontumere, Kambawuna, Bente, Rangka dan Bea. Luas wilayah Kecamatan

    Kabawo sekitar 204,94 Km2. Desa terluas saat ini adalah Desa Tanjung Batu

    (Lamanu) dengan luas 58,13 Km2 atau sebesar 28,38% dari total luas

    wilayah Kecamatan. Desa yang memiliki luas terkecil adalah Desa

    Kambawuna dengan luas hanya sebesar 5,54 Km2 atau 2,7% dari total luas

    Kecamatan Kabawo. Secara rinci, luas masing-masing Desa/Keluarahan

    dapat dilihat pada tabel 1.

    Tabel 3Luas wilayah dan presentase tiap Desa/Kelurahan

    No Desa/Kelurahan Luas (Km2)

    1. Kawite-wite 24,52

    2. Lamanu 58,13

    3. Wantiworo 20,46

    4. Kasaka 13,89

    5. Lamaeo 7,96

    6. Kontumere 9,09

    29

  • 30

    7. Kambawuna 5,54

    8. Laimpi 28,71

    9. Bente 8,66

    10. Rangka 6,95

    11. Bea 21,03

    Jumlah 204,94

    Sumber : Data Sekunder, 2014

    b. Demografi

    1) Jumlah dan Laju Pertumbuhan Penduduk

    Pertubuhan penduduk adalah angka yang menujukan tingkat

    pertambahan penduduk per tahun dalam jangka waktu tertentu. Rasio

    jenis kelamin adalah perbandingan antara banyaknya penduduk laki-laki

    dengan banyak penduduk perempuan penduduk berdasarkan jenis

    kelamin menurut Desa/Kelurahan Tahun 2014 dapat dilihat pada tabel.

    Tabel 4Jumlah Penduduk, Rumah Tangga, Jenis Kelamin dan Kepadatan Penduduk

    Menurut Desa/Kelurahan

    No Desa/Kelurahan Rumah Tangga Jenis Kelamin Penduduk

    (Jiwa)Laki-laki Perempuan

    1. Kawite-wite 222 550 559 1.109

    2. Lamanu 191 458 457 915

    3. Wantiworo 375 853 1.008 1.861

    4. Kasaka 180 331 447 778

    5. Lamaeo 253 547 596 1.143

    6. Kontumere 573 1.267 1.378 2.645

    7. Kambawuna 115 219 268 487

    8. Laimpi 366 820 951 1.771

    9. Bente 204 438 496 934

    10. Rangka 121 281 280 561

    11. Bea 149 349 335 684

    Jumlah 2.749 6.133 6.775 12.888

    Sumber : Data Sekunder, 2014

    2) Suku, Tingkat Pendidikan dan Mata Pencaharian Kecamatan Kabawo

    Kabupaten Muna.

  • 31

    Suku Kecamatan Kabawo terdiri dari Suku Muna, Bugis, dan Suku

    Tolaki dan yamg paling banyak yaitu Suku Muna. Tingkat Peendidikan

    masyarakat Kabawo Kabupaten Muna terdiri daari Sarjana, SMA, SMP,

    SD dan TK. Sedangkan mata pencaharian yaitu berkebun, berdagang,

    pegawai dan pengusaha.

    2. Hasil Penelitian

    Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Laimpi Kecamatan Kabawo

    Kabupaten Muna. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional

    study untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian

    ISPA pada balita 7-36 bulan di Kelurahan Laimpi Kecamatan Kabawo

    Kabupaten Muna periode Juli 2016. Pengumpulan data dilakukan melalui

    wawancara langsung pada responden. Besar sampel pada penelitian ini adalah

    62 responden yaitu semua Balita usia 7-36 bulan.

    Data yang telah diperoleh kemudian diolah dan disajikan dalam

    bentuk tabel frekuensi dan crosstab (tabulasi silang) sesuai dengan tujuan

    penelitian dan disertai narasi sebagai penjelasan tabel. Adapun hasil

    penelitian yang telah dilakukan diuraikan sebagai berikut :

    1. Analisis Univariat

    Analisa univariat dalam penelitian ini bertujuan untuk melihat distribusi

    frekuensi dari variabel dependen dan independen yaitu :

  • 32

    a. Kejadian ISPA

    Tabel 5 Distribusi Frekuensi Kejadian ISPA pada Balita 7-36 Bulan diKelurahan Laimpi Kecamatan Kabawo Tahun 2016

    Kejadian ISPA Frekuensi Persentase (%)

    Ya 36 58,1

    Tidak 26 41,9

    Jumlah 62 100

    Sumber : Data Sekunder, 2016

    Tabel 5 menunjukan bahwa dari 62 balita yang menderita ISPA sebanyak

    36 orang (58,1 %) dan balita yang tidak menderita ISPA sebanyak 26

    orang (41,9 %).

    b. ASI Esklusif

    Tabel 6 Distribusi Frekuensi Balita Berdasarkan Riwayat ASI Esklusifpada Balita 7-36 Bulan di Kelurahan Laimpi Kecamatan Kabawo

    Tahun 2016

    ASI Esklusif Frekuensi Persentase (%)

    Ya 21 33,9

    Tidak 41 66,1

    Jumlah 62 100

    Sumber : Data Primer, 2016

    Tabel 6 menunjukan bahwa dari 62 balita yang riwayat ASI esklusif

    sebanyak 21 orang (33,9%) dan balita yang riwayat tidak ASI esklusif

    sebanyak 41 orang (51,6%).

  • 33

    c. Kebiasaan Merokok

    Tabel 7 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Kebiasaan Merokok AnggotaKeluarga di Kelurahan Laimpi Kecamatan Kabawo

    Tahun 2016

    Kebiasaan MerokokAnggota Keluarga

    Frekuensi Persentase (%)

    Ya 47 75,8

    Tidak 15 24,2

    Jumlah 62 100

    Sumber : Data Primer 2016

    Tabel 7 menunjukan bahwa dari 62 balita yang memiliki kebiasaan

    merokok anggota keluarga sebanyak 47 orang (75,8%) dan balita yang

    tidak memiliki kebisaan merokok anggota keluarga sebanyak 15 orang

    (24,2%).

    2. Analisis Bivariat

    Analisis statistik dengan menggunakan rumus uji Chi Square

    terhadap hubungan riwayat ASI esklusif dan kebiasaan merokok dengan

    kejadian ISPA pada balita di Kelurahan Laimpi Kecamatan Kabawo

    Kabupaten Muna tahun 2016 adalah sebagai berikut :

    a. Hubungan antara Kejadian ISPA dengan riwayat ASI Esklusif

    Berdasarkan hasil olahan SPSS, maka secara ringkas hasil perhitugan

    Chi Square dapat di sajikan dalam bentuk tabel sebagai berikut:

  • 34

    Tabel 8 Hubungan antara Kejadian ISPA dengan riwayat ASI Esklusif

    NoKejadian

    ISPA

    ASI EsklusifTotal

    x Hit x Tab Ya Tidak

    n % N % N %

    1 Ya 11 17,74 25 40,32 36 58,10,421 3,841 0,516

    2 Tidak 10 16,12 16 25,8 26 41,9

    Total 22 35,5 40 64,5 62 100

    Tabel 8 menunjukan bahwa dari 62 balita yang mendapat ASI esklusif

    dan menderita ISPA sebanyak 11 orang (17,74%), balita yang tidak

    mendapatkan ASI esklusif dan menderita ISPA sebanyak 25 orang (40,32%).

    Balita yang mendapat ASI esklusif dan tidak menderita ISPA sebanyak 10

    orang (16,12%), balita yang tidak mendapat ASI esklusif dan tidak menderita

    ISPA sebanyak 16 orang (25,8%).

    Berdasarkan hasil pengujian keterkaitan antar dua variabel melalui uji

    Chi-Square, dimana diperoleh nilai 2 hitung sebesar 0,421 dengan nilai

    signifikansi (Asymp.sig.(2-sided)) sebesar 0,516. Berdasarkan hasil yang telah

    diperoleh, terlihat bahwa nilai 2 hitung (0,421) (0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa H0 diterima

    dan Ha ditolak artinya tidak ada hubungan bermakna antara riwayat ASI

    esklusif dengan kejadian ISPA pada balita.

  • 35

    b. Hubungan antara kebiasaan merokok anggota keluarga dengan kejadianISPA pada balita.

    Tabel 9 Hubungan Kebiasaan Merokok Anggota Keluarga denganKejadian ISPA pada Balita di Kelurahan Laimpi

    Kecamatan Kabawo Kabupaten MunaTahun 2016

    NoKejadian

    ISPA

    Kebiasaan MerokokAnggota Keluarga

    Total x Hit x Tab Ya Tidak

    N % N % N %

    1 Ya 27 43,54 9 14,51 10 16,128.376 3,841 0,04

    2 Tidak 10 16,12 16 25,8 21 33,87

    Total 48 77,41 15 24,19 31 100

    Tabel 9 menunjukan bahwa dari 62 balita yang memiliki kebiasaan

    merokok dan menderita ISPA sebanyak 27 orang (43,54%), balita yang tidak

    memiliki kebiasaan buruk anggota keluarga dan menderita ISPA sebanyak 9

    orang (14,51%). Balita yang memiliki kebiasaan buruk anggota keluarga dan

    tidak menderita ISPA sebanyak 10 orang (16,12%), balita yang tidak memeliki

    kebiasaan buruk anggota keluarga dan tidak menderita ISPA sebanyak 16

    orang (25,8%).

    Berdasarkan data diatas di dukung oleh hasil analisis statistic dengan

    menggunakan uji Chi-Square serta sesuai dengan dasar pengambilan

    keputusan penelitian hipotesis bahwa jika di peroleh nilai x2 hitung 8.376 dan

    pvalue= 0,04 dengan tingkat kepercayaan 95% (=0,05). Karena x2 hitung (8.376)

    > x2 tabel (3,841) dan pvalue (0,04) maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya

  • 36

    ada hubungan antara kebiasaan merokok anggota keluarga dengan kejadian

    ISPA pada balita.

    B. Pembahasan

    Setelah di lakukan uji Chi-Square terhadap variabel independent maka

    didapatkan tidak ada hubungan antara riwayat ASI esklusif dengan kejadian ISPA

    pada balita di Kelurahan Laimpi Kecamatan Kabawo Kabupaten Muna tahun

    2016, data tersebut telah dibuktikan dengan hasil uji Chi-Square X2 hitung 0,421

    < X2 tabel 3,841, sehingga di simpulkan bahwa Ho diterima dan Ha ditolak

    artinya tidak ada hubungan antara riwayat ASI esklusif dengan kejadian ISPA

    pada balita di Kelurahan Laimpi Kecamatan Kabawo Kabupaten Muna tahun

    2016. Sedangkan adanya hubungan antara kebiasaan merokok anggota keluarga

    dengan kejadian ISPA pada balita di Kelurahan Laimpi Kecamatan Kabawo

    Kabupaten Muna tahun 2016, data tersebut telah dibuktikan dengan hasil uji

    Chi-Square X2 hitung 8,376 > X2 tabel 3.841, sehingga di simpulkan bahwa Ho

    ditolak dan Ha diterima artinya ada hubungan antara kebiasaan merokok anggota

    keluarga dengan kejadian ISPA pada balita di Kelurahan Laimpi Kecamatan

    Kabawo Kabupaten Muna tahun 2016.

    1. Hubungan antara Riwaya ASI Esklusif dengan kejadian ISPA pada balita

    Dari analisa univariat menunjukkan bahwa dari 62 balita yang riwayat

    ASI esklusif sebanyak 21 orang (33,9%) dan balita yang riwayat tidak ASI

    esklusif sebanyak 41 orang (51,6%). dan bila dikaitkan dengan kejadian

    ISPA, maka balita yang mendapat ASI esklusif dan menderita ISPA sebanyak

    11 orang (17,74%), balita yang tidak mendapatkan ASI esklusif dan menderita

  • 37

    ISPA sebanyak 25 orang (40,32%). Balita yang mendapat ASI esklusif dan

    tidak menderita ISPA sebanyak 10 orang (16,12%), balita yang tidak

    mendapat ASI esklusif dan tidak menderita ISPA sebanyak 16 orang (25,8%).

    ASI adalah makanan yang terbaik untuk bayi karena merupakan

    makanan alamiah yang sempurna, mudah dicerna, mengandung zat gizi yang

    sesuai kebutuhan untuk pertumbuhan kekebalan dan mencegah dari berbagai

    penyakit serta dapat meningkatkan kecerdasan. ASI selain memiliki nilai gizi

    yang tinggi, ASI juga memiliki anti bodi yang dapat melindungi bayi terhadap

    bebagai macam infeksi (Soetjiningsih, 2012).

    Penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan Widarini di .

    hal ini terjadi karena banyak faktor yang mempengaruhi ISPA pada balita

    seperti status imunisasi, status gizi, BBLR, dll.

    2. Hubungan Kebiasaan Merokok Anggota Keluarga dengan Kejadian ISPA pada

    Balita

    Dari analisa univariat menunjukkan bahwa dari 62 balita yang

    memiliki kebiasaan merokok dan menderita ISPA sebanyak 27 orang

    (43,54%), balita yang tidak memiliki kebiasaan buruk anggota keluarga dan

    menderita ISPA sebanyak 9 orang (14,51%). Balita yang memiliki kebiasaan

    buruk anggota keluarga dan tidak menderita ISPA sebanyak 10 orang

    (16,12%), balita yang tidak memeliki kebiasaan buruk anggota keluarga dan

    tidak menderita ISPA sebanyak 16 orang (25,8%).

    Kebiasaan merokok anggota keluarga dapat berdampak negatif bagi

    anggota keluarga khususnya balita. Indonesia merupakan negara dengan

  • 38

    jumlah perokok aktif sekitar 27,6 % dengan jumlah 65 Juta perokok atau 225

    miliar batang per tahun (WHO, 2008). Rokok merupakan benda beracun yang

    memberi efek yang sangat membahayakan pada perokok aktif maupun perokok

    pasif, terutama pada balita yang tidak sengaja terkontak asap rokok . Nikotin

    dengan ribuan bahaya beracun asap rokok lainnya masuk kesaluran pernapasan

    bayi yang dapat menyebabkan infeksi pada saluran pernapasan.

    Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh yuli

    trisnawati di puskesmas rembang kabupaten purbalingga tahun 2012 yang

    mengatakan bahwa ada hubungan signifikan antara kebiasaan merokok anggota

    keluarga dengan kejadian ISPA. Hal ini dapat dipahami karena asap rokok

    orang tua atau penghuni rumah yang satu atap dengan balita merupakan bahan

    pencemaran dalam ruang tempat tinggal yan serius serta akan menambah risiko

    kesakitandari bahan toksik pada anak-anak. paparan yang terus menerus

    menimbulkan gangguan pernapasan terutama memperberat timbulnya infeksi

    saluran pernapasan. Semakin banyak rokok yang dihisap oleh keluarga

    semakin besar memberikan risiko terhadap kejadian ISPA.

  • 39

    BAB V

    KESIMPULAN DAN SARAN

    A. Kesimpulan

    Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka dapat ditarik kesimpulan

    sebagai berikut :

    1. Tidak ada hubungan bermakna antara riwayat ASI esklusif dengan kejadian

    ISPA pada balita.

    2. Ada hubungan antara kebiasaan merokok anggota keluarga dengan kejadian

    ISPA pada balita.

    B. Saran

    1. Diharapkan kepada ibu yang memiliki balita agar anak memperoleh gizi

    yang baik dengan cara memberikan makanan yang mengandung cukup gizi

    kepada anak.

    2. Diharapkan kepada anggota keluarga yang merokok agar tidak merokok

    didekat balita, untuk mencegah terjadinya ISPA.

    39

  • DAFTAR PUSTAKA

    Achmadi, Umar Fahmi (2008). Manajemen Penyakit Berbasis Wilayah.

    Universitas Indonesia Press, Jakarta.

    Buku panduan karya tulis ilmiah akbid paramata raha kab. Muna tahun 2016.

    Depkes RI (2009). Pedoman pengendalian penyakit infeksi saluran pernapasan

    akut. Dirjen Pengendalian Penyakit Penyehatan Lingkungan, Depkes RI

    Jakarta.

    Fidiani (2011). Faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian ISPA pada

    balita.

    Karlinda, Tri dan Warni Susilawati. Hubungan Keberadaan Anggota Keluarga

    Yang Merokok Dengan Kejadian Ispa Pada Balita Di Wilayah Kerja

    Puskesmas Nusa Indah Kota Bengkulu, Jurnal Akademi Kesehatan Sapta

    Bakti Bengkulu, 2012.

    Kementrian Kesehatan RI (2011). Pedoman Pengendalian Infeksi Saluran

    Pernapasan Akut. Jakarta : Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

    Kementrian kesehatan RI (2013). Riset Kesehatan Dasar (RISKEDES) 2013.

    Jakarta : Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.

    Kementrian Kesehatan RI , Pneumonia Balita, Buletin Jendela Epidemiologi,

    Volume 3 September 2010.

    Prabu (2009). Infeksi Saluran Pernapasan Pernapasan Akut. Terdapat pada

    http://prabu.wordpress.com/2009/04/infeksi-saluran-pernapasan-akut-

    ISPA.

    Probowo, sony (2012). Penyakit yang Paling Umum pada Anak, Majalah

    Kesehatan (online) http://majalah kesehatan.com/penyakit-yang-paling-

    umum-pada-anak-bag-1/diakses tanggal 29 juni 2016.

  • Siswanto, susila & suyanto (2013). Metodologi penelitian kesehatan dan

    kedokteran. Yogyakarta : Bursa Ilmu.

  • Faktor Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian ISPA Pada Balita di KelurahanLaimpi Kec. Kabawo Tahun 2016

    No Nama Umur ISPA ASI esklusif Kebiasaan merokok

    Ya Tidak Ya Tidak Ya Tidak

    1 An. S 32 bulan

    2 An. T 32 bulan

    3 An. M 32 bulan

    4 An. A 32 bulan

    5 An. J 32 bulan

    6 An. P 32 bulan

    7 An. F 31 bulan

    8 An. C 30 bulan

    9 An. A 29 bulan

    10 An. A 28 bulan

    11 An. S 28 bulan

    12 An. I 24 bulan

    13 An. H 29 bulan

    14 An. A 20 bulan

    15 An. S 20 bulan

    16 An. N 25 bulan

    17 An. O 23 bulan

    18 An. S 23 bulan

    19 An. Mu 31 bulan

    20 An. Ah 29 bulan

    21 An. D 20 bulan

    22 An. K 21 bulan

    23 An. C 22 bulan

    24 An. M 24 bulan

    25 An. A 24 bulan

    26 An. H 21 bulan

    27 An. J 19 bulan

    28 An. A 22 bulan

  • 29 An. S 24 bulan

    30 An. A 16 bulan

    31 An. N 13 bulan

    32 An. L 24 bulan

    33 An. A 24 bulan

    34 An. F 14 bulan

    35 An. W 23 bulan

    36 An. R 17 bulan

    37 An. O 19 bulan

    38 An. M 24 bulan

    39 An. A 23 bulan

    40 An. N T 23 bulan

    41 An. F 21 ulan

    42 An. N 24 bulan

    43 An. Q 25 bulan

    44 An. L 22 bula

    45 An. V 30 bulan

    46 By. N 11 bulan

    47 By. B 10 bulan

    48 By. A 9 bulan

    49 By. K 11 bulan

    50 By. R 12 bulan

    51 An. F 13 bulan

    52 An. T 17 bulan

    53 An. F 18 bulan

    54 An. H 19 bulan

    55 An. Al 17 bulan

    56 An. N 16 bulan

    57 An. A 27 bulan

    58 An. H 28 bulan

    59 An. M 31 bulan

    60 An. A 30 bulan

  • 61 An. M 33 bulan

    62 An. N 12 bulan

  • KUISIONER

    Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian ISPA pada Balita

    di Puskesmas Kabawo Tahun 2016 Periode Januari-Juni

    Nomor responden :

    Nama ibu :

    Umur :

    Petunjuk pengisian :

    Memiliki KMS : Ya / Tidak

    1. Kepada responden di harapkan untuk menjawab semua pertanyaan dengan

    jujur dan obyektif

    2. Berikan tanda ( X ) pada jawaban yang diangap benar dan tepat

    Soal

    1. Apakah bayi ibu nendapatkan imunisasi dasar lengkap ?

    a. Ya

    b. Tidak

    2. Pada usia 0-6 bulan apakah bayi/anak ibu hanya minum ASI saja tanpa

    makanan tambahan kecuali obat ?

    a. Ya

    b. Tidak

    3. Apakah ada anggota keluarga yang memiliki kebiasaan merokok di dalam

    rumah ?

    a. Ya

    b. Tidak

  • SURAT PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

    Yang bertanda tangan di bawa ini :

    Nama :

    Umur :

    Alamat :

    Menyatakan bahwa saya bersedia menjadi responden dalam penelitian

    yang berjudul Faktor Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian ISPA

    pada Balita di Kelurahan Laimpi Kec. Kabawo Tahun 2016 Yang

    dilakukan oleh :

    Nama : ASNI

    Nim : PSw.B.2013.IB.0054

    Sesuai dalam prosedur penelitian, maka saya memberikan jawaban

    sebenar-benarnya atas pertanyaan yang diberikan dan tidak akan menuntut

    terhadap segala kemungkinan yang akan terjadi dalam penelitian ini.

    Demikian surat persetujuan ini dibuat dengan sesungguhnya, untuk

    digunakan sebagaimana mestinya.

    Raha, Juli 2016

    Responden

    (....................................)

  • Faktor Faktor yang Berhubungan dengan Kejadian ISPA Pada Balitadi Kelurahan Laimpi Kec. Kabawo Tahun 2016

    1. Riwayat ASI esklusif

    kejadian ispa * riwayat ASI esklusif Crosstabulation

    riwayat ASI esklusif

    Totalya tidak

    kejadian ispa ISPA Count 11 25 36

    Expected Count 12,2 23,8 36,0

    % within kejadian ispa 30,6% 69,4% 100,0%

    % within riwayat ASI

    esklusif52,4% 61,0% 58,1%

    tidak ISPA Count 10 16 26

    Expected Count 8,8 17,2 26,0

    % within kejadian ispa 38,5% 61,5% 100,0%

    % within riwayat ASI

    esklusif47,6% 39,0% 41,9%

    Total Count 21 41 62

    Expected Count 21,0 41,0 62,0

    % within kejadian ispa 33,9% 66,1% 100,0%

    % within riwayat ASI

    esklusif100,0% 100,0% 100,0%

    Chi-Square Tests

    Value df

    Asymptotic

    Significance

    (2-sided)

    Exact Sig.

    (2-sided)

    Exact Sig.

    (1-sided)

    Pearson Chi-Square ,421a 1 ,516

    Continuity Correctionb ,142 1 ,706

    Likelihood Ratio ,419 1 ,517

    Fisher's Exact Test ,592 ,352

    Linear-by-Linear

    Association,414 1 ,520

    N of Valid Cases 62

    a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 8,81.

  • 2. Kebiasaan Merokok

    kejadian ISPA * Kebiasaan Merokok Crosstabulation

    Kebiasaan Merokok

    Totalmerokok

    tidak

    merokok

    kejadian

    ISPA

    ISPA Count 27 9 36

    Expected Count 21,5 14,5 36,0

    % within kejadian

    ISPA75,0% 25,0% 100,0%

    % within Kebiasaan

    Merokok73,0% 36,0% 58,1%

    tidak

    ISPA

    Count 10 16 26

    Expected Count 15,5 10,5 26,0

    % within kejadian

    ISPA38,5% 61,5% 100,0%

    % within Kebiasaan

    Merokok27,0% 64,0% 41,9%

    Total Count 37 25 62

    Expected Count 37,0 25,0 62,0

    % within kejadian

    ISPA59,7% 40,3% 100,0%

    % within Kebiasaan

    Merokok100,0% 100,0% 100,0%

  • Chi-Square Tests

    Value df

    Asymptotic

    Significance

    (2-sided)

    Exact Sig.

    (2-sided)

    Exact Sig. (1-

    sided)

    Pearson Chi-Square 8,376a 1 ,004

    Continuity Correctionb 6,926 1 ,008

    Likelihood Ratio 8,478 1 ,004

    Fisher's Exact Test ,008 ,004

    Linear-by-Linear

    Association8,241 1 ,004

    N of Valid Cases 62

    a. 0 cells (0,0%) have expected count less than 5. The minimum expected count is 10,48.

    b. Computed only for a 2x2 table

    CAVERMEN ASNI.pdf (p.1-12)BAB 1-V.pdf (p.13-51)Daftar pustaka asni.pdf (p.52-53)master tabek ani.pdf (p.54-56)KESBANG.pdf (p.57)Kuisioner (2).pdf (p.58)ASNI SURAT PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN.pdf (p.59)BAASAN.pdf (p.60)ASI SPSS.pdf (p.61-63)