Download pdf - SK 3 muskulo

Transcript
  • 8/10/2019 SK 3 muskulo

    1/26

    1

    SKENARIO

    NYERI PANGGUL KARENA JATUH

    Seorang Perempuan berusia 60 tahun dating ke UGD Rumah Sakit dengan keluhan nyeri pinggulkanannnya setelah terbentur lantai kamar mandi karena jatuh. Sejak terjatuh yang dirasakan tidak

    mampu berdiri karena rasa neri yang sangat pada pinggul kanannya. Pada pemeriksaan fisik

    didapatkan keadaan umum sakit berat, merintih kesakitan, compos mentis. Tekanan darah 140/90mmHg, denyut nadi 104x/menit. Terdapat hematom pada art. Coxae dextra, posisi tungkai atas

    kanan sedikit flexi, abduksi , dan exorotasi. Ditemukan krepitasi tulang dan nyeri tekan juga

    pemendekan eksterimitas. Gerakan terbatas karena nyeri. Neurovascular distal baik. Padapemeriksaan radiologis didapatkan fraktur femoris tertutup. Dokter menyarankan untuk

    dilakukan operasi.

  • 8/10/2019 SK 3 muskulo

    2/26

    2

    KATA-KATA SULIT

    Compos mentis :Kesadaran normal, sadar sepenuhmya, dapat menjawab pertanyaan disekelilingnya.

    Hematom :

    Penggumpalan darah yang terlokalisasi, umumnya menggumpal pada organ, rongga atau

    jaringan akibat pecahnya dinding pembuluh darah.

    Krepitasi :Bunyi yang terdengar akibat pergeseran dari ujung patahan tulang.

    Fraktur :Terputusnya kontinuitas dari tulang, lempeng epifisis atau tulang rawan sendi.

    Neurovascular :

    Berhubungan dengan elemen syaraf dan vascular.

    PERTANYAAN

    1. Apa saja klsifikasi fraktur?

    2. Apa yang menyebabkan rasa nyeri pada pinggul kanan?3. Mengapa bias terjadi pemendekan ekstremitas?

    4. Adakah hubungan fraktur dengan usia?5. Bagaimana posisi femur terhadap acetabulum

    6. Mengapa hematom bisa timbul?

    7. Bagaimana penanganan pertama saat fraktur femur?8. Jenis dislokasi apa yang kira-kira tejadi?

    9. Bagaimana posisi pemeriksaan radiologi yang dilakukan?

    10.Bagaimana gambaran radiologi yang didapat?

    11.Adakah pemeriksaan penunjang lainnya?12.Apakah ada hubungan fraktur dengan tekanan darah?

    13.Kapan fraktur harus dilakukan operasi?14.Bagaimana proses penyembuhan fraktur?15.Apakah factor jenis kelamin mempengaruhi terjadinya fraktur?

    16.Dilihat dari posisi jatuh, bagian apa yang sekiranya terjadi fraktur?

    17.bagaimana posisi tulang sehingga tungkai atas fleksi, abduksi, dan eksorotasi?

    18.Bagaimana cara pemeriksaan neurovascular?19.Bagaimana terjadinya fraktur?

    20.Setelah terjadi fraktur gerakan apa yang tidak bisa dilakukan?

    21.Teknik operasi apa yang dilakukan?

    JAWABAN

    1. Klasifikasi dibagi menurut lokasi, luas, konfigurasi, hubungan antara bagian fraktur,hubungan antara bagian fraktur dengan jaringan sekitar

    2. Tertekannya saraf, adanya hematom pada art. Coxae, prostaglandin meningkat, pembuluh

    darah vasodilatasi.

    3. Akibat kontraksi otot atas dan bawah tempat fraktur. Fragmen saling melingkup satusama lain 2,5-5cm.

    4. Ada, densitas tulang semakin tua semakin menurun atau berkurang.

  • 8/10/2019 SK 3 muskulo

    3/26

    3

    5. Femur berada didepan acetabulum.

    6. Adanya penekanan saraf dan pembuluh darah, terbentur benda tumpul sehingga

    pembuluh darah pecah dan intravascular keluar ke jaringan sekitar.7. Periksa dengan cara look, feel, movement kemudian immobilisasi dengan balut dan bidai,

    pemberian obat analgesic.

    8.

    Dislokasi anterior.9. Ap Lateral10.Adanya diskontinuasi pada gambaran radioopak.

    11.CT-Scan, MRI

    12.Ada13.Secepatnya setelah fraktur.

    14.Fibroblasosteosidcallus tulangdialiri pembuluh darahtulang

    15.Ya, wanita lebih rapuh

    16.Collum17.Berada didepan acetabulum

    18.Palpasi dorsalis pedis / angiografi.

    19.Secara langsung (direct) dan tidak langsung (indirect)20.Ekstensi, adduksi, dan endorotasi.

    21.Pemasangan pen, mur.

  • 8/10/2019 SK 3 muskulo

    4/26

    4

    HIPOTESIS

    Usia lanjut merupakan salah satu faktor risiko terjadinya fraktur selain dari jenis kelamin dan

    densitas tulang.Akibat dari jatuh dalam posisi duduk terjadilah fraktur dislokasi pada femur,

    dengan gejala nyeri, hematom, dan posisi tungkai atas kanan fleksi, abduksi, eksorotasi, dan

    disrespansi. Pemeriksaan radiologi yang dilakukan secara Ap Lateral didapatkan diskontinuitaspada collum femoris. Tindakan awal yang dapat dilakukan adalah immobilisasi dengan balut dan

    bisai, kompres dengan air dingin, serta pemberian obat analgesic kemudian dirujuk segera ke

    dokter spesialis bedah orthopedic dan trauma untuk dilakukan operasi pemasangan pen.

  • 8/10/2019 SK 3 muskulo

    5/26

    5

    SASARAN BELAJAR

    LI. 1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Femur dan Coxae

    LO. 1. 1. Makroskopik

    LO. 1. 2. MikroskopikLO. 1. 3. Kinesiologi

    LI. 2. Memahami dan Menjelaskan Fraktur

    LO. 2. 1. DefinisiLO. 2. 2. EtiologiLO. 2. 3. Klasifikasi

    LO. 2. 4. PatofisiologiLO. 2. 5. Manifestasi Klinis

    LO. 2. 6. Diagnosis

    LO. 2. 7. Tatalaksana

    LO. 2. 8. Komplikasi

    LO. 2. 9. Prognosis

  • 8/10/2019 SK 3 muskulo

    6/26

    6

    1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Femur dan Coxae

    1.1Makroskopik

    Femur

    (Sumber: Sobotta)

  • 8/10/2019 SK 3 muskulo

    7/26

    7

    Coxae

    (Sumber: clinically oriented anatomy)

    Melalui evolusi & perkembangannya tulang femur mengalami pembengkokan (sudut

    inklinasi) dan terpuntir (rotasi medial dan torsi sehingga lutut dan semua sendi di sebelahinferiornya fleksi ke posterior) untuk mengakomodasi posisi tegak kita dan memungkinkan

    pola berjalan dengan dua kaki dan berlari. Sudut inklanasi pelekatan abductor dan rotator

    pada trochanter mayor merupakan pengungkitan bertambah, penempatan superior abductor,

    dan orientasi oblik femur dan paha. Bersama dengan sudut torsi, gerakan rotatori oblik pada

  • 8/10/2019 SK 3 muskulo

    8/26

    8

    articulation coxae diubah menjadi gerakan fleksi-ekstensi dan abduksi-adduksi (masing-

    maing pada bidang sagittal dan coronal) serta rotasi.

    Sudut inklinasi diantara sumbu panjang collum femoris dan corpus femoris itu berbeda-beda

    sesuai dengan usia, jenis kelamin, dan perkembangan femur. Sudutnya pun dapat berubah

    sesuai dengan patologisnya. Bila sudut inklinasi bertambah disebut coxa valra bila bertambahmenjadi coxa valga. Coxa valra mengakibatkan sedikit pemendekan ekstremitas danmembatasi abduksi pasif.

    (Keith L. Moore, 2013)

    1.2Mikroskopik

  • 8/10/2019 SK 3 muskulo

    9/26

    9

    Tulang dewasa dan yang sedang berkembang mengandung 4 jenis sel berbeda. Yaitu :

    Osteoprogenitor adalah sel induk pluripotent tidak berdiferensiasi yang berasal darijaringan ikat mesenkim. Sel ini terletak di lapisan dalam jar ikat periosteum dan di

    lapisan endosteum dalam melapisi rongga sumsum, osteon (havers) dan kanalis. Fungsi

    utama kedua lapisan ini untuk menutrisi tulang dan memberikan suplai bagi osteoblast

    baru untuk pertumbuhan. Dan kemudian berdiferensiasi menjadi osteoblast yangmenyekresi serat kolagen dan matriks tulang.

    Osteoblast terdapat pada permukaan tulang yang berfungsi menyintesis, mengekskresi,

    dan mengendapkan osteoid komponen tulang baru. Osteoid tidak mengandung mineral

    namun, osteoid segera mengalami mineralisasi menjadi tulang.

    Osteosit adalah bentuk matur osteoblast dan merupakan sel utama tulang. Sel iniberukuran lebih kecil dari osteoblast. Osteosit terperangkap dalam matriks tulang yang

    diproduksi oleh osteoblast. Lokasinya berada di bawah lacuna dan sangat dekat denganpembuluh darah. Karena matriks tulang sudah mengalami mineralisasi, nutrient danmetabolit tidak dapat bebas berdifusi menuju osteosit. Karena itu, tulang sangat vascular

    dan memiliki system saluran khusus atau kanal halus yang disebut kanalikuli yang

    bermuara kedalam osteon. Kanalikuli mengandung cairan ekstraseluler yangmemudahkan masing masing osteosit berhubungan dengan yang lainnya dan material

    dipembuluh darah. Ini bertujuan untuk membentuk hubungan kompleks dengan sekitar

    pembuluh darah di osteon dan terjadi pertukaran yang efisien. Kanalikuli menjaga

    osteosit tetap hidup dan osteosit sebaliknya . jika osteosit mati, matriks tulangdisekitarnya direabsorbsi oleh osteoklas.

    Osteoklas adalah sel multinukleus besar yang terdapat di sepanjang permukaan tulang

    tempat terjadinya resorpsi, remodeling dan perbaikan tulang. Osteoklas berasal daripenyatuan sel sel progenitor homeopetik atau darah di sumsum tulang. Fungsi utamanyayaitu reabsorpsi tulang selama remodeling.osteoklas sering terdapat didalam lekuk

    dangkal pada matriks tulang yang disebut lacuna howship. Enzim lisosom yang

    dikeluarkan oleh osteoklas mengikis cekungan ini

    (Victor P. Eroschenko, 2010)

    Terdapat dua macam proses penulangan:

    1. Penulangan intramembranosa / desmal (tanpa dimulai dengan pembentukan tulang rawan)

    2. Penulangan intrakartilaginosa / endokondral (dimulai dengan pembentukan tulang rawan)

  • 8/10/2019 SK 3 muskulo

    10/26

    10

    a. Zona Istirahat : terdapat di lempeng epifisis,terdiri atas sel tulang rawan primitif yang

    tumbuh kesegala arah

    b. Zona proliferasi : terletak di metafisis,terdiri atas kondrosit yang membelah,danmenghasilkan sel berbentuk gepeng atau lonjong yang tersusun berderet-deret longitudinal

    seperti tumpukan uang logam,sejajar dengan sumbu panjang model tulang rawan.

    c. Zona maturasi dan hipertrofi kondrosit : ukuran kondrosit beserta lakunanya bertambah

    besard. Zona klasifikasi : terjadi endapan kalsium fosfat didalam matriks tulang tawan.Matriks

    menjadi basofil dan kondrosit banyak yang mati (perlekatan zat kapur,nutrisi kurang)

    e.

    Zona degenerasi : kondrosit berdegenerasi,banyak yg pecah,lakuna kosong dan salingberhubungan satu dnegan yang lainnya.Daerah matriks yang hancur diisi oleh sel

    osteoprogenitor

    f. Zona penulangan (osifikasi) : sel progenitor yang mengisi lakuna yang telah kosong berubah

    menjadi osteoblas,yang mulai mensekresi matriks tulang,sehingga terbentuklah balok-baloktulang. (dihancurkan oleh osteoklas)

    Proses Penyembuhan Fraktur Primer

    Penyembuhan cara ini terjadi internal remodelling yang meliputi upaya langsung oleh

    korteks untuk membangun kembali dirinya ketika kontinuitas terganggu. Agar fraktur

    menjadi menyatu, tulang pada salah satu sisi korteks harus menyatu dengan tulang pada sisilainnya (kontak langsung) untuk membangun kontinuitas mekanis.

    Tidak ada hubungan dengan pembentukan kalus. Terjadi internal remodelling dari haversian

    system dan penyatuan tepi fragmen fraktur dari tulang yang patah

    Ada 3persyaratan untuk remodeling Haversian pada tempat fraktur adalah:

  • 8/10/2019 SK 3 muskulo

    11/26

    11

    1. Pelaksanaan reduksi yang tepat

    2. Fiksasi yang stabil

    3. Eksistensi suplay darah yang cukup

    Penggunaan plate kompresi dinamis dalam model osteotomi telah diperlihatkan

    menyebabkan penyembuhan tulang primer. Remodeling haversian aktif terlihat pada sekitarminggu ke empat fiksasi.

    Proses Penyembuhan Fraktur Sekunder.

    Penyembuhan sekunder meliputi respon dalam periostium dan jaringan-jaringan lunakeksternal. Proses penyembuhan fraktur ini secara garis besar dibedakan atas 5 fase, yakni

    fase hematom (inflamasi), fase proliferasi, fase kalus, osifikasi dan remodelling.

    (Buckley, R., 2004, Buckwater J. A., et al,2000).

    1. Fase Inflamasi:

    Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari dan hilang dengan berkurangnyapembengkakan dan nyeri. Terjadi perdarahan dalam jaringan yang cidera dan

    pembentukan hematoma di tempat patah tulang. Ujung fragmen tulang mengalami

    devitalisasi karena terputusnya pasokan darah terjadi hipoksia dan inflamasi yangmenginduksi ekpresi gen dan mempromosikan pembelahan sel dan migrasi menuju

    tempat fraktur untuk memulai penyembuhan. Produksi atau pelepasan dari faktor

    pertumbuhan spesifik, Sitokin, dapat membuat kondisi mikro yang sesuai untuk :

    (1) Menstimulasi pembentukan periosteal osteoblast dan osifikasi intra membran pada

    tempat fraktur,

    (2) Menstimulasi pembelahan sel dan migrasi menuju tempat fraktur, dan

    (3) Menstimulasi kondrosit untuk berdiferensiasi pada kalus lunak dengan osifikasi

    endokondral yang mengiringinya. (Kaiser 1996).

    Berkumpulnya darah pada fase hematom awalnya diduga akibat robekan pembuluh darah

    lokal yang terfokus pada suatu tempat tertentu. Namun pada perkembangan selanjutnyahematom bukan hanya disebabkan oleh robekan pembuluh darah tetapi juga berperan

    faktor- faktor inflamasi yang menimbulkan kondisi pembengkakan lokal. Waktu

    terjadinya proses ini dimulai saat fraktur terjadi sampai 23 minggu.

    2. Fase proliferasi

    Kira-kira 5 hari hematom akan mengalami organisasi, terbentuk benang-benang fibrin

    dalam jendalan darah, membentuk jaringan untuk revaskularisasi, dan invasi fibroblast

    dan osteoblast. Fibroblast dan osteoblast (berkembang dari osteosit, sel endotel, dan selperiosteum) akan menghasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matriks kolagen pada

    patahan tulang. Terbentuk jaringan ikat fibrous dan tulang rawan (osteoid). Dari

  • 8/10/2019 SK 3 muskulo

    12/26

    12

    periosteum, tampak pertumbuhan melingkar. Kalus tulang rawan tersebut dirangsang

    oleh gerakan mikro minimal pada tempat patah tulang. Tetapi gerakan yang berlebihan

    akan merusak struktur kalus. Tulang yang sedang aktif tumbuh menunjukkan potensialelektronegatif. Pada fase ini dimulai pada minggu ke 2 3 setelah terjadinya fraktur dan

    berakhir pada minggu ke 48.

    3. Fase Pembentukan Kalus

    Merupakan fase lanjutan dari fase hematom dan proliferasi mulai terbentuk jaringantulang yakni jaringan tulang kondrosit yang mulai tumbuh atau umumnya disebut sebagai

    jaringan tulang rawan. Sebenarnya tulang rawan ini masih dibagi lagi menjadi tulang

    lamellar dan wovenbone. Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawantumbuh mencapai sisi lain sampai celah sudah terhubungkan. Fragmen patahan tulang

    digabungkan dengan jaringan fibrous, tulang rawan, dan tulang serat matur. Bentuk kalus

    dan volume dibutuhkanuntuk menghubungkan efek secara langsung berhubungan dengan

    jumlah kerusakan dan pergeseran tulang. Perlu waktu tiga sampai empat minggu agar

    fragmen tulang tergabung dalam tulang rawan atau jaringan fibrous. Secara klinisfragmen tulang tidak bisa lagi digerakkan. Regulasi dari pembentukan kalus selama masa

    perbaikan fraktur dimediasi oleh ekspresi dari faktor-faktor pertumbuhan. Salah satufaktor yang paling dominan dari sekian banyak faktor pertumbuhan adalah TransformingGrowth Factor-Beta 1 (TGF-B1) yang menunjukkan keterlibatannya dalam pengaturan

    differensiasi dari osteoblast dan produksi matriks ekstra seluler. Faktor lain yaitu:

    Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) yang berperan penting pada prosesangiogenesis selama penyembuhan fraktur. (chen,et,al,2004).

    Pusat dari kalus lunak adalah kartilogenous yang kemudian bersama osteoblast akanberdiferensiasi membentuk suatu jaringan rantai osteosit, hal ini menandakan adanya sel

    tulang serta kemampuan mengantisipasi tekanan mekanis. (Rubin,E,1999)Proses cepatnya pembentukan kalus lunak yang kemudian berlanjut sampai faseremodelling adalah masa kritis untuk keberhasilan penyembuhan fraktur. (Ford,J.L,et

    al,2003).

    Jenis-jenis kalus:

    Dikenal beberapa jenis kalus sesuai dengan letak kalus tersebut berada terbentuk kalus

    primer sebagai akibat adanya fraktur terjadi dalam waktu 2 mingguBridging (soft) callusterjadi bila tepi-tepi tulang yang fraktur tidak bersambung. Medullary (hard) Callus akan

    melengkapi bridging callus secara perlahan-lahan. Kalus eksternal berada paling luar

    daerah fraktur di bawah periosteum periosteal callus terbentuk di antara periosteum dan

    tulang yang fraktur. Interfragmentary callus merupakan kalus yang terbentuk danmengisi celah fraktur di antara tulang yang fraktur. Medullary callus terbentuk di dalam

    medulla tulang di sekitar daerah fraktur. (Miller, 2000)

    4. Stadium Konsolidasi

    Dengan aktifitas osteoklast dan osteoblast yang terus menerus, tulang yang immature

    (woven bone) diubah menjadi mature (lamellar bone). Keadaan tulang ini menjadi lebih

  • 8/10/2019 SK 3 muskulo

    13/26

    13

    kuat sehingga osteoklast dapat menembus jaringan debris pada daerah fraktur dan diikuti

    osteoblast yang akan mengisi celah di antara fragmen dengan tulang yang baru. Proses ini

    berjalan perlahan-lahan selama beberapa bulan sebelum tulang cukup kuat untukmenerima beban yang normal.

    5.

    StadiumRemodelling.

    Fraktur telah dihubungkan dengan selubung tulang yang kuat dengan bentuk yang

    berbeda dengan tulang normal. Dalam waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahunterjadi proses pembentukan dan penyerapan tulang yang terus menerus lamella yang tebal

    akan terbentuk pada sisi dengan tekanan yang tinggi. Rongga medulla akan terbentuk

    kembali dan diameter tulang kembali pada ukuran semula. Akhirnya tulang akan kembalimendekati bentuk semulanya, terutama pada anak-anak. Pada keadaan ini tulang telah

    sembuh secara klinis dan radiologi.

    1.3Kinesiologi

    Gerak sendi :

    Fleksi : M. Illiopsoas, M. Pectinus, M. rectus femoris, M. adductor longus, M. adductor

    brevis, M. adductor magnus pars anterior tensor fascia lata

    Ekstensi : M. gluteus maximus, M. semitendinosis, M. semimembranosus, M. biceps femoriscaput longum, M.abductor magnus pars posterior

    Abduksi : M. gluteus medius, M. gluteus minimus, M. piriformis, M. Sartorius, M. tensor

    fasciae latae

    Adduksi : M. adductor magnus, M. adductor longus, M. adductor brevis, M. gracilis, M.

    pectineus, M. obturator externus, M. quadratus femoris

  • 8/10/2019 SK 3 muskulo

    14/26

    14

    Rotasi Medialis : M. gluteus medius, M. gluteus minimus, M. tensor fasciae latae, M.

    adductor magnus (pars posterior)

    Rotasi lateralis : M. piriformis, M. obturator internus, Mm gamelli, M. obturator externus, M.

    quadratus femoris, M. gluteus maximus, dan Mmm adductors

    (Syamsir, 2014)

    2.1 Definisi

    Fraktur adalah pemecahan (patahnya) suatu bagian terutama tulang. Dengan kata lain terjadipatah atau kerusakan pada tulang. Sedangkan menurur Dr. Jan Tambayong fraktur ialah

    terputusnya keutuhan tulang, umumnya akibat trauma.

    2.2 Etiologi

    Etiologi fraktur yang dimaksud adalah peristiwa yang dapat menyebabkan terjadinya fraktur

    diantaranya peristiwa trauma(kekerasan) dan peristiwa patologis

    Menurut Price dan Wilson (2006) ada 3 yaitu:

    1. Cidera atau benturan

    2. Fraktur patologik: Fraktur patologik terjadi pada daerah-daerah tulang yang telah

    menjadi lemah oleh karena tumor, kanker dan osteoporosis.

    3. Fraktur beban: Fraktur baban atau fraktur kelelahan terjadi pada orang- orang yang baru

    saja menambah tingkat aktivitas mereka, seperti baru di terima dalam angkatan

    bersenjata atau orang- orang yang baru mulai latihan lari.

    Peristiwa Trauma (kekerasan)

    1. Kekerasan langsung

    Kekerasan langsung dapat menyebabkan tulang patah pada titik terjadinya kekerasan itu,

    misalnya tulang kaki terbentur bumper mobil, maka tulang akan patah tepat di tempat

    terjadinya benturan. Patah tulang demikian sering bersifat terbuka, dengan garis patah

    melintang atau miring.

    2. Kekerasan tidak langsung

    Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang di tempat yang jauh dari tempat

    terjadinya kekerasan. Yang patah biasanya adalah bagian yang paling lemah dalam

    hantaran vektor kekerasan. Contoh patah tulang karena kekerasan tidak langsung adalahbila seorang jatuh dari ketinggian dengan tumit kaki terlebih dahulu. Yang patah selain

    tulang tumit, terjadi pula patah tulang pada tibia dan kemungkinan pula patah tulang paha

  • 8/10/2019 SK 3 muskulo

    15/26

    15

    dan tulang belakang. Demikian pula bila jatuh dengan telapak tangan sebagai penyangga,

    dapat menyebabkan patah pada pergelangan tangan dan tulang lengan bawah.

    3. Kekerasan akibat tarikan otot

    Kekerasan tarikan otot dapat menyebabkan dislokasi dan patah tulang. Patah tulangakibat tarikan otot biasanya jarang terjadi. Contohnya patah tulang akibat tarikan otot

    adalah patah tulang patella dan olekranom, karena otot triseps dan biseps mendadak

    berkontraksi.

    Peristiwa Patologis

    1. Kelelahan atau stres fraktur

    Fraktur ini terjadi pada orang yang yang melakukan aktivitas berulang ulang pada suatu

    daerah tulang atau menambah tingkat aktivitas yang lebih berat dari biasanya. Tulang

    akan mengalami perubahan struktural akibat pengulangan tekanan pada tempat yangsama, atau peningkatan beban secara tiba tiba pada suatu daerah tulang maka akanterjadi retak tulang.

    2. Kelemahan Tulang

    Fraktur dapat terjadi oleh tekanan yang normal karena lemahnya suatu tulang akibatpenyakit infeksi, penyakit metabolisme tulang misalnya osteoporosis, dan tumor pada

    tulang. Sedikit saja tekanan pada daerah tulang yang rapuh maka akan terjadi fraktur.

    2.3

    Klasifikasi Berdasarkan sifat fraktur (luka yang ditimbulkan).

    1. Faktur Tertutup (Closed), bila tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan

    dunia luar, disebut juga fraktur bersih (karena kulit masih utuh) tanpa komplikasi.

    2. Fraktur Terbuka (Open/Compound), merupakan fraktur dengan luka pada kulit

    (integritas kulit rusak dan ujung tulang menonjol sampai menembus kulit) atau

    membran mukosa sampai ke patahan tulang. Fraktur terbuka digradasi menjadi:

    Grade I : luka bersih dengan panjang kurang dari 1 cm. Grade II : luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif. Grade III : sangat terkontaminasi, dan mengalami kerusakan jaringan lunak

    Ekstensif.

    Berdasarkan komplit atau ketidak klomplitan fraktur.1. Fraktur Komplit, bila garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui

    kedua korteks tulang seperti terlihat pada foto.

    2. Fraktur Inkomplit, bila garis patah tidak melalui seluruh penampang tulang seperti: Hair Line Fraktur (patah retidak rambut)

  • 8/10/2019 SK 3 muskulo

    16/26

    16

    Buckle atau Torus Fraktur, bila terjadi lipatan dari satu korteks dengan kompresi

    tulang spongiosa di bawahnya. Green Stick Fraktur, mengenai satu korteks dengan angulasi korteks lainnya

    yang terjadi pada tulang panjang.

    Berdasarkan bentuk garis patah dan hubungannya dengan mekanismetrauma.1) Fraktur Transversal: fraktur yang arahnya melintang pada tulang dan merupakanakibat trauma angulasi atau langsung.

    2) Fraktur Oblik: fraktur yang arah garis patahnya membentuk sudut terhadap sumbu

    tulang dan meruakan akibat trauma angulasi juga.

    3) Fraktur Spiral: fraktur yang arah garis patahnya berbentuk spiral yang disebabkantrauma rotasi.

    4) Fraktur Kompresi: fraktur yang terjadi karena trauma aksial fleksi yang mendorong

    tulang ke arah permukaan lain.

    5) Fraktur Avulsi: fraktur yang diakibatkan karena trauma tarikan atau traksi otot padainsersinya pada tulang.

    Berdasarkan jumlah garis patah.1. Fraktur Komunitif: fraktur dimana garis patah lebih dari satu dan saling

    berhubungan.2. Fraktur Segmental: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak berhubungan.

    3. Fraktur Multiple: fraktur dimana garis patah lebih dari satu tapi tidak pada tulangyang sama.

    Berdasarkan pergeseran fragmen tulang.1. Fraktur Undisplaced (tidak bergeser): garis patah lengkap ttetapi kedua fragmen tidak

    bergeser dan periosteum masih utuh.

  • 8/10/2019 SK 3 muskulo

    17/26

    17

    2. Fraktur Displaced (bergeser): terjadi pergeseran fragmen tulang yang juga disebut

    lokasi fragmen, terbagi atas: Dislokasi ad longitudinam cum contractionum (pergeseran searah sumbu dan

    overlapping).

    Dislokasi ad axim (pergeseran yang membentuk sudut).

    Dislokasi ad latus (pergeseran dimana kedua fragmen saling menjauh).

    Berdasarkan posisi frakurSebatang tulang terbagi menjadi tiga bagian :

    1. 1/3 proksimal

    2. 1/3 medial3. 1/3 distal

    Fraktur femur.

    a. Klasifikasi menurut Garden

    Tingkat I : fraktur impaksi yang tidak total Tingkat II : fraktur total tetapi tidak bergeser

    Tingakt III : fraktur total isertai dengan sedikit pergesekan

    Tingkat IV : fraktur disertai dengan pergeseran yang hebat

    b. Klasifikasi menurut Pauwel

    Klasifikasi ini berdasarkan atas sudut inklinasi leher femur

    Tipe I : fraktur dengan garis fraktur 30 derajat

    Tipe II : fraktur dengan garis fraktur 50 derajat

    Tipe III : fraktur dengan garis fraktur 70 derajat

  • 8/10/2019 SK 3 muskulo

    18/26

    18

    2.4

    PatofisiologiFraktur dibagi menjadi fraktur terbuka dan fraktur tertutup. Tertutup bila tidak terdapat

    hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar. Sedangkan fraktur terbuka bila terdapat

    hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar oleh karena perlukaan di kulit. Sewaktu

    tulang patah perdarahan biasanya terjadi di sekitar tempat patah ke dalam jaringan lunak

    sekitar tulang tersebut, jaringan lunak juga biasanya mengalami kerusakan. Reaksi

    perdarahan biasanya timbul hebat setelah fraktur. Sel- sel darah putih dan sel anast

    berakumulasi menyebabkan peningkatan aliran darah ketempat tersebut aktivitas osteoblast

    terangsang dan terbentuk tulang baru umatur yang disebut callus. Bekuan fibrin

    direabsorbsidan sel- sel tulang baru mengalami remodeling untuk membentuk tulang sejati.

    Insufisiensi pembuluh darah atau penekanan serabut syaraf yang berkaitan dengan

    pembengkakan yang tidak di tangani dapat menurunkan asupan darah ke ekstrimitas dan

    mengakibatkan kerusakan syaraf perifer. Bila tidak terkontrol pembengkakan akan

    mengakibatkan peningkatan tekanan jaringan, oklusi darah total dan berakibat anoreksia

    mengakibatkan rusaknya serabut syaraf maupun jaringan otot. Komplikasi ini di namakan

    sindrom compartment.

    Trauma pada tulang dapat menyebabkan keterbatasan gerak dan ketidak seimbangan, fraktur

    terjadi dapat berupa fraktur terbuka dan fraktur tertutup. Fraktur tertutup tidak disertai

    kerusakan jaringan lunak seperti tendon, otot, ligament dan pembuluh darah (Smeltzer danBare, 2001).

    Pasien yang harus imobilisasi setelah patah tulang akan menderita komplikasi antara lain :

    nyeri, iritasi kulit karena penekanan, hilangnya kekuatan otot. Kurang perawatan diri dapatterjadi bila sebagian tubuh di imobilisasi, mengakibatkan berkurangnyan kemampuan

    prawatan diri (Carpenito, 2007).

    Reduksi terbuka dan fiksasi interna (ORIF) fragmen- fragmen tulang di pertahankan denganpen, sekrup, plat, paku. Namun pembedahan meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi.

    Pembedahan itu sendiri merupakan trauma pada jaringan lunak dan struktur yang seluruhnya

    tidak mengalami cedera mungkin akan terpotong atau mengalami kerusakan selama tindakanoperasi (Price dan Wilson, 2006).

    2.5 Manifestasi Klinis

  • 8/10/2019 SK 3 muskulo

    19/26

    19

    Menurut Smeltzer & Bare (2002), manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi,deformitas, pemendekan ektremitas, krepitus, pembengkakan lokal, dan perubahan warna

    yang dijelaskan secara rinci sebagai berikut:

    1. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi.

    Spasme otot yang menyertai fraktur merupakan bentuk bidai alamiah yang dirancanguntuk meminimalkan gerakan antar fragmen tulang.

    2. Setelah terjadi fraktur, bagian-bagian tidak dapat digunakan dan cenderung bergerak

    secara alamiah (gerakan luar biasa). Pergeseran fragmen pada fraktur lengan dan tungkaimenyebabkan deformitas (terlihat maupun teraba) ektremitas yang bisa diketahui dengan

    membandingkannya dengan ektremitas normal. Ekstremitas tidak dapat berfungsi dengan

    baik karena fungsi normal otot tergantung pada integritasnya tulang tempat melekatnya

    otot.3. Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi otot

    yang melekat di atas dan bawah tempat fraktur. Fragmen sering saling melengkapi satu

    sama lain sampai 2,5 sampai 5 cm (1 sampai 2 inci).

    4.

    Saat ekstremitas diperiksa dengan tangan, teraba adanya derik tulang dinamakan krepitusyang teraba akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya. Uji krepitus dapat

    mengakibatkan kerusakan jaringan lunak yang lebih berat.5. Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai akibat trauma dan

    perdarahan yang mengikuti fraktur. Tanda ini biasa terjadi setelah beberapa jam atau hari

    setelah cedera.

    Tidak semua tanda dan gejala tersebut terdapat pada setiap fraktur. Kebanyakan justru tidak

    ada pada fraktur linear atau fisur atau fraktur impaksi (permukaan patahan saling terdesak

    satu sama lain). Diagnosis fraktur bergantung pada gejala, tanda fisik, dan pemeriksaansinar-x pasien. Biasanya pasien mengeluhkan mengalami cedera pada daerah tersebut.

    2.6. Diagnosis

    Diagnosis fraktur

    1. Anamnesis

    Keluhan utama berupa:

    a. Trauma, waktu terjadinya trauma, cara terjadinya trauma, lokasi trauma.

    b. Nyeri, lokasi nyeri, sifat nyeri, intensitas nyeri, referred pain.

    c. Kekakuan sendi

    d. Pembangkakan

    e. Deformitas

    f. Ketidakstabilan sendi

    g. Kelemahan otot

    h. Gangguan sensibilitas

    i. Hilangnya fungsi

    j. Jalan pincang

    2. Pemeriksaan fisik

  • 8/10/2019 SK 3 muskulo

    20/26

    20

    a. Inspeksi (look)

    Kulit, meliputi warna kulit, tanda peradangan dan tekstur kulit

    Jaringan lunak, pembuluh darah, saraf, otot, tendo, ligamen, jaringanlemak, fasia,

    kelenjar limfe.

    Tulang dan sendi

    Sinus dan jaringan parut

    b. Palpasi (feel)

    Suhu kulit, denyutan arteri

    Jaringan lunak, mengetahui adanya spasme otot, atrofi otot

    Nyeri tekan,

    Tulang, perhatikan bentuk, permukaan, ketebalan, penonjolan dari tulang

    Pengukuran anggota gerak

    Penilaian deformitas

    c. Pergerakan (move)

    Evaluasi gerakan sendi secara aktif dan pasif, apakah gerakanmenimbulkan sakit

    dan disertai krepitasi

    Stabilitas sendi

    ROM, abduksi, adduksi, ekstensi, fleksi, rotasi eksterna, rotasi interna, pronasi,

    supinasi, fleksi lateral, dorsofleksi, plantar fleksi, inversi,eversi.

    3. Penunjang Dilakukan pemeriksaan rontgen, apabila fraktur pada tulang panjang

    dilakukan posisi AP dan lateral. Fraktur tulang navicular posisi AP, lateral,dan

    oblique.

    Diagnosis fraktur kolum femur

    Anamnesis : pada penderita didapatkan riwayat trauma ataupun cedera dengan keluhan

    bagian dari tungkai tidak dapat digerakkan

    Pemeriksaan fisik :

    - Look : Pembengkakan, memar dan deformitas (penonjolan yang abnormal, angulasi,

    rotasi, pemendekan) mungkin terlihat jelas, tetapi hal yang penting adalah apakah

    kulit itu utuh; kalau kulit robek dan luka memiliki hubungan dengan fraktur, cedera

    terbuka

    - Feel : Terdapat nyeri tekan setempat, tetapi perlu juga memeriksa bagian distal dari

    fraktur untuk merasakan nadi dan untuk menguji sensasi. Cedera pembuluh darah

    adalah keadaan darurat yang memerlukan pembedahan

    - Movement :Krepitus dan gerakan abnormal dapat ditemukan, tetapi lebih penting

    untuk menanyakan apakah pasien dapat menggerakan sendi sendi dibagian distal

    cedera.

  • 8/10/2019 SK 3 muskulo

    21/26

    21

    2.7 Tatalaksana

    Menurut Mansjoer (2000) dan Muttaqin (2008) konsep dasar yang harus dipertimbangkan

    pada waktu menangani fraktur yaitu : rekognisi, reduksi, retensi, dan rehabilitasi.

    1. Rekognisi (Pengenalan )

    Riwayat kecelakaan, derajat keparahan, harus jelas untuk menentukan diagnosa dan

    tindakan selanjutnya. Contoh, pada tempat fraktur tungkai akan terasa nyeri sekali dan

    bengkak. Kelainan bentuk yang nyata dapat menentukan diskontinuitas integritas rangka.

    2. Reduksi (manipulasi/ reposisi)

    Reduksi adalah usaha dan tindakan untuk memanipulasi fragmen fragmen tulang yang

    patah sedapat mungkin kembali lagi seperti letak asalnya. Upaya untuk memanipulasi

    fragmen tulang sehingga kembali seperti semula secara optimal. Reduksi fraktur dapatdilakukan dengan reduksi tertutup, traksi, atau reduksi terbuka. Reduksi fraktur dilakukan

    sesegera mungkin untuk mencegah jaringan lunak kehilangan elastisitasnya akibat

    infiltrasi karena edema dan perdarahan. Pada kebanyakan kasus, reduksi fraktur menjadi

    semakin sulit bila cedera sudah mulai mengalami penyembuhan (Mansjoer, 2002).

    3. Retensi (Immobilisasi)

    Upaya yang dilakukan untuk menahan fragmen tulang sehingga kembali seperti semula

    secara optimal. Setelah fraktur direduksi, fragmen tulang harus diimobilisasi, atau di

    pertahankan dalam posisi kesejajaran yang benar sampai terjadi penyatuan. Imobilisasi

    dapat dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna. Metode fiksasi eksterna meliputi

    pembalutan, gips, bidai, traksi kontinu, pin, dan teknik gips, atau fiksator eksterna.

    Implan logam dapat di gunakan untuk fiksasi intrerna yang brperan sebagai bidai interna

    untuk mengimobilisasi fraktur. Fiksasi eksterna adalah alat yang diletakkan diluar kulit

    untuk menstabilisasikan fragmen tulang dengan memasukkan dua atau tiga pin metal

    perkutaneus menembus tulang pada bagian proksimal dan distal dari tempat fraktur dan

    pin tersebut dihubungkan satu sama lain dengan menggunakan eksternal bars. Teknik ini

    terutama atau kebanyakan digunakan untuk fraktur pada tulang tibia, tetapi juga dapat

    dilakukan pada tulang femur, humerus dan pelvis (Mansjoer, 2000).

  • 8/10/2019 SK 3 muskulo

    22/26

    22

    Gambar 3 : Pemasangan OREF pada tibia dan fibula Sumber : www.google.com

    Prinsip dasar dari teknik ini adalah dengan menggunakan pin yang diletakkan pada

    bagian proksimal dan distal terhadap daerah atau zona trauma, kemudian pin-pin tersebut

    dihubungkan satu sama lain dengan rangka luar atau eksternal frame atau rigid bars yang

    berfungsi untuk menstabilisasikan fraktur. Alat ini dapat digunakan sebagai temporary

    treatment untuk trauma muskuloskeletal atau sebagai definitive treatment berdasarkan

    lokasi dan tipe trauma yang terjadi pada tulang dan jaringan lunak (Muttaqin, 2008).

    4. Rehabilitasi

    Mengembalikan aktifitas fungsional semaksimal mungkin untuk menghindari atropi ataukontraktur. Bila keadaan mmeungkinkan, harus segera dimulai melakukan latihan-latihan

    untuk mempertahankan kekuatan anggota tubuh dan mobilisasi (Mansjoer, 2000).

    TINDAKAN PEMBEDAHAN

    1. ORIF (OPEN REDUCTION AND INTERNAL FIXATION)

    - Insisi dilakukan pada tempat yang mengalami cidera dan diteruskan sepanjang bidang

    anatomik menuju tempat yang mengalami fraktur

    - Fraktur diperiksa dan diteliti

    - Fragmen yang telah mati dilakukan irigasi dari luka

    - Fraktur di reposisi agar mendapatkan posisi yang normal kembali

    - Saesudah reduksi fragmen-fragmen tulang dipertahankan dengan alat ortopedik berupa;pin, sekrup, plate, dan paku

    Keuntungan:

    - Reduksi akurat

    - Stabilitas reduksi tinggi

    - Pemeriksaan struktu neurovaskuler

    - Berkurangnya kebutuhan alat imobilisasi eksternal

  • 8/10/2019 SK 3 muskulo

    23/26

    23

    - Penyatuan sendi yang berdekatan dengan tulang yang patah menjadi lebih cepat

    - Rawat inap lebih singkat

    - Dapat lebih cepat kembali ke pola kehidupan normal

    Kerugian

    - Kemungkinan terjadi infeksi

    - Osteomielitis2. EKSTERNAL FIKSASI

    - Metode alternatif manajemen fraktur dengan fiksasi eksternal, biasanya pada ekstrimitas

    dan tidak untuk fraktur lama

    - Post eksternal fiksasi, dianjurkan penggunaan gips.

    - Setelah reduksi, dilakukan insisi perkutan untuk implantasi pen ke tulang

    - Lubang kecil dibuat dari pen metal melewati tulang dan dikuatkan pennya.

    - Perawatan 1-2 kali sehari secara khusus, antara lain:

    Obsevasi letak pen dan area

    Observasi kemerahan, basah dan rembes

    Observasi status neurovaskuler distal fraktur

    RADIOLOGI Radiologis untuk lokasi fraktur harus menurut rule of two, terdiri dari :

    1. Dua gambaran, anteroposterior (AP) dan lateral

    2. Memuat dua sendi di proksimal dan distal fraktur

    3. Memuat gambaran foto dua ekstremitas, yaitu ekstremitas yang cedera dan yang tidakterkena cedera (pada anak) ; dan dua kali, yaitu sebelum tindakan dan sesudah

    tindakan.

    Bone scans, Tomogram, atau MRI Scans

    Arteriogram : dilakukan bila ada kerusakan vaskuler.

    CCT kalau banyak kerusakan otot. Darah rutin, faktor pembekuan darah, golongan darah, cross-test, dan urinalisa.

    2.8 Komplikasi

    Komplikasi fraktur menurut Smeltzer dan Bare (2001) dan Price (2005) antara lain:

    1. Komplikasi awal fraktur antara lain: syok, sindrom emboli lemak, sindrom kompartement,

    kerusakan arteri, infeksi, avaskuler nekrosis.

    a. Syok

    Syok hipovolemik atau traumatic, akibat perdarahan (banyak kehilangan darah eksternalmaupun yang tidak kelihatan yang bias menyebabkan penurunan oksigenasi) dan kehilangan

    cairan ekstrasel ke jaringan yang rusak, dapat terjadi pada fraktur ekstrimitas, thoraks, pelvis dan

    vertebra.

    b. Sindrom emboli lemak

  • 8/10/2019 SK 3 muskulo

    24/26

    24

    Pada saat terjadi fraktur globula lemak dapat masuk kedalam pembuluh darah karena

    tekanan sumsum tulang lebih tinggi dari tekanan kapiler atau karena katekolamin yang di

    lepaskan oleh reaksi stress pasien akan memobilisasi asam lemak dan memudahkanterjadinya globula lemak pada aliran darah.

    c. Sindroma KompartementMerupakan masalah yang terjadi saat perfusi jaringan dalam otot kurang dari yangdibutuhkan untuk kehidupan jaringan. Ini bisa disebabkan karena penurunan ukuran

    kompartement otot karena fasia yang membungkus otot terlalu ketat, penggunaan gibs atau

    balutan yang menjerat ataupun peningkatan isi kompatement otot karena edema atauperdarahan sehubungan dengan berbagai masalah (misalnya : iskemi,dan cidera remuk).

    d. Kerusakan Arteri

    Pecahnya arteri karena trauma bias ditandai denagan tidak ada nadi, CRT menurun, syanosisbagian distal, hematoma yang lebar, dan dingin pada ekstrimitas yang disbabkan oleh

    tindakan emergensi splinting, perubahan posisi pada yang sakit, tindakan reduksi, dan

    pembedahan. 19

    e. Infeksi

    Sistem pertahanan tubuh rusak bila ada trauma pada jaringan. Pada trauma orthopedic

    infeksi dimulai pada kulit (superficial) dan masuk ke dalam. Ini biasanya terjadi pada kasusfraktur terbuka, tapi bias juga karena penggunaan bahan lain dalam pembedahan seperti pin

    dan plat.

    f. Avaskuler nekrosis

    Avaskuler nekrosis (AVN) terjadi karena aliran darah ke tulang rusak atau terganggu yang

    bias menyebabkan nekrosis tulang dan di awali dengan adanya Volkmans Ischemia .

    2. Komplikasi dalam waktu lama atau lanjut fraktur antara lain: mal union, delayed union,

    dan non union.

    a. Malunion

    Malunion dalam suatu keadaan dimana tulang yang patah telah sembuh dalam posisi yang

    tidak seharusnya. Malunion merupakan penyembuhan tulang ditandai dengan meningkatnyatingkat kekuatan dan perubahan bentuk (deformitas). Malunion dilakukan dengan

    pembedahan dan reimobilisasi yang baik.

    b. Delayed UnionDelayed union adalah proses penyembuhan yang terus berjalan dengan kecepatan yang lebih

    lambat dari keadaan normal. Delayed union merupakankegagalan fraktur berkonsolidasi

    sesuai dengan waktu yang dibutuhkan tulang untuk menyambung. Ini disebabkan karena

    penurunan suplai darah ke tulang.

    c. Nonunion

    Nonunion merupakan kegagalan fraktur berkonsolidasi dan memproduksi sambungan yanglengkap, kuat, dan stabil setelah 6-9 bulan. Nonunion di tandai dengan adanya pergerakan

  • 8/10/2019 SK 3 muskulo

    25/26

    25

    yang berlebih pada sisi fraktur yang membentuk sendi palsu atau pseuardoarthrosis. Ini juga

    disebabkan karena aliran darah yang kurang.

    2.9 Prognosis

    Penderita fraktur collum femoris tanpa komplikasi bila mendapat tindakan fisioterapi sejak

    dini dan tepat maka kapasitas fisik dan kemampuun fungsional akan kembali normal (baik).

    Tetapi bisa menimbulkan keadaan yang buruk dari penyembuhan apabila terjadi komplikasiyang menyertai dan umumnya usia lanjut.

  • 8/10/2019 SK 3 muskulo

    26/26

    DAFTAR PUSTAKA

    Eroschenko, V. P. (2010).Atlas Histologi diFiore: dengan Korelasi Fungsional, Ed. 11. Jakarta:

    EGC.

    http://digilib.unimus.ac.id/files

    http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/135/jtptunimus-gdl-nurhidayah-6731-2-babii.pdf

    http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/22361/4/Chapter%20II.pdf

    Moore, K. L., Dalley, A. F., Agur, A. M. R. (2013). Clinically Oriented Anatomy, Ed.7.

    Lippincott Williams & Wilkins, a Wolters Kluwer business.

    Patel, P. R. (2007).Lecture Notes: Radiologi Ed.2. Jakarta: Penerbit Erlangga.

    Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G. Bare. 2001. Keperawatan Medikal Bedah 2, Edisi 8. Jakarta:

    EGC.

    Syamsir, H. M. (2014).Muskuloskeletal Gerak Tubuh Manusia. Jakarta: Universitas Yarsi.

    Tambayong. J. (2000).Patofisiologi untuk Keperawatan. Jakarta: EGC.