Transcript

BAB I PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Perilaku merupakan respons atau reaksi seseorang terhadap stimulus (rangsangan

dari luar), oleh karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus terhadap organisme, kemudian organisme tersebut merespons (Skinner, 1938 dalam Soekidjo Notoadmodjo, 2003 : 118). Perilaku yang optimal akan memberi dampak pada status kesehatan yang optimal juga. Perilaku yang optimal adalah seluruh pola kekuatan, kebiasaan pribadi atau masyarakat, baik secara sadar ataupun tidak yang mengarah kepada upaya pribadi atau masyarakat untuk menolong dirinya sendiri dari masalah kesehatan. Pola kelakuan atau kebiasaan yang berhubungan dengan tindakan promotif, preventif harus ada pada setiap pribadi atau masyarakat. Perilaku dapat dibatasi sebagai jiwa (berpendapat, berfikir, bersikap dan sebagainya) (Notoatmodjo,1999). Perilaku kesehatan (health behavior) yaitu hal-hal yang berkaitan dengan tindakan atau kegiatan seseorang dalam memelihara dan meningkatkan kesehatannya. Termasuk juga tindakan-tindakan untuk mencegah penyakit, kebersihan perorangan, dan sebagainya (Becker, 1979). Dalam lingkungan kesehatan, perilaku juga sangatlah penting, karena dapat berpengaruh terhadap penatalaksanaan kesehatan itu sendiri. Karena masih banyak masyarakat yang menganggap kesehatan itu tidaklah penting, sehingga mereka menganggap remeh kesehatan. Hal tersebut dikarenakan kurangnya pengetahuan dan pengalaman dari masyarakat akan kesehatan. Oleh karena itu beberapa cara perlu dilakukan agar masyarakat memahami bahwa kesehatan itu sangatlah penting bagi klehidupan. Oleh karena itu, dalam laporan ini kami membahas tentang Perilaku kesehatan beserta proses dan faktor faktor yang mempengaruhinya termasuk dari aspek sosial dan budaya. 1.2 Skenario Dokter gigi Salsabila bertugas di Puskesmas Maju Makmur yang sebagian besar masyarakatnya bekerja sebagai buruh pabrik perkebunan. Buruh tersebut bekerja mulai1

pagi sampai sore hari demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Masyarakat kurang memperhatikan kondisi kesehatannya. Jika ada penduduk yang sakit tidak dibawa ke Puskesmas melainkan diobati sendiri atau bahkan dibiarkan saja. Misalnya ada penduduk yang sakit gigi, mereka tidak berobat ke Puskesmas tapi diobati sendiri bahkan terkadang dibiarkan saja. Kebiasaan ini dilakukan turun temurun. Mereka berpendapat sakit gigi tidak berbahaya dan jauh dari kematian. Dokter gigi Salsabila ingin mengubah perilaku masyarakat di wilayah kerjanya. Jelaskan faktor faktor apa saja yang mempengaruhi perilaku kesehatan masyarakat dan bagaimana proses perubahan perilakunya ? 1.3 1. 2. 3. Rumusan Masalah Apa saja faktor faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan masyarakat ? Jelaskan proses perubahan perilaku kesehatan masyarakat ? Bagaimana cara perubahan perilaku yang disesuaikan dengan aspek sosial budaya ? 1.4 1. 2. 3. Tujuan Mengetahui faktor faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan masyarakat. Mengetahui proses perubahan perilaku kesehatan masyarakat. Mengetahui cara perubahan perilaku yang disesuaikan dengan aspek sosial budaya. 1.5 Mapping

PERILAKU PERILAKU KESEHATAN KESEHATAN FAKTOR FAKTOR FAKTOR FAKTOR PROSES PROSES PERUBAH PERUBAH AN AN CARA CARA PERUBAH PERUBAH AN AN

PERUBAHA PERUBAHA N N PERILAKU PERILAKUBAB II2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Pengertian perilaku kesehatan Perilaku kesehatan menurut Notoatmodjo (2005) adalah respon seseorang

terhadap stimulus atau objek yang berkaitan dengan sehat-sakit, penyakit dan faktorfaktor yang mempengaruhi sehat sakit (kesehatan) seperti lingkungan, makanan, minuman, dan pelayanan kesehatan. Perilaku kesehatan adalah semua aktivitas atau kegiatan seseorang baik yang dapat diamati maupun yang tidak dapat diamati, yang berkaitan dengan pemeliharaan dan peningkatan kesehatan. Pemeliharaan kesehatan ini mencakup mencegah atau melindungi diri dari penyakit dan masalah kesehatan lain, meningkatkan kesehatan dan mencari penyembuhan apabila sakit atau terkena masalah kesehatan. Menurut Sarafino (2006) perilaku kesehatan adalah setiap aktivitas individu yang dilakukan untuk mempertahankan atau meningkatkan kondisi kesehatan tanpa memperhatikan status kesehatan. Taylor (2003) mengatakan bahwa perilaku kesehatan adalah tindakan yang dilakukan individu untuk meningkatkan atau mempertahankan kondisi kesehatan mereka. Misalnya menggosok gigi dan diet sehat. Pengertian perilaku kesehatan dalam penelitian ini sesuai dengan pengertian yang dikemukakan oleh Taylor. Perilaku kesehatan adalah tindakan yang dilakukan individu untuk meningkatkan atau mempertahankan kondisi kesehatan. Menurut WHO, yang dikutip oleh Notoatmodjo (1993), perubahan perilaku dikelompokkan menjadi 3 (tiga), yaitu : 1. Perubahan alamiah (natural change), ialah perubahan yang dikarenakan perubahan pada lingkungan fisik, sosial, budaya ataupun ekonomi dimana dia hidup dan beraktifitas. 2. Perubahan terencana (planned change), ialah perubahan ini terjadi, karena memang direncanakan sendiri oleh subjek.3

3. Perubahan dari hal kesediaannya untuk berubah (readiness to change), ialah perubahan yang terjadi apabila terdapat suatu inovasi atau program-program baru, maka yang terjadi adalah sebagian orang cepat mengalami perubahan perilaku dan sebagian lagi lamban. Hal ini disebabkan setiap orang mempunyai kesediaan untuk berubah yang berbeda-beda. Tim ahli WHO (1984), menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang itu berperilaku ada empat alasan pokok, yaitu : 1. Pemikiran dan perasaan

Bentuk pemikiran dan perasaan ini adalah pengetahuan, kepercayaan, sikap dan lain-lain. 2. Orang penting sebagai referensi

Apabila seseorang itu penting bagi kita, maka apapun yang ia katakan dan lakukan cendrung untuk kita contoh. Orang inilah yang dianggap kelompok referensi seperti : guru, kepala suku dan lain-lain. 3. Sumber-sumber daya

Yang termasuk adalah fasilitas-fasilitas misalnya : waktu, uang, tenaga kerja, ketrampilan dan pelayanan. Pengaruh sumber daya terhadap perilaku dapat bersifat positif maupun negatif. 4. Kebudayaan

Perilaku normal, kebiasaan, nilai-nilai dan pengadaan sumber daya di dalam suatu masyarakat akan menghasilkan suatu pola hidup yang disebut kebudayaan. Perilaku yang normal adalah salah satu aspek dari kebudayaan dan selanjutnya kebudayaan mempunyai pengaruh yang dalam terhadap perilaku. Dari uraian tersebut diatas dapat dilihat bahwa, alasan seseorang berperilaku. Oleh sebab itu, perilaku yang sama diantara beberapa orang dapat berbeda-beda penyebab atau latar belakangnya. Tim ahli WHO (1984), menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang itu berperilaku ada empat alasan pokok, yaitu :4

1.

Pemikiran dan perasaan

Bentuk pemikiran dan perasaan ini adalah pengetahuan, kepercayaan, sikap dan lain-lain. 2. Orang penting sebagai referensi

Apabila seseorang itu penting bagi kita, maka apapun yang ia katakan dan lakukan cendrung untuk kita contoh. Orang inilah yang dianggap kelompok referensi seperti : guru, kepala suku dan lain-lain. 3. Sumber-sumber daya

Yang termasuk adalah fasilitas-fasilitas misalnya : waktu, uang, tenaga kerja, ketrampilan dan pelayanan. Pengaruh sumber daya terhadap perilaku dapat bersifat positif maupun negatif. 4. Kebudayaan

Perilaku normal, kebiasaan, nilai-nilai dan pengadaan sumber daya di dalam suatu masyarakat akan menghasilkan suatu pola hidup yang disebut kebudayaan. Perilaku yang normal adalah salah satu aspek dari kebudayaan dan selanjutnya kebudayaan mempunyai pengaruh yang dalam terhadap perilaku. Dari uraian tersebut diatas dapat dilihat bahwa, alasan seseorang berperilaku. Oleh sebab itu, perilaku yang sama diantara beberapa orang dapat berbeda-beda penyebab atau latar belakangnya. 2.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perilaku kesehatan (dalam Taylor 2003) antara lain: a. Faktor demografik Perilaku kesehatan berbeda berdasarkan pada faktor demografik. Individu yang masih muda, lebih makmur, memiliki tingkat pendidikan yang lebih baik dan berada dalam kondisi stress yang rendah dengan dukungan sosial yang tinggi memiliki perilaku sehat5

yang lebih baik dari pada orang yang memiliki resources yang lebih sedikit (Gottlieb & Green, 1984) b. Usia Perilaku kesehatan bervariasi berdasarkan usia. Secara tipikal perilaku kesehatan pada anak-anak dapat dikatakan baik, memburuk pada remaja dan orang dewasa, namun meningkat kembali pada orang yang lebih tua (Leventhal, dkk., 1985). c. Nilai Nilai-nilai sangat mempengaruhi kebiasaan perilaku sehat individu. Misalnya latihan bagi wanita sangat diinginkan bagi budaya tertentu tetapi tidak bagi budaya lain (Donovan, Jessor & Costa, 1991). d. Personal Control Persepsi bahwa kesehatan individu dibawah personal control juga menentukan perilaku sehat seseorang. Misalnya penelitian yang dilakukan pada Health locus of control scale (Wallstone, Wallstone & DeVellis, 1978) yang mengukur derajat sejauh mana persepsi individu dapat mengontrol kesehatan mereka. e. Pengaruh Sosial Pengaruh sosial juga dapat mempengaruhi perilaku sehat individu. Keluarga, teman, dan lingkungan kerja dapat mempengaruhi perilaku sehat (Broman, 1993; Lau, Quadrel & Hartman, 1990). f. Personal Goal Kebiasan perilaku sehat juga memiliki hubungan dengan tujuan personal (Eiser & Gentle, 1988). Jika tujuan menjadi atlet berprestasi merupakan tujuan yang penting, individu akan cenderung olah raga secara teratur dibandingkan jika hal itu bukan tujuan personal. g. Perceived Symptoms

6

Kebiasaan sehat dikontrol oleh perceived symptoms. Misalnya perokok mungkin mengontrol perilaku merokok mereka berdasarkan sensasi pada paru-paru mereka. h. Akses ke Health Care Delivery system Akses ke Health care juga mempengaruhi perilaku kesehatan. Menggunakan program screen tuberkolosis, pap smear yang teratur, mamogram, imunisasi, merupakan contoh perilaku kesehatan yang secara langsung berhubungan dengan health care system. i. Faktor kognisi Perilaku kesehatan memiliki hubungan dengan faktor kognisi, seperti keyakinan bahwa perilaku tertentu dapat mempengaruhi kesehatan.

BAB III PEMBAHASAN 3.1 Faktor Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Kesehatan Masyarakat Menurut L.W.Green, faktor penyebab masalah kesehatan adalah faktor perilaku dan faktor non perilaku. Faktor perilaku khususnya perilaku kesehatan dipengaruhi oleh 3 (tiga) faktor, yaitu :

7

1.

Faktor-faktor Predisposisi (Predisposing Factors)

Adalah faktor yang terwujud dalam kepercayaan, kayakinan, niali-nilai dan juga variasi demografi, seperti : status ekonomi, umur, jenis kelamin dan susunan keluarga. Faktor ini lebih bersifat dari dalam diri individu tersebut. 2. Faktor-faktor Pemungkin (Enambling Factors)

Adalah faktor pendukung yang terwujud dalam lingkungan fisik, termasuk di dalamnya adalah berbagai macam sarana dan prasarana, misal : dana, transportasi, fasilitas, kebijakan pemerintah dan lain sebagainya. 3. Faktor-faktor Pendukung (Reinforcing Factors)

Adalah faktor-faktor ini meliputi : faktor sikap dan perilaku tokoh masyarakat, tokoh agama, sikap dan perilaku petugas termasuk petugas kesehatan, undang-undang peraturan-peraturan baik dari pusat maupun pemerintah daerah yang terkait dengan kesehatan. Beberapa teori lain yang telah dicoba untuk mengungkapkan deteminan perilaku dari analisis faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku, khususnya perilaku yang berhubungan dengan kesehatan antar lain: 1. Teori Lawrence Green Gren mencoba menganalisis perilaku manusia dari tingkat kesehatan. Kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh 2 faktor pokok yaitu faktor perilaku (behavior causes) dan faktor di luar perilaku (non behavior causes). Selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor: a. Faktor-faktor predisposisi (predisposing factor), yang terwujud dalam pegetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya. b. Faktor-faktor pendukung (enabling faktor), yang terwujud dalam lingkungan fisik tersedia atau tidaknya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan misalnya puskesmas, obat-obatan, alat-alat kontrasepsi, jamban dan sebagainya.8

c. Faktor-faktor pendorong (reforcing factor) yang terwujud dalam sikap dan perilaku petugas kesehatan atau petugas yang lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku masyarakat. 2. Teori Snehandu B, Kar Kar mencoba menganalisis perilaku kesehatan dengan bertitik tolak pada perilaku itu merupakan fungsi dari: a. Niat seseorang untuk bertindak sehubungan dengan kesehatan atau perawatan kesehatanya (behavior intention) b. Duikungan sosial dari masyarakat sekitarnya (social support) c. Ada atau tidak adanya informasi tentang kesehatan atau fasilitas kesehatan (acesssebility of information) d. Otonom pribadi yang bersangkutan dalam hal ii mengambil tindakan atau keputusan (personal autonomy) e. Situasi yang emungkinkan untuk bertindak atau tidak bertindak (action situastion). 3. Teori WHO Tim kerja dari WHO menganalisis bahwa yang menyebabkan seseorang itu berprilaku tertentu adalah karena adanya 4 alasan pokok: Pemikiran dan perasaan (thought and feeling) yakni dalam bentuk pengetahuan, persepsi, sikap, kepercayaan-kepercayaan dan penilaian-penilaian seseorang terhadap objek. a. Pengetahuan Pengetahuan di peroleh dari pengalaman sendiri atau pengalaman orang lain. b. Kepercayaan Kepercayaan sering atau diperoleh dari orang tua, kakek atau nenek. Seseorang menerima kepercayaan itu berdasarkan keyakinan dan tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu.9

c. Sikap Sikap menggambarkan suka atau tidak suka terhadap objek sikap sering diperoleh dari pengalaman sendiri atau orang lain yang paling dekat. d. Orang penting sebagai referensi Perilaku orang, lebih-lebih perilaku anak kecil lebih banyak dipengaruhi oleh orangorang yang dianggap penting. e. Sumber-sumber daya (resources) Sumber daya disini mencakup fasilitas-fasilitas, uang, waktu, tenaga dan sebagainya. Semua itu berpengaruh terhadap perilku seseorang atau kelompok masyarakat. f. Perilaku normal, kebiasaan, nilai-nilai, dan penggunaan sumber-sumber di dalam suatu masyarakat akan menghasilkan suatu pola hidup (way of life) yang pada umumnya disebut kebudayaan. (Menurut Skinner) adalah suatu respon seseorang terhadap stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistem pelayana kesehatan, makanan dan minuman, serta lingkungan. perilaku kesehatan mencakup : 1. Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit baik pasif maupun aktif, sesuai dengan tingkat-tingkat pencegahan penyakit a. Health Promotion Behavior Peningkatan & pemeliharaan kesehatan misalnya Olah raga, diet, makan bergizi b. Health Preventive Behavior Mencegah penyakit misalnya Imunisasi, penyemprotan nyamuk

10

c. Health Seeking Behavior Mencari pengobatan misalnya ke dokter, ke dukun d. Health Rehabilitation Behavior Pemulihan kesehatan misalnya diet, mematuhi anjuran dokter 2. Perilaku terhadap sistem pelayanan kesehatan (modern/tradisional) meliputi respon terhadap pelayanan, petugas kesehatan, obat 3. Perilaku terhadap makanan (nutrition behavior) Respon terhadap makanan sebagai kebutuhan vital bagi kehidupan 4. Perilaku terhadap lingkungan kesehatan sespon terhadap lingkungan sebagai determinan kesehatan, mencakup: perilaku sehubungan dengan air bersih perilaku sehubungan dengan limbah perilaku sehubungan dengan rumah sehat Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi perilaku kesehatan (dalam Taylor, 2003) antara lain: a. Faktor demografik Perilaku kesehatan berbeda berdasarkan pada faktor demografik. Individu yang masih muda, lebih makmur, memiliki tingkat pendidikan yang lebih baik dan berada dalam kondisi stress yang rendah dengan dukungan sosial yang tinggi memiliki perilaku sehat yang lebih baik11

dari pada orang yang memiliki resources yang lebih sedikit (Gottlieb & Green, 1984) b. Usia Perilaku kesehatan bervariasi berdasarkan usia. Secara tipikal perilaku kesehatan pada anak-anak dapat dikatakan baik, memburuk pada remaja dan orang dewasa, namun meningkat kembali pada orang yang lebih tua (Leventhal, dkk., 1985). c. Nilai Nilai-nilai sangat mempengaruhi kebiasaan perilaku sehat individu. Misalnya latihan bagi wanita sangat diinginkan bagi budaya tertentu tetapi tidak bagi budaya lain (Donovan, Jessor & Costa, 1991). d. Personal Control Persepsi bahwa kesehatan individu dibawah personal control juga menentukan perilaku sehat seseorang. Misalnya penelitian yang dilakukan pada Health locus of control scale (Wallstone, Wallstone & DeVellis, 1978) yang mengukur derajat sejauh mana persepsi individu dapat mengontrol kesehatan mereka. e. Pengaruh Sosial Pengaruh sosial juga dapat mempengaruhi perilaku sehat individu. Keluarga, teman, dan lingkungan kerja dapat mempengaruhi perilaku sehat (Broman, 1993; Lau, Quadrel & Hartman, 1990). f. Personal Goal Kebiasan perilaku sehat juga memiliki hubungan dengan tujuan personal (Eiser & Gentle, 1988). Jika tujuan menjadi atlet berprestasi merupakan tujuan yang penting, individu akan cenderung olah raga secara teratur dibandingkan jika hal itu bukan tujuan personal.12

g. Perceived Symptoms Kebiasaan sehat dikontrol oleh perceived symptoms. Misalnya perokok mungkin mengontrol perilaku merokok mereka berdasarkan sensasi pada paru-paru mereka. h. Akses ke Health Care Delivery system Akses ke Health care juga mempengaruhi perilaku kesehatan.

Menggunakan program screen tuberkolosis, pap smear yang teratur, mamogram, imunisasi, merupakan contoh perilaku kesehatan yang secara langsung berhubungan dengan health care system. i. Faktor kognisi Perilaku kesehatan memiliki hubungan dengan faktor kognisi, seperti keyakinanbahwa perilaku tertentu dapat mempengaruhi kesehatan. Variabel Perilaku Kesehatan Robert Kwick (2001) Menyatakan bahwa perilaku adalah tindakan atau perbuatan suatu organisme dan bahkan dapat dipelajari.Menurut ensiklopedia Amerika perilaku diartikan sebagai suatu reaksi dan aksi organisme terhadap lingkungannya. Perilaku manusia mempunyai pengaruh terhadap status kesehatan individu, kelompok kaum masyarakat. Perilaku itu sendiri adalah suatu yang kompleks, merupakan resultante dari berbagai macam aspek internal maupun eksternal, fsikologis maupun fisik. Oleh karena demikian kompleksnya sehingga diperlukan pemahaman dan analisis yang mendalam. Becker (1998) mengajukan klasifikasi perilaku yang berhubungan dengan kesehatan (health related behavior) sebagai berikut : a. Perilaku kesehatan (health behavior), yaitu hal-hal yang berkaitan dengan tindakan atau kegiatan seseorang dalam memelihara dalam meningkatkan kesehatannya.

13

b. Perilaku sakit (illness behavior), yaitu segala kegiatan atau tindakan yang dilakukan oleh seseorang individu yang merasa sakit, untuk merasakan dan mengenal keadaan kesehatannya atau rasa sakit. c. Perilaku peran sakit (the sick role behavior), yakni segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan oleh individu yang sedang sakit, untuk memperoleh kesembuhan. Menurut Lawrence Green (1980) prilaku kesehatan dipengaruhi oleh 3 faktor, yaitu : a. Faktor predisposisi (predisposing factor), yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap, kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya dari seseorang. b. Faktor-faktor pendukung (enabling factor) yang terwujud dalam linkungan fisik (tersedia atau tidaknya fasilitas kesehatan). c. Faktor-faktor pendorong (reinforcing factor) yang terwujud dalam sikap dari petugas kesehatan. Biasanya seseorang tidak mau berobat ke Puskesmas atau Rumah Sakit atau sarana pelayanan kesehatan lainnya karena tidak tahu peranan sarana-sarana tersebut terhadap penyembuhan penyakit (factor predisposisi). Barangkali juga sarana-sarana tersebut jauh dari tempat tinggalnya (factor pendukung), mungkin juga ia tidak suka terrhadap petugas Puskesmas atau Rumah Sakit yang sikap dan perilakunya tidak dapat diterima (factor pendorong). Domain Perilaku Kesehatan 1. Pengetahuan Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah orang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu, menyaksikan, mengalami atau diajar sangat menentukan terjadinya pengetahuan pada seseorang. Pengetahuan atau kognitif merupakan dominan atau bagian yang sangat penting atau terjadinya tindakan seseorang (over behavior) sedangkan kedalaman pengetahuan dalam domain Cognitive dapat diketahui melalui tindakan cognitive yang mereka miliki mulai tindakan cognitive pertama (C1) yaitu tindakan pengetahuan yang paling rendah, dalam hal ini seseorang hanya mampu menyebut istilah-istilah saja berdasarkan apa yang telah dipelajari atau didengarnya, sampai pada tingkat C6 atau domain cognitive enam yaitu tingkatan pengetahuan yang paling tinggi dalam hal ini seseorang tidak hanya mampu menyebut14

istilah-istilah saja tetapi sudah mampu melakukan analisis dan penilaian terhadap apa yang diketahuinya. Perilaku yang didasari oleh pengetahuan akan lebih langgeng dari pada perilaku yang tidak didasari oleh pengetahuan. Penelitian Rogers (1997) mengungkapkan bahwa sebelum mengadopsi perilaku baru (berprilaku baru), didalam diri orang tersebut terjadi proses yang berurutan, yakni : a. Awareness (kesadaran), dimana orang tersebut menyadari dalam arti mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus (objek). b. Interest (merasa tertarik) terhadap stimulus atau objek tersebut. Disini sikap suatu objek sudah mulai timbul. c. Evaluation (menimbang-nimbang) terhadap baik dan tidaknya stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini bearti sikap responden sudah lebih baik lagi. d. Trial, dimana subjek mulai mencoba melakukan sesuatu sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh stimulus. e. Adaption, dimana subjek telah berprilaku baru sesuai dengan pengetahuan, kesadaran, dan sikapnya terhadap stimulus. Pengetahuan menurut Bloom merupakan bagian dari cognitive domain yaitu bagaimana terjadinya proses menjadi tahu, yang terdiri dari 6 (enam) tingkatan penerimaan suatu inovasi yaitu : a. Tahu (know) Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya . termasuk ke dalam pengetahuan tingkat ini adalah mengingat kembali (recall) terhadap suatu yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau ransangan yang telah diterima. b. Memahami (comprehension) Memahami diartikan sebagai suatu kemampuan menjelaskan secara benar tentang objek yang diketahui, dan dapat menginterpretasi materi tersebut secara benar. Orang yang15

paham terhadap objek dan materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan, meramalkan, dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari. c. Aplikasi (Aplication) Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi rill (sebenarnya). Aplikasi disini, dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hokum-hukum, rumus, metode, prinsip, dan sebagainya dalam konteks atau situasi yang lain. d. Analisis (Analysis) Analisis adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi suetu objek kedalam komponen-komponen, tetapi masih di dalam struktur organisasi tersebut, dan masih ada kaitannya satu sama lain. Kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja : dapat menggambarkan, membedakan, memisahkan, mengelompokkan, dan sebagainya. e. Sintesis (Synthesis) Sintesis menunjuk kepada suatu kemampuan untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian didalam suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintetis itu suatu kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi yang ada. f. Evaluasi (Evaluation) Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. 2. Sikap Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup dari seseorang terhadap suatu stimulasi atau objek. Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan manifestasi sikap itu tidak dapat dilihat tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari perilaku yang tertutup. Sikap secara nyata menunujukkan konotasi adanya kesesuaian reaksi terhadap stimulus tertentu yang dalam kehidupan sehari-hari merupakan reaksi yang bersifat emosional terhadap stimulus sosial. Newcomb dalam Soekidjo (2003), salah seorang ahli16

psikologi sosial menyatakan bahwa sikap itu merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu. Sikap merupakan kesiapan untuk bereaksi terhadap objek di lingkungan tertentu sebagai penghayatan terhadap objek. Ciri-ciri sikap adalah sebagai berikut : 1. Sikap seseorang tidak dibawa sejak lahir melainkan dibentuk atau dipelajari sepanjang perkembangan orang tersebut. 2. Sikap tidak berdiri sendiri melainkan senantiasa mengandung relasi terhadap suatu objek. Dengan kata lain sikap terbentuk, dipelajari atau berubah senantiasa berkenaan suatu objek tertentu yang dapat dirumuskan dengan jelas. 3. Sikap dapat berubah-ubah oleh karena itu dipelajari oleh sebagian orangtua sebaliknya. 4. Objek sikap dapat merupakan satu hal tertentu tetapi dapat juga merupakan kumpulan dari hal-hal tersebut. Jadi sikap dapat berkenaan dengan satu objek saja tetapi juga berkenaan dengan sederetan objek-objek yang serupa. 5. Sikap mempunyai segi-segi motivasi dan segi-segi perasaan. Sifat inilah yang membedakan sikap dengan kecakapan-kecakapan atau pengetahuan-pengetahuan yang dimilki seseorang (Soekidjo, 2003). Komponen Pokok Sikap Dalam bagian lain Allport (1945) yang dikutip oleh Nurasiyah (2007), menjelaskan bahwa sikap itu mempunyai 3 komponen pokok yakni; kepercayaan (keyakinan), ide dan konsep terhadap suatu objek; kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek; kecendrungan untuk bertindak ( trend to behave ). Ketiga komponen ini secara bersamasama membentuk sikap yang utuh (total attitude). Dalam penentuan sikap yang utuh ini, pengetahuan, berpikir, keyakinan, dan emosi memegang peranan penting (Soekidjo, 2003). Selanjutnya ciri-ciri sikap menurut WHO adalah : 1. Sikap akan terwujud di dalam suatu tindakan tergantung pada situasi saat itu. 2. Sikap akan ikut atau tidak diikuti oleh tindakan yang mengacu pada pengalaman orang lain.17

3. Sikap akan diikuti atau tidak diikuti oleh suatu tindakan berdasarkan pada banyak atau sedikitnya pada pengalaman seseorang. 4. Didalam suatu masyarakat apapun selalu berlaku nilai-nilai yang menjadi peggangan setiap orang dalam menyelenggarakan hidup bermasyarakat. Tingkatan Sikap Sebagai halnya dengan pengetahuan sikap ini terdiri dari bebagai tingkatan yakni : 1. Menerima (receiving), diartikan bahwa orang atau subjek mau dan memperhatikan stimulus yang diberikan obyek. 2. Merespon (responding), memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan dan menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi dari sikap ini, karena dengan suatu usaha untuk menjawab suatu pertanyaan atau mengerjakan tugas yang diberikan terlepas pekerjaan itu benar atau salah adalah bahwa orang menerima ide tersebut. 3. Menghargai (valuing), mengajak orng lain untuk mengerjakan atau mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap tingkat ini. 4. Bertanggung jawab (responsible), betanggung jawab atas segala sesuatuyang telah dipilihnya dengan segala resiko adalah merupakan sikap yang paling tinggi dalam tingkatan sikap (Soekidjo, 2003). Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden terhadap suatu objek. Perubahan Sikap Theory of Reasoned Action (TRA) pertama kali diperkenalkan pada tahun 1967 untuk melihat hubungan keyakinan, sikap, niat dan perilaku. Fishbein, 1967 mengembangkan TRA ini dengan sebuah usaha untuk melihat perubahan hubungan sikap dan perilaku (Glanz, 2002). Faktor yang paling penting dalam seseorang berperilaku adalah adanya niat. Niat akan ditentukan oleh sikap seseorang. Kemudian sikap ditentukan oleh keyakinan seseorang akibat dari tindakan yang akan dilakukan. Diukur dengan evaluasi terhadap masing-masing akibat. Jadi, seseorang yang memiliki keyakinan yang kuat akan18

akibat dari tindakan yang dilakukan secara positif akan menghasilkan sikap yang positif pula. Sebaliknya jika seseorang tidak yakin akan akibat dari perilaku yang dilakukan dengan positif akan menghasilkan sikap yang negatif (Glanz, 2002). Niat seseorang untuk berperilaku juga dapat dipengaruhi oleh norma individu dan motivasi untuk mengikuti. Norma individu dapat dipengaruhi oleh norma-norma atau kepercayaan dimasyarakat. 3. Tindakan Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan (overt behaviour). Untuk terwujudnya sikap agar menjadi suatu perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah fasilitas. Disamping faktor fasilitas juga diperlukan faktor dukungan (support) dari pihakpihak lain (Soekidjo, 2003). Selanjutnya tingkat-tingkat tindakan secara teoritas adalah: 1. Persepsi (perception), mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil adalah merupakan praktik tingkat pertama. 2. Respon terpimpin (guided respons), dalam melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar, sesuai dengan contoh adalah merupakan praktik indikator tingkat dua. 3. Mekanisme (mechanism), apabila seseorng telah dapat melakukan sesuatu dengan benar maka secara otomatis, atau sesutau itu sudah merupakan kebiasaan, maka ia sudah mencapai praktik tingkat ketiga. 4. Adaptasi (adaptation), merupakan suatu tindakan yang sudah berkembang baik, artinya tindakan ini sudah dimodifikasinya tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut. Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara tidak langsung yakni dengan mewawancarai terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari, atau bulan yang lalu (recall). Pengukuran juga dapat dilakukan secara langsung, yakni dengan mengobservasi tindakakan atau kegiatan responden (Soekidjo,2003). Teori Perubahan Perilaku Banyak teori-teori yang berkaitan dengan perubahan perilaku seseorang dalam keseharian. Diantaranya menurut teori Anderson dalam Muzaham (1995) yang dikutip

19

oleh Ari (2009). yaitu ada tiga faktor yang mempengaruhi penggunaan pelayanan kesehatan : 1. Mudahny menggunakan fasilitas pelayanan kesehatan (karakteristik predisposisi) 2. Adanya faktor-faktor yang menjamin terhadap pelayanan kesehatan yang ada (karakteristik pendukung) 3. Adanya kebutuhan pelayanan kesehatan (karakteristik kebutuhan) Indikator Pencapaian Perilaku Kesehatan 1 . Pengetahuan Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subjek penelitian atau responden. Indikator-indikator yang dapat digunakan untuk mengetahui tingkat pengetahuan terhadap kesehatan dapat dikelompokkan menjadi: a. Pengetahuan tentang sakit dan penyakit yang meliputi: - penyebab penyakit - gejala atau tanda-tanda peyakit - bagaimana cara pengobatan atau kemana mencari pengobatan - bagaimana cara penularannya - bagaimana cara pencegahannya. b. Pengetahuan tentang cara pemeliharaan kesehatan dan cara hidup sehat, meliputi: - jenis-jenis makanan yang bergizi - manfaat makan yang bergizi bagi kesehatannya - pentingnya olahraga bagi kesehatan20

- penyakit-penyakit atau bahaya-bahaya merokok dan narkoba - pentingnya istirahat cukup, relaksasi, rekreasi, dan sebagainya. c. Pengetahuan tentang kesehatan lingkungan meliputi: - Manfaat air bersih - Cara-cara pembuangan limbah yang sehat, termasuk pembuangan kotoran yang sehat dan sampah. - Manfaat pencahayaan dan penerangan rumah yang sehat. - Akibat polusi (polusi air, udara, dan tanah) bagi kesehatan 2. Sikap Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung dan tak langsung. Secara langsung dan tidak langsung. Secara langsung dapat ditanyakan bagaimana pendapat atau pernyataan responden terhadap suatu objek. Misalnya: Bagaimana pendapat Anda tentang pelayanan dokter di Rumah Sakit Cipto? Secara tidak langsung dapat dilakukan dengan pernyataan- pernyataan hipotesis, kemudian ditanyakan pendapat responden. Misalnya, apabila rumah ibu luas, apakah boleh dipakai untuk kegiatan posyandu? Indikator untuk sikap kesehatan yakni: a. sikap terhadap sakit dan penyakit Adalah bagaimana penilaian atau pendapat seseoarang terhadap gejala atau tanda-tanda penyakit, pencegahan penyakit b. sikap cara pemeliharaan dan cara hidup sehat Adalah penilaian atau pendapat seseorang terhadap cara-cara memelihara dan cara-cara (berperilaku) hidup sehat. c. Sikap terhadap kesehatan lingkungan21

penyebab penyakit,

cara penularan penyakit,

cara

Adalah pendapat atau penilaian seseorang terhadap lingkungan dan pengaruhnya terhadap kesehatan. Misalnya pendapat atau penilaian terhadap air bersih, pembuagan limbah, polusi. 3. Praktek atau tindakan Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara tidak langsung yakni dengan wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah dilakukan beberapa jam, hari, atau bulan yang lalu (recall). Pengukuran juga dapat dilakukan secara langsung yakni dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden. Indikator praktek kesehatan meliputi a.T indakan (praktek) sehubungan dengan penyakit tindakan ini mencakup: pencegahan penyakit (mengimunisasikan anaknya, melakukan pengurasan bak mandi semnggu sekali), penyembuhan penyakit (minum obat sesuai petunjuk dokter, melakukan anjuran-anjuran dokter). b.T indakan (praktek) pemeliharaan dan peningkatan kesehatan T indakan ini mencakup: mengkonsumsi makan dengan gizi seimbang,

melakukan olah raga secara teratur, tidak merokok. c.T indakan (praktek) kesehatan lingkungan Perilaku ini mencakup membuang air besar di jamban (WC), membuang sampah di tempat sampah, dan menggunakan air bersih untuk mandi.

3.2

Proses Perubahan Perilaku Kesehatan Masyarakat Hal yang penting dalam perilaku kesehatan adalah masalah pembentukan dan

perubahan perilaku. Karena perubahan perilaku merupakan tujuan pendidikan atau penyuluhan kesehatan sebagai penunjang program-program kesehatan yang lainnya. Banyak teori tentang perubahan perilaku ini, antara lain akan diuraikan dibawah.

22

1. Teori Stimulus-Organisme-Respons (SOR) Teori ini mendasarkan asumsi bahwa penyebab terjadinya perubahan perilaku tergantung kepada kualitas rangsang (stimulus) yang berkomunikasi dengan organisme. Artinya kualitas dari sumber komunikasi (sources) misalnya kredibilitas, kepemimpinan, gaya berbicara sangat menentukan keberhasilan perubahan perilaku seseorang, kelompok atau masyarakat. Hosland, et al (1953) mengatakan bahwa proses perubahan perilaku pada hakekatnya sama dengan proses belajar. Proses perubahan perilaku tersebut menggambarkan proses belajar pada individu yang terdiri dari : a. Stimulus (rangsang) yang diberikan pada organisme dapat diterima atau ditolak. Apabila stimulus tersebut tidak diterima atau ditolak berarti stimulus itu tidak efektif mempengaruhi perhatian individu dan berhenti disini. Tetapi bila stimulus diterima oleh organisme berarti ada perhatian dari individu dan stimulus tersebut efektif. b. Apabila stimulus telah mendapat perhatian dari organisme (diterima) maka ia mengerti stimulus ini dan dilanjutkan kepada proses berikutnya. c. Setelah itu organisme mengolah stimulus tersebut sehingga terjadi kesediaan untuk bertindak demi stimulus yang telah diterimanya (bersikap). d. Akhirnya dengan dukungan fasilitas serta dorongan dari lingkungan maka stimulus tersebut mempunyai efek tindakan dari individu tersebut (perubahan perilaku). Selanjutnya teori ini mengatakan bahwa perilaku dapat berubah hanya apabila stimulus (rangsang) yang diberikan benar-benar melebihi dari stimulus semula. Stimulus yang dapat melebihi stimulus semula ini berarti stimulus yang diberikan harus dapat meyakinkan organisme. Dalam meyakinkan organisme ini, faktor reinforcement memegang peranan penting. 2. Teori Festinger (Dissonance Theory) Finger (1957) ini telah banyak pengaruhnya dalam psikologi sosial. Teori ini sebenarnya sama dengan konsep imbalance (tidak seimbang). Hal ini berarti bahwa23

keadaan cognitive dissonance merupakan keadaan ketidakseimbangan psikologis yang diliputi oleh ketegangan diri yang berusaha untuk mencapai keseimbangan kembali. Apabila terjadi keseimbangan dalam diri individu maka berarti sudah tidak terjadi ketegangan diri lagi dan keadaan ini disebut consonance (keseimbangan). Dissonance (ketidakseimbangan) terjadi karena dalam diri individu terdapat 2 elemen kognisi yang saling bertentangan. Yang dimaksud elemen kognisi adalah pengetahuan, pendapat, atau keyakinan. Apabila individu menghadapi suatu stimulus atau objek dan stimulus tersebut menimbulkan pendapat atau keyakinan yang berbeda / bertentangan didalam diri individu sendiri maka terjadilah dissonance. Sherwood dan Borrou merumuskan dissonance itu sebagai berikut : Pentingnya stimulus x jumlah kognitif dissonance Dissonance = -------------------------------------------------------Pentingnya stimulus x jumlah kognitif consonance Rumus ini menjelaskan bahwa ketidakseimbangan dalam diri seseorang yang akan menyebabkan perubahan perilaku terjadi disebabkan karena adanya perbedaan jumlah elemen kognitif yang seimbang dengan jumlah elemen kognitif yang tidak seimbang serta sama-sama pentingnya. Hal ini akan menimbulkan konflik pada diri individu tersebut. Contoh : Seorang ibu rumah tangga yang bekerja di kantor. Di satu pihak, dengan bekerja ia dapat tambahan pendapatan bagi keluarganya yang akhirnya dapat memenuhi kebutuhan bagi keluarga dan anak-anaknya, termasuk kebutuhan makanan yang bergizi. Apabila ia tidak bekerja, jelas tidak dapat memenuhi kebutuhan pokok keluarga. Di pihak yang lain, apabila ia bekerja, ia kuatir terhadap perawatan terhadap anak-anaknya akan menimbulkan masalah. Kedua elemen (argumentasi) ini sama-sama pentingnya, yakni rasa tanggung jawabnya sebagai ibu rumah tangga yang baik. Titik berat dari penyelesaian konflik ini adalah penyesuaian diri secara kognitif. Dengan penyesuaian diri ini maka akan terjadi keseimbangan kembali. Keberhasilan

24

tercapainya keseimbangan kembali ini menunjukkan adanya perubahan sikap dan akhirnya akan terjadi perubahan perilaku. 3. Teori Fungsi Teori ini berdasarkan anggapan bahwa perubahan perilaku individu itu tergantung kepada kebutuhan. Hal ini berarti bahwa stimulus yang dapat mengakibatkan perubahan perilaku seseorang apabila stimulus tersebut dapat dimengerti dalam konteks kebutuhan orang tersebut. Menurut Katz (1960) perilaku dilatarbelakangi oleh kebutuhan individu yang bersangkutan. Katz berasumsi bahwa : a. Perilaku itu memiliki fungsi instrumental, artinya dapat berfungsi dan memberikan pelayanan terhadap kebutuhan. Seseorang dapat bertindak (berperilaku) positif terhadap objek demi pemenuhan kebutuhannya. Sebaliknya bila objek tidak dapat memenuhi memenuhi kebutuhannya maka ia akan berperilaku negatif. Misalnya orang mau membuat jamban apabila jamban tersebut benar-benar menjadi kebutuhannya. b. Perilaku dapat berfungsi sebagai defence mecanism atau sebagai pertahanan diri dalam menghadapi lingkungannya. Artinya dengan perilakunya, dengan tindakantindakannya, manusia dapat melindungi ancaman-ancaman yang datang dari luar. Misalnya orang dapat menghindari penyakit demam berdarah karena penyakit tersebut merupakan ancaman bagi dirinya. c. Perilaku berfungsi sebagai penerima objek dan memberikan arti. Dalam peranannya dengan tindakannya itu, seseorang senantiasa menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dengan tindakan sehari-hari tersebut seseorang telah melakukan keputusan-keputusan sehubungan dengan objek atau stimulus yang dihadapi. Pengambilan keputusan yang mengakibatkan tindakan-tindakan tersebut dilakukan secara spontan dan dalam waktu yang singkat. Misalnya bila seseorang merasa sakit kepala maka secara cepat tanpa berpikir lama ia akan bertindak untuk mengatasi rasa sakit tersebut dengan membeli obat di warung dan meminumnya, atau tindakantindakan lain.

25

d. Perilaku berfungsi sebagai nilai ekspresif dari diri seseorang dalam menjawab suatu situasi. Nilai ekspresif ini berasal dari konsep diri seseorang dan merupakan pencerminan dari hati sanubari. Oleh sebab itu perilaku itu dapat merupakan "layar" dimana segala ungkapan diri orang dapat dilihat. Misalnya orang yang sedang marah, senang, gusar, dan sebagainya dapat dilihat dari perilaku atau tindakannya. Teori ini berkeyakinan bahwa perilaku itu mempunyai fungsi untuk menghadapi dunia luar individu dan senantiasa menyesuaikan diri dengan lingkungannya menurut kebutuhannya. Oleh sebab itu didalam kehidupan manusia, perilaku itu tampak terusmenerus dan berubah secara relatif. 4. Teori Kurt Lewin Kurt Lewin (1970) berpendapat bahwa perilaku manusia adalah suatu keadaan yang seimbang antara kekuatan-kekuatan pendorong (driving forces) dan kekuatankekuatan penahan (restrining forces). Perilaku ini dapat berubah apabila terjadi ketidakseimbangan antara kedua kekuatan tersebut didalam diri seseorang. Sehingga ada 3 kemungkinan terjadinya perubahan perilaku pada diri seseorang itu, yakni : a. Kekuatan-kekuatan pendorong meningkat. Hal ini terjadi karena adanya stimulusstimulus yang mendorong untuk terjadinya perubahan-perubahan perilaku. Stimulus ini berupa penyuluhan-penyuluhan atau informasi-informasi sehubungan dengan perilaku yang bersangkutan. Misalnya seseorang yang belum ikut KB (ada keseimbangan antara pentingnya anak sedikit dengan kepercayaan banyak anak banyak rezeki) dapat berubah perilakunya (ikut KB) kalau kekuatan pendorong yakni pentingnya ber-KB dinaikkan dengan penyuluhan-penyuluhan atau usaha-usaha lain. Kekuatan Pendorong - Meningkat Perilaku Semula -----------------------------------------> Perilaku Baru Kekuatan Penahan

26

b. Kekuatan-kekuatan penahan menurun. Hal ini akan terjadi karena adanya stimulusstimulus yang memperlemah kekuatan penahan tersebut. Misalnya contoh tersebubt diatas, dengan memberikan pengertian kepada orang tersebut bahwa anak banyak rezeki, banyak adalah kepercayaan yang salah maka kekuatan penahan tersebut melemah dan akan terjadi perubahan perilaku pada orang tersebut. Kekuatan Pendorong Perilaku Semula -----------------------------------------> Perilaku Baru Kekuatan Penahan - Menurun c. Kekuatan pendorong meningkat, kekuatan penahan menurun. Dengan keadaan semacam ini jelas juga akan terjadi perubahan perilaku. Seperti contoh diatas, penyuluhan KB yang berisikan memberikan pengertian terhadap orang tersebut tentang pentingnya ber-KB dan tidak benarnya kepercayaan anak banyak, rezeki banyak, akan meningkatkan kekuatan pendorong dan sekaligus menurunkan kekuatan penahan. Kekuatan Pendorong - Meningkat Perilaku Semula -----------------------------------------> Perilaku Baru Kekuatan Penahan - Menurun Perubahan Perilaku Jika kita menemukan cara untuk mencari manfaat dari kesehatan terhadap kepekaaan dan perilaku yang responsif dan penyesuaian gaya hidup yang kondusif pada kesehatan, di profesi kita kesehatan harus menemukan arti yang paling efektif dari perluasan manfaat kesehatan untuk semua. Prochaska dan DiClemente membantu dengan pengidetifikasian 4 tahap proses pembentukan perubahan perilaku kesehatan : 1. Prekontemplasi (dimana orang yang tidak tertarik dan tidak berpikir untuk berubah)

27

2.

Kontemplasi/perenungan (dimana pertimbangan serius diberikan untuk mengubah perilaku)

3. 4.

Tindakan (6 bulan setelah dilakukan usaha untuk mengubah perilaku) Pemeliharaan (masa dari 6 bulan setelah perubahan perilaku dilakukan dan permasalahan perilaku diperbaiki) Pada model tahap perubahan sangat berguna ketika rancangan intervensi promosi

kesehatan untuk target populasi yang spesifik. Ini menguatkan para praktisi untuk menggunakan strategi yang paling efektif untuk menimbulkan dan menyokong perubahan perilaku, tergantung tahap mana mereka berada. Berdasarkan Prochaska, mayoritas promosi kesehatan/program pencegahan penyakit dirancang untuk komunitas skala kecil (minoritas) pada tahap tindakan. Dia memperkirakan di antara orang-orang tersebut yang perokok pada tahun 1985 hampir 70% tidak siap pada tahap tindakan. Pada 1986 tahapannya adalah sbb : 1. 2. 3. Prekontemplasi 35% Kontemplasi 34% a. Siap untuk tindakan 15% b. Tindakan 12% 4. Pemeliharaan 4% Dalam perencanaan, implementasi dan evaluasi program promosi kesehatan, praktisi seharusnya mengetahui hal-hal tentang tahapan adopsi dan kurva difusi. Ini secara umum menerima 6 tipe individu/grup yang menganggap adopsi sebagai inovasi. Individu ini dari inovator hingga adopter lambat yang berada pada level ujung pada kurva lonceng., dengan adopter awal, mayoritas awal, mayoritas akhir dan adopter akhir berada di antara 2-tails pada kurva lonceng.

28

Ini juga penting bagi praktisi untuk mengetahui 5 tahap dari adopsi : kesadaran, ketertarikan, ujicoba, keputusan dan adopsi inovator, adopter awal, mayoritas awal, dan mayoritas akhir. Proses perubahan perilaku menurut teori Deffusion of innovation: 1. Knowledge (pengetahuan) Terjadi bila individu ataupun suatu unit perbuatan keputusan lainnya) diekspos terhadap eksitensi inovasi dan memperoleh pemahamannya. 2. Persuasian (Persuasi) Terjadi bila suatu individu (ataupun suatu unit keputusan lainnya) suatu sikap mendukung atau tidak mendukung terhadap inovasi 3. Decision (Keputusan) Terjadi bila individu(atau unit pembuat keputusan lainnya) terlibat dalam berbagai aktifitas yang mengarah kepada pilihan untuk menerapkan dan menolak inovasi 4 Implementation (implementasi) Terjadi bila individu (atau unit keputusan lainnya menggunakan inovasi

3.3

Cara Perubahan Perilaku yang Disesuaikan dengan Aspek Sosial Budaya

Upaya Perubahan Perilaku Kesehatan Beberapa strategi untuk memperoleh perubahan perilaku bisa dikelompokkan menjadi tiga: 1. Menggunakan kekuatan / kekuasaan atau dorongan

29

Dalam hal ini perubahan perilaku dipaksakan kepada sasaran sehingga ia mau melakukan perilaku yang diharapkan. Misalnya dengan peraturan peraturan / undang undang yang harus dipatuhi oleh masyarakat. Cara ini menyebabkan perubahan yang cepat akan tetapi biasanya tidak berlangsung lama karena perubahan terjadi bukan berdasarkan kesadaran sendiri. Sebagai contoh adanya perubahan di masyarakat untuk menata rumahnya dengan membuat pagar rumah pada saat akan ada lomba desa tetapi begitu lomba / penilaian selesai banyak pagar yang kurang terawat. 2. Pemberian informasi Adanya informasi tentang cara mencapai hidup sehat, pemeliharaan kesehatan , cara menghindari penyakit dan sebagainya akan meningkatkan pengetahuan masyarakat. Selanjutnya diharapkan pengetahuan tadi menimbulkan kesadaran masyarakat yang pada akhirnya akan menyebabkan orang berperilaku sesuai pengetahuan yang dimilikinya. Perubahan semacam ini akan memakan waktu lama tapi perubahan yang dicapai akan bersifat lebih langgeng. 3. Diskusi partisipatif Cara ini merupakan pengembangan dari cara kedua dimana penyampaian informasi kesehatan bukan hanya searah tetapi dilakukan secara partisipatif. Hal ini berarti bahwa masyarakat bukan hanya penerima yang pasif tapi juga ikut aktif berpartisipasi di dalam diskusi tentang informasi yang diterimanya. Cara ini memakan waktu yang lebih lama dibanding cara kedua ataupun pertama akan tetapi pengetahuan kesehatan sebagai dasar perilaku akan lebih mantap dan mendalam sehingga perilaku mereka juga akan lebih mantap. Apapun cara yang dilakukan harus jelas bahwa perubahan perilaku akan terjadi ketika ada partisipasi sukarela dari masyarakat, pemaksaan, propaganda politis yang mengancam akan tidak banyak berguna untuk mewujutkan perubahan yang langgeng. 4. Persuasi Dapat dilakukan dengan persuasi melalui pesan, diskusi dan argumentasi. Melalui pesan seperti jangan makan babi karna bisa menimbukkan penyakit H1N1. Melalui diskusi30

seperti diskusi tentang abortus yang membahayakan jika digunakan untuk alasan yang tidak baik 5. Fasilitasi Strategi ini dengan penyediaan sarana dan prasarana yang mendukung. Dengan penyediaan sarana dan prasarana ini akan meningkatkan Knowledge (pengetahuan) Untuk melakukan strategi ini mmeerlukan beberapa proses yakni kesediaan, identifikasi dan internalisasi. Ketika ada rangsangan yang dipengaruhi oleh pengetahuan dan keyakinan akan menimbulkan aksi dan kemudian hal itu menjadikan perbahan perilaku. 6. Education : - Perubahan perilaku dilakukan melalui proses pembelajaran, mulai dari pemberian informasi atau penyuluhan-penyuluhan. - Menghasilkan perubahan perilaku yang langgeng, tetapi makan waktu lama. Contoh Kasus: Sebuah keluarga miskin tinggal di desa Putat jaya Surabaya. Sudah sejak kemarin anaknya yang ketiga berumur 1 tahun sakit. Gejalanya adalah: panas, tidak mau makan, napasnya cepat, dan sesak napas. Pertanyaan: - Kemungkinan tindakan (perilaku) apa saja yang akan diambil oleh orang tua bayi tersebut, dan apa alasan setiap kemungkinan tindakan tersebut? - Apabila keluarga tersebut membawa anaknya ke Rumah Sakit, faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi keputusan (tindakan) tersebut? Pengaruh Budaya Terhadap Perilaku Kesehatan Menurut G . M Foster (1 9 7 3), yang dikutip oleh Notoatmodjo (2005), aspek budaya31

yang mempengaruhi status dan perilaku kesehatan, meliputi: 1 .T radisi Ada beberapa tradisi dalam masyarakat yang dapat menghasilkan pengaruh negative terhadap kesehatan masyarakat, seperti di New G uinea, yaitu terjadi penyebaran wabah penyakit kuru. Penyakit kuru ini menyerang susunan saraf otak yang disebabkan oleh virus. Penyakit ini menyerang wanita dan anak- anak. Hal ini disebabkan karena adanya tradisi kanibalisme, yaitu tradisi memenggal kepala orang dan memberikannya kepada wanita dan anak- anak untuk dimakan. 2. Nilai Nilai berpengaruh terhadap perilaku kesehatan. Nilai tersebut ada yang menunjang dan adapula yang merugikan kesehatan.Beras putih dinilai memiliki kandungan dan khasiat yang lebih tinggi daripada beras merah. Hal ini dikarenakan adanya kepercayaan bahwa warna putih pada beras berarti suci. Padahal apabila diteliti lebih lanjut, beras merah memiliki kandungan yang lebih tinggi daripada beras putih. Beras merah mengandung lebih banyak vitamin B1 daripada beras putih. 3. Sikap fatalism Beberapa anggota masyarakat di kalangan kelompok yang beragama islam memiliki kepercayaan bahwa anak adalah titipan Tuhan dan sakit atau mati adalah takdir dariT uhan yang tidak dapat dicegah atau ditahan. Hal ini menyebabkan kurangnya usaha mencari pertolongan apabila anak mereka sedang dilanda sakit. 4. Sikap enthocentrism Sikap enthocentrism merupakan sifat yang menganggap kebudayaan sendiri jauh lebih baik daripada kebudayaan yang lainnya, bahkan menganggap kebudayaan sendiri merupakan kebudayaan yang terbaik. Sehingga tidak mau menerima pendapat atau kebudayaan baru. T idak mau menerima peradaban baru sehingga pengetahuan tentang kesehatan yang lebih baik tidak dimengerti.32

Syarat terjadinya perubahan perilaku berdasarkan aspek budaya: 1. Masyarakat membutuhkan perubahan. 2. Perubahan dapat dipahami dan dikuasai masyarakat. 3. Perubahan dapat diajarkan. 4. Perubahan tidak merusak prestise pribadi/kelompok. Cara perubahan perilaku berdasarkan aspek budaya: 1. Menghindari sikap ethnocentrism (memberi penilaian tertentu terhadap kebudayaan yang dipelajari). 2. Tidak menyadari kebudayaan lain, kecuali memasuki masyarakat tersebut. 3. Menyadari adanya variasi kemudahan perubahan yang berbeda pada tiap unsur kebudayaan (sistem religi, organisasi masyarakat, pengetahuan, bahasa, kesenian, mata pencaharian, teknologi dan peralatan). 4. Menyadari bahwa setiap unsur kebudayaan saling berkaitan. Aspek Sosial yang Mempengaruhi Kesehatan a.l Umur :

misal penyakit infeksi v.s penyakit degeneratif Jenis kelamin

Misal kanker payudara Pekerjaan

Pekerja tambang v.s petani Sosial ekonomi33

BAB IV PENUTUP4.1 KESIMPULAN34

Dari penjelasan yang telah diberikan, diperoleh beberapa kesimpulan, antara lain:1. Terdapat beberapa teori tentang faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan

masyarakat. Teori-teori tersebut antara lain : teori Lawrence Green, teori Snehandu B. Kar, dan teori WHO. Selain teori-teori tersebut, menurut Taylor (2003), terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi perilaku kesehatan masyarakat, seperti faktor demografik, usia, nilai, personal control, pengaruh sosial, personal goal, perceived symptoms, akses ke Health Care Delivery system, dan faktor kognisi. Perilaku kesehatan dibagi menjadi beberapa wilayah yang disebut domain. Domain terdiri dari pengetahuan, sikap, dan tindakan.2. Proses perubahan perilaku terbagi menjadi beberapa teori,

antara lain: teori Stimulus-Organisme-Respon (terjadinya perubahan perilaku tergantung kualitas stimulus yang diterima organisme), teori Festinger (perubahan perilaku terjadi akibat adanya konflik pada diri individu akibat adanya perbedaan elemen kognitif diri sehingga dengan menuntut elemen individu tersebut yang menyesuaikan kognitif tersebut

berujung dengan terjadinya perubahan perilaku), teori Fungsi (perubahan terjadi berdasarkan kebutuhan. Apabila stimulus yang diperoleh sesuai dengan kebutuhan maka dapat terjadi perubahan perilaku), teori Kurt-Lewin (perubahan perilaku terjadi akibat dan adanya ketidakseimbangan penahan), antara kekuatan of pendorong kekuatan teori Deffusion

innovation (terdiri dari knowledge, persuasi, decision, dan implementasi).3. Aspek sosial budaya mempunyai pengaruh dalam melakukan

perubahan perilaku kesehatan masyarakat. Dari aspek sosial, yang berpengaruh antara lain usia, jenis kelamin, pekerjaan, dan sosial ekonomi. Dari aspek budaya, perubahan dapat tejadi apabila masyarakat tersebut membutuhkan terjadinya perubahan, perubahan dipahami dan dikuasai masyarakat, perubahan dapat diajarkan, dan perubahan tidak merusak35

prestise pribadi/kelompok. Perubahan perilaku dapat dilakukan dengan cara menggunakan kekuatan/kekuasaan atau dorongan, pemberian informasi, diskusi partisipatif, persuasi, fasilitasi, dan education.

4.2 SARAN Setiap orang memiliki perbedaan perilaku kesehatan, yang kemudian

menghasilkan kebiasaan yang berbeda pula. Merupakan suatu kewajiban bagi seseorang yang menekuni bidang kesehatan untuk memperhatikan perilaku kesehatan masyarakat sekitar, yang kemudian ditindak lanjuti baik dengan cara mempertahankan kebiasaan baik tersebut, atau mengubah suatu kebiasan buruk tersebut menjadi perilaku/kebiasaan yang benar. Dalam melakukan perubahan perilaku, banyak kendala yang dihadapi. Oleh karena itu faktor-faktor, proses, dan aspek yang mempengaruhi perubahan perilaku sangat perlu untuk dipahami agar tujuan dalam mengubah perilaku kesehatan yang salah menjadi benar dapat tercapai.

36

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, Azrul, DR. MPH. Administrasi Kesehatan ; JakartaBina Rupa Aksara, 1988Maidin, Alimin,dr.MPH, Perencanaan dan Evaluasi Kesehatan Herijuliani, Eliza. 2002.Pendidi kan Kesehatan Gigi. Jakarta: EG C. Notoadmodjo, Soekidjo. 2003.Prinsip-prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cetakan ke-2. Jakarta: Bineka Cipta. Notoatmodjo, Soekidjo. 2006. PrinsipPrinsip Dasar Ilmu Kesehatan

Masyarakat. Jakarta : Rineka Cipta Notoatmodjo, Soekidjo. 2007 . Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta : Rineka Cipta. Suprihatina, dkk.2004. Ilmu Kesehatan Masyarakat. Jakarta. Albarracn, Dolores, Blair T. Johnson, & Mark P. Zanna. The Handbook of Attitude. Routledge, 2005. Hlm. 74-78 Sarwono, solita. 1993. Beberapa konsep beserta apliksainya. Maulana, heri D.J. 2009. Promosi Kesehatan, Jakarta : Buku Kedokteran EGC. Wawan, A & M, Dewi . 2010. Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Manusia, Yogyakarta : Nuha Medika. Manra, I.B. 1997. Strategi Penyuluhan Kesehatan, Jakarta : Departemen Kesehatan RI. Notoatmodjo, soekidjo. 2010. Ilmu Perilaku Kesehatan, Jakarta : Rineka Cipta.37

Bahan kuliah blok 1 modul 2. 2010. Komunikasi dan empati.

38