Transcript
  • 8/13/2019 Mandiri Skenario 2 MPT (Autosaved)

    1/15

    LI.1. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN HIPERSENSITIVITASLO.1.1. DEFINISI

    Alergi atau hipersensitivitas adalah kegagalan kekebalan tubuh di mana tubuh seseorang menjadi

    hipersensitif dalam bereaksi secara imunologi terhadap bahan-bahan yang umumnya nonimunogenik.

    Dengan kata lain, tubuh manusia bereaksi berlebihan terhadap lingkungan atau bahan-bahan yang oleh

    tubuh dianggap asing atau berbahaya.

    LO.1.2. KLASIFIKASI Menurut waktu:1. Reaksi Cepat

    Waktu terjadi: beberapa detik sampai 2 jam

    Terjadi ikatan silang antara alergen dan IgE pada permukaan sel mast yang

    menyebabkan pelepasan mediator vasoaktif.

    Manifestasi berupa: Anafilaksis sistemik/ local

    Contohnya: asma, pilek-bersin, urtikaria, eksim

    2. Reaksi IntermedietWaktu terjadi: beberapa jam sampai 24 jam

    Melibatkan pembentukan kompleks imun IgG & kerusakan jaringan melalui aktivasi

    komplemen atau sel NK / ADCC.

    Masifestasi berupa: Reaksi transfusi darah, eritroblastosis fetalis & anemia hemol it ik

    autoimun. Reaksi Arthuslokal & reaksi sistemik seperti: serum sickness, vaskulitis

    nekrotis, glomerulo nefritis, arthritis rheumatoid & LER.

    3. ReaksiLambatWaktu terjadi: sampai sekitar 48 jam.

    Sel T melepas sitokin dan mengaktifkan makrofag sehingga menimbulkan kerusakan

    jaringan.

    Contoh: Dermatitis kontak, reaksi M. tuberculosis & reaksi penolakan graft

    Menurut mekanisme:Berdasarkan Coombs & Gell (1963)Ada 4 tipe:

    1.Tipe I: Anaphylactic hypersensitivity (Hipersensitivitas immidiate)

    2.Tipe II: Antibody dependent cytotoxic hypersensitivity (Hipersensitivitas sitotoksik)

  • 8/13/2019 Mandiri Skenario 2 MPT (Autosaved)

    2/15

    3.Tipe III: Immunne complex mediated hypersensitivity (Hipersensitivitas imun kompleks)

    4.Tipe IV: Cell mediated hypersensitivity (Delayed Type Hipersensitivity)

    LI.2. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN HIPERSENSITIVITAS TIPE I LO.2.1. MEKANISME

  • 8/13/2019 Mandiri Skenario 2 MPT (Autosaved)

    3/15

    Mekanisme terjadinya reaksi hipersensitivitas tipe I mulanya antigen masuk ke tubuh dan merangsang sel B untuk

    membentuk IgE dengan bantuan sel Th. IgE diikat oleh sel mast atau basofil melalui reseptor Fc. Apabila tubuh

    terpajan ulang dengan antigen yang sama, maka antigen tersebut akan diikat oleh IgE yang sudah ada pada

    permukaan sel mast atau basofil. Akibat ikatan tersebut, sel mast atau basofil mengalami degranulasi dan melepas

    mediator (Karnen, 2006).

    Urutan kejadian reaksi tipe I adalah sebagai berikut:

    Fase sensitasi, yaitu waktu yang dibutuhkan untuk pembentukan IgE sampai diikatnya oleh reseptor spesifik pada

    permukaan sel mast atau basofil.

    Fase aktivasi, yaitu waktu yang diperlukan antara pajanan ulang dengan antigen yang spesifik dan sel mast

    melepas isinya yang berisikan granul yang menimbulkan reaksi.

    Fase efektor, yaitu waktu terjadi respon yang kompleks sebagai efek mediator-mediator yang dilepas sel mast

    dengan aktivitas farmakologik.

    Manifestasi Klinis: - Reaksi local : Rhinitis alergi, Asma, Dermatitis atopi.

    - Reaksi sistemik-anafilaksis: Bronkokonstriksi berat & hipotensi hingga kematian.- Reaksi pseudoalergi/ anaf ilak toid : Syok, Urtikaria: alergen-IgE pada sel mast dikulit,

    Bronkospasme, Anafilaksis, Pruritus.

    Alergi Pseudoalergi

    (anafilaktoid)

    Perlu sensitasi Tidak perlu sensitasi

    Reaksi setelah pajanan

    berulang

    Reaksi pada pajanan

    pertama

    Jarang (5%)

    Gejala Klinis khas Gejala tidak khas

    Dosis pemicu kecil Tergantung dosis

    Ada kemungkinan

    riwayat keluarga

    Tidak ada riwayat

    keluarga

    LO.2.2. PREFORMED MEDIATORMediator ini dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu mediator yang sudah ada dalam granula sel mast

    (preformed mediator)dan mediator yang terbentuk kemudian (newly formed mediator). Menurut asalnya

    mediator ini juga dapat dibagi dalam dua kelompok, yaitu mediator dari sel mast atau basofil (mediator primer),

    dan mediator dari sel lain akibat stimulasi oleh mediator primer (mediator sekunder).

    1. HistaminManifestasi klinis pada berbagai organ tubuh bervariasi. Pada hidung timbul rasa gatal,

    hipersekresi dan tersumbat. Histamin yang diberikan secara inhalasi dapat menimbulkan kontraksi otot

    polos bronkus yang menyebabkan bronkokonstriksi. Gejala kulit adalah reaksi gatal berupa wheal and

  • 8/13/2019 Mandiri Skenario 2 MPT (Autosaved)

    4/15

    flare,dan pada saluran cerna adalah hipersekresi asam lambung, kejang usus, dan diare. Histamin

    mempunyai peran kecil pada asma, karena itu antihistamin hanya dapat mencegah sebagian gejala alergi

    pada mata, hidung dan kulit, tetapi tidak pada bronkus.

    Kadar histamin yang meninggi dalam plasma dapat menimbulkan gejala sistemik berat

    (anafilaksis). Histamin mempunyai peranan penting pada reaksi fase awal setelah kontak dengan alergen

    (terutama pada mata, hidung dan kulit). Pada reaksi fase lambat, histamin membantu timbulnya reaksiinflamasi dengan cara memudahkan migrasi imunoglobulin dan sel peradangan ke jaringan. Fungsi ini

    mungkin bermanfaat pada keadaan infeksi. Fungsi histamin dalam keadaan normal saat ini belum banyak

    diketahui kecuali fungsi pada sekresi lambung. Diduga histamin mempunyai peran dalam regulasi tonus

    mikrovaskular. Melalui reseptor H2 diperkirakan histamin juga mempunyai efek modulasi respons

    beberapa sel termasuk limfosit.

    Setelah dibebaskan, histamin dengan cepat dipecah secara enzimatik serta berada

    dalam jumlah kecil dalam cairan jaringan dan plasma. Kadar normal dalam plasma adalah kurang

    dari 1 ng/L akan tetapi dapat meningkat sampai 1-2 ng/L setelah uji provokasi dengan

    allergen.

    2. Faktor kemotaktik eosinofil-anafilaksis (ECF-A)Mediator ini mempunyai efek mengumpulkan dan menahan eosinofil di tempat reaksi

    radang yang diperan oleh IgE (alergi). ECF-A merupakan tetrapeptida yang sudah terbentuk dan

    tersedia dalam granulasi sel mast dan akan segera dibebaskan pada waktu degranulasi.

    3. Faktor kemotaktik neutrofil (NCF)NCF (neutrophylchemotactic factor)dapat ditemukan pada supernatan fragmen paru manusia

    setelah provokasi dengan alergen tertentu. Keadaan ini terjadi dalam beberapa menit dalam sirkulasi

    penderita asma setelah provokasi inhalasi dengan alergen atau setelah timbulnya urtikaria fisik (dingin,

    panas atau sinar matahari). Mediator tersebut berperan pada reaksi hipersensitivitas tipe I fase lambat

    yang akan menyebabkan banyaknya neutrofil di tempat reaksi.

    4. PAF ( Platelet Activating Factor )PAF dihasilkan oleh sel mast,makrofag, eosinofil dan netrofil. PAF juga bersifat

    kemoatraktan terhadap sel penghasilnya yaitu eosinofil dan netrofil, serta meningkatkan

    degranulasi sel mast.Diberi nama PAF karena kemampuannya dalam mengaktifkan trombosit

    (membentuk mikrotrombus). Bila diinjeksikan ke kulit PAF menimbulkan wheal and flare

    response yang disertai dengan infiltrasi lekosit. Inhalasi PAF akan menimbulkan bronkokonstriksi

    akut, infiltrasi eosinofil dan mengakibatkan keadaan hiperaktivitas bronkus nonspesifik yang

    dapat berlangsung beberapa hari atau minggu. Pada pemberian intravena dapat menimbulkan

    spasme otot polos ileum, aktivasi netrofil, trombosit dan basofil, dapat juga terjadi hipotensi

    dan kolaps vaskular.

    LI.3. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN HIPERSENSITIVITAS TIPE 2LO.3.1. MEKANISMETerjadinya reaksi hipersensitivitas tipe-2 ini sangat erat kaitannya dengan adanya suatu proses

    penanggulangan munculnya sel klon baru. adanya sel klon baru tersebut dapat ditemukan pada :1. sel tumor

    2. sel terinfeksi virus

    3. sel yang terinduksi mutagen

  • 8/13/2019 Mandiri Skenario 2 MPT (Autosaved)

    5/15

    Yang selanjutnya dikenal dengan sebutan sel target.

    Sel target ini adalah suatu sel karena adanya faktor lingkungan sel tersebut mengalami

    perubahan dna (kecacatan-dna ). oleh karena itu sel tersebut harus diperbaiki ( dna repair) atau

    dimusnahkan melalui mekanisme imunologik. karena sel yang mengalami kecacatan DNA bila tidak

    dimusnahkan oleh sistem imun tubuh, maka sel tersebut akan berkembang menjadi klon baru yang

    selanjutnya dapat menimbulkan suatu gangguan ( penyakit ).Hipersensitivitas ini terjadi karena dibentuk antibodi jenis IgG atau IgM terhadap antigen yang

    merupakan bagian sel pejamu. Antibodi tersebut dapat mengaktifkan sel yang memiliki reseptor Fc-R. Sel

    NK dapat berperan sebagai sel efektor dan menimbulkan kerusakan melalui ADCC. (Karnen, 2006).

    Karakteristik hipersensitivitas tipe II ialah pengrusakan sel dengan mengikat antibodi yang spesifik pada

    permukaan sel. Kerusakan sel yang terjadi utamanya bukan merupakan hasil pengikatan antibodi, ini

    tergantung pada bantuan limfosit lainnya atau makrofag atau pada sistem komplemen.

    Mekanisme kerusakan jaringan :

    - Fagositosis sel melalui proses apsonik adherence atau immune adherence

    - Proses sitolisis oleh C1q menempel pada kompleks imun lalu C3 menjadi aktif dan komplemen C5b-C9

    yang melisis sel target

    - Proses sitolisis oleh sel efektor yang menjadi reseptor dengan bantuan komplemen

    LO.3.2. MANIFESTASI Reaksi transfusi, sel darah merah dari seorang donor yang tidak sesuai dirusak setelah diikat oleh

    antibodi resipien yang diarahkan untuk melawan antigen darah donor. Reaksi dapat cepat atau

    lambat. Reaksi cepatbiasanya disebabkan oleh inkompatibilitas golongan darah ABO yang dipacu

    oleh IgM. Antibodi golongan ini menimbulkan aglutinasi, aktivasi komplemen, dan hemolisis

    intravaskular. Dalam beberapa jam hemoglobin bebas dapat ditemukan dalam plasma dan di

    saring melalui ginjal (hemoglobinuria). Beberapa hemoglobin diubah menjadi bilirubin yang pada

  • 8/13/2019 Mandiri Skenario 2 MPT (Autosaved)

    6/15

    kadar tinggi dapat bersifat toksik. Gejala khasnya dapat berupa demam, menggigil, nausea,

    demam, nyeri pinggang dan hemoglubinuria.

    Hemolytic Diseases of the Newborn (HDN) akibat ketidaksesuaian faktor Rhesus (Rhesus

    Incompatibility) dimana anti-D IgG yang berasal dari ibu menembus plasenta masuk ke dalam

    sirkulasi darah janin dan melapisi permukaan eritrosit janin kemudian mencetuskan reaksi

    hipersensitivitas tipe II. HDN terjadi apabila seorang ibu Rh- mempunyai janin Rh+. Sensitisasi

    pada ibu umumnya terjadi pada saat persalinan pertama, karena itu HDN umumnya tidak timbul

    pada bayi pertama. Baru pada kehamilan berikutnya limfosit ibu akan membentuk anti-D IgG

    yang dapat menembus plasenta dan mengadakan interaksi dengan faktor Rh pada permukaan

    eritrosit janin (eritroblastosis fetalis).

    Anemia hemolitik autoimun, agranulositosis, atau trombositopenia yang disebabkan oleh

    antibodi yang dihasilkan oleh seorang individu yang menghasilkan antibodi terhadap sel darah

    merahnya sendiri.

    Reaksi obat, antibodi diarahkan untuk melawan obat tertentu (atau metabolitnya) yang

    secara nonspesifik diabsorpsi pada permukaan sel (contohnya adalah hemolisis yang dapat

    terjadi setelah pemberian penisilin).

    LI.4. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN HIPERSENSITIVITAS TIPE 3LO.4.1. MEKANISME

    Disebut juga reaksi kompleks imun. Terjadi bila kompleks antigen-antibodi ditemukan dalam

    sirkulasi atau dinding pembuluh darah atau jaringan dan mengaktifkan komplemen. Antibodi yang

    berperan biasanya jenis IgM atau IgG. Kompleks imun akan mengaktifkan sejumlah komponen sistem

  • 8/13/2019 Mandiri Skenario 2 MPT (Autosaved)

    7/15

    imun. Komplemen yang diaktifkan melepas anafilaktosis yang memacu sel mast dan basofil melepas

    histamin.

    Mediator lainnya dan MCF mengerahkan polimorf yang melepas enzim proteolitik dan protein

    polikationik. Komplemen juga menimbulkan agregasi trombosit yang membentuk mikrotombi dan

    melepas amin vasoaktif, selain itu komplemen mengaktifkan makrofag yang melepas IL-1 dan produk

    lainnya.

    Bahan vasoaktif yang dibentuk sel mast dan trombosit menimbulkan vasodilatasi, peningkatanpermeabilitas vaskular, dan inflamasi. Neutrofil ditarik dan mengeliminasi kompleks. Bila neutrofil

    terkepung di jaringan akan sulit untuk memakan kompleks dan akan melepas granulnya. Kejadian ini

    menimbulkan banyak kerusakan jaringan. Makrofag yang dikerahkan ke tempat tersebut melepas

    berbagai mediator, antara lain enzim-enzim yang dapat merusak jaringan sekitarnya.

    Antigen-Ab membentuk kompleks imun lalu dibuang ke RES, namun ada yang bertahan & ada

    yang mengendap.

    1. Mengendap di Pembuluh DarahIgM, IgG3 / IgA diendapkan di membran basal vascular & membran basal ginjal yang menyebabkan

    inflamasi local & luas.

    Menimbulkan: Agregasi trombosit, Aktivasi makrofag dan sel mast, Perubahan permeabilitas

    vascular, Produksi & pelepasan mediator inflamasi& bahan kemotaktik serta influks neutrofil akibat

    kerusakan jaringan setempat.

    2. Mengendap di JaringanUkuran kompleks imun yang kecil & permeabilitas vascular yang meninggi karena histamine yang

    dilepaskan sel mast.

    LO.4.2. MANIFESTASI Reaksi Arthus (bentuk lokal)

    Serum kuda disuntikkan ke dalam kelinci intradermal berulang kali dengan reaksi yang makin

    hebat ditempat suntikan.

    2-4 jam setelah suntikan: eritema ringan & edema, menghilang esok harinya Suntikanberikutnya: edema lebih besar Suntikan ke 5-6 : pendarahan & nekrosis yang sulit sembuh Dapat terjadi di: dinding bronkus / alveoli vaskulitis Menimbulkan reaksi asma lambat (7-8 jam setelah inhalasi antigen) Penyakit Serum Injeksi serum asing antigen dibersihkan dari sirkulasi produksi Ab antigen-Ab: kompleks

    imun beredar/ diendapkan.

    Beberapa hari-2 minggu: demam, urtikaria, artralgia,limfadenopati, splenomegali Gejala meningkat: antigen dibuang melalui system imun Gejala mereda: antigen telah habis Digolongkan dalam reaksi segera, karena: gejalanya muncul dengan cepat setelah terbentuknya

    kompleks imun.

    LI.5. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN HIPERSENSITIVITAS TIPE 4LO.5.1. MEKANISMETerjadi setelah 12 jam. Hipersensitivitas tipe ini dibagi dalam Delayed Type Hypersensitivity yang terjadi

    melalui sel CD4 dan T Cell Mediated Cytolysis yang terjadi melalui sel CD8.

    Delayed Type Hipersensitivity (DTH)

  • 8/13/2019 Mandiri Skenario 2 MPT (Autosaved)

    8/15

    Pada DTH, sel CD4 Th1 mengaktifkan makrofag yang berperan sebagai sel efektor. CD4 Th1 melepas sitokin yang

    mengaktifkan makrofag dan menginduksi inflamasi. Pada DTH, kerusakan jaringan disebabkan oleh produk

    makrofag yang diaktifkan seperti enzim hidrolitik, oksigen reaktif intermediat, oksida nitrat, dan sitokin

    proinflamasi. DTH dapat juga terjadi sebagai respon terhadap bahan yang tidak berbahaya dalam lingkungan

    seperti nikel yang menimbulkan dermatitis kontak. Pada keadaan yang paling menguntungkan DTH berakhir

    dengan hancurnya mikroorganisme oleh enzim lisosom dan produk makrofag lainnya seperti peroksid radikal dan

    superoksid. DTH dapat merupakan reaksi fisiologik terhadap patogen yang sulit disingkirkan misalnya M.

    Tuberkulosis.

    T Cell Mediated CytolysisDalam T Cell Mediated Cytolysis, kerusakan terjadi melalui sel CD8 yang langsung membunuh sel sasaran. Penyakit

    yang ditimbulkan hipersensitivitas selular cenderung terbatas kepada beberapa organ saja dan biasanya tidak

    sistemik.

    Fase pada respon tipe IV1. Fase Sensitasi

    1-2 minggu setelah kontak primer dengan antigen. Th diaktifkan oleh APC melalui MHC II. Berbagai APC (

    sel langerhans dan makrofag) menangkap antigen yang membawanya ke kelenjar limfoid regional untuk

    dipresentasikan sel T. Sel T yang di aktifkan umumnya sel CD4+ terutama Th, tetapi pada beberapa hal sel

    CD8+ dapat pula di aktifkan . Pajanan dengan antigen menginduksi sel efektor.

    2. Fase Efektor

    Sel Th1 melepas berbagai sitokin yang mengerahkan dan mengaktifkan makrofag dan sel inflamasi non

    spesifik lain. Makrofag merupakan efektor utama respon DTH. Sitokin yang di lepas sel Th1 menginduksimonosit menempel ke endotel vaskular dan bermigrasi dari sirkulasi darah ke jaringan sekitar.

  • 8/13/2019 Mandiri Skenario 2 MPT (Autosaved)

    9/15

    LO.5.2. MANIFESTASIManifestasi klinis reaksi alergi tipe IV dapat berupa reaksi paru akut seperti demam, sesak, batuk,

    infiltrat paru, dan efusi pleura. Obat yang tersering menyebabkan reaksi ini yaitu nitrofurantoin, Nefritis

    interstisial, ensefalomielitis, dan hepatitis juga dapat merupakan manifestasi reaksi alergi obat. Namun

    demikian dermatitis merupakan manifestasi yang paling sering. Kadang-kadang gejala baru timbul

    bertahun-tahun setelah sensitisasi.

    1. Dermatitis kontakAdalah penyakit CD4+ yang dapat terjadi akibat kontak melalui sel Th 1 dengan

    bahan tidak berbahaya, merupakan contoh reaksi DTH. Kontak dengan bahan seperti

    formaldehid dan nikel.

    2. Hipersensitivitas tuberkulinAdalah bentuk alergi bacterial spesifik terhadap produk filtrat biakan M. tuberculosis yang

    bila di suntikkan ke kulit akan menimbulkan reaksi lambat tipe 4. Yang berperan dalam sel ini adalah

    sel limfosit CD4+ T.

    3. Reaksi jones moteAdalah reaksi hipersensitivitas tipe 4 terhadap antigen protein yang berhubungan dengan

    infiltrasi basofil mencolok di kulit, di bawah dermis. Reaksi ini lemah dan Nampak beberapa hari

    setelah pajanan dengan protein dalam jumlah kecil, serta tidak terjadi nekrosis dan reaksi dapat

    diinduksi dengan suntikan antigen larut seperti ovalbumin.

    4. Penyakit Dalam T cell mediated cytolysis, kerusakan terjadi melalui sel yang langsung membunuh

    sel sasaran. Penyakit yang ditimbulkan hipersensitivitas selular cenderung terbatas kepadabeberapa organ saja dan biasanya tidak sistemik. Sel yang spesifik untuk antigen atau sel

    autologus dapat membunuh sel dengan langsung.LI.6. MEMAHAMI DAN MENJELASKAN ANTI HISTAMINKORTIKOSTEROID

    LO.6.1. DEFINISIAntihistamin adalah zat-zat yang dapat mengurangi atau menghalangi efek histamin terhadap tubuh

    dengan jalan memblok reseptorhistamin (penghambatan saingan). Histamin adalah suatu alkaloid yang disimpan

    di dalam sel mast, dan menimbulkan berbagai proses faalan dan patologik. Histamin pada manusia adalah

    mediator penting untuk reaksi-reaksi alergi yang segera dan reaksi inflamasi, mempunyai peranan penting pada

    sekresi asam lambung, dan berfungsi sebagai neurotransmitter dan modulator.

    Kortikosteroid adalah suatu kelompok hormon steroid yang dihasilkan di bagiankorteks kelenjar adrenal

    sebagai tanggapan atas hormon adrenokortikotropik (ACTH)yang dilepaskan oleh kelenjar hipofisis, atau atas

    angiotensin II.

  • 8/13/2019 Mandiri Skenario 2 MPT (Autosaved)

    10/15

    LO.6.2. FARMAKOKINETIK FARMAKODINAMIKFarmakokinetik

    Anti histaminSetelah pemberian oral atau parenteral, antihistamin H1diabsorpsi secara baik.Pemberian

    antihistamin H1secara oral efeknya timbul 15-30 menit dan maksimal setelah 1-2 jam, mencapai

    konsentrasi puncak plasma rata-rata dalam 2 jam. Ikatan dengan protein plasma berkisar antara 78-99%.

    Kadar tertinggi terdapat pada paru-paru sedangkan pada limpa, ginjal, otak, otot, dan kulit kadarnya lebih

    rendah. Sebagian besar antihistamin H1dimetabolisme melalui hepatic microsomal mixed-function

    oxygenase system, tetapi dapat juga melalui paru-paru dan ginjal. Konsentrasi plasma yang relatif rendah

    setelah pemberian dosis tunggal menunjukkan kemungkinan terjadi efek lintas pertama oleh hati.

    Antihistamin H1dieksresi melalui urin setelah 24 jam, terutama dalam bentuk metabolitnya.

    Waktu paruh antihistamin H1sangat bervariasi. Klorfeniramin memiliki waktu paruh cukup

    panjang sekitar 24 jam, sedang akrivastin hanya 2 jam. Waktu paruh metabolit aktif juga sangat berbeda

    jauh dengan obat induknya, seperti astemizole1,1 hari sementara metabolit aktifnya,

    N-

    desmethylastemizole, memiliki waktu paruh 9,5 hari. Hal inilah yang mungkin menjelaskan kenapa efekantihistamin H1rata-rata masih eksis meski kadarnya dalam darah sudah tidak terdeteksi lagi. Waktu

    paruh beberapa antihistamin H1menjadi lebih pendek pada anak dan jadi lebih panjang pada orang tua,

    pasien disfungsi hati, dan pasien yang menerima ketokonazol, eritromisin, atau penghambat microsomal

    oxygenaselainnya.

    KortikosteroidKortikosteroid dibagi menjadi 2 kelompok berdasarkan atas aktivitas biologis yang menonjol darinya,

    yakni:

    1. Glukokortikoid (contohnya kortisol) yang berperan mengendalikan metabolisme karbohidrat, lemak,

    dan protein, juga bersifat anti inflamasi dengan cara menghambat pelepasan fosfolipid, serta dapat pula

    menurunkan kinerja eosinofil.

    2. Mineralokortikoid (contohnya aldosteron), yang berfungsi mengatur kadar elektrolit dan air, dengan

    cara penahanan garam di ginjal.

    Kortisol dan analog sintetiknya pada pemberian oral diabsorpsi cukup baik. Untuk mencapai

    kadar tinggi dengan cepat dalam cairan tubuh, ester kortisol dan derivate sintetiknya diberikan secara IV.

    Untuk mendapatkan efek yang lama kortisol dan ester diberikan secara IM. Perubhan struktur kimia

    sangat mempengaruhi kecepatan absorpsi, mula kerja dan lama kerja karena juga mempengaruhi afinitas

    terhadap reseptor, dan ikatan protein.

    Glukokortikoid dapat diabsorpsi melalui kulit, sakus konjungtiva dan ruang synovial. Penggunaan

    jangka panjang atau pada daerah kulit yang luas dapat menyebabkan efek sistemik, antara lain supresi

    korteks adrenal.

    Pada kejadian normal, 90% kortisol terikat pada dua jenis protein plasma yaitu globulin pengikat

    kortikosteroid dan albumin. Afinitas globulin tinggi tetapi kapasitas ikatnya rendah, sebaliknya afinitas

    albumin rendah tetapi kapasitas ikatnya relatif tinggi. Karena itu pada kadar rendah atau normal, sebagian

  • 8/13/2019 Mandiri Skenario 2 MPT (Autosaved)

    11/15

    besar kortikosteroid terikat globulin. Bila kadar kortikosteroid meningkat jumlah hormone yang terikat

    albumin dan bebas juga meningkat , sedangkan yang terikat globulin sedikit mengalami perubahan.

    Kortikosteroid berkompetisi sesamanya untuk berikatan denga globulin pengikat kortikosteroi; kortisol

    mempunyai afinitas tinggi sedangkan metabolit yang terkonyugasi dengan asam glukuronad dan

    aldosteron afinitasnya rendah.

    Kehamilan atau penggunaan estrogen dapat meningkatkan kadar globulin pengikat

    kortikosteroid, kortisol plasma total dan kortisol bebas sampai beberapa kali. Telah diketahui bahwa hal

    ini tidak terlalu bermakna terhadap fungsi tubuh.

    Biotransformasi steroid terjadi didalam dan diluar hati. Metabolitnya merupakan senyawa

    inaktif atau berpotensi rendah. Semua kortikosteroid yang aktif memiliki ikatan rangkap pada atom C 4,5

    dan gugus keton pada atom C3. Reduksi ikatan rangkap C4,5terjadi di dalam hati dan jaringa ekstrahepatik

    serta menghasilkan senyawa inaktif. Perubahan gugus keton menjadi gugus hidroksil hanya terjadi di hati.

    Sebagian besar hasil reduksi gugus keton pada atom C3 melalui gugus hidroksinya secara enzimatik

    bergabung denga asam sulfat atau asam glukuronad membentuk ester yang mudah larut dan kemudian

    diekskresi. Reaksi ini terutama terjadi di hepar dan sebagian kecil di ginjal.

    Oksidasi gugus 11- hidroksil yang reversible terjadi secara cepat di hepar dan secar lambat di

    jaringan ekstrahepetik. Untuk aktifitas biologiknya kortikosteroid dengan gugus keton pada atom C11

    harus direduksi menjadi senyawa 11-hidroksil; sedangkan reduksi gugus keton pada atom C20 hanya

    memberikan senyawa dengan aktifitas biologic yang lemah.

    Kortikosteroid dengan gugus hidroksil pada atom C17akan dioksidasi menjadi 17-ketosteroid

    yang tidak mempunyai aktifitas kortikosteroid tetapi bersifat androgenik. Adanya sekresi 17-ketosteroid

    dalam urin dapat dipakai sebagai ukuran aktifitas hormone kortikosteroid dalam tubuh.

    Farmakodinamik Anti-histamin

    Anti histamin reseptor H1 (AH-1) berikatan dengan reseptor sehingga menyebabkan reseptor

    tersebut tidak aktif. Efek yang ditimbulkan berupa pengurangan permeabilitas gatal dan mengurangi

    sensasi yang ditimbulkan oleh pruritus. Kerja secara umum ini dimiliki oleh anti histamin generasi pertama

    maupun kedua. Tetapi pada generasi kedua, anti histamin ini memiliki kerja yang sedikit istimewa dimana

    dapat menghambat pengeluaran histamin dari kompleks granula. Obat generasi kedua ini menghambat

    transportasi kalsium baik difusi ke dalam sel maupun transportasi ion kalsium intra seluler. Perbedaan lain

    adalah efek anti histamin generasi pertama dapat masuk ke sistem saraf pusat. Efek yang ditimbulkan

    adalah efek sedasi. Hal ini dikarenakan menurunkan tingkat kewaspadaan. Penggunaan generasi pertama

    ini menjadi bantuan untuk memudahkan tidur dan tidak cocok untuk anak-anak. Oleh karena itu dibuatlah

    generasi kedua untuk menekan efek sedasi yang diakibatkan oleh generasi pertama.

  • 8/13/2019 Mandiri Skenario 2 MPT (Autosaved)

    12/15

    KortikosteroidPada waktu memasuki jaringan, glukokortikoid berdifusi atau ditranspor menembus sel

    membran dan terikat pada kompleks reseptor sitoplasmik glukokortikoid heat-shock protein kompleks.

    Heat shock protein dilepaskan dan kemudian kompleks hormon reseptor ditranspor ke dalam inti, dimana

    akan berinteraksi dengan respon unsur respon glukokortikoid pada berbagai gen dan protein pengatur

    yang lain dan merangsang atau menghambat ekspresinya. Pada keadaan tanpa adanya hormon, protein

    reseptor dihambat dari ikatannya dengan DNA; jadi hormon ini tidak menghambat kerja reseptor pada

    DNA. Perbedaan kerja glukokortikoid pada berbagai jaringan dianggap dipengaruhi oleh protein spesifik

    jaringan lain yang juga harus terikat pada gen untuk menimbulkan ekspresi unsur respons glukokortikoid

    utama.

    Selain itu, glukokortikoid mempunyai beberapa efek penghambatan umpan balik yang terjadi

    terlalu cepat untuk dijelaskan oleh ekspresi gen. Efek ini mungkin diperantarai oleh mekanisme

    nontranskripsi.

    LO.6.3. EFEK SAMPING Anti-histamin

    Pada dosis terapi, semua antihistamin menimbulkan efek samping walaupun jarang bersifat serius dan kadang-

    kadang hilang bila pengobatan diteruskan. Terdapat variasi yang besar dalam toleransi obat antar individu, kadang-

    kadang efek samping ini sangat mengganggu sehingga terapi perlu dihentikan.

    Efek Samping Antihistamin H1Generasi Pertama :

    1. Alergi : fotosensitivitas, shock anafilaksis, ruam, dan dermatitis.2. Kardiovaskular : hipotensi postural, palpitasi, refleks takikardia, trombosis vena pada sisi injeksi (IV

    prometazin)

    3. Sistem Saraf Pusat : drowsiness, sedasi, pusing, gangguan koordinasi, fatigue, bingung, reaksiextrapiramidal bisa saja terjadi pada dosis tinggi

    4. Gastrointestinal : epigastric distress, anoreksi, rasa pahit (nasal spray)5. Genitourinari : urinary frequency, dysuria, urinary retention6. Respiratori : dada sesak, wheezing, mulut kering, epitaksis dan nasal burning (nasal spray)

    Antihistamin Generasi kedua dan ketiga :

    1. Alergi : fotosensitivitas, shock anafilaksis, ruam, dan dermatitis.2. SSP : mengantuk/ drowsiness, sakit kepala, fatigue, sedasi3. Respiratori : mulut kering4. Gastrointestinal : nausea, vomiting, abdominal distress (cetirizine, fexofenadine)

    Efek samping SSP sebanding dengan placebo pada uji klinis, kecuali cetirizine yang tampak lebih sedatif ketimbang

    placebo dan mungkin sama dengan generasi pertama. Efek samping pada respiratori dan gastrointestinal lebih

    jarang dibanding generasi pertama.

  • 8/13/2019 Mandiri Skenario 2 MPT (Autosaved)

    13/15

    Beberapa efek samping lain dari antihistamin :

    1. Efek sedasiDari hasil penelitian oleh perocek, dibandingkan difenhidramin 250 mg dengan loratadine dosis tunggal 20 mg.

    Hasilnya memperlihatkan efek sedasi difenhidramin lebih besar dibanding loratadine. Jadi loratadine tidak

    mempengaruhi kemampuan mengendarai, tingkat kewaspadaan siang hari dan produktifitas kerja. Juga loratadinmenghilangkan gejala rhinitis alergi musiman secara efektif dan absorbsi oralnya sangat cepat serta memiliki masa

    kerja yang panjang, sehingga cukup diberikan sekali dalam sehari.

    2. Gangguan psikomotorYaitu gangguan dalam pekerjaan yang melibatkan fungsi psikomotor, merupakan masalah yang menjadi perhatian

    dalam terapi yang menggunakan antihistamin. Efek samping terlihat saat pasien melakukan kegiatan dengan resiko

    fisik seperti mengendarai mobil, berenang, gulat, atau melakukan pekerjaan tangan. Gangguan fungsi psikomotor

    adalah efek yang berbeda dari terjadinya sedasi (rasa mengantuk).

    3. Gangguan kognitifAdalah gangguan terhadap kemampuan belajar, konsentrasi atau ketrampilan di tempat bekerja. Dari hasil

    penelitian memperlihatkan antihistamin generasi pertama terutama difenhidramin menyebabkan gangguan

    kemampuan belajar, konsentrasi, atau ketrampilan di tempat kerja. Sedangkan loratadin meniadakan efek

    negative dari rhinitis alergi terhadap kemampuan belajar.

    4. Efek kardiotoksisitasAntihistamin selama ini dianggap sebagai obat yang aman, tetapi sejak akhir tahun 80-an mulai muncul beberapa

    jenis antihistamin yang digunakan dengan dosis yang berlebihan. Sehingga dapat menyebabkan pasien yang

    menggunakan mengalami gangguan pada jantung (kardiotoksisitas).

    Untuk pasien yang aktif bekerja harus berhati-hati dalam menggunakan antihistamin, karena beberapaantihistamin memiliki efek samping sedasi (mengantuk), gangguan psikomotor dan gangguan kognitif. Akibatnya

    bila digunakan oleh orang yang melakukan pekerjaan dengan tingkat kewaspadaan tinggi sangat berbahaya.

    KortikosteroidSampai saat ini ratusan produk kortikosteroid tersedia di pasaran. Layaknya obat lainnya, kortikosteroid

    juga beresiko menimbulkan efek samping yang tidak diharapkan, bahkan beberapa efek sampingnya dapat

    menimbulkan masalah kesehatan yang cukup serius. Berikut efek samping kortikosteroid, yaitu:

    1. Efek samping jangka pendek

    Peningkatan tekanan cairan di mata (glaukoma) Retensi cairan, menyebabkan pembengkakan di tungkai. Peningkatan tekanan darah Peningkatan deposit lemak di perut, wajah dan leher bagian belakang.

  • 8/13/2019 Mandiri Skenario 2 MPT (Autosaved)

    14/15

    2. Efek samping jangka panjang.

    Katarak Penurunan kalsium tulang yang menyebabkan osteoporosis dan tulang rapuh sehingga mudah patah.

    Menurunkan produksi hormon oleh kelenjar adrenal Menstruasi tidak teratur Mudah terinfeksi Penyembuhan luka yang lama

    LI.7.Mampu menjelaskan batasan hukum Islam untuk menentukan alternatifterbaik dari dua pilihan sulitKitab al-Mustashfa, Imam al-Ghazali mengemukakan penjelasan tentang al-maslahah yaitu: Pada dasarnya

    al-maslahah adalah suatu gambaran untuk mengambil manfaat atau menghindarkan kemudaratan, tapi bukan itu

    yang kami maksudkan, sebab meraih manfaat dan menghindarkan kemudaratan tersebut bukanlah tujuan

    kemasalahatan manusia dalam mencapai maksudnya. Yang kami maksud dengan maslahah adalah memelihara

    tujuan syara.

    Ungkapan al-Ghazali ini memberikan isyarat bahwa ada dua bentuk kemaslahatan, yaitu

    Kemasalahatan menurut manusia, dan Kemaslahatan menurut syariat.

    Dalam sebuah riwayat dari Abu Hurairah dikisahkan bahwa seorang Anshar terluka di perang Uhud.

    Rasulullah pun memanggil dua orang dokter yang ada di kota Madinah , lalu bersabda, Obatilah dia.Dalam riwayat

    lain ada seorang sahabat bertanya,Wahai Rasulullah, apakah ada kebaikan dalam ilmu kedokteran? Rasullah

    menjawab, Ya,. Begitu pula yang diriwayatkan dari Hilal bin Yasaf bahwa seorang lelaki menderita sakit di zaman

    Rasulullah. Mengetahui hal itu, beliau bersabda, Panggilkan dokter. Lalu Hilal bertanya, Wahai Rasulullah, apakah

    dokter bisa melakukan sesuatu untuknya? Ya, jawab beliau. (HR Ahmad dalam Musnad: V/371 dan Ibnu Abi

    Syaibah dalam Mushannaf: V/21). Berdasarkan pemaparan di atas, tampak jelas bagaimana Rasulullah menganjurkan

    kita untuk berobat dan berusaha menggunakan ilmu kedokteran yang diciptakan Allah untuk kita. Kita juga

    ditekankan agar tidak menyerah pada penyakit karena Rasulullah bersabda, Seorang mukmin yang kuat lebih baik

    dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah . (HR Muslim (34) dan Ahmad: II/380)

    Allah melarang minuman keras dan judi karena mudharat (bahayanya) lebih besar dari pada manfaatnya,

    sebagaimana dikatakan dalam QS : Al-Baqorah :219

    2:219. Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: Pada keduanya itu terdapat dosa besar

    dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.

    1. Firman Allah taala :

    ( (: 157Dan dia menghalalkan yang baik bagi mereka serta mengharamankan bagi mereka segala sesuatu yang buruk ( al

    araf : 157 )

    Rokok termasuk hal yang buruk dan membahayakan diri sendiri , dan orang lain serta tak sedap baunya.

    2. ( : 195 )

  • 8/13/2019 Mandiri Skenario 2 MPT (Autosaved)

    15/15

    Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri kedalam kebinasaan ( al baqoroh : 195)

    Rokok mengakibatkan penyakit yang bisa membinasakan seperti kanker, penyakir paru-paru dan lain sebagainya.

    3. ( : 29 )Dan janganlah kamu membunuh dirimu, sesungguhnya Allah terhadap kalian Maha menyayangi ( an nisa : 29 )

    Rokok bisa membunuh penghisapnya secara perlahan-lahan

    4. ( : 19 )Dosa keduanya ( minumankeras dan judi ) lebih besar dari pada manfaatnya.(QS Al-Baqoroh : 219 )

    Rokok bahayanya lebih besar dari pada manfaatnya baik bagi dirinya sendiri ataupun orang lain.

    5. ( : 26 )Janganlah menghambur-hamburkan ( hartamu ) dengan boros, sesungguhnya pemborosan itu adalah saudaranyasyaithon.(QS Al-Isra : 26 )

    Membeli rokok adalah merupakan pemborosan dan pemborosan termasuk perbuatannya syaithon.

    6. Rasulullah Shallallahualaihi wasallam bersabda : tidak boleh membahayakan diri sendiri ataupun orang lain

    Merokok membahayakan si perokok, menganggu orang lain dan membuang-buang harta.

    http://www.univmed.org/wp-content/uploads/2011/02/Vol.18_no.3_5.pdf

    Baratawidjaja, Karnen G. 2012. Imunologi Dasar Edisi Ke Sepuluh. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.

    Wahab, A Samik. Julia, Madarina. 2010. Sistem Imun, Imunisasi, & Penyakit Imun. Jakarta: Widya

    Medika.

    http://marizal-co-ass.blogspot.com/2010/04/reaksi-hipersensitivitas-pada-imunologi.htmlhttp://thifalblog.wordpress.com/2011/02/11/agama-ini-dibangun-untuk-kebaikan-dan-maslahat-dalam-

    penetapan-syariatnya-dan-untuk-menolak-kerusakan/

    http://www.univmed.org/wp-content/uploads/2011/02/Vol.18_no.3_5.pdfhttp://marizal-co-ass.blogspot.com/2010/04/reaksi-hipersensitivitas-pada-imunologi.htmlhttp://thifalblog.wordpress.com/2011/02/11/agama-ini-dibangun-untuk-kebaikan-dan-maslahat-dalam-penetapan-syariatnya-dan-untuk-menolak-kerusakan/http://thifalblog.wordpress.com/2011/02/11/agama-ini-dibangun-untuk-kebaikan-dan-maslahat-dalam-penetapan-syariatnya-dan-untuk-menolak-kerusakan/http://thifalblog.wordpress.com/2011/02/11/agama-ini-dibangun-untuk-kebaikan-dan-maslahat-dalam-penetapan-syariatnya-dan-untuk-menolak-kerusakan/http://thifalblog.wordpress.com/2011/02/11/agama-ini-dibangun-untuk-kebaikan-dan-maslahat-dalam-penetapan-syariatnya-dan-untuk-menolak-kerusakan/http://thifalblog.wordpress.com/2011/02/11/agama-ini-dibangun-untuk-kebaikan-dan-maslahat-dalam-penetapan-syariatnya-dan-untuk-menolak-kerusakan/http://marizal-co-ass.blogspot.com/2010/04/reaksi-hipersensitivitas-pada-imunologi.htmlhttp://www.univmed.org/wp-content/uploads/2011/02/Vol.18_no.3_5.pdf