Download docx - LP fraktur cervikal.docx

Transcript
Page 1: LP fraktur cervikal.docx

BAB I

PENDAHULUAN

A. Pendahuluan 

Keperawatan merupakan suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian

integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan ilmu dan kiat keperawatan yang mencakup

pelayanan bio-psiko-sosio dan spiritual yang komprehensif serta ditujukan kepada individu,

keluarga serta masyarakat baik yang sakit maupun yang sehat, keperawatan pada dasarnya

adalah human science and human care and caring menyangkut upaya memperlakukan klien

secara manusiawi dan utuh sebagai manusia yang berbeda dari manusia lainnya dan kita

ketahui manusia terdiri dari berbagai sistem yang saling menunjang, di antara sistem tersebut

adalah sistem neurobehavior (Potter & Perry, 2006).

Susunan tulang pada manusia terdiri dari berbagai macam tulang di antaranya tulang

vertebra (servikal, torakal, lumbal, sakral, koksigis). Tulang servikalis terdiri dari 7 tulang

yaitu C1 atau atlas, C2 atau axis, C3, C4, C5, C6 dan C7. Apabila cidera pada bagain servikal

akan mengakibatkan terjadinya trauma servikal.di mana trauma servikal merupakan keadaan

cidera pada tulang bekalang servikal dan medulla spinalis yang disebabkan oleh dislokasi,

sublukasi atau frakutur vertebra servikalisdan di tandai kompresi pada medulla spinal daerah

servikal (Muttaqin, 2011).

Trauma medula spinalis terjadi pada 30.000 pasien setiap tahun di Amerika serikat.

Insidensi pada negera berkembang berkisar antara 11,5 hingga 53,4 kasus dalam 1.000.000

populasi. Umumnya terjadi pada remaja dan dewasa muda.2 Penyebab tersering adalah

kecelakaan lalu lintas (50%), jatuh (25%) dan cedera yang berhubungan dengan olahraga

(10%). Sisanya akibat kekerasan dan kecelakaan kerja. Hampir 40%-50% trauma medulla

spinalis mengakibatkan defisit neurologis, sering menimbulkan gejala yang berat, dan

terkadang menimbulkan kematian. Walaupun insidens pertahun relatif rendah, tapi biaya

perawatan dan rehabilitasi untuk cedera medulla spinalis sangat besar, yaitu sekitar US$

1.000.000 / pasien. Angka mortalitas diperkirakan 48% dalam 24 jam pertama, dan lebih

kurang 80% meninggal di tempat kejadian (Emma, 2011).

Di Indonesia kecelakaan merupakan penyebab kematian ke empat, setelah penyakit

jantung, kanker, dan stroke, tercatat ±50 meningkat per 100.000 populasi tiap tahun, 3%

penyebab kematian ini karena trauma langsung medulla spinalis, 2% karena multiple trauma.

Insiden trauma pada laki-laki 5 kali lebih besar dari perempuan. Ducker dan Perrot

melaporkan 40% spinal cord injury disebabkan kecelakaan lalu lintas, 20% jatuh, 40% luka

Page 2: LP fraktur cervikal.docx

tembak, sport, kecelakaan kerja. Lokasi fraktur atau fraktur dislokasi cervical paling sering

pada C2 diikuti dengan C5 dan C6 terutama pada usia dekade 3 (Emma, 2011).

Dampak trauma servikal mengakibatkan syok neurogenik, syok spinal, hipoventilasi,

hiperfleksia autonomic, gangguan pada pernafasan, gangguan fungsi saraf pada jari-jari

tangan, otot bisep, otot trisep, dan otot- otot leher. Akibat atau dampak lebih lanjut dari

trauma servikal yaitu kematian.

Peran perawat sangat penting dalam memberikan asuhan keperawatan guna

mencengah komplikasi pada klien dan memberikan pendidikan kesehatan untuk

meningkatkan pengetahuan pasien dan keluarga tentang trauma servikal.

Dari uraian diatas kelompok tertarik untuk membahas masalah asuhan keperawatan

kegawatdaruratan dengan masalah trauma servikal.

B. Tujuan

1) Tujuan umum

Mahasiswa mampu melakukan asuhan keperawatan kegawatdaruratan pada pasien

dengan kasus trauma servikal.

2) Tujuan Khusus

Mahasiswa mampu melakukan pengkajian pada pasien dengan fraktur servical

Mahasiswa mampu mengelompokkan data sesuai dengan tanda dan gejala pada

trauma servikal.

Mahasiswa mampu merumuskan diagnosa keperawatan dalam asuhan keperawatan

kegawatdaruratan pada trauma serikal.

Mahasiswa mampu membuat perencanaan dalam asuhan keperawatan

kegawatdaruratan pada trauma serikal.

BAB II

Page 3: LP fraktur cervikal.docx

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian

Trauma servikal adalah suatu keadaan cedera pada tulang belakang servikal dan

medulla spinalis yang disebabkan oleh dislokasi, subluksasi, atau fraktur vertebra servikalis

dan ditandai dengan kompresi pada medula spinalis daerh servikal. Dislokasi servikal adalah

lepasnya salah satu struktur dari tulang servikal. Subluksasi servikal merupakan kondisi

sebagian dari tulang servikal lepas. Fraktur servikal adalah terputusnya hubungan dari badan

tulang vertebra servikalis (Muttaqin, 2011).

B. Etiologi

Cedera medulla spinalis servikal disebabkan oleh trauma langsung yang mengenai

tulang belakang di mana tulang tersebut melampaui kemampauan tulang belakang dalam

melindungi saraf-saraf belakangnya. Menurut Emma, (2011) Trauma langsung tersebut dapat

berupa :

Kecelakaan lalulintas

Kecelakaan olahraga

Kecelakaan industry

Jatuh dari pohon/bangunan

Luka tusuk

Luka tembak

Kejatuhan benda keras

C. Manifestasi Klinis

Menurut Hudak & Gallo, (1996) menifestasi klinis trauma servikal adalah sebagai berikut:

 1)      Lesi C1-C4

           Pada lesi C1-C4. Otot trapezius, sternomastoid dan otot plastisma masih berfungsi.

Otot diafragma dan otot interkostal mengalami partalisis dan tidak ada gerakan (baik secara

fisik maupun fungsional0 di bawah transeksi spinal tersebut. Kehilangan sensori pada tingkat

C1 malalui C3 meliputi daerah oksipital, telinga dan beberapa daerah wajah. Kehilangan

sensori diilustrasikan oleh diagfragma dermatom tubuh.

Pasien dengan quadriplegia pada C1, C2, atau C3 membutuhkan perhatian penuh

karena ketergantungan pada semua aktivitas kebutuhan sehari-hari seperti makan, mandi, dan

berpakaian. quadriplegia pada C4 biasanya juga memerlukan ventilator mekanis tetapi

Page 4: LP fraktur cervikal.docx

mengkn dapat dilepaskan dari ventilator secara. intermiten. pasien biasnya tergantung pada

orang lain dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari meskipun dia mungkin dapat makan

sendiri dengan alat khsus.

2)      Lesi C5

          Bila segmen C5 medulla spinalis mengalami kerusakan, fungsi diafragma rusak

sekunder terhadap edema pascatrauma akut. paralisis intestinal dan dilatasi lambung dapat

disertai dengan depresi pernapasan. Ekstremitas atas mengalami rotasi ke arah luar sebagai

akibat kerusakan pada otot supraspinosus. Bahu dapat di angkat karena tidak ada kerja

penghambat levator skapula dan otot trapezius. setelah fase akut, refleks di bawah lesi

menjadi berlebihan. Sensasi ada pada daerah leher dan triagular anterior dari daerah lengan

atas

.

3)      Lesi C6

pada lesi segen C6 disters pernafasan dapat terjadi karena paralisis intestinal dan

edema asenden dari medulla spinalis. Bahu biasanya naik, dengan lengan abduksi dan lengan

bawah fleksi. Ini karena aktivitasd tak terhambat dari deltoid, bisep dan otot brakhioradialis.

4)      Lesi C7

Lesi medulla pada tingkat C7 memungkinkan otot diafragma dan aksesori untuk

mengkompensasi otot abdomen dan interkostal. Ekstremitas atas mengambil posis yang sama

seperti pada lesi C6. Fleksi jari tangan biasnya berlebihan ketika kerja refleks kembali.

Lewis (2006) menyampaikan manifestasi klinik adalah sebagai berikut:

a) Nyeri

Nyeri dirasakan langsung setelah terjadi trauma. Hal ini dikarenakan adanya spasme otot,

tekanan dari patahan tulang atau kerusakan jaringan sekitarnya.

b) Bengkak/edama

Edema muncul lebih cepat dikarenakan cairan serosa yang terlokalisir pada daerah fraktur

dan extravasi daerah di jaringan sekitarnya.

c) Memar/ekimosis

Merupakan perubahan warna kulit sebagai akibat dari extravasi daerah di jaringan sekitarnya.

d) Spasme otot

Merupakan kontraksi otot involunter yang terjadi disekitar fraktur.

Page 5: LP fraktur cervikal.docx

e) Penurunan sensasi

Terjadi karena kerusakan syaraf, terkenanya syaraf karena edema.

f) Gangguan fungsi

Terjadi karena ketidakstabilan tulang yang fraktur, nyeri atau spasme otot. paralysis dapat

terjadi karena kerusakan syaraf.

g) Mobilitas abnormal

Adalah pergerakan yang terjadi pada bagian-bagian yang pada kondisi normalnya tidak

terjadi pergerakan. Ini terjadi pada fraktur tulang panjang.

h) Krepitasi

Merupakan rasa gemeretak yang terjadi jika bagian-bagaian tulang digerakkan.

i) Deformitas

Abnormalnya posisi dari tulang sebagai hasil dari kecelakaan atau trauma dan pergerakan

otot yang mendorong fragmen tulang ke posisi abnormal, akan menyebabkan tulang

kehilangan bentuk normalnya.

j) Shock hipovolemik

Shock terjadi sebagai kompensasi jika terjadi perdarahan hebat.

D. Patofisiologi

Terjadinya trauma pada daerah tulang leher mengakibatkan fraktur. Akibat kondisi

seperti ini, pusat-pusat persarapan akan terjadi gangguan. Gangguan ini diakibatkan karena

terjepitnya saraf-saraf yang melalui daerah vertebra.

Karena vertebra merupakan pusat persarapan bagi berbagai organ, maka kerja organ-

organ tersebut akan terganggu atau bahkan mangalami kelumpuhan, akibat fraktur ini pula,

akan mengakibatkan blok saraf parasimpasi dan pasien akan mengalami iskemia dan

hipoksemia. Dan akhirnya akan mengalami gangguan kebutuhan oksigen

Cedera yang terjadi juga akan mengakibatkan pelepasan mediator-mediator kima

yang akan menimbulkan nyeri hebat dan akut selanjutnya terjadi syok spinal dan pasien akan

merasa tidak nyaman.

Gangguan sistem saraf spinal akan mengakibatkan kelumpuhan pada organ-organ

pencernahan dan sistem perkemihan. Dan masalh yang akan terjadi adalah gangguan

eliminasi.

E. PATHWAY

Page 6: LP fraktur cervikal.docx

F. Pemeriksaan Diagnostik

Menurut Doenges, (2000) ada pun pemeriksaan penunjang trauma servikal yaitu:

1) Sinar X spinal

Menentukan loksi dan jenis cedera tulang (fraktur, disloksi) untuk kesejajaran, reduksi

setelah dilakukan traksi atau operasi.

2) CT scan, Menentukan tempat luka/jejas, mengevaluasi gangguan struktural.

3) MRI, Mengidentifikasi adanya kerusakan saraf spinal, edema dan kompresi.

4) Mielografi

Untuk memperlihatkan kolumna spinalis (kanal vertebral) jika faktor patologisnya

tidak jelas atau di curigai adanya oklusi pada ruang subarakhnoid medulla spinalis.

5) Foto rontgen torak

Memperlihatkan keadaan paru (contohnya: perubahan pada diagfragma,

anterlektasis).

6) AGD

Menunjukkan keefektifan pertukaran gas atau upaya ventilasi.

G. Komplikasi

Page 7: LP fraktur cervikal.docx

Menurut Emma, (2011) komplikasi pada trauma servikal adalah :

1) Syok neurogenik

Syok neurogenik merupakan hasil dari kerusakan jalur simpatik yang desending pada

medulla spinalis. Kondisi ini mengakibatkan kehilangan tonus vasomotor dan

kehilangan persarafan simpatis pada jantung sehingga menyebabkan vasodilatasi

pembuluh darah visceral serta ekstremitas bawah maka terjadi penumpukan darah dan

konsekuensinya terjadi hipotensi.

2) Syok spinal

Syok spinal adalah keadaan flasid dan hilangnya refleks, terlihat setelah terjadinya

cedera medulla spinalis. Pada syok spinal mungkin akan tampak seperti lesi komplit

walaupun tidak seluruh bagian rusak.

3) Hipoventilasi

Hal ini disebabkan karena paralisis otot interkostal yang merupakan hasil dari cedera

yang mengenai medulla spinalis bagian di daerah servikal bawah atau torakal atas.

4) Hiperfleksia autonomic

Dikarakteristikkan oleh sakit kepala berdenyut, keringat banyak, kongesti nasal,

bradikardi dan hipertensi.

H. Penatalaksanaan

Menurut ENA, (2000) penatalaksanaan pada pasien truama servikal yaitu :

1) Mempertahankan ABC (Airway, Breathing, Circulation)

2) Mengatur posisi kepala dan leher untuk mendukung airway : headtil, chin lip, jaw

thrust. Jangan memutar atau menarik leher ke belakang (hiperekstensi),

mempertimbangkan pemasangan intubasi nasofaring.

3) Stabilisasi tulang servikal dengan manual support, gunakan servikal collar, imobilisasi

lateral kepala, meletakkan papan di bawah tulang belakang.

4) Stabililisasi tulang servikal sampai ada hasil pemeriksaan rontgen (C1 - C7) dengan

menggunakan collar (mencegah hiperekstensi, fleksi dan rotasi), member lipatan

selimut di bawah pelvis kemudian mengikatnya.

5) Menyediakan oksigen tambahan.

6) Memonitor tanda-tanda vital meliputi RR, AGD (PaCO2), dan pulse oksimetri.

7) Menyediakan ventilasi mekanik jika diperlukan.

8) Memonitor tingkat kesadaran dan output urin untuk menentukan pengaruh dari

hipotensi dan bradikardi.

Page 8: LP fraktur cervikal.docx

9) Meningkatkan aliran balik vena ke jantung.

10) Berikan antiemboli

11) Tinggikan ekstremitas bawah

12) Gunakan baju antisyok.

13) Meningkatkan tekanan darah

14) Monitor volume infus.

15) Berikan terapi farmakologi ( vasokontriksi)

16) Berikan atropine sebagai indikasi untuk meningkatkan denyut nadi jika terjadi gejala

bradikardi.

17) Mengetur suhu ruangan untuk menurunkan keparahan dari poikilothermy.

18) Memepersiapkan pasien untuk reposisi spina.

19) Memberikan obat-obatan untuk menjaga, melindungi dan memulihkan spinal cord :

steroid dengan dosis tinggi diberikan dalam periode lebih dari 24 jam, dimulai dari 8

jam setelah kejadian.

a. Memantau status neurologi pasien untuk mengetahui tingkat kesadaran pasien.

b. Memasang NGT untuk mencegah distensi lambung dan kemungkinan aspirasi jika

ada indikasi.

c. Memasang kateter urin untuk pengosongan kandung kemih.

d. Mengubah posisi pasien untuk menghindari terjadinya dekubitus.

e. Memepersiapkan pasien ke pusat SCI (jika diperlukan).

f. Mengupayakan pemenuhan kebutuhan pasien yang teridentifikasi secara konsisten

untuk menumbuhkan kepercayaan pasien pada tenaga kesehatan.

g. Melibatkan orang terdekat untuk mendukung proses penyembuhan.

I. KONSEP KEPERAWATAN

Page 9: LP fraktur cervikal.docx

Menurut ENA, (2000) pengkajian pada pasien trauma servikal adalah:

a)      Pengkajian primer

Data Subyektif

1)   Riwayat Penyakit Sekarang

a) Mekanisme Cedera

b) Kemampuan Neurologi

c) Status Neurologi

d) Kestabilan Bergerak

2)   Riwayat Kesehatan Masa Lalu

a) Keadaan Jantung dan pernapasan

b) Penyakit Kronis

Data Obyektif

A. Airway

Adanya desakan otot diafragma dan interkosta akibat cedera spinal sehingga

mengganggu jalan napas

B. Breathing

Pernapasa dangkal, penggunaan otot-otot pernapasan, pergerakan dinding dada

C. Circulation

Hipotensi (biasanya sistole kurang dari 90 mmHg), Bradikardi, Kulit teraba hangat dan

kering, Poikilotermi (Ketidakmampuan mengatur suhu tubuh, yang mana suhu tubuh

bergantung pada suhu lingkungan)

D. Disability

Kaji Kehilangan sebagian atau keseluruhan kemampuan bergerak, kehilangan sensasi,

kelemahan otot.

E. Exposure

Adanya deformitas tulang belakang

b)                 Pengkajian Sekunder

1)   Five Intervensi

Hasil AGD menunjukkan keefektifan pertukaran gas dan upaya ventilasi, CT Scan untuk

menentukan tempat luka atau jejas, MRI untuk mengidentifikasi kerusakan saraf spinal, foto

Rongen Thorak untuk mengetahui keadaan paru, sinar – X Spinal untuk menentukan lokasi

dan jenis cedera tulang (Fraktur/Dislokasi)

Page 10: LP fraktur cervikal.docx

2)   Give Comfort dan Pemeriksaan Fisik

Tinjauan umum

1) Keadaan umum

2) Gaya berjalan

3) Postur

4) Aktivitas fisik

5) Penampilan fisik umum

Inspeksi

1) Kesimetrisan bagian tubuh

2) Ekimosis

3) Laserasi

4) Deformitas yg tampak

5) Massa

6) Warna kulit

7) Deformitas kongenital

Palpasi

1) Krepitus

2) Suhu

3) Konsistensi otot

4) Massa

5) Nyeri tekan

6) Deformitas

7) Pembengkakan

Move (pergerakan)

1) Nyeri saat bergerak

2) Rentang gerak sendi

Aktifitas dan istirahat : kelumpuhan otot terjadi kelemahan selama syok spinal

Sirkulasi : berdebar-debar, pusing saat melakukan perubahan posisi, hipotensi,

bradikardia ekstremitas dingin atau pucat

Eliminasi : inkontenensia defekasi dan berkemih, retensi urine, distensi perut, peristaltik

usus hilang

Integritas ego : menyangkal, tidak percaya, sedih dan marah, takut cemas, gelisah dan

menarik diri

Page 11: LP fraktur cervikal.docx

Pola makan : mengalami distensi perut, peristaltik usus hilang

Pola kebersihan diri : sangat ketergantungan dalam melakukan ADL

Neurosensori : kesemutan, rasa terbakar pada lengan atau kaki, paralisis flasid, hilangnya

sensai dan hilangnya tonus otot, hilangnya reflek, perubahan reaksi pupil, ptosisi

Nyeri/kenyamanan : nyeri tekan otot, hiperestesi tepat diatas daerah trauma, dan

mengalami deformitas pada derah trauma

Pernapasan : napas pendek, ada ronkhi, pucat, sianosis

Keamanan : suhu yang naik turun

J. Diagnosa Keperawatan Yang Mungkin Muncul

1) Pola napas tidak efektif b.d kelumpuhan otot pernapasan (diafragma), kompresi

medulla spinalis.

2) Kerusakan mobiltas fisik b.d kelumpuhan pada anggota gerak

3) Gangguan rasa nyaman : Nyeri b.d adanya cedera pada cervikalis

1)      Pola napas tidak efektif berhubungan dengan kelumpuhan otot pernapasan

Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam napas klien kembali

efektif Kriteria Hasil : frekuensi napas normal 16-24 x/m, tidak terdengar ronkhi.

Intervensi Keperawatan

1.      Pertahankan jalan nafas; posisi kepala tanpa gerak.

Rasional : pasien dengan cedera cervicalis akan membutuhkan bantuan untuk

mencegah aspirasi/ mempertahankan jalan nafas.

2.      Lakukan penghisapan lendir, catat jumlah, jenis dan karakteristik sekret.

Rasional : jika batuk tidak efektif, penghisapan dibutuhkan untuk mengeluarkan sekret,

dan mengurangi resiko infeksi pernapasan.

3.      Kaji fungsi pernapasan.

Rasional : trauma pada C5-6 menyebabkan hilangnya fungsi pernapasan secara partial,

karena otot pernapasan mengalami kelumpuhan.

4.      Observasi warna kulit.

Rasional : menggambarkan adanya kegagalan pernapasan yang memerlukan tindakan

segera

5.      Kaji distensi perut dan spasme otot.

Rasional : kelainan penuh pada perut disebabkan karena kelumpuhan diafragma

6.      Jika klien sudah sadar anjurkan klien untuk minum minimal 2000 cc/hari.

Page 12: LP fraktur cervikal.docx

Rasional : membantu mengencerkan sekret, meningkatkan mobilisasi sekret sebagai

ekspektoran.

7.      Pantau analisa gas darah.

Rasional : untuk mengetahui adanya kelainan fungsi pertukaran gas sebagai contoh :

hiperventilasi PaO2 rendah dan PaCO2 meningkat.

8.      Berikan oksigen dengan cara yang tepat.

Rasional : metode dipilih sesuai dengan keadaan isufisiensi pernapasan.

2)      Gangguan mobilitas fisik b.d kelumpuhan/fraktur servikal

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, mobilisasi bisa

diminimalisasi sampai cedera teratasi.

Kriteria Hasil : tidak ada kontrakstur, kekuatan otot meningkat, pasien mampu beraktifitas

kembali secara bertahap.

Intervensi Keperawatan

1.      Kaji secara teratur fungsi motorik.

Rasional : mengevaluasi keadaan secara umum

2.      Instruksikan klien/keluarga untuk memanggil bila minta pertolongan.

Rasional memberikan rasa aman

3.      Lakukan log rolling.

Rasional : membantu ROM secara pasif

4.      Ukur tekanan darah sebelum dan sesudah log rolling.

Rasional : mengetahui adanya hipotensi ortostatik

5.      Inspeksi kulit setiap hari.

Rasional : gangguan sirkulasi dan hilangnya sensasi resiko tinggi kerusakan integritas

kulit.

6.      Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian relaksan otot seperti diazepam.

Rasional : berguna untuk membatasi dan mengurangi nyeri yang berhubungan dengan

spastisitas.

3)      Diagnosa Keperawatan yang bisa muncu setelah pasien sadar

Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan adanya cidera tulang servikal

Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam rasa nyaman klien

terpenuhi

Kriteria Hasil : Klien mengatakan nyerinya berkurang

Page 13: LP fraktur cervikal.docx

Intervensi Keperawatan

1.      Kaji skala nyeri klien

Rasional : untuk mengetahuui derajad nyeri klien

2.      Berikan tindakan kenyamanan kepada klien.

Rasional : memberikan rasa nyaman dengan cara membantu mengontrol nyeri.

3.      Ajarkan klien tehnik relaksasi dan anjurkan untuk menggunakan tehnik tersebut

Rasional : membantu mengontrol dan mengurangi rasa nyeri klien

4.      Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian analgesic

Rasional : untuk menghilangkan nyeri otot atau untuk menghilangkan kecemasan dan

meningkatkan istirahat

DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8.

Jakarta : EGC

Page 14: LP fraktur cervikal.docx

Ariani, Tutu April. 2012. Sistem Neurobehaviour. Jakarta : Salemba Medika

Muttaqin, Arif. 2011. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien Gangguan

Persyarafan. Jakarta : Salemba Medika

Marilynn E Doengoes, et all, alih bahasa Kariasa IM, (2000), Rencana Asuhan

Keperawatan, pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien, EGC,

Jakarta.

Hudak and Gallo, (1994), Critical Care Nursing, A Holistic Approach, JB

Lippincott company, Philadelpia.

Saanin, Syaiful. 2009. Cedera Sistema Saraf Pusat Traumatika Dan Nontraumatika.

PDF Jurnal. Diakses tanggal 27 Februari 2012.