Download pdf - Gabungan tanpa dapus

Transcript

BAB IPendahuluan

1.1 Latar BelakangJumlah remaja dengan status gizi lebih, bertambah setiap tahunnya akibat penurunan aktifitas fisik serta perubahan pola makan, status gizi lebih dapat meningkatkan kadar gula darah, sehingga remaja dengan status gizi lebih, berisiko memiliki kadar gula darah yang lebih tinggi dibandingkan remaja dengan status gizi baik.1Survei di Amerika Serikat menunjukan bahwa, prevalensi diabetes pada anak umur sekolah, sekitar 1,9 dalam 1.000 namun frekuensinya sangat berkorelasi dengan meningkatnya usia; data yang ada menunjukan kisaran, 1 dalam 1.430 pada anak usia 5 tahun sampai 1 dalam 360 pada anak usia 16 tahun. Insiden tahunan di Amerika Serikat adalah sekitar 12-15 kasus baru per 100.000 populasi masa anak, laki-laki dan wanita hampir secara sama terkena: tidak ada korelasi yang nyata terhadap status sosioekonomi. Puncaknya terjadi pada dua kelompok usia: pada usia 5-7 tahun dan pada masa pubertas.1 Berdasarkan data Riskesdas tahun 2007, angka prevalensi DM tipe 2 pada penduduk usia 15 tahun ke atas yang tinggal di daerah perkotaan di Indonesia adalah 5,7%. Dan berdasarkan penelitian yang dilakukan Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi Anak di seluruh Indonesia, jumlah penyandang diabetes pada anak dan remaja dibawah 20 tahun adalah 731 anak atau remaja.2Banyak penelitian menunjukan selain DM tipe 2, peningkatan kadar gula darah juga berhubungan dengan kondisi, seperti obesitas. Berdasarkan data Riskesdas 2007, prevalensi nasional anak usia sekolah 6-14 tahun gemuk (Z-score > 2,0) (laki-laki) adalah 9,5%, sedangkan prevalensi nasional anak usia sekolah gemuk (Z-score > 2,0) (perempuan) adalah 6,4%. Sedangkan pada data Riskesdas 2010, kelompok anak gemuk (Z-score > 2,0) usia 6-12 tahun lebih tinggi dari prevalensi pada anak perempuan yaitu berturut-turut sebesar 10,7% dan 7,7%, usia 13-15 tahun prevalensi kegemukan (Z-score > 2,0) lebih tinggi pada anak laki-laki dibanding anak perempuan yaitu berturut-turut 2,9% dan 2,0%.3 Peningkatan prevalensi obesitas bersamaan dengan prevalensi DM tipe 2 dan diperkirakan akan terus berlanjut (Soegondo S, 2005). Menurut prediksi terjadi peningkatan jumlah diabetisi di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta diabetisi pada tahun 2030. Sekitar 80%-90% individu dengan DM tipe 2 mengalami obesitas dan obesitas dapat secara langsung menyebabkan berbagai derajat resistensi insulin.2Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara konsumsi pangan yang memiliki indeks glikemik terhadap kadar glukosa darah sewaktu serta faktor-faktor lain yang turut mempengaruhi sehingga dapat dibuat suatu rencana strategis dalam mencegah maupun menangani DM tipe 2 dan kondisi komorbid.

1.2 Rumusan Masalah1.2.1 Survei di Amerika Serikat menunjukan bahwa, prevalensi diabetes pada anak umur sekolah, sekitar 1,9 : 1.000. Namun frekuensinya sangat berkorelasi dengan meningkatnya usia; data yang ada menunjukan kisaran, 1 : 1.430 pada anak usia 5 tahun, anak usia 16 tahun 1 : 360. Insiden tahunan di Amerika Serikat adalah sekitar 12-15 kasus baru per 100.000 populasi masa anak, laki-laki dan wanita hampir secara sama terkena. Puncaknya terjadi pada dua kelompok usia, yaitu usia 5-7 tahun dan pada masa pubertas.1.2.2 Berdasarkan data Riskesdas tahun 2007, Angka prevalensi DM tipe 2 pada penduduk usia 15 tahun ke atas yang tinggal di daerah perkotaan di Indonesia adalah 5,7%. Dan berdasarkan penelitian yang dilakukan Unit Kerja Koordinasi Endokrinologi Anak di seluruh Indonesia, jumlah penyandang diabetes pada anak dan remaja di bawah 20 tahun adalah 731 anak atau remaja.1.2.3Selain DM tipe 2, peningkatan kadar gula darah juga berhubungan dengan kondisi, seperti obesitas. Berdasarkan data Riskesdas 2007, prevalensi nasional anak usia sekolah 6-14 tahun gemuk (Z-score > 2,0) (laki-laki) adalah 9,5%, sedangkan prevalensi nasional anak usia sekolah gemuk (Z-score > 2,0) (perempuan) adalah 6,4%. 1.2.4 Data Riskesdas 2010 kelompok anak gemuk (Z-score > 2,0) usia 6-12 tahun lebih tinggi dari prevalensi pada anak perempuan yaitu berturut-turut sebesar 10,7% dan 7,7%, usia 13-15 tahun prevalensi kegemukan (Z-score > 2,0) lebih tinggi pada anak laki-laki dibanding anak perempuan yaitu berturut-turut 2,9% dan 2,0%.1.2.5 Peningkatan prevalensi obesitas bersamaan dengan prevalensi DM tipe 2 dan diperkirakan akan terus berlanjut (Soegondo S, 2005).1.2.6 Menurut prediksi terjadi peningkatan jumlah diabetisi di Indonesia dari 8,4 juta pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta diabetisi pada tahun 2030. Sekitar 80%-90% individu dengan DM tipe 2 mengalami obesitas dan obesitas dapat secara langsung menyebabkan berbagai derajat resistensi insulin (Rolefes dkk., 2006).

1.3 Tujuan Penelitian1.3.1 Tujuan UmumDiketahuinya hubungan antara kadar glukosa darah sewaktu dengan indeks glikemik konsumsi pangan pada siswa SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat dan faktor-faktor lain yang mempengaruhinya periode Agustus 2014.

1.3.2 Tujuan Khusus1.Diketahuinya sebaran menurut kadar glukosa darah sewaktu pada siswa SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat periode Agustus 2014.2.Diketahuinya sebaran menurut indeks glikemik konsumsi pangan pada siswa SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat periode Agustus 2014.3.Diketahuinya sebaran menurut aktifitas fisik pada siswa SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat periode Agustus 2014.4.Diketahuinya sebaran menurut riwayat penyakit keluarga dengan DM tipe 2 pada siswa SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat periode Agustus 2014.5.Diketahuinya sebaran menurut indeks massa tubuh pada siswa SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat periode Agustus 2014.6.Diketahuinya sebaran menurut usia pada siswa SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat periode Agustus 2014.7.Diketahuinya sebaran menurut jenis kelamin pada siswa SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat periode Agustus 2014.8.Diketahuinya sebaran menurut pendapatan pada orangtua siswa SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat periode Agustus 2014.9.Diketahuinya hubungan antara indeks glikemik konsumsi pangan, aktifitas fisik, riwayat penyakit keluarga dengan DM tipe 2, indeks massa tubuh, usia, jenis kelamin, dan pendapatan terhadap kadar glukosa darah sewaktu pada siswa SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat periode Agustus 2014.

1.4 Manfaat Penelitian1.4.1 Manfaat Bagi Peneliti1. Menerapkan pengalaman belajar dan pengetahuan selama kuliah dengan keadaan masyarakat yang sebenarnya.2. Meningkatkan minat dan semangat dalam penelitian.3. Meningkatkan kemampuan berpikir secara kritis dalam penyelesaian masalah yang ada di masyarakat.4. Sebagai pemenuhan nilai penelitian dalam program kepaniteraan klinik Ilmu Kedokteran Komunitas penulis di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana.

1.4.2 Manfaat Bagi Perguruan Tinggi1. Melaksanakan salah satu tridarma perguruan tinggi, yaitu fungsi atau tugas perguruan tinggi sebagai lembaga yang menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan pengabdian bagi masyarakat.2. Mewujudkan Universitas Kristen Krida Wacana sebagai Universitas riset dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan dan meningkatkan peran pendidik dalam menyampaikan mengenai hubungan kadar glukosa darah sewaktu dengan indeks glikemik konsumsi pangan dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi sehingga dapat menggiatkan mahasiswa dan koasisten untuk meneliti di waktu yang akan datang.3. Meningkatkan kerjasama dan hubungan yang baik antara mahasiswa dan staf pengajar.

1.4.3 Manfaat Bagi Masyarakat1. Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai hubungan indeks glikemik konsumsi pangan terhadap kadar glukosa darah sewaktu serta faktor-faktor lain yang mempengaruhi sehingga dapat mencegah penyakit serta komorbid yang berkaitan.2. Meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi kadar glukosa darah sewaktu sehingga dapat menyusun suatu rencana strategis untuk tatalaksana.

1.5 Sasaran PenelitianSasaran penelitian ini adalah siswa-siswi SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat periode Agustus 2014.

BAB IITinjauan Pustaka

2.1 Glukosa darah 2.1.1 Definisi glukosaGlukosa adalah suatu gula monosakarida, yaitu salah satu karbohidrat terpenting yang digunakan sebagai sumber tenaga utama dalam tubuh. Glukosa merupakan prekursor untuk sintesis semua karbohidrat lain di dalam tubuh seperti glikogen, ribose dan deoxyribose dalam asam nukleat, galaktosa dalam laktosa susu, dalam glikolipid, dan dalam glikoprotein dan proteoglikan (Murray R. K. et al., 2003).4

2.1.2 Definisi glukosa darah Glukosa darah adalah gula yang terdapat dalam darah yang terbentuk dari karbohidrat dalam makanan dan disimpan sebagai glikogen di hati dan otot rangka (Joyce LeeFever, 2007).5 Energi untuk sebagian besar fungsi sel dan jaringan berasal dari glukosa. Pembentukan energi alternatif juga dapat berasal dari metabolisme asam lemak, tetapi jalur ini kurang efisien dibandingkan dengan pembakaran langsung glukosa, dan proses ini juga menghasilkan metabolit-metabolit asam yang berbahaya apabila dibiarkan menumpuk, sehingga kadar glukosa di dalam darah dikendalikan oleh beberapa mekanisme homeostatik yang dalam keadaan sehat dapat mempertahankan kadar dalam rentang 70 sampai 110 mg/dl dalam keadaan puasa.5 Setelah pencernaan makanan yang mengandung banyak glukosa, secara normal kadar glukosa darah akan meningkat, namun tidak melebihi 140 mg/dl. Banyak hormon ikut serta dalam mempertahankan kadar glukosa darah yang adekuat baik dalam keadaan normal maupun sebagai respon terhadap stres. Pengukuran glukosa darah sering dilakukan untuk memantau keberhasilan mekanisme regulatorik ini. Penyimpangan yang berlebihan dari normal, baik terlalu tinggi atau terlalu rendah, menandakan terjadinya gangguan homeostatis dan sudah semestinya mendorong tenaga analis kesehatan melakukan pemeriksaan untuk mencari etiologinya.5

2.1.3 Kadar glukosa darah sewaktuKadar glukosa darah sewaktu adalah pemeriksaan gula darah yang dilakukan setiap waktu sepanjang hari tanpa memperhatikan makanan terakhir yang dimakan dan kondisi tubuh orang tersebut. Konsentrasi gula darah, atau tingkat glukosa serum, diatur dengan ketat di dalam tubuh. Umumnya tingkat gula darah bertahan pada batas-batas yang sempit sepanjang hari (70-140 mg/dl). Tingkat ini meningkat setelah makan dan biasanya berada pada level terendah pada pagi hari, sebelum orang makan (Henrikson J. E. et al., 2009).6

2.2 Indeks glikemik2.2.1 Definisi indeks glikemikIndeks glikemik adalah tingkatan pangan menurut efeknya terhadap gula darah. Bahan pangan dicerna dengan kecepatan berbeda-beda, sehingga respons kadar glukosa darah juga berbeda. IG dapat memberikan petunjuk kepada efek faali makanan terhadap kadar glukosa darah dan respons insulin serta cara yang mudah dan efektif untuk mengendalikan fluktuasi glukosa darah. Menurut Miller et al. (1992) dan Pruett (2010), nilai IG dapat dikelompokkan menjadi tiga kelas, yaitu IG rendah (< 55), sedang (55-70), dan tinggi (> 70).7Pengukuran indeks glikemik menggunakan pangan acuan dan pangan standar. Prosedur penentuan IG pangan dilakukan dengan prosedur baku (Miller et.al, 1997). Selama pengukuran IG subjek berada dalam keadaan santai atau aktivitas ringan. Kurva polinomial respon glikemik masing-masing pangan uji ditentukan dengan pendekatan trial and error dengan bantuan Microsoft Excel. Model polinomial yang terpilih adalah yang memiliki nilai R2 yang paling tinggi (Rimbawan dkk, 2004).7

2.2.2 Definisi konsumsi panganPola makan atau pola konsumsi pangan adalah susunan jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi seseorang atau kelompok orang pada waktu tertentu (Yayuk Farida Baliwati, 2004 : 69). Pola makan merupakan berbagai informasi yang memberi gambaran mengenai macam dan jumlah bahan makanan yang dimakan tiap hari oleh suatu orang dan merupakan ciri khas untuk suatu kelompok masyarakat tertentu (Soegeng Santosa dan Anne Lies Ranti, 2004 : 89). Pendapat dua pakar yang berbeda-beda dapat diartikan secara umum bahwa pola makan adalah cara atau perilaku yang ditempuh seseorang atau sekelompok orang dalam memilih, menggunakan bahan makanan dalam konsumsi pangan setiap hari yang meliputi jenis makanan, jumlah makanan, dan frekuensi makan yang berdasarkan pada faktor-faktor sosial, budaya dimana mereka hidup.7Pola makan terdiri dari:7a. Frekuensi makanFrekuensi makan adalah jumlah makan dalam sehari-hari baik kualitatif maupun kuantitatif. Secara alamiah makanan diolah dalam tubuh melalui alat-alat pencernaan mulai dari mulut sampai usus halus. Lama makanan dalam lambung tergantung sifat dan jenis makanan. Jika dirata-rata, umumnya lambung kosong antara 3-4 jam. Maka jadwal makan ini pun menyesuaikan dengan kosongnya lambung. Porsi makan pagi tidak perlu sebanyak porsi makan siang dan makan malam secukupnya saja, untuk memenuhi energi dan sebagian zat gizi sebelum tiba makan siang. Lebih baik lagi jika makanan ringan sekitar pukul 10.00. menu sarapan yang baik harus mengandung karbohidrat, protein, dan lemak serta cukup air untuk mempermudah pencernaan makanan dan penyerapan zat gizi.b. Jenis makanan Jenis makanan adalah variasi bahan makanan yang kalau dimakan, dicerna, dan diserap akan menghasilkan paling sedikit susunan menu sehat dan seimbang. Menyediakan variasi makanan merupakan salah satu cara untuk menghilangkan rasa bosan sehingga mengurangi selera makan. c. Tujuan makanSecara umum tujuan makan menurut ilmu kesehatan adalah memperoleh energi yang berguna untuk pertumbuhan, mengganti sel tubuh yang rusak, mengatur metabolisme tubuh serta meningkatkan daya tahan tubuh terhadap serangan penyakit (Uripi, 2002).

2.2.3 Indeks glikemik konsumsi panganPengaruh konsumsi pangan terhadap kadar glukosa darah selama periode tertentu disebut respons glikemik. Pemahaman yang baik terhadap respons glikemik sangat diperlukan, baik bagi orang sehat untuk menghindari DM, maupun penderita DM. Hal tersebut diperlukan untuk memilih jenis, bentuk asupan, dan jumlah karbohidrat/ bahan pangan yang dikonsumsi (Sheard et al, 2004). Jenkins et al. (1981) pertama kali memperkenalkan konsep indeks glikemik (IG) dengan mengelompokkan bahan pangan berdasarkan efek fisiologisnya terhadap kadar glukosa darah setelah pangan dikonsumsi.7 Respons glikemik merupakan kondisi fisiologis kadar glukosa darah selama periode tertentu setelah seseorang mengonsumsi pangan. Menurut Frei et al. (2003), karbohidrat yang berasal dari tanaman yang berbeda mempunyai respons glikemik yang berbeda pula. Perbedaan respons glikemik juga mungkin terjadi pada karbohidrat yang berasal dari tanaman yang sama namun berbeda varietas.7

Tabel 2.1 Indeks glikemik beberapa pangan karbohidrat7Golongan Indeks GlikemikNamaIndeks Glikemik

Indeks Glikemik TinggiNasi putih89

Kentang87

Oatmeal83

Semangka72

Roti putih71

Roti gandum utuh71

Indeks Glikemik SedangUbi70

Softdrink 68

Pisang 62

Roti hamburger61

Madu61

Jagung rebus60

Anggur59

Spagheti58

Es krim57

Kue pisang55

Indeks Glikemik RendahTalas54

Keripik kentang51

Nasi merah50

Mie instan 47

Makaroni47

Chicken nugget46

Keripik jagung 42

Susu 41

Jeruk40

Apel39

Pear38

Wortel25

Yogurt33

Kacang merah29

Kacang mede27

Kacang kedelai15

Kacang tanah7

2.2.4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Indeks Glikemik (IG)Faktor-faktor yang mempengaruhi IG pada pangan antara lain adalah kadar serat, perbandingan amilosa dan amilopektin (Rimbawan dan Siagian 2004), daya cerna pati, kadar lemak dan protein, dan cara pengolahan (Ragnhild et al. 2004). Masing-masing komponen bahan pangan memberikan kontribusi dan saling berpengaruh hingga menghasilkan respons glikemik tertentu (Widowati 2007).7a. Kadar Serat PanganSerat pangan merupakan komponen utama penyusun dinding sel tanaman seperti pada buah-buahan, sayuran, serealia, dan aneka umbi. Komponen serat pangan meliputi polisakarida yang tidak dapat dicerna, seperti selulosa, hemiselulosa, oligosakarida, pektin, gum, dan waxes (Englyst dan Cummings 1985; Sardesai 2003; Astawan dan Wresdiyati 2004; Marsono 2004). Hasil-hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara kadar serat pangan dengan nilai IG pangan tersebut. Secara umum, buah-buahan yang mengandung kadar serat pangan tinggi memiliki nilai IG yang rendah, misalnya kadar serat pangan jambu biji 5,6 g/100 g dengan nilai IG 19 (Tabel 2.1).7Keberadaan serat pangan dapat mempengaruhi kadar glukosa darah (Fernandes et al. 2005). Secara umum, kandungan serat pangan yang tinggi berkontribusi pada nilai IG yang rendah (Trinidad et al. 2010). Dalam bentuk utuh, serat dapat bertindak sebagai penghambat fisik pada pencernaan. Serat dapat memperlambat laju makanan pada saluran pencernaan dan menghambat aktivitas enzim sehingga proses pencernaan khususnya pati menjadi lambat dan respons glukosa darah pun akan lebih rendah. Dengan demikian IG-nya cenderung lebih rendah.7Peran serat pangan dalam membantu menurunkan nilai IG diduga berkaitan dengan fungsi fisiologis dari komponen-komponennya. Komponen serat pangan dapat dikelompokkan menjadi serat larut dan tidak larut, atau terfermentasi dan tidak terfermentasi.7Serat pangan tidak larut diartikan sebagai serat pangan yang tidak dapat larut dalam air panas maupun air dingin (Muchtadi 2001). Fungsi utama serat pangan tidak larut yaitu mencegah penyakit yang berhubungan dengan saluran pencernaan. Selulosa dan hemiselulosa merupakan serat pangan tidak larut dan bersifat kaku sehingga berperan dalam pembentukan struktur buah (keragaan fisik buah). Tekstur buah yang lunak dan berjus tinggi cenderung mudah dikunyah, memiliki dinding sel yang tipis dan mudah pecah serta konsentrasi padatan terlarut (osmolality) yang rendah, sehingga mempermudah terlepasnya gula dari sel dan meningkatkan penyerapan (Hoerudin 2012). Dengan demikian, struktur makanan dapat mempengaruhi nilai IG.7Fungsi serat pangan larut terutama adalah memperlambat pencernaan di dalam usus, memberikan rasa kenyang lebih lama, dan memperlambat laju peningkatan glukosa darah sehingga insulin yang dibutuhkan untuk mentransfer glukosa ke dalam sel-sel tubuh dan mengubahnya menjadi energi semakin sedikit. Pektin merupakan salah satu contoh serat pangan yang larut dalam air dan menentukan viskositas serat pangan (Guevarra dan Panlasigui 2000).7b. Kadar Amilosa dan AmilopektinGranula pati terdiri atas dua fraksi, yakni amilosa dan amilopektin yang keduanya dapat dipisahkan dengan air panas. Amilosa disebut sebagai fraksi terlarut, sedangkan amilopektin sebagai fraksi tidak larut.Amilosa merupakan polimer rantai lurus glukosa yang dihubungkan oleh ikatan -(1,4)-glikosidik. Amilopektin merupakan polimer gula sederhana, bercabang, dan struktur terbuka (BeMiller dan Whistler 1996). Amilopektin pada dasarnya mirip amilosa, namun memiliki ikatan -(1,6)-glikosidik pada titik percabangannya. Amilopektin bersifat lebih rapuh (amorphous) dibanding amilosa yang struktur kristalnya cukup dominan.7Kandungan amilosa yang lebih tinggi menyebabkan pencernaan menjadi lebih lambat karena amilosa merupakan polimer glukosa yang memiliki struktur tidak bercabang (struktur lebih kristal dengan ikatan hidrogen yang lebih ekstensif). Amilosa juga mempunyai ikatan hidrogen yang lebih kuat dibandingkan dengan amilopektin, sehingga lebih sukar dihidrolisis oleh enzim-enzim pencernaan (Behall dan Hallfrisch 2002). Struktur yang tidak bercabang ini membuat amilosa terikat lebih kuat sehingga sulit tergelatinisasi dan akibatnya sulit dicerna (Rimbawan dan Siagian 2004).7Selain itu, amilosa mudah bergabung dan mengkristal sehingga mudah mengalami retrogradasi yang bersifat sulit untuk dicerna (Meyer 1973). Amilosa sangat berperan pada proses gelatinisasi dan lebih menentukan karakteristik pasta pati. Kadar amilosa yang tinggi memberikan kontribusi yang signifikan terhadap perubahan kekuatan ikatan hidrogen sehingga pati membutuhkan energi yang lebih besar untuk gelatinisasi. Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa pangan yang memiliki proporsi amilosa lebih tinggi dibanding amilopektin memiliki nilai IG yang lebih rendah, begitu juga sebaliknya. Kadar amilosa yang tinggi pada beras dapat memperlambat pencernaan pati sehingga menyebabkan IG rendah (Frei et al. 2003). Laju pencernaan yang lebih lambat setelah mengkonsumsi nasi dari beras berkadar amilosa tinggi diduga karena pada saat pengolahan atau pemanasan, amilosa membentuk kompleks dengan lipid, sehingga menurunkan kerentanan terhadap hidrolisis enzimatik (Yusof et al. 2005).7c. Daya Cerna PatiDaya cerna pati adalah tingkat kemudahan suatu jenis pati untuk dihidrolisis oleh enzim pemecah pati menjadi unit-unit yang lebih sederhana (Mercier dan Colonna 1988). Enzim pemecah pati dapat dibagi menjadi dua golongan, yaitu endo-amilase dan ekso-amilase. Enzim alfa-amilase termasuk ke dalam golongan endo-amilase yang bekerja memutus ikatan di dalam molekul amilosa dan amilopektin (Tjokroadikoesoemo 1986).7Proses pencernaan pati dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor intrinsik dan faktor ekstrinsik (Tharanthan dan Mahadevamma 2003). Faktor intrinsik menyebabkan pati dicerna pada usus halus. Faktor intrinsik berkaitan erat dengan sifat alami pati, seperti ukuran granula, keberadaannya pada matrik pangan, serta jumlah dan ukuran pori pada permukaan pati. Ukuran granula pati berkaitan dengan luas penampang permukaan totalnya. Semakin kecil ukuran granula pati, semakin besar luas permukaan total granula pati tersebut. Dengan luas permukaan yang lebih besar, enzim pemecah pati memiliki area yang lebih luas untuk menghidrolisis pati menjadi glukosa. Semakin mudah enzim bekerja, semakin cepat pencernaan dan penyerapan karbohidrat pati. Dhital et al. (2010) melaporkan terdapat korelasi negatif antara ukuran granula pati dengan koefisien laju pencernaan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa proses hidrolisis pati terjadi melalui mekanisme difusi terkendali (diffusion-controlled) atau permukaan terkendali (surface-controlled). Dengan kata lain, luas permukaan granula pati berperan dalam mengendalikan laju pencernaan. Oleh karena itu, jika ukuran granula pati kecil, maka pati tersebut diduga akan memberikan nilai IG tinggi.7Sebagai faktor intrinsik, struktur matrik bahan pangan dapat mengganggu akses enzim amilase. Granula pati yang terperangkap di dalam matriks pangan lebih sulit diakses sehingga lebih lambat dicerna. Jumlah dan ukuran pori merupakan faktor intrinsik lain yang dapat mempengaruhi daya cerna pati. Granula pati dari tanaman yang berbeda dapat memiliki jumlah dan ukuran pori yang berbeda. Sebagai contoh, Dhital et al. (2010) melaporkan pati kentang memiliki struktur permukaan yang halus dan tidak terdapat banyak pori. Sementara itu, pati jagung memiliki permukaan yang lebih kasar, jumlah pori yang lebih banyak, dan ukuran pori yang lebih besar dibandingkan dengan pati kentang. Koefisien difusi -amilase dalam menghidrolisis pati jagung (7,40 x 10-10 cm2/detik) lima kali lebih cepat dibandingkan dengan koefisien difusi pada pati kentang (7,40 x 10-10 cm2/detik). Karbohidrat yang diserap secara lambat akan menghasilkan puncak kadar glukosa darah yang rendah dan berpotensi mengendalikan daya cerna pati beras yang dipengaruhi oleh komposisi amilosa/ amilopektin (Foster et al. 2002; Willet et al. 2002).7Faktor ekstrinsik yang mempengaruhi pencernaan pati antara lain adalah lamanya waktu pencernaan dalam lambung (transit time), aktifitas amilase pada usus, jumlah pati, dan keberadaan komponen pangan lainnya seperti zat anti gizi. Faktor-faktor ekstrinsik tersebut saling berinteraksi sangat kompleks/ rumit. Daya cerna pati yang rendah berarti hanya sedikit jumlah pati yang dapat dihidrolisis oleh enzim pencernaan dalam waktu tertentu. Dengan demikian, kadar glukosa dalam darah tidak mengalami kenaikan secara drastis sesaat setelah makanan tersebut dicerna dan dimetabolisme oleh tubuh. Lebih jauh, Chung et al. (2006) melaporkan bahwa pati bahan pangan yang tergelatinisasi sebagian memiliki daya cerna pati yang rendah. Dengan demikian, pati yang tergelatinisasi sebagian relatif lebih tahan terhadap hidrolisis enzim sehingga nilai IG-nya cenderung lebih rendah.7d. Kadar Lemak dan ProteinLemak merupakan sumber energi bagi tubuh yang lebih efektif daripada karbohidrat dan protein. Satu gram lemak menghasilkan 9 kkal energi, sedangkan karbohidrat dan protein hanya menghasilkan energi 4 kkal. Protein adalah sumber asam amino yang mengandung unsur-unsur C, H, O, dan N. Fungsi utama protein adalah untuk membentuk jaringan baru dan mempertahankan jaringan yang telah ada. Protein juga berfungsi sebagai zat pengatur proses metabolisme tubuh. Pangan dengan kadar lemak yang tinggi cenderung memperlambat laju pengosongan lambung, sehingga laju pencernaan makanan pada usus halus juga lambat.7Sementara itu, kadar protein yang tinggi diduga merangsang sekresi insulin (Jenkins et al. 1981) sehingga glukosa dalam darah tidak berlebih dan terkendali. Oleh karena itu, pangan dengan kandungan lemak dan protein tinggi cenderung memiliki IG lebih rendah dibandingkan dengan pangan sejenis yang berkadar lemak dan protein rendah (Jenkins et al. 1981; Rimbawan dan Siagian 2004).7

e. Cara PengolahanSalah satu faktor yang memengaruhi nilai IG suatu produk pangan adalah cara pengolahan, seperti pemanasan (pengukusan, perebusan, penggorengan) dan penggilingan (penepungan) untuk memperkecil ukuran partikel. Cara pengolahan dapat mengubah sifat fisikokimia suatu bahan pangan seperti kadar lemak dan protein, daya cerna, serta ukuran pati maupun zat gizi lainnya. Pemanasan pati dengan air berlebihan mengakibatkan pati mengalami gelatinisasi dan perubahan struktur. Pemanasan kembali dan pendinginan pati yang telah mengalami gelatinisasi juga mengubah struktur pati lebih lanjut yang mengarah pada terbentuknya kristal baru yang tidak larut, berupa pati teretrogradasi, sehingga menyebabkan terjadinya perubahan nilai IG (Haliza et al.2006).7

2.2.5 Hubungan antara indeks glikemik konsumsi pangan dengan kadar gula darahSecara umum, pangan yang menaikkan kadar glukosa darah dengan cepat memiliki IG tinggi, sedangkan pangan yang menaikkan kadar gula darah dengan lambat memiliki IG rendah (Ragnhild et al.2004; Rimbawan dan Siagian 2004; Atkinson et al. 2008).7Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Fitri I dkk, Program Studi Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, indeks glikemik berhubungan bermakna dengan kadar gula darah (r= 0,638; p= 0,000). Hubungan ini bersifat positif, sehingga semakin tinggi indeks glikemik yang dimakan, maka semakin tinggi kadar gula darah. Pada penelitian ini menggunakan sebagian nilai indeks glikemik pada bahan makanan yang berasal dari negara-negara lain sehingga dimungkinkan terdapat perbedaan/ variasi nilai indeks glikemik pada pasien DM tipe 2.8

2.3 MetabolismeMetabolisme merupakan segala proses reaksi kimia yang terjadi di dalam makhluk hidup. Proses yang lengkap dan komplit sangat terkoordinatif melibatkan banyak enzim di dalamnya, sehingga terjadi pertukaran bahan dan energi. Adapun metabolisme yang terjadi dalam tubuh yang mempengaruhi kadar gula darah, yaitu :

2.3.1 Metabolisme karbohidratKarbohidrat bertanggung jawab atas sebagian besar intake makanan sehari-hari, dan sebagian besar karbohidrat akan diubah menjadi lemak. Fungsi dari karbohidrat dalam metabolisme adalah sebagai bahan bakar untuk oksidasi dan menyediakan energi untuk proses-proses metabolisme lainnya (William F. Ganong, 2003).9Karbohidrat dalam makanan terutama adalah polimer-polimer hexosa, dan yang penting adalah glukosa, laktosa, fruktosa dan galaktosa. Kebanyakan monosakarida dalam tubuh berada dalam bentuk D-isomer. Hasil yang utama dari metabolisme karbohidrat yang terdapat dalam darah adalah glukosa (William F. Ganong, 2003). Glukosa yang dihasilkan begitu masuk dalam sel akan mengalami fosforilasi membentuk glukosa-6-fosfat, yang dibantu oleh enzim hexokinase, sebagai katalisator. Hati memiliki enzim yang disebut glukokinase, yang lebih spesifik terhadap glukosa, dan seperti halnya hexokinase, akan meningkat kadarnya oleh insulin, dan berkurang pada saat kelaparan dan diabetes. Glukosa-6-fosfat dapat berpolimerisasi membentuk glikogen, sebagai bentuk glukosa yang dapat disimpan, terdapat dalam hampir semua jaringan tubuh, tetapi terutama dalam hati dan otot rangka (William F. Ganong, 2003).9

2.3.2 Metabolisme gula darahGula darah setelah diserap oleh dinding usus akan masuk dalam aliran darah masuk ke hati, dan disintesis menghasilkan glikogen kemudian dioksidasi menjadi CO2 dan H2O atau dilepaskan untuk dibawa oleh aliran darah ke dalam sel tubuh yang memerlukannya. Kadar gula dalam tubuh dikendalikan oleh suatu hormon yaitu hormon insulin, jika hormon insulin yang tersedia kurang dari kebutuhan, maka gula darah akan menumpuk dalam sirkulasi darah sehingga glukosa darah meningkat. Bila kadar gula darah ini meninggi hingga melebihi ambang ginjal, maka glukosa darah akan keluar bersama urin (glukosuria).9

2.3.3 Absorbsi gula darahTubuh setelah mendapat intake makanan yang mengandung gula akan melakukan proses pencernaan, dan absorbsi akan berlangsung terutama di dalam duodenum dan jejunum proksimal, setelah absorbsi akan terjadi peningkatan kadar gula darah untuk sementara waktu dan akhirnya kembali pada kadar semula baseline.9Besarnya kadar gula yang diabsorbsi sekitar 1 gram/kg BB tiap jam. Kecepatan absorbsi gula di dalam usus halus konstan tidak tergantung pada jumlah gula yang ada atau kadar dimana gula berada.9

2.3.4. Hormon utama pada homeostasis metabolik Hormon homeostasis metabolik berespons terhadap perubahan yang terjadi dalam asupan makanan dan status fisiologis dengan cara sedemikian sehingga ketersediaan bahan bakar dapat disesuaikan. Insulin dan glukagon secara terus-menerus berfluktuasi sebagai respon terhadap pola makan kita sehari-hari maka dianggap sebagai hormon yang utama dalam homeostasis metabolik di samping hormon-hormon tambahan lain seperti epinefrin, norepinefrin, dan kortisol. Homeostasis metabolik juga dipengaruhi oleh kadar metabolit yang beredar dalam darah dan sinyal neuron (Cranmer H. et al., 2009).10

2.3.4.1 Insulin Insulin adalah hormon yang bersifat anabolik yang mendorong penyimpanan glukosa sebagai glikogen di hati dan otot, perubahan glukosa menjadi triasilgliserol di hati dan penyimpanannya di jaringan adiposa, serta penyerapan asam amino dan sintesis protein di otot rangka. Insulin meningkatkan sintesis albumin dan protein darah lainnya oleh hati dan meningkatkan penggunaan glukosa sebagai bahan bakar dengan merangsang transpor glukosa ke dalam otot dan jaringan adiposa. Insulin juga bekerja menghambat mobilisasi bahan bakar. Pelepasan insulin ditentukan terutama oleh kadar glukosa darah, terjadi dalam beberapa menit setelah pankreas terpajan oleh kadar glukosa yang tinggi. Ambang untuk pelepasan insulin adalah sekitar 80 mg/dl. Kadar tertinggi insulin terjadi sekitar 30-45 menit setelah makan makanan tinggi karbohidrat. Kadar insulin kembali ke tingkat basal seiring dengan penurunan kadar glukosa darah, sekitar 120 menit selepas makan (Cranmer H. et al., 2009).10 Insulin disintesis oleh sel pada pankreas endokrin yang terdiri dari kelompok mikroskopis kelenjar kecil, atau pulau Langerhans, tersebar di seluruh pankreas eksokrin. Perangsangan insulin oleh glukosa menyebabkan eksositosis vesikel penyimpanan insulin, suatu proses yang bergantung pada ion K+, ATP, dan ion Ca2+. Fosforilasi glukosa dan metabolisme selanjutnya mencetuskan pelepasan insulin melalui suatu mobilisasi Ca2+ intrasel. Pulau Pankreas dipersarafi oleh sistem autonom, termasuk cabang nervus vagus, yang membantu mengkoordinasi pelepasan insulin dengan tindakan makan (Aswani V., 2010).11 Hasil kerja insulin adalah insulin melawan fosforilasi yang dirangsang oleh glukagon, insulin bekerja melalui jenjang fosforilasi yang merangsang fosforilasi beberapa enzim, insulin menginduksi dan menekan sintesis enzim spesifik, insulin bekerja sebagai faktor pertumbuhan dan memiliki efek perangsangan umum terhadap sintesis protein, dan insulin merangsang transpor glukosa dan asam amino ke dalam sel (Aswani V., 2010).11

2.3.4.2 Glukagon Glukagon berfungsi untuk mempertahankan ketersediaan bahan bakar apabila tidak tersedia glukosa makanan dengan merangsang pelepasan glukosa dari glikogen hati. Glukagon merangsang glukoneogenesis dari laktat, gliserol, dan asam amino, dan, bersama dengan penurunan insulin, glukagon memobilisasi asam lemak dari triasilgliserol adiposa sebagai sumber bahan bakar alternatif. Bekerja terutama di hati dan jaringan adiposa dan hormon ini tidak memiliki pengaruh terhadap metabolisme otot rangka (Cranmer H. et al., 2009).10 Pelepasan glukagon dikontrol terutama melalui supresi oleh glukosa dan insulin. Kadar terendah glukagon terjadi setelah makan makanan tinggi karbohidrat. Karena semua efek glukagon dilawan oleh insulin, perangsangan pelepasan insulin yang disertai tekanan sekresi glukagon oleh makanan tinggi karbohidrat, lemak, dan protein yang terintegrasi (Cranmer H. et al., 2009).10Glukagon disintesis oleh sel pada pankreas endokrin yang terdiri dari kelompok mikroskopis kelenjar kecil, atau pulau Langerhans, tersebar di seluruh pankreas eksokrin. Hormon tertentu merangsang glukagon seperti katekolamin, kortisol, dan hormon saluran cerna tertentu (Aswani V., 2010).11

2.4 Aktifitas fisik2.4.1 Definisi aktifitas fisikTerdapat beberapa pengertian dari beberapa ahli mengenai aktifitas fisik diantaranya, menurut Almatsier, 2003 aktifitas fisik ialah gerakan fisik yang dilakukan oleh otot tubuh dan sistem penunjangnya. Aktifitas fisik adalah setiap gerakan tubuh yang dihasilkan oleh otot rangka yang memerlukan pengeluaran energi. Aktifitas fisik yang tidak ada (kurangnya aktifitas fisik) merupakan faktor risiko independen untuk penyakit kronis, dan secara keseluruhan diperkirakan menyebabkan kematian secara global (WHO, 2010). Jadi, kesimpulan dari pengertian aktifitas fisik ialah gerakan tubuh oleh otot tubuh dan sistem penunjangnya yang memerlukan pengeluaran energi.12

2.4.2 Jenis - jenis aktifitas fisik remajaAktifitas fisik dapat digolongkan menjadi lima tingkatan berdasarkan Nurmalina, dkk 2011 sebagai berikut:13 Aktifitas fisik ringan: berjalan kaki, menyapu lantai, mencuci baju, mencuci piring, mencuci kendaraan, mengasuh adik, les, belajar di rumah, duduk, nongkrong, main play station, main komputer, nonton TV. Aktifitas fisik sedang: jalan cepat, berlari kecil, tenis meja, berenang, bersepeda, bermain dengan hewan peliharaan, bermain musik. Aktifitas fisik berat: berlari cepat, bermain sepak bola, bermain bola basket, badminton, bela diri, aerobik, menari balet.

2.4.3 Faktor - faktor yang mempengaruhi aktifitas fisikBeberapa faktor-faktor yang mempengaruhi aktifitas fisik bagi remaja yang kegemukan atau obesitas, berikut ini beberapa faktor tersebut:13a. UmurAktifitas fisik remaja sampai dewasa meningkat sampai mencapai maksimal pada usia 25-30 tahun, kemudian akan terjadi penurunan kapasitas fungsional dari seluruh tubuh, kira-kira sebesar 0,8-1% per tahun, tetapi bila rajin berolahraga penurunan ini dapat dikurangi sampai separuhnya.b. Jenis kelaminSampai pubertas biasanya aktifitas fisik remaja laki-laki hampir sama dengan remaja perempuan, tapi setelah pubertas remaja laki-laki biasanya mempunyai nilai yang jauh lebih besar.c. Pola makanMakanan salah satu faktor yang mempengaruhi aktifitas, karena bila jumlah makanan dan porsi makanan lebih banyak, maka tubuh akan merasa mudah lelah, dan tidak ingin melakukan kegiatan seperti olah raga atau menjalankan aktifitas lainnya. Kandungan dari makanan yang berlemak juga banyak mempengaruhi tubuh untuk melakukan aktifitas sehari-hari ataupun berolahraga, sebaiknya makanan yang akan dikonsumsi dipertimbangkan kandungan gizinya agar tubuh tidak mengalami kelebihan energi namun tidak dapat dikeluarkan secara maksimal.d. Penyakit/ kelainan pada tubuhBerpengaruh terhadap kapasitas jantung paru, postur tubuh, obesitas, hemoglobin/ sel darah dan serat otot. Bila ada kelainan pada tubuh seperti di atas akan mempengaruhi aktifitas yang akan dilakukan. Seperti kekurangan sel darah merah, maka orang tersebut tidak diperbolehkan untuk melakukan olah raga yang berat. Obesitas juga menjadikan kesulitan dalam melakukan aktifitas fisik (Karim, 2002).Penelitian yang dilakukan Mexitalia et al., dimana jumlah anak laki-laki yang melakukan aktifitas fisik lebih banyak secara bermakna dibandingkan anak perempuan. Goran M et al., mengukur Total Energi Expenditure sebanyak 11 anak perempuan dan 11 anak laki-laki selama 5 tahun mendapatkan bahwa aktifitas fisik pada anak perempuan cenderung menurun saat awal pubertas sedangkan anak laki-laki terus meningkat hingga masa pubertas. Sallis et al., juga mendapatkan aktifitas fisik perempuan menurun lebih besar dibanding laki-laki saat mencapai umur 17 tahun (7,4% : 2,7%). Studi metaanalisis di Amerika mengatakan bahwa anak laki-laki hampir dua kali lebih aktif anak dibanding perempuan. Fenomena ini diduga karena perbedaan kebugaran aerobik dan komposisi tubuh saat menuju maturitas. Kebugaran aerobik dan IMT laki-laki relatif lebih stabil dari usia 6-16 tahun namun pada perempuan mengalami penurunan 2% per tahun.Banyak faktor yang berkaitan dengan inaktifitas pada remaja seperti gender, karakteristik fisiologis, kelas olahraga, menonton TV, musim dan cuaca, keamanan lingkungan, pengaruh orang tua, dan pengaruh teman sebaya. Gender dan karakteristik fisiologis seperti telah dijelaskan diatas merupakan faktor yang tidak dapat dirubah (non modifiable).Kelas olahraga berhubungan dengan aktifitas fisik siswa. National Children and Youth Fitness Study (NYCF) II mendapatkan aktifitas fisik anak anak mulai menurun pada kelas 8-11 dan terendah pada kelas 12. Pada anak-anak kelas 1-7 pelajaran lain tidak terlalu padat sehingga waktu luang dapat digunakan untuk kelas olahraga. Namun pada jenjang yang lebih tinggi pelajaran semakin padat sehingga kelas olahraga tidak mendapatkan waktu yang cukup. Jam menonton TV dan bermain video games per minggu akan mengurangi kesempatan remaja untuk berada di luar rumah. Klesges melaporkan persen waktu berada di luar rumah berhubungan erat dengan aktifitas fisik pada remaja. Secara tidak langsung menonton TV dan bermain video games mengurangi kesempatan remaja berada di luar rumah sehingga akan mengurangi juga kesempatan untuk beraktifitas fisik.Musim dan cuaca memainkan peran terhadap aktifitas fisik remaja. Menurut NYCF II aktifitas fisik remaja tertinggi pada musim panas, menurun pada musim gugur, terendah pada musim salju dan meningkat lagi pada musim semi. Kesempatan berada diluar rumah akan meningkatkan kesempatan remaja untuk beraktifitas fisik, namun demikian keamanan lingkungan buruk justru akan menurunkannya. Selain pengaruh orang tua, pengaruh teman sebaya juga mempengaruhi kebiasaan beraktifitas remaja. Pada sebuah studi pengaruh teman karib ternyata lebih signifikan mempengaruhi kebiasaan beraktifitas fisik remaja daripada pengaruh orang tua.

2.4.4 Hubungan aktifitas fisik terhadap kadar gula darahEfek baik dari aktifitas adalah untuk meningkatkan metabolisme di dalam tubuh, semisal aktifitas fisik olah raga bagi penderita DM dapat meningkatkan perbaikan ikatan insulin dengan reseptornya dan perbaikan pada sensitifitas insulin hampir selalu proposional dengan kesegaran jasmani yang dapat diukur dengan VO2 maksimum. Aktifitas fisik juga mempengaruhi agregasi trombosit pada pengidap DM jika melakukan aktifitas fisik olah raga dengan tepat, sehingga dapat mencegah penyakit trombosis pada DM, terutama yang berkaitan dengan kebutaan. Penderita DM lansia sangatlah diperlukan latihan aktifitas fisik untuk memperbaiki peredaran darah di kaki.13Olahraga membantu penderita DM mengontrol berat badan yang merupakan indikator penunjuk penderita DM. Penderita DM memiliki terlalu banyak glukosa dalam darah akibat kekurangan insulin, hormon yang membantu sel menyerap glukosa. Olahraga dapat membantu melarutkan pembekuan darah lebih mudah. Tingginya tingkat insulin dalam darah memungkinkan terjadi pembekuan darah lebih mudah karena itu mengapa DM erat kaitannya dengan penyakit kardiovaskuler.13 Kurang berolahraga merupakan salah satu faktor risiko utama terjadinya DM. Menurut Haznam (1991) olahraga dianjurkan karena bertambahnya kegiatan fisik menambah reseptor insulin dalam sel target. Dengan demikian insulin dalam tubuh bekerja lebih efektif. Latihan olahraga merupakan modifikasi kedua pada pengobatan hiperglikemia pada DM. Glukosa dapat masuk ke dalam sel-sel otot yang aktif tanpa bantuan insulin, dan kemudian dioksidasi menjadi karbondioksida dan air, sehingga olahraga mempunyai aksi hipoglikemik. Olahraga juga mampu untuk menurunkan resistensi insulin dan menurunkan berat badan pada diabetik dengan obesitas (kegemukan). Olahraga tidak begitu besar mempengaruhi kadar gula darah penderita DM tipe 1, karena produksi insulin yang terganggu atau tidak ada. Tetapi keuntungan yang lainnya adalah mengurangi risiko penyakit jantung, gangguan pembuluh darah perifer. Sedangkan pada penderita DM tipe 2, latihan jasmani berperan utama dalam pengaturan glukosa darah. Pada saat berolahraga, permeabilitas membran meningkat pada otot yang berkontraksi, sehingga resistensi insulin berkurang.13Pada penelitian Rahmawati dkk, Program Studi Ilmu Gizi, Fakultas Kesehatan Masyarakat, UNHAS dengan menggunakan metode cross-sectional. Hasil analisis Chi-Square dengan metode didapatkan bahwa nilai p= 0,002, yang berarti bahwa ada hubungan antara aktifitas fisik dengan kadar glukosa darah, dan nilai OR= 7,15, yang artinya penderita DM tipe 2 yang memiliki intensitas aktifitas fisik yang kurang kemungkinan 7,15 kali lebih besar mempunyai risiko kadar glukosa darah tidak terkontrol.14

2.5 Riwayat penyakit keluarga dengan Diabetes Mellitus tipe 22.5.1 Definisi riwayat penyakit keluargaRiwayat Penyakit Keluarga (RPK) adalah riwayat penyakit yang diderita keluarga sebagai informasi apakah merupakan penyakit yang ditularkan atau penyakit keturunan.15 Elemen inti RPK adalah:151. Latar belakang keluarga. Usia kedua orangtuanya, keadaan kesehatan mereka, penyakit - penyakit fisik dan emosional yang pernah mereka derita di masa lalu, kejadian-kejadian penting yang berhubungan dengan umur penderita pada saat peristiwa itu terjadi. Mencakup juga pertanyaan-pertanyaan yang menyangkut kakek serta neneknya dan anggota keluarga lainnya. 2. Saudara kandung. Jumlah kehamilan yang pernah dialami oleh ibunya; jumlah saudara laki-laki dan saudara perempuannya, keadaan kesehatan mereka semua, penyakit - penyakit yang pernah mereka derita. 3. Riwayat perkawinan. Suatu pernyataan tentang istri/ suami serta anak-anak penderita, termasuk umur mereka masing-masing, keadaan kesehatan mereka, penyakit-penyakit ataupun persoalan-persoalan yang pernah dialami serta hubungan emosional yang terdapat antara mereka. 4. Riwayat keturunan. insiden penyakit-penyakit tulang dan sendi, alergi, kanker, diabetes mellitus, gangguan perdarahan, hipertensi, epilepsi, penyakit ginjal, migren, gangguan saraf dan jiwa, demam rematik, tukak lambung dan lain-lain pola penyakit yang dominan yang terdapat di lingkungan keluarga penderita.

2.5.2 Diabetes Mellitus 2.5.2.1 Definisi diabetes mellitusDiabetes mellitus (DM) adalah suatu kumpulan gejala klinis (sindroma klinis) yang timbul oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah kronis akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Katzung, 2002).16 Penyebab diabetes mellitus adalah kekurangan hormon insulin yang berfungsi memanfaatkan glukosa sebagai sumber energi dan mensintesis lemak. Akibatnya adalah glukosa bertumpuk di dalam darah (hiperglikemia) dan akhirnya diekskresikan lewat kemih tanpa digunakan (glucosuria). Oleh karena itu, produksi kemih sangat meningkat dan pasien harus sering kencing, merasa sangat haus, berat badan menurun, dan merasa lelah.16

2.5.2.2 Tipe diabetes mellitusDiabetes dapat diklasifikasikan sebagai berikut: a. Diabetes mellitus tipe 1 (Insulin dependent) DM tipe 1 umumnya timbul pada anak-anak dan dewasa muda.DM tipe 1 terjadi karena destruksi sel-sel pembuat insulin melalui mekanisme imunologik sehingga menyebabkan hilangnya hampir seluruh insulin endogen. Penderita DM tipe 1 mengalami ketergantungan terhadap insulin eksogen untuk menurunkan kadar glukosa plasma dan menghindari ketoasidosis (KAD) serta untuk mempertahankan hidupnya. Pada penderita DM tipe 1 perawatan insulin adalah mutlak (Leslie, 1991).b. Diabetes mellitus tipe 2 (Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus)DM tipe 2 biasanya timbul pada usia lebih dari 40 tahun. Pada DM tipe 2 sel pankreas tidak rusak tetapi terjadi resistensi terhadap kerja insulin. Produksi insulin biasanya dapat untuk mencegah KAD, namun KAD dapat timbul bila ada stress berat (Woodley dan Whelan, 2004).17 c. DM tipe lainDapat disebabkan oleh efek genetik fungsi sel beta, defek genetik kerja insulin, penyakit eksokrin pankreas, endokrinopati, karena obat atau zat kimia, infeksi, sebab imunologi dan sindrom genetika lain yang berkaitan dengan diabetes mellitus (Katzung, 2002).16 d. Diabetes Mellitus GestasionalDiabetes yang timbul selama kehamilan, artinya kondisi diabetes atau intoleransi glukosa yang didapati selama masa kehamilan, biasanya pada trimester kedua atau ketiga. Diabetes mellitus gestasional berhubungan dengan meningkatnya komplikasi perinatal (di sekitar waktu melahirkan), dan sang ibu memiliki resiko untuk dapat menderita penyakit diabetes mellitus yang lebih besar dalam jangka waktu 5 sampai 10 tahun setelah melahirkan (Woodley dan Wheland, 2004).17

2.5.2.3 Faktor resiko yang mempengaruhi diabetes mellitusBeberapa faktor resiko dari diabetes mellitus adalah sebagai berikut:181. Keturunan Sekitar 50% pasien DM tipe 2 mempunyai orangtua yang menderita diabetes, dan lebih sepertiga pasien diabetes mempunyai saudara yang mengidap diabetes. Sedangkan untuk diabetes mellitus tipe 1, sekitar 20% terjadi pada penderita dengan riwayat keluarga terkena diabetes dan 80% terjadi pada penderita yang tidak memiliki riwayat keluarga dengan diabetes. Menurut hasil penelitian Radio, Fakultas Kedokteran UNDIP dengan menggunakan metode case-control didapatkan hasil analisis tabulasi silang, yaitu odds ratio (OR) sebesar 42,3 dan nilai p= 0,000 (OR= 42,3; 95% CI 9,5-187,2). Hal ini menunjukkan bahwa orang yang memiliki riwayat keluarga menderita DM mempunyai risiko terkena DM tipe 2 sebesar 42 kali dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki riwayat keluarga menderita DM.2. Ras atau etnisBeberapa ras tertentu, seperti suku indian di Amerika, Hispanik, dan orang Amerika di Afrika, mempunyai resiko lebih besar terkena DM tipe 2. Sedangkan DM tipe 1 sering terjadi pada orang Finlandia dengan presentase mencapai 40%. 3. UsiaPada DM tipe 1, usia muda merupakan awal terjadinya penyakit tersebut, sedangkan pada DM tipe 2 umur puncak berada pada usia diatas 45 tahun. 4. ObesitasLebih dari 8 diantara 10 penderita DM tipe 2 adalah mereka yang mengalami kegemukan. Makin banyak jaringan lemak, jaringan tubuh dan otot akan makin resisten terhadap kerja insulin, terutama bila lemak tubuh atau kelebihan berat badan terkumpul di daerah sentral atau perut. Lemak ini akan memblokir kerja insulin sehingga glukosa tidak dapat diangkut ke dalam sel dan menumpuk dalam peredaran darah. 5. Sindroma MetabolikMenurut WHO dan National Cholesterol Education Program : Adult Treatment Panel III, orang yang menderita sindroma metabolik adalah mereka yang punya kelainan seperti : tekanan darah tinggi lebih dari 160/90 mmHg, trigliserida darah lebih dari 150 mg/dl, kolesterol HDL < 40 mg/dl, obesitas sentral dengan BMI lebih dari 30, lingkar pinggang melebihi 102 cm pada pria atau melebihi 88 cm pada wanita, atau sudah terdapat mikroalbuminuria.6. Aktifitas FisikOlahraga atau aktifitas fisik membantu untuk mengontrol berat badan. Glukosa darah dibakar menjadi energi, sel-sel tubuh menjadi lebih sensitif terhadap insulin, peredaran darah lebih baik dan resiko terjadinya DM tipe 2 akan turun sampai 50%. 7. Faktor KehamilanDiabetes pada ibu hamil dapat terjadi pada 2-5% kehamilan. Biasanya diabetes akan hilang setelah anak lahir. Ibu hamil dengan diabetes dapat melahirkan bayi besar dengan berat badan lebih dari 4 kg. Apabila ini terjadi, sangat besar kemungkinan si ibu akan mengidap DM tipe 2 kelak. 8. InfeksiInfeksi virus dapat juga dijadikan penyebab timbulnya diabetes mellitus. Adapun virus-virus tersebut adalah virus cytomegalovirus, virus rubella dan virus coxsackie.

2.6 Indeks Massa Tubuh2.6.1 Definisi Indeks Masa TubuhIndeks massa tubuh (IMT) diartikan sebagai berat dalam kilogram yang dibagi dengan tinggi badan dalam meter kuadrat (Bandini, Flynn dan Scampini, 2011). Indeks massa tubuh digunakan sebagai alat skrining untuk mendeteksi masalah berat badan pada anak (CDC, 2011). Setelah dilakukan pengukuran pada tinggi dan berat badan anak, maka kita dapat melakukan plot hasil IMT pada kurva CDC BMI-for-age growth chart yang dibedakan berdasarkan jenis kelamin (Gambar 2.1; Gambar 2.2) (CDC, 2000). Perhitungan IMT pada orang dewasa berbeda dikarenakan kriteria IMT pada anak maupun remaja spesifik terhadap umur dan jenis kelamin (CDC, 2011). Jenis kelamin dan umur pada anak dan remaja dipertimbangkan karena jumlah lemak tubuh yang berubah sesuai dengan umur dan jumlah lemak tubuh yang berbeda antara perempuan dan laki-laki (CDC, 2011). CDC dan American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan penggunaan IMT sebagai skrining untuk overweight dan obesitas pada anak dimulai sejak usia 2 tahun (Tabel 2.1).19

Untuk mengetahui nilai IMT ini, dapat dihitung dengan rumus berikut: Menurut rumus metrik:Berat badan (Kg)IMT = -------------------------------------------------------[Tinggi badan (m)]2

Tabel 2.2. Kategori status berat dengan jangkauan persentil (CDC, 2002)19Katagori Status BeratJangkauan Persentil

UnderweightHealthy weightOverweightObesitas< Persentil ke-5 Persentil ke-5 - < Persentil ke-85Persentil ke-85 - < Persentil ke-95 Persentil ke-95

Gambar 2.1 Kurva BMI-for-age growth chart untuk laki-laki usia 2-20 tahun(CDC, 2000).19

Gambar 2.2 Kurva BMI-for-age growth chart untuk perempuan usia 2-20 tahun(CDC, 2000).19* Keterangan grafik: Sumbu x : usia (tahun) Sumbu y : Indeks Massa Tubuh (kg/m2) Kurva pada grafik terdiri dari persentil ke-5, ke-10, ke-25, ke-50, ke-75, ke-85, ke-90, ke-95.Cara mengukur dan menginterpretasikan kalkulasi IMT untuk anak dan remaja ialah sebagai berikut:1. Sebelum menghitung IMT, terlebih dahulu diperoleh hasil pengukuran BB dan TB yang akurat2. Hitung IMT dengan rumus: BB/TB2 (kg/m2) 3. Tinjau ulang kembali hasil persentil IMT berdasarkan usia. Persentil IMT berdasarkan usia digunakan untuk menafsirkan nilai IMT. IMT berdasarkan usia dan jenis kelamin spesifik untuk anak-anak dan remaja. Kriteria ini berbeda dari yang digunakan untuk menginterpretasikan IMT pada dewasa, yang tidak mengambil perhitungan berdasarkan usia atau jenis kelamin. Usia dan jenis kelamin dipertimbangkan untuk anak-anak dan remaja dikarenakan ada dua alasan: a. Jumlah lemak tubuh berbeda-beda sesuai usia b. Jumlah lemak tubuh berbeda antara laki-laki dan perempuan

2.6.2 Hubungan IMT dengan glukosa darah sewaktuJumlah remaja dengan status gizi lebih bertambah setiap tahun akibat penurunan aktifitas fisik serta perubahan pola makan. Status gizi lebih dapat meningkatkan kadar gula darah, sehingga remaja pada status gizi lebih beresiko memiliki kadar gula darah lebih tinggi dibanding dengan remaja status gizi baik. Dari hasil penelitian Shara, hasil analisis memperlihatkan kelompok dengan status gizi lebih memiliki rata-rata kadar gula darah lebih tinggi dengan rata-rata durasi kegiatan olahraga lebih rendah dibandingkan kelompok status gizi baik. Namun rata-rata asupan (karbohidrat, lemak, dan serat) kedua kelompok hampir sama.20Menurut penelitian Shara dkk, program studi Kesahatan Masyarakat MH. Thamrin, variabel yang sangat memiliki hubungan dengan kejadian DM tipe 2 adalah IMT (p 0,006 OR 0,14; 95% CI 0,037-0,524). Orang yang memiliki obesitas lebih berisiko 7,14 kali untuk menderita DM tipe 2 dibandingkan dengan orang yang tidak obesitas.202.7 Usia2.7.1 Definisi dan penggolongan usiaDefinisi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, usia adalah lama waktu hidup sejak lahir. Berikut adalah penggolongan kategori usia menurut Departemen Kesehatan RI membagi menjadi:21Tabel 2.3 Penggolongan kategori usiaKatagori UsiaUsia (tahun)

Balita0-5

Masa kanak-kanak5-11

Masa remaja awal12-16

Masa remaja akhir17-25

Masa dewasa awal26-35

Masa dewasa akhir36-45

Masa lansia awal46-55

Masa lansia akhir56-65

Masa manula >65

2.7.2 Hubungan usia dengan kadar glukosa darah sewaktuKadar gula darah dapat menurun sehingga terjadi perubahan jika glukosa yang terdapat di darah dapat diubah menjadi energi, sehingga tidak membuat gula darah menjadi menumpuk di aliran darah yang membuat kadar gula darah menjadi tinggi.Pada penelitian Laurentia,dkk (2009) memperlihatkan usia lebih dari 55 tahun memiliki risiko hiperglikemia 6,7 kali, sedangkan usia 35-54 tahun 4,5 kali dibanding usia 15-34 tahun. Prevalensi responden yang mempunyai riwayat DM cenderung meningkat dengan bertambahnya usia, hal ini disebabkan semakin lanjut usia maka pengeluaran insulin oleh pankreas juga semakin berkurang. Namun prevalensi pada usia 65 tahun ke atas semakin menurun, kemungkinan pada kelompok tersebut responden DM berkomplikasi berat sehingga tak bisa datang ke tempat pemeriksaan (kriteria eksklusi sakit berat) atau kemungkinan pada kelompok tersebut sebagian besar sudah meninggal.22

2.8 Jenis kelamin2.8.1 Definisi jenis kelaminDefinisi menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, jenis kelamin adalah pembagian manusia berdasarkan bentuk penampilan fisik yang dibedakan antar laki-laki dan perempuan.21

2.8.2 Hubungan jenis kelamin dengan indeks massa tubuhPada masa remaja terjadi pertumbuhan yang pesat, perubahaan kematangan fisiologis dan pertambahan berat badan karena adanya pertambahan otot pada remaja putra dan penambahan lemak pada remaja putri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden kelompok kasus dan kelompok kontrol berjenis kelamin laki-laki, konsumsi gizi pada remaja dipengaruhi oleh kebutuhan, tingkat pertumbuhan dan tingkat olahraga remaja. Remaja putra memiliki kebutuhan energi yang lebih besar daripada remaja putri.22Siswa laki-laki memiliki berat badan dan IMT lebih besar dari perempuan. Hal ini disebabkan penutupan epifise laki-laki lebih lambat yaitu pada usia 18 tahun sedangkan perempuan pada usia 16 tahun. Apabila sudah terjadi penutupan epifise maka pematangan dan pertumbuhan tulang akan terhenti padahal pematangan dan pertumbuhan tulang ini berkaitan dengan kepadatan masa dan mikro arsitektur tulang. Artinya laki-laki memiliki masa tulang yang lebih berat sehingga memiliki berat badan dan IMT yang lebih besar. Selain itu laki-laki juga mengalami penambahan masa dan jumlah sel otot skelet lebih besar seiring dengan maturitasnya. Hal ini juga menyebabkan laki-laki mempunyai berat badan dan IMT yang lebih besar.22Siswa perempuan memiliki persentase lemak lebih besar ketimbang laki-laki namun yang memiliki lingkar pinggang lebih besar justru siswa laki-laki. Tanner menyebutkan bahwa lemak pada laki-laki cenderung mengumpul di sekitar perut dan pinggang (menyerupai buah apel) sedangkan lemak pada perempuan terdistribusi di pelvis, paha dan pantat (menyerupai buah pear).22

2.9 Pendapatan2.9.1 Definisi pendapatan Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendapatan adalah hak pekerja yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha kepada pekerjanya atas suatu pekerjaan atau jasa yang telah atau akan dilakukan, ditetapkan, dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan atau peraturan perundang-undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja dan keluarganya.21

2.9.2 Penggolongan tingkat pendapatanBadan Pusat Statistik (BPS, 2008) membedakan pendapatan menjadi 4 golongan:231. Golongan pendapatan sangat tinggi adalah jika pendapatan rata-rata lebih dari Rp. 3.500.000,00 per bulan.2. Golongan pendapatan tinggi adalah jika pendapatan rata-rata lebih dari Rp. 2.500.000,00 sampai dengan Rp. 3.500.000,00 per bulan.3. Golongan pendapatan sedang adalah jika pendapatan rata-rata antara Rp. 1.500.000,00 sampai dengan Rp. 2.500.000,00 per bulan.4. Golongan pendapatan rendah adalah jika pendapatan rata-rata kurang dari Rp. 1.500.000,00 per bulan.

2.9.3 Hubungan tingkat pendapatan dengan konsumsi panganKeluarga dengan pendapatan tinggi dapat membeli makanan apa pun, termasuk makanan sehat bergizi namun juga makanan tinggi kalori/ lemak/ gula, junk food, fast food, soft drink, yang merupakan penyumbang besar terhadap masalah obesitas. Sebaliknya, keluarga dengan pendapatan rendah cenderung mengkonsumsi makanan yang kurang bergizi sehingga sering mengantarkan mereka pada kondisi buruk (Nurmalina, 2011).13Variabel ekonomi yang cukup dominan dalam mempengaruhi konsumsi pangan ialah pendapatan keluarga dan harga. Meningkatnya pendapatan akan meningkatkan peluang untuk membeli pangan dengan kuantitas dan kualitas yang lebih baik, sebaliknya penurunan pendapatan akan menyebabkan menurunnya daya beli pangan baik secara kuantitas maupun kualitas.13 Meningkatnya taraf hidup (kesejahteraan) masyarakat, pengaruh promosi melalui iklan, serta kemudahan informasi, dapat menyebabkan perubahan gaya hidup, dan timbulnya kebutuhan psikogenik baru di kalangan masyarakat ekonomi menengah ke atas. Tingginya pendapatan yang tidak diimbangi pengetahuan gizi yang cukup, akan menyebabkan seseorang menjadi sangat konsumtif dalam pola makannya sehari-hari, sehingga pemilihan suatu bahan makanan lebih didasarkan pertimbangan selera dibandingkan aspek gizi. Kecenderungan untuk mengkonsumsi makanan jenis siap santap (fast food), seperti ayam goreng, pizza, hamburger dan lain-lain, telah meningkat tajam terutama di kalangan remaja, generasi muda dan kelompok masyarakat ekonomi menengah ke atas.13

2.10 Kerangka Teori

Indeks Glikemik Konsumsi PanganKadar Glukosa Darah SewaktuAktifitas Fisik IMT Metabolisme Jenis Kelamin UsiaPendapatan

Riwayat Penyakit Keluarga dengan DM tipe 2

2.11 Kerangka Konsep

Kadar glukosa darah sewaktuIndeks glikemik konsumsi pangan

Aktifitas fisikRiwayat penyakit keluarga dengan DM tipe 2Indeks Massa TubuhUsiaJenis KelaminPendapatan

Bab IIIMetode Penelitian

3.1 Desain PenelitianDesain penelitian yang digunakan adalah metode descriptive dengan pendekatan cross sectional untuk mengetahui hubungan indeks glikemik konsumsi pangan terhadap kadar glukosa darah sewaktu dan faktor-faktor yang berhubungan pada siswa SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat.

3.2 Tempat dan Waktu PenelitianPenelitian ini dilaksanakan pada SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat periode Agustus 2014.

3.3. PopulasiSemua siswa SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat periode Agustus 2014.

3.4. Kriteria Inklusi dan EksklusiKriteria inklusi adalah semua siswa SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat pada Agustus 2014 yang makan dalam 24 jam terakhir dan bersedia menjadi subjek penelitian.Kriteria eksklusi adalah mengkonsumsi obat diabetes mellitus, seperti insulin, metformin, glimepirid, glibenklamid.3.5. Besar SampelMelalui rumus dibawah ini, didapatkan besar sampel penelitian sebagai berikut :n2 = n1 + (10%. n1)n1 = jumlah sampel minimaln2= jumlah sampel ditambah substitusi 10% (substitusi adalah persen responden yang mungkin drop out)z = nilai konversi pada tabel kurva normal, dengan nilai = 5%didapatkan z pada kurva normal = 1,96p = proporsi variabel yang ingin diteliti. Diambil 50% mengingat belum adanya penelitian tentang hubungan indeks glikemik konsumsi pangan terhadap kadar glukosa darah sewaktu pada daerah tersebut, jadi p = 50% = 0,5 Q = 100% - p = 100% - 50% = 50% = 0,5L = Derajat kesalahan yang masih diterima adalah 10%

Berdasarkan rumus diatas, didapatkan angka :n1 = n1 = 96,04

Untuk menjaga adanya kemungkinan responden yang drop out, maka dihitung :n2 = 96,04 + (10% x 96,04) n2 = 105,644 dibulatkan menjadi 106 respondenJadi, jumlah sampel minimal yang dibutuhkan adalah 106 orang

3.6. Teknik Pengambilan SampelPengambilan sampel dalam penelitian ini adalah dengan cara cluster sampling.

3.7. Cara Kerja Menghubungi kepala puskesmas kecamatan Grogol Petamburan, kepala bagian program unit kesehatan sekolah (UKS) puskesmas kecamatan Grogol Petamburan, kepala puskesmas kelurahan Tanjung Duren Selatan, kepala sekolah SMPN 69Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat, kepala UKS SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat yang menjadi daerah penelitian untuk melaporkan tujuan diadakannya penelitian tersebut. Mengumpulkan bahan ilmiah dan merencanakan desain penelitian. Pemilihan sampel kemudian dilakukan secara probability dengan cluster sampling. Membuat kuesioner sebagai instrumen pengukuran data. Melakukan pengujian kuesioner pada 10 orang responden (10% dari jumlah subjek penelitian yang telah ditentukan) di SMP Taman Harapan Indah Kelurahan Jelambar Baru Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat. Melakukan koreksi kuesioner. Menghubungi petugas-petugas UKS SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat agar membantu kegiatan penelitian. Melakukan pengumpulan data-data dengan menggunakan instrumen penelitian berupa timbangan berat badan, microtoise, pengukur kadar glukosa darah sewaktu, dan kuesioner di SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat. Melakukan pengolahan, penyajian, analisis, dan interpretasi data dengan program SPSS. Penulisan laporan penelitian Pelaporan penelitian.

3.7.1 Pengumpulan Data Data primer dikumpulkan dengan mengukur berat badan dengan timbangan berat badan, mengukur tinggi badan dengan microtoise, mengukur kadar glukosa darah sewaktu dengan alat pengukur kadar glukosa darah merek nesco, dan kuesioner.

3.8. Identifikasi Variabel Dalam penelitian ini digunakan variabel terikat (dependen) dan variabel bebas (independen). Variabel terikat berupa kadar glukosa darah sewaktu. Variabel bebas berupa indeks glikemik konsumsi pangan, indeks massa tubuh, aktifitas fisik, pendapatan, usia, jenis kelamin, riwayat penyakit keluarga dengan DM tipe 2.

3.9. Manajemen dan analisis dataTerhadap data-data yang sudah dikumpulkan dilakukan pengolahan berupa proses editing, verifikasi, dan koding. Selanjutnya dimasukkan dan diolah dengan menggunakan program SPSS. Data yang didapat akan disajikan dalam bentuk tekstular dan tabuler.Terhadap data yang telah disajikan, dilakukan analisis dengan cara uji statistik menggunakan uji Anova, Kendalls Tau-b, Mann Whitney U, dan Kruskal Wallis yang sesuai. Kemudian data diinterpretasikan secara deskriptif dan analitik antar variabel-variabel yang telah ditentukan.

3.10. Definisi OperasionalData Umum1. RespondenResponden pada penelitian ini adalah semua orang tua / wali siswa SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat yang mengisi kuesioner tentang adanya riwayat penyakit DM pada keluarga dan hasil pendapatan per bulan.

2. Subjek penelitianSeluruh siswa SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat yang bersedia dan memenuhi kriteria inklusi serta eksklusi.

3. Kadar glukosa darah sewaktuKadar glukosa darah sewaktu adalah pemeriksaan gula darah yang dilakukan setiap waktu sepanjang hari tanpa memperhatikan makanan terakhir yang dimakan dan kondisi tubuh orang tersebut.5

Alat ukur: alat pengukur kadar gula darah sewaktu merek nescoSkala: rasioHasil ukur: numerikal kadar glukosa darah sewaktu

4. Indeks glikemik (IG) konsumsi panganIndeks glikemik konsumsi pangan adalah tingkatan pangan menurut efeknya terhadap gula darah.7

Terbagi atas:7 IG konsumsi pangan rendah: kue pisang, nasi merah, mi instan, yogurt, susu, pear, apel, jeruk, kacang tanah, kacang kedelai, kacang mede, kacang merah, makaroni, keripik jagung, keripik kentang, wortel, talas, chicken nugget. IG konsumsi pangan sedang: roti hamburger, oatmeal, jagung rebus, soft drink, es krim, anggur, pisang, spagheti, ubi, madu. IG konsumsi pangan tinggi: roti putih, roti gandum, nasi putih, semangka, kentang.

Alat ukur: kuesionerSkala: ordinalHasil ukur: kategori IG konsumsi pangan

5. Indeks Massa Tubuh (IMT) IMT adalah berat dalam kilogram yang dibagi dengan tinggi badan dalam meter kuadrat. IMT dapat dengan rumus yaitu berat badan (dalam kilogram) dibagi dengan tinggi badan (dalam meter2).19Berat badan diukur dengan cara: Meletakkan timbangan pada bidang yang datar dan keras. Memastikan angka pada jarum penunjuk pada timbangan berada pada angka nol. Meminta pasien untuk melepaskan alas kaki, mengeluarkan semua barang yang terdapat pada kantong pakaian, menanggalkan semua aksesoris, dan tidak berpakaian tebal. Pasien diminta naik ke atas timbangan dengan posisi kaki tepat di tengah alat timbang, tetapi tetap tidak menutup jendela baca. Posisi kaki responden diperhatikan agar tetap dalam posisi tenang dan tidak bergerak-gerak dan kepala dengan pandangan lurus ke depan. Membaca angka yang ditunjukkan oleh jarum timbangan dengan ketelitian 0,1 kg.

Tinggi badan diukur dengan cara: Microtoise dengan kapasitas ukur 2 meter dan ketelitian 0,1 cm ditera dengan menarik papan penggeser secara tegak lurus ke bawah sampai angka pada jendela baca menunjukkan angka nol. Minta responden melepaskan alas kaki dan penutup kepala. Responden diminta berdiri tegak persis di bawah alat geser. Posisi belakang kepala, bahu, lengan, bokong, dan tumit menempel pada dinding tempat microtoise dipasang. Pandangan lurus ke depan sejajar dengan bidang Frankfurt dan tangan dalam posisi tergantung bebas. Gerakan alat geser sampai menyentuh bagian tengah puncak kepala

Terbagi atas:19 Underweight: < persentil ke-5 Healthy weight: persentil ke-5 - < persentil ke-85 Overweight: persentil ke-85 - < persentil ke-95 Obesitas: persentil ke-95

Alat ukur: mengukur berat badan dengan timbangan badan manual dewasa merk seca dan pengukuran tinggi badan dengan microtoise.Skala: ordinalHasil ukur: kategori IMT

6. UsiaUsia adalah selisih antara tanggal dilakukannya penelitian dengan tanggal lahir responden. Jika ada kelebihan usia, yang kurang dari enam bulan dibulatkan kebawah, dan bila terdapat kelebihan usia lebih atau sama dengan enam bulan dibulatkan ke atas.21

Alat ukur: kuesionerSkala: rasioHasil ukur: numerikal usia

7. Jenis kelaminPembagian manusia berdasarkan bentuk penampilan fisik yang dibedakan antara laki-laki dan perempuan yang dapat dilihat dan dikonfirmasikan dengan melihat kartu pelajar siswa.21

Alat ukur: kartu pelajarSkala: nominalHasil ukur: kategori jenis kelamin

8. Riwayat penyakit keluarga dengan DM tipe 2.Riwayat penyakit keluarga dengan DM tipe 2 adalah adanya anggota keluarga dari siswa SMPN 69 Jakarta yang terikat dengan hubungan darah yang mempunyai riwayat kencing manis.

Terbagi atas: Tidak ada riwayat penyakit keluarga dengan DM tipe 2 Ada riwayat penyakit keluarga dengan DM tipe 2

Alat ukur: kuesionerSkala: nominalHasil ukur: kategori riwayat penyakit keluarga dengan DM tipe 2

9. Aktifitas fisikAktifitas fisik adalah gerakan tubuh oleh otot tubuh dan sistem penunjangnya yang memerlukan pengeluaran energi.12

Terbagi atas:13 Aktifitas fisik ringan: berjalan kaki, menyapu lantai, mencuci baju, mencuci piring, mencuci kendaraan, mengasuh adik, les, belajar di rumah, duduk, nongkrong, main play station, main komputer, nonton TV. Aktifitas fisik sedang: jalan cepat, berlari kecil, tenis meja, berenang, bersepeda, bermain dengan hewan peliharaan, bermain musik. Aktifitas fisik berat: berlari cepat, bermain sepak bola, bermain bola basket, badminton, bela diri, aerobik, menari balet.

Alat ukur: kuesionerSkala: ordinalHasil ukur: kategori aktifitas fisik

10. PendapatanPendapatan adalah hak pekerja yang diterima dan dinyatakan dalam bentuk uang sebagai imbalan dari pengusaha kepada pekerjanya atas suatu pekerjaan atau jasa yang telah atau akan dilakukan, ditetapkan, dan dibayarkan menurut suatu perjanjian kerja, kesepakatan atau peraturan perundang-undangan, termasuk tunjangan bagi pekerja dan keluarganya.21

Terbagi atas:23 Golongan pendapatan sangat tinggi: pendapatan rata-rata lebih dari Rp. 3.500.000,00 per bulan. Golongan pendapatan tinggi: pendapatan rata-rata lebih dari Rp. 2.500.000,00 sampai dengan Rp. 3.500.000,00 per bulan. Golongan pendapatan sedang: pendapatan rata-rata antara Rp. 1.500.000,00 sampai dengan Rp. 2.500.000,00 per bulan. Golongan pendapatan rendah: pendapatan rata-rata kurang dari Rp. 1.500.000,00 per bulan.

Alat ukur: kuesionerSkala: ordinalHasil ukur: kategori pendapatan

3.11. Etika PenelitianData responden yang mengisi kuisioner pada penelitian ini akan dirahasiakan dan setiap responden mempunyai hak untuk menolak diikutsertakan dalam penelitian.

Bab IVHasil

Berdasarkan penelitian yang dilakukan di SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat mengenai hubungan indeks glikemik konsumsi pangan, indeks massa tubuh, jenis kelamin, usia, aktifitas fisik, riwayat penyakit keluarga dengan DM tipe 2, dan pendapatan terhadap kadar kadar glukosa darah sewaktu pada Periode Agustus 2014 dengan jumlah sampel adalah 108 siswa yang diperoleh dengan cara purposive sampling diperoleh hasil sebagai berikut:

Tabel 4.1. Sebaran kadar glukosa darah sewaktu dan usia pada siswa di SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat periode Agustus 2014VariabelGlukosa Darah SewaktuUsia

NValid108108

Missing00

Mean100.5913.51

Std. Deviation18.63.85905

Minimum47.0012.00

Maximum168.0015.00

Tabel 4.2. Frekuensi indeks glikemik konsumsi pangan, aktifitas fisik, riwayat penyakit keluarga dengan DM tipe 2, indeks massa tubuh, usia, jenis kelamin, dan pendapatan orang tua pada siswa di SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat periode Agustus 2014VariabelFrekuensiPersentase

Indeks Glikemik Konsumsi Pangan

Aktifitas Fisik

Riwayat Keluarga dengan DM tipe 2RendahSedangTinggiBeratSedangRinganTidak ada671526421029962.0%13.9%24.1%3.7%1.9%94.4%91.7%

Ada98.3%

IMTUnderweightHealthy weightOverweightObesitas886777.4%79.6%6.5%6.5%

Usia 121211.1%

134238.9%

1415401437%13%

Jenis KelaminLaki-laki4238.9%

Perempuan6661.1%

Pendapatan Orang Tua Pendapatan Rendah1211.1%

Pendapatan Sedang4440.7%

Pendapatan TinggiPendapatan Sangat Tinggi322029.6%18.5%

Tabel 4.3. Hubungan antara indeks glikemik konsumsi pangan, aktifitas fisik, dan riwayat penyakit keluarga dengan DM tipe 2, jenis kelamin, dan pendapatan, dengan kadar glukosa darah sewaktu pada siswa di SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat periode Agustus 2014Kadar Glukosa Darah Sewaktu

Mean rankUji ValuepHo

Indeks Glikemik Konsumsi Pangan Rendah Sedang Tinggi 44,3768,0026,00Kruskal-Wallis*0,000087Ditolak

Aktifitas fisik Berat Sedang Ringan86,8872,2552,88Kruskal-Wallis*0,074Gagal ditolak

Riwayat penyakit keluarga dengan DM Tipe 2 Tidak Ada Ada

81,0052,09

Kruskal-Wallis*

0,008

Ditolak

Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan60,6250,61Mann-Whitney U**0,105Gagal ditolak

Pendapatan Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi 61,8341,4154,1979,40Kruskal-Wallis*0,00001Ditolak

* Uji value Kruskal-Wallis menggantikan uji Anova dikarenakan distribusi data tidak normal**Uji value Mann-Whitney U menggantikan uji T-test dikarenakan distribusi data tidak normalTabel 4.4. Hubungan antara indeks massa tubuh dengan kadar glukosa darah sewaktu pada siswa di SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat periode Agustus 2014Kadar Glukosa Darah Sewaktu

FUji ValuepHo

Indeks Massa Tubuh0,79Anova0,971Gagal ditolak

Tabel 4.5. Hubungan antara usia dengan kadar glukosa darah sewaktu pada siswa di SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat periode Agustus 2014Kadar Glukosa Darah Sewaktu

rUji ValuepHo

Usia0,119Korelasi Kendalls tau-b0,111Gagal ditolak

Bab V Pembahasan

5.1. Sebaran Kadar Glukosa Darah Sewaktu, Indeks Glikemik Konsumsi Pangan, Aktifitas Fisik, Riwayat Penyakit Keluarga dengan DM Tipe 2, Indeks Massa Tubuh, Usia, Jenis Kelamin, dan Pendapatan Orang Tua pada Siswa di SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat Periode Agustus 2014

5.1.1. Sebaran Kadar Glukosa Darah Sewaktu pada Siswa di SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat Periode Agustus 2014Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada siswa SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat yang menjadi subjek dalam penelitian ini, ditemukan bahwa rata-rata kadar glukosa darah sewaktu siswa SMPN 69 adalah 100,59 mg/dl. Dengan kadar glukosa darah sewaktu terendah 47 mg/dl dan kadar glukosa darah sewaktu tertinggi 168 mg/dl.

5.1.2 Sebaran Indeks Glikemik Konsumsi Pangan dan Aktifitas Fisik pada Siswa di SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat Periode Agustus 2014Pada sebaran Indeks Glikemik Konsumsi Pangan, didapatkan bahwa persentase indeks glikemik subjek penelitian pada kelompok indeks glikemik rendah sebanyak 62,0%, indeks glikemik sedang sebanyak 13,9%, indeks glikemik tinggi sebanyak 24,1%. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat dilihat rata-rata siswa SMPN 69 di Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat mengkonsumsi makanan dengan indeks glikemik rendah. Pada sebaran aktifitas fisik, didapatkan bahwa persentase siswa SMPN 69 yang melakukan aktifitas fisik berat sebanyak 3,7%, yang melakukan aktifitas fisik sedang sebanyak 1,9% dan yang melakukan aktifitas fisik ringan sebanyak 94,4%. Berdasarkan penelitian ini rata-rata siswa SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat lebih banyak melakukan aktifitas ringan. 5.1.3. Sebaran Riwayat penyakit keluarga dengan DM tipe 2, Indeks Massa Tubuh, Usia, Jenis Kelamin, dan Pendapatan Orang Tua pada Siswa di SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat Periode Agustus 2014Pada sebaran riwayat penyakit keluarga dengan DM tipe 2 didapatkan responden dengan riwayat penyakit keluarga dengan DM tipe 2 adalah 9 orang (8,3%), sedangkan 99 orang (91,7%) tidak ada riwayat keluarga dengan DM tipe 2.Pada sebaran Indeks Massa Tubuh, didapatkan bahwa persentase IMT subjek penelitian pada kelompok IMT Underweight sebanyak 8 orang (7,4%), Healthy weight sebanyak 86 orang (79,6%), Overweight sebanyak 7 orang (6,5%), dan Obesitas sebanyak 7 orang (6,5%). Berdasarkan data di atas dapat dilihat bahwa mayoritas anak SMPN 69 kelurahan tanjung duren selatan tergolong dalam kategori Healthy weight. Pada sebaran usia, didapatkan rata-rata usia siswa SMPN 69 ialah 13,5 tahun. Dengan usia tertua 15 tahun dan usia termuda 12 tahun. Pada sebaran jenis kelamin, didapatkan bahwa jumlah responden laki-laki adalah 42 orang (38,9%) dan perempuan sebanyak 66 orang (61,1%). Pada sebaran pendapatan orang tua, didapatkan orang tua/ wali siswa SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat yang berpenghasilan rendah sebanyak 12 orang (11,1%), berpenghasilan sedang sebanyak 44 orang (40,7%), berpenghasilan tinggi sebanyak 32 orang (29,6%) dan berpenghasilan sangat tinggi sebanyak 20 orang (18,5%).

5.2. Hubungan antara Indeks Glikemik Konsumsi Pangan, Aktifitas Fisik, Riwayat penyakit keluarga dengan DM tipe 2, Indeks Massa Tubuh, Usia, Jenis Kelamin, dan Pendapatan Responden dengan Kadar Glukosa Darah Sewaktu pada Siswa di SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat Periode Agustus 2014

5.2.1. Hubungan antara Indeks Glikemik Konsumsi Pangan dengan Kadar Glukosa Darah Sewaktu pada Siswa di SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat Periode Agustus 2014 Pada tabel 4.4 menunjukan hasil uji Kruskal Wallis pada subjek. Didapatkan hasil mean rank pada kelompok yang mengkonsumsi pangan dengan indeks glikemik rendah adalah 44,37, konsumsi pangan dengan indeks glikemik sedang adalah 68,00, konsumsi pangan dengan indeks glikemik tinggi adalah 26,00 dan nilai p yang didapatkan adalah 0,000087, sehingga hipotesis nol ditolak. Kesimpulan yang kita dapatkan adalah ada perbedaan rata-rata yang bermakna antara konsumsi pangan dengan indeks glikemik rendah, sedang dan tinggi dengan kadar glukosa darah sewaktu. Hasil penelitian ini sama dengan penelitian yang dilakukan oleh Fitri I dkk, Program Studi Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, indeks glikemik berhubungan bermakna dengan kadar gula darah (r= 0,638; p= 0,000).8 Hubungan ini bersifat positif, sehingga semakin tinggi indeks glikemik yang dimakan, maka semakin tinggi kadar gula darah. Berdasarkan teori yang kami dapatkan dikatakan pangan yang menaikkan kadar glukosa darah dengan cepat memiliki IG tinggi, sedangkan pangan yang menaikkan kadar gula darah dengan lambat memiliki IG rendah.

5.2.2. Hubungan antara Aktifitas Fisik dengan Kadar Glukosa Darah Sewaktu pada Siswa di SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat Periode Agustus 2014 Pada tabel 4.4 menunjukan hasil uji Kruskal Wallis pada subjek. Didapatkan hasil mean rank pada kelompok dengan aktifitas fisik berat adalah 86,88, aktifitas fisik sedang adalah 72,25, aktifitas fisik ringan adalah 52,88 dan nilai p yang didapatkan adalah 0,074, sehingga hipotesis nol gagal ditolak. Kesimpulan yang kita dapatkan adalah tidak ada perbedaan rata-rata yang bermakna antara aktifitas fisik berat, sedang, dan ringan dengan kadar glukosa darah sewaktu. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian cross sectional yang dilakukan oleh Rahmawati dkk, hasil analisis Chi-Square didapatkan bahwa nilai p= 0,002, yang berarti bahwa ada hubungan antara aktifitas fisik dengan kadar glukosa darah, dan nilai OR= 7,15, yang artinya penderita DM tipe 2 yang memiliki intensitas aktifitas fisik yang kurang kemungkinan 7,15 kali lebih besar mempunyai risiko kadar glukosa darah tidak terkontrol.14 Berdasarkan teori yang didapatkan dikatakan bahwa kurang berolahraga merupakan salah satu faktor risiko utama terjadinya DM tipe 2. Menurut Haznam olahraga dianjurkan karena bertambahnya kegiatan fisik menambah reseptor insulin dalam sel target sehingga menurunkan resistensi insulin. Dengan demikian insulin dalam tubuh bekerja lebih efektif. Glukosa juga dapat masuk ke dalam sel-sel otot yang aktif tanpa bantuan insulin, dan kemudian dioksidasi menjadi karbondioksida dan air, sehingga olahraga mempunyai aksi hipoglikemik. Olahraga atau aktifitas fisik membantu untuk mengontrol berat badan. Glukosa darah dibakar menjadi energi, sel-sel tubuh menjadi lebih sensitif terhadap insulin, peredaran darah lebih baik dan resiko terjadinya DM tipe 2 akan turun sampai 50%. Kekurangan pada penelitian yang dilakukan ini dibandingkan dengan penelitian Rahmawati dkk, adalah kelemahan dalam metode untuk pengukuran aktifitas fisik yang berdasarkan kuesioner sehingga dapat terjadi bias recall pada subjek, juga kurangnya pilihan aktifitas fisik yang terdapat pada kuesioner sehingga subjek terbatas dalam memilih aktifitas fisik yang dilakukan sehari hari.

5.2.3 Hubungan antara Riwayat Penyakit Keluarga dengan DM Tipe 2 dengan Kadar Glukosa Darah Sewaktu pada Siswa di SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat Periode Agustus 2014Pada tabel 4.4 menunjukan hasil uji Kruskal Wallis pada responden. Didapatkan hasil mean rank pada kelompok dengan tidak adanya riwayat penyakit keluarga dengan DM tipe 2 adalah 52,09, dan adanya riwayat penyakit keluarga dengan DM tipe 2 adalah 81,00 dan nilai p yang didapatkan adalah 0,008, sehingga hipotesis nol ditolak. Kesimpulan yang kita dapatkan adalah ada perbedaan antara tidak ada dan adanya riwayat penyakit keluarga dengan DM tipe 2 dengan kadar glukosa darah sewaktu. Hasil penelitian ini sama dengan penelitian case control yang dilakukan oleh Radio, Fakultas Kedokteran UNDIP didapatkan hasil analisis tabulasi silang, yaitu odds ratio (OR) sebesar 42,3 dan nilai p= 0,000 (OR= 42,3; 95% CI 9,5-187,2).18 Hal ini menunjukkan bahwa orang yang memiliki riwayat keluarga menderita DM mempunyai risiko terkena DM tipe 2 sebesar 42 kali dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki riwayat keluarga menderita DM. Berdasarkan teori yang didapatkan dari WHO 2002 bahwa sekitar 50% pasien DM tipe 2 mempunyai orangtua yang menderita diabetes, dan lebih sepertiga pasien diabetes mempunyai saudara yang mengidap diabetes.

5.2.4. Hubungan antara Indeks Massa Tubuh dengan Kadar Glukosa Darah Sewaktu pada Siswa di SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat Periode Agustus 2014Pada tabel 4.5 menunjukkan hasil uji Anova pada subjek. Hasil uji ini diperoleh nilai F hitung 0,79 dan nilai p = 0,971, sehingga hipotesis nol gagal ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan rata-rata yang bermakna antara indeks massa tubuh dengan kadar glukosa darah sewaktu. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Shara dkk, bahwa variabel yang sangat memiliki hubungan dengan kejadian DM tipe 2 adalah IMT (p 0,006 OR 0,14; 95% CI 0,037-0,524).20 Orang yang memiliki obesitas lebih berisiko 7,14 kali untuk menderita DM tipe 2 dibandingkan dengan orang yang tidak obesitas. Secara teoritis, peningkatan jumlah lemak tubuh dapat menimbulkan resistensi insulin yang merupakan salah satu faktor utama penyebab meningkatnya kadar glukosa darah. Namun hal ini dapat dijelaskan dengan patofisiologi timbulnya DM tipe 2. Pada fase awal dimana resistensi insulin telah terjadi, pankreas meningkatkan sekresi insulin sehingga kadar glukosa darah masih dapat dipertahankan dalam kadar normal. Pada fase lanjut dimana sel-sel pankreas mengalami kelelahan maka sekresi insulin akan menurun secara bertahap sehingga barulah timbul hiperglikemia. Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa tidak adanya hubungan bermakna antara indeks massa tubuh dengan kadar glukosa darah kemungkinan disebabkan belum lamanya subyek menderita obesitas. Sesuai dengan pendapat Sukaton U, dkk selain derajat obesitas, lamanya menderita obesitas juga berpengaruh pada terjadinya DM tipe 2.24

5.2.5. Hubungan antara Usia dengan Kadar Glukosa Darah Sewaktu pada Siswa di SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat Periode Agustus 2014Pada tabel 4.6 menunjukkan hasil uji korelasi Kendalls tau-b pada subjek. Hasil uji korelasi diperoleh nilai r hitung 0,119 dan nilai p = 0,111, sehingga hipotesis nol gagal ditolak. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif lemah namun tidak signifikan, antara usia dengan kadar glukosa darah sewaktu. Hasil penelitian ini berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh pada penelitian Laurentia dkk (2009) memperlihatkan usia lebih dari 55 tahun memiliki risiko hiperglikemia 6,7 kali, sedangkan usia 35-54 tahun 4,5 kali dibanding usia 15-34 tahun.22 Prevalensi responden yang mempunyai riwayat DM cenderung meningkat dengan bertambahnya usia, hal ini disebabkan semakin lanjut usia maka pengeluaran insulin oleh pankreas juga semakin berkurang. Namun prevalensi pada usia 65 tahun ke atas semakin menurun, kemungkinan pada kelompok tersebut responden DM berkomplikasi berat sehingga tak bisa datang ke tempat pemeriksaan (kriteria eksklusi sakit berat) atau kemungkinan pada kelompok tersebut sebagian besar sudah meninggal. Perbedaan hasil antara penelitian ini dengan penelitian yang dilakukan oleh Laurentia dkk (2009) adalah karena subjek yang kami teliti berkisar atara usia 12-15 tahun, sehingga tidak didapatkan perbedaan yang bermakna sedangkan pada penelitian Laurentia dkk subjek yang diteliti antara usia 15-65 tahun keatas sehingga didapatkan perbedaan yang bermakna.22

5.2.6. Hubungan antara Jenis Kelamin dengan Kadar Glukosa Darah Sewaktu pada Siswa di SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat Periode Agustus 2014Pada tabel 4.4 menunjukkan hasil Mann Whitney pada subjek. Hasil uji Mann Whitney mendapatkan hasil mean rank pada kelompok laki-laki adalah 60,62 dan pada kelompok perempuan adalah 50,61 dan pada nilai p yang didapatkan adalah 0,105, sehingga hipotesis nol gagal ditolak. Kesimpulan yang kita dapatkan adalah tidak ada perbedaan yang bermakna antara laki-laki dan perempuan dengan kadar glukosa darah sewaktu. Hal ini sesuai dengan penelitian Musaira mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan kadar gula darah pada anggota klub Persadia di Jakarta Timur (2003) yaitu secara umum dari jenis kelamin prevalensi diabetes tidak jauh berbeda (p=0,126). Hasil rata-rata yang tidak bermakna antara jenis kelamin dan kadar glukosa darah sewaktu dapat disebabkan oleh faktor yang secara langsung dapat mempengaruhi kadar glukosa darah adalah obesitas, pola makan, dan aktifitas fisik.25

5.2.7. Hubungan antara Pendapatan Responden dengan Kadar Glukosa Darah Sewaktu pada Siswa di SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat Periode Agustus 2014Pada tabel 4.4 menunjukkan hasil Kruskal Wallis pada responden. Hasil uji Kruskal Wallis mendapatkan hasil mean rank pada kelompok dengan pendapatan rendah adalah 61,83, pendapatan sedang adalah 41,41, pendapatan tinggi adalah 54,19, pendapatan sangat tinggi adalah 79,40 dan nilai p yang didapatkan adalah 0,00001, sehingga hipotesis nol ditolak. Kesimpulan yang kita dapatkan adalah ada perbedaan rata-rata yang bermakna antara pendapatan rendah, sedang, tinggi dan sangat tinggi dengan kadar glukosa darah sewaktu. Menurut teori yang didapat keluarga dengan pendapatan tinggi dapat membeli makanan apa pun, termasuk makanan tinggi kalori/ lemak/ gula, junk food, fast food, soft drink, yang merupakan penyumbang besar terhadap masalah obesitas dan diabetes mellitus. Sebaliknya, keluarga dengan pendapatan rendah cenderung mengkonsumsi makanan yang kurang bergizi sehingga sering mengantarkan mereka pada kondisi buruk (Nurmalina, 2011).13

Bab VIKesimpulan dan Saran

6.1 KesimpulanDari hasil penelitian yang dilakukan di SMPN 69 Kelurahan Tanjung Duren Selatan Kecamatan Grogol Petamburan Jakarta Barat dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

6.1.1 Didapatkan sebaran menurut kadar glukosa darah sewaktu,yaitu rata-rata kadar glukosa darah sewaktu siswa SMPN 69 adalah 100,59 mg/dl. Dengan kadar glukosa darah sewaktu terendah 47 mg/dl dan kadar glukosa darah sewaktu tertinggi 168 mg/dl

6.1.2. Didapatkan sebaran menurut indeks glikemik konsumsi pangan, yaitu kelompok indeks glikemik rendah sebanyak 62,0%, indeks glikemik sedang sebanyak 13,9%, indeks glikemik tinggi sebanyak 24,1%. Didapatkan sebaran menurut aktifitas fisik, yaitu aktifitas fisik berat sebanyak 3,7%, aktifitas fisik sedang sebanyak 1,9% dan aktifitas fisik ringan sebanyak 94,4%.

6.1.3 Didapatkan sebaran menurut riwayat penyakit keluarga dengan DM tipe 2, yaitu riwayat penyakit keluarga dengan DM tipe 2 adalah 9 orang (8,3%), sedangkan 99 orang (91,7%) tidak ada riwayat penyakit keluarga dengan DM tipe 2. Didapatkan sebaran menurut IMT, yaitu kelompok IMT Underweight sebanyak 8 orang (7,4%), Healthy weight sebanyak 86 orang (79,6%), Overweight sebanyak 7 orang (6,5%), dan Obesitas sebanyak 7 orang (6,5%). Didapatkan sebaran menurut usia, yaitu rata-rata usia siswa SMPN 69 ialah 13,5 tahun. Dengan usia tertua 15 tahun dan usia termuda 12 tahun. Didapatkan sebaran menurut jenis kelamin, yaitu laki-laki adalah 42 orang (38,9%) dan perempuan sebanyak 66 orang (61,1%). Didapatkan sebaran menurut pendapatan orang tua/ wali siswa, yaitu penghasilan rendah sebanyak 12 orang (11,1%), penghasilan sedang sebanyak 44 orang (40,7%), penghasilan tinggi sebanyak 32 orang (29,6%) dan berpenghasilan sangat tinggi sebanyak 20 orang (18,5%).

6.1.4. Didapatkan adanya perbedaan bermakna rata - rata kadar glukosa darah sewaktu secara signifikan antara individu dengan indeks glikemik konsumsi pangan ringan, indeks glikemik konsumsi pangan sedang dan indeks glikemik konsumsi pangan berat yang dapat dilihat dari nilai p = 0,000087 (< 0,05).

6.1.5. T