Download pdf - Askep Stroke Iskemik

Transcript

ASKEP Stroke Iskemik

ASKEP Stroke IskemikMarch 82015 Stroke atau cedera serebrovaskular ( CVA ), adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah kebagian otak Yasir Muarief. S.Kep

BAB ILAPORAN PENDAHULUAN

A. KONSEP DASAR1. Defenisi.Stroke atau cedera serebrovaskular ( CVA ), adalah kehilangan fungsi otak yang diakibatkan oleh berhentinya suplai darah kebagian otak. ( Brunner & Suddarth, 2002 ; hal 2131 ).Stroke adalah setiap gangguan neurologik mendadak yang terjadi akibat pembatasan atau terhentinya aliran darah melalui sistem suplai arteri otak. ( Sylvia A.Price, 2006 ; hal 1110 ).

2. Klasifikasi.Ada beberapa klasifikasi dari stroke :A. Klasifikasi stroke menurut WHO :1. Berdasarkan perubahan patologis pada otaka. Perdarahan subarachnoidb. Perdarahan intraserebralc. Nekrosis ischemic serebral2. Berdasarkan stadium klinika. Transient Ischemic Attack ( TIA )b. Stroke Ischemic Attackc. Completed Stroked. Reversible Iskhemik Neurologikal Defisit ( RIND )B. Klasifikasi berdasarkan penyebabnya :1. Stroke non haemorrhagicMerupakan suatu keadaan defisit neurologis akibat kekurangan O2, pada awalnya mungkin akibat iskhemia umum atau hipertensi karena proses anemia atau kesukaran bernafas.Jenis-jenis stroke non haemorhagic adalah :a. Iskhemia Serebri TIA/serangan iskhemik sepintasYaitu stroke yang pulih sempurna gejalanya dalam waktu 24 jam. RIND ( Reversible Ischemic Neurologic Deficit )Yaitu stroke yang sembuh sempurna dalam waktu lebih dari 24 jam.b. Trombosis Serebri Adalah penyumbatan pada pembuluh darah otak , kebanyakan pembuluh darah arterial dengan akibat melunaknya jaringan otak.c. Emboli SerebriAdalah bekuan darah atau sumbatan lain yang dibawa mengalir oleh darah sampai kepembuluh darah otak dengan sumber embolus utama biasanya dari jantung.

2. Stroke HaemorrhagicAdalah sesuatu keadaan defisit neurologis akibat faktor pencetus yang biasanya adalah hipertensi, abnormalitas vaskuler.Stroke Haemorrhagic ini terbagi menjadi 2 : Apopleksia sanguinea serebri Perdarahan subarakhnoidal.

2. Anatomi dan fisiologiSystem saraf adalah salah satu system yang berfungsi untuk menyelenggarakan kerjasama yang rapi dalam organisasi dan kordinasii kegiatan tubuh. System saraf terdiri dari :a. Sel-sel saraf ( neuron )Adalah sel-sel system saraf khusus perangsang yang menerima masukan sensorik atau masukan aferen dari ujung-ujung saraf perifer khusus atau dari organ reseptor sensorik dan menyalurkan masukan motorik atau masukan eferen otot-otot dan kelenjar-kelenjar yaitu organ-organ efektor.

b. Sel-sel penyokong Neurolagia : merupakan penyokong, pelindung dan sumber nutrisi bagi neuron - neuron otak dan medulasi spinalis Sel schwann : pelindung dan penyokong neuron-neuron dan tonjolan neuronal diluar system saraf pusat.System saraf terbagi menjadi :1) System saraf pusatSystem saraf pusat dilindungi oleh tulang tengkorak, tulang belakang, suspensi dalam cairan serebrospinal. System saraf juga dilindungi oleh selaput meningen. System saraf pusat terdiri dari : Otak terdiri dari otak besar, otak kecil dan batang otak. Dari batang otak keluar 12 pasang saraf cranial : Nervus olfaktorius : sebagai sarat sensasi penghidu. Nervus optikus : sebagai saraf penglihatan Nervus oculomotorius : sebagai saraf untuk mengangkat bola mata Nervus trochlearis : berfungsi memutar bola mata Nervus trigeminus : saraf ini mengurus sensasi umum pada wajah dan sebagian kepala, bagian dalam hidung, mulut, gigi dan meningen. Nervus abducens : sebagai saraf untuk menggerakkan bola mata ke lateral. Nervus fasialis; sebagai sensasi umum dan pengecapan, untuk ototwajah/mimik. Nervus statoacusticus : sebagai saraf pendengaran dan saraf keseimbangan. Nervus glassopharyngeus : berfungsi mengurus lidah dan faring Nervus vagus : terdiri dari tiga kompenen. Komponen motoris : mensarafi otot-otot pharing dan otot-otot menggerakkan pita suara. Komponen sensori : yang mengurus perasaan dibawah pharing. Komponen saraf simpatis : yang mensarafi sebagian alat-alat dalam tubuh. Nervus aclesorius : saraf yang mengurus muskulus trapezeus dan muskulus sternocleidomastoideus Nervus hypoglasus : saraf yang mengurus otot-otot lidah Medulla spinalisDalam medulla spinalis keluar 31 pasang saraf : Servikal 8 pasang Torakal 12 pasang Lumbal 5 pasang Sakral 5 pasang Koksigeal 1 pasang

2) Sistem saraf tepi, terdiri dari : System saraf somatic System saraf otonom, yang terbagi atas system saraf simpatis dan parasimpatis.System saraf berfungsi :a. Menerima informasi (rangsangan ) dari dalam maupun dari luar tubuh melalui saraf sensori.b. Mengkomunikasikan informasi antara system saraf perifer dan system saraf pusat.c. Mengolah informasi yang diterima dengan baik ditingkat medulla spinalis maupun diotak untuk selanjutnya menentukan jawaban (respon)d. Mengatakan jawaban secara cepat melalui saraf motorik keorgan -organ tubuh sebagai control atau modifikasi dari tindakan.3. EtiologiAdapun etiologi dari stroke adalah :1. Trombosis.2. Embolisme3. Perdarahan serebri

5. Manifestasi Klinika) Defisit motorik yang umum1. Hemiparesis atau hemiplegia 2. Disartria3. Disfagiab) Defisit sensori yang umum1.Defisit fisual2. Hilang respon terhadap sensasi superfisial3. Hilang respon terhadap propriresepsi4. Defisit perseptualc) Defisit bahasad) Defisit Intelektuale) Defisit Emosionalf) Disfungsi kandung kemihg) Disfungsi usus

6. PatofisiologiSkema Patofisiologi7. Sumber : Satyanegara, 1998 (Wanhari, 2008).

7. Tanda dan Gejala Menurut Smeltzer & Bare (2002) dan Price & Wilson (2006) tanda dan gejala penyakit stroke adalah kelemahan atau kelumpuhan lengan atau tungkai atau salah satu sisi tubuh, hilangnya sebagian penglihatan atau pendengaran, penglihatan ganda atau kesulitan melihat pada satu atau kedua mata, pusing dan pingsan, nyeri kepala mendadak tanpa kausa yang jelas, bicara tidak jelas (pelo), sulit memikirkan atau mengucapkan kata-kata yang tepat, tidak mampu mengenali bagian dari tubuh, ketidakseimbangan dan terjatuh dan hilangnya pengendalian terhadap kandung kemih.8. Penatalaksanaan Medis Penatalaksaan medis menurut menurut Smeltzer & Bare (2002) meliputi:1.Diuretik untuk menurunkan edema serebral yang mencapai tingkat maksimum 3 sampai 5 hari setelah infark serebral.2. Antikoagulan untuk mencegah terjadinya thrombosis atau embolisasi dari tempat lain dalam sistem kardiovaskuler.3. Antitrombosit karena trombosit memainkan peran sangat penting dalam pembentukan thrombus dan embolisasi. 9. Komplikasi Komplikasi yang dapat terjadi pada penyakit stroke menurut Smeltzer & Bare (2002) adalah:1.Hipoksia serebral, diminimalkan dengan memberi oksigenasi darah adekuat ke otak. Fungsi otak bergantung pada ketersediaan oksigen yang dikirimkan ke jaringan. Pemberian oksigen suplemen dan mempertahankan hemoglobin serta hematokrit pada tingkat dapat diterima akan membantu dalam mempertahankan oksigenasi jaringan.2. Penurunan aliran darah serebral, bergantung pada tekanan darah, curah jantung, dan integritas pembuluh darah serebral. Hidrasi adekuat (cairan intrvena) harus menjamin penurunan viskositas darah dan memperbaiki aliran darah serebral. Hipertensi dan hipotensi ekstrim perlu dihindari untuk mencegah perubahan pada aliran darah serebral dan potensi meluasnya area cedera.3.Embolisme serebral, dapat terjadi setelah infark miokard atau fibrilasi atrium atau dapat berasal dari katup jantung prostetik. Embolisme akan menurunkan aliran darah ke otak dan selanjutnya akan menurunkan aliran darah serebral. Disritmia dapat mengakibatkan curah jantung tidak konsisten dan penghentian trombus lokal. Selain itu, disritmia dapat menyebabkan embolus serebral dan harus diperbaiki.10. Pemeriksaan Diagnostik Menurut (Doenges dkk, 1999) pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan pada penyakit stroke adalah:1. Angiografi serebral: membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik seperti perdarahan, obstruksi arteri atau adanya titik oklusi/ ruptur.2. CT-scan: memperhatikan adanya edema, hematoma, iskemia, dan adanya infark.3. Pungsi lumbal: menunjukkan adanya tekanan normal dan biasanya ada thrombosis, emboli serebral, dan TIA (Transient Ischaemia Attack) atau serangan iskemia otak sepintas. Tekanan meningkat dan cairan yang mengandung darah menunjukkan adanya hemoragik subarakhnoid atau perdarahan intra kranial. Kadar protein total meningkat pada kasus thrombosis sehubungan dengan adanya proses inflamasi.4. MRI (Magnetic Resonance Imaging): menunjukkan daerah yang mengalami infark, hemoragik, dan malformasi arteriovena.5. Ultrasonografi Doppler: mengidentifikasi penyakit arteriovena.6. EEG (Electroencephalography): mengidentifikasi penyakit didasarkan pada gelombang otak dan mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifik.7. Sinar X: menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah yang berlawanan dari massa yang meluas, kalsifikasi karotis interna terdapat pada thrombosis serebral.

11. Asuhan Keperawatan Dari seluruh dampak masalah di atas, maka diperlukan suatu asuhan keperawatan yang komprehensif. Dengan demikian pola asuhan keperawatan yang tepat adalah melalui proses perawatan yang dimulai dari pengkajian yang diambil adalah merupakan respon klien, baik respon biopsikososial maupun spiritual, kemudian ditetapkan suatu rencana tindakan perawatan untuk menuntun tindakan perawatan. Dan untuk menilai keadaan klien, diperlukan suatu evaluasi yang merujuk pada tujuan rencana perawatan klien dengan stroke non hemoragik.Pengkajian Pengkajian adalah langkah awal dan dasar bagi seorang perawat dalam melakukan pendekatan secara sistematis untuk mengumpulkan data dan menganalisa, sehingga dapat diketahui kebutuhan klien tersebut. Pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan membantu menentukan status kesehatan dan pola pertahanan klien serta memudahkan menentukan status kesehatan dan pola pertahanan klien serta memudahkan dalam perumusan diagnosa keperawatan (Doenges dkk, 1999). Adapun pengkajian pada klien dengan stroke (Doenges dkk, 1999) adalah :a. Aktivitas/ IstirahatGejala: merasa kesulitan untuk melakukan aktivitas karena kelemahan, kehilangan sensasi atau paralisis (hemiplegia), merasa mudah lelah, susah untuk beristirahat (nyeri/ kejang otot).Tanda: gangguan tonus otot, paralitik (hemiplegia), dan terjadi kelemahan umum, gangguan penglihatan, gangguan tingkat kesadaran.b. SirkulasiGejala: adanya penyakit jantung, polisitemia, riwayat hipotensi postural.Tanda: hipertensi arterial sehubungan dengan adanya embolisme/ malformasi vaskuler, frekuensi nadi bervariasi, dan disritmia.c. Integritas EgoGejala: perasaan tidak berdaya, perasaan putus asaTanda: emosi yang labil dan ketidaksiapan untuk marah, sedih, dan gembira, kesulitan untuk mengekspresikan diri.d. EliminasiGejala: perubahan pola berkemihTanda: distensi abdomen dan kandung kemih, bising usus negatif.e. Makanan/ CairanGejala: nafsu makan hilang, mual muntah selama fase akut, kehilangan sensasi pada lidah, dan tenggorokan, disfagia, adanya riwayat diabetes, peningkatan lemak dalam darah.Tanda: kesulitan menelan, obesitas.f. NeurosensoriGejala: sakit kepala, kelemahan/ kesemutan, hilangnya rangsang sensorik kontralateral pada ekstremitas, penglihatan menurun, gangguan rasa pengecapan dan penciuman.Tanda: status mental/ tingkat kesadaran biasanya terjadi koma pada tahap awal hemoragis, gangguan fungsi kognitif, pada wajah terjadi paralisis, afasia, ukuran/ reaksi pupil tidak sama, kekakuan, kejang.g. Kenyamanan / NyeriGejala: sakit kepala dengan intensitas yang berbeda-bedaTanda: tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan pada ototh. PernapasanGejala: merokokTanda: ketidakmampuan menelan/ batuk/ hambatan jalan nafas, timbulnya pernafasan sulit, suara nafas terdengar ronchi.i. KeamananTanda: masalah dengan penglihatan, perubahan sensori persepsi terhadap orientasi tempat tubuh, tidak mampu mengenal objek, gangguan berespons terhadap panas dan dingin, kesulitan dalam menelan, gangguan dalam memutuskan.j. Interaksi SosialTanda: masalah bicara, ketidakmampuan untuk berkomunikasik. Penyuluhan/ PembelajaranGejala: adanya riwayat hipertensi pada keluarga, stroke, pemakaian kontrasepsi oral, kecanduan alkohol.

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L.J & Moyet. (2007). Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 10. Jakarta: EGC.

Doenges. M.E; Moorhouse. M.F; Geissler. A.C. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3. Jakarta: EGC.

Harnawatiaj. (2008). Format Dokumentasi Keperawatan (http://harnawatiaj.wordpress.com//) di akses 16 Juli 2010.

Mansjoer, A,.Suprohaita, Wardhani WI,.& Setiowulan, (2000). Kapita Selekta Kedokteran edisi ketiga jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius.

Nanda. (2005-2006). Panduan Diagnosa Keperawatan. Prima medika.

Potter & Perry. (2006). Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses dan Praktik Edisi 4 vol 1. Jakarta: EGC

Price, S.A & Wilson. L.M. (2006). Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6 vol 2. Jakarta: EGC

Smeltzer, S.C & Bare, B.G. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 vol 3. Jakarta: EGC

Wanhari, M.A. (2008). Asuhan Keperawatan Stroke (http://askepsolok.blogspot.com/2008/08/stroke.html) di akses 19 Juli 2010.

Winarni, S. (2008). Karya Tulis Ilmiah Stroke (http://etd.eprints.ums.ac.id/2926/1/J200050072.pdf, di akses 19 Juli 2010.

Diagnosa KeperawatanNoDiagnosa keperawatanTujuan/ kriteria hasilRencana keperawatan

IntervensiRasional

1Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan oedema serebral.

Tujuan; kesadaran penuh, tidak gelisahKriteria hasil tingkat kesadaran membaik, tanda-tanda vital stabil tidak ada tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial.

1. Pantau/catat status neurologis secara teratur dengan skala koma glascow

2. Pantau tanda-tanda vital terutama tekanan darah.

3. Pertahankan keadaan tirah baring.

4. Letakkan kepala dengan posisi agak ditinggikkan dan dalam posisi anatomis (netral).

5. Berikan obat sesuai indikasi: contohnya antikoagulan (heparin)1) Mengkaji adanya kecenderungan pada tingkat kesadaran.

2) Autoregulasi mempertahankan aliran darah otak yang konstan

3) Aktivitas/ stimulasi yang kontinu dapat meningkatkan Tekanan Intra Kranial (TIK).

4) Menurunkan tekanan arteri dengan meningkatkan drainase dan meningkatkan sirkulasi/ perfusi serebral.

5) Meningkatkan/ memperbaiki aliran darah serebral dan selanjutnya dapat mencegah pembekuan.

2Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan.

Tujuan; dapat melakukan aktivitas secara minimumKriteria hasil mempertahankan posisi yang optimal, meningkatkan kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang terkena, mendemonstrasikan perilaku yang memungkinkan aktivitas.

1. Kaji kemampuan klien dalam melakukan aktifitas

2. Ubah posisi minimal setiap 2 jam (telentang, miring)

3. Mulailah melakukan latihan rentang gerak aktif dan pasif pada semua ekstremitas

4. Anjurkan pasien untuk membantu pergerakan dan latihan dengan menggunakan ekstremitas yang tidak sakit.

5. Konsultasikan dengan ahli fisioterapi secara aktif, latihan resistif, dan ambulasi pasien.1) Mengidentifikasi kelemahan/ kekuatan dan dapat memberikan informasi bagi pemulihan

2) Menurunkan resiko terjadinya trauma/ iskemia jaringan.

3) Meminimalkan atrofi otot, meningkatkan sirkulasi, membantu mencegah kontraktur.

4) Dapat berespons dengan baik jika daerah yang sakit tidak menjadi lebih terganggu.

5) Program khusus dapat dikembangkan untuk menemukan kebutuhan yang berarti/ menjaga kekurangan tersebut dalam keseimbangan, koordinasi, dan kekuatan.

3Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler.

Tujuan; dapat berkomunikasi sesuai dengan keadaannya.Kriteria hasil; Klien dapat mengemukakan bahasa isyarat dengan tepat, terjadi kesalah pahaman bahasa antara klien, perawat dan keluarga

1. Kaji tingkat kemampuan klien dalam berkomunikasi

2. Minta klien untuk mengikuti perintah sederhana

3. Tunjukkan objek dan minta pasien menyebutkan nama benda tersebut

4. Ajarkan klien tekhnik berkomunikasi non verbal (bahasa isyarat)

5. Konsultasikan dengan/ rujuk kepada ahli terapi wicara.1) Perubahan dalam isi kognitif dan bicara merupakan indikator dari derajat gangguan serebral

2) Melakukan penilaian terhadap adanya kerusakan sensorik

3) Melakukan penilaian terhadap adanya kerusakan motorik

4) Bahasa isyarat dapat membantu untuk menyampaikan isi pesan yang dimaksud

5) Untuk mengidentifikasi kekurangan/ kebutuhan terapi.

4Perubahan sensori persepsi berhubungan dengan stress psikologis.

Tujuan; tidak ada perubahan perubahan persepsi.Kriteria hasil mempertahankan tingkat kesadarann dan fungsi perseptual, mengakui perubahan dalam kemampuan.

1. Kaji kesadaran sensorik seperti membedakan panas/ dingin, tajam/ tumpul, rasa persendian.2. Catat terhadap tidak adanya perhatian pada bagian tubuh3. Berikan stimulasi terhadap rasa sentuhan seperti berikan pasien suatu benda untuk menyentuh dan meraba.4. Anjurkan pasien untuk mengamati kakinya bila perlu dan menyadari posisi bagian tubuh tertentu.5. Bicara dengan tenang dan perlahan dengan menggunakan kalimat yang pendek.

1) Penurunan kesadaran terhadap sensorik dan kerusakan perasaan kinetic berpengaruh buruk terhadap keseimbangan.2) Adanya agnosia (kehilangan pemahaman terhadap pendengaran, penglihatan, atau sensasi yang lain)3) Membantu melatih kembali jaras sensorik untuk mengintegrasikan persepsi dan interprestasi stimulasi. 4) Penggunaan stimulasi penglihatan dan sentuhan membantu dalam mengintergrasikan kembali sisi yang sakit5) Pasien mungkin mengalami keterbatasan dalam rentang perhatian atau masalah pemahaman.

5Kurang perawatan diri berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler, penurunan kekuatan dan ketahanan, kehilangan kontrol/ koordinasi ototTujuan; kebutuhan perawatan diri klien terpenuhiKriteria hasil klien bersih dan klien dapat melakukan kegiatan personal hygiene secara minimal

1. Kaji kemampuan klien dan keluarga dalam perawatan diri.2. Bantu klien dalam personal hygiene.3. Rapikan klien jika klien terlihat berantakan dan ganti pakaian klien setiap hari4. Libatkan keluarga dalam melakukan personal hygiene5. Konsultasikan dengan ahli fisioterapi/ ahli terapi okupasi1) Jika klien tidak mampu perawatan diri perawat dan keluarga membantu dalam perawatan diri2) Klien terlihat bersih dan rapi dan memberi rasa nyaman pada klien3) Memberi kesan yang indah dan klien tetap terlihat rapi4) Ukungan keluarga sangat dibutuhkan dalam program peningkatan aktivitas klien5) Memberikan bantuan yang mantap untuk mengembangkan rencana terapi

6Gangguan harga diri berhubungan dengan perubahan biofisik, psikososial, perseptual kognitifTujuan; tidak terjadi gangguan harga diriKriteria hasil mau berkomunikasi dengan orang terdekat tentang situasi dan perubahan yang terjadi, mengungkapkan penerimaan pada diri sendiri dalam situasi.

1. Kaji luasnya gangguan persepsi dan hubungkan dengan derajat ketidakmampuannya.2. Bantu dan dorong kebiasaan berpakaian dan berdandan yang baik.3. Berikan dukungan terhadap perilaku/ usaha seperti peningkatan minat/ partisipasi dalam kegiatan rehabilitasi.4. Dorong orang terdekat agar member kesempatan pada melakukan sebanyak mungkin untuk dirinya sendiri.5. Rujuk pada evaluasi neuropsikologis dan/ atau konseling sesuai kebutuhan.1) Penentuan faktor-faktor secara individu membantu dalam mengembankan perencanaan asuhan/ pilihan intervensi.2) Membantu peningkatan rasa harga diri dan kontrol atas salah satu bagian kehidupan.3) Mengisyaratkan kemampuan adaptasi untuk mengubah dan memahami tentang peran diri sendiri dalam kehidupan selanjutnya.4) Membangun kembali rasa kemandirian dan menerima kebanggan diri dan meningkatkan proses rehabilitasi.5) Dapat memudahkan adaptasi terhadap perubahan peran yang perlu untuk perasaan/ merasa menjadi orang yang produktif.

7Resiko tinggi kerusakan menelan berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler/ perseptualTujuan; kerusakan dalam menelan tidak terjadi.Kriteria hasil mendemonstrasikan metode makan tepat untuk situasi individual dengan aspirasi tercegah, mempertahankan berat badan yang diinginkan.

1. Tinjau ulang patologi/ kemampuan menelan pasien secara individual.2. Letakkan pasien pada posisi duduk/ tegak selama dan setelah makan3. Anjurkan pasien menggunakan sedotan untuk meminum cairan.4. Anjurkan untuk berpartisipasi dalam program latihan/ kegiatan.5. Berikan cairan melalui intra vena dan/ atau makanan melalui selang.1) Intervensi nutrisi/ pilihan rute makan ditentukan oleh faktor-faktor ini.2) Menggunakan gravitasi untuk memudahkan proses menelan dan menurunkan resiko terjadinya aspirasi.3) Menguatkan otot fasiel dan otot menelan dan menurunkan resiko terjadinya aspirasi.4) Meningkatkan pelepasan endorphin dalam otak yang meningkatkan perasaan senang dan meningkatkan nafsu makan.5) Memberikan cairan pengganti dan juga makanan jika pasien tidak mampu untuk memasukkan segala sesuatu melalui mulut.

8Kurang pengetahuan tentang kondisi dan pengobatan berhubungan dengan Keterbatasan kognitif, kesalahan interprestasi informasi, kurang mengingat

Tujuan; klien mengerti dan paham tentang penyakitnyaKriteria hasil berpartisipasi dalam proses belajar

1. Kaji tingkat pengetahuan keluarga klien2. Berikan informasi terhadap pencegahan, faktor penyebab, serta perawatan.3. Beri kesempatan kepada klien dan keluarga untuk menanyakan hal- hal yang belum jelas.4. Beri feed back/ umpan balik terhadap pertanyaan yang diajukan oleh keluarga atau klien.5. Sarankan pasien menurunkan/ membatasi stimulasi lingkungan terutama selama kegiatan berfikir

1) Untuk mengetahui tingkat pengetahuan klien2) Untuk mendorong kepatuhan terhadap program teraupetik dan meningkatkan pengetahuan keluarga klien3) Memberi kesempatan kepada orang tua dalam perawatan anaknya4) Mengetahui tingkat pengetahuan dan pemahaman klien atau keluarga5) Stimulasi yang beragam dapat memperbesar gangguan proses berfikir