Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

Embed Size (px)

Text of Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    1/43

    1

    BLOK PANCA INDERA

    SKENARIO 2

    PEGAWAI KAMAR MESIN KAPAL

    KELOMPOK B-01

    KETUA : SYARAFINA RAIHAN 1102010275

    SEKRETARIS : MUCHAMMAD ZULKARNAIN 1102010172

    ANGGOTA : MUHAMMAD GURUH SUSANTO 1102010180

    NADYA ADNITA 1102010200

    NADYA RAMADHANI 1102010202

    PRISSILMA TANIA 1102010221

    RESTU RAMADHANI 1102010237

    SILPI HAMIDIYAH 1102010270

    SYAHIRAH SHAHAB 1102010274

    WIDIAWATI 1102010286

    WINDA VRESIANA 1102010288

    FAKULTAS KEDOKTERAN

    UNIVERSITAS YARSI

    JAKARTA

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    2/43

    2

    SKENARIO 2 :

    Pegawai Kamar Mesin Kapal

    Seorang laki-laki bernama A usia 43 tahun, adalah seorang pegawai pengawas

    mesin pesawat udara. A bekerja sejak usia 20 tahun. A menjaga mesin pesawat

    di hanggar setiap hari dan terpapar bising mesin 90 sampai 110 desibel ( 90-

    110 db ) selama kurang lebih 8 jam. Setiap bekerja meggunakan ear plug.

    Saat ini A mengeluhkan telinganya. Sebelum bekerja kedua telinga A sehat. A

    memeriksakan ke dokter perusahaan dengan keluhan kurang pendengaranpada kedua telinga. A mengeluh kurang jelas menerima pembicaraan bila

    diajak berbicara dengan teman sekantor, apalagi saat menelpon. Hal ini

    dirasakan semakin memberat dalam kurun waktu setahun belakangan ini.

    Pada pemeriksaan garpu tala dan audiometri didapatkan tuli perseptif derajat

    berat pada kedua telinga. A menanyakan kepada dokter apakah dapat sembuh

    dan mendengar seperti semula.

    Dokter meyarankan pasien untuk lebih menjaga kesehatan indera

    pendengaran baik secara medis maupun secara islam.

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    3/43

    3

    Sasaran belajar

    Lo 1. Memahami dan menjelaskan anatomi makroskopis & mikroskopis telinga

    1.1 memahami dan menjelaskan anatomi makroskopis telinga1.2 memahami dan menjelaskan anatomi mikroskopis telinga

    Lo 2.memahami dan menjelaskan fisiologi pendengaran

    Lo 3.memahami dan menjelaskan gangguan pendengaran

    Lo 4. Memahami dan menjelaskan tuli

    4.1 memahami dan menjelaskan definisi tuli akibat bising

    4.2 memahami dan menjelaskan etiologi tuli akibat bising

    4.3 memahami dan menjelaskan epidemiologi tuli akibat bising

    4.4 memahami dan menjelaskan klasifikasi tuli akibat bising

    4.5 memahami dan menjelaskan patofisiologi tuli akibat bising

    4.6 memhami dan menjelaskan diagnosis dan manifestasi tuli akibat bising

    4.7 memahami dan menjelaskan diagnosis banding tuli akibat bising

    4.8 memahami dan menjelaskan tatalaksana tuli akibat bising

    4.9 memahami dan menjelaskan pencegahan tuli akibat bising

    4.10 memahami dan menjelaskan prognosis tuli akibat bising

    Lo 5. Memahami dan menjelaskan pemeriksaan alat pendengaran

    Lo 6. Memahami dan menjelaskan menjaga indera pendengaran secara islam

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    4/43

    4

    Lo 1. Memahami dan menjelaskan anatomi makroskopis & mikroskopis telinga

    1.1 memahami dan menjelaskan anatomi makroskopis telingaTelinga dapat dibagi menjadi telinga luar, tengah dan dalam.

    Telinga LuarTelinga luar terdiri dari pinna atau aurikula yaitu daun kartilago yang menangkap

    gelombang bunyi dan menjalarkannya ke kanal auditori eksternal (meatus), suatu lintasan sempityang panjangnya sekitar 2,5cm yang merentang dari aurikula sampai membran timpani. (Sloane,2003)

    Liang telinga berbentuk huruf S dengan rangka tulang rawan pada sepertiga bagian luar,sedangkan dua pertiga bagian dalam rangkanya terdiri dari tulang.

    Pada sepertiga bagian luar kulit liang telinga terdapat banyak kelenjar serumen (kelenjarkeringat) dan rambut. Kelenjar keringat terdapat pada seluruh kulit liang telinga. Pada dua

    pertiga bagian dalamnya hanya dijumpai sedikit kelenjar serumen. (Soepardi, 2007)

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    5/43

    5

    Telinga TengahTerletak di rongga berisi udara dalam bagian dalam bagian petrosus tulang temporal. Batas-

    batas telinga tengah adalah sebagai berikut :- Batas luar : membran timpani- Batas depan : tuba eustachius- Batas bawah : vena jugularis (bulbus jugularis)- Batas belakang : aditus ad antrum, kanalis fasialis pars vertikalis- Batas atas : tegmen timpani (meningen/otak)- Batas dalam : berturut-turut dari atas ke bawah kanalis semisirkularis horizontal,

    kanalis fasialis, tingkap lonjong (oval window), tingkap bundar

    (round window) dan promontorium

    Membran timpani berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari arah liang telinga danterlihat oblik terhadap sumbu liang telinga. Membran timpani merupakan perbatasan telingatengah, berbentuk kerucut dan dilapisi kulit pada permukaan eksternal dan membran mukosapermukaan internal. Membran ini memisahkan telinga luar dan telinga tengah dan memilikitegangan, ukuran dan ketebalan yang sesuai untuk menggetarkan gelombang bunyi secaramekanis. Bagian atas disebut pars flaksida (membran Sharpnell) sedangkan bagian bawah parstensa (membran propria).

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    6/43

    6

    Tulang pendengaran di telinga tengah terdiri dari maleus, inkus dan stapes yang salingberhubungan. Prosesus longus maleus melekat pada membran timpani, maleus melekat padainkus dan inkus melekat pada stapes. Stapes terletak pada tingkap lonjong yang berhubungandengan koklea. Tulang-tulang ini mengarahkan getaran dari membran timpani ke fenestravestibulii yang memisahkan telinga tengah dari telinga dalam.

    Tuba eustachius termasuk dalam telinga tengah yang menghubungkan daerah nasofaringdengan telinga tengah. Tuba yang biasanya tertutup dapat terbuka saat menguap, menelan ataumengunyah. Saluran ini berfungsi untuk menyeimbangkan tekanan udara pada kedua sisimembran timpani.

    Telinga DalamBerisi cairan dan terletak dalam tulang temporal, di sisi medial telinga tengah. Telinga

    tengah terdiri dari dua bagian :

    Labirin tulang (ossea)Merupakan ruang berliku berisi perilimfe, suatu cairan yang menyerupai cairan

    serebrospinalis. Bagian ini melubangi bagian petrosus tulang temporal dan terbagi menjaditiga bagian :

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    7/43

    7

    1. Vestibula- Dinding lateral vestibula mengandung fenestra vestibuli dan venestra cochleae, yang

    berhubungan dengan telinga tengah.- Membran melapisi fenestra untuk mencegah keluarnya cairan perilimfe.

    2. Saluran Semisirkularis- Menonjol dari bagian posterior vestibula.- Saluran semisirkular anterior dan posterior mengarah pada bidang vertikal di setiap sudut

    kanannya.- Saluran semisirkular lateral terletak horizontal dan pada sudut kanan kedua saluran di

    atas.- Pada irisan melintang koklea tampak skala vestibuli sebelah atas, skala timpani di sebelah

    bawah dan skala media (duktus koklearis) di antaranya.- Skala vestibuli berisi perilimfa, sedangkan skala media berisi endolimfa.- Dasar skala vestibuli disebut membran vestibuli (Reissners membrane) sedangkan

    skala media adalah membran basalis.- Pada membran basalis terdapat organ corti.- Pada skala media terdapat bagian yang berbentuk lidah yang disebut membran tektoria.- Pada membran basal melekat sel rambut dalam, sel rambut luar dan canalis corti yang

    membentuk organ corti.

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    8/43

    8

    3. Koklea- Telinga dalam terdiri dari koklea (rumah siput) yang berupa dua setengah lingkaran dan

    vestibuler yang terdiri dari 3 buah kanalis semisirkularis.

    - Ujung atau puncak koklea disebut helikotrema, menghubungkan perilimfa skala timpanidengan skala vestibuli.

    - Koklea mengandung reseptor pendengaran.

    Labirin membranosa

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    9/43

    9

    Merupakan serangkaian tuba berongga dan kantong yang terletak dalam labirin tulangdan mengikuti kontur labirin tersebut. Bagian ini mengandung endolimfe, cairan yangmenyerupai cairan intraseluler.1. Labirin membranosa dalam regia vestibula merupakan lokasi awal dua kantong, utrikulus

    dan sakulus yang dihubungkan dengan duktus endolimfe sempit dan pendek.2. Duktus semisirkuler yang berisi endolimfe terletak dalam saluran semisirkular pada

    labirin tulang yang mengandung perilimfe.3. Setiap duktus semisirkuler, utrikulus dan sakulus mengandung reseptor untuk ekuilibrium

    statis dan ekuilibrium dinamis.4. Utrikulus terhubung dengan duktus semisirkuler sedangkan sakulus terhubung dengan

    duktus koklear dalam koklea.

    1.2 memahami dan menjelaskan anatomi mikroskopis telinga1) Telinga Luar- Daun telinga

    Kerangka terdiri tl rawan elastis,bentuk tak teraturPerikondrium mengandung banyak serat elastisKulit menutupi tl rawan tipis, Jaringan subkutis tipis.Didalam kulit terdapat : rambut halus, kel sebacea , kel keringat sedikit, pada lobus auriculaterdiri dari jaringan lemak

    - Meatus acusticus externaDilapisi kulit tipis tanpa subcutis dan berhubungan erat dengan perichondrium / periosteumyang ada di bawahnya.Pada kulit bagian sepertiga luar terdapat: Rambut pendek,Kel sbacea (bermuara d folikel

    rambut), Kel ceruminosa (tubulosa apocrin /modifikasi kel keringat) bermuara padapermukaan / pada ductus kel.sebacea.

    - Membrana tympani2 lapisan jaringan penyambung :Lap Luar ,mgd serat-serat kolagen tersusun radial

    Lap dalam,mgd serat-serat kolagen tersusun circular

    Serat Elastin terutama di bagian central dan periferBagian superior tidak mengandung serat collagen,lunak dan tipis disebut pars flaccida

    (membrana schrapnell)Permukaan luar diliputi :kulit,tanpa rambut,kel sebacea,maupun kelenjar keringat.

    Pemukaan Dalam dilapisi mukosa yang terdiri dari epithel selapis cuboid dan lamina propriayang tipis.

    2) Telinga tengah- Cavum tympani

    Medial dipisahkan dari telinga dalam oleh tulang :

    Fenestra ovalis dan fenestra rotundum

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    10/43

    10

    Terdapat tulang pendengaran : Maleus,Incus,Stapes.ketiga tulang ini menghubungkanmembrana tympani dengan fenestra ovalis.Cavum tympani,tulang pendengaran nervus dan musculi dilapisi mucosa yang terdiri dariepithel selapis cuboiddan l.propria tipis.Epithel tympani sekitar muara tuba faryngotympani t.d epithel selapis cuboid/silindris dengancilia.

    - Tuba FaringotympaniMucosa berbentuk rugae t.d epitel selapis / bertingkat silindris dengan cilia dan l propriatipis.disekitar mucosa terdapat lymposit.

    3) Telinga Dalam- Labirynth Ossea- Berisi caira perilimph

    Terdiri dari 3 bagian :

    Vestibulum Canalis semisircularis tulang Cochlea

    - Labirynth Membranosa (terdapat di dalam labirynth ossea)Berisi cairan endolimfTerdiri dari :

    Labyrinth Vestibularis : terdiri dari Makula ( utrikulus dan sakulus ).krista ampularis.Labyrinth Vestibularis untuk keseimbangan

    Labirynth Cochlearis : epitel selapis gepeng- Organo Corti

    Terdiri 2 bagian :

    Sel rambut : dalam dan luar Sel Penyokong :

    Sel Batas dalam dan luar

    Sel Phalanx dalam dan luarSel Tiang dalam dan dalam

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    11/43

    11

    L0. 2 memahami dan menjelaskan memahami dan menjelaskan fisiologi pendengaran

    Pendengaran dapat terjadi dalam dua cara. Bunyi yang dihantarkan melalui telinga luar dan

    tengah yang terisi udara berjalan melalui konduksi udara. Suara yang dihantararkan melalui

    tulang secara langsung ke telinga dalam dengan cara konduksi tulang.

    Normalnya, konduksi udara merupakan jalur yang lebih efisien, namun adanya defek padamembrana timpani atau terputusnya rantai osikulus akan memutuskan konduksi udara normal

    dan mengakibatkan hilangnya rasio tekanan-suara dan kehilangan pendengaran konduktif.

    Bunyi terjadi disebabkan oleh adanya sumber bunyi, media penghantar gelombang suara serta

    adanya reseptor penerima informasi tersebut. Sumber bunyi akan menghasilkan tekanan

    gelombang suara.

    Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh daun telinga, dalam bentuk

    gelombang yang dialirkan melalui udara atau tulang ke koklea. Daun telinga berfungsi untuk

    menangkap serta menghimpun gelombang bunyi yang datang dari luar untuk kemudian

    diarahkan ke liang telinga dan selanjutnya bersama liang telinga tersebut menyebabkan

    naiknya tekanan akustik sebesar 1015 dB pada membran timpani.

    Setelah sampai di membran timpani, getaran diteruskan ke telinga tengah. Fungsi organdalam telinga tengah selain untuk meneruskan gelombang bunyi, juga memproses energi

    bunyi tersebut sebelum memasuki koklea.

    Dalam telinga tengah, energi bunyi mengalami amplifikasi melalui sistem rangkaian tulang

    pendengaran. Setelah diamplifikasi, energi tersebut akan diteruskan ke stapes, yang

    menggerakkan tingkap lonjong sehingga perilimfe pada skala vestibuli bergerak. Getaran

    diteruskan melalui membran Reissner, yang mendorong endolimfe, sehingga akan

    menimbulkan gerak relatif antara membran basilaris dan membran tektoria.

    Proses ini merupakan rangsang mekanik yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel

    sel rambut, sehingga terjadi pelepasan ion ion bermuatan listrik. Keadaan ini

    menimbulkan proses depolarisasi sel rambut sehingga melepaskan neurotransmiter ke dalam

    sinaps dan menghasilkan potensial aksi yang kemudian diteruskan ke serabut serabut

    N.VIII menuju nukleus koklearis sampai ke korteks pendengaran.

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    12/43

    12

    Proses Transduksi Gelombang Suara

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    13/43

    13

    L0. 3 memahami dan menjelaskan gangguan pendengaran

    3.1 Definisi

    1. Tuli konduktif

    Karena kelainan di telinga luar atau di telinga tengah.

    a. Kelainan telinga luar yang menyebabkan tuli konduktif adalah astresia liang telinga,sumbatan oleh serumen, otitis eksterna sirkumsripta, osteoma liang teling.

    b. Kelainan telinga tengah yang menyebabkan tuli konduktif adalah tubakar/sumbatan

    tuba eustachius, dan dislokasi tulang pendengaaran.

    2. Tuli perseptif

    Disebabkan oleh kerusakan koklea (N. audiotorius) atau kerusakan pada sirkuit system

    saraf pusat dari telinga. Orang tersebut mengalamipenurunan atau kehilangan

    kemampuan total untuk mendengar suara dan akan terjadi kelainan pada :

    a. Organo corti

    b. Saraf : N.coclearis dan N.vestibularais

    c. Pusat pendengaran otak

    3. Tuli campuran

    Terjadi karena tuli konduksi yang pada pengobatannya tidak sempurna sehingga infeksi

    sekunder (tuli persepsi juga).

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    14/43

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    15/43

    15

    A.2 Trauma

    Trauma pada telinga luar dapat merusak dan menghancurkan aurikula

    dankanalis autikus eksternus, yang termasuk bagaian dari trauma ini diantaranya :

    a.LaserasiTrauma akibat laserasi biasa terjadi karena klien tampak mengorek-ngorek telinga

    dengan jari atau penjepit rambut atau klip kertas. Laserasi dinding kanalis dapatmenyebabkan pendarahan sementara.

    b.FrostbiteFrostbite pada aurikula dapat timbul dengan cepat pada lingkungan bersuhu

    rendah dengan angin dingin yang kuat. Karena perubahan perlahan maka tidak terasa nyeri

    lagi sampai telinga memanas lagi. Pemanasan yang cepat dianjurkan terapi seperti dengan

    mengguyur telinga yang terkena dengan air hangat bersuhu 100 dan 108F sampai terlihat

    tanda-tanda pencairan.

    c.HematomaHematoma telinga luar seringdijumpai pada pengulat dan petinju akibat penumpukan

    bekuan darahdiantara perikondrium dan tulang rawan, yang dapat berakibat terbentuknya

    telinga bunga kol jika tidak diobati, oleh karena itu perlunya tindakan insisi dan drainagekumpulan darah dalam kondisi steril diikuti dengan pemasangan balutan tekan khususnya

    pada konka.

    A.3 Infeksi Akut

    SerumenSerumen merupakan hasil sekresi kelenjar serumen yang terdapat pada bagian tulang

    rawan telinga. Jumlah serumen yang terbentuk dan konsistensinya sangat bervariasi.

    Gambaran klinis. Adanya serumen, walaupun merupakan sekresi yang normal, dapat

    menyebabkan gangguan pendengaran, nyeri telinga, keluarnya cairan dan vertigo. Jumlah dan

    konsistensinya beragam, sehingga banyak orang harus membersihkan telinganya

    (mengirigasi) pada saat-saat tertentu secara teratur.

    Telinga Luar

    Dalam kulit kanal auditorius eksterna

    Glandula seminurosa

    Sekresi substansi lilin

    serumen

    tertimbun

    Kanalis eksternus

    menumpuk

    Menutup hantaran suara lewat udara

    Reseptor gagal menerima suara

    Tuli konduktif

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    16/43

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    17/43

    17

    Otitis eksterna akut terbagi atas:

    a. Otitis eksterna sirkumskripta (furunkelbisul).Keadaan ini dapat terjadi akibat infeksi oleh Staphylococcus aureus di dalam

    folikel rambut pada liang telinga bagian tulang rawan. Timbul nyeri telinga hebat lebih-

    lebih apabila daun telinga digerakkan atau disentuh, liang telinga tampak merah,pembengkakan dapat meluas kebelakang telinga sehingga menyerupai keadaan pada

    mastoiditis akuta. Nyeri telinga hebat juga timbul waktu kita memasukkan speculum

    telinga ke dalam liang telinga. Kemungkinan ditemukan cairan purulen bila furunkel

    pecah lambat laun terjadi gangguan pendengaran bila lesi menyumbat kanal. intervensi

    yang diberikan adalah terapi sistemik dengan pengobatan topical dengan tampon yang

    diberi tetes telinga yang mengandung antibiotika.

    Staphylococcus aureus, Staphylococcus albus, Jamur, Aspergillus

    Infeksi pada kulit

    Faktor predisposisi (udara hangat dan lembab, pH basa liang telinga, trauma ringan, danberenang)

    Membentuk furunkel, di sepertiga luar liang telinga

    Adneksa

    Folikel rambut, kelenjar sebasea, dan kelenjar serumen

    Rasa nyeri hebat pada telinga bila disentuh

    Liang telinga bengkak

    Gangguan pendengaran bila furunkel membesar

    b. Otitis eksterna difusaInfeksi bakteri (Pseudomonas) yang biasanya terjadi pada cuaca yang panas dan le

    mbab, disebutjugaSwimmersear. Keluhan klien yang muncul adalah nyeri tekan

    tragus, kulit liang telinga hipermi, kadang-kadang terdapat secret yang berbau, edema

    dengan tidak jelas batasnya serta tidak terdapat furunkel. Dapat mengenai baik satu

    telinga maupun keduanya. Apabila terjadi unilateral, biasanya sekunder, akibat adanya

    radang telinga tengah. Apabila terjadi bilateral, mungkin akibat infeksi bakteri atau

    jamur, iritasi akibat suatu bahan kimia atau merupakan bagian daripada kelainan kulit

    ditempat lain secara umum.Pseudomonas, Staphylococcus albus, Escherichia coli, Enterobacter auogenes

    Kadang terdapat sekret yang berbau, tidak mengandung lendir

    Pembesaran kelenjar getah bening regional

    Gejala sama dengan otitis media sirkumskripta, tampak dua pertiga dalam kulit liang telinga

    sempit, hiperemis

    dan edema tanpa batas yang jelas, serta tidak terdapat furunkel

    Gangguan pendengaran

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    18/43

    18

    OtomikosisBiasanya terjadi setelah berenang terutama di daerah tropis dan akibat infeksi

    Aspergillus niger. Liang telinga menjadi penuh kotoran yang berwarna putih dengan

    bercak-bercak hitam. Iritasi akibat bahan kimia seperti cat rambut dan antibiotika lokal

    dapat menimbulkan suatu demartitis lokal.

    Gambaran klinis Kedua telinga dirasakan sangat gatal, penderita berkeinginanuntuk terus menggaruk telinga terutama pada waktu menjelang tidur. Timbul cairan dan

    kadang-kadang dirasakan kurang pendengaran. Liang telinga penuh dengan kotoran

    (debris) dan kulit liang telinga ini mengalami peradangan. Kurangnya pendengaran

    akan segera teratasi setelah liang telinga dibersihkan.

    A.4 Infeksi dan Radang Kronik

    - Otitis Eksterna NekrotikansOtitis eksterna nekrotikans merupakan suatu infeksi berat pada tulang temporal dan

    jaringan lunak telinga. Lebih sering dijumpai pada penderita diabetes lanjut usia yang

    tinggal dalam lingkungan beriklim panas. Kondisi ini disebabkan Pseudomonas

    aeruginosa dan biasanya ditemukan pada penderita diabetes lanjut usia serta dianggaplebih umum pada daerah beriklim panas.

    Pseudomonas

    Faktor predisposisi : Penderita diabetes

    Peradangan yang meluas secara progresif

    Pada lapisan subkutis dan organ sekitar

    Rasa gatal di telinga, unilateral, diikuti nyeri hebat dan sekret yang banyak serta

    pembengkakantelinga

    Nyeri akan menghebat dan liang telinga tertutup jaringan granulasi yang subur

    Paresis atau paralisis nervus fasial, kondritis, osteitis, osteomielitis

    Kehancuran tulang temporal

    Tuli/gangguan pendengaran

    -

    Polikondritis BerulangPenyakit yang tidak diketahui etiologinya ini menyebabkan peradangan destruksi tulang

    rawan. Merupakan suatu gangguan tulang rawan generalisata, melibatkan hidung dan

    telinga pada 80-90% kasus.

    A.5 Neoplasma

    Berbagai lesi kulit termasuk neoplasma dapat ditemukan pada aurikula dan liang telinga.

    1. Osteoma adalah suatu tumor jinak pada dinding liang telinga yang tampak sebagaibenjolan tunggal, kertas dan bundar yang menempel pada sepertiga bagian dalam telinga.

    2. Eksostosis adalah tumor berupa tonjolan bundar dari tulang kanalis yanghipertropik(biasanya multiple dan bilateral). Etiologi belum diketahui dengan pasti, tetapi dapat

    disebabkan oleh karena sering berenang dalam air dingin.

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    19/43

    19

    3. Karsinoma sel gepeng merupakan keganasan yang paling sering pada liangtelinga dapatsegera disembuhkan dan ditangani dengan cepat jika didiagnosis secaradini demikian

    juga dengan karsinoma sel basal. Pengobatan awal yang lebih dipilihadalah eksisi bedah

    Mansjoer, Arief dkk.2001

    Soetirto I, Bashiruddin J. 2001

    B.Kelainan Telinga TengahB.1 Penyakit Membran TimpaniMembran Timpani normalnya memberikan refleks cahaya (cone of ligh) positif yang berarti

    cahaya dari luar dapat dipantulkan oleh membrane timpani. Penyakit Membran timpani

    terjadi secara primer yaitu berasal dari membran timpani dan dapat pula terjadi akibat adanya

    penyakit yang mendahuluinya seperti Otitis Media dan Mastoiditis.

    timpanosklerosis Jika terjadi peradangan pada membran timpani dapat terlihat bercak-bercak putih tebal akibat timbunan kolagen terhialinisasi pada lapisan tengahnya sebagai

    akibat peradangan terdahulu

    Retraksi membran timpani dapat pula terjadi bila vakum dalam telinga tengah atau dapatmenonjol bila terdapat cairan, infeksi atau massa jaringan dalam telinga tengah.

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    20/43

    20

    Perforasi dapat diakibatkan trauma dan dapat/tidak disertai gangguan primer sepertiputusnya rantai osikula. Perforasi dibagi 4 berdasarkan lokasinya : tuba, sentral,

    marginal, pars flaksida

    Otitis media kronis dengan keluarnya secret selalu disertai perforasi membrane timpaniyang serius.

    Intervensi kolaboratif pada Penyakit Membran Timpani adalah pemberian tetestelinga antibiotika seperti eritromisin, yang merupakan obat pilihan untuk menghilangkan

    nyeri, adanya bulging atau vesikel dapat dipecahkan dengan jarum halus atau miringotomi

    B.2 Gangguan Tuba EustakhiusTuba Eustakhius menghubungkan rongga telinga tengah dengan nasopharing dan sepertiga

    bagian lateral tuba berhubungan dengan telinga berupa tulang sedangkan dua pertiga medial

    adalah fibro kartilaginosa. Fungsi Tuba Eustakhius adalah untuk ventilasi,

    drainage secret dan menghalangi masuknya secret dari nasopharing ketelinga tengah.

    Ventilasi berguna untuk menjaga agar tekanan udara dalam telinga tengahselalu sama dengan

    tekanan udara luar, ini dapat dibuktikan :

    a. Perasat ValsavaTeknik yang dilakukan dengan cara meniupkan dengan kertas dari hidung dipijat

    serta mulut ditutup. Bila tuba terbuka maka akan terasa udara masuk kedalam telinga

    tengah yang menekan membrane timpani kearah lateral seperti meletup. Perasat ini

    tidak boleh dilakukan apabila terjadi infeksi pada jalan nafas.

    b. Perasat TyonbeeTeknik yang dilakukan dengan cara menelan ludah sambil hidung dipijat serta mulut

    ditutup. Bila tuba terbuka maka akan terasa membrane tympani tertarik kemedial. Perasat

    ini lebih fisiologis.

    Drainage secret akan dialirkan ke nasopharing melalui tuba eustakhius yang berfungsi

    normal. Jika tuba tersumbat, maka akan tercipta keadaan vakum dalam telinga tengah,

    sumbatan yang lama dapat mengarah pada peningkatan produksi cairanyang akan

    memperberat masalah klien. Bila tidak dapat diatasi dengan pengobatan, maka keadaan

    vakum harus dihentikan dengan miringotomi sehingga cairan dapat di drainage melalui

    kanalis akustikus eksternus.

    Gangguan pada Tuba Eustakhius antara lain :

    Tuba eustakius paten abnormalSuatu tuba eustakius yang paten abnormal selalu terbuka sehingga udara dapat

    masuk ke dalam telinga tengah selama respirasi.

    Mioklonus palatumMioklonus palatum merupakan suatu kondisi yang jarang dijumpai, di mana

    otot-otot palatum mengalami kontraksi ritmik secara berkala. Penyebabnya tidak

    diketahui.

    Obstruksi tuba eustakiusDapat disebabkan oleh berbagai keadaan termasuk peradangan, seperti

    nasofaringitis atau adenoiditis.

    PalatoskisisDapat menyebabkan disfungsi tuba eustakius akibat hilangnya penambat otot

    tensor palatine.

    BarotraumaAdalah keadaan dengan terjadinya perubahan tekanan yang tiba-tiba di

    luar telinga tengah sewaktu di pesawat terbang atau menyelam, yang menyebabkan

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    21/43

    21

    tuba gagal membuka. Apabila perbedaan tekanan melebihi 90 mmHg, maka otot yang

    normal aktivitasnya tidak mampu membuka tuba. Pada keadaan ini terjadi tekanan

    negative sehingga cairan keluar dari pembuluh darah kapiler mukosa dan kadang-

    kadang disertai dengan rupture pembuluh darah, yang dapat menyebabkan cairan

    ditelinga tengah dan rongga mastoid tercampur darah.

    Manifestasi klinis berupa nyeri pada telinga, klien mengeluh kurang jelas pendengarannya,autofonia, perasaan ada air dalam telinga dan kadang-kadang tinnitus dan

    vertigo.

    B.3 Gangguan pada Rantai OsikulaPada telinga tengah terdapat tulang-tulang pendengaran (rantai osikula) yang terdiri dari

    maleus, inkus dan stapes yang mentransmisikan suara dari membrane

    tympani ke fenestra yang dapat disebabkan oleh infeksi, trauma ataupun proses congenital

    dapat menghambat transmisi suara ke tempat lainnya.

    Kelainan KongenitalOsikula dapat mengalami kelainan bentuk, terputus ataupun terfiksasi secara

    congenital, bentuk yang paling umum adalah hilangnya sebagian inkus dan fiksasi stapes.

    Liang telinga dapat sama sekali tidak berkembang atau berujung buntu atau tumbuh

    dengan penyempitan konsentris. Hal ini secara fungsional dapat menyebabkan ketulian

    congenital yang seharusnya mendapatkan terapi secara dini.

    Koreksi alat bantu mendengar yang menempel pada tulang pendengaran agar anak

    dapat berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

    OtosklerosisPenyakit pada kapsul tulang labirin yang mengalami spongiosis di daerah kaki stapes,

    sehingga stapes menjadi kaku dan tidak dapat menghantarkan getaran suara ke

    labirin dengan baik. Pengertian lain Otosklerosis adalah pengeseran telinga dimana dalam

    kondisi ini kelebihan tulang stapes mengakibatkan hilangnya gerakan stapes.

    B.4 Otitits MediaPendengaran sebagian atau seluruh mukosa telinga tengah, tuba eustakhius, antrum mastoid

    dan sel-sel mastoid.

    Patogenesis Otitis Media

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    22/43

    22

    Pembagian Otitis Media terbagi atas :

    1. Otitis media supuratif, terdiri dari : Otitis Media Supuratif akut = otitis media akut (OMA)

    Penyakit yang disebabkan oleh serangan mendadak dari infeksi bakteri dalam

    telinga bagian tengah.

    Penyebab utama Otitis Media Akut (OMA)

    a. Masuknya bakteri patogenik (Streptococcus Pnemoniae,Hemophillus Influenza,Moraxella Catarrhalis) ke dalam telinga tengah.

    b. Disfungsi tuba euatakhius, seperti obstruksi yang diakibatkan infeksi saluranpernapasan atas, inflamasi jaringan disekitar (snusitis, hipertroi adenoid) atau reaksialergi (rrhinitis alergika)

    Perjalanan Penyakit Otitits Media Akut (OMA)

    Otitis Media Supuratif Kronis (OMSK/OMP)OMSK adalah perforasi membran timpani secara permanen, dengan atau

    tanpa pengeluaran pus dan kadang-kadang disertai oleh perubahan dalam mukosadan

    struktur tulang dari telinga tengah. (Pricilla Lemone. 2001 : 1496). Etiologi OMSKbiasanya disebabkan karena pengulangan dari penyakit otitis media akut dan disfungsi

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    23/43

    23

    tuba akustikus serta Trauma atau penyakit lain. Secret yang keluar dari telinga tengah

    terus menerus atau hilang timbul, sekret mungkin encer, kental, bening atau berupa

    nanah.

    Patofisiologi Otitis media akut dengan perforasi membrane timpani menjadi otitis

    media perforatif apabila prosesnya sudah lebih dari 2 bulan. Bila pross infeksi kurang

    dari 2 bulan disebut otitis media supuratif subakut.

    2. Otitis Media Non Supuratif/Serosa, terdiri dari : Otitis Media Serosa

    Peradangan non bakteri mukosa kavum timpani yang ditandai terkumpulnya

    cairan yang non purulen (serous/mukoid).

    Etiologi :

    Transudasi plsama dari pembulah darah ke dalam rongga telinga tengah terutamadisebabkan tekanan hidrostatik.

    Disfungsi tuba eutakius (penyebab utama) Faktor penyebab lain, hipertropi adenoid, adenoiditis kronis, palatoskisis tomor

    nasofaring barotrauma, radang seperti rinitis, sinusitis.

    Masalah ini dapat sering menimbulkan tuli konduktif. Pada otitis media serosa,

    membran timpani tampak berwarna kekuningan. Kadang tinggi cairan atau gelembung

    (Air fluid level/air bubbles) tampak lewat di membran timpani yang semitransparan.

    Membran timpani dapat berwarna biru atau keunguan bila ada ada darah dalam telinga

    tengah.

    B.5 MastoiditisMastoiditis adalah proses peradangan pada sel- sel mastoid yang terletak pada tulang

    temporal. Biasanya timbul pada anak-anak atau orang dewasa yang sebelumnya telah

    menderita infeksi akut pada telinga tengah.

    Gejala awal yang timbul adalah peradangan telinga tengah, seperti demam, nyeritelinga, hilangnya sensasi pendengaran, bahkan timbul suara berdenging pada satu sisi telinga

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    24/43

    24

    B.6 Tumor Telinga TengahGlomus jugulare adalah tumor yang timbul dari bulbus jugularisNeuroma nervus fasialis adalah tumor nervus VII, nervus fasialisGranuloma kolesterin adalah reaksi system imun terhadap produk samping

    darah (Kristal kolesterol) di dalam telinga tengahTimpanosklerosis adalah timbunan kolagen dan kalsium didalam telinga

    tengah yang dapat mengeras di seputar osikulus sebagai akibta infeksi berulang.

    Brunner & Suddath:1999;2056

    CharleneJ.Reevas.2001:16

    Efiaty dan Nurbaity

    Corwin, Elizabeth J. 2000

    C.Kelainan Telinga DalamTinitus adalah bentuk gangguan pendengaran berupa sensasi suara tanpa adanya

    rangsangan dari luar, dapat berupa mekanoakustik maupun listrik. Jika rambut-rambut inimengalami kerusakan, mereka akan bergerak secara random pada keadaan yang konstan.

    Karena tidak mampu menahan pengisian listrik, pada sel-sel pendengaran terjadi kebocoran.

    Sinyal-sinyal listrik ke otak sebagai bunyi yang amat berisik. Keluhan suara yang didengar

    sangat bervariasi, dapat berupa bunyi mendenging, mendesis.

    Klasifikasi

    Terjadi akibat adanya kerusakan ataupu perubahan telinga luar, telinga dalam.

    Berdasarkan letak sumber masalah :

    Tinitus otik kelainan pada telinga saraf atau saraf auditorius Tinitus somatik kelainan terjadi diluar telinga dan saraf tetapi masih didalam area

    kepala atau leher.

    Etiologi

    Tinitus paling banyak disebabkan karena adanya kerusakan dari telinga dalam.

    Terutama kerusakan dari koklea. Secara garis besar penyebab tinitus dapat berupa kelainan

    bersifat somatik : kerusakan N. Vestibulokoklearis, kelainan vaskular, tinitus karena obat-

    obatan.

    C.1 Tuli kongenital

    Aplasia kokhleaKelainan kromosomKolesteatom conginental

    C.2 Tuli didapat

    Neuroma akustik (Vestibular schwannoma)Neuroma Akustik pada kasus ini terdapat tumor jinak yang membungkus saraf

    kedelapan yang berakibat pada tuli sensorineural yang unilateral, dengan gejala mula-mula

    ringan. Tumor ini menyebabkan gangguan pendengaran dengan cara menghancurkan saraf-

    saraf saluran telinga dalam

    TraumaRudapaksa/kecelakaan yang dapat mengakibatkan rupture labirin atau komosio labirin

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    25/43

    25

    Tuli akibat obatobatanobatan yang bersifat ototoxic:

    Aminoglikosid ( tersering :tobramycin ) Loop diuretic ( tersering : furosemid) Antimetabolik ( methotrexate) Salisilat ( aspirin )

    Obat (Aminoglikosida) menyebabkan tuli yang biasanya bersifat bilateral dan bernada tinggi

    dikarenakan hilangnya sel rambut pada putaran basal koklea. Sedangkan obat obat diuretik

    menyebabkan tuli yang sebagian besar bersifat sementara dengan cara menyebabkan

    perubahan komposisi elektrolit cairan dalam endolimfe.

    Noise induce ( trauma suara )Tuli akibat bising ( noise induced tuli yang terjadi diakibatkan oleh bising dengan

    intensitas 85db atau lebih yang mengakibatkan kerusakan pada reseptor pendengaran corti di

    telinga dalam terutama yang berfrekuensi 3000 -6000 Hz. Sering terpapar dengan suara yang

    keras dalam waktu yang lama (>90 db) dapat menyebabkan SNHL.

    PresbikusisBerkurangnya Pendengaran Akibat Pertambahan Usia (Presbikusis) adalah penurunan

    fungsi pendengaran sensorineural yang terjadi sebagai bagian dari proses penuaan yang

    normal. Lebih sering terjadi pada pria dan penurunan fungsi pendengarannya lebih berat.

    Presbikus pada kasus ini terjadi perubahan struktur coklea dan Nervus akustic, berupa atrofidan degenerasi sel-sel penunjang organocorti, disertai perubahan vaskuler pada stria

    vaskularis, dimana jumlah dan ukuran sel-sel ganglion dan saraf berkurang .

    Ketulian Mendadak(sudden hearing loss)

    Ketulian Mendadak adalah kehilangan pendengaran yang berat, biasanya hanyamenyerang 1 telinga, yang terjadi selama beberapa jam atau kurang. Tuli mendadak

    penyebab paling sering dari tuli mendadak ini adalah iskemia koklea yang berakibat pada

    degenerasi yang luas pada sel sel ganglion stria vasikularis dan ligamen spiral. Yang

    kemudian diikuti dengan pembentukan jaringan ikat dan penulangan. Pada kasus ini

    kerusakan sel rambut yang terjadi tidaklah luas dan membran basal jarang terkena.

    Tuli tiba-tiba (sudden hearing loss) bias disebabkan oleh :

    Idiopatic Pembuluh darah yang Iskemic di telinga dalam Fistula perilimfa : yang biasanya disebabkan karena rupturnya tingkap lonjong atau

    bulat yang berakibat pada bocornya perilimfe

    Penyakit lainnyaMeniere sebabkan tuli perspektif nada rendah (125 Hz to 1000 Hz) disebabkan karena adanya

    hidrops endolimfa pada koklea dan vesbulum. Hidrops ini dapat disebabkan karena :

    - Meningkatnya tekanan hidrostatik pada ujung arteri- Berkurangnya tekanan osmotik didalam kapiler, dan meningkatnya tekanan osmotik

    extrakapiler

    - Jalan keluar sakus endolimfatikus tersumbat, sehingga terjadi penimbunan cairanendolimfa hal - hal tersebut menyebabkan pembengkakan pada skala media yang dapat

    berakibat pada ruptrunya membran Reissner dan terjadilah percampuran cairan

    endolimfe dan perilimfe.

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    26/43

    26

    L0. 4 memahami dan menjelaskan tuli akibat bising

    4.1memahami dan menjelaskan definisi tuli akibat bisingBising adalah suara atau bunyi yang mengganggu atau tidak dikehendaki.1,6 Dari definisi

    ini menunjukkan bahwa sebenarnya bising itu sangat subyektif, tergantung dari masing-masing individu, waktu dan tempat terjadinya bising.6 Sedangkan secara audiologi, bising

    adalah campuran bunyi nada murni dengan berbagai frekwensi.1

    Cacat pendengaran akibat kerja ( occupational deafness / noise induced hearing loss )

    adalah hilangnya sebahagian atau seluruh pendengaran seseorang yang bersifat permanen,

    mengenai satu atau kedua telinga yang disebabkan oleh bising terus menerus dilingkungan

    tempat kerja. Dalam lingkungan industri, semakin tinggi intensitas kebisingan dan semakin

    lama waktu pemaparan kebisingan yang dialami oleh para pekerja, semakin berat gangguan

    pendengaran yang ditimbulkan pada para pekerja tersebut.

    4.2memahami dan menjelaskan etiologi tuli akibat bisingFaktor-faktor yang mempengaruhi pemaparan kebisingan :

    1. Intensitaskebisingan 2. Frekwensikebisingan 3. Lamanyawaktupemaparanbising

    4. Kerentananindividu 5. Jeniskelamin 6. Usia 7. Kelainanditelingatengah

    Perubahan ambang dengar akibat paparan bisingTergantung pada frekwensi bunyi, intensitas dan lama waktu paparan, dapat berupa :

    1. Adaptasi

    Bila telinga terpapar oleh kebisingan mula-mula telinga akan merasa terganggu oleh

    kebisingan tersebut, tetapi lama-kelamaan telinga tidak merasa terganggu lagi karena suara

    terasa tidak begitu keras seperti pada awal pemaparan.

    2. Peningkatan ambang dengar sementara

    Terjadi kenaikan ambang pendengaran sementara yang secara perlahan- lahan akan

    kembali seperti semula. Keadaan ini berlangsung beberapa menit sampai beberapa jam

    bahkan sampai beberapa minggu setelah pemaparan. Kenaikan ambang pendengaran

    sementara ini mula-mula terjadi pada frekwensi 4000 Hz, tetapi bila pemeparan berlangsung

    lama maka kenaikan nilai ambang pendengaran sementara akan menyebar pada frekwensi

    sekitarnya. Makin tinggi intensitas dan lama waktu pemaparan makin besar perubahan nilai

    ambang pendengarannya. Respon tiap individu terhadap kebisingan tidak sama tergantung

    dari sensitivitas masing-masing individu. 3. Peningkatan ambang dengar menetap

    Kenaikan terjadi setelah seseorang cukup lama terpapar kebisingan, terutama terjadi

    pada frekwensi 4000 Hz. Gangguan ini paling banyak ditemukan dan bersifat permanen,

    tidak dapat disembuhkan . Kenaikan ambang pendengaran yang menetap dapat terjadi

    setelah 3,5 sampai 20 tahun terjadi pemaparan, ada yang mengatakan baru setelah 10-15

    tahun setelah terjadi pemaparan. Penderita mungkin tidak menyadari bahwa

    pendengarannya telah berkurang dan baru diketahui setelah dilakukan pemeriksaan

    audiogram.

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    27/43

    27

    Hilangnya pendengaran sementara akibat pemaparan bising biasanya sembuh setelah

    istirahat beberapa jam ( 1 2 jam ). Bising dengan intensitas tinggi dalam waktu yang

    cukup lama ( 10 15 tahun ) akan menyebabkan robeknya sel-sel rambut organ Corti

    sampai terjadi destruksi total organ Corti. Proses ini belum jelas terjadinya, tetapi

    mungkin karena rangsangan bunyi yang berlebihan dalam waktu lama dapatmengakibatkan perubahan metabolisme dan vaskuler sehingga terjadi kerusakan

    degeneratif pada struktur sel-sel rambut organ Corti. Akibatnya terjadi kehilangan

    pendengaran yang permanen. Umumnya frekwensi pendengaran yang mengalami

    penurunan intensitas adalah antara 3000 6000 Hz dan kerusakan alatCorti untuk

    reseptor bunyi yang terberat terjadi pada frekwensi 4000 Hz (4 K notch).1,3,4,6 Ini

    merupakan proses yang lambat dan tersembunyi, sehingga pada tahap awal tidak disadari

    oleh para pekerja. Hal ini hanya dapat dibuktikan dengan pemeriksaan audiometri.

    Apabila bising dengan intensitas tinggi tersebut terus berlangsung dalam waktu yang

    cukup lama, akhirnya pengaruh penurunan pendengaran akan menyebar ke frekwensi

    percakapan ( 500 2000 Hz ). Pada saat itu pekerja mulai merasakan ketulian karena

    tidak dapat mendengar pembicaraan sekitarnya.

    4.3memahami dan menjelaskan epidemiologi tuli akibat bising

    Tuli akibat bising merupakan tuli sensorineural yang paling sering dijumpai setelah

    presbikusis. Lebih dari 28 juta orang Amerika mengalami ketulian dengan berbagai macam

    derajat, dimana 10 juta orang diantaranya mengalami ketulian akibat terpapar bunyi yang

    keras pada tempat kerjanya.Sedangkan Sataloff dan Sataloff ( 1987 ) mendapati sebanyak 35

    juta orang Amerika menderita ketulian dan 8 juta orang diantaranya merupakan tuli akibat

    kerja.Oetomo, A dkk ( Semarang, 1993 ) dalam penelitiannya terhadap 105 karyawan pabrik

    dengan intensitas bising antara 79 s/d 100 dB didapati bahwa sebanyak 74 telinga belum

    terjadi pergeseran nilai ambang, sedangkan sebanyak 136 telinga telah mengalami pergeseran

    nilai ambang dengar, derajat ringan sebanyak 116 telinga ( 55,3% ), derajat sedang 17 ( 8% )

    dan derajat berat 3 ( 1,4% ). Kamal, A ( 1991 ) melakukan penelitian terhadap pandai besi

    yang berada di sekitar kota Medan. Ia mendapatkan sebanyak 92,30 % dari pandai besi

    tersebut menderita sangkaan NIHL.Sedangkan Harnita, N ( 1995 ) dalam suatu penelitian

    terhadap karyawan pabrik gula mendapati sebanyak 32,2% menderita sangkaan NIHL.

    4.4memahami dan menjelaskan klasifikasi tuli akibat bisingSecara umum efek kebisingan terhadap pendengaran dapat dibagi atas 2 kategori yaitu :

    1. Noise Induced Temporary Threshold Shift ( TTS )

    2. Noise Induced Permanent Threshold Shift ( NIPTS )

    NOISE INDUCED TEMPORARY THRESHOLD SHIFT ( NITTS )

    Seseorang yang pertama sekali terpapar suara bising akan mengalami berbagai

    perubahan, yang mula-mula tampak adalah ambang pendengaran bertambah tinggi pada

    frekwensi tinggi. Pada gambaran audiometri tampak sebagai notch yang curam pada

    frekwensi 4000 Hz, yang disebut juga acoustic notch.

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    28/43

    28

    Pada tingkat awal terjadi pergeseran ambang pendengaran yang bersifat sementara, yang

    disebut juga NITTS.Apabila beristirahat diluar lingkungan bising biasanya pendengaran

    dapat kembali normal.

    NOISE INDUCED PERMANENT THRESHOLD SHIFT ( NIPTS )

    Didalam praktek sehari-hari sering ditemukan kasus kehilangan pendengaran akibat suarabising, dan hal ini disebut dengan occupational hearing loss atau kehilangan pendengaran

    karena pekerjaan atau nama lainnya ketulian akibat bising industri.

    Dikatakan bahwa untuk merubah NITTS menjadi NIPTS diperlukan waktu bekerja

    dilingkungan bising selama 1015 tahun, tetapi hal ini bergantung juga kepada :

    1. Tingkatsuarabising2. Kepekaanseseorangterhadapsuarabising

    NIPTS biasanya terjadi disekitar frekwensi 4000 Hz dan perlahan-lahan meningkat dan

    menyebar ke frekwensi sekitarnya. NIPTS mula-mula tanpa keluhan, tetapi apabila sudah

    menyebar sampai ke frekwensi yang lebih rendah ( 2000 dan 3000 Hz ) keluhan akan timbul.

    Pada mulanya seseorang akan mengalami kesulitan untuk mengadakan pembicaraan di

    tempat yang ramai, tetapi bila sudah menyebar ke frekwensi yang lebih rendah maka akantimbul kesulitan untuk mendengar suara yang sangat lemah. Notch bermula pada frekwensi

    3000 6000 Hz, dan setelah beberapa waktu gambaran audiogram menjadi datar pada

    frekwensi yang lebih tinggi. Kehilangan pendengaran pada frekwensi 4000 Hz akan terus

    bertambah dan menetap setelah 10 tahun dan kemudian perkembangannya menjadi lebihlambat.

    4.5memahami dan menjelaskan patofisiologi tuli akibat bisingBanyak hal yang mempermudah seseorang menjadi tuli akibat terpapar bising antara

    lain intensitas bising yang lebih tinggi, berfrekwensi tinggi, lebih lama terpapar bising,

    kepekaan individu dan faktor lain yang dapat menimbulkan ketulian. Bising yang

    intensitasnya 85 desibel ( dB ) atau lebih dapat menyebabkan kerusakan reseptor

    pendengaran Corti pada telinga dalam. Sifat ketuliannya adalah tuli saraf koklea dan biasanya

    terjadi pada kedua telinga.

    Tuli akibat bising mempengaruhi organ Corti di koklea terutama sel-sel rambut. Daerah yang

    pertama terkena adalah sel-sel rambut luar yang menunjukkan adanya degenerasi yang

    meningkat sesuai dengan intensitas dan lama paparan. Stereosilia pada sel-sel rambut luar

    menjadi kurang kaku sehingga mengurangi respon terhadap stimulasi. Dengan bertambahnya

    intensitas dan durasi paparan akan dijumpai lebih banyak kerusakan seperti hilangnya

    stereosilia. Daerah yang pertama kali terkena adalah daerah basal. Dengan hilangnya

    stereosilia, sel-selrambut mati dan digantikan oleh jaringan parut. Semakin tinggi intensitas

    paparan bunyi, sel-sel rambut dalam dan sel-sel penunjang juga rusak. Dengan semakin

    luasnya kerusakan pada sel-sel rambut, dapat timbul degenerasi pada saraf yang juga dapat

    dijumpai di nukleus pendengaran pada batang otak.

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    29/43

    29

    Perubahan anatomi yang berhubungan dengan paparan bising

    Dari sudut makromekanikal ketika gelombang suara lewat, membrana basilaris meregang

    sepanjang sisi ligamentum spiralis, dimana bagian tengahnya tidak disokong. Pada daerah ini

    terjadi penyimpangan yang maksimal. Sel-sel penunjang disekitar sel rambut dalam juga

    sering mengalami kerusakan akibat paparan bising yang sangat kuat dan hal ini kemungkinanmerupakan penyebab mengapa baris pertama sel rambut luar yang bagian atasnya

    bersinggungan dengan phalangeal process dari sel pilar luar dan dalam merupakan daerah

    yang paling sering rusak.

    Bagaimana energi mekanis ditransduksikan kedalam peristiwa intraseluler yang memacu

    pelepasan neurotransmitter ? Saluran transduksi berada pada membran plasma pada masing-

    masing silia, baik didaerah tip atau sepanjang tangkai ( shaft ), yang dikontrol oleh tip links,

    yaitu jembatan kecil diantara silia bagian atas yang berhubungan satu sama lain. Gerakan

    mekanis pada barisan yang paling atas membuka ke saluran menyebabkan influks K+ dan

    Ca++ dan menghasilkan depolarisasi membran plasma. Pergerakan daerah yang berlawanan

    akan menutup saluran serta menurunkan jumlah depolarisasi membran. Apabila depolarisasi

    mencapai titik kritis dapat memacu peristiwa intraseluler.

    Telah diketahui bahwa sel rambut luar memiliki sedikit afferen dan banyak efferen. Gerakan

    mekanis membrana basilaris merangsang sel rambut luar berkontraksi sehingga

    meningkatkan gerakan pada daerah stimulasi dan meningkatkan gerakan mekanis yang akan

    diteruskan ke sel rambut dalam dimana neurotransmisi terjadi. Kerusakan sel rambut luar

    mengurangi sensitifitas dari bagian koklea yang rusak. Kekakuan silia berhubungan dengan

    tip links yang dapat meluas ke daerah basal melalui lapisan kutikuler sel rambut. Libermandan Dodds (1987) memperlihatkan keadaan akut dan kronis pada awal kejadian dan

    kemudian pada stimulasi yang lebih tinggi, fraktur daerah basal dan hubungan dengan

    hilangnya sensitifitas saraf akibat bising. Fraktur daerah basal menyebabkan kematian sel.

    Paparan bising dengan intensitas rendah menyebabkan kerusakan minimal silia, tanpa fraktur

    daerah basal atau kerusakan tip links yang luas. Tetapi suara dengan intensitas tinggi dapat

    menyebabkan kerusakan tip links sehingga menyebabkan kerusakan yang berat, fraktur

    daerah basal dan perubahan-perubahan sel yang irreversibel.

    PERUBAHAN HISTOPATOLOGI TELINGA AKIBAT KEBISINGAN

    Lokasi dan perubahan histopatologi yang terjadi pada telinga akibat kebisingan adalah

    sebagai berikut :

    1. Kerusakan pada sel sensoris

    a. degenerasi pada daerah basal dari duktus koklearis

    b. pembengkakan dan robekan dari sel-sel sensoris

    c. anoksia

    2. Kerusakan pada stria vaskularis

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    30/43

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    31/43

    31

    Pada pemeriksaan tes penala didapatkan hasil Rinne positip, Weber lateralisasi ke telinga

    yang pendengarannya lebih baik dan Schwabach memendek.Kesan jenis ketuliannya adalah

    tuli sensorineural yang biasanya mengenai kedua telinga.

    Ketulian timbul secara bertahap dalam jangka waktu bertahun-tahun, yang biasanya

    terjadi dalam 810 tahun pertama paparan.5 Pemeriksaan audiometri nada murni didapatkan

    tuli sensorineural pada frekwensi tinggi( umumnya 3000 6000 Hz ) dan pada frekwensi4000 Hz sering terdapat takik( notch ) yang patognomonik untuk jenis ketulian ini.

    Sedangkan pemeriksaan audiologi khusus seperti SISI ( Short Increment Sensitivity Index

    ), ABLB ( Alternate Binaural Loudness Balance ) dan Speech Audiometry menunjukkan

    adanya fenomena rekrutmen( recruitment ) yang khas untuk tuli saraf koklea.Untuk menegakkan diagnosis klinik dari ketulian yang disebabkan oleh bising dan

    hubungannya dengan pekerja, maka seorang dokter harus mempertimbangkan faktor-faktor

    berikut :

    1. Riwayattimbulnyaketuliandanprogresifitasnya.2. Riwayatpekerjaan,jenispekerjaandanlamanyabekerja.3.

    Riwayatpenggunaanproteksipendengaran.4. Menelitibisingditempatkerja,untukmenentukanintensitasdandurasibising yangmenyebabkan ketulian.

    5. Hasil pemeriksaan audiometri sebelum kerja dan berkala selama kerja. Pentingnyamengetahui tingkat pendengaran awal para pekerja dengan melakukan pemeriksaan

    audiometri sebelum bekerja adalah bila audiogram menunjukkan ketulian, maka dapat

    diperkirakan berkurangnya pendengaran tersebut akibat kebisingan di tempat kerja.

    6. Identifikasi penyebab untuk menyingkirkan penyebab ketulian non industrial sepertiriwayat penggunaan obat-obat ototoksik atau riwayat penyakit sebelumnya.

    4.7memahami dan menjelaskan diagnosis banding tuli akibat bising1. Tuli mendadak

    -Tuli bersifat sensorineural

    -Penurunan pendengaran minimal 30dB dalam waktu < 3 hari

    -Umumnya unilateral

    -Dapat disertai tinitus atau vertigo

    -Riwayat trauma kapitis, trauma pada telinga, terinfeksi virusseperti virus parotis, campak,

    virus influenza B dan mononukleosis

    2. Tuli akibat obat ototoksik

    -Tuli sensorineural yang disertai tinitus, bisa uni/bilateral

    -Tinitus lebih mengganggu dari tuli nya

    -Tinitus bersifat kuat dan bernada tinggi antara 46 KHz

    -Riwayat mengkonsumsi obat ototoksik seperti Antimalaria (Kina, Klorokuin), Salisilat,

    Loop diuretik (Furosemide, Bumetanide dan Asam Etakrinat), Antibiotik gol Aminoglikosida

    (Streptomisin, Gentamisin,Kanamisin, Tobramisin, Neomisin, Amikasin dan Polimiksin B),

    Antibiotik gol Eritromisin (Vancomisin, Viomisin, Capreomisin dan Minosiklin) dan Anti

    tumor seperti CIS Platinum.

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    32/43

    32

    4.8memahami dan menjelaskan tatalaksana tuli akibat bisingSesuai dengan penyebab ketulian, penderita sebaiknya dipindahkan kerjanya dari

    lingkungan bising. Bila tidak mungkin dipindahkan dapat dipergunakan alat pelindung

    telinga yaitu berupa sumbat telinga ( ear plugs ), tutup telinga ( ear muffs ) dan pelindung

    kepala ( helmet ). Oleh karena tuli akibat bising adalah tuli saraf koklea yang bersifatmenetap ( irreversible ), bila gangguan pendengaran sudah mengakibatkan kesulitan

    berkomunikasi dengan volume percakapan biasa, dapat dicoba pemasangan alat bantu dengar

    ( ABD ). Apabila pendengarannya telah sedemikian buruk, sehingga dengan memakai ABD

    pun tidak dapat berkomunikasi dengan adekuat, perlu dilakukan psikoterapi supaya pasien

    dapat menerima keadaannya. Latihan pendengaran ( auditory training ) juga dapat dilakukan

    agar pasien dapat menggunakan sisa pendengaran dengan ABD secara efisien dibantu dengan

    membaca ucapan bibir ( lip reading ), mimik dan gerakan anggota badan serta bahasa isyarat

    untuk dapat berkomunikasi.

    4.9memahami dan menjelaskan pencegahan tuli akibat bisingHindari suara-suara yang bising/gaduh. Gunakan pelindung telinga (misalnya menggunakan

    plastik yang dimasukkan ke saluran telinga atau penutup telinga yang mengandung gliserin).

    4.10 memahami dan menjelaskan prognosis tuli akibat bisingOleh karena jenis ketulian akibat terpapar bising adalah tuli saraf koklea yang sifatnya

    menetap, dan tidak dapat diobati secara medikamentosa maupun pembedahan, maka

    prognosisnya kurang baik.Oleh sebab itu yang terpenting adalah pencegahan terjadinyaketulian.

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    33/43

    33

    L0. 5 memahami dan menjelaskan pemeriksaan alat pendengaran

    Audiologi Dasar :

    Pemeriksaan dilakukan dengan tes audiometri nada murni, tes penala dan tes berbisik

    1.Pemeriksaan audiometri:

    Audiometri adalah subuah alat yang digunakan untuk mengtahui level pendengaran seseorang.Dengan bantuan sebuah alat yang disebut dengan audiometri, maka derajat ketajaman pendengaranseseorang dapat dinilai. Pemeriksaan audiometri memerlukan audiometri ruang kedap suara,audiologis dan pasien yang kooperatif. Pemeriksaan standar yang dilakukan adalah :

    a. Audiometri nada murni

    Suatu sisitem uji pendengaran dengan menggunakan alat listrik yang dapat menghasilkan bunyi nada-

    nada murni dari berbagai frekuensi 250-500, 1000-2000, 4000-8000 dan dapat diatur intensitasnyadalam satuan (dB). Bunyi yang dihasilkan disalurkan melalui telepon kepala dan vibrator tulang

    ketelinga orang yang diperiksa pendengarannya. Masing-masing untuk menukur ketajamanpendengaran melalui hantaran udara dan hantran tulang pada tingkat intensitas nilai ambang, sehingga

    akan didapatkankurva hantaran tulang dan hantaran udara. Dengan membaca audiogram ini kita dapatmengtahui jenis dan derajat kurang pendengaran seseorang. Gambaran audiogram rata-rata sejumlahorang yang berpendengaran normal dan berusia sekitar 20-29 tahun merupakan nilai ambang bakupendengaran untuk nada muri.

    Telinga manusia normal mampu mendengar suara dengan kisaran frekwuensi 20-20.000 Hz.Frekwensi dari 500-2000 Hz yang paling penting untuk memahami percakapan. pemeriksaan ini

    menghasilkan grafik nilai ambang pendengaran psien pada stimulus nada murni. Nilai ambang diukur

    dengan frekuensi yang berbeda-beda. Secara kasar bahwa pendengaran yang normal grafik beradadiatas. Grafiknya terdiri dari skala decibel, suara dipresentasikan dengan aerphon (air kondution) danskala skull vibrator (bone conduction). Bila terjadi air bone gap maka mengindikasikan adanya CHL.Turunnya nilai ambang pendengaran oleh bone conduction menggambarkan SNHL.

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    34/43

    34

    Derajat Ketulian menurut ISO :

    Yang dihitung hanya ambang dengar hantaran udaranya saja

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    35/43

    35

    b.Test Penala

    Cara pemeriksaan pendengaran :

    Untuk memeriksa pendengaran diperlukan pemeriksaan hantaran melalui udara dan melalui tulang

    dengan memakai garpu tala atau audiometer nada murni. Kelainan hantaran melalui udaramenyebabkan tuli konduktif, berarti ada kelainan di telinga luar atau telinga tengah. Kelainan ditelinga menyebabkan tuli sensorineural koklea dan retrokoklea. Secara fisiologik telinga dapatmendengar 20 sampai 18000 Hz, untuk pendengaran sehari hari yang paling efektif antara 5000-2000Hz, oleh karena itu pemeriksa menggunakan garputala 512,1024Hz,2048 Hz. Bila tidakmemungkinkan ketiga garputala dipakai maka diambil 512 Hz karena penggunaan garpu tala ini tidakterlalu dipengaruhi suara bising di sekitarnya.

    1. Test Rinne

    Tujuan melakukan tes Rinne adalah untuk membandingkan atara hantaran tulang dengan hantaran

    udara pada satu telinga pasien.

    Ada 2 macam tes rinne , yaitu :

    -Garputal 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya tegak lurus pada planum

    mastoid pasien (belakang meatus akustikus eksternus). Setelah pasien tidak mendengar bunyinya,segera garpu tala kita pindahkan didepan meatus akustikus eksternus pasien. Tes Rinne positif jikapasien masih dapat mendengarnya. Sebaliknya tes rinne negatif jika pasien tidak dapat mendengarnya

    -Garpu tala 512 Hz kita bunyikan secara lunak lalu menempatkan tangkainya secara tegak lurus padaplanum mastoid pasien. Segera pindahkan garputala didepan meatus akustikus eksternus. Kitamenanyakan kepada pasien apakah bunyi garputala didepan meatus akustikus eksternus lebih keras

    dari pada dibelakang meatus skustikus eksternus (planum mastoid). Tes rinne positif jika pasien

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    36/43

    36

    mendengar didepan maetus akustikus eksternus lebih keras. Sebaliknya tes rinne negatif jika pasienmendengar didepan meatus akustikus eksternus lebih lemah atau lebih keras dibelakang.

    Ada 3 interpretasi dari hasil tes rinne :

    Normal : tes rinne positif

    Tuli konduksi: tes rine negatif (getaran dapat didengar melalui tulang lebih lama)

    Tuli persepsi, terdapat 3 kemungkinan :

    Bila pada posisi II penderita masih mendengar bunyi getaran garpu tala.

    Jika posisi II penderita ragu-ragu mendengar atau tidak (tes rinne: +/-)

    Pseudo negatif: terjadi pada penderita telinga kanan tuli persepsi pada posisi I yang mendengar justrutelinga kiri yang normal sehingga mula-mula timbul.

    2.Test Weber

    Tujuan kita melakukan tes weber adalah untuk membandingkan hantaran tulang antara kedua telingapasien. Cara kita melakukan tes weber yaitu: membunyikan garputala 512 Hz lalu tangkainya kita

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    37/43

    37

    letakkan tegak lurus pada garis horizontal. Menurut pasien, telinga mana yang mendengar ataumendengar lebih keras. Jika telinga pasien mendengar atau mendengar lebih keras 1 telinga makaterjadi lateralisasi ke sisi telinga tersebut. Jika kedua pasien sama-sama tidak mendengar atau sam-sama mendengaar maka berarti tidak ada lateralisasi.

    Getaran melalui tulang akan dialirkan ke segala arah oleh tengkorak, sehingga akan terdengardiseluruh bagian kepala. Pada keadaan ptologis pada MAE atau cavum timpani missal:otitis mediapurulenta pada telinga kanan. Juga adanya cairan atau pus di dalam cavum timpani ini akan bergetar,

    biala ada bunyi segala getaran akan didengarkan di sebelah kanan.

    Interpretasi:Bila pendengar mendengar lebih keras pada sisi di sebelah kanan disebut lateralisai kekanan, disebut normal bila antara sisi kanan dan kiri sama kerasnya.

    Pada lateralisai ke kanan terdapat kemungkinannya:

    Tuli konduksi sebelah kanan, missal adanya ototis media disebelah kanan.

    Tuli konduksi pada kedua telinga, tetapi gangguannya pada telinga kanan ebih hebat.

    Tuli persepsi sebelah kiri sebab hantaran ke sebelah kiri terganggu, maka di dengar sebelah kanan.

    Tuli persepsi pada kedua teling, tetapi sebelah kiri lebih hebaaaat dari pada sebelah kanan.

    Tuli persepsi telinga dan tuli konduksi sebelah kana jarang terdapat.

    3.Test Swabach

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    38/43

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    39/43

    39

    Caranya: dengan menentukan ambang dengar pasien terlebih dahulu missal 30

    dB. Lalu diberikan rangsangan 20 dB diatas ambang rangsang menjadi 50 dB.

    Setelah itu diberikan tambahan rangsangan 5 dB lalu diturunkan 4 dB, 3 dB, 2

    dB dan 1 dB. Bila pasien dapat membedakannya berarti Test SISI (+).

    2.Test ABLBCaranya: diberikan intensitas bunyi tertentu pada frekuensi yangsama pada

    kedua telinga, sampai kedua telinga mencapai persepsi yang sama yang disebut

    Balans (-). Bila balans tercapai terdapat rekrutmen (+).

    3. Test KelelahanAkibat perangsangan terus menerus.

    4. TTPCaranya: dengan melakukan rangsangan terus-menerus pada telinga yangdiperiksa dengan intensitas yang sesuai dengan ambang dengar missal 40 dB.

    Bila setelah 60 detik masih terdengar berarti tidak ada kelelahan. Bila tidak

    berarti Testnya (+).

    5.STAT

    Caranya: pemeriksaan pada 3 frekuensi: 500 Hz, 1000 Hz dan 2000 hz pada

    110 db SPL diberikan selama 60 detik dan bila dapat mendengar berarti tidak

    ada kelelahan. Bila tidak berarti ada kelelahan.

    6.Audiometri Tutur

    Caranya: pasien diminta untuk mengulangi kata-kata yang didengar melalui

    kaset tape recorder. Pada tuli cochlea, pasien sulit untuk membedakan bunyi S,

    R, N, C, H, CH. Pada tuli retrocochlea lebih sulit.

    7.Audiometri Bekessy

    Caranya: dengan nada yang terputus-putus. Bila ada suara masuk, maka pasien

    memencet tombol. Akan didapatkan grafik seperti gigi gergaji.

    Audiometri Objektif

    1. Audiometri ImpedansYang diperiksa adalah kelenturan membrane tympani dengan frekuensi tertentu

    pada meatus acusticus eksterna. Pada lesi di cochlea, ambang rangsang

    stapedius menurun sedangkan pada lesi di retrocochlea, ambangnya naik.

    2. ElektrokokleagrafiDigunakan untuk merekam gelombang-gelombang yang khas dari Evoke

    electropotential cochlea.

    Caranya: dengan elektroda jarum, membran tympani ditusuk sampai

    promontorium, lalu dilihat grafiknya.

    3. Evoked Response AudiometryUntuk menilai fungsi pendengaran dan fungsi nervus vestibulocochlearis.

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    40/43

    40

    Caranya: menggunakan 3 buah elektroda yang diletakkan di vertex/ dahi dan

    dibelakang kedua telinga atau pada kedua lobulus auricular yang dihubungkan

    dengan preamplifier.

    4. Otoaccustic EmissionAdalah respons cochlea yang dihasilkan oleh sel-sel rambut luar yang

    dipancarkan dalam bentuk energy akustik sel-sel rambut luar dipersarafi olehserabut eferen dan mempunyai elektromotilitas sehingga pergerakan sel-sel

    rambut akan menginduksi depolarisasi sel.

    Caranya: memasukkan sumbat telinga kedalam liang telinga luar. Sumbat

    telinga dihubungkan dengan computer untuk mencatat respon yang timbul dari

    cochlea.

    Gangguan Pendengaran pada Bayi dan Anak

    a. Behavioral Observation AudiometryCaranya: dilakukan pada ruangan yang cukup tenang. Sebagai sumber bunyisederhana dapat digunakan tepukan tangan, tambur, bola plastic berisi air dll.

    b. TimpanometriMelalui sumbat liang telinga yang dipasang pada liang telinganya dapat diketahui

    besarnya tekanan diliang telinga berdasarkan energy suara yang dipantulkan

    kembali . oleh gendang telinga. Untuk orang dewasa/ bayi lebih dari 7 bulan,

    frekuensi nya 226 Hz sedangkan untuk bayi kurang dari 6 bulan ferkuensinya

    kurang dari 226 Hz.

    c. Audiometri Nada MurniDilakukan pada ruang kedap suara dengan menilai hantaran suara melalui udara

    melalui headphone pada frekuensi 125, 250, 500, 1000, 2000, 4000 dan 8000 Hz.

    Hantaran suara melalui tulang diperiksa dengan memasang bone vibrator pada

    processus mastoideus yang dilakukan pada frekuensi 500, 1000, 2000 dan 4000 Hz.

    d. Otoaccustic Emmisione. Brainstem Evoked Response Audiometry

    Perlu dipertimbangkan factor maturitas jaras saraf auditorik pad bayi dan anak

    yang usianya kurang dari 12-18 bulan karena terdapat perbedaan masa laten,

    amplitude dan morfologi gelombang dibandingkan dengan anak lebih besar dan

    dewasa.

    Gangguan Pendengaran pada Geriatri

    a.

    Tuli Konduktif pada Geriatrib. Tuli Saraf pada GeriatriCaranya:

    -Pemeriksaan OtoskopikTampak membrane tympani suram, mobilitasnya berkurang.

    -Test PenalaDidapatkan tuli sensorineural.

    -Pemeriksaan Audiometri Nada MurniHasilnya suatu tuli saraf nada tinggi, bilateral dam simteris.

    -Garis Ambang dengar pada AudiogramMendatar lalu berangsur menurun.

    -Audiometer TuturAdanya gangguan diskriminasi wicara.

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    41/43

    41

    Tuli Mendadaka. Anamnesis

    b. Pemeriksaan fisik: tekanan darahc. Test penala: Rinne (+), Weber lateralisasi ke telinga yang sehat dan

    Schwabach memendek.d. Audiometri Nada Murni: tuli sensorineural ringan-berat.e. Test SISI: skor: 100 % atau kurang dari 70 %.f. Test Tone Decay: bukan tuli retrocochlea.g. Audiometri Tutur: kurang dari 100 %.

    L0. 6 memahami dan menjelaskan menjaga indera pendengaran secara islam

    Dalam hal ini Allah berfirman; Maka janganlah kamu duduk bersama mereka sampai

    mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuatdemikian) tentulah kamu serupa dengan mereka. [QS. An-Nisaa: 140]

    Di bulan Ramadhan, kelompok ini juga menutup telinganya rapat-rapat dari segala suara

    yang dapat mengganggu konsentrasinya dalam mengingat Allah. Sebaliknya, mereka

    membuka telinganya lebar-lebar untuk mendengar ayat-ayat suci al-Quran, mendengar

    majelis talim, mendengar kalimat-kalimat thayibah, dan mendengar nasehat-nasehat

    agama. Ketekunan dan kesibukan menyimak kebaikan dengan sendirinya akan

    mengurangi kecendrungan mendengar sesuatu yang sia-sia, apalagi yang merusak nilai

    ibadahnya.

    Allah taalaa ketika menyebutkan kata pendengaran dalam Al-Quran selalu

    didahulukan daripada penglihatan. Sungguh, ini merupakan satu mujizat Al-Quran yang

    mulia. Allah telah mengutamakan dan mendahulukan pendengaran daripada penglihatan.Sebab, pendengaran adalah organ manusia yang pertama kali bekerja ketika di dunia, juga

    merupakan organ yang pertama kali siap bekerja pada saat akhirat terjadi. Maka

    pendengaran tidak pernah tidur sama sekali.

    Sesunguhnya pendengaran adalah organ tubuh manusia yang pertama kali bekerja ketika

    seorang manusia lahir di dunia. Maka, seorang bayi ketika saat pertama kali lahir, ia bisa

    mendengar, berbeda dengan kedua mata. Maka, seolah Allah taalaa ingin mengatakan

    kepada kita, Sesungguhnya pendengaran adalah organ yang pertama kali mempengaruhi

    organ lain bekerja, maka apabila engkau datang disamping bayi tersebut beberapa saat

    lalu terdengar bunyi kemudian, maka ia kaget dan menangis. Akan tetapi jika engkau

    dekatkan kedua tanganmu ke depan mata bayi yang baru lahir, maka bayi itu tidak

    bergerak sama sekali (tidak merespon), tidak merasa ada bahaya yang mengancam. Ini

    yang pertama.

    Kemudian, apabila manusia tidur, maka semua organ tubuhnya istirahat, kecuali

    pendengarannya. Jika engkau ingin bangun dari tidurmu, dan engkau letakkan tanganmu

    di dekat matamu, maka mata tersebut tidak akan merasakannya. Akan tetapi jika ada

    suara berisik di dekat telingamu, maka anda akan terbangun seketika. Ini yang kedua.

    Adapun yang ketiga, telinga adalah penghubung antara manusia dengan dunia luar. Allah

    taalaa ketika ingin menjadikan ashhabul kahfi tidur selama 309 tahun, Allah berfirman:

    Maka Kami tutup telinga-telinga mereka selama bertahun-tahun (selama 309 tahun).

    (Q.S. Al-Kahfi: 11)

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    42/43

    42

    Dari sini, ketika telinga tutup sehingga tidak bisa mendengar, maka orang akan tertidur

    selama beratus-ratus tahun tanpa ada gangguan. Hal ini karena gerakan-gerakan manusia

    pada siang hari menghalangi manusia dari tidur pulas, dan tenangnya manusia (tanpa ada

    aktivitas) pada malam hari menyebabkan bisa tidur pulas, dan telinga tetap tidak tidur dan

    tidak lalai sedikitpun.

    Dan di sini ada satu hal yang perlu kami garis bawahi, yaitu sesungguhnya Allahberfirman dalam surat Fushshilat:

    Dan kamu sekali-kali tidak dapat bersembunyi dari persaksian yang dilakukan oleh

    pendengaranmu, mata-mata kalian, dan kulit-kulit kalian terhadap kalian sendiri, bahkan

    kamu mengira bahwa Allah tidak mengetahui kebanyakan dari apa yang kalian

    kerjakan. (Q.S. Fushshilat: 22)

    Jadi, setiap kita memiliki mata, ia melihat apa saja yang ia mau lihat; akan tetapi kita

    tidak mampu memilih hal yang mau kita dengarkan, kita mendengarkan apa saja yang

    berbunyi, suka atau tidak suka, sehingga pantas Allah taalaa menyebutkan kalimat

    pandangan dalam bentuk jamak, dan kalimat pendengaran dalam bentuk tunggal,

    meskipun kalimat pendengaran didahulukan daripada kalimat penglihatan. Makapendengaran tidak pernah tidur atau pun istirahat. Dan organ tubuh yang tidak pernah

    tidur maka lebih tinggi (didahulukan) daripada makhluk atau organ yang bisa tidur atau

    istirahat. Maka telinga tidak tidur selama-lamanya sejak awal kelahirannya, ia bisa

    berfungsi sejak detik pertama lahirnya kehidupan yang pada saat organ-organ lainnya

    baru bisa berfungsi setelah beberapa saat atau beberapa hari, bahkan sebagian setelah

    beberapa tahun kemudian, atau pun 10 tahun lebih.

  • 7/29/2019 Wrap Up Blok Panca Indera Skenario 2

    43/43

    DAFTAR PUSTAKA

    Guyton A.C. Physiology of The Human Body. 11th ed. Philadelphia: W.B. Saunders

    Company. 2003.

    Indrana ilma. Pendengaran menurut Islam.www.wordpress.com

    Junqueira, Luiz Carlos dan Jose Carneiro. Histologi Dasar Teks dan Atlas. Jakarta: EGC

    Lauralee, Sherwood. 2001. Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta: EGC

    Murni Rambe, AY. 2003. Gangguan Pendengaran Akibat Bising. Fakultas Kedokteran

    Bagian Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan Universitas Sumatera Utara.

    http://library.usu.ac.id/download/fk/tht-andrina1.pdf

    Prihardini D, dkk. Sensori dan Persepsi Auditif. Bandung: Fakultas Ilmu Pendidikan

    Universitas Pendidikan Indonesia. 2010 (Sherwood, L. 2007; Guyton A.C. 2003.Prihardini D, dkk. 2010)

    Snell, Richard S. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran Edisi 6. Jakarta EGC

    Soepardi, Efiaty Arsyad dkk. 2007. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung

    Tenggorok Kepala dan Leher. Jakarta: FKUI

    http://www.wordpress.com/http://www.wordpress.com/http://www.wordpress.com/http://library.usu.ac.id/download/fk/tht-andrina1.pdfhttp://library.usu.ac.id/download/fk/tht-andrina1.pdfhttp://library.usu.ac.id/download/fk/tht-andrina1.pdfhttp://www.wordpress.com/