of 28 /28
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Peradangan peritoneum (membran serosa yang melapisi rongga abdomen dan menutupi visera abdomen) merupakan penyakit berbahaya yang dapat terjadi dalam bentuk akut maupun kronis. Keadaan ini biasanya terjadi akibat penyebaran infeksi dari organ abdomen (mis., apendisitis, salpingitis), perforasi saluran cerna, atau dari luka tembus abdomen. Organisme yang sering menginfeksi adalah organisme yang hidup dalam kolon (pada kasus rupture apendiks) yang mencakup Escheriela Coli atau Bacteroides, sedangkan stafilokokus dan streptokokus seringkali masuk dari luar (Price & Sylvia, 2005). Berdasarkan penelitian Tarigan pada tahun 2012, peritonitis merupakan salah satu penyebab kematian tersering pada penderita bedah dengan mortalitas sebesar 10-40%. Peritonitis difus sekunder yang merupakan 90% penderita peritonitis dalam praktek 1

vhmvh

  • Upload
    frindi

  • View
    287

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

gchc

Citation preview

Page 1: vhmvh

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Peradangan peritoneum (membran serosa yang melapisi rongga abdomen

dan menutupi visera abdomen) merupakan penyakit berbahaya yang dapat

terjadi dalam bentuk akut maupun kronis. Keadaan ini biasanya terjadi akibat

penyebaran infeksi dari organ abdomen (mis., apendisitis, salpingitis),

perforasi saluran cerna, atau dari luka tembus abdomen. Organisme yang

sering menginfeksi adalah organisme yang hidup dalam kolon (pada kasus

rupture apendiks) yang mencakup Escheriela Coli atau Bacteroides,

sedangkan stafilokokus dan streptokokus seringkali masuk dari luar (Price &

Sylvia, 2005).

Berdasarkan penelitian Tarigan pada tahun 2012, peritonitis merupakan

salah satu penyebab kematian tersering pada penderita bedah dengan

mortalitas sebesar 10-40%. Peritonitis difus sekunder yang merupakan 90%

penderita peritonitis dalam praktek bedah dan biasanya disebabkan oleh suatu

perforasi gastrointestinal (http://www.repository.usu.ac.id/diakses 27 April

2014).

B. Tujuan

1. Tujuan Umum

Mahasiswa memahami konsep teori dan asuhan keperawatan pada

pasien dengan peritonitis.

1

Page 2: vhmvh

2. Tujuan Khusus

Mahasiswa mampu :

a. Menjelaskan dan memahami pengertian peritonitis.

b. Menjelaskan dan memahami etiologi peritonitis.

c. Menjelaskan dan memahami tanda dan gejala peritonitis.

d. Menjelaskan dan memahami patofisiologi peritonitis.

e. Menjelaskan dan memahami komplikasi peritonitis.

f. Menjelaskan dan memahami penatalaksanaan medis peritonitis.

g. Menjelaskan dan memahami pengkajian pada pasien dengan alergi.

h. Menjelaskan dan memahami diagnosa pada pasien dengan alergi.

i. Menjelaskan dan memahami intervensi pada pasien dengan alergi.

C. Manfaat

1. Bagi Penulis

Menambah wawasan dan pengetahuan dalam memberikan Asuhan

Keperawatan pada Klien dengan Peritonitis.

2. Bagi Institusi

Menambah kepustakaan dan sumber bacaan bagi mahasiswa yang

sedang mengikuti pendidikan di Program Studi Ilmu Keperawatan FK

UNSRAT dan menjadi dasar dalam menentukan kebijakan pengembangan

proses belajar khususnya Asuhan Keperawatan pada Klien dengan

Peritonitis.

2

Page 3: vhmvh

BAB II

PEMBAHASAN

A. Konsep Medis

1. Pengertian

Peritonitis (radang selaput otak) adalah suatu radang akut selaput perut

yang adalah lapisan dari rongga abdominal (Padila, 2012).

Peritonitis merupakan inflamasi akut maupun kronis pada peritoneum,

yaitu membran yang melapisi rongga abdominal dan menutupi organ

viseral. Inflamasi bisa meluas di seluruh peritoneum, atau bisa bersifat

setempat sebagai abses (Wolters, 2011)

Peritonitis adalah peradangan peritoneum yang biasanya disebabkan

oleh infeksi. Peritoneum adalah lapisan membran serosa rongga abdomen

dan meliputi viseral (Smeltzer & Bare, 2002).

Peritoneum adalah selaput tipis dan jernih yang kaya akan

vaskularisasi dan aliran limfa berfungsi untuk membungkus organ perut

dan dinding perut sebelah dalam (Price & Wilson, 2006).

2. Etiologi

Menurut Harison (2000) penyebab terjadinya peritonitis, yaitu :

a. Infeksi bakteri, disebabkan invasi/masuknya bakteri ke dalam rongga

peritoneum pada saluran makanan yang mengalami perforasi.

Bakterinya :

Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinal

3

Page 4: vhmvh

Apendisitis yang meradang dan perforasi

Tukak peptik (lambung/duodenum)

Tukak thypoid

Tukak disentri amuba/colitis

Tukak pada tumor

Salpingitis

Divertikulitis

Kuman yang paling sering ialah bakteri E. Coli, streptokokus α dan

β hemolitik, stapilokokus aureus, enterokokus dan yang paling

berbahaya adalah clostridium wechii.

b. Secara langsung dari luar :

Operasi yang tidak steril.

Terkontaminasi talcum venetum, lycopodium, sulfonamide, terjadi

peritonitis yang disertai pembentukan jaringan granulomatosa

sebagai respon terhadap benda asing, disebut juga peritonitis

granulomatosa serta merupakan peritonitis local.

Trauma pada kecelakaan seperti ruptur limfa dan ruptur hati

Melalui tuba fallopius seperti cacing enterobius vermikularis.

Terbentuk pula peritonitis granulomatosa.

c. Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti

radang saluran pernapasan bagian atas, otitis media, mastoiditis,

glomerulonephritis. Penyebab utama adalah streptokokus atau

pneumokokus.

4

Page 5: vhmvh

d. Peritonitis kimiawi, disebabkan keluarnya enzim pankreas, asam

lambung, atau empedu sebagai akibat cedera/perforasi usus/saluran

empedu.

3. Tanda dan Gejala

Menurut Kowalak & Hughes (2010) tanda dan gejala yang sering

muncul pada pasien peritonitis, yaitu :

Distensi abdomen

Rigiditas abdomen

Nyeri tekan pada abdomen

Bising usus menurun bahkan hilang

Demam

Mual bahkan muntah

Takikardia

Takipnea

4. Patofisiologi

Peritonitis disebabkan oleh kebocoran isi rongga abdomen kedalam

rongga abdomen, biasanya diakibatkan dari inflamasi, infeksi, iskemia,

trauma atau perforasi tumor.

Awalnya matrial masuk kedalam rongga abdomen adalah steril tetapi

dalam beberapa jam terjadi kontaminasi bakteri.akibatnya timbul edema

jaringan dan pertambahan eksudat. Cairan dalam rongga abdomen menjadi

5

Page 6: vhmvh

keruh dengan bertambahnya sejumlah protein, sel-sel darah putih, sel-sel

yang rusak dan darah.

Respon yang segera dari saluran intestinal adalah hipermotilitas, di

ikuti oleh ileus paralitik dengan penimbunan udara dan cairan didalam

usus besar.

Timbulnya peritonitis adalah komplikasi berbahaya yang sering terjadi

akibat penyebaran infeksi. Reaksi awal peritoneum terhadap invasi oleh

bakteri adalah keluarnya eksudat fibrinosa. Kantong-kantong nanah

(abses) terbentuk diantara perlekatan fibrinosa yang menempel menjadi

satu dengan permukaan sekitarnya sehingga membatasi infeksi (Padila,

2012).

5. Komplikasi

Menurut Smeltzer & Bare (2002) komplikasi yang terjadi pada

peritonitis ialah inflamasi tidak lokal dan seluruh rongga abdomen menjadi

terkena pada sepsis umum. Sepsis adalah penyebab umum dari kematian

pada peritonitis. Syok dapat diakibatkan dari septikemia atau hipovolemik.

Proses inflamasi dapat menyebabkan obstruksi usus, yang terutama

berhubungan dengan terjadinya perlekatan usus.

Sedangkan menurut Corwin (2000) komplikasi yang terjadi pada

peritonitis ialah sepsis dan kegagalan multiorgan.

6

Page 7: vhmvh

6. Penatalaksanaan Medis

Menurut Wolters Kluwer (2011) penatalaksanaan medis untuk klien

dengan peritonitis, yaitu :

Terapi antibiotik diberikan untuk organisme khusus yang

menyebabkan penyakit.

Untuk mengurangi peristaltis dan mencegah perforasi, klien sebaiknya

tidak menerima apa pun melalui mulut, Dari pada itu, ia membutuhkan

cairan dan elektrolit suportif secara parenteral.

Analgesik diberikan untuk meringankan nyeri.

Intubasi nasogastric (NG) digunakan untuk melepaskan tekanan usus.

Klien yang mengalami perforasi memerlukan pembedahan untuk

mengeliminasi sumber infeksi dengan mengevakuasi konten yang

meluap dan dengan memperbaiki perforasi organ.

B. Konsep Keperawatan

1. Pengkajian

a. Identitas Klien

Nama lengkap, tempat tanggal lahir, umur, jenis kelamin, agama,

pekerjaan, pendidikan, alamat, suku/bangsa, tanggal jam masuk rumah

sakit, tanggal/jam pengkajian, diagnosa medis, nomor rekam medik.

b. Keluhan Utama

Keluhan utama adalah keluhan atau gejala apa yang menyebabkan

pasien berobat atau keluhan saat awal dilakukan pengkajian pertama

kali masuk rumah sakit.

7

Page 8: vhmvh

Pada klien dengan peritonitis biasanya mengeluh nyeri dibagian perut

sebelah kanan.

c. Riwayat Penyakit

Riwayat Penyakit Sekarang

Riwayat kesehatan sekarang adalah menggambarkan riwayat

kesehatan saat ini.

Pada klien dengan peritonitis umumnya mengalami nyeri tekan

di bagian perut sebelah kanan dan menjalar ke pinggang.demam,

mual, muntah, bising usus menurun bahkan hilang, takikardi,

takipnea.

Riwayat Penyakit Dahulu

Riwayat kesehatan dahulu adalah riwayat penyakit yang

merupakan predisposisi terjadinya penyakit saat ini.

Pada klien dengan peritonitis mempunayai riwayat ruptur

saluran cerna, komplikasi post operasi, operasi yang tidak steril

dan akibat pembedahan, trauma pada kecelakaan seperti ruptur

limpa dan ruptur hati.

Riwayat Penyakit Keluarga

Secara patologi peritonitis tidak diturunkan, namun jika

peritonitis ini disebabkan oleh bakterial primer, seperti

Tubercolosis, maka kemungkinan diturunkan ada.

8

Page 9: vhmvh

d. Pengkajian Pola Fungsi Gordon

1) Pola Persepsi Kesehatan atau Manajemen Kesehatan

Menggambarkan persepsi klien terhadap keluhan apa yang

dialami klien, dan tindakan apa yang dilakukan sebelum masuk

rumah sakit.

Pada klien dengan peritonitis mengeluh nyeri berat dibagian

perut sebelah kanan dan menjalar ke pinggang dan umumnya telah

dilakukan tindakan dengan obat anti-nyeri.

2) Pola Nutrisi-Metabolik

Menggambarkan asupan nutrisi, cairan dan elektrolit, kondisi

kulit dan rambut, nafsu makan, diet khusus/suplemen yang

dikonsumsi, instruksi diet sebelumnya, jumlah makan atau minum

serta cairan yang masuk, ada tidaknya mual, muntah, kekeringan,

kebutuhan jumlah zat gizinya, dan lain-lain.

Pada pasien peritonitis klien akan mengalami mual. Vomit

dapat muncul akibat proses patologis organ visceral (seperti

obstruksi) atau secara sekunder akibat iritasi peritoneal, selain itu

terjadi distensi abdomen, bising usus menurun, dan gerakan

peristaltic usus turun (<12x/menit). Diet yang diberikan berupa

makanan cair seperti bubur saring dan diberikan melalui NGT.

3) Pola Eliminasi

Pada pola eliminasi menggambarkan eliminasi pengeluaran

sistem pencernaan, perkemihan, integumen, dan pernafasan.

9

Page 10: vhmvh

Pada klien dengan peritonitis terjadi penurunan produksi urin,

ketidakmampuan defekasi, turgor kulit menurun akibat

kekurangan volume cairan, takipnea.

4) Pola Kognitif Perseptual

Menggambarkan kemampuan proses berpikir klien, memori,

tingkat kesadaran, dan kemampuan mendengar, melihat,

merasakan, meraba, dan mencium, serta sensori nyeri.

Pada klien dengan peritonitis tidak mengalami gangguan pada

otak namun hanya mengalami penurunan kesadaran, adanya nyeri

tekan pada abdomen.

5) Pola Aktivitas/Latihan

Menggambarkan tingkat kemampuan aktivitas dan latihan,

selain itu, fungsi respirasi dan fungsi sirkulasi.

Pada klien dengan peritonitis mengalami letih, sulit berjalan.

Kemampuan pergerakan sendi terbatas, kekuatan otot mengalami

kelelahan. Pola nafas iregular (RR> 20x/menit), klien mengalami

takikardi, akral : dingin, basah, dan pucat.

6) Pola Istirahat dan Tidur

Pola istirahat tidur menggambarkan kemampuan pasien

mempertahankan waktu istirahat tidur serta kesulitan yang dialami

saat istirahat tidur.

Pada klien dengan peritonitis didapati mengalami kesulitan

tidur karena nyeri.

10

Page 11: vhmvh

7) Pola Nilai dan Kepercayaan

Pola nilai dan kepercayaan menggambarkan pantangan dalam

agama selama sakit serta kebutuhan adanya kerohanian dan lain-

lain.

Pengaruh latar belakang sosial, faktor budaya, larangan agama

mempengaruhi sikap tentang penyakit yang sedang dialaminya.

Adakah ganggauan dalam peaksanaan ibadah sehari-hari.

8) Pola Peran dan Hubungan Interpersonal

Pola peran dan hubungan menggambarkan status pekerjaan,

kemampuan bekerja, hubungan dengan klien atau keluarga, dan

gangguan terhadap peran yang dilakukan.

Adanya kondisi kesehatan mempengaruhi terhadap hubungan

interpersonal dan mengalami hambatan dalam menjalankan

perannya selama sakit.

9) Pola Persepsi atau Konsep Diri

Pola persepsi menggambarkan tentang dirinya dari masalah-

masalah yang ada seperti perasaan kecemasan, ketakutatan atau

penilaian terhadap diri mulai dari peran, ideal diri, konsep diri,

gambaran diri, dan identitas tentang dirinya.

Pada klien dengan peritonitis terjadi perubahan emosional

10) Pola Koping/Toleransi Stres

Pola koping/toleransi stres menggambarkan kemampuan untuk

menangani stres dan penggunaan sistem pendukung.

11

Page 12: vhmvh

Pada klien engan peritonitis di dapati tingkat kecemasan pada

tingkat berat.

11) Pola Reproduksi dan Seksual

Pola reproduksi dan seksual menggambarkan periode

menstruasi terakhir, masalah menstruasi, masalah pap smear,

pemerikasaan payudara/testis sendiri tiap bulan, dan masalah

seksual yang berhubungan dengan penyakit.

Pada pola ini, pada wanita berhubungan dengan kehamilan,

jumlah anak, menstruasi, pernah terjangkit penyakit menular

sehingga menghindari aktivitas seksual. Pada pasien yang telah

atau sudah menikah akan terjadi perubahan.

e. Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik yang dilakukan pada klien peritonitis yaitu

kesadaran dan keadaan umum klien. Keadaan umum ini dapat meliputi

kesan keadaan sakit termasuk ekspresi wajah dan posisi pasien,

kesadaran yang dapat meliputi penilaian secara kualitatis seperti

kompos mentis, apatis, somnolen, spoor, koma dan delirium, dan status

gizinya, GCS (Glasow Coma Skala).

f. Pemeriksaan Penunjang

1) Pemeriksaan Laboratorium

Complete Blood Count (CBC), umumnya pasien dengan

infeksi intra abdomen menunjukan adanya luokositosis.

12

Page 13: vhmvh

Cairan peritoneal

Urinalisis untuk mengetahui adanya penyakit pada saluran

kemih

2) Pemeriksaan Radiologi

Foto polos abdomen memperlihatkan distensi disertai edema

dan pembentukan gas dalam usus

USG

2. Diagnosa

a. Nyeri akut berhubungan dengan agen cidera fisik.

b. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan

aktif.

c. Ketidakseimbangan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

dengan ketidakmampuan mencerana makanan.

d. Hipertemi berhubungan dengan penyakit

3. Intervensi

No DiagnosaTujuan &

Kriteria Hasil (NOC)

Intervensi (NIC) Rasional

1. Nyeri akut

berhubungan

dengan agen

cidera fisik.

Nyeri berkurang

atau hilang,

dengan KH :

Ekspresi

wajah

tampak

rileks.

Skala nyeri

1. Observasi

kualitas nyeri

pasien (skala,

frekuensi,

durasi).

2. Gunakan

komunikasi

1. Mengidentifikasi

kebutuhan untuk

intervensi dan

tanda-tanda

komplikasi.

2. Pengalaman nyeri

akan menaikan

13

Page 14: vhmvh

0-3 terapeutik

untuk

mengetahui

pengalaman

nyeri pasien.

3. Berikan

tindakan

kenyamanan,

contoh pijatan

punggung,

napas dalam,

latihan

relaksasi atau

visualisasi.

4. Kolaborasi

dengan dokter

untuk

pemberian

analgetik

resistensi

terhadap nyeri.

3. Meningkatkan

relaksasi dan

mungkin

meningkatkan

kemampuan

koping pasien

dengan

memfokuskan

kembali

perhatian.

4. Nyeri biasanya

berat dan

memerlukan

pengontrol nyeri

narkotik,

analgesik

dihindari dari

proses diagnosis

karena dapat

menutupi gejala.

2. Kekurangan

volume

cairan

berhubungan

dengan

Dapat

mempertahankan

cairan tubuh

secara adekuat,

dengan KH :

1. Observasi

TTV.

1. Membantu dalam

evaluasi derajat

defisit

cairan/keefektifan

penggantian

14

Page 15: vhmvh

kehilangan

cairan aktif.

Asupan dan

keluaran

cairan

seimbang,

produksi urin

normal.

Membran

mukosa

lembab,

tanda-tanda

dehidrasi

menurun

2. Pertahankan

intake dan

output yang

adekuat.

3. Monitor status

hidrasi

(kelembapan,

membran

mukosa, nadi,

dan tekanan

darah).

4. Kolaborasi

untuk

pemberian IV.

terapi cairan dan

respons terhadap

pengobatan

2. Untuk

mempertahankan

keseimbangan

cairan dan

elektrolit.

3. Tanda-tanda

tersebut

menunjukkan

keilangan cairan

berlebihan.

4. Untuk

memperbaiki

cairan yang

hilang.

3. Ketidaksei-

mbangan

nutrisi:

kurang dari

kebutuhan

tubuh

berhubungan

dengan

ketidak-

mampuan

Kebutuhan

nutrisi

terpenuhi,

dengan KH :

Nafsu

makan

meningkat.

Tidak terjadi

mual dan

muntah,

1. Jadwalkan

pengobatan

dan tindakan

tidak selama

jam makan.

2. Lakukan

pemasangan

NGT sesuai

indikasi jika

1. Agar tidak

mengganggu

nafsu makan.

2. Agar nutrisi klien

tetap terpenuhi.

15

Page 16: vhmvh

mencerana

makanan.

trugor kulit

baik

klien tidak

dapat makan

dan minum

peroral.

3. Kolaborasi

dengan dokter

untuk

pemberian

antiemeti.

4. Klaborasi

dengan ahli

gizi dalam

diet.

3. Menurunkan

mual/muntah

yang dapat

meningkatkan

tekanan/nyeri

intrabdomen.

4. Agar dapat

memberikan

nutrisi yang tepat

pada klien

4. Hipertemi

berhubungan

dengan

penyakit

Suhu tubuh

dalam batas

normal, dengan

KH :

Tidak

demam

Suhu tubuh

36-37°c

1. Kaji suhu

tubuh.

2. Berikan

kompres

hangat pada

dahi, ketiak,

dan lipatan

paha.

3. Anjurkan klien

untuk

1. Tindakan ini

sebagai dasar

untuk

menentukan

intervensi.

2. Kompres hangat

memberikan

efekvasodilatasi

pembuluh darah,

sehingga

mempercepat

penguapan tubuh.

3. Untuk mengontrol

panas.

16

Page 17: vhmvh

menggunakan

pakaian yang

tipis.

4. Kolaborasi

dengan dokter

untuk

pemberian

antipiretik

4. Untuk

menurunkan

panas.

17

Page 18: vhmvh

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Peritonitis (radang selaput otak) adalah suatu radang akut selaput perut

yang adalah lapisan dari rongga abdominal. Peritonitis disebabkan oleh infeksi

bakteri, secara langsung dari luar, secara hematogen sebagai komplikasi

beberapa penyakit akut, dan peritonitis kimiawi. Peritonitis ditandai dengan

distensi abdomen,rigiditas abdomen, nyeri tekan pada abdomen, bising usus

menurun bahkan hilang, demam, mual bahkan muntah, takikardia, dan

takipnea. Komplikasi yang terjadi pada peritonitis ialah inflamasi tidak lokal

dan seluruh rongga abdomen menjadi terkena pada sepsis umum.

Pengobatannya dapat berupa terapi antibiotik, pemberian analgetik, dan

intubasi nasogastric. Untuk menentukan diagnosa keperawatan pasien dengan

peritonitis seorang perawat dapat melihat keluhan utama pasien.

B. Saran

Dalan Makalah ini diharapkan pembaca mampu untuk mamahami dan

melakukan asuhan keperawatan terhadap penyakit peritonitis. Sebagai

mahasiswa dan calon perawat juga harus mampu berperan sebagai pendidik.

Dalam hal ini melakukan penyuluhan mengenai pentingnya hal-hal yang dapat

memperbesar penyakit peritonitis dan bagimana cara pengobatannya.

18

Page 19: vhmvh

DAFTAR PUSTAKA

Corwin, Elizabeth J. (2000). Buku Saku Patofisiologi. Jakarta : EGC.

Harrison. (2000). Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam, Ed.13, Vol 3. Jakarta :

EGC.

http://www.repository.usu.ac.id/diakses 27 April 2014.

Kowalak, J. P., & Hughes, A. S. (2010). Buku Saku Tanda dan Gejala :

Pemeriksaan Fisik dan Anamnesis, Penyebab, Tip Klinis, Ed. 2. Jakarta:

EGC.

Padila. (2012). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Yogyakarta : Nuha

Medika.

Price & Wilson. (2006). Patofisiologi, Ed. 6, Vol. 2. Jakarta EGC

Price, Sylvia Anderson. (2005). Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses

Penyakit. Jakarta : EGC.

Smeltzer & Bare. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, Ed. 8, Vol. 2.

Jakarta : EGC.

Wolters Kluwer. (2011). Nursing : Memahami Berbagai Macam Penyakit.

Jakarta: PT Indeks.

19