Click here to load reader

VARIASI DIALEK BAHASA INDONESIA DI KOTAMADYA · PDF filebermacam-macam suku antara lain suku Toba, Karo, Simalungun, Angkola/Mandailing, Pakpak/ Dairi, Melayu, Nias, Minangkabau, Aceh,

  • View
    252

  • Download
    8

Embed Size (px)

Text of VARIASI DIALEK BAHASA INDONESIA DI KOTAMADYA · PDF filebermacam-macam suku antara lain suku...

  • VARIASI DIALEK BAHASA INDONESIA DI KOTAMADYA MEDAN

    DRA. ANNI KRISNA SIREGAR Fakultas Sastra

    Jurusan Sastra Indonesia Universitas Sumatera Utara

    PENDAHULUAN Penduduk Kotamadya Medan adalah heterogen karena di Kotamadya Medan dijumpai beraneka ragam penduduk antara lain Aceh, Melayu, Batak Toba, Batak Karo, Batak Simalungun, Batak Angkola Mandailing, Batak Pakpak Dairi, Jawa, Minangkabau, Nias, bahkan Cina dan India banyak dijumpai. Sudah barang tentu tiap-tiap bangsa tersebut mempunayi kebudayaan dan bahasa yang berbeda-beda. Dengan demikian Kotamadya Medan bila ditinjau dari situasi bahasa ternyata adalah suatu kota yang multilingual, karena di Kotamadya Medan dapat kita jumpai beraneka ragam bahasa antara lain bahasa Cina, India, Batak, Jawa, Minangkabau, Nias, Melayu, Aceh, dan lain sebagainya, disamping bahasa Indonesia sendiri sebagai bahasa Nasional dan bahasa pemersatu. Tidaklah mengherankan apabila di Kotamadya Medan dijumpai variasi dialek, dan variasi bahasa tersebut mungkin menguntungkan karena dapat memperkaya bahasa Nasional, tetapi dalam keadaan tertentu mungkin pula merugikan karena dapat membahayakan persatuan Nasional. Seperti sama-sama kita ketahui bahwa selama ini pada dasarnya bahasa Indonesia yang diajarkan dilembaga-lembaga pendidikan adalah bahasa standart sehingga para pelajar kurang didasarkan akan adanya variasi-variasi sosial bahasa Indonesia yang lain sehingga di dalam diri mereka tertanam sikap hanya bahasa standart yang dipelajari merekalah bahasa yang baik. Sikap bahasa yang demikian ini harus dihindarkan karena akibatnya tidak baik terutama pada jiwa kesatuan bangsa kita. Hendaklah disadari bahwa hidupnya variasi bahasa Indonesia adalah merupakan kekayaan kebudayaan bangsa kita. Oleh karena itu penelitian terhadap variasi bahasa ini perlu dilakukan karena hasil penelitian ini kelak dapat menunjang pengajaran bahasa Indonesia. Seperti sudah dijelaskan bahwa bahasa Indonesia di Kotamadya Medan mempunyai pelbagai variasi yakni bentuk-bentuk penuturan yang khusus. Berdasarkan pemakaiannya variasi ini disebut ragam, sedangkan berdasarkan daerahnya variasi itu disebut dialek (Halliday, 1970: 139). Karya ilmiah ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran dan keterangan yang terpercaya tentang variasi bahasa Indonesia di Kotamadya Medan. Dalam karya ilmiah ini kami tidak akan menulis semua variasi bahasa yang terdapat di Kotamadya Medan karena itu kami batasi pada variasi dialek bahasa Indonesia. Itu pun kami batasi pada beberapa penutur jadi tidak semiua penutur bahasa Indonesia yang ada di Kotamadya Medan kami uraikan. Kami hanya akan menulis penutur bahasa Indonesia dari daerah : Toba, Karo, Angkola/Amndailing, Simalungun, Jawa, Minangkabau, Melayu Deli, dan Cina. Kami memilih penutur itulah yang menonjol di antara bahasa Indonesia yang ada di Kotamadya Medan.

    2002 digitized by USU digital library 1

  • FAKTOR-FAKTOR YANG MENIMBULKAN VARIASI DIALEK Bahasa merupakan alat komunikasi manusia di dalam kelompoknya. Bahasa merupakan alat yang menentukan dan memelihara hubungan antar individu mengadakan kontak pikiran dengan individu-individu lainnya dengan menggunakan bahasa. Kelompok masyarakat di Kotamadya Medan di dalam kehidupannya sehari-hari mempergunakan bahasa yang berbeda-beda sesuai dengan lingkungannya. Lingkungan anak-anak akan berbeda bahasanya dengan lingkungan anak muda dan orang tua, demikian juga lingkungan intelektual akan berbeda bahasanya dengan lingkungan tukang beca. Oleh karena itu sering kita jumpai bentuk-bentuk kembar sebagai berikut :

    tidak / indak / ndak / dak sudah / udah / dah hendak / endak / ndak entah / antah/ ntah ibu / ibuk / bu bapa / bapak / pak / pa adik / adek / dek/ dik nasik / nasi kira / kera kecil / kecik besok / esok duit / uit masa / masak buka / bukak pirang / perang

    Perbedaan bahasa menurut pemakaiannya itu disebut variasi. Ada pun faktor-faktor yang menimbulkan variasi dialek itu ada bermacam-macam antar lain : 2.1 Faktor Kesukuan

    Seperti sudah dijelaskan pada 1.1 bahwa di Kotamadya Medan dijumpai bermacam-macam suku antara lain suku Toba, Karo, Simalungun, Angkola/Mandailing, Pakpak/ Dairi, Melayu, Nias, Minangkabau, Aceh, Sunda, Jawa, dan lain-lain. Sudah barang tentu suku-suku tersebut dapat mempergunakan bahasa Indonesia walaupun tidak sama baiknya, dan masing-masing suku itu mempunyai bahasa ibu yang dapat dipergunakan dengan baik. Akibat adanya bilingual pada suku-suku itu maka timbullah saling pengaruh pada kedua bahasa itu. Hal ini menimbulkan pelbagai variasi dalam bahasa Indonesia. Variasi itu mungkin berbentuk perubahan fonem, penghilangan salah satu fonem, atau mungkin juga berupa pengurangan suku kata. Di samping itu istilah-istilah yang berasal dari bahasa daerah itu pun ada juga yang masuk ke dalam bahasa Indonesia. Di sini kami terakan beberapa data tentang variasi bahasa Indonesia akibat pengaruh bahasa ibu. Bahasa Indonesia penutur Batak Toba

    kemana / kemana berapa / berapa lekas / lekas curi / suri sekolah / sikolah campur / sappur baca / bassa cakap / sakkap

    Bahasa Indonesia penutur Batak Karo kemana / kma:na berapa / bra:pa lekas / le:kas curi / cu: ri sekolah / sko:lah campur / ca:mpur

    2002 digitized by USU digital library 2

  • baca / ba:ca cakap / ca:kap cek / ce:k stop / sto:p.

    Bahasa Indonesia penutur Batak Angkola/Mandailing pergi / pogi emak / umak besar / bosar obat / ubat terletak / talotak mengawinkan / mengkawinkan mesjid / masojid kemana / kemano

    Bahasa Indonesia penutur Simalungun kemana / kemana berapa / berapa lekas / lekas cari / sari sekolah / sikolah campur / sampur baca / bassa cakap / sakap cek / sek stop / sito:p. Bahasa Indonesia penutur Minangkabau

    malas / maleh cabut / cabuit beban / baban lekas / lakeh senang / sanang panas / paneh

    Bahasa Indonesia penutur Melayu kemana / kemane, kemano berapa / berape, berapo, barapo di mana / di mane, di mano

    Bahasa Indonesia penutur Jawa senang / seneng duduk / dodok akan / aken sedap / sedep datang / dateng dapat / dapet

    Bahasa Indonesia penutur Cina kemana / kiman berapa / bolapa lekas / likas curi / culi sekolah / sikola campur / campul tidak / tidak daging / laking makan / makang stop / sitop.

    2.2 Faktor Sosial Ekonomi Berdasarkan tinjauan bahasa (W.Labov, 1970) membagi golongan

    masyarakat atas Low Economic, Middle Economic dan Hihg Economic. Kelompok-kelompok tersebut biasanya mempergunakan bahasa yang khusus

    untuk saling berkomunikasi. Biasanya ada kata-kata yang khusus yang timbul dalam kelompok-kelompok seperti itu. Banyak istilah-istilah yang dikenal oleh golongn ekonomi kuat yang tidak dikenal oleh golongan ekonomi lemah. Hal ini disebabkan oleh jangkauan taraf hidup mereka tidak memungkinkannya. Istilah-istilah asing baik yang melambangkan pengertian benda-benda modern maupun istilah-istilah yang bernilai abstrak hanya dijumpai pada golongan yang berekonomi kuat, sebab golongan ekonomi lemah tidak mempunyai daya jangkau yang cukup. Golongan ekonomi kuat banyak mempergunakan istilah-istilah yang melambangkan benda-benda import sedangkan yang berekonomi lemah hanya mengenal istilah-istilah yang biasa dipakai oleh masyarakat yang berekonami lemah.

    Di samping itu faktor pendidikan pun menimbulkan variasi dialek, orang yang berpendidikan tinggi akan berbeda bahasa yang dipergunakannya dengan orang yang berpendidikan rendah. Orang-orang yang berpendidikan tinggi banyak memakai istilah-istilah asing yang tidak dikenal oleh masyarakat biasa terutama

    2002 digitized by USU digital library 3

  • yang tidak pernah menduduki bangku sekolah, maka tidak mengherankan kalau ada orang yang mengucapkan go ahead, menjadi gohet, let go, menjadi lego, get up menjadi gedap, fair menjadi pair, film menjadi pilim, coaching menjadi kucing.

    Pemakaian istilah asing yang tidak cocok dengan situasinya dapat menimbulkan komunikasi tidak lancar. Istilah-istilah asing yang biasa dipakai oleh golongan yang tidak terpelajar dengan ucapan yang salah dapat menimbulkan kebingungan dua pihak. Orang yang mengerti istilah itu pun tidak dapat menangkap apa yang diucapkan apabila yang tidak mengerti akan menjadi lebih bingung.

    2.3 Faktor Usia Bahasa yang dipergunakan anak-anak tidak sama dengan bahasa yang dipakai oleh para remaja, begitu pula bahasa kaum remaja tidak sama dengan bahasa yang dipakai oleh orang tua-tua. Perbedaan ini bukan hanya soal etiket bahasa tetapi ada faktor-faktor lain. Memang kita ketahui bahwa umumnya adanya perbedaan antara kaun remaja dengan golongan tua adalah juga menunjukkan etiket tetapi dalam kenyataan pemakaian bahasa, timbulnya perbedaan itu tidak hanya soal etiket. Memang dijumpai bentuk-bentuk kebahasaan yang khusus dipakai oleh anak-anak bentuk kebahasaan-bentuk kebahasaan yang khusus dipakai oleh kaum remaja selain bahasa yang bersifat umum yang diketahui oleh semua tingkat usia. Bahasa anak-anak pada umumnya tidak lengkap seperti bahasa yang dipakai oleh golongan tua. Ketidak lengkapan itu bukan saja pada struktur kalimat tetapi juga pada struktur katanya. Pada umumnya bahasa anak-anak selalu berkurang suku katanya. Tidak semua suku kata itu diucapkan. Pada bahasa kaum remaja selalu timbul istilah-istilah baru yang khusus diketahui antar mereka. Bahasa kaum remaja dapat jelas didengarkan melalui siaran-siaran radio amatir di Kotamadya Medan. Pada bahasa anak-anak kita jumpai :

    makan / mam minum / mik kencing / pipis, pis pulang / ulang mau / au tidak / dak kueh / ueh nasi / acik pisang / icang jauh / auh datang / atang pergi / igi main / aen tidur / bubuk kerja / erja sekolah / olah menangis / angis duit / uit, uik kacang / acang goreng / oyeng

    Pada bahasa kaum remaja kita jumpai : anak gadis / cewek si

Search related