37
1 PENDAHULUAN Istilah atau kata “Urbanisasi” adalah sebuah istilah yang banyak dikenal dalam dunia ilmu pengetahuan, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Istilah tersebut tidak hanya dikenal tetapi juga dialami oleh penduduk Kota dan Desa, terutama di negara-negara yang sedang berkembang. Baik disadari maupun tidak mereka itu ikut menjadi penyebab atau beban urbanisasi. Oleh karena itu, timbul pertanyaan apakah urbanisasi dan para “urbanit” itu merupakan beban bagi perkembangan kota khususnya dan perkembangan negara pada umumnya. Urbanisasi merupakan suatu gejala, peristiwa atau proses yang sifatnya multi-sektoral, baik ditinjau dari sebab maupun dari akibat yang ditimbulkannya. Permasalahannya nampak sederhana namun sifatnya sangat kompleks. Studi mengenai urbanisasi ini sangat menarik bagi ilmu kependudukan, ilmu-ilmu sosial dan ilmu humaniora, ilmu geografi dan masih beberapa ilmu

Urbanisasi

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Masalah-masalah mengenai urbanisasi.sosial-budaya.

Citation preview

Page 1: Urbanisasi

1

PENDAHULUAN

Istilah atau kata “Urbanisasi” adalah sebuah istilah yang banyak dikenal

dalam dunia ilmu pengetahuan, baik di Indonesia maupun di luar negeri. Istilah

tersebut tidak hanya dikenal tetapi juga dialami oleh penduduk Kota dan Desa,

terutama di negara-negara yang sedang berkembang. Baik disadari maupun tidak

mereka itu ikut menjadi penyebab atau beban urbanisasi. Oleh karena itu, timbul

pertanyaan apakah urbanisasi dan para “urbanit” itu merupakan beban bagi

perkembangan kota khususnya dan perkembangan negara pada umumnya.

Urbanisasi merupakan suatu gejala, peristiwa atau proses yang sifatnya

multi-sektoral, baik ditinjau dari sebab maupun dari akibat yang ditimbulkannya.

Permasalahannya nampak sederhana namun sifatnya sangat kompleks. Studi

mengenai urbanisasi ini sangat menarik bagi ilmu kependudukan, ilmu-ilmu sosial

dan ilmu humaniora, ilmu geografi dan masih beberapa ilmu lainnya, karena

variasi obyek dan subyeknya serta keanekaragamannya.

Mengingat bahwa masalah urbanisasi di negara kita juga cenderung

mengalami peningkatan yang cukup berarti, sehingga kecenderungan semakin

meluasnya problema sosial ekonomi di berbagai kota di Indonesia akan lebih kita

rasakan sebagai problema nasional, maka perlu kiranya kita lebih mendalami

seluk-beluk urbanisasi ini.

Data persentase urbanisasi di Indonesia dalam tahun 1950, 1960, 1970,

1978 secara berturut-turut menunjukkan angka-angka 12,9%; 14,6%; 17,2%; dan

20,0%.

Page 2: Urbanisasi

2

Sebagai pembanding dapat ditambahkan di sini bahwa pertumbuhan

penduduk kota-kota di dunia dalam tahun-tahun 1850, 1900, 1950 dan tahun 1970

adalah secara berturut-turut 81 juta; 224 juta; 706 juta; dan 1399 juta, sedang di

daerah pedesaan 1181 juta; 1426 juta; 1796 juta; dan 2229 juta.

Di Asia pertambahan penduduk di daerah perkotaan menurut analisa

terakhir dari UNESCO di Bangkok adalah sekitar 1% sampai dengan 4% per

tahunnya.

Selain dari itu, kalau kita melihat urbanisasi di Indonesia ini, pada

umumya telah pula menimbulkan pelbagai permasalahan antara lain masalah

sosial, masalah ekonomi dan masalah pemukiman, baik yang ditimbulkan oleh

para pendatang dari luar kota, maupun yang ditimbulkan olrh bertambahnya

penduduk di dalam kota, ataupun yang disebabkan adanya pertumbuhan pusat-

pusat kegiatan yang ada menjadi kota-kota yang baru. Sehingga secara umum

urbanisasi telah menyebabkan dua permasalahan yang besar, yaitu masalah yang

timbul di kota yang didatangi para urbanit dan masalah yang timbul desa yang

telah ditinggalkan oleh para urbanit.

Pemerintah Indonesia dalam hal ini talah menanggapi gejala urbanisasi

beserta permasalahannya, oleh karena itu beberapa usaha penanggulangannya

secara langsung maupun secara tidak langsung telah dilaksanakan melalui tahap-

tahap Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun). Walaupun demikian

penanggulangan Pemerintah Indonesia dalam masalah urbanisasi ini masih

memerlukan pengertian, kesadaran, dan bantuan dari kita semua. Dengan bantuan

dan kesadaran kita semua, kita dapat menekan angka urbanisasi.

Page 3: Urbanisasi

3

LATAR BELAKANG MASALAH

Sebelum dibahas lebih lanjut mengenai sebab dari urbanisasi ini ada

perlunya kita memperhatikan dua definisi urbanisasi yang mempunyai sudut

pandang geografis, karena dari dua definisi berikut tercermin didalamnya berbagai

implikasi dari urbanisasi.

Definisi pertama berkaitan dengan aspek pemukiman dan lokasi ekonomi,

sedang definisi kedua mempunyai kaitan dengan aspek modernisasi

Bunyi definisi yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. “Urbanization studies the geographic concentration of population and non

agricultural activities in urban environments of varying size and form.”

2. “Urbanization studies the geographic diffusion of urban values, behavior,

organizations and institutions.” (Friedman, 1973).

Jadi, yang pertama itu menunjukkan adanya pemusatan penduduk dan pemusatan

kegiatan nonagraris di daerah perkotaan dalam berbagai bentuk dan ukuran.

Gejala ini merupakan hasil dari adanya faktor-faktor yang negatif dari daerah

pedesaan dan faktor-faktor positif yang dimiliki oleh kota.

Dengan keadaan ini timbullah suatu gerakan perpindahan penduduk dari

desa ke kota. Mereka bermukim di kota dan memiliki kegiatan ekonomi yang lain

dari kegiatan sewaktu mereka masih di desanya.

Timbullah masalah-masalah baru yaitu menyangkut:

a) adaptasi penduduk desa di kota,

b) masalah persediaan ruang (space) yang semakin terbatas terutama masalah

perumahan untuk golongan ekonomi lemah dan masalah hunian liar atau

Page 4: Urbanisasi

4

daerah slums yang nampaknya berkembang terus di berbagai kotamadya dan

kota besar, apalagi di kota metropolitan.

Dalam definisi yang kedua nampaknya bahwa urbanisasi ini juga

mempunyai kaitan erat dengan nilai-nilai hidup kota, perilaku, dan kegiatan

kelembagaan kota yang secara aktif menangani masalah urbanisasi ini.

Sebab-sebab dari adanya urbanisasi ini di berbagai negara memang agak

berlainan namun secara umum dapat dikatakan adalah karena ketimpangan

keruangan termasuk di dalamnya ketimpangan penduduk dan ekonomi.

Di Indonesia urbanisasi pada umumnya mempunyai kaitan dengan

timbulnya beberapa masalah sosial, ekonomi, dan pemukiman, baik di kota

maupun di desa. Sebab-sebab urbanisasi di Indonesia adalah:

(a) Sebagai akibat dari pertambahan penduduk alami (kelahiran) di kota

(b) Sebagai akibat dari perpindahan penduduk desa ke kota

(c) Berkembangnya daerah tepian kota

Kadang-kadang ketiga sebab tersebut terjadi bersamaaan, sehingga dapat

mempercepat proses urbanisasi di suatu wilayah tertentu. Kecepatan urbanisasi di

Indonesia tergantung pada beberapa faktor antara lain:

(a) Tingkat pendidikan penduduk yang terlibat,

(b) Tingkat kesehatan masyarakat,

(c) Persentase penduduk yang miskin,

(d) Latar belakang pertanian di daerah pedesaaan,

(e) Kondisi geografis,

Page 5: Urbanisasi

5

(f) Fungsi serta peranan kota-kota sebagai faktor penarik, dan masih beberapa

faktor lain.

Kecepatan urbanisasi ini juga merupakan akibat dari lajunya pembangunan

kota dan sekitarnya antara lain perluasan daerah industry di tepian kota dan

kadang-kadang juga ada yang di dalam kota, sehingga kesempatan kerja pun

meningkat, dan menarik tenaga kerja dari daerah di sekitar kota tersebut.

Untuk mendapatkan suatu niat untuk hijrah atau pergi ke kota dari desa,

seseorang biasanya harus mendapatkan pengaruh yang kuat dalam bentuk ajakan,

informasi media massa, impian pribadi, terdesak kebutuhan ekonomi, dan lain

sebagainya.

Pengaruh-pengaruh tersebut bisa dalam bentuk sesuatu yang mendorong,

memaksa atau faktor pendorong seseorang untuk urbanisasi, maupun dalam

bentuk yang menarik perhatian atau faktor penarik. Di bawah ini adalah beberapa

atau sebagian contoh yang pada dasarnya dapat menggerakkan seseorang untuk

melakukan urbanisasi perpindahan dari pedesaaan ke perkotaan.

A. Faktor Penarik Terjadinya Urbanisasi

1. Kehidupan kota yang lebih modern dan mewah

2. Sarana dan prasarana kota yang lebih lengkap

3. Banyak lapangan pekerjaan di kota

4. Di kota banyak perempuan cantik dan laki-laki ganteng

5. Pengaruh buruk sinetron Indonesia

6. Pendidikan sekolah dan perguruan tinggi jauh lebih baik dan berkualitas

Page 6: Urbanisasi

6

B. Faktor Pendorong Terjadinya Urbanisasi

1. Lahan pertanian yang semakin sempit

2. Merasa tidak cocok dengan budaya tempat asalnya

3. Menganggur karena tidak banyak lapangan pekerjaan di desa

4. Terbatasnya sarana dan prasarana di desa

5. Diusir dari desa asal

6. Memiliki impian kuat menjadi orang kaya

Page 7: Urbanisasi

7

PEMBAHASAN

Pengertian urbanisasi sudah umum diketahui oleh mereka yang banyak

bergelut di bidang kependudukan, khususnya mobilitas penduduk. Namun

demikian, mereka yang awam dengan ilmu kependudukan sering kali kurang tepat

dalam memakai istilah tersebut. Dalam pengertian yang sesungguhnya, urbanisasi

berarti persentase penduduk yang tinggal di daerah perkotaan. Sedangkan mereka

yang awam dengan ilmu kependudukan seringkali mendefinisikan urbanisasi

sebagai perpindahan penduduk dari desa ke kota. Padahal perpindahan penduduk

dari desa ke kota hanya salah satu penyebab proses urbanisasi, di samping

penyebab-penyebab lain seperti pertumbuhan alamiah penduduk perkotaan,

perluasan wilayah, maupun perubahan status wilayah dari daerah pedesaan

menjadi daerah perkotaan, dan semacamnya itu.

Proses urbanisasi sangat terkait mobilitas maupun migrasi penduduk. Ada

sedikit perbedaan antara mobilitas dan migrasi penduduk. Mobilitas penduduk

didefinisikan sebagai perpindahan penduduk yang melewati batas administratif

tingkat II, namun tidak berniat menetap di daerah yang baru. Sedangkan migrasi

didefinisikan sebagai perpindahan penduduk yang melewati batas administratif

tingkat II dan sekaligus berniat menetap di daerah yang baru tersebut. Di dalam

pelaksanaan perhitungannya, data yang ada sampai saat ini baru merupakan data

migrasi penduduk dan bukan data mobilitas penduduk. Di samping itu, data

migrasi pun baru mencakup batasan daerah tingkat I. Dengan demikian, seseorang

dikategorikan sebagai migran seumur hidup jika propinsi tempat tinggal orang

tersebut sekarang ini, berbeda dengan propinsi dimana yang bersangkutan

Page 8: Urbanisasi

8

dilahirkan. Selain itu seseorang dikategorikan sebagai migran risen jika propinsi

tempat tinggal sekarang berbeda dengan propinsi tempat tinggalnya lima tahun

yang lalu.

Oleh karena itu, pemerintah di samping mengembangkan kebijaksanaan

pengarahan persebaran dan mobilitas penduduk, termasuk di dalamnya urbanisasi,

juga berkewajiban menyempurnakan sistem pencatatan mobilitas dan migrasi

penduduk agar kondisi data yang ada lebih sesuai kondisi di lapangan. Terutama

bila diperlukan untuk perumusan suatu kebijakan kependudukan.

A. Perkembangan Urbanisasi

Di masa mendatang, para ahli kependudukan memperkirakan bahwa

proses urbanisasi di Indonesia akan lebih banyak disebabkan migrasi desa-kota.

Perkiraan ini didasarkan pada makin rendahnya pertumbuhan alamiah penduduk

di daerah perkotaan, relatif lambannya perubahan status dari daerah pedesaan

menjadi daerah perkotaan, serta relatif kuatnya kebijaksanaan ekonomi dan

pembangunan yang “urban bias”, sehingga memperbesar daya tarik daerah

perkotaan bagi penduduk yang tinggal di daerah pedesaan . Itulah sebabnya di

masa mendatang, isu urbanisasi dan mobilitas atau migrasi penduduk menjadi

sulit untuk dipisahkan dan akan menjadi isu yang penting dalam kebijaksanaan

kependudukan di Indonesia.

Jika di masa lalu dan dewasa ini, isu kelahiran (fertilitas) dan kematian

(mortalitas) masih mendominasi kebijaksanaan kependudukan, di masa

mendatang manakala tingkat kelahiran dan kematian sudah menjadi rendah,

ukuran keluarga menjadi kecil, dan sebaliknya kesejahteraan keluarga dan

Page 9: Urbanisasi

9

masyarakat meningkat, maka keinginan untuk melakukan mobilitas bagi sebagian

besar penduduk akan semakin meningkat dan terutama yang menuju daerah

perkotaan.

Jika pada tahun 1980 migran di Indonesia berjumlah 3,7 juta jiwa, maka

angka tersebut meningkat menjadi 5,2 juta jiwa pada tahun 1990 dan sedikit

menurun menjadi 4,3 juta jiwa pada periode 1990-1995. Secara kumulatif

diketahui bahwa sampai tahun 1980, jumlah penduduk Indonesia yang pernah

melakukan migrasi adalah 11,4 juta jiwa, sedangkan pada tahun 1990 angka

tersebut meningkat menjadi 17,8 juta jiwa.

Lebih lanjut, data survei penduduk antarsensus (Supas) 1995 memperlihatkan

bahwa tingkat urbanisasi di Indonesia pada tahun 1995 adalah 35,91 persen yang berarti

bahwa 35,91 persen penduduk Indonesia tinggal di daerah perkotaan. Tingkat ini telah

meningkat dari sekitar 22,4 persen pada tahun 1980 yang lalu. Sebaliknya proporsi

penduduk yang tinggal di daerah pedesaan menurun dari 77,6 persen pada tahun 1980

menjadi 64,09 persen pada tahun 1995.

Meningkatnya proses urbanisasi tersebut tidak terlepas dari kebijaksanaan

pembangunan perkotaan, khususnya pembangunan ekonomi yang dikembangkan

oleh pemerintah. Sebagaimana diketahui peningkatan jumlah penduduk akan

berkorelasi positif dengan meningkatnya urbanisasi di suatu wilayah. Ada

kecenderungan bahwa aktivitas perekonomian akan terpusat pada suatu area yang

memiliki tingkat konsentrasi penduduk yang cukup tinggi. Hubungan positif

antara konsentrasi penduduk dengan aktivitas kegiatan ekonomi ini akan

menyebabkan makin membesarnya area konsentrasi penduduk, sehingga

menimbulkan apa yang dikenal dengan nama daerah perkotaan.

Page 10: Urbanisasi

10

Di sini dapat dilihat adanya keterkaitan timbal balik antara aktivitas

ekonomi dengan konsentrasi penduduk. Para pelaku ekonomi cenderung

melakukan investasi di daerah yang telah memiliki konsentrasi penduduk yang

tinggi serta memiliki sarana dan prasarana yang lengkap. Karena dengan demikian

mereka dapat menghemat berbagai biaya, antara lain biaya distribusi barang dan

jasa. Sebaliknya, penduduk akan cenderung datang kepada pusat kegiatan

ekonomi karena di tempat itulah mereka akan lebih mudah memperoleh

kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan . Dengan demikian, urbanisasi

merupakan suatu proses perubahan yang wajar dalam upaya meningkatkan

kesejahteraan penduduk atau masyarakat.

Jika urbanisasi merupakan suatu proses perubahan yang wajar, mengapa

proses urbanisasi tetap harus dikendalikan atau diarahkan? Ada dua alasan

mengapa urbanisasi perlu diarahkan.

Pertama, pemerintah berkeinginan untuk sesegera mungkin meningkatkan

proporsi penduduk yang tinggal di daerah perkotaan. Hal ini berkaitan dengan

kenyataan bahwa meningkatnya penduduk daerah perkotaan akan berkaitan erat

dengan meningkatnya pertumbuhan ekonomi negara. Data memperlihatkan bahwa

suatu negara atau daerah dengan tingkat perekonomian yang lebih tinggi, juga

memiliki tingkat urbanisasi yang lebih tinggi, dan sebaliknya. Negara-negara

industri pada umumnya memiliki tingkat urbanisasi di atas 75 persen. Bandingkan

dengan negara berkembang yang sekarang ini. Tingkat urbanisasinya masih

sekitar 35 persen sampai dengan 40 persen saja.

Page 11: Urbanisasi

11

Kedua, terjadinya tingkat urbanisasi yang berlebihan, atau tidak terkendali,

dapat menimbulkan berbagai permasalahan pada penduduk itu sendiri. Ukuran

terkendali atau tidaknya proses urbanisasi biasanya dikenal dengan ukuran

primacy rate, yang kurang lebih diartikan sebagai kekuatan daya tarik kota

terbesar pada suatu negara atau wilayah terhadap kota-kota di sekitarnya. Makin

besar tingkat primacy menunjukkan keadaan yang kurang baik dalam proses

urbanisasi. Sayangnya data mutahir mengenai primacy rate di Indonesia tidak

tersedia.

Dari beberapa hasil penelitian banyaknya perpindahan penduduk dari

daerah pedesaan ke kota adalah karena adanya daya dorong dari desa seperti,

rendahnya penghasilan per kapita, pengangguran baik yang nyata ada maupun

tersembunyi, kurangnya atau tidak adanya pemilikan tanah. Selain itu juga adanya

daya tarik kota, seperti kesempatan kerja dengan upah yang menarik, daya beli

penduduk, kesempatan bersekolah atau kesempatan mengikuti kursus-kursus

ketrampilan di bidang teknik ataupun di bidang administrasi. Kota dapat

dimanfaatkan untuk berwiraswasta atau penawaran jasa lainnya.

Pendeknya para urbanit merasa bahwa pindah ke kota berarti perbaikan

nasib, walaupun keadaan ini tidak selalu dapat tercapai bagi setiap urbanit.

B. Dampak Urbanisasi

Apabila diinventarisasi problema akibat urbanisasi maka akan dapat dilihat

bahwa jumlahnya tidak sedikit. Misalnya saja dapat disebutkan disini:

- Kepadatan penduduk kota yang menimbulkan masalah kesehatan lingkungan,

masalah kesehatan lingkungan, masalah perumahan, masalah persampahan.

Page 12: Urbanisasi

12

- Pertambahan penduduk kota yang menimbulan masalah kesempatan dan

mendapatkan pekerjaan yang layak dan memadai, masalah pengangguran dan

gelandangan, sehingga meningkatkan tingkat kriminalitas.

- Penyempitan ruang dengan segala akibat negatifnya di kota karena banyaknya

orang, bertambahnya bangunan untuk perumahan, perkantoran, kegiatan

industri, dan bertambahnya kendaraan bermotor yang terus menerus

membanjiri kota-kota di negara berkembang.

- Masalah lalu lintas, kemacetan jalan, dan masalah parker yang menghambat

kelancaran kota.

- Industrialisasi di kota yang menimbulkan polusi udara, polusi air, dan polusi

kebisingan.

- Desa yang ditinggalkan urbanit potensial menjadi tak berkembang karena

sumber daya manusia yang memiliki potensi besar telah berpindah ke kota.

- Tak berkembangnya desa menyebabkan masyarakat di desa mengalami

kemunduran dan tertinggal dari modernisasi.

- Desa menjadi daerah yang tak menarik sehingga pembangunan desa tak dapat

berjalan.

- Potensi yang terdapat di desa tak dapat di eksplorasi karena sumber daya yang

ada di desa lebih memilih bermigrasi ke kota demi meraih cita-cita, padahal

dengan mengeksplorasi sumber daya desa dapat membangun desa menjadi

lebih maju.

- Sumber daya manusia yang telah berpindah dapat menimbulkan ketahanan

pangan negara menurun. Hal ini disebabkan karena sumber daya manusia

Page 13: Urbanisasi

13

yang berada di desa telah berpindah ke kota sehingga pekerjaan di bidang

agraris yang pada umunya ada di desa ditinggalkan dan ketahanan pangan

menjadi menurun.

Akibat dari pengembangan dan pembangunan dapat menimbulkan

berbagai jenis dampak lingkungan hidup baik yang positif maupun yang negatif.

Dampak lingkungan kota yang bersifat negatif dapat timbul di berbagai kota-kota

di dunia dan terutama di negara berkembang, termasuk kota-kota di Indonesia.

Gangguan terhadap kualitas lingkungan hidup adalah karena adanya

ketimpangan interaksi antara manusia dan lingkungannya.

Adapun dampak lingkungan kota yang berkaitan dengan urbanisasi adalah

antara lain:

(1) Pertambahan penduduk kota yang begitu cepat, sudah sulit diikuti dengan

kemampuan daya dukung kotanya. Ruang utuk tempat tinggal, ruang untuk

kelancaran lalu lintas kendaraan dan tempat parkir kendaraan bermotor sudah

sangat dirasakan sangat kurang.

(2) Pertambahan kendaraan bermotor roda dua dan roda empat yang membanjiri

kota dengan tidak henti-hentinya, menimbulkan berbagai polusi dan

pencemaran seperti polusi udara dan polusi suara.

(3) Pengembangan industri di kota atau dekat kota menghasilkan bahan sisa

industri (limbah) yang harus di buang. Limbah yang tidak diproses secara

baik dapat mengkontaminasi lingkungan. Gejala kerusakan atau kemunduran

lingkungan di kota sudah diresahkan di berbagai kota. Beberapa sinyalemen

telah dapat kita dengar dan kit abaca melalui media massa.

Page 14: Urbanisasi

14

(4) Pencemaran yang bersifat sosial dan ekonomi. Banyaknya gelandangan,

pengemis,berbagai bentuk kenakalan dan kejahatan (kriminalitas).

C. Solusi untuk Meminimalisasi Urbanisasi

1. Kebijaksanaan Urbanisasi di Indonesia

Ada dua kelompok besar kebijaksanaan pengarahan urbanisasi di

Indonesia yang saat ini sedang dikembangkan.

Pertama, mengembangkan daerah-daerah pedesaan agar memiliki ciri-

ciri sebagai daerah perkotaan. Upaya tersebut sekarang ini dikenal dengan

istilah “urbanisasi pedesaan “.

Kedua, mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru,

atau dikenal dengan istilah “daerah penyangga pusat pertumbuhan”.

Kelompok kebijaksanaan pertama merupakan upaya untuk

“mempercepat” tingkat urbanisasi tanpa menunggu pertumbuhan ekonomi,

yaitu dengan melakukan beberapa terobosan yang bersifat “non-ekonomi”.

Bahkan perubahan tingkat urbanisasi tersebut diharapkan memacu tingkat

pertumbuhan ekonomi. Untuk itu perlu didorong pertumbuhan daerah

pedesaan agar memiliki ciri-ciri perkotaan, namun tetap “dikenal” pada

nuansa pedesaan. Dengan demikian, penduduk daerah tersebut dapat

dikategorikan sebagai “orang kota” walaupun sebenarnya mereka masih

tinggal di suatu daerah yang memiliki nuansa pedesaan.

Beberapa cara yang sedang dikembangkan untuk mempercepat

tingkat urbanisasi tersebut antara lain dengan “memodernisasi” daerah

pedesaan sehingga memiliki sifat-sifat daerah perkotaan. Pengertian

Page 15: Urbanisasi

15

“modernisasi” daerah pedesaan tidak semata-mata dalam arti fisik, seperti

misalnya membangun fasilitas perkotaan, namun membangun penduduk

pedesaan sehingga memiliki ciri-ciri modern penduduk perkotaan. Dalam

hubungan inilah lahir konsep “urbanisasi pedesaan”. Konsep “urbanisasi

pedesaan” mengacu pada kondisi di mana suatu daerah secara fisik masih

memiliki ciri-ciri pedesaan yang “kental”, namun karena “ciri penduduk”

yang hidup didalamnya sudah menampakkan sikap maju dan mandiri,

seperti antara lain mata pencaharian lebih besar di nonpertanian, sudah

mengenal dan memanfaatkan lembaga keuangan, memiliki aspirasi yang

tinggi terhadap dunia pendidikan, dan sebagainya, sehingga daerah tersebut

dapat dikategorikan sebagai daerah perkotaan.

Dengan demikian, apa yang harus dikembangkan adalah membangun

penduduk pedesaan agar memiliki ciri-ciri penduduk perkotaan dalam arti

positif tanpa harus merubah suasana fisik pedesaan secara berlebihan.

Namun, daerah pedesaan tersebut sudah dapat dikategorikan sebagai daerah

perkotaan. Sudah barang tentu bersamaan dengan pembangunan penduduk

pedesaan tersebut diperlukan sistem perekonomian yang cocok dengan

potensi daerah pedesaan itu sendiri. Jika konsep urbanisasi pedesaan seperti

di atas dapat dikembangkan dan disepakati, maka tingkat urbanisasi di

Indonesia dapat dipercepat perkembangannya tanpa merusak suasana

tradisional yang ada di daerah pedesaan dan tanpa menunggu pertumbuhan

ekonomi yang sedemikian tinggi. Bahkan sebaliknya, dengan munculnya

“para penduduk” di daerah “pedesaan” yang “bersuasana perkotaan”

Page 16: Urbanisasi

16

tersebut, mereka dapat menjadi motor pertumbuhan ekonomi dengan tetap

mempertahankan aspek keserasian, keseimbangan, dan keselarasan antara

tuntutan pertumbuhan ekonomi dan keseimbangan ekosistem serta

lingkungan alam.

Kelompok kebijaksanaan kedua merupakan upaya untuk

mengembangkan kota-kota kecil dan sedang yang selama ini telah ada

untuk mengimbangi pertumbuhan kota-kota besar dan metropolitan. Pada

kelompok ini, kebijaksanaan pengembangan perkotaan diklasifikasikan ke

dalam tiga bagian, yaitu:

(a) Kebijaksanaan ekonomi makro yang ditujukan terutama untuk

menciptakan lingkungan atau iklim yang merangsang bagi

pengembangan kegiatan ekonomi perkotaan. Hal ini antara lain

meliputi penyempurnaan peraturan dan prosedur investasi,

penetapan suku bunga pinjaman dan pengaturan perpajakan bagi

peningkatan pendapatan kota;

(b) Penyebaran secara spesial pola pengembangan kota yang

mendukung pola kebijaksanaan pembangunan nasional menuju

pertumbuhan ekonomi yang seimbang, serasi dan berkelanjutan,

yang secara operasional dituangkan dalam kebijaksanaan tata

ruang kota/ perkotaan, dan

(c) Penanganan masalah kinerja masing-masing kota.

Dengan demikian, kebijaksanaan pengembangan perkotaan di

Indonesia dewasa ini dilandasi pada konsepsi yang meliputi: (i) pengaturan

Page 17: Urbanisasi

17

mengenai sistem kota-kota; (ii) terpadu; (iii) berwawasan lingkungan, dan

(iv) peningkatan peran masyarakat dan swasta. Dengan makin terpadunya

sistem-sistem perkotaan yang ada di Indonesia, akan terbentuk suatu

hierarki kota besar, menengah, dan kecil yang baik sehingga tidak terjadi

“dominasi” salah satu kota terhadap kota-kota lainnya.

Urbanisasi merupakan proses yang wajar dan tidak perlu dicegah

pertumbuhannya. Karena, proses urbanisasi tersebut dapat meningkatkan

pertumbuhan ekonomi suatu daerah. Namun demikian, proses urbanisasi

tersebut perlu diarahkan agar tidak terjadi tingkat primacy yang berlebihan.

Pada saat ini pemerintah telah mengembangkan dua kelompok

kebijaksanaan untuk mengarahkan proses urbanisasi, yaitu

mengembangkan apa yang dikenal dengan istilah “urbanisasi pedesaan”

dan juga mengembangkan “pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru”.

Diharapkan dengan makin bertumbuhnya daerah pedesaan dan juga

menyebarnya daerah-daerah pertumbuhan ekonomi, sasaran untuk

mencapai tingkat urbanisasi sebesar 75 % pada akhir tahun 2025, dan

dibarengi dengan makin meratanya persebaran daerah perkotaan, akan

dapat terwujud.

Upaya lain dalam meminimalisasi urbanisasi dengan cara

pembangunan daerah pedesaan. Dengan pembangunan pedesaan dan

moderinsasi daerah desa sehingga tercipta lapangan kerja baru dan

kehidupan yang layak bagi masyarakat pedesaan. Upaya pencapaian target

pembangunan wilayah pedesaan dihadapkan pada banyak tantangan yang

Page 18: Urbanisasi

18

sangat berbeda motif jika dibandingkan jika dengan masa lalu. Tantangan

pertama berhubungan dengan keadaaan eksternal, seperti perkembangan

arah perdagangan global yang berhubungan dengan pembebasan aliran

investasi. Adapun yang kedua bersifat internal, yaitu yng berkaitan dengan

perubahan kondisi makro dan mikro dalam negeri. Tantangan internal

mencakup sumber daya alam, masalah iptek, masalah investasi dan

permodalan, transformasi struktur ekonomi, masalah migrasi spasial dan

sektoral, ketahanan pangan, serta masalah ketersediaan lahan pertanian.

Cara peningkatan mutu, hasil produksi pertanian dan jumlah kapasitas

produksi pertanian merupakan salah satu cara membangun pedesaan. Cara

peningkatan mutu dapat digunakan ekstensifikasi pertanian dan

intensifikasi pertanian.

Ekstensifikasi pertanian adalah dengan cara menambah atau

memperluas faktor-faktor produksi yang telah ada, antara lain meliputi

penambahan atau perluasan terhadap lahan baru, jumlah tenaga kerja dan

jumlah modal.

Intensifikasi pertanian adalah dengan cara meningkatkan

produktivitas faktor-faktor produksi yang telah ada. Intensifikasi ini dapat

dilakukan dengan cara yaitu penggunaan teknik-teknik baru dalam

pertanian, meningatkan kualitas bibit tanam, penggunaan produk baru, dan

meningkatkan kualitas tenaga kerja.

Upaya kedua adalah memanfaatkan ekonomi kerakyatan, yaitu

memanfaatkan potensi kemampuan rakyat untuk memproduksi, distribusi,

Page 19: Urbanisasi

19

atau konsumsi. Dalam hal ini, masyarakat dapat mengawasi dan

mengendalikan berlangsungnya proses produksi. Sektor ekonomi rakyat

tidak terhitung jumlahnya, diantaranya seperti usaha kecil, menengah, dan

koperasi (UKMK).

Upaya ketiga adalah menggagas pedesaan menuju agroindustri.

Pembangunan desa dengan mengedepankan konsep argoindustri akan

menjadi sangat penting dengan dengan penyediaan dan penyaluran sarana

produksi, penyediaan dana, dan investasi, teknologi, serta dukungan system

tata niaga, dan perdagangan yang efektif. Pengembangan agroindustri pada

dasarnya diharapkan dapat memacu pertumbuhan tingkat ekonomi, juga

sekaligus diarahkan untuk meningkatkan kesempatan kerja dan pendapatan

petani di pedesaan.

Upaya terakhir adalah pembangunan desa yang progresif. Kebijakan

pemerintah mengenai pembangunan di wilayah pedesaan harus memberi

perhatian khusus untuk merestrukturisasi pengelolaan kekayaan di wilayah

pedesaan. Restrukturisasi (penataan kembali) lebih diarahkan pada

pendayagunaan secara ekonomi dan memperhatikan keadaan lingkungan.

Pendayagunaan kedua aspek ini harus dipandang sebagai keadaan yang

saling memengaruhi sehingga tingkat keberhasilannya dilihat dari indicator,

seperti lestarinya lingkungan sekitar, penggunaan sumber daya alam yang

tepat, peningkatan kesempatan kerja masyarakat desa, membangkitkan

ekonomi nasional, dan membangun jiwa kemandirian.

Page 20: Urbanisasi

20

KESIMPULAN

Dari pembahasan yang telah dibuat dan dipaparkan sebelumnya, maka

dapat ditarik beberapa kesimpulan, yaitu:

1. Dalam pengertian yang sesungguhnya, urbanisasi berarti persentase penduduk

yang tinggal di daerah perkotaan. Sedangkan mereka yang awam dengan ilmu

kependudukan seringkali mendefinisikan urbanisasi sebagai perpindahan

penduduk dari desa ke kota. Padahal perpindahan penduduk dari desa ke kota

hanya salah satu penyebab proses urbanisasi, di samping penyebab-penyebab

lain seperti pertumbuhan alamiah penduduk perkotaan, perluasan wilayah,

maupun perubahan status wilayah dari daerah pedesaan menjadi daerah

perkotaan, dan semacamnya itu.

2. Faktor Penarik Terjadinya Urbanisasi

a) Kehidupan kota yang lebih modern dan mewah

b) Sarana dan prasarana kota yang lebih lengkap

c) Banyak lapangan pekerjaan di kota

d) Di kota banyak perempuan cantik dan laki-laki ganteng

e) Pengaruh buruk sinetron Indonesia

f) Pendidikan sekolah dan perguruan tinggi jauh lebih baik dan berkualitas

3. Faktor Pendorong Terjadinya Urbanisasi

a) Lahan pertanian yang semakin sempit

b) Merasa tidak cocok dengan budaya tempat asalnya

c) Menganggur karena tidak banyak lapangan pekerjaan di desa

Page 21: Urbanisasi

21

d) Terbatasnya sarana dan prasarana di desa

e) Diusir dari desa asal

f) Memiliki impian kuat menjadi orang kaya

4. Dampak Urbanisasi

c) Kepadatan penduduk kota yang menimbulkan masalah kesehatan

lingkungan, masalah kesehatan lingkungan, masalah perumahan, masalah

persampahan.

d) Pertambahan penduduk kota yang menimbulan masalah kesempatan dan

mendapatkan pekerjaan yang layak dan memadai, masalah pengangguran

dan gelandangan, sehingga meningkatkan tingkat kriminalitas.

e) Penyempitan ruang dengan segala akibat negatifnya di kota karena

banyaknya orang, bertambahnya bangunan untuk perumahan, perkantoran,

kegiatan industri, dan bertambahnya kendaraan bermotor yang terus

menerus membanjiri kota-kota di negara berkembang.

f) Masalah lalu lintas, kemacetan jalan, dan masalah parker yang

menghambat kelancaran kota.

g) Industrialisasi di kota yang menimbulkan polusi udara, polusi air, dan

polusi kebisingan.

h) Desa yang ditinggalkan urbanit potensial menjadi tak berkembang karena

sumber daya manusia yang memiliki potensi besar telah berpindah ke

kota.

i) Tak berkembangnya desa menyebabkan masyarakat di desa mengalami

kemunduran dan tertinggal dari modernisasi.

Page 22: Urbanisasi

22

j) Desa menjadi daerah yang tak menarik sehingga pembangunan desa tak

dapat berjalan.

k) Potensi yang terdapat di desa tak dapat di eksplorasi karena sumber daya

yang ada di desa lebih memilih bermigrasi ke kota demi meraih cita-cita,

padahal dengan mengeksplorasi sumber daya desa dapat membangun desa

menjadi lebih maju.

l) Sumber daya manusia yang telah berpindah dapat menimbulkan ketahanan

pangan negara menurun. Hal ini disebabkan karena sumber daya manusia

yang berada di desa telah berpindah ke kota sehingga pekerjaan di bidang

agraris yang pada umunya ada di desa ditinggalkan dan ketahanan pangan

menjadi menurun.

Page 23: Urbanisasi

23

SARAN

Melihat betapa besar dampak dari urbanisasi ini, saya berharap kepada

pemerintah agar :

1. Pemerintah dapat membuat kebijakan yang sangat adil dan sangat tepat dalam

menanggapi masalah ini. Memang sulit menyelesaikan masalah ini karena

telah mendarah daging pada pemikiran masyarakat Indonesia.

2. Mengembangkan daerah-daerah pedesaan agar memiliki ciri-ciri sebagai

daerah perkotaan, namun tetap mempertahankan suasana khas desa yang asri.

3. Meningkatkan mutu hasil produksi pertanian, karena sebagian besar

masyarakat pedesaan bermatapencahariaan sebagai petani dan jumlah

kapasitas produksi pertanian merupakan salah satu cara membangun pedesaan.

Cara peningkatan mutu dapat digunakan ekstensifikasi pertanian dan

intensifikasi pertanian.

4. Membangun perekonomian kerakyatan pada penduduk desa.

5. Menggagas pedesaan menuju agroindustri sehingga membuka kesempatan

kerja dan meningkatkan pendapatan petani, serta meningkatkan kualitas

lingkungan.

6. Membangunan desa secara progressif.

7. Memberikan pengetahuan kepada masyarakat mengenai urbanisasi dan

dampaknya, agar pengetahuan masyarakat bertambah dan kesadaran mereka

akan urbanisasi akan terbuka, sehingga hasrat untuk berurbanisasi akan

berkurang.

Page 24: Urbanisasi

24

DAFTAR PUSTAKA

Bintarto, R. 1986. Urbanisasi dan Permasalahannya. Jakarta : Ghalia Indonesia.

Permana, Hadi. 2007. Desaku Sayang Desaku Malang. Bandung : CV. Nuansa

Citra Grafika.

Sirait, Robby Alexander. 2007. Urbanisasi dan Perkembangan Perkotaan di

Indonesi

a.http://robbyalexandersirait.wordpress.com/2007/10/05/urbanisasi-

mobilitas-dan-perkembangan-perkotaan-di-indonesia. Diakses tanggal 8

Maret 2011.

Wikipedia. 2010. Urbanisasi. http://id.wikipedia.org/wiki/Urbanisasi. Diakses

tanggal 8 Maret 2011