22
Riptono Widya Wacana Vol. 11 Nomor 1, Februari 2016 37 I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah. Pemahaman tentang disiplin adalah suatu keadaan tertib dimana orang-orang yang tergabung dalam suatu sistem tunduk pada peraturan-peraturan yang ada dengan senang hati,(Engkos Mulyasa, 2003:32) Perlu kita fahami tentang Bimbingan Konseling pada pembelajaran Broadcasting menekankan kepada proses keterlibatan langsung siswa untuk belajar di orientasikan pada proses pengalaman bahwa siswa akan belajar dengan baik jika apa yang di pelajari terkait dengan apa yang telah di ketahui (learning to know, learning to do, learning to live to gether) dan dengan kegiatan atau peristiwa yang akan terjadi di sekelilingnya, pembelajaran ini menekankan pada daya fikir yang tinggi. Tugas dankewajiban guru pembimbing baik yang terkait langsung dengan proses belajar mengajar maupun tidak terkait UPAYA MENINGKATKAN KEDISIPLINAN DALAM MATA PELAJARAN BROADCASTING MELALUI LAYANAN KONSELING INDIVIDUAL DENGAN PENDEKATAN BEHAVIORISTIK PADA SISWA KELAS XII BC 2 PROGRAM KEAHLIAN BROADCASTING SMKN 7 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2015/2016” Riptono Abstract The research aims to improve discipline of students in broadcasting subject through individual counseling service with behaviorism approach at the XII Bc II Broadcasting program of SMKN 7 Surakarta in the academic year of 2015/2016. According to the result of pre-research, carried out by the researcher at the class on October 2015, there were some problems there during teaching learning process: there were three students, students OAN, RAP, and MA, who had a problem because of less serious and not discipline during teaching and learning process, i.e. coming late to the classroom and not submitting the task in time. These caused guidance and counseling teacher conducted particular guidance in solving the problems. The method of the research is a classroom action research. It has been conducted in two cycles about individual counseling service with behaviorism approach based on the problem of the student, i.e. not discipline during the teaching learning process. The research finding showed that the result of pre-cycle was 33.33 % (very low), cycle one was 61.35% (moderate), and cycle two was 80% (high). After the counseling service was conducted, there was a simultaneous improvement, however it needed to be monitored so that the students had discipline attitude by carrying out a practice to strengthen themselves and they were accustomed to obey and to manage themselves through the discipline attitude. Key Words: Counseling Service, Discipline

UPAYA MENINGKATKAN KEDISIPLINAN DALAM MATA …

  • Upload
    others

  • View
    19

  • Download
    0

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: UPAYA MENINGKATKAN KEDISIPLINAN DALAM MATA …

Riptono Widya Wacana Vol. 11 Nomor 1, Februari 2016 37

I.PENDAHULUANA. Latar Belakang Masalah.Pemahaman tentang disiplin adalah

suatu keadaan tertib dimana orang-orangyang tergabung dalam suatu sistemtunduk pada peraturan-peraturan yangada dengan senang hati,(Engkos Mulyasa,2003:32) Perlu kita fahami tentangBimbingan Konseling pada pembelajaranBroadcasting menekankan kepada prosesketerlibatan langsung siswa untuk belajardi orientasikan pada proses pengalaman

secara langsung. Seperti yang telahdiungkap olehJohn Dewey (1916)

bahwa siswa akan belajar dengan baikjika apa yang di pelajari terkait denganapa yang telah di ketahui (learning toknow, learning to do, learning to live together) dan dengan kegiatan atauperistiwa yang akan terjadi disekelilingnya, pembelajaran inimenekankan pada daya fikir yang tinggi.Tugas dankewajiban guru pembimbingbaik yang terkait langsung dengan prosesbelajar mengajar maupun tidak terkait

”UPAYA MENINGKATKAN KEDISIPLINAN DALAM MATA PELAJARANBROADCASTING MELALUI LAYANAN KONSELING INDIVIDUAL DENGAN

PENDEKATAN BEHAVIORISTIKPADA SISWA KELAS XII BC 2 PROGRAM KEAHLIAN BROADCASTING

SMKN 7 SURAKARTA TAHUN PELAJARAN 2015/2016”

Riptono

Abstract

The research aims to improve discipline of students in broadcasting subject throughindividual counseling service with behaviorism approach at the XII Bc II Broadcasting programof SMKN 7 Surakarta in the academic year of 2015/2016. According to the result of pre-research,carried out by the researcher at the class on October 2015, there were some problems thereduring teaching learning process: there were three students, students OAN, RAP, and MA, whohad a problem because of less serious and not discipline during teaching and learning process,i.e. coming late to the classroom and not submitting the task in time. These caused guidance andcounseling teacher conducted particular guidance in solving the problems.

The method of the research is a classroom action research. It has been conducted in twocycles about individual counseling service with behaviorism approach based on the problem ofthe student, i.e. not discipline during the teaching learning process.

The research finding showed that the result of pre-cycle was 33.33 % (very low), cycle onewas 61.35% (moderate), and cycle two was 80% (high). After the counseling service wasconducted, there was a simultaneous improvement, however it needed to be monitored so that thestudents had discipline attitude by carrying out a practice to strengthen themselves and they wereaccustomed to obey and to manage themselves through the discipline attitude.

Key Words: Counseling Service, Discipline

Page 2: UPAYA MENINGKATKAN KEDISIPLINAN DALAM MATA …

38 Riptono Widya Wacana Vol. 11 Nomor 1, Februari 2016

langsung, sangatlah banyak danberpengaruh pada hasil belajar mengajar.(Syaiful Sagala:2008:12).

Berdasarkan hasil pra survey yangpeneliti lakukan di kelas XIIBroadcasting 2 SMK Negeri 7 Surakartapada bulan Oktober 2015, terdapatpermasalahan di kelas selama prosespembelajaran berlangsung, ada 3 siswayang bermasalah karena tidak disiplindalam mengikuti pelajaran; (Oan, RAP,dan MA), dalam mengikuti matapelajaran Broadcasting di kelas seringkali tidak disiplin, kurang serius dalammengikuti pelajaran, sering terlambatmasuk kelas, tugas-tugas yang diberikanoleh gurunya terlambatmengumpulkannya, dan ke tiga anaktersebut sepertinya membentuk gang(kelompok) yang sering menggangguteman-temannya. Akibatnya nilai-nilaiyang terkandung dalam mata pelajaranBroadcasting tidak dapat dipahami dandiamalkan peserta didik (Soewarso 2000:1-2), khusunya bagi siswa yang tidakdisiplin dan bermasalah kurang disiplindalam mata pelajaran Broadcasting yangdicapai oleh siswa tersebut hanya 6,6 danada sejumlah 3 siswa yang sangat rendahnilainya di bawah rata-rata kelas KriteriaKetuntasan Minimum (KKM) 7,3.Selanjutnya Sugiharto (2007:23)menjelaskan bahwa konselingbehavioristik adalah konseling yang dapatmenghilangkan perilaku maladaptifmenjadi perilaku yang diinginkan yangdapat dipelajari, adalah life modeling.Menurut Albert Bandura dalam M. Asrori(2008:15) life modeling merupakanproses mengamati dan meniru perilaku,

sikap orang lain sebagai modelmerupakan tindakan belajar.

Dari uraian di atas yang perlu kitafahami tentang layanan konselingindividual dengan pendekatanBehavioristik menekankan kepada prosesketerlibatan langsung siswa untukmenemukan artinya proses belajar diorientasikan pada proses. Proses belajardalam konteks ini tidak mengharapkanagar siswa hanya menerima pelajaran,akan tetapi proses mencari danmenemukan sendiri materi pembelajaran,sehingga siswa dituntut lebih disiplin dankreatif, khusunya bagi siswa yang tidakdisiplin di dalam kelas. Siswa yangmemperoleh konseling behavioristik lifemodeling dimungkinkan mampumencegah timbulnya masalah, mengatasimasalah dan mengembangkankemampuan yang dimiliki, untukmeningkatkan prestasi belajarBroadcasting dan kedisiplinan di kelas.

1. Definisi Konseling Behavioristik,Hamzah B. Uno (2007:25) menyatakanbahwa tingkah laku seseorang ditentukanoleh penguatan yang diterima dalamsituasi hidupnya. Tingkah laku dipelajariketika individu berinteraksi denganlingkungan, melalui hukum-hukumbelajar yakni, pembiasaan klasik,pembiasaan operan, dan peniruan.Berdasarkan informasi yang diperolehdari langkah assesmen, konselor danklien menyusun dan merumuskan tujuanyang ingin dicapai dalam konseling(Sugiharto, 2007:45).

Menurut Sofyan Willis (2010:69)dasar-dasar teori konseling behavioral

Page 3: UPAYA MENINGKATKAN KEDISIPLINAN DALAM MATA …

Riptono Widya Wacana Vol. 11 Nomor 1, Februari 2016 39

adalah bahwa perilaku dapat dipahamisebagai hasil kombinasi: 1. Belajar waktulalu dalam hubungannya dengan keadaanyang serupa, 2. Keadaan motivasionalsekarang dan efeknya terhadap kepekaanterhadap lingkungan, 3. Perbedaan-perbedaan biologi. Selanjutnya NamoraLubis, (2011:168) mengatakan bahwaterapi behavioristik merupakan pilihanutama bagi konselor untuk menanganiklien yang menghadapi masalah spesifik,dengan cara membelajarkan pada kondisilingkungan.

Tujuan dari konseling behavioristikyakni menghilangkan atau menghapuskantingkah laku mal adatif (masalah) untukdigantikan dengan tingkah laku baru yaitutingkah laku adaptif yang diinginkanklien. Konselor dan klien dapatmelakukan perumusan tujuan bersama-sama dengan tahapan: 1.

Mendefinisikan masalah yangdihadapi klien, dan klien mengkhususkanperubahan positif, 2. Tujuan yang benar-benar diinginkan klien, kemungkinanmanfaatnya, dan kemungkinankerugiannya. (Sugiharto, 2007:45).Menurut Sofyan Willis (2010:70) adalahuntuk membantu klien membuangrespon-respon yang lama yang merusakdiri, dan mempelajari respon-respon yangbaru yang lebih sehat, pendekatan iniditandai oleh: 1.Fokusnya pada perilaku,2. Kecermatan dan penguraian tujuan-tujuan treatment, 3. Formulasi prosedurtreatment khusus, dan 4. Penilaianobjektif. Menurut Sugiharto, (2007:46).Individu adalah subjek yang menerimalayanan, sedangkan konselor adalahpelaksana layanan.

Pendapat Sofyan Willis (2010:70)Strategi dan Teknik KonselingBehavioristik melalui tahapan sebagaiberikut: 1. Operant Conditioning, 2.Positive Reinforcement. 3 Penghentian(Extinction). 3. Flooding menyajikanitem-item untuk memaksimalkankecemasan, terutama efektif untukmenangani agrophobia. 4. ImplosiveTherapy, dimana klien diarahkan untukmembayangkan situasi yang mengancam.Misalnya, klien yang obsesif terhadap“kebersihan”. 5. Particpant Modelingterapis mendemonstrasikan sebelum klienberpartisipasi klien dalam treatmen. 6.Self Efficacy dan teknik-teknikmereduksi-takut. 7 Assertiveness (SocialSkills) Training latihan asertif bisaditerapkan terutama pada situasi-situasiinterpersonal dimana individu mengalamikesulitan untuk menerima kenyataan. 8.Self-Control teknik operan yang didesainuntuk menyebabkan “suppression” padatingkah laku bermasalah. 9.ContingencyContracting, teknik manajemen tingkahlaku, yang berguna untuk meredusirperselisihan/perpecahan marital bagi pararemaja. 10. Behavior Therapy andBehavioral Medicine, Pomerlau (UmanSuherman, 2008:388) menggambarkanbehavioral medicine, sebagai klinikalmengarahkan.Tahapan Konseling Behavioristik:1. Tahap assessment tingkah lakubermasalah dari klien saat ini(behaviour), 2 Antecendent danconsequence, 3 motivasi klien, 4 Selfcontrol klien, 5 Lingkungan fisik dansosial budaya klien. 6 tahap goal setting:konselor harus berkeinginan untuk

Page 4: UPAYA MENINGKATKAN KEDISIPLINAN DALAM MATA …

40 Riptono Widya Wacana Vol. 11 Nomor 1, Februari 2016

membantu klien serta harus adakesempatan untuk membantu menjelajahlingkungan pencapaian tujuan. 6. Tahapdalam rangka mencapai tujuan yang telahditetapkan bersama antara konselor danklien. 7.Tahapan evaluasi dan terminasipenghentian konseling yang tidak hanyastopping, tetapi juga untuk: a. Mengujiapa yang dilakukan oleh klien padadekade terakhir, b. Eksplorasikemungkinan kebutuhan konselingtambahan, c. Membantu klienmentransfer apa yang dipelajari klien,d.Memberi jalan untuk memantau secaraterus-menerus tingkah laku klien.

Pengertian Prestasi berarti hasilyang telah dicapai berusaha memperolehkepandaian atau ilmu (Depdiknas,2005:14), penguasaan pengetahuan atauketerampilan yang dikembangkan olehmata pelajaran, lazimnya ditujukandengan nilai atau angka yang diberikanoleh guru. Ngalim Purwanto (2006:28)memberikan pengertian prestasi belajaryaitu “hasil yang dicapai oleh seseorangdalam usaha belajar sebagaimana yangdinyatakan dalam raport.” SelanjutnyaWinkel (2006:162) mengatakan bahwa“prestasi belajar adalah suatu buktikeberhasilan belajar atau kemampuanseseorang siswa dalam melakukankegiatan belajarnya sesuai dengan bobotyang dicapainya.” Menurut SyamsuMappa (2003:2), hasil belajar yangdicapai siswa dalam suatu mata pelajarantertentu dengan menggunakan tes standarsebagai alat pengukur keberhasilanmurid”. Sedangkan Umar Tirtaraharja(2001:19) mengemukakan “Prestasibelajar adalah taraf kemampuan aktual

yang bersifat terukur, berupa pengalamanilmu pengetahuan, keterampilan, sikap,interes yang dicapai oleh murid dari apayang dipelajari di sekolah”. “Prestasibelajar adalah penguasaan pengetahuanatau keterampilan yang dikembangkanoleh mata pelajaran, lazimnya ditujukandengan nilai atau angka nilai yangdiberikan oleh guru” (CormentynaSitanggang, 2006: 60). S. Nasution(2006:17) prestasi belajar adalah:”Kesempurnaan yang dicapai seseorangdalam berfikir, merasa dan berbuat.

Dapat disimpulkan bahwa prestasibelajar adalah ukuran keberhasilanseorang siswa setelah menempuh prosesbelajar di sekolah, yang dapat diketahuidengan menggunakan alat evaluasi yangdisebut tes prestasi belajar, dikatakansempurna apabila memenuhi tiga aspekyakni: kognitif, affektif dan psikomotor.

Faktor-faktor yang mempengaruhiprestasi belajar: 1) Faktor Intern, adalahfaktor yang timbul dari dalam diriindividu itu sendiri, adapun yang dapatdigolongkan ke dalam faktor intern yaitukecerdasan/intelegensi, bakat, minat danmotivasi. Ngalim Purwanto (2006:28)bahwa “bakat dalam hal ini lebih dekatpengertiannya dengan kata aptitude yangberarti kecakapan, yaitu mengenaikesanggupan-kesanggupan tertentu.”Kartono (2006:2) menyatakan bahwa“bakat adalah potensi atau kemampuankalau diberikan kesempatan untukdikembangkan melalui belajar akanmenjadi kecakapan yang nyata.” MenurutSyah Muhibbin (2008:136) mengatakan“bakat diartikan sebagai kemampuanindividu untuk melakukan tugas tanpa

Page 5: UPAYA MENINGKATKAN KEDISIPLINAN DALAM MATA …

Riptono Widya Wacana Vol. 11 Nomor 1, Februari 2016 41

banyak bergantung pada upayapendidikan dan latihan.” 2) Minat adalahkecenderungan yang tetap untukmemperhatikan dan mengenai beberapakegiatan. Kegiatan yang dimilikiseseorang diperhatikan terus menerusyang disertai dengan rasa sayang.Menurut Winkel (2006:24) minat adalah“kecenderungan yang menetap dalamsubjek untuk merasa tertarik padabidang/hal tertentu dan merasa senangberkecimpung dalam bidang itu.”Selanjutnya Slameto (2003:57)mengemukakan bahwa minat adalah“kecenderungan yang tetap untukmemperhatikan dan mengenang beberapakegiatan, kegiatan yang diminati siswa. 3)Motivasi dalam belajar adalah faktoryang penting karena hal tersebutmerupakan keadaan yang mendorongkeadaan siswa untuk melakukan belajar.Nasution (2005: 73) mengatakan motivasiadalah “segala daya yang mendorongseseorang untuk melakukan sesuatu.”Sedangkan Sardiman (2007: 77)mengatakan bahwa “motivasi adalahmenggerakkan siswa untuk melakukansesuatu atau ingin melakukan sesuatu.” 4)Faktor Ekstern, adalah faktor-faktor yangdapat mempengaruhi prestasi belajaryang sifatnya di luar diri siswa, yaitubeberapa pengalaman-pengalaman,keadaan keluarga, lingkungan sekitarnyadan sebagainya. Pengaruh lingkungan inipada umumnya bersifat positif dan tidakmemberikan paksaan kepada individu.Menurut Slameto (2003:60) faktorekstern yang dapat mempengaruhi belajaradalah: (1) Keadaan Keluarga yangsehat besar artinya untuk pendidikan

kecil, tetapi bersifat menentukan dalamukuran besar yaitu pendidikan bangsa,negara dan dunia.” Dalam hal iniHasbullah (2004: 46) mengatakan:“Keluarga merupakan lingkunganpendidikan yang pertama, karena dalamkeluarga inilah anak pertama-tamamendapatkan pendidikan dan bimbingan,sedangkan tugas utama dalam keluargabagi pendidikan anak ialah sebagaipeletak dasar bagi pendidikan akhlak danpandangan hidup keagamaan. (2)Keadaan Sekolah, pendidikan formalpertama yang sangat penting dalammenentukan keberhasilan belajar siswa,karena itu lingkungan sekolah yang baikdapat mendorong untuk belajar yanglebih giat. Menurut Kartono (2006:6)mengemukakan “guru dituntut untukmenguasai bahan pelajaran yang akandiajarkan, dan memiliki tingkah lakuyang tepat dalam mengajar.” Oleh sebabitu, guru harus dituntut untuk menguasaibahan pelajaran yang disajikan, danmemiliki metode yang tepat dalammengajar. (3) Lingkungan Masyarakatmerupakan salah satu faktor yang tidaksedikit pengaruhnya terhadap hasilbelajar siswa dalm proses pelaksanaanpendidikan. Karena lingkungan alamsekitar sangat besar pengaruhnyaterhadap perkembangan pribadi anak,sebab dalam kehidupan sehari-hari anakakan lebih banyak bergaul denganlingkungan dimana anak itu berada.

Oleh karena itu, apabila seorangsiswa bertempat tinggal di suatulingkungan temannya yang rajin belajarmaka kemungkinan besar hal tersebutakan membawa pengaruh pada dirinya,

Page 6: UPAYA MENINGKATKAN KEDISIPLINAN DALAM MATA …

42 Riptono Widya Wacana Vol. 11 Nomor 1, Februari 2016

sehingga ia akan turut belajarsebagaimana temannya.

2. Tinjauan Tentang Sikap Disiplin danTata Tertib Sekolah:

PengertianSikapMenurut SarlitoWirawan (1999:232) “Sikap adalahsesuatu yang dipelajari (bukan bawaan).”Oleh karena itu sikap lebih dapatdibentuk, dikembangkan, dipengaruhi,dan diubah. “Sikap adalah kesediaanmental dan kecenderungan seseoranguntuk bertindak terhadap suatu obyek.Menurut Gerungan (2004:24-27), “sikapdibagi menjadi dua macam yaitu: a. SikapSosial, sikap sosial adalah sesuatu sikapyang dinyatakan oleh cara-cara kegiatanyang sama dan berulang-ulang terhadapsosial. b. Sikap Individual, dimilikiseseorang saja, berkenaan dengan obyek-obyek yang bukan merupakan obyek,perhatian sosial. Berdasarkan pendapattersebut di atas penulis menyimpulkanbahwa sikap adalah kecenderunganseseorang terhadap objek tertentu yangdidasari oleh perasaan senang (menerima)atau tidak senang (menolak) karenaadanya keyakinan terhadap suatu nilaitertentu. Ciri-ciri sikap adalah sebagaiberikut: (1) Sikap bukan merupakanpembawaan, tetapi dibentuk dandipelajari sepanjang perkembangan. (2)Sikap tidak berdiri sendiri, tetapimengandung relasi tertentu antaraindividu yang satu dengan individu yanglain. (3) Sikap mempunyai segi motivasidan segi persamaan diri inilah yangmembedakan sikap dengan kecakapanatau pengetahuan yang dimilikiseseorang. Bimo Walgito, 2005:113).

Faktor yang mempengaruhi sikap adalah:(1) Faktor Pengalaman Khusus (Specificexperience) Bahwa sikap terhadap suatuobjek itu terbentuk melalui pengalamankhusus. Misalnya: para siswa yangmendapat perlakuan baik dari gurunya,baik pada waktu belajar maupun di luarjam pelajaran, maka akan terbentuk padadirinya sikap yang positif terhadap dosentersebut. (2) Faktor Komunikasi denganOrang Lain (Communication with otherpeople). (3) Faktor Model banyak sikapterbentuk terhadap sesuatu itu denganmelalui jalan mengimitasi (meniru) (4)Faktor Lembaga-lembaga Sosial(institutional) Suatu lembaga dapat jugamenjadi sumber yang mempengaruhiterbentuknya sikap. Menurut AgusSujatno (2001:45) “Faktor-faktor yangmempengaruhi sikap adalah: (1)Pengalaman Pribadi, (2) Pengaruh, (3)orang lain yang dianggap penting, (4)Pengaruh kebudayaan, (5) Mediamassa, (6) Lembaga pendidikan danlembaga agama, (7) Pengaruh faktoremosional.” Adapun faktor-faktor yangmempengaruhi sikap tersebut di atas: (1)Pengalaman Pribadi (2) Pengaruh oranglain yang dianggap penting akan banyakmempengaruhi status sosialnya lebihtinggi, teman sebaya, teman dekat, guru,teman. (3) Pengaruh kebudayaan sikapnegatif terhadap kehidupanindividualisme. (4) Media massa Sebagaisarana komunikasi, berbagai bentukmedia massa seperti televisi, radio, suratkabar, majalah, dan lain-lain mempunyaipengaruh besar dalam pembentukan opinidan kepercayaan orang. (5) Lembagapendidikan dan lembaga agama

Page 7: UPAYA MENINGKATKAN KEDISIPLINAN DALAM MATA …

Riptono Widya Wacana Vol. 11 Nomor 1, Februari 2016 43

meletakkan dasar pengertian dan konsepmoral dalam diri individu. (6) Pengaruhfaktor emosional ditentukan oleh situasilingkungan dan pengalaman pribadiseseorang.

3. Pengertian Disiplin, Menurut AliFais, (2000:76) Kedisiplinan merupakansuatu keadaan yang tertib, taat danbertanggung jawab menjalankan tugasdan peraturan yang telah ada tanpa rasaterpaksa, atau dengan kata lain kesadaranhati menjalankan tugas sesuai denganperaturan, tata tertib dengan sungguh-sungguh serta dengan rasa tanggungjawab yang tinggi. Menurut SoegardaPoerbakawaca, dkk, (2003:51) pengertiandisiplin menurut ensiklopedia diartikan:1.Proses mengarahkan dorongankeinginan kepada sesuatu cita-cita atautujuan tertentu untuk mencapai efek yanglebih besar. 2. Pengawasan langsungterhadap tingkah laku bawaan (pelajar/siswa) dengan menggunakan suatuhukuman dan hadiah. 3 Dalam sekolahsuatu tingkat tata tertib untuk mencapaikondisi yang baik guna memenuhi fungsipendidikan, sikap mental yangmengandung kerelaan mematuhi semuaketentuan, peraturan dan norma yangberlaku dalam menunaikan tugas dantanggungjawab.” (Yoyok HS, 2004 : 24)“Pengaruh untuk menolong anakmempelajari cara menghadapi tuntutan-tuntutan dari lingkungannya dan caramengembangkan tuntutan-tuntutannyayang ingin digunakan atau diajukanterhadaplingkungannya.” (SambaniSuharjo, 2003: 75). Senada denganpendapat di atas Sri Esti WuryaniDjiwandono, (2002: 302) disiplin adalah

“Latihan batin dan watak dengan maksudsupaya segala perbuatannya selalumentaati tata tertib”.

Macam-macam Kedisiplinan antaralain adalah: 1.Kedisiplinan di sekolahyang meliputi: a. Datang dan pulangsekolah pada waktunya, b. Mengikutiprogram sekolah. c. Memakai pakaianseragam sekolah, d. Mempersiapkan diriuntuk mengikuti pelajaran. e. Mematuhitata tertib yang berlaku di sekolah, f.Turut membantu terlaksananya tata tertibsekolah. g. Kedisiplinan dalam kehidupansehari-hari: (1) tidur dan bangun tidurtepat pada waktunya, melaksanakan tugasrumah sesuai dengan tata tertib di rumah,Disiplin dalam beribadah menurut agamadan kepercayaan masing-masing. (2)disiplin dalam hidup bermasyarakat,berbangsa dan bernegara misalnya. (3)membayar pajak tepat pada waktunya. (4)melaksanakan tata tertib dalam hidupbermasyarakat, berbangsa dan bernegara.(5) mematuhi hukum yang berlaku. (6)dalam kehidupan sehari-hari disiplinbiasa diikutsertakan dengan keadaan yangtertib. Contoh: apabila sekolah telahmenetapkan masuk jam 07.00 makasebagai siswa yang baik harus mentaatiperaturan yang berlaku di sekolahnya.Jika siswa datang terlambat maka diaharus meminta ijin terlebih dahulu kepadaguru piket. Apabila siswa tersebutterlambat lebih dari 15 menit dia harusmeminta konsekuensi yang telahditetapkan di sekolah itu.

Berdasarkan uraian di atas makadapat disimpulkan bahwa macam-macamdisiplin adalah disiplin di rumah, disekolah dan di masyarakat. Tujuan dan

Page 8: UPAYA MENINGKATKAN KEDISIPLINAN DALAM MATA …

44 Riptono Widya Wacana Vol. 11 Nomor 1, Februari 2016

Manfaat Disiplin. Disiplin bertujuan“membentuk manusia yang mempunyaiswa-karma yang berdisiplin”, yang dapatmenjadi anggota masyarakat yangbahagia, yang bebas merdeka terlepasdari segala ikatan-ikatan yangmenghambat terlaksananya masyarakatyang adil dan makmur (BalnadiSutadipura, 1998:85).

Manfaat disiplin bagi manusia ituada tiga yaitu manfaat disiplin bagi dirisendiri di mana dapat membentuk watak,sikap dan prilaku yang didasari nilai-nilaibudaya positif serta menghadirkan rasaaman dan tentram karena terhindar dariancaman hukuman. Sedangkan manfaatyang berikutnya adalah manfaat disiplinbagi kehidupan masyarakat yaitumenciptakan suasana tertib, aman,tentram sejahtera lahir dan batin sertamenciptakan kehidupaan yang selaras danseimbang antara sesama manusia. Sedangbagi bangsa Indonesia manfaat disiplinadalah untuk menciptakan bangsa yangmengerti hak dan kewajiban dan tidakmerugikan bangsa lain.

Berdasarkan uraian di atas makadapat disimpulkan bahwa sikap disiplinadalah perilaku atau perbuatan seseoranguntuk mentaati segala ketentuan,peraturan, norma, tata tertib yang disertaioleh adanya kesadaran norma-norma dankewajiban yang telah disepakati bersamadalam melaksanakan tugaskecenderungan seseorang terhadap objektertentu yang didasari oleh perasaansenang.

4. Tinjauan Tentang Broadcasting diIndonesia, usia media broadcastingtelevisi masih sangat relative muda, bila

dibandingkan dengan media komunikasilainya, seperti surat kabar atau radio.Keberadaan broadcasting televisi dinegeriini pun belum banyak dibicarakan secaraakademis. Dalam sejarahnya baik Koranmaupun penyiaran radio memilikipersinggungan yang sangat dekat dengan“semangat nasional” yang dibangunsebelum dan sesudah proklamasikemerdekaan 17 Agustus 1945. Olehsebab itu kelahiran kedua media ituadanya sebuah keinginan yang kuat untukmengelola informasi secara independen.

Pengertian Broadcasting adalahmerupakan suatu kegiatan penyiaran yangdilakukan oleh seorang penyiar. Di dalamlembaga penyiaran dari setasiun radiopenyiaran bersifat audiorik dan penyiaranBroadcasting televisibersifat audio danvideo ini dapat dikatakan suatu kegiatanyang senantiasa selalu menarik perhatiankhalayak masyarakat luas baik secaraaudiotorik dan visual.

Martin Essin (dalam saktiyantiJahya 2006) mengataklan era sekarangini adalah “The of Television” yangartinya dimana broadcastingtelevisimenjadi kotak ajaip yang dapatmembius para penghuni gubung-gubungreyot masyarakat dunia ketiga” (cybersspace). Broadcasting suatu kehidupandunia yang penuh dengan kegemerlapan,dimana dalam penyajian informasi, ide,gagasan yang sifat penyampaianyadifisualisasikan dilayar kaca dalambentuk program yang dikemas secaraapik, tematis, edukasi penuh pesonadengan satu tujuan agar informasi danberita tersebut bias sampai kehadapan

Page 9: UPAYA MENINGKATKAN KEDISIPLINAN DALAM MATA …

Riptono Widya Wacana Vol. 11 Nomor 1, Februari 2016 45

khalayaknya serta bias diterima dandipahami secara baik. (Eva Arifin 2008).

Televisi broadcasting memiliki suatukeunggulan yang sangat potensial, dimana masyarakat harus tetap terpaku,menatap layar kaca bahkan tidak bergeraksampai lebih kurang enam jam lamanya(Terhipnotis) terutama pada anak-anakdimana program-program bervariatif(beragam) ternyata kehadiran televisemempunyai dampak yang kuat terhadapperkembangan jiwa anak-anak, misalnyasampai ada perubahan dari sikap perilakudari seorang anak yang menjadi malasbelajar, sulit disuruh orang tua.Broadcasting televisi suatu kegiatanpenyiaran dimana penyampaian beritadan informasi yang dikerjakan dalambentuk team, dan dituntut suatukereatifitas yang tinggi di dalampenyajian program acara yang akandisajikan dilayar kaca, dengan suatuperpaduan yang harmonis antara signalsuara dan signal gambar yang dilakukansecara bersama. Menurut Dominick tahun2004 kekuatan yang dominat padabroadcasting televisisebagai mediunhiburan, oleh sebab itu dalam melakukansuatu produksi program acarabroadcasting televisidan penyiaran radiolebih pada sebuah hiburan yang dapatmenyenankan dan menentramkan suatuhati13. Contoh pada siaran hiburan danmelodi Empat mata oleh trans TVdengan hostnya indi baren serta indrabekti, road show musik, dahsyat yangdipadu oleh olga, rafi ahmad dan lunamaya di RCTI serta sederetan sinetrontersanjung, candy, cinta fitri, kepompongdan banyak lagi.

B. Kerangka BerpikirTindakan kelas yang dilaksanakan

berupa layanan konseling yangdilaksanakan oleh guru BK di di kelassecara sistematis dengan tindakanlayanan bimbingan serta pengelolaankelas melalui strategi, pendekatan,metode dan teknik pengajaran yang tepatdengan penerapannya kondisional yangmengacu pada perencanaaan tindakanyang telah tersusun sebelumnya.

Dalam penelitian setiap tindakanpenelitian akan mengamati reaksi siswayang bermasalah dalam setiap tindakanpengajaran perlu mendapat perhatiansehingga siklus tersebut harus terusberulang sampai permasalahan tersebutteratasi.

Kerangka berpikir:

Gambar .1.

Kerangka Berpikir

Kondisi Awal

Pelaksanaan

Konselingbehavioristikteknik lifemodeling belumpernahdilaksanakansecara ideal diKelas XII BC 2

Siklus I

Siklus II

Gurumelaksanakanlayanan konselingbehavioristikteknik modelingsecara ideal dikelas XII BC 2

Kedisiplinan ke3 siswa yangbermasalahmeningkat

Kedisiplinan3siswa rendahdalammengikutipelajaranBroadcasting

Page 10: UPAYA MENINGKATKAN KEDISIPLINAN DALAM MATA …

46 Riptono Widya Wacana Vol. 11 Nomor 1, Februari 2016

II. METODE PENELITIAN

Subyek dalam penelitian adalah siswakelas XII BC 2 SMK N 7 Surakarta,dengan nama samaran (Oan, RAP,MA). teknik pengumpulan data metodeobservasi metode dokumentasi, danwawancara. Teknik analisis data, padapenelitian tindakan kelas ini, datadianalisis sejak tindakan pembelajaranguru secara kooperatif melakukan dandikembangkan selama proses refleksisampai proses penyusunan laporanKetuntasan Minimal (KKM) yaitu 75rancangan penelitian ini dilaksanakandalam 2 siklus, yaitu: a. Rancangansiklus I, b. Perencanaan, c. Pelaksanaan,d. Rancangan Siklus II.

Prosedur penelitian tindakan kelasini merupakan siklus dan dilaksanakansesuai perencanaan tindakan atauperbaikan dari perencanaan tindakanterdahulu. Penelitian ini diperlukanevaluasi awal untuk mengetahuipenyebab kurangnya disiplin siswa sertarendahnya prestasi belajar siswa danobservasi awal sebagai upaya untukmenemukan fakta-fakta, disesuaikankajian teori untuk menyusunperencanaan tindakan yang tepat dalamupaya meningkatkan disiplin danprestasi belajar siswa. Hasil analisissecara deskriptif kualitatif.

II. Hasil Penelitian dan PembahasanKondisi kedisiplinan yang rendah

ini diyakini dapat mempengaruhi padatingkah laku anak pada kegiatan lainnyadi sekolah dalam mengikuti prosespembelajaran pada siswa XII BC 2SMK

N 7 Surakarta harus segera diatasi dalamproses pembelajaran di kelas tersebutsalah satunya karena belum optimalnyalayanan bimbingan dan konseling,khususnya konseling behavioristikteknik life modeling belum pernahdilaksanakan secara ideal. Siswa agardapat mengubah perilaku yangmaldaptif, termasuk di dalamnyaketidakdisiplinan dalam mengikutiproses pembelajaran di kelas.

Kedisiplinan dalam melaksanakanproses pembelajaran melalui tata tertibyang telah ditentukan oleh sekolah danberlaku bagi semua siswa dan guru dikelas harus dipatuhi bersama, kelas XIIBC 2 yang diterapkan di SMK N 7Surakarta. Kriteria tersebut disusunberdasarkan koordinasi antara KepalaSekolah, Wakil Kepala Sekolah, danGuru Bimbingan Konseling di sekolahtersebut. Disiplin kelas menurut tatatertib SMK N 7 Surakarta adalah siswawajib berdisiplin dalam melaksanakantata tertib di kelas dengan ketentuansebagai berikut:Umum: 1) Sopan dantertib.2) Berpakaian seragam sekolah.3)Datang tepat waktu dalam setiap matapelajaran.4) Mengerjakan tugas-tugasyang diberikan guru.5) Tidak membuatkeributan di kelas pada saat pelajaranberlangsung.6) Tidak diperkenankanmembawa senaja tajam di kelas.7)Membuat surat ijin (dokter) bila tidakmasuk/sakit.8) Siswa wajib menjagakebersihan kelas.9) Siswa wajibmemenuhi administrasi sekolah.10)Siswa wajib mengisi presensi hadir dikelas.

Page 11: UPAYA MENINGKATKAN KEDISIPLINAN DALAM MATA …

Riptono Widya Wacana Vol. 11 Nomor 1, Februari 2016 47

Kriteria dalam aturan di kelas inidimaksudkan untuk meningkatkankedisiplinan siswa di sekolahkhususnya yang berkaitan dengankedisiplinan berseragam. Apabilasiswa bisa berlaku disiplin dalammengikuti proses pembelajaran dikelas maka siswa tersebut tidak akanbermasalah dengan aturan yangditerapkan di sekolah, akan penelitisajikan peta konsep sebagai berikut:

Peta konsep

Dalam melakukan disiplin dikelas, semua siswa wajib mentaati tatatertib sekolah, dan di kelas sesuaidengan norma pendidikan berdasarkanstandar kompetensi sebagai berikut: 1)Mencapai kematangan dalam berimandan bertakwa kepada Tuhan YangMaha Esa. 2) Mencapai kematangandalam gambaran dan sikap tentangkehidupan mandiri secara emosional,social, dan intelektual sehinggamenjadi warga masyarakat yang baik,yaitu masyarakat sekolah. 3) Mencapaikematangan dalam system, etika dan

nilai yang tergambar dalam sosokpelajar yang melaksanakan tata tertibsekolah. 3). Kompetensi Dasar Siswamampu mengenal dan bersediamelaksanakan tatatertib sekolah yangberlaku secara benar dan bertanggungjawab. Siswa adalah orang yangterlibat langsung dalam duniapendidikan.Dalam perkembangannyaharus belajar mengenal dan dapatmenyesuaikan lingkungansekitarnya.Ini dilakukan agar siswadapat mengetahui dan menempatkanposisinya ditengah-tengah masyarakatsekaligus mampu mengendalikan diri.Sifat pengendalian diri harus ditumbuhkembangkan pada dirisiswa.Pengendalian diri disinidimaksudkan adalah suatu kondisidimana seorang dalam perbuatannyaselalu dapat menguasai diri sehinggatetap mengontrol perilakunya sendiri.Masalah kediplinan siswa menjadisangat berarti bagi kemajuan sekolah,demikian pula di kelas yang tertibakan selalu menciptakan prosespembelajaran yang lancer dan baik.Sebaliknya, pada sekolah yang tidaktertib kondisinya akan tidak jauhberbeda. Pelanggaran-pelanggaranyang terjadi pada siswa yangmembandel (bermasalah) sudahdianggap barang biasa dan untukmemperbaiki keadaan yang demikiantidaklah mudah.

Pada kondisi awal masih rendahnyatingkat kedisiplinan bagi ke 3 siswadengan nama samaran (Oan, RAP, MA)yang bermasalah dikarenakan olehberbagai sebab, hal ini nampak dari hasil

Mentaati Peraturan di Kelas

Tata Tertib di Kelas

Layanan BimbinganPelanggaran Disiplindan Tata Tertib di Kelas

Perlunya disiplin

Tertib

Page 12: UPAYA MENINGKATKAN KEDISIPLINAN DALAM MATA …

48 Riptono Widya Wacana Vol. 11 Nomor 1, Februari 2016

observasi yang dilakukan dengankriteria kurang berdisiplin dalam haltidak: (1) Datang tepat waktu; (2):Memakai seragam lengkap; (3) gaduh dikelas; (4) Menyimak penjelasan dariguru; (5) Membawa buku materi; (6)Menggunakan bahasa yang baik di kelas.Hasil observasi dapat ditunjukkan dalamtable sebagai berikut di bawah ini:

Tabel 1

Hasil Prosentase Observasi 1

Proses Layanan Konseling SiswaKelas XII BC 2

Subjek

JumlahKedisplin

an

Persentase

Kategori

RAP2 (2:6) x

100 % =33 %

SangatRendah

Oan1 (1:6) x

100 5 =17 %

SangatRendah

MA3 (3:6) x

100 % =50 %

Rendah

Rata-rata33,33 % Sangat

Rendah

Berdasarkan data tabel hasilobservasi tersebut di atas dijelaskanbahwa OAN(siswa ke-1), 17 % sangatrendah telah melakukan tindakan darienam kategori kedisiplinan hanya dua

yang dilakukannya dengan Menyimakpenjelasan dari guru, danmenggunakan bahasa yang baik dikelas, artinya tidak menggunakan bahasakasar dengan teman-temannya, dapatdisimpulkan bahwa si OAN masihmelakukan tindakan tidak disiplin dikelas di bidang yang lain dalam matapelajaran broadcasting, berikutnya RAP(siswa ke-2) tingkat ke disiplinan hanya33 % yang bermasalah dan kurangdisiplin hanya satu tindakan tata tertibyang dilakukannya dengan Memakaiseragam lengkap, hampir setiap haridilakukannya tindakan tidak disiplin padatata tertib yang lain, ini bisadikategorikan kurang disiplin, demikianpula yang terjadi pada MA (siswa ke-3)50 % yang kurang disiplin namun masihbisa ditolerir dalam hal datang tepatwaktu, tidak membuat gaduh di kelas,dan menggunakan bahasa yang sopandi kelas.

secara prosentase dalam grafik bulatsebagai berikut:

Keterangan pada grafik bulatmenunjukkan 17 %, sangat rendah telahmelakukan tindakan dari enam kategorikedisiplinan hanya dua yangdilakukannya dengan: Menyimakpenjelasan dari guru, dan menggunakan

33%

17%

50%

Page 13: UPAYA MENINGKATKAN KEDISIPLINAN DALAM MATA …

Riptono Widya Wacana Vol. 11 Nomor 1, Februari 2016 49

bahasa yang baik di kelas 33 %, yangbermasalah dan kurang disiplin hanyasatu tindakan penyimpangan tata tertibyang dilakukannya dengan Memakaiseragam lengkap 50 % yang kurangdisiplin namun masih bisa ditolerir karenalebih disiplin dari yang lain dalam haldatang tepat waktu, tidak membuatgaduh di kelas, dan menggunakan bahasayang sopan di kelas.

Kesimpulan dari bagan di atas bisadideskripsikan bahwa tingkat kedisiplinansiswa dalam mengikuti mata pelajaranbroadcastingmasih sangat rendah denganrata-rata skor persentase hanya mencapai33,33%. Data ini semakin menguatkanasumsi jika dibutuhkan layanan khususuntuk meningkatkan kedisplinan siswadalam mengikuti mata pelajaranbroadcasting, yakni melalui layanankonseling behavioristik.

3. Proses Pelaksanaan Tindakan

a. Siklus 1 Perencanaan1) Menetapkan kolaborator yaitu

guru bimbingan dan konseling.2) Mengatur waktu pertemuan.3) Membuat rancangan pelaksanaan

konseling behavioristik sesuaidengan prosedur.

4) Menetapkan fasilitas layanankonseling behavioristik (ruangkonseling).

b. Menyiapkan alat evaluasi proseskonseling (laiseg).

c. Tindakan: Pertemuan 1Menerapkan tindakan layanankonseling behavoristik denganprosedur:

1) Tahap Awala) Penerimaan guru terhadap

siswa.b) Membuka layanan konseling

behavioristik.c) Memimpin do’a.d) Perkenalan.e) Permainan pembentukan

untuk meningkatkan dinamikakelompok.

2) Tahap Peralihana) Penjelasan pengertian, tujuan,

fungsi, dan asas-asaskonseling behavioristikkepada siswa.

b) Pemberian motivasi oleh guruagar siswa lebih bersemangatuntuk mengikuti kegiatan.

c) Pengucapan janji untuk tetapmenjaga rahasia/isi bahasan.

3) Tahap Intia) Assesment, bertanya secara

mendalam dengan siswatentang mengapa merekakurang memiliki kedisiplinanyang tinggi dalam matapelajaran broadcasting.

b) Implementasi teknik, dalamimplementasi teknik ini yangakan dilakukan yaitumenetukan strategi mana yangakan dipakai dalam mencapaitingkah laku yang dinginkan.Dalam penelitian inikonselormenggunakan tekniklife modeling. Model yangdigunakan oleh guru adalahdirinya sendiriyang bisamemberikan ulasan dancontoh langsung tentang

Page 14: UPAYA MENINGKATKAN KEDISIPLINAN DALAM MATA …

50 Riptono Widya Wacana Vol. 11 Nomor 1, Februari 2016

kedisiplinan dan manfaat apayang bisa didapat dari haltersebut.

c) Evaluasi-terminasi.d) Feed back oleh siswa tentang

apa yang disampaikan olehguru.

4) Tahap Pengakhirana) Membuat kesimpulan hasil

kegiatan.b) Menawarkankegiatan lanjutan

kepada siswa.c) Memimpin do’a penutup.

Tindakan: Pertemuan 2

a) memberikan ulasan dan contohlangsung tentang kedisiplinandan manfaat apa yang bisadidapat dari hal tersebut.

b) Evaluasi-terminasi.c) Feed back oleh siswa tentang

apa yang disampaikan olehguru sebagailife model.

Berdasarkan daftar tabelpenilaian sikap tentangproses layanan konselingsiswa kelas XII BC 2program keahlianBroadcasting SMKN 7Surakarta,

melalui tabel tersebut di atasdapat digambarkan pada grafiksebagai berikut:

Berdasarkan data grafik tentang proseslayanan konseling siswa kelas XII BC2 Program Keahlian BroadcastingSMKN 7 Surakarta, rata-rata proseslayanan konseling pada siswa berjalanlancar dan tertib, dengan skor tinggi 2(dua) dengan nilai masing-masing71%, dan dengan skor 61 % dengankategori sedang, sedangkan 29%-39%dinyatakan kurang, namun layanankonseling yang dilakukan untukmengatasi permasalahan ke 3 siswayang tidak disiplin dapat dilakukandengan optimal sampai terjadiperubahan perilaku sesuai yangdiharapkan konselor, yaitu bersikapdisiplin dalam mengikuti prosespembelajaran di kelas. Padapertemuan 1 siklus 1 adalah 61 %.Skor ini menandakan bahwapelaksanaan tindakan masuk padakategori sedang. Sedangkan untuksiklus 1 pertemuan 2 skor yangdiperoleh nilai tinggi adalah 71 %,skor tersebut masuk dalam kategoritinggi. Ini artinya ada peningkatanperan guru maupun siswa dalampelaksanaan tindakan. Namundemikian, untuk lebih meningkatkanhasil layanan, guru sebagai lifemodelmaupun siswa diharapkan lebihmengoptimalkan peran dan fungsinya

0

10

20

30

40

50

60

70

80

Sedang/Tinggi

Kurang

Page 15: UPAYA MENINGKATKAN KEDISIPLINAN DALAM MATA …

Riptono Widya Wacana Vol. 11 Nomor 1, Februari 2016 51

agar nantinya tujuan layanan bisatercapai secara efektif.

Kesimpulan dari paparan dan analisisdata tersebut di atas bahwa proseslayanan konseling siswa kelas XII bc 2program keahlian broadcasting SMKN7 Surakarta, dinyatakan bagus dantelah memenuhi standart layanan BK.

d. RefleksiSebelum melaksanakan refleksi,

peneliti yang sebagai guru BKmelakukan pengamatan terhadap siswasaat mengikuti mata pelajaranbroadcasting setelah dikenai tindakan

Menggunakan bahasa yang baikdi kelas. Tanda (-) = Tidak memakai;Tanda (√) = Memakai.

Tabel 2 Rekapitulasi Hasil Observasi

Prosentase Proses Layanan KonselingSiswa Kelas XII BC 2

Program Keahlian BroadcastingSMKN 7 Surakarta

Subjek JumlahKedisplinan

Persentase Kategori

Oan4 (4:6) x 100

% = 67 %Sedang

RAP3 (3:6) x 100

5 = 50 %Rendah

MA4 (4:6) x 100

% = 67 %Sedang

Rata-rata(3,6:6) x100 % =61,33 %

Sedang

Dari tabel 5 tentang proses layanankonseling siswa kelas XII BC 2program keahlian Broadcasting

SMKN 7 Surakarta dapat diuraikanbahwa Oan dan MA telahmengalami perubahan setelahmendapatkan layanan konselingdengan tingkat kemajuan 67%memasuki kategori sedang, berartimasih bisa ditingkatkan melaluilayanan bimbingan yang intensif.Pada kondisi RAPyang masihcukup memprihatinkan karena 50%tingkat kedisiplinan yang masihrendah, maka perlu perhatiankhusus dalam melaksanakanlayanan bimbingan.

Berikut ini akan peneliti sajikandalam bentuk grafik sebagaiberikut:

Keterangan :

67% (MA), kategori sedang dantingkat capaian disiplin kurang33%, sedangkan 50% (RAP),rendah, tingkat capaian disiplinkurang 50%. dan 67% (Oan),kategori sedang dan tingkat capaiandisiplin kurang 33%

Dari grafik histogram di atasbisa dideskripsikan bahwa tingkatkedisiplinan siswa setelah

Riptono Widya Wacana Vol. 11 Nomor 1, Februari 2016 51

agar nantinya tujuan layanan bisatercapai secara efektif.

Kesimpulan dari paparan dan analisisdata tersebut di atas bahwa proseslayanan konseling siswa kelas XII bc 2program keahlian broadcasting SMKN7 Surakarta, dinyatakan bagus dantelah memenuhi standart layanan BK.

d. RefleksiSebelum melaksanakan refleksi,

peneliti yang sebagai guru BKmelakukan pengamatan terhadap siswasaat mengikuti mata pelajaranbroadcasting setelah dikenai tindakan

Menggunakan bahasa yang baikdi kelas. Tanda (-) = Tidak memakai;Tanda (√) = Memakai.

Tabel 2 Rekapitulasi Hasil Observasi

Prosentase Proses Layanan KonselingSiswa Kelas XII BC 2

Program Keahlian BroadcastingSMKN 7 Surakarta

Subjek JumlahKedisplinan

Persentase Kategori

Oan4 (4:6) x 100

% = 67 %Sedang

RAP3 (3:6) x 100

5 = 50 %Rendah

MA4 (4:6) x 100

% = 67 %Sedang

Rata-rata(3,6:6) x100 % =61,33 %

Sedang

Dari tabel 5 tentang proses layanankonseling siswa kelas XII BC 2program keahlian Broadcasting

SMKN 7 Surakarta dapat diuraikanbahwa Oan dan MA telahmengalami perubahan setelahmendapatkan layanan konselingdengan tingkat kemajuan 67%memasuki kategori sedang, berartimasih bisa ditingkatkan melaluilayanan bimbingan yang intensif.Pada kondisi RAPyang masihcukup memprihatinkan karena 50%tingkat kedisiplinan yang masihrendah, maka perlu perhatiankhusus dalam melaksanakanlayanan bimbingan.

Berikut ini akan peneliti sajikandalam bentuk grafik sebagaiberikut:

Keterangan :

67% (MA), kategori sedang dantingkat capaian disiplin kurang33%, sedangkan 50% (RAP),rendah, tingkat capaian disiplinkurang 50%. dan 67% (Oan),kategori sedang dan tingkat capaiandisiplin kurang 33%

Dari grafik histogram di atasbisa dideskripsikan bahwa tingkatkedisiplinan siswa setelah

0

10

20

30

40

50

60

70

MA RAP OAN

Riptono Widya Wacana Vol. 11 Nomor 1, Februari 2016 51

agar nantinya tujuan layanan bisatercapai secara efektif.

Kesimpulan dari paparan dan analisisdata tersebut di atas bahwa proseslayanan konseling siswa kelas XII bc 2program keahlian broadcasting SMKN7 Surakarta, dinyatakan bagus dantelah memenuhi standart layanan BK.

d. RefleksiSebelum melaksanakan refleksi,

peneliti yang sebagai guru BKmelakukan pengamatan terhadap siswasaat mengikuti mata pelajaranbroadcasting setelah dikenai tindakan

Menggunakan bahasa yang baikdi kelas. Tanda (-) = Tidak memakai;Tanda (√) = Memakai.

Tabel 2 Rekapitulasi Hasil Observasi

Prosentase Proses Layanan KonselingSiswa Kelas XII BC 2

Program Keahlian BroadcastingSMKN 7 Surakarta

Subjek JumlahKedisplinan

Persentase Kategori

Oan4 (4:6) x 100

% = 67 %Sedang

RAP3 (3:6) x 100

5 = 50 %Rendah

MA4 (4:6) x 100

% = 67 %Sedang

Rata-rata(3,6:6) x100 % =61,33 %

Sedang

Dari tabel 5 tentang proses layanankonseling siswa kelas XII BC 2program keahlian Broadcasting

SMKN 7 Surakarta dapat diuraikanbahwa Oan dan MA telahmengalami perubahan setelahmendapatkan layanan konselingdengan tingkat kemajuan 67%memasuki kategori sedang, berartimasih bisa ditingkatkan melaluilayanan bimbingan yang intensif.Pada kondisi RAPyang masihcukup memprihatinkan karena 50%tingkat kedisiplinan yang masihrendah, maka perlu perhatiankhusus dalam melaksanakanlayanan bimbingan.

Berikut ini akan peneliti sajikandalam bentuk grafik sebagaiberikut:

Keterangan :

67% (MA), kategori sedang dantingkat capaian disiplin kurang33%, sedangkan 50% (RAP),rendah, tingkat capaian disiplinkurang 50%. dan 67% (Oan),kategori sedang dan tingkat capaiandisiplin kurang 33%

Dari grafik histogram di atasbisa dideskripsikan bahwa tingkatkedisiplinan siswa setelah

OAN

Page 16: UPAYA MENINGKATKAN KEDISIPLINAN DALAM MATA …

52 Riptono Widya Wacana Vol. 11 Nomor 1, Februari 2016

mendapatkan layanan konselingbehavioristik masuk pada kategorisedang dengan pencapaian skorrata-rata sebesar 61,33%. Dari 3siswa tersebut, ada 2 siswa yangmasuk kategori sedang dan masihada 1 siswa yang masuk kategorirendah. Data ini menunjukan bahwalayanan yang diberikan bisameningkatkan kedisiplinan padasiswa walaupun hasilnya kurangoptimal seperti yang diharapkan.

Berdasarkan hasil observasidan terhadap pelaksanaan tindakandan ketercapaian hasil (peningkatankedisiplinan) maka peneliti bersamaobserver menyimpulkan beberapahal yang digunakan sebagai dasaruntuk melaksanakan refleksi:

1) Refleksi proses: prosespelaksanaan layanan konselingbehavioristik sudah berjalandengan lancar sesuai rencanakegiatan, namun demikiankinerja konselor guru sebagaipemberi layanan maupun peranserta siswa kurang optimal. Olehkarena itu dibutuhkan beberapaperbaikan yang dapat menunjangkelancaran pemberian tindakan.

2) Refleksi Hasil: ada peningkatankedisiplinan pada semua siswa.Hasil ini menandakan jikalayanan yang diberikan secaraefektif dapat meningkatkankedisiplinan siswa.

Perlunya beberapa perbaikan disiklus yang ke-2 agar pelaksanaanlayanan bisa berjalan secara

optimal. Adapun perbaikan yangdisarankan adalah sebagai berikut:

1) Di tahap pembentukan: gurutidak terlalu tergesa-gesa dalammenjelaskan tujuan dari layananyang akan dilaksanakan,sehingga siswa menjadi lebihpaham tentang hasil yang akanmereka dapat jika merekamengikuti layanan. Guru haruslebih sabar dalam menstimulussiswa yang ingin menyampaikanperasaan yang mengganggu(keengganan) untuk mengikutikegiatan layanan.

2) Di tahap pelaksanaan: gurumelakukan diskusi yangmendalam dengan observersebelum tindakan dilaksanakanagar informasi yang diberikansearah (tidak miss comunication)karena hal tersebut bisa membuatsiswa merasa bingung.

3) Tahap pengakhiran: guru haruslebih bisa memberikan stimuluskepada siswa untuk bisamenyampaikan kesan danpesannya.

Siklus 2

Kegiatan yang dilaksanakan di siklusII ini adalah sama dengan kegiatanyang dilaksanakan pada siklus I.Namun demikian, di siklus II adaperbaikan terhadap beberapa halberdasarkan refleksi siklus 1.

a. Perencanaan1) Menetapkan kolaborator yaitu

guru bimbingan dan konseling.2) Mengatur waktu pertemuan.

Page 17: UPAYA MENINGKATKAN KEDISIPLINAN DALAM MATA …

Riptono Widya Wacana Vol. 11 Nomor 1, Februari 2016 53

3) Membuat rancangan pelaksanaankonseling behavioristik sesuaidengan prosedur.

4) Menetapkan fasilitas layanankonseling behavioristik (ruangkonseling).

5) Menyiapkan alat evaluasi proseskonseling (laiseg).

b. Tindakan: Pertemuan 11). Menerapkan tindakan layanankonseling behavoristik denganprosedur: a. Tahap Awal:Penerimaan terhadap siswa. b.Membuka layanan konselingbehavioristik. c. Memimpin do’a.d.Permainan pembentu kanuntukmeningkatkan dinamika kelompok.

2). Tahap Peralihan: a.Penjelasanpengertian, tujuan, fungsi, dan asas-asas konseling behavioristik kepadasiswa. b.Pemberian motivasi agarsiswa lebih bersemangat untukmengikuti kegiatan.c.Pengucapanjanji untuk tetap menjaga rahasia/isibahasan.

3) Tahap Inti: a.Assesment, b)Implementasi teknik, c) Evaluasi-terminasi. d) Feed back 4). TahapPengakhiran: a) Membuatkesimpulan hasil kegiatan. b).Menawarkankegiatan lanjutankepada siswa. c). Memimpin do’apenutup.

c. Tindakan: Pertemuan 2Pelaksanaan tindakan yang ke-2masih sama dengan pelaksanaantindakan yang pertama.

a) Pemberian motivasi oleh guruagar siswa lebih bersemangatuntuk mengikuti kegiatan.

b) Pengucapan janji untuk tetapmenjaga rahasia/isi bahasan.

a) Tahap Inti, Assesment, gurumemberikan pemahamansecara mendalam kepadasiswa agar mereka bisamempertahankan kedisiplinandalam mengikuti pelajaranbroadcasting (yang sudahdilaksanakan).

b) Implementasi teknik, dalamimplementasi teknik ini yangakan dilakukan yaitumenetukan strategi mana yangakan dipakai dalam mencapaitingkah laku yang dinginkan. /

c) Evaluasi-terminasi.d) Feed back oleh siswa tentang

apa yang dirasakan.1) Tahap Pengakhiran

a) Membuat kesimpulan hasilkegiatan.

b) Menawarkankegiatan lanjutankepada siswa.

c) Memimpin do’a penutup.d. Observasi

Perhitungan:

Nilai tertinggi = 14 x 4 = 56

Nilai terendah = 14 x 1 = 14

Rumus persentase = (Skor yangdiperoleh : Skor tertinggi) x 100 %

Hasil observasi siklus 2 proseslayanan konseling siswa kelas xii bc2

Page 18: UPAYA MENINGKATKAN KEDISIPLINAN DALAM MATA …

54 Riptono Widya Wacana Vol. 11 Nomor 1, Februari 2016

program keahlian BroadcastingSMKN 7 Surakarta, bisadigambarkan pada grafik bulatseperti di bawah ini:

Grafik at tersebut dapat ditunjukkanbahwa angka 75 % bentuk layanankategori tinggi, sedangkan angka 25%menunjukkan belum optimalnyalayanan konseling bagi siswa yangbermasalah di kelas melakukantindakan tidak disiplin.

Grafik bulat tersebut dapatditunjukkan bahwa angka 81.25 %adalah kategori tinggi, sedangkanangka 18,75% menunjukkan belumoptimalnya layanan konseling bagisiswa yang bermasalah di kelasmelakukan tindakan tidak disiplin,

sehingga perlu dilakukan optimalisasilayanan konseling.

Grafik bulat tersebut dapatditunjukkan bahwa angka 87,5 %adalah kategori tinggi, sedangkanangka 12,5% menunjukkan belumoptimalnya layanan konseling bagisiswa yang bermasalah di kelasmelakukan tindakan tidak disiplin,sehingga perlu dilakukanoptimalisasi layanan konseling.

Hasil observasi pelaksanaantindakan, diperoleh skor padapertemuan 1 siklus 2 adalah 75 %.Skor ini menandakan bahwapelaksanaan tindakan masuk padakategori tinggi. Sedangkan untuksiklus 2 pertemuan 2 skor yangdiperoleh adalah 87,5 %, skortersebut masuk dalam kategorisangat tinggi. Ini artinya adapeningkatan peran konselor maupunanggota kelompok dalampelaksanaan tindakan pada siklusyang ke-2 ini. Hasil ini menunjukanbahwa guru dan siswa sudah bisa

75%

25%87,5 %

12, 5 %

18,75%

81,25%

Page 19: UPAYA MENINGKATKAN KEDISIPLINAN DALAM MATA …

Riptono Widya Wacana Vol. 11 Nomor 1, Februari 2016 55

melaksanakan peran dan fungsinyasecara optimal dalam pelaksanaantindakan, yakni konselingbehavioristik.

e. RefleksiSama seperti siklus yang

pertama, pada siklus yang ke-2sebelum melaksanakan refleksi,peneliti yang dibantu oleh guru BKmelakukan pengamatan terhadapsiswa saat mengikuti pelajaranbroadcasting untuk melihat tingkatkedisiplinan mereka setelah dikenaitindakan (konseling behavioristik).Berikut hasil pengamatan tersebut:

Tingkat kedisiplinan siswasetelah mendapatkan layanankonseling behavioristik siklus 2masuk pada kategori sangat tinggidengan pencapaian skor rata-ratasebesar 93 %. Dari 3 siswa tersebut,ada 2 siswa yang masuk kategorisangat tinggi dan masih ada 1 siswayang masuk kategori tinggi. Data inimenunjukan bahwa layanan yangdiberikan bisa meningkatkankedisiplinan pada siswa yang.Berdasarkan hasil observasi danterhadap pelaksanaan,menyimpulkan beberapa hal yangdigunakan sebagai dasar untukmelaksanakan refleksi:

1) Refleksi proses: prosespelaksanaan layanan konselingbehavioristik sudah berjalandengan lancar sesuai rencanakegiatan dari tujuan pelaksanaantindakan bisa dicapai.

2) Refleksi Hasil: ada peningkatankedisiplinan pada siswabermasalah, proses layanan yangsudah dilaksanakan juga sudahberjalan sesuai dengan yangdiharapkan, maka peneliti dankolaborator tidak melanjutkan kesiklus selanjutnya (siklus 3).Pembahasan tingkat kedisiplinansiswadi di kelas setelah pelaksanaantindakan, bisa dilihat tingkatkeberhasilan tindakan yang telahdilaksanakan, peneliti akanmenyajikan hasil pra siklus, siklus1, dan siklus 2. Berikutperbandingan hasil diantaraketiganya adalah sebagai berikut:

Tabel 9

Perbandingan Skor Pra Siklus, Siklus 1,dan Siklus 2

Proses Layanan Konseling SiswaKelas XII BC 2

Program Keahlian BroadcastingSMKN 7 Surakarta

Page 20: UPAYA MENINGKATKAN KEDISIPLINAN DALAM MATA …

56 Riptono Widya Wacana Vol. 11 Nomor 1, Februari 2016

Indikator

Sby

PraSiklus

Siklus 1Siklus

2Skor%

Kat.

Skor%

Kat.

Skor%

Ket.

Kedisiplinan

Oa-n

33

SangatRendah

67

Sedang

100

Sanga

tTinggi

RAP

17

SangatRendah

50

Rendah

83

Tinggi

MA

50

Rendah

67

Sedang

100

Sanga

tTinggi

Rata-rata

33,33%

SangatRenda

h

61,33%

Sedang

93

SangatTinggi

Berdasarkan tabel di atas dan analisisproses pelaksanaan tindakanmembuktikan bahwa layanan konselingbehavioristik secara efektif dapatmeningkatkan kedisiplinan pada siswa.

Kesimpulan

Kedisiplinan merupakan suatu kesadarandiri pada individu untuk melakukan suatuupaya keadaan tertib atau mengendalikandiri dan sikap mental dalam mematuhi

ketentuan dan peraturan yang ditetapkanbaik rumah, di sekolah, dan masyarakat.Dalam kehidupan di sekolah, siswadituntut untuk disiplin dalam hal tatatertib yang harus dilakukan selama disekolah.

Saran

a. Bagi siswaSebagai bahan evaluasi bagi siswa,sehingga nantinya mereka menjadipribadi yang disiplin dan bertanggungjawab.

b. Bagi guru, Bahwa dengan bersama-sama melakukan bimbingan konselingdalam pembelajaran melalui layanankonseling individual denganpendekatan Behavioristik dapatdijadikan salah satu alternatifmengajar oleh guru dalam mengatasisiswa yang tidak disiplin,.

c. Bagi guru pembimbing, sebagai bahanpertimbangan bagi para gurubimbingan dan konseling dalammenerapkan pelayanan konselingbehavioristik teknik life modelinguntuk meningkatkan kedisiplinan dikelas.

d. Bagi peneliti dapat mengembangkanteori tentang konseling behavioristikteknik life modeling khususnya untukmeningkatkan kedisiplinan di kelas.

Page 21: UPAYA MENINGKATKAN KEDISIPLINAN DALAM MATA …

Riptono Widya Wacana Vol. 11 Nomor 1, Februari 2016 57

DAFTAR PUSTAKA

Asroridan M. Ali. 2008. Psikologi Remaja Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: BumiAksara.

Basri. 2009. Kedisiplinan Sekolah. (online) http: //basri05. Multiply.com/journal.

Colvin, G. 2008. 7 Langkah Menyusun Rencana Disiplin Kelas Proaktif. Jakarta: Macunan JayaCemerlang.

Dede Rahmat Hidayat dan Aip Badrudjaman.2012. Penelitian Tindakan Bimbingan danKonseling. Jakarta: Indeks.

EngkosMulyasa. 2008. Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajran Kreatif DanMenyenangkan. Bandung: RemajaRosdakarya.

Feist, J danFeist, G. J. 2008. Theories of Personality. Yogyakarta: PustakaPelajar.

Hamzah B. Uno. 2007.Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: Bumi Aksara.

Muhibbin Syah. 2003. Psikologi Belajar Cet.8. Bandung: PT. Raja Grafindo Persada.

M. Nazir. 2005. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Namora Lumongga Lubis. 2011. Memahami Dasar-Dasar Konseling. Jakarta: Kencana PrenadaMedia Group.

Nizar I. dan M. Ibnu. 2009. Membentuk dan Meningkatkan Disiplin Anak Sejak Dini.Yogyakarta: Diva Press.

Sofyan Willis. 2010. Konseling Individual. Bandung: Alfabeta.

Sri Widadiningsih. Tth. Modul Bimbingan Konseling. Solo: CV Hayati Tumbuh Subur.

Sugiharto. 2007. Model-model Konseling (Dikat Mata Kuliah Bimbingan dan Konseling).Semarang: UNNES.

Sugiyono. 2007. Statistik Nonparametris Untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Edisi Revisi). Jakarta: Rin

SuharsimiArikunto. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek (Edisi Revisi).Jakarta: Rineka Cipta.

Page 22: UPAYA MENINGKATKAN KEDISIPLINAN DALAM MATA …

58 Riptono Widya Wacana Vol. 11 Nomor 1, Februari 2016

Sukiman. 2011. PenelitianTindakanKelasuntuk Guru Pembimbing. Yogyakarta: ParamitaPublishing.

W. S. Winkel. 2004. Bimbingan dan Konseling di Institusi Pendidikan. Jakarta: GramediaWidiasarana.