of 45 /45
BAB I PENDAHULUAN Kornea berfungsi sebagai membran pelindung ‘jendela’ yang dilalui berkas cahaya menuju retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan strukturnya yang uniform, avaskuler, dan deturgesens. Namun, sekali kornea ini cedera, stroma yang avaskuler dan membran bowman mudah terkena infeksi oleh berbagai macam organisme, seperti bakteri, amuba, dan jamur. Penyebab utama kebutaan dan gangguan penglihatan di dunia adalah pembentukan parut akibat ulserasi kornea. Kebanyakan gangguan penglihatan ini dapat dicegah, namun hanya bila diagnosis penyebabnya ditetapkan secara dini dan diobat secara memadai. Ulkus kornea yang luas memerlukan penanganan yang tepat dan cepat untuk mencegah perluasan ulkus dan timbulnya komplikasi seperti descemetocele, perforasi, endoftalmitis, bahkan kebutaan. Ulkus kornea yang sembuh akan menimbulkan kekeruhan kornea dan merupakan penyebab kebutaan nomor dua di Indonesia. Ulkus kornea yang luas memerlukan waktu penyembuhan yang lama, karena jaringan kornea bersifat avaskuler. Penyembuhan yang lama mungkin juga dipengaruhi ketaatan 1

Ulkus Kornea.doc

Embed Size (px)

Text of Ulkus Kornea.doc

BAB I PENDAHULUAN Kornea berfungsi sebagai membran pelindung jendela yang dilalui berkas cahaya menuju retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan strukturnya yang uniform, avaskuler, dan deturgesens. Namun, sekali kornea ini cedera, stroma yang avaskuler dan membran bowman mudah terkena infeksi oleh berbagai macam organisme, seperti bakteri, amuba, dan jamur. Penyebab utama kebutaan dan gangguan penglihatan di dunia adalah pembentukan parut akibat ulserasi kornea. Kebanyakan gangguan penglihatan ini dapat dicegah, namun hanya bila diagnosis penyebabnya ditetapkan secara dini dan diobat secara memadai. Ulkus kornea yang luas memerlukan penanganan yang tepat dan cepat untuk mencegah perluasan ulkus dan timbulnya komplikasi seperti descemetocele, perforasi, endoftalmitis, bahkan kebutaan. Ulkus kornea yang sembuh akan menimbulkan kekeruhan kornea dan merupakan penyebab kebutaan nomor dua di Indonesia. Ulkus kornea yang luas memerlukan waktu penyembuhan yang lama, karena jaringan kornea bersifat avaskuler. Penyembuhan yang lama mungkin juga dipengaruhi ketaatan penggunaan obat. Dalam hal ini, apabila ketaatan penggunaan obat terjadi pada penggunaan antibiotik maka dapat menimbulkan masalah baru, yaitu resistensi. Diagnosis dapat ditegakkan dengan pemeriksaan klinis yang baik, sedangkan kausanya atau penyebabnya ditegakkan berdasarkan pemeriksaan mikroskopik dan kultur. Pemeriksaaan laboratorium sangat berguna untuk membantu membuat diagnosis kausa. Tujuan penatalaksanaan ulkus kornea adalah eradikasi penyebab dari ulkus kornea, menekan reaksi peradangan sehingga tidak memperberat destruksi pada kornea, mempercepat penyembuhan defek epitel, mengatasi komplikasi, serta memperbaiki tajam penglihatan. Hal tersebut dapat dilakukan dengan pemberian

1

terapi yang tepat dan cepat sesuai dengan kultur serta hasil uji sensitivitas mikroorganisme penyebab. Prognosis ulkus kornea tergantung pada tingkat keparahan dan cepat lambatnya mendapat pertolongan, jenis mikroorganisme penyebabnya, dan ada tidaknya komplikasi yang timbul.

2

II. LAPORAN KASUS II.1. IDENTIFIKASI Nama Umur Agama Bangsa Pekerjaan Alamat MRS II.2. : Astinah : 32 Tahun : Islam : Indonesia : Petani Karet : Jl. Raya Tambangan Kecamatan Rambang Kuang : 28 Desember 2007

Jenis kelamin : Perempuan

ANAMNESIS (autoanamnesis, 30 Desember 2007) Keluhan Utama: Mata kiri nyeri sejak 4 hari sebelum masuk rumah sakit Riwayat Perjalanan Penyakit: 4 hari sebelum masuk rumah sakit mata kiri penderita terkena pukul lateks, kemudian mata kiri penderita kemasukan serbuk pohon karet, mata menjad merah, nyeri, pandangan silau dan berair-air. Keluhan penderita tidak disertai adanya sakit kepala, muntah, ataupun demam. 6 jam setelah kejadian mata kiri penderita mulai kabur, mata penderita semakin bertambah nyeri, silau, serta bertambah merah dan berair-air. Penderita juga mengeluh nyeri pada kelopak mata dan sukar membuka mata. Nyeri pada mata kiri dirasakan terus menerus, nyeri tidak bertambah hebat bila penderita di ruang gelap atau setelah minum banyak. Keluhan ini tidak disertai adanya sakit kepala, muntah, ataupun demam. 2 hari sebelum masuk rumah sakit, penderita mengeluh tampak warna keputihan pada mata kiri dengan ukuran sebesar bagian hitam tengah bola

3

mata, penglihatan makin kabur serta mata bertambah nyeri. Penderita lalu berobat ke puskesmas dan diberi obat tetes mata (chloramphenicol tetes mata) dan obat makan amoksilin lalu mata kiri ditutup perban, tetapi penderita tidak merasakan adanya perubahan. Penderita kemudian berobat ke RSMH bagian poliklinik mata.. Riwayat Penyakit Dahulu: Riwayat memakai kacamata disangkal. Riwayat mata merah sebelumnya disangkal. Riwayat penglihatan kabur sebelumnya disangkal.

Riwayat Penyakit Dalam Keluarga: Riwayat penyakit yang sama dalam keluarga disangkal

Status Gizi : Habitus Berat Badan RBW Status Ekonomi: Cukup II.3. PEMERIKSAAN FISIK Status Generalis Keadaan umum Keadaan sakit Kesadaran : tampak sakit : sakit sedang : compos mentis : athleticus : 55 kg : 92,59% (normoweight)

Tinggi Badan : 160 cm

4

Tekanan Darah Nadi Pernafasan Suhu

: 120/80 mmHg : 84 x/menit, reguler, isi dan tegangan cukup : 20 x/menit tipe abdomino-torakal : 37oC

Status Oftalmologikus OD OS

Visus TIO KBM GBM

6/6 F2 PH 6/6 9/7,5 Simetris

1/~ PSB Tidak dilakukan

Segmen Anterior - Alis mata - Kelopak atas - Kelopak bawah - Bulu mata - Konjungtiva tarsal atas - Konjungtiva tarsal bawah - Konjungtiva bulbi - Kornea Tenang Tenang Tenang Tenang Tenang Tenang Tenang Jernih Tenang Edema, blepharospasme Edema, blepharospasme Tenang Hiperemis Hiperemis Mixed injeksi (+), Ulkus (+) ukuran 10mm, sentral, tepi tidak rata, berbatas tegas, descemetocele (-),

5

perforasi (-), warna putih kekuningan, sensibilitas menurun, FT(+), lesi satelit (-) - BMD Sedang, jernih Hipopion