UCAPAN TERIMA KASIH - Universitas Udayana Judo, Kendo, Jujitsu, Aikido, dan bela diri lainnya ke berbagai

Embed Size (px)

Text of UCAPAN TERIMA KASIH - Universitas Udayana Judo, Kendo, Jujitsu, Aikido, dan bela diri lainnya ke...

  • vi

    UCAPAN TERIMA KASIH

    Om Suastyastu,

    Disertasi sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar doktor pada

    Program Doktor, Program Studi Kajian Budaya, Fakultas Ilmu Budaya

    Universitas Udayana berhasil diselesaikan atas dukungan berbagai pihak. Pada

    kesempatan ini, selain mengucapkan puji syukur ke hadapan Ida Sang Hyang

    Widhi Wasa atas segala kemudahan yang diberikan-Nya, penulis juga

    berterimakasih kepada semua pihak yang telah banyak membantu, baik dalam

    dukungan moril maupun materiil. Untuk itu, izinkan penulis mengucapkan terima

    kasih kepada berbagai pihak di bawah ini.

    1. Promotor Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum., kopromotor I Prof. Dr. A.A.

    Bagus Wirawan, S.U., kopromotor II Dr. I Nyoman Dhana, M.A. atas

    bimbingan dalam penelitian serta penulisan disertasi.

    2. Rektor Universitas Udayana Prof. Dr. dr. I Ketut Suastika, Sp. P.D., KEMD.

    dan Direktur Program Pascasarjana Universitas Udayana Prof. Dr. dr. A.A.

    Raka Sudewi, Sp. S(K), serta Asisten Direktur I, Prof. Dr. Made Budiasa,

    M.A., dan Asisten Direktur II, Prof. Dr. Made Sudiana Mahendra, Ph.D.,

    atas kesempatan studi dan fasilitas yang diberikan.

    3. Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati

    Beratha, M.A., ketua Program Studi Doktor (S3) Kajian Budaya Prof. Dr.

    Phil. I Ketut Ardhana, MA., dan Sekretaris Program Studi Doktor (S3)

    Kajian Budaya Dr. I Ketut Setiawan, M.Hum yang telah membantu penulis

    dalam bidang akademik dan administratif.

    vi

  • vii

    4. Ketua Sekolah Tinggi Bahasa Asing (STIBA) Saraswati Denpasar I

    Komang Sulatra, S.S., M.Hum dan segenap pimpinan Program Studi Sastra

    Jepang atas dukungan yang diberikan kepada penulis selama masa studi.

    5. Para penguji ujian proposal, ujian seminar hasil, dan ujian tertutup yaitu:

    Prof. Dr. Phil. I Ketut Ardhana, MA., Prof. Dr. I Nyoman Suarka, M.Hum.,

    Prof. Dr. A. A. Bagus Wirawan, S.U., Prof. Dr. I Wayan Ardika, M.A., Prof.

    Dr. Ing. Ir. I Made Merta., Dr. Putu Sukardja, M.Si., Dr. I Nyoman Dhana,

    M.A., dan Dr. I Gede Mudana, M.Si.

    6. Ketua Bari Aikikai Darma Wijaya, anggota Dewan Guru Bari Aikikai, para

    pengelola dojo di lingkungan Bari Aikikai yang telah memberikan

    kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian.

    7. Para informan dari kalangan praktisi bela diri Aikido, Pencak Silat,

    Tengklung, para guru bela diri Aikido dari Jepang, para senior akidoka Bali,

    para junior, dan iforman lainnya yang tidak bisa disebutkan namaya satu per

    satu yang telah membantu peneliti dalam mengumpulkan data dan

    memberikan masukan lainnya.

    8. Seluruh dosen dan staf administrasi Program Studi Doktor Kajian Budaya

    Universitas Udayana, atas ilmu tentang teori kritis serta layanan akademik

    yang diberikan selama penulis menjalani masa studi.

    9. Teman-teman angkatan 2013/2014, yaitu Anak Agung Istri Putera Widiastiti,

    I Nyoman Cerita, I Wayan Kiki Sanjaya, Paskalis Nyoman Widastra,

    Rahmat Sewa Suraya, Derinta Entas, I Nyoman Sama, Putu Mega Indrawan,

    Gede Yoga Kharisma Pradana, Jro Made Gede Aryadi Putra, dan La Ode

    vii

  • viii

    Yusuf, yang telah banyak meluangkan waktu untuk membantu penulis di

    dalam menyelesaikan studi.

    10. Istri (Kumiko Shishido), anak-anak (Karta, Takuma, dan Ayu), kedua

    orang tuaku di desa, dan Bibi yang semuanya memberikan dukungan

    kepada penulis sebelum, selama, sampai penulis menyelesaikan studi.

    Penulis menyadari memiliki keterbatasan, sehingga penelitian ini pun

    memiliki kekurangan yang harus dipertanggungjawabkan dengan baik. Harapan

    peneliti semoga penelitian ini bermanfaat, khususnya untuk bidang ilmu Kajian

    Budaya (Cultural Studies) yang ingin mewujudkan emansipasi manusia dalam

    lingkup bela diri di Bali.

    Denpasar, Juli 2017

    Penulis

    viii

  • ix

    ABSTRAK

    Di Indonesia, bela diri tumbuh dan berkembang bersamaan dengan

    aktivitas masyarakatnya. Orang-orang Indonesia, termasuk di dalamnya orang-

    orang Bali tetap melestarikan bela diri tradisionalnya karena bela diri juga dapat

    dipakai sebagai wahana untuk mengembangkan identitasnya. Di sisi lain, banyak

    orang Bali kini menekuni berbagai bela diri yang berasal dari bangsa lain, di

    antaranya bela diri Aikido. Bela diri Aikido sebagai bela diri berasal dari Jepang

    bisa masuk dan berterima di Bali tidak bisa dilepaskan dari isu globalisasi,

    kekuatan, dan kekuasaan Jepang dalam konstelasi dunia, secara politik, ekonomi,

    dan budaya. Hal ini menarik untuk dicermati mengingat orang Bali

    mengembangkan juga bela diri Aikido, yakni bela diri asli dari Jepang sehinga

    menimbulkan fenomena posrealitas kebudayaan. Berdasarkan fenomena tersebut,

    maka penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan memahami hal-hal yang

    melatarbelakangi terjadinya posrealitas dalam pengembangan bela diri Aikido di

    Bali, proses terjadinya posrealitas dalam pengembangannya, dan implikasi

    posrealitas dalam pengembangan bela diri Aikido tersebut pada kehidupan peserta

    pelatihan bela diri Aikido (aikidoka) Bali.

    Penelitian kajian budaya ini bersifat kualitatif dengan menggunakan

    teknik wawancara, observasi, dokumentasi, dan studi pustaka. Data dianalisis

    secara eklektik dengan menggunakan teori globalisasi, kuasa/pengetahuan,

    identitas sosial, dan teori pendukung lainnya yang terkait dengan permasalahan.

    Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberterimaan bela diri Aikido di

    Bali dilatarbelakangi oleh beberapa ideologi, yaitu: dualisme kultural,

    paternalisme, pasar, citra, dan multikulturalisme. Proses pengembangan bela diri

    di beberapa tempat pelatihan (dojo) yang ada di Bali, meliputi: tahap pengenalan,

    pendirian organisasi, pengembangan tempat pelatihan, dan tahap pengembangan

    mutu. Semuanya berorientasi kepada induk bela diri Aikido (Honbu Dojo) yang

    berada di Tokyo-Jepang. Pengembangan bela diri Aikido di Bali menimbulkan

    implikasi pada para aikidoka Bali termasuk terbentuknya identitas baru dalam

    masyarakat Bali.

    Melalui penelitian ini ditemukan paradigma baru bahwa di balik kekuatan

    budaya Bali yang sedang berlangsung dalam segala lini kehidupannya, terdapat

    sikap orang Bali yang terbuka terhadap kebudayaan asing, khususnya bela diri

    Aikido. Terkait dengan bela diri Aikido ternyata ada berbagai hal yang

    mendukung keberterimaannya. Adanya kegayutan nilai-nilai budaya antara

    kebudayaan Bali dan kebudayaan Jepang terkait bela diri Aikido sehingga hal ini

    disebut sebagai multikulturalisme.

    Kata kunci: posrealitas, bela diri, aikido, dojo , dan identitas.

    ix

  • x

    ABSTRACT

    In Indonesia, martial arts grow and develop in accordance with the

    activities of the society. Indonesian people, including the Balinese, keep

    preserving their traditional martial arts to be used as media to develop their

    identities. In the other side, many Balinese people nowadays learn martial arts

    from other countries, one of them is Aikido. Aikido is a popular martial arts from

    Japan which could enter and is accepted in Bali. It cannot be avoided that Japan

    has important role and power in globalization, politics, economy, and culture, in

    the worldwide constellation. This issue is interesting to consider since Balinese

    people should have preserved their local martial arts in order to determine their

    character and identity, however they chose to develop Japanese Aikido as well,

    which later lead to the phenomenon of cultural postreality. Based on the

    phenomenon, this research is aimed to identify and understand the background of

    postreality in the development of Aikido in Bali, the process and development of

    postreality, and the implication of postreality in the development of Aikido to the

    lives of its practitioners (aikidoka) in Bali.

    This cultural studies research is a qualitative research with the technique

    of interview, observation, documentation, and library research. The data were

    analyzed eclectically using the theory of globalization, theory of

    power/knowledge, theory of social identity, and other supporting theories, related

    to the research problems.

    The result of this research showed that the acceptance of Aikido in Bali

    was due to several ideology, such as: cultural dualism, paternalism, market,

    impression, and multiculturalism. The development process of Aikido in several

    dojo in Bali include the stages of introduction, organization establishment,

    development of the training place, and quality improvement. They all oriented to

    the main training centre of Aikido (Honbu Dojo) in Tokyo-Japan. The

    development of Aikido in Bali has an implication to the aikidoka in Bali including

    the formation of new identity in Balinese society.

    This research found a new paradigm that beyond the power of Balinese

    culture, which still take parts in every sector of life, there is an open mindset of

    Balinese people to foreign culture, specifically to the martial arts