28
BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG Tonsil atau yang lebih sering dikenal dengan amandel adalah massa yang terdiri dari jaringan limfoid dan ditunjang oleh jaringan ikat dengan kriptus didalamnya, bagian organ tubuh yang berbentuk bulat lonjong melekat pada kanan dan kiri tenggorok. Terdapat 3 macam tonsil yaitu tonsil faringal (adenoid), tonsil palatina, dan tonsil lingual yang membentuk lingkaran yang disebut cincin Waldeyer. Tonsil terletak dalam sinus tonsilaris diantara kedua pilar fausium dan berasal dari invaginasi hipoblas di tempat ini. Tonsillitis sendiri adalah inflamasi pada tonsila palatine yang disebabkan oleh infeki virus atau bakteri. Saat bakteri dan virus masuk ke dalam tubuh melalui hidung atau mulut, tonsil berfungsi sebagai filter/penyaring menyelimuti organisme yang berbahaya tersebut dengan sel-sel darah putih. Hal ini akan memicu sistem kekebalan tubuh untuk membentuk antibody terhadap infeksi yang akan datang. Tetapi bila tonsil sudah tidak dapat menahan infeksi dari bakteri atau virus tersebut maka akan timbul tonsillitis. Dalam beberapa kasus ditemukan 3 macam tonsillitis, yaitu tonsillitis akut, tonsillitis membranosa, dan tonsillitis kronis. 1.2 TUJUAN 1

Tutorial Tonsilitis Akut & Kronik

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: Tutorial Tonsilitis Akut & Kronik

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Tonsil atau yang lebih sering dikenal dengan amandel adalah massa yang terdiri dari

jaringan limfoid dan ditunjang oleh jaringan ikat dengan kriptus didalamnya, bagian organ

tubuh yang berbentuk bulat lonjong melekat pada kanan dan kiri tenggorok. Terdapat 3

macam tonsil yaitu tonsil faringal (adenoid), tonsil palatina, dan tonsil lingual yang

membentuk lingkaran yang disebut cincin Waldeyer. Tonsil terletak dalam sinus tonsilaris

diantara kedua pilar fausium dan berasal dari invaginasi hipoblas di tempat ini. Tonsillitis

sendiri adalah inflamasi pada tonsila palatine yang disebabkan oleh infeki virus atau bakteri.

Saat bakteri dan virus masuk ke dalam tubuh melalui hidung atau mulut, tonsil berfungsi

sebagai filter/penyaring menyelimuti organisme yang berbahaya tersebut dengan sel-sel darah

putih. Hal ini akan memicu sistem kekebalan tubuh untuk membentuk antibody terhadap

infeksi yang akan datang. Tetapi bila tonsil sudah tidak dapat menahan infeksi dari bakteri

atau virus tersebut maka akan timbul tonsillitis. Dalam beberapa kasus ditemukan 3 macam

tonsillitis, yaitu tonsillitis akut, tonsillitis membranosa, dan tonsillitis kronis.

1.2 TUJUAN

Adapun tujuan dalam pembahasan tutorial ini adalah untuk mengetahui perbedaan

tonsilitis akut dan kronik secara keseluruhan berdasarkan keluhan pasien dan pemeriksaan

THT yang didapatkan dari pasien.

1

Page 2: Tutorial Tonsilitis Akut & Kronik

BAB II

KASUS

2.1 LAPORAN KASUS

IDENTITAS PASIEN

Nama : An. M.A.

TTL : Jakarta, 04 April 2006

Umur : 6 tahun

Jenis Kelamin : Laki- laki

Alamat : Jalan Cibanteng Raya RT 01/007 - Koja

No MR : 15 77 28

Masuk RS : 27 Maret 2012

ANAMNESIS (AUTO-ALLOANAMNESIS)

Keluhan utama

Nyeri menelan sejak 2 minggu yang lalu.

Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien mengeluh nyeri menelan sejak 2 minggu yang lalu, tenggorokan terasa gatal dan

terasa seperti ada yang mengganjal, nyeri telinga (+), tidur ngorok (+), deman tidak ada,

nafsu makan menurun disangkal, nafas berbau disangkal, sering terbangun seperti kaget

(-), pasien juga mengeluh pilek.

Riwayat Penyakit Dahulu

Pasien sudah sering mengalami keluhan seperti ini sejak 1 tahun yang lalu. dan sudah

kambuh 3 kali (termasuk dengan keluhan sekarang).

2

Page 3: Tutorial Tonsilitis Akut & Kronik

Riwayat Penyakit Keluarga

Tidak ada anggota keluarga yang mempunyai penyakit seperti pasien

Riwayat Alergi

Alergi obat dan makanan disangkal

Riwayat pengobatan

Pasien sudah sering berobat ke dokter sebelumnya, dan setelah berobat keluhan

membaik.

PEMERIKSAAN FISIK

Status Generalis

Keadaan umum : Tampak sakit ringan

Kesadaran : Compos mentis

Tanda Vital

Tekanan darah : Tidak diukur

Pernafasan : 22 x/ menit

Nadi : 88 x/menit

Suhu : Afebris

BB : 24 Kg

Status Lokalis

Tenggorokan :

Mukosa : Hiperemis (+/+), Granul (-/-)

Uvula : Deviasi (-/-)

Tonsil : T3 - T3, Hiperemis (-/-), kripta melebar (+/+), detritus (+/+)

KGB : Pembesaran (-/-)

3

Page 4: Tutorial Tonsilitis Akut & Kronik

LABORATORIUM

Masa pendarahan : 2 menit 30 detik

Masa pembekuan : 4 menit

Protombin : 10,7 detik

Hb : 11,6 gr/dl

Leukosit : 8.800/mm2

HT : 34,4 %

Trombosit : 285 ribu/ mm2

2.2 KATA DAN KALIMAT KUNCI

Anak usia 6 tahun

Nyeri menelan sejak 2 minggu

Tenggorokan terasa gatal dan terasa seperti ada yang mengganjal

Nyeri telinga (+)

Tidur ngorok (+)

Deman tidak ada

Nafsu makan menurun disangkal

Nafas berbau disangkal

Sering terbangun seperti kaget (-)

Pasien juga mengeluh pilek.

Pasien sudah sering mengalami keluhan seperti ini sejak 1 tahun yang lalu. dan sudah

kambuh 3 kali (termasuk dengan keluhan sekarang).

Tenggorokan :

Mukosa : Hiperemis (+/+), Granul (-/-)

Uvula : Deviasi (-/-)

Tonsil : T3 - T3, Hiperemis (-/-), kripta melebar (+/+), detritus melebar (+/+)

KGB : Pembesaran (-/-)

2.3 PERTANYAAN

4

Page 5: Tutorial Tonsilitis Akut & Kronik

1. Bagaimana anatomi dan fisiologi Tonsil?

2. Pengertian Tonsilitis?

3. Apa penyebab ?

4. Bagaimana patofisiologi Tonsilitis akut dan kronis?

5. Bagaimana tanda dan gejala Tonsilitis akut dan kronis?

6. Bagaimana penatalaksanaan Tonsilitis akut dan kronis?

7. Komplikasi Tonsilitis akut dan kronis?

8. Perbedaan Tonsilitis akut dan kronis?

BAB III

5

Page 6: Tutorial Tonsilitis Akut & Kronik

PEMBAHASAN

3.1 ANATOMI DAN FISIOLOGI TONSIL

Tonsil terdiri dari jaringan limfoid yang dilapisi oleh epitel respiratori. Cincin

Waldeyer merupakan jaringan limfoid yang membentuk lingkaran di faring yang terdiri dari

tonsil palatina, tonsil faringeal (adenoid), tonsil lingual, dan tonsil tubal.1

a. TONSIL PALATINA1

Tonsil palatina adalah suatu massa jaringan limfoid yang terletak di dalam fosa

tonsil pada kedua sudut orofaring, dan dibatasi oleh pilar anterior (otot palatoglosus) dan

pilar posterior (otot palatofaringeus). Tonsil berbentuk oval dengan panjang 2-5 cm,

masing-masing tonsil mempunyai 10-30 kriptus yang meluas ke dalam jaringan tonsil.

Tonsil tidak selalu mengisi seluruh fosa tonsilaris, daerah yang kosong diatasnya dikenal

sebagai fosa supratonsilar. Tonsil terletak di lateral orofaring. Dibatasi oleh:

Lateral – muskulus konstriktor faring superior

Anterior – muskulus palatoglosus

Posterior – muskulus palatofaringeus

Superior – palatum mole

Inferior – tonsil lingual

6

Page 7: Tutorial Tonsilitis Akut & Kronik

Permukaan tonsil palatina ditutupi epitel berlapis gepeng yang juga melapisi

invaginasi atau kripti tonsila. Banyak limfanodulus terletak di bawah jaringan ikat dan

tersebar sepanjang kriptus. Limfonoduli terbenam di dalam stroma jaringan ikat retikular

dan jaringan limfatik difus. Limfonoduli merupakan bagian penting mekanisme

pertahanan tubuh yang tersebar di seluruh tubuh sepanjang jalur pembuluh limfatik.

Noduli sering saling menyatu dan umumnya memperlihatkan pusat germinal.

Klasifikasi tonsil berdasarkan ukuran :

• Derajat 0 sudah di operasi

• Derajat 1 (N) tonsil berada di belakang pilar tonsilar

• Derajat 2 tonsil berada di antara pilar dan uvula

• Derajat 3 tonsil menyentuh uvula

• Derajat 4 satu/kedua tonsil melebar hingga ke garis tengah orofaring

FOSA TONSIL1

Fosa tonsil dibatasi oleh otot-otot orofaring, yaitu batas anterior adalah otot

palatoglosus, batas posterior adalah otot palatofaringeus dan batas lateral atau dinding

luarnya adalah otot konstriktor faring superior. Berlawanan dengan dinding otot yang

tipis ini, pada bagian luar dinding faring terdapat nervus ke IX yaitu nervus

glosofaringeal.

PENDARAHAN1

7

Page 8: Tutorial Tonsilitis Akut & Kronik

Tonsil mendapat pendarahan dari cabang-cabang arteri karotis eksterna, yaitu 1)

arteri maksilaris eksterna (arteri fasialis) dengan cabangnya arteri tonsilaris dan arteri

palatina asenden; 2) arteri maksilaris interna dengan cabangnya arteri palatina desenden;

3) arteri lingualis dengan cabangnya arteri lingualis dorsal; 4) arteri faringeal asenden.

Kutub bawah tonsil bagian anterior diperdarahi oleh arteri lingualis dorsal dan bagian

posterior oleh arteri palatina asenden, diantara kedua daerah tersebut diperdarahi oleh

arteri tonsilaris. Kutub atas tonsil diperdarahi oleh arteri faringeal asenden dan arteri

palatina desenden. Vena-vena dari tonsil membentuk pleksus yang bergabung dengan

pleksus dari faring. Aliran balik melalui pleksus vena di sekitar kapsul tonsil, vena lidah

dan pleksus faringeal.

ALIRAN GETAH BENING1

Aliran getah bening dari daerah tonsil akan menuju rangkaian getah bening

servikal profunda (deep jugular node) bagian superior di bawah muskulus

sternokleidomastoideus, selanjutnya ke kelenjar toraks dan akhirnya menuju duktus

torasikus. Tonsil hanya mempunyai pembuluh getah bening eferan sedangkan pembuluh

getah bening aferen tidak ada.

PERSARAFAN1

Tonsil bagian bawah mendapat sensasi dari cabang serabut saraf ke IX (nervus

glosofaringeal) dan juga dari cabang desenden lesser palatine nerves.

IMUNOLOGI TONSIL1

Tonsil merupakan jaringan limfoid yang mengandung sel limfosit. Limfosit B

membentuk kira-kira 50-60% dari limfosit tonsilar. Sedangkan limfosit T pada tonsil

adalah 40% dan 3% lagi adalah sel plasma yang matang. Limfosit B berproliferasi di

pusat germinal. Immunoglobulin (IgG, IgA, IgM, IgD), komponen komplemen,

interferon, lisozim dan sitokin berakumulasi di jaringan tonsilar. Sel limfoid yang

immunoreaktif pada tonsil dijumpai pada 4 area yaitu epitel sel retikular, area

ekstrafolikular, mantle zone pada folikel limfoid dan pusat germinal pada folikel ilmfoid.

Tonsil merupakan organ limfatik sekunder yang diperlukan untuk diferensiasi

dan proliferasi limfosit yang sudah disensitisasi. Tonsil mempunyai 2 fungsi utama yaitu

1) menangkap dan mengumpulkan bahan asing dengan efektif; 2) sebagai organ utama

produksi antibodi dan sensitisasi sel limfosit T dengan antigen spesifik.

8

Page 9: Tutorial Tonsilitis Akut & Kronik

b. TONSIL FARINGEAL (ADENOID)1

Adenoid merupakan masa limfoid yang berlobus dan terdiri dari jaringan

limfoid yang sama dengan yang terdapat pada tonsil. Lobus atau segmen tersebut

tersusun teratur seperti suatu segmen terpisah dari sebuah ceruk dengan celah atau

kantong diantaranya. Lobus ini tersusun mengelilingi daerah yang lebih rendah di bagian

tengah, dikenal sebagai bursa faringeus. Adenoid tidak mempunyai kriptus. Adenoid

terletak di dinding belakang nasofaring. Jaringan adenoid di nasofaring terutama

ditemukan pada dinding atas dan posterior, walaupun dapat meluas ke fosa Rosenmuller

dan orifisium tuba eustachius. Ukuran adenoid bervariasi pada masing-masing anak.

Pada umumnya adenoid akan mencapai ukuran maksimal antara usia 3-7 tahun kemudian

akan mengalami regresi.

c. TONSIL LINGUAL1

Tonsil lingual terletak di dasar lidah dan dibagi menjadi dua oleh ligamentum

glosoepiglotika. Di garis tengah, di sebelah anterior massa ini terdapat foramen sekum

pada apeks, yaitu sudut yang terbentuk oleh papilla sirkumvalata.

3.2 DEFINISI

Tonsilitis adalah peradangan tonsil palatina yang merupakan bagian dari cincin

Waldeyer. Cincin Waldayer terdiri atas susunan kelenjar limfa yang terdapat di dalam

rongga mulut yaitu: tonsil faringeal (adenoid), tonsil palatina (tonsil facial), tonsil lingual

(tonsil pangkal lidah), tonsil tuba Eustachius (lateral band dinding faring/Gerlach’s tonsil).2

Penyebaran infeksi melalui udara (air borne droplets), tangan dan ciuman. Dapat

terjadi pada semua umur, terutama pada anak.2

3.3 ETIOLOGI

9

Page 10: Tutorial Tonsilitis Akut & Kronik

Tonsilitis akut adalah radang akut pada tonsil, dikarenakan infeksi kuman terutama

Streptokokus hemolitikus (50%) atau virus. Penyebab yang lain adalah Stafilokokus sp.,

Hemofilus influenza.3

Kuman penyebab tonsilitis kronik sama dengan tonsilitis akut tetapi kadang- kadang

kuman berubah menjadi kuman golongan gram negatif.2

Biakan tonsil dengan penyakit kronis jarang menunjukan streptokokus beta

hemolitikus.4

3.4 PATOLOGI

a. Tonsilitis Akut

Tonsil berada dalam kapsul yang sebagian besar terletak dalam fossa tonsil

dengan perantaraan jaringan ikat kendor. Dalam tonsil terdapat jaringan-jaringan

limfoid yang disebut folikel. Setiap folikel mempunyai kanal (saluran) yang bermuara

di permukaan tonsil. Muara tersebut tampak sebagai lubang-lubang yang dinamakan

kripta. Akibat radang dalam folikel, tonsil membengkak dan terbentuk eksudat yang

masuk saluran dan keluar sebagai kotoran putih pada kripta yang dinamakan kriptus.3

b. Tonsilitis Kronik

Karena proses radang berulang yang timbul maka selain epitel mukosa juga

jaringan limfoid terkikis, sehingga pada proses penyembuhan jaringan limfoid diganti

oleh jaringan parut yang akan mengalami pengerutan sehingga kripti melebar, secdara

klinik kipti ini diisis oleh detritus. Proses perjalanan terus sehingga menembus kapsul

tonsil dan akhirnya menimbulkan perlekatan dengan jaringan di sekitar fosa tonsilaris,

pada anak prose ini disertai dengan pembesaran kelenjar limfa submandibula.2

3.5 GEJALA DAN TANDA

10

Page 11: Tutorial Tonsilitis Akut & Kronik

a. Tonsilitis Akut

Tonsilitis viral2

Gejala tonsilitis viral lebih menyerupai common cold yang disertai rasa nyeri

tenggorok. Penyebab yang paling sering adalah virus Epstein Barr. Haemofilus

influenzae merupakan penyebab tonsilitis akut supuratif. Jika terjadi infeksi virus

coxschakie, maka pada pemeriksaan rongga mulut akan tampak luka-luka kecil pada

palatum dan tonsil yang sangat nyeri dirasakan pasien.

Tonsilitis bakterial2

Radang akut tonsil dapat disebabkan kuman grup A Streptokokus

hemolitikus yang dikenal sebagai strept throat, pneumokokus, Streptokokus viridan dan

Streptokokus piogenes. Infiltrasi bakteri pada lapisan epitel jaringan tonsil akan

menimbulkan reaksi radang berupa keluarnya leukosit polimorfonuklear sehingga

terbentuk detritus. Detritus ini merupakan kumpulan leukosit, bakteri yang mati dan

epitel yang terlepas. Secara klinis detritus ini mengisi kriptus tonsil dan tampak sebagai

bercak kuning.

Bentuk tonsilitis akut dengan detritus yang jelas disebut tonsilitis folikularis.

Bila bercak-bercak detritus ini menjadi satu, membentuk alur-alur makan akan terjadi

tonsilitis lakunaris. Bercak detritus ini juga dapat melebar sehingga terbentuk

semacam membran semu (pseudomembrane) yang menutupi tonsil.

Gejala dan tanda2

Masa inkubasi 2-4 hari. Gejala dan tanda yang sering ditemukan adalah nyeri

tenggorok dan nyeri sewaktu menelan, demam dengan suhu tubuh yang tinggi, rasa

lesu, rasa nyeri di sendi-sendi, tidak nafsu makan dan rasa nyeri di telinga (otalgia).

Rasa nyeri di telinga ini karena nyeri alih (referred pain) melalui saraf n.

glosofaringeus (n. IX). Pada pemeriksaan tampak tonsil membengkak, hiperemis dan

terdapat detritus berbentuk folikel, lakuna atau tertutup oleh mebran semu. Kelenjar

submandibula membengkak dan nyeri tekan.

11

Page 12: Tutorial Tonsilitis Akut & Kronik

Tonsilitis akut menimbulkan keluhan awal berupa rasa kering di tenggorok.

Selanjutnya pasien merasa nyeri waktu menelan yang makin lama makin hebat,

sehingga karena sakitnya, anak menjadi tidak mau makan. Nyeri hebat ini dapat

menjalar ke telinga disebut referred pain. Panas badan dapat sangat tinggi sampai

menimbulkan kejang pada anak dan bayi, nyeri kepala, badan lesu, nafsu makan

berkurang.3

Suara penderita terdengar seperti orang yang mulutnya terisi penuh makanan

panas. Keadaan ini disebut plummy voice. Mulut berbau busuk (foetor ex ore), dan

ludah menumpuk dalam kavum oris akibat adanya nyeri telan yang hebat (ptialismus).3

Selain itu tonsil hiperemi, udem, permukaannya penuh detritus, ismus fausium,

tampak menyempit. Palatum mole, arkus anterior dan arkus posterior udem dan

hiperemi. Kelenjar limfe di daerah jugulo-digastrikus (di belakang angulus mandibula)

membesar dan nyeri tekan.3

b. Tonsilitis Kronik

Pada pemeriksaan tampak tonsil membesar dengan permukaan yang tidak rata,

kriptus melebar dan beberapa kripti terisi oleh detritus. Rasa mengganjal di

tenggorokan, dirasakan kering di tenggorok dan napas berbau. 2, 4

3.6 PENATALAKSANAAN

a. Tonsilitis Akut

Pada umumnya, penderita dengan tonsilitis akut serta demam sebaiknya tirah

baring, pemberian cairan adekuat, dan diet ringan. Aplikasi lokal seperti obat

tenggorokan, dianggap mempunyai arti yang relatif kecil. Analgesik oral efektif dalam

mengendalikan rasa tidak enak.4

OBAT KUMUR, efektivitas obat kumur masih dipertanyakan. Apakah benar

bahwa kegiatan berkumur tidak membawa banyak cairan berkontak dengan dinding

faring, karena dalam beberapa hal cairan ini tidak mengenai lebih dari tonsila palatina.

Walaupun, pengalaman klinis menunjukkan bahwa berkumur yang dilakukan dengan

12

Page 13: Tutorial Tonsilitis Akut & Kronik

rutin menambah rasa nyaman pada penderita dan mungkin mempengaruhi tingkat

perjalanan penyakit.4

ANTIBIOTIKA. Terapi antibiotika dikaitkan dengan biakan dan sensitivitas

yang tepat, jika dianjurkan, adalah pengobatan untuk faringitis bakterialis akut.

Penisilin masih obat pilihan, kecuali kalau organismenya resisten atau penderita sensitif

terhadap penisilin. Pada kasus tersebut, eritromisisn atau antibiotik spesifik yang efektif

melawan organisme sebaiknya digunakan. Pengobatan sebaiknya dilanjutkan untuk

seluruh perjalanan klinis – antara 5-10 hari. Jika streptokokus beta hemolitikus grup A

dibiak, penting untuk mempertahankan terapi antibiotik yang adekuat untuk 10 hari

menurunkan kemungkinan dari komplikasi non supuratifa seperti penyakit jantung

rematik dan nefritis. Suntikan dosis tunggal 1,2 juta unit benzatine penisilin IM juga

efektif dan disukai jika terdapat keraguan bahwa penderita telah menyelesaikan seluruh

terapi antibiotika oral.4

b. Tonsilitis Kronik

Pengobatan pasti untuk tonsilitis kronis adalah pembedahan pengangkatan

tonsil, tindakan ini dilakukan pada kasus dimana penatalasanaan medis atau konservatif

gagal untuk meringankan gejala, penatalaksanaan medis termasuk pemberian penisilin

yang lama, irigasi tenggorokan, dan tindakan pembersihan kripta tonsilaris dengan alat

irigasi gigi atau oral. 4,5

c. Pembedahan

Indikasi tonsilektomi dulu dan sekarang tidak berbeda, namun terdapat

perbedaan prioritas relatif dalam menentukan indikasi tonsilektomi pada saat ini. Dulu

tonsilektomi diindikasikan untuk terapi tonsilitis kronik dan berulang. Saat ini, indikasi

yang lebih utama adalah obstruksi saluran napas dan hipertrofi tonsil (Wanri A, 2007). 1

Menurut American Academy of Otolaryngology – Head and Neck Surgery

(AAO-HNS) (1995), indikator klinis untuk prosedur surgikal adalah seperti berikut:1

Indikasi Absolut

a. Pembengkakan tonsil yang menyebabkan obstruksi saluran napas, disfagia berat,

gangguan tidur dan komplikasi kardiopulmoner

13

Page 14: Tutorial Tonsilitis Akut & Kronik

b. Abses peritonsil yang tidak membaik dengan pengobatan medis dan drainase

c. Tonsilitis yang menimbulkan kejang demam

d. Tonsilitis yang membutuhkan biopsi untuk menentukan patologi anatomi

Indikasi Relatif

a. Terjadi 3 episode atau lebih infeksi tonsil per tahun dengan terapi antibiotik adekuat

b. Halitosis akibat tonsilitis kronik yang tidak membaik dengan pemberian terapi medis

c. Tonsilitis kronik atau berulang pada karier streptokokus yang tidak membaik dengan

pemberian antibiotik β-laktamase resisten

d. Hipertrofi tonsil unilateral yang dicurigai merupakan suatu keganasan

Saat mempertimbangkan tonsilektomi untuk pasien dewasa harus dibedakan

apakah mereka mutlak memerlukan operasi tersebut atau hanya sebagai kandidat.

Dugaan keganasan dan obstruksi saluran nafas merupakan indikasi absolut untuk

tonsilektomi. Tetapi hanya sedikit tonsilektomi pada dewasa yang dilakukan atas

indikasi tersebut, kebanyakan karena infeksi kronik (Hermani B, 2004).1

Obstruksi nasofaringeal dan orofaringeal yang berat sehingga boleh

mengakibatkan terjadinya gangguan apnea ketika tidur merupakan indikasi absolute

untuk surgery. Pada kasus yang ekstrim, obstructive sleep apnea ini boleh

menyebabkan hipoventilasi alveolar, hipertensi pulmonal dan kardiopulmoner

(Paradise, JL, 2009).1

Kontraindikasi Tonsilektomi

Terdapat beberapa keadaan yang disebutkan sebagai kontraindikasi, namun

bila sebelumnya dapat diatasi, operasi dapat dilaksanakan dengan tetap

memperhitungkan imbang “manfaat dan risiko”. Keadaan tersebut adalah:1

1. Gangguan perdarahan

2. Risiko anestesi yang besar atau penyakit berat

3. Anemia

4. Infeksi akut yang berat

3.7 KOMPLIKASI

14

Page 15: Tutorial Tonsilitis Akut & Kronik

a. Komplikasi Tonsilitis Akut

Pada anak sering menimbulkan komplikasi otitis media akut, sinusitis, abses

peritonsil (Quincy throat), abses parafaring, bronkitis, glomerulonefritis akut, miokarditis,

artritis serta septikemia akibat infeksi v. jugularis interna (sindrom Lemierre).2

Akibat hipertrofi tonsil akan menyebabkan pasien bernapas melalui mulut, tidur

mendengkur (ngorok), gangguan tidur karena terjadinya sleep apnea yang dikenal sebagai

Obstructive Sleep Apnea Syndrome (OSAS).2

b. Komplikasi Tonsilitis Kronik

Radang kronik tonsil dapat menimbulkan komplikasi ke daerah sekitarnya berupa

rinitis kronis, sinusitis atau otitis media secara perkontinuatum. Komplikasi jauh terjadi

secara hematogen atau limfogen dan dapat timbul endokarditis, artritis, miositis, nefritis,

uveitis, iridosiklitis, dermatitis, dermatitis, pruritus, urtikaria dan furunkulosis.2

Tonsilektomi dilakukan bila terjadi infeksi yang berulang atau kronik, gejala

sumbatan serta kecurigaan neoplasma.2

c. Komplikasi Anastesi

Komplikasi terkait anestesi terjadi pada 1:10.000 pasien yang menjalani

tonsilektomi. Komplikasi ini terkait dengan keadaan status kesehatan pasien. Adapun

komplikasi yang dapat ditemukan berupa:1

- Laringospasme

- Gelisah pasca operasi

- Mual muntah

- Kematian saat induksi pada pasien dengan hipovolemi

- Induksi intravena dengan pentotal bisa menyebabkan hipotensi dan henti jantung

- Hipersensitif terhadap obat anestesi

d. Komplikasi Bedah

15

Page 16: Tutorial Tonsilitis Akut & Kronik

Perdarahan

Merupakan komplikasi tersering (0,1-8,1% dari jumlah kasus). Perdarahan

dapat terjadi selama operasi, segera sesudah operasi atau di rumah. Kematian akibat

perdarahan terjadi pada 1:35.000 pasien. Sebanyak 1 dari 100 pasien kembali karena

masalah perdarahan dan dalam jumlah yang sama membutuhkan transfusi darah.1

Perdarahan yang terjadi dalam 24 jam pertama dikenal sebagai early

bleeding, perdarahan primer atau “reactionary haemorrage” dengan kemungkinan

penyebabnya adalah hemostasis yang tidak adekuat selama operasi. Umumnya terjadi

dalam 8 jam pertama. Perdarahan primer ini sangat berbahaya, karena terjadi sewaktu

pasien masih dalam pengaruh anestesi dan refleks batuk belum sempurna. Darah dapat

menyumbat jalan napas sehingga terjadi asfiksia. Perdarahan dapat menyebabkan

keadaan hipovolemik bahkan syok.1

Perdarahan yang terjadi setelah 24 jam disebut dengan late/delayed bleeding

atau perdarahan sekunder. Umumnya terjadi pada hari ke 5-10 pascabedah.

Perdarahan sekunder ini jarang terjadi, hanya sekitar 1%. Penyebabnya belum dapat

diketahui secara pasti.1

Nyeri

Nyeri pascaoperasi muncul karena kerusakan mukosa dan serabut saraf

glosofaringeus atau vagal, inflamasi dan spasme otot faringeus yang menyebabkan

iskemia dan siklus nyeri berlanjut sampai otot diliputi kembali oleh mukosa, biasanya

14-21 hari setelah operasi. Nyeri tenggorok muncul pada hampir semua pasien

pascatonsilektomi. Nyeri pascabedah bisa dikontrol dengan pemberian analgesik. Jika

pasien mengalami nyeri saat menelan, maka akan terdapat kesulitan dalam asupan oral

yang meningkatkan risiko terjadinya dehidrasi. Bila hal ini tidak dapat ditangani di

rumah, perawatan di rumah sakit untuk pemberian cairan intravena dibutuhkan.1

e. Komplikasi Lain

Dehidrasi, demam, kesulitan bernapas, gangguan terhadap suara, aspirasi,

otalgia, pembengkakan uvula, insufisiensi velopharingeal, stenosis faring, lesi di bibir,

lidah, gigi dan pneumonia (Wanri, A., 2007).1

3.8 PERBEDAAN TONSILITIS AKUT DAN KRONIK

16

Page 17: Tutorial Tonsilitis Akut & Kronik

Kriteria Tonsilitis Akut Tonsilitis KronikEtiologi Tonsilitis akut adalah radang akut

pada tonsil, dikarenakan infeksi kuman terutama Streptokokus hemolitikus (50%) atau virus. Penyebab yang lain adalah Stafilokokus sp., Hemofilus influenza.3

Kuman penyebabnya sama dengan tonsilitis akut tetapi kadang- kadang kuman berubah menjadi kuman golongan gram negatif.2

Tanda dan Gejala Masa inkubasi 2-4 hari. Gejala dan tanda yang sering ditemukan adalah nyeri tenggorok dan nyeri menelan, demam dengan suhu tubuh yang tinggi, rasa lesu, rasa nyeri di sendi-sendi, tidak nafsu makan dan rasa nyeri di telinga (otalgia). Rasa nyeri di telinga ini karena nyeri alih (referred pain).2

Suara penderita terdengar seperti orang yang mulutnya terisi penuh makanan panas. Keadaan ini disebut plummy voice. Mulut berbau busuk (foetor ex ore), dan ludah menumpuk dalam kavum oris akibat adanya nyeri telan yang hebat (ptialismus).3

Pada pemeriksaan tampak tonsil membengkak, hiperemis dan terdapat detritus berbentuk folikel, lakuna atau tertutup oleh mebran semu. Kelenjar submandibula membengkak dan nyeri tekan.2

Pada pemeriksaan tampak tonsil membesar dengan permukaan yang tidak rata, kriptus melebar dan beberapa kripti terisi oleh detritus. Rasa mengganjal di tenggorokan, dirasakan kering di tenggorok dan anpas bebau. 2, 4

Penatalaksanaan Pada umumnya, penderita dengan tonsilitis akut serta demam sebaiknya tirah baring, pemberian cairan adekuat, dan diet ringan. Aplikasi lokal seperti obat tenggorokan, dianggap mempunyai arti yang relatif kecil. Analgesik oral efektif dalam mengendalikan rasa tidak enak.4

OBAT KUMUR, efektivitas obat kumur masih dipertanyakan.

Terapi antibiotika dikaitkan dengan biakan dan sensitivitas yang tepat, jika dianjurkan, adalah

Pengobatan pasti untuk tonsilitis kronis adalah pembedahan pengangkatan tonsil, tindakan ini dilakukan pada kasus dimana penatalasanaan medis atau konservatif gagal untuk meringankan gejala, penatalaksanaan medis termasuk pemberian penisilin yang lama, irigasi tenggorokan, dan tindakan pembersihan kripta tonsilaris dengan alat irigasi gigi atau oral. 4,5

17

Page 18: Tutorial Tonsilitis Akut & Kronik

pengobatan untuk faringitis bakterialis akut. Penisilin masih obat pilihan, kecuali kalau organismenya resisten atau penderita sensitif terhadap penisilin.4

BAB IV

18

Page 19: Tutorial Tonsilitis Akut & Kronik

KESIMPULAN

Kasus ini didiagnosis Tonsilitis Kronis atas dasar:

1. Pada anamnesis pasien mengeluh Pasien mengeluh tenggorokan terasa gatal dan terasa

seperti ada yang mengganjal, nyeri telinga (+), tidur ngorok (+), deman tidak ada.

2. Pada pemeriksaan fisik

Tenggorokan :

Mukosa : Hiperemis (+/+), Granul (-/-)

Uvula : Deviasi (-/-)

Tonsil : T3 - T3, Hiperemis (-/-), kripta melebar (+/+), detritus melebar (+/+)

Penatalaksanaan pada pasien ini ialah: Tonsilektomi

DAFTAR PUSTAKA

19

Page 20: Tutorial Tonsilitis Akut & Kronik

1. http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23175/.../Chapter%20II.pdf

2. Soepardi, E. A., dkk. Buku Ajar Ilmu Kesehatan : Telinga Hidung Tenggorok Kepala &

Leher Edisi Keenam. Jakarta : Balai Penerbit FKUI. 2010.

3. Herawati, Sri dan Sri Rukmini. Buku Ajar : Ilmu Penyakit Telinga Hidung Tenggorok.

Jakarta : EGC

4. Adams, George L. Boies : Buku Ajar Penyakit THT Edisi 6. Jakarta : EGC. 1997.

5. Udayan K Shah, Tonsillitis and Peritonsillar Abscess Differential Diagnoses,

emedicine.medscape.com

20