32
KATA PENGANTAR Puji syukur tercurah ke hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat-Nya penyusun dapat menyelesaikan resensi bab buku yang berjudul Arsitektur Sunda di Tiga Kampung. Juga pada Rasulullah SAW. Resensi ini saya susun dimaksudkan untuk memenuhi tugas individu. Guna mengetahui lebih dalam tentang Arsitektur Sunda. Dalam resensi ini penyusun akan membahas tentang pola kehidupan masyarakat sunda, sistem kepercayaan, dan perkembangan sosial dalam pengaruhnya terhadap bentukan arsitektur sunda. Namun, tanpa bantuan dari berbagai pihak, resensi ini tentu tidak dapat terselesaikan. Maka dari itu penyusun ingin menyampaikan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendorong dan membantu penyusun dalam menyelesaikan resensi ini. Walaupun resensi ini telah tersusun, namun penyusun tahu masih banyak kekurangan yang terdapat dalam resensi ini, maka untuk itu penyusun mohon maaf bila terdapat kesalahaan, namun kami berharap resensi ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun pembacanya. Terima kasih. Penyusun Arsitektur Tradisional Sunda Page 1

Tugas Uts Individu

Embed Size (px)

Citation preview

KATA PENGANTAR

Puji syukur tercurah ke hadirat Allah SWT, karena berkat rahmat-Nya penyusun dapat menyelesaikan resensi bab buku yang berjudul Arsitektur Sunda di Tiga Kampung. Juga pada Rasulullah SAW.Resensi ini saya susun dimaksudkan untuk memenuhi tugas individu. Guna mengetahui lebih dalam tentang Arsitektur Sunda. Dalam resensi ini penyusun akan membahas tentang pola kehidupan masyarakat sunda, sistem kepercayaan, dan perkembangan sosial dalam pengaruhnya terhadap bentukan arsitektur sunda. Namun, tanpa bantuan dari berbagai pihak, resensi ini tentu tidak dapat terselesaikan. Maka dari itu penyusun ingin menyampaikan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendorong dan membantu penyusun dalam menyelesaikan resensi ini.Walaupun resensi ini telah tersusun, namun penyusun tahu masih banyak kekurangan yang terdapat dalam resensi ini, maka untuk itu penyusun mohon maaf bila terdapat kesalahaan, namun kami berharap resensi ini dapat bermanfaat bagi penulis maupun pembacanya. Terima kasih.

Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.........................................................................................1

DAFTAR ISI.....................................................................................................2

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang................................................................................3

1.2. Rumusan Masalah...........................................................................3

1.3. Tujuan Penulisan.............................................................................4

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Ringkasan Bab III Arsitektur Sunda di Tiga Kampung...............................5

2.1.1. Kampung Tonggoh..........................................................................5

2.1.2. Kampung Cigenclang.......................................................................6

2.1.3. Kampung Palastra...........................................................................8

2.1.4. Konsep Tempat pada Bentuk Arsitektur.........................................9

2.2. Analisis......................................................................................................12

BAB III PENUTUP

3.1. Kesimpulan................................................................................................18

3.2. Saran..........................................................................................................18

DAFTAR PUSTAKA....................................................................................................19

LAMPIRAN................................................................................................................20

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar BelakangKebudayaan merupakan bagian yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Kebudayaan suatu bangsa dapat dilihat dari berbagai aspek termasuk dari aspek arsitektur yang diciptakan manusia dalam suatu kelompok. Kebudayaan pun terbentuk karena suatu proses kehidupan yang dipengaruhi oleh berbagai hal misalnya lingkungan alam, sosial, dan religi. Dengan melihat pada kebudayaan lokal yang nilai sejarahnya masih terkandung kental, kita bisa belajar dari apa yang telah terjadi pada masa lalu.Kebudayaan masyarakat lokal memiliki banyak pelajaran yang dapat kita pelajari dan ambil hikmahnya untuk kehidupan yang lebih baik, terutama karena masih terkandungnya nilai-nilai sejarah yang membentuk peradaban dan pola kehidupan masyarakat tersebut. Dengan mengenali sejarah dan kebudayaan, kita dapat mengenali darimana kita berasal, nilai apa saja yang dapat dipertahankan, dan nilai-nilai apa saja yang perlu mengalami perubahan.Suku Sunda merupakan salah satu bagian dari kebudayaan tersebut. Karena suku sunda merupakan suku yang paling dekat dan dapat teramati dengan baik, sudah seharusnya kita mengetahui tentang kebudayaan suku sunda serta implikasinya terhadap bentukan arsitektur. Kebudayaan suku sunda terus berkembang dari dulu hingga sekarang, namun selalu ada nilai-nilai yang tetap dipertahankan dan menjadi perhatian.Selain itu, studi literatur mengenai arsitektur dan kebudayaan masyarakat sunda masih jarang ditemukan. Diharapkan dengan penulisan resensi bab pada buku Menelusuri Arsitektur Masyarakat Sunda ini, kita dapat lebih memahami kebudayaan masyarakat Sunda dan pengaruhnya terhadap bentukan arsitektur.

1.2. Rumusan Masalah Bagaimana pola perkampungan dan zonasi dari ketiga kampung sunda (Kampung Tonggoh, Kampung Cigenclang, dan Kampung Palastra)? Unsur apa saja yang khas maupun selalu ada dalam setiap pola perkampungan? Perilaku apa saja yang tampak pada ketiga perkampungan tersebut? Kosmologi apa saja yang mereka anut sehingga mempengaruhi bentukan arsitekurnya?

1.3. Tujuan PenulisanPenulisan resensi ini dimaksudkan untuk memenuhi tugas tengah semester dan guna mengkaji lebih dalam tentang kebudayaan Sunda dan pengaruhnya terhadap Arsitektur.

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Ringkasan Bab III Arsitektur Sunda di Tiga KampungPada bab ini akan dibahas mengenai arsitektur Sunda di tiga kampung yaitu Kampung Tonggoh, Kampung Cigenclang, dan Kampung Palastra. Ketiga Kampung ini telah dipilih menjadi objek penelitian berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu. Diharapkan, setelah mengetahui pola kehidupan, tata letak, dan bentukan arsitektur yang menonjol dari tiga kampung tersebut, kita akan lebih mendalami dan mengetahui tentang Arsitektur Sunda di tiga kampung tersebut.

2.1.1. Kampung TonggohKampung Tonggoh terletak di Desa Cilaut, Kecamatan Pamengpeuk, Kabupaten Garut. Kampung Tonggoh terdiri dari Kampung Tonggoh Dalam dan Kampung Tonggoh Luar. Keduanya dipisahkan oleh pagar bambu. Kampung tonggoh sendiri agak sulit diakses dengan kendaraan, sebelum masuk ke gerbang utama, kita harus berjalan sekitar 2 km karena jalan yang curam.Batas fisik sebelah utara dari Kampung Tonggoh adalah area makam keramat yang berada di tengah hutan, di bagian selatan adalah Kampung Tonggoh-Luar yang relatif baru tumbuh, sedangkan batas bagian timur dan barat adalah ladang. Luas keseluruhan daerah Kampung Tonggoh kurang lebih 18 hektar, dengan lahan karomah seluas 4 hektar, pemukiman dan ladang. Karomah merupakan daerah keramat tempat area makam leluhur kampung tonggoh, hutan larangan Kampung Tonggoh, dan tempat cai-nyusu (sumber air).Kontur dari Kampung Tonggoh sendiri berundak-udak dan menurun sekitar 1-2 meter ke arah selatan, batas undakan diperkuat dengan batu-batu besar. Di tengah lahan permukaan penduduk, terdapat sebuah batu berdiameter kurang-lebih 3 meter dengan tinggi 2,5 meter yang disebut sebagai batu hideung. Seluruh rumah di kampung tersebut memiliki bentuk serupa yaitu panggung dengan atap pelana berpenutup hateup (alang-alang dilapis ijuk).Kampung tongggoh membatasi rumah yang dibangun yaitu hanya 54 rumah saja, namun seiring berjalannya waktu penduduk terus bertambah dan akhirnya penduduk membuat tonggoh luar. Tonggoh Luar lebih bebas dalam aturannya, sedangkan Tonggoh Dalam lebih memegang teguh adat-istiadat yang ada, yaitu dilarang menggunakan listrik, radio, dan petromaks.

Gambar 1 Potongan Pemukiman Kampung Tonggoh

Gambar 2 Pola Pemukiman Kampung Tonggoh

2.1.2. Kampung CigenclangKampung Ciigenclang terletak di Desa Cisampih, Kecamatan Kalijati, Kabupaten Subang, Jawa Barat, di ketinggian kurang lebih 400 meter dari muka laut. Terletak di tengah perkebunan karet dan hanya bisa dicapai dengan multipurpose-vehicle. Secara fisik dikelilingi oleh perkebunan karet, pada dataran yang lebih tinggi di sebelah di sebelah selatan terdapat makam karuhun.. perumahan di Kampung Cigenclang terletak pada lahan yang mempunyai perbedaan kontur beragam antara 0.75 sampai 1.25 meter menurun ke arah utara.Luas Kampung Cigenclang secara keseluruhan adalah 4,5 hektar, termasuk di dalamnya tanah penduduk dan tanah perkebunan. Selain itu terdapat makam karuhun yang konon merupakan cikal bakal kampung Cigenclang dan dianggap keramat serta terdapat cai-nyusu (sumber air) yang pertama. Pendiri kampung ini diyakini adalah karuhun, dia dimakamkan di daerah makam eyang keramat yang terlapat di sebelah selatan kampung. Gaya rumah di kampung Cigenclang saat ini sudah bervariasi, begitu pula dengan penggunaan materialnya. Yang relatif masih asli adalah berupa rumah panggung dengan atap periasai ditutup genting dan dinding bilik (anyaman bambu); sedangkan yang relatif baru adalah rumah-rumah yang sudah bukan menggunakan rumah pangggung laggi, dinding yang sebagian atau seluruhnya menggunakan bata dengan atap perisai dan penutup berupa genting. Walau banyak perubahan, bentuk dari rumah-rumah tersebut relatif sama.Nama kampung ini diyakini berasal dari kata Cai-Genclang (air bening) atai Cai-Sedang, merujuk pada mata air, lampu terang. Kampung ini telah tumbuh dan berdiri sebelum perkebunan Inggris Pamanukan & Tjiasem (P&T Land) mengelola daerah ini perkebunan karet.

Gambar 3 Pola Pemukiman Kampung Cigenclang

Gambar 4 Potongan Pemukiman Kampung Cigenclang

2.1.3. Kampung PalastraKampung Palastra terletak di Kecamatan Palastra, Kabupaten Majalengka. Kampung ini terletak pada ketinggian kurang lebih 50 meter dari muka laut. Perumahan Kampung Palastra terletak pada kontur yang relatif datar, perbedaan konturnya antara 0.0 cm sampai 0.50 cm menurun ke arah selatan. Akses ke kampung ini relatif mudah dan dapat dicapai dengan kendaraan jenis apapun.Luas seluruh Kampung Palastra kurang-lebih 18 hektar. Kampung Palastra mempunyai luas 5.4 hektar terdiri dari lahan makam karuhun, kampung (pemukiman) Palastara, dan huma (ladang). Seperti pada Kampung Tonggoh dan Kampung Cigenclang, kampung ini juga memiliki makam karuhun yang dianggap keramat yang terlatak di sebelah utara kampung.Seperti pada Kampung Cigenclang, rumah di Kampung Palastara sudah memiliki gaya beragam dan menggunakan material bervariasi. Rumah yang relatif masih asli adalah imah-kuncen, yang naik sekitar 35 cm dari tanah halaman. Lanatai ini adalah tanah keras padat dan dapat disapu, sehingga permukaannya tampak bersih tidak berdebu, konstruksi atap limasan ditutup genteng, dinding (anyaman bambu). Rumah relatif baru dengan menggunakan dinding tembok sebagaian atau seluruhnya dengan atap perisai dan penutup genteng. Walaupun gayanya bervariasi , semua rumah disana mempunyai tipe hampir serupa.Asal nama palastra cukup sulit ditelusuri, mitos menceritakan bahwa Palastra merupakan nama seorang pemimpin laskar dari Cirebon yang berjaya ketika daerah ini diserahkan bupati Sumedang kepada Cirebon. Mitos ini bisa dikaitkan dengan adanya kosakata palastra dalam bahasa sunda yang berasal dari Sanskrit, artinya ialah mati kusunya mati di medan di medan perang.

Gambar 5 Pola Pemukiman Kampung Palastra

Gambar 6 Potongan Pemukiman Kampung Palastra

Perubahan yang terlihat dari ketiga kampung diatas terjadi karena adanya faktor primer dan sekunder, faktor primer ada karena adanya perubahan yang berlangsung secara lambat dan berangsur-angsur namun pasti, seperti perubahan dari lokasi tempat didirikannya kampung, sedangkan faktor sekunder bersifat cepat dan ditimbulkan karena adanya pengaruh dari luar.Jika diamati lebih cermat, tiga unsur yang selalu ada dari ketiga kampung tersebuh adalah makam karuhun, pemukiman dan ladang. Selain ketiga aspek tersebut, ada aspek lain seperti sarana pendidikan, mata air, hutan larangan, kebun karet dan tebu, warung, pagar pembatas, namun hanya ditemukan pada salah satu atau dua kampung saja.Hal yang dapat diperhatikan dari pola pemukiman penduduk adalah selalu tersedia mushala di setiap kampung, juga imah kuncen, imah warga, tegalan aatau lapang terbuka, dan air bersih. Selain itu terdapat batu hideung di Kampung Tonggoh, kandang ternak di Kampung Cigenclang dan Kampung Palastra.Terdapat dugaan bahwa asal mula dari kampung berawal dari imah kuncen, imah baraya (keluarga dekat kuncen), cai nyusu dan mushala. Dalam perkembanyannya mushola dapat menjadi masjid yang dilengkapi dengan tegalan. Menurut Yudistira Garna (1980) menyebut unit terkecil suatu kampung Sunda terdiri dari tiga rumah yang disebut umbulan, kemudian berkembang menjadi lima rumah (babakan) yang kemudian menjadi sebuah kampung.Bentuk rumah warga sendiri merupakan pengembangan dari imah kuncen, terutama di Kampung Tonggoh dimana imah kuncen dan imah warga tidak jauh berbeda, sedangkan di Kampung Cigenclang dan Kampung Palastra lebih banyak ditemukan variasi walaupun bentuk dasarnya mengacu pada imah kuncen. Imah sendiri terdiri dari beberapa bagian, yaitu tengah imah (area yang digunakan pria dan wanita untuk berkativitas bersama), tepas (area yang digunakan pria untuk menerima tamu atau melakukan pekerjaannya, tidak digunakan oleh wanita), pawon (area untuk wanita menerima tamu dan mengerjakan pekerjaannya), goah (tempat penyimpanan beras), hawu (alat untuk memasak), pangkeng (area tempat tidur bagi penghuni rumah), dan golodog (area yang terletak di depan pintu masuk pria dan wanita)

2.1.4. Konsep Tempat pada Bentuk ArsitekturBerdasarkan berbagai studi literatur yaitu naskah Wawacan Lutung Kasarung (era Hindu), Sanghyang Siksa Kandang Karesian (era Padjajaran), Mantri Jero (era Mataram Islam) menunjukkan adanya konsep yang berhubungan atau dapat dikatakan mendasari elemen, orintasi, dan mitos tempat (penempatan). Rinciannya sebagai berikut:

penempatanEra hinduEra PadjajaranEra Mataram Isalm

ElemenGunungSungaiHulu-DayeuhLemahCai-nyusuImahPipirBuruanLemah CaiBali ngeusah ngajadiBanjar karangPamidangan

OrientasiBumi nyuncungKidul-kalerWetan-kulonSanghyang wukuLuhurTengahhandapKiblatKidul-kalerWetan-kulonLuhur handap

MitosJagat sebagai tempat manusia mengambil segala keperluannya

Batas wilayah manusia-alamJagat dipadankan dengan badan manusia

Alam=manusia yang mempunyai wadah dan jiwaTempat lahir sebagai wadah yang mempunyai jiwa

Identifikasi batas teritori tempat kelahiran

Tabel 1 konsep penempatan dalam literatur sundaDibandingkan dengan konsep penempatan pada ketiga era diatas, konsep yang masih ada di ketiga kampung adalah lemah cai, luhur handap, wadah-eusi, dan kaca-kaca.Lemah cai adalah tempat kelahiran atau kampung halaman. Lemah cai mengandung arti dibutuhkan dua elemen komplementer sebagai syarat suatau pemukiman, yaitu lemah (tanah) yang layak huni dan layak dijadikan ladang, serta cai (air) yang tersedia.Luhur handap merupakan suatu konsep yang memiliki pengertian berbeda dari setiap kampung, di Kampung Tonggoh dan Kampung Cigenclang, luhur handap diimplementasikan pada pola pemukiman dan wadah fisik dari suatu bangunan, sedangkan pada Kampung Palastra konsep ini hanya dipakai dalam wadah fisik saja, hal ini kemungkinan karena kontur Kampung Palastra relatif datar, berbeda dari Kampung Tonggoh dan Kampung Cigenclang. Pada pemahaman ini, luhur (atas) dianggap tempat yang lebih suci dan lebih baik dibandingkan dibawah, contohnya imah kuncen selalu ada di kontur paling atas.Wadah-eusi merupakan konsep dimana setiap bentuk fisik pasti memiliki jiwa dan kekuatan supranatural. Hal ini mendasari proses pemilihan lokasi kampung, seperti yang terjadi di kampung tonggoh yang lokasinya diyakini berasal dari pertapaan seseorang, ladang, juga pemukiman. Di Kampung Tonggoh hal ini ditandai dengan adanya batu hideung di tengah kampung, di Kampung Cigenclang ditandai dengan adanya hutan keramat tempat ular besar bersarang, dan di Kampung Palastra berupa kuburan yang telah ada. Kaca-kaca merupakan konsep yang dipahami sebagai batas dalam arti luas, hal ini bisa berarti apa saja, bisa batas antar ketinggian tempat, perbedaan materia tempat, atau bisa juga dari dua benda yang diletakkan untuk menandai perbedaan area. Perbedaan area ini dapat ditanpadi dengan unmbul-umbul, misalnya untuk menandai batas kampung

2.2. AnalisisArsitektur merupakan cerminan dari dari kebudayaan manusia, termasuk pada budaya Sunda. Dari ketiga kampung tersebut, yaitu Kampung Tonggoh, Kampung Cigenclang, dan Kampung Palastra, adat istiadat masih begitu kuat, terutama di kampung tonggoh yang lebih tertutup pada lingkungan dan pengaruh dari luar. Konsep ini hampir sama dengan pola perkampungan Suku Baduy dimana terdapat suku Baduy Luar dan suku Baduy Dalam yang memiliki perbedaan keterbuakaan sikap pada pengaruh dari luar. Suku Baduy sendiri adalah suku asli sunda yang berdomisili di kawasan Pegunungan Keundeng, tepatnya di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten. Suku Baduy dikenal karena adat istiadat yang sangat kuat dipertahankan, terutama suku Baduy Dalam. Hal ini juga yang mendasari pembagian suku menjadi suku Baduy Dalam dan Luar, karena adanya pembatasan jumlah rumah sedangkan penduduk terus bertambah, maka suku Baduy Luar dibentuk. Suku baduy dalam cenderung lebih tertutup pada pengaruh dari luar, mereka tidak menerima akses listrik, pendidikan formal, maupun barang elektronik. Suku baduy luar sendiri lebih terbuka, mereka masih menerima akses listrik dan memiliki kehidupan adat yang lebih longgar dari Suku Baduy Dalam. Berdasarkan pemaparan yang telah disebutkan diatas, ada beberapa ciri yang menonjol dalam arsitektur tradisional sunda di tiga kampung tersebut, diantaranya :2.2.1. Pengaruh animisme yang masih kuat di kalangan masyarakatHal ini ditandai dengan selalu ditemukannya makam karuhun atau keramat pada ketiga perkampungan. Pada kampung tonggoh, wilayah makam keramat berada di bagian utara kampung dan berada pada garus kontur yang tertinggi. Pada Kampung Cigenclang, makam karuhun berada di sebelah selatan kampung, dekat dengan hutan keramat yang diyakini sebagai tempat bersarangnya ular besar. Sedangkan pada Kampung Palastra, makam karuhun berada di sebelah utara kampung. Makam karuhun ini merupakan tempat yang selalu mereka kunjungi pada waktu-waktu tertentu, misalnya pada saat panen, musim kekeringan, idul fitri, tahun baru muharram dan sebagainya. Masyarakat meyakini bahwa dengan melakukan hal-hal tersebut, keberkahan akan datang dan kampung akan dijauhkan dari berbagai mara bahaya. Sedangkan untuk tata caranya, setiap kampung memiliki aturan yang berbeda, di Kampung Tonggoh, masyarakat hanya diperbolehkan ziarah saat subuh setelah melakukan ritual tertentu, sedangkan untuk Kampung Cigenclang dan Kampung Palastra aturan tidak terlalu ketat. Sebenarnya, kepercayaan terhadap arwah nenek moyang bukan saja ditunjukkan oleh masyarakat Sunda, namun hampir oleh seluruh masyarakat adat di seluruh Indonesia, contohnya pada Suku Toraja di Sulawesi Selatan. Kepercayaan animisme mereka dikenal dengan Aluk To Dolo dan diketegorikan oleh pemerintah sebagai Agama Hindu Dharma. Lain halnya dengan suku Dayak, kepercayaan mereka yang berhubungan dengan animisme dikenal dengan kaharingan. Sebenarnya kebanyakan dari suku-suku adat di Indonesia memiliki agama, seperti Islam, Kristen maupun Hindu, namun animisme masih di pengang kuat. Sama seperti Kampung Tonggoh, Kampung Cigenclang dan Kampung Palastra, walaupun mayoritas penduduk ketiga kampung tersebut beragama Islam, pengaruh animisme yaitu kepercayaan pada roh nenek moyang masih sangat kental.2.2.2. Konsep sineger tengah yang melahirkan bentuk persegi panjang pada bentuk rumahMasyarakat Sunda percaya bahwa semua hal harus dilakukan secara seimbang, tidak kurang dan tidak lebih. Konsep seperti ini dikenal dengan nama sineger tengah. Hal inilah yang mendasari bentukan rumah mereka yang berbentuk segiempat. Pada semua rumah penduduk, terutama pada imah kuncen yang nilai orisinalitasnya masih sangat dipertahankan, bentukan rumah diawali dengan bagian tengah yang bisa dipakai pria dan wanita secara bersama-sama, lalu bergerak ke kanan dan ke kiri untuk bagian lainnya. Hal ini juga yang menyebabkan tidak terlalu banyak variasi yang mencolok dalam variasi bentuk rumah di ketiga perkampunga tersebut.Konsep ini juga yang mendasari masyarakat sunda dalam melakukan kegiatan yang berhubungan dengan arsitektur seperti membuat rumah. Orang sunda percaya bahwa manusia dan alam harus senantiasa hidup berdampingan dengan harmonis. Keharmonisan ini dapat dicapai dengan keseimbangan. Masyarakat Sunda tidak membangun rumah mereka secara berlebihan dan selalu menjaga kelestarian alam karena mereka percaya bahwa setiap elemen kehidupan memiliki jiwa.2.2.3. Pengaruh Islam yang tercermin dengan ditemukannya mushala atau masjid di setiap perkampunganPengaruh Islam masuk ke pulau jawa kira-kira pada abad ke 14, hal ini juga yang mempengaruhi pola perkampungan dan pengadaan tempat ibadah atau masjid. Masjid menjadi unsur yang begitu penting dalam perkampungan, hal ini tercermin dari hipotesis yang dilakukan Yudistira Garna bahwa kemungkinan, setelah imah kuncen dan imah baraya, elemen yang kemudian muncul adalah mushala atau masjid.2.2.4. Pemisahan gender yang terlihat dari pembagian zona dalam rumahRumah tradisional sunda memiliki dua pintu masuk, pintu masuk utama untuk pria, dan pintu masuk samping untuk wanita. Hal ini diikuti dengan adanya zonasi yang sangat jelas, contohnya saja tepas yang hanya boleh ditempati oleh pria dan pawon yang hanya boleh ditempati oleh wanita. Tepas selalu berada dekat dengan hawu (tempat memasak) dan goah (tempat penyimpanan beras), hal ini berkaitan dengan kegiatan wanita di ketiga perkampungan tersebut yaitu memasak.Konsep pemisahan gender ini bukan hanya tercermin pada zonasi rumah, namun juga pengadaan mushala. Di Kampung Tonggoh terdapat dua mushala, yang satu untuk pria dan satunya lagi untuk wanita. Kedua mushala ini diletakkan di tempat yang ketinggiannya berbeda, mushala pria ditempatkan lebih atas daripada mushala wanita, alasannya tak lain karena masyarakat Kampung Tonggoh masih meyakini bahwa laki-laki lebih tinggi derajatnya daripada wanita.2.2.5. Konsep kaca-kaca yang mempengaruhi batas-batas wilayahKonsep kaca-kaca adalah pemisahan antara zona yang satu dengan yang lain, batasnya bisa berupa pagar bambu, kerikil, maupun kontur tanah. Hal ini terlihat sangat kental di Kampung Tonggoh, dimana ada pagar bambu yang menandai Kampung Tonggoh Luar yang cenderung terbuka pada pengaruh dari luar dan Tonggoh Dalam yang lebih tertutup, bahkan tak mengizinkan adanya akses listrik. Batas-batas wilayah juga terlihat di pembagian pemukiman, makam karuhun dan ladang. Biasanya ketiga elemen ini diletakkan di tempat yang agak berjauhan dengan batas yang jelas, misalnya di Kampung Cigenclang, wilayah makam dan pemukiman ditandai dengan hutan yang mengelilingi makam.Konsep batas bukan hanya dikenal oleh masyarakat tradisional sunda, melainkan sudah dikenal dan diterapkan pada masyarakat modern. Lynch, (1975: 6-8) dalam bukunya The Image of The City menyebutkan bahwa terdapat 5 elemen dalam pembentukan sebuah citra kota, yaitu path (jalur), edges (batas, dapat berupa ruang maupun desain), district (area khusus yang memiliki karakteristik tertentu), nodes (arah pertemuan), dan landmark (hal yang menarik dan berbeda dalam suatu kota). Kelima unsur ini menampakkan dalanya batasan yang jelas antara daerah satu dengan yang lainnya. Hal ini menunjukkan adanya kemajuan dalam pemikiran masyarakat sunda. Pola pikir mereka telah terbentuk untuk membuat pola perkampungan menjadi lebih teratur dengan adanya batas-batas tertentu yang menandai zona berbeda dari setiap elemen kampung.2.2.6. Konsep Luhur-handap yang mempengaruhi tata letak perkampunganKonsep Luhur handap ini merupakan keyakinan mereka dimana apa yang ada di atas pasti lebih baik daripada apa yang ada di bawah. Hal ini tercermin dari letak imah kuncen yang dianggap sebagai pemuka adat dan seseorang yang memiliki status sosial yang tinggi dibandingkan masyarakat lainnya yang berada di atas. Pada kasus Kampung Tonggoh, mushala punditempatkan di atas, namun pada Kampung Cigenclang dan Kampung Palastra, konsep ini tak diterapkan pada perletakan mushala dan hanya didasari keberadaan tanah yang diwakafkan untuk membangun masjid atau mushala.Konsep luhur-handap ini sebenarnya tidak terlalu terlihat di Kampung Palastra karena kontur Kampung Palastra yang relatif datar dan lebih menonjol pada kampung lainnya karena perbedaan kontur yang kontras. Namun pada implementasi bentuknya, ketiga kampung ini masih menganut konsep ini. Didasarkan pada kepercayaan masyarakat Sunda, bahwa dunia terbagi tiga yaitu buana larang (handap), buana panca tengah (tengah-tengah), dan buana nyungcung(luhur). Hal ini dapat terlihat dari bentukan rumah tradisional mereka yang kebanyakan rumah panggung, dimana mereka yakin bahwa bagian bawah (area kosong dibawah badan rumah) menginterpretasikan dunia bawah, tempat dimana binatang berada, sedangkan bagian tengan menginterpretasikan dunia tengah, tempat hidup manusia dan atap sebagai bagaian atas yang menginterpretasikan dunia atas yang biasanya diisi oleh benda-benda pusaka.2.2.7. Konsep Wadah-Eusi yang mempengaruhi pemilihan materialMasyarakat Sunda percaya bahwa setiap benda memiliki jiwa, termasuk alam. Maka mereka yakin bahwa eksploitasi secara berlebihan dapat membuat jiwa-jiwa itu marah. Walaupun mereka meyakini bahwa alam tersedia untuk manusia, manusia wajib menjaga kelestariannya, sehingga meterial yang dipakai biasanya tak jauh dari kayu yang tersedia di sekitar mereka dan pembangunan yang dilakukan tidak berlebihan.2.2.8. Kearifan budaya yang tercerminHal yang baik yang terlihat jelas pada masyarakat sunda di ketiga kampung tersebut adalah kesederhanaan. Mereka cenderung tidak mengutamakan diri sendiri dan bersikap berlebihan. Mereka percaya akan keselarasan yang ditimbulkan dari keseimbangan (konsep sineger-tengah), sehingga mereka cenderung tidak menonjolkan diri. Hal ini tercermin dari bentuk rumah yang tidak jauh berbeda.Cara mereka memperlakukan alam pun harus ditiru, mereka menjaga agar alam tetap lestari, terlihat dari sikap mereka yang tidak mengeksploitasi alam secara berlebihan, bahkan mereka menggunakan pasak untuk menyambung rumah mereka sehingga kayu yang mereka gunakan untuk membangun rumah tidak rusak. Mereka juga selalu memberikan timbal balik terhadap alam dengan menggarap lahan pertanian dan hutan secara bijaksana dan tidak berlebihan2.2.9. Kelebihan dan kekurangan isi buku.Kelebihan buku ini adalah tampilannya yang menarik dan bahasa yang sederhana sehingga mudah dipahami, ditambah dengan tersedianya banyak grafik dan bagan untuk menjelaskan berbagai hubungan antara bahasan yang satu dengan yang lain sehingga pembaca lebih mudah mengerti isi dari buku tersebut.Namun kekurangannya adalah tidak tersedianya gambar-gambar suasana asli dari ketiga kampung yang digambarkan sehingga kita tidak dapat memperkirakan suasana yang ada disana. Selain itu juga terdapat pengulangan materi yang sebenarnya sudah dibahas sebelumnya pada bab terdahulu. Namun secara keseluruhan buku ini sudah cukup representatif dan menarik untuk dibaca.

BAB III PENUTUP

3.1. KesimpulanArsitektur tradisional sunda merupakan salah satu bagian yang penting dalam perkembangan arsitektur nusantara. Banyak kearifan lokal yang dapat kita ambil dan pelajari dan kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari, misalnya saja tentang kesederhnaan, harmonisasi dengan alam, dan gotong royong yang selalu mereka lakukan dalam menjaga dan melaksanakan kegiatan berarsitektur. Selain itu pengaruh dari lokasi yang berbeda pun dapat mempengaruhi kebudayaan yang terbentuk, pada Kampung Tonggoh dan Kampung cigenclang, kebudayaan cenderung lebih statis dibandingkan di Kampung Palastra karena Kampung Palastra berada di dekat pesisir.Kebudayaan lokal seperti inilah yang harus kita jaga dan lestarikan karena ternyata begitu banyak manfaat dari kegiatan arsitektur yang mereka lakukan. Tanpa pengetahuan yang mencukupi tentang ilmu-ilmu empiris yang berhubungan alam dan tanpa pengetahuan tentang kerusakan lingkungan yang marak terjadi di sekitar kita di masa modern ini, mereka telah menjadi agen dari perubahan untuk menjadikan lingkungan lebih baik dangan selalu menjaga harmonisasi antara manusia dengan alam dan menjaga alam supaya tidak rusak.

3.2. SaranAkan lebih baik jika kita meniru dan meresapi nilai yangtercermin dari arsitektur masyarakat sunda di tiga kampung tersebut, ditambah lagi kita memiliki pengetahuan dan ilmu yang lebih maju untuk melakukan hal yang lebih besar dalam melestarikan lingkungan dan menjaga kelestarian budaya lokal Indonesia, khususnya budaya Sunda.

DAFTAR PUSTAKA

A Budi Susanto. 2007. Masihkah Indonesia. Kanisius. YogyakartaAnonim. 2009. Melongok Kehidupan Suku Baduy. Tersedia di http://ekspresi-diri.blogspot.com/2009/02/melihat-kehidupan-suku-badui.html [online]Anonim. 2011. Konsep Citra Kota dalam Urban Desain. Tersedia di http://ilmutatakota.wordpress.com/2011/04/10/konsep-citra-kota-dalam-urban-design/ [online]Anonim. 2012. Suku Dayak Benuaq. Tersedia di http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Dayak_Benuaq [online]Anonim. 2012. Suku Toraja. Tersedia di http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Toraja [online]Anonim. 2012. Suku Sunda. Tersedia di http://id.wikipedia.org/wiki/Suku_Sunda [online]Fiana Abdurahman. ---. Istilah Bangunan Rumah Panggung Sunda Di Pesisir Selatan Tasikmalaya. Tersedia di http://journals.unpad.ac.id/ejournal/article/view/1539/1529 [online]Nuryanto. ---. Arsitektur Rumah Vernakuler Sunda. Tersedia di http://file.upi.edu/Direktori/FPTK/JUR._PEND.TEKNIK_SIPIL/197605132006041-NURYANTO/ars.rumah_verna.sunda-nur.pdf [online]Purnama Salura. 2007. Menelusuri Arsitektur Masyarakat Sunda. Cipta Sastra Salura. Bandung

Lampiran

Identitas Buku

Judul buku: Menulusuri Arsitektur Masyarakat SundaPengarang: Purnama SaluraPenerbit: Cipta Sastra SaluraTahun terbit: 2007Jumlah halaman: 110 haalamanJumlah bab: 5 babDimensi buku: 16cm x 28cm

CONTOH RUMAH ADAT MASYARAKAT SUNDAArsitektur Masyarakat SundaPage 1

Arsitektur Tradisional SundaPage 15