Tugas Obat Otonom

  • View
    24

  • Download
    3

Embed Size (px)

Text of Tugas Obat Otonom

TUGAS PRAKTIKUM FARMAKOLOGI

BLOK SARAF DAN PERILAKU

OBAT OTONOM

Oleh :

Nama

: RIZKI FAUJIAH. MNPM

: 1102010253FAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS YARSI

2012/2013OBAT OTONOM

Dasar Teori

Obat-obat otonom yaitu obat yang bekerja pada berbagai bagian susunan saraf otonom, mulai dari sel saraf sampai ke efektor. Banyak obat dapat mempengaruhi organ otonom, tetapi obat otonom mempengaruhinya secara spesifik dan bekerja pada dosis kecil.

Cara Kerja Obat Otonom

Terdapat beberapa kemungkinan pengaruh obat pada transmisi sistem kolinergik maupun adrenergik, yaitu :

Hambatan pada sintesis atau pelepasan neurotransmiter

KolinergikHemikolinium menghambat ambilan kolin ke dalam ujung saraf dan dengan demikian mengurangi sintesis Ach. Toksin botulinus menghambat pelepasan Ach di semua saraf kolinergik sehingga dapat menyebabkan kematian akibat paralysis pernapasan perifer. Toksin tersebut memblok secara ireversibel pelepasan Ach dari gelembung saraf di ujung akson dan merupakan salah satu toksin paling poten yang dikenal orang. Toksin tetanus mempunyai mekanisme kerja yang serupa.AdrenergikMetiltirosin memblok sintesis NE. Sebaliknya metildopa, penghambat dopa dekarboksilase, seperti dopa sendiri didekarboksilasi dan dihidroksilasi menjadi a-metil NE. Guanetidin dan bretilium juga mengganggu pelepasan dan penyimpanan NE. Menyebabkan pelepasan neurotransmiter

KolinergikRacun laba-laba Black widow menyebabkan pelepasan Ach (eksositosis) yang berlebihan, disusul dengan blokade pelepasan ini.

AdrenergikBanyak obat dapat meningkatkan pelepasan NE. Tergantung dari kecepatan dan lamanya pelepasan, efek yang terlihat dapat berlawanan. Tiramin, efedrin , amfetamin, dan obat sejenisnya menyebabkan pelepasan NE yang relatif cepat dan singkat sehingga menghasilkan efek simpatomimetik. Sebaliknya reserpin, dengan memblok transport aktif NE ke dalam vesikel menyebabkan pelepasan NE secara lambat dari dalam vesikel ke aksoplasma sehingga NE dipecah oleh MAO. Akibatnya terjadi blokade adrenergik akibat pengosongan depot NE di ujung saraf. Ikatan dengan reseptor

Obat yang menduduki reseptor dan dapat menimbulkan efek yang mirip dengan efek neurotransmiter disebut agonis. Obat yang hanya menduduki reseptor tanpa menimbulkan efek langsung, tetapi efek akibat hilangnya efek neurotransmiter (karena tergeser neurotransmiter dari reseptor) disebut antagonis atau bloker.Contoh obat kolinergik: hemikolinium, toksin botolinus, atropine, pirenzepin, trimetafan,dll.Contoh obat adrenergik: guanetidin, tiramin, amfetamin, imipiramin, klonidin, salbutamol, doxazosin, dll. Hambatan destruksi neurotransmiter

KolinergikAntikolinesterase merupakan kelompok besar yang menghambat destruksi Ach karena menghambat AChE, dengan akibat perangsangan berlebihan di reseptor muskarinik oleh Ach dan terjadinya perangsangan disusul blokade di reseptor nikotinik.

AdrenergikAmbilan kembali NE setelah pelepasannya di ujung saraf merupakan mekanisme utama penghentian transmisi adrenergik. Hambatan proses ini oleh kokain dan impiramin mendasari peningkatan respon terhadap perangsangan simpatis oleh obat tersebut.

Klasifikasi Obat Otonom1. Adrenergik ( Simpatomimetik)

Efek obat golongan ini menyerupai efek yang ditimbulkan oleh aktivitas susunan saraf simpatis.

Obat yang meniru efek perangsangan saraf simpatis, misalnya efedrin, isoprenalin, dll. Kerja langsung ( Katekolamin

Adrenalin (epinefrin), fenilefrin dll Efek yang ditimbulkan mirip perangsangan saraf adrenergik

Kebanyakan obat adrenergik bekerja secara langsung pada reseptor adrenergik

Reseptor simpatis yang berperan : 1, 2, 1 dan 2. Kerja tidak langsung

Adrenergik bekerja tidak langsung menyebabkan pelepasan NE dari ujung pre sinaptik, obat ini memperkuat epinefrin endogen tetapi tidak langsung mempengaruhi reseptor pasca sinaptik.

Amfetamin dan efedrin.

Menimbulkan efek adrenergik melalui pelepasan NE yang tersimpan dalam ujung saraf adrenergik.

Onset lebih lambat, masa kerja lebih lama.

Pemberian terus menerus, waktu singkat ( Takifilaksis2. Penghambat Adrenergik (Simpatolitik) Efek obat golongan ini menghambat timbulnya efek akibat aktivitas saraf simpatis.

Obat yang meniru efek bila saraf simpatis ditekan atau melawan efek adrenergik, misalnya propanolol, dll. Klasifikasi berdasarkan tempat kerjanya terdiri dari : Antagonis adrenoseptor ( alfa- Bloker), Antagonis adrenoseptor (beta - Bloker), Penghambat saraf adrenergik.3. Kolinergik (Parasimpatomimetik)

Efek obat golongan ini menyerupai efek yang ditimbulkan oleh aktivitas susunan saraf parasimpatis.

Obat yang meniru perangsangan dari saraf parasimpatis, misalnya pilokarpin, fisostigmin. Efek yang ditimbulkan :

stimulasi aktivitas saluran cerna, sekresi kelenjar ludah (hipersalivasi), getah lambung, air mata, dll. memperlambat sirkulasi darah dan mengurangi kegiatan jantung, vasodilatasi dan penurunan tekanan darah

menghambat pernafasan dengan menspasme otot polos saluran nafas, meningkatkan sekresi dahak kontraksi pupil dengan miosis, menurunkan TIO (tekanan intraokular) dan memperlancar keluarnya air mata

Kontraksi kandung kemih dan ureter.

Efek samping kolinergik : mual, muntah, diare, sekresi ludah, keringat dan air mata, bradikardi, bronkokonstriksi.

Penggunaan : glaukoma, myastenia gravis, atonia4. Penghambat Kolinergik (Parasimpatolitik)

Efek obat golongan ini menghambat timbulnya efek akibat aktivitas saraf parasimpatis.

Anti kolinergik yang bekerja pada reseptor muskarinik

Atropin, Ipratropium bromida

Efek sentral terhadap SSP (

Merangsang pada dosis kecil Mendepresi pada dosis toksik Efek farmakodinamik : Mengurangi sekresi saluran nafas, anti spasmodik,dll

Indikasi: Intoksikasi insektisida (organofosfat), Asma Bronkial dll.5. Obat GanglionEfek obat golongan ini merangsang atau menghambat penerusan impuls ganglion.

Terdiri dari :

a. Obat perangsang ganglion Nikotin b. Obat penghambat ganglionHeksametonium (C6), Pentolinium, dll.

(Pearce, Evelyn C, 1995; Gunawan, Sulistis Gan et al, 2007)Tujuan

Setelah praktikum mahasiswa dapat:

1. Menjelaskan system saraf otonom

2. Menjelaskan efek farmakodinamik obat otonom

3. Menggolongkan obat otonom yang digunakan dalam praktikum ini ke dalam obat kolinergik, antikolinergik,adrenergik dan anti adrenergik.

4. Menjelaskan dasar kerja obat yang digunakan pada praktikum ini.

I. EFEK OBAT OTONOM PADA MANUSIAAlat dan bahan:

Metronom

Gelas ukur

Stop watch

Tensi meter

Stetoskop

Permen karet

Air 20 ml

Obat : Efedrin 25 mg, Atropin 0,5 mg, Propanolol 10 mg.

Cara kerja :

1. Pemeriksaan dengan menggunakan uji tersamar ganda dengan 4 orang OP.2. Periksalah TD, denyut nadi, RR dan produksi saliva pada keadaan basal. Pengukuran produksi saliva dengan menggunakan gelas ukur yang didalamnya sudah terisi air 20 ml terlebih dahulu, OP diberikan permen karet setelah rasa manis permen karet hilang, saliva dikumpulkan selama 5 menit.3. Setelah itu OP diminta berlari ditempat mengikuti irama metronom selama 2 menit.4. Setelah berlari di tempat OP berbaring dan diukur TD, denyut nadi dan RR. 5. OP diminta meminum obat yang sudah disamarkan dengan segelas air putih (Plasebo, Efedrin 25mg, Atropin 0,5 mg, Propanolol 10mg), kemudian OP diminta berbaring.6. Pada menit ke 20 setelah meminum obat, ukur TD, denyut nadi, RR dan produksi saliva dengan keadaan OP tetap berbaring.7. Pada menit ke 40, hitung kembali TD, denyut nadi, RR dan produksi saliva dengan keadaan OP tetap berbaring.8. Pada menit ke 60, hitung kembali TD, denyut nadi, RR dan produksi saliva dengan keadaan OP tetap berbaring.9. Setelah itu OP diminta berlari ditempat mengikuti irama metronom selama 2 menit dengan keadaan manset sudah terpasang.10. Setelah berlari ditempat, periksalah TD dan denyut nadi. Tulislah hasil pemeriksaan efek dari tiap otonom dan plasebo pada keempat.Hasil Percobaan dan AnalisaTabel 1. Hasil Observasi OP 1ObservasiTekanan darahNadiRRSaliva

Basal110/7090304 ml

Post exercise140/70108

Menit ke-20135/8088204 ml

Menit ke-40135/9088206 ml

Menit ke-80125/8592205 ml

Post exercise140/70120

Dari hasil pengamatan, tidak ada perubahan yang signifikan pada tekanan darah, nadi, RR, dan jumlah saliva, perubahan yang terjadi hanya sedikit, diakibatkan efek fisologis saja. Maka disimpulkan OP 1 diberikan placebo.Tabel 2. Hasil Observasi OP 2ObservasiTekanan darahNadiRRSaliva

Basal110/7080204 ml

Post exercise130/70120

Menit ke-20110/701002010 ml

Menit ke-40120/7088208 ml

Menit ke-80115/7096208 ml

Post exercise150/70128

Dari hasil pengamatan, terlihat adanya peningkatan tekanan sistolik darah, meski tidak diikuti oleh peningkatan diastolik dan sempat menurun di menit ke-80. Frekuensi nadi juga bertambah meski sempat menurun di menit ke-40. RR tidak berubah dan produksi saliva menurun tak signifikan. Maka disimpulkan obat yang diberikan adalah efedrin.Efedrin memiliki efek pada organ yakni:

Sistem Kardiovaskular

Efek kardiovaskular efedrin menyerupai efek epinefrin tetapi berlangsung kira-kira 10 kali lebih lama. Tekanan sistolik meningkat, dan biasanya juga tekanan diastolik, sehingga tekanan nadi membesar. Peningkatan tekanan darah ini sebagian disebabkan oleh vasokonstriksi, tetapi terutama oleh stimulasi jantung yang meningkatkan kekuatan kontraksi jantung dan curah jantung. Denyut jantung mungkin tidak berubah akibat refleks kompensasi vagal terhadap kenaikan tekanan darah. Aliran darah ginjal d