33
Artika Theresiani TUGAS INDIVIDU (blm fix) Tn SF 62 th MRS dengan keluhan mual, muntah, lemah, denyut jantung terasa tidak teratur disertai nyeri dada. Dengan Hasil pemeriksaan ECG pasien didiagnosa SVT dan mendapat terapi Amiodarone , Primperan 3x 1 amp; Ranitidine 2 x 1 amp. Hasil lab: SGOT 1050, SGPT 5115, ALP 589mg/dl; GGT 478mg/dl; Bilirubin 3,7 mg/dl; GDA 122 mg/dl. METODE SOAP Subjectif: Tn SF 62 th MRS dengan keluhan mual, muntah, lemah, denyut jantung terasa tidak teratur disertai nyeri dada. Dengan Hasil pemeriksaan ECG pasien didiagnosa SVT. Objectif: Hasil lab: SGOT 1050, SGPT 5115, ALP 589mg/dl; GGT 478mg/dl; Bilirubin 3,7 mg/dl; GDA 122 mg/dl. Assesment: Amiodarone digunakan untuk mengobati ventricular tachycardia atau fibrilasi ventrikular.

TUGAS INDIVIDU yanfar

Embed Size (px)

Citation preview

Page 1: TUGAS  INDIVIDU yanfar

Artika Theresiani

TUGAS INDIVIDU (blm fix)

Tn SF 62 th MRS dengan keluhan mual, muntah, lemah, denyut jantung terasa tidak teratur

disertai nyeri dada. Dengan Hasil pemeriksaan ECG pasien didiagnosa SVT dan mendapat terapi

Amiodarone , Primperan 3x 1 amp; Ranitidine 2 x 1 amp. Hasil lab: SGOT 1050, SGPT 5115,

ALP 589mg/dl; GGT 478mg/dl; Bilirubin 3,7 mg/dl; GDA 122 mg/dl.

METODE SOAP

Subjectif:

Tn SF 62 th MRS dengan keluhan mual, muntah, lemah, denyut jantung terasa tidak teratur

disertai nyeri dada. Dengan Hasil pemeriksaan ECG pasien didiagnosa SVT.

Objectif:

Hasil lab: SGOT 1050, SGPT 5115, ALP 589mg/dl; GGT 478mg/dl; Bilirubin 3,7 mg/dl; GDA

122 mg/dl.

Assesment:

Amiodarone digunakan untuk mengobati ventricular tachycardia atau fibrilasi ventrikular.

Amiodarone memiliki efek samping hepatitis. Hepatitis dapat dilihat dari nilai SGOT dan

SGPT di atas 20x nilai normal. Nilai SGOT dan SGPT yang tinggi pada pasien mungkin

disebabkan oleh efek samping Amiodarone.

Primperan digunakan untuk gangguan saluran cerna dan mual muntah akibat obat.

Primperan mempunyai efek samping hepatotoksik.

Ranitidin digunakan secara parenteral pada pasien rawat inap dengan kondisi hipersekresi

patologis pada saluran GI, atau sebagai terapi jangka pendek jika terapi oral belum

memberikan respon yang optimum.

Ranitidin mempunyai efek pada hati yaitu dapat terjadi peningkatan konsentrasi

aminotransferase serum (AST, SGOT, SGPT, ALT), alkalin fosfatase serum, LDH, bilirubin

Page 2: TUGAS  INDIVIDU yanfar

total, gama-glutamiltranspeptidase. Beberapa kasus juga diketahui bahwa terapi ranitidin

dapat menyebabkan hepatitis baik hepatoseluler atau pun hepatokanalikuler dan kolestasis

yang umumnya bersifat reversibel.

Plan:

Page 3: TUGAS  INDIVIDU yanfar

Supraventrikular Takikardi (SVT)

DEFINISI

Supraventrikular takikardi (SVT) adalah detak jantung yang cepat dan reguler berkisar antara

150-250 denyut per menit. SVT sering juga disebut Paroxysmal Supraventrikular Takikardi

(PSVT). Paroksismal disini artinya adalah gangguan tiba-tiba dari denyut jantung yang menjadi

cepat.

IDENTIFIKASI

Bila kita perhatikan SVT dapat diidentifikasikan sebagai berikut :

1. Denyut jantung yang cepat, disebut takikardi yang artinya denyut jantung melebihi > 100

denyut per menit. Pada SVT denyut jantung ini berkisar antara 150-250 denyut per menit.

2. Denyut jantung yang reguler (dapat dilihat dari kompleks QRS yang teratur) dengan

gelombang P yang superimposed dengan komplek QRS (tidak terlihat gelombang P).

3. Komplek QRS sempit (QRS < 0,12 detik atau 3 kotak kecil)

PENYEBAB

Pada keadaan normal, impuls elektrik dihasilkan oleh pacemaker yang disebut SA node. Impuls

elektrik ini akan diteruskan ke ventrikel melalui AV node, dimana pada nodus ini akan terjadi

perlambatan impuls. Selanjutnya impuls ini akan disebarkan ke seluruh ventrikel.

Pada SVT /PSVT, terjadi gangguan konduksi impuls yang menyebabkan atrium dan kemudian

ventrikel berdenyut sangat cepat. Disebut paroksismal karena denyut yang cepat ini dapat terjadi

tiba-tiba.

Bagaimana mekanisme terjadinya dapat dijelaskan sebagai berikut. Pada saat impuls yang

dihasilkan oleh SA node dialirkan ke AV node, tiba-tiba terjadi gangguan konduksi yang

biasanya disebabkan oleh ”atrial premature beat”, dimana terjadi transient blok pada satu sisi dari

sistem konduksi (di ibaratkan berbentuk cincin ). Normalnya impuls yang masuk disebarkan

melalui dua arah dari kanan dan kiri. Bila terjadi blok pada satu sisi, maka impuls akan berjalan

melalui sisi satunya lagi. Pada saat blok tersebut menghilang maka impuls tersebut akan berjalan

terus melintasi area tersebut dan terciptalah suatu sirkuit tertutup yang disebut ”circus

movement”. Pada saat ini SA node tidak bertindak sebagai pacemaker primary namun terdapat

jalur aksesori kecil (circus movement) yang memiliki impuls yang berputar-putar secara terus-

Page 4: TUGAS  INDIVIDU yanfar

menerus dengan cepat. Setiap kali impuls dari sistem ini sampai ke AV node makan impuls ini

akan diteruskan ke ventrikel. Oleh sebab itu pada gambaran ECG komplek QRS tampak normal.

Pada gambaran ECG gelombang P bisa tampak terbalik (oleh karena lintasan impuls yang

terbalik), namun pada kebanyakan kasus depolarisasi atrium dan ventrikel terjadi hampir

bersamaan sehingga gelombang P menghilang atau superimposed dengan kompleks QRS.

http://kliniknyeri.blogspot.com/2011/04/supraventrikular-takikardi.html

Tinjauan Obat :

1. AMIODARONE

Sediaan:

Tablet 200 mg

Injeksi 150 mg/3 ml

Cara Kerja Obat:

Amiodarone adalah obat anti-arrhythmic kelas III yang mempengaruhi irama detak jantung.

Amiodarone digunakan untuk membantu menjaga jantung berdetak dengan normal pada orang

yang memiliki gangguan irama jantung tertentu pada bilik jantungnya (bilik jantung yang lebih

kecil yang membiarkan darah mengalir keluar jantung).

Indikasi:

Digunakan untuk mengobati ventricular tachycardia atau fibrilasi ventrikular.

Kontraindikasi :

Sinus bradikardia, blok SA (sino-atrial), blok AV (atrioventrikular), Sick Sinus Syndrome,

gangguan fungsi tiroid, wanita hamil dan menyusui

Dosis:

1.  Karena memerlukan waktu untuk mencapai efek penuh, diperlukan dosis awal (loading dose).

-     Tablet: 600 mg/hari selama 8 – 10 hari

-     Infus: 5 mg/kgBB dengan infus kira-kira 20 menit sampai  2 jam, dapat diulang 2 – 3 x/hari

2.  Dosis pemeliharaan

-     Tablet: 100 – 400 mg/hari

-     Infus: 10 – 20 mg/kgBB/24 jam

Peringatan dan Perhatian :

Monitor tekanan darah, fungsi hati dan tiroid secara teratur

Page 5: TUGAS  INDIVIDU yanfar

Efek Samping :                    

Efek CV (hipotensi); Efek CNS (gaya berjalan yang abnormal/ataksia, kepeningan, kelelahan,

pusing, tidak enak badan, gangguan ingatan, gerakan yang tidak disengaja, insomnia, lemah

koordinasi, peripheral neuropathy, gangguan tidur, gemetar); Efek Dermatologis

(fotosensitivitas); Efek GI (nausea/vomit, anoreksia, konstipasi); Efek hati (LFT tidak normal)

http://publichealthnote.blogspot.com/2012/02/amiodarone.html

2. PRIMPERAN

Komposisi: Metoclopramide HCl

Indikasi: Gangguan saluran cerna, mual dan muntah akibat obat, anoreksia, kembung,

ulkus peptikum, stenosis piloris (ringan), dispepsia, epigastralgia,

gastroduodenitis, travel sickness, morning sickness, endoskopi, dispepsia

pasca gastektomi, dan intubasi.

Dosis: Tablet : Dewasa : 10 mg 3 kali/hari . Sirup : Dewasa : 1-2 sendok takar 3

kali/hari. Anak 5-15 tahun : 0.5 mg/kg berat badan/hari dalam dosis terbagi.

Drops Anak < 5 tahun : 0.1 mg/kg berat badan 3 kali/hari atau 0.5 mg/kg

berat badan/hari dalam beberapa dosis. Ampul : Dewasa : 1 ampul 3

kali/hari.

Pemberian Obat: Diberikan 1/2 jam sebelum makan

Kontra Indikasi: Merangsang motilitas GI seperti obstruksi intestinal, epilepsi,

feokromositoma

Perhatian: Hamil, laktasi, anak, diabetes, depresi, reaksi ekstrapiramidal.

Efek Samping: Mengantuk, sakit kepala, depresi, gelisah, reaksi ekstrapiramidal, pusing,

lelah, hipertensi, gangguan GI.

Interaksi Obat: Kebutuhan insulin dapat berubah karena perubahan waktu transportasi

makanan di usus, Absorbsiobat digoksin, simetidin akan terganggu dan

absorbsi di usus halus (parasetamol, tetrasiklin, levodopa) akan meningkat.

Efek di antagonis oleh antikolinergik dan analgesik narkotik meningkatkan

Page 6: TUGAS  INDIVIDU yanfar

sedasi dengan depresan SSP.

Kemasan: Ampul 10 mg/2 mL x 6

http://www.apotikantar.com/primperan_injeksi

Metoklopramid

Deskripsi

- Nama & Struktur

Kimia :

Metoklopramid : 4-Amino-5-chloro-N-(2-diethylaminoethyl)-2-

metoxybenzamide ; Metoklopramid hidroklorida.

(C22H14ClN3O2). , C14H22ClN3O2,HCl,H2O. (1)

- Sifat Fisikokimia

:

Metoklopramid hidroklorida (USP 29) : serbuk kristalin berwarna

putih atau praktis putih, tak berbau atau praktis tak berbau. Sangat

mudah larut dalam air,larut dalam alkohol, agak sukar larut dalam

kloroform, praktis tidak larut dalam eter. Penyimpanan:dalam wadah

tertutup rapat, terlindung dari cahaya. Inkompatibilitas : sediaan

generik metoklopramid hidroklorida dinyatakan inkompatibel dengan

sodium sefalotin, sodium kloramfenikol, dan sodium bikarbonat.

Cisplatin, siklofosfamid, dan doksorubisin hidroklorida dinyatakan

kompatibel dengan metoklopramid hidroklorida, namun

kompatibilitas bergantung pada faktor-faktor seperti:formulasi

tertentu, konsentrasi obat, dan temperatur

- Keterangan : -

Golongan/Kelas Terapi

Obat Untuk Saluran Cerna

Nama Dagang

Page 7: TUGAS  INDIVIDU yanfar

- Emeran - Ethiferan - Gavistal - Lexapram

- Metolon - Normastin - Obteran - Opram

- Piralen - Plasil - Praminal - Primperan

- Raclonid - Reguloop - Reguloop 10 - Reguloop 5

- Sotatic - Tivomit - Tomit - Topram

- Vertivom - Vilapon - Vomidex - Vomipram

- Vomitrol - Zumatrol - Clopramel/Damaben

Indikasi

1. Gangguan motilitas lambung, khususnya stasis lambung.

2. Refluks gastroesofagus.

3. Unlabelled/investigational use:pencegahan dan/atau pengobatan mual dan muntah karena

penggunaan obat-obat kemoterapi, terapi radiasi, atau setelah pembedahan.

4. Unlabelled/investigational use:pemasangan enteral-feeding tube post-pyloric.

Dosis, Cara Pemberian dan Lama Pemberian

(a) Hipomotilitas gastrointestinal:anak:oral,IM,IV:0,1 mg/kg/dosis sampai dengan 4 kali/hari,

tidak lebih dari 0,5 mg/kg/hari. Dewasa:oral:10 mg 30 menit sebelum makan dan sebelum tidur

malam selama 2-8 minggu. IV:10 mg selama 1-2 menit (untuk gejala yang parah); pemberian

terapi IV selama 10 hari dapat diperlukan untuk memperoleh respon terbaik. Dosis

lansia:oral:dosis awal 5 mg 30 menit sebelum makan dan sebelum tidur malam selama 2-8

minggu; dinaikkan bila perlu sampai dengan dosis 10 mg. IV:dosis awal 5 mg selama 1-2

menit, dinaikkan sampai dengan 10 mg bila perlu.

(b) Refluks gastroesofagus:anak:oral:0,1-0,2 mg/kg/dosis sampai dengan 4 kali per hari; efikasi

melanjutkan metoklopramid >12 minggu belum diketahui; dosis harian total tidak boleh lebih

dari 0,5 mg/kg/hari. Dewasa:oral:10-15 mg/dosis sampai dengan 4 kali/hari 30 menit sebelum

makan dan sebelum tidur malam; dosis tunggal 20 mg kadang-kadang diperlukan untuk situasi

mendesak. Lansia:oral:dosis awal:5 mg 4 kali sehari (30 menit sebelum makan dan sebelum

tidur malam), dosis dinaikkan menjadi 10 mg 4 kali per hari bila tidak ada respon pada dosis

yang lebih rendah.

Page 8: TUGAS  INDIVIDU yanfar

(c) Larutan injeksi dapat diberikan melalui rute IM, direct IV push, infus singkat (15-30 menit),

atau infus kontinu. Dosis yang lebih rendah (10 mg) dapat diberikan dengan IV push tanpa

pengenceran selama 1-2 menit, dosis yang lebih tinggi dapat diberikan dengan IVPB selama

minimal 15 menit, infus sub Q kontinu dan  pemberian rektal juga dilaporkan. Pemberian IV

yang cepat dapat menyebabkan rasa kecemasan dan kelelahan sementara (tapi kuat), diikuti

oleh rasa mengantuk.

(d) Unlabelled/investigational use:pencegahan dan/atau pengobatan mual dan muntah karena

penggunaan obat-obat kemoterapi, terapi radiasi, atau setelah pembedahan.  Dosis antiemetik

anak:IV:1-2 mg/kg 30 menit sebelum kemoterapi dan tiap 2-4 jam, untuk dosis total 5-10

mg/kg/hari. Dosis antiemetik dewasa:IV:1-2mg/kg 30 menit sebelum kemoterapi dan tiap 2-4

jam, untuk dosis total 5-10 mg/kg/hari. Dosis mual muntah setelah operasi:IM,IV:10 mg saat

mendekati akhir operasi; dosis 20 mg dapat digunakan.

(e) Unlabelled/investigational use:pemasangan enteral-feeding tube post-pyloric. Dosis

anak:<6 tahun:IV:0,1 mg/kg, 6-14 tahun:2,5-5 mg. Dosis dewasa:IM,IV:10 mg.Dosis

lansia:IM:5 mg saat mendekati akhir pembedahan, dosis dapat diulang bila perlu

Farmakologi

Vial injeksi disimpan pada suhu kamar terkendali, injeksi bersifat fotosensitif sehingga harus

terlindung dari cahaya selama penyimpanan, campuran parenteral dengan D5W atau NS stabil

selama minimal 24 jam, dan tidak memerlukan perlindungan terhadap cahaya bila digunakan

dalam 24 jam. Tablet disimpan pada suhu kamar terkendali dan dihindarkan dari pembekuan.

(3)

Stabilitas Penyimpanan

Vial injeksi disimpan pada suhu kamar terkendali, injeksi bersifat fotosensitif sehingga harus

terlindung dari cahaya selama penyimpanan, campuran parenteral dengan D5W atau NS stabil

selama minimal 24 jam, dan tidak memerlukan perlindungan terhadap cahaya bila digunakan

dalam 24 jam. Tablet disimpan pada suhu kamar terkendali dan dihindarkan dari pembekuan.

Kontraindikasi

Hipersensitivitas terhadap metoklopramid atau bahan-bahan dalam formulasi; obstruksi

gastrointestinal, perforasi atau perdarahan, pheocromocytoma, sejarah kejang.

Efek Samping

Efek samping yang lebih umum/parah:terjadi pada dosis yang digunakan untuk profilaksis

Page 9: TUGAS  INDIVIDU yanfar

emetik kemoterapi. >10%:efek pada sistem saraf pusat:kelelahan, mengantuk, gejala

ekstrapiramidal (sampai dengan 34% pada dosis tinggi, 0,2% pada dosis 30-40 mg/hari); efek

gastrointestinal:diare (mungkin bersifat dose-limiting); neuromuskular dan skeletal:kelemahan.

1-10%:efek pada sistem saraf pusat:insomnia, depresi, kebingungan, sakit kepala;

dermatologis:kemerahan; endokrin dan metabolik:rasa sakit dan panas pada payudara (breast

tenderness), stimulasi prolaktin; gastrointestinal:mual, xerostemia. <1%(dari terbatas sampai

penting/berbahaya):agranulositosis, reaksi alergi, amenorrhea, angioedema, AV block,

bronkospasme, CHF, galactorrhea, ginekomastia, hepatotoksik, hiper/hipotensi, jaundice,

edema larinz, methemoglobinemia, neuroleptic malignant syndrome (NMS), porfiria, kejang,

ide bunuh diri, sulfhemoglobinemia, takikardia, tardive dyskinesia, urtikaria.

Interaksi

- Dengan Obat Lain : Analgesik opiat dapat meningkatkan depresi sistem sraf pusat.

Metoklopramid dapat meningkatkan risiko atau gejala ekstrapiramidal bila digunakan bersama-

sama dengan obat antipsikosis. Obat-obat antikolinergis melawan kerja metoklopramid.

Hindari alkohol karena dapat meningkatkan depresi sistem saraf pusat.

- Dengan Makanan : -

Pengaruh

- Terhadap Kehamilan : Kategori B. Bukti yang ada menyatakan aman digunakan selama

kehamilan.

- Terhadap Ibu Menyusui : Tidak direkomendasikan (AAFP mengkategorikan

"dipertimbangkan").

- Terhadap Anak-anak :

Metoklopramid harus digunakan dengan hati-hati pada pasien anak-anak karena kejadian

ekstrapiramidal meningkat pada kelompok ini.

Metoklopramid harus digunakan dengan hati-hati pada neonatus karena penurunan klirens

Page 10: TUGAS  INDIVIDU yanfar

dapat meningkatkan konsentrasi obat dalam serum.

Neonatus mempunyai defisiensi NADH methemoglobin reduktase sehingga dapat menjadi

lebih peka terhadap methemoglobinemia.

Produsen metoklopramid saat ini merekomendasikan penggunaan pada anak-anak hanya untuk

memfasilitasi intubasi usus halus.

Metoklopramid efektif utuk stasis lambung dan refluks esofagus pada infant dan anak-anak.

Obat ini juga digunakan pada anak-anak untuk evakuasi lambung sebelum pemberian anestesi

untuk pembedahan darurat.

- Terhadap Hasil Laboratorium : Meningkatkan aminotransferase

[ALT(SGPT)/AST(SGOT)], meningkatkan amilase.

Parameter Monitoring

Fungsi ginjal.

Bentuk Sediaan

Drops 1 mg/10 Drops (10 ml), 1,5 mg/ml (10 ml), 2 mg/ml (10 ml), 2,6 mg/ml (10 ml), 4

mg/ml (10 ml)

Larutan Oral 1 mg/ml (30 ml), 5 mg/5 ml (30 ml, 50 ml, 60 ml), 10 mg/5 ml (60 ml). Kaplet 5

mg, 10 mg. Tablet 5 mg, 10 mg

Larutan Injeksi 5 mg/ml (2 ml), 10 mg/2,5 ml

Suppositoria Anak 10 mg

Suppositoria Dewasa 20 mg, Rectal Tube 10 mg/2,5 ml

Peringatan

Gunakan dengan hati-hati pada pasien Parkinson's dan pada pasien dengan sejarah gangguan

mental; berhubungan dengan gejala ekstrapiramidal dan depresi.

Frekuensi ekstrapiramidal lebih tinggi pada pasien anak-anak dan dewasa<30 tahun, risiko

meningkat pada dosis yang lebih tinggi.

Reaksi ekstrapiramidal biasanya terjadi dalam 24-48 jam pertama setelah terapi. Hati-hati bila

digunakan bersama-sama dengan obat-obat lain yang berhubungan dengan gejala

ekstrapiramidal.

Jarang dilaporkan terjadi Neuroleptic Malignant Syndrome (NMS) akibat penggunaan

Page 11: TUGAS  INDIVIDU yanfar

metoklopramid.

Gunakan dosis terendah yang direkomendasikan, dapat menyebabkan kenaikan sementara

serum aldosteron; gunakan dengan hati-hati pada pasien yang mempunyai risiko kelebihan

cairan/fluid overload (gagal jantung, sirosis).

Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan hipertensi atau setelah surgical

anastomosis/closure. Pasien dengan defisiensi NADH-cytochrome b5 reductase mempunyai

risiko lebih besar terkena methemoglobinemia dan/atau sulfhemoglobinemia

Gunakan dengan hati-hati pada pasien dengan sejarah kejang, risiko kejang yang berhubungan

dengan metoklopramid meningkat.

Penghentian mendadak dapat (tapi jarang) menyebabkan gejala penghentian obat/withdrawal

symptoms (pusing, sakit kepala, gugup). Gunakan dengan hati-hati dan sesuaikan dosis pada

pasien dengan gangguan ginjal

Kasus Temuan Dalam Keadaan Khusus

-

Informasi Pasien

Pasien seharusnya tidak menggunakan obat ini bila mempunyai reaksi alergi terhadap

metoklopramid, menderita epilepsi (kejang), perdarahan atau obstruksi usus, atau

pheochromocytoma (suatu tumor yang memproduksi adrenalin). Obat diminum 30 menit

sebelum makan dan malam hari sebelum tidur, kecuali bila dokter menganjurkan lain.  Obat

disimpan pada suhu kamar, terhindar dari panas, kelembaban, dan cahaya langsung. Obat tidak

boleh disimpan di dalam freezer.

Mekanisme Aksi

Memblok reseptor dopamin dan (bila diberikan pada dosis yang lebih tinggi) juga memblok

reseptor serotonin di chemoreceptor trigger zone di sistem saraf pusat; meningkatkan respon

jaringan di saluran pencernaan atas terhadap asetilkolin sehingga meningkatkan motilitas dan

kecepatan pengosongan lambung tanpa menstimulasi sekresi pankreas, bilier, atau lambung;

meningkatkan tonus spingter esofagus bagian bawah

Monitoring Penggunaan Obat

Kepatuhan penggunaan obat, efek samping obat: reaksi distonia, tanda-tanda hipoglikemia

(pada pasien yang menggunakan insulin dan sedang memperoleh terapi gastroparesis), agitasi.

http://dinkes.tasikmalayakota.go.id/index.php/informasi-obat/316-metoklopramid.html

Page 12: TUGAS  INDIVIDU yanfar

3. RANITIDIN

Komposisi:

Tiap ml injeksi mengandung Ranitidin HCl setara dengan ranitidine 25 mg.

Farmakologi:

Suatu antagonis histamin pada reseptor H2 yang menghambat kerja histamin secara kompetitif

pada reseptor H2 dan mengurangi sekresi asam lambung. Kadar dalam serum yang diperlukan

untuk menghambat 50% perangsangan sekresi asam lambung adalah 36 – 94 mg/ml. kadar

tersebut bertahan selama 6 – 8 jam setelah pemberian dosis 50 mg IM/IV.

Indikasi:

Untuk pasien rawat inap di rumah sakit dengan keadaan hipersekresi patologis atau ulkus usus

dua belas jari yang sulit diatasi, atau sebagai pengobatan alternatif jangka pendek pemberian oral

pada pasien yang tidak bisa diberi ranitidin oral. 

Kontra – Indikasi:

Hipersensitif

Efek Samping:

Sakit kepala, Susunan saraf pusat, jarang terjadi : malaise, pusing, mengantuk, insomnia, vertigo,

agitasi, depresi, halusinasi, Kardiovaskuler, jarang dilaporkan : aritmia seperti takikardia,

bradikardia, atrioventricular block, premature verticular beats, Gastrointestinal : konstipasi,

diare, mual, nyeri perut, jarang dilaporkan : pancreatitis, Muskuloskeletal, jarang dilaporkan :

artralgia dan mialgia.

Dosis:

Injeksi IM : 50 mg (tanpa pengenceran) tiap 6 – 8 jam.

Injeksi IV intermiten :

Intermiten bolus : 50 mg (2 ml) tiap 6 – 8 jam. Encerkan injeksi 50 mg dalam larutan natrium

klorida 0,9 % atau larutan injeksi IV lain yang cocok sampai diperoleh konsentrasi tidak

lebih dari 2,5 mg/ml (total volume 20 ml). Kecepatan injeksi tidak lebih dari 4 ml per menit

(dengan waktu 5 menit).

Infus intermiten : 50 mg (2 ml) tiap 6 – 8 jam. Encerkan injeksi 50 mg dalam

larutan dextrose 5 % atau larutan IV lain yang cocok sampai didapat konsentrasi tidak lebih

Page 13: TUGAS  INDIVIDU yanfar

besar dari 0,5 mg/ml (total volume 100 ml). Kecepatan infus tidak lebih dari 5 – 7 ml per

menit (dengan waktu 15 – 20 menit).

Infus IV kontinyu : 150 mg Ranitidin diencerkan dalam 250 ml dextrose 5% atau larutan IV

lain yang cocok dan diinfuskan dengan kecepatan 6,25 mg/jam selama 24 jam. Untuk

penderita sindrom Zollinger – Ellison atau kondisi hipersekretori lain. Ranitidin injeksi harus

diencerkan dengan larutan dextrose 5% atau larutan IV lain yang cocok sehingga sehingga

diperoleh konsentrasi tidak lebih dari 2,5 mg/ml. kecepatan infus dimulai 1 mg/kg BB/jam

dan harus disesuaikan dengan keadaan penderita.

http://infoobat.blogspot.com/2011/03/ranitidin.html

RANITIDIN

NAMA, STRUKTUR KIMIA DAN DESKRIPSI 

Ranitidin memiliki rumus molekul C13H22N4O3S dengan bobot molekul 314,4 g/mol. Ranitidin

adalah salah satu senyawa yang mengantagonis reseptor histamin H2 yang menghambat sekresi

asam lambung. Selain digunakan dalam terapi penyakit ulkus peptikum dan gastroesophageal

refluks, ranitidin juga dapat digunakan sebagai antihistamin pada berbagai kondisi alergi pada

kulit.

Rumus Struktur Ranitidin

Struktur 3 Dimensi Ranitidin

Page 14: TUGAS  INDIVIDU yanfar

Ranitidin memiliki nama ilmiah NN-Dimethyl-5-[2-(1-methylamino-2-nitrovinylamino)

ethylthiomethyl]furfurylamine. Ranitidin yang tersedia umumnya adalah ranitidin hidroklorida.

Ranitidin merupakan serbuk kristalin berwarna putih hingga kuning pucat, praktis tidak berbau,

mudah larut dalam air, agak sukar larut dalam alkohol. Larutan 1% ranitidin dalam air

mempunyai pH 4,5-6,0. Setiap 168 mg ranitidin hidroklorida setara dengan 150 mg ranitidin

base. 

KEGUNAAN

Ranitidin diunakan secara oral dalam terapi ulkus duodenum dan ulkus lambung yang

aktif, gasthroesophageal reflux desease (GERD), esofagitis erosif dengan endoskopi, dan

sebagai terapi pemeliharaan pada ulkus duodenum dan ulkus lambung. Ranitidin oral juga

digunakan dalam manajemen kondisi hipersekresi gastrointestinal (GI) patologis dan sebagai

terapi pemeliharaan untuk mencegah kambuhnya esofagitis erosif. Ranitidin juga dapat

digunakan secara parenteral pada pasien rawat inap dengan kondisi hipersekresi patologis pada

saluran GI, atau sebagai terapi jangka pendek jika terapi oral belum memberikan respon yang

optimum.

Ulkus Duodenum

Terapi Ulkus Duodenum Akut

Ranitidin oral digunakan dalam terapi jangka pendek pada ulkus duodenum aktif yang

dikonfirmasi dengan endoskopi atau radiografi. Ranitidin parenteral digunakan pada pasien

dewasa dengan diagnosa ulkus duodenum parah yang sedang menjalani perawatan di rumah sakit

atau pada terapi jangka pendek jika terapi oral tidak memadai. Ranitidin intravena juga

digunakan pada pasien anak-anak (lebih dari bulan) dengan diagnosa ulkus duodenum. Antasida

dapat digunakan bersamaan dengan terapi ini untuk menghilangkan rasa nyeri ulkus duodenum.

Kombinasi antasida dan ranitidin ini terbukti mampu mengurangi kesakitan pada pasien.

Khasiat dan keamanan ranitidin untuk terapi jangka panjang ulkus duodenum belum diketahui.

Keamanan dan khasiat ranitidin ini baru diketahui untuk penggunaan selama 8 minggu. Dan

masalahnya bahwa pengobatan jangka pendek ulkus duodenum aktif (hingga 8 minggu) ini tidak

mencegah kekambuhannya.

Page 15: TUGAS  INDIVIDU yanfar

Terapi Pemeliharaan Ulkus Duodenum

Ranitidin digunakan dalam dosis rendah untuk terapi pemeliharaan setelah proses penyembuhan

ulkus duodenum untuk mencegah kekambuhan. Dalam studi terkontrol angka kekambuhan ulkus

duodenum setelah 4, 8 dan 12 bulan masing-masing adalah 21-24, 28-35, dan 59-68% untuk

kelompok plasebo, dan angka kekambuhan pada kelompok yang diterapi dengan ranitidin 1 kali

sehari 150 mg sebelum tidur masing-masing adalah 12-20, 21-24 dan 28-35%. Dalam studi

tersebut juga diketahui bahwa efektivitas ranitidin dalam mencegah kekambuhan ulkus

duodenum menurun pada kelompok pasien dengan kebiasaan merokok.

Kondisi Hipersekresi GI Patologis

Ranitidin oral maupun intravena juga digunakan pada kondisi hipersekresi GI patologis (misal

pada pasienZolinger Ellison Syndrome (ZES), mastositosis sistemik, hipersekresi pasca reseksi

usus. Ranitidin mengurangi sekresi asam lambung yang berkaitan dengan gejala diare, anoreksia

dan nyeri dan mempercepat penyembuhan ulkus. Infus intravena ranitidin kontinue hingga 15

hari pada pasien ZES menghasilkan efek pengendalian asam lambung hingga 10 mEq/jam atau

lebih rendah. Antasida dapat digunakan bersama untuk mengatassi rasa nyeri. Antimuskarinik

seperti propanthelin bromida dan iodida isopropamide juga dapat digunakan bersama guna

memperpanjang masa kerja ranitidin.

Pada pasien hipersekresi GI patologis, ranitidin terbukti mampu menyembuhkan ulkus pada 42%

pasien yang tidak merespon terapi simetidin. Pasien dengan ZES yang gagal dengan terapi

simetidin berhasil diobati dengan ranitidin 600-900 mg perhari selama 1-12 bulan.

Ranitidin IV juga berhasil mengobati hipersekresi pasca operasi pada pasien yang tampaknya

resisten terhadap simetidin.

Ulkus Lambung

Terapi Ulkus Lambung Akut

Ranitidin oral digunakan dalam terapi ulkus lambung jinak. Antasida dapat digunakan bersama

untuk menghilangkan nyeri. Efektivitas ranitidin dalam hal ini hampir sama dengan simetidin.

Page 16: TUGAS  INDIVIDU yanfar

Ranitidin menyembuhkan ulkus lambung pada 60-70% pasien setelah terapi selama 4 minggu,

70-80% setelah 6 minggu terapi.

Kini epidemiologi dan bukti klinis mendukung bahwa infeksi lambung oleh bakteri Helicobacter

pylori (HP) berhubungan dengan patogenesis ulkus lambung. Sehingga dalam kondisi ini

direkomendasikan penggunaan antibakteri untuk eradikasi bakterinya.

Terapi Pemeliharaan

Ranitidin dosis rendah digunakan dalam terapi pemeliharaan dan mencegah kekambuhan ulkus

lambung. Terapi pemeliharaan ranitidin 150 mg sebelum tidur terbukti efektif mencegah

kekambuhan ulkus lambung.

Gastroeshophageal Reflux Desease (GERD)

Dalam terapi GERD dosis yang umum pada dewasa adalah 2x150 mg perhari. Sedangkan dosis

terapi GERD pada anak-anak (1 bulan sampai 16 tahun) adalah 5-10 mg/Kg BB perhari dalam

dosis terbagi 2. Gejala GERD sering muncul dalam waktu 24 jam setelah dumulainya terapi

dengan ranitidin ini. Durasi optimum pengobatan GERD dengan ranitidin belum diketahui.

Esofagitis Erosif

Dosis lazim untuk terapi esofagitis erosif yang terdiagnosa dengan endoskopi pada pasien

dewasa adalah 4x150 mg perhari. Sedangkan pada pasien anak 1 bulan sampai 16 tahun dosis

yang direkomendasikan adalah 5-10 mg/Kg BB perhari dalam dosis terbagi 2. Sedangkan dalam

fase pemeliharaan dosis ranitidin adalah 2x150 mg perhari.

Swamedikasi

Dalam swamedikasi ranitidin digunakan untuk mengatasi atau mencegah gejala mulas, perih

akibat gangguan keseimbangan asam lambung pada orang dewasa atau anak diatas 12 tahun,

dosis yang dianjurkan adalah 75-150 mg 1-2 kali sehari. Untuk pencegahan mulas akibat

konsumsi makanan yang dapat menyebabkan mulas maka ranitidin sebaiknya diminum 30-60

menit sebelum mengkonsumsi makanan atau minuman yang dapat menyebabkan mulas. Untuk

keperluan swamedikasi, ranitidin sebaiknya digunakan tidak lebih dari 2 dosis perhari dan tidak

Page 17: TUGAS  INDIVIDU yanfar

lebih dari 2 minggu. Penggunaan ranitidin harus segera dihentikan jika gejala tidak membaik

atau bahkan semakin parah.

DOSIS PARENTERAL

Dosis Dewasa

Dosis intravena intermiten atau intramuskular pada dewasa adalah 50 mg setiap 6-8 jam. Jika

perlu dosis dapat dapat ditingkatkan dengan meningkatkan frekuensi pemberian, namun tidak

boleh melebihi 400 mg perhari. Jika ranitidin diberikan dengan infus intravena lambat maka

kecepatannya 6,25 mg/jam selama 24 jam. Sedangkan infus kontinue lambat bagi pasien ZES

atau hipersekresi GI patologis umumnya infus dimulai dengan kecepatan 1 mg/Kg BB perjam,

dan jika setelah 4 jam infus, pasien masih menunjukan gejala hipersekresi GI, maka dosis harus

dititrasi ke atas dengan penambahan sebesar 0,5 mg/Kg BB perjam, dengan konsentrasi asam

lambung harus terus dipantau. Dosis maksimum hingga 2,5 mg/Kg BB perjam dan tingkat infus

220 mg/jam.

Dosis Pediatrik

Dosis pada anak usia 1 bulan hingga 16 tahun, untuk pengobatan ulkus duodenum aktif adalah 2-

4 mg/Kg perhari dalam dosis terbagi setiap 6-8 jam. Sedangkan penggunaannya pada pasien

neonatus (kurang dari 1 bulan) dosis 2 mg/Kg BB intravena setiap 12-24 jam sebagai infus

intravena kontinue.

DOSIS PADA PASIEN DENGAN PENURUNAN FUNGSI GINJAL

Pada pasien dengan klirens kreatinin kurang dari 50 mL/menit maka dosis ranitidin yang

direkomendasikan adalah 150 mg setiap 24 jam peroral, 50 mg setiap 18-24 jam untuk

pemberian parenteral.

PERHATIAN

Ranitidin dapat menimbulkan efek-efek yang kurang menyenangkan diantaranya:

1. Efek pada sistem syaraf pusat dapat berupa: sakit kepala, rasa tidak enak badan (malaise),

pusing, mengantuk, insomnia, vertigo, kebingungan mental, agitasi, depresi mental dan

halusinasi terutama pada pasien geriatri lemah. Penggunaan ranitidin dosis tinggi dan dalam

jangka panjang pada anak-anak (8 mg/Kg BB perhari selama 10 bulan) dapat menyebabkan

Page 18: TUGAS  INDIVIDU yanfar

perubahan pada pola kesadaran, disartria, hiporefleksia, mengantuk, gejala Babinski, diaforesis,

dan bradikardia yang mana gejala-gejala tersebut akan menghilang dengan sendirinya setelah

penggunaan ranitidin dihentikan dalam 24 jam.

2. Efek pada GI: konstipasi, mual, muntah, nyeri dan ketidaknyamanan pada perut, dan pada

sebagian kecil pasien dapat mengalami pankreatitis.

3. Reaksi sensitivitas dan dermatologi: ruam, urtikaria, pruritus, dan urtikaria ditempat

penyuntikan. Reaksi hipersensitivitas seperti bronkospasme, demam, ruam, eosinofilia jarang

terjadi. Anafilaksis yang ditandai dengan urtikaria berat dan penurunan tekanan darah dalam satu

kali pemberian dosis tunggal dapat terjadi namun jarang. Eksaserbasi astma dan angiodema juga

dapat terjadi. 

4. Efek pada Hematologi: dapat terjadi leukopenia, agranulositopenia, trombositopenia,

anemia aplastik dan pansitopenia yang disertai hipoplasia sumsum tulang belakang namun

jarang. 

5. Efek pada ginjal dan saluran kemih: peningkatan kreatinin serum tanpa disertai

peningkatan BUN dapat terjadi namun jarang. Penurunan libido juga pernah terjadi pada pria

yang diterapi dengan ranitidin.

6. Efek pada hati: dapat terjadi peningkatan konsentrasi aminotransferase serum (AST,

SGOT, SGPT, ALT), alkalin fosfatase serum, LDH, bilirubin total, gama-glutamiltranspeptidase.

Beberapa kasus juga diketahui bahwa terapi ranitidin dapat menyebabkan hepatitis baik

hepatoseluler atau pun hepatokanalikuler dan kolestasis yang umumnya bersifat reversibel. 

7. Efek pada penglihatan: dapat terjadi kekaburan penglihatan yang bersifat reversibel,

eksaserbasi nyeri mata dan kaburnya penglihatan yang berhubungan dengan peningkatan tekanan

intraokuler dan glaukoma kronis, dan buta warna.

8. Efek pada endokrin: belum ada efek yang diketahui secara pasti sehubungan penggunaan

ranitidin pada sistem endokrin. Namun telah diketahui adanya pasien pria yang mengalami

impotensi seksual akibat penggunaan ranitidin yang segera sembuh seiring penghentian

penggunaan obat, dan impotensi berulang saat penggunaan obat diulang. Nyeri ginekomastia

juga dapat terjadi pada pria.

9. Efek pada sistem kardiovaskuler: aritmia jantung jarang terjadi, bradikardia yang

berhubungan dengan dispnea dapat terjadi. 

Page 19: TUGAS  INDIVIDU yanfar

10. Efek pada sistem pernafasan: ranitidin dan antagonis reseptor H2 lainnya berpotensi

meningkatkan resiko infeksi pneumonia pada komunitas pneumonia.

11. Efek lain: dapat terjadi arthralgia, myalgia dan porphyria akut. Penggunaan ranitidin

harus dihindari pada pasien dengan riwayat porphyria.

PERINGATAN DAN KONTRAINDIKASI

Ranitidin yang digunakan pada pasien dengan penurunan fungsi ginjal harus digunakan dengan

hati-hati dan disertai dengan pengurangan dosis, karena sebagian besar ranitidin diekskresikan

melalui ginjal. Demikian pun pada pasien dengan penurunan fungsi hati, karena ranitidin

dimetabolisme melalui hati. Penggunaan ranitidin juga harus dihindari pada pasien dengan

riwayat porphyria.

Ranitidin tidak boleh digunakan untuk swamedikasi jika pasien mengalami kesulitan menelan

dan tidak boleh digunakan dalam kombinasi dengan obat penekan sekresi asam lambung lainnya.

Pasien dengan gejala mulas yang menetap lebih dari 3 bulan tidak boleh menggunakan ranitidin

untuk swamedikasi. Ranitidin juga tidak boleh digunakan untuk swamedikasi pada pasien

dengan keluhan nyeri dada dan atau bahu, sesak nafas, dan rasa nyeri yang menyebar.

Kondisi-kondisi berikut dalam penggunaan ranitidin harus disertai dengan peringatan dan

kewaspadaan:

1. Pada pasien pediatrik; penggunaan ranitidin oral maupun parenteral pada pediatrik ( 1

bulan sampai 16 tahun) untuk indikasi ulkus duodenum dan lambung aktif, GERD dan esofagitis

erosif telah diketahui khasiat dan keamanannya. Namun penggunaan ranitidin oral ataupun

parenteral untuk kondisi hipersekresi GI patologis dan untuk terapi pemeliharaan dan

pencegahan kekambuhan esofagitis erosif pada anak-anak belum diketahui, demikian juga

penggunaannya pada neonatus, sehingga penggunaan pada kondisi tersebut harus dengan

kewaspadaan penuh.

2. Pada pasien geriatrik; pada pasien geriatrik (berusia lebih dari 65 tahun keatas)

kemungkinan resiko hipersensitivitasnya akan meningkat, disamping itu kemungkinan adanya

penurunan fungsi ginjal pada pasien geriatrik akan berpotensi meningkatkan resiko toksisitas.

Page 20: TUGAS  INDIVIDU yanfar

3. Mutagenisitas dan karsinogenisitas; tidak ada bukti pengaruh ranitidin terhadap efek

mutagenisitas dan karsinogenisitas pada manusia

4. Pada kehamilan; hingga dosis 160 kali dosis oral biasa, ranitidin belum menunjukan

adanya bahaya pada fetus

5. Pada kesuburan/fertilitas; tidak ada bukti yang menunjukan pengaruh ranitidin pada

fertilitas

6. Pada laktasi (wanita menyusui); ranitidin terdistribusi ke dalam susu, sehingga

penggunaan ranitidin pada wanita menyusui harus sangat berhati-hati.

7. Ranitidin dikontraindikasikan pada pasien dengan hipersensitif terhadap ranitidin atau

komponen lain dalam formula sediaan obat.

INTERAKSI OBAT

Ranitidin dapat berinteraksi dengan makanan, obat lain maupun parameter klinis.

1. Makanan dan Antasida. Konsumsi bersama makanan atau antasida dengan ranitidin dapat

menyebabkan penurunan absorpsi ranitidin hingga 33% dan konsentrasi puncak dalam serum

menurun hingga 613-432 ng/mL. 

2. Propantelin bromida. Propantelin bromida menghambat penyerapan dan meningkatkan

konsentrasi puncak serum ranitidin, melalui mekanisme penghambatan pengosongan lambung

dan perpanjangan waktu transit. Bioavalabilitas ranitidin meningkat 23% jika digunakan bersama

propantelin bromida.

3. Merokok. Kebiasaan merokok menghambat penyembuhan ulkus duodenum dan

mengurangi khasiat ranitidin. Perbandingan kesembuhan ulkus duodenum pada perokok dan

bukan perokok dengan terapi ranitidin adalah 62 dan 100%.

4. Efek ranitidin pada hati. Ranitidin berinteraksi dengan sistem enzim sitokrom P450

dihati. Ranitidin hanya sedikit menghambat metabolisme hepatik beberapa obat seperti kumarin,

antikoagulan, teofilin, diazepam dan propranolol. Ranitidin membentuk ligand-kompleks dengan

enzim sitokrom P450 sehingga menghambat aktivitas enzim tersebut. Penggunaan bersama

ranitidin dan warfarin dapat menurunkan atau meningkatkan waktu protrombin (PT). Pada dosis

ranitidin hingga 400 mg perhari, penggunaan bersamanya dengan warfarin relatif tidak

berpengaruh terhadap bersihan warfarin dan atau PT. Namun penggunaan ranitidin lebih dari 400

mg perhari bersama dengan warfarin belum diketahui pengaruhnya. Sedangkan penggunaan

Page 21: TUGAS  INDIVIDU yanfar

bersama ranitidin 2x200 mg dan warfarin 2,5-4,5 mg telah terbukti memperpanjang PT secara

signifikan. Pengunaan bersama ranitidin dan teofilin menyebabkan penurunan bersihan plasma

teofilin. Pengunaan bersama ranitidin dan diazepam maupun lorazepam relatif tidak saling

berinteraksi. Penggunaan bersama 100 mg metoprolol dan ranitin menyebabkan AUC metoprolol

meingkat hingga 80% dan rata-rata konsentrasi serum puncak meningkat hingga 50%, dan waktu

paruh eliminasi metoprolol meningkat hingga 4,4-6,5 jam. 

5. Alkohol. Penggunaan bersama alkohol dan ranitidin menyebabkan peningkatan

konsentrasi alkohol serum.

6. Nifedipin. Penggunaan ranitidin bersama nifedipin dapat menyebabkan peningkatan

AUC nifedipin hingga 30%.

7. Vitamin B12. Penggunaan ranitidin dapat mengakibatkan defisiensi vitamin B12 karena

malabsorpsi vitamin B12.

TOKSISITAS AKUT

Overdosis ranitidin dapat terjadi pada konsumsi ranitidin hingga 18 gram peroral yang dapat

mengakibatkan terjadinya kelainan cara jalan dan hipotensi. Pengobatan overdosis ranitidin

dapat dilakukan dengan cara mengeluarkan ranitidin tak terserap dalam saluran cerna,

pemantauan klinis, dan terapi suportif. Hemodialisis dapat dilakukan bila perlu.

FARMAKOLOGI

Efek farmakologi ranitidin dapat terjadi melalui beberapa mekanisme.

1. Efek pada GI. Ranitidin menghambat kompetitif reseptor histamin H2 pada sel parietal

menurunkan sekresi asam lambung pada kondisi basal maupun terstimulasi makanan, insulin,

asam amino, histamin maupun pentagastrin. 

2. Efek pada gonad dan endokrin. Ranitidin memberikan sedikit pengaruh pada konsenrasi

prolaktin serum. Peningkatan kadar prolaktin serum akan terjadi pada pemberian ranitidin 200

atau 300 mg IV.

3. Efek lain. Ranitidin dan simetidin dapat menurunkan aliran darah hati. Ranitidin tidak

menghambat metabolisme antipirin dihati. Ranitidin meningkatkan reduksi nitrat oleh flora

normal GI.

FARMAKOKINETIK

Page 22: TUGAS  INDIVIDU yanfar

1. Absorpsi. Ranitidin diabsorpsi dengan baik dari saluran cerna maupun pada pemberian

secara intramuskular. Bioavailabilitas absolut ranitidin pada pemberian secara oral adalah sekitar

50%, demikian pula pada anak-anak. Sedangkan pada geriatrik bioavailabilitasnya rata-rata 48%.

2. Distribusi. Ranitidin terdistribusi secara luas pada cairan tubuh dan sekitar 10-19%

berikatan dengan protein serum. Volume distribusi ranitidin rata-rata 1,7 L/Kg dengan kisaran

1,2-1,9 L/Kg. Sedangkan volume distribusi pada anak sekitar 2,3-2,5 L/Kg dengan kisaran 1,1-

3,7 L/Kg. Pada pemberian secara oral ranitidin juga terdistribusi ke CSF. Ranitidin juga

terdistribusi ke susu.

3. Eliminasi. Waktu paruh eliminasi rata-rata pada orang dewasa adalah 1,7-3,2 jam, dan

dapat berkorelasi positif dengan usia. Waktu paruh eliminasi akan meningkat pada pasien dengan

gangguan fungsi ginjal. Pada pasien lanjut usia waktu paruh eliminasi umumnya meningkat

seiring berkurangnya fungsi ginjal. Ranitidin sebagian besar diekskresikan dalam urin melalui

filtrasi glomerular dan sekresi tubular.

4. Metabolisme. Ranitidin dimetabolisme dihati menjadi ranitidin N-oksida, desmetil

ranitidin, dan ranitidin S-oksida. Pada pemberian oral, ranitidin juga mengalami metabolisme

lintas pertama dihati. Pada pasien dengan sirosis hati, konsentrasi serum akan meningkat akibat

rendahnya metabolisme lintas pertama dihati dan bioavailabilitasnya rata-rata 70%.

SEDIAAN

Tersedia dalam produk generiknya berupa sediaan:

Kapsul 75, 150 dan 300 mg

Tablet 150 dan 300 mg

Sirup 15 mg/mL

Injeksi 25 mg/mL

http://ruangdiskusiapoteker.blogspot.com/2012/07/ranitidin.html