tugas geopolitik

  • View
    238

  • Download
    4

Embed Size (px)

Text of tugas geopolitik

Tugas PPkn

Adhelea Ihya Mustofa (01) Ahmad Fahmi Al Ubaidah (04) Ilham Rahmad Hidayat (15) Michael Musa (17) M Yusuf Pratama (22) M. Ghoits Thoillah (23)

KATA PENGANTARPuji Syukur kami panjatkan ke Hadirat Allah Yang Maha Esa atas perlindunganNya dan pertolonganNya kepada kami sehingga dapat menyelesaikan makalah ini.Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata pelajaran PPkn, yaitu tentang geopolitik. Oleh karena itu, makalah ini berisi tentang contoh-contoh konkret konflik social yang terjadi di Indonesia. Di sini kami mengambil topic tentang Konflik Papua. Melalui makalah ini, kami harap para pembaca dapat mengetahui Akar Pokok Permasalahan Papua serta dapat mengerti tentang Bagaimana Mencari Solusi Untuk Menyelesaikan Konflik Papua yang telah berlangsung abad sehingga penduduk Papua dapat hidup tenang di atas Tanah Leluhur mereka.Kami sadari bahwa tentu tak ada gading yang tak retak, makalah ini mungkin masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran guna menyempurnakan makalah ini.

Penyusun

PENDAHULUAN1. Latar BelakangIndonesia adalah sebuah Negara yang kaya akan keberagaman. Keberagaman tersebar di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Sumber daya alam Indonesia tersebar dari Sabang di provinsi Daerah Istimewa Aceh sampai Merauke di provinsi Papua. Tidak hanya sumber daya alam yang melimpah, Indonesia juga kaya akan budaya yang berbeda-beda, yang masing-masing daerah memiliki kekhasan masing-masing. Keanekaragaman budaya itu ada karena beragamnya etnis, suku, ras, dan bahasa di Indonesia. Suku-suku di daerah pedalaman Indonesia masih kental akan warisan nenek moyang mereka, yang dijaga dan dilestarikan secara turun temurun dari jaman dulu sampai saat ini. Semua keragaman yang ada di Indonesia tercipta dari kehidupan sehari-hari yang dijalani oleh masyarakat, sehingga muncul berbagai variasi baru dalam bentuk budaya, baik hasil dari penciptaaan budaya baru maupun mengadopsi dari perilaku keseharian masyarakat.Ada nilai positif dan negatif dari keanekaragaman yang ada di Indonesia. Sisi positifnya adalah Indonesia akan penuh dengan keragaman budaya, karena tidak semua Negara mempunyai keanekarageman seperti yang ada di Indonesia. Sisi negatifnya adalah rawan terjadi konflik di kalangan masyarakat. Pada masyarakat perkotaan saja yang cara berpikirnya sudah lebih maju jika dibandingkan dengan masyarakat pedesaaan sering terjadi konflik yang berujung pada kekerasan, apalagi pada masyarakat suku pedalaman yang masih memegang teguh nilai-nilai luhur dari nenek moyang mereka. Hal ini perlu perhatian serius dari semua kalangan karena jika tidak dipandang secara serius, akan terjadi konflik yang berujung pada tindak kekerasan sampai pembunuhan. Jika terjadi konflik di kalangan masyarakat secara terus menerus, tentunya akan menurunkan citra Indonesia di mata internasional serta mengancam ketahanan nasional. Indonesia yang dikenal sebagai Negara yang ramah penduduknya, sopan santunnya dijaga, berperikemanusiaan, dan berketuhanan akan dipandang lain oleh dunia. Manakala ada satu konflik yang menyebabkan pertumpahan darah, itu akan menjadi berita yang cukup menyita perhatian media. Media yang meliput tentu tidak hanya media nasional saja, tetapi juga media luar negeri. Mengingat pada jaman serba modern ini setiap informasi akan dengan mudah tersebar ke setiap lapisan masyarkat.Beberapa tahun belakangan media di Indonesia, baik lokal maupun nasional memberitakan mengenai konflik antarsuku yang terjadi di Papua. Timika sering diplesetkan Tiap Minggu Kacau. Bukan Timika jika tak ada kekacauan, bentrok ataupun kerusuhan. Masih segar dalam ingatan kita bahwa di Timikaselalu terjadi konflik antarsuku. Konflik antara PT Freeport Indonesia (PT FI) dengan warga setempat juga turut mewarnai tragedi konflik di daerah itu. Sebagai contoh kerusuhan yang terjadi Tahun 1996. Kerusuhan yang telah menelan korban jiwa pada masyarakat sipil dan korban materil yang tak terhitung jumlahnya. Saat itu, pihak perusahaan menggunakan jasa aparat keamanan untuk menembaki, memperkosa, meneror dan mengancam warga Papua. Konflik di Timika pula yang akhirnya menghasilkan pemberian dana 1 persen dari pendapatan bersih PT FI pertahun untuk Masyarakat Amungme dan Kamoro. Walaupun kini dana 1 persen itu lebih banyak digunakan untuk kepentingan PT FI sendiri.Konflik berikutnya yang terjadi di Timika yakni antara masyarakatdengan pemerintah. Sebagai contoh kerusuhan menyikapi rencana pemerintah pusat untuk pemekaran Provinsi Papua Tengah dengan Ibu Kota di Timika. Konflik ini terjadi pada tahun 2004 yang menyebabkan 4 warga sipil tewas terkena panah. Konflik yang selalu terjadi di Timika juga antara masyarakat dan masyarakat. Contoh kasus misalnya konflik saling menyerang antara Suku Dani dan Suku Damal. Bahkan dalam catatan telah sepuluh kali terjadi di Timika. Seperti konflik antara Suku Dani dan Damal di Kwamki Lama dan juga konflik berlanjut di Banti dan Kimbeli di Tembagapura dekat PT FI mengeksploitasi emas, tembaga dan mineral ikutan lainnya. Konflik selanjutnya adalah antara aparat keamanan dan warga sipil. Contoh kasus, antara warga sipil yang berasal dari Suku Key dan Pihak Kepolisian. Konflik ini juga telah melumpuhkan aktivitas Kota Timika. Dalam konflik ini satu warga sipil tewas tertembak. Konflik selanjutnya yang sering terjadi di Timika adalah antara aparat keamanansendiri. Contoh kasus seperti Aparat TNI saling melakukan penyerangan terhadap Aparat Kepolisian. Aparat TNI menyerang Pos Polantas di Timika Indah. Dalam konflik inisejumlah pihak mengalami kerugian. Contoh konflik-konflik tersebut selalu terjadi di Timika dan telah membukapeluang untuk timbul lagi konflik lama karena dalam proses penyelesaian tak pernah tuntas. Keadilan dalam penyelesaian kasus konflik bagai panggang jauh dari bara. Contoh kasus penyelesaian perdamaian misalnya ketika penyelesaian denda adat antara Suku Dani dan Damal. Denda adat terkumpul Rp 2 Miliar. Uang sebanyak itu diperoleh melalui bantuan perusahaan yang beroperasi di Timika dan pemerintah setempat. Juga diperoleh dari hasil usaha pihak-pihak yang bertikai. Dana sebanyak itu bukan untuk membayar musuh atau pihak lawan tetapi pihak untuk membayar keluarga korban dalam sukunya sendiri. Akhirnya dendam antara suku-suku yang bertikai masih terus berlanjut. Jika Aparat Polisi tak mengungkapsiapa pelaku penembakan dan juga jika tak diberikan hukuman setimpal, maka dendam masih berlanjut. Jika dilihat secara seksama, maka konflik di Timika lebih intensif dibanding konflik yang terjadi kota-kota lainnya di Papua. Hal ini terjadi mungkin saja karena ada aktor yang bermain di balik konflik antarsuku di Papua.2. Rumusan MasalahA. Apa yang menyebabkan terjadinya konflik antarsuku di Papua?B. Apakah dampak dari konflik yang terjadi terhadap masyarakat sebagai warga Negara?C. Bagaimana seharusnya pemerintah menyelesaikaan konflik yang terjadi?D. Apa yang harus dilakukan agar konflik serupa tidak terulang di masa yang akan datang?

PEMBAHASANA. Penyebab terjadinya konflik antarsuku di PapuaPerang suku atau lebih tepat disebut pertikaian antarsuku merupakan salah satu bentuk konflik yang lazim terjadi dalam kehidupan di Papua, setidaknya sampai tahun 1987. Pada sepuluh tahun belakangan ini, tampak ada gejala timbulnya pertikaian antarsuku dalam bentuk yang lebih kompleks, sebagai contoh sebagaimana kejadian di Timika yang banyak dimuat dalam berbagai berita media massa cetak maupun elektronik pada akhir tahun 2006. Gejala timbulnya pertikaian antar suku-suku di Papua kini bukan hanya akibat struktur sosial budaya setempat, melainkan bisa terjadi akibat mengakarnya faham kago (ratu adil) yang secara psikologis membentuk perilaku konflik ketimpangan pembangunan dan kehidupan sosial ekonomi. Analisis konflik sosial dan penanganannya dibangun dari sebuah teori psikologi sosial dengan pendekatan antropologi yang sederhana tetapi diperkuat dengan penjelasan asal mula terjadinya perbedaan kepentingan yang dipersepsikan oleh pihak-pihak yang berkonflik serta konsekuensinya terhadap pemilihan strategi penanganan pertikaian. Hal ini didasarkan pada kerangka pikir tentang dampak kondisi sosial budaya terhadap perilaku sosial. Beberapa penyebab terjadinya konflik di Papua antara lain:1. Banyaknya warga pendatang baru yang berasal dari luar Papua.Timika sebagai daerah perusahaan merupakan magnet bagi para imigran yang datang dari luar Papua untuk mencari kehidupan yang lebih layak dengan mencari pekerjaan di Timika. Lantaran adanya perusahaan asing bertaraf internasional yang kini mampu menampung karyawan sebanyak 19.000 orang. Belum lagi banyaknya karyawan di sejumlah perusahaan swasta maupun pemerintahan di Timika yang didominasi warga pendatang. Kondisi ini menggambarkan bahwa jumlah Warga Luar Papua yang masuk ke Timika lebih dari angka 200an/hari. Hal ini pernah diakui oleh Kepala Distrik Mimika Baru, James Sumigar S.Sos kepada wartawan, setiap hari warga pendatang baru yang mengurus Kartu Tanda Penduduk (KTP) di Distrik Mimika Baru sebanyak 200 orang (Papua Leading News Portal). Lantaran animo Warga Luar Papua yang datang ke Timika sangat tinggi, maka jangan heran jika konflik antara sesama warga Timika selalu terjadi. Selain itu Timika sebagai kota perusahaan dengan alasan pengamanan alat vital milik PT FI maka pemerintah pusat selalu mengirimpasukan dalam jumlah tertentu. Oleh karena itu,tak jarang terjadi konflik baik antara aparat keamanan dengan warga sipil maupun antara aparat keamanan sendiri. Timika juga dikenal dengan daerah perputaran uang paling tinggi. Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun 2008 di Kabupaten Mimika sebesarRp 2 Triliun (Papua Leading News Portal). Dana sebanyak itu harus dihabiskan dalam waktu tak lebih dari enam bulan. Banyaknya uang yang beredar di Timika juga menjadi penyebab terjadinya konflik. Belum lagi jika PT FI memberika