Click here to load reader

Trauma Kapitis - Edit

  • View
    13

  • Download
    0

Embed Size (px)

DESCRIPTION

DC

Text of Trauma Kapitis - Edit

BAB IPENDAHULUAN

I. Latar BelakangTrauma kepala atau trauma kepala adalah ruda paksa tumpul / tajam pada kepala atau wajah yang berakibat disfungsi cerebral sementara. Merupakan salah satu penyebab kematian dan kecacatan utama pada kelompok usia produktif, dan sebagian besar karena kecelakaan lalu lintas. Hal ini diakibatkan karena mobilitas yang tinggi di kalangan usia produktif sedangkan kesadaran untuk menjaga keselamatan di jalan masih rendah, disamping penanganan pertama yang belum benar - benar , serta rujukan yang terlambat.Di Indonesia kejadian trauma kepala setiap tahunnya diperkirakan mencapai 500.000 kasus. Dari jumlah diatas, 10% penderita meninggal sebelum tiba di rumah sakit. Dari pasien yang sampai di rumah sakit , 80% dikelompokan sebagai trauma kepala ringan, 10 % termasuk trauma sedang dan 10 % termasuk trauma kepala berat.Trauma kepala merupakan keadaan yang serius, sehingga diharapkan para dokter mempunyai pengetahuan praktis untuk melakukan pertolongan pertama pada penderita. Tindakan pemberian oksigen yang adekuat dan mempertahankan tekanan darah yang cukup untuk perfusi otak dan menghindarkan terjadinya trauma otak sekunder merupakan pokok-pokok tindakan yang sangat penting untuk keberhasilan kesembuhan penderita. Sebagai tindakan selanjutnya yang penting setelah primary survey adalah identifikasi adanya lesi masa yang memerlukan tindakan pembedahan, dan yang terbaik adalah pemeriksaan dengan CT Scan kepala. Pada penderita dengan trauma kepala ringan dan sedang hanya 3% -5% yang memerlukan tindakan operasi kurang lebih 40% dan sisanya dirawat secara konservatif. Prognosis pasien trauma kepala akan lebih baik bila penatalaksanaan dilakukan secara tepat dan cepat. Adapun pembagian trauma kapitis adalah: Simple head injury, Commutio cerebri, Contusion cerebri, Laceratio cerebri, Basis cranii fracture. Simple head injury dan Commutio cerebri sekarang digolongkan sebagai trauma kepala ringan, sedangkan Contusio cerebri dan Laceratio cerebri digolongkan sebagai trauma kepala berat.Pada penderita korban trauma kepala, yang harus diperhatikan adalah pernafasan, peredaran darah dan kesadaran, sedangkan tindakan resusitasi, anamnesa dan pemeriksaan fisik umum dan neurologist harus dilakukan secara serentak. Tingkat keparahan trauma kepala harus segera ditentukan pada saat pasien tiba di Rumah Sakit.

BAB IITINJAUAN PUSTAKA

1. DEFINISI TRAUMA KEPALA Trauma kepala adalah trauma mekanik pada kepala yang terjadi baik secara langsung atau tidak langsung yang kemudian dapat berakibat pada gangguan fungsi neurologis, fungsi fisik, kognitif, psikososial, yang dapat bersifat temporer ataupun permanent. Menurut Brain Injury Assosiation of America, trauma kepala adalah suatu kerusakan pada kepala, bukan bersifat kongenital ataupun degeneratif, tetapi disebabkan oleh serangan / benturan fisik dari luar, yang dapat mengurangi atau mengubah kesadaran, sehingga menimbulkan kerusakan kemampuan kognitif dan fungsi fisik (Japardi, 2004).

2. ANATOMI KEPALAa. Kulit Kepala Kulit kepala terdiri dari 5 lapisan yang disebut sebagai SCALP yaitu: Skin atau kulit Connective tissue atau jaringan penyambung Aponeuris atau galea aponeurotika yaitu jaringan ikat yang berhbungan langsung dengan tengkorak Loose areolar tissue tau jaringan penunjang longgar. Perikranium Jaringan penunjang longgar memisahkan galea aponeurotika dari perikranium dan merupakan tempat yang biasa terjadinya perdarahan subgaleal. Kulit kepala memiliki banyak pembuluh darah sehingga bila terjadi perdarahan akibat laserasi kulit kepala akan menyebabkan banyak kehilangan darah terutama pada anak-anak atau penderita dewasa yang cukup lama terperangkap sehingga membutuhkan waktuLama untuk mengeluarkannya (American college of surgeon, 1997).

b. Tulang Tengkorak Terdiri dari kubah (kalvaria) dan basis kranii. Tulang tengkorak terdiri dari beberapa tulang yaitu frontal, parietal, temporal dan oksipital. Kalvaria khususnya diregio temporal adalah tipis, namun disini dilapisi oleh otot temporalis. Basis cranii berbentuk tidak rata sehingga dapat melukai bagian dasar otak saat bergerak akibat proses akselerasi dan deselerasi. Rongga tengkorak dasar dibagi atas 3 fosa yaitu fosa anterior tempat lobus frontalis, fosa media tempat temporalis dan fosa posterior ruang bagi bagian bawah batang otak dan serebelum (American college of surgeon, 1997).c. MeningesSelaput meninges menutupi seluruh permukaan otak dan terdiri dari 3 lapisan yaitu :1) Duramater Duramater secara konvensional terdiri atas dua lapisan yaitu lapisan endosteal dan lapisan meningeal.Duramater merupakan selaput yang keras, terdiri atas jaringan ikat fibrisa yang melekat erat pada permukaan dalam dari kranium. Karena tidak melekat pada selaput arachnoid di bawahnya, maka terdapat suatu ruang potensial (ruang subdura) yang terletak antara duramater dan arachnoid, dimana sering dijumpai perdarahan subdural(Japardi, 2004) Pada trauma otak, pembuluh-pembuluh vena yang berjalan pada permukaan otak menuju sinus sagitalis superior di garis tengah atau disebut Bridging Veins, dapat mengalami robekan dan menyebabkan perdarahan subdural. Sinus sagitalis superior mengalirkan darah vena ke sinus transversus dan sinus sigmoideus. Laserasi dari sinus-sinus ini dapat mengakibatkan perdarahan hebat(Japardi,2004)Arteri meningea terletak antara duramater dan permukaan dalam dari kranium (ruang epidural). Adanya fraktur dari tulang kepala dapat menyebabkan laserasi pada arteri-arteri ini dan menyebabkan perdarahan epidural. Yang paling sering mengalami trauma adalah arteri meningea media yang terletak pada fosa temporalis (fosa media).2) Selaput Arakhnoid Selaput arakhnoid merupakan lapisan yang tipis dan tembus pandang. Selaput arakhnoid terletak antara pia mater sebelah dalam dan dura mater sebelah luar yang meliputi otak. Selaput ini dipisahkan dari dura mater oleh ruang potensial, disebut spatium subdural dan dari pia mater oleh spatium subarakhnoid yang terisi oleh liquor serebrospinalis. Perdarahan sub arakhnoid umumnya disebabkan akibat trauma kepala (American college of surgeon,1997)3) Pia materPia mater melekat erat pada permukaan korteks serebri. Pia mater adarah membrana vaskular yang dengan erat membungkus otak, meliputi gyri dan masuk kedalam sulci yang paling dalam. Membrana ini membungkus saraf otak dan menyatu dengan epineuriumnya. Arteri-arteri yang masuk kedalam substansi otak juga diliputi oleh pia mater (japardi, 2004).

d. Otak

Otak merupakan suatu struktur gelatin dengan berat pada orang dewasa sekitar 14 kg. Otak terdiri dari beberapa bagian yaitu proensefalon (otak depan) terdiri dari serebrum dan diensefalon, mesensefalon (otak tengah) dan rhombensefalon (otak belakang) terdiri dari pons, medula oblongata dan serebellum.

Fisura membagi otak menjadi beberapa lobus. Lobus frontal berkaitan dengan fungsi emosi, fungsi motorik dan pusat ekspresi bicara. Lobus parietal berhubungan dengan fungsi sensorik dan orientasi ruang. Lobus temporal mengatur fungsi memori tertentu. Lobus oksipital bertanggung jawab dalam proses penglihatan. Mesensefalon dan pons bagian atas berisi sistem aktivasi retikular yang berfungsi dalam kesadaran dan kewapadaan. Pada medulla oblongata terdapat pusat kardiorespiratorik. Serebellum bertanggung jawab dalam fungsi koordinasi dan keseimbangan (American college of surgeon, 1997).e. Cairan serebrospinalis Cairan serebrospinal (CSS) dihasilkan oleh plexus khoroideus dengan kecepatan produksi sebanyak 20 ml/jam. CSS mengalir dari dari ventrikel lateral melalui foramen monro menuju ventrikel III, dari akuaduktus sylvius menuju ventrikel IV. CSS akan direabsorbsi ke dalam sirkulasi vena melalui granulasio arakhnoid yang terdapat pada sinus sagitalis superior. Adanya darah dalam CSS dapat menyumbat granulasio arakhnoid sehingga mengganggu penyerapan CSS dan menyebabkan kenaikan takanan intracranial. Angka rata-rata pada kelompok populasi dewasa volume CSS sekitar 150 ml dan dihasilkan sekitar 500 ml CSS per hari(Hafidh, 2007).f. Tentorium Tentorium serebeli membagi rongga tengkorak menjadi ruang supratentorial (terdiri dari fosa kranii anterior dan fosa kranii media) dan ruang infratentorial (berisi fosa kranii posterior)(japardi,2004)g. Vaskularisasi OtakOtak disuplai oleh dua arteri carotis interna dan dua arteri vertebralis. Keempat arteri ini beranastomosis pada permukaan inferior otak dan membentuk sirkulus Willisi. Vena-vena otak tidak mempunyai jaringan otot didalam dindingnya yang sangat tipis dan tidak mempunyai katup. Vena tersebut keluar dari otak dan bermuara ke dalam sinus venosus cranialis(japardi,2004).3. ASPEK FISIOLOGIS TRAUMA KEPALAa. Tekanan intracranial Berbagai proses pataologi pada otak dapat meningkatkan tekanan intracranial yang selanjutnya dapat mengganggu fungsi otak yang akhirnya berdampak buruk terhadap penderita. Tekanan intracranial yang tinggi dapat menimbulkaan konsekwensi yang mengganggu fungsi otak. TIK Normal kira-kira sebesar 10 mmHg, TIK lebih tinggi dari 20mmHg dianggap tidak normal. Seamkin tinggi TIK seteelah trauma kepala, semakin buruk prognosisnya (American college of surgeon,1997)b. Hukum Monroe-KellieKonsep utama Volume intrakranial adalah selalu konstan karena sifat dasar dari tulang tengkorang yang tidak elastik. Volume intrakranial (Vic) adalah sama dengan jumlah total volume komponen-komponennya yaitu volume jaringan otak (V br), volume cairan serebrospinal (V csf) dan volume darah (Vbl). Vic = V br+ V csf + V bl (American college of surgeon,1997)c. Tekanan Perfusi otakTekanan perfusi otak merupakan selisih antara tekanan arteri rata-rata (mean arterial presure) dengan tekanan inttrakranial. Apabila nilai TPO kurang dari 70mmHg akan memberikan prognosa yang buruk bagi penderita.(American college of surgeon,1997)d. Aliran darah otak (ADO)ADO normal kira-kira 50 ml/100 gr jaringan otak permenit. Bila ADO menurun sampai 20-25ml/100 gr/menit maka aktivitas EEGakan menghilang. Apabila ADO sebesar 5ml/100 gr/menit maka sel-sel otak akan mengalami kematian dan kerusakan yang menetap (American college of surgeon, 1997).4. PATOFISIOLOGI TRAUMA KEPALA

Pada trauma kepala, kerusakan otak dapat terjadi dalam dua tahap yaitu trauma primer dan trauma sekunder. Trauma primer merupakan trauma pada kepala sebagai akibat langsung dari suatu ruda paksa, dapat disebabkan benturan langsung kepala dengan suatu benda keras maupun oleh proses akselarasideselarasi gerakan kepala

Dalam mekanisme trauma kepala dapat terjadi peristiwa coup dan contrecoup. Trauma primer yang diakibatkan oleh adanya benturan pada tulang tengkorak dan daerah sekitarnya disebut lesi coup. Pada daerah yang berlawanan dengan tempat benturan akan terjadi lesi yang disebut contrecoup. Akselarasi-deselarasi terjadi karena kepala bergerak dan berhenti secara mendadak dan kasar saat terjadi trauma. Perbedaan densitas antara tulang tengkorak (substansi solid) dan otak (substansi semisolid) menyebabkan tengkorak bergerak lebih cepat dari muatan intrakranialnya. Bergeraknya isi dalam tengkorak memaksa otak membentur permukaan dalam tengkorak pada tempat yang berlawanan dari benturan (contrecoup) (japardi, 2004)Trauma sekunder merupakan trauma yang terjadi akibat berbagai proses patologis yang timbul sebagai tahap lanjutan dari kerusakan otak primer, berupa perdarahan, edema otak, kerusakan neuron berkelanjutan, iskemia, peningkatan tekanan intrakranial dan perubahan neurokimiawi.(japardi, 2004)5. KLASIFIKASI TRAUMA KEPALATrauma kepala diklasifikasikan dalam berbagai aspek. Secara praktis dikenal 3 deskripsi kalsifikasi yaitu berdasarkan mekanisme, beratnya trauma kepala, dan morfologinya.a. Mekanisme trauma kepalaBerdasarkan mekanismenya trauma kepala dibagi atas trauma kepala tumpul dan trauma kepala tembus. Trauma kepala tumpul biasanya berkaitan dengan kecelakaan mobil atau motor, jatuh atau terkena pukulan benda tumpul. Sedang trauma kepala tembuus disebabkan oleh peluru atau tusukan (Bernath, 2009). b. Beratnya trauma Trauma kepala diklasifikasikan berdasarkan nilai Glasgow Coma Scale adalah sebagai berikut :1. Nilai GCS sama atau kurang dari 8 didefenisikan sebagai trauma kepala berat.2. Trauma kepala sedang memiliki nilai GCS 9-13 3. Trauma kepala ringan dengan nilai GCS 14-15.Glasgow Glasgow Coma Scale nilai aiRespon membuka mata (E)Buka mata spontan4Buka mata bila dipanggil/rangsangan suara3Buka mata bila dirangsang nyeri2Tak ada reaksi dengan rangsangan apapun1

Respon verbal (V)Komunikasi verbal baik, jawaban tepat5Bingung, disorientasi waktu, tempat, dan orang4Kata-kata tidak teratur3Suara tidak jelas2Tak ada reaksi dengan rangsangan apapun1

Respon motorik (M)Mengikuti perintah6Dengan rangsangan nyeri, dapat mengetahui tempat rangsangan5Dengan rangsangan nyeri, menarik anggota badan4Dengan rangsangan nyeri, timbul reaksi fleksi abnormal3Dengan rangsangan nyeri, timbul reaksi ekstensi abnormal2Dengan rangsangan nyeri, tidak ada reaksi1(Kluwer, 2009)

c. Morfologi trauma Secara morfologis trauma kepala dapat dibagi atas fraktur cranium dan lesi intrakranial.1. Fraktur craniumFraktur cranim dapat terjadi pada atap atau dasar tengkorak, dan dapat berbentuk garis atau bintang dan dapat pula terbuka atau tertutup. Fracture dasar tengkorak biasanya memerlukan pemeriksaan CT Scan dengan dengan teknik bone window untuk memperjelas garis frakturnya. Adanya tanda-tanda klinis fraktur dasar tengkorak menjadikan petunjuk kecurigaan untuk melakukan pemeriksaan lebih rinci.tanda-tanda tersebut antara lain ekimosis periorbital (raccoon eye sign), ekimosis retroauikular (battle sign), kebocoran CSS(Rhinorrhea, otorrhea) dan paresis nervus fasialis (Bernath, 2009)Fraktur cranium terbuka atau komplikata mengakibatkan adanya hubungan antara laserasi kulit kepala dan permukaan otak karena robeknya selaput duramater. Keadaanini membutuhkan tindakan dengan segera. Adanya fraktur tengkorak merupakan petunjuk bahwa benturan yang terjadi cukup berat sehingga mengakibatkan retaknya tulang tengkorak. Frekuensi fraktura tengkorak bervariasi, lebih banyak fraktura ditemukan bila penelitian dilakukan pada populasi yang lebih banyak mempunyai trauma berat. Fraktura kalvaria linear mempertinggi risiko hematoma intrakranial sebesar 400 kali pada pasien yang sadar dan 20 kali pada pasien yang tidak sadar. Fraktura kalvaria linear mempertinggi risiko hematoma intrakranial sebesar 400 kali pada pasien yang sadar dan 20 kali pada pasien yang tidak sadar. Untuk alasan ini, adanya fraktura tengkorak mengharuskan pasien untuk dirawat dirumah sakit untuk pengamatan (Davidh, 2009)

2. Lesi IntrakranialLesi intrakranial dapat diklasifikasikan sebagai fokal atau difusa, walau kedua bentuk trauma ini sering terjadi bersamaan. Lesi fokal termasuk hematoma epidural, hematoma subdural, dan kontusio (atau hematoma intraserebral). Pasien pada kelompok trauma otak difusa, secara umum, menunjukkan CT scan normal namun menunjukkan perubahan sensorium atau bahkan koma dalam keadaan klinis(Bernath, 2009)

a. Hematoma EpiduralEpidural hematom (EDH) adalah perdarahan yang terbentuk di ruang potensial antara tabula interna dan duramater dengan ciri berbentuk bikonvek atau menyerupai lensa cembung. Kebanyakan kasus berasal dari arteri (a.meningea media) dan sebagian kecil berasal dari vena. Biasanya unilateral dan pada orang dewasa, berhubungan dengan fraktur. Seringkali tidak terdapat fraktur tengkorak pada anak anak, oleh karena elastisitas dari tengkorak. Perdarahan terbentuk antara tabula interna dari tengkorak dan selaput dura. Dapat disertai lesi seperti perdarahan subdural atau kontusio. Perdarahan arteri biasanya berkembang dan timbul secara cepat dalam 1 jam setelah cedera, sementara perdarahan vena dapat timbul setelah beberapa hari.Gambaran klinis secara klasik muncul setelah cedera kepala dengan kehilangan kesadaran pada fase awal yang diikuti oleh fase sadar (lucid interval) sebelum kembali terjadi penurunan kesadaran. Hati hati karena hanya 30% pasien yang datang seperti ini. Gejala tergantung pada seberapa cepat perdarahan berkembang. Rasa mengantuk yang progresif, sakit kepala, mual dan muntah merupakan gejala yang patut diwaspadai.Gambaran radiologis pada CT scan terlihat area hiperdens elips bikonveks dengan batas yang tegas. Densitas yang beragam menandakan perdarahan akut. Perdarahan tidak melewati garis sutura, dapat memisahkan sinus venosa atau falks dari tengkorak, hanya perdarahan tipe ini yang dapat melakukan hal tersebut. Efek massa tergantung pada ukuran perdarahan dan edema yang menyertainya. Perdarahan vena lebih bervariasi dalam bentuk. Garis fraktur yang berhubungan mungkin dapat terlihat.

b. Hematom SubduralHematoma subdural (SDH) adalah perdarahan yang terjadi di antara duramater dan arakhnoid. Perdarahan subdural (PSD) biasanya terjadi pada orang tua dan pada anak-anak (waspada cedera bukan akibat kecelakaan). Terjadi di rongga subdural, yaitu rongga potensial antara membran pia araknoid dengan membran dura. Disebabkan oleh robekan traumatic dari bridging vein di rongga subdural. Seringkali sekunder akibat cedera perlambatan atau akibat trauma langsung dimana terdapat gerakan otak secara relative terhadap tengkorak. Waspada akan batuk, bersin atau muntah yang hebat pada orang tua.Gambaran klinis seringkali tidak jelas akibat peningkatan tekanan yang berjalan lambat. Efek massa yang diakibatkan dapat menyebabkan kerusakan iskemik yang signifikan. Presentasi klinis bergantung pada besar trauma yang didapat pada kecepatan akumulasi hematoma. Diklasifikasikan menjadi akut dan kronis. PSD akut datang dalam 24 jam setelah cedera yang biasanya disertai penurunan kesadaran atau penurunan status mental.

Selain itu, kerusakan otak yang mendasari hematoma subdural akuta biasanya sangat lebih berat dan prognosisnya lebih buruk dari hematoma epidural. Mortalitas umumnya 60%, namun mungkin diperkecil oleh tindakan operasi yang sangat segera dan pengelolaan medis agresif. Subdural hematom terbagi menjadi akut dan kronis.1) 2) SDH Akut Pada CT Scan tampak gambaran hyperdens sickle ( seperti bulan sabit ) dekat tabula interna, terkadang sulit dibedakan dengan epidural hematom. Batas medial hematom seperti bergerigi. Adanya hematom di daerah fissure interhemisfer dan tentorium juga menunjukan adanya hematom subdural (Bernath, 2009).3) SDH Kronis Pada CT Scan terlihat adanya komplek perlekatan, transudasi, kalsifikasi yang disebabkan oleh bermacam- macam perubahan, oleh karenanya tidak ada pola tertentu. Pada CT Scan akan tampak area hipodens, isodens, atau sedikit hiperdens, berbentuk bikonveks, berbatas tegas melekat pada tabula. Jadi pada prinsipnya, gambaran hematom subdural akut adalah hiperdens, yang semakin lama densitas ini semakin menurun, sehingga terjadi isodens, bahkan akhirnya menjadi hipodens (Ghazali, 2007)

d. Kontusio dan hematoma intraserebral.Kontusio serebral merupakan bentuk yang paling umum dari trauma intra-aksial akibat trauma. Biasanya terjadi pada permukaan inferior dan permukaan kutub dari lobus frontalis dan lobus temporalis. Trauma terjadi secara sekunder akibat kontak dengan permukaan tulang selama proses deselerasi dan terjadi akibat kerusakan pada pembuluh darah parenkim yang menyebabkan perdarahan petekie dan edema. Kontusio sering terjadi pada perbatasan antara substansia grisea dan substansia alba. Trauma dapat bersifat coup atau contra-coup. Kontusio serebri juga dapat disebabkan secara sekunder akibat fraktur depresi pada tengkorak serta bersama dengan trauma intrakranial yang lain.Gejala dari kontusio serebral biasanya berhubungan dengan penurunan kesadaran yang singkat, gejala kebingungan dan obtundasi dapat berkepanjangan, defisit neurologi fokal dapat terjadi ketika kontusio terjadi dekat dengan korteks sensorik-motorik. Kebanyakan pasien dapat sembuh tanpa masalah berarti, namun beberapa mengalami peningkatan tekanan intrakranial, kejang pasca trauma dan defisit neurofoksl yang menetap. Hati-hati pada pasien usia lanjut, pecandu alcohol dan pasien dalam pengobatan antikoagulan, karena mereka memliki risiko yang tinggi terhadap perdarahan.Gambaran radiologi dengan pemeriksaan Computed tomography (CT) tanpa kontras bermanfaat pada periode awal pasca trauma. Kontusio tampak sebagai area dengan atenuasi rendah yang bersifat fokal atau multifocal. Area tersebut bercampur dengan area-area kecil berdensitas tinggi yang menggambarkan suatu perdarahan. Luas cedera yang sebenarnya menjadi lebih jelas seiring dengan waktu akibat berlangsungnya proses nekrosis dan edema sel. Pada pemeriksaan Magnetic resonance imaging (MRI) merupakan modalitas yang terbaik untuk memperlihatkan distribusi edema dan kontusioSelanjutnya, kontusio otak hampir selalu berkaitan dengan hematoma subdural akut. Majoritas terbesar kontusio terjadi dilobus frontal dan temporal, walau dapat terjadi pada setiap tempat termasuk serebelum dan batang otak. Perbedaan antara kontusio dan hematoma intraserebral traumatika tidak jelas batasannya. Bagaimanapun, terdapat zona peralihan, dan kontusio dapat secara lambat laun menjadi hematoma intraserebral dalam beberapa hari. Hematoma intraserebri adalah perdarahan yang terjadi dalam jaringan (parenkim) otak. Perdarahan terjadi akibat adanya laserasi atau kontusioo jaringan otak yang menyebabkan pecahnya pula pembuluh darah yang ada di dalam jaringan otak tersebut. Lokasi yang paling sering adalah lobus frontalis dan temporalis. Lesi perdarahan dapat terjadi pada sisi benturan (coup) atau pada sisi lainnya (countrecoup). Defisit neurologi yang didapatkan sangat bervariasi dan tergantung pada lokasi dan luas perdarahan (Hafidh, 2007).

e. Perdarahan SubarachnoidPerdarahan subaraknoid (PSA) spontan biasanya terjadi sekunder akibat rupture aneurisma atau malformasi arterio-vena. Aneurisma yang didapat paling sering di sirkulus Willis; pada bifurkasi dengan aliran turbulensi. Umumnya sebelum usia 50 tahun, namun dapat terjadi pada usia berapapun. Darah dapat menyebabkan iritasi selaput meningen. Riwayat sakit kepala terjadi pada kurang lebih dua per tiga pasien.Gambaran klinis didapatkan nyeri kepala berat dan akut yang seringkali dideskripsikan sebagai nyeri kepala yang paling sakit selama hidup. Walaupun nyeri kepala ringan tidak mengeksklusi PSA, muntah, pucat dan berkeringat banyak dapat terjadi. Kaku kuduk, tanda neurologis fokal kejang. Waspada terhadap perubahan tingkat kesadaran yang dengan cepat menjadi koma. Komplikasi meliputi hidrosefalus (obstruksi akut dan komunikans lanjut), vasospasme serebral yang mengarah pada infark dan herniasi transtentorium akibat peningkatan tekanan intra-kranial. Menyerupai banyak keadaan lainnya termasuk ensefalitis, meningitis, glukoma akut dan migren.Gambaran radiologi pada pemeriksaan CT tanpa kontras sensitive pada 4-5 jam pertama. Cari tanda perdarahan akut (peningkatan densitas) di sulkus kortikal, sisterna basalis, fissure Sylvi, sisterna serebellar superior dan di dalam ventrikel. MRI relative tidak sensitive dalam 48 jam pertama, namun berguna setelahnnya dan pada perdarahan rekuren untuk melihat deposit hemosiderin yang kecil.

f. Trauma difusCedar otak difus merupakan kelanjutan kerusakan otak akibat trauma akselerasi dan deselerasi, dan ini merupakan bentuk yang sering terjadi pada trauma kepala. Komosio cerebri ringan adalah keadaan trauma dimana kesadaran tetap tidak terganggu namun terjadi disfungsi neurologis yang bersifat sementara dalam berbagai derajat. Trauma ini sering terjadi, namun karena ringan kerap kali tidak diperhatikan. Bentuk yang paling ringan dari komosio ini adalah keadaan bingguung dan disorientasi tanpa amnesia. Sindroma ini pulih kembali tanpa gejala sisa sama sekali.trauma komosio yang lebih berat menyebabkan keadaan binggung disertai amnesia retrograde dan amnesia antegrad (American college of surgeon, 1997).Komosio cerebri klasik adalah trauma yang mengakibatkan menurunnya atau hilanggnya kesadaran. Keadaan ini selalu disertai dengan amnesia pasca trauma dan lamanya amnesia ini merupakan ukuran beratnya trauma. Dalam bebberapa penderita dapat timbul defisist neurologis untuk beberapa waktu. Edfisit neurologis itu misalnya kesulitan mengingat, pusing, mual, anosmia, dan depresi serta gejala lain. Gejala-gajala ini dikenal sebagai sindroma pasca komosio yang dapat cukup berat.Trauma aksonal difus (Diffuse Axonal Injury, DAI) adalah keadaan diman pendeerita mengalami koma pasca trauma yang berlangsung lama ddan tidak diakibatkan oleh suatu lesi mas aatau serangan iskemik. Biasanya penderita dalam keadaan kooma yang dalam dan tetap koma selama beberapa waktuu. Penderita sering menuunjukan gejala dekortikasi atau deserebrasi dan bila pulih sering tetap dalam keadaan cacat berat, itupun bila bertahan hidup. Penderita seringg menunjukan gejala disfungsi otonom seperti hipotensi, hiperhidrosis dan hiperpireksia dan dulu diduga akibat cedeera aksonal difus dan cedeera otak kerena hiipoksiia secara klinis tidak mudah, dan memang dua keadaan tersebut seringg terjadi bersamaan (American college of surgeon,1997)

Dalam beberapa referensi, trauma maxillofacial juga termasuk dalam bahasan trauma kepala. Karenanya akan dibahas juga mengenai trauma wajah ini, yang meski bukan penyebab kematian namun kecacatan yang akan menetap seumur hidup perlu menjadi pertimbangan.

6. PEMERIKSAAN PENUNJANGa. Foto polos kepala Indikasi foto polos kepala Tidak semua penderita dengan trauma kepala diindikasikan untuk pemeriksaan kepala karena masalah biaya dan kegunaan yang sekarang makin dittinggalkan. Jadi indikasi meliputi jejas lebih dari 5 cm, Luka tembus (tembak/tajam), Adanya corpus alineum, Deformitas kepala (dari inspeksi dan palpasi), Nyeri kepala yang menetap, Gejala fokal neurologis, Gangguan kesadaran. Sebagai indikasi foto polos kepala meliputi jangan mendiagnose foto kepala normal jika foto tersebut tidak memenuhi syarat, Pada kecurigaan adanya fraktur depresi maka dillakukan foto polos posisi AP/lateral dan oblique.Teknik Pemeriksaan Foto Polos : Foto polos kepala, dibuat AP dan lateral saja. Sebaiknya pada foto lateral digunakan sinar horizontal sehingga daerah servikal masuk lapangan radiografi. Dilarang memanipulasi pasien, terutama bila diduga ada fraktur servikal.

Untuk trauma wajah dapat digunakan foto Waters bila memungkinkan.b. CT-Scan (dengan atau tanpa kontras) Indikasi Pemeriksaan CT scan Kepala : Seluruh pasien dengan GCS< 13, atau pasien yang GCS nya turun menjadi